30 Januari

30 Januari

Tidak ada yang berbeda antara 30 Januari dengan segenap tanggal-tanggal lainnya.
Toh, ia nya bukanlah hari yang perlu perayaan. Pun bukan juga hari istimewa (bahkan bagiku). Ia, juga bukan hari yang perlu diperingati.

Sejatinya, setiap hari…setiap detik, setiap menit, tetaplah sebuah pertambahan usia yang berbanding lurus dengan pengurangan jatah hidup. Siapapun. Bukan saja aku. Juga kau. Kita. Dia. Mereka. Tidak perlu ada momen special untuk memperingati kelahiran! Seperti kelahiran ini juga, dengan persalinan normal seorang bayi mungil yang hanya dengan berat 2,25 kg di sebuah bangsal rumah sakit yang pernah menderita kekurangan gizi ini. Tidak. Sungguh tidak perlu sama sekali sesuatu yang berbeda untuk momentum pertambahan umur. Sebab setiap hari-hari kita, adalah pertambahan umur. Aku dengan rutinitas biasaku. Seperti hari-hari sebelumnya juga.

Hanya saja… kemudian semakin kusadari, bahwa WAKTU adalah SUMBER DAYA yang TIDAK DAPAT DIGANTI! Tambang berbagai jenis logam mungkin adalah sumber daya yang tak dapat diperbarui, akan tetapi ia dapat diganti. Berbeda dengan waktu. Ia sungguh adalah sumber daya yang sama sekali TIDAK DAPAT DIGANTI! Bahkan kita tidak sedikitpun bisa punya keyakinan, bahwa waktu yang kita punya APAKAH MASIH DAPAT DIPERBARUI? Ataukah, berakhir sampai di sini saja? unpredictable!

Karena waktu adalah sumber daya yang tidak dapat diperbarui, dan juga di daur ulang, maka kita hanya punya satu jenis pengolahan sumber daya ini. Hanya bisa mengenangnya. Hanya bisa menghitung-hitungnya. Tentang segala masa yang telah berlalu. Apakah memang sudah diisi dengan amalan terbaik?? Apakah sumber daya ini sudah digunakan dengan keoptimalan upaya? Ataukah, hanya kesiaan belaka. Hanya kelalaian. Hanya senda gurau belaka?

Dua puluh empat tahun, masa berlalu. Dua puluh empat tahun sudah Allah pinjamkan masa. Dua puluh empat tahun sudah, Allah percayakan amanah sumberdaya waktu untuk diri ini. dan sungguh, masih banyak yang perlu dibenahi. Masih terlalu banyak, bahkan sangat banyak rombengannya. Masih terlalu banyak yang harus ditambal…

Berbenahlah wahai diri!
Tak malukah kau, menghadap Rabb-mu dengan segala kerombengan yang kau punya?
Tak malukah kau, berjumpa Rabb-mu dengan segala tambalan-tambalan yang belum kau perbaiki?


“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, dan pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
(Qs. Maryam : 33)
Read More

39 Jam Malala

Hehe, menghabiskan sisa-sisa umur 23 dengan malala. Hihi, enaknya masih pengangguran yah ini. Bisa malala, suko ati. Hehe. Di penghujung usia 23 menuju dua empat ini, kuhabiskan dengan mengunjungi setengah daerah Sumbar. Hee… Tujuan pertama adalah Batu Sangkar, kota budayanya Sumatera Barat. Bukan menuju Pagaruyuang, tapiii, untuk menyaksikan seorang hafidz Al Qur’an, melepas status lajangnya, menggenapkan setengah agamanya, menuju keluarga barokah insya Allah. (*hmm…lumayan nih, dijadikan inspirasi…hihihi…). Masya Allah, lantunan Ar-Rahman yang begitu menggetarkan. Membuat wajah-wajah tertunduk dengan genangan air mata. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

"Barokallaahulaka wabaroka ‘alayka wajamaa bainakumaa fii khoir…."

