Pesan Segera : Hurriyah Donuts!!!


Kabar Gembira untuk kamu semua!!!


Telah hadir "HURRIYAH DONUTS" dengan tiga rasa : Coklut, Strowberry dan Keju.
Lezat dan Murah!
cukup dengan Rp.800,-/pcs


Menerima pemesanan untuk acara dauroh, seminar dan momen-momen lainnya.


Untuk pemesanan : hubungi Lilis (085274747645)
Read More

Penyakit Kronis Negeri Ini


Ijinkanlah saya sedikit melakukan “diagnose”, teman. Mengenai penyakit kronis menahun yang melanda negeri kita yang melanda kaum muslimin dan muslimat sekalian. Jika ummat ini adalah umpama tubuh, maka sungguh tubuh itu kini telah terbaring lemah. Immunitasnya memang benar-benar sangat parah dan bermasalah. Barangkali seperti HIV yah? HIV berarti penurunan imunitas tubuh yang berakibat tubuh begitu mudah diserang oleh berbagai penyakit infeksi lainnya. Dan pada akhirnya, orang-orang dengan dengan HIV tidak meninggal karena HIV-nya melainkan infeksi lain akibat imunitasnya yang begitu drop. Maka barang kali, negeri ini pun begitu. Kalo boleh aku namakan, negeri ini telah terkena penyakit NIV (nation immune defisiensi virus). Lihatlah di berbagai titik, kita telah terinfeksi oleh begituuuuu banyak persoalan.

Mari kita sama-sama diagnose sama-sama di manakah sumber infeksi, yang membuat negeri ini tumbang. Secara politik jelaslah kita terjajah. Terpecah belah oleh begitu banyaknya partai. Suhu politik yang begitu fluktuatif. Kawan atau lawan, semuanya seperti membalik telapak tangan saja. Demi kepentingan-kepentingan orang-orang tertentu kebenaran rela digadaikan. Infeksi lainnya,di bidang ekonomi. Sungguh, kita hanya bisa tergeletak tak berdaya. Riba di mana-mana. Perusahaan asing yang mencengkram sekaligus meng-eksploitasi seluruh potensi alam. Dalam bidang pemikiran, kita juga telah diinfeksi oleh berbagai macam ideology yang merancukan aqidah serta pola pikir para remaja islam. Ghozwul fikry yang begitu gencar tiada henti! Infeksi juga datang dari arah social dengan adanya dekadensi moral, hedonism, gaya kebarat-baratan yang katanya begitu modern. Belum lagi di bidang hankam, di mana issue terorisme yang semakin dan semakin memojokkan islam. Mereka menuding, islamlah para pelakunya. Mereka berusaha membentuk opini public melalui media-media mereka agar tuduhan itu tertuju pada islam. Di bidang pendidikan apalagi! Di sini, infeksinya semakin parah. Kurikulum yang berkiblat pada barat yang memutar balikkan fakta. Dan kemudian dunia informasi begitu gencar tiada habis-habisnya membuat issue, mengalihkan issue, membentuk opini public yang kadang bertentangan dengan fakta. Dengan begitu banyaknya penyakit yang mendera negeri ini, sungguh ia menjadi lemah tak berdaya. Diperlakukan seperti apapun, maka tak ada kuasa untuk melawannya. Tiada. Karena sudah begitu lemahnya.

Saudaraku…
Sungguh, sudah begitu lemah dan sudah begitu jauh kita terkecoh. Maka, tiada lagi yang bisa kita lakukan melainkan BANGKIT dari keterpurukkan ini. Dengan menyisipkan antibiotic di setiap penyakit-penyakitnya itu. Harus ada antibiotic yang spesifik terhadap masing-masing infeksi. Antibiotic social untuk infeksi social. Antibiotic politik untuk infeksi politik. Antibiotic pendidikan untuk masalah pendidikan. Antibiotika ekonomi untuk permasalahan ekonomi. Juga harus ada antibiotic spectrum luas yang universal. Yaitu, ISLAM!!!! Islam menawarkan segala solusi untuk permasalahan ini. Dan Islam itulah sebenarnya yang menjadi syifa’, obat yang luar biasa bagi segala penyakit umat.

