Sebab Akulah yang Akan Ditanya
Aku tertegun cukup lama memandangi pesan dari adik kelasku tentang pernyataan dosen kesayanganku semasa kuliah dulu kepada mereka. Intinya, semoga nanti aku bisa berkontribusi kembali di dunia yang telah aku sedikit ilmui tentangnya; clinical pharmacy. Aku hampir tidak percaya beliau masih mengingatku sejak lebih dari 4 tahun aku lulus dari kuliah. Di antara ratusan mahasiswa beliau. She is one of my best lecture.
Sejenak berhamburan lah ingatan-ingatan tentang teman-teman seangkatan dulunya, yang kini telah berada di mana-mana. Menjadi dosen di luar negeri. Melanjutkan sekolah ke luar negeri. Bekerja as a clinical pharmacist di sebuah rumah sakit besar. Tetiba aku merasa menciut dan jauh. Ya... ya... ya..., aku merasa telah menjauh dan semakin menjauh dari bidang ilmu yang dulu pernah aku geluti secara lebih mendalam. Meski bukan berarti serta merta aku sudah berilmu tentang itu. Maksudku, aku pernah mempelajarinya lebih intens dulunya. Dan kini, aku merasa sangat jauh tertinggal. Ibarat naik kereta, mereka sudah jauh menuju utara dan aku malah menuju ke selatan. Hehe... Sejujurnya, kadang ada rasa untuk ingin mengejar mereka kembali. Melanjutkan kuliah lagi. Hadir di berbagai forum ilmiah, membahas ini dan itu. Publikasi penelitian di seminar dan workshop setara internasional. Berkontribusi di bidang farmasi klinis as best as I can.
Dalam perenungan panjang, kembali aku tersadar. Bahwa memang apa yang aku inginkan, cita-citakan itu tidaklah salah. Namun, jika melihat kembali 4 tahun yang aku jalani ini, sesungguhnya adalah juga tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Tidak semua orang dapat menyaksikan anak-anaknya dapat tertawa untuk pertama kalinya, tengkurap pertama kalinya, berjalan pertama kalinya. Membersamai mereka--meski dengan segenap salah dan kekurangsabaran yang aku sedang tertatih untuk mengejanya--adalah wonderful time dalam hidupku yang tak bisa digantikan oleh waktu-waktu lain. Iya, mereka adalah alasan terbaik yang membuat aku lebih memilih berjalan menuju ke arah selatan di saat teman-temanku telah melaju ke utara. Lalu, sebuah pertanyaan berat: apalagi yang aku kejar?! Benarkah sebuah kontribusi, atau hanya sekedar eksistensi?
Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah cita-cita utamaku sedari dulu. Dan meskipun Menjadi clinical pharmacist juga adalah cita-citaku, tapi tentang peranku sebagai seorang istri dan ibu, inilah yang kelak akan ditanya. Menjadi seorang clinical pharmacist, mungkin bisa 'di-subcontract-kan' kepada orang lain. Ada orang lain yang bisa mengambil kontribusi ini selainku. Tapi, menjadi seorang istri dan ibu, dapatkah aku men-subkontrakkan nya kepada orang lain sementara akulah yang akan ditanyai kelak oleh-Nya dan dimintai pertanggungjawabannya.
Oleh sebab aku menyadari bahwa aku bukan superwoman yang bisa melakukan dua hal sekaligus dalam waktu bersamaan dengan sangat baik, maka aku harus memilih salah satunya. Dan karena aku telah memilih 'melepaskan' satu kesempatan untuk berkontribusi di dunia farmasi klinis, maka aku seharusnya melakukan yang terbaik dan all out di pilihan yang aku telah ambil; menjadi sebaik-baiknya madrasatul 'ula. Aku tentu tidak ingin 'merugi', melepaskan satu pilihan, sementara di pilihan yang lain aku membiarkannya berlalu begitu saja tanpa ada upaya terbaik. Aku pasti akan menyesalinya jika aku tidak melakukan sebaik-baik pencapaian di pilihan yang aku pilih ini. Sebab, waktuku sesungguhnya sangat singkat. Aku tidak bisa berlama-lama termangu.
Iya.
Inilah masaku. Inilah pilihanku saat ini. Aku ingin melakukan yang terbaik, memberikan upaya yang terbaik, do'a terbaik untuk mereka yang menjadi alasan pilihanku. Boleh jadi, saat ini aku tidak bisa berkontribusi di bidang farmasi klinis. Tapi, aku ingin output terbaik bagi anak-anakku. Mungkin, belum saat ini aku melihat hasilnya. Mungkin, berpuluh tahun lagi. Aku tak ingin melewati masa emas yang singkat ini dengan biasa-biasa saja.