Episode Batu Sangkar, juga dalam rangka melepas gelegak rindu pada akhwatifillaah…pada orang-orang yang menempati range partama dalam lokus cinta dan ukhuwah di hatiku. Masya Allah…sungguh, ukhuwah itu lebih mahal harganya dari bumi dan seisinya.

Lalu, tujuan kedua adalah…Bukttinggi. Kota wisatanya Sumatera Barat. Menghabiskan malam di kota ini. Cintaku masih sama untuk kota ini. Bahwa, sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku telah jatuh cinta dengannya. Dengan suasananya. Kembali mengulangi kisah hampir setahun silam. Saat PKP di Kota ini. kembali menapaki jalan-jalan itu. Gang-gang itu. Bertemu ibu-ibu karyawan rumah sakit, tempat aku praktek dahulu.

Kemudian, perjalanan selanjutnya adalah Padang. Kali ini, lokusnya berbeda. Bergabung dengan IKAHI cabang Tanjungpati, yang menyambangiku tepat di depan RSSN Bukittinggi. Wait….wait….IKAHI? hihi, ternyata, jadi satu-satunya anggota IAI dalam lingkungan IKAHI bikin aku kaya’ orang bego’. Abisnya…., sama sekali aku tidak mengerti istilah-istilah yustitia itu. Ribet. Riwueh. Apaa sih??! Hee… Yaaa iyalaaah yah, masa sih bisa mengerti istilah-istilah aneh begitu yang hanya bisa dipahami orang hukum?! Kemudian,nekadnya, aku jadi salah satu participant dalam acara pertemuan IKAHI itu. Waah, untung ajah tidak ada razia di sana. Hihi.

Setelah ikutan acara IKAHI (yang sama sekali sulit kumengerti itu, dan sepertinya aku tak perlu membiarkan otakku mencerna istilah-istilah yurisprudensi macam tuh),aku menuju Pasar Baru tercinta, tempat yang penuh kenangan. Ciaaaaah…, kaya yang udah lama gak ke Pasarbaru ajah. Hihi. Di Pasar Baru, alhamdulillaah, berjumpa lagi dengan akhwat2 Padang (huwaaaa, kangen pisan, ngumpul sama akhwat2 di Padang lagi!). Bersama para akhwat FISIP, dan juga farmacy, menuju RS. Yos Sudarso.

Asyar….aku kembali ke peraduan. Hehe, pake peraduan segalaaaa. Sembari menunggu bus kota menuju Pasarbaru (yang hingar bingar full music #sangatmenyebalkansekali# itu), aku menyaksikan sekawanan anak SMP-SMA yang terlibat tawuran di jalan Perintis Kemerdekaan. Mereka berteriak-teriak, berlari-lari. Huwaah….! Ngeri juga ngeliyatnya.

Pulang, akhirnya bergabung kembali dengan kontingen IKAHI. Kali ini bukan cabang Tanjungpati lagi. Melainkan IKAHI Cabang Solok. Hihi. #jaditukangnebeng#. Hmm…baru tahu aku, ternyata, hakim-hakim muda yang kelihatan jaim dan begitu berwibawa, kalo sudah sesama mereka, ngocolnya gila-gilaan yah?! Hihi. Tak sangka aku, sebegitu ngocolnya mereka. Justru aku, yang kemudian jadi makhluk paling pendiam di sana. Halaaaah!! Hihi.

Seperjalanan pulang, HP (bututku) kehabisan batrai. Sejak sore itu sih sebenarnya nafasnya udah tinggal satu-satu. Huufftt….sudah begitu kasihan aku sama HP itu. Sudah soak. LCDnya saja sudah pecah. Sering error. Sering mati sendiri. Sering suka ganti-ganti nama orang! Tapiii, Alhamdulillah sih, masih bisa dipake bwt SMS, bwt nelpon. Hee… Ntar, kalo sudah gajian, aku pengin beli HP baru aaah. Yang bisa internetan, ngapload tulisan dan photo di blog. Yang ada konekting sama blognya. Biar ndak perlu nunggu OL di kompi dlu baru bisa ngeblog. Tapiiii, pertanyaannya, gajiannya kapaaaaaaaaaaaaaaaan?! Wong, kerja aja beloooom. Hihi. Yaah, kapan Allah kasih kesempatan aja dah. Sekarang aku lagi pengin menikmati hidupku yang sekarang. Seperti apa adanya saja. hehe.

