Momentz Unand Award V

Suatu siang yang sesak, kududuk-duduk di dekanat sambil nunggu dosen pembimbingku tiba. Salah seorang anggota ** Fmipa-Farmasi UA menghampiriku dan berkata, “Thel, ikutan Unand Award, yah.”
Pernyataan sang ukhti kusambut dengan tawa, “Apa? UA? Aku tak pantas ikutan ajang begituan.” Tolakku halus.
“Kenapa tidak?!”
“Karena, aku bukan orang cerdas.” Ehm…, kalo’ boleh jujur, aku minder ikutan acara ajang kompetisi yang menunjukan “isi batok” kepala. Karena, jujur kuakui, aku merasa ilmuku memang benar2 sangat sedikit dan limit mendekati nol.
“Halah, alasan saja.” Godanya.
“Syaratnya apa aja?” aku mulai menunjukan sikap antusias. Ehm.., basa-basi sebenarnya.
“dapet dukungan dari 120 orang mahasiswa Unand, yg dibuktiiin dgn 120 fotokopi KTM, IPK minimal 2,75 , bikin karya tulis dgn tema bla….blaa..blaaa…”
“waduh, jujur nih, aku ga’ sempat buat minta dukungan ke segitu banyak mahasiswa. Aku sedang intens di lab dari pagi sampai maghrib, bahkan malam.”
“udah dehh, nanti dibantuin.”
Akhirnya kuanggukkan jua kepalaku. Lumayan, iseng-isen berhadiah. Aku tertawa dalam hati.
***
Hari terakhir ngumpulin pra-syarat bwt UA ba’da dzuhur kukunjungi jua sekre BEM-KM UA bwt ngantarin syarat. Tau ga’, bwt 120 fotokopian KTM, ga’ ada satu pun usahaku. Tinggal nebengin orang ajah. He..he.. (abiis, aku tak terlalu berkeinginan kuat untuk menjadi peserta UA V kali ini siy). Jikalau para pembesar ** tidak memintaku (bahasa halus dari : menyuruhku) untuk ikut dan jika bukan karena aku “jundi yang taat kepada qiyadah” (halahh!! Bener tuh?), mungkin takkan pernah terlintas dibenakku untuk ikut ajang begituan. Abiis, no time siy (waaaalaaah, sok sibuk banget niy gua!). Dgn rada2 (ogah2an) kuisi formulirnya.
***
Test hari pertama, test akademis. Matematika, b.ingrris, b.indo, pengetahuan Umum, sejarah. Test psikologi. Emm…, karena banyakan plajaran SMA, dan aku sudah lupa, jadi, bermainlah ‘jenggo’ku. Tinggal nyilang sesuka hati. Haha. Di test hari pertama, aku merasa tak yakin bakalan lulus. Tak lulus juga tak apa, toh, aku juga tidak terlalu tertarik untuk ikut. Lulus, alhmadulillah. Tak lulus, tak ada yang perlu dikecewakan.
“silakan liyat pengumumannya nanti sore jam 16.30 di sekre,” begitu kata panitia. Halah, mana sempat!untuk tes nih aja, aku sudah ninggalin setumpuk pekerjaan di lab yang menunggu deadline.
Sorenya, aku terima SMS :
Selamat, anda lulus sampai semifinal. Bla…bla..(yg isinya syarat buat semifinalis)
Alhamdulillah. Iseng2 berhadiah. Aku tertawa dlm hati.
***
Seleksi semifinalis, wawancara tertutup dengan 5 pakar. Sosio semua! Kagak ada yg sains. Aku menduga, bakalan KO di sini. Abiiis, selain ga’ punya tivi, aku juga ga’ baca Koran. Walhasil, berita terkini aku tak tahu.
Pertanyaan juri tentang “suplemen”. Aku heran sendiri, kenapa suplemen, kok para penguji yg berstatus professor itu tertawa. Ah, aku baru sadar ternyata suplemen yang beliau2 terhormat maksudkan adalah “obat kuat”.
Ah, sudah sampai di sini. Ga’ lulus ke final juga ga’ papa. Biar aku bisa konsen kerja di lab. Apalagi, peneliti dari Jepang itu bakalan datang minggu niy. Kalo’ gak kecapai target, semua bakalan berabe.
Aku tak berharap lagi akan lulus smpai ke tahap berikutnya.
Tapi, esoknya, aku kembali dapet SMS, “selamat, anda masuk final, bla..bla….”
Alhamdulillah.
Sebuah senyum terukir.
***
Final UA.
Diskusi dan presentasi. Temaku “Pengangguran, kemiskinan, dan tingkat kriminalitas.”
Oalah. Tema umum banget (yg aku tak nonton atwpun baca Koran, so, bloon deeh). Diskusi kali ini tidak terlalu interest bagiku. Benar2 keluar Ori-ku yg benar2 minim ilmu. Haduuuuh, gua bloon banget yah?
Pas nampilin talenta, ini lebih kacau lagi. Para finalis lainnya benar2 mempersiapkan dengan sedemikian rupa.
 Aku? Jangan di Tanya, pulang nge-lab udah nyaris isya. Itupun, nyampe’ di rumah, tewas abis, karena kecape’ an. Untuk final ini, lagi2 aku harus ninggalin lab. Haddduuuu…h. bayangkan, aku baru selesai menyiapkan penampilanku satu jam sebelum tampil. Itu pun Cuma pantun minang yang sama sekali tak ada bagusnya. Gaswat!
Akhirnya, tampillah aku dengan pantun minangku yang kacau abiez.
Ah, biarlah.
Aku tak pernah berharap untuk menang.
***
Alhamdulillah, akhirnya tiba saatnya grandfinal. Qadarullah, aku nyampe’ juga di ujung babak grandfinal, (ehm…, maksudnya, dari babak final, aku Alhamdulillah lulus ke grand final).
 Oh, kali ini, aku mulai berpikir (Emm…, harapan itu masih ada!), meski tak 100 percent, coz, seminggu intens di lab flu burung RSUP M. Djamil sudah menyita begitu banyak perhatianku, waktuku, dan tenagaku.
For the selection, ohh…, pengetahuan umumku kacau banget.
Pas, nampil, utk seleksi 5 besar, akhirnya, AKU GUGUR. Yeah. Bagiku, it’s okay. Never mind!!
Yg paling berkesan, Entah kenapa, semuanya jadi lenyap waktu pertanyaan itu dilontarkan. Padahal, pertanyaan itu sangat menarik bagiku. Tentang dunia pendidikan yg referensinya sudah kutulis di novel. Kenapa tiba-tiba public speaking ku kacau banget yahh?? Ouwww…., ancur banget deeeeh. Aku melihat banget, bgmna *** **** begitu kecewa setelah satu harapan besar ditumpangkan ke pundakku. Oh, maafkanlah aku, tidak bisa memberikan yang terbaik.

