Showing posts with label catatan Labil. Show all posts
Showing posts with label catatan Labil. Show all posts

Back...Back...Back Again

Assalaamu'alaykum Bloggie Saiaaank...
Dengan dipenuhi rasa bersalah, akhirnya aku mencoba kembali menulisimu...
Huwaaaah, bloggieee, rasanya beberapa bulan terakhir ini mandeg bangeeet akuuuh... Tolooong....
Bahkan ketika koneksi internet lancar-lancar sahaja, aku justru tak bisa menuliskannyaaa....
Hwaaaa, sekali lagi, toloooooooooong... :)

Hehe,,,
Tapi, sudahlah Bloggie...
Aku hanya sedang menikmati menjadi aku yang sekarang (jadi, aku yg dulu bagemana? ihihi...).
Aku yang sekarang, tentu tak lagi sama dengan aku yang dulu. Setelah sempat terpuruk...lalu bangkit....terpuruk lagi....dan sekarang bangkit lagi! (hayoo, semangattt wahai diriku!).
Banyak dari kisah-kisah perjalanan yang luput dai catatan...
Tapi biarlah, setidaknya aku juga sedang belajar hal yang lain. Hee...

Read More

Aku Bukan Anak Sekolah!

Aku bukan anak seeeekolaaah satu es em a...^^
Cerita ini bukanlah sebuah cerita penting. Tak usahlah engkau baca. Jika kamu tak rela untuk menghabiskan waktu berhargamu hanya untuk membaca ini, sebaiknya lewatkan saja curhat kali ini. Sebab, tak banyak yang bisa engkau bawa pulang.
Tapi…tapi…, keliayatannya masih ngotot niih mau ngebacaaa meski udah di-warning “gak usah dibaca”. Yaah, apa hendak dikata, kalau kamu masih begitu ngotot ke pingin baca, dan begitu penasaran bangeeeet, yo wis…. Tafadhol di baca aja. (hehe, lagi labil!)
__________________

Suatu malam,
“Dik, sekolahnya di Padangpanjang yak?”
“Dulu iya.”
“Dulu?”
“Sekarang saya sudah tamat, Pak. Dari Unand. Dulunya emang sekolah di SMA 1 Padangpanjang.”
“Hoo….saya kira masih sekolah.”

Di suatu mushala kecil, Industri Obat-obatan.
“Dari SMK mana yah, Nak?”
“Saya dari Mahasiswa Profesi Apoteker, Bu.”
“Oohhh…. Saya kira teh anak SMK yang praktik di sini, atuh.”

Lain lagi ceritanya dengan yang ini,
“Sekolah di mana, Dik?”
“Saya pengangguran sekarang Mas.”
“Pengangguran? Kenapa tak kuliah saja, Dik?”
“Waaah, saya sudah tamat kuliahnya, Mas.”
“Ouuhhhh, sudah tamat, tho? Saya pikir masi anak sekolahan.”

Gubraaakkk…
Tuing…tuing….

Hmm…tak terhitung sudah jumlahnya orang-orang yang masih menyangka aku anak SMA. Bapak Dandim Batalyon C tadi, Ibu di Industri Tanabe itu, juga Mas ketum BPP Jarwil FLP , dan banyak orang-orang yang tak sengaja berjumpa di jalan yang kemudian selalu berasumsi aku anak SMA. Tampak-tampaknya I have a talent to be a SENAMPTN Joky (although, I don’t wanna do it). Wkwkwk. Kalau pun ngulang SPMB (baca : SNMPTN) lagi, sepertinya tak satu pun pengawas yang mempertanyakannya. Hihi.

Lain cerita, ketika diskusi dan training bersama Dr. Yoshitsugu Nakaguchi, kami (para anggota great team) dan beberapa dokter yang sedang mengambil spesialis Mikrobilogi Klinis. Sampai dua kali loh, salah satu ibu dokter itu mempertanyakan, “Fathel kan lagi ngambil S-2 yah?” Padahal, diriku kala itu masih (tertatih-tatih) menamatkan S-1. Kayaknya, tak yakin giituuh si Ibu dokter, kalo saia masih S-1. Wkwkwkwk…. Narsis! Waktu rapat pun, lagi-lagi ditanya, “Fathel sedang S2 kan yah?”
Untuk pertama kalinya cuping hidungku kembang kempis dengan rasa bahagia. Selama iniii, selalu dikira anak SMA, dan untuk kali pertamanya dikira S2, oleh dokter (calon) spesialis pulak. Heuu….

Read More

Sakit

Seperti cerita-cerita sakit yang sering kita ceritakan pada pertemuan kita…
Ah, aku tahu seberapa sakitnya, kawan!
Sakitmu jauh lebih sakit dari sakitku.
Sakitmu jauh lebih berdarah dari darahku…
Sakitmu, karena dilukai sangat dalam…
Dan sakitku hanyalah sakit yang disebabkan oleh diriku…bukan siapa-siapa. Bukan pula dia.

Sudahlah kawan…
Kepada kita diberi pilihan untuk tetap bersakit-sakit…
Atau mencoba membaluti luka sakit itu…
Tentu saja kita memilih mengobatinya, bukan?

Memaafkan adalah lebih baik—siapapun tahu.
Memaafkan dia, olehmu.
Dan memaafkan diriku sendiri, olehku.

Ini bukanlah akhir…
Ini hanyalah kesedihan kecil…

Hari-hari depan kita, HARUS LEBIH BAIK…
Tak boleh lagi ada sakit-sakit baru…
Sebab, ingin kita adalah… bersama ingin-Nya.
Kalau lah sudah ingin-Nya di atas ingin-ingin kita,
Maka takkan pernah ada lagi sakit baru…
Sebab, apapun itu, aku sangat percaya : ITULAH YANG TERBAIK!


[lagi-lagi, catatan Labil]
Read More

Lubang

Lubang...
Semakin dalam lubang itu kau gali, maka semakin sulitlah kau menimbunnya.
Maka, jangan kau gali dan lagi-lagi kau gali lagi.
Biarkan saja ia di sana. Tertimbun dengan sendirinya.
Bersama abrasi oleh sebab hujan ataupun tumpukkan debu oleh sebab panasnya mentari

Read More