Maka, hanya orang-orang yang yang terseleksi dan orang-orang yang Dia pilihlah yang akan memikul beban-beban da’wah ini, untuk mengusung sebuah peradaban Islam! Sebuah khilafah yang dipimpin oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa pada-Nya. Meski, jalannya begitu panjang, pangkalnya jauh dan ujungnya belum tiba, namun, ia akan tetap selalu ada. Akan tetap ada. Hingga…
Pada suatu hari nanti, entah kita masih diberikan-Nya kesempatan ataupun tidak untuk menyaksikannya, maka akan ada senyum kebahagiaan dan ghiroh-ghiroh yang membuncah : bahwa pada masa itu ISLAM-lah yang Berjaya! Silamlah yang Berjaya!
Allahuakbar!!!

Insya Allah, ISLAM PASTI akan menang!
Pasti akan MENANG!
Janji Allah itu adalah benar!

“Dan Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (Qs. Annisaa’ : 141)

Hanya ada dua pilihan; menjadi bagian dari batu bata pembangun peradaban itu atau menjadi selain dari padanya!

Dan, semoga Allah masih tetapkan kita berada di jalan ini. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang istiqomah…

Allahumma aaamiiin…
Read More

Sebuah Dimensi yang Berbeda di FLP


Hmm…First FLP’ers discuss, episode perburuan taman budaya. Hee…
Sudah sangat lama tak bisa ikutan diskusi FLP dan sungguh betapa euphorianya aku ketika bisa kembali ikutan di FLP’ers. Waah akhirnya kusadari jugah, betapa berkumpul dengan FLP’ers sekalian menularkan semangat bagiku. Kurasakan banget deeh, penurunan kualitas tulisanku (apalagi EYD-nya) sejak gak bisa ikutan karena PKP selama 4 bulan belakangan. Waaah, tengsin jugah waktu dikomentarin, “Karya Fathel mengalami penurunan kualitas. EYD-nya berantakkan.” Huhu. Tak apee, jadi pelecut semangat kite orang!

Masya Allah…
Bahagia pernah mengenal dan menjadi bagian FLP, sebuah organisasi kumpulan orang2 “aneh”, unik dan luar biasa. Mereka, yang menularkan semangat luar biasa. Membuatku begitu cemburu dengan karya2 luar biasa mereka yang telah terbit di berbagai media. Dengan launching2 buku proyek FLP. Barokallaah buat semua FLP’ers SUmbar dan Padang yang karyanya bakal dilaunchingkan. Insya Allah, aku pun pengin nyusul. Tunggu sajaaaa >,<.
Maafkan aku belum bisa berbuat banyak untuk FLP. Maafkan aku yang seperti meninggalkan saja beberapa bulan terakhir. Tapi, insya Allah ke depan mari kita berangkat bersama, wahai para pejuang pena! Aku pun ingin menjadikan pena sebagai “mata pedangku”. Aku masih ingin tetap menjadi bagian darimu semua. Karena aku sangat cinta dengan FLP. Sangat!

Aku teringat dengan sebuah pameo yang cukup terkenal di kalangan FLP’ers Sumbar, “FLP ini hanya butuh orang-orang yang focus dan istiqomah!!”. Aku jadi malu dengan diri sendiri karena ini sangat menyentilku. Baiklah, mari, kita berjuang bersama!!

FLP’ers…
Bukan hanya semangat menulis yang kudapatkan, tapi, juga tentang arti sebuah perjuangan. Mereka, kisah hidup mereka, mengajariku akan arti sebuah perjuangan. Tentang hidup yang tentu saja tak selalu manis. Sungguh, selalu saja ada air mata yang ingin kuseka setiap kali mendengarkan perjuanganmu wahai saudari-saudariku. Dan, SELALU SAJA KUTEMUKAN DIMENSI YANG BERBEDA!!! Dimensi yang mengantarkanku kadang pada “dunia asing” yang aku tak pernah berpikir sejauh itu.

