Rak sepatu ini adalah karya pertama yang aku selesaikan as a new carpenter. Hehe. Hobi baru yang sebenarnya sudah terbersit ingin dilakukan sejak dulu banget. Walaupun hasilnya masih jauh dari sempurna. Belum terlalu rapi. Tapi, alhamdulillah, not too bad.
Sebenarnya, woodworking dan dunia carpenter ini bukanlah hal baru bagiku. Karena pak Yek (kakek) kami rahimahullah adalah seorang tukang. Beliau juga suka bebikinan, sampai gerobak pun dibikin sendiri. Dulu kami waktu kecil sering diajak keliling kampung naik gerobak bikinan beliau. Ayah kami rahimahullah juga sering membuat DIY seperti divan maupun meja makan. Bahkan divan yang dibikin sejak aku kelas 3 SD itu masih ada sampai sekarang dan masih kokoh.
Suatu ketika, aku ingin wardrobe anak-anak dimodifikasi. Wardrobe yang awalnya 2 kompartemen untuk gantungan dan 1 kompartemen untuk baju lipat, ingin aku bikin jadi masing-masing kompartemen memiliki gantungan sekaligus baju lipat. Tapi sayangnya butuh 3 pcs papan lagi untuk membuatnya menjadi bagian lipat.
Butuh waktu agak lama untuk memutuskan membuat sendiri 3 pcs papan persegi tersebut karena butuh alat yang namanya circular saw. Kalau menggunakan gergaji biasa aku ga yakin bakalan sabar memotong papan tersebut. Heuheu... Aku yang memang belum kenal alat pertukangan dan sama sekali tidak mengerti cara menggunakan circular saw berpikir puluhan kali untuk memutuskan membelinya. Pada akhirnya, circular saw mendarat juga setelah check out online di Indonesia. Iya, aku sengaja melakukan trial and error dulu pas mudik karena lebih leluasa mengerjakannya di Indonesia ketimbang di Saudi. Jadi, aku anggap ini latihan dulu. Dan project di Indonesia pun sekarang masih mangkrak karena harus balik ke Saudi hehe.
Menggunakan circular saw ini aku jadi ingat ketika pertama kali membeli mesin jahit. Tiga hari pertama, aku masih kebingungan cara menggunakan mesin jahit tersebut sampai akhirnya aku ingin refund saja hihi. Alhamdulillah, setelah 11 tahun menemani, mesin jahitnya sudah menghasilkan banyak karya DIY. Setidaknya, sangat bermanfaat untuk menjahit yang sobek sobek. Untung ga jadi refund yaaak... kekeke. Menggunakan circular saw, sejujurnya aku awalnya agak sedikit gemetaran. Tangan masih kaku dan belum lincah sama sekali. Hasil potongannya pun kadang belum terlalu presisi. Tapi aku berharap--sama seperti mesin jahit--mudah-mudahan, dari mesin ini juga lahir karya-karya lainnya.
Satu hal yang aku pelajari. Bahwasannya ketika memiliki banyak hobi, sering kali membuat kita tidak bisa mendalaminya sampai di titik level pro. Tidak fokus dan tidak mendalam. Aku sejujurnya punya banyak hobi. Dulu aku suka menulis (pernah terbit beberapa antologi cerpen), pernah terbit di koran Singgalang hehe. Sekarang hanya menulis di blog pribadi. Itupun jarang update. Tulisanku...yaa gini-gina aja. Aku suka desain grafis, tapi enggak yang sampai level pro juga. Hanya sebatas bikin leaflet atau desain biasa di jaman canva belum menjamur. Dan tidak mendalami. Aku suka fotografi. Tapi juga tidak mendalami sampai ke level pro. Aku suka mendesain baju dan menjahit, tapi hasil jahitannya juga masih belum perfect. Kadang, hanya sekedar memenuhi permintaan costumer private (anak-anakku tentunya) untuk bebikinan kostum jika ada di sekolah mereka. Atau beberapa tas-tas yang simpel. Sekarang, aku suka dunia carpenter dan woodworking tapiii...tentu saja masih beginner banget. Aku ga yakin juga akan menjadi carpenter profesional. Hehe. Dan aku kuliah di jurusan yang sama sekali tidak terkait dengan hobiku satupun. Hihihi.
Jadi, jika ingin sampai di level pro, mungkin sebaiknya fokus di suatu bidang, gali dan dalami sedalam mungkin. Mungkin akan menyenangkan jika seseorang bisa bekerja di suatu bidang yang dia sukai sekaligus didalami hingga sedalam mungkin. In shaa Allah, ketika didalam maka ia akan bersinar di bidang tersebut.