Aku menyadari, anak-anak tak selamanya bayi. Tak selamanya balita. Tak selamanya kanak-kanak. Akan ada masa mereka meremaja dan mendewasa. Mungkin, pada masa itulah--jika Allah menghendaki usia yang panjang dan semoga usia yang barokah--aku berkontribusi untuk cita-cita keduaku. Saat anak-anak sudah memiliki jalan mereka sendiri. Dan, sekali lagi, aku memilih ini oleh sebab akulah yang akan ditanya, tentang mereka, tentang amanah yang telah Dia berikan.
Let's do the best in this best time...
Semangaaaaattt...!!!
😚
Obat Flu & Batuk yang Tepat pada Bayi dan Toddler
Dulu semasa masih kuliah farmasi klinis, aku ingaaat seingat-ingatnya ketika bu dosen bilang, "Sebenarnya tidak ada lho obat batuk atau flu untuk bayi." Batuk yang dimaksud adalah batuk pada umumnya terjadi (penyakit sejuta umat yang hampir dialami oleh semua orang), bukan batuk disebabkan oleh kasus berat seperti TBC, Pneumonia, Pertusis dan kasus infeksi lainnya.
Sementara, fakta di lapangan menunjukkan banyaknya obat flu dan batuk untuk anak beredar di pasaran. Daaan, adalah lumrah ketika menjumpai bayi dan toddler yang batuk menerima sekurang-kurangnnya 3-4 macam obat: Paracetamol, CTM, obat batuk dan flu dan antibiotik. Ini adalah fakta yang sering dijumpai di lapangan (ehh di masyarakat maksudnya... bukan di lapangan bola).
"Batuk pada anak tidak butuh obat. Cukup dengan nebulizer dengan cairan normal saline." Lanjut bu dosen. "Karena, bayi dan balita belum dapat mengeluarkan dahak sendiri. Obat batuk kebanyakan adalah untuk merangsang agar dahak dapat dikeluarkan kecuali obat penekan batuk pada kasus berat. Codein dilarang keras untuk diberikan kepada bayi." Codein adalah salah satu obat penekan batuk yang ampuh.
Yaah, begitulah... Di lapangan banyak sekaliii kita jumpai anak-anak yang diresepkan obat batuk. Datanglah ke toko obat, maka sekurang-kurangnya 4 macam obat mesti dibawa pulang. Daaan, ada juga sebagain oknum dokter (mungkin yang kurang update) ikut memberikan empat macam obat di atas. Fiuufftt... benar-benar menghela nafas panjang deeeh... hiks..
Nah, CTM... memangnya semua batuk disebabkan alergi?? Enggak kaaaan... ngapain pulak dikasi CTM segalaa... fiiuufftt (lagi). Kecuali memang ada riwayat alergi maka penggunaaan antihistamin adalah terapi yang tepat. Yang jelas, tidak semua bayi alergi kaaan? Masa' semuanya dikasi antihistamin. Ckckckck...
Yang paling parah adalah antibiotik. Sengaja di bold dan di italic. Entah kenapa, penggunaan antibiotik sangat over dan non-indikasi. Beli antibiotik sudah kayak mau beli nasi padang ajah. Ada di mana-mana. Bahkan di warung juga ketemu kali tuuh di amoxicillin... Fiuuftt... (lagi-lagi fiuuuft...).
Kebanyakan batuk dan juga flu penyebabnya adalah virus (kecuali kasus berat seperti yang sudah aku sebutkan di awal). Lha, orang cuma virus koq... kenapa mesti dikasi antibiotik... >.<
Bikin resisten ajaah.. hiks...
Terapi non indikasi... Salah satu DRP (drug related problem maah iniiih...). Tapi sayangnya, belum banyak yang ter-edukasi tentang hal ini. Penggunaan 3 macam obat ga perlu (CTM, obat flu dan batuk, antibiotik) untuk kasus flu dan batuk itu agaknya masi lumrah terjadi. Tantangan dunia farmasi sebenarnya.
Naah, jadi sebenarnya apa sih terapi yang tepat untuk batuk dan flu pada bayi dan toddler (batita)? Sedikit share sahaja... smoga bermanfaat... Mari belajar dari case Aafiya saja. Langsung dari contoh kasusnya.. hehe... dan juga aku reffers dari web MD.