Menghabiskan senja dengan pantai, untuk saling berbagi.
Ini juga yang kusuka. Pantai!
Menorehkan seukir cerita, untuk kemudian kubawa pulang dengan gelegak rasa tak bernama. Ada hikmah. Ada inspirasi. Juga ada kesyukuran yang menyertai.
Meski, menyelamimu wahai saudariku, tak semudah yang kubayangkan. Saudari2 di FLP adalah pribadi2 yang benar2 sangaaaaat unik, spesifik dan…sulit diterka. Kadang, “aneh” dan agak sedikit “senewen” (hehehe, peace!). Begitu banyak2 hal2 yang tak lagi terjamah logika, yang dilakukan. Bahkan berjalan kaki Limau Manih-Taman Budaya (20 km) dan pp-nya berarti 40 km demi sebuah diskusi FLP! Ck..ck..ck…, aku hanya bias geleng2kepala. Kagum bercampur heran. Tapi, begitulah kekuatan cinta barang kali yah? Dan sungguh…sekali lagi, menyelamimu semua memang tak mudah!

Terima kasih untuk 3 tahun kebersamaan di FLP. Ada yang datang dan ada yang pergi. Biarlah… Tak apa. Satu hal saja, aku masih ingin membersamaimu, menukilkan pena di lahan ini. Karena jihad kita, adalah jihad pena, insya Allah.
Read More

Harga Sehat...


“Berapa kami harus bayar Bu?” seseorang bertanya di balik jendela kaca yang ada lobangnya. Jendela kaca apotek! Sayup..sayup… suara itu masih terdengar hingga ke ruangan tempat aku duduk menuliskan nama-nama obat (huaa… be te we, kayak-kayaknya, aku memang saaangat tak suka dengan kemonotonan niiy…dan pekerjaan apotek adalah pekerjaan yang ng…cukup monoton! fiuuff…)

“Sebentar ya Pak , kami hitung dulu.” Jawab si asisten apotekernya. Si Bapak menunggu di luar dengan penuh harap-harap cemas.
“Pak , biaya pengobatannnya 40 juta yaaah.”
“Haaaa?? Apa?? 40 Juta, Bu!!!!?????” si bapak terbelalak tak percaya. “Ndak bisa kurang lagi, Bu?”
“Waaah…tak bisa Pak. Ini bon nya Pak.”
Si Bapak tercenung. Lalu beberapa saat kemudian berbicara dengan nada sendu, “Bu sebenarnya kami mau pulang saja hari ini. Tapi duitnya belum cukup Bu.”

Beberapa saat kemudian si bapak sudah berlalu dari depan counter apotek.

Fiuff…
Aku tercenung dalam diam (habiiiis ga bisa berekspressi niih di apoteknyaaa.
Orang2nya sibuuk semua, huhu…). Sejujurnya, aku jadi terkaget-kaget mendengar angka-angka yang harus dikeluarkan pasien dalam pengobatannya. Untuk menebus satu resep ajah, kadang sudah sampai ratusan ribu, jutaan bahkan. Kasihaaan.

Coba deh kalo 40 juta itu dibelikan kerupuk berapa container yah kerupuknya??
Heee.., koq analognya ke kerupuk yaaah??
Bahan ada yang sampai 60 juta segala. Masya Allah…

Sungguh betapa seringnya kita abai terhadap nikmat ini. Nikmat yang sebenarnya harganya jauuuh lebih besar. Ia adalah asset yang sangat berharga! Semoga, ini menjadi I’tibar bagi kita untuk menjaga dan men-syukuri nikmat ini.
Read More

Mengumpulkan Semangat

Ga Penting Mode : ON!

Hampir-hampir aku kehabisan napas untuk mengayunkan langkah…
Tertatih…
Kenapa begitu lemah dan lelah?
Kenapa?

Semakin sulit kugapai…

Tapi…
Apapun itu aku tak boleh menyerah!
Tak boleh menyerah pada keadaan apapun!

Come on, Fathel…
Come on!
Semangatlaaah!