Alhamdulillaah, tepat tiga jam sebelum tanggal 30 Januari 2011, aku sampai di rumah dengan selamat, tak kurang satu apapun (hee…kayak korban kerusahan aja, sampai ada anggota tubuh yang kurang segala. Hihi). Setelah 39 jam malala ituuu, langsung teparrrrrr…zzzzzzZZZZZ….%$#@*&^($

Cukup sekian cerita-cerita tak penting dariku. Mungkin tidak ada yang bisa kaubawa pulang. Tak pula ada hikmahnya. Dan bahkan tak perlu pula kau baca. Karena, aku hanya ingin mengahanyutkannya saja, menuju muara blog. Hihi.
Read More

Los Daging Ayam dan Dilemanya

Dahulu, setiap kali ke pasar dan menuju los penjual ayam, sering kali kebimbangan menyelinap di hati. Tentang kerja-kerja mereka. Hmm…jangan bilang pula aku sedang khawatir dengan flu burung. Hehe, tidak laaaahhh. Kan insya Allah skarang sudah aman. Hanya saja, aku sangat suka sekali memperhatikan apa yang orang lakukan. Detil. Seksama. Apalagi itu menyangkut dengan hal yang sangat krusial dan menyangkut ke-halal-an makanan yang dikonsumsi. Betapa tidak, makanan adalah hal yang sangat riskan. Baik di segi kesehatannya dan terutama dengan ke-halal-annya. Halalan thayyiban.

[OOT : makanya aku sering heran dengan orang-orang yang menghalalkan segala cara semisal hanya untuk dapat kursi PNS. Issue nepotisme itu cukup santer di daerahku. Katanya sih, banyak yang nyogok dan ada juga yang minta bantuan Pak Bupati untuk bisa lulus. Aku tidak punya kapasitas dan juga tidak punya evidence base medicine untuk mengklaim berita tersebut benar atau salah. Dan, aku juga tak hendak menyalahkan siapapun sebelum ada bukti yang jelas. Hanya saja, jika itu benar, apakah tidak khawatir para pelaku itu dengan makanan yang mereka berikan untuk anak-anak mereka? Okelah, mungkin baik (thayyiban), tapi, cara memperolehnya, apakah sudah “halalan”? Dan bayangkanlah, makanan itu yang terus mengalir di sekujur tubuh sepanjang hidup…]

Back to topic, tentang los penjual daging ayam. Entahlah, mungkin ini luput dari perhatianku. Ataukah aku yang tidak mendengar ucapan mereka. Sebab, sering kali, ketika menyemblih, tak terlihat dari gerik bibir mereka ucapan “Bismillaah”. Mereka menyemblih dengan gerakkan cepat, dan terlihat tanpa menyebut nama Allah. Atau, mungkin mereka menyebutnya dalam hati. Mungkin. Tapii, kan bagi kita—para pembeli—itu menjadi sebuah tanda Tanya dan keragu-raguan. Hayoo….yang lain, mungkin pada mikir hal yang sama kali yah? Hihi.