Sejak bayi hingga toddler, Aafiya mengalami 2x kondisi batuk dan flu yang pada akhirnya aku dan abu Aafiya bawa ke ER nya RS. Yang selainnya cuma batuk biasa dan sebentar yang tidak perlu ada kunjungan ke ER segala. Dan buat aku, hal tersebut menjadi pengalaman berharga. Pas selesai dari ER, aku cukup takjub dengan obat yang diresepkan dokternya.
Apakah Aafiya dapat ctm, antibiotik dan obat batuk untuk mengatasi batuknya? Jawabannya tidak. Dokternya meresepkan nebulizer beserta normal saline nya. Aku awalnya cukup kaget dapat resep alat nebulizer. Langsung inget pelajaran farmasi klinis jaman kuliah dulu. Alhamdulillaah pengobatannya rasional.
Jadi terapi untuk batuk pada bayi dan toddler yang pertama adalah: nebulizer dengan menggunakan cairan normal saline. Jika tidak ada alat nebulizer, untuk kasus flu in shaa Allah bisa digantikan dengan nasal spray normal saline. Dikasi obat tetes hidung yang mengandung normal saline.
Terapi kedua adalah memperbanyak asupan cairan.
Ketiga, jika ada demam, dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen baik secara oral maupun suppositoria. Dosisnya disesuaikan dengan usia yaak.
Ingat!!! Demam pada bayi usia newborn-3 bulan (terutama bayi newborn hingga 1 bulan) bukanlah hal normal, jadi harus segera dibawa ke dokter.
Keempat, berikan sedikit madu.
Kelima, tinggikan posisi kepala bayi/toddler.
Keenam (optional but better) gunakan humidifier terutama di malam hari.
Untuk negara Indonesia yang humiditas yang cukup tinggi, humidifier sepertinya not too mandatory yaak. Tapi jika berdomisili di negara dengan humiditas yang rendah (seperti di negara tempat aku berdomisili saat ini), maka penggunaan humidifier cukup penting apalagi yang punya bayi.
So, stop obat batuk dan antibiotik pada bayi dan balita. Okeeeh? ;)
#Seri PIO 3: Obat Paten atau Generik?
#Seri PIO 2: Bolehkah Menyimpan Obat di Kulkas?
Sebelumnya, mari kita “intip” sedikit tentang bagaimana pembuatan obat. Obat di industri farmasi diproses sedemikian rupa dengan cara yang sangat higienis, aseptis dan melalui prosedur-prosedur yang memiliki stadardisasi tertentu. Pembuatan obat dilakukan dengan sangat hati-hati, baik itu dosis, zat yang pendukung, hingga penyimpanannya. Pada umumnya obat dirancang sedemikian rupa dan dibuat stabil pada suhu kamar atau temperatur ruangan., kecuali obat-obat tertentu (in syaa Allah kita bahas nanti yaa...).
#Seri PIO 1: Amankah Minum Obat Saat Hamil?
Dahulu kala, orang-orang tidak terlalu aware dengan efek samping obat pada janin. Hingga, suatu peristiwa menggemparkan telah terjadi. Pada tahun 1960-an, ada sebuah obat yang disebut Thalidomide. Obat ini indikasinya adalah untuk orang-orang yang mengalami susah tidur atau insomnia. Tapi, si Thalidomide ini ternyata juga bersifat anti mual muntah sehingga banyak diresepkan untuk mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil. Tapi, peristiwa mengejutkan terjadi! Ternyata banyak anak yang terlahir cacat, baik itu amelia (tidak punya kaki dan tangan), pokomelia (kaki dan tangan tidak lengkap) dan kecacatan organ lainnya. Ada sekitar lebih dari 10.000 anak yang mengalaminya. Setelah ditelisik, ternyata, kejadian itu terjadi pada anak-anak yang ibunya ketika hamil mengkonsumsi thalidomide untuk mengatasi mual dan muntah. Ini sungguh "kecelakaan" yang sangat menggemparkan dunia medis pada tahun itu.
Kisah Orang Kampung di RS Modern
Sebelum aku menginjakkan kaki di rumah sakit, aku pernah mengunjungi klinik terlebih dahulu (untuk medical test dalam rangka pembuatan Iqama/resident permit dan pregnancy test). Awalnya aku terheran-heran, yang namanya klinik, dalam bayanganku paling yaa ga segitunya lah yaa... Ga gede-gede amat. Tapi, ini klinik koq nyaris kayak rumah sakit. Hehe... *kayak katak dalam tempurung dah akuuh. Haha. Maklum, belum pernah ke luar negeri sebelumnya... Hihi...
