Tips Sederhana Ketika Ziarah ke Masjid Nabawi bersama Bayi dan Balita

Kota Madinah adalah kota yang sangat dicintai Rasulullah. Di kota inilah beliau dimakamkan. Kota ini selalu saja menawarkan kedamaian, ketenangan dan kerinduan. Semoga muslim dan muslimah yang belum pernah menziarahi Masjid Nabawi diberikan kemudahan untuk datang berziarah. Aamiin yaa Rabb...

Ini bukanlah perkara ibadah. Maklum aku tidak memiliki kafaah ilmu syariah. Ini hanyalah tips sederhana berdasarkan pengalaman untuk para ibu yang membawa anak (baik itu bayi maupun balita) ke masjid Nabawi. Terutama untuk yang ziarah secara mandiri dari KSA atau negara tetangga KSA ataupun umrah backpacker dari berbagai negara di dunia.

1. Memilih lokasi hotel.
Lokasi hotel (jika bepergian bukan dengan travel agent tapi berangkat dengan membooking hotel sendiri) sebaiknya pilihlah yang dekat dengan king Fahd gates (sebelah utara masjid, berlawanan arah dengan arah qiblat). Karena dari pintu inilah akses ke area tempat shalat wanita lebih dekat. Sebaiknya jangan memilih lokasi di sebelah selatan (dekat masjid nabi, di depan arah qiblat) karena akses untuk ke area tempat shalat perempuan akan lebih jauh. Kalau laki-laki saja (tanpa membawa istri dan anak) bagus di area sini karena akses ke area laki-laki lebih dekat.

2. Ketika membawa pushchair/buggy/stroller.
Meskipun di masjid al haram, jangan terlalu naif untuk meninggalkannya tanpa pengamanan dan merasa berada di masjid yang suci, karena pencuri tetap selalu ada. Maka, sebaiknya berhati-hatilah ketika membawa kereta bayi (apalagi yang jual-able hehe). Karena kadang, kita juga diuji dengan kehilangan stroller heuheu... Ingat! Kereta bayi dilarang untuk dibawa ke dalam masjid. Yang diperbolehkan hanyalah kursi roda. Jadi, kereta bayi pasti disuruh tinggal di luar.

3. Perhatikan tanda untuk area yang dibolehkan membawa anak dan area yang tidak dibolehkan membawa anak. Jika membawa anak ke area yang tak dibolehkan membawa anak, beresiko "diusir" ke area yang dibolehkan membawa anak. Kan ga enak ajaa, udah Pewe ehh malah disuru pindah. Belum tentu juga dapat tempat di area yang baru. Heuheu...

4. Jangan memaksakan diri ke Raudah apalagi bersama bayi atau anak. Biasanya pengunjung raudah itu (khususnya perempuan) lebih 'chaos' dan crowded dibanding pengunjung laki-laki karena waktunya terbatas. Sebaiknya mengunjungi raudah di malam hari (jam 11-an malam) untuk perempuan.

5. Sebaiknya hindari arrival time bertepatan dengan waktu shalat atau berdekatan dengan waktu shalat.
Ketika jam shalat, banyak askes jalan yang ditutup. Setelah selesai shalat pun, biasanya jalanan di sekitar masjid nabawi akan mengalami kemacetan. Jadi, sebaiknya perkirakan waktu sampai di madinah pada waktu yang bukan jam shalat.

Semoga bermanfaat

Read More

Final Exit

Hari ini dan in shaa Allah tidak sampai dalam 1 minggu ke depan, aku melepas tetangga (tetangga di sini bukanlah yang rumahnya di sebelah tapi 1 district aka kecamatan masi cocok disebut tetangga hehe) final exit ke indonesia. Iya, adanya dependent fee sangat berhasil "mengusir" para expatriates di sini untuk keluar dari KSA sebagai resident. Kalau umrah maah tetaaaapp yaaa selalu ramai berdatangan hehehe.. dependent fee ga ngaruh sama sekali. Meskipun kepulangan kedua temanku ini bukanlah dependent fee sebagai alasannya, tetap saja arus final exit ini terasa semakin menderas saja... Sementara yang datang sangat sedikit. Ibarat keran yang mengaliri suatu bak mandi, yang masuk sedikit tapi yang keluar deras banget. Heuheu...

