PERNIKAHAN

PERNIKAHAN
By : ipi tyf
Pernikahan!
Sebuah kata yang sesungguhnya masih sangat jauh dari jangkauan fikiranku saat ini. Akan tetapi, entah kenapa, aku begitu tergelitik untuk menuliskannya.

Nyaris setiap hari begitu banyak orang yang datang ke rumah untuk menanyakan berbagai permasalahan rumah tangga. Suatu hari, aku menerima tamu seorang perempuan muda yang masih seumuran kakak sepupuku. Wanita itu hendak mencari ayahku untuk meminta solusi mengenai permasalahan rumah tangganya yang sudah seperti diujung tanduk. Sayang sekali ayahku waktu itu sedang ke luar kota, jadi yang kebetulan ada di rumah waktu itu adalah aku dan adikku yang masih kelas IV SD.

Wanita itu pada akhirnya menumpahkan cerita padaku. Jadilah aku penasihat dadakan seorang wanita yang sudah berumah tangga. Padahal, aku Cuma gadis di awal masa dewasa yang sama sekali tak mengerti akan permasalahan rumah tangga dan, tentu saja aku belum menikah!

Sang wanita bercerita, bahwa sudah lama dia cekcok dengan suaminya. Suaminya yang kerap bermain tangan dan sangat kasar. Nafkah lahir pun sangat jauh dibawah standar. Bayangkan, dengan 20 ribu, hari gini apa sih yang bisa dibeli? Belum lagi, suaminya itu sekarang tengah berpacaran dengan teman dekatnya yang juga sudah punya suami dan anak. Setela puncak pertengkaran sengit, ketika wanita itu sudah sangat capek menahan hati, akhirnya sang wanita pulang ke rumah orang tuanya beserta dua orang anak dan satu calon bayi yang tengah dikandungnya. Ironis!

Aku tak ingin membenarkan sepenuhnya apa yang disampaikan wanita itu. Sebab, aku belum mendengar cerita dari sang suaminya. Namun, sebagai perempuan, aku memang cukup merasakan apa yang dirasakannya. Hanya saja, aku patut acungkan jempol ketika wanita itu tetap ingin mempertahankan bahtera rumah tangganya yang porak poranda hanya demi anak-anaknya, dikala kebanyakan wanita sepertinya lebih memilh untuk bercerai saja. ”Saya tak bisa mencari penghasilan, bagaimana saya akan menghidupi anak-anak saya nanti?” paparnya.

Ada banyak kasus lagi yang sempat kudengar. Hanya karena biji cabe rawit saja, ada sepasang suami istri yang melepas akad yang sakral itu di pengadilan. Lalu, karena ketidaksesuaian sedikit saja perengkaran terjadi. Adapula yang mengedepankan ego sehingga yang ditemukan bukan saling mengalah tapi saling menonjolkan urat leher. Ada pula yang berpendidikan tinggi, seorang guru pula, yang tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba meninggalkan istrinya demi seorang janda yang juga seumuran dengan istrinya. Padahal tak ada yang kurang dari pelayanan sang istri terhadap suaminya itu. Sebaliknya, banyak juga laki-laki yang ditinggal oleh istrinya tanpa sebab dan musbab yang jelas. Bahkan, ada pula keluarga ustadz yang bermasalah. Keluarga yang semstinya menjadi teladan bagi lingkungan disekitarnya. Huaa..., semua serba ruwet lah!

Mendengar semua kisah ini, aku jadi berpikir ulang. Mencoba membuka-buka kembali lembaran file-file catatan harian yang sekaligus sebagai self upgrading, masterplan serta lembar muhasabah.
Target jangka menengah! Menikah! Membina keluarga ideal yang jauh dari pertengkaran. Sebuah keluarga da’wah, keluarga Al-Qur’an yang membina generasi-generasi qur’ani. Mapan. Cerdas. Aku ingin, suatu saat nanti menjadi istri yang terbaik dan ibu yang profesional. Aku ingin menjadi ibu yang terbaik. Aku ingin, suatu saat melahirkan dan membina calon-calon pemimpin masa depan yang tak hanya cerdas cara berpikirnya, tapi, berisi dadanya dengan intensitas keimanan.
Huaa...., ideal bukan?