Tapi kesimpulanku adalah, taraf kualitas kesehatan di sini jauh jauh jauh lebih baik dari pada di Indonesia.
Bahkan kata salah seorang petugas rumah sakit yang mengurusi alkes (yang kebetulan adalah orang Indonesia), di sini peralatan medis canggih dan ada alkes yang di Indonesia cuma punya satu alat dan amat langka, di sini di 1 rumah sakit aja punya beberapa. Ma syaa Allah...
Konspirasi oh Konspirasi Obat
Sekian lama waktu berlalu, akhirnya aku menyadari bahwa aku telah keliru. Banyak sumber yang kemudian membuatku menyakini bahwa, sebenarnya vaksinasi itu penting.
Baiklah, aku ga akan membahas lebih lanjut tentang vaksinasi di sini. Akan tetapi, mengenai sesuatu yang cukup "menggelitik". Hehe
========================
Ga sengaja terdampar pada sebuah diskusi (apa perdebatan yaa?) antara dua 'kubu' yaitu yang pro dengan vaksinasi dan pengobatan moderen (konvensional) dengan 'kubu' yang kontra vaksinasi dan pengobatan moderen.
Kalimat yang menarik adalah, "vaksinasi dan pengobatan modern itu tak lain hanyalah konspirasi AS belaka. Lebih baik kembali ke pengobatan herbal yang lebih aman, bebas dari efek samping." Atau, "pengobatan modern itu terlalu banyak zat kimianya yang menimbulkan efek samping. Lebih baik yang alami saja."
(Ini redaksionalnya berbeda, tapi intinya adalah sebagian orang yang menolak menggunakan obat modern menggunakan dalih bahwa itu konspirasi dan sebaiknya menggunakan obat herbal).
Sy mencoba sedikit berkomentar di sisi sebagai seorang pharmacist (meskipun sy masih memiliki sedikit pengetahuan dan memang masih harus banyak belajar).
MR. DIPIRO : Menebar Kemanfaatan
Ini nih si buku
![]() |
| karyanya Pak Dipiro dan asisten-asistennya :) |
Rasional Ber-antibiotik
| Gunakan Antibiotik secara TEPAT! |
Ketiadaan Antibiotik dan resistensinya adalah sesuatu yang amat sangat mengancam. Sayang sekali, laju resistensinya jauh lebih cepat dari penemuan antibiotika baru. Antibiotik sudah 'terkuras habis' penemuannya di era emas tahun 1940'an dan saat ini, nyaris tak ada penemuan antibiotik baru di seantero dunia. Jadii, jangan main-main dengan antibiotik.
Ujian Kali Ini
Hari ini ujian Farmakoterapi. Karena di jadwal jam 13.00, aku memutuskan untuk datang lebih awal saja. Apalagi Bu Roma SMS, "Dateng dooong." Jadi, semangat untuk datang ke kampus lebih awal mencuat juga. Lagian, aku juga udah janji sama Sri Dipiro (hehe, Sri Dewanti maksudnya. Aku memanggil Sri dengan sebutan Dipiro karena Sri itu ahli farmakoterapi, dan mengusai banyak isi buku Dipiro. Jadi, aku kagum deh. Hehe. Makanya aku menyebutnya Sri Dipiro) untuk dateng jam 11, karena kami mau bahas Aritmia (kelainan Irama jantung).
Sampai di kampus, napsu makan tiba-tiba ngedrop banget. Nda selera ngeliat apapun. Huhu. Akhirnya, cuma makan siang dengan segelas jus Alpukat dan kueh ringan yang dibeli di gedung A sahaja. Apalagi karena tentengan yang berraaaattt banget. Ada DIH --> drug information handbook yang tebelnya lebih tebel dari HP samsung (> 10 cm) dan parahnya lebih tebel dari bantal akuuh, ada guideline Antibiotic, dan ada cuplikan buku Dipiro yang sudah aku print semalem dan sudah aku kasih marker, menandai halaman-halamannya. Dan tentu saja yang tak boleh ketinggalan adalah laptop beserta komponen pendukung untuk bisa koneksi internet.