Final exit.
Suatu saat akan terjadi juga. Final exit dari KSA atau yang PASTI adalah final exit dari dunia menuju kehidupan yang sesungguhnya; Akhirat.

Saat final exit, semua barang-barang yang selama ini kita gunakan baik itu kebutuhan harian (semisal kulkas, mesin cuci, kompor, dsb) maupun kebutuhan sekunder (akibat lapar mata mungkin yaaa... beli ini dan itu tapi tak terutilisasi dengan baik, astaghfirullaah) pasti akan ditinggalkan. Kalau dulu, menjual barang-barang preloved di sini sangatlah mudah. Begitu diiklankan, yang beli bisa rebutan. Maklum, sepertiga penduduk sini adalah expatriates. Sekarang?! Kadang dijual murah dan bahkan digratiskan sekalipun, peminatnya sedikit. Rumah-rumah pun sewanya pada turun karena rendahnya penawaran dan berkurangnya expatriates secara drastis. Daan, aku sudah lihat sendiri (dan merasakan sendiri) betapa susahnya menjual barang-barang ini di masa-masa ini.

Ya, sama.
Sama seperti final exit dari dunia. Barang-barang duniawi (meski dicintai setengah mati) pasti akan ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah "barang yang kekal". Barang yang ada di rumah orang lain, di panti asuhan, di masjid, di jalan,  yang dibangun atas sadaqah, infaq, hibah dari harta kita. Barang-barang inilah yang kelak yang hanya bisa kita bawa. Tapi, kadang dunia ini silau dan menyilaukan. Sering kali kita (aku terutama) ikut terjerat silaunya... Hingga lupa bahwa semuanya pasti kan ditinggalkan.

Saat beberes seperti ini dan ketika packing-packing (kebetulan kami mau pindah rumah kontrakan), aku menyadari betapa banyaknya 'penimbunan' barang-barang di dalam rumah. Ini dan itu. Dan ada sebagian darinya yang tidak dipergunakan dengan optimal. Dibeli karena tergiur diskonan misalnya. Ahh... apa kabar hisabnya kelak?! Astaghfirullaah... astaghfirullaah... Padahal dulu sudah dikurangi. Tetaap saja ada yang baru. Ya Salaam...

Ah... final exit.
Final exit yang PASTI adalah final exit dari kehidupan dunia. Apa kabar bekal? Apakah dunia ini terlalu cantik dan menyilaukan, hingga lupa bahwa dunia hanyalah sementara saja?! Ibarat menginap di hotel. Dari hotel yang tak berbintang hingga berbintang lima, tetap saja hotel bukanlah rumah. Sementara saja. Tak ada orang yang berniat mempercantik hotel, menambahi furniture ini dan itu, mengecat dindingnya sesuai selera. Sebab semua orang tau, bahwa hotel hanyalah sementara. Penginapan yang sekedar menumpang rehat. Orang pasti akan kembali ke rumahnya. Pada rumahnyalah orang berbenah, memikirkan furniturenya, catnya, desainnya. Begitulah seharusnya hakikatnya dunia. Seperti hotel; Berbintang lima atau tanpa bintang, tak ada orang yang ingin meriasnya, menambahi furniturnya, mengecatnya, mendesainnya. Setiap orang menyadari bahwa hotel hanyalah persinggahan saja. Dan akhirat itu seperti rumah. Akan seperti apa rumah kita, kita sendirilah yang menentukan, merancang, mendesainnya.

Semoga Allah menjadikan kehawatiran terbesar kita hanyalah akhirat, bukan dunia. Kehidupan dunia sudah dalam jaminan-Nya. Sementara, akhirat kita? Siapakah yang menjamin kita akan mencapai surga-Nya?!

Ah diriku... Berbenahlah...
Ingatlah... ingatlah.... segala sesuatu ada hisabnya. Janganlah engkau tergiur dengan moleknya dunia, wahai diriku... Sebab final exit dari dunia itu adalah SUATU KEPASTIAN dan TERAMAT DEKAT!!!!!

