![]() |
| Hasil CTG nya sudah mulai normal alhamdulillaah... |
![]() |
| Pada udah kecapean di midnight dan tertidur di sofa nemenin bundanya CTG di LDR 😣 Jazakumullahu khair katsir, my dear 😘❤ |
![]() |
| Hasil CTG nya sudah mulai normal alhamdulillaah... |
![]() |
| Pada udah kecapean di midnight dan tertidur di sofa nemenin bundanya CTG di LDR 😣 Jazakumullahu khair katsir, my dear 😘❤ |
![]() |
| Low budget ini maah... dengan canvas murmer, cat akrilik murmer dan jam IKEA murmer yang sudah "dikuliti" wkwkwkwkwk... |
![]() |
| white corner special for Abu Aafiya kalo lagi kerja dari rumah |
![]() |
| Seprai yang custom DIY. Susah nyari seprai dengan ukuran bed super jumbo begini kekekeke... |
![]() |
| rak sepatu usang di renewal lagi dengan "the power of paint" lagi hehehe... |
Sudah bulan agustus. Belum ada postingan sama sekali. Hehe... Baiklah, mari kita posting sesuatu agar tidak melewatkan 1 bulan kekeke...
Bulan agustus ini bulan yang istimewa. Karena selain kemerdekaan RI (yang tentu saja jamak diketahui semua WNI), adalah bulan berhaji. Ya, bulan dzulhijjah jatuh pada bulan agustus di tahun ini. Beberapa teman-teman di sini yang akan berangkat haji sudah bersiap-siap akan berangkat. Hati jadi rindu untuk berangkat jua. Semoga Allah memudahkan langkah kami untuk menunaikan haji juga nantinya, apakah dari sini atau dari Indonesia atau dari negara manapunlah jika Allah masih karuniakan umur yang panjang (dan semoga umur yang barokah). Sungguh, Haji itu ibadah fisik yang memang melelahkan tapi benar-benar membahagiakan ma shaa Allah....
Sesuai judulnya, aku pengen cerita tentang move on. Hehehe... Move on di sini adalah dalam artian pindah yang sebenarnya dan juga move on dalam pengertian banyak orang saat ini: move on hati wkwkwkwkwkwk... Setelah hampir 5 tahun tinggal di An Nahda district, akhirnya kami move on jugaa... ke Naseem district. Sesungguhnya berat juga meninggalkan Nahda. Ada banyak kenangan di Nahda. Dekat dari kantor suami sudah pasti. Dan yang terberat adalah meninggalkan masjid jami' di dekat kontrakan kami yang lama. Jami' Maiman namanya. Masjid ini the best menurut kami di area Nahda. Imamnya baguus bacaannya ma shaa Allah. Ada program tahfidz (yang tentu saja free) untuk anak-anak dan ibu-ibu juga. Masjidnya adeem, luas dan bersih. Ini salah satu yang bikin berat untuk move on hehe.
Ceritanya kami memang mau pindah juga sih setelah kontrakan yang ini habis. Tapi ga kepikiran akan pindah ke Naseem (district tetangga sebenarnya dengan Nahda cuma secara 'socio-culture' agak berbeda menurutku ekekekekekeke...). Kebetulan ada teman yang final exit ke Indonesia, dan kami akhirnya memutuskan untuk menggantikan kontrakannya. Di Naseem ini. Yang sebelumnya ga kepikiran mau ke naseem, ehh akhirnya malah sekarang tinggal di Naseem. Kekeke... meskipun kadang serasa masi belum move on dari nahda... ekekekeke...
Pindah rumah selalu saja bukan hal yang mudah. Ini bukan pekerjaan yang ringan tentunya. Mulai dari load, packing, moving, unload... semuanya menguras tenaga dan fikiran dan juga cost tentunya. Tidak mudah mem-fix kan dan menata kembali dari rumah yang sebelumnya tipe 115 meter persegi ke rumah yang tipe 65 meter persegi. Hehe... Banyak yang akhirnya harus kami "remove". Apalagi karena rumah yang kami tempati ini adalah ex-rumah teman yang notabene masi tersisa banyak barang-barang juga di sana. Fiiuufft....