Read More

Hot Issue di Media Massa

Nonton*
Hmm…sering kali aku “malas” untuk menonton berita meskipun berita adalah siaran favoritku. Lelah saja jiwa ini rasanya melihat pemberitaan yang negative melulu. Pemberitaan yang isinya kebanyakan adalah kemelut-kemelut panjang yang melanda negeri ini. Pemberitaan yang mengisahkan bahwa semakin bobrok dan semakin bobrok saja para pemain dan pelaku yang duduk di ‘kursi panas’. Dari satu kasus, lalu issu berpindah ke kasus lain. Begitu terus dan terus begitu. Memang, keganjilan adalah sesuatu yang layak dan menjadi menarik untuk disuguhkan menjadi sebuah hot news. Tapii…, jika setiap hari disuguhkan dengan ke-negatif-an dan berita-berita yang semakin menjatuhkan negeri ini, maka, secara tak langsung meng-influence masyarakat untuk ikut-ikutan.

Bisa jadi, berita tentang KKN dan pemberantasannya yang digaung-gaungkan hingga ke pelosok, secara tak langsung –bagi sebagian kalangan—justru menjadi mediator tumbuh suburnya. Mereka seolah mendapat inspirasi untuk melakukan hal yang sama, yang bisa saja sebelumnya tak terpikirkan. Atau, pemberitaan mengenai sengketa pemilihan gubernur, hingga pemilihan pak Kades, berikut aksi-aksi anarkis para pengusung yang tak puas, semakin menginspirasi yang lain untuk melakukan hal yang sama. Kemarin, aku sempat menonton berita tentang sengketa pilkades (pemilihan kepala desa) hanya karena pak calon kades dari dusun mereka kalah. Wah…wah…, pemilihan pak Kades saja, aksi anarkisnya hampir sama dengan sengketa pilgub. Masya Allah. Belum lagi kasus tawuran yang seperti terinspirasi dari kampus lain. Juga dengan issue geng motor, yang berjamuran di berbagai daerah karena terinspirasi dari daerah lainnya, yang persariannya dibantu oleh berita, barang kali.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa issu tersebut harus disembunyikan dan tak layak untuk dipublikasikan. Bukan! Bukan demikian. Apalagi dengan era kebebasan informasi saat ini. Hanya saja, aku heran, kenapa pemberitaan mengenai hal-hal yang positif dan baik, mengenai prestasi-prestasi, mengenai inovasi-inovasi baru dan hal semisalnya tidak menjadi hot issue pula yang layak disuguhkan kepada pemirsa? Apakah negeri ini yang terlalu miskin prestasi sehingga para pemburu berita sulit menemukannya? Kurasa tidak. Sesungguhnya, banyak juga prestasi-prestasi yang diciptakan oleh negeri ini, baik di tataran pemerintah maupun rakyatnya. Ataukah, karena hal tersebut dianggap sudah seharusnya terjadi dan tidak perlu ditampilkan di halayak? Tapii, bukankah dengan menampilkan hal-hal yang baik, prestasi-prestasi insya Allah juga akan menginspirasi dan meng-influence masyarakat lainnya untuk dapat berprestasi pula?

Semisal, tentang gubernur yang memiliki inovasi baru. Bupati yang anti korupsi dan langkah-langkah yang diambilnya. Kerukunan antar warga yang kemudian menciptakan kehidupan yang damai berdampingan. Atau, para pejabat yang tidak menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi. Masih banyak lagi, sebenarnya prestasi-prestasi dan capaian-capaian yang sebenarnya layak dijadikan contoh, dan layak untuk diapresiasi. Mungkin sepintas terlihat biasa-biasa saja, tapi, bukankah itu semua juga sebuah prestasi, selain prestasi yang sifatnya sebuah penemuan ataupun bidang akademis? Selain itu, dengan pemberitaan, insya Allah, juga akan menginspirasi masyarakat untuk lebih berprestasi lagi. Tidak melulu berita korupsi yang malah menginspirasi orang lain untuk ikut-ikutan korupsi. Allahu’alam.