*ntms
*muhasabah diri

Read More

Cerita Lebaran 1439 H

Setiap lebaran selalu punya cerita berbeda. Tahun lalu, deg deg an gerbang KBRI mau ditutup dan hampir kehilangan kesempatan shalat ied setelah menempuh perjalanan Nahda-DQ menjadi cerita yang tak terlupakan. Oleh sebab kami tak menemukan gate nya Diplomatic Quarter  yang satu laginya dan sukses bikin "tawaf" sekeliling King Khaleed Road... ekekekeke...

Tahun ini kami ikut shalat Ied masih di KBRI. Kenapa KBRI? Hehe... sebenarnya banyaak tempat shalat ied di negeri sejuta masjid ini. Boleh pilih di mana ajaa. Dan yang paling precious untuk orang yang berdomisili di Saudi adalah bisa merasakan shalat ied di Masjid Al Haram atau Masjid Nabawi (meskipun kami memang sulit untuk mewujudkan hal ini karena no vacation in ied holiday khusus untuk kerjaan suami... Tapi, alhamdulillaah 'ala kulli haal). Jadi, kenapa di KBRI? Karena ada sarapan dan bazaar makanan indonesia 😂😂😂. Dan lebih ramah anak... Anak-anak bisa lelarian dan bisa ketemu masyarakat Indonesia di sini lah.

Setiap ada teman yang bertanya, "mudik ga lebaran?" Jawabannya hampir selalu TIDAK. Lima kali merasakan Ramadan di Riyadh, hanya 1x aku mudik dan itu pun ketika masih ada Aafiya (Aasiya belum lahir). Dan aku harus pulang ke Indonesia berdua doang sama Aafiya tentunya karena seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, lebaran adalah peak season kerjaan suami.

Ramadan dan idul fitri kali ini adalah yang paling great dari semua shift2an yang pernah Abu Aafiya alami di awal dan akhir Ramadan dan idul fitri. Dulu-dulu, selalu saja ada yang missing, ga bareng-bareng (maksudnya; aku di rumah dan suami di kantor). Kalo ga sahur pertama atau sahur terakhir, ya buka pertama atau buka terakhir ramadan yang ga barengan dan duduk bersama. Heuheu... Ramadan kali ini dapat shift yang lumayan bagus. Ga ada yang missing. Kita sahur dan buka pertama dan terakhir ramadan full bersama-sama dan dapat melaksanakan shalat ied. Kalo semisal suami dapat shift malam hingga pagi (jam 12 malam sampai jam 8 pagi), bisa dipastikan aku mungkin akan melewatkan momen shalat ied (karena di sini shalat ied dilaksanakan sekitar jam 5.10 - 5.30 an, jadiii kalo dapat shift sampai jam 8 yaaa bakalan kelewat...). Di ramadan ini, hari terakhir puasa suami dapat shift pagi dan pas hari ied dapat shift malam. Jadinya bisa menghadiri sahalat ied, alhamdulillaah...

Alhamdulillaah anak-anak kooperatif banget mau dibangunin pagi-pagi. Jam 4.30 dah mulai dress up. Emaknya yang kudu bangun jam 2.30 buat siap-siap hihi. Tapi karena biasanya bangun untuk sahur juga sekitar jam segitu, jadi ga terasa begitu berat sih alhamdulillah. Kita berangkat dari rumah sekitar 4.50 pagi biar ga telat dan mendapati gerbang KBRI udah ditutup hehe (jarak tempuh dari rumah ke KBRI sekitar 34 km). Ya, di sini karena malam sedikit lebih singkat (sekitar 9 jam), maka anak-anak umumnya nyaris tidak tidur di malam hari sampai sahur. Baru tidur habis sahur. Begitulah budayanya kalo di sini. Aafiya dan Aasiya juga sering tidurnya agak telat ketika ramadan ini. Kebawa suasana juga kayaknya.

