Belajar Bahasa Inggris

Jika boleh diibaratkan grafik, maka kesukaanku terhadap bahasa Internasional yang satu ini adalah umpama grafik GLBB. Hihi. Nge-fisika banget. Puncaknya pada masa SMP. Dan mulai mengalami penurunan pada masa SMA hingga bangku universitas. Hmm…parah yah?!

Dahulu, pada tahun 1997 itu, aku adalah seorang siswi SD (kampung) yang pindah ke kota. Ciaaaaah… Maksudnya, sekolahku yang awalnya di kaki bukit nan damai dan sejuuuuuuuuuk, asri, dan bersahaja (sihaaa….), kini berpindah ke perkotaan dan lokasinya persis di depan kantor walikota. Kala itu, aku ngikut Ibu yang harus dipindahtugaskan ke Sawahlunto.

Di sekolahku yang baru, sudah ada plajaran bahasa Inggris, di saat sekolah lain masa itu belum ada yg belajar bahasa inggris. Sekolahnya (menurutku) cukup berkelas, sehingga—aku yang orang kampung—harus keteteran mengejar banyak ketinggalan di banding teman-teman kotaku itu. Sekolahku di kampung dengan sekolah di kota ini perbedaannya macam bumi dan langit. Jangankan labor dan klinik UKS , di sekolahku yang pelosok kampung itu, bahkan hanya punya pustaka seadanya. Dan aku kala itu gemar sekali meminjam buku di pustaka yang begitu apa adanya itu. Hehe. Sementara, di SD-ku yang baru itu, perpustakaannya mantap pisan. Waktu ada lomba perpustakaan SD, sekolahku itu dapet juara 1 tingkat nasional. Bukunya lengkap. Aku—yang sama sekali tidak mengenal enseklopedi kala di SD lama—seperti disuguhkan pada hal-hal baru yang menarik. Aku suka pustaka sekolah itu. Dan buku yang paling kusukai adalah enseklopedi yang tebal-tebal. Sukanya sih ngeliyat gambar-gambarnya. Hihi. Selain itu, di sekolahku itu punya klinik UKS yang kerreeen abis. Ada 2 ruang dengan 4 tempat tidur. Dokter kecilnya berperan sangat. Mereka punya pakaian khusus dokter kecil yang sejujurnya membuatku iri. Aku juga kepingin pakai baju dokter kecil. Tapiiiii, nasheeeb anak pindahan, aku tak merasakannya. Hihi. Selain itu, sekolah SD-ku itu juga punya laboratorium. Waah…kegiatan praktikum IPA dilaksanakan di sana. Aku bener-bener terbengong-bengong kala pertama kali menginjakkan kaki di sana. Bahkan, sekolah itu juga punya mushalla yang digunakan kerap kali setiap belajar mata pelajaran agama Islam. Kelasnya banyak. Ada kelas A, ada kelas B. Gurunya per-bidang studi. Matematika laen, IPA laen lagi, pun begitu pula dengan IPS. Pokok’e jauuuuuh bet bedanya sama sekolah SD-ku yang di kampung. Aku takjub, sekaligus harus banyak mengejar ketinggalanku di banding teman-teman sekolahku

Dalam hal ini, termasuk Bahasa Inggris. Teman-temanku sudah belajar Bahasa Inggris sejak kelas 3 SD. Sementara aku, sama sekali tidak! Aku harus mengejar 3 tahun ketinggalan di banding teman-teman. Kala itu aku sangat membenci pelajaran bahasa iNggris. Abisnyaaaaa, aku tidak mengerti sama sekali. Bengong sendiri ngeliyat temen-temen cas-cis-cus bahasa Inggris.

Akhirnya, Ibu memasukkan ku ke suatu lembaga bahasa Inggris. Yah, les bahasa inggris deh aku. Sejak les, alhamdulillaah aku bisa mengejar ketinggalan bahasa inggrisku dan akirnya….alhamdulillaah menyamai teman-temanku. Hee…alhamdulillaah, aku jadi suka sangat dengan yang namanya bahasa Inggris. Dan, pernah juga dapet nilai tertinggi di kelas (hehehehe….ciaaaaaaaa). Nilai raportku pun alhamdulilaah jadi angka 9 untuk bahasa inggris.

Ketika masuk SMP, kemampuan bahasa inggrisku makin terasah. Apalagi, kebanyakan temen2 dari sekolah lain baru mengenal bahasa iNggris ketika SMP saja. Akhirnyaa, aku termasuk orang-orang yang kemampuan bahasa Inggrisnya tergolong “lumayan”. Hee…

Puncaknya memang di kala SMP ini. Pelajaran bahasa Inggris menjadi plajaran favoritku setelah matematika. Nilaiku tak pernah rendah dari angka 8 untuk bahasa iNggris. Dari Sembilan caturwulan (kala SMP masih pake system caturwulan), hanya 2 (dua) kali yang dapat nilai 8. Di tujuh caturwulan lainnya, nilai bahasa Inggrisku adalah 9. Hee…

Di SMP ini pula, aku menang pidato bahasa Inggris. Bahkan konsepnya aku buat sendiri. Dan, di masa SMP ini pula, aku telah membuat cerpen dengan bahasa Inggris. Aku mulai suka nulis sejak SD, dan nulis cerpen pertama kelas 6 SD. Nah, di SMP ini, aku membuat dua buah cerpen berbahasa inggris yang kemudian dikoreksi oleh guru bahasa Inggrisku.