----------------------

sumber gambar : di sini

Read More

Curhat-Curhat Mereka [part 2]

Melanjutkan curhat-curhat terdahulu, dengan topic yang berbeda. Kali ini tentang mimpi dan obsesi. Aku senang sekali bertanya pada murid-muridku tentang mimpi yang mereka bangun. Tentang cita-cita mereka. Tentang seperti apa lukisan masa depan yang mereka ukir. Kutanya satu persatu mereka, hendak menjadi apa, dan ingin kuliah di mana. Dari mereka, aku kemudian belajar dan tahu, tentang penitipan sebuah obsesi besar yang menjadi bom waktu bagi sang anak. Masya Allah…

“Melati, Badu, nanti mau jadi apa?” (anggap saja namanya begitu yah. Hehe. Seperti yang kubilang di tulisan yang sudah-sudah. Aku tidak ingin menyebutkan nama siapapun, instansi manapun, di tempat apa pun. Karena aku hanya ingin berbagi wacana. Bukan menghujat atau menjatuhkan seseorang atau pun suatu instansi)
“Ng…mama maunya aku kuliah di bidang kesehatan, Kak. Padahal, aku sangat tidak mau.”
“iya kak, mamaku juga sama. Maunya di bidang kesehatan. Bidan kek, perawat kek. Soalnya, kata mama, lapangan pekerjaannya banyak di sana. Tapiii, aku tidak suka. Pekerjaannya sibuk sekali. Kakakku yang tertua seorang perawat, yang hampir-hampir tidak punya waktu buat anak mereka. Aku tidak mau seperti itu.”
“Menjadilah apa yang kalian mau, insya Allah kalian akan optimal dan menjadi yang terbaik di bidang itu.” Kataku.
“Tapi kak, nanti mama jadi marah. Kata mama, orang tua itu selalu benar! Jadi harus ikut kata-kata orang tua. Kalau tidak ikut, nanti kualat.”

Masya Allah…

Tercenung sangat lama aku mendengar kisah-kisah mereka. Aku yakin, tidak sedikit orang tua yang melakukan hal yang demikian pada anak-anak mereka. Aku tahu, pastilah orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi….hanya salah memilih cara.

Sebuah penitipan obsesi. Sebuah harapan social yang membebani. Bahkan, sebuah pengharapan yang dibahasakan saja, akan begitu menekan jiwa sang anak tanpa si anak dan orang tua sadari. Apalagi disertai ancaman, "nanti kualat", dan "pandangan orang tua selalu benar"!

Read More

Curhat-Curhat Mereka [part 1]

Hmm…beberapa waktu lewat murid bimbelku bercerita a.k.a curhat padaku tentang banyak hal. Hee…tentu saja aku tidak akan mengumbar rahasia-rahasia mereka, tentang siapa mereka dan di mana sekolah mereka. Aku hanya ingin berbagi saja. semoga menjadi sebuah wacana bagi siapa saja yang nyasar (aku katakan nyasar, sebab pagerank dan visitor blogku umumnya dan kebanyakan hanyalah orang-orang yang nyasar dari engkong gugel yang sedang mencari sesuatu yang mereka butuhkan. Hehe. Jarang sekali ada orang yang menyengajakan diri untuk berkunjung. Mungkin hanya beberapa orang. Dan itu pun tidak banyak. Hoho).

Murid bimbelku itu bercerita tentang motivasi belajar mereka. Mereka adalah murid-murid cerdas yang menempati kelas paling unggulan (hmm….apa sih namanya, RSBI yah…rintisan sekolah bertaraf internasional?) di SMA negeri paling terbaik di sebuah kabupaten X. Hanya saja, cerita menjadi berbeda ketika terkuak mengenai kondisinya. Bahwa paradigma nilai adalah segala-galanya sehingga segala cara dihalalkan untuk mendapatkan nilai tersebut.
Read More

Nge-Blog bareng PEC : Menikmati Menulis

Hmmm....menulis?
Hee....sebenarnya aku dari jaman-jaman masi imoet dulu (syaaelaaaaah...hihi ), sejak SD lah, sudah djatoh tjintaa sama yang namanya dunia kepenulisan. Hihi... Walaupun siih, sebenarnya tulisannya belon bisa dibilang bagus. Hehe. Tapi...nulis..yah nulis ajah. Pokok'e nulis. Gituuuuh....