Ehmm…, sungguh, aku ‘berbesar hati’ dengan kekalahan ini. Sejak awal, aku memang tidak terlalu focus ikut ajang unand award karena aku memang lebih kepikiran dengan ‘makhluk halusku’ di labor. Lagian, kalah dan menang dalam sebuah kompetisi adalah hal yg niscaya.

Tapi, setelah berpikir seribu kali dan pada puncak perenunganku, akhirnya, aku menyadari, kekalahan ini memiliki dampak buruk secara “jamaah”. Aku secara pribadi boleh tidak kecewa dan memang aku tidak kecewa dengan sebuah kekalahan ini, tapi, ada tatanan “organ, yg terkumpul atas jaringan2, yg tersusun atas sel” ini yang telah “kucoreng-moreng”. Aku, dan ketujuh grandfinalis lainnya.

Aku, secara pribadi, tidak terlalu kecewa dengan sebuah kekalahan, namun, secara “organ” aku harus menyesalinya. Ah, barangkali, jadikan saja ini sebagai pelajaran, bahwasannya tidak boleh ada “coreng-moreng” itu lagi di momentum berikutnya! Tak boleh! Sebab, ilmu itu adalah mutiara yg hilang dari seorang muslim, dan, kitalah yang harus menemukannya. 

Bagiku, ini semua adalah lecutan pencuat semangat, untuk terus-menerus berkarya, memberikan yang terbaik bagi umat ini. Sesungguhnya, untuk memberikan karya nyata terbaik, tak perlu pengakuan public (ini yang menjadi catatan penting yang perlu aku garis bahawi). Yaaah, untuk memberikan karya nyata terbaik, tak perlu pengakuan public. Tak perlu ajang-ajang apapun itu. Sebab, setiap momentum waktu adalah ajang, untuk terus-menerus memberikan yang terbaik, bagi Negara ini, bagi agama Allah ini. Dan cukuplah Allah saja yang menjadi juri dan penilai atas karya nyata itu. Allahu akbar!!!

Gambarimasu! Ganbatte Kudasai! Hamasah! Smangat! Smangat!

Special thanks to : my lovely family yg selalu mendukungku. Sungguh, aku menjadi orang paling bahagia sedunia terlahir dari kelurgaku. Ibuku tercinta. Ayahku tercinta, dan adik2ku tercinta.
Second, temen2 se wisma yg telah menyemangatiku, yg minjemin baju kurung melayu, yg udah ngasi support lewat SMS (ketika BANDFathelvi kirim ke 1313), smua2nya dah. Luv U coz Allah, ukhty fillah…(Ratih, Citra, Titi, Dian, Dedew, Wewen, Mega,Via)
Truz,Kepada ibu Pembimbingku tercinta, Bu Marlina, yg juga nyuppport diriku. Makasih banget yah Bu.
Trus, temen2 angkatan yg udah nyupport abizzz… (aku jadi terharu banget. Padahal, aku tak memberikan ikhtiar yang optimal)
Ga’ ketinggalan jugah my team in laboratory yg udah bela2in hadir wlupun kerjaan di lab numpuk banget. Makasih banget yah temen2 and uni2 semua (Ni Ema, Ni Tria, Ni Eka, Bu Tati’, Ni Ria, Rani, Aya, Ayang, Inin, Rekha, and Mas Wahyu)
Juga buat grandfinalis semuanya (Fuad, Ona, Dian, Pute, Riri, Dona, Vania, Ayah, dan Ai, thank’s tlah bikin warna baru dalam hidupku. Senang pernah mengenal ‘makhluk-makhluk’ cerdas seperi dikau smua.
Dan semua pihak yang tak dapat kusebut satu per satu lagi, makasih buanyaaaak yah. Domou arigatou gozaimasu. Syukron katsiran.


