Showing posts with label taujih. Show all posts
Showing posts with label taujih. Show all posts

Budak-Budak Kebiasaan

Subhanallaah…sungguh kagum aku pada seorang nenek tua yang umurnya mungkin sudah mencapai angka 80 atau 90 itu. Benar-benar mengagumkan. Semua ini kemudian mengajarkanku tentang kebiasaan dan kita sebagai manusia yang menjadi ‘budak’ dari kebiasaan tersebut.

Setelah lebih dari tiga hari membersamai beliau, aku menjadi semakin mengenali sosok itu. Nenek tua itu berwajah bersih. Memiliki kebiasaan yang selalu rapi, dan sangat rajin. Ia sangat mencintai mesjid dan selalu tepat waktu dalam sholatnya. Jika saja sudah terdengar adzan berkumandang, ia bersegera untuk melaksanakan sholat. Sering kali ia menunaikan sholat ke mesjid. Tapi, belakangan anak dan cucunya sudah melarang karena ketuaannya itu. Dikhawatirkan beliau akan terjatuh jika berjalan sendirian ke mesjid. Osteoporosis telah merenggut kebebasannya untuk melangkah. Tapi, meski dengan punggung yang bungkuk begitu, ia selalu berupaya untuk ke mesjid. Ia selalu menjadi yang pertama di seantero penghuni rumah itu untuk berwudhu’ dan sholat jika saja adzan telah berkumandang. Dan ia pula yang menjadi orang yang paling berlama-lama bersama Al Qur’an dan melafadzkan huruf demi hurufnya. Ia juga masih turun ke dapur dan ikut memasak sesuatu meski hanya sayur bening, walaupun anak cucunya sudah mencegat. Ia pun masih senantiasa bersih dan rapi dengan kamarnya yang tak terlihat berantakkan sedikitpun, di saat orang-orang seusianya banyak yang mengabaikan hal ini.

Kemudian aku bertanya pada anak dari nenek itu. Bagaimana bisa nenek itu melaksanakannya di saat orang-orang seumuran beliau mungkin tak banyak yang bisa seperti itu? Anaknya menjawab, bahwa beliau telah melakoni ini semua semenjak ia kecil dulunya. Semenjak ia mulai mengerti tentang kehidupan. Masya Allah…

Semua ini mengajarkan kepada kita, bahwa kita memang menjadi ‘budak’ dari kebiasaan kita. Ketika kita membiasakan suatu keburukan, maka, kita akan menjadi budak dari keburukkan tersebut. Kita akan senantiasa melakoninya. Pun sebaliknya, ketika kita terbiasa melakoni sesuatu kebaikan. Kita pun menjadi ‘budak’ dari kebiasaan tersebut yang akan senantiasa pula kita lakukan. Seperti kata sebuah pepatah Minang, “Ketek taraja-raja, gadang tabawo-bawo, lah tuo tarubah tido.” (Di waktu kecil mulai belajar untuk melakukannya, ketika dewasa mulai menjadi kebiasaan, ketika tua tidak dapat diubah lagi.)

Sebuah penelitian membuktikan bahwa otak kita akan mereduksi segala sesuatu yang sangat jarang digunakan, diulang maupun dibiasakan. Itu sebabnya, jika kita sudah lama tidak mengulangi sesuatu semisal pelajaran maka kita akan melupakannya. Apalagi hafalan Al Qur’an, yang ketika sudah lama tidak diulang, ia-nya begitu cepat lenyap dari ingatan, bahkan lebih cepat dari kuda yang lepas dari tali kekangannya. Astaghfirullaah… astaghfirullaah…

Maka sebab itu pulalah, Rasulullaah perintahkan kepada kita untuk menjaga kebiasaan baik ini. Tentang menjaga amalan baik kita. Sungguh Allah menyukai amalan yang istimror. Berkelanjutan. Dari Aisyah ra., Rasulullah bersabda : “Amal perbuatan agama yang paling disukai Allah yaitu amal perbuatan yang terus dikerjakan oleh orang yang mengerjakannya.” (Al Hadits)