Masi lekang di ingatan, cerpen pertama dulu (yang sekarang entah di mana rimba dan hutannya ...hihi) berkisah tentang Puasa. Dapet apresiasi dari orang tua.. Huwaaah, seneng bet dah! Sejak itu, termotivasi bet buat nulis. Nulis apah ajah. Puisi kek. Cerpen kek. Opini nek (dari tadi 'kek' melulu, 'nek' juga dong ah, biar nenek gak ngambek. hahaha....ngaur!). Apaah ajaah pokok'e (asal jangan karya tulis ilmiah yang bribet-bribet geetooh. Kalo ini mah ampyuuuuun....angkat kaki eh..tangan saia ! hihi)

Read More

Just Not Follow the Flow

Seperti air mengalir

Sebuah kata-kata klise, “Jalani hidup seperti air mengalir.”
Hmm…dalam beberapa sisi, aku kurang sepakat dengan hal ini. Sebab, dengan menjalani hidup seperti air mengalir, itu sama artinya dengan hidup dengan apa adanya saja. Di manapun dunianya, apakah di perkampungan, di kota megapolis, di mana pun, air tetap akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Dan itu sama saja seperti kebanyakan.

Sementara, dengan sebuah energy, air dapat dialirkan dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Air dapat mengalir dan memanjati gedung pencakar langit bahkan hingga ke tingkat tertinggi sekalipun. Dengan demikian, menjadi berbedalah ia. Kemudan, menjadi mahal pula harganya. Satu kata kuncinya, bahwa untuk itu semua…ada energy!

Sungguh, Allah tidak akan merubah nasib kita hingga ada upaya dari diri kita untuk merubahnya. Untuk merubah, perlu energy. Dan itulah energy yang menaikkan air dari sumur artesis hingga ke puncak-puncak gedung megah menjulang.

Kemudian, tiada yang meleset dari ketetapan-Nya. Segala kejadian telah tercatat. Dan semuanya telah dibukukan di lauh mahfudz. Bukan berarti dengannya, menjadi sebuah alasan untuk berlalai-lalai karena segalanya telah tercatat. Ini soal ikhtiar dan munajah yang berjumpa dengan catatan iradat-Nya pada sumbu ordinat kehidupan.

Hmm….barang kali bukan kapasitasku (yang bahkan tak berilmu ini) untuk membahas masalah takdir ini. Pada zaman Rasulullah sendiri, masalah takdir adalah masalah yang sulit untuk diperdebatkan. Sahabat cendrung membahas yang dzahir-dzahir saja.

Dari Biografi Umar ra, kita ketahui pada zamannya kekhalifahan beliau, ada yang mencuri, lalu dihadapkan kepada beliau. Umur bertanya, kenapa mencuri. Dijawab oleh si pencuri, bahwa ini takdir Allah. “Aku mencuri karena Allah yang mentakdirkan aku mencuri.” Lalu Umar memukulnya 80 kali + 20 kali. Sang pencuri serta merta complain arena kan hudud untuk mencuri itu 80 kali pukulan. Umar menjawab, “yang 20 lagi itu takdir Allah.” (hee….rumit yah?)

Tentang firqoh-firqoh dalam aqidah Islam…dalam hal takdir ini…ada penyikapan makna yang berbeda. Hanya saja, ini dalam hal furu’iyah saja. Bukan hal-hal pokok yang sampai menyalahi akidah pula. Tentang dua pemahaman dan penyikapan terhadap takdir. Jabariyah dan qadhariyah. Jabariyah yang memahami bahwa manusia hanya menjalankan kehendak Allah. Semuanya telah Allah tentukan, dan manusia hanya tinggal menjalankan. Jika pun ia berusaha, maka ia telah ditakdirkan untuk berusaha. Misalnya, kenapa tidak dapat ujian? Karena tida berusaha. Nah, tidak berusahanya manusia ini telah Allah takdirkan. Sementara di qadhariyah, adalah antithesis dari jabariyah, memahami bahwa segala yang terjadi itu, karena ikhtiarnya manusia ada di sana. Istilah ekplisitnya, tidak ada “intervensi” dari Allah.

