Showing posts with label Pharmacist. Show all posts
Showing posts with label Pharmacist. Show all posts

Obat untuk Menunda Haid Sebelum Berangkat Umrah atau Haji dan Tips-Tipsnya

Kali ini edisi sharing dengan kapasitas aku sebagai seorang farmasis klinis (yang masih harus banyak belajar tentunya). Sharing ini berkaitan dengan obat penunda haid ketika melaksanakan haji atau umrah. Dan juga berdasarkan pengalaman pribadi. 😊😊

Bagi muslimah yang masih muda (belum menopouse) salah satu yang bikin deg-degan ketika mau umrah atau haji adalah datang bulan! Ya, karena momen ibadah ini waktunya tentu tidak bisa kita arrange sendiri. Harus mengikuti jadwal yang ada (dari travel umrahnya) yang kadang bertepatan dengan jadwal haid. Padahal, tidak setiap saat bahkan tidak setiap tahun kita bisa melaksanakan ibadah umrah. Apalagi haji. Waktunya sudah jelas-jelas Allah tetapkan sejak tanggal 8 hingga 12 Dzulhijjah (bagi nafar awwaal) dan 13 Dzulhijjah bagi Nafar Akhir. Gimana nih solusinya? Berikut aku paparkan sedikit ulasan dari sudut pandang aku sebagai seorang apoteker (klinis). Boleh dikoreksi oleh sejawat maupun dokter jika ada yang salah 🤗🤗. Feel free to comment yaa.

Haid itu sendiri adalah proses alamiah sekaligus fitrah bagi seorang wanita. Di balik itu semua secara fisiologis (secara mekanisme yang ada di tubuh kita) ada proses yang sangat kompleks sekali. Ma shaa Allah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan manusia dengan penciptaan yang amat sangat sempurna. Sederhananya, haid adalah peluruhan dinding rahim yang menebal yang siap untuk ditempati oleh janin. Jika tidak ada sperma yang membuahi maka, si dinding rahim akan meluruh (untuk kemudian diganti lagi dengan yang baru di siklus berikutnya). Kalau dijelaskan, maka akan rumit sekali. Jadi, secara sederhana aja yaa 😉. Nah, salah satu hormon yang berperan penting di sini adala progesteron. Dari sekitar hari ke-14 hingga menjelang haid, kadar hormon ini mulai meningkat dan tinggi (karena siap-siap menyambut si janin imut tadi seperti yang diceritakan di atas). Jika tidak ada pembuahan maka seiring dengan meluruhnya dinding rahim (terjadinya haid) maka hormon ini juga ikut turun kadarnya. Setelahnya siklusnya akan dimulai lagi dari awal dengan melibatkan beberapa hormon lainnya. Tidak perlu dijelaskan kan yaa. Yang mau penjelasannya, boleeeh. Silakan komen.

Lalu gimana obatnya bisa menahan haid?! Jadi gini ceritanya. Si progesteron ini (beserta hormon-hormon lainnya, ada estrogen, HCG, Prolaktin, dll) berperan penting dalam proses kehamilan akan meningkat kadarnya selama kehamilan. Semuanya berperan di perannya masing-masing dalam rangka mensupport si baby di perut. Jadi, sekiranya ada sperma yang membuahi sel telur, kadar hormon progesterone akan terus dipertahankan (karena tidak ada peluruhan) dan akan terus meningkat selama kehamilan. Oleh sebab si progesterone berfungsi dalam penebalan dinding rahim dan mempertahankan agar dinding rahim tetap menebal selama kehamilan. 

Pas hamil kan enggak haid tu. Naah, di sini lah si obat bekerja! Jadi, obatnya adalah berupa progesterone tiruan (yang bukan bentukan alamiah dari tubuh kita) yang membuat tubuh kita merasa seolah-olah lagi hamil. Ingat, tadi selama hamil kaan progesterone tinggi. Dengan meminum progesteron tiruan ini, maka secara fisiologis akan "dikira hamil" sehingga tidak terjadi haid.

****
Apa nama obatnya?

Salah satunya adalah Primolut-N 5 mg yang berisi Norethisterone (progesteron tiruan seperti yang aku jelaskan di atas).

Bagaimana cara minumnya, kapan harus diminum dan berapa dosisnya?
Ups, tunggu dulu sahabat! Ada hal yang perlu diperinci di sini. Tentang waktu pelaksanaan kegiatan ibadah umrah dan haji.

Perlu kita garis bawahi bersama, meskipun berangkat haji itu selama 1.5 bulan hingga 2 bulan, akan tetapi tidak selama itu prosesi haji agau umrahnya tentunya. Yang perlu kita catat adalah apakah jadwal umrah ketika haji (haji tamattu') bertepatan dengan jadwal haid dan apakah jadwal manasik haji bertepatan dengan jadwal haid. Jika TIDAK maka tidak perlu meminum obat penunda haid. Tidak apa-apalah merelakan waktu ke masjidil haram atau ke masjid nabawi barang seminggu dua minggu asalkan tidak bertepatan dengan jadwal utama. Karena penerimaan kita terhadap ketetapan Allah bahwa kita mengalami haid itu in shaa Allah juga berpahala.

Contoh kasus 1; mbak A berangkat umrah kloter 1 dan tujuan penerbangan ke Madinah dulu. Sedangkan mbak A pas berangkat itu adalah jadwal haid, Maka, mbak A tidak perlu minum obat. Karena ketika ke Madinah mbak A tidak ada ibadah yang khusus selain shalat di masjid Nabawi dan masjid Quba. Atau, shalat di Rawdah. Nanti, mbak A kemungkinan besar ketika sudah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah dan haji, sudah dalam keadaan suci. Dalam case ini: tidak perlu minum penunda haid.

Jika ternyata jadwal haid mbak A adalah bertepatan dengan jadwal berangkat ke Makkah dari Madinah untuk melaksanakan umrah (haji Tamattu') kemudian diikuti manasik haji, maka ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama; Jika jarak antara umrah dengan pelaksanaan haji (tanggal 8 dzulhijjah) cukup lama (misal lebih dari 1 minggu) dan diperkirakan sudah selesai haid sebelum pelaksanaan haji, tidak mengapa tidak minum obat karena diperbolehkan untuk berihram dalam keadan haid dan umrah dilaksanakan ketika sudah bersih. Tapi umrahnya kemungkinan ga bareng rombongan karena kan pas di miqat sedang haid. Atau jika ingin bareng dengan rombongan dan memiliki waktu yang cukup lama hingga pelaksanaan haji, maka boleh minum obat 3 hari menjelang jadwal haid. Lalu, berihram, melaksanakan umrah hingga tahalul, berhenti minum obat setelah umrah selesai. Lalu jika haid muncul, ditunggu saja sampai selesai. In shaa Allah ketika puncak pelaksanaan haji dalam kondisi suci. Dan tidak butuh minum obat lagi. Ini asumsinya jika jarak pelaksanaan umrah dan puncak haji waktunya cukup lama (1-2 minggu). Kemungkinan kedua jadwal umrah dan haji berdekatan dan kemungkinan besar mbak A tidak akan selesai haid sebelum puncak haji (tanggal 8-13 dzulhijjah) maka, sebaiknya mbak A mengkonsumsi obat penunda haid dari 3 hari sebelum jadwal haid hingga tawaf wada' haji selesai. Dan rentang waktunya hanya boleh 14 hari saja dalam mengkonsumsi obat ini. Jadi, jika sekiranya rentang waktu dari umrah hingga haji memakan waktu 14 hari atau kurang, maka memang dianjurkan untuk meminum obat penunda haid pada masa ini. Ini berlaku untuk kloter berikutnya yang landing di Madinah juga.

Contoh kasus 2; mbak B dapat kloter terakhir penerbangan terakhir langsung ke Jeddah dan Makkah, pas bertepatan dengan jadwal haidnya, dan jarak kedatangan dengan puncak pelaksanaan haji hanya 5 hari, maka mbak B sebaiknya sudah minum obat sejak 3 hari sebelum jadwal haid dan berhenti minum obat setelah selesai hari tasyrik. Jika sekiranya masih ada waktu untuk stay di makkah sampai diperkirakan selesai haid, maka masih sempat untuk melaksanakan tawaf wada'. Akan tetapi jika rentang waktunya sejak 3 hari sebelum keberangkatan hingga selesai thawaf wada' adalah 14 hari, maka sebaiknya obat diminum sampai selesai thawaf wada'.

Jika jadwal haid mbak B adalah ketika pertengahan puncak pelaksanaan haji, maka sebaiknya obat tetap diminum 3 hari sebelum jadwal untuk antisipasi agar bisa melakukan thawaf ifadha. Setelah meninggalkan Mina dan masih stay di Makkah dalam waktu yang cukup lama dan memungkinkan untuk menunggu selesai haid, maka tidak mengapa tidak diminum dulu karena thawaf wada' dilakukan ketika meninggalkan kota Makkah dan tidak harus ketika kembali dari Mina menuju hotel/penginapan masing-masing.

Untuk pelaksanaan umrah (di luar bulan haji), prinsipnya sama. Intinya: ketika pelaksanaan Umrah/Haji diperkirakan bertepatan dengan jadwal haid, maka ... minumlah obat 3 hari sebelum perkiraan jadwal haid sampai selesainya prosesi umrah dan maximum hanya boleh 14 hari berturut-turut.