Tepat jam 13.00 ujian di mulai. HANYA SATU SOAL. Studi kasus, dari kisah nyata pasien di rumah sakit rujukan nasional. Howalaaahh. Masya Allah. Satu soal, pertanyaanya dua, dan jawabannya empat halaman folio. Satu soal, tentang pasien dengan riwayat pengkonsumsi alkohol, menderita diabetes mellitus tidak terkontrol, yang kemudian menyebabkan komplikasi, osteoartrithis, Chronic Kidney Disease (CKD) stage III, CVD, Stroke, Hypotonic Bladder, imobilitas, instabilitas, lalu Inkontinentia urine yang mengakibatkan dia harus pasang kateter silikon, tapi dia menolak dan dipasangkan kondom kateter yang justru memicu ISK (infeksi saluran kemih). Pasien geriatri, dengan kerusakan fungsi ginjal. Itulah kasusnya. Tambah lagi, dia anemia, tapi diberikan suplemen asam folat (dan aku baru menyadari setelah ujian, anemianya disebabkan oleh kerusakan ginjalnya, bukan karena defisiensi asam folat! Sebab, eritropoeitin juga diproduksi oleh si ginjal. Hwaaa, kenapa bisa lupaaa ketika ujiannya yaaahh???)
Tiba-tiba saja, waktu dua tiga jam lebih merasa tak cukup untuk kubahas. Puyeng. Aku panik. Lantas me-nol-kan inteligensia. Bahkan aku tak sempat membaca di chief complient nya itu adanya batuk, jadi aku menyalahkan pemberian ambroxol di pembahasan DRP. Masya Allah... Ck..ck...ck... Dan satu lagi, ternyata...perut sudah bernyanyi ria.
ndaksempatnulis
![]() |
| ketebalan buku > 10 cm |
Waaahh, dalam tiga hari belakang, aku sebenarnya ada banyak hal yang aku share. The great experiance in stem cell laboratory, in CPhi Asian South East Expo, and others. Akan tetapi, case report sedang menunggu untuk "diobrak-abrik" karena sudah tiga hari aku tinggalkan. Hee... Dan setiap Drug Related Problem (Permasalahan terkait obat) pada case itu harus punya EBM (evidence based medicine).. Dan EBM itu mestilah didasari pada jurnal-jurnal ilmiah terupdate. Dan jurnal-jurnal itu tentulah butuh analisis mendalam. Dan ditambah lagi, case kali ini adalah komplikasi pasien pasca CABG, dengan hyperlipidemia, hipertensi, angina, diabetes dan gagal jantung (waahhh penyakitnya lengkap banget yaahh), ditambah lagi dia geriatri. So, he got more than seven drugs. Sepuluh macam obat malah. Dan ditambah lagi, fungsi ginjal sudah bermasalah dan edema parunya sudah berkembang pula menjadi pneumonia. Hemm...apa nda pusing tuuh ngebahas permasalahan terkait obatnya? Dan ditambah lagi, besok pagi sudah harus didiskusikan. Hwaaaa, Jadiii, so, sebagai komplikasi dari case report ini, I cannot share right now deeh. Heuu....
Walau sudah berniat untuk tidak meninggalkanmu, Bloggie, tapi maafff, kali ini aku bener ndak sempat...
Lain kali kita bercerita lagi yah, say?
Siipp?!
Hayoooo, semangat belajaaarrr
semangat bahas case repo(r)t!
^___^
Phenomenon-Like P-gp
Ada satu fase dalam proses belajarku yang analoginya mirip banget ama P-gp. Seperti ada efflux pump yang membuat segala yang coba dimasukin itu nda bisa-bisa masuk. Ada beberapa inducer dan juga inhibitornya. Apa itu? Aku sendiri sebenarnya riweuh juga meng-kluster-kan causa efflux pump yang mengakibatkan sulitnya di serap ilmu itu pada satuan waktu tertentu. Tapi memang ada masanya, ketika aku merasa begitu sulitttt untuk menyerap. Meskipun kemudian sudah terserap, tapi seperti ada efflux lagi. Dan bahkan aku bingung, bagaimana mendefinisikan penyebabnya.
Yang paling parah dari effect of phenomenon-like P-gp (hehe, bikin istilah sendiri nih ayeeee. . .), ketika aku masih kelas 3 SMA. Kala itu sedang belajar matematika. Tiba-tiba. nyeseeeekk banget, sampai-sampai aku ngerasa sulit bernapas. Blank. Aku nda ngerti apa-apa. Tapi, aku sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa memang tak ada yang salah. Ini semakin diperkuat dengan diagnosa dokter UGD RSUD Kota Padangpanjang yang mengatakan bahwa sebenarnya semuanya baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan fisiologis. Lalu apaaah? Psikis? Nda jugaa. Tapiii, phenomena itu memang mirip banget dengan P-gp. Saat kuliah S1, aku memang sempat merasakan fase-fase di mana aku sulit sekali menyerap. Lagi-lagi, seperti ada efflux. Hemm, tidak berlangsung lama sih. Paling banter juga cuma sehari doang. Tapi, menyiksa banget, ketika kita nda bisa memahami tiba-tiba apa yang sedang dijelaskan. (Kali ajah lo lupa berdo'a sebelum belajar, Theeeeel. Hehe...).