Read More

Lembaran Kehidupan

Dalam rihlah blog (blogwalking) kali ini, aku terdapar di blognya Rusda Ulfa. Cihaaa….pada akhirnya, si Cu’ul bergabung jugak di dunia per-blog-an. Hehe. Ahlan wa Sahlan Cu’uuuuul…. Semoga betah. Hee…

Pada postingan pertamanya, begitu “nge-zugg” bagiku. Kamu bisa baca di sini. Tentang hidup dan analoginya dengan lembaran buku. Tentang episode hidup ini. Ah, begitu berkesan sekali nasihat ini bagiku. Ah, benar sekali…bahwa Allah selalu menyediakan lembaran baru tanpa noda untuk kita isi, seburuk apapun lembaran-lembaran sebelumnya. Subhanallaah…. Maha Agung Allah yang membentangkan seluas-luasnya pintu maghfirah di siang hari untuk kemaksiatan di malam sebelumnya, dan membentangkan seluas-luasnya magfirah di malam hari untuk kemaksiatan di siangnya.

Selayaknya sumber daya yang tak dapat diganti dan di daur ulang, waktu-waktu berlalu takkan pernah dapat dijemput. Yang tersisa hanyalah lembaran-lembaran yang telah tercatat oleh kiraman katibin yang suatu saat akan dipertanggungjawabkan. Setiap catatan, akan dihadirkan dan diputarkan kembali dengan sedetil-detilnya. Adakah yang lebih Maha Teliti selain persidangan-Nya?

Ah, tentang lembaran-lembaran yang telah berlalu itu. Bahkan sangat banyak coret moretnya. Terlalu banyak. Tak terhitung lagi. Belum. Masih belum layak untuk ditinggalkan sebagai jejak yang baik. Masih belum layak. Bahkan sangat jauh dari layak. Aku….dan buruknya lembaran lalu.

Sesungguhnya, banyak yang disesali. Banyak. Dhaif. Hina. Penuh debu. Penuh noda. Jika saja waktu bisa diputar, tentu setiap kita sangat ingin kembali menjemput hari-hari itu, untuk kemudian diperbaiki, direkonstruksi. Tapi sayang sekali, waktu tak dapat dijemput. Dan, tentu saja pintu kemana saja doraemon sama sekali tidak berlaku di sini.

Ah, tabiat manusia selalu begitu. Bahwa setelah nyata di hadapan mereka, tentang perbuatan mereka itu dan akibatnya, barulah memohon-mohon untuk dikembalikan. Ke dunia lagi, bahkan. Tapi, dapatkah? Tentu saja tidak! Lembaran yang telah berlalu, dengan segala kesalahannya, dengan segala noda yang tertinggal di sana, memang takkan pernah dapat dijemput. Kesalahan adalah sesuatu yang wajib untuk disesali. Tapi, bukan berarti hanya terpaku di sana yang akan melemahkan semangat kita. Ia-nya memang adalah sebuah kesalahan. Tapi, bukan berarti selamanya kita harus merasa begitu lemah dengan sebuah pembiaran dan kepasrahan tanpa makna. Justru, dengannya, jadi sebuah lecutan semangat….untuk mengisi lembar-lembar berikutnya dengan tinta terbaik. Dengan goresan terbaik pula. Yakinlah…bahwa selalu ada lembaran baru yang Allah bentangkan untuk hambahamba-Nya. Yakinlah….

Dari Anas ra. Berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Wahai anak Adam, selama kamu berdo’a dan berharap kepada-Ku niscaya Aku amouni dosa yang telah kamu lakukan, dan aku tidak mempedulikan betapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kamu. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu menghadap Aku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi itu. (HR. At Tarmudzy)

Read More

Hati yang Ternoda

Apa Bedanya antara plak dan noda yang telah lama berada di suatu tempat, dan terus menerus bertambah dan bertambah, dengan noda yang baru saja hinggap? Bedanyanya adalah, yang pertama akan sangat sulit dibersihkan, sedang yang kedua, sekali lap saja, noda hilang dalam sekejap!!