*****
Berapa dosisnya, gimana cara minumnya?

Obat primolut-N 5 mg diminum 3x sehari dengan Jam yang sama. Ini penting. HARUS TERATUR, DI JAM YANG SAMA, TIDAK BOLEH LUPA DAN TIDAK BOLEH TELAT!
Jadi, setiap 8 jam ya Sist! Setelah makan. Bukan dalam kondisi perut kosong.
Dan maximum hanya boleh 14 hari

*****

Apakah ada efek samping?

Hmm.. yang alami aja ada efek sampingnya apalagi yang tiruan kan yaa? Hehe. Kadar progesteron yang tinggi bisa menyebabkan mual, muntah, perubahan mood, dan kadang muncul jerawat. Mirip-mirip pas PMS lah yaa.

Efek samping yang perlu diperhatikan adalah apakah ada reaksi alergi untuk orang yang sensitif dengan kandungan yang ada pada primolut-N. Alert buat yang punya riwayat alergi. Tapi umumnya ini sangat jarang terjadi.

******

Kalau udah terlanjur haid?

Jika udah terlanjur haid, berarti itu qadarullaah, sist. Terima dengan ikhlas dan penuh keridhaan tentunya. Tapi kan sayang, udah di Makkah ga bisa shalat ke masjidil Haram?! Mudah-mudahan kalau ridha Allah tetap catatkan pahala untuk kita. 

Masa' ga bisa dihentikan juga dengan primolut-N?
Hmm ... jadi begini sist. In shaa Allah masih bisaa. Tapi sebaiknya primolut diminum pada hari ke-4 atau ke-5 haid. Karena obat ini juga berfungsi untuk memperpendek masa haid. Cara minumnya masih sama yaa, konsisten tiap 8 jam. Tapi, kemungkinan setelah berhenti minum primolut, akan muncul flek lagi.

*****
Di mana bisa beli obatnya? 

Kalau di Saudi dijual di apotek/pharmacy/saidiliyah.
Tapi, aku tetap menyarankan untuk konsul ke dokter kandungan terlebih dahulu apalagi yang memiliki kondisi khusus.

*****
Koq aku tetep haid yaa padahal udah minum primolut-N rutin sesuai aturan pakai?

Nah, selalu ada pengecualian dalam hidup ini. Apa pun itu!
Yang aku paparkan ini untuk kondisi yang umum terjadi. Jika ada hal yang di luar espektasi, segeralah konsul ke dokter.

*****

Jika masih ada yang membingungkan, silahkan bertanya di kolom komentar yaa. Begitu pula yang ingin mengoreksi.

Semoga bermanfaat 🤗🤗
Read More

Sebab Akulah yang Akan Ditanya

Aku tertegun cukup lama memandangi pesan dari adik kelasku tentang pernyataan dosen kesayanganku semasa kuliah dulu kepada mereka. Intinya, semoga nanti aku bisa berkontribusi kembali di dunia yang telah aku sedikit ilmui tentangnya; clinical pharmacy. Aku hampir tidak percaya beliau masih mengingatku sejak lebih dari 4 tahun aku lulus dari kuliah. Di antara ratusan mahasiswa beliau. She is one of my best lecture.

Sejenak berhamburan lah ingatan-ingatan tentang teman-teman seangkatan dulunya, yang kini telah berada di mana-mana. Menjadi dosen di luar negeri. Melanjutkan sekolah ke luar negeri. Bekerja as a clinical pharmacist di sebuah rumah sakit besar. Tetiba aku merasa menciut dan jauh. Ya... ya... ya..., aku merasa telah menjauh dan semakin menjauh dari bidang ilmu yang dulu pernah aku geluti secara lebih mendalam. Meski bukan berarti serta merta aku sudah berilmu tentang itu. Maksudku, aku pernah mempelajarinya lebih intens dulunya. Dan kini, aku merasa sangat jauh tertinggal. Ibarat naik kereta, mereka sudah jauh menuju utara dan aku malah menuju ke selatan. Hehe... Sejujurnya, kadang ada rasa untuk ingin mengejar mereka kembali. Melanjutkan kuliah lagi. Hadir di berbagai forum ilmiah, membahas ini dan itu. Publikasi penelitian di seminar dan workshop setara internasional. Berkontribusi di bidang farmasi klinis as best as I can.

Dalam perenungan panjang, kembali aku tersadar. Bahwa memang apa yang aku inginkan, cita-citakan itu tidaklah salah. Namun, jika melihat kembali 4 tahun yang aku jalani ini, sesungguhnya adalah juga tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Tidak semua orang dapat menyaksikan anak-anaknya dapat tertawa untuk pertama kalinya, tengkurap pertama kalinya, berjalan pertama kalinya. Membersamai mereka--meski dengan segenap salah dan kekurangsabaran yang aku sedang tertatih untuk mengejanya--adalah wonderful time dalam hidupku yang tak bisa digantikan oleh waktu-waktu lain. Iya, mereka adalah alasan terbaik yang membuat aku lebih memilih berjalan menuju ke arah selatan di saat teman-temanku telah melaju ke utara. Lalu,  sebuah pertanyaan berat: apalagi yang aku kejar?! Benarkah sebuah kontribusi, atau hanya sekedar eksistensi?

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah cita-cita utamaku sedari dulu. Dan meskipun Menjadi clinical pharmacist juga adalah cita-citaku, tapi tentang peranku sebagai seorang istri dan ibu, inilah yang kelak akan ditanya. Menjadi seorang clinical pharmacist, mungkin bisa 'di-subcontract-kan' kepada orang lain. Ada orang lain yang bisa mengambil kontribusi ini selainku. Tapi, menjadi seorang istri dan ibu, dapatkah aku men-subkontrakkan nya kepada orang lain sementara akulah yang akan ditanyai kelak oleh-Nya dan dimintai pertanggungjawabannya.

Oleh sebab aku menyadari bahwa aku bukan superwoman yang bisa melakukan dua hal sekaligus dalam waktu bersamaan dengan sangat baik, maka aku harus memilih salah satunya. Dan karena aku telah memilih 'melepaskan' satu kesempatan untuk berkontribusi di dunia farmasi klinis, maka aku seharusnya melakukan yang terbaik dan all out di pilihan yang aku telah ambil; menjadi sebaik-baiknya madrasatul 'ula. Aku tentu tidak ingin 'merugi', melepaskan satu pilihan, sementara di pilihan yang lain aku membiarkannya berlalu begitu saja tanpa ada upaya terbaik. Aku pasti akan menyesalinya jika aku tidak melakukan sebaik-baik pencapaian di pilihan yang aku pilih ini. Sebab, waktuku sesungguhnya sangat singkat. Aku tidak bisa berlama-lama termangu.

Iya.
Inilah masaku. Inilah pilihanku saat ini. Aku ingin melakukan yang terbaik, memberikan upaya yang terbaik, do'a terbaik untuk mereka yang menjadi alasan pilihanku. Boleh jadi, saat ini aku tidak bisa berkontribusi di bidang farmasi klinis. Tapi, aku ingin output terbaik bagi anak-anakku. Mungkin, belum saat ini aku melihat hasilnya. Mungkin, berpuluh tahun lagi. Aku tak ingin melewati masa emas yang singkat ini dengan biasa-biasa saja.

Aku menyadari, anak-anak tak selamanya bayi. Tak selamanya balita. Tak selamanya kanak-kanak. Akan ada masa mereka meremaja dan mendewasa. Mungkin, pada masa itulah--jika Allah menghendaki usia yang panjang dan semoga usia yang barokah--aku berkontribusi untuk cita-cita keduaku. Saat anak-anak sudah memiliki jalan mereka sendiri. Dan, sekali lagi, aku memilih ini oleh sebab akulah yang akan ditanya, tentang mereka, tentang amanah yang telah Dia berikan.

Let's do the best in this best time...
Semangaaaaattt...!!!
😚

Read More

Obat Flu & Batuk yang Tepat pada Bayi dan Toddler

Dulu semasa masih kuliah farmasi klinis, aku ingaaat seingat-ingatnya ketika bu dosen bilang, "Sebenarnya tidak ada lho obat batuk atau flu untuk bayi." Batuk yang dimaksud adalah batuk pada umumnya terjadi (penyakit sejuta umat yang hampir dialami oleh semua orang), bukan batuk disebabkan oleh kasus berat seperti TBC, Pneumonia, Pertusis dan kasus infeksi lainnya.
Sementara, fakta di lapangan menunjukkan banyaknya obat flu dan batuk untuk anak beredar di pasaran. Daaan, adalah lumrah ketika menjumpai bayi dan toddler yang batuk menerima sekurang-kurangnnya 3-4 macam obat: Paracetamol, CTM, obat batuk dan flu dan antibiotik. Ini adalah fakta yang sering dijumpai di lapangan (ehh di masyarakat maksudnya... bukan di lapangan bola).

"Batuk pada anak tidak butuh obat. Cukup dengan nebulizer dengan cairan normal saline." Lanjut bu dosen. "Karena, bayi dan balita belum dapat mengeluarkan dahak sendiri. Obat batuk kebanyakan adalah untuk merangsang agar dahak dapat dikeluarkan kecuali obat penekan batuk pada kasus berat. Codein dilarang keras untuk diberikan kepada bayi." Codein adalah salah satu obat penekan batuk yang ampuh.

Yaah, begitulah... Di lapangan banyak sekaliii kita jumpai anak-anak yang diresepkan obat batuk. Datanglah ke toko obat, maka sekurang-kurangnya 4 macam obat mesti dibawa pulang. Daaan, ada juga sebagain oknum dokter (mungkin yang kurang update) ikut memberikan empat macam obat di atas. Fiuufftt... benar-benar menghela nafas panjang deeeh... hiks..