Oh iyaa, selain itu di sini ga ada i'tiqaf kayak di Indonesia yang full di masjid. Jadi, di 10 malam terakhir ramadan itu, shalat tarawih dilaksanakan 4 rakaat. Terus nanti dilanjutkan 4 rakaat lagi plus witir di jam 1-an sampai jam setengah 3 malam. Siang pun di masjid juga i'tiqafnya paling 1-2 jam setelah jam shalat. Ga full stay di masjid gituh. Hehe...

Idul fitri kali ini, kami sempat menyaksikan juga firework yang memang dikhususkan buat hari raya saja. Jika pesta kembang api di indonesia adalah malam pergantian tahun, di sini pesta kembang api justru pas lebaran. Walau ga ada malam takbiran. Hehe... Aku excited selaluu kalo liat kembang api besuaaaaarrr yang bunyinya udah kayak ledakan. Heuheu.. *katro banget deh akuuh. Makluuum pas di indo ga pernah menyaksikan kembang api besar begituuu karena emang ga berniat ikut-ikutan acara tahun baruan. Hihi... Di lebaran sebelumnya hampir tidak pernah karena biasanya (lagi-lagi) suami masuk kerja.

Dulu pas awal-awal di sini, lebaran pertama di sini aku sempat ngeri-ngeri sedap mendengar koq kayak bunyi letusan aka ledakan sesuatu. "Apakah terjadi sesuatuuu?" Pikirku waktu itu. Mana suami lagi masuk kerja dan aku sendirian di rumah. Ehh baru belakangan aku tau kalo itu "ied fireworks" ekekekeke... Excited begitu punya kesempatan untuk menyaksikannya.

Daaan yang paling special di lebaran 1439 H adalah libur hari rayanya. Biasanya, nyaris ga ada libur hari raya utk kerjaan Abu Aafiya. Kalau pun ada, paling ya cuma 2 hari dan bahkan pernah ga dapat liburan malah. Liburan kali ini lebih panjang (6 hari). Dan untuk pertama kalinya dalam 5 tahun ini kami berkesampatan untuk vacation ke dua kota terbaik di dunia di eid holiday. Alhamdulillah bini'mah... It's really priceless..

__________

Note:

*ini postingan udah ditulis setengah trus terpotong kesibukan-kesibukan ala emak-emak. Eehh pas ngelanjutin postingannya, udah lupa apa yang mau ditulis ekekeke... harap maklum kalo garing banget wkwkwkwkw...

Read More

Living in Riyadh [part 22]: Mushalla lin Nisaa'

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwasannya di negeri yang aku tinggali saat ini, adalah negeri dengan sejuta masjid. Di mana-mana akan sangat mudah menjumpai masjid. Di dekat tempat tinggal kami, radius 300 meter saja ada 3 masjid berdiri megah. Bisa dibilang, masjid iti di setiap gang ada. Heuheu...

Berbeda dengan di Indonesia yang dikenal dengan istilah masjid dan mushalla, di sini juga ada 2 istilah: masjid atau masjid jami'. Masjid secara ukuran lebih kecil (meskipun sebenarnya juga cukup besaaar) dan jami' adalah sebutan untuk masjid yang secara ukuran jauh lebih besar dan digunakan untuk shalat jum'at. Karena, tidak semua masjid digunakan untuk shalat jum'at. Hanya masjid jami' saja yang digunakan untuk jum'atan.
Berbeda dengan di Indonesia, tempat shalat untuk perempuan (yang biasanya berada di belakang shaf laki-laki kalau di Indonesia) di sini dikenal dengan "mushalla lin Nisaa'"  terpisah dengan tempat shalat laki-laki. Kalo di Indo, dari shaf perempuan masi bisa lirik-lirik ke shaf laki-laki, jangan harap itu akan berlaku di sini. Mushalla lin Nisaa atau tempat shalat perempuan dibatasi tembok permanen (atau kadang di lantai atas dengan pintu khusus perempuan dan bisa dimasuki laki-laki) dan takkan ada kesempatan sedikitpun untuk mengintip shaf laki-laki. Hehe... Benar-benar tertutup permanen. Tidak satu ruangan dengan masjid laki-laki. Mushalla lin nisaa adalah ruangan yang khusus tersendiri.