Masuk SMA, lain cerita. Entah karena kemampuan bahasa inggrisku yang menurun ataukah karena pada umumnya teman2 sekelasku jago-jago bahasa inggrisnya. Mereka cas-cis-cus ajah pake bahasa inggris. Pokok’e banyak yang jago dah! Sejak ini, nilai bahasa Inggrisku jadi menurun. Haha, tahimpik galombang nih yeeee. Hikhikhik. Meskipun nilainya masih paling rendah adalah 8 untuk pelajaran bahasa inggris, tapi, dari 6 semester, hanya sekali aku dapat nilai 9. Di lima semester lainnya, nilaiku adalah 8. Itu pun rata-rata kelasnya berkisar antara 7,6 hingga 8,2 (hanya 2 kali yg rata2 kelasnya 7,6 sisanya 8 koma). Artinya, bahasa inggrisku adalah hanya rata-rata saja. Parahnya, nilai UAN-ku malah rendah di bahasa inggris. Sejak SMA pun, aku mulai tak terlalu suka bahasa inggris.

Yang lebih parah adalah…ketika masa kuliah. Nilai bahasa inggrisku C dan harus mengulang pula. Eeh, pas diulang, Cuma dapet B+ pula. Hee….. Makin parah yah?! Padahal, yang diujikan hanya itu-itu saja. tak jauh beda dengan SMP dan SMA. Tapi, dasarnya aku sudah tak cinta sama bahasa inggris.

Kemampuan bahasa inggrisku benar-benar menguap. Bahkan pengucapan/logat alias pronunciation bahasa inggrisku berasa ‘minang’ banget. Hihi. Kacawwww dah! Semakin down-lah aku, di momen Mapres unand dulunya. Di mana, dari sekian banyak rangkaian test, ada test wawancara berbahasa Inggrisnya. Aku yang telah terlanjur menancapkan ketidaksukaan pada bahasa inggris benar-benar kelabakan waktu mengikuti rangkaian test mapres tersebut. Aku masih ingat dengan sangat jelas pernyataan seorang dekan fakultas yang ikut menguji kala itu, “pronunciation anda jelek sekali”, kata beliau yang membuat aku hanya bisa nyengir ajah. Hihi.

Imbasnya juga adalah…aku jadi tak begitu bergairah membahas jurnal-jurnal berbahasa inggris (untung saja, penelitian dan kompre memaksaku untuk membahasnya. Hmm….kalau sekedar memahami jurnal berbahasa inggris, insya Allah masih bisa…hee..tapi untuk mengucapkannya, atau menyusun sebuah tulisan berbahasa inggris….ampyuuuuuun….nyerah saia). Buku-buku text book farmasi yang kebanyakan bahasa inggris juga membuat minatku agak sedikit menguap. Tapiiii, keadaan yang memaksalah yang membuatku harus belajar itu. Dan, akibatnya, jika tidak karena terpaksa belajar, textbook berbahasa inggris tak kulirik. Hihi. Pronunciation-ku ketika seminar penelitian dulu tergolong jelek. Hehe. Apalagi, kebawa-bawa Mas Yoshi (Dr. Yotshitsugu Nakaguchi) yang suka menyebut “boil extaction” dengan spelling “boil ekstraksiong”, akhirnya pas seminar akuun nyebut “ekstraksiong” yang membuat peserta seminarnya jadi tertawa. Huhu.

Pelajaran berharganya adalah bahwa kita adalah seperti apa yang kita pikirkan. Ketika kita memikirkan paradigm positif dan pandangan positif, maka kita insya Allah bisa melakukannya. Karena aku terlanjur melabelling dan menancapkan rasa tidak suka pada sesuatu, akhirnya aku memang tidak bisa mencapai yang terbaik dalam bidang itu. Padahal, sebenarnya setiap diri kita punya kemampuan untuk itu. Ya kan?!

Pelajaran kedua…
Penting sekali ternyata, menghadirkan cinta untuk sesuatu. Jika tak cinta, hasilnya pasti tak optimal. Hmm….baiklah…baiklah…., sepertinya aku harus menjemput cintaku yang dulunya hilang. Cihaaaa… Iyah! Aku harus menjemput cintaku pada bahasa inggris yang dulu sempat hadir. CLBK(cinta lama bersemi kembali) daaah. Wkwkwk.

