Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Hafidz

CERPEN

Pagi dengan kicauan burung yang merdu, bertasbih pada-Nya. Embun fajar pun masih terasa menyegarkan. Kania masih saja asyik bergelut dengan mushaf di tangannya dan sibuk komat kamit menghafalkannya. Sesekali diliriknya juga mushaf itu, jika ada yang terlupa. Dia terus mengulang dan lagi-lagi mengulang Surah Annisa’ ayat 24 hingga 26 itu. Inilah rutinitas yang senantiasa di lakoninya, dan dia sungguh sangat menikmati itu. Sebuah kenikmatan yang takkan rela ia tukar dengan apapun kenikmatan dunia lainnya, meskipun seluruh kekayaan bumi dilimpahkan padanya.

Kania, gadis belia yang satu tahun lalu menamatkan studinya di Manajemen, Fakultas Ekonomi di sebuah universitas negeri di kotanya. Orang tuanya, berharap, suatu saat, anak semata wayangnya itu akan mewarisi perusahaan kertas milik ayahnya. Gadis cantik semampai dengan hidung bangir itu pada mulanya, juga diharapkan bisa menjadi public figure dengan modal parasnya yang lumayan. Sebab, pada beberapa kali momen, dia seharusnya menjadi duta wisata, di Propinsinya. Namun, ia melepas semua kesempatan yang justru diidamkan kebanyakan perempuan itu, tepat pada momen puncaknya.

Kehidupan kampus membawanya kepada hidayah yang membuatnya enggan mengikuti momen2 yang lebih mengutamakan menampilkan fisik itu, kendatipun kedua orang tuanya sangat ingin. Ia lebih memilih menutupinya dengan jubah lebar dan jilbab panjangnya.

Setelah melakukan muraja’ah hafalannya ba’da subuh, Kania turun ke dapur membantu mamanya menyiapkan sarapan pagi.
“Bagaimana, Kania? Katanya mau Hafidz? Itu, sudah ditawarkan, koq malah ndak mau?” Ini adalah kalimat pembuka dari mulut sang mamanya ketika ia baru saja sampai di dapur. Bibirnya langsung mengkerucut. Ia tersenyum kecut.

Haduuuh, mama, lagi-lagi masalah itu!Ia membatin.

“Kok diem aja sih?” Mamanya kembali bertanya.
“Haduuuh, mama kusayang….” Hanya itu gumaman yang keluar dari mulutnya.

Ingatannya melayang pada peristiwa demi peristiwa. Mamanya, yang pengin menimang cuculah. Dan, tawaran-tawaran yang datang dari relasi bisnis papanya. Mulai dari yang sesama SE, hingga yang sudah MBA. Mulai yang mengelola perusahaan kecil hingga direktur dan eksekutif muda yang kaya raya. Tapi, semuanya hanya menjadikan uang sebagai standardisasi. Dan, bagi Kania, itu semua belum memenuhi criteria!

Hingga, setelah lelah dengan semua penolakkan itu, mamanya akhirnya pasrah dan bertanya sebenarnya, maunya Kania yang seperti apa.
Dijawabnya dengan sekulum senyum kala itu, “Mama, Kania pengennya siiih, belajar Al Qur’an dulu, barulah nanti memikirkan berkeluarga.”
“Tapi Nak, kamu itu sudah 24 tahun! Sudah cukup dewasa. Sekarang cerita deh ke mama, maunya yang bagaimana. Kalau Kania suka, meskipun dia bukan seorang menejer yang punya perusahaan, mama setuju koq.”
Lagi-lagi, Kania hanya mengulum senyum. “Ma, apa yang mama sampaikan itu baik, dan Kania pun tidak ada alasan untuk mengelak. Dan, jika itu baik buat urusan dunia dan akhirat Kania, baiklah Ma, Kania pun akan berusaha untuk melirik ke arah sana.” Kania berkata bijak. “Kania maunya yang Hafidz , Ma”

Dan, selang beberapa minggu setelah itu, mama benar-benar membawa seorang Hafidz ke rumahnya. Kania kaget bukan main. Lalu ia pun tertawa, tapi mati-matian ia tahan cukup dalam hati. Pasalnya, sang mama tercintanya membawa seorang yang BERNAMA HAFIDZ. Haduuh, mamaku sayang. Bukan yang bernama Hafidz, Mama! Tapi, yang Hafidz.

Mamanya kontan heran, dan bertanya-tanya, Hafidznya yang bagaimana. Sudah dibawakan seorang Hafidz pun, masih saja ditolak. Dengan sabar, akhirnya Kania pun menjelaskan Hafidz yang ia maksud adalah seorang penghafal Al Qur’an. Dan, pagi ini pun, mamanya masih mengusik masalah yang sama. Masalah hafidz.

“Ma, bisnis kita sekarang mulai menanjak naik.” Kania berusaha mengalihkan topic. Dan, akhirnya dua ibu dan anak itu pun larut dalam perbincangan menyoal bisnis mereka. Dan, kania pun menarik nafas lega.

***


Beberapa bulan setelah itu, pembicaraan Hafidz pun mulai mereda. Mungkin mamanya juga sulit menemukan seseorang yang Hafidz. Dan, untuk sementara, Kania bisa bernafas lega.

Sesungguhnya Kania bukan tidak memikirkan apa kehendak mamanya. Dan ia pun menyadari akan masalah umurnya. Apalagi perempuan. Tapi, ia serahkan bulat-bulat urusan ini pada Allah semata. Jika ditanya soal keinginan hatinya, aa sesungguhnya ingin terlebih dahulu mendalami ilmu Al Qur’an dan pengamalannya. Ia ingin menikmati ini terlebih dahulu. Toh, bukankah Allah tidak akan menyia-nyiakan ima hamba-Nya? Allah lebih tau mana yang terbaik untuknya. Ia, tidak terlalu khawatir soal jodoh, seperti kekhawatiran mamanya, sebab, ia SANGAT YAKIN dengan apa yang Allah tengah siapkan untuknya. Apalagi, ketika ia berusaha menjadi “keluarga Allah”. Menjadi

Hingga, suatu hari mamanya dengan sumringah menyuruhnya berganti pakaian dan mengatakan dengan bangga bahwa akan ada seseorang yang datang. Pada akhirnya, Kania mengikuti apa maunya sang mama, dan berganti pakaian. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan itu?

“Kali ini benar-benar Hafidz lho, Kania. Bukan seseorang yang bernama Hafidz. Tamatan sekolah tinggi agama gituh.” Sang mama seperti tahu saja apa yang ada di benak Kania. Kania kaget. Benarkah?

Sore itu, Kania di hadapkan pada sosok yang katanya Hafidz. Masya Allah benar-benar hafidz. Ia dapat menyebutkan dan membacakan ayat yang diminta Kania, juz berapa, ayat berapa, surat apa pun. Namun, satu hal yang Kania tidak habis pikir, kenapa pula asap rokoknya tidak berhenti mengepul? Dan, dengan bangga pula menyatakan bahwa dalam satu setengah tahun ia telah hafal Al Qur’an karena IQ-nya yang tinggi. Baginya, menghafal itu mah gampang. Sungguh, Kania tidak habis pikir dibuatnya. Bagaimana seorang penghafal Al Qur’an bisa bersikap demikian?

Pun, ketika laki-laki itu berlalu dari rumahnya, dan mamanya menanyakan kesediaanya, ia langsung menggeleng dengan hati sedih. Amat sangat sedih. Bukan karena ia tidak mendapatkan seorang hafidz tersebut, tapi karena ia sangat sedih, ada seorang Hafidz yang sikapnya begitu, yang tidak henti-hentinya menghisap rokok. Yang sikapnya sedemikian rupa congaknya.

Beberapa menit setelah itu, ia telah sampai di rumah guru ngajinya, dan menumpahkan segala apa yang menyesakki jiwanya. Tentang kesedihannya, mengapa ada seorang penghafal Al Qur’an yang akhlaknya demikian?

Sang guru ngajinya kemudian tersenyum. Dan menjelaskan, bahwa ada orang-orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an, akan tetapi Al Qur’an itu melaknat dirinya, ini seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik, ra. Ia membaca “ala la’natullah ‘ala dzalimin, sementara ia la orang yang dzalim itu. Mengapa hal itu terjadi? Karena ia menghalalkan apa yang diharamkan Al Qur’an dan mengharamkan apa yang dihalalkan Al qur’an.

“Intinya di sini adalah siddiqunniyah. Kejujuran dan kebenaran hati kita dalam niat mempelajari ayat-ayat-Nya. Jika hanya ingin mendapatkan pujian manusia, ingin dikatakan sebagai seorang Hafidz, yaah, tentu saja akhlaqnya tidak mencerminkan demikian.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abi Hurairah ra., Rasulullaah saw bersabda, “Orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang dinilai mati syahid. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia mengetahui hal itu. Kemudian Allah swt bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, ‘Aku berperang membela agama-Mu hingga aku mati syahid’. Allah SWT berfirman, ‘Kamu berdusta karena kamu berperang hanya untuk dikatakan pemberani dan itu sudah dikatakan orang.’ Kemudian diputuslah perkaranya, ia diseret dnegan tertelungkup dan ia dilemparkan ke neraka. Kemudian seseorang yang telah mempelajari Al Qur’an, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya disampaikan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia mengakuinya. Kemudian Allah swt bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, ‘Ak mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya kepada manusia dan ak membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah SWT berfirman, ‘kamu berdusta karena kamu mempelajari Al Qur’an agar dikatakan sebagai orang alim, dan engkau membaca Al Qur’an agar manusia mengatakanmu sebagai qari. Dan itu sudah dikatakan orang.’ Maka kemudian diputuskan, ia diseret dengan tertelungkup dan ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya seseorang yang Allah SWT berikan keluasan harta dan bermacam-macam kekayaan. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia mengetahui hal itu. Kemudian Allah swt bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, ‘setiap aku mendapati jalan dan usaha kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku untuknya, aku segera infaqkan hartaku demi-Mu.’ Allah SWTmengomentari jawaban itu, ‘Kamu berdusta karena kamu melakukan itu semua agar dikatakan sebagai seorang dermawan dan itu telah dikatakan orang.’ Maka kemudian diputuskan, dan ia ia diseret dengan tertelungkup dan ia dilemparkan ke neraka.”
Masya Allah….
Tiada yang dapat menjamin diri kita. Tiada!
Bahkan, pun ketika Alla putuskan bagi seseorang itu surga, belum tentu ia memasukinya karena amalan-amalan yang dilakukannya. Itu, tiada lain adalah karena Rahmat Allah. Jadi intinya, kita berusaha untuk selalu mendekatkan diri pada-Nya, merayu-Nya. Adakah sesuatu yang lebih tingi dari pada keridhaan-Nya?

Sungguh, tidak pantas bagi seorang penghafal Al Qur’an ikut wara-wiri dengan kemaksiatan2 itu.

Kania tercenung mendengarkan penjelasan guru ngajinya. Benar0benar tercenung. Sungguh, dirinya pun begitu banyak maksiatnya. Begitu banyak. A
staghfirullaah…. Nastaghfirullaah…

Maka, muncul tekad di hatinya, untuk memperbaiki, dan menjadi lebih baik lagi. Tidak! Yang aku inginkan bukan hafidz yang demikian. Tapi, seseorang yang berafiliansi terhadap Al Qur’an. Membacanya, mengamalkannya, hanya karena Allah. Sungguh, akan berbeda ruh orang-orang yang memiliki siddiqunniyah dalam mempelajari Al Qur’an dengan orang-orang yang hanya sekedar meghafalkannya sebagai sesuatu utinitas, apalagi ingin dikatakan sebagai seorang hafidz/hafidzah!

“Kalau para penghafal A Qur’an mengambilnya dengan haknya apa yang seharusnya, niscaya mereka akan dicintai Allah. Namun, mereka mencari dunia dengan Al Qur’an itu, sehingga Allah SWT marah terhadap mereka dan mereka pun menjadi hina di hadapan manusia.”

Diriwayatkan dari Abu Ja’far bin Ali dalam firman Allah SWT, “Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirbalikkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat. (Qs. Asy Syu’ara’ : 94). Ia berkata, “Mereka adalah kaum yang menceritakan kebenaran dan keadilan dengan lidah mereka, namun mereka justru melakukan yang sebaliknya.”

Astaghfirullaah lii wa lakum…
Na’udzubillahi min dzalik…
Berselindung kita kepada Allah… semoga Allah senantiasa tunjuki kita jalan kebenaran.


nb : Potongan cerita di atas tentu saja hanyalah fiktif belaka (namanya jugak cerpen yang notabene fiksi yak? Hihih). Jika ada kesamaan nama, tokoh, sifat, tempat de es be, itu hanyalah kebetulan belaka tanpa perlu adanya tendensi kepada siapapun.


Dzulqo'dah 1431 H
Read More

Balada Rumah Sakit (3)

Cerpen

“Bagaimana, Bu? Albuminnya drop sekali. Harus segera diganti.”
Suara dokter visite pagi ini membuatku tersentak. Menatap keluarga pasien yang melihat ke arah dokter dengan sendu.
“Tapi, harganya satu juta lima ratus untuk satu kantong, Bu. Satu kantong untuk satu hari pemakaian. Apa ibu sanggup?” sang dokter bertanya hati-hati, agar tak menyinggung perasaan pasien.
Seperti biasa, keluarga itu terhenyak, lalu menarik nafas dalam-dalam. Wajah-wajah itu berkabut.
“Kami tidak sanggup, Pak.”
“Hmmm….bagaimana ya? Dari gizi bagaimana? Ada antisipasi?”
“Bisa, Pak. Dengan ikan gabus rebus. Tapi, akan sangat lamban kenaikannya. Untuk porsi ini enampuluh ribu sehari.”