Nah, CTM... memangnya semua batuk disebabkan alergi?? Enggak kaaaan... ngapain pulak dikasi CTM segalaa... fiiuufftt (lagi). Kecuali memang ada riwayat alergi maka penggunaaan antihistamin adalah terapi yang tepat. Yang jelas, tidak semua bayi alergi kaaan? Masa' semuanya dikasi antihistamin. Ckckckck...
Yang paling parah adalah antibiotik. Sengaja di bold dan di italic. Entah kenapa, penggunaan antibiotik sangat over dan non-indikasi. Beli antibiotik sudah kayak mau beli nasi padang ajah. Ada di mana-mana. Bahkan di warung juga ketemu kali tuuh di amoxicillin... Fiuuftt... (lagi-lagi fiuuuft...).
Kebanyakan batuk dan juga flu penyebabnya adalah virus (kecuali kasus berat seperti yang sudah aku sebutkan di awal). Lha, orang cuma virus koq... kenapa mesti dikasi antibiotik... >.<
Bikin resisten ajaah.. hiks...
Terapi non indikasi... Salah satu DRP (drug related problem maah iniiih...). Tapi sayangnya, belum banyak yang ter-edukasi tentang hal ini. Penggunaan 3 macam obat ga perlu (CTM, obat flu dan batuk, antibiotik) untuk kasus flu dan batuk itu agaknya masi lumrah terjadi. Tantangan dunia farmasi sebenarnya.

Naah, jadi sebenarnya apa sih terapi yang tepat untuk batuk dan flu pada bayi dan toddler (batita)? Sedikit share sahaja... smoga bermanfaat... Mari belajar dari case Aafiya saja. Langsung dari contoh kasusnya.. hehe... dan juga aku reffers dari web MD.

Sejak bayi hingga toddler, Aafiya mengalami 2x kondisi batuk dan flu yang pada akhirnya aku dan abu Aafiya bawa ke ER nya RS. Yang selainnya cuma batuk biasa dan sebentar yang tidak perlu ada kunjungan ke ER segala. Dan buat aku, hal tersebut menjadi pengalaman berharga. Pas selesai dari ER, aku cukup takjub dengan obat yang diresepkan dokternya.
Apakah Aafiya dapat ctm, antibiotik dan obat batuk untuk mengatasi batuknya? Jawabannya tidak. Dokternya meresepkan nebulizer beserta normal saline nya. Aku awalnya cukup kaget dapat resep alat nebulizer. Langsung inget pelajaran farmasi klinis jaman kuliah dulu. Alhamdulillaah pengobatannya rasional.

Jadi terapi untuk batuk pada bayi dan toddler yang pertama adalah: nebulizer dengan menggunakan cairan normal saline. Jika tidak ada alat nebulizer, untuk kasus flu in shaa Allah bisa digantikan dengan nasal spray normal saline. Dikasi obat tetes hidung yang mengandung normal saline.

Terapi kedua adalah memperbanyak asupan cairan.

Ketiga, jika ada demam, dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen baik secara oral maupun suppositoria. Dosisnya disesuaikan dengan usia yaak.

Ingat!!! Demam pada bayi usia newborn-3 bulan (terutama bayi newborn hingga 1 bulan) bukanlah hal normal, jadi harus segera dibawa ke dokter.

Keempat, berikan sedikit madu.
Kelima, tinggikan posisi kepala bayi/toddler.
Keenam (optional but better) gunakan humidifier terutama di malam hari.
Untuk negara Indonesia yang humiditas yang cukup tinggi, humidifier sepertinya not too mandatory yaak. Tapi jika berdomisili di negara dengan humiditas yang rendah (seperti di negara tempat aku berdomisili saat ini), maka penggunaan humidifier cukup penting apalagi yang punya bayi.

So, stop obat batuk dan antibiotik pada bayi dan balita. Okeeeh? ;)

Read More

#Seri PIO 3: Obat Paten atau Generik?

"Dokter, pokonya saya mau obatnya yang paten yaa Dok. Ga mau yg biasa-biasa aja gitu.. uhmm apa yaa namanya... oh iyaa generik." Permintaan ini mungkin cuma karangan saja. Akan tetapi, ini pernah kita jumpai di tengah-tengah masyarakat, bukan?

Edisi informasi obat kali ini, aku cuma pengen berbagi informasi terkait salah kaprahnya obat paten. Mungkin ada sebagian di antara kita yang salah menduga mengenai obat paten. Obat paten sering diartikan obat yang benar-benar pancen oyee, numero uno, paten dalam hal menyembuhkan. Oleh sebab, salah memahami inilah akhirnya kita terjebak pada pemikiran bahwa obat mahal = obat paten = lebih cepat menyembuhkan dan lebih baik adanya sehingga kita meminta dokter untuk meresepkan si obat paten.

Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai obat paten, mari kita telusuri sedikit mengenai kisah panjang perjalanan suatu obat sehingga boleh dipasarkan. Suatu bahan obat yang istilahnya dikenal dengan API (active pharmaceutical ingredients) alias bahan aktif yang diduga berkhasiat sebagai obat akan melewati perjalanan yang sangaaaatt panjang dan lamaa hingga menjadi obat yang ada dihadapan kita saat ini (dalam bentuk apapun baik tablet, sirup, obat suntik dll). Hal yang pertama yang dilihat adalah keamanannya... lalu khasiatnya pada hewan uji. Jangan lupa, ada deretan puanjaaaaaaang upaya untuk memurnikan si API yg pada mulanya terdiri dari berbagai macam zat aktif. Ada tahapan uji klinis. Ada tahapan formulasi. Ada pre dan post marketing surveylance. Pokonya kalo diceritakan, mungkin bisa sampai setebal novel bang Tere-liye. Hehe... Dan jangan dikira itu bisa selesai 1 bulan 2 bulan. Bisa sampai 10 tahun lebih, bo! Berapa biayanya? Pokonya biaya kampanye capres cawapres kalaah dah! Bisa sampai 200 juta USD bahkan lebih! (Kalo dirupiahkan berapa kira-kira itu yaa?)
Read More

#Seri PIO 2: Bolehkah Menyimpan Obat di Kulkas?

Ibu-ibu, obat-obatan adalah sesuatu yang tentunya pernah ada di rumah kita, terlepas dari sering atau tidaknya kita menggunakannya. Hampir mustahil ada orang (apalagi ibu-ibu) yang tidak pernah melakukan runtutan check-up (yang paling sering untuk anak), kemudian menebus resep, membawa pulang obatnya, memberikan obat, dan terakhir menyimpannya. Mungkin rentetetan awal sudah kita lakukan dengan benar. Lalau bagaimana dengan urutan kegitan yang disebutkan terakhir di atas; menyimpan obat? Adalah hal yang biasa dan lumrah—sebagaimana kita menyimpan makanan dan minuman—kitapun menyimpan obat di lemari pendingin/kulkas. Tapi, benarkah yang demikian?

Sebelumnya, mari kita “intip” sedikit tentang bagaimana pembuatan obat. Obat di industri farmasi diproses sedemikian rupa dengan cara yang sangat higienis, aseptis dan melalui prosedur-prosedur yang memiliki stadardisasi tertentu. Pembuatan obat dilakukan dengan sangat hati-hati, baik itu dosis, zat yang pendukung, hingga penyimpanannya. Pada umumnya obat dirancang sedemikian rupa dan dibuat stabil pada suhu kamar atau temperatur ruangan., kecuali obat-obat tertentu (in syaa Allah kita bahas nanti yaa...).

Read More

#Seri PIO 1: Amankah Minum Obat Saat Hamil?

Ada kalanya ketika hamil, kita mengalami kondisi tertentu dan mesti mengkonsumsi obat-obat tertentu. Akan tetapi, terkadang, ada keraguan dalam hati, "Ini obat, aman ga yaa kalo saya minum? Si dede bayi dalam perut nanti kenapa-napa ga yaa?" Mungkin pertanyaan ini muncul di benak kita. Baiklah, mari kita sedikit bercerita.

Dahulu kala, orang-orang tidak terlalu aware dengan efek samping obat pada janin. Hingga, suatu peristiwa menggemparkan telah terjadi. Pada tahun 1960-an, ada sebuah obat yang disebut Thalidomide. Obat ini indikasinya adalah untuk orang-orang yang mengalami susah tidur atau insomnia. Tapi, si Thalidomide ini ternyata juga bersifat anti mual muntah sehingga banyak diresepkan untuk mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil. Tapi, peristiwa mengejutkan terjadi! Ternyata banyak anak yang terlahir cacat, baik itu amelia (tidak punya kaki dan tangan), pokomelia (kaki dan tangan tidak lengkap) dan kecacatan organ lainnya. Ada sekitar lebih dari 10.000 anak yang mengalaminya. Setelah ditelisik, ternyata, kejadian itu terjadi pada anak-anak yang ibunya ketika hamil mengkonsumsi thalidomide untuk mengatasi mual dan muntah. Ini sungguh "kecelakaan" yang sangat menggemparkan dunia medis pada tahun itu.

Read More

Kisah Orang Kampung di RS Modern

Hehe, mungkin kedengaran agak sedikit "kampungan", tapi aku tetap ingin menceritakan sesuatu yang memang sudah lama ingin aku ceritakan (dan karena terhalang oleh kondisi, baru sekarang aku punya kesempatan untuk menceritakannya). Ini tentang rumah sakit dan fasilitasnya. Bagiku ini amazing mengingat aku berasal dari kampung (wong ndeso) di mana rumah sakit yang available satu-satunya hanyalah rumah sakit umum daerah dengan fasilitas seadanya. Begitu berada di RS ini, aku merasa segala sesuatunya amazing. Sistem yang sangat bagus.