Yah, aku yakin banyak yang memimpikan keluarga seperti ini. Tapi, semua kenyataan diatas membuatku kembali berpikir ulang. Dan pada akhirnya, aku mengambil sebuah konklusi bahwa, tak selamanya sesuatu yang idealita itu sesuai dengan realitanya. Dalam mempersiapkan diri untuk menuju jenjang itu, kita semua juga mesti siap dengan berbagai konsekuensi. Tak hanya yang manisnya, tapi, pahitnya juga.
Satu hal yang menjadi garis bawah dalam pandanganku saat ini adalah, untuk membentuk keluarga yang cerdas dan ideal, mesti BUTUH PERSIAPAN. Tidak bisa hanya sekedar learning by doing saja. Sungguh akan sangat berbeda produk yang dihasilkan dari orang-orang yang sekedar menikah lalu punya anak dan kemudian anaknya besar lalu menikah lagi, dengan orang-orang yang memiliki persiapan dan strategi-strategi tertentu dalam mempersiapkan sebuah bahtera rumah tangga.

Setiap anak yang terlahir keatas dunia ini akan dibesarkan oleh lingkungannya. Dan hampir setiap anak yang lahir kedunia ini mengatakan, ”Ibu saya adalah ibu yang terbaik.” apapun metoda yang diberikannya. Kenapa? Karena, pikiran dan persepsi anak tentu sudah terpola metode tersebut. Dan, tentu saja, semua berawal dari apa yang diterapkan oleh ibunya. Maka benarlah, bahwa ibu itu adalah madrasatul ’ula, sekolah pertama bagi anaknya. Menurutku, : INILAH SAATNYA UNTUK MEMBANGKITKAN CALON PEMIMPIN MASA DEPAN YANG BERADAB DIMULAI DARI PENDIDIKAN ANAK YANG BAIK DARI SEKOLAH PERTAMANYA. Itu artinya, inilah saatnya untuk memperbaiki pola pendidikan bagi calon-calon ibu. Bagaimana seorang calon ibu, mempersiapkan semua itu. Learning! Learning!! Baca....baca........baca..........!!!
Read More

BERBAGI (part 2)

RUMAH SAKIT DAN ORANG TUA

suatu pagi menjelang siang, di Rumah sakit.
setelah mengantri begitu panjang dan berjam-jam, akhirnya aku berhasil menduduki bangku putih berlabel poli penyakit dalam ini. fiufffff... kehembuskan nafas lega. akhirnyaaaa,.. sampai jua di tempat ini. kendatipun masih menunggu antrian tahap dua, untuk memasuki ruang konsul.
kuamati sekeliling, lebih kurang 150 pasien juga 'bernasib' sama dengan ku, menunggu dan terus menunggu.(untung saja aku bawa buku bacaan, pengusir sepi dan jenuh sambil nimba ilmu).

tiba-tiba :
"Hey, orang tua goblok! sudah saya bilang tolong cek lagi ke labor! sana!! mada bana mah! (Bawel banget sih?) " Ucapan perawat itu keras, hingga untuk ukuran ruangan poli penyakit dalam terdengar sangat keras sekali. aku terdongak kaget dari bacaan ku. Masya Allah, seorang nenek tua dengan wajah sangat lelah bercampur marah. Kulihat, ada genangan air disudut matanya.
"awak dek indak mangarati Buk. makonyo awak batanyo" (karena saya tidak mengerti, Bu, makanya saya bertanya)
"
haaa, indak juo mangarati lai??? %$#@#%(^&(###!!!!!" wajah perawat itu sudah merah padam kulihat. sementara nenek tua dihadapannya terpaku. Kasihaaaan.
Bukankah keramahtamahan adalah bagian dari "obat" bagi yang sakit, penawar bagi hati yang gundah. Embun dikala dahaga? Dan, ini sudah sangat fenomenal sekali di Rumah Sakit. Seharusnya Rumah sakit sebagai tempat untuk menyembuhkan, balah mengalami disfungsi. Menjadi tempat penambah sakit!...
bukan hanya kepada nenek itu saja, tapi hampir semua orang mengerutu mendengar ucapannya yang kasar, judes, tak bersahabat, dan bernada berkuasa. Meski ini tak bisa pula di generalisasi karena banyak juga yang ramah-ramah, namun, kebanyakan dari pelayanan rumah sakit umum seperti itu. apalagi mentang-mentang pasien gratisan. Padahal, ASKES wajib itu kan PNS nya pada bayar? yang lebih kasihannya, yang megang ASKESKIN. Mereka 'kenyang' dengan kata-kata yg tak enak utk didengar, dan dirasa dengan sudut hati. enak saja di oper kemana-mana, seperti bola kaki. Tapi, posisi akan berubah 'aman' jika sudah masuk ruang konsul. yahh,... dokternya ramah-ramah siy....

Kulihat, nenek tua yang ringkih itu tertatih berjalan. sangat pelan, dan seolah-olah hampir jatuh. badannya gemetaran. sementara dia datang ke rumah sakit ini sendirian. Ya! sendirian!!! tanpa satupun sanak famili. tanpa satupun yang menemani. bahkan, mata tua itu sudah terlalu kabur utk bisa mebnapaki satu demi satu langkah. aku sangat kasihan sekali melihat nenek itu. ingin kubergerak membantu, tapi, ternyata disekian banyak 'wajah-wajah bringas' berbalut seragam putih itu, masih banyak pula yang menyimpan kelembutan sutera. mereka menuntun sang nenek tua, utntuk kemudian menuju tempat yang ditunjuk dgn wajah masam sang perawat yang tadi marah-marah.

sejenak kutercenung. lama.
kemana anak-anak dari nenek itu? apakah mereka tak peduli, dan begitu tega membiarkan orang yang telah melahirkannya dengan susah payah lalu membesarkannya dengan penuh kasih, mengorbankan segala curahan cinta-Nya ketika mereka tak berdaya dalam gendongan? kemana anak-anak yg dari dahulu dibangga-banggakannya, dicurahinya kasih sayang, bahkan ia rela tak makan asalkan anaknya kenyang??? kemana mereka? terlalu sibukkah dia sampai lupa pada orang tuanya sendiri? atau memang tak peduli sama sekali?

kembali kutercenung. teringat betapa Allah memerintahkan utk berbuat ma'ruf kepada kedua ibu bapak. lihat saja di surah Al-Isra' : 23 - 24. betapa orang tua adalah orang yang harus dimuliakan. kalaupun orang tua menyuruh berbuat yg mungkar dan menyekutukan , maka kita dikehendaki utk tetap berbuat ahsan kepada orangtua, tanpa mengikuti perintah yg dilarang-Nya itu (Qs. Luqman : 15). Sungguh, keredhaan Allah berada diatas keredhaan orang tua.

dalam diam kuterus berpikir, (semoga berfikir dgn mata hati), tentang lembaran memori yg sudah kulalui. Sudah berapa sering aku mengecewakan orang tuaku?sudah berapa lama aku menyertakan dua sososk yg kucinta itu bersama munajah kepada-Nya? sudah berapa srering aku merepotkannya, membuatnya sedih? apa yang baru bisa kupersembahkan utk beliau??

sungguh-sungguh kejadian di Rumah Sakit itu membuat mataku terbuka, bahwa yg kuperbuat untuk orang tuaku pun masih sangat sedikit.

Teman, Maukah kau berjanji bersamaku, untuk tidak lagi mengecewakan beliau??


Read More

BERBAGI

SEKEDAR MELEPAS LELAH

sepenggal perjalanan telah kulalui. begitu banyak hal yang kutemui sepanjang perjalanan ini. namun, terkadang, aku terlalu naif untuk tidak menjadikannya sebagai catatan kecil dihatiku.
yah,... adalah niscaya hidup ini diliput dengan berbagai ujian. ada onak dan cabaran menanti. perjalanan ini tak hanya menyisakan wewangian mawar, namun terkadang tusukan duri.

terkadang, aku memang merasa lelah. benar-benar sangat lelah. namun, ada Allah! yang rahmad-Nya meliput seluruh langit dan bumi. dengan rahmad-NYa, justru kekuatan penawarnya ada;lah lelah. berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi lebih banyak. aku memang harus yakin itu. meski terkadang, kening berkerut, apa rahasia dibalik semua ini??? Maka "boleh jadi apa yang kamu cintai tak baik bagimu dan boleh jadi apa yang buruk menurutmu, adalah yang baik bagimu. Allah mengatahui, sedang kita hanyalah makhluk yang dhaif.
Read More