Read More

IBU RUMAH TANGGA

Suatu hari, berkumpullah tiga orang muslimah yang kebetulan sudah tahun akhir di sebuah universitas negri. Setelah beberapa saat, mereka terlibat perbincangan seru.
“Eh, Mba’, Uni, Teteh, Ayuk, setelah tamat kuliah ini, mau ngapain?” Tanya Jeng.
Mba’ : “saya ingin mengambil S-2 ke luar negri. Pokoknya semua hal mengenai beasiswa ke luar akan saya hunting. Itu sudah menjadi cita-cita saya! Lagian, para saentis memiliki peluang lebih besar untuk studi penelitian di luar. Jepang, misalnya.” si Mba’ menjelaskan berapi-api. Semua mengangguk-angguk.
Uni : “saya pengen ngambil magister manajemen aja. Kuliah manajemen, akan membantu saya meneruskan karir Bapak di perusahaan A. mungkin gak di luar negeri, cukup di sini saja.” Agak kalem. Semua juga tak sadar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Teteh : “saya mah, penginnya jadi PNS saja, atuh. Maklum, saya kan kuliah di jurusan Administrasi Negara.” Dan lagi-lagi, semua yg ikutan diskusi mengangguk-angguk.
“Lha, si Jeng sendiri mau ngapa, tho?”
“Kalo’ saya, penginnya sih, jadi guru. Guru itu looh, yang gak ada abisnya. ‘ilmunya mengalir sepanjang masa.”
“Ayuk gimana? Mau ngapain aja Yuk?”
Ayuk : Eng…emmm…., saya pengen jadi IRT saja tho.”
“APA??????????? IRT??????????? IBU RUMAH TANGGA???????????”
Serempak, semua yang hadir di sana menatap si Ayuk tak percaya.
“iya.” Jawab si Ayuk kalem bin datar, tanpa beban sedikitpun.
“Aaaaaah, sayang sekali potensimu Yuk! Kamu selama ini mahasiswa yang jago orasi, cerdas, dan juga potensial untuk menjadi akhwat ‘lapangan’.”
“Jarang lho Yuk, aktivis macam Ayuk niy cita-citanya jadi IRT. Maunya yang “bergerak” gituh.”
“Ayuk…eh….ayuk sedang becanda kan ya? Moso’ sih, Ayuk cita-citanya IRT doang! Sayang lho Yuk, ilmu yg di dapat di kuliahan mau diapain??”
“Maneh teh kunaon, atuh? Saya tak percaya.”
Semuanya bergantian dan nyaris berebutan memberikan komen ketidakpercayaannya. 
Si Ayuk kalem-kalem saja sembari melempar senyum, memperlihatkan lesung pipinya. 
“Kenapa, Yuk? Kenapa?!”
“Ada banyak alasan, sebenarnya. Sebetulnya, IRT yang saya maksudkan, bukan sekedar IRT, tapi, IRT yang produktif.”
“Produktif, it’s means banyak anak? Oalaaah, ada-ada saja si ayuk mah.”
“Bukan hanya sekedar banyak anak tho Teh. Tapi,produktif dalam artian luas.”
“Maksudnya si Ayuk teh apaan?”
“Hmm…begini lho Jeng, kita pasti sepakat, bahwasannya Ibu itu adalah madrasatul ‘ula alias sekolah pertama bagi anak-anaknya. Iya tho?? Nah, sudah masanya kita memperbaiki generasi ini dengan membaikkan kaum ibunya terleih dahulu. Baik-buruknya suatu Negara, tergantung dari baik-buruknya wanita di Negara itu. Di balik kesuksesan seorang laki-laki, ada wanita mulia yang menyokongnya. Sebaliknya, dibalik laki-laki yang brengsek,juga ada wanita busuk di belakangnya. Seorang wanita, bisa berprestasi mendorong lahirnya seorang pemimpin bangsa, sekaligus, seorang wanita jua berpotensi mendorong lahirnya pecundang bangsa.” Ayuk memulai orasinya. Eits, ceramahnya. Eh, engga’ ding! Curahan hatinya. Semua menganguk-angguk.
“Nah, IRT itu bagiku bukan pekerjaan yang rendah loooh, justru sebuah BIG PROJECT bagi seorang muslimah. Kenapa???? Karena, IRT itu adalah top of the job. Seorang IRT harus menjadi guru, dokter, hakim, polisi, baby sitter, ratu, bagi keluarganya, terutama anaknya. Semua peran2 besar itu mesti dijalanin dengan sempurna, untuk membentuk generasi Rabbani. Dan, salah satu proyek besarku adalah; ingin menjadikan generasi-generasiku, jundi-jundiku, sebagai calon pemimpin masa depan, sebagai generasi yang deket dengan Qur’an. Karena, awal kehancuran Islam itu bermula dari jauhnya hati-hati para pemuda Islam dari Al Qur’an. Aku benar-benar tersentuh dengan bundanya Husein Thab’thaba’I mengenai pola pendidikan Al Qur’a yang diajarkan kepada anaknya. Tak ada yang tak mungkin, jika Allah sudah berkehendak. Bagaimana, seorang Husein Thaba’thaba’I bisa menjadi sosok luar biasa di umurnya yg masih belia. Setelah kutanya seorang psikolog, bukan tidak mungkin itu semua bisa terwujud pada anak-anak di Indonesia, asalkan, dibentuk inviromental yang bagus,niatan yg ikhlas dan ghiroh dari orang tua, pola pendidikan yang benar, dan makanan yang halal yang mengaliri pembuluh darahnya.”
“Lha, idealitanya sih begitu Yuk, tapi, realitanya? Kebutuhan senantiasa tak tercukupi dengan penghasilan yang tersedia. Apalagi, ikhwah jaman sekarang mah --kata ustadz di sebuah dauroh—pada dhaif semua. Zuhud lah.” Tawa pun menggema di ruang itu.
“Waduuhh…, antara dhaif dan zuhud itu beda tiga ratus enam puluh derjat Mba’.”
“ Eit, kalo’ 360 derjat, itu mah namanya samimawon! Seratus delapan puluh derjatlah! Itukan titik terjauh.” Si Uni yang anak sains nyeletuk. Lagi-lagi, semuanya tertawa. 
“Zuhud itu, meletakkan dunia di tangan, dan meletakkan akhirat di hati, gitu loh Jeng. Kalo’ dhaif mah beda atuh.”
“Artinya, kita ga’ boleh kerja, begitu yuk?”
“Waduh, maksudku tuh bukan demikian lho, Jeng. Ehm…, begini, tuntutan era globalisasi, hidup serba sulit terkadang mengharuskan istri untuk bekerja. It’s okay! Namun, yang ingin kutekankan di sini, IRT itu adalah pekerjaan yang utama. Seorang istri boleh saja bekerja jadi dokter, perawat, guru, apoteker, psikolog, akuntan, praktisi hukum, pengusaha, manejer, mahasiswi magister atau doctoral, PNS, dsb. Tapi, itu semua adalah “pekerjaan sampingan”. Pekerjaan utamanya tetaplah menjadi IRT. Selagi pekerjaan utama tidak terganggu, pekerjaan sampingan boleh saja dilakukan. Yang berabe itu, kadang2 pekerjaan sampingan malah jadi pekerjaan utama, dan sebaliknya. APA GUNANYA COBA, KITA SEBEGAI PEREMPUAN, BEKERJA DI LUAR UNTUK MENGGAJI SEORANG PEMBANTU, YANG MENGAWASI ANAK-ANAK KITA? apakah kita rela, anak-anak dibesarkan oleh pembantu? Sungguh, peran seorang ibu tetap takkan pernah tergantikan. Apa jadinya, pekerjaan utama sebagai madrasatul ‘ula, hanya dengan menggunakan sisa-sisa tenaga yang lelah. Akan dibawa ke mana generasi ini nantinya?”
“Ooo…uw…, iya yah??!!”
“Insya Allah, takkan mematikan potensi si istri kok. Justru di rumah dia bisa berkarya lebih banyak, mengeksplorasi amanah potensi yang dianugrahkan-Nya. Sepakat?”
“Lalu, yang terpenting lagi, how to prepare. Semua impian itu takkan terwujud tanpa tindak nyata. Tanpa persiapan yang matang. Tak cukup hanya dengan learning by doing saja di kemudian hari. Maksudnya begini, mestinya seorang akhwat harus memancangkan target dan memulai persiapannya dari sekarang, gituhh.”
“Ouw..gitu tho Tuk?” keempat temannya mengangguk-angguk.
“Yak tepat sekali, Jeng! Kalau g’ dari sekarang, kapan lagi? Kalo’ ga’ dimulai dari diri kita sendiri, lalu siapa lagi? Percayalah, kalau setiap muslimah bercita-cita untuk melahirkan generasi2 Qur’ani, maka aku yakin insya Allah negeri ini akan bebas koruptor. Insya Allah, mereka adalah arruhul jadiid fii jasadil ummah. Insya Allah, mereka adalah generasi rabbaniyyun, calon pemimpin masa depan. Dan, insya Allah, ini adalah salah satu jihad kita para akhwat, sebagai salah satu bentuk kontribusi bagi kemenangan dan kebangkitan Islam itu. Allahu akbarr!!!! Karena, aku percaya, insya Allah, harapan itu masih ada. Kalaupun kita tak dapat menikmati kemenangan itu, setidaknya, kita telah memberikan kontribusi bagi kebangkitan ummat Islam. Janji Allah itu pasti! Allahu akbar!!!!” Si Ayuk menyampaikan dengan begitu berapi-api, dan dikepalkan tangannya ke udara. Kalaulah waktu itu ada bensin, mungkin sudah meledak, dan mereka sudah hangus terbakar, saking berkobarnya api semangat tuh akhwat. (halah! Lebay dot com deeeeh). Keluar deh, sifat aslinya si Ayuk yang kitis, demen orasi, dan magnetis (hah???, nyambung ga’ yah?). padahal, tadinya sok kalem lhooo.
“Iya, aku juga penegn deeeh, meski S-2 di Jepang nantinya, aku tetap pengen jadi madrasatul ‘ula yg baik.” Si Uni berandai-andai. 
“Lho, emang ke Jepangnya bawa ‘someone’ Un? Bukannya sendirian? Hehehe…” Ehh, si Uni malah diledekin
“Iyah! Sepakat!! Pokoknya, apapun pekerjaan sampingannya, pekerjaan utama tetaplah IRT!!!!!” mereka menjawab serempak. Every body in this millist, pada setuju kagak, sama kesimpulannya si Jeng, Mba’, Uni, Teteh, dan si Ayuk…????? (ini mah, ‘kakak’ semua!! Kecuali si Jeng!!!)