Fiuff…
Aku menarik nafas dalam. Ini bukan kali pertamanya aku menghadapi kondisi pasien yang seperti ini. pasien kurang mampu yang membutuhkan asupan zat yang masya Allah mahalnyaaa. Sering aku kemudian menyeka air mata di belakang rombongan visite ini.

Sungguh, aku serba salah. Di bagian ini, aku memang bertanggungjawab terhadap pengobatan pasien. Di satu sisi, pasien sangat membutuhkan obat itu dan tugaskulah mengurusi obatnya, tapi di sisi lain, pasien kurang mampu yang tak punya uang begituu. Aku tentu tak punya wewenang untuk memberikannya secara gratis. Aah…, sungguh, aku sangat dilemma. Hati ini sangat ingin membantu si pasien yang terbaring lemah. Ia membutuhkannya. Tapi ia tak sanggup membeli. Dan aku pun tak bisa menutup mata, bahwa banyak pasien yang kemudian meninggal dunia karena tak mendapatkan obat ini (Salah satu contohnya albumin ini). Aah…, sungguh, hatiku sangat ingin memberikannya karena memang tanggungjawabku. Tapi, harganyaa? Harganya bagaimana? Bahkan gaji bulananku tak cukup untuk membiayai satu kantong saja. dan yang pasti si pasien butuh lebih dari satu kantong.

Jika sudah begini, aku hanya bisa menahan pilu. Menatap keluarga-keluarga pasien yang seolah-olah telah “merelakan” saja, “biarlah, lebih baik beliau kembali saja pada-Nya.” Apalah daya. Uang tak ada. Padahal, “kehidupan” si pasien sangat tergantung pada zat itu. Pada obat itu.

Ah, sungguh miris!

Jika sudah begini, aku sungguh sangat heran, kenapa masih ada orang2 di belakang layar sana yang berani bermain2 dengan nyawa manusia!? Para mafia kesehatan! Apa persaannya sudah menyublim seluruhnya? Meski pun di rumah sakit ini yang kutahu tidak ada hal-hal seperti itu, tapi di tempat-tempat lain, itu masih saja ADA! Mereka, orang-orang itu, para mafia kesehatan yang berhati bajingan. Apa tidak mikir, bagaimana jika dia atau keluarganya yang berada di posisi itu?

Selain itu, aku hanya bisa berharap semoga kualitas kesehatan di negeri ini semakin baik dan semakin baik lagi. Agar, yang “boleh” sakit tidak orang kaya saja. agar orang miskin juga “boleh” sakit. Maksudnya, ada penyamaan pelayanan dan fasilitas yang diperoleh.
Semoga saja. sebab, hanya berharap yang bisa kulakukan.
Read More

Balada Rumah Sakit (2)

Cerpen

Aku tak habis pikir dengan pasien yang satu itu. Terakhir kulihat, keluarganya datang dengan sebuah mobil mewah yang harganya…entahlah, jikapun digadai semua jualanku, barangkali ga cukup buat beli rodanya saja. Tapiii, kenapa dia malah ditempatkan di bangsal kelas tiga saja? kenapa tidak memilih kelas utama atau VIP saja sekalian? Ah, entahlah…. Aku hanya seorang penjual makanan kecil. Buat apa aku harus tahu urusan mereka.

Hingga, suatu hari, ketika aku sedang terkantuk-kantuk menunggui jualanku di salah satu sudut di rumah sakit ini,seseorang mendekat. Menyapaku.
“Ehh, apa?” aku terkesiap.
“Maaf mengganggu, Bu.”
“Hoo..ndak apa-apa. Silakan…silakan…, mau beli apa? Risoles, bakwan, peyek, kacang, lapek nago sari?” Aku berusaha melayaninya dengan jenaka. Tapi, si pengunjung malah mematung. Pasien itu….ya pasien itu, yang duduk di atas kursi roda itu, sedang berusaha tersenyum geli ke arahku. Hmm….memangnya ada yang aneh dariku? Sementara anaknya yang mendorong kursi roda, hanya diam saja. datar, nyaris tak berekspressi.

“Bagaimana kondisinya bu? Gimana dik? Si ibu sudah baikan?” aku menoleh pada wanita muda yang mendorong kursi roda. Wanita necis yang elegan. Dari tubuhnya, tercium aroma wangi parfum mahal. Sepertinya harga parfumnya lebih mahal dari hasil penjualanku seharian.
“ini Bu, entah kenapa, ibu saya malah minta di antar ke sini.” Si wanita itu menjawab datar.
“Hoo iya? Ibu kangen saya yaaah?” aku mencoba mencandai wanita paruh baya di kursi roda. Wanita itu tersenyum.
“Bu, saya titip ibu saya sebentar ya. Saya mau ke depan.”
“Iya, Dik.”
Wanita itu berlalu dengan gaya jalannya yang juga anggun. Meninggalkan aroma wangi dari parfum berkelas.

“Saya iri padamu.” Kata si ibu di kursi roda dengan suara pelan. Tapi, setidaknya indra pendengaranku masih bisa menangkap gelombang suara itu.
“Wah….tidak salah nih Bu? Saya orang miskin begini. Untuk hidup satu hari sajaa, susaaaaah.” Aku berkata jujur. “Kalau ibu, wah enak yaah. Rumah mewah. Mobil mewah. Anak2 yang cantik. Ga ada yang peru ibu risaukan lagi.”

“Saya memang diberikan-Nya kelebihan harta. Tapi, saya tidak bisa menggunakannya. Lalu buat apa? Saya bisa membeli villa mewah, tapi saya tidak bisa menikmatinya. Saya tidak bisa tidur dengan nyaman. Saya bisa membeli makanan apapun, tapi saya tak bisa menikmatinya. Makan saya harus ditakar denagn lauk-pauk yangs ama sekali tak enak. Saya bisa saja pergi ke mana-ama dengan uang saya, tapi kaki saya sudah lumpuh begini. Semuanya mengajarkan kepada saya bahwa nikmat kesehatan itu jauh lebih berharga dari semua itu. Jauh lebih berharga dari apa yang saya punya saat ini. kekayaan? Huh.., percuma saja jika saya tak dapat menikmatinya. Dan lagi, kekayaan tak membuat saya bahagia. Justru saya iri padamu, yang bisa menikmati tawa, bisa bejalan kemana-mana meskipun kau katakana kau tak punya apa-apa. Tapi, sehat itu sungguh asset yang sangat berharga.”

Aku tercenung. Wah…benar juga!

“Jangan pernah nilai kekayaan sebanding dengan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu letaknya di sini, di hati ini. Berbahagialah. Syukuri apa yang ada.” Pesannya.

“Kau tahu, kenapa aku memilih kelas tiga? Bukan karena aku ga sanggup membayar VIP atau lebih dari itu. Tapi, karena aku ingin bersama mereka juga, orang-orang yang juga terbaring sakit. Setidaknya, mereka mengajariku untuk bersyukur bahwa masih banyak yang lebih parah dari aku. Ini semua membuatku bisa menyukuri setiap ujian yang Allah beri.”

Beberapa saat kemudian setelah anakknya yang anggun dan elegan itu datang, dia meninggalkanku. Kembali ke bangsalnya. Meninggalkan banyak pelajaran untukku.
Read More

Balada Rumah Sakit (1)

Cerpen

“Lem…lem…lem… Lem, Bapak? Ibu? Lem, Pak, Buk?” Kusodorkan kotak berisi lem sepatu, lem triplek itu. Ada yang menolak dengan sopan. Ada yang cuek. Dan ada pula yang menawar, namun tak jadi membeli. Dari pagi hingga siang menjelang sore, aku berjualan lem dan berkeliling rumah sakit ini. Jika hari senin tiba, maka aku membawa anakku Ivan dan istriku menyertainya.

“Lem, dik.” Tawarku kepada segerombolan mahasiswa praktek di rumah sakit ini.
Mereka tersenyum dan menolak dengan sopan, “trima kasih Da.”
“Ambil saja Dik. Buat adik, gratis.”
“Hehe. Ga usah Da. Trima kasih.”
Lalu, salah satu di antara mereka bertanya, “Mana Ivan, Da?”
‘Wah…Ivan hari ini tak fisioterapi. Fisioterapinya hari senin.”
“hooo…iya. Salam buat Ivan ya Da.”
“Iyaa, makasih ya Dik.”

Aku berjalan, kembali menelusuri koridor rumah sakit. Ada banyak profesi yang terlibat di sini, mulai dari dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, asisten apoteker, ahli fisoterapi, klining servis, penjual makanan kecil, staff, dan orang2 sakit dari berbagai pekerjaan. Aah, siapa lagi yah? Aku kurang begitu tahu.

Aku jadi teringat pada istriku, pada anakku yang mungkin sangat merindukanku di rumah. Istriku, perempuan lugu yang penurut. Dan anakku, Ivan yang dengan susah payah ia menyebut “ayah” dan menyambutku. Jika teringat akan anakku, maka, akupun teringat akan cita-cita sederhanaku.

Sesungguhnya aku iri melihat adik-adik itu. Meeka bisa bersekolah dengan tenang. Bisa mengikuti praktek di rumah sakit ini. Sesungguhnya, akupun sangat ingin Ivan demikian. Meski aku hanya tamat SMA dan bekerja menjual lem dari bangsal ke bangsal, tapi aku sangat ingin anakku nantinya menjadi dokter. Mungkin cita-citaku sederhana saja. Aku hanya ingin Ivan lebih baik dariku saat ini. Menjadi orang sukses.

Tapi, Allah berkehendak lain. Ivan ditakdirkan mengalami cacat mental. Di umurnya yang sudah 9 tahun dia baru bisa duduk. Ngomong pun satu-satu saja. Persis anak umur 2 tahun. Ia harus dikelonin kemana-mana. Setiap senin dia harus ikut fisioterapi di rumah sakit ini. sudah empat tahun lamanya ini berjalan. Entah esok bagaimana.

Pupuslah harapanku untuk menyekolahkannya tinggi-tinggi atau setidaknya lebih baik dariku. Bahkan ia tak bisa sekolah kecuali di SLB. Tapi, apa aku berhak untuk menyesali keputusan Allah ini? Memang sudah semestinya kujalani semua ini.

Hanya saja, setiap melihat mahasiswa praktek itu, aku jadi tercenung. Meskipun aku merasa bahagia karena mereka sangat peduli dengan Ivan, berusaha menghibur Ivan, tapii, tetap saja seperti ada harapan yang hilang.

Ah, tdak. Aku harus kuat. Harus kuat.
“Lem…lem…, lem Pak, lem buk?”
Kembali kujajakan jualanku.


Cerpen ini (hmm..bisa disebut cerpen gak yah? Hehe)…terinspirasi dari kisah nyata. Selalu saja, rumah sakit meninggalkan begitu banyak kisah pilu sekaligus pelajaran. Ah, rumah sakit memang tempat muhasabah yang indah.
Read More

Aku Ingin Menikah, Tapi...


Cerpen
(ini hanya kisah fiktif belaka loh yaaaah. Semoga bisa sama-sama diambil hikmahnya ajah...Okeh?? heee..)


Setiap kutanya tentang perihal menikah, ia selalu menjawab,
“Aku ingin menikah, tapi…” lalu dia tersenyum dengan kalimat menggantung seperti itu yang membuat rasa ingin tahuku semakin tinggi. Aku selalu tak pernah mendapatkan jawaban tanyaku. Hanya sebingkai senyum saja. Lagi-lagi… dan lagi-lagi seperti itu.

Aku dibuatnya tak habis pikir, sebenarnya apa sih yang dia tunggu. Bukankah dia sudah menyelesaikan S-1, sudah direstui orang tua, dan juga….setahuku dia juga sudah banyak membaca buku maupun mengikuti seminar mengenai pernikahan dan pendidikan anak. Kalau masalah yang terakhir, dia selalu mengatakan kepadaku bahwa memiliki ilmu itu sangat penting sebelum melaksanakan amalnya. Dan aku sangat sepakatdengan hal itu.

Pertanyaan itu menggantung. Begitu saja. Setelahnya, kami sibuk dengan urusan masing-masing sehingga kami jarang sekali berjumpa. Pertanyaan itu pun mengambang. Hanyut begitu saja.