Yup…yup…harus belajar lebih keras! Tanamkan paradigm positif, bahwa…kita BISA!
Read More

Tentang Masa Lalu Itu....

Tentang Masa Lalu....
Tentang masa lalu, harapan dan sebuah keinginan itu… sebaiknya…kita tutup saja rapat-rapat, jauh….dan sangat jauh di dasar hati. Biarkanlah ia berada di dasar itu… Tak perlu dibuka lagi…Hingga jika memang suatu saat ia berjumpa dengan kenyataan (Syafnida Gusti, Payakumbuh, Januari 2011)

Ah, benar sekali.
Banyak dari peristiwa yang kita rasakan, kita alami, dalam kehidupan ini…yang mengajarkan kita untuk tidak perlu menaruh harapan apapun, pada manusia. Di kisi mana pun. Apakah menyoal hati, ataupun penghidupan.

Read More

Cerita Jalanan

Cerita Jalanan
Jalanan selalu saja punya cerita tentang watak para penggunanya. Dan, begitu pula dengan episode “malala” kali ini. hehe. Solsel-Surian-Alahan Panjang-Solok-Singkarak-Ombilin-Rambatan-Batusangkar-SungaiTarab-Payakumbuh-Tanjungpati-Baso-Bukittinggi-Padangpanjang. Dan, “malala” kali ini benar-benar meninggalkan cerita hikmah yang begitu banyak.

Locus #1: JAGA JARAK
Tidak menjaga jarak, berarti kita sedang memberi peluang untuk mencelakai diri sendiri dan (atau) mencelakai orang lain. Seperti perjalananku kali ini. Di 70-an kilometer pertama. Lubuak Batu Gajah nama daerah kecilnya. Aku tidak tahu apakah memang Lubuak Batu Gajah ini memiliki Batu yang besuarr sangat sehingga dinamakan Batu Gajah. Ataukah di sini dulunya ada gajah yang punya batu? Hihi. Entahlah. Tak kuketahui mengaapa namanya demikian. Dan, kayaknya tak penting pula untuk dibahas. 

Mobil yang kutumpangi berjalan pelan. Mungkin speed meternya hanya menunjukkan 5 km/jam (haha, memangnya ada angka 5 km/jam di speed meternya? Bukannya paling minimum 20 km/jam? Hihi). Di arah lawan, ada tiga truk besar saling beriringan. Tak dinyana, tiba-tiba saja ada bunyi keras dari arah belakang. Rupanya ada sepeda motor dengan pengendara tengik (maaf, ini karena aku kesal sangat sahajaa sama pengendara itu!) yang maen tabrak ajah, plus ngenyalahin pulak!

“Bapak itu yang ngerem mendadak!” katanya. Sudahlah salah, menyalahkan pula! Apa tidak menyebalkan itu? Jelas-jelas mobil melaju dengan pelan, eeh….dianya yang ngenabrak, nyalahin pulak!
Grrhhhhh….kesal tidak?! Mana mobil jadi rusak! Tidak sedikit biaya reparasinya itu. Untung saja pengendara mobilnya adalah seorang hakim yang sudah terbiasa menghadapi berbagai watak manusia dan telah terbiasa pula menghadapi orang-orang berkelit dalam persidangan. Jadi, dengan sekali tandas, pemuda (tengik) itu tak dapat lagi mengeluarkan alasan penyalahan! Yaiyalah! Wong dianya yang salah! Sudah untung si Bapak tidak minta ganti rugi pulak sama itu pemuda. Kalau mau adil sih, semestinya iya, kan dia yang salah. Tapi, si Bapak tidak mengambil tindakan demikian. Lha, si pemuda itu sedikit pun kaga minta maaf!! Coba aja deh, kalo pengendaranya para preman jalanan, waah sudah abisss itu pemuda kenak carut marut, plus bogem mentah mungkin.

Plajaran berharga :
Jalanan sering kali menceritakan watak. Tidak salah jika Rasulullaah katakan bahwa jika kita ingin mengenali seseorang lebih dalam, maka bermalamlah bersamanya sekurang-kurangnya tiga hari atau adakanlah perjalanan jauh bersamanya. Sebab, perjalanan akan menceritakan bagaimana dan seperti apa kita.

Plajaran kedua, menjaga jarak itu penting. Jika tidak, kita akan mencelakai diri kita dan orang lain. Jika pun tidak ada yang celaka dari diri kita atau pun orang lain, setidaknya kita harus mengeluarkan duit lebih banyak untuk biaya reparasi. Jika pun tidak sampai demikian, setidaknya kita harus menghadapi sportjantung dulu.