Sudah 3 hari “mendekam” di Depo Farmasi Irna E (paviliun Ambun Pagi RSUP DR. M. Djamil). Huwaaah… masya Allah..bener2 cape’ abizz. Nyampe di wisma, “tewas seketika”. Belom lagi resep-resep yang udah “ngutang” numpuk minta dikerjain. Fiuff…

Tapiiii walau bagaimana pun HARUS SEMANGAT
Harus!
Ga bole berkeluh kesah!!!
Hadapi…hadapi dengan senyum…
KAMU PASTI BISA!!!

Huuffth…
Beberapa tugas menunggu deadline…

Sumangaik!!!
Sumangaik!!!
Sumangaik!!!
Read More

Titik Nol


Sungguh, alam mengajarkanku bahwa setiap ikatan kimia selalu akan membentuk konfigurasi atom, apakah itu dengan memberi ataupun menerima elektron. Pun begitu hidup ini, bahwa tak ada yang sanggup berdiri sendiri dan bertahan dengan elektron bebas. Dengan kedhaifannya, manusia pasti membutuhkan konfigurasi itu. Dan seindah-indah, sebaik-baik konfigurasi, adalah dengan “menerima” elektron dari Rabb, Dzat yang Maha Agung yang jiwa kita ada dalam naungan-Nya.

Maka, dengan ini wahai Allah...,
Kuserahkan segala pengharapkan itu hanya pada-Mu. Hanya pada-Mu saja ya Rabb. Tiadalah kedekatan yang paling dirindukan oleh para perindu melainkan kedekatan dengan Rabb-nya. Yah, dengan Rabb-nya.

Jika seorang William James saja dalam “The Varieties of Religious Experience”-nya menyatakan bahwa manusia itu sangat membutuhkan “The Great Socius”, maka tentulah umat manusia agung, Muhammad saw, akan lebih memahami soal ini. Bahwa, hanya Dia, satu-satunya solusi dan hanya Dia, kepada-Nya harapan ini terlabuhkan.

Sungguh, aku ingin kembali ke titik awal itu.
Yah, ini adalah titik awal itu.
Sebelum ada kata terlambat. Sebelum segalanya berakhir dengan pengakhiran yang menentukan, pengakhiran untuk kehidupan yang abadi.

Allah,
Ijinkanlah, bahwasannya hanya nama-Mu saja yang terpahat di sana ya Rabb. Di hati ini.
Allah, Kuserahkan diri ini, jiwa ini, penghidupan ini, hanya pada-Mu ya Rabb...
Karena Engkaulah sang Maha Penentu segala Keputusan.
Segalanya adalah rahasia-Mu ya Rabb, dan kupasrahkan diri atas segala keputusan-Mu.
Keputusan terindah-Mu. Sebab, segala keputusan-Mu, meski menurut kaca mataku yang dhaif dan jahil ini, itu adalah sesuatu yang tiada menyenangkan, karena betapa jahilnya aku. Tapi, apapun itu, adalah yang TERBAIK. Karenanya, kekasih-Mu ya Rabb, telah tuntunkan umat ini untuk mengenakan dua perisai itu sebagai buffer yang menyawari kesenangan dan kesedihan; yaitu Sabar dan Syukur. Dua hal yang ringan untuk diucapkan tapi berat untuk dilaksanakan. Sebab tak banyak yang bisa bersyukur dan tak banyak pula yang sanggup bersabar. Tiadalah sanggup diri ini selain karena Engkau ya Rabb.

Allah,
Ijinkan aku, dari titik nol ini, untuk kembali menukil langkah, meneruka lahan ini, perlahan.
Sungguh, tak ingin diri ini berada pada selemah-lemahnya batas-Mu. Pada titik nadhir keimanan. Sungguh, tak ingin ya Rabb.

Ya Allah,
Apapun keputusan-Mu, maka itu adalah yang terindah, terbaik!!
Maka ya Rabb, ijinkan aku untuk menghapuskan pengharapan kepada selain-Mu, apalagi kepada manusia yang juga dhaif dan lemah. Ijinkan aku untuk menyandarkan hati, hanya pada-Mu ya Rabb, tiada pada selain-Mu. Karena semua pasti akan indah pada waktu-Mu, pada waktu yang Engkau tetapkan ya Rabb.