Wahai diri, begitu pula dengan plak dan noda yang kau cipta di hatimu. Jika kau tidak segera mengelapnya, bahkan kau membiarkannya saja, maka, suatu saat kau akan kewalahan membersihkannya! Dan, jika hatimu telah tertutup dengan plak-plak dan noda-noda hitam itu, bagaimana bisa cahaya dapat menembusnya?!

Wahai diri, bersegeralah membersihkannya setiap kali noda dan plak itu mengotorinya. Segeralah kau membasuhnya! Meski adalah suatu yang absurb, ia tak pernah dihinggapi noda dan plak. Tapi, setiap plak dan noda, pasti ada penyikat dan pembersihnya! Maka, bersegeralah kau membersihkannya setiap kali plak itu menempeli hatimu!

Wahai diri, ambillah hikmah itu di manapun kau berada. Apa pun yang bertaburan di sekitarmu sesungguhnya menyimpang sejuta hikmah. Tinggal kau bersedia untuk memungutnya atau membiarkannya saja.

Wahai diri.
Sadarlah akan kesejanakan dunia. Tidakkah kau perhatikan, banyak bayi-bayi yang lahir, tapi, bukankah banyak juga yang pergi untuk kembali? Tidakkah kau siapkan diri untuk masa yang PASTI itu? Bukankah ia datang di saat-saat yang tak pernah kau prediksi? Lantas, mengapa kau tak senantiasa siaga di setiap saat? Kenapa kau terkungkung? Bukankah dunia ini tak lebih dari kesejenakkan yang amat singkat?

Wahai diri…
Bersiaplah…bersiaplah untuk hari itu…hari di mana segalanya menjadi terputus. Jika kau tidak mengisinya dengan jejak-jejak terbaikmu, maka, kau akan mendapati dirmu berada pada penyesalan yang begitu panjang nantinya!
Read More

Nasihat Bermanfaat

Masya Allah…tidak ada suatu kebetulan! Yang ada hanyalah kebenaran. Dan, masya Allah itulah yang kurasakan! Dalam sehari kemarin, aku dapat SMS dari sahabat-sahabatku, dari saudari-saudariku. Mereka mungkin tidak tahu, tentang bagaimana aku hari ini. Tapi, nasihat yang mereka berikan begitu mengena! Begitu mengena dan di timing yang begitu pas pulak! Syukraan…

Eh…eh…, aku pun ingin membaginya kepadamu. Heuu…iya, kamu! Kamu yang kebetulan…eh…kebenaran, membaca blog ini. Hihihi. Mungkin kamu-kamu pernah juga ngebacanya and mendapatkan nasihat yang sama. Heuu…itung-itung maulang kaji lamo, kalau memang iya sudah pernah mendapatkannya.

“Terkadang kita harus menggenggam tangan kita sendiri untuk meyakinkan bahwa diri kita kuat…
Terkadang.. ..kita juga harus melepas orang lain agar kita kembali bangkit…
Namun, kita tidak akan pernah bisa melepaskan Allah, untuk membuktikan bahwa kita mampu…
Ada jalan yang tidak pernah kita fikirkan dan ada kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan…”

“Bismillaah….
Biarlah Allah saja yang menyemangati kita sehingga tanpa disadari stiap peristiwa jadi teguran atas KEKHILAFAN kita..
Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan…
Semoga Allah menjadikan kita pribadi bermakna…
Saat berbaur menyemangati yang lain dan saat sendiri menguatkan diri sendiri!”