***

Read More

Pil Anti Korupsi

Cerpen ini dimuat di Majalah Girlie Zone Edisi 9
(waktu pertama kali tau karya ini dimuat, waaaah...jingkrak-jingkrakan abiss. Hihi...
Alhamdulillaah... eheem..., jangan lupa beli majalahnya yaah. Hehe, bantuin Promo)




Yuuuk...let's start reading...^^





Jika bukan karena perintah ibu, tentulah sangat malas sekali kakiku melangkah menuju istana megah itu. Sungguh dari dahulu perbedaan status keluarga telah membuatku tersurut berpuluh-puluh langkah. Betapa sangat tak sebanding sekali jika aku berikut keluargaku harus disandingkan dengan keluarga yang bersemayam di istana mewah itu. Meskipun, kini...
Read More

SMS Radiasi Tinggi



Jagalah hati…jangan kau nodai!!
Suara personel salah satu group nasyid yang cukup membumi itu terdengar nyaring di telingaku. Sumbernya adalah benda berkedap-kedip sekaligus menghasilkan vibrasi alias getaran yang cukup hebat untuk membangunkanku. Dengan malas dan setengah sadar kugapai-gapai benda mungil bervibrasi yang posisinya di bawah bantalku yang nyaman itu. Masih ngantuk banget sih...
Akh Faiz calling. Begitulah LCD ponsel keluaran model terkini itu memberitakan. Seperti disambar petir, aku terlonjak dan serta merta terbangun dari tidur panjangku yang indah. Dan tentu saja, neuron-neuron yang mengendalikan pusat refleks di tubuhku memerintahkan untuk mendekatkan benda abu-abu itu ke telingaku seraya berucap; ”Assalamu’alaikum.” Dan, ”Tiit...tiit...” Terdengar sambungan itu terputus.
Nada panggil itu telah berhasil membuatku terbangun seratus persen. Bukan setengah sadar lagi. Kalau dipasangkan alat Elektroensefalograf alias EEG yang bisa mendeteksi impuls listrik pada otak manusia, barangkali lonjakannya sudah tajam sekali. Wait! Wait! Siapa tadi? Akh Faiz? Tiba-tiba, vibrasi dari ponsel itu pindah ke suatu tempat yang jauh tersembunyi di bilik dadaku. Jauh...jauh...sekali, nun di pojok sana. Getaran yang menghadirkan simfoni pada dawai-dawainya yang lentur. Deburan pompa jantungku seperti mengalami perubahan ritme yang menghasilkan pompa jantung yang dua kali lipat lebih besar dan dengan frekuensi dua kali lipat lebih cepat. Palpitasi sekaligus tachycardia kalau bahasa kedokterannya.
Kenapa yah? Ada apa? Pertanyaan itu hadir di benakku tanpa bisa dicegah. Kulirik weker Winnie the Pooh nyengir di sisi tempat tidurku. Jam tiga dini hari. Atau, dia mau membangunkanku shalat malam?
Penat dengan itu, kuputuskan untuk segera ke kamar mandi. Berwudhu’ lalu menunaikan shalat malam. Bodo amat soal miscall-miscallan. Paling juga nyasar dia kali. Ke-GR-an amat sih?! Marahku kepada hatiku sendiri.
* * * * *
Kulangkahkan kakiku gontai. Tempat yang kutuju kali ini adalah mushalla. Barangkali aku masih sempat menunaikan dua raka’at dhuha sebelum mengikuti pleno Cardiovascular bersama Prof Dr. dr. H. Hadi Surya Pratama, SpJP, Sp.PD (huaa...panjang sekali namanya). Mana kelompok kami pula yang presentasi. Olala...!!! Lalu setelah itu, mengikuti skill lab dan selanjutnya pratikum di laboratorium anatomi. Wahh, bakalan ketemu lagi nih sama kadafer-kadafer yang ganteng dan cantik. Husy! Kok kadafer dibilang cantik dan ganteng sih? Walau bagaimanapun, mayat kan gak pernah mengenal lagi istilah cantik dan ganteng. Hi..hi...
”Hai Ya, senyam-senyum sendiri lo. Kenape?” Seseorang nyaris menabrakku ketika aku melewati gedung A fakultas kedokteran universitas negeri yang cukup bergengsi di wilayah sumbagut alias sumatra bagian utara ini. Bahkan mahasiswa dari Malaysia dan India pun ikut mengenyam pendidikan calon-calon dokter itu di sini.
“Eh…kamu, Yan. Ngagetin aja.” Aku pura-pura sewot.
”Abiis..., dari tadi nyengir mulu! Mana kagak ada siape-siape lagi. Gue cuma takut ajah, jangan-jangan sistem enkefalin-endorfin loe mengalami gangguan, gitchu...” Cewek gaul asal Betawi yang dibesarkan di ranah metropolis itu berujar, memberikan alasan.
”Yee... emangnya aku kehilangan rasa nyeri?! Gak nyambung lagi!”
”He...he...” Gadis itu nyengir.
Klian orang bedue ni, seronok sangat. Nak kemana ke?” Siti Nurhalisa, salah satu mahasiswa yang berasal dari Malaysia menghampiri kami.
Haa, nak ikuut?” Yana, sang gadis betawi mencoba menirukan logat melayu membuat Siti Nurhalisa mencibir. Yana membalas.
”Aku mau ke Mushalla, Ti. Ikut gak?” Tawarku.
Iyee lah.” Gadis berbaju kurung khas melayu itu mengambil posisi tepat di sisi kiriku. Lebih tepatnya menghindari Yana. Dua makhluk ini seperti ingin membuat perang dunia ketiga saja. Dua sahabat dari etnis yang berbeda yang kerap membuatku tertawa. Awal perkenalan kami memang unik. Aku dan Yana sering dibilang kembaran karena namanya mirip. Kalo’ sama Siti Nurhalisa, kami bertiga sama-sama satu kelompok tutorial ketika awal blok I dulu. Berhubung yang cewe’ cuma tiga biji, jadilah kami cewek-cewek yang solid. Cie ileeee.... Eh, enggak ding! Ada empat cewe’ sebenarnya, yang satu lagi Kalisma Kapoor (tulis) namanya. Hi..hi.... Tapi si Kapoor ni gak gaul ma kita-kita. Dia lebih enjoy sama temen-temen se-ordonya, bangsa Urdu aja.
Bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan seperti hadir di hadapan kami ketika hendak mencapai mushalla. Satu sosok yang sepertinya tak asing lagi di mataku, di mata kami, juga di mata para bigos alias biang gosip. He...he...
”Eh Naya, liat tuh.” Tiba-tiba, Yana menyikut lenganku pelan.
”Siapa?” Aku pura-pura bertanya. Sebenarnya tadi sih udah ngeliat, walaupun cuma sekilas aja, tapi, hmm...jaim dunk! Jaga imej! Hi...hi....
”Aduh Naya, masa’ siy kagak liat! Itu lho...” Tunjuknya kepada seseorang itu. Kuikuti arah telunjuknya sebelum sosok itu menghilang di balik daun pintu mushalla. ”Dia itu cocok banget ama lo!” Bisiknya kemudian.
”Ih..., Yana nih. Bikin bete tauk!” Kupelototi gadis itu.
”Ngebetein...apa ngebetein...!?” Goda Yana.
”Ih...sebel deh.” Kumelangkah maju menuju tempat wudhu’.
”Yana ni..., tak baik lah macam tu...” Masih sempat kudengar Siti Nurhalisa membelaku.
Selesai kutunaikan sunnah Dhuha, aku terpekur di atas sajadah hijau tua yang menutupi lantai keramik mushalla ini. Diam-diam, godaan Yana ikut menggelitik satu pojok nun jauh disana. Jauh di tempat yang paling pojok kisi-kisi hatiku. Apa bener gak sih? Jangan-jangan...
Ucapan Yana kembali mengantarkanku pada beberapa malam yang telah kulalui dalam minggu-minggu terakhir ini. Tiada sepertiga malam terakhir tanpa misscall dari sosok itu. Bahkan, akhir-akhir ini bukan hanya misscall aja, tapi juga SMS-SMS tausiyah. Kata-katanya bagus sih, sangat menyentuh.
Ternyata dia puitis juga yah orangnya? Pake’ acara ngebangunin qiyamullail lagi! Tapi,... koq di kampus kayak ga’ terjadi apa-apa aja. Bahkan aku dan dia jarang banget interaksi. Paling juga di kepanitiaan forum kajian Islam. Apa sih sebenarnya maksudnya dia? Satu sisi hatiku berbisik.
Ah gak...gak...! Gak mungkin! Barangkali... dia tak hanya menghubungiku kali. Paling dia juga ngebangunin atau nge-SMS temen-teman ikhwan dan akhwat lain. Ah Masa’ siy? Sebanyak niy akhwat di Kedokteran..
Satu sosok hadir seperti membentuk slide memori di otakku. Ia seperti program yang terinstall begitu saja dan menampilkan suatu media player tanpa bisa kucegah. Tentang sosok itu. Yah, sosok itu. Kalau kata anak-anak sih, --terutama Yana yang suka godain aku--, dia tuh calon dokter masa depan cerah. Udah keren, aktivis, alim, hanif, cerdas, dan anak dokter lagi. Kabar-kabarnya..., bapaknya punya rumah sakit. Lumayan tuh, investasi masa depan. He...he.... Eit, astaghfirullah...ngelantur aku nih! Ya Allah ampunkan hamba...



Ta..tapi,...tunggu dulu...dia kan sikapnya beda banget yah? Kenapa yah, koq aku ngerasain ada yang lain? Ah,...bodo’! yang jelas, SMS begituan ga baik. Setahuku sih gitu..., meskipun isinya melulu tausiyah, belum tentu maksudnya buat mentausiyahi....
”Duarrrr!” Tiba-tiba Yana ngagetin aku. Huaaa...kagetnya bukan kepalang.
”Astaghfirullah...Yan, ngagetin aja.”
”Abis, lo melamun aja siy. Sampe-sampe lo gak liat kalo’ gue udah ada di samping loe. Mikirin apa sih? Atau...., jangan-jangan lo mikirin Faiz lagi. Hayooo...ngaku aja deh loe.” Gadis itu kembali menggoda. ”Oo..ow, kamu ketahuaan..” Bibir ranumnya melafaskan salah satu lirik lagu yang sempat populer itu beberapa dekade lalu itu.
”Ih..., kamu nih. Cepet sholat Dhuha gih!” Kudorong tubuhnya. Gadis cantik itu mendelik.
”Males ah. Sholat sunat aja koq. Yuk pergi. Dah hampir masuk nih.”
”Ah iya...ya...” Cepat-cepat kukemasi mukenahku dan dengan segera pula menyambar ransel biru muda yang selalu setia menemani bahuku itu. Bersama kami menuju ruang kuliah. Siti Nurhalisa telah terlebih dahulu meninggalkan kami karena tuh anak emang ansietas kali yah?? Terlalu gampang cemas! Perlu tuh mengkonsumsi alprazolam. He...he...
* * * * *
Jagalah hati...jangan kau nodai...jagalah hati, lentera hidup ini...
Suara ponselku tersayang kembali menggema di lelapnya malam. Malam-malamku yang entah kenapa kini berubah merah jambu. Merah jambu yang kemudian berubah wujud menjadi rona humairah di pipiku. Secara ilmiahnya sih, sebenarnya karena asupan darah menuju batok kepalaku tinggi dengan adanya vasodilatasi alias pelebaran pembuluh darah. Makanya, wajah jadi memerah.
”Assalamu’alaikum.”
Tiit...tiit....Seperti biasa! Hanya miscall saja. Lalu, tiba-tiba HP tercintaku itu kembali bergetar. Satu pesan masuk.
[Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih khusyu’ dan bacaan diwaktu itu lebih berkesan. Qs. 73:6. ukhti, qiyamullail yuuk... sender : Akh Faiz]
Begitulah kira-kira bunyi pesan masuk di HP-ku. Akh Faiz! Tiba-tiba saja ada gemuruh di dadaku yang dua kali lipat lebih hebat. Entah kenapa, radiasi yang dipancarkan oleh satu SMS itu sanggup menggetarkan hatiku. Tak ada yang istimewa dari SMS itu. Bahkan SMS yang hampir sama yang dikirim oleh akhwat sesama anggota forum pun memiliki efek yang berbeda dengan SMS yang dikirimkannya. Kenapa aku lebih cepat bangun kalo’ si Faiz yang bangunin dari pada si Siti Nurhalisa, misalnya. Kan judulnya sama; sama-sama membangunkan qiyamullail!
Ah, gimana nih?? Radiasinya itu loh, bahkan lebih parah lagi. Radiasi yang mampu membuat seluruh persendian batinku lumpuh. Pembuluh nuraniku kolaps. Sebab...sebab..., kalau boleh aku jujur nih yaa,...(sstt...tapi jangan bilang siapa-siapa loh, termasuk Siti Nurhalisa, apalagi Yana) sejujurnya...eng...sejujurnya...aku seneng juga di-SMS kayak gitu. Aku mulai seneng kalo’ dia ngirim taujih. Aku bahagia waktu dia misscall. Dan, yang lebih parahnya lagi, aku gelisah bukan kepalang kalo’ sehari aja dia gak misscall atau ngirimin SMS taujih. Aduh...gimana nih ya?
Iya, ii...iya! aku tahu aku salah. Seharusnya aku tegas. Iya, aku tahu. Tapi, teman, tolong jangan hakimi aku dulu. Aku kan gak pernah minta dihubungi sama dia. Aku gak pernah minta dibangunin tuh. Dia aja yang mulai duluan... Nah, salahnya siapa coba?!
* * * * *
Hari-hariku semakin kelabu saja. Ehm...kelabu atau merah jambu? Ah, entahlah...aku juga bingung membedakan dua warna itu sekarang. Aku merasa seperti menjadi makhluk paling munafik sejagad. Tampilannya aja yang bagus, jilbab yang panjang melambai-lambai ketiup angin, gak taunya dalemnya...? Aku merasa bersalah banget sama jilbabku, sama forum, juga sama Allah. Ta..pi, aku juga gak bisa pungkiri kalo’ juga senang dengan semua ini. Aku senang aja. Sejujurnya gak bisa kusembunyiin warna merah jambu yang kemudian menjadi rona di pipiku tatkala menerima SMS seperti itu.
”Naya...Assalamu’alaikum.” Seseorang menyapaku.
”Eh, kak Tyas, wa’alakumussalam. Dari mana kak?”
”Dari rumah sakit. Ikutan forum Annisa yuk.”
”Dimana, Kak?”
”Di kampus induk. Kali ini gabungan depertemen keputrian semua fakultas.”
”Wah..., koq Naya sampai lupa ya Kak?” ya ampuun, bahkan aku sampai lupa kalau ada acara forum Annisa gabungan. Oalah Naya! Kemane aje?? Makiku kepada diriku sendiri. Padahal aku kan salah satu pengurus bidang keputrian juga?!
”Yuk. Bareng-bareng ajah sama teman-teman yang lain.”
Kuikuti langkah kakak tingkatku yang tengah menjalankan co-Ass itu. Wajah yang teduh dan bercahaya, yang tentu saja seratus delapan puluh derjat kontras denganku. Ah kak, meski sudah co-Ass, dikau masih sempatkan diri untuk ikut kegiatan keislaman. Sedangkan aku? Ah,...aku merasa begitu jauuuh...jauuhh.
”Barangkali kita mesti jujur pada hati kita. Walaubagaimanapun, laki-laki dan perempuan dicipta bukan untuk saling bertentangan dan bermusuhan, tapi, tak pula saling bercampur tanpa batasan yang jelas. Saudariku, sungguh interaksi-interaksi itu sangat tipis perbedaannya antara interaksi yang murni karena da’wah atau interaksi yang dibumbui niat-niat lain.” Suara pemateri menyambut kedatangan kami. Rupanya acara sudah mulai. Deg! Jantungku seperti ditohok. Baru saja memasuki ruangan, aku sudah disambut dengan kata-kata yang sedemikian menohoknya.
”SMS misalnya, begitu banyak SMS kangen tapi dengan wajah SMS da’wah. Kata-kata ana, antum, anti, ukhti, akhi, ’afwan dan syukran seolah-olah menjadi pelegalan bahwasannya ini SMS masih dalam koridor syra’i, padahal belum tentu isinya. Ceritanya pemenuhan hak ukhuwah atas saudara sendiri, tapi, sebenarnya ada niat lebih dari itu. Sungguh, saudariku, kita tak dapat menjamin akan seperti apa hati kita setelah ini. SMS, e-mail, chatting, dan segalam macam itu sebenarnya bukan hijab. Dia melibatkan dua personel saja, wallahu’alam apapun niatnya. Yah! Hanya dua orang saja! Si pengirim dan penerima. Okelah niatnya mau memberikan taujih, tapi, belum tentu yang menerima mempersepsinya sama. Mungkin keliatannya aman dari publik, tapi, Allah melihat, Allah mengetahui apa yang ada di dalam dada kita, meskipun hanya yang terlintas saja!” Alamak, kali ini jantungku yang serasa disayat. Kalau aku boleh menamakannya, ini lebih mirip laparaktomi ruhiyah.
”Kita sebagai akhwat memang dicipta-Nya memiliki rasa pede yang cukup tinggi barangkali yah? Kalo’ bahasa gaulnya gampang ke-GR-an.” Tawa sang pemateri lebih mirip seringaian harimau di kebun binatang Bukittinggi menurut kacamataku saat ini. ”Bukankah perempuan secara fitrahnya sangat melambung ketika diberi perhatian? Sebaliknya, laki-laki memiliki kecendrungan untuk melindungi. Walau bagaimanapun, antara laki-laki dan perempuan tetap ada medan magnet yang memiliki potensi untuk saling tarik-menarik sekukuh apapun kita bertahan dengan alasan ’tidak akan terjadi apa-apa’. Tapi, siapa yang dapat menjamin hati kita esok?
Tepat! Yah, sangat tepat sekali! Di sini nih....menghujam dalam. Dalam dadaku! Ya Allah, malunya. Bukankah aku juga terimbas? Kalo’ ga dia yang misscall ya aku! Bahkan, SMS taujihnya juga kubalas SMS taujih. Oh Allah, malunya hamba pada-Mu...
”Tapi, yang ikhwan juga salah sebenarnya! Tak sepantasnyalah seorang ikhwan yang mengerti tentang bagaimana interaksi antara dua orang berbeda jenis mengirimkan SMS-SMS seperti taujih atau ngebangunin shalat malam misalnya. Makanya saudariku, kita mesti hati-hati banget! Bayangkan saja, syetan merentang jarak diantara dua HP itu. Menghembuskan kepada hati kita yang penuh dosa bisikan untuk melakukan maksiat sekecil apapun itu! Bahkan yang kita sendiri anggap itu bukan lagi maksiat karena sudah dikemas sedemikian rupa dengan label dan sampul seislami mungkin. Sesungguhnya Allah mengetahui apapun yang tersimpan di dalam dada. Ketahuilah saudariku, tak ada yang melarang kita untuk merasakan rasa itu, yang ada adalah penempatan yang bukan lagi di koridor syar’i.....”
Pemateri itu masih saja menguraikan cerita yang panjang lebar. Sesekali diselingi humor yang membuat hadirin tertawa. Tapi, tidak bagiku. Ada segenap rasa yang seperti meremas-remas persendian bathinku. Dan tetes demi tetes itupun jatuh. Membasahi hatiku yang kian kerontang.
-Selesai-

