Menanak Hobby


Punya hobii moto2, hehehe
 What? Menanak hobby? Nantinya jadi apa dong?? Hihi. Nggak mungkin kan, hobby ditanak jadi bubur?! Keh…keh..keh… Gak mungkin lah yaah.


Sebenarnya judul itu terinspirasi dari ulasannya Pak Abdullaah Khusairi, MA dalam bedah buku “Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu” karyanya Bang Ragdi F. Daye.

Menanak hobby menjadi penghasilan!
Hehe…

Beberapa jam yang lalu, aku bercerita panjang lebar dengan uni psikologku. Yah, biasalah via telpon. Sambil kikik-kikik-an…juga sambli crita-crita soal masa depan. Hmm…begini niiih jika udah nyambung, klop dan bersesuaian…kalo ceritaa pasti nyambung bangett. Yah, cerita-cerita soal mimpi yang kami coba bangun bersama. Memulai langkah-langkah itu. Hee…

Satu kata yang cukup berkesan olehku adalah, “mari kita mengerjakan apa-apa yang menjadi minat kita.”
Yup, mengerjakan apa yang menjadi hoby, minat maupun yang kita sukai. Dengan demikian, apa yang kita kerjakan itu akan terasa menyenangkan, tidak menjadi beban, optimal, dan juga menghasilkan! Hmm…menarik, bukan? Menanak hobby menjadi penghasilan. Hehe.

Satu hal yang paling sulit adalah..memulai langkah pertama.
Namun, bagaimana hendak melangkah seribu langkah jika tak dimulai dari langkah pertama?
Yah…maka….mulailah dari langkah pertama saat ini juga.

Menjadi berbedalah!
Menjadi kreatiflah!
Karena berbeda (dalam hal positif) memiliki nilai lebih.
Hidup ini akan begitu apa adanya jika kita jalani dengan kemonotonan, dengan sesuatu sekebanyakan. Menjadi golongan yang sedikit itu ternyata lebih baik, ya
Read More

Continence

Hmm…satu lagi yang harus dikendalikan adalah…REAKSI SPONTANEOUS! Mereaksi secara spontan atas sesuatu tanpa pertimbangan (rasional) dan pertimbangan ruhiy terlebih dahulu. Yah, memang adalah karena aku terlalu ekpressif mungkin… Ekpressi yang mungkin berlebihan dari kadar seharusnya. Hihi. Apalagi dengan melibatkan unsure emosional pula. Benar-benar ektrem. Huhu.

Hanya saja, sangat mengherankan sekali mereka itu, yang katanya memiliki pemahaman. Aku hampir-hampir memberikan asasemen pada polar negatif untuk “kehebatan” mereka. Fiuufftt…Sungguh sangat menyakitkan! Okelah, aku tahu mereka adalah orang-orang hebat. Orang-orang berpengalaman pula, kata mereka. Tapiii, memangnya selalu benar?! Ah, tidak! Tidak selalu benar! (entah kalo merasa selalu paling benar, hem..). Begitulah dinamika,barang kali—bahkan di kalangan orang-orang yang katanya memiliki satu warna “fikroh” sekalipun. Tidak seruu, kalo tak ada riak gelombangnya. Hihi. Juga karena isi kepala dan isi dada berbeda-bada, mungkin.

Deuh…deuh…
Yang begini ini niih, reaksi spontan! Heuuuh…
Atau, mungkin karena aku sedang di titik kulminatif yang grafiknya begitu ngedrop?
Entahlah…
Sudaah…sudaaah…

Seharusnya tidak begini, Fathel…
Seharusnya tidak begini…

Hayuuk…berbenah lagi, Fathel…
Satu penyadaran terpenting untukmu Fathel, bahwa kau bukan apa-apa, dengan ilmu yang masih sangat sedikit….dengan pemahaman yang juga masih dangkal. Masih banyak yang harus kau pelajari. Masih banyak yang harus kau perbaiki. Masih banyak yang harus kau upgrade maupun kau update. Masih banyak yang harus kau benahi! Masih banyak! Yang ini…masih sangat sedikit. Bahkan lebih jauh dari kata sedikit.

Tentang kesalahan, pengalaman buruk, luka, maupun tindakan uncontrolling itu di masa lalu…adalah sangat manusiawi dan wajar. Bukan permakluman atas kesalahan. Hanya saja, tiada manusia yang sempurna. Adalah suatu keabsurban manusia tanpa kesalahan, kecuali Rasulullaah yang maksum. Untuk kesalahan-kesalahan itu…ia-nya adalah media pembelajaran. Disesali memang harus, tapi bukan berarti larut dalam penyesalan panjang yang tak berkesudahan tanpa ada perbaikan kemudiannya. Saat ini, yang kau bisa lakukan adalah menambalnya.