Apakah semua masjid mempunyai tempat shalat perempuan? Jawabannya TIDAK. Tidak semua masjid menyediakan mushalla lin nisaa. Jadii, perempuan ga bisa shalat di sembarangan masjid. Selain itu, mushalla lin nisaa selalu relatif sepiiii (padahal jamaah laki-lakinya rameee banget karena di sini shalat jamaah ke masjid bagi laki-laki itu wajib). Kadang juga mushalla lin nisaa tidak dibuka meskipun di jam shalat. Beberapa kali mampir di mushalla lin nisaa ketika kami lagi kebetulan pas jam shalat sedang berada di luar rumah, malah cuma aku satu-satunya jamaah perempuan. Hehe... Paling banyak yaa 5-6 orang lah. Oleh sebab di sini perempuan tidak dianjurkan shalat di masjid. Lebih baik shalat di rumah.

Uniknya (entah anehnya kalii yaa kekekeke) mushalla lin nisaa di mall-mall jauh lebih aksesibel dari pada mushalla lin nisaa di masjid. Di mall, mushalla lin nisaa itu selalu rameeee banget. Cobaa pertanda apa ituu? Ehehehe...
Tapi, masjid di mall itu kalo di sini jangan bayangkan lokasinya di basement yang beraroma pengap dan karpetnya bau. Apalagi mukenanya yang seolah 1 tahun ga dicuci. Ekekeke... Ga ada mukena juga di sini koq.
Majid di mall di sini (di manapun mall nya) pastilah posisinya di dalam mall (bukan di basement!!!!), ukurannya luas (bahkan ada mushalla mall yang aku kunjungi yang khusus tempat perempuannya yang lebih luas dari masjid di kampungku), karpetnya wangi dan terawat (ada cleaning service yang membersihkan selalu). Pokoknya nyaman deeh kalo mau shalat bukan bau pengap yang bikin kita cepat-cepat ingin beranjak pergi. Hehe...

Anak-anak (aafiya dan aasiya) kalo diajak ke mushalla lin nisaa pasti seneng banget. Hampir selalu mereka excited kalo udah di mushalla lin nisaa.

Ya begitulah sekelumit kisah mushalla lin nisaa di sini. Cuma berbagi cerita aja sih yaa... Hehe...

Berikut beberapa foto mushalla lin nisaa di berbagai masjid yang sempat aku singgahi.





Cuma sedikit dari beberapa masjid yang sempat kefoto. Yang lain nanti deh kapan-kapan in shaa Allah. Keliatan kaaan kalo mushalla lin nisaa itu sepi banget banget. Padahal ini jam shalat lho aku foto. Di luar jam shalat masjid dikunci rapat.
Read More

Ya, Ini Hanya Dunia!

Dulu, duluu sekali aku pernah mendengar komentar (di tengah kemacetan karena jalan di tutup oleh sebab rombongan pak bupati mau konvoi) ketika mobil dinas bupati lewat di depan kami,
"Wuiiihhh camry lagi lewaaaaat..."
Ya. Mobil dinas bupati di kabupaten kami adalah camry. Itu satu-satunya camry yang pernah aku lihat di kampung. Hehe...
Kala itu, aku--dengan keminiman pengetahuan tentang dunia per-otomotif-an--beranggapan betapa camry adalah mobil yang sangat mewah. Buktinya, selevel bupatilah yang mengendarainya.

Akhirnya, takdir Allah mengantarkanku ke sini. Ke negeri jazirah arab. Negeri yang dilimpahkan Allah kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi meski sejauh-jauh mata memandang hanya gersang gurunlah yang membentang. Negeri ini memang tak hijau. Tapi kaya sumber daya alam. Ma shaa Allah.