Jaga jarak, ternyata bukan Cuma dalam berkendaraan. Tapi juga interaksi. Huufftt… Poin ini mungkin aye kenak. Huhu. Karena, kalo soal interaksi, aku termasuk orang yang (agak) cair dan sukaaaaaa sangat berteman dengan banyak orang, maya maupun nyata. (semoga memang tidak “mencelakai” orang lain yaah? hehe). Tapi, kebanyakan yang kuliyat nii yah (dari orang lain) kalo interaksinya sudah cair sangat, bisa jadi akan “mencelakakan”, jika pun tidak diri kita (apalagi dengan alasan ke-cuek-an dank e-slenge’-an), mungkin orang lain ada yang “tercelakai”. Missal dengan lahirnya interpretasi-interpretasi atau pun singkronisasi2 tertentu. Hmm….ternyata, menjaga jarak itu sangat penting. Hmm…hmm…sebuah pelajaran berharga bagiku. Semoga jadi controlling buat ke depannya.

Locus #2 : Pragmatis, Antipati ataukah menyoal hilangnya kepercayaan Masyarakat terhadap pemerintah?

Sesampainya aku di daerah Koto Baru, kendaraan terjebak antrian panjang sangat. Rupanya macet yang biasanya hanya hadir di kota-kota besar kini berpindah pula ke daerah. Dari Padang Luar hingga Koto Tuo Panyalaian. Entah karena regulasi jalanan Pasar2 tradisional yang berada di sepanjang jalur itu yang belum tercover ataukah karena memang badan jalan yang semakin sempit, ataukah kendaraan bermesin yang semakin banyak ataukah kesadaran akan ketertiban yang semakin terdegradasi? Mungkin semua alasan adalah benar. Jika ini merupakan pilihan berganda, mungkin jawabannya adalah (E) yaitu A, B, C dan D benar. Hehe. Sebab, katanya dinas perhubungan, jumlah kendaraan pribadi sekarang semakin meningkat. Selain itu, banyaknya mobil2 pick up ataupun truk pengangkut sayur yang parkir di pinggiran jalan dan membongkar muatannya, menghalangi lalu lintas kendaraan. Di luar itu, badan jalan memang terasa semakin sempit, karena kendaraannya semakin banyak. Dan, jika begini, banyak pengendara (tak sabar dan egois) yang mencoba-coba memaksakan kendaraannya melaju di tengah kemacetan panjang. Akibatnya, semakin kacau balaulah kemacetan itu. Riweuh pisan, euy!

Nah, di tengah2 itu, ada kejadian yang menggelitik.
Tentang sebuah mobil ber-plat terbakar (plat merah maksudnya) alias mobil punya pemerintah dengan nomor polisi rendah (maksudnya, angkanya Cuma 1, dan di bawah angka 5 pula) yang berarti orang yang duduk di dalamnya itu bukan orang ‘sembarangan’. Pastilah pejabat kelas teras. Hihi. Pejabat teras maksudnya. Tak usah pula lah kusebut kendaraan mananya dan berapa nomor polisinya.

Mobil itu hendak berbelok ke gang kecil yang sedikit mendaki di tengah antrian panjang itu. Rupanya, perhitungan sopirnya meleset sehingga mobil tidak dapat memasuki gang dengan mulus. Serta merta mobil itu mundur. Di saat yang sama, sebuah bus superrr duperr besaar dengan trayek lintas pulau datang dari arah berlawanan. Nah, apa salahnya sih, bus besar itu berhenti sejenak, biar mobil pejabat itu bisa lewat gang. Rupanya yang terjadi sebaliknya. Bus besar itu terus mendesak-dan mendesak sehingga mobil pejabat itu harus mundur hitungan kilometer,yah sepanjang antrian berkilo-kilo meter itu. Masya Allah. Penumpang seisi bus besar maupun penumpang minibus yang kutumpangi, bersorak sorai puas, atas keangkuhan bus besar itu. Mobil pejabat yang malang, dan terlihat tak berdaya. Mereka tertawa-tawa menyaksikan mobil pejabat itu harus mundur beberapa kilometer. Kalo maju beberapa kilometer sih oke. Tapi, kalo mundur?? Huwaaaa…pasti pegelll leher supirnya. Hehe.

Ini entah karena pragmatis atau antipasti masyarakat terhadap pemerintah. Atau, mungkin kepercayaan masyarakat yang telah hilang terhadap pemerintah. Entahlah. Aku sesungguhnya kasihan pada bapak pejabat itu, dan membayangkan, “ah, andai ayahku yang berada di posisi itu.” Tapi, tindakan ini sudah cukup menjelaskan tentang sikap masyarakat.

Pelajaran berharga :
Mungkin tidak semua pejabat itu koruptor, dan sangat mungkin masih banyak pejabat yang baik yang benar-benar bekerja untuk rakyat. Tapi, karena juga tak sedikit kasus-kasus praktik KKN yang membuat rakyat kecil jadi korbannya, atau bisa jadi orang teratasnya sudah berupaya memberikan seoptimal mungkin, namun, oknum-oknum bawahannya yang sering nakal, semakin menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Ah, yang bisa kita lakukan adalah berdo’a dan berharap agar negeri ini semakin madani saja. Perubahan menuju Indonesia lebih baik tidak bisa dilakukan jika kita Cuma sorak sorai doang “Brantas korupsi! Brantas KKN” kalo kita sendiri tidak mencoba merubah hal-hal tersebut dari yang kecil sekali pun.