“Saudariku, beruntunglah orang-orang yang selalu optimis dalam menjalani setiap episode kehidupan, mempertahankan semangat dalam pergantian waktu, menjaga niat dalam kebaikan, dan menemukan Allah di setiap gerak langkah…”

“Jangan katakana hari ini indah maka kita bahagia, tapi karena kita bahagia maka hari ini menjadi indah.
Jangan katakana tidak ada rintangan maka kita optimis, karenakita optimism maka rintangan menjadi tidak ada.
Jangan karena mudah maka kita yakin bisa, tapi karena kita yakin bisa maka semuanya menjadi mudah.
Jangan karena semua baik maka kita tersenyum, tapi karena kita tersenyum maka semua menjadi baik.”

Trima kasih saudara-saudariku…
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatt!!
Sumangaik!
Sumangaik!
(heuu..kata2 “sumangaik”, adalah kata-kata yang tertulis di selembar HVS dua tahun yang lalu, yang kemudian tertempel di diding kamar 4 wisma Syakuro, yang memiliki daya magnetis tersendiri. Bahkan, tulisan itu masih saja tertempel, ketika aku meinggalkan Syakuro menuju Hurriyah. Dan, bahkan ketika aku pun telah meninggalkan Hurriyah!) hehe.
Read More

Ramadhan Mubarok

 
كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.”
(ulama Salaf)

شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر السقي للزرع و رمضان شهر حصاد الزرع

 “Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.”
(Abu Bakr al Warraq al Balkhi)


السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tesebut.”
(ulama salaf) 


"Allahumma bariklana fi rajab wa sya'ban, wa balighna Romadhon."
(HR. Ahmad & Thabrani)


Read More

Air Mata Kerinduan

Subhanallaah...
Kisah yang benar2 menggugah...
(Co pas dari ni Reni Anggraini,S-2 Kimia ITB 2009)

Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.
-----
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah.

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

Asy...hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad. ..

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

Asy...ha..du. .annna...

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.

Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan.

Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah SAW berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, ”Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya." Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, ”Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat.

Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, ”Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.” Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat.

Bilal teringat, saat shalat ’Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah SAW. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab ra., satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih.

Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad SAW, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya.

Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. ”Hanya sekali”, bujuk Umar. ”Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?”
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

Hayya ’alash-shalah, hayya ’alash-shalah

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

Hayya ‘alal-falah, hayya ‘alal-falah

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

La ilaha illallah

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.
----
Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya.
”Jangan menangis,” katanya kepada istri. ”Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari.”

Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan yang sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia.
Read More

Kakek Penjual Kipas di Kereta


Suatu hari, di kereta kelas ekonomi…9 orang anak muda, mahasiswa, sedang berjalan-jalan. Tertawa-tawa. Bergembira-ria. Tiba2, lewatlah seorang penjual kipas, laki-laki tua yang bahkan untuk menjajakan jualannya saja, sudah tak jelas lagi. Sudah sangat tua.
“kipas….kipas….kipas….lima ratus…lima ratus!”
Kagetlah kesembilan mahasiswa itu. “haaa? Masak Cuma 500 rupiah harga itu kapas? Balik modal gak yah? Permen ajah Cuma dapat 3!”
Takjub, memandang kakek tua yang tertatih itu. “Bagaimana beliau menghidupi anak istrinya?”
“eh, hayooo..kita beli kipas bapak ini!” salah satu mengomandoi. Mata si Bapak tampak berbinar! Kipasnya laku 9 buah sekaligus. Lalu, sekelompok mahasiswa itu, memberikan duit 10.000. “Pak, gak usah dikasi duit kembalian. Harganya segitu ajah.”
Masya Allah, tak terkira syukur si Bapak. Tampak beliau saaangaat bahagia karena kipasnya laku dengan harga 10.000. berkali2 beliau mengucapkan syukur dan terima kasih.

Mahasiswa itu terperangah, terdiam, menatap tak pecaya. Memperhatikan punggung ringkih yang berlalu menuju gerbong berikutnya itu dengan segenap rasa yang tak terdefinisikan… “Haaaa? Begitu berharga duit sepuluh ribu itu bagi si bapak yak? Gw aja, di kasi mama sepuluh ribu itu langsung ngomel2, ‘sepuluh ribu Cuma dapet apa, ma!?’. Tapiiii, bapak ituu, sepuluh ribu aja, sudah segitu besar rasa syukurnya. Gw terharu banget!”