Read More

Aku Ingin Sepucuk Cinta


“Upiak1, tadi mak sudah bicara sama mamak2 kamu.” Mak berkata datar. Pandangannya tak dialihkannya dari tumpukan kain jemuran yang baru diangkatnya tadi sore.
“Soal apa, Mak?” Aku ikut melipat kain-kain itu.
“Tentang kamu.” Aku telah menebak arah pembiaraan Mak. Pasti lagi-lagi soal jodoh itu. Apa coba permasalahan yang melibatkan mamak di Minang ini kalo’ bukan soal pernikahan?
“Apa yang dibilang Mamak, Mak?” Pertanyaan basa-basi. Sebenarnya aku sedang tak berminat untuk membicarakan hal itu. Tepatnya sudah jenuh dan bosan. Bosan dengan pertanyaan Mak tentang calon suamiku.
”Bagaimana kalau kamu dengan si Buyuang anak Pak Amir?”
Apa? Buyuang?ndak salah tuh Mak? Namun, ucapan itu cukup kutelan dalam hati. Aku tak ingin membantah ucapan Mak.
“Mamaknya Buyuang telah bermusyawarah dengan mamakmu. Dia sudah setuju. Bagaimana dengan kamu, Upiak?” Mak menatapku. Aku jadi serba salah. Namun, aku tak punya jawaban yang akan diberikan kepada Mak. Tepatnya, tak punya cara untuk menyataan tidak.
Bagaimana tidak? Aku tau siapa Buyuang itu. Preman yang sering menggoda gadis-gadis dijalanan, --meski aku bukan termasuk katagorinya. Dia juga senang berjudi, mengadu ayam, dan juga meminum minuman keras.
“Terima saja, Upiak. Kalau tidak, kamu akan jadi perawan tua, barang kali. Sudah untung ada yang melamarmu.” Ucapan Mak terdengar pedas ditelingaku. Hatiku serasa terbakar. Sangat sakit.
“Astaghfirullah, Mak. Jodoh kan sudah diatur Allah. “
“Tapi, selama ini tak ada yang datang melamarmu, Nak. Apa kamu mau menyia-nyiakan kesempatan ini?” Intonasi Mak melunak. Aku mengela nafas. Kutatap wanita dengan guratan tua yang jelas diwajahnya itu lekat. Wanita yang dengan susah payah melahirkan dan membesarkanku.
“Lalu, apa dengan begitu kita harus langsung menerima lamaran dari orang yang datang meski akhlaknya ndak baik, Mak?” Aku berujar dengan nada naik. Aku bukan tak tahu bahwasannya Mak tahu perilaku lelaki yang tengah ditawarkan Mak kepadaku itu.
“Mak hanya tak ingin kamu tak dapat jodoh, Upiak.” Ujar Mak pelan. “Toh, dulu Mak juga menikah dengan almarhum Abakmu yang juga preman.”
Ya Allah, tunjukilah Mak. Sungguh beliau masih jauh dari hidayah-Mu. Karuniakan hidayah-Mu ya Rabb…
“Mak,… Hasna yakin Allah telah menyiapkan jodoh bagi kita. Kita tak perlu khawatir, Mak. Apa Mak tega membiarkan Hasna menderita jika menikah dengan laki-laki macam itu?” Aku menyelami sepasang mata milik Mak. Meski hatiku meringis.
“Tapi, Upiak! Itu kan katamu saja. Buktinya selama ini tak ada yang melamarmu. Sadar, Nak! Berkacalah! Jangan terlalu pilih-pilih.”
“Barangkali Allah belum menetapkan saat ini adalah waktu yang tepat, Mak.” Aku menelan ludah. Hatiku memanas. “Hasna yakin, Allah akan mengirimkan laki-laki yang terbaik untuk Hasna nantinya.” Pernyataan terakhir kuucapkan dengan getir.
“Cobalah kamu pikirkan lagi, Upiak! Sekali lagi Mak bilang, berkacalah!” Mak membawa tumpukan kain yang telah selesai dilipat kesudut rumah kami yang mungil lagi sumpek. Rumah yang tentu lebih pantas disebut gubuk dengan tiga ruang utama; kamar yang multi fungsi dengan ruang tamu kalau siang hari, satu bilik yang bersekat dengan dapur dan dapur itu sendiri.
Aku memutuskan untuk menuju bilik. Perkataan Mak menyinggung perasaanku. Dan itu tak pertama kalinya, tapi acap kali. Aku bisa paham. Mak adalah orang yang biasa bergaul dengan orang-orang keras dan kasar. Tak heran perkataan beliau pun kasar. Namun, aku tetap seorang manusia yang punya perasaan. Kuhempaskan tubuhku pada dipan reyot dengan kasur tua dan bantal yang sudah kuyu. Disana kutumpahruahkan bulir bening yang dari tadi membentuk genangan air dipelupuk mata. ‘Ala bidzikrillahi tathmainnul quluub. Satu pojok hatiku menguatkan. Ya, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.
Kuraih mushaf pemberian Uni Fatimah, sang Murabbiyahku3 dan kemudian tenggelam dalam muraja’ah4. Lampu diruang itu hanya lima Watt. Terlalu remang untuk membaca Al Qur’an.
Perlahan kesejukkan menyusup dalam relung kalbuku. Betapa, hatiku benar-benar bergetar. Kurasakan Allah begitu dekat berada disisiku. Bahkan Dia lebih dekat dari urat leherku sendiri. Bulir-bulir bening kian menganak sungai. Kesejukan yang begitu menyeruak dalam sejumput jiwa yang tengah didera berbagai permasalahan. Saat-saat indah bercumbu dengan-Nya.
Kutatap wajahku lewat cermin buram yang terletak di sisi kiri bilik itu. Berkali-kali aku menelan ludah. Menatap bayangan gadis dengan kulit gelap dan bersisik, bibir hitam, dan wajah penuh jerawat. Sepasang mata itu seperti seolah melotot, hidung yang sangat jauh dari mancung, bahkan lebih cendrung melebar ke kiri kanan. Dan, dua gigi depan yang selalu menonjol keluar yang menyebabkan bibir legam itu tak pernah bisa terkatup rapat. Semua itu adalah komponen pennyusun seonggok tubuh manusia bernama Nur Hasna. Ya, itu diriku.
Namun, aku belajar bersyukur atas semua yang telah dikaruniakan Allah itu. Bagiku, Allah telah menciptakanku dengan begitu sempurna. Aku lebih baik dari orang yang tak dikaruniakan-Nya mata untuk melihat, aku lebih baik dari orang yang tak dianugrahkan-Nya telinga untuk mendengar, bibir untuk berbicara, dan tangan untuk memegang, serta kaki untuk melangkah. Aku diberi nikmat kesehatan, sementara begitu banyak orang yang terbaring tak berdaya di rumah sakit. Aku lebih baik dari mereka. Dan aku sangat bersyukur atas itu semua.
Dan, aku sangat lebih beruntung ketika Dia menganugrahkan kepadaku nikmat yang jauh lebih indah. Yap, nikmat hidayah-Nya. Nikmat untuk merasakan betapa indahnya mengadu pada Allah saat kebanyakan manusia terlelap dan terbuai mimpi. Nikmat untuk senantiasa tak merasa kenyang dengan kalimat-kalimat-Nya, dengan Al Qur’an-Nya. Dan aku yakin, tak semua orang dapat merasakannya.
Sebuah slide berputar dalam benakku. Masa ketika pertama kali aku diperkenalkan dengan dunia yang begitu indah yang mau menerimaku dengan tatapan hangat dan bersahabat. Setelah sebelumnya aku kenyang dengan ejekan, dan juga yang teramat menyakitkan, tatapan penuh ketakutan dari anak-anak kecil ketika melihatku. Atau tatapan anak-anak nakal yang mengejekku dengan ejekan yang terlalu pedih untuk disebutkan. Ketika terhempas dan merasa diri tak berguna itulah, aku bertemu dengan orang-orang yang mau memelukku hangat, membuatku merasa dihargai sebagai seorang manusia. Mereka adalah orang-orang mulia yang mengantarkanku ke jenjang tarbiyah, menemaniku mengenal dunia Islam yang sungguh luar biasa. Menuntunku kepada kebenaran hakiki yang sering dilupakan banyak orang. Subhanallah…
Masa-masa itu adalah ketika aku menduduki kelas dua SMP. Uni-uni yang tengah menduduki kuliahlah yang menuntunku. Mengenalkanku pada kelompok kajian intensif yang dilaksanakan secara kontinu, hingga saat ini, saat aku telah menginjak usia dua puluh tiga. Dan aku sangat mensyukuri karunia-Nya ini.
Satu lagi nikmat terbesar yang dikaruniakan-Nya kepadaku. Yap, itu adalah nikmat terbesar yang membuatku tak henti-Nya mengucap kalimat syukur. Nikmat untuk menjadi penjaga Kalimat-kalimat-Nya. Penghafal Al Qur’an. Alhamdulillah, aku telah menghafalkan Al Qur’an tiga puluh juz. Bukankah itu suatu nikmat terbesar yang kupunya sebagai karunia terindah dari-Nya? Maka nikmat Allah mana lagi yang patut kuingkari setelah sekian banyak nikmat-Nya teruntuk padaku?
*****
Hari semakin berlalu. Mak masih mempermasalahkan soal pernikahanku. Bahkan, terkesan memaksaku untuk menerima perjodohan itu. Mak berpendapat, “sudah untung ada yang melamar kamu, Upiak! Sudahlah, terima saja! Dari pada kamu jadi perawan tua. Ingin mengunggu siapa lagi kamu, hah? Mak tak yakin akan datang orang lagi setelah ini. Kesempatan tak datang dua kali, Upiak!” Ya, seperti kebanyakan orang tua, Mak sanagat khawatir aku tak dapat jodoh. Apalagi dengan kondisi fisikku seperti ini. Bagi Mak dan kebanyakan orang di kampungku, usia dua puluh tiga itu sudah terlalu tua. Apalagi, soal fisik dan harta itu masih sangat menonjol. Padahal, Rasulullah mewasiatkan bahwasannya memilih pasangan hidup itu hendaklah memprioritaskan agamanya terlebih dahulu.
Apakah salah jika aku menginginkan seorang pendamping hidup yang shaleh? Aku tak berharap dia seorang kaya dengan pekerjaan bonafit, seorang yang sangat tampan, lulusan universitas ternama dengan IP tinggi. Cukup seorang yang shaleh, titik! Sosok yang mau menerimaku apa adanya. Aku yang hanya seorang lulusan SMA. Meski kemudian aku ikut lembaga Tahfidz Qur’an yang sama sekali tak membayar. Yah, lagi-lagi karena himpitan ekonomi itulah! Padahal, semasa SMA aku juara kelas dan secara akademis berpeluang besar untuk kuliah. Aku tak ingin menyusahkan Mak. Itu saja. Tapi, aku tetap ingin bersyukur dengan keadaanku saat ini. Setidaknya, aku masih senang melahap banyak buku ilmu pengetahuan, apapun itu. Aku ingin, punya pemikiran cerdas. Aku tak ingin ketinggalan dari teman-temanku yang punya kesempatan untuk kuliah.