Pengalaman Menjual Barang-barang
Karena kami pindah ke rumah yang secara ukurannya hampir setengah ukuran rumah sebelumnya, tentu saja banyak barang-barang yang harus dikeluarkan. Apalagi ketambahan barang-barang dari teman yang ex-kontraktor rumah ini. Beuuhh... ma shaa Allah... ga akan muat deeh kalo semua barang di keep sendiri. Belum lagi pertanggungjawaban di hadapan-Nya nanti. Jadi, keep yang perlu dan remove yang tidak digunakan/jarang digunakan atau can't fix in this house. Bisa dijual kembali atau dibagikan secara gratis. Pertama-tama aku menawarkannya ke teman-teman yang sesama komunitas indonesia dulu. Lalu, menjualnya di situs expatriates.. Just throw away price. Hehe...
Pengalaman menjual preloved item ini jadi kesan tersendiri. Urusan jual menjual ini secara online nya hingga deal, menjadi bagianku. Abu Aafiya tinggal nanti yang ketemu sama yang mau ngebeli atau yang mau ngambil barangnya. Hehe... Kebanyakan yang membeli/mengambil barang-barang ini bukanlah orang pertama yang menawar. Kebanyakan yang pertama kali menawar, malah cuma PHP doang. Tak ada kabar yang jelas. Meskipun dikasi gratis sekalipun, banyak juga yang akhirnya cancel. Sebenarnya agak rada kesal juga sih (apalagi yang free item) yang awalnya sudah deal mau ngambil, tapi tiba-tiba di injury time malah cancel. Kan kasian ada orang yang benar-benar serius mau ngambil dan terhalang oleh orang yang asal membuat deal lalu cancel seenaknya.
Kalau yang seriusnya, cuma demi sesuatu yang rasa-rasanya bisa dia beli di dekat rumahnya dengan harga yang ga mahal, dia rela menempuh perjalanan hampir 40 menit. Tapi, yang kebanyakan sih cancel sepihak. Kekeke... Benar-benar harus banyak sabar deeh kalo soal ini. Hihi...
Ada juga pengalaman lain. Beberapa barang ex-teman yang dikasi secara free berupa dressing table, meja kerja,kursi yang pada awalnya banyak peminatnya. Tapi PHP doang. Gayanya aja mau ambil, tapi ga ada kejelasan lagi. Kabar kabur... Hihi... Hingga ada salah seorang yang awalnya aku cuekin karena dia ga kirim message via WA dan malah ngirim rekaman sound yang ga aku mengerti. Pakai bahasa arab. Aku bilang ga ngerti bahasa arab. Trus dia malah pake bahasa urdu. Tambah ga ngerti dong akuuu... wkwkwkwkwk... Nah, ternyata dia ga bisa bahasa inggris. Aku bilang english only please. Baru deh dia (mungkin via temannya) pakek english dan katanya dia tertarik sama barang yang aku iklankan via expatriates. Ehh, ternyata emang rizki nya si bapak ini yaa... alhamdulillah akhirnya dia yang awalnya kita cuekin malah jadi ngambil, enggak PHP doang. Hehe...
Sebenarnya ini semacam simbiosis mutualisme juga sih yaaa... Karena kami butuh mengeluarkan barangnya, dan si peng-hire butuh mengambil barangnya. Impas kan. Dari pada harus mengeluarkan sendiri dan terbuang begitu saja, alangkah lebih baiknya dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkan.
Pelajaran berharga: Rizki itu sudah ada ketetapan-Nya. Bisa jadi, si A yang akan mengambil barangnya, ehh malah akhirnya si B yang mendapatkannya. Bisa jadi kita sudah berharap pada X, ehh ternyata rizkinya malah Y. Jadi, soal rizki dari Allah semestinya bukanlah sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan. Sudah ditakar-Nya koq. Yang perlu dikhawatirkan itu justru bagaimana nasib kita kelak, ketika kita telah melewati fase dunia. Iya, kehidupan setelah dunia. Tapi, kebanyakan hari-hari kita justru lebih sering mengkhawatirkan rizki yang sudah ditakarkan-Nya ketimbang kehidupan setelah mati. Ini note to my self terutama niih dengan segudang kelalaian, astaghfirullaah....
Ada barang yang tak laku even itu dikasi gratis sekalipun?
Tentu sajaaaa ada!!!
Hehe...
