Showing posts with label ekspressi. Show all posts
Showing posts with label ekspressi. Show all posts
Kutemukan Jawabnya
Alhamdulillaah…
Wa syukurillaah..
Terima kasih ya Allah..,
Atas jawaban kegelisahan jiwa ini…
Atas fluktuatifnya gelombang-gelombang yang menerjang..
Alhamdulillaah...
Terima kasih ya Allah, atas jawaban kemelut ini...
ketika aku terperosok pada titik nadhir,
pada lembah grafik cosinus ini...
Ya Allah, terima kasih...
Terima kasih ya Rabb...
"Al Qur'an is my Best Friend,Sungguh, aku tak hendak berhijrah darinya,
Teman setia di kala suka maupun duka"
Tak Hendak!
Betapa aku ingin berada pada "stady state" itu...
Jikalah tujuannya hanya satu, dan hanya satu...,
Maka, tak ada lagi tujuan-tujuan lain...,
Hanya...Ridho-Nya,
Ridho-Nya saja...
Adakah yang lebih besar dari itu?
Ba'da Workshop "Al Qur'an is My Best Friend, Teman Setia di kala suka maupun duka", 2 Januari 2009
Subhanallaaah....Luar Biasaa.....
Sungguh, aku cemburu pada mereka, sangat cemburu...
Apakah aku bisa Seperti mereka?puisi
Tak Bernama (1)[1]
Kubertanya pada asa,
masih adakah cercah harap yang tersisa
Kubertanya pada kisi,
masihkah ada berkas pelita dalam gulita
Ada maya,
ada penumbra
Aku di antara keduanya
Pada sesuatu yang tak bernama
Tak Bernama (2)
Andai bisa menguap, ingin aku membersamai asap
Jika mampu menyublim, sungguh pintaku bersama embun
Ah, kalau saja aku bisa menghilang,
kumau dunia tak lagi memelukku
Biarkan aku menjadi maya,
biarkan aku menjadi penumbra,
biarkan aku berlalu dengan sejumput remah puing hati
Keping mozaik itu takkan terbangun,
takkan pernah!
Sebab aku, pada sesuatu yang tak bernama
Wisma Syakuro, Muharram 1430 H
[1] My First Poem setelah 6 tahun lalu
Kubertanya pada asa,
masih adakah cercah harap yang tersisa
Kubertanya pada kisi,
masihkah ada berkas pelita dalam gulita
Ada maya,
ada penumbra
Aku di antara keduanya
Pada sesuatu yang tak bernama
Tak Bernama (2)
Andai bisa menguap, ingin aku membersamai asap
Jika mampu menyublim, sungguh pintaku bersama embun
Ah, kalau saja aku bisa menghilang,
kumau dunia tak lagi memelukku
Biarkan aku menjadi maya,
biarkan aku menjadi penumbra,
biarkan aku berlalu dengan sejumput remah puing hati
Keping mozaik itu takkan terbangun,
takkan pernah!
Sebab aku, pada sesuatu yang tak bernama
Wisma Syakuro, Muharram 1430 H
[1] My First Poem setelah 6 tahun lalu
Subscribe to:
Posts (Atom)