Bagemanapun, semua akan menjadi masa lalu pada akhirnya. Hari ini, akan menjadi masa lalu di kemudian hari. Jika kau ingin jejak-jejak yang kau tinggalkan adalah jejak-jejak yang baik,maka kau pun seharusnya berupaya untuk melakukan yang terbaik bagi hidupmu, bagi akhiratmu, hari ini.

Dengan sisa kesempatan yang begitu sejenak bersama kesejenakan dunia, maka seharusnya kau pun mengisinya dengan terus dan menerus menabung serta mendulang segala kebaikan. Seharusnya demikian. Karena, amalan itu…terlihat dengan bagaimana ujungnya, tanpa meniadakan sedikitpun prosesnya. Seperti kisah pendosa yang telah membunuh seratus orang itu lalu bertaubat. Bahkan, ia belum sempat mencapai perkampungan orang-orang taubat itu. Hanya saja, pada penghujungnya adalah kebaikan, ia dimenangkan karena langkahnya menuju perkampungan taubat itu lebih sehasta. Seburuk apapun perbuatannya sebelumnya, namun pada penghujungnya adalah kebaikan…maka ia pun berada pada kebaikan, bukan?!

Maka…berharaplah, bahwa penghujungnya itu adalah amalan terbaikmu!
Dan, penghujung itu…bisa jadi kapan saja. Maka, siagalah di setiap detik! Siagalah dengan hal yang akan memutuskanmu dengan kefanaan dunia. Benahilah….benahilah…rombengan-rombengan yang ada di mana-mana itu.

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(Qs. Ali Imran : 148)


“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredaan Allah. Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
(Qs. An-Nisaa : 114)


“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.”
(Qs. An-Nisaa : 149)


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Qs. Fussilat : 34)
Read More

Ketika Kesabaran Berbuah Manis

tentang kesabaran itu..ketika berbuah manis
Cerita ini sesungguhnya telah banyak terjadi di tengah-tengah kita. Pun telah banyak diambil pelajarannya oleh banyak orang pula. Tapi, aku tetap ingin menuliskannya(dengan bahasa jiwaku). Bukan karena tokoh utamanya nyata dan dekat denganku. Hanya karena—sekali lagi—aku ingin ia menjadi pelajaran. Untukku. Untukmu. Untuk kita.

-----------------------

Perempuan itu terduduk dengan lemasnya. Ada godam yang menghentak-henak persendian batinnya sesaat setelah ia mendengar berita bahagia yang memilukan. Berita itu memang berita bahagia. Tapi memilukan baginya.

Ia adalah perempuan cerdas. Ia menjadi bagian dari sedikit orang-orang yang mengecap pendidikan di perguruan tinggi di kala masyarakat kebanyakan kala itu hanya menamatkan sekolah paling tinggi hingga SLTP. Bukan karena ia berasal dari keluarga berada. Bahkan, di masa sekolahnya, ia mengembalakan sapi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menyedihkan untuk mengetahui bahwa makannya dibatasi hanya boleh dua kali sehari karena memang sangat pailitnya kondisi ekonomi. Tapi ia mempunyai kecerdasan yang memberinya tiket gratis menduduki bangku perguruan tinggi. Beasiswa penuh. Kala itu, di era masih tahun tujuh puluhan.

Read More

Kutuliskan Untukmu…

Sahabat

Untukmu sosok yang menempati urutan ukhuwah bagian teratas dalam hatiku,
Ukhtyfillaah…sahabat berbagi cerita…
Bahwa aku terlalu mengerti dengan kesedihan dan kerisauan yang kau rasakan…
Dan tak perlu pula kuceritakan tentang air mata yang menetes bersama kesedihan yang kurasakan jua atas kesedihanmu…

Tapi, ketegaranmu memberiku pelajaran…
Bahwa karena kau seorang yang sangat kuat, maka Dia memberikan ujian…
Sebentar lagi, insya Allah kau akan naik kelas…
Menuju kelas yang lebih berkualitas...