Source : The storiatte “Secarik Mozaik” and Pre-Matur of My 5th novel’s manuscript, “Elegi Aya” by ipi_tyf. Semoga kagak “gestasi” mulu’. Udah lebih Sembilan bulan niy. Kapan “maturasi”-nya, euy??? Hi..hi…




Read More

OPTIMISLAH, KAWAN!

Keajaiban sebuah KEOPTIMISAN!!
Keajaiban sebuah mimpi!!
Jika kita yakin akan sesuatu, apalagi sesuatu itu adalah wasilah-Nya, sesuatu yang Allah ridho atas-Nya, bukankah Dia takkan sia-sia terhadap diri kita? Baiklah, ini saatnya untuk berubah! Saatnya untuk bermmpi dan berusaha untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu. Jika sudah demikian, yakinlah Allah akan membukakan jalan.
Yakinlah!
Optimislah!
Semangatlah!!!

Memang, tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Tapi, menjadi pribadi luar biasa itu sangat mungkin. Lakukanlah segala sesuatu yang menjadi mimpi besarmu, sampai nafasmu sesak, sampai pada titik optimal, sampai kamu benar-benar tak sanggup lagi. Lakukan sesuatu dengan “nawaitulillah”, mintalah Pada Dzat Yang Bagi-Nya segala Kekautan Yang Maha Perkasa.

Hidup ini hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. Hiduplah yang bermanfaat. Jika kamu gagal untuk merencanakan hidup, maka kau telah merencanakan kegagalan dalam hidupmu! Maka, berencanalah! Bermimpilah!

Begitu banyak orang yang menjalani hidup ini dengan air mengalir, dengan teramat sangat biasa-biasa saja. Dan mereka tetap menjadi orang biasa-biasa saja. Pun ketika mereka berlalu dari dunia ini, mereka menjadi orang-orang yang tidak dikenal sejarah.
Namun, juga tak sedikit orang-orang besar yang lahir dari sebuah mimpi besar! Mereka menjadi orang-orang besar. Menjadi orang-orang yang dicatat sejarah.

Tidakkah kau ingin menjadi orang-orang yang dikenal sejarah? Tidakkah kau rindu, ilmu yang kau punya mengalir sepanjang masa? Tidakkah kau rindu menjadi orang-orang besar? Jika kau mau, insya Allah, kau bisa mewujudkannya. Kau BISA! Optimislah! Dan mulai “action” dari saat ini jua. Mulailah saat ini jua! Mulalah dari detik ini. Sebelum kau telambat. Sebelum kau menyesali semuanya.

Oke, berencanalah. Laksanakanlah. Evaluasilah. Lalu, Re-Inovasilah!
Read More

MESIN PENCETAK TABLET YANG HARUS DIMUSEUMKAN


Ini adalah salah satu mesin pencetak tablet yang ada di lab formulasi sediaan tablet Univ. andalas. Hmmm…, kayaknya udah pantas dimuseumkan yah??? Udah usang banget siy. Udah karatan. Waduuuh, kapan yah, dapet pengganti yg baru?? Sampai kapan calon2 intelektual muda penerus generasi bangsa ini akan belajar dengan fasilitas yang lebih pantas dimuseumkan??
Pemerintaaaah…, tolong kami doooong…
MALU AKU JADI ORANG INDONESIA!!
mungkin kawan2 tidak percaya..., bahwasannya obat-obatan yg dijual di pasaran qta itu TAK SATUPUN YANG MERUPAKAN PRODUK ORANG INDONESIA. Di lahan yg begitu banyak sumber untuk dijadikan obat, mulai dari tepung, hingga zat aktif, qta HARUS MEMBAYAR MAHAL!
coba, ada berapa sarjana hingga professor yg berkutat di bidang obata2an????
padahal,...dahulu, orang2 jepang itu mengambil sampel tanah untuk dibiakan bakterinya menjadi antibiotik itu, asalnya dari indonesia. sayang, qta terlalu bodoh untuk mengetahui itu semua.
sekarang???
mau ampicilin, mau doksisiklin, mau ciprofloksasin? ?
IMPORT!!!
sekali lagi; IMPORT!!!!
bayangkan!! bukankah sumbernya dari qta??
tapi??????
nyatanya???? ??
satu per satu orang lain mempatenkan. .
mulai dari batik, rendang, hingga tempe...
belum lagi bidang ekonomi, teknologi, hukum, politik, hankam, PENDIDIKAN, penelitian, sains..., industri, medis, bahkan, sebagai negara dengan kaum mayoritas islam dan penduduk muslim terbanyak, belum ada ulama pentolan indonesia.
huaaahhh!
semuanya serba berada pada titik rendah...
mengapa??
mengapa???
mengapa????
tanya kenapa...
dari kecil, qta sudah diiming2i :
"Indonesia itu negara subur. tongkat dilempar jadi tanaman, untaian zambrut di khatulistiwa"
padahal,..
nyatanya sekarang tak lagi begitu....
mungkin...
ini lah saatnya qta "bangkit"!!! !
yaph!
bangkit!!!
memaksimalkan potensi yg ada,..
sebab, toh, qta diberikan potensi yg sama. iya tho???
be a muslim inovative (bener gak ya bahasa inggrisnya?? )
okelah, selama ini, para 'lmuan indonesia sudah banyak,
dan, selama ini pun, sebenarnya ilmuan indonesia itu tidak bodoh.
banyak koq yg pintar!!!
hanya saja, dana riset itu yg sedikit...
negera ini pailit!
okeh...
mungkin qta mulai dari hal2 yg sederhana dan skop yg kecil...
jerami misalnya!
ada berapa ton jerami setiap musim panen??
bukankah dgn teknologi yg benar-benar amat sgt sederhana, bisa menghasilkan etanol???
padahal, harga etanol yg sudah jadi itu cukup mahal!
2,5 kg saja 70rb!
berapa dana yg bisa dihemat???
selain etanol, jerami juga penghasil silica...
bukankah itu bahan yg esensi di dunia perlaboran??
lalu,
pucuak ubi yg sudah terbuang!!
dari daun pucuak ubi yg sudah tua, bisa diambil suatu zat yg benama rutin.
bagaimana cara mengambilnya? ?
butuh alat2 mahal kah??tidak!
cukup dengan rebu, lalu kempa, dan enap-tuangkan, lalu keringkan!
itu sudah bisa dijadikan bahan baku untuk pembuatan sun-block..
ampasnya??
hmm..., mungkin teman2 pernah baca, liyat atau pernah mencoba, tempe daun pucuak ubi...
tak kalah enak dan tak kalah gizinya..
apa lagi??
sisa limbah minyak sawit dan minyak sawit!
bisa dimanfaatkan dengan tekologi biopolimer plastik!
tinggal membiakan bakteri penghasil bio polimer plastik di dalam minyak sawit itu, dihasilkan bioplastik!
bioplastik, kawan!
bukan plastik yg biasa qta gunakan yg berasal dari petrolium >>yg kabar2nya minyak bumi sudah semakin berkurang hingga limit mendekati habis<<>
Read More