Sebelum aku menginjakkan kaki di rumah sakit, aku pernah mengunjungi klinik terlebih dahulu (untuk medical test dalam rangka pembuatan Iqama/resident permit dan pregnancy test). Awalnya aku terheran-heran, yang namanya klinik, dalam bayanganku paling yaa ga segitunya lah yaa... Ga gede-gede amat. Tapi, ini klinik koq nyaris kayak rumah sakit. Hehe... *kayak katak dalam tempurung dah akuuh. Haha. Maklum, belum pernah ke luar negeri sebelumnya... Hihi...
Tapi kesimpulanku adalah, taraf kualitas kesehatan di sini jauh jauh jauh lebih baik dari pada di Indonesia.
Bahkan kata salah seorang petugas rumah sakit yang mengurusi alkes (yang kebetulan adalah orang Indonesia), di sini peralatan medis canggih dan ada alkes yang di Indonesia cuma punya satu alat dan amat langka, di sini di 1 rumah sakit aja punya beberapa. Ma syaa Allah...

Read More

Konspirasi oh Konspirasi Obat

Hmm... sejujurnya dulu aku termasuk orang yang Antivaksin. Hehe... Ga fully anti sih. Alasannya sederhana, itu adalah karena salah satu dosen favoritku dulu adalah seorang anvaks. Karena beliau adalah dosen yang menurutku sangat cerdas, inspiratif dan dengan beberan panjang data ilmiah yang disajikan, beliau mulai "menysusupkan" tentang ketidakamanan vaksin lewat materi kuliah. Jika sumbernya bukan dari seorang clinical pharmacist yang pernah bekerja di perusahaan obat (yang notabene mengetahui seluk beluk dunia produksi obat), tentu aku takkan mudah percaya. Bahkan, aku juga ikut "mengkampanyekan" penolakan penggunaan vaksin ini. (Deuuh... Semoga ga banyak yang tersesatkan olehku yaa.)
Sekian lama waktu berlalu, akhirnya aku menyadari bahwa aku telah keliru. Banyak sumber yang kemudian membuatku menyakini bahwa, sebenarnya vaksinasi itu penting.

Baiklah, aku ga akan membahas lebih lanjut tentang vaksinasi di sini. Akan tetapi, mengenai sesuatu yang cukup "menggelitik". Hehe
========================

Ga sengaja terdampar pada sebuah diskusi (apa perdebatan yaa?) antara dua 'kubu' yaitu yang pro dengan vaksinasi dan pengobatan moderen (konvensional) dengan 'kubu' yang kontra vaksinasi dan pengobatan moderen.

Kalimat yang menarik adalah, "vaksinasi dan pengobatan modern itu tak lain hanyalah konspirasi AS belaka. Lebih baik kembali ke pengobatan herbal yang lebih aman, bebas dari efek samping." Atau, "pengobatan modern itu terlalu banyak zat kimianya yang menimbulkan efek samping. Lebih baik yang alami saja."
(Ini redaksionalnya berbeda, tapi intinya adalah sebagian orang yang menolak menggunakan obat modern menggunakan dalih bahwa itu konspirasi dan sebaiknya menggunakan obat herbal).

Sy mencoba sedikit berkomentar di sisi sebagai seorang pharmacist (meskipun sy masih memiliki sedikit pengetahuan dan memang masih harus banyak belajar).

Read More

MR. DIPIRO : Menebar Kemanfaatan

Bagi farmasis, apalagi farmasis klinis, siapa sih yang ga kenal dengan Mr. Joseph T. Dipiro. (haha, sok kenal banget gue yak? Hags....hags....hags.... Yang jelas, kita tau ama dia, dia nya ga tau kitaa). Kita lebih akrab menyebut beliau, Mr. DIPIRO. Dia adalah penulis buku Pharmacotherapy, a Pathophysioligic Approach, buku yang sering sekali jadi rujukan bagi farmasis klinis. Aku sendiri, juga sering merujuk kepada buku ini. Aku punya nya versi e-book. Soalnya kalo mau yang versi cetakannya, mahhhaaaall beut plus tebbbeeell beut. #MentalMahasiswa.

Ini nih si buku sakti itu :
karyanya Pak Dipiro dan asisten-asistennya :)

Read More

Rasional Ber-antibiotik

Baiklah, sebelum menuliskan sesuatu ini, aku mau pajang foto yang menarik ini dulu aahh...
Gunakan Antibiotik secara TEPAT!
Ya, ini adalah salah satu bentuk kampanye antibiotik, agar digunakan secara tepat [aku ambil foto ini di dekat gedung Central Medical Unit (CMU) 2 RSCM].
Ketiadaan Antibiotik dan resistensinya adalah sesuatu yang amat sangat mengancam. Sayang sekali, laju resistensinya jauh lebih cepat dari penemuan antibiotika baru. Antibiotik sudah 'terkuras habis' penemuannya di era emas tahun 1940'an dan saat ini, nyaris tak ada penemuan antibiotik baru di seantero dunia. Jadii, jangan main-main dengan antibiotik.

Read More

Ujian Kali Ini

Marilah kita bercerita tentang kisah menarik hari ini.. Kita? Ehh, nda nyadar aku tengah ngomong entah sama siapa. PeDe banget ada yang menyimak. Padahal, sebenarnya kebanyakan yang mampir hanyalah orang-orang nyasar sahaja. Hihi... Tapi, setidaknya Bloggie-ku tersayang ini mendengarkan aku. Bukankah kadang kita hanya butuh didengar sahaja, tho??

Hari ini ujian Farmakoterapi. Karena di jadwal jam 13.00, aku memutuskan untuk datang lebih awal saja. Apalagi Bu Roma SMS, "Dateng dooong." Jadi, semangat untuk datang ke kampus lebih awal mencuat juga. Lagian, aku juga udah janji sama Sri Dipiro (hehe, Sri Dewanti maksudnya. Aku memanggil Sri dengan sebutan Dipiro karena Sri itu ahli farmakoterapi, dan mengusai banyak isi buku Dipiro. Jadi, aku kagum deh. Hehe. Makanya aku menyebutnya Sri Dipiro) untuk dateng jam 11, karena kami mau bahas Aritmia (kelainan Irama jantung).

Sampai di kampus, napsu makan tiba-tiba ngedrop banget. Nda selera ngeliat apapun. Huhu. Akhirnya, cuma makan siang dengan segelas jus Alpukat dan kueh ringan yang dibeli di gedung A sahaja. Apalagi karena tentengan yang berraaaattt banget. Ada DIH --> drug information handbook yang tebelnya lebih tebel dari HP samsung (> 10 cm) dan parahnya lebih tebel dari bantal akuuh, ada guideline Antibiotic, dan ada cuplikan buku Dipiro yang sudah aku print semalem dan sudah aku kasih marker, menandai halaman-halamannya. Dan tentu saja yang tak boleh ketinggalan adalah laptop beserta komponen pendukung untuk bisa koneksi internet.

Tepat jam 13.00 ujian di mulai. HANYA SATU SOAL. Studi kasus, dari kisah nyata pasien di rumah sakit rujukan nasional. Howalaaahh. Masya Allah. Satu soal, pertanyaanya dua, dan jawabannya empat halaman folio. Satu soal, tentang pasien dengan riwayat pengkonsumsi alkohol, menderita diabetes mellitus tidak terkontrol, yang kemudian menyebabkan komplikasi, osteoartrithis, Chronic Kidney Disease (CKD) stage III, CVD, Stroke, Hypotonic Bladder, imobilitas, instabilitas, lalu Inkontinentia urine yang mengakibatkan dia harus pasang kateter silikon, tapi dia menolak dan dipasangkan kondom kateter yang justru memicu ISK (infeksi saluran kemih). Pasien geriatri, dengan kerusakan fungsi ginjal. Itulah kasusnya. Tambah lagi, dia anemia, tapi diberikan suplemen asam folat (dan aku baru menyadari setelah ujian, anemianya disebabkan oleh kerusakan ginjalnya, bukan karena defisiensi asam folat! Sebab, eritropoeitin juga diproduksi oleh si ginjal. Hwaaa, kenapa bisa lupaaa ketika ujiannya yaaahh???)
Tiba-tiba saja, waktu dua tiga jam lebih merasa tak cukup untuk kubahas. Puyeng. Aku panik. Lantas me-nol-kan inteligensia. Bahkan aku tak sempat membaca di chief complient nya itu adanya batuk, jadi aku menyalahkan pemberian ambroxol di pembahasan DRP. Masya Allah... Ck..ck...ck... Dan satu lagi, ternyata...perut sudah bernyanyi ria.
Read More

ndaksempatnulis

ketebalan buku > 10 cm

Waaahh, dalam tiga hari belakang, aku sebenarnya ada banyak hal yang aku share. The great experiance in stem cell laboratory, in CPhi Asian South East Expo, and others. Akan tetapi, case report sedang menunggu untuk "diobrak-abrik" karena sudah tiga hari aku tinggalkan. Hee... Dan setiap Drug Related Problem (Permasalahan terkait obat) pada case itu harus punya EBM (evidence based medicine).. Dan EBM itu mestilah didasari pada jurnal-jurnal ilmiah terupdate. Dan jurnal-jurnal itu tentulah butuh analisis mendalam. Dan ditambah lagi, case kali ini adalah komplikasi pasien pasca CABG, dengan hyperlipidemia, hipertensi, angina, diabetes dan gagal jantung (waahhh penyakitnya lengkap banget yaahh), ditambah lagi dia geriatri. So, he got more than seven drugs. Sepuluh macam obat malah. Dan ditambah lagi, fungsi ginjal sudah bermasalah dan edema parunya sudah berkembang pula menjadi pneumonia. Hemm...apa nda pusing tuuh ngebahas permasalahan terkait obatnya? Dan ditambah lagi, besok pagi sudah harus didiskusikan. Hwaaaa, Jadiii, so, sebagai komplikasi dari case report ini, I cannot share right now deeh. Heuu....
Walau sudah berniat untuk tidak meninggalkanmu, Bloggie, tapi maafff, kali ini aku bener ndak sempat...
Lain kali kita bercerita lagi yah, say?
Siipp?!