Maka, sungguh, setiap ikatan kimia pasti terdiri atas konfigurasi atom-atom. Saling memberi dan menerima. Saling bersesuaian. Semua adalah rahasia-Nya. Dan sungguh, Dia pasti akan tetapkan pilihan yang terbaik! Maka, hapuskanlah pengharapan selain kepada-Nya. Cukup hanya pada-Nya terlabuhkan harapan itu. Cukup pada-Nya saja. Hanya pada-Nya saja. Tiada yang lain!
Read More

Satu Penggal Motivasi


Hmm…sudah lama tak menulis. Hee…

Banyak hal yang mau diceritakan sebenarnya. Hari ni aku ke M. Djamil, buat melapor bahwa mau praktek di sini. Trus, langsung deh ditanya-tanya gini gituh. Howalaaa…, aku jadi bengong begituuh. Udah gitu, bahan kuliahnya udah menguap entah di mana. Huhu.

Tapi kemudian, aku banyak belajar dari training singkat yang si ibu itu sampaikan. Meski hanya sebagai pengantar, tapi, cukup meninggalkan motivasi. Tentang tanggung jawab moral seorang farmasis di antara orientasi keuntungan yang menggiurkan.

Tapi, di ujung-ujung penjelasannya, si ibu menyampaikan nasihat : “Lakukan yang terbaik, di mana pun itu, apapun pilihan hidup yang kita pilih. Saya memilih untuk tidak menikah. Dan saya jalani konsekuensinya. Karena, setiap pilihan yang kita pilih mengandung risiko masing-masing. Dan saya menikmati pilihan saya.”

Kemudian si ibu bertanya kepada kami, “Nanti, kalian ingin bekerja di mana?” masing-masing menjawab pilihannya. “Apapun pilihan kalian, maka, jadilah yang terbaik pada pilihan itu.”

Ada salah satu teman saya yang berkata, “wah, kamu sih enak yah, bisa keliling Indonesia, bisa keliling dunia. Saya, jadi ibu rumah tangga begini, tidak bisa ke mana-mana. Saya iri padamu.”
Lalu saya jawab, “Jika kamu menjadi saya, belum tentu kamu bisa mendidik anak-anak cerdas seperti anakmu itu. Kau sudah punya 3 pintu menuju surga. Saya? Saya belum tentu! Yang jelas, kau telah berbuat yang terbaik di pilihan hidupmu.”

Hmm…aku jadi berpikir-pikir, benar juga siiih kata si ibu. Kesimpulanku adalah, seseorang melakukan sesuatu tergantung dengan orientasi apa yang mendominasi ia. Jika boleh mengklasifikasikan manusia, maka barangkali akan ada beberapa kelompok manusia. Pertama, orang yang hanya sibuk memperhatikan dan memperbaiki dirinya saja, dunianya dan akhiratnya, tapi lupa mengajak orang-orang di sekelilingnya. Ada pula, orang yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki dirinya, dan juga berusaha mengajak orang lain kepada-Nya. Yang ada di fikirannya, ketika ia melakukan sesuatu, “adakah peluang da’wah di sana?”. Ia berorientasi pada akhiratnya, tanpa harus melupakan dunianya. Ada pula golongan yang sibuk memperbaiki dan meningkatkan motivasi dirinya, tapi lupa mempersiapkan perjalanan panjang menuju kampung akhiratnya. Orientasi masa depan (dunianya) luar biasa, tapi akhiratnya tidak ada. Ada pula sebagian orang yang hidupnya diperbudak oleh orientasi maksiat. Orientasi harta benda keduniaan saja. Benar-benar disibukkan dengan ide “gila” bagaimana menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Dan ada pula golongan orang-orang yang memikirkan, bagaimana mengalihkan umat islam dari agama-Nya, baginya selalu terpikirkan, “adakah peluang untuk membelokkan pemikiran pemuda islam?”. Hmm…apa lagi yah? (Loh..loh..loh., koq jadi ga nyambung gini yah kesimpulannya, hehe??)..