Di sini, aku baru mulai mengenal beberapa jenis mobil yang berseliweran. Dan, ternyata camry yang tadinya aku kenal sebagai mobil mewah level bupati, di sini tak lain hanyalah mobil biasa-biasa saja. Bukanlah mobil yang mewah sama sekali. Banyak camry bertebaran di jalan. Bahkan taxi online  (maupun taxi regular) pun dengan merek camry sudah teramat biasa. Di sini pula aku mengenal mobil sekelas lexus (yang belakangan aku ketahui sebagai versi mewahnya brand toyota) yang sama sekali tak pernah aku lihat di kampung halamanku tentunya. Di sini aku pertama kali liat mobil keluaran amrikiyah seperti ford, general motor (GMC) atau chevrolet. Ini nyaris ga pernah aku temukan di kampung halamanku. Di jakarta mungkin ada tapi akunya aja kali yaa yang ga notice. Hehehe... Di sini, mobil yang dikenal mewah dulunya terlihat sangat biasa saja. 😃😀

Dulu, lihat kelas toyota fortuner aja koq rasanya mewah banget tu mobil. Di sini toyota landcruiser saja bukan sesuatu yang sangat istimewa. Yaa... meski juga bukan berarti kami memilikinya ekekekekeke... 😂

Ini hanya menyoal seberapa terbiasa kita melihatnya. Sesuatu yang sangat jarang ada terlihat sangat istimewa. Akan tetapi jika sesuatu yang begitu istimewa itu terlalu common untuk dilihat, ia nya kemudian menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Pelajaran berharga buat aku: Ya, inilah dunia! Seberapa sih kemewahannya akan dikejar? Pasti takkan pernah puas. Pasti ingin menuntut lebih dan lebih lagi. Sesuatu yang awalnya terlihat mewah, ketika berhasil menggapainya, makanya sedianya ia menjadi biasa-biasa saja. Selalu ada nafsu ingin lebih dan lebih lagi!

Ya, ini hanya dunia. Permainan. Senda gurau. Tak pernah abadi. Nun jauh di sana, ada kehidupan yang sesungguhnya. Kemewahan yang tak akan ada diksi yang dapat mendeskripsikannya atau kesengsaraan yang tak ada kata dapat mewakilinya. Ingin ke manakah kita? Apa tujuan kita? Hanya mengejar dunia yang fatamorgana, sementara dan pasti akan ditinggalkan? Ataukah mengejar kehidupan yang sesungguhnya, abadi dan akhir dari perjalanan yang sebenarnya?

Hanya sebentar di dunia ini. Fatamorgana yang menyilaukan. Tapi, sebentar inilah yang sangat menentukan: akan ke mana nasib kita kelak. Ahh... mumpung masih di dunia. Yuk, lakukan yang terbaik. Agar kisah kita berakhir happy ending, di kehidupan yang sesungguhnya kelak.
Nasihat untuk diri sendiri terutama... 😊

Read More

Ramadan Mubarak 1439 H

Postingannya telat! Hehe...
Tapiii telat lebih baik dari tidak sama sekali kan yaaa...

Ramadan mubarak buat kita semua.
Telah datang bulan yang dirindukan segenap umat muslim di dunia. Semoga Ramadan ini tak berlalu dengan sia-sia dan semoga madrasah Ramadan ini menempa diri kita menuju pribadi taqwa.
Ramadan Mubarak from imore family

Sedikit nuansa Ramadan ala imore di negeri rantau. Menghiasi rumah dengan sambutan ramadan ala imore familiy. Hehehe... Sebenarnya ini dikerjain (ditengah kesibukan beberes menyambut ramadan) 2 hari sebelum ramadan... Biar anak-anak juga merasakan kalo ramadan itu beda dari bulan lainnya. Bahwasannya ramadan itu sesuatu yang teramat istimewa. Bahkan kita tak pernah merayakan dan mengistimewakan momen milad sama sekali. Kita hanya ingin membuat mereka merasakan bahwa yang istimewa itu bukan momen milad tapi momen ramadan dan dua hari raya sahaja... yang lebih patut untuk dirayakan dengan segenap suka cita...
Ngerjain dan nempelin bareng nak dis shalihah 😄😍

Ramadan kali ini masi di musim panas tapi alhamdulillah masi awalan musim panas. Dulu sudah pernah merasakan ramadan di puncak musim panas yang lama puasanya sekitar hampir 16 jam dengan suhu 45-46 derjat. Ramadan kali ini suhunya masi 41 derjat celcius dengan durasi sekitar 15 jam. Perbedaan waktu awal ramadan hingga akhir ramadan berkisar 21 menit. Makin hari makin panjang durasinya dan makin tinggi suhunya. Ma shaa Allah...