Hayoooo, semangat belajaaarrr
semangat bahas case repo(r)t!
^___^
Read More

Phenomenon-Like P-gp

Kadang, aku ngerasa belajar itu kaya P-gp. P-gp yang bikin obat yang diabsorbsi itu di-efflux lagi keluar membran. Padahal, usaha untuk bisa melewati membran plasma itu luar biasa barriernya. Tapi, hanya karena si P-gp, dengan mudahnya di keluarkan lagi. Dan P-gp disinyalir merupakan salah satu penyebab (dari sekian banyak penyebab) terjadinya multidrug resistent. Dan si multidrug resisten ini (MDR) merupakan salah satu hal yang sangta ditakuti di dunia perubatan, di dunia klinis.

Ada satu fase dalam proses belajarku yang analoginya mirip banget ama P-gp. Seperti ada efflux pump yang membuat segala yang coba dimasukin itu nda bisa-bisa masuk. Ada beberapa inducer dan juga inhibitornya. Apa itu? Aku sendiri sebenarnya riweuh juga meng-kluster-kan causa efflux pump yang mengakibatkan sulitnya di serap ilmu itu pada satuan waktu tertentu. Tapi memang ada masanya, ketika aku merasa begitu sulitttt untuk menyerap. Meskipun kemudian sudah terserap, tapi seperti ada efflux lagi. Dan bahkan aku bingung, bagaimana mendefinisikan penyebabnya.

Yang paling parah dari effect of phenomenon-like P-gp (hehe, bikin istilah sendiri nih ayeeee. . .), ketika aku masih kelas 3 SMA. Kala itu sedang belajar matematika. Tiba-tiba. nyeseeeekk banget, sampai-sampai aku ngerasa sulit bernapas. Blank. Aku nda ngerti apa-apa. Tapi, aku sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa memang tak ada yang salah. Ini semakin diperkuat dengan diagnosa dokter UGD RSUD Kota Padangpanjang yang mengatakan bahwa sebenarnya semuanya baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan fisiologis. Lalu apaaah? Psikis? Nda jugaa. Tapiii, phenomena itu memang mirip banget dengan P-gp. Saat kuliah S1, aku memang sempat merasakan fase-fase di mana aku sulit sekali menyerap. Lagi-lagi, seperti ada efflux. Hemm, tidak berlangsung lama sih. Paling banter juga cuma sehari doang. Tapi, menyiksa banget, ketika kita nda bisa memahami tiba-tiba apa yang sedang dijelaskan. (Kali ajah lo lupa berdo'a sebelum belajar, Theeeeel. Hehe...).

Read More

Antiobiotics Resistance

Hwaaaaaa, well, TDM make me dizzy. So dizzy. Whereas, it's just in second page. How can I finish learn it until eighteenth pages? Masya Allah. . . The problems set in that book is also diffucult to learn by my self. Well, I just read and learn "Principle of Clinical Pharmacology" book, that written by Atkinson and the second book but primary book is "Apllied Clinical Pharmacokinetics" by Larry A Bauer. Both of them make me so dizzy, so I move to anothers book which titled "All About Antibiotics". So, Sharing about Antibiotics is more interest than learn about "TDM=therapeutic drug monitoring".

Okeehh, let's we talk about ANTIBIOTICS RESISTANCE...
Antibiotics are drug used for treating infection caused by bacteria. Should to Remember, ANTIBIOTICS are used ONLY for BACTERIA INFECTION. Do not used it for VIRAL Infections! Most of these case are used antibiotics for treating viruses infection such as cough, influenza fever, strep throat, colds. Hemm... it's a misuse of antibiotics. Ehh, no, it's not! It's the overuse of antibiotics. Misuse of these drugs such as stop the treatment when patients feel better. Using antibiotics against viral infections will not cure the infection, will not keep other individuals from catching the virus, will not help a person feel better, may cause unnecessary harmful side effects and may contribute to the development of antibiotic-resistant bacteria. Misuse and overuse of these drugs, however, have contributed to a phenomenon known as antibiotic resistance. This resistance develops when potentially harmful bacteria change in a way that reduces or eliminates the effectiveness of antibiotics.


Antibiotic resistance is a growing public health concern worldwide. When a person is infected with an antibiotic resistant bacterium, not only is treatment of that patient more difficult, but the antibiotic-resistant bacterium may spread to other people. When antibiotics don’t work, the result can be longer illnesses, more complicated illnesses, more doctor visits, the use of stronger and more expensive drugs and more deaths caused by bacterial infections. How Dangerous it is!

When we are prescribed an antibiotic to treat a bacterial infection, it’s important to take the medication exactly as directed. So, what sould we do?????
Hemm,,, based on FDA information, I will share what should we do to perevent dan combate the ANTIBIOTICS RESISTANCE. . .
Please, follow this direction, Siiipppp??!


  • Complete the full course of the drug. It’s important to take all of the medication, even if we are feeling better. If treatment stops too soon, the drug may not kill all the bacteria. We may become sick again, and the remaining bacteria may become resistant to the antibiotic that we’ve taken.
  • Do not skip doses. Antibiotics are most effective when they are taken regularly.
  • Do not save antibiotics. We might think that we can save an antibiotic for the next time we get sick, but an antibiotic is meant for our particular infection at the time. Never take leftover medicine. Taking the wrong medicine can delay getting the appropriate treatment and may allow our condition to worsen.
  • Do not take antibiotics prescribed for someone else. These may not be appropriate for our illness, may delay correct treatment, and may allow our condition to worsen.
  • Talk with our health care professional. Ask questions, especially if we are uncertain about when an antibiotic is appropriate or how to take it. Hemm, for these case, we can ask the PHARMACIST about direction of using antibiotics. Hemm, I provide this service expecially for you. (yeaaah, for you whom still read this blog. How lucky you're for finding this blog #haha,just kidding! ). You can fill the field on "INFORMASI OBAT/DRUG INFORMATION" in this blog or send me SMS on +628566756732 at 08.00-10.00 pm every night. (haha, free promotion! But, this service is also FREE except your pulsa for send me SMS. ahaha... :D).


Okeeeh?? Siiippp... Let's Cambate and Prevent ANTIBIOTICS RESISTANCE. Not only for doctor and pharmacits, but it's our responsibility. For everyone, not only medical people.

Ohhhh my God! Masya Allah, I almost forget about my TDM. And tomorrow (insya Allah) I will get examination about that. I never study about TDM completely. Soooo, I must fight this night! Please pray for me. Please..pleaseeee.... Hihihi....

Okeeehhh, LONG LIFE EDUCATION... ^__^
Read More

Pelayanan Informasi Obat (PIO) Online; GRATISSS!

Sejarahnya, Mengapa PIO Online?

Hmm...sejujurnya, ide ini sebenarnya sudah cukup lama terbersit di pikiran. Apalagi, dengan berkembang pesatnya dunia teknologi informasi yang membuat semakin banyak orang-orang melek tekonologi, dan itu artinya pengguna internet semakin banyak. Kebutuhan akan informasi juga semakin meningkat.
Heuu, meski sudah lama terbersit di fikiran, tapiii aku tidak punya cukup nyali untuk memproklamirkannya. Karena, aku masih takut, jangan-jangan nanti kenapa-napa. Jangan-jangan aku tidak bisa memberikan informasi yang benar. Jangan-jangan malah berdampak tidak baik. Pokonya, banyak "jangan-jangan" lainnya yang memenuhi pikiranku sehingga aku jadi maju mundur deh. Heuu...
Tapiiii, kemarin aku kuliah ROTD (Reaksi OBat yang Tak Dikehendaki aka Adverse Drug Reaction) sama bu Dr. Retnosari (pakar farmasi klinis UI) yang bagiku sangat inspirative banget yang benar-benar open minded, membuat aku mencoba mem-PD-kan diri untuk me-launchingkan PIO Online ini. Hemm...sebenarnya masalah terkait obat itu masiiiih suangaaattt buanyaaaakk sekalii. Dan sebagian sih masi 'misteri', dan belum terpecahkan. Hemm...ternyata belajar farmakovigillance, Post-Marketing Surveillance, dan Adverse Drug Reaction itu sangat menyenangkan. Karena ini menuntut kita untuk paham, mulai dari mekanisme normal homeostasis tubuh, kondisi patologisnya, lalu efek terapeuticnya, hingga ke adverse drug reaction nya. Kalau cuma paham ujung-ujungnya doang, lalu ngafalin buat ujian, belajar ini sama saja dengan bohong. Nda bakalan ada ilmu yang kita dapatkan kalo hanya memahami (apalagi cuma ngafalin) sepotong saja. Hemm, belajar ROTD menuntut kita untuk paham rangkaian dan mekanismenya sehingga memang dituntut belajar keras. Heuu... Harus jungkar-jungkir balik ngebuka buku-buku yang dulu aku pelajari di semester 3 hanya untuk satu bab presentasi. Yaahh, hitung-hitung, aku belajar konsep dasar dari awal lagi dah. Dan itu sama sekali bukan hal yang buruk. Aku malah senang, bisa belajar dan mempelajarinya lagi...
(ah, hal yang paling mencengangkan yang terjadi pada diriku saat ini adalah..tentang paradigma BELAJAR itu adalah SEBUAH PROSES yang MENYENANGKAN! Dan jika sesuatu sudah dimulai dengan CINTA, seberat dan sesulit apapun untuk mempelajarinya, tetap saja ia adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Hee.... Aku Cinta Farmasiiii, cihuuuyyy)...