Masya Allah…
Ternyata, definisi banyak dan sedikit itu begitu berbeda. Kadang (atau sering?) kita merasa apa yang kita punya itu masiih kurang. Lupa bersyukur dengan apa yang diberi. Padahal sudah sangat lebih. Jauh lebih baik dari mereka yang tidak seberuntung kita. Di pinggir jalan sana. Do kolong jembatan sana. Di pekampungan kumuh sana.
Maka benarlah, untuk urusan dunia, memandanglah ke bawah. Sebab dengan demikian, akan menjadi perangkat lunak di hati kita untuk senantiasa meng-up date rasa syukur itu. Sebaliknya, untuk urusan akhirat, memandanglah ke atas. Sebab denga demikian, ia juga akan menjadi perangkat lunak di hati kita untuk senantiasa meng-up grade diri kita, ruhiyah kita, dan keimanan kita.

Semoga kita semua bisa sama2 ambil plajaran yaaah?
Read More

Taujih Rabbani


يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْق ٍ جَدِيد ٍ

وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيز ٍ

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَة ٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَة ٌ إِلَى حِمْلِهَا لاَ يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْء ٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِه ِِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ


Wahai Manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.

Jika Dia mengkehendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikanmu).

Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah.

Dan orang-orang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikitpun, meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut pada (adzab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan shalat. Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan dirinya untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali. 

(Qs. Faatir : 15-18)


Read More

Renungkanlah (1)


وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,
Qs. Asy Syu’ara’ : 80

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَه ُُ وَثُلُثَه ُُ وَطَائِفَة ٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوه ُُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضا ً حَسَنا ً وَمَا تُقَدِّمُوا لِأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْر ٍ تَجِدُوه ُُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرا ً وَأَعْظَمَ أَجْرا ً وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُور ٌ رَحِيم ٌ

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Qs. Al Muzzammil : 20)

وَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئا ً وَهُوَ خَيْر ٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئا ً وَهُوَ شَرّ ٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Qs. AL Baqarah : 216)
Read More

Renungkanlah (2)


Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lainnya, kecuali ditetapkannya untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan.
(HR. Muslim)

Tidaklah seorang muslim tertimpa derita atau perkara lain, kecuali Allah hapuskan dengannya kejelekan-kejelekan (dosa-dosanya)sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.
(HR. Muslim)

Jika seorang hamba sakit atau sedang melakukan perjalanan, maka dituliskan baginya pahala sebagaimana ia melakukan amalan ketika ia tidak sedang bepergian atau sehat
(HR. Bukhari)

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”
(HR Muslim)
Read More

Taujih Rabbani


يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْب ٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَاب ٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَة ٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَة ٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَة ٍ مُخَلَّقَة ٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَة ٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَل ٍ مُسَمّى ً ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْم ٍ شَيْئا ً وَتَرَى الأَرْضَ هَامِدَة ً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْج ٍ بَهِيج ٍ 

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

“O mankind! if ye are in doubt concerning the Resurrection, then lo! We have created you from dust, then from a drop of seed, then from a clot, then from a little lump of flesh shapely and shapeless, that We may make (it) clear for you. And We cause what We will to remain in the wombs for an appointed time, and afterward We bring you forth as infants, then (give you growth) that ye attain your full strength. And among you there is he who dieth (young), and among you there is he who is brought back to the most abject time of life, so that, after knowledge, he knoweth naught. And thou (Muhammad) seest the earth barren, but when We send down water thereon, it doth thrill and swell and put forth every lovely kind (of growth).”