Tapi yang jelas, satu hal, jadilah yang terbaik! Dan lakukan yang terbaik!
Semangat buat PKP-A di Apotek! Hayyoo Fathel, perjuangannya tinggal-tinggal di penghujung! Tugas-tugasnya sudah begitu menumpuk, dikerjakan gih! Hayoo…, waktunya sudah begitu mepet… semangat! Semangat! Sumangaik! Sumangaik!
(waduuh, map yaah, tulisannya jadi kacau begini. Tak nyambung satu sama lainnya. Heee… Maklumlah, ini tulisan bener spontaneous)
Read More

Katzung-ku...


Huaahh…
T_T

Katzung-ku…, aku kehilanganmu…
Kmanakah engkau gerangan?
Aku sudah mencarimu kemana-mana…
Tapi, tak kutemukan engkau…
Padahal, aku saat ini sangat membutuhkanmu…
Aku…aku…sangat ingin bertemu denganmu Katzung-ku…

Oh, Katzung-ku…
T_T
Kembalilah…
Aku sangat membutuhkanmu menemani masa-masa ujianku…menemaniku mengerjakan tugas-tugas yang benar-benar seabrek banyaknya…

*Satu plajaran berharga tentang Katzung-ku…
Bahwa rasa kehilangan itu selalu datang setelah dia pergi, setelah ia tak lagi membersamai hari-hariku. Padahal, ketika dia ada, aku sering nyuekin dia >,<
Maafkanlah aku Katzung…

Kehilangan itu,..
Aaah…, kehilangan menjadi penyesalan ketika ia sudah tiada kan yah? Ketika kita menyadari bahwa ia tak ada lagi bersama kita.
Ketika ia ada, justru sering terbaikan, sering tak dilirik…

Tapi, sungguh, jangan sampai ini terjadi pada keimanan!
Jangan sampai!
Na’uzdubillah…tsumma na’udzubillah…
Jika kehilangan Katzung saja akan menjadi sebuah rasa penyesalan…, apalagi kehilangan iman!
Jika Katzung menghilangnya sekaligus keseluruhannya, (hoho, emangnya Katzungnya bisa ilang selembar demi selembar! Ini mah ngaco banget! Kalo ilangnya selembar sehari, berarti dibutuhkan waktu 3 tahun dong untuk ilang secara keseluruhannya! Kan halamannya seribu lebih. Hee…)
Lalu, bagaimana dengan keimanan, yang bisa saja terdegradasi dengan perlahan-lahan…tanpa disadari…
Astaghfirullaah…


Sungguh, aku pernah dapat nasihat, bahwasannya sehalus-halus kehinaan di sisi-Nya adalah tercerabutnya kedekatan dengan-Nya, secara perlahan…
Astaghfirullaah…Astaghfirullaah…

Semoga, hati-hati kita adalah hati-hati yang peka dengan adanya erosi iman ini.
Semoga,…
Sebab, kehilangan Katzung jauh lebih baik dari pada kehilangan iman, walaupun kehilangan apapun memang tak pernah indah!



*Ini sebagai pengingat bagiku… 
*Kalo ada yang liyat Katzungku, setebal 1005 halaman, warna covernya coklat, kasi tau yaaaaah…(lengkapnya : Farmakologi Dasar dan Klinik, Bertram G Katzung), ada stempel namaku warna ijo ama no HP-nya di halaman pertama. >,<
Read More

The Ending of PKP-A RS

ga penting. Hanya Curhat mode : ON

Wah..wah…, subhanallah…,2 bulan berlalu begitu kilat. (hee…jadi inget kisah, “andai aku dapat memutar waktu” dulunya. Yg waktu itu diriku belum nikmati setiap jenak-jenak PKP yang sesungguhnya sangaaaat menyenangkan ini dan membuatku sangaaaat ingin berkerja di rumah sakit, dan membuatku juga ingin mengambil lanjutan kuliah farmasi klinik. *howalaaa, napa tak ambil dobel digri ajah sekalian yah? Hee…).