Awalnya sedikit kecewa ketika ada yang hire tapi cancel hingga di hari kepindahan kami ke tempat yang baru, barang itu tetap saja ga terjual atau tidak jadi diambil. Lagi-lagi di PHP in hiks... hiks...
Tapiii, itulah takdir-Nya. Dia selalu Maha Mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Ternyata, barang-barang yang tidak laku itu adalah barang-barang yang sebenarnya masih kami butuhkan! Dan pada akhirnya, kami bersyukur bahwa barang-barang itu tidak laku. All can fix here, ma shaa Allah.... Ternyata kami masi sangat butuh barang-barang itu yang dikira ga muat di rumah ini. Aku takjub juga, ma shaa Allah... tak terpikirkan sebelumnya bahwa semua bisa fix di rumah ini. Ter-utilisasi dengan maksimal dan optimal.
Pelajaran berharga: segala ketetapan-Nya pastilah yang terbaik untuk diri kita. Pada awalnya mungkin kita bersedih karena sesuatu terjadi di luar pengharapan. Kelak, kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita yang telah ditetapkan-Nya, pastilah YANG TERBAIK untuk diri kita. Terbaik untuk urusan kita. Dan semoga kita juga bisa berupaya yang terbaik untuk akhirat kita. Maka benarlah bahwa sebaik-baik pengharapan hanyalah pada-Nya yang takkan pernah mengecewakan kita.
Alhamdulillah, akhirnya di sinilah kami sekarang. Di rumah yang baru. Semoga barokah... Aamiin yaa Allah. Meskipun, ada kekurangan yang unpleasant lah jika dibanding rumah sebelumnya, tapi over all rumah ini pun banyak kelebihannya dan menyenangkan. Di antaranya posisinya di ground floor yang ga perlu lagi naik turun tangga. Memiliki halaman yang cukup luas untuk area bermain anak-anak (meskipun sekarang musim panas dengan suhu mencapai 45° C yang ga memungkinkan setiap saat bermain di halaman dengan panasnya yang menyengat). Dapur yang sangat minimalis (kurang dari setengah ukuran dapur sebelumnya), menguntungkan karena jadinya lebih rajin beberes. Kalo dapurnya luas, jadi lebih lalai beberesnya... kekekekeke... Dan yang terpenting, tentu saja bukan soal seberapa mewah dan seberapa luasnya rumah, melainkan apakah dari rumah ini lahir kebahagiaan, ketentraman, kekeluargaan, kebersamaan dan terutama ketaatan. Jika semua ini missing, rumah tiadalah artinya lagi. Bahkan sekedar tempat untuk tidurpun, takkan memadamkan kegelisahan hati. Apalah artinya kan yaa? Heuu...
Do'akan yaa rumah ini menjadi rumah yang barokah... Aamiin yaa Allah...
In shaa Allah lanjut ke cerita selanjutnya tentang home decor yang murah meriah ala emak Aafiya... Hihi...
Kota Madinah adalah kota yang sangat dicintai Rasulullah. Di kota inilah beliau dimakamkan. Kota ini selalu saja menawarkan kedamaian, ketenangan dan kerinduan. Semoga muslim dan muslimah yang belum pernah menziarahi Masjid Nabawi diberikan kemudahan untuk datang berziarah. Aamiin yaa Rabb...
Ini bukanlah perkara ibadah. Maklum aku tidak memiliki kafaah ilmu syariah. Ini hanyalah tips sederhana berdasarkan pengalaman untuk para ibu yang membawa anak (baik itu bayi maupun balita) ke masjid Nabawi. Terutama untuk yang ziarah secara mandiri dari KSA atau negara tetangga KSA ataupun umrah backpacker dari berbagai negara di dunia.
1. Memilih lokasi hotel.
Lokasi hotel (jika bepergian bukan dengan travel agent tapi berangkat dengan membooking hotel sendiri) sebaiknya pilihlah yang dekat dengan king Fahd gates (sebelah utara masjid, berlawanan arah dengan arah qiblat). Karena dari pintu inilah akses ke area tempat shalat wanita lebih dekat. Sebaiknya jangan memilih lokasi di sebelah selatan (dekat masjid nabi, di depan arah qiblat) karena akses untuk ke area tempat shalat perempuan akan lebih jauh. Kalau laki-laki saja (tanpa membawa istri dan anak) bagus di area sini karena akses ke area laki-laki lebih dekat.