LAB-qu yang damai dan adem...


fiufff!!

akhirnya, aku memasuki lab ini jua. Sebuah lab yg telah Allah pilihkan untukku sebagai salah satu langkah untuk menyelesaikan TA-ku...

Alhamdulillah,..

di lab mikro ini, aku bertemu teman2 satu lab yg asyik2 dan pengertian.

semoga ajah, qta jadi team yg solid yah teman2....

mulai dari lebay dot com, sampai gombal warning dot com...hihihi (bukankah begitu Ani quw cayang???)

Pembimbingku;

bu DR. Marlina, MS, Apt..., dosen yang baaaaiiik banget. Kami dibimbing dalam satu bentuk tim yang solid dan tak mengedepankan ego pribadi ajah... kami jugah dididik  bgnmana menjadi pribadi nyang bertanggung jawab...

subhanallah...

sampai-sampai, aku berpikir begini, "Jika nanti Allah mentakdirkan aku menjadi seorang dosen/guru, aku ingin seperti Bu Lina"

ditambah lagi, tim2 yg semuanya baik 'n pengertian,

kumulai dari Ni Ema sang Leader..(Hmm, bunda ku yg satu ini emang pemimpin yg baik 'n keibuan banget! ya iyalah, secara, bunda dah punya dua anak yg manis gituh. so pasti jadi seorang bunda. mohon bimbingannya ya bunda)

trus, Rani kucayang...(Hihi, gombal warning dot com, nih An), yg buaik 'n pengertian banget. diriku takkan lupa dengan lebay dot com-mu itu An... hihi.., btw, boleh donk, diriku sering2 telat ajah?? hahaha...

trus, Yaya, hmm..nyang kalem abiezzz...., tapi jugah manja..., makasih ya Ya, udah bikinin surat masuk lab bwt diriku sekalian memalsukan tanda tanganku..(hehehehe)

tak ketinggalan, Mas Wahyu, yg jadi bodyguard qta-qta. Yang matiin alat autoclaf, yg ngidupin gas buat bunsen, (hehe, secara, spesies cowok kan langka),..waduh..waduh..peace ya Mas!!

jugah buat kak Silka yg udah mau kompre, semoga cepet ajah komprenya.

buat new comer in lab mikro (halah, kayak yg udah lama di micro aja ni yeee), Bu Tanti (S-2), Kak Tria (STIFI), and dua makhluk dari STIFAR PEkan Baru yang belum kami kenal sama sekalii(Walah..lebay dot com lagi niy).

akhirul kata...

diriku senang sekali bisa satu lab dengan dikau semua....

mudah2an ajah PCR nya gak bermasalah 'n makhluk halusnya segera ketemu...

hihi..

Read More

Tentang Penggal Masa Lalu

Masa lalu menyeretku pada pusaran gelombang kehidupan yang kadang tak berkesudahan. Meski telah beranjak dari masa lalu, namun, serasa jiwa ini masih tertinggal di sana.
Sungguh, sangat ingin jiwa ini melenyapkannya. Setiap remah-remah yang tersisa. Membiarkannya tetap menjadi milik masa lalu, tanpa terusik.
Entah mengapa, aku lelah dengan semua ini. Jika boleh, sungguh aku ingin berlepas diri. Menutup pintunya, menyimpannya pada folder paling jauh yang takkan kulengok dengan sesering mungkin. Membiarkannya ter-hidden barangkali.

Baiklah,
Insya Allah dunia belum kiamat.
Masih panjang kerja yang harus kulakukan. Inilah saatnya berlalu dari masa lalu. Menyimpan rapat-rapat kenangan itu dan berharap semoga waktu akan mengikisnya. Luruh. Biarlah.
Aku memang benar-benar ingin menutup semua kisah itu. Biarkan ia menjadi gigir sunyi pada masa yang tak berkesudahan. Aku tak ingin mengingatinya, walau hanya sepenggal masa. Aku ingin pergi dari masa itu, meninggalkan semua yang sempat mengisi folder di hatiku. Meninggalkan semuanya!!

Masih ada fajar esok menyingsing insyaallah. Masih ada sinar mentari, kicauan burung dan desir dedaunan, insya Allah. Lalu, kenapa harus terpaku di sini? Pada potret buram. Pada maya. Pada penumbra. Bukankah akan lebih baik jika aku berlalu? Menatap jalan panjang…
Sebab, jika tidak ada granddesign bagi ujung perpisahan dengan kefanaan ini, maka semua akan menjadi sia-sia. Akan seperti apa gerbongku berhenti nantinya? Di stasiun yang tepat dengan selamat, ataukah di bibir jurang menganga? Sebab, merencanakan design itu jauh lebih utama dari pada terpaku pada masa lalu.

Keep hamasah!!!!
Read More

Lembar-lembar penyemangat dalam hidupku

Semangaaaattt!!
Semangatttttttt!!!
Semangatttt!!
Ada banyak hal yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Di kala aku lelah, sedih dan kecewa. Kala aku merasakan begitu banyak penurunan, banyak kekacauan, banyak hal2 yg mengalami degredasi...
Salah satunya, dengan menuliskan petuah-petuah sederhana namun memberikan efek dahsyat. menuliskan target mingguan, target satu tahun, grandesign 'n masterplan hidupku dan menempelnya di dinding kamar. Agar aku bisa setiap saat melihatnya.. agar aku tak lupa, bahwa masih ada asa yg tersisa. Agar aku tidak terlalu jatuh, di kala kegagalan menyapaku.
akhirnya...
akupun ingin berbagi dengan kamu semua...
bahwasannya kita harus tetap bersemangat!!!
tetap semangat!!!
tetap semangat!!!
karena semangat, akan memberikan energi positif bagi diri kita!!
Read More

Ruang sidang, ohh..ruang sidang...