Antiobiotics Resistance
Okeehh, let's we talk about ANTIBIOTICS RESISTANCE...
Antibiotics are drug used for treating infection caused by bacteria. Should to Remember, ANTIBIOTICS are used ONLY for BACTERIA INFECTION. Do not used it for VIRAL Infections! Most of these case are used antibiotics for treating viruses infection such as cough, influenza fever, strep throat, colds. Hemm... it's a misuse of antibiotics. Ehh, no, it's not! It's the overuse of antibiotics. Misuse of these drugs such as stop the treatment when patients feel better. Using antibiotics against viral infections will not cure the infection, will not keep other individuals from catching the virus, will not help a person feel better, may cause unnecessary harmful side effects and may contribute to the development of antibiotic-resistant bacteria. Misuse and overuse of these drugs, however, have contributed to a phenomenon known as antibiotic resistance. This resistance develops when potentially harmful bacteria change in a way that reduces or eliminates the effectiveness of antibiotics.
Antibiotic resistance is a growing public health concern worldwide. When a person is infected with an antibiotic resistant bacterium, not only is treatment of that patient more difficult, but the antibiotic-resistant bacterium may spread to other people. When antibiotics don’t work, the result can be longer illnesses, more complicated illnesses, more doctor visits, the use of stronger and more expensive drugs and more deaths caused by bacterial infections. How Dangerous it is!
Please, follow this direction, Siiipppp??!
- Complete the full course of the drug. It’s important to take all of the medication, even if we are feeling better. If treatment stops too soon, the drug may not kill all the bacteria. We may become sick again, and the remaining bacteria may become resistant to the antibiotic that we’ve taken.
- Do not skip doses. Antibiotics are most effective when they are taken regularly.
- Do not save antibiotics. We might think that we can save an antibiotic for the next time we get sick, but an antibiotic is meant for our particular infection at the time. Never take leftover medicine. Taking the wrong medicine can delay getting the appropriate treatment and may allow our condition to worsen.
- Do not take antibiotics prescribed for someone else. These may not be appropriate for our illness, may delay correct treatment, and may allow our condition to worsen.
- Talk with our health care professional. Ask questions, especially if we are uncertain about when an antibiotic is appropriate or how to take it. Hemm, for these case, we can ask the PHARMACIST about direction of using antibiotics. Hemm, I provide this service expecially for you. (yeaaah, for you whom still read this blog.
How lucky you're for finding this blog#haha,just kidding! ). You can fill the field on "INFORMASI OBAT/DRUG INFORMATION" in this blog or send me SMS on +628566756732 at 08.00-10.00 pm every night. (haha, free promotion! But, this service is also FREE except your pulsa for send me SMS. ahaha... :D).
Okeeeh?? Siiippp... Let's Cambate and Prevent ANTIBIOTICS RESISTANCE. Not only for doctor and pharmacits, but it's our responsibility. For everyone, not only medical people.
Ohhhh my God! Masya Allah, I almost forget about my TDM. And tomorrow (insya Allah) I will get examination about that. I never study about TDM completely. Soooo, I must fight this night! Please pray for me. Please..pleaseeee.... Hihihi....
Okeeehhh, LONG LIFE EDUCATION... ^__^
Pelayanan Informasi Obat (PIO) Online; GRATISSS!
Hmm...sejujurnya, ide ini sebenarnya sudah cukup lama terbersit di pikiran. Apalagi, dengan berkembang pesatnya dunia teknologi informasi yang membuat semakin banyak orang-orang melek tekonologi, dan itu artinya pengguna internet semakin banyak. Kebutuhan akan informasi juga semakin meningkat.
Heuu, meski sudah lama terbersit di fikiran, tapiii aku tidak punya cukup nyali untuk memproklamirkannya. Karena, aku masih takut, jangan-jangan nanti kenapa-napa. Jangan-jangan aku tidak bisa memberikan informasi yang benar. Jangan-jangan malah berdampak tidak baik. Pokonya, banyak "jangan-jangan" lainnya yang memenuhi pikiranku sehingga aku jadi maju mundur deh. Heuu...