WISMA, SEPENGGAL KISAH MANIS ADA DISINI…


What is a WISMA????
Wisma???? Banyak orang yang menginterpretasikannya sebuah penginapan untuk beberapa hari saja dengan bayaran yang lumayan jika bepergian dalam waktu yang tidak begitu lama (dapat dihitung dengan hari). Tapi tidak untuk yang satu ini.
Wisma,... bagi kalangan ADK-nya UNAND (universitas Andalas, limau manis, Padang) adalah tempat spesial yang multi fungsi, wisma adalah basecamp dakwah, wisma adalah pusat pergerakan dakwah, wadah perbaikan diri, dan peningkatan kualitas Ruhy, tadzkiyatun nafs...
Ngintip kehidupan di Wisma yuuuk....!!!
Sepintas, rumah-rumah itu terlihat biasa-biasa saja dari luarnya (ya iya lah ya????hehehe)
Tapi, sekali melangkahkan kaki ke pintunya, maka sungguh siapapun akan merasakan biasan lain! Kehidupan yang penuh rutinitas ini memang tergolong sangat langka. Didalamnya ada penghuni dengan berbagai kesibukan, plus ’jam terbang’ tinggi. Apalgai wisma FMIPA yang tak asing lagi dengan istilah pratikum ’every day’. Penghuninya disibukkan dengan berbagai aktivitas. Pagi, qabla subuh, sudah pada bangun, Qiyamullail sampai subuh, lalu bersama berjama’ah ke mesjid yang terdekat. Lalu, lagi-lagi disibukkan dengan aktivitas dan rutinitas. Tilawah, mandi, nyuci, masak, and ada juga yang udah siap-siap mau berangkat ngampus or rapat. Lalu pulang sore, atau lebih tepatnya maghrib (untuk akhwat), dan mungkin menjelang tengah malam (bagi ikhwan sibukers). Terlihat biasa-biasa saja ya?? Tunggu dulu!!!
Ada dimensi lain disini!!!
Aku sebagai penghuni barunya cukup tergelitik untuk menuliskan ini semua. Benar-benar kehidupan yang menakjubkan. Disini, ibarat rumah tangga sebelum rumah tangga sebenarnya. Kenapa?? Begitu banyak alumni wisma yang ’segala bisa’. Aku menemukan berbagai macam hal-hal positif disini. Soal manajemen rumah tangga dulu, mulai dari ngatur bayar uang listrik, telpon, piket, logistik dengan pj2 tersendiri. Soal kemampuan masak (= latihan masak). Dulu aku termasuk orang yang sama sekali tak bisa memasak. (karena semenjak tamat SD sampai SMA di besarkan di lingkungan asrama yang notabenenya selalu siap saji (di sajiin uni-uni atau mbak2 yang masak di dapur asrama, hehehe). Disini, aku mulai belajar memasak. Awalnya Cuma goreng tahu, telor, kentang, seiring dengan perkembangan dan pematangan di wisma ini lah aku mulai-mulai mencoba bikin gulai, rendang, dsb. Bahkan, seorang senior yang benar2 ’buta’ soal memasak sekarang dah bisa bikin gulai kalio ayam yang lezat. Hmmm.... enak ya????
Soal bascamp, apapun kegiatan dakwah, info paling up to date ya di wisma!!! Karena, memang disini basic pergerakan dakwah itu sendiri.
Soal ukhuwah,... jangan ditanya lagi! Hmmmm... Indaaaahhh banget!!! Dijamin mutu!!!!! Mulai dari makan se-talam berempat (hehehe), (anekdotnya : saketek cukuik banyak habih)... ROHIS bareng (semacam kajian islam yang dilakukan ba’da Isya, yang menambah ilmu, mengokohkan ukhuwah, dan tentu saja, sharing dan saling berbagi and menguatkan). Disini bukan hanya buat yang ahli masak, tapi, juga ’kamar produser’ pamflet-pamflet kegiatan di kampus, dan tempat rapat paling kondusif (diiringi penganan plus air mineral doang biasanya, kalo’ rapatnya sesama akhwat aja nih yaaa!!! Or sebaliknya)
Disini, ditemukan indahnya persaudaraan, saling berbagi perhatian. Jika yang satu dapet masalah yang lain ikut memikirkan. Jika yang satu dah buru2 pergi karena ada rapat ini itu hingga ga sempat walau hanya sekedar nge-jemur kain yang laen ikut nge-jemur pakaian saudaranya tadi walaupun tanpa di mintai tolong, subhanallah.. Hmmm,.... indah.
Disini, juga saling tadzkiroh, saling mengingatkan. Menyemangati kalo’ kualitas ruhy lagi turun. Dan tentu saja bersama2 meningkatkannya.
Disini ’tempat subsidi silang yang kereeeen’, ga ada separasi antara kaya dan miskin. Kalo’ berkecukupan, yaaa bantu yang ga berkecukupan. 