Ruang sidang, oh, ruang sidang…
Entah kapan aku akan masuk ke ruang ‘pembantaian’ ini, untuk dieksekusi. Mempertanyakan apakah aku pantas menjadi seorang pemegang sebuah gelar akademis atau hanya sekedar penghias nama saja.
Kadang, terselip rasa ‘iri’, cemburu, di hatiku melihat teman-teman yg lain yg dulunya sama-sama menapaki langkah kini sudah pada sarjana, sudah merasakan bagaimana memakai toga disebuah seremonial yg hmm…(aku bingung membahasakannya seperti apa). Banyak teman-temanku yg sudah pada Tamat. Sudah sarjana.
Aku? Waduuuh…, penelitian saja baru mulai. Berkutat di labor, juga baru beberapa hari niy. Dan parahnya, semua itu tak tercatat dalam grandesign targetan dan capaian2 yg harus kucapai dalam. Tak terprediksi.
Tapi,
Hmm…, sebaiknya kunikmati saja. Toh, langkah setiap orang berbeda-beda. Tak usah menjadikan orang lain sebagai standardisasi. Sebab, tentu saja adalah hal yang absurd untuk berjalan pada satu titik dengan orang lain. Sebab, setiap qta punya garisan dan titik yang tentu saja berbeda. Yang yang pasti, Allah pasti telah menyiapkan sesuatu yg terbaik untuk diri kita, -terlepas itu apakah baik atau buruk menurut pandangan qta-. Siapa yang lebih mengetahui apa yg terbaik bagi diri kita ini selain Allah, Dzat yang telah menciptakan qta????
Okeh…calm down… santai ajah. Ni’mati saja detik2 penuh makna ini, tanpamenyia-nyiakannya. Sebab, setiap satu Amtrong langkah, setiap satu per seratus sekon waktu, akan diminta pertanggungjawaban-Nya di hari yang tak ada lagi tawar menawar dan jula beli.


Read More

Just Share : Tentang qta dan Da'wah

Bismillahirrahmanirrahiiim…

Kaifa haluk ya ikhwah wa akhwati fillah…??


Semoga Allah masih berkenan menyematkan keistiqomahan di hati-hati qta, untuk mengukuhkan langkah, menukil perjuangan ini, menuju tujuan terakhir dan tertinggi, Jannah-Nya…

Semoga Allah masih berkenan, mengukuhkan bahu-bahu qta, untuk mengemban amanah-amanah da’wah…, meneruka sebuah lahan, yg insya Allah, akan mengantarkan qta pada keridhoan-NYa, pada pertemuan yg agung dengan-Nya. Adakah yg lebih manis dari ni’mat hidayah? Adakah yg lebih manis dari indah-Nya perjuangan di dalam ridho-Nya??? Adakah yg lebih manis dari kedekatan dengan-Nya dan membersamai-Nya di setiap desah nafas?? Adakah???

Sungguh, langkah itu masih sangat panjang. Perjuangan itu masih sangat berat. Memilih jalan ini, bukan tanpa konsekuensi. Memilih jalan ini, pun bukan untuk bersenang-senang dengan keni’matan duniawi yg fana dan melenakan. Memilih jalan ini, adalah memilih jalan yg sulit, berliku, dengan tanjakan yg curam dan jurang di sekelilingnya. Warnanya bukan hanya merah, hijau dan biru, tapi juga kelabu dan kelam.
Tapi, berbahagialah, karena engkau telah Allah pilih. Yah, karena Allah telah memilih engkau sebagai bagian dari golongan yang sedikit ini, yg akan menukil jalan yg penuh hantaman gelombang, penuh duri, penuh pengorbanan. Saudaraku, engkaulah yg dipilih Allah untuk menghadapi baku hantam gelombang itu, badai, terpaan, halilintar. Karena, setiap kebaikan itu, selalu saja ada penghalang yang akan menggoyahkannya. Tapi, itulah seyogyanya sebuah perjuangan. Bukan,…bukan hanya dengan harta saja, tapi, dengan Jiwa!! Yah, dengan jiwa kita!!! Bukankah Allah senantiasa menyejajarkan antara harta dan jiwa di dalam surat cinta-Nya, Al Qur’an???

Ikhwah wa akhwatifillah, ijinkan aku untuk mengungkapkan apa yg aku rasa. Sungguh, apa yg kutulis ini, adalah dalam rangka untuk mengingatkan diriku sendiri. Yg menyampaikan, tidak lebih baik dari yang orang2 disampaikan. Yang menyampaikan, jauuuh lebih sedikit ‘ilmunya dari pada orang2 yg disampaikan. Tapi, aku hanya ingin berbagi keresahan dengan saudara2qu sekalian…

Saudaraku,…
Selayaknya sebuah seleksi alam, maka pasti ada yg pergi, dan ada yg datang. (Semoga Allah tetap memilih qta mjd laskar-Nya, dan semoga Allah mengganti mereka yg pergi dengan generasi yg lebih baik lagi).

 Entahlah, berbeda saja warna rasanya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus (baca : di dunia pergerakan da’wah dengan miniaturnya sebuah kampus) ini. Kuhitung-hitung, ada belasan pejuang yang dengan semangat barunya mengobarkan panji Islam. Allahu ghoyatuna menjadi symbol utama, di setiap tangan yang terkepal. Di setiap teriakan takbir yang lantang. Di setiap gema-gema perjuangan itu. Arruhul jadiid fii jasaadil ummah. Dan, satu kesatuan yg teramat kokoh itupun terbentuk. Lewat forsil-forsil itu. Lewat kesatuan terkecil pada pada unit jaring-jaring da’wah. 
“Inilah kami! Inilah kami! Pejuang asma-Nya! Ruh baru yang akan memberi warna pada hitam-putihnya film nyata perjuangan ini.”

Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, ketika ‘proyeksi’ dari para qiyadah itu telah berbeda-beda lajnah dan wajihahnya, namun, tetap dalam satu tujuan yang sama, “membentuk kampus yg futuh”, yang insya Allah menjadi awal dari kebangkitan Islam itu, teriakan lantang perlahan memudar. Memudar, hingga tersisa beberapa orang saja yang masih menyuarakan suara seraknya, memekikkan takbir, mengobar semangat perjuangan. Sebagiannya seperti tengah mengalami dilatasi yang begitu jauh dari titik tolaknya. Kemana rona-rona penuh semangat itu? Mengapa hanya sisa pudarnya yg kita dapati?? Kemana binar-binar mata yg mengaumkan “Hamasah!” itu??? Kenapa berganti tatapan sayu yang mengundang kita untuk menjadi lesu? Kemana???