2. Ketika membawa pushchair/buggy/stroller.
Meskipun di masjid al haram, jangan terlalu naif untuk meninggalkannya tanpa pengamanan dan merasa berada di masjid yang suci, karena pencuri tetap selalu ada. Maka, sebaiknya berhati-hatilah ketika membawa kereta bayi (apalagi yang jual-able hehe). Karena kadang, kita juga diuji dengan kehilangan stroller heuheu... Ingat! Kereta bayi dilarang untuk dibawa ke dalam masjid. Yang diperbolehkan hanyalah kursi roda. Jadi, kereta bayi pasti disuruh tinggal di luar.
3. Perhatikan tanda untuk area yang dibolehkan membawa anak dan area yang tidak dibolehkan membawa anak. Jika membawa anak ke area yang tak dibolehkan membawa anak, beresiko "diusir" ke area yang dibolehkan membawa anak. Kan ga enak ajaa, udah Pewe ehh malah disuru pindah. Belum tentu juga dapat tempat di area yang baru. Heuheu...
4. Jangan memaksakan diri ke Raudah apalagi bersama bayi atau anak. Biasanya pengunjung raudah itu (khususnya perempuan) lebih 'chaos' dan crowded dibanding pengunjung laki-laki karena waktunya terbatas. Sebaiknya mengunjungi raudah di malam hari (jam 11-an malam) untuk perempuan.
5. Sebaiknya hindari arrival time bertepatan dengan waktu shalat atau berdekatan dengan waktu shalat.
Ketika jam shalat, banyak askes jalan yang ditutup. Setelah selesai shalat pun, biasanya jalanan di sekitar masjid nabawi akan mengalami kemacetan. Jadi, sebaiknya perkirakan waktu sampai di madinah pada waktu yang bukan jam shalat.
Semoga bermanfaat
Hari ini dan in shaa Allah tidak sampai dalam 1 minggu ke depan, aku melepas tetangga (tetangga di sini bukanlah yang rumahnya di sebelah tapi 1 district aka kecamatan masi cocok disebut tetangga hehe) final exit ke indonesia. Iya, adanya dependent fee sangat berhasil "mengusir" para expatriates di sini untuk keluar dari KSA sebagai resident. Kalau umrah maah tetaaaapp yaaa selalu ramai berdatangan hehehe.. dependent fee ga ngaruh sama sekali. Meskipun kepulangan kedua temanku ini bukanlah dependent fee sebagai alasannya, tetap saja arus final exit ini terasa semakin menderas saja... Sementara yang datang sangat sedikit. Ibarat keran yang mengaliri suatu bak mandi, yang masuk sedikit tapi yang keluar deras banget. Heuheu...
Final exit.
Suatu saat akan terjadi juga. Final exit dari KSA atau yang PASTI adalah final exit dari dunia menuju kehidupan yang sesungguhnya; Akhirat.
Saat final exit, semua barang-barang yang selama ini kita gunakan baik itu kebutuhan harian (semisal kulkas, mesin cuci, kompor, dsb) maupun kebutuhan sekunder (akibat lapar mata mungkin yaaa... beli ini dan itu tapi tak terutilisasi dengan baik, astaghfirullaah) pasti akan ditinggalkan. Kalau dulu, menjual barang-barang preloved di sini sangatlah mudah. Begitu diiklankan, yang beli bisa rebutan. Maklum, sepertiga penduduk sini adalah expatriates. Sekarang?! Kadang dijual murah dan bahkan digratiskan sekalipun, peminatnya sedikit. Rumah-rumah pun sewanya pada turun karena rendahnya penawaran dan berkurangnya expatriates secara drastis. Daan, aku sudah lihat sendiri (dan merasakan sendiri) betapa susahnya menjual barang-barang ini di masa-masa ini.
Ya, sama.
Sama seperti final exit dari dunia. Barang-barang duniawi (meski dicintai setengah mati) pasti akan ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah "barang yang kekal". Barang yang ada di rumah orang lain, di panti asuhan, di masjid, di jalan, yang dibangun atas sadaqah, infaq, hibah dari harta kita. Barang-barang inilah yang kelak yang hanya bisa kita bawa. Tapi, kadang dunia ini silau dan menyilaukan. Sering kali kita (aku terutama) ikut terjerat silaunya... Hingga lupa bahwa semuanya pasti kan ditinggalkan.
Saat beberes seperti ini dan ketika packing-packing (kebetulan kami mau pindah rumah kontrakan), aku menyadari betapa banyaknya 'penimbunan' barang-barang di dalam rumah. Ini dan itu. Dan ada sebagian darinya yang tidak dipergunakan dengan optimal. Dibeli karena tergiur diskonan misalnya. Ahh... apa kabar hisabnya kelak?! Astaghfirullaah... astaghfirullaah... Padahal dulu sudah dikurangi. Tetaap saja ada yang baru. Ya Salaam...
Ah... final exit.
Final exit yang PASTI adalah final exit dari kehidupan dunia. Apa kabar bekal? Apakah dunia ini terlalu cantik dan menyilaukan, hingga lupa bahwa dunia hanyalah sementara saja?! Ibarat menginap di hotel. Dari hotel yang tak berbintang hingga berbintang lima, tetap saja hotel bukanlah rumah. Sementara saja. Tak ada orang yang berniat mempercantik hotel, menambahi furniture ini dan itu, mengecat dindingnya sesuai selera. Sebab semua orang tau, bahwa hotel hanyalah sementara. Penginapan yang sekedar menumpang rehat. Orang pasti akan kembali ke rumahnya. Pada rumahnyalah orang berbenah, memikirkan furniturenya, catnya, desainnya. Begitulah seharusnya hakikatnya dunia. Seperti hotel; Berbintang lima atau tanpa bintang, tak ada orang yang ingin meriasnya, menambahi furniturnya, mengecatnya, mendesainnya. Setiap orang menyadari bahwa hotel hanyalah persinggahan saja. Dan akhirat itu seperti rumah. Akan seperti apa rumah kita, kita sendirilah yang menentukan, merancang, mendesainnya.
Semoga Allah menjadikan kehawatiran terbesar kita hanyalah akhirat, bukan dunia. Kehidupan dunia sudah dalam jaminan-Nya. Sementara, akhirat kita? Siapakah yang menjamin kita akan mencapai surga-Nya?!
Ah diriku... Berbenahlah...
Ingatlah... ingatlah.... segala sesuatu ada hisabnya. Janganlah engkau tergiur dengan moleknya dunia, wahai diriku... Sebab final exit dari dunia itu adalah SUATU KEPASTIAN dan TERAMAT DEKAT!!!!!
*ntms
*muhasabah diri
Setiap lebaran selalu punya cerita berbeda. Tahun lalu, deg deg an gerbang KBRI mau ditutup dan hampir kehilangan kesempatan shalat ied setelah menempuh perjalanan Nahda-DQ menjadi cerita yang tak terlupakan. Oleh sebab kami tak menemukan gate nya Diplomatic Quarter yang satu laginya dan sukses bikin "tawaf" sekeliling King Khaleed Road... ekekekeke...
Tahun ini kami ikut shalat Ied masih di KBRI. Kenapa KBRI? Hehe... sebenarnya banyaak tempat shalat ied di negeri sejuta masjid ini. Boleh pilih di mana ajaa. Dan yang paling precious untuk orang yang berdomisili di Saudi adalah bisa merasakan shalat ied di Masjid Al Haram atau Masjid Nabawi (meskipun kami memang sulit untuk mewujudkan hal ini karena no vacation in ied holiday khusus untuk kerjaan suami... Tapi, alhamdulillaah 'ala kulli haal). Jadi, kenapa di KBRI? Karena ada sarapan dan bazaar makanan indonesia 😂😂😂. Dan lebih ramah anak... Anak-anak bisa lelarian dan bisa ketemu masyarakat Indonesia di sini lah.
Setiap ada teman yang bertanya, "mudik ga lebaran?" Jawabannya hampir selalu TIDAK. Lima kali merasakan Ramadan di Riyadh, hanya 1x aku mudik dan itu pun ketika masih ada Aafiya (Aasiya belum lahir). Dan aku harus pulang ke Indonesia berdua doang sama Aafiya tentunya karena seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, lebaran adalah peak season kerjaan suami.
