Saya Orang Sunda?? (part 2)

Heheheee... (belom mulai nulis udah "kehkehkeh...." duluan. :D
Sebenarnya aku sudah ceritakan tentang asas praduga kebanyakan orang-orang tentang aku yang lebih sering dikira orang sunda ketimbang Padang. Aku sudah pernah ceritakan ini dua tahun lalu kira-kira, di sini.

Kali ini aku pengen cerita lagi deeh.
Meskipun dalam deadline animasi, tapi si bloggie dilirik jugaak (cukup gak yah 5 hari ngerjain seabrek animasi flash itu? semoga cukup... asalkan bersedia memangkas waktu tidur. *ehh, tapi ko malah nge-blog sih Fathel? Yasudahlah. refreshing dulu boleh kan? sambil "nyontek" dan selancar nyari ide animasinya di internet. hehe...).


Tadi sempet menghadiri bincang-bincang PPI tentang kuliah di luar negeri. Mereka, para pelajar Indonesia yang baru pulang dari berbagai negara mulai dari yg deket semisal malaysia, thailand, australia, hingga ke yang jauh-jauh, semisal amerika, swedia, kanada, rusia, mesir, belanda, abu dhabi, jerman, jepang dan lain sebagainya. Aku sendiri saat ini sebenarnya tak begitu tertarik dengan perbincangan lanjut sekolah lagi. Ini ajah nyelesein kuliahnya udah ngos-ngosan dan amat sangat ingin segera lulus. Tapi, aku udah kadung berjanji sama saudariku Ega untuk dateng, jadi aku dateng deh. Lumayaaan, makan gratis #mental anak kos. Hihi...
Acaranya dibikin sesantai mungkin dengan moderator yang jalan-jalan mengelilingi audiens dan moderatornya suka nanya-nanya sambil nyodorin mikrofon ke peserta. Agak kikuk juga aku pas masing-masing audiens ditanyain, "Nanti negara tujuannya maunya apa?"
Aku sudah berdo'a dalam hati, semogaaaa moderatornya kaga liat akuu sehingga melewatkan aku, sambil nunduuuk menyembunyikan mukaa. Pura-pura serius nulis. Biar tak ditanyaa deh pokonyaaa. Tapiii, eehh ternyata tiba juga giliran akuu disodorin mikrofon and ditanyain. Haiiihhh.... Aku jawab, "Arab Saudi." Hehehe. "Sekalian haji yak?" tanya moderatornya. "Iya, insha Allah." Jawabku. Hehe...
Kan pertanyaannya bukan "Kamu mau lanjut kuliah di mana?", moderatornya pan nanyanye "Nanti maunya negara tujuannya apa?" iya thoo?? Kan boleh saja aku jawab Arab Saudi. Dan lagi, selain itu, insha Allah setiap muslim, pasti ingin mengunjungi negara tersebut kan yah? Menuju tanah haram itu. Smoga disegerakan-Nya untuk kita. Aamiin... Allahumma aamiin...

Hal yang menarik untuk kuceritakan ada tentang teman satu mejaku. Ada tiga orang di mejaku. Aku dan dua orang akhwat. Yang satu, mahasiswi psikologi 2010 dan yang satunya lagi anak fisip 2005 yang berniat melanjutkan kuliah ke Jepang. Setelah sekian lama berbincang, tiba-tiba aku ditanya, "Mba Asli Padang?", aku jawab "Iya.", "Kok bahasanya kaya orang sunda yah?", "Eh, iyakaaahh?"
Gubraks... Apa iya, logatnya sunda? Masa sih? Lanjutnya, "Trus, kalem-kalemnya juga mirip orang sunda."
Hah??? Kaleeeeeeem?? Yang bener ajaaahh. Ini lebih nge-gubraks lagi. Apa jangan-jangan "kelam", bukan "kalem"? Ihihihi :D...