[Al Hajj : 5]
Read More

Nasihat Untuk Diri yang Enggan Berinteraksi dengan Al Qur'an


Wahai diri, tidakkah kau malu pada Allah?
Katanya kau cinta, tapi tak merasa senang untuk berinteraksi dengan kalam-Nya.
Bukankah jika manusia mencintai manusia lain, ia menjadi senang jika membaca surat dar orang yang dicintainya, bahkan membancanya berulang-ulang?

Wahai diri, mengapa dirimu begitu enggan dan berat untuk hidup dengan wahyu Allah ini? apakah ada jaminandi sisi Allah bahwa kau akan mendapat pahala gratis tanpa beramal saleh? Dengan apa lagi kau meraih pahala Allah? Dengan infaq kau tidak mampu kecuali sedikit. Dengan jihad, kau malah belum siap. Kalau tidak dengan Al Qur’an, dengan apa lagi? Hiduplah bersama Al Qur’an, insya Allah akan lahir berbagai macam amal sholeh.

Wahai diri, wahai jiwaku…siapa yang akan menjamin keamanan dirimu nanti saat menghadapi gentingnya suasana di akhirat? Padahal Rasulullah saw sudah menjamin manusia yang rajin berinteraksidengan Al Qur’an. Bahwa Allah akan memberikan keamanan saat menghadapi suasana di akhirat.mulai dari sakaratul maut sampai saat melewati shirat yang akan menentukan masa depanmu, apakah ke surga atau neraka.

Wahai diriku, wahai jiwaku, tidakkah kamu malu pada Allah? Pemberian dan nikmat-Nya kepadamu sangat banyak, baik yang kamuminta maupun tidak. Tidakkah kamu bersyukur dengan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara memperbanak interaksi dengan Al Qur’an?

Wahai diriku, ahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah dan Rasul-Nya mengajak dirimu untuk memperbanyak hidup bersama dengan Al Qur’an? Sebenarnya untuk siapakah manfaat amal itu? Apakah kau mengira bahwa dengan banyak berinteraksi dengan Al Qur’an, kemuliaan Allah dan Rasulnya bertambah? Sebaliknya, jika kamu meninggalkan Al Qur’an kemuliaan Allah dan Rasul-Nya berkurang? Sekali-kali tidak! Manfaatnya sesungguhnya untuk dirimu sendiri.

Wahai diri, wahai jiwaku, tidakah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Saat engkau terus menerus hidup tanpa Al Qur’an, sementara jatah usiamu semakin berkurang, tabungan amal sholeh masih sedikit dan jaminan Jannah pun tidak ada. Khawatirlah, jangan-jangan Al Qur’anlah yang enggan bersamamu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al Qur’an menjauh darimu

Wahai jiwaku, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah, Para Sahabat, Tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman, dalam berinteraksi dengan Al Qur’an? Jika hari ini kau masih enggan berinteraksi dengan Al Qur’an, apa yang akan dikenang generasi mendatang tentang dirimu? Jangan-jangan yang dikenang itu hanya keburukan saja. Na’udzubillaah…


(Nasihat Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al Hafidz, Lc)
Read More

Selamat Jalan, Nek


Sabtu yang lalu, aku masih sempat mengulaskan sebuah senyum untukmu, Nek… Untukmu yang membuat hatiku dihinggapi berbagai rasa tak bernama… Entah itu mungkin haru…

Hari ini…,
Janji itu telah datang…

Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un…
Seseungguhnya segalanya berasal dari Allah, dan kepada-Nya kita kembali…


أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوج ٍ مُشَيَّدَة ٍ ... 

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,
(An-Nisaa : 78)

اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأُخْرَى إِلَى أَجَل ٍ مُسَمّى ً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَات ٍ لِقَوْم ٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir
Qs. Az Zumar : 42 


نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ 

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan,
Qs. Al Waqi’ah : 60


وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَل ٍ قَرِيب ٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسا ً إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِير ٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al Munafiqun : 10-11)




Bangsal Neurologi, 25 Maret 2010
Read More

Hikmah


يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرا ً كَثِيرا ً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا الأَلْبَابِ 

Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

(Qs. Al Baqaroh : 269)
Read More