At last, happy ramadan mubaraaak... 🌷
Read More

Martabak Manis

Martabak manis homemade first trial... 😍

Martabak manis, siapa sih yang ga kenal? Hehe... Kalo sudah dekat-dekat penjual martabak, aromanya bisa bikin ngiler. Apalagi kalo lagi laper dan lagi ngidam martabak. Lengkap sudah deehh keinginan untuk menikmati martabak. Actually, abu Aafiya lah yang penyuka martabak manis.
Aku sendiri sebenarnya bukan martabak lover meski bukan berarti ga suka. Sesekali, martabak memang sangat menggiurkan tapi bukan sesuatu yang bener-bener dikangenin. Aku lebih  suka martabak telur aka martabak kubang aka martabak mesir. Etapiii... kadang selera suka aneh yaa kalo lagi ngidam. Hahaha...

Di sini jelas ga ada yang jual martabak manis. Kalo mutabaq adaa sih... Sejenis martabak telor kalo di kita tapi bedaa dari segi bebumbuan. Mungkin disebut martabak mesir karena dari timur tengah sinilah si mutabaq itu berasal. Bumbunya lebih berasa rempahnya. Dan rempahnya middle east cuisine ini koq aku ngerasa kental banget cardamom dan cumin nya. Secaraaa dua bumbu tersebut ga familiar banget di lidahku...
 
Karena Abu Aafiya penyuka martabak manis, rasanya sangat istimewa ketika suatu hari ada temen yang open PO martabak manis. Aku pesen doooongs.. Hehe... Tapiii, sayangnyaaa... pas aku yang lagi kepengen banget martabak manis, hiks... koq yaa ga ada yg open PO martabak. Mau ga mau opsinya bikin sendiri... dengan peralatan tempur seadanya...

Dari duluuu banget sebenarnya aku pengen bikinin martabak buat suami, tapi karena aku pikir butuh pan khusus martabak yang beratnya aja 1 pc 8 kilogram dan yang pasti, ga dijual di riyadh, aku ga pernah berpikiran bikin martabak manis versi homemade. Tapi aku ga pernah kepikiran mencoba martabak ala teflon doang sih yaa sebelumnyaa.. Oleh sebab aku yang ngidam martabak manis akhirnya bikin versi teflon nya. Daaaaaan... ma shaa Allah... ternyataaa bikin martabak itu mudaaaaah alhamdulillaah. Rasanyaa (meski masi jauh dari abang-abang martabak di persimpangan jalan sono) ternyata sangat acceptable dan matabak-able bangeet.. Alhamdulillaah... ma shaa Allah tabarakallah...

Sekarang, kalo seneng banget kalo lagi pengen tinggal bikin. Resepnya sampai hapal di dalam kepalaaa dan ga perlu nyontek lagi... Hihi.. 1 martabak 30 menit juga kelar.. ma shaa Allah... Aku coba-coba bikin versi pandan. Next challange mau coba martabak yang versi red velvet ama green tea in shaa Allah...

Pelajaran berharga: selama kita menganggap sesuatu itu sulit dan tak pernah mau mencoba, selama itu pula kita akan 'terkungkung' dan terbelenggu dengan pemikiran tersebut dan takkan pernah ada improvememt. Selamanyaa kita akan berpikir  itu SULIT padahal belum pernah mencoba. Jadii, berpikir positiflah sebelum melakukan sesuatu.
Read More

Tunas dan Harapan

Tunas. Photo by emak Aafiya Aasiya

Terkadang harapan itu berbahaya.
Ketika tunas harapan mulai bertumbuh tapi kemudian seletika harus layu ketika ia tak menjumpai nyata.
Sesaknya lebih berasa jika tak pernah ada harapan yang mendahului. Sebab harapan selalu saja menginginkan wujud nyata.