Si Mba tersebut, sebenarnya bukan orang pertama yang bilang aku Sunda. Sudah beberapa kali sebelumnya, aku tersangka sebagai orang sunda. Gak hanya di gerbang tol citereup seperti yang aku tuliskan dua tahun silam, bapak-bapak supir bajaj (bajaj itu sebutannya supir kah? hihi :D), orang percetakan, di mana-mana deh pokonya. Apa iya, kaga keliyatan Padang nya akuuh? Bahkan di RSCM kemarin, pas berinteraksi dengan barudak instalasi farmasinya, mereka pada kaget pas aku bilang aku orang Padang. Hemm... baiklaah... Kata temenku, salah satu penanda aku orang Padang itu adalah namaku yg "aneh". Hehe

Sebenarnya, aku memang sangat mudah "ter-influence" bahasa. karena, aku punya tendensi ke-bahasa-an yang cukup lumayan. Kebanyakan bahasa,  bahasa-bahasa daerah tertentu misalnya, aku tertarik mempelajarinya dan me-logat-kannya (ada ya istilah gini?? -_-") kecuali satu bahasa, yaitu BAHASA INGGRIS! Parah yah?! Ternyata susah juga mengilangkan trauma hati. Hasyaaaaahh... bahasa apa pula ini, trauma hati segala??? maksudnya, sesuatu yang sudah menjadi mindset kita, maka berdasar itu pula lah kita bertindak. Aku sedari dulu memang rada-rada trauma dengan yang namanya bahasa inggris.Nilai bahasa inggrisku di semester 1 kuliah dulu C. #PARAHHH! Ditambah lagi, dibilangin pronounciation jelek pas seleksi mapres. Padahal, juga gak jelek-jelek amat (haha, ini edisi menghibur diri loh yaaah...). Toh, si mas Yoshi nakaguchi ngerti ko sama percakapan aku karena english nya orang Jepang sama parahnya dengan aku. Hihi :D (lagi-lagi, edisi menghibur diri... :D). Tapi, aku sudah terlanjur "mencap diri" dan terlanjur berpersepsi bahwa englishku itu memang lah sangat kacau. Sehingga dengan mindet yang begitu, aku sangat tidak PD berbahasa inggris. Ah, sudahlah, ini tak perlu kuulang-ulang lagi. sudah terlalu sring aku ceritakan.

Aku hanya ingin kembali mengingatkan diriku sendiri, bahwa bagaimana seseorang itu bertindak adalah berangkat dari bagaimana ia ber-mindset. Aku punya sahabat dua orang akhwat yang menurutku sangat inspiratif. Bagaimana mereka menyelesaikan kuliah S1 nya, bagiku sangat inspiratif. Dan bagaimana mereka setelah selesai kuliahnya (salah satunya sih soalnya yg satu belum lulus S1 nya), juga sangta inspiratif. Hal yang sangat menarik bagiku adalah mereka berbeda dengan kebanyakan orang lain. Dan aku yang memang sangat menyukai orang-orang yang kehidupannya "berbeda" dengan orang lain tersebut. Akhwat pertama. Menyelesaikan kuliah penuh perjuangan. Sekarang dia adalah salah seorang penyidik di badan terbesar di Indonesia ini yang mengawasi obat-obatan dan makanan. Kisah perjuangannya membongkar sindikat perdagangan gelap obat-obatan dan kosmetik ilegal yang bagaikan kisah detektif yang selama ini hanya ada di novel-novel, kini kusaksikan kenyataannya. Bayangkan, seorang akhwat...jilbaber (sudah ummahat sih sekarang hee), tapi berhasil membongkar sindikat dan jaringan obat-obatan dan kosmetik gelap. Wah, masya Allah... kerreeen sekalii. Sesuatu yang menurutku tidak ada dan sangat jarang ditemui pada akhwat2 lainnya, apalagi seorang ummahat lagi. Entah anak hukum yah? aku juga ndak tau. hee... Soalnya dia berperan langsung dan terjun ke lapangan sebagai detektif atau agen rahasia gituh. Dia bisa jadi apa saja. Ndeso bisa. Jadi mahasiswa juga bisa. Pokonya aku tuh kok yaa terkagum-kagum gituuh. Sesuatu yang jarang dilakukan seorang akhwat.