Ramadan dan idul fitri kali ini adalah yang paling great dari semua shift2an yang pernah Abu Aafiya alami di awal dan akhir Ramadan dan idul fitri. Dulu-dulu, selalu saja ada yang missing, ga bareng-bareng (maksudnya; aku di rumah dan suami di kantor). Kalo ga sahur pertama atau sahur terakhir, ya buka pertama atau buka terakhir ramadan yang ga barengan dan duduk bersama. Heuheu... Ramadan kali ini dapat shift yang lumayan bagus. Ga ada yang missing. Kita sahur dan buka pertama dan terakhir ramadan full bersama-sama dan dapat melaksanakan shalat ied. Kalo semisal suami dapat shift malam hingga pagi (jam 12 malam sampai jam 8 pagi), bisa dipastikan aku mungkin akan melewatkan momen shalat ied (karena di sini shalat ied dilaksanakan sekitar jam 5.10 - 5.30 an, jadiii kalo dapat shift sampai jam 8 yaaa bakalan kelewat...). Di ramadan ini, hari terakhir puasa suami dapat shift pagi dan pas hari ied dapat shift malam. Jadinya bisa menghadiri sahalat ied, alhamdulillaah...
Alhamdulillaah anak-anak kooperatif banget mau dibangunin pagi-pagi. Jam 4.30 dah mulai dress up. Emaknya yang kudu bangun jam 2.30 buat siap-siap hihi. Tapi karena biasanya bangun untuk sahur juga sekitar jam segitu, jadi ga terasa begitu berat sih alhamdulillah. Kita berangkat dari rumah sekitar 4.50 pagi biar ga telat dan mendapati gerbang KBRI udah ditutup hehe (jarak tempuh dari rumah ke KBRI sekitar 34 km). Ya, di sini karena malam sedikit lebih singkat (sekitar 9 jam), maka anak-anak umumnya nyaris tidak tidur di malam hari sampai sahur. Baru tidur habis sahur. Begitulah budayanya kalo di sini. Aafiya dan Aasiya juga sering tidurnya agak telat ketika ramadan ini. Kebawa suasana juga kayaknya.
Oh iyaa, selain itu di sini ga ada i'tiqaf kayak di Indonesia yang full di masjid. Jadi, di 10 malam terakhir ramadan itu, shalat tarawih dilaksanakan 4 rakaat. Terus nanti dilanjutkan 4 rakaat lagi plus witir di jam 1-an sampai jam setengah 3 malam. Siang pun di masjid juga i'tiqafnya paling 1-2 jam setelah jam shalat. Ga full stay di masjid gituh. Hehe...
Idul fitri kali ini, kami sempat menyaksikan juga firework yang memang dikhususkan buat hari raya saja. Jika pesta kembang api di indonesia adalah malam pergantian tahun, di sini pesta kembang api justru pas lebaran. Walau ga ada malam takbiran. Hehe... Aku excited selaluu kalo liat kembang api besuaaaaarrr yang bunyinya udah kayak ledakan. Heuheu.. *katro banget deh akuuh. Makluuum pas di indo ga pernah menyaksikan kembang api besar begituuu karena emang ga berniat ikut-ikutan acara tahun baruan. Hihi... Di lebaran sebelumnya hampir tidak pernah karena biasanya (lagi-lagi) suami masuk kerja.
Dulu pas awal-awal di sini, lebaran pertama di sini aku sempat ngeri-ngeri sedap mendengar koq kayak bunyi letusan aka ledakan sesuatu. "Apakah terjadi sesuatuuu?" Pikirku waktu itu. Mana suami lagi masuk kerja dan aku sendirian di rumah. Ehh baru belakangan aku tau kalo itu "ied fireworks" ekekekeke... Excited begitu punya kesempatan untuk menyaksikannya.
Daaan yang paling special di lebaran 1439 H adalah libur hari rayanya. Biasanya, nyaris ga ada libur hari raya utk kerjaan Abu Aafiya. Kalau pun ada, paling ya cuma 2 hari dan bahkan pernah ga dapat liburan malah. Liburan kali ini lebih panjang (6 hari). Dan untuk pertama kalinya dalam 5 tahun ini kami berkesampatan untuk vacation ke dua kota terbaik di dunia di eid holiday. Alhamdulillah bini'mah... It's really priceless..