Locus #3: Ketika Nurani (lagi-lagi) dipertanyakan.

Dahulu, kami anak-anak asrama SMA N 1 Padangpanjang yang arah ke Solok dan Sekitarnya biasa menunggu bus Tanjung Jaya di depan pesantren Serambi Mekkah, Padangpanjang. Betapa sumringahnya wajah ketika bus donker tua (sudah dongker, tua pula lagi. Hee….berarti warnanya mendekati hitam) itu lewat dari arah atas Guguk Malintang. Meski harus berdesak-desakkan. Meski harus duduk di bangku temple alias bangku serep. Bahkan meski harus berdiri. Dan, pahitnya lagi, harus bergelantungan di depan pintu, demi pulang kampung. Hehe.

Bukan tak sering aku dan teman2 harus bergelantungan di depan pintu itu untuk 2 jam perjalanan. Berbahaya. Mengerikan. Tapii, ternyata dijalani jua. Nasheeeeb sekolah jauh. Hihi. Dan, bukan sekali dua kali pula kami menyaksikan bapak-bapak atau pemuda-pemuda yang badannya masih tegap-tegap, enak-enakkan duduk dengan nyamannya di hadapan kami—anak-anak perempuan—yang harus bergelantungan atau berdiri. Atau, paling banter, pura-pura tidur.

Nah, dalam episode kali ini, aku kembali mengulangi kebiasaan 5 tahun silam itu. Menanti Tanjung Jaya. Sekarang bukan lagi di depan Serambi Mekkah. Jalurnya sudah berbeda. Dan kali ini aku menunggunya di depan RSUD Kota Padangpanjang. Dahulu, RSUD ini berlokasi persis di samping sekolahku di mana kamar mayatnya bersebelahan dengan kelas kami, III IPA 1. Hehe. Hanya berbatas tembok setinggi dua meter yang bagian atasnya dipenuhi kawat berduri.

Tanjung jaya masih punya cerita yang sama. Memuat kebanyakan anak sekolah. Dan, kembali mempertanyakan nurani yang sama. Tentang tubuh-tubuh tegap yang nyaman-nyaman saja duduk santai di depan seorang siswi ringkih yang mencoba berpegangan erat melawan guncangan bus. Lagi-lagi nurani dipertanyakan. Memang, tidak bisa di generalisir semuanya. Bisa jadi, sebagian dari tubuh tegap itu berpenyakit jantung, misalnya, yang membuat ia tak kuat lama berdiri. Tapi, apakah semuanya berpenyakit jantung? Bisa dipastikan, TIDAK! Lagi-lagi, kembali, nurani dipertanyakan.


#mohon maaf buat mata pembaca yang alergi dengan tulisan panjang. Hihihi#
Read More

Kalah

Kalah dan Menang

Aku pulaaaaang, tanpa dendaam
Kuterima, kekalahankuu….
(Shella on Seven)

Mungkin kau perlu kalah dulu sebelum merasakan kemenangan, Fathel. Barang kali, dengan merasakan kekalahan terlebih dahulu maka kemenangan menjadi manis rasanya. Mungkin begitu, Fathel.

Terhadap apapun yang telah membuatmu kalah,
Maka kau perlu dengan sportif mengatakan bahwa “dia memang lebih baik darimu”..
Bahwa semestinya kau memang perlu angkat topi dan mengatakan, “aku ingin belajar lebih banyak darinya.”
Memang seharusnya begitu, Fathel.

Tidak mengapa.
Setidaknya kau tidak sedang berlagak menang atas kekalahanmu.
Setidaknya kau mengetahui, bahwa kau memang kalah.
Dan, setidaknya, ini semua melecut semangatmu untuk tidak berhenti berjuang.
Untuk sebuah kemenangan yang tiada memiliki ujung di tempat yang penuh kenikmatan.
Dan itulah sesungguhnya kemenangan yang besar!

Fathel…
Yang harus kau tahu, bahwa dengan ke-dhaifanmu itu, kau belumlah apa-apa.
Pandangilah sejauh lintasan pandangan… bahkan melintasi batas, sekalipun!
Pandangilah!
Semakin jelaslah, betapa kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
Jangankan untuk disebut ektraordinary, bahkan biasa-biasa saja pun masih belum!
Dan, lengok kan pula pandanganmu pada sosok dengan begitu banyak taburan bintang. Bintang-bintang gemerlap itu. Mereka adalah yang menancapkan pancang-pancang kemenangan.
Lantas, tak inginkah kau belajar dari mereka?