Salahkah jika aku ingin punya qawwam yang menuntunku ke syurga, tidak ke neraka-Nya? Aku ingin pula membentuk keluarga Qur’ani yang rumahnya ramai dengan lantunan Al Qur’an, yang penghuninya senantiasa mengamalkan isi Al-Qur’an, senantiasa mentadabburinya dan menghafalnya. Aku ingin pula punya imam yang mengajakku qiyamullail setiap malam dan menta’limku dengan ayat-ayat-Nya. Itu saja! Sekali lagi, tak perlu ganteng, kaya, dan punya pekerjaan bonafit! Lalu salahkah aku? Tak bolehkah?
Pemikiran itu terus menderaku. Hingga langkahku kini terseret kerumah Uni Fatimah. Untuk sekedar melepas gundah, menatap wajah teduh nan cantik itu. Memenuhi akan rasa haus ukhuwah yang terasa begitu indah.
“Assalamu’alaikum.” Kuketuk daun pintu jati itu tiga kali. Aku kini telah sampai didepan rumah yang sederhana tapi asri itu. Langkah-langkah kecil terdengar dari balik pintu.
“Wa’alaikumcalam” Terdengar suara cadel milik Zaid, anak uni Fatimah yang baru berumur tiga tahun. Jundi kecil itu dulunya sering takut melihatku, tapi kini telah akrab denganku. “Eeh.., Ammah Canah? Yuk macuk!” katanya gembira. Sang ummi yang tengah berdiri dibelakangnya ikut tersenyum. Aku mengucap salam dan memeluk Uni Fatimah, lalu si kecil Zaid.
“Gimana kabarnya, ukhti?”
“Alhamdulillah baik. Uni gimana?”
“Alhamdulillah…”
Ummahat berumur tiga puluhan itu mempersilahkanku duduk dan mengidangkanku secangkir teh hangat dan satu toples kue kering. Kami larut dalam cerita. Pada akhirnya, aku ceritakan jua perihal keinginana Makku untuk menjodohkan aku dengan preman itu. Aku ceritakan bagaimana aku tak ingin melawan pada Mak, dan tak ingin mengecewakan beliau.
“Uni, carikan untukku ikhwan yang bersedia menerimaku apa adanya. Tak perlu ikhwan yang punya jam terbang tinggi, ganteng dan kaya. Yang penting shaleh dan punya komitmen terhadap dakwah. Uni, Hasna tak ingin punya qawwam yang tak punya iman. Uni,… Mak sudah hampir memaksa Hasna. Bahkan, diam-diam beliau telah merencanakan pernikah Hasna dengan Mamak”
“Ukhti,… bersabarlah. Allah pasti takkan menimpakan ujian berat jika hamba-Nya tak sanggup memikulnya. Ishbiri ya ukhti…, Insya Allah, Dia akan memberikan pilihan yang terbaik yang punya kualitas iman sama dengan anti. Uni yakin dan percaya, dengan kualitas Hasna yang sedemikian tinggi ini, anti tak akan disia-siakan oleh-Nya. Bersabarlah ukhti… banyaklah berdo’a, memohon kepada-Nya”
Aku tergugu. Kalimat-kalimat yang disampaikan uni Fatimah memang benar-benar memenuhi rongga dadaku. Oh Allah tolonglah hamba-Mu ini…
*****
“Upiak, pernikahan kamu sudah Mak siapkan! Tinggal menunggu hari. Kira-kira sebulan lagi. Kamu persiapkanlah diri.” Kata-kata Mak malam ini bagai petir menyambar ditelingaku.
“Apa, Mak? Tidak bisa begitu, Mak! Hasna kan belum setuju.!!” Aku protes. Dadaku bagai tertohok alu besar. Hatiku serasa dicincang.
“Kamu harus setuju, Hasna! Kalau tidak, kapan lagi? Mak tak suka kamu menolak begitu, padahal dia sudah bersedia menikah dengan kamu.”
Kata-kata Mak terasa sangat menyakitkan bagiku. Aku ingin melawannya. Tapi, aku tak ingin menjadi anak yang durhaka dengan berkata yang tidak baik kepada Mak. Meski yang diperintahkannya adalah perintah yang tak baik, tapi aku ingin menolaknya dengan cara yang ma’ruf. Namun, untuk saat ini, kemarahanku sudah sampai diubun-ubun. Jika diteruskan, pasti akan melukai perasaan Mak.
Segera aku menuju sumur belakang. Membasahi tubuhku dengan wudhu’ lalu mengurung diri di bilik. Kutunaikan shalat dua raka’at, lalu bertilawah. Bulir-bulir bening menganak sungai di pipiku. Betapa sedihnya hati ini mendengar berita mengejutkan itu. Aku teringat akan pembicaraan yang tak sengaja kudengar saat melewati pos pemuda siang tadi.
“Kenapa ang mau pula menikah dengan padusi buruk rupa itu, Yuang?”
“Ang indak tahu! Padusi5 itu sangat menarik untuk dibuat mainan, wua..haa..haa… Padusi macam itu kan tipe istri setia. Kita kan masih bisa ‘main’ di luar. Ha..haa..haa..”
Betapa sakitnya hatiku. Aku benar-benar merasa harga diriku diinjak-injak. Aku tak ingin seburuk itu. Aku ingin menjadi istri yang baik, patuh dan berbakti pada suamiku, pada imamku. Lalu, aku akan bersuamikan orang macam itu? Na’udzubillah…, Dosa apakah yang telah kuperbuat pada-Mu Rabb, hingga Engkau timpakan ujian yang begitu berat?
Berulang kali aku menghalau rasa sedih dan pilu di hatiku dengan beristighfar. Namun, rasa itu makin perih mengiris ulu hati. Menyayat lembaran batinku. Air mata yang kini telah kering dan menyisakan bengkak dipelupuk mataku belum apa-apa dibanding hancurnya hatiku.
Miris kubayangkan beberapa ikhwan yang menolakku saat ta’aruf ketika melihat kondisi fisikku. Mereka ikhwan itu menolak dengan alasan yang berbeda namun maksudnya nyaris sama. Yap! Sama-sama menolak dengan alasan fisik semata. Ah, barangkali Allah akan menghadirkan untukku ikhwan yang lebih berkualitas yang tidak hanya berorientasi pada fisik semata. Kendatipun, ikhwan juga manusia yang cendrung pada yang cantik, pada yang lebih wah. Namun, hanya Ikhwan yang ketulusannya dan keikhlasannya benar-benar terujilah yang mampu melihat dengan mata hati yang bernama iman.. Insya Allah aku akan mendapatkannya. Begitu kata uni Fatimah.
Ya Allah, bukannya hamba tak bersyukur diberikan keadaan seperti ini ya Rabb,… tapi hamba hanya tak ingin hamba menjadi orang yang kufur dengan nikmat-Mu. Sungguh sangat banyak nikmat-Mu ya Rabb…dan hamba ingin menjadi orang yang senantiasa bersyukur pada-Mu.
Wahai Allah, hamba yakin, ditangan-Mulah letak segala kepitusan itu. Hamba sepenuhnya percaya ya Rabb, bahwa keputusan-Mu adalah keputusan yang terbaik. Rabb,… berikanlah yang terbaik bagi hamba ya Allah,…
Ya Allah, karuniakan bagi hamba qawwam yang juga mencintai-Mu. Seseorang yang senantiasa dekat dengan-Mu, dan senantiasa berjihad dalam memperjuangkan agama-Mu. Bukan imam yang lupa pada-Mu, bukan imam yang membawa hamba ke neraka-Mu. Rabb,…karuniakan yang terbaik untuk hamba ya Allah, ya Rahman ya Rahiim.
Ya Allah,…jangan Engkau letakkan di pundak hamba beban yang tak sanggup hamba memilkulnya ya Rabb… Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Mu ya Allah,…
*****
Waktu yang berjalan semakin menyiksaku. Aku merasa tengah menempuh jalan gelap yang curam dan penuh duri. Hari yang mengerikan itu semakin dekat. Aku hanya ingin mempasrahkan kepada sang Maha Pemilik Keputusan. Aku hanya ingin merasa selalu dekat dengan-Nya, mengingat-Nya dikala suka maupun duka.
“Upiak, ada teman kamu datang.” Mak memberi tahu ketika aku tengah termenung sendiri didalam bilik pagi hari yang cerah ini. Akhir-akhir ini, aku merasa tak bersemangat membantu Mak mencuci kain orang,--pekerjaan yang kami tekuni dan juga membantu para tetangga untuk memanen sawah, lalu kami diberi upah. Aku lebih senang mengurung diri di bilik.
Betapa berbinar wajahku, ketika kudapati yang datang adalah Uni Fatimah. Setelah berbasa-basi sedikit, Uni Fatimah menyatakan maksud kedatangannya.
“Ada yang ingin ta’aruf dengan anti, ukh… Ini biodatanya. Silahkah dibaca.” Wajah legam penuh jerawatku memerah. Dadaku bergemuruh. Ya Allah, akankah ini jawaban dari permohonan hamba??
“Insya Allah, sore ini beliau bersedia untuk ta’aruf. Ukhti datang ke rumah ya…, ba’da Asyar insya Allah.”
“Sore ini, Uni?” Dadaku kembali berdebar tak karuan. Anggukan yakin uni Fatimah semakin memacu detak jantungku.
*****
Lelaki tegap dengan kulit coklat tembaga , jangkung, berhidung cukup bangir. Ya, dialah ikhwan yang dua minggu lalu berta’aruf denganku. Dia menyatakan kesediaannya untuk menikahiku. Seorang mantan aktivis kampus di Universitas tempat dia kuliah dulunya. Juga seorang sarjana Teknik yang punya segudang aktivitas dakwah. Dan telah bekerja di perusahaan elektronik cukup berkelas. Empat tahun lebih tua dariku.
Betapa aku ingin selalu menyimpan di relung memoriku, tentang sepotong kalimat yang membuat aku begitu terpesona; ana hanya ingin seorang akhwat yang komitmen dengan dakwah, dan sang hafidzah yang siap membentuk generasi qur’ani. Kalimat itu diucapkannya mantap waktu itu.
“Apa antum takkan kecewa dengan kondisi ana?” Bahkan aku yang merasa tak pantas untuk mendampingi ikhwan luar biasa itu.
“Bagi ana, semua ini sudah lebih dari cukup. Allah tak pernah melihat rupa seorang hamba, namun,Dia akan menilai ketaqwannya.”
Aku benar-benar bersyukur atas karunia-Nya. Allah, Maha Rahman dan Maha Rahim memberiku lebih baik dari apa yang kupinta. Lalu, nikmat Allah mana lagi yang pantas manusia dustai? Sungguh Dia akan menambah nikmat-Nya bagi orang-orang yang bersyukur.