Sebenarnya, Kita Sudah Memberikan PIO


Sebenarnya disadari atau tidak, kita (temen-temen farmasis lainnya) sudah memberikan PIO kepada sekurang-kurangnya orang-orang di sekeliling kita. Iya, mereka yang suka SMS dan Nanya soal Obat. Kalau aku sih ya, memang sering di -SMS-in,
"Fathel, aku (atau mamaku, atau adekku, atau siapapun itu), lagi dapat obat A, B, C dan D. Itu obat apah yah? Gimana cara pakenya?"
atau, "Fathel, suamiku abis makan obat E, kok langsung bengkak-bengkak yah? Apa yang harus aku lakukan?"
atau, "Fathel, kalau kondisi begini-begini, aku mestinya gimana yah? Boleh ndak aku makan obat F yang diiklankan itu?"
Hemm, hal yang sama aku yakin juga terjadi pada temen-temen farmasi lainnya meski pun case nya mungkin beda-beda. Nah, secara tak langsung sesungguhnya kita sudah memberikan PIO kan yah? Untuk menjawab pertanyaan itu sendiri, aku biasanya harus buka buku lagi (soalnya, aku hanya tak ingin memberikan informasi yang salah. Lagian, aku juga belom hafal semua obattt koo, hihihi..kecuali obat-obat yang memang sering digunakan di kalangan masyarakat).
Dan, akuu, sesungguhnya tak ingin hanya orang tertentu yang bisa dapatkan info itu. Aku ingin berbagi kemanfaatan itu lebih banyak lagi. Yah, alasan sederhananya adalah.... Aku hanya ingin bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Aku ingin, ilmuku ini berkah, tidak hanya buatku sendiri, tapi juga buat orang lain. Heuu....


Kalau Salah, Bagaimana?

Satu lagi hal yang begitu aku takuti, mengapa aku tidak launching dari dulu adalah...aku takut salah!
Tapi, satu hal yang kemudian aku yakini adalah....TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN SALAH!
Karena, dari salahlah kita belajar.
Jika kita selalu benar, lantas dari mana kita belajar?
Kalau sudah selalu benar, ngapain juga belajar?
Heuu....
Makanya aku berani untuk melaunchingkan ini. Bukan tanpa pertimbangan, bukan juga tanpa resiko, bahkan bukan juga tanpa sambutan yang tidak baik dari orang-orang. Tapi, jika ingin maju, jika tak ingin stagnan, kita juga harus berani ambil risiko tho?
Jadii, berani ajah...
Pede ajaah...
Heuu...#ngucepinnya beraatt...


Gratis kah?

"Ada yang bilang, untukku boleh gratis yah?"
Iya, ini semua GRATIS!
Bahkan kamu tak perlu isikan pulsaku, untuk membalas SMS mu. (Meski aku sering seret pulsa. haha... Kebanyakan Jarkom siiihh...hehe).

Hemm,,,tahukah kamu, sebenarnya ini tak gratis sama sekali. Sebab, aku dapat "bayaran" yang menurutku jauh lebih mahal! It's intangible. Nda bisa dihitung!
Apa coba?
ILMU!
Iyaahh, ILMU! Karena dengannya, kamu dapat informasi dan aku dapat ilmunya. Dan bagiku, ini lebih berharga dari rupiah. Sebab, dengan pertanyaan itu, aku akan berusaha untuk mengkaji lebih dalam, dan jika tak kuketahui jawabannya, maka aku insya Allah akan tanyakan kepada orang-orang yang lebih pakar dari aku (karena aku memang masih belum apa-apa. Belom pakar. Belom ahli...hehe...hanya seseorang yang sedang mencoba belajar saja...). Dan, bersama dengan itu aku mendapatkan pelajaran deh. Maka, memang tak ada yang rugi. Insya Allah ini memberikan kemanfaatan bagiku, juga bagimu yang sedang membutuhkan informasi...

So, Sok Atuh, Silakan...

So, Sok atuh,bagi yang membutuhkan informasi tentang obat, silakan SMS atau Klik di SINI. Atau Klik Banner Informasi Obat yang ada di sidebar blog ini...
Don't worry, jangan khawatir soal confidential data. INFORMASI kamu tidak akan disebarluaskan dan juga tidak akan dipajang di blog ini. Rahasianya terjamin insya Allah! Kalau kamu tak ingin diketahui identitasnya, cukup pakai nama samaran saja. Tapi alamat emailnya jangan samaran yaah, karena jawaban pertanyaanmu akan terkirim via email nantinya. No HP juga aku required karena aku bisa balas via SMS juga. Siipp??
Read More

Launching PIO Online

Trima kasih yah saudara-saudari sekalian, telah bersedia mengunjungi lapak “Launching PIO (Pelayanan Informasi Obat) Online” yang sedang saya garap ini, baik dengan sengaja mengunjungi ataupun kebetulan lewat dan mampir, ataupun kebetulan nyasar di sini… Hehe. Saat ini, saya sedang melaksanakan Launching PIO, silahkan melihat-lihat. Mudah-mudahan ada yang bisa kamu sekalian bawa pulang.

Hmm…saya jadi ingat suatu ketika, saya mengantarkan pona’an berobat, karena demam dan penyakit mendasar lainnya (emang adaahhh gituuuh, fundamental sickness…haha, ada-ada saja…). Maksudnya, penyakit yang di derita HAMPIR SEMUA penduduk dunia, semisal flu dan batuk disertai demam. Naah, ponakan saya itu ‘diresepkan’ amoxicillin. Trus, karena ponakan saya ini nda cocok dengan amoxicillin karena dia allergy, lalu minta ganti dengan yang lain. Dan, masya Allah, “dengan seenaknya” ajah diganti dengan Clorampenicol. Ck…ck…ck… Hanya bisa geleng-geleng. Mau ngomong, suasana dan kondisi nya juga nda pas. Nda enakan saya.
Sesampai di rumah kaka, saya langsung bilang, “hmmm...sebaiknya nda usah dimakan obatnya. Lebih beresiko, karena bisa menyebabkan Irreversible Anemia Aplastik! Mending nda usah dikasi apah-apah. Ini nda cocok buat anak-anak. Jika ditimbang, risiko dan efeknya jauh lebih besar risikonya! Flu dan batuk itu, cukup istirahat saja, banyak minum. Boleh sih diberikan obat-obat penekan batuk. Tapi kalau sudah mengganggu aktivitas kesehariannya. Kloram dikasi kalo udah dengan indikasi yang lebih parah ajah.” Kataku (agak) mencak-mencak.

Contoh lain lagi. Adekku mau cabut gigi. Kala itu umurnya baru skitar 14 tahun. Trus dia dikasih antibiotic pre-cabut giginya. Apah coba? Ciprofloxacin!”
Langsung deh berkacak pinggang, “udah Dek, jangan dimakan itu obat. Beresiko untuk anak dibawah umur 18 tahun! SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN. Buat cabut gigi ajah kok! Sementara, risikonya lebih besar.”

Contoh lain lagi. Demam-demam dikit ajaah, langsung treatment dengan amoxicillin. Seperti membeli kacang goreng! Ck..ck..ck… Padahal, resistensi terhadap antibiotika ini adalah hal yang sesungguhnya sangat menakutkan! Bagaimana jika semua antibiotic itu resisten sementara penemuan obat baru tak secepat resistensinya? Penemuan obat baru butuh biaya yang amat sangat bessuaaarrr dan juga dibutuhkan waktu yang lamaaa. Bagaimana jika semua kuman pathogen itu bermutasi dan tak ada satu antibiotikapun yang dapat menyembuhkan?
Ini sungguh sesuatu yang amat mengerikan. Tapi, banyak yang tidak tahu. Banyak yang asal menggunakan, karena minimnya informasi mengenai hal ini.
Miris! Sungguh miris sayaaaa.
Jika untuk kasus-kasus yang berat dan memang membutuhkan treatment, it’s okay! Tapi, kalau hanya untuk demam biasa dan cabut gigi, hadeuuhh, sayang sekali rasanya jika harus mengorbankan banyak hal (risk nya lebih besar dari benefitnya). Jika kajian untung rugi laba dagang mungkin nda mesti sejelimet ini. Ini menyangkut nyawa manusia loh (setidaknya menyangkut kesehatan, jika pun tak sampai pada nyawa)! Jangan kira amoxicillin yang dijual kaya kacang goreng itu tidak berefek. Bagi individu tertentu yang memang hipersensitif, bisa menyebabkan Syok Anafilaktik loh (dan itu kalau terlambat sedikit saja, nyawa pasien nda akan tertolong lagi karena dia men-depressi system pernafasan!). Makanya saya suka mencak-mencak sendiri deh kalo udah liyat kasus beginian.