Fathelvi…
Fathul Alvi…
Seribu Kemenangan…
Jika kau MAU, insya Allah kau BISA!
Tiada kata TIDAK BISA bagi orang yang MAU!
Masih ingin menang kan Fathel?
Jika iya, maka tiada kata bagimu, selain BERJUANG UNTUK KEMENANGAN ITU!
Read More

Mematangkan Hidup

Masak-masak-masak....hehehe
Hemm…. Memasak.
Apa yang terjadi jika kita memasak dengan api yang besar?
Hoho, tentu saja masakannya akan gampang hangus. Jika pun tidak hangus, di bagian luarnya matang tapi di bagian dalamnya masih mentah. Apapun jenis masakannya. Mau goreng pisang kek, mau goreng tahu kek, mau bakwan nek. Hee…
Lalu bagaimana? Yak, bener sodara-sodara! Jika ingin masakannya matang dengan sempurna, maka yang mesti disetel itu tentu saja api yang sedang. Tidak terlalu besar. Dan tidak pula terlalu kecil (yang membuat kita berlumut pulak nungguinnya..hihi). Sebesar apa apinya, maka…kemudian pengalaman bicara. Jika sering-sering (belajar) memasak, pada akhirnya akan mengerti sendiri sebesar apa sih api yang ideal sehingga apapun yang di masak, menjadi matang hingga ke lapisan terdalam sekali pun. Hehe.

Semua ini memberi kita pelajaran berharga.
Bahwa mematangkan sesuatu, TIDAK BISA dengan segalanya serba cepat dan serba instan belaka. Semuanya butuh proses. Dan juga, butuh kesabaran. Iyaah, k-e-s-a-b-a-r-a-n. Sering kali sesuatu yang serba instan, yang hanya ingin cepat saja, memang terlihat matang dari luarnya. Kelihatan bagus dari luarnya. Tapi…masya Allah, ternyata di dalamnya masih mentah.

Pada akhirnya, pengalamanlah yang mengajarkan kita tentang mematangkan sesuatu. Mematangkan dengan kematangan yang sempurna. Bukan kematangan setengah-setengah. Yang hanya matang di luar saja, tapi mentah di dalamnya.

Apapun itu…mozaik kehidupan kita. Mereka punya lokus-lokus tersendiri untuk mematangkannya. Kemudian, yang demikian itulah yang mengajarkan kita untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi setiap peristiwa kehidupan itu sendiri. Sebab, hanya sejenak saja waktu yang kita punya. Untuk mempersiapkan hari-hari yang panjang. Hari ketika segala sesuatu di balaskan. Lantas, hendak ke manakah hendak diarahkan langkah? Kepada kesengsaraan yang tiada berujung kah? Atau kenikmatan yang jua tiada taranya? Inilah saatnya kita mematangkan arah!

Aih, begitulah kehidupan mengajarkan kita…
Sebab semuanya adalah pelajaran…
Yup, pelajaran berharga bagi kita.
Asalkan kita bersedia (sedikit saja) mengambilnya.
Read More

Jum'at Pagi

Subhanallaah….selalu ada spirit baru di Jum’at pagi…
Mengawali hari yang penuh keberkahan dengan “pertemuan” bersama orang-orang dengan wajah teduhnya itu. Wajah-wajah mereka yang bersih bercahaya di bawah naungan Al Qur’an. Dan, selalu saja menghadirkan spirit yang tak ternilai harganya…bagiku…

Jum’at pagi…
Selalu saja menjadi waktu yang kurindu…
Untuk pertemuanku dengannya…


Jum’at pagi…
Sungguh, aku ingin hariku-hariku adalah seperti Jum’at pagi…
Seperti jum’at pagi ini…Jum’at pagi tiga minggu lalu…atau jum’at pagi satu bulan yang lalu…
Ingin selalu begitu…merasakan sentuhan spirit-spirit itu…

Duhai akhwatifillaah…
Aku tak perlu rumit untuk mengetahui mengapa cinta ini begitu cepat hadirnya…
Bahkan dengan pertemuan kita yang sejenak saja…
Yang kemudian selalu saja membuatku merindui dan terus merindui kebersamaan dan membersamaimu…
Meski…saat ini…ada jarak ratusan mil yang memisahkan kita…
Semoga bukan hati yang terpisah…biarlah jasad kita saja yang berjauhan…

Merindumu semuaaaaa,
Akhwatifillaah…

Merindukan semuanyaaaa...
Read More

Aku Tidak Gombal

Sebenarnya tulisan ini adalah bentuk negasi dari tulisanku satu setengah tahun yang lalu yang berjudul “Orang Bilang Aku Gombal”. Hee…. Kutulis special untukmu yang (merasa) pernah kugombali. Hihi.

Wahai teman-temanku…ukhtifillaah yang (pernah atau sedang) menemani hari-hariku. Ketahuilah…aku tidak pernah sama sekali (berniat) menggombalimu. Sama sekali tidak. Meskipun memang terkesan agak sedikit lebay, tapi yakinlah…bahwa aku mengatakannya karena aku memang cinta. Yah, aku memang cinta. Padamu. Padamu. Juga padamu.