(cerpen ini awalnya diajukan untuk antologi cerpen pernikahan FLP Sumbar, tapi kagak lolos. Huhuhu. Akhirnya dikirim ke Harian Singgalang. Alhamdulillah, diterbitkan. Di Koran Harian Singalang, 7 Desember 2008)


Keterangan :
1. panggilan terhadap anak gadis di Minang
2. paman (kalau di Minang paman memiliki andil yang besar dalam membuat keputusan)
3. guru pembina/guru ngaji
4. mengulang kembali hafalan Al Qur’an
5. perempuan
Read More

Carikan Mozaik

“Ng..ng…emm…brmmm…” Gumaman tak jelas keluar dari mulut mungil Iza. Tak ayal, gumaman itu cukup membuat kepalaku tertoleh pada tubuh mungil yang tengah beringsut di ruang tengah. Ruang itu telah dibuatnya berantakan. Tangannya sibuk meraih model huruf-huruf berwarna-warni berbahan dasar plastik. Kuteruskan pekerjaan mengupas bawang yang sempat terpenggal sejenak. Setidaknya, dari dapur ini aku masih bisa mengawasinya.

Tiba-tiba,

Brakk!

Terdengar seperti sesuatu yang jatuh. Aku terkesiap. Segera kutinggalkan goreng ikan yang sedang kumasak dan berlari ke ruang tengah. Ya Allah!

”Izaa....” Panggilku panik. Tubuh mungil itu kini dipenuhi tumpukan buku-buku. Segera kuselamatkan gadis kecilku itu. Tumpukan buku yang menindihnya kembali kutaruh di atas meja. Aku sangat ceroboh menaruhnya terlalu dekat dengan pinggiran meja. Pasti dia sudah mengacak-acaknya.

”Izaa..., tidak boleh ya. Nanti, kalau bukunya jatuh lagi menimpa Iza, kan sakit.” Terangku padanya. Rupanya ia sedang mengamuk. Meraih segala sesuatu dan berusaha memukulkannya ke mana pun ia bisa. Wajahnya memerah. Jika dia sudah mengamuk, tak ada satu barang pun yang aman darinya.

”Iza kenapa sayang?” Kucoba mencari matanya. Tapi, tak sedikit pun mata bundar dengan cahaya yang berpendar itu membalas tatapanku. ”Iza marah ya? Sama siapa? Sama Bunda?” Kupegang kedua bahunya lembut.

Barangkali sia-sia saja jika aku berharap untuk disahut. Betapa pun sangat rindunya aku dipanggil ”bunda” oleh malaikat kecilku itu. Sebab, hanya gumaman yang tak jelas yang keluar dari mulut mungilnya. Hanya itu. Tak lebih.

”Ng..ng...,grrrhhh...” Iza masih saja mengamuk dan berusaha melepaskan diri dariku. Lalu melempar semua mainan yang dipunyainya ke mana pun dia bisa. Aku benar-benar dibuatnya panik. Badannya yang sangat bongsor tak sanggup kutahan. Sungguh, aku dibuatnya kelelahan.

”Iza, hayo, bilang ke Bunda, Iza kenapa? Ayo sayang.” Aku mencoba menenangkannya. Segera kuambil kartu ”ekspresi” yang berada dalam map binder tersusun bersama tumpukan buku-buku. Sebuah PECS (Picture excange communication system). Kuarahkan padanya ekspresi wajah orang senyum –meski aku tahu itu bukan ekspresi yang tepat-- tapi, sungguh aku ingin ’mentitrasi’ saja. Gadis kecilku itu menggeleng segera. Respon yang membuatku tersenyum, lega. Kuacungkan ekspresi murung. Lagi-lagi menggeleng. Lalu, ekspresi marah. Gadis kecilku itu mengangguk cepat. Lagi-lagi, sungguh ada kebahagiaan lain yang menyeruak di bilik hatiku. Sungguh, ini semua telah cukup membuatku bangga. Bangga yang tentu bukan apa-apanya bagi ibu lainnya. Dan, kalau aku boleh menamakannya, ini adalah anugrah dari Allah atas usaha panjang kami yang melelahkan.

”Kenapa sayang?” Tanyaku. Mencoba mengulas senyum. Tangan kecilnya serabutan memilih kartu-kartu dalam map binder yang berisikan gambal, simbol, dan foto. Koleksi gambar itu tidak hanya mewakili kata benda melainkan juga emosi dan perasaan. Tangan Iza mengambil satu gambar kucing.

”Ohh..., Iza sebel sama kucing ya?”

Belum selesai kubercakap –lebih tepatnya berkomunikasi-- dengan malaikat kecilku itu, tiba-tiba aroma sesuatu memenuhi ruangan. Ada asap hitam dari arah dapur. Ya Allah, gorenganku! Cepat-cepat kuberlari ke arah dapur. Fiuff..., oh melelahkannya.

***

Hari ini hari ibu. Dua puluh dua desember. Terkadang, aku ingin bertanya, apa hadiah yang diinginkan oleh seorang ibu di hari yang bersejarah ini? Kado? Diajak jalan-jalan? Atau hanya sekedar untaian puisi pertanda sayang? Entahlah. Barangkali tak ada yang bisa kuharapkan dari malaikat kecilku itu. Tak ada. Untuk apa aku berharap?

Siang yang terik, ketika jutaan para ibu lainnya mungkin sedang merayakan hari istimewa ini bersama anak-anaknya, aku malah berada di pinggiran kolam renang khusus untuk anak-anak. Iza sangat suka berenang. Aku biarkan saja ia berbahagia dengan pelampung berbentuk bebek berwarna orange itu. Wajahnya benar-benar sumringah ketika menciduk cairan bening itu. Aku berani melepasnya sendiri sebab siang ini cukup sepi.

Di tempat duduk yang tersedia di pinggiran kolam, aku tercenung. Menatapi tubuh mungil itu dengan warna rasa yang tak dapat kudefinisikan. Kalau boleh, ingin rasanya aku meratapi nasibnya.

Dahulu, dulu sekali masih lekang di ingatanku betapa besar mimpiku untuk menjadi sekolah pertama bagi anakku. Jauh sebelum akad sakral itu terucap, semua buku-buku yang berkaitan dengan mendidik anak dan dunia parenting telah kulahap habis-habisan. Alasannya sederhana saja, aku ingin jadi ibu dengan persiapan. Tidak hanya learning by doing. Bukan sekedar punya anak lalu membesarkannya tanpa ada sesuatu yang berarti yang ingin kuhadirkan.

Masih segar di ingatanku betapa dengan penuh semangat kutulis di papan organizerku tentang cita-cita besarku untuk menjadikan anak-anakku generasi Rabbani, anak-anak cerdas yang insya Allah akan menjawab tantangan masa depan umat, calon pemimpin masa depan, sosok yang berilmu, sosok yang ditunggu kedatangannya. Betapa aku sadar dengan sesadar-sadarnya, bahwa untuk mempersiapkan itu semua tak cukup dengan mata kuliah dua SKS. Tak cukup hanya dengan persiapan sesaat. Sebab, jika ingin memperbaiki bangsa, maka yang harus perbaiki terlebih dahulu adalah kaum ibunya. Karena itu, kupandangkan tekad dengan begitu kukuh.

Dan masa itu pun datang. Masa di mana aku diamanahkan-Nya sebagai seorang ibu. Tak terkira bahagiaku kala itu. Kembali kususun draft dan masterplan tentang apa saja yang harus kupersiapkan. Persiapan fisik, tentu saja. Aku tak mau kekurangan gizi dan asupan zat-zat penting membuatnya bodoh dan cacat. Persiapan ruhiyah dan kejiwaan, sangat penting. Ini adalah bagian yang paling esensial bagiku. Sebab, sebagai sekolah pertama bagi anak, tentulah aku akan menjadi contoh ikutannya. Lalu, tak ketinggalan info-info yang berkaitan dengan itu. Tentu saja. Percuma saja berbuat tanpa ilmu, bukan?

Waktu pun berlari begitu kencangnya yang terkadang membuatku begitu tertatih mengikutinya. Tak ada kecurigaan sedikit pun ketika aku mengamati perkembangan Iza, anak pertama –yang mungkin sekaligus menjadi anak terakhirku sebab pasca melahirkannya, rahimku diangkat karena kista di mulutnya—yang cendrung lebih lamban dari teman sebayanya. Sementara Rahmah, anak tetanggaku yang usianya hanya berselisih tiga hari dengan Iza sudah demikian pesat perkembangannya. Umur satu tahun, dia sudah berlari dengan kencang dan mulai mengucapkan sau persatu kata-kata. Iza di umur yang sama belum bisa apa-apa. Hanya bisa tidur di box bayinya. Kalau terjadi sesuatu padanya, dia hanya menangis, mengamuk, atau menceracau tanpa kutahu maknanya.

Pada awalnya, aku mengira ini semua hanya perkembangan alamiah yang tidak menimbulkan masalah. Barangkali saja anakku memang lebih progresif dibandingkan yang lain. Aku membiarkan saja dia berkembang dengan sendirinya, sembari memberikan suplemen ASI yang cukup. Namun, di tahun kedua, belum ada perubahan yang begitu signifikan terhadap tumbuh kembangnya. Lain dengan anak tetanggaku yang bahkan sudah bisa berkomunikasi dengan orang sekelilingnya.

Ketika aku mengkomunikasikan masalah ini kepada Uda Faiz, suamiku yang sedang bertugas di sebuah perusahaan kayu di Kalimantan, beliau hanya mengatakan ”Tidak usah terlalu dipikirkan Fa’. Insya Allah, lambat laun Iza akan berkembang dengan baik.” Walau aku cukup tenang dengan pernyataan Uda Faiz, tapi, sungguh ada kekhawatiran besar yang menggelayuti persendian batinku. Naluri keibuanku tetap mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Hatiku semakin kisut ketika menyaksikan Rahmah sudah bisa sedikit-sedikit membaca. Dia mulai hafal beberapa do’a, menyebutkan angka dari satu sampai sepuluh dalam bahasa arab dan inggris. Berbeda sekali dengan Iza. Aku benar-benar curiga, ada sesuatu yang tidak beres dengan anakku. Sampai umur tiga tahun pun dia belum bisa berbahasa dengan baik, bahkan hanya untuk menyebutkan kata ”bunda”. Ia tak acuh dengan perintah sederhana yang kukatakan padanya meskipun sudah sangat sering kuulang-ulang. Yang paling menyedihkan lagi, dia tak pernah mau menatapku setiap aku berbicara padanya. Dia seperti punya dunia sendiri.

Hingga kemudian kucoba membawanya ke berbagai tempat yang dianjurkan banyak orang. Mulai dari dokter anak, psikiater, pengobatan alternatif, psikolog anak. Semuanya sudah kucoba. Pada akhirnya, aku benar-benar harus terhenyak dengan kenyataan yang harus kuhadapi. Kenyataan yang sedikit pun tak pernah terlintas dalam alam pikiranku. Kenyataan yang membuat langit di atas kepalaku seakan mau runtuh menimpaku. Kaki yang menopang tubuhku seperti sangat goyah untuk menyangga tubuh ini. Aku harus menerima kenyataan itu, bahwa anak semata wayangku salah satu penderita autisme. Yah, gangguan perkembangan yang menyangkut interaksi sosial, perilaku, dan bahasa para penyandangnya. Sebuah penyakit gangguan sistem syaraf/neurologi kompleks yang membutuhkan penanganan intensif, seumur hidup!

Buyar sudah semua cita-citaku. Buyar sudah impianku untuk menjadi seorang madrasatul ‘ula bagi seorang calon pengusung peradaban. Buyar sudah keinginanku untuk menjadikannya bintang cerdas yang bersinar cemerlang. Mimpi-mimpiku itu telah mengalami dilatasi yang begitu jauh. Sungguh jauh! Berharap dia bisa menguasai sepuluh kata sehari saja sudah menjadi impian bagiku saat itu. Sangat jauh dari obsesiku yang kutulis beberapa tahun sebelumnya, ketika aku sangat menginginkan anak yang cerdas yang barangkali sudah hafal juz ‘amma di umurnya yang tiga tahun. Atau, sudah dapat bercakap-cakap bahasa Inggris di umurnya yang masih dini. Semua seperti carikan mozaik yang tak bersesuaian. Aku sudah sangat capek untuk mencocokannya. Sungguh.

Perjalanan hidupku bersama Iza selanjutnya adalah perjuangan yang sangat melelahkan. Ditambah lagi, Uda Faiz sangat jarang sekali pulang karena jarak Kalimantan-Sumatera Barat itu sangat memakan biaya besar dan waktu yang lama. Uda Faiz harus naik kapal berhari-hari untuk sampai di sini. Ongkos pesawat di kala itu benar-benar tak terjangkau oleh kami. Kami bersepakat, lebih baik biaya pulang yang tiga kali setahun dialihkan saja menjadi dua kali atau bahkan sekali setahun saja untuk menambah biaya pengobatan Iza. Mengurus kepindahan pun sangat sulit. Aku sendiri tidak bisa lagi intens mengajar di semua sekolah menengah swasta karena harus intensif merawat Iza. Satu-satunya sumber dana utama memang dari kiriman Uda Faiz. Kadang-kadang, juga dari honorku menulis.

Memasuki tahun ketujuh usia Iza, belum ada perubahan yang berarti. Aku potang-panting ke sana-kemari mencari jalan. Bertanya kepada banyak orang. Mencoba melenyapkan fakta tentang banyaknya mata yang menatap iba kepada Iza. Berbagai upaya kulakukan. Mencari berbagai referensi di mana pun termasuk di dunia cyber. Apalagi, di kota kecil bernama Solok belum begitu populer pengobatan dan sekolah khusus anak autis. Aku harus bolak-balik ke Padang untuk melakukan terapi Iza setiap bulannya. Itu semua butuh dana yang tidak sedikit. Hingga seorang kenalan memberitahuku mengenai sistem komunikasi PECS (Picture excange communication system). Setidaknya, dengan usaha yang panjang dan sangat melelahkan ini akhirnya sedikit banyak aku bisa berkomunikasi dengannya.