Tapiiii, kemarin aku kuliah ROTD (Reaksi OBat yang Tak Dikehendaki aka Adverse Drug Reaction) sama bu Dr. Retnosari (pakar farmasi klinis UI) yang bagiku sangat inspirative banget yang benar-benar open minded, membuat aku mencoba mem-PD-kan diri untuk me-launchingkan PIO Online ini. Hemm...sebenarnya masalah terkait obat itu masiiiih suangaaattt buanyaaaakk sekalii. Dan sebagian sih masi 'misteri', dan belum terpecahkan. Hemm...ternyata belajar farmakovigillance, Post-Marketing Surveillance, dan Adverse Drug Reaction itu sangat menyenangkan. Karena ini menuntut kita untuk paham, mulai dari mekanisme normal homeostasis tubuh, kondisi patologisnya, lalu efek terapeuticnya, hingga ke adverse drug reaction nya. Kalau cuma paham ujung-ujungnya doang, lalu ngafalin buat ujian, belajar ini sama saja dengan bohong. Nda bakalan ada ilmu yang kita dapatkan kalo hanya memahami (apalagi cuma ngafalin) sepotong saja. Hemm, belajar ROTD menuntut kita untuk paham rangkaian dan mekanismenya sehingga memang dituntut belajar keras. Heuu... Harus jungkar-jungkir balik ngebuka buku-buku yang dulu aku pelajari di semester 3 hanya untuk satu bab presentasi. Yaahh, hitung-hitung, aku belajar konsep dasar dari awal lagi dah. Dan itu sama sekali bukan hal yang buruk. Aku malah senang, bisa belajar dan mempelajarinya lagi...
(ah, hal yang paling mencengangkan yang terjadi pada diriku saat ini adalah..tentang paradigma BELAJAR itu adalah SEBUAH PROSES yang MENYENANGKAN! Dan jika sesuatu sudah dimulai dengan CINTA, seberat dan sesulit apapun untuk mempelajarinya, tetap saja ia adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Hee.... Aku Cinta Farmasiiii, cihuuuyyy)...
Sebenarnya, Kita Sudah Memberikan PIO
Sebenarnya disadari atau tidak, kita (temen-temen farmasis lainnya) sudah memberikan PIO kepada sekurang-kurangnya orang-orang di sekeliling kita. Iya, mereka yang suka SMS dan Nanya soal Obat. Kalau aku sih ya, memang sering di -SMS-in,
"Fathel, aku (atau mamaku, atau adekku, atau siapapun itu), lagi dapat obat A, B, C dan D. Itu obat apah yah? Gimana cara pakenya?"
atau, "Fathel, suamiku abis makan obat E, kok langsung bengkak-bengkak yah? Apa yang harus aku lakukan?"
atau, "Fathel, kalau kondisi begini-begini, aku mestinya gimana yah? Boleh ndak aku makan obat F yang diiklankan itu?"
Hemm, hal yang sama aku yakin juga terjadi pada temen-temen farmasi lainnya meski pun case nya mungkin beda-beda. Nah, secara tak langsung sesungguhnya kita sudah memberikan PIO kan yah? Untuk menjawab pertanyaan itu sendiri, aku biasanya harus buka buku lagi (soalnya, aku hanya tak ingin memberikan informasi yang salah. Lagian, aku juga belom hafal semua obattt koo, hihihi..kecuali obat-obat yang memang sering digunakan di kalangan masyarakat).
Dan, akuu, sesungguhnya tak ingin hanya orang tertentu yang bisa dapatkan info itu. Aku ingin berbagi kemanfaatan itu lebih banyak lagi. Yah, alasan sederhananya adalah.... Aku hanya ingin bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Aku ingin, ilmuku ini berkah, tidak hanya buatku sendiri, tapi juga buat orang lain. Heuu....
Kalau Salah, Bagaimana?
Satu lagi hal yang begitu aku takuti, mengapa aku tidak launching dari dulu adalah...aku takut salah!
Tapi, satu hal yang kemudian aku yakini adalah....TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN SALAH!
Karena, dari salahlah kita belajar.
Jika kita selalu benar, lantas dari mana kita belajar?
Kalau sudah selalu benar, ngapain juga belajar?
Heuu....
Makanya aku berani untuk melaunchingkan ini. Bukan tanpa pertimbangan, bukan juga tanpa resiko, bahkan bukan juga tanpa sambutan yang tidak baik dari orang-orang. Tapi, jika ingin maju, jika tak ingin stagnan, kita juga harus berani ambil risiko tho?