Melabuhkan harap pada manusia, berarti harus siap menerima risikonya. Sebab apalah yang dipunya manusia? Sama daifnya dengan diri kita. Ya, manusia bukanlah tempat menyandarkan harapan. 
Maka, hanyalah satu tempat di mana harapan takkan pernah mengecewakan. Berharap hanya pada-Nya. Ya, hanya pada-Nya saja, tempat di mana harapan akan selalu terjawab indah: menjumpai nyata atau diganti-Nya dengan yang lebih baik. Takkan pernah mengecewakan. Selalu ada jawaban.



Short contemplation, 25.04.2018
Read More

Ketika Badai Pasir Menerpa

Judulnya koq kayak gimanaa gitu yaaah kesannya... Kayak badai kehidupan ajah.. hehehe... Tapi ini bukan cerita tentang badai kehidupan tentunya. Ini cerita tentang badai pasir yang sebenarnya. Bukan badai secara makna konotatif.

Badai pasir di sini adalah hal yang sangat lumrah terjadi ketika pergantian musim. Dari musim panas ke musim dingin dan sebaliknya. Badai pasir serinh terjadi antara bulan oktober november untuk peralihan musim panas ke musim dingin dan bulan maret april untuk peralihan musim dingin ke musim panas.

Seperti yang kita ketahui bahwa negeri ini sebagian besarnya dalah hamparan gurun. Gurun bermacam-macam juga ternyata. Mulai dari yang bebatuan hingga pasir sangat halus.
Ini gurun pasir yang sangat sangat haluuusss... ma shaa Allah.. pasir di gurun inilah yang "beterbangan" ketika badai pasir melanda. Di pinggir jalan pasti selalu ada tanda peringatan "sandstorm area".
Naah, ketika badai pasir menerpa, pasir yang sangat halus ini beserta debu akan memenuhi udara. Gimana rasanya berada dalam kepungan debu dan pasir halus? Bayangkan saja kalo kita lagi berdiri di depan orang yang sedang menyapu debu setebal 1 cm di suatu rumah yang ga dihuni 10 tahun (hehe perumpamaannya lebay tapi memang begitulah kenyataannya). Hidung serasa dicekoki oleh debuu berjam-jam... Butuh air purifier kalo ingin bernafas dengan normal.

Badai debu terparah yang pernah aku alami di sini adalah pada tahun 2015 di mana debunya berhasil membuat pemandangan siang jadi terlihat gelaappp. Daan, jarak pandang hanyalah sekitar 1-2 meter saja. Tapii, badai debu terpanjang masanya yang pernah aku alami selama di sini adalah peralihan musim dingin ke musim panas tahun ini. Badai debu dan pasirnya berlangsung sangat lamaa... huhu. Biasanya 2-3 hari langit kembali cerah. Ini sudah lebih dari 3 minggu cerahnya cuma beberapa hari saja (sekitar 4 hari an) sisanya langit seperti gelap karena tertutup debu.

Begini kondisi udara kalau badai debu (poto tanpa editan). Diambil dari jendela sesaat sebelum ditutup. Ini foto rumah tetangga kami dan istiraha sebelah rumah.
Nah kemarin itu kami ada acara rihlah ke taman. Walaupun tidak terlalu cerah, awalnya tak terlihat akan ada badai debu. Tapi ketika menjelang maghrib, ternyata ada badai debu disertai hujan gerimis. Gerimisnya bukanlah hujan yang jernih melainkan seperti hujan pasir/lumpur. Jadi debu dan pasir halusnya turun bersama gerimisnya.
Ini stroller anal-anak bekas debu yang disertai gerimis. Belum sempat dibersihkan hehe...

Abaya, tas, stroller dan semua barang bawaan langsung berubah menjadi bintik-bintik kecoklatan. Yaa, namanya juga hujan debu yaa.. Hihi. Apalagi jarak tempat kita duduk agak nauh dengan posisi parkiran. Jadii, lumayan juga paparan debunya. Sejujurnya, ini kali pertama aku merasakan badai debu dengan posisi berada di luar rumah. Biasanya kalau badai debu, pasti ga ada yang mau keluar rumah. Dan sekolah-sekolah biasanya juga diliburkan kalo sudah badai debu begini.

Semogaa, badai debu ini cepat berlalu... Aamiin

Read More