Sampai di sini, sesungguhnya saya bersyukur, bahwa saya harus ‘nyasar’ di farmasi. Hehe… (husy! Bukan nyasaaarr Fatheell, karena inilah sebaik-baiknya pilihan-Nya. Dan saya merasa, bahwa takdir-Nya selalu adalah seindah-indah catatan. Dulu, saya memang sempet gamang di farmasi (berrraaaattt bangeeet  terasaaaa). Tapi kali ini, belakangan ini, saya bersyukur bangeettt berada di farmasi. Setidaknya, bermanfaat bagi saya, dan keluarga serta orang-orang di sekeliling saya terutama. Heuuu, jadi OOT niih…)

Hmm, sama seperti temen farmasis lainnya, saya memang cukup sering di-SMS soal obat, soal resep yang mereka dapatkan. Sampai-sampai temen sekamar saya sewaktu SMA dulu bilang, “Apoteker Pribadi”, hehe… Dan sungguh, saya dengan senang hati jika dapat memberikan informasi itu. Karena, saya tak ingin kejadian ADR (adverse drug reaction) itu semakin meningkat insidensi nya—meskipun di Indonesia data mengenai itu tidak begitu tersedia karena kejadian ADR di Indonesia jarang dilaporkan. Dan inilah peran farmasis yang sesungguhnya (trutama untuk ranah klinis), yaitu mengatasi segala masalah terkait obat, mengatasi DRP (drug related problem) atau masalah terkait obat yang actual—yang telah terjadi, dan mencegah DRP yang potensial terjadi. Sebagai mana hal itu tak ingin terjadi pada saya dan keluarga saya, maka demikian pula yang saya harapkan pada kamu semua.

Nah, berangkat dari hal miris seperti itulah, maka saya mempunyai ide untuk membuka layanan Informasi Obat dapat dilakukan via ONLINE melalui FORM ini atau layanan “on SMS”.
Untuk layanan ONLINE (more recommended), Kamu bisa isi form nya sesuai dengan pertanyaan yang tersedia dan saya insya Allah akan berusaha untuk menganalisis resep yang anda dapatkan dan memberikan informasi mengenai obat tersebut berikut hal-hal yang perlu diperhatikan.

Untuk layanan via SMS (on SMS only!), diperuntukan bagi mereka yang memang tidak begitu intens berada di dunia maya. Untuk saat ini, saya tidak menerima on call. Saya membuka layanan ini dari jam 08.00-10.00 pm (20.00-22.00 WIB) SETIAP HARI. Hari libur tetap dilayani insya Allah. Di luar jam tersebut, sepertinya saya tidak bisa, karena saat ini saya juga lagi sekolah, jadi, di luar jam itu mungkin tak saya balas. Hehe… Kecuali memang emergency banget…

Silahkan SMS ke nomor : 0856-67-56732

Dan, dengan mengucapkan BISMILLAAHIRRAHMANIRRAHIIM, saya LAUNCHING kan PIO (PELAYANAN INFORMASI OBAT) ONLINE. Saya berharap, ini semua bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin…

__________________________
Dalam rangka launching PIO kali ini, saya juga ingin memberikan apresiasi kepada para Pharmacist Blogger sekaligus mengundang mereka semua untuk ‘menghadiri’ dan meramaikan Launching ini, yaitu dengan memberikan AWARD kepada para pharmacist yang juga seorang blogger. Jadii, award ini, saya tujukan untuk para PHARMACIST BLOGGER (heuu…maaf, bukan profesi’isme siihh. Yang laen juga boleh ikutan koooo… Hehe…).
Nama AWARD nya adalah PHARMACIST BLOGGER AWARD
Tema Award ini adalah “SUARAKAN PERUBAHAN melalui BLOG, demi FARMASI yang LEBIH BAIK!”
INi niih awardnyaa : Silahkan dipasang di blog masing-masing yaah…

Pharmacits Blogger Award

Silakan Copy code berikut di Body Post Blog Kamu…

<a href="http://www.blogger.com/goog_234927770"><img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSJDtzV4Z-wR6LT2AuKpNlMd8JXQxOlIPW1XU-5xrsATV5phNGkr2a-FxUpwKQNJHdl18_LjNGCvkToirtQJ4yo7Y62t6PUPtUVvko-6f_x4vl4MwlYsIeAJDmAwQV0yXCelFn2hPgIMDj/s1600/benerrr+euy.gif" /></a></span></td></tr>
<tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;"><a href="http://fathelvi.blogspot.com/2012/03/klik-di-sini-utk-menuju-form-trima.html">Pharmacits Blogger Award</a>

Rulenya :
TULISKAN OPINIMU, CURHATMU, KE-MIRIS-AN mu, KECINTAAN MU, pokonya apapun ituuu tentang DUNIA FARMASI, lalu ajaklah teman FARMASIS BLOGGER lainnya untuk menuliskan opininya juga dengan meneruskan award ini kepada temen farmasis blogger laiinya… Pokonya ajak temen blogger lainnya yaah (sekurang-kurangnya satu blogger).
Harapan saya, dengan adanya launching dan award ini, semakin meramaikan opini public mengenai dunia kefarmasian, untuk FARMASIS yang LEBIH BAIK!
Percayalah, jika kita menghendaki suatu system berubah, maka mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri!
Dengan menyuarakan opini kita mengenai dunia farmasis yang lebih baik, insya Allah kita ikut berkontribusi dalam perubahan itu…

Siipp??
________________________
Read More

HIV/AIDS


Uhm…
Sedikit berbagi sahaja bagi temen-temen yang kira-kira membutuhkan segala sesuatu tentang HIV dan AIDS. Makalahnya aku up load kan di blog khusus Farmasi (www.fathelvi.wordpress.com). Ini adalah tugas presentasi aku. Jika berminat, tafadhol di unduh ajah yah. Ini adalah presentasi kedua yang pake macromediaflash (presentasi pertama tentang seminar artikel, mungkin kurang menarik untuk di-upload karena Cuma pembahasan jurnal). Hehe…
Yah, walaupun masih ‘ecek-ecek’, masih sederhana (makluuuum, masih belajarrr, hee…) tapi, aku coba mem-PD-kan diri untuk meng-upload nya…hee… Smoga bermanfaat yaah…

HIV/AIDS :
Tafadhol Klik untuk mengunduh...  
atau, silahkan klik di SIDEBAR blog ini box : "Download Here"
dan pilih : Fathel Presentasi HIV/AIDS
seperti berikut :
Klik di presentasinya untuk mendownload

Read More

Apoteker Galau

Dahulu, aku pernah cerita tentang dokter yang emosional habis, kala aku menanyakan resepnya kan yah? Ternyata, hal ini juga dialami oleh banyak farmasis lainnya. Kesiaaaann…
Farmasis dianggap sebagai “corpus alien” (baca : benda asing) dalam tubuh medis sehingga sel fagositosis segera mengejarnya lalu membentuk magrofag dalam rangka pertahanan diri. Waaahh….ck..ck..ck… kesiaaan. Tapi, beginilah kenyataan bicara. Bahwa farmasis Indonesia masih dianggap benda asing yang keberadaannya di bangsal (bukan di depo loh ya) dianggap sebagai pelengkap penderita saja. Tak berguna! Sia-sia!
Kasarnya begini, “Heh lu, farmasis. Lu cukup ngurusin distribusi dan pengadaan obat ajah tuh. Masalah bener atau tidaknya obat, biarin deh jadi urusan kami. Emang lu tau apa?”
Deuhhh…kasian bener tuh…

Terjadinya hal seperti ini, bukan tanpa sebab. Oleh karena farmasis itu sendiri yang sebenarnya tak mengusai farmakoterapi. Padahal, farmakoterapi ini adalah sesuatu yang bener-bener amat sangat penting untuk dikuasai untuk bisa ‘protes’ eehh…intervensi maksudnya. Kan gak lucu tuh, farmasisnya intervensi tapi ESO ajah kaga ngerti. Barabeee banget tuuhhhh…

Kalo dulu, dokter itu marah-marah, kurasa juga hal yang amat sangat wajar. Sebab, dia berhadapan dengan seorang farmasis (ecek-ecek) sepertiku yang ilmu farmakoterapinya masih jauuuhhh dari baik. Yaah…boleh saja dia marah. Tapiii, ini semua jadi tantangan tersendiri bagiku untuk membuktikan kalo farmasis juga manusia (ya iyalaaaah manusia, cuy! Hihi…). Maksudnya, membuktikan kalo farmasis BUKANLAH corpus aliance yang keberadaannya hanyalah jadi sampah medis saja. Aku kepingin buktiin pada dunia, bahwa farmasis klinis juga semestinya berkontribusi dalam penanganan pengobatan untuk kualitas hidup pasien yang lebih baik lagi, insya Allah… Bukan gaya-gayaan. Bukan pula karena ingin eksistensi kita diakui. Bukan juga karena nunjukin kalo kita ndak bego-bego amat. Tapi, ini lebih ke patient oriented. Kebahagiaan seorang farmasis klinis adalah equivalen dengan seberapa banyak pasien yang dapat dia atasi masalah obatnya atau DRUG RELATED PROBLEMNYA… Sebab, kita juga ndak perlu menutup mata kan yah? Bahwasannya tingkat DRP (drug related problem) di Indonesia masiiiiih sangat tinggi (ini menarik buat dijadiin tesis keknya…hihi). Kita juga ndak perlu menutup mata kan yah, dengan adanya pola peresepan yang bukan EBM (evidence base medicine) akan tetapi  ‘base on pharmaceutical industries’, ‘base on tawar menawar antara si dokter sama perusahaan obat tertentu’ yang hanya karena mengejar tiket PP Amerika-Indonesia, resepnya jadi tak rasional. Meski ndak semua dokter begitu, tapiii…ini bukan berarti tak ada. Apalagi pasien yang lugu-lugu dan telah menggantungkan kepercayaah sepenuhnya pada si dokter. Ini paling gampang deh buat ‘dikibulin’. Vitaminnya ajah bejibun. Mahal-mahal pulak. Padahal, indikasinya mungkin saja ndak ada, tho? Meskipun banyak dokter yang baek-baek juga, tapi yang beginian bukan pula tidak ada, kan yah? Intinya, peran kita di sini adalah menyoal PHARMACEUTICAL CARE, yang di Amrik sono ajah udah mulai taon 1950’an. Lah, kita?? Ini niiih, baru mulai era 2000-an. Yaah, walau telat, tapi emang harus dimulai! Hup! Hayuuu semangaaaattt yuuuk…

Jadi, bagaimana doooong?!
Kita tak punya pilihan lain selain  HARUS MENG-UPGRADE DIRI, meng-upgrade pengetahuan kita, tentang farmakoterapi terutama… Mulai dari patofisiologinya hingga ke terapinya. Mau tak mau, HARUS! Jika tidak, yaah…kita bakalan terus-terusan begini, tho?! Jadi, MAU tak MAU, harus MAU! Satu lagi yang mesti dicatet, ini juga tak mesti kita dapatin dengan kuliah, tho? Selama kita mauuuu belajarrrr, kita bisaaaa belajar dengan sarana apapun. Lagian, internet sekarang mah sudah ada di mana-mana, kan yak? Jadiii, tak ada yang sulit selagi kita mau!!