Semoga kita tak terjebak dengan sesuatu yang kita tak punya ilmunya yah. Maaf, sejujurnya pun diriku belumlah memiliki ilmu dan sama sekali tidak punya kapasitas untuk membahas hal ini. Semoga kita tidak termasuk orang yang mencoba memahaminya tanpa ilmu. Intinya, memang harus belajar lagi. Bukan memahami dengan letterlet saja ayat-ayat tentang taqdir. Bukan pula dengan penafsiran dangkal yang menyebabkan penyikapan maknanya pun menjadi dangkal. Untuk ini, aku belumlah memiliki ilmu. Sama sekali tak berilmu malah! Hanya saja, karena ini berkaitan dengan membiarkan hidup seperti air mengalir, ataukah energy itu harus diupayakan?

Ah, tapiii…mungkin kita (terutama aku) perlu memahami tentang hal ini. Bahwa ada wilayah Allah di mana Allah telah catatkan, Allah telah bukukan setiap kejadian, dan tentang iradat-Nya. Dan juga ada wilayah manusia di mana Allah berikan bekal dan potensi fikiran untuk melakukan ikhtiar. Wilayah manusia adalah wilayahnya ikhtiar.

Jika kita terjebak dengan pemahaman bahwa segalanya adalah wilayah Allah, dengan menisbikan ikhtiar manusia, lantas buat apa Rasulullah berda’wah. Buat apa kita perlu menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, jika pada akhirnya semuanya tegak dengan sendirinya? Dan bukankah dalam islam tidak ada yang namanya shalih secara pribadi saja? Sebaliknya, jika kita terjebak dengan pemahaman bahwa segalanya adalah karena ikhtiar kita, lalu di mana campur tangan Allah sedang kita adalah orang-orang yang mempercayai takdir.

Bahwa semestinya, harus ada ikhtiar yang optimal dulu dari manusia. Jika memang hasilnya belum sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka itulah takdir. Yang jelas, apapun itu, tiadalah yang sia-sia. Perhitungan Allah Maha Teliti. Segala ketetapan-Nya adalah keputusan terbaik. Tapi, setelah iktiar-ikhtiar yang kita lakukan. Karena, di sanalah terletaknya nilai. Allahu’alam.

Jadiii…
Sesungguhnya yang perlu kita (terutama diri ini) lakukan adalah…berupaya dan mengupayakan yang terbaik dalam setiap kisi hidup. Perkara hasil, kita serahkan pada Allah semata. Tiada yang sia-sia. Tiada yang kebetulan. Sesungguhnya segala-Nya adalah kebenaran. Sesungguhnya segalanya adalah ketetapan-Nya, setelah ikhtiar-ikhtiar terbaik dan yang paling optimal yang kita lakukan.

Hayuuu….hayuuu…let’s give an energy, just not follow the flow.
Read More

Kebahagiaan dan Hubungan Sebab Akibat

Tawa bahagia
Alkisah…di suatu negeri, hiduplah sebuah keluarga kecil yang dinilai sukses oleh kebanyakan masyarakat. Kesuksesannya santer hingga ke pelosok-pelosok dengan usaha bisnisnya yang maju pesat! Tak tanggung-tanggung. Omsetnya mencapai belasan juta perhari. Paling rendah sekitar tujuh jutaan. Sebuah usaha bisnis yang maju sangat untuk ukuran sebuah kabupaten pemekaran.