Hehe…
Bukan sekali atau dua kali dikau semua nyatakan,
“halaaah, fatheru gombalannya maut.” Hihi.
“aihh, tak percaya cintanya Fathel. Gombal ihh”
Atau, “kalo Fathel yg bilang cinta mah,saia tak percaya. Cinta nya si Fathel itu, baserak dima-dima.”
Atau pun kalimat-kalimat sejenis.

Tapiii, yakinlah satu hal,
Bahwa aku benar-benar tidak bisa mengatakan, “Luph U”, “Cynk”, “Uhibbukifillah”, “Sayang kamuuuu”, dan sederet kata lain yang senada, jika aku tidak benar-benar cinta.

Sebab aku cinta-lah, maka kukatakan demikian.
Karena bagiku, cinta itu bukan sekedar aksi, tapi juga butuh kata-kata.
Sebab cinta butuh muara.
Dan kata adalah salah satu muara terbesarnya.

Dari Abu Karimah Al Miqdad bin Ma'dikariba r.a, dari Nabi S.a.w , beliau bersabda : "Apabila seseorang mencintai saudaranya hendaklah ia memberi tahu bahwa ia mencinta dirinya (sahabatnya itu)" HR. ABu DAud dan At TArmudzy
Read More

Sore Ini...

Tentang kesedihan itu...
Tidak ada yang berbeda dengan sore ini. Angin yang meniup lembut. Sorak-sorai anak-anak yang bermain sepak bola di sawah yang habis dipanen di sebelah utara. Dua sejoli remaja yang sedang asyik mengobrol di sebelah barat. Suara tangis bayi melengking membahana di sebelah timur. Dan tawa ibu-ibu yang berkongkow ria di sebelah selatan. Di segala penjuru mata angin, selalu punya cerita yang hampir sama di setiap sore.

Pun dengan aku (dan ruitinitas menyenangkanku) di sore ini seperti sore-sore sebelumnya.
Mengelilingi kolam tiga buah empat persegi panjang dan satu trapesium dengan seember besar makanan ikan. Adalah hal yang menyenangkan melihat makhluk-makhluk bersirip itu berebut makanan.

Memang.
Sore ini masih sama dengan sore-sore sebelumnya. Hanya saja ada yang berbeda.
Read More

Kolam Bernoulli

Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud menjelaskan padamu bahwa si Bernoulli, sang ahli fisika itu, mepunyai kolam di belakang rumahnya. Hihi. Aku pun tidak tahu apakah Bernoulli punya kolam apa tidak. Hehe. Sepertinya tak penting membahas apakah Bernoulli punya kolam ikan. Tapi yang jelas, si Bernoulli telah menemukan sebuah rumusan mengenai Fluida Bergerak dengan rumusan seperti yg tertera di atas.

Lalu, apa hubungannya si Bernoulli dengan kolam??

Hmm…begini.
Aku tahu, ayahku bukanlah seseorang yang berada di ranah sains. Bahkan aku yakin beliau sama sekali tak tahu menahu soal hukum Bernoulli. Beliau memang lebih banyak berinteraksi dengan sesuatu yang berbau hukum (lha, emangnya hukum ada baunya yah? Hihi), tapi bukan hukum fisika. Hehe. Tapi, tanpa disadari ayah, beliau telah menerapkan hokum Bernoulli ketika membuat kolam itu. Kedua saluran air yang mengairi kolam, dibuat seperti mengalir dari dalam kolam itu sendiri. Padahal, keduanya berasal dari satu pipa yang dibenamkan dibawah tanah di mana jaraknya dari sumber air hingga mencapai kedua saluran adalah sekitar 10 meter. Di sini, diterapkan hokum Bernoulli secara fisikanya. Bahwa ada tekanan dari sumbernya yang kemudian air dapat “memanjati” kedua saluran tersebut sehingga seolah-olah terlihat seperti bersumber dari kolam itu sendiri.

Ada plajaran yang dapat kuambil dari sini. Hmm….sebenarnya, kita sering kali mempraktekkan sesuatu tanpa menyadari bahwa ada “suatu peristiwa” lain yang tidak kita ketahui. Kita melaksanakan, tapi tidak mengetahui teorinya. Ini berarti sesungguhnya akal dan logika manusia sebenarnya jauh lebih hebat dari sekedar teori-teori belaka. Maha agung Allah yang menciptakan manusia dengan segala potensi besar. Dengan akal yang membuatnya lebih dari makhluk di dunia lainnya. Seperti kolam Bernoulli itu. Atau seperti para pedagang minang (yang mana minang sangat terkenal dengan jiwa dagangnya) yang tak perlu terlebih dahulu mempelajari buku-buku tebal manajemen. Mereka telah mempraktekkannya tanpa terlebih dahulu mengetahui teorinya. Tapi, bagaimana pun jua, mempelajarinya terlebih dahulu tetap saja menghasilkan out put yang lebih optimal. Hihi.
Kolam Bernoulli