Jika aku boleh menamai, maka kaulah nakhoda tangguh itu…
Yang mampu bertahan dalam terpaan badai bertubi-tubi bersama ganasnya gelombang lautan…
Dan hari ini…kau masih berlayar dengan kokohnya…
Masya Allah…

Aku sangat percaya…
Bahwa insya Allah, ada scenario yang jauh lebih indah tengah menantimu…
Lebih indah…
Karena Dia tak ciptakan kepahitan tanpa sesuatu yang manis di kemudian harinya.
Jika belum hari ini…mungkin esok!
Tapi ia PASTI ada…insya Allah…

Aku kan ada untuk menyangga kesedihanmu, sebagaimana kau jua telah menyanggaku di masa sedihku…
Karena demikianlah hakikatnya sebuah pertemanan…bahwa kita saling menanggung beban…

Uhibbuki fillaah…
Read More

Nope

kebahagiaan
Kebahagiaan kita, tak perlulah digantungkan pada orang lain!
Tak perlu.
Sebab kebaagiaan itu adalah rasa kita dan kita yang rasa.

Semua ini mengajarkanku, bahwa terkadang kita perlu membunuh asa itu. Yah, asa itu. Bukan semua asa. Tapi hanya asa itu saja. Di sini, bukan berputus asa, melainkan memutus asa. Cukuplah dengan apa yang diberi-Nya, tak perlu harap-harap lain pada manusia, yang juga sama dhaifnya.

Huuufftt…
Memang berat.
Tapi aku tidak ingin lagi menyalahkan kesalahan.
Cukuplah ia sebagai pelajaran saja…

Mulai hari ini…membuka kembali lembaran baru…lembaran dengan warna yang lebih cerah…

B.E.R.S.E.M.A.N.G.A.T!!!
H.A.M.A.S.A.H!!!
M.A.A.N.N.A.J.A.H!!
Read More

Kaget

Deuuh, sungguh tak bisa kunamai apa kekagetanku ini.
Hmm…begitu yah?!

Baiklah…baiklah…
Jika memang begitu adanya…

Karena tak selamanya, hidup itu sesuai dengan apa yang kita maui.
Kadang kala, ia-nya adalah sesuatu yang diluar keinginan kita…

Satu yang harus diingat,
Bahwa hal yang terpenting adalah…Allah punya cara yang tak kita prediksi untuk diri kita. Dia-lah dan keputusan-Nya lah keputusan terbaik! Jika Dzat yang Maha Mengetahui tentang diri kita melebihi kita sendiri, Dzat yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri, telah menetapkan sesuatu pada diri kita, PASTI ITU YANG TERBAIK! Meskipun kedaifan, kehinaan dan kerendahan serta keterbatasan diri kita hari ini belum melihat itu sesuatu yang tidak baik atau tidak bersesuaian dengan harapan dan rencana kita. Tapi, esok…nyatalah…bahwa memang demikian yang terbaik.
Maannajah Fathelvi!
Read More

Januari

Januari itu…nama bulan! Hihi…ya iyalah. Siapapun juga tahu.
Tapii…kadang, ada semacam ketakutan yang tak bisa kudefinisikan bagaimananya, setiap kali memasuki Januari. Setidaknya dua tahun belakang.
Aku tidak sedang berspekulasi dengan tanggal maupun bulan hoki. Mana ada hoki-hokian?!
Dan, sejatinya, bukankah setiap pertambahan detik yang kita lalui memiliki arti yang sama dengan pengurangan jatah hidup kita? Setiap hari adalah demikian. Bukan hanya januari saja.
Yaph…memang begitulah adanya, bukan?

Hanya saja, pada salah satu tanggal di bulan Januari, di mana tepat ketika angka-angka tahun yang kulalui itu berada di titik DELAPAN BELAS, aku menorehkan lukisan untuk januari tahun lalu, hingga januari tahun ini. Dan ternyata potret nyatanya… Belumlah bersesuaian dengan lukisan-lukisan itu. Hehe.

Tidak mengapa.
Hanya ada dua penyikapan untuk segala jenis keadaan seorang mu’min seharusnya. Syukur dan sabar. Lalu, menjadi baiklah semua keadaan kemudiannya.

Maka, seharusnya adalah…membekali diri dengan keyakinan bahwa tiada kesulitan yang tak disertai dengan kemudahan. Sepahit apapun itu. Insya Allah, akan ada sesuatu yang manis yang tengah Allah siapkan setelah suatu kepahitan… Allah lebih tahu mana yang terbaik… Jadii, serahkan saja segala urusan pada-Nya. Pun jika hendak menggantungkan harapan…jua cukuplah hanya pada-Nya saja…

Baiklah…
Tersenyumlah untuk januari kali ini. Jika Allah masih meminjamkan kehidupan, maka…yang semestinya dilakukan adalah…melakukan yang terbaik. Mengingat dan senantiasa mengingat bahwa sewaktu-waktu, bahkan beberapa detik lagi, bisa saja ending dari kehidupan ini berakhir. Jika masih menginginkan penutup dari hari-hari itu adalah dengan amalan terbaik, maka…lakukanlah. DARI SEKARANG!
Read More