Di sini juga tempat tinggal paling ngirit! Why??? Bayangkan!!! Setahun Cuma bayarv uang sewa rumah Rp. 600.000,- kalo’ di itung per bulan, berarti Cuma Rp. 50.000,- (murah kan?), trus, uang makan (lauk dan sayurnya) Cuma Rp. 2.500,- per orang per hari, duit telfon Cuma bayar abodemen Rp. 5.000,- /bulan/orang (telponnya di kunci, jadi buat nerima aja), listrik Cuma Rp. 10.000,- per orang per bulan. Kalau dihitung-hitung, untuk kebutuhan satu bulan (di luar kepentingan kuliah niy yaa??), Rp. 50.000 + 75.000 + 10.000 + 5.000 = Rp 140.000,- Subhanallah!!!!
Cuma dengan Rp. 140.000 kita dah dapat ’hidup’. Kalo’ kebutuhan kuliah (foto copy, internet, rental, dll), kira-kira Rp.60.000, maka dengan Rp.200.000,- saja kita sudah bisa ’hidup’ disini. Kalo’ dibandingkan dengan ’hidup sendiri’ di kos, jauh lebih murah tentunya!!!
Terlepas dari hitung-hitungan angka2 bermata Rupiah di atas, maka sesungguhnya yang paling indah disini adalah ukhuwahnya. Indaaaaa...h banget. Disini ditemukan forum2 diskusi yang insya Allah nambah ilmu, shalat berjema’ah di awal waktu bersama-sama, tilawah berbarengan, balapan ngafal Al Qur’an, shaum sunnah bareng, dan treaining kedewasaan tentunya... sungguh ini adalah kebahagian yang tak adapat dibeli dengan Rupiah, ataupun dollar sekalipun.
Masih ragu untuk masuk wisma????? Tanya kenapaaaaa!!!!
special : dipersembahkan buat akhwat-akhwat Syakuro (Ni Rini yang care and pinter masak yang sering mengingatkan ana, syukran un. Ni Reni yang lembut dan dewasa banget, syukran ya Un atas perhatian yang uni berikan. Ni Lu’, teknisinya syakuro, syukran atas ilmu2 yang Ni’Lu’ berikan, sungguh indah hari2 yg qta lalui ya??? Trus, buat Ratih, soulmate the later my roomate, teman sekamar yang pinter,kritis and maskulin, hehehe. Buat Dhy, kendatipun qta sama2 suka telat masuk lokal and sama2 tlat dapet info2 apapun, tapi, syukran atas smua kebaikannya, beliin ane coklat, ngopiiin bahan kuliah, dima ka di cari kawan sa elok ko lai koh??). untuk Lilis yang perassaannyo dalaaam banget, afwan jiddan Lis, banyak kata yang salah yang terucap kpd Lilis, qta sama2 jaga hati ya ukht??. Untuk Titi, temen bacakak ane, hehehe, Titi yang bawaannya jutek kalo’ lagi becanda, tapi, sebenarnya baik hati banget sama ane. Mega, yang cuek cuek tapi perhatian, tegas, (kok bisa sih Ga???), Ni’Dian E, figur yang penuh keteraturan (ini yg ane salut banget sm Ni Dian), prinsipil and pinter juga. Ni Marwit, Miss Jeng, yang dah di wisuda, si cantiknya Syakuro, kapan walimahan nih Un?? Kami ga sabaran mau jadi panitia nih, heheheh) Smua akhwat2 yang bersama akhwatifillah semua, ana merajut hari-hari indah. Syukran, jazakillah atas semua perhatian dan ukhuwah yang akhwat curahkan kepada ana (yang masih sering down nya, sering egoisnya, ’afwan jiddan) bukan kah hidup itu adalah proses ya??? Mudah2an kita berkumpul disini, akan mengantarkan kita berkumpul di Jannah-Nya kelak.
Read More

Buku Tamuku

Assalaamu'alaykum Warohmatullaah Wabarokaatuh...