Selain mengusai farmakoterapi, kita juga mesti jago dalam hal komunikasi. Ya, bagaimana membangun komunikasi interdisciplinary…. Karena, sepinter-pinternya kita, kalo ndak bisa bangun komunikasi yang baik, juga gak bakalan berguna. Tetep ajah deh, dianggap sebagai corpus alience (kali ini ditambah dengan ‘sok tau’) hihi… Jadiii, membangun komunikasi itu sangat pentiiiiiing! Jangan maen intervensi ajah dong, tapi caranya kurang ahsan (kurang baik). Sebab, penerimaan terhadap kita pasti juga kurang, kan yah? Paling juga bakal dicibir ‘halaaah, lu ngomong ajah sendiri. Gw tetep gak bakalan ngikutin’. Hihi. Nah, selain komunikasi yang baek, juga dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Eh, ini beda dengan ke-PD-an dong yah. Iya! Beda! Percaya diri berarti kita ndak perlu minder dengan apa yang kita punya. Selagi kita benar, sungguh tidak ada orang yang akan menolak kita. Selagi kita menunjukan profesionalisme kita, insya Allah tidak akan ada yang meremehkan. Intinya, ketika kita menjadi yang terbaik, gak bakalan ada yang menolak kok. Hee…

Selain itu, bagi aku pribadi, ada tambahannya juga niih. Mesti bisa bahasa inggris juga. Hee… maklumlah, bahasa inggrisku masi dong-dong banget. Jadiii, aku mesti banyak belajar niih… Soalnya, kiblatnya farmasis itu masi di negeri Paman Sam sana, jadiii…mau tak mau, aku juga HARUS BISA BAHASA INGGRIS, sama seperti ke-harus bisa-an aku dalam bidang farmakoterapi.

Jadii, hayuuuu semangat belajar yuuuuk….

Read More

Belajar dan Berbagi

Ikatlah ilmu dengan menuliskannyabegitu Nasihat Ali bin Abi Thalib, ra.

Nasihat Ali ini selalu teringat olehku, terutama di saat-saat belajar seperti ini. Sering kali, dulu setelah belajar, paling banter aku Cuma review doang. Itupun, jika sudah detik-detik menjelang ujian. Hee…
Kebiasaan belajarku dari semenjak SMP dulu (kalo SD mah aku sudah lupa, gimana yah cara belajarku dulu? Hihi…), aku sering me-review pemahamanku tentang suatu pelajaran dengan cara MENULISKANNYA KEMBALI di sebuah kertas corat coret. Ketika kuliah, bahkan aku menyengajakan membeli kertas Koran (yang warnanya buram dengan lebar 100 x 100 cm) jika musim ujian datang. Gunanya adalah untuk mencorat-coretkan hafalan atau pemahamanku atas sesuatu materi yang sedang aku pelajari. Walhasil, dinding-dinding dipenuhi kertas corat-coret… Hehe…

Mungkin karena aku memang memiliki tendensi yang tinggi terhadap spasial-visual sehingga cara belajar yang paling ampuh bagiku itu memang dengan cara demikian. Melihat dan menggambarkannya kembali. Makanya, aku paling kalang kabut jika mengikuti suatu pelajaran atau pun seminar dengan TIDAK MELIHAT si pemateri, dosen ataupun gurunya. Sebab, aku mengingat dengan banyak melihat. Hee… (woiii…godhul bashor doooong  à pemahaman godul bashor yang salah, wkwkwkwk…)

Aku paling ndak demen sama yang namanya HAFALAN MATI. Ngerti ndak dengan HAFALAN MATI yang kumaksud? Hafalan mati menurut Fathelvi’s definition (cieee elaaaah!) adalah HAFALAN yang MESTI DIHAFAL, tapi TAK PERNAH BISA DILOGIKAKAN! Apa contoh yang paling ampuh? Menghafal nama obat atau menghafal nama latin tumbuhan obat ataupun nama bakteri. Hayooo, gimana coba, me-logika-kan Meropenem? Bingung kan yak? Atau, gimana cara meng-logika-kan Vibrio parahaemolyticus? Gimana? Gimana? Ada yang mau kasi model logikanya? Hee… Jika sudah begini, biasanya cari trik ampuh deh. Tapi, kebanyakan sih short memory doang yang kemudian bakalan lenyap segera sesaat setelah ujian selesai. Hihi… Pernah suatu kali (beberapa kali malah! Hee…) aku menghafal suatu hafalan mati nama-nama latin tumbuhan obat berdasarkan golongannya dengan membuat desain rumah. Ndak nyambung yah? Hehe… memang ndak nyambung sih! Apa hubungannya antara desain rumah sama nama latin obat, coba? Tapi, cara nya begini, aku bikin desain rumah lalu, golongan I aku taruh di ruang tamu, golongan II di ruang makan, golongan III di kamar tidur dan (yang paling kasian a.k.a yang paling sulit dihapal, aku taruh di kamar mandi). Jadiii, ketika ujian, aku Cuma mengingat-ingat, “TUmbuhan obat yang aku taruh di kamar mandi apa-apa ajah yah?” hehe…Ini karena aku orang visual yang sangat menyukai desain bangunan atau ruangan. Mungkin akan berbeda caranya bagi orang auditory, yang lebih express menggunakan nyanyian dalam menghafalkan suatu hafalan mati.

Okeh, back to laptop deh! Hoho…
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya… Benar! Ini benar-benar sangat ampuh ternyata.
Maka dari itu kawan, aku hanya ingin berbagi wacana denganmu semua tentang hal ini. Semoga bisa jadi wacana tersendiri bagimu. Jika ada yang kemudian terinspirasi karenanya, maka aku sangat berbahagia deeeh. Poko’na mah nyang penting BERMANFAAT bagi kita semua.

Jika kamu termasuk orang yang sering belajar dengan cara menuliskannya kembali, maka aku punya sebuah ide untukmu. Hee…
Biasanya, orang-orang yang belajar dengan cara menuliskannya kembali, akan mencorat-coreti selembar atau lebih kertas untuk me-review kembali pemahamannya. Maka, kali ini aku punya ide tentang cara yang jauuuuuuhhh lebih PAPERLESS dan juga LEBIH BERMANFAAT karena bukan hanya kamu yang bisa menikmati ilmunya, tapi juga banyak orang!

Cara tersebut adalah…..DENGAN BLOGGING!
Haa? Mungkin bingung yak?!
Hee….

Begini, Beib…
Jika kamu demen menuliskan kembali hafalan atau pemahamanmu mengenai sesuatu, maka tak perlu susah-susah kau tuliskan di kertas. Cukup engkau KETIKKAN saja di lepimu. Ini lebih paperless dan kamu juga berkontribusi dalam upaya menurunkan global warming… Lalu, kedua, kamu gabung di dunia per-blogging-an (terseraaah deh mau Wordpress, Multiply, Blogspot, Blogsome, atau apapun itu yang paling kamu suka dan nyaman) dan UPLOAD kan pemahaman dan hafalan kamu itu di blog tersebut. Sehingga, selain kamu, ada banyak orang yang juga merasakan MANFAATnya, insya Allah…

Read More

Cuap-Cuap Spechless

Hari ini ada kejadian yang cukup menggelitik... Hee, mungkin memang diriku yang tidak berilmu. Ya, memang diriku tak berilmu... Nah, anggap saja ini cuap-cuap seseorang tak berilmu, yang sedang belajarr. Boleh yah? Heuu.... Trima kasih Bloggie, sudah bersedia mendengarkan semua cerita-ceritaku....

Seperti biasa, Bloggie. Aku adalah orang yang suka protes. Hee... Apalagi jika aku punya sesuatu alasan dan data ilmiah yang bisa kupertahankan. Ya, setidaknya bagiku : BENAR atau BELAJAR dari KESALAHAN... Jadi, aku tetap akan utarakan itu. Jika benar, semoga ada manfaat yang kita peroleh ke depannya bersama-sama. Dan jika salah, maka aku akan belajar dari kesalahan ini. Ya, karena tak semua kita tau. Sebab, tak semua kita punya ilmu. Lantas, alasan apakah yang membuat kita merasa paling benar? Iya tho?!

Read More