Jadii, berani ajah...
Pede ajaah...
Heuu...#ngucepinnya beraatt...
Gratis kah?
"Ada yang bilang, untukku boleh gratis yah?"
Iya, ini semua GRATIS!
Bahkan kamu tak perlu isikan pulsaku, untuk membalas SMS mu. (Meski aku sering seret pulsa. haha... Kebanyakan Jarkom siiihh...hehe).
Hemm,,,tahukah kamu, sebenarnya ini tak gratis sama sekali. Sebab, aku dapat "bayaran" yang menurutku jauh lebih mahal! It's intangible. Nda bisa dihitung!
Apa coba?
ILMU!
Iyaahh, ILMU! Karena dengannya, kamu dapat informasi dan aku dapat ilmunya. Dan bagiku, ini lebih berharga dari rupiah. Sebab, dengan pertanyaan itu, aku akan berusaha untuk mengkaji lebih dalam, dan jika tak kuketahui jawabannya, maka aku insya Allah akan tanyakan kepada orang-orang yang lebih pakar dari aku (karena aku memang masih belum apa-apa. Belom pakar. Belom ahli...hehe...hanya seseorang yang sedang mencoba belajar saja...). Dan, bersama dengan itu aku mendapatkan pelajaran deh. Maka, memang tak ada yang rugi. Insya Allah ini memberikan kemanfaatan bagiku, juga bagimu yang sedang membutuhkan informasi...
So, Sok Atuh, Silakan...
So, Sok atuh,bagi yang membutuhkan informasi tentang obat, silakan SMS atau Klik di SINI. Atau Klik Banner Informasi Obat yang ada di sidebar blog ini...
Don't worry, jangan khawatir soal confidential data. INFORMASI kamu tidak akan disebarluaskan dan juga tidak akan dipajang di blog ini. Rahasianya terjamin insya Allah! Kalau kamu tak ingin diketahui identitasnya, cukup pakai nama samaran saja. Tapi alamat emailnya jangan samaran yaah, karena jawaban pertanyaanmu akan terkirim via email nantinya. No HP juga aku required karena aku bisa balas via SMS juga. Siipp??
Launching PIO Online
![]() |
| Pharmacits Blogger Award |
<a href="http://www.blogger.com/goog_234927770"><img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSJDtzV4Z-wR6LT2AuKpNlMd8JXQxOlIPW1XU-5xrsATV5phNGkr2a-FxUpwKQNJHdl18_LjNGCvkToirtQJ4yo7Y62t6PUPtUVvko-6f_x4vl4MwlYsIeAJDmAwQV0yXCelFn2hPgIMDj/s1600/benerrr+euy.gif" /></a></span></td></tr>
<tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;"><a href="http://fathelvi.blogspot.com/2012/03/klik-di-sini-utk-menuju-form-trima.html">Pharmacits Blogger Award</a>
Rulenya :
TULISKAN OPINIMU, CURHATMU, KE-MIRIS-AN mu, KECINTAAN MU, pokonya apapun ituuu tentang DUNIA FARMASI, lalu ajaklah teman FARMASIS BLOGGER lainnya untuk menuliskan opininya juga dengan meneruskan award ini kepada temen farmasis blogger laiinya… Pokonya ajak temen blogger lainnya yaah (sekurang-kurangnya satu blogger).
HIV/AIDS
Yah, walaupun masih ‘ecek-ecek’, masih sederhana (makluuuum, masih belajarrr, hee…) tapi, aku coba mem-PD-kan diri untuk meng-upload nya…hee… Smoga bermanfaat yaah…
![]() | ||
| Tafadhol Klik untuk mengunduh... |
dan pilih : Fathel Presentasi HIV/AIDS
seperti berikut :
| Klik di presentasinya untuk mendownload |
Apoteker Galau
Belajar dan Berbagi
Cuap-Cuap Spechless
Seperti biasa, Bloggie. Aku adalah orang yang suka protes. Hee... Apalagi jika aku punya sesuatu alasan dan data ilmiah yang bisa kupertahankan. Ya, setidaknya bagiku : BENAR atau BELAJAR dari KESALAHAN... Jadi, aku tetap akan utarakan itu. Jika benar, semoga ada manfaat yang kita peroleh ke depannya bersama-sama. Dan jika salah, maka aku akan belajar dari kesalahan ini. Ya, karena tak semua kita tau. Sebab, tak semua kita punya ilmu. Lantas, alasan apakah yang membuat kita merasa paling benar? Iya tho?!