Terima kasih sudah mampir di blog (curhat) aku. Hehe...
Jangan lupa, tinggalkanlah jejakmu di sini...
Mudah-mudahan kita bisa saling bersilaturrahim walaupun hanya lewat duni maya ^_^

Terima Kasih...
Jazakumullahu khoiran Katsir...
Wassalaamu'alaykum warohmatullah wabarokaatuhu




Best Regard

Fathel Ummu Aafiya
Read More

JENAK-JENAK KEHIDUPAN
By : ipi_tyf

Kehidupan. Seuah kata sederhana yang amat sarat makna. Seperti apakah kita menamakansebuah hidup itu? Seperti apa warnanya hidup itu? Hijaukah? Jingga kah? Atau violet? Apapun itu, yang jelas setiap kita punya lukisan kata sendiri untuk menamainya.

Hidup. Mari sejenak menelik kembali masa2 dari segenap cuplikan episode kehidupan kita. Ya, kehidupan kita sendiri. Bukan orang-orang disekeliling kita. Seberapa panjangkah jalannnya? Seberapa beragamkah warnanya? Barangkali kita telah melukis sejuta warna, bukan?

Saudaraku,
Dahulu kita adalah calon masinis atas kereta yang saat ini tengah kita kendalikan saat ini. Barangkali, keterbatasandan kedhaifanlah yang membuat kita tak tahu bahwa ternyata kita dahulu berkompetisi. Ya, berkompetisi. Hanya untuk sebuah kereta kehidupan.

Saudaraku,
Barang kali kita juga lupa bahwa setelah salah satu dari sekian banyak pesaing-pesaing yang ikut berkompitisi, ada satu pemenangnya. Siapa? Yaitu kita sendiri! Ya, kita adalah pemenang kompetisi itu! Seyogiyanya sebagai pemenang, tentu ada banyak hal yang menjadi ’tuntutan’ untuk kita.

Sebelum kereta kita melaju, kita tentu telah membuat kontrak terlebih dahulu dengan Sang Pemilik Kereta, sang Penentu Nasib Kereta. Karena kita bukan pemilik penuh atas kereta itu. Kita hanya masinisnya. Kontrak itu adalah ketika kita bersaksi bahwasannya hanya Allah lah sembahan kita. (ingat janji kita kpd Allah telah dinyatankan-Nya dg terang di Al Qur’an)

Lalu, peluit pun dibunyikan. Pertanda kereta siap berangkat. Apakah itu sepuluh tahun yang lalu, dua puluh tahun yang lalu, tiga puluh, atau bahkan mungkin seratus tahun yang lalu kita mulai berangkat dari stasiun awal.

Saudaraku,...
Hari ini,.. kita adalah masinis kereta yg kita kendalikan ini. Akan kita bawa kemanakah kereta ini? Sedang diperjalannya begitu banyak potret yang kita temui. Lihatlah, jalan yang kita tempuh itu bukan hanya lurus saja, bukan hanya datar saja, dan tentu saja bukan hanya terang saja. Terkadang, ada tanjakan yang kita lalui, ada terowongan gelap yang membuat kita sulit meraba, ada cadas yang menghadang barangkali. Ah, itu adalah niscaya bukan? Sebab, kalau tidak dengan begitu, perjalanan ini tak pula indah.

Namun, kereta yang kita bawa ini telah ditentukan dimanakah stasiun terakhirnya? Akan seperti apa kita nantinya berhenti distasiun? Atau, apakah kita menjadi salah satu sejarah dimana kereta kita berujung di jurang terjal.

Ya, kitalah yang merancang akan bagaimana kita sampai distasiun nanti. Akan dengan mulus dan happy ending? Atau, dgn tabrakan atau Sad ending? Setidanya, kita telah dimodali oleh rambu2 jauh sebelum keberangkatan kita dahulu. Rambu yg jika kita tak mematuhinya, akan menggelincirkan kereta kita ke jurang. Rambu yang jika kita patuhi, insya Allah akan mengantarkan kita ke stasiun dgn selamat.

Ya,... suatu saat, PASTI! Pasti kita akan menemui stasiun kita masing-masing. Stasiun yang akan menentukan nasib kita setelah itu. Sebab, ternyata, kereta yang kita tumpangi dan kita kendalikan ini hanya sepenggal perjalanan singkat. Kita hidup, ternyata bukan untuk perjalanan di kereta sesaat saja sampai kita menemukan stasiun. Tapi, ada tujuan kita setelah elewai stasiun itu bukan?ya, mulai dari sekarang, kitalah yang merancangnya!
Read More