Banyak plajaran. Banyak hikmah. Banyak suka duka. Dan jugah banyak muhasabah. Banyak yang mesti disyukuri dan banyak jugah yang mesti diperbaiki. Bagiku, banyak sosok-sosok inspiratif (meski juga banyak yang cukup meninggalkan duka. Hee…). Kisah sukanya buanyaaak, menambah saudara baru di RS ini, temen2 baru, saudara2 baru. Jugah kisah yang tidak mengenakkannya. Tapi kemudian, aku dapat pelajaran jugah dari kisah yang ‘menyebalkan’ itu ketika kita menyikapinya dengan SIKAP POSITIF, semuanya menjadi ringan. Wah…wah…, selain training kesabaran, juga training emosi yaah? Baguslah kalo begitu… Asalkan kita ambil plajarannya ajah tho?

Hari ini, di hadapan sawah yang membentang, juga di hadapan my luvely “tabek”, hehe (tabekku, surgaku, hihi) di kampungku tercinta, Solok Selatan yang permai, pesona alam pedesaannya yang indah (hehe, lebay!), aku kembai sedikit mereview kisah dua bulan belakangan yang…masya Allah…, menjadi satu penggal kisah yang unforgettable moment. Sungguh.

Aih…, di mana-mana, yang namanya perpisahan tak pernah menyenangkan yah. Selalu saja ada kesedihan yang menyertainya. Tapi, berpisah pun adalah suatu yang niscaya kan yah?

Trima kasih Bapak Khairil Armal, S.Si, Apt, Sp FRS, Bu Yenni, Apt, Bu Rina Apt, Pak Suherman, Apt atas bimbingannya. Jugah buat bapak/ibu preceptor 1, Bu dr. Yelli, Sp. A, Pak dr. Alkindi Bahar, Sp PD, Bu Ruhaya F, SpS, M. Kes, yang udah kasi bimbingan. Trima kasih jugah Buat Bapak Ibu Dosen preceptor 2 dari Kampus, Bu dra. Deswinar Darwin, Apt, Sp.FRS, Bu dra. Suhatri, MS, Apt, dan Pak drs. Yufri Aldi, M.Si, Apt. Makasih jugah semua dokter-dokter di RSSN: Pak dr. Fred Septo, Sp.S, Pak dr. Hardy S, Sp.S, Pak dr. Hasril Hadis, Sp.J, Pak Iskandar, Sp PD, bu dr. Oppy, Bu dr. Widya, bu dr. Vivi, bu dr. Susi.
Kakak-kakak dan ibu2 di apotek rawat inap yang sering bercanda2an di apotek. Trima kasih buat lumpang dan stamfernyaaah akak…, trima kasih udah kasi ijin Fathel buat menggerus obat-obat pasien yang disonde. Kak Desy, Kak Alfi, Kak Mona, Bu Lin, Bu Len. Trima kasih jugah buat Kak Iray dari Fisioterapi, Kak Yoshi dari elektromedik, dan jugah ga ketinggalan ayang. Hee…
Trima kasih buat uda-uda, uni-uni, kakak-kakak, dan teman2 semua (wah, yang angkatan 05-nya mah Cuma 3 orang yah?). buat Ka Ayu, Ka Elia, Ni Ciep, uni2 se-kostan yang buaikkkk sangaaaaaadh! Waaah…, kapan yah qta keliling2 Bukittinggi lagih? Buat Ima (jazakillaahu khoir yah Ima atas semua2nyaah!), buat Ka Nana, Pu2 Da Ajo, temen2 sekelompok, yang suka dukanya dah qta lewati bersama. Ni Bolin, Ka Tini, Ka Nining, Ka Ai, Ka Meri, Ka Icha, Ni Ilin, Da Gelar, Da Ariya, Da Jaya, Da Adi, dan Da Rizki.

Semoga Allah jadikan ilmu yang qta peroleh di RS ini berkah, bermanfaat bagi ummaat. Allahumma aamiin.
Read More