”Coba sama Mak Datuak itu Fa’. Mana tahu nasib Iza bisa berubah.” Tawar ibuku suatu hari. Yang dimaksud oleh ibu adalah dukun kampung di pelosok kecamatan Kubung.

”Aduh, gimana ya Bu? Syifa’ menghargai usaha ibu untuk menolong Iza. Tapi,...itu kan syirik Bu. Pakai jin-jin segala.” Alasanku.

”Kamu ini, selalu saja indak menuruti kata ibu. Ibu yakin sekali kamu dulunya tasapo di jembatan ketika kamu hamil Iza. Waktu itu kamu sempat demam tiga hari. Iya kan? Juga waktu Iza lahir, kamu tak mau membungkus bawang putih di kainnya Iza. Itu kan penangkal palasik.”

Waktu itu kutanggapi dengan senyum saja. Sebab, walau bagaimana pun sangat sulit memberikan penjelasan kepada Ibu. Paham nenek moyang itu sudah sangat melekat pada diri beliau. Aku sudah mencoba berkali-kali sebelumnya. Namun tak ditanggapi ibu. Aku tak mau mendebat beliau lebih panjang. Sebab aku hanya takut melukai perasaan wanita yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang itu.

Kadang, aku begitu bersemangat mencari terapi baru untuk penyakit Iza. Namun, di lain kesempatan aku juga merasakan suatu keputusasaan. Akankah aku harus terus mengeloninya seumur hidup? Apakah salah jika aku berharap dia sedikit lebih mandiri. Terlalu berlebihankah aku jika aku berharap untuk dipanggil ”Bunda” oleh anakku? Bukankah itu semua adalah keinginan yang sederhana?

Bahkan, sampai saat ini aku selalu kesulitan jika menanganinya jika sedang mengamuk. Pernah suatu hari, laptop yang kubeli dengan susah payah --agar aku bisa menulis di kala aku sedang menemaninya terapi untuk menambah pemasukan-- dalam beberapa menit saja telah disulapnya menjadi barang rongsokan akibat keusilannya mengotak-atik dan menghempaskannya. Fiuff..., sungguh sangat melelahkan. Aku jatuh-bangun, terombang-ambing.

”Ng..ng...” Panggilan dari Iza membuyarkan lamunanku. Aku menoleh padanya sembari melempar senyum. Hingga mendekati usia delapan tahun ini, Iza hanya bisa mengucapkan gumaman yang tak jelas. Tak lebih dari itu.

”Ada apa sayang?” Aku menyampirkan sehelai handuk kepadanya seraya membantunya menuju ruang ganti. Gadis kecilku itu menurut saja ketika kudandani dia. Setelah semuanya selesai, tangan kecilnya mengambil binder map dan mengacungkan foto rumah kami kepadaku. Kembali kuulaskan senyum.

”Iza mau pulang ya?” Tanyaku. Malaikat kecilku itu mengangguk. Sungguh, respon seperti ini adalah hal yang biasa bagi kebanyakan ibu-ibu dengan anak-anak yang normal. Tapi bagiku, ini sudah sangat luar biasa. Respon yang sungguh kutunggu bertahun-tahun. Perlu usaha yang begitu panjang untuk bisa sampai seperti ini. Yah, baru seperti ini.

Perjalanan pulang kujalani dengan lebih riang. Lebih ringan. Apalagi, sore ini kami akan menjemput ayahnya Iza ke bandara BIM di Padang Pariaman. Setelah delapan tahun, akhirnya Uda Faiz bisa mengurus pindah ke Padang. Wajah Iza diliputi tawa yang berbeda dengan hari sebelumnya. Barangkali dia mulai faham, bahwasannya kami akan menunggu kedatangan ayahnya.

Sesampai di rumah, gadis kecilku itu langsung menyodorkan pakaian baru yang kubelikan beberapa hari yang lalu. Meski ketika kuhadiahkan pertama kali padanya, gadis itu tak acuh. Dia tak menghiraukanku dan sibuk dengan bonekanya tanpa peduli padaku. Seolah-olah aku tak ada. Ia hanya memanggilku jika dia membutuhkanku saja. Namun, agaknya saat ini dia mulai paham. Oh, sungguh betapa bahagianya hatiku. Cepat-cepat kupasangkan untuknya.

Setengah jam kemudian, kami telah duduk di depan teras rumah, menunggu travel yang akan membawa kami ke bandara. Iza, seperti biasa sibuk dengan alam pikiran dan dunianya sendiri. Namun, dia lebih cerah. Sangat riang sekali. Beberapa kali dia melompat-lompat.

Hingga,

”Ng...brmm...zzrr” Panggilnya. Aku menoleh. ”Ng...brmm...nda” Panggilnya lagi.

”Ada apa sayang?”

”Saa...saayy yang...Ndaa...” Ucapnya. Bola mata bening itu berpendar. Wajah lugu itu menatapku sesaat. Hanya sesaat.

Allahu akbar!!!

Segera kupeluk erat malaikat kecilku itu. Oh Allah, the dream comes true! Betapa aku bermimpi mendengarkan dia mengucapkan kata ”sayang” kepadaku. Carikan mozaik itu seolah kutemukan kembali untuk kupasangkan pada puzzle kehidupan ini. Oh, sungguh semuanya seperti terbayar. Kelelahan seperti tertebus. Adakah yang lebih membahagiakan dari ini semua? Atau, inikah hadiah spesial untukku dihari yang istimwa bagi para ibu ini?***END***
Read More

Sepenggal Nelangsa

Titik saturasi!

Yah, jenuh. Aku benar-benar mencapai titik jenuh. Jenuh atas semua ini. Tolong jelaskan padaku, apa yang harus aku lakukan. Ini sama saja dengan menyuruhku melarutkan segelas gula dalam segelas air. Sampai dunia kiamat pun takkan pernah larut. Lalu, akan kunamakan apa lagi semua ini?

Aku jenuh atas ketidakbiasaan ini. Aku jenuh menjadi makhluk asing di rumahku sendiri. Aku jenuh dengan atmosfir kehidupan yang sama sekali tak lagi sama. Aku kehilangan semuanya. Aku kehilangan Kak Faiz, juga Rhian. Tak ada lagi Kak Faiz dan Rhian yang dulu.

”Maaa..., Ian mau mandiii. Mandiin yaaa...” Satu wajah cute dan innocent muncul di balik daun pintu kayu jati. Teriakan kecil itu semakin membuat saturasi yang mengendap di otakku jadi mengkristal. Membatu. Beku.

”Mandi sendiri sana!” Usirku galak.

”Ih...Mamaaa...” Bocah tiga tahun itu mengkerut. ”Mama jahat!” Teriaknya, lalu berlari meninggalkanku. Di kondisi seperti ini, kedar emosiku memang sangat meningkat tajam.

Tiba-tiba aku tersadar atas kesalahan fatalku. Ya ampun, bahkan Rhian turut menjadi korban. Padahal, aku baru saja sedang berusaha membangun hubungan baik dengan pangeran kecilku itu. Mencoba terbiasa dengan perubahan. Mencoba berdamai dengan keadaan. Lantas, apa yang barusan kulakukan? Oh my God! Segera kususul langkah kecilnya yang berlari meninggalkanku.

”Iaan..., di mana kamu sayang? Iaan....” Kupanggil namanya. Tak ada sahutan.

”Iaaaa...n.” Panggilku lagi.

Tiba-tiba,

”Mbak Ina! Ayo, kita maen pelang-pelangan.” Terdengar teriakan cadel dari arah kamar mandi. Lalu terdengar guyuran-guyuran air. Suara itu makin ribut dan makin ribut, ditingkahi teriakan dan suara tawa.

Huh! Perempuan itu lagi! Dasar sumber petaka! Kehadirannya di rumah ini sudah cukup membuat aku terguncang! Dasar penghacur rumah tangga orang lain. Tak tahu diri! Sejak kedatangnnya suasana rumah ini menjadi sangat aneh. Membuatku seperti alien nyasar di bumi, padahal aku adalah ratu di rumah ini. Dia? Siapa dia!? Hanya seorang pembantu rumah tangga. Sekali lagi kubilang, PEMBANTU! Arghhh…! Ini benar-benar sangat menyebalkan.

”Grrhh....” Sosok mungil itu keluar dengan menggigil. Disusul kemudian dengan satu sosok lainnya yang menunduk takut-takut.

”Ngapain aja kamu sama Rhian di dalam?” Tanyaku ketus.

”Eng...anu Bu, mandiin Rhian.” wajahnya semakin dilipat.

”Kenapa sampai teriak-teriak gitu?”

”Mama kok malah cih?? Kan Cuma maen pelang-pelangan...” Rhian ikut membela. Bahkan anakku lebih berpihak padanya!

”Ian, sini mama pasangin baju. Kamu, cepet ke belakang sana!” Usirku sambil menarik lengan Rhian.

”Permisi,Bu.” gadis itu berlalu dengan takut-takut.

”Mama kok malah cama Mbak Ina? Kan Mbak Ina gak calah!” Protes pangeran kecilku itu.

”Rhian sayang, kamu tahu gak?” Aku mencoba melunak. Meredakan emosi yang sudah sampai di puncak ubun-ubun.

”Enggak!” Jawabnya polos.

”Maen guyur-guyuran itu gak baek.”

”Emangnya kenapa, Ma?”

”Nanti airnya masuk ke telinga. Telinga kamu bisa infeksi.”

”Incek..fi? incekfi tuh apaan, Ma?”

Ups, aku lupa kalau aku bukan tengah berbicara dengan relasi bisnis. Tapi, dengan anak usia tiga tahun yang kritis, sangat suka protes dan sangat suka bertanya. Sang pangeran kecilku yang cerdas.

”Infeksi, sayang.” Ralatku, membuat kening wajah tampan itu berkerut. ”Maksudnya, entar kalo’ masuk air, telinganya jadi bau, sakit, dan bernanah. Gak mau kan?” Aku selesai memasangkan piyama untuk pangeran kecilku.

”Gak mauu...” Rhian menggeleng ngeri. Kuulaskan sebingkai senyum untuk permataku yang tampan itu. Sungguh, seperti ada ribuan mil jarak yang memisahkan kami, hingga aku seperti tak mengenal sosok cerdas itu lagi. Dia bukan orang lain, tapi anakku! Sosok yang deminya kupertaruhkan nyawa. Tapi, sungguh, ada yang hilang!

”Eh, Mama...Ian maunya pake baju koko.”

”Kenapa baju koko sayang?” Tanyaku heran. Bahkan aku tak terbiasa dengan permintaannya ini.

”Kan mau ke mesjid. Ian udah janji cama Papa.” ke Mesjid? Sejak kapan kebiasaan ini berlaku? Mau tak mau, kuikuti jua permintaan pangeran kecilku itu.

Dengan gaya eksekutif muda, Rhian mematut dirinya di depan kaca. Lalu, mulai berkacak pinggang. Aku dibuatnya gemas. Dan, ini semua berhasil membuat kejenuhanku sedikit menguap, berganti ketidakmengertian. Ah, pangeran kecilku yang cerdas dan tampan!

”Ma, cuklon ya...” Katanya kemudian dengan wajah ceria.

”Cuklon? Apaan tuh sayang?” istilah apa lagi ini?

”Cuklon itu artinya makaciih.” terangnya seperti seorang guru kepada murid.”Ian pegi dulu Ma,...Calamu’alaikum.” Langkah-langkah kecilnya meninggalkanku. Aneh! Aku benar-benar dibuatnya heran. Aku seperti murid kelas satu SD yang sedang belajar kalkulus. Sunggu-sungguh tak mengerti.

Beberapa saat kemudian satu sosok juga berbaju koko memasuki kamar, tempat di mana aku terpaku saat ini. Kamar yang kukunjungi hanya ketika pulang dari kantor untuk menciumi si tampan Rhian dan menyelimutkannya, atau ketika pagi-pagi, sebelum berangkat kerja, ketika pangeran kecilku itu masih terlelap. Sosok itu mengulum senyum teduh.

”Mama, mau ikut tidak? Jarang-jarang loh, liat Mama pulang maghrib begini.” tawar sosok itu. Aku bengong. Asli.

”Eng...” otakku sedang sibuk mencerna, ada apa ini sebenarnya?

”Ayolah Mamaa, ikut yuu...k” Sosok yang berada di belakangnya ikut merajuk.

”Eng...emm..., Mama di rumah aja ya sayang?”

”Yaaah..., cayang cekaleee..”

”Ya udah. Yuk Ma, kami berangkat dulu. Eh jangan bengong terus donk, kayak sapi ompong tuh.” Sosok itu mencoba bercanda. Canda yang sesungguhnya kurindu. Sudah sangat lama sekali. Aku hanya mengangguk saja, sembari melempar senyum.

Ah, Kak Faiz. Benarkah perubahan itu adalah suatu keniscayaan? Bukankah ia adalah suatu yang nisbi? Kalaupun iya, apakah harus secepat ini? Sungguh, aku tak siap dengan kejutan-kejutan ini. Tak siap dengan jalan kita yang tak lagi linear! Seperti tak lagi bersisian.

”Gimana kalo’ Dek Lia gak usah kerja aja? Kan udah ada Rhian.” Tawarnya suatu hari, jauh sebelum aku menyadari perubahan ini. Aku terbelalak kaget mendengar permintaannya waktu itu.