Kalo yang satu lagi, belum lulus kuliah S1, tapi aku juga kagum. Di usia belia begitu, dipercaya sama bos tempat dia magang, untuk menangani seluruh urusan pajak perusahaan. Masya Allah, hebat sekalii yah? Padahal belum lulus. Udah gituuh, pas perusahaannya ikut tender gituh yang diutus malah dia, seorang mahasiswi magang saja. Pas nyampe di perusahaan yang mau melelang tender itu (dan itu adalah perusahaan besuuaaaarr yang anak SD juga kenal perusahaan tersebut!), dia bertemu dengan wanita-wanita cantik nan sexy (yang katanya udah pada lulus S2 gituh). Bukan rahasia lagi, kalo tender-tender-an begitu, kadang banyak "intrik" di belakangnya. Kalo bukan maen uang dengan hitungan M, yaa paling gak ada "bonus" nya lah : wanita sexy yang bisa diajak bermalam di hotel) *astaghfirullaah... Dan akhwat tersebut datang ke perusahaan besar itu membawa dokumen dengan jilbab panjangnya, gaya slenge'an, tanpa make-up dan tentu saja tanpa uang hitungan M apalagi opsi selanjutnya yang kusebutkan di atas). Tapi apa? Tendernya menang. Masya Allah. Selain kualifikasi si akhwat tersebut memang mantep pisaan, perusahaan besar itu juga bagus yah?! Tapi, anak magang gitu loh!

Hmm... kayaknya ceritaku udah gak nyambung lagi yah ama topik utamanya?
Hehe... biarin dah! Judulnya kan curhat :p
Maksudnya tadi, mereka bisa demikian, karena mereka bermindset berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Jadi, apapun tindakannya, adalah berangkat dari mindset apa dan bagaimana frame berpikir seseorang.
Maka, si yahud dan nasharo itu pun menyerang kita dengan menggerogoti "MINDSET" yang disebut ghazwul fikriy itu. Wujudnya bisa berbagai macam. Hingga ke JIL. Itu yang diacak-acak kan "cara ber-mindset" seseorang. Di tambah iman di hati dilemahkan imunitasnya oleh mereka. Maka jadilah kita sebagai kaum yang lemah, terjajah, gak hanya secara ekonomi, kebudayaan dan politik, tapi juga terjajah secara "cara berpikir". Sehingga, latah mengikuti "mereka" yang katanya modern. Kalo berislam itu dibilang kuno. Na'udzibillaah...

Maka, jika kita ingin membaikkan generasi ini, hal yang perlu dimulai adalah menanamkan mindset akidah yang benar dahulu terhadap anak-anak kita, sebagai fondasi dasar terkuat. Ini tak boleh tergoyahkan. Bahkan, sampai hal-hal sederhana sekalipun, semisal "Anak yang takut sama hantu." Ini kan sebenarnya sudah menyentuh ranah akidah, tho?!
Hemm.... ternyata banyak yaah yang mesti kita benahi. Tapi adalah penting, salimul aqidah itu terlebih dahulu yang dibenerin. Tanpa mengabaikan hal-hal pokok lainnya tentunya.

Eh,s ekian dulu ceritanya yang udah kemana-mana inii niih. Tadinya mau ke Dago, eehhh malah nyasar ke Palopo. Hihi... :D
Gado-gado dah isinyaa...
Tapi biarlaahh....

Aku mau jor-jor-an dulu mengerjakan animasi-ku yaaahh... Do'akan yah saudara/i ku. Insha Allah pekan depan (targetku), sudah melewati tahap 2 sidang (proposal), sehingga aku bisa cepet-cepet pulaaang kampuaaang insha Allah. Kan mau tesisong di kampuang tercinta. Biar ntar kalo tesisku di publikasi, nama SOLOK SELATAN jadi eksis. Hihi. Kan ada nama SOLOK SELATAN di judul tesisnya... Jarang2 soalnya, kata2 "solok selatan" masuk publikasi ilmiah farmasi soalnya. Hehehe.....
Hayooo dirikuuu, semangaaaaaaaaatttt! Insha Allah aku bisaaaaa! tanamkan mindset, bahwa aku BISA! insha Allah...

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked