Dari CURHAT hingga MIMPI

harus semangat raih mimpi^^
Bloggie…
Maaf yah, lagi-lagi aku pengin curhat nih sama kamu. Boleh ya?
Eh, tapi, sebelumnya…aku sebenarnya mejavascript:void(0)rasa tak begitu enak curhat sama kamu, Bloggie. Ada yang bilang, terlalu ekstrovert itu tak baik. Yaah, aku tahu sih. Kan jadinya semua orang tahu saja bagemananya kita. Enak banget bisa jadi introvert, penuh misteri. Hehe. Sebenernya lebih baik jadi ambivert ajah kali yaah. Tapi, plis yah Bloggie, kali iniiiii….ajah, mengertilah aku. Heuu…maunya dipahami mulu nih ya? hehe.

Ehem… Akhir-akhir ini, aku suka baca non-fiksi, Bloggie. Bahkan aku lupa, kapan terakhir kali aku baca novel imaji. Padahal, aku kan imaji banget. Paling demen sama sains fiksi, cerita kejiwaan. Tapi aku tak suka cerita imaji yang tak ada di dunia nyata alias sesuatu yang absurd di dunia nyata, Bloggie. Contohnya Harry Potter. Dari jilid 1 sampai 7 (eih, bener yak ada 7 jilid? Bahkan aku tak tahu, Bloggie. Hehe) tak satu pun yang kubaca. Aku sampai terheran-heran melihat temenku yang betah namatin buku setebel itu dalam sehari semalam saja. Wuuuuihh. Kali ini, kayaknya minatku mulai berdilatasi deh. Aku lebih suka sesuatu yang realistis, ditemukan di dunia nyata, apalagi yang berbahasa jiwa. Selain itu, aku suka baca buku kisah-kisah inspiratif, kisah kehidupan. Menginspirasi sekali. Yah, intinya kisah-kisah yang ada di dunia nyata lah, kisah hidup, walau dinovelkan, tapi kalo sebagian besarnya adalah terinspirasi dari kisah nyata, aku teteup sukaaa deh.

Lalu, apa hubungannya curhat sama macam-macam tulisan? Ehem…sebenarnya begini Bloggie. Aku kan bukan siapa-siapa nih yah. Beda banget sama Andrea Hirata dan A. Fuadi, dua sosok yang menuliskan kisah hidupnya di tulisan yang kemudian menginspirasi banyak orang. Tapi, apapun itu, kadang menuliskan kisah kita—tidak pun seinspiratif kisah mereka—memberikan warna tersendiri bagi orang lain yang sempat membacanya. Bisa jadi, kisah sederhana itulah yang sedang dibutuhkan orang lain yang mungkin mengalami nasih yang sama dengan kita di belahan bumi lainnnya (selama dia mengerti bahasa kita tentunya, hee…). Jadi, bagaimana pun sederhananya kisah itu, betapapun mungkin kita kira tak inspiratif, bisa jadi saja ada yang sedang memerlukannya. Makanya, aku tidak terlalu keberatan untuk berbagi kisah di sini. (hee, semoga ini bukan sebuah pembelaan diri ataupun pembenaran ataupun sedang mencoba menghibur diri. Hihi).

Bloggie…
Banyak sosok yang kukenal, menggapai kesuksesannya dengan keajaiban mimpi sebagai navigasinya. Masya Alloh. Dan, kesuksesan mereka, sebab mereka bisa ber-ikhtiar di atas usaha rata-rata orang-orang kebanyakan. Mereka berada jauh di luar zona nyamannya. Dan bagi mereka, tantangan adalah sesuatu yang “sangat menarik” untuk di hadapi. Di sisi lain, aku juga banyak mengenal sosok yang begitu menikmati segala yang lurus-lurus, dan apa adanya saja. Tanpa obsesi. Tanpa mimpi. Hanya satu saja, yang penting hidupnya mulus dan tenang. Ia selalu berada di zona nyaman. Tantangan menjadi musuh yang paling ia jauhi.