Mengenai fenomena ini, sungguh, aku teramat sedih. Ketika ada saudara/saudariku yang tiba-tiba menghilang dari orbit peredaran da’wah. Teman seperjuangan yg dahulu bersamanya kita berjalan bersisian, menapaki langkah, mendaki terjalnya tebing jalan ini, kini entah di mana tercecer jauh. Menghilang begitu saja. Ada yg alasannya kecewa dengan keputusan majlis syuro, kecewa dengan murabbi, tidak save dengan environtmental wajihah yg diamanahkan,. Padahal, sungguh, bukan untuk kesenangan dan mencari tempat yang nyaman lagi teduh kita berada di jalan ini, bukan??? Jika hanya ingin memlih tempat nyaman, kenapa harus memilih jalan ini??? Lalu, Dimana letak kesalahannya?? Ada pula yg dengan alasan akademis dan ingin focus kuliah saja. Sungguh, sebuah alasan yg hampir-hampir tak masuk akal. Bukankah banyaknya waktu luang justru lebih banyak menyebabkan seseorang terjatuh (yang notabene adalah hal akademis salah satunya?)… 

Atau, kitakah yg kurang peka dengan saudara-saudari kita? Melaju terus ke depan, lalu lupa menengok ke samping kiri dan kanan, kemudian terhenyak dengan kenyataan bahwasannya seseorang yang berada di samping kita ternyata kini telah jauh tertinggal di belakang. Kalau begitu, di mana ukhuwah qta?? Apalah arti do’a rabithah yg senantiasa qta lafadzkan di setiap pertemuan kita, jika pada akhirnya kita bungkam melihat saudara qta yg tercecer…?? Semoga qta tidak termasuk orang2 yg melaju sendiri dan melupakan saudara2 qta yg tertingal beberapa langkah di belakang barisan ini.

Kembali pada Sesuatu yg bernama seleksi alam, dalam menapaki berbagai warna wajah perjuangan ini; Sebanyak apa orang yang bertahan, namun, tak pula sedikit pula yang kemudian berguguran dan meminggir dengan berbagai alasan. Tapi, janji Allah itu pasti. Bahwasannya Dia akan mengganti dengan generasi-generasi yg lebih baik (semoga qta bukan orang yg tergantikan itu, sebab kita semua sudah sama-sama tahu bahwasannya dengan atau tanpa adanya qta di jalan ini, da’wah itu pasti akan tetap ada). Berbahagia sekali rasanya, di balik keterceceran itu, bertumbuhan tunas-tunas baru, pun dengan semangat baru. Allahu akbar!!! Kembali menjadi putaran siklus,… ruuhul jadiid….

Teruslah bertahan…
Teruslah bertahan…
Teruslah bertahan, meski pun berat. Meskipun tubuh ini teramat letih.
Teruslah bertahan, meski beban yg menggelayuti pundak ini semakin berat,.
Teruslah….
Cukuplah Allah saja yg akan menjadi penjaga qta di kala qta pun menjaga-Nya di palung terdalam jiwa qta..
Tidak ada kata istirahat untuk jalan ini, kecuali jika kedua kaki kita telah menginjak surga. Allahu akbar!! Sebab, istirahat dari jalan ini sebelum mencapai titik terakhir, sama saja dengan cuti untuk selamanya dari wasilah-Nya yg agung ini.

Hingga, kita sampai pada perjuangan yang penuh onak dan duri itu. Ada cercaan yg begitu meninggalkan luka menganga di hati-hati kita. Ada penghinaan. Dan, bukankah memang demikian karakteristik jalan ini? Pergolakan itu takkan pernah berhenti sampai Islam menjadi nafas bagi seluruh ummat manusia. Kecaman itu takkan pernah usai sampai panji asma-Nya berkumandang di setiap hati umat manusia. Dan, itulah tugas kita. Yah, tugas kita yg sesungguhnya! Pada perjuangan dengan air mata dan darah, bahkan nyawa.

‘Musuh’ kita saat ini bukan hanya para kafirun yg mencoba menciumkan aroma pemurtadan di kampus-kampus bersenjatakan jin salibis saja, yang memang nyata-nyata menyatakan permusuhannya terhadap agama yg hanif ini, tapi, juga mereka-mereka yang mengucapkan syahadat, namun, batok kepalanya telah diracuni suatu zat toksis bernama liberalis, sekularis, sosialis,nasionalis buta, marxis, dan sederet nama-nama sejenis. Paham-paham yang mendewakan sesuatu selain kepada Rabb yg agung saja. 

Bersabar saja dengan hujatan itu. Bersabar saja dengan makar-makar yg mereka rencanakan, dengan tatapan sinis mereka. Mereka yg telah merasa dirinya memperjuangkan kepentingan masyarakat (yg dalam tatanan miniature yg kita sebut tadi: kampus). Bersabarlah dengan luka-luka yg mereka torehkan di tubuh-tubuhmu, wahai para penjuang Allah!! Sungguh, Allah sebaik-baik pembuat makar.

Kisah tragis dan sinis serta anarkis itu, sesungguhnya telah membuat hatiku teriris. Bahkan untuk pemira saja (yang masih dalam sebuah miniature masyarakat : kampus), mesti ada korban berdarah, korban bacokan. Bukan hanya di sini saudaraku, di belahan kampus lain pun jua mengalami hal yg sama, bahkan lebih parah. Seperti yang engkau tahu, dan aku yakin engkau semuapun sudah tahu, bahwasannya bukan hanya kita yg merasakannya. Juga, saudara2 qta di Sulawesi, di Kalimantan, di pulau jawa. Semuanya. Bukan hanya pamflet2 pemira di kampus kita saja yg dicerabuti dengan sangat anarkis, dicorat-coreti, fitnah-fitnah yang dilayangkan, namun, jua di kampus-kampus lain, yg sekali lagi bahkan lebih parah. Barangkali engkau semua jauh lebih tahu soal ini dibandingkan aku.

Semoga Allah sedikan balasan dengan sebaik-baik pembalasan bagi engkau para pejuang asma Allah, para ruh yg menjadi mesin penggerak tak takkan pernah berhenti bekerja, mengoperasikan sebuah tatanan perjuangan panjang, melelahka, penuh onak dan duri, lagi terjal serta dikelilingi oleh jurang. Jika tidak hati-hati, maka akan mudah saja tergelincir ke dalam jurang menganga itu.

Tapi, saudaraku, di tengah kemelut perjuangan yg panjang itu, di tengah kelelahan bahu-bahu yg menopang, ada pula sesuatu yang membuat resultan energy da’wah ini diperpendek, menuju polar negative. Sungguh-sungguh, sangat janggal sekali, di kala saudara2 yg berjuang dengan peluh, air mata dan darah itu, ada pula yg mencipta moreng di wajah da’wah. Berkembangnya virus-virus merah jambu yg bukan memberikan warna cerah pada da’wah, melainkan kelabu, dengan melayang-layangnya SMS perhatian dan hal2 yg tak penting,dan kerancuan-kerancuan sejenis. Memang warnanya merah jambu, tapi, bukan rona yg sama yg dihadirkannya pada jenak-jenak perjuangan ini. Dan yg anehnya lagi, virus itu telah menjadi hal yg dianggap “biasa-biasa” saja. Menginvasi begitu banyak aktivis da’wah, hingga sel-sel sehatpun ikut dijalarinya. 