__________
Note:
*ini postingan udah ditulis setengah trus terpotong kesibukan-kesibukan ala emak-emak. Eehh pas ngelanjutin postingannya, udah lupa apa yang mau ditulis ekekeke... harap maklum kalo garing banget wkwkwkwkw...
Dulu, duluu sekali aku pernah mendengar komentar (di tengah kemacetan karena jalan di tutup oleh sebab rombongan pak bupati mau konvoi) ketika mobil dinas bupati lewat di depan kami,
"Wuiiihhh camry lagi lewaaaaat..."
Ya. Mobil dinas bupati di kabupaten kami adalah camry. Itu satu-satunya camry yang pernah aku lihat di kampung. Hehe...
Kala itu, aku--dengan keminiman pengetahuan tentang dunia per-otomotif-an--beranggapan betapa camry adalah mobil yang sangat mewah. Buktinya, selevel bupatilah yang mengendarainya.
Akhirnya, takdir Allah mengantarkanku ke sini. Ke negeri jazirah arab. Negeri yang dilimpahkan Allah kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi meski sejauh-jauh mata memandang hanya gersang gurunlah yang membentang. Negeri ini memang tak hijau. Tapi kaya sumber daya alam. Ma shaa Allah.
Di sini, aku baru mulai mengenal beberapa jenis mobil yang berseliweran. Dan, ternyata camry yang tadinya aku kenal sebagai mobil mewah level bupati, di sini tak lain hanyalah mobil biasa-biasa saja. Bukanlah mobil yang mewah sama sekali. Banyak camry bertebaran di jalan. Bahkan taxi online (maupun taxi regular) pun dengan merek camry sudah teramat biasa. Di sini pula aku mengenal mobil sekelas lexus (yang belakangan aku ketahui sebagai versi mewahnya brand toyota) yang sama sekali tak pernah aku lihat di kampung halamanku tentunya. Di sini aku pertama kali liat mobil keluaran amrikiyah seperti ford, general motor (GMC) atau chevrolet. Ini nyaris ga pernah aku temukan di kampung halamanku. Di jakarta mungkin ada tapi akunya aja kali yaa yang ga notice. Hehehe... Di sini, mobil yang dikenal mewah dulunya terlihat sangat biasa saja. 😃😀
Dulu, lihat kelas toyota fortuner aja koq rasanya mewah banget tu mobil. Di sini toyota landcruiser saja bukan sesuatu yang sangat istimewa. Yaa... meski juga bukan berarti kami memilikinya ekekekekeke... 😂
Ini hanya menyoal seberapa terbiasa kita melihatnya. Sesuatu yang sangat jarang ada terlihat sangat istimewa. Akan tetapi jika sesuatu yang begitu istimewa itu terlalu common untuk dilihat, ia nya kemudian menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.
Pelajaran berharga buat aku: Ya, inilah dunia! Seberapa sih kemewahannya akan dikejar? Pasti takkan pernah puas. Pasti ingin menuntut lebih dan lebih lagi. Sesuatu yang awalnya terlihat mewah, ketika berhasil menggapainya, makanya sedianya ia menjadi biasa-biasa saja. Selalu ada nafsu ingin lebih dan lebih lagi!
Ya, ini hanya dunia. Permainan. Senda gurau. Tak pernah abadi. Nun jauh di sana, ada kehidupan yang sesungguhnya. Kemewahan yang tak akan ada diksi yang dapat mendeskripsikannya atau kesengsaraan yang tak ada kata dapat mewakilinya. Ingin ke manakah kita? Apa tujuan kita? Hanya mengejar dunia yang fatamorgana, sementara dan pasti akan ditinggalkan? Ataukah mengejar kehidupan yang sesungguhnya, abadi dan akhir dari perjalanan yang sebenarnya?
Hanya sebentar di dunia ini. Fatamorgana yang menyilaukan. Tapi, sebentar inilah yang sangat menentukan: akan ke mana nasib kita kelak. Ahh... mumpung masih di dunia. Yuk, lakukan yang terbaik. Agar kisah kita berakhir happy ending, di kehidupan yang sesungguhnya kelak.
Nasihat untuk diri sendiri terutama... 😊