Siapa pun menilai ia sukses.
Tapi, banyak orang yang tidak tahu, bahwa sesungguhnya bisnis itu, bagi pelakunya hanyalah sebuah cara mengalihkan rasa sesak. Hanya sebuah pelarian saja. Keluarga itu kerap dirundung percekcokan yang menyakitkan. Sering kali nyaris bercerai. Tapi, sang istri mencoba bertahan. Anak perempuan mereka yang satu-satunya menjadi korban. Anak gadis itu memang bisa mendapatkan fasilitas apa saja yang ia inginkan. Tapi, satu saja yang kurang. Kebahagiaan! Nyaris tiap hari ia menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar dan main kasar pula. Dan ia tumbuh di tengah-tengah itu.

Sang istri bercerita, bahwa sesungguhnya ia sangat tertekan. Beruntung sekali ia mulai merintis bisnis itu sehingga ia menemukan sedikit penghibur yang menyibukkan. Sehingga, waktunya habis terkuras untuk bisnis saja dan melupakan permasalahan itu sejenak. Ah, miris. Benarkah dengan kesuksesan bisnis itu ia benar-benar merasakan kebahagiaan?

Ke-materialistis-an yang coba digaungkan oleh mereka-mereka yang menguasai dunia ini, telah menjadikan pandangan orang-orang tentang standardisasi kesuksesan dan kebahagiaan. Paham yang seolah mengatakan bahwa banyaknya materi adalah linier dengan tingkat kebahagiaan. Tapi, benarkah demikian? Tidak! Tidak! Kenyataannya berkata lain.

Penanaman opini public melalui media-media informasi. Dalam kebanyakan tayangan-tayangan, sering kali digambarkan tentang kehidupan mewah, mobil yang gonta-ganti, rumah yang seumpama istana, kehidupan yang serba ada. Secara tak langsung, hal ini telah berhasil menanamkan paradigm tentang kebahagiaan yang berbanding lurus dengan kekayaan. Akibatnya, orang-orang sibuk mencari sesuatu yang umurnya sangat singkat ini. Hanya sepanjang kesejenakkan dunia. Sementara kehidupan dunia ini hanyalah satu kejapan mata. Sementara, ada masa panjang setelah ini yang hanya punya dua rasa. Bahagia dan penuh kenikmatan ataupun kesengsaraan yang tak berkesudahan.

Cobalah lihat. Mungkin di samping rumah yang mewah tegak berdiri itu, ada keluarga kecil lain yang mungkin dikatakan sederhana saja masih jauh. Tapi, mereka punya kekayaan yang tak dipunyai oleh keluarga semisal contoh di atas. Kekayaan itu adalah kebahagiaan!

Mungkin tidak perlu heran dengan kebahagiaan orang-orang yang menempuh perjuangan yang berat. Ia yang berjuang bukan hanya untuk dirinya tapi juga ummat. Jalannya berat dan sungguh berat. Ia yang harus punya energy lebih banyak ketimbang orang-orang kebanyakan. Yang ada di dalam daftar perencanaan hidupnya bukan hanya untuk kepentingan dirinya, tapi juga orang lain. Berat memang. Tidak mudah memang. Sulit memang. Penuh tantangan memang. Tapi, ada kebahagiaan hakiki setelahnya. Ada kebahagiaan yang tak ternilai, melintasi batas-batas logika. Masya Allah… Hanya ruh-ruh luar biasalah yang bisa demikian. Melawan segala rasa-rasa gentar yang menurut logika telah melewati kadarnya. Mungkin aku belumlah demikian, tapi…bukankah kita ingin?

Aku tak bermaksud pula mengatakan bahwa kita mestilah membatasi penghidupan kita. Tidak. Bukan demikian. Bukankah seorang Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang penjuang yang memiliki loyalitas luar biasa terhadap islam? Dan ia sekaligus seorang konglomerat. Dengan kekayaannya ia memiliki kontribusi yang besar pula. Hanya saja yang perlu kita setting adalah….bagaimana kita mempersepsi kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan materi. Dan, bukan pula berbanding terbalik. Kebahagiaan dan materi tidak punya hubungan sebab akibat sehingga tidak bisa digrafikkan.hehe.
Read More