Okelah, setiap orang punya masa lalu, yg mungkin memang kelabu dan adalah langkah yg benar ketika ia telah berusaha memperbaikinya. Akan tetapi, pada kenyataan di lapangan, bukannya malah berkurang virus itu malah bertambah. Antiviral bernama “dauroh hijab & ikhtilat”, tak cukup untuk membantu imunitas system kita dalam menangani virus itu. Canda-canda antar ikhwan dan akhwat menjadi pemandangan yg lumrah dan biasa saja. Sangat lumrah saja, ketika diskusi-diskusi minus hijab beserta canda tawa yg telah melewati batas itu terlihat di berbagai tempat. Bahkan, aku pernah melihat ikhwan dan akhwat bercanda sambil lempar-lemparan kertas di perpus utama. Di sebuah perentalan buku muslimah, ada lagi ikhwan dan akhwat yang hanya berduaan saja di dalamnya. Ada banyak lagi rentetan masalah serupa. Yg dahulunya disegani oleh aktivis kiri, kini malah dilecehkan. “Aktivis da’wah aja begitu.” Demikian kata mereka. 

Baiklah, environmental da’wah hari ini memang lebih divergen dan menuntut adanya keluwesan dalam interaksi. Dan lagi, adalah hal yg mustahil da’wah ini akan diemban oleh ikhwan dan akhwat yang terpisah. Semua itu memang mengharuskan terjalinnya sebuah interaksi. Sebaliknya, bukan pula kekakuan yg mematikan potensi, kebisuan dan ketertutupan antar ikhwan & akhwat yg dimaksudkan dengan menjaga hijab itu. Akan tetapi, menempatkannya pada posisi yg proporsional. Yah, letak perbedaannya hanya pada penempatan yg proposional itu tadi saja. Tidak berlebihan, dan tidak pula tertutup dan kaku.

Bukan itu saja saudaraku, ternyata ekslusifme di kalangan aktivis da’wah itu masih berasa. Di kampus kita terutama. Barangkali, karena itu pula saudara2 qta yg lain yg berada di zone pergerakan yg berbeda (baik itu latar belakang, tujuan, dan titik tolaknya) men-judge kepentingan-kepentingan yg qta perjuangkan itu bukan kepentingan ummat melainkan kepentingan satu golongan saja… Meraka yang tidak mengerti tentang apa yg kita perjuangkan, karena antara kita dan mereka masih bagaikan dua fasa disperse yg terpisah. Di mana, setelah mencapai titik euthetik, semuanya kembali seperti fasa semula. Memang, kecendrungan kita adalah lebih dekat dengan teman se-fasa seperti prinsip “like dissolve like”, namun, tak ada salahnya kita lebih ‘membuka diri’. Berbaur tapi tak lebur…

Baiklah,…
Barangkali perjalanan ini masih panjang. Waktu yg tersedia tidak lebih banyak dari kerja panjang da’wah yang harus dilakukan. Bahkan, ketika kita telah berlalu meninggalkan kampus, perjuangan itu insya Allah masih akan tetap berlanjut. Kemenangan itu bukan terletak pada terpilihnya salah satu ikhwah qta sebagai pemegang tampuk kepemimpinan tertingga di tatanan masyarakat (miniaturnya : kampus), tapi, pada kerja nyata apa yang telah qta perbuat. Pada perubahan-perubahan apa yan telah qta ciptakan. Pada kontribusi apa yg telah qta berikan. Perjuangan itu bukan hanya tugas pemegang tampuk kepemimpinan itu, tapi, qta semua sebagai penyokongnya. Seperti kata ustadz yg telah sering kita dengar, mobil itu sebagus apapun takkan dapat berjalan tanpa pentil. Semoga qta menjadi pentil-pentil yang kokoh. Berjuang, meski tak terlihat, tak teraba, bahkan keberadaannya tak terlalu diperhitungkan. Namun, ketika tiada, ia dicari. Memang, sebuah mobil akan terlihat dari bagusnya bodinya, mengkilatnya warnanya, bagusnya mesinnya,. Itu secara kasat mata. Tapi, perjuangan sebuah pentil pun akan melengkapi kesatuan kokoh bernama mobil itu tidak pernah bisa dipandang sebelah mata atau dinafikan begitu saja. Dan yang pasti, Allah akan membalasi semuanya. Tiada yg luput dari pengawasan-Nya.

Jangan pernah berpikir, bahwasannya banyaknya amanah di berbagai wajihah yg diemban oleh seseorang memiliki linearitas dengan kualitas dirinya. Percayalah, dimanapun posisi qta, qta semua adalah penting. Kita semua adalah jundullah! Kita, adalah penjuang agama Allah. Sekecil apapun kontribusi yg qta berikan, pasti akan dibalasi-Nya, Dzat yang Maha TEliti, Maha mengetahui segala rahasia hati, yg tersirat maupun tersurat. Tiada hal-hal besar, kecuali diawali dari hal-hal kecil. 

Semoga Allah menjadikan qta golongan orang2 yg sedikit itu, golongan orang2 yg istiqomah di jalan-Nya. Golongan orang-orang yang memilih jalan yg sulit, namun dengan ending yg berbahagia…

Mungkin, hanya ini curahan hati yg ingin kusampaikan pada saudarku semuanya. Mohon maaf, jika ada yg tak berkenan. Karena, sekali lagi, apa yg kutuliskan ini adalah curahan hatiku, yang bertujuan utama untuk mengingatkan diriku pribadi yg mungkin jua tersalah. Adalah kenikmatan ukhuwah yg indah, ketika kita bisa saling mengingatkan dalam rangka menuju keridhaan-Nya. Semoga perjuangan di dunia ini, membuahkan sesuatu yang teramat manis, yaitu pertemuan di Jannah-Nya.

Ingatkanlah aku, wahai saudara-saudaraqu. Ingatkanlah aku ketika aku lalai, lengah, dan melangkah berlainan arah. Kumohon. Bukankah ukhuwah itu pula yg menggentarkan musuh-musuh Allah??? 

Jazakumullahu ahsanal jaza’ kepada saudara2 seperjuangan di jalan da’wah, (mulai dari satuan terkecil bernama forsil itu hingga kepada satu satuan besar bernama jami’atul muslimiiiin) Yang telah member warna di kehidupanku. Sungguh, membersamaimu semua dalam wasilah ini adalah hal terindah bagiku. Mari kita kokokkan langkah, mempererat genggaman tangan, menapaki perjuangan ini.
Read More