Hmm…sebenarnya bukan masalah Bernoulli ini esensi tulisanku kali ini. hee… Aku sebenarnya pengin cerita-cerita ajah. Yaah, seperti yang kubilang (mungkin berkali-kali sudah) bahwa aku menuliskan ini di blog sebagai sarana untuk memuarakan ekspressi saja. semoga tak tak berlebihan jika disebut sebagai sarana aktualisasi diri. Hehe. Adapun jika memang ada kebaikan yang dapat didulang—bagi yang sempat nyasar, salah masuk, atau iseng-iseng singgah sebentar—maka itu adalah limpahannya…hihi.

Kolam Bernoulli (hehe, sebaiknya kunamai saja kolamku itu dengan nama Kolam Bernoulli yaah?) adalah satu dari sekian banyak inspirasi kali ini. Dan sebenarnya, ada sebuah investasi besar tersimpan dalam kolam Bernoulli jika kita mau sedikit saja lebih keras belajar dan sedikit saja bersedia bertanya pada orang pinter (bukan dukun loh! Tapi orang yang memiliki pengetahuan lebih atau latar belakang ilmunya di sini). Inilah pekerjaan “malas” yang menghasilkan jauh lebih besar ketimbang pekerjaan “rajin” (yg berkutat dibelakang meja kerja). Hihi. Dan ini semakin membuatku sangat tertarik untuk terjun dan menerjunkan diri. Di sini. Di ranah ini.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat menonton tayangan tentang motivasi dari motivator muda Bong Chandra. Satu hal menarik yang sangat berkesan bagiku dalam penyampaiannya adalah “Beri nilai harga atas waktu anda.” Jika bertolak dari pemikiran orang-orang seberang samudera sono, “Time is Money”, kata mereka.

Kita mungkin (sering) tidak menghitung berapa nilai harga waktu kita kecuali ketika berada di taksi. (uhm…kalo taksi mah di kampung saia yang terpelosok ini TIDAK ADA! Hehe). Ketika di taksi, kita pasti akan menghitung berapa harga waktu kita dan berapa nilai yang kita bayarkan berdasarkan waktu itu. Apalagi jika ketiban macet, hadeuuuuhh…jadi mikir2 panjang banget, karena waktunya terus berlalu, dan seiring dengan itu bertambah pula cost yang harus dikeluarkan.

Di sini, dapat kita pelajari bahwa kita bisa saja memberikan harga dan nilai untuk waktu kita. Berapa kita mau! Dalam beberapa episode yang kulalui belakangan ini semakin membuatku belajar tentang filosofis time is money itu. Hmm…sebelumnya, aku tak hendak mengajakmu untuk mengejar duit semata dengan menghargai waktu atas nama uang saja. Bukan. Bukan begitu. Terlalu singkat jika hanya untuk kepentingan kesejenakkan dunia belaka. Maksudku adalah, menghargai nilai waktu bukan hanya dengan ukuran nilai mata uang tapi juga investasi masa depan abadi kita. investasi masa depan yang melintasi kesejenakkan dunia. Demikianlah harga nilai atas waktu-waktu kita.

Siapa saja boleh menyebutku pengangguran. Dan memang begitulah pandangan orang-orang secara umum. Tapi, kali ini, akhir-akhir ini, aku merasa menjadi pengangguran yang selalu kekurangan waktu. Hihi. Mungkin kedengarannya lucu. Yup, aku memang seorang pengangguran yang kekurangan waktu. Semua ini membuatku belajar untuk memberi nilai atas waktu-waktu yang kupunyai, yang tak tertebak pada saat manakah semuanya mesti berakhir.

Aku melakukan apapun, dan memberi nilai atas waktu yang kuhabiskan untuk itu. Aku pernah hanya punya harga waktu lima belas ribu untuk enam jam, dan aku juga pernah punya harga waktu seratus ribu untuk satu setengah jam. Dua hal yang sangat jauh perimbangannya. Pekerjaan pertama adalah dengan mengandalkan tenaga. Sedang, pekerjaan kedua adalah dengan mengandalkan pikiran.

Sekarang, aku menjadi mengerti betapa pentingnya berpikiran cerdas dalam mengelola waktu. Jika kita dapat menggunakan potensi pikiran kita, maka nilai waktu kita jauh lebih berharga ketimbang hanya dengan mengandalkan tenaga saja. Apalagi jika nilai waktu kita digunakan untuk-Nya. Maka, harga waktu itu menjadi lebih besar. Ia menjadi investasi bagi kita. Demikianlah. Segalanya kemudian menjadi pelajaran yang sangat berharga bagiku.

B.E.R.S.E.M.A.N.G.A.T!!
Read More