Tentang Sosok Renta itu…

Pada perjumpaan pertama saja, aku telah dibuat kagum oleh wanita tua renta yang berjualan di pinggiran danau itu. Ia bukan saja telah mempraktekkan teori marketing tentang servis yang memuaskan pelanggan tanpa perlu dulu membuka buku-buku manajemen pemasaran yang superduper tebal itu, tapi sungguh lebih dari itu. Ia menunjukkan seperti apa kedermawanan itu. Bukan hal yang mengherankan jika kios bambunya lebih diminati pembeli ketimbang empat kios lain yang berjejer berdampingan dengannya. Karena ia memiliki nilai lebih.

Ah…
Terenyuh aku dengan senyum ramahnya. Aku tahu, hidupnya sarat dengan kesusahan. Tapi, sesusah apapun itu, ia tetap tersenyum ramah, memberi lebih! Dan ia tak pernah merasa kekurangan dengan lebihnya pemberiannya. Subhanallaah…
Untuk dua kilo bawang saja, ia menambahkan hampir dua ons. Untuk dua ‘jaring’ merkisa, ia menambahkan tiga hingga empat buah lagi, di saat yang lain, untuk menambah satu saja terasa berat. Mengagumkan! Itu belum termasuk senyum ramahnya, pelayanannya yang tulus, dan wajah sumringahnya yang membuatku selalu ingin berhenti di sana setiap kali melewati pinggiran danau itu.

Aah, nenek…
Trima kasih yah…
Trima kasih atas plajaran berhargamu…
Read More

Negeri Batu

Lima puluh Kota. Hmm…pastilah walikotanya adalah walikota hebat. Wong satu kota ajah ada seribu satu macam permasalahan, apalagi kotanya ada lima puluh. Hihi. Tapi tidak demikian adanya. Karena ini adalah nama kabupaten. Seharusnya, Bupati. Hihi.

Menarik sekali negeri ini. Sejak awal menginjakkan kaki, aku sudah jatuh cinta pada kabupaten yang beribukota di Sarilamak ini. Sama porsinya dengan kecintaanku pada kota Bukittinggi. Dua negeri ini, punya pesona yang berbeda tapi sama-sama menarik bagiku.

Dua hari berkeliling terasa menyenangkan. Mengitari negeri yang dipenuhi bukit-bukit bebatuan. Negeri batu. Sungguh menakjubkan. Subhanallaah…
Dalam bukit bebatuan itu, barang kali menyimpan material logam berharga. Barang kali. Karena aku bukan ahli geologi (maupun seorang mahasiswa geologi) tentulah aku tidak punya kapasitas untuk meng-klaim demikian. Hihi. Bagiku, bebukitan itu sudah sungguh menarik, pun tanpa material logam berharga di dalamnya sekalipun—jika memang ada. Entah karena jarang-jarang aku melihat bebukitan demikian di negeri-negeri lain. Bebatuan yang begitu tinggi memagari negeri? Subhanallaah…Maha Agung Allah…

Negeri ini menyimpan “pesona” bisnis yang menarik. Hihi. Jika mau, apa saja bisa diuangkan yah? Apapun itu. Mulai dari produksi telurnya yang luar biasa banyaknya, hingga ke produksi makanan-makanan ringan. Negeri ini juga sepertinya negeri telur. Walau aku tak sempat menyambangi pusatnya di kawasan (hmm…apa yah? Suliki atau apah? Lupa. Hihi), tapi mobil pick up dengan setumpuk besar telur yang lalu lalang sudah cukup menjelaskan. Juga Berbagai jenis kerupuk-kerupukkan. Galamai. Rendang telur. Hmm…hmm…
Ada Lahan pertanian ubi yang membentang. Di mana-mana, sepertinya ada home Industry. Juga makanan “berat” sejenis martabak Kubang dan Sate Dangung-dangung. (aku baru tau kalo Kubang itu ternyata nama salah satu daerah di lima puluh kota. Hihi. Parraaah. Baru tau aye!). Hmm…menarik! Menginspirasi! Pengembangan daerah yang amat sangat potensial. Hmm…kalo jadi Ibu Kota Propinsi Sumbar dipindah ke sini, maka aku menjadi salah satu orang yang mengacungkan tangan, “setujuuuu…”. Hehe.

Banyak “oleh2” yang kemudian bisa kubawa pulang. Banyak inspirasi. Walau aku (dengan kefluktuatifanku) mungkin belum akan menjalankan semuanya, tapi…ini menjadi wacana tersendiri bagiku…
Read More