”Apa? Kak Faiz pasti bercanda ya?”

”Ini serius Dek.”

”Masalahnya, sayang banget Kak. Karir Lia kan lagi menanjak? Kita sudah punya begitu banyak relasi bisnis. Perusahaan kita Cimanggis sudah buka cabang.”

”Lalu, kompensasinya kamu harus pergi pagi pulang malam, begitu?”

”Yahh...itu kan sudah konsekuensi, Kak. Lagian, Rhian itu anak yang cerdas. Dia punya daya tangkap yang tinggi. Tidak salah kalau dia masuk les dan sekolah. Itu baik untuk perkembangan otaknya.”

”Justru itu tidak baik untuk perkembangannya. Rhian tak hanya harus cerdas secara intelektual, tapi pribadinya, agamanya, emosinya, semuanya. Dia butuh figur seorang ibu. Lagian, penghasilan Kakak sudah jauh lebih dari cukup, Dek. Buat apa semua harta dunia itu?”

”Aduh, gimana ya Kak?! Dunia bisnis adalah impian Lia sejak dulu. Masak sih harus dilepas begitu saja? Masalah Rhian, gampanglah! Lia udah konsul dengan banyak psikolog mengenai masalah pendidikan anak. Lia juga sudah meng-hunting berbagai referensi di buku-buku parenting, majalah, dan di internet. Apa itu masih kurang?”

”Percuma saja referensi sehebat apapun kalau gak ada aplikasinya. Pagi-pagi kamu sudah pergi. Lalu pulangnya sudah malam. Kapan kamu punya waktu untuk Rhian?”

”Kan hari minggu Lia selalu full untuk Rhian.”

”Tak cukup hanya dengan satu hari saja, Dek. Pun hari minggu itu kamu masih sering kerja. Jarang sekali kamu punya waktu. Iya kan?” Aku tak menjawab. ”Dek, anak itu butuh teladan. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Akan jadi apa Rhian nantinya kalau Adek hampir-hampir tak punya waktu untuk dia?”

Perbincangan itu seperti mengambang begitu saja. Tak ada penyelesaian. Aku tetap dengan pendirianku. Pun juga beliau. Aku sesungguhnya heran dengan permintaan itu. Sangat berbeda sekali dengan Kak Faiz yang dulu kukenal pertama kali ketika sama-sama menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa di almamater kami. Kak Faiz yang seorang mentri di kabinet lembaga yang cukup bergengsi di tataran kampus dulunya, tentu akan sangat mengerti betapa loyalnya aku terhadap organisasi. Betapa aku hanya akan menjadi pesakitan jika harus berdiam diri di dalam rumah. Tapi sekarang??

Hingga, suatu hari, tak lebih berselang dua bulan setelah itu, lagi-lagi ada kejutan darinya. Tiba-tiba Kak Faiz yang dulunya sangat anti dengan pembantu karena telah dikecewakan beberapa kali dan mengumumkan tidak akan pernah lagi mengangkat pembatu, tiba-tiba ingin mengangkat seorang pembantu untuk Rhian. Meskipun Kak Faiz tak pernah membahasakannya pembantu. Tapi, tetap saja pembantu kan?

”Sarinah itu anaknya santun, Dek. Gak neko-neko. Dia tamat SMA dan pernah mondok dulunya. Masih keluarga jauh Kakak. Dan yang baru Kakak tau, ternyata dia saudara sepersusuan Kakak. Dahulu, ibu kakak sakit sehabis melahirkan Kakak. Masnya Sarinah yang seumuran dengan Kakak akhirnya harus berebut air susu ibunya karena beliau menawarkan air susunya untuk Kakak.” Kak Faiz mencoba berargumen waktu itu. ”Kalau Dek Lia memang belum bisa berhenti dari pekerjaan, akan lebih baik rasanya kalau kita meminta Sarinah untuk membantu kita menjaga Rhian. Apa kamu mau, Rhian dikasih obat tidur terus sama pembantu-pembantu kita dulunya itu, biar Rhian gak bawel? Atau, apa kamu masih bisa berlapang dada dengan pembantu yang pemalas yang kerjanya selalu nonton gosip? Atau kamu mau, Rhian dititipkan terus diberbagai tempat yang katanya les dan sekolah diusianya yang masih tiga tahun?”

“Apa?! ini tidak adil, Kak! Pokoknya Lia tidak setuju!”

”Kamu tetap harus setuju!”

”Lia tidak mau! Bukankah sekolah, les, dan semacamnya itu sudah cukup untuk menjaga Rhian?”

”Setuju tak setuju, saya akan tetap meminta Sarinah.”

”Kakak egois!”

”Kamu yang egois!”

Hal yang aku takutkan itu terjadi. Petaka itu datang ketika perempuan kampungan dengan pakaian aneh itu hadir di rumah kami. Perempuan berikut dengan pakaian serba longgar dan jilbab yang panjang. Bagaimana mungkin aku bisa menerima ini semua? Sedang untuk menerima keputusan Kak Faiz secepat ini aku sesungguhnya tak siap, apalagi perempuan itu adalah perempuan yang sangat tak biasa. Bukankah aku paling anti dengan perempuan macam begituan? Aku tidak bisa menerima begitu saja kehadiran seorang perempuan yang selama ini teman-teman sejawatnya habis kucaci-maki. Kolot. Kampungan. Gak bisa berdandan atau sedikit lebih modis. Dan mungkin saja pengikut aliran sesat. Jangan-jangan dia ingin meracuni fikiran Rhian, lagi!

Tapi, bagaimana pula aku hendak menentang keputusan Kak Faiz? Aku sudah terlalu mengerti dengan karakternya yang keras kepala. Hitam baginya hitam dan putih baginya putih. Jika dia sudah bilang putih, siapa yang sanggup merubahnya jadi hitam? Lagian, aku tak ingin terus-terusan bertengkar dan adu argumen dengannya.

Oh, adakah yang lebih menyiksa dari ini semua? Adakah yang lebih menjemukan dari ini semua? Tolong, tolong beri tahu aku.

”’Amma ya tacaaa aluun. ’aninnabail ’ajiim. Allajiii hum fii hii muktalipuun. Kalla caya’lamuuu..n. ” Suara cadel Rhian membuyarkan lamunanku. Aku tersentak. Membaca apa pangeran kecilku itu? Serta merta aku keluar dari peraduanku. Yah, lagi-lagi kamar! Tempat persembunyian paling ampuh.

”Membaca apa sayang?” Tanyaku? Oo...oww, rupanya permataku sedang belajar Al-qur’an. Ya ampuu..n, apakah ini kebiasaan baru juga?? Bahkan aku tidak tahu bahwasannya yang tengah dibaca Rhian itu adalah bagian dari ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an kalau saja tidak melihat langsung dia memegang kitab itu.

”Mama udah colat?” Rhian mengalihkan perhatian dari hafalan Al-Qur’annya. Aku tersentak! Bahkan Rhian mengingatkan aku untuk sholat. Sementara sosok berpakaian koko putih yang tengah bersama Rhian itu seperti membiarkan saja aku terkejut dengan bingkai senyumnya yang terkulum.

”Eh..., astaga...belum.” Dari tadi aku terlalu asyik melamun hingga tak menyadari putraku itu sudah kembali dari mesjid. Dan sholat? Boro-boro! Ah, sungguh betapa sering dengan entengnya aku meninggalkannya, dengan tanpa rasa berdosa. Bagiku, ibadah toh hanyalah di mesjid saja. Kehidupan dunia dan ibadah itu kan berbeda. Kalau memang sama dan sejalan, gak mungkin kan di kitab suci tertulis kata dunia dan akhirat yang terpisah?

”Mama, enggak boleh bilang astaga. Kan enggak ada altinya. Kata Mbak Ina, bilangnya astakfilullah...”

”Astaghfirullah sayang. Bukan astakfilullah...” Ralat sosok yang dari tadi hanya menyaksikan aku digurui oleh anak umur tiga tahun.

”Iya.... gitu dee. Mama cepet colat yaa. Ental, dengelin Ian ngaji ya Ma. Mama kan pulangnya malam telus. Enggak pelnah liyat Ian ngaji. Iya kan Ma?”

Dug! Kalau bukan anakku, tentulah aku sudah mencubitnya. Seorang Yulia, top maneger diberbagai perusahaan berkelas, yang kiprahnya sudah skala nasional, lulusan terbaik fakultas ekonomi universitas nomor satu di Indonesia dengan predikat cumlaude, tiba-tiba diajari anak kecil.

Persaanku benar-benar tak menentu. Sungguh aku tak dapat mendefinisikan entah bernama rasa apa yang kini bersemayam di bilik dadaku. Malu. Kesal. Heran. Marah. Ah, entah apa lagi. Semuanya seperti menjadi satu membentuk godam yang siap menghantam kepalaku kapan saja. Aku seperti makhluk paling goblok sedunia. Di mana letak harga diriku? Menguap. Menyublim.

”Dek, subhanallah. Lihat! Rhian sudah nyaris hafal surat-surat di juz 30. An-Naba’, An-Nazi’at, ’Abasa,...semuanya.” Kak Faiz berkata dengan wajah sumringah ketika kupaksa menyeret langkah ke ruang tengah itu setelah menunaikan perintah pengeran kecilku yang benar-benar asing dimataku. Setidaknya saat ini. ”Tau gak, Dek? Gimana Rhian bisa hafal?” Masih dengan semangat yang sama Kak Faiz bercerita. Aku hanya menggeleng kecut.

”Sarinah itu ternyata sudah hafal sepuluh Juz waktu dia mondok dulunya. Sambil membereskan rumah, dia menghidupkan kaset murattal juz 30. Dan itu terus berulang-ulang. Eh, gak taunya ternyata memori Rhian merekam semua itu. Sama seperti ketika pembantu kita yang dulu ngidupin kaset dangdut. Ingat gak, Rhian juga sampai hafal lagu dangdut karena keseringan dengar kaset dangdut. Kakak bahkan sampai takjub lho, Dek. Dan, satu hal lagi, Rhian juga hafal begitu banyak do’a-do’a. Yang Adek bilang emang benar. Rhian memang anak yang cerdas. Semua berkat Sarinah yang telah ngajarin Rhian. Ah, beruntung yaa... kita meminta Sarinah sebagai pengasuh Rhian. Coba aja kalau yang ngajarin Rhian banyak hal kayak gitu adalah Dek Lia, pasti akan lebih baik lagi.”

Blarrr!!!

Seperti dismbar petir. Kata-kata Kak Faiz seperti listrik voltase tinggi yang siap menyentakkanku dengan sengatannya. Aku seperti tersentuh pagar kawat yang mengandung muatan listrik itu. Sakit. Perih. Dan, sudah terakumulasi.

”Kenapa sih Kak, Sarinah melulu? Dari kemaren-kemaren Kakak selalu saja membanding-bandingkan Sarinah dengan aku! Aku terlalu jelek di mata Kakak!” Aku meledak. Sesungguhnya aku tak dapat lagi menyusun huruf agar menemukan padanan kata yang tepat untuk mewakili nama rasa yang berkecamuk dihariku. Air mata. Marah. Kecewa. Kesal.

”Lho, kenapa Dek Lia marah? Seharusnya bangga dong!”

”Kak Faiz tidak mengerti!” cetusku. Segera kutinggalkan sosok yang terbengong-bengong itu. Tak kuhiraukan lagi wajah tak enak dan rasa bersalah perempuan brengsek yang tengah mengajari Rhian hafalan ayat sholat itu. Semuanya sungguh menyebalkan!

***

Di kamar, aku tergugu. Kutumpahruahkan semuanya. Sudah cukup rasanya aku bertahan dengan rasa aneh tak bernama ini, dengan perubahan drastis yang terjadi di rumah ini setelah kedatangan perempuan itu. Tentang perubahan Kak Faiz yang semakin membuatku tak mengenal sosoknya, dengan sikap kritis Rhian yang sering memojokkanku, dengan semuanya! Benar-benar mencapai titik saturasi.

”Maa, kok enggak pake jib..lab kayak Mbak Ina?? Jiblab itu kan bagus, Ma.” perkataan Rhian beberapa hari yang lalu, ketika aku mengantarkannya tidur, seperti hadir begitu saja tanpa kucegah. Bahkan, bibirku kelu untuk menjawab pertanyaannya itu. Jilbab seperti Sarinah, perempuan kolot itu? Oh no!

”Maa, tidul yuk. Tapi, kata Mbak Ina, halus baca do’a dulu. Bacain dong Maa..” Ini ujarnya di lain kesempatan. Otakku seperti diperas untuk mengingat do’a ketika hendak tidur. Walhasil, tetap saja aku tak berhasil me-recall memori do’a akan tidur itu. Sebab, sudah lama sekali aku tak membacanya. Sudah sangat lama.

”Maa do’anya gini loh, pertama baca kul huwallahu ahad dulu. Abis tu, kul’audzubilabbil falaq tiga kali. Telus, kul ’audzublabbinnas tiga kali. Baru baca do’anya. Gitu Ma.... yuk mama, kita baca cama-cama.”

Aku merasa menjadi orang paling tolol sedunia dihadapan Rhian. Bahkan, semua orang boleh mengklaim aku idiot. Bodoh. Dungu. Entahlah. Aku capek . Sungguh. Capek aku mengarikan dan mecoba berdamai dengan semua ini. Mungkin esok. Atau lusa.





Syakuro, Jumadil Awwal 1429 H

“special for my Madrasatul ‘ula”
Read More