Dari dua jenis sosok yang kukenali itu, kelompok pertama memiliki kesuksesan jauh lebih besar dari kelompok kedua. Tapi, lagi-lagi, tetap saja….kembali pada credo : life is choice. Hidup kita adalah pilihan apa yang kita pilih.

Bloggie…
Curhatku kali ini adalah tentang banyak hal. Tapi, polarnya adalah…tentang mimpi. Yah, mimpi. Kadang aku merasa, semangatku itu seperti terbit dan tenggelamnya matahari. Terbit sebersit spirit di fajar indah, lalu kembali meredup dan tenggelam bersama bergantinya siang dan malam di senja lembayung. Padahal, semangat itu adalah bahan bakar menuju mimpi-mimpi. Ia akan menjadi katalisator untuk menempuh jarak antara ikhtiar (usaha dan do’a) dengan kesuksesan.

Tapi…sudah banyak yang membuktikan keajaiban dari navigasi sebuah mimpi, Bloggie. Aku sungguh tak ingin menjadi orang yang selalu berada di zona nyaman saja. Aku ingin keluar dari ini semua. Aku pun ingin raih mimpi-mimpiku. Sudah banyak kesempatan dan masa yang kulewati. Semestinya aku bisa dua kali lipat lebih jauh dari ini jika saja sedari dahulu aku memulainya. Bayangkan Bloggie, aku baru merasakan dan lebih tepatnya menyadari itu semua justru di tahun akhir kuliahku. Tapi, tidak apa. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Berani bermimpi saja, itu sudah suatu langkah awal kemenangan, meski saat ini kita tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Yakin saja dengan keajaiban navigasi mimpi yang akan menjadi nafas perjalanan kita menujunya. Bukankah begitu, Bloggie?

Ah, satu hal yang terpenting, Bloggie. Bahwa aku harus MEMULAINYA! Kali ini aku perlu berterima kasih pada kegetiran yang telah “menendang”ku untuk bergerak. Walau hanya sebuah langkah kecil saja, Bloggie. Tapi, tak ada langkah besar yang tak dimulai dengan langkah kecil, bukan? Dan kali ini, aku sungguh tak ingin perubahan ekstrim lagi. Aku hanya ingin perubahan yang mutawatir tapi istimror. Begitu saja. Tidak mengapa sedikit-sedikit. Tapi, aku ingin ia kelak menemukan momentum ledakkannya seperti supernova (hee, terlalu bermimpi yah?)

Aaah iya, Bloggie. Sejauh ini, ternyata aku masih sangat mencintai dunia pendidikan. Aku ingin jadi guru, Bloggie. Satu jalan pertama, untuk menjadi guru di bidangku sendiri, aku harus lanjut kuliah dulu. Aku tahu, dengan IPK tamat yang pas-pasan, sulit sekali untuk mendapatkan beasiswa. Tapi, aku harus yakin dengan banyak KEMUDAHAN di depan kendatipun sekarang yang terlihat adalah KESULITAN. Tapi aku yakin, insya Alloh akan selalu ada JALAN, apalagi untuk menuntut ilmu. Bukankah begitu janji Alloh?

Suatu saat, aku ingin mendirikan sebuah sekolah, Bloggie. Sebuah Global School. Global School untuk remaja, SMP dan SMA. Aku tahu, ini sangat jauh dari profesiku. Tapi, aku ingin sekali membangun dengan jalan ini. Pendidikan adalah sebuah kunci, menurutku. Pendidikan yang bukan sekedar transfer of knowledge, melainkan pendidikan komprehensif yang membangun akhlak, membangun calon-calon batu bata peradaban. Meski hari ini, aku belum tahu bagaimana cara wujudkan itu, tapi aku punya mimpi untuk itu.

Hehe, maaf yah Bloggie, aku menuliskan curhatku dengan bahasa yang sangat tak sekuens. Kali ini aku hanya benar2 menuliskan apa saja yang terlintas, tanpa peduli sekuensing. Maaf yah… Jangan lupa, mohon do’anya.

0 Comment:

Post a Comment

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked