Beberapa kesalahan dalam mendidik anak

Aha..haa.., kayak yg udah pengalaman ajah nih yeee. Ehm..ehm.., enggak lah! Belum pengalaman koq.
Jadi begini loh, critanya. Suatu hari, di subuh yang sahdu (cieee, koq jadi puitis begini yah??), di sebuah mesjid yang tak begitu megah, ada kuliah subuh. Semacam kultum begitu. Nah, tema yang diangkatkan kali ini bagiku saaaangaaaaaaat menarik, karena memang kenyataan yang sering dijumpai di lapangan. Tentang apa hayyo?? Yap! Tepat sekali, KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK! Secara, diriku suka sekali mengamati anak-anak, tentulah tema ni menjadi snagat menarik bagiku.

Karena menarik itulah, akhirnya aku juga tertarik untuk menuliskannya di sini.
Beberapa kesalahan dalam mendidik anak.
1. Orang tua sering menuntut anak untuk melakukan suatu perintah tanpa menjelaskan alasannya.
Misalnya : cepat pakai bajumu! Jangan ganggu adikmu! Bikin PR kamu itu segera! Ganti bajumu! Bagun! Cepat mandi! Cepat tidur! Jangan main di sana! Dan sederet kalimat perintah lainnya! Hal yang seharusnya dilakukan adalah memberikan pemahaman dan alasan mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Apa sebabnya, apa akibatnya.
Kenapa? Karena anak kecil, umumnya memiliki pengalaman yang terbatas. Mereka ga bisa mikir kalo larangan dan perintah yg kita berikan itu sebenarnya buat kebaikan si anak juga. Makanya, kita mestilah kasi pemahaman ke dia. Gimana sih baiknya. Gituuuh…

2. Kaku dalam menetapkan aturan bagi anak. Seorang anak yg dibesarkan di ranah otoriter yang kaku akan merasa putus asa, apalagi di saat orang tua gak pernah peduli dengan usaha terbaik yang ditunjukkannya pada orang tua. Ia jadi ngerasa berada dibawah tekanan, sehingga mempengaruhi masa depannya.

3. Tidak menyikapi kesalahan anak dengan penuh kesabaran
Hal yg penting yg harus dipahami oleh seorang pendidik adalah pengendalian emosi dan kesabaran, karena standar nilai dalam dunia anak jauh berbeda dengan dunia dewasa. So, ortu mesti membimbing anak-anak tuk bisa mendekati standar nilai yg baik. Trus, yg namanya dunia anak-anaka yaa dunia dengan penuh kesalahan karena mereka sedang mengeksplorasi semua yang ada di sekeliling mereka. Mereka blum bisa ngebedain mana yg benar dan mana yg salah, makanya arahan ortu ntu perlu banget.
Apa contoh?
Missal begini, “Baduuuuuuuuuu, jangan main laptop, nanti kamu merusaknya!!!”(uwiiih, hi tech banget nih yaa? Hehehe) si Badu langung ngelakuin pembelaan diri, “Gak kok mama, Badu ga bakal ngerusakin laptopnya koq!” mamanya langsung nyolot, “Mana pulak gak rusak. Kemaren aja kamu menghilangkan program ini, program tub bla..bla… lihat saja, sebentar lagi, kamu pasti ngerusakin tuh laptop!!” si Badu jadi bĂȘte, “ih, mama ni, aku bisa koq!!”. Gak lama berselang, ternyata tu lapotop emang rusak, si mama langsung bilang, “Tuuuuuuuh kaaaaaaaan!! Apa mama bilang! Jadi rusak tuh!!!!!”
Dalam contoh di atas, meski sebenarnya si ibu gak maksud apa-apa kecuali memperingatkan anaknya, tapi tetep aja sang ibu sesungguhnya belum bisa mngendalikan emosinya. Apa bukti? Di sana ada kalimat yg seolah-olah meremehkan sang anak,” Mana pulak gak rusak. Kemaren aja kamu menghilangkan program ini, program tub bla..bla… lihat saja, sebentar lagi, kamu pasti ngerusakin tuh laptop!!”, kalimat ini secara tak langsung meremehkan kemampuan anaknya. Ucapan tsb belum mampu mendorong anak utk berprilaku benar. Sikap matang dalam menanggapi, merespon kesalahan anak dengan kesabaran, dan emosi yg terkendali mampu membentuk kepribadian anak biar lebih baik.

4. Ga’ berusaha utk memahami, atas motivasi apa siih, anaknya ngelakuin kesealahan.
Yg pasti setiap anak gak terlahir dalam kedaan paham akan segala sesuatu. Ada banyak alas an sebenranya. Bisa jadi karena ia penasaran dan pnya rasa ingin tahu yg tinggi ataupun karena pengen dapet perhatian, jadi, dy neglakuin kesalahan. Atau bisa jadi, --na’udzubillah— TIDAK adanya kecendrungan dari ortu untuk menerima kekurangan dan kelebihan anak apa adanya. Anak yang dituntut sellau sempurna sehingga yang ada hanyalah kritikan-kritkan saja terhadap anak.

Bisa jadi juga ortu ga bisa memenuhi kebutuhan psikis sang anak. Bak itu kebutuhan fisik, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kaih saying, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan aktualisasi diri.(yeee, ini kan piramida tingkat kebuthan menurut maslow. Pada tahu kan??)

5. Kesalahan yg juga sering dilakuin adalah, ortu seing kali obral janji. “Nak, kalau kamu dapet juara satu, mama belikan sepeda yah.” Eh, gak taunya, pas sang anak udah dapet juara, hadiahnya kagak datang2. Jadinya apa? Anak kagak percaya lagi sama ortu. Ini akan jadi pengalaman buruk baginya nanti.

6. Ngasi hukuman justru waktu anak neglakuin kebaikan.
Lha, apa maksud? Hmm…begini, missal lagi nih, si Badu bangun tidur, dan terselip niat di hatinya, “ahhh.., hari ini mau bantu mama ah. Mau beresin kamar tidur sendiri.” (biasanya diberesin sama mama). Trus, pas udah selese, si Badu ngelapor, “Mama..mama…, tengok, Badu udah beresin tempat tidur looooh.”
Bukannya menghargai, sang mama malah bilang, “Kamu ini!!! Seharusnya bangun tidur itu gosok gigi dulu, cuci muka dulu!!! Bla..blaa…”
Ini secara tak langsung “membunuh karakter” anak. Apa salahnya sih, diapresiasi dulu???

7. Ga’ ngasi hukuman waktu anak berbuat salah. Nah, sebaliknya, waktu anak salah, mbo ya dikasi hukuman lah yaaa. Kalo’ gak, mana mungkin dia bisa sadar dengan kesalahannya. Asalkan caranya wajar dan mendidik! Yaaah,, seperti yg udah dibilang juga di poin 3.
Inagt-ingatlah, HATI-HATI DENGAN HUKUMAN FISIK PADA ANAK!!
Jadikan hukuman fisik sebagai hukuman terakhir. Hukuman fisik jgn dilakukan ketika ortu dalam keadaan marah. Berikan fase hukumannya , dari yg paling ringan hingga berat. Tidak memukul wajah dan kepala. Jangan memukul anak hingga umurnya 10 tahun. Bila itu kesalahan pertama anak, hendaknya ia diberikan kesempatan untuk sekedar mengakui dan meminta maaf atas kealahannya. Pemberian hukuman jangan diwakilkan kepada saudaranya, karena akan menimbulkan kebencian anak kepada kakaknya/saudaranya. Trus, berlaku adil dalam memberikan hukuman.

HAL YANG HARUS DIHINDARI DALAM HAL MENGHUKUM ANAK ADALAH : menghukum satu anak yg melakukan kesalahan dan membiarkan yg lainnya. Minimpakan hukuman pada anak yg tidak bersalah. Menghukum kesalahan yang dilakukan anak dengan tidak sengaja. Menghukum anak yang melakukan kesalahan yang mana kesalahan itu sudah menyebabkan anak terluka secara fisik. Tidak meringankan hukuman anak ketika ia mengakui kesalahannya. Menjadikan hukuman sebagai suatu sarana untuk berinteraksi dengan kesalahan anak.

8. Membandingkan anak dengan kakak-kakaknya tau orang lain. Uwwihh, ini lama banget membekasnya nih. Dia ngerasa down tentunya. Padahal, kan kemampuan anak gak sama! Makanya, jangan sekali-kali membandingkan anak dengan kakanya atau temannya.

9. Ortunya kontradiktif.
Missal nih yaaa,
Ortu bilang ke anak, “Nak, kita harus jujur kepada sesama yah…”
Sang anak pun mulai menanamkan dalam hatinya, bahwa kita harus jujur. Nah, suatu kali ada seorang tamu datang. Sang ortu langsung sembunyi, sambil bilang ke anak, “Badu, ntar bilang ya, mama lagi gak di rumah!”
Nah lho????
tadi katanya harus jujur???

10. Menghina, meremehkan dan membeda-bedakan dalam berinteraksi dengan anak. Wuihhh, ni parah loh akibatnya. Misalnya, ortu bilang, “kamu ini koq bodoh sekali. Masa’ ini aja ga’ dapat. Kamu ini kok pemalas sekali! Dasar, OON!”. Udah gitu, kluar lagi bahasa kebun binatangnya,…
“kamu itu……a*j*ng, m*ny*t,..” dan bahasa sejenis.
Nah, lama-lama, pernyataan itu akan tertanam pada jiwa sang anak, sehingga ia memang merasa dirinya bodoh alias OON.
Atau kata-kata, semacam :
“Kamu lebih jelek dari yg mama kira. Kamu Emang gak punya kemampuan apa-apa!”
“malu mama bawa kamu! Lebih baik gak usah mngakui aja kalau kamu itu anak mama!”
“kamu egois!”
“mama gak mau seorangpun tau kalau kamu itu anak mama!”
“kenapa kamu gak sepintar saudaramu, heh?”
“halaaah, itu ide kolot!”
“kamu itu idiot, tauk!”
“mama gak pernah bangga punya anak seperti kamu!”
Sungguh, kata-kata itu seperti bom waktu yang siap meledak suatu saat. Secara tak langsung, kata2 itu berarti tidak mengakuinya sebagai individu selayaknya!

Dan masih buuuuaaaaaanyaaaaaaaak lagi! Terlalu panjang untuk dituliskan. (ini aja udah segini panjangnya). Sing penting, kita semua sama-sama evaluasi, untuk kebaikan di masa mendatang. Sangat banyak kenakalan remaja disebabkan oleh orang tuanya sendiri yang tak paham bagaimana cara mendidik anak yg baik. Sehingga out put yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan. Meskipun inputnya bagus (berasal dari bibit unggul), kalau prossesingnya kacau, tetap saja hasilnya tidak baik.
(halaaaaaaaaaah, koq sok tau banget yah, diriku. Ehm..ga’ koq. Ini hanya mengutip pernyataan seorang sarjana psikologi)

Maka, aku sepakat sekali bahwasannya yang perlu dibenahi terlebih dahulu itu, yaaa..orang tuanya! Sekolah pertamanya! Madrasatul’ulaaa nya. Ibu, juga ayah! Bukan sepenuhnya tanggungjawab perempuan tentu saja.

Sungguh, peradaban di masa mendatang, ada di tangan mereka. Pada Seperti apakah kita mempersiapkan generasi Rabbani itu. Merekalah calon pemimpin bangsa ini kelak. Maka, ditangan kitalah kunci semua itu. Memberikan pendidikan Qur’ani dan tentu saja dengan harta yang halal lagi berkah. (ingat kisah ayahnya Imam Syafe’i yg berusaha untuk mencari siapa pemilik apel hanyut yang ia makan bukan? Sosok seperti apakah yang lahir kemudian? Sosok luar biasa sekaliber imam syafe’i, bukan?)



homeSWEEThome, 3 Syawal 1430 H.
Read More

Aku malu menjadi pharmacist

Hehe, mungkin judulnya rada-rada aneh. Tapi, barangkali kamu semua kemudian bakalan sepakat dengan apa yg aku rasakan saat ini (hahay, ke-PD-an diriku nihh)

Suatu hari, ada sebuah pernyataan dari Pak Dekan, lebih kurang bunyinya begini, “kalian itu apoteker odong-odong. Bukan apoteker, tapi ampongteker”.
Hiks…, sedikit ‘terpukul’ dengan kata-kata itu (meski tujuannya memotivasi sih).
Bayangkan, betapa susahnya melewati semester demi semester, dengan kegiatan kuliah dan pratikum yang begitu buaaaanyaaaaaaaak, sehingga bikin kepala jerawatan (hehehe, lebay!), dan dengan tangis darahhh,,(uwwihhh, makin lebay ajah niy), masa’ out putnya Cuma jadi APOTEKER ODONG-ODONG. Jadi buat apa dong, selama ini kita menggerus-gerus di lumpang biar bisa jadi tablet or jadi suspensi or eliksir, mentitrasi mendestilasi dan mengolom, serta rotary yang lamaaaanya minta ampuuuuuuuuuun, mengekstrak, maserasi, nyuntik mencit, membiakan bakteri, mengukur kadar suatu zat dgn alat yg mahal dan keterbatasan sarana dan prasarana, kalau pada akhirnya kita disebut APOTEKER ODONG-ODONG. Hiks…hiks…, sedih kagak siy??? T_T

Iyyah,,sedih sekaligus prihatin.

Namun, jika berkaca pada kenyataan yg ada selama ini, aku merasa itu semua WAJAR ADANYA. Bukan bermaksud meremehkan profesi kita sendiri. Tidak.
Hanya saja, ada yang perlu dipertanyaakan. “Selama ini apoteker ntu ke mana ajah sihhh??”

Di pelayanan-pelayanan klinis, adakah apoteker turut serta? Paling juga ngaciiiir dibelakang apotek. Kagak brani kluar-kluar. Pernahkah liyat apoteker ikut serta ke ruang konseling rawat jalan, atau berkunjung ke bangsal-bangsal rawat inap untuk mengevaluasi pengobatan pasien??
Uwwwiiih……., jarang banget. Paling juga bwt rumah sakit yang udah besar (kira-kira tipe A atawa B lah) yang merangkap sebagai rumah sakit pendidikan. Lha, bisa diitung dengan jari kan!!!???

So, apoteker ntu ngapain ajah? Moso’ Cuma ngurusin barang masuk dan barang kluar doang. Moso’ Cuma ngatur2 barang di gudang doang. Itu mah, ekonom dan sarjana laen juga bisa!
Waduuuuh…, miris Gan! Kalo’ udah gini, wajar banget mah, jasa medic rumah sakit yang diperoleh apoteker sama saja dengan satpam. Iya tho?? Padahal, kuliahnya susaaah, bikin wajah lebih tua dari umur sakit berkerutnya. Hehehe. Trus, ilmunya mahal, dapetin gelar sarjananya minta ampun perjuangannya. Masa’ ujung-ujungnya disamain satpam yang bole kuliah bole tidak? Haduuu…h, kesiaaan yah??

Idealnya, kan semua aspek PELAYANAN KEFARMASIAN itu adalah tugas apoteker. Dan satu-satunya yang bisa ngelakuin ini kan Cuma seorang PHARMACIST! Nah, bisakah pharmaceutical care, evidence base pharmacy, Meeting patients needs, self-medications, quality assurance of pharmaceutical care, clinical pharmacy, dan pharmacovigilance itu dilakuian oleh profesi lain??? Yah kagak lah!! Wong, ini tugasnya tenaga professional. Tapi, apakah apoteker sekarang pada siap, ‘n pada bisa ngelakuin ini semua? Huuuff…, sejujurnya aku angkat bahu deeh! Allahu’alam!

Sejujurnya, aku (dan mungkin kebanyak orang) menginginkan pelayanan yang terpadu antara sesama tenaga medis. Ah, andai semuanya saling bersinergi untuk meningkatkan kualitas pelayanan itu. Sekarang kan, semua SAMA-SAMA BEKERJA, bukan BEKERJA SAMA. Aneh dan lucu bukan, kalo’ misalnya : pagi-pagi pasien dikasi obat, trus setengah jam kemudian, diambil darahnya untuk cek. Itu kan aneh, secara, kadar obat dalam darah masih banyak. Nah, mempengaruhi hasil pemeriksaan lab bukan? Alangkah lebih baiknya, kalau semua saling bersinergi, dalam sebuah tim yang solid. Betul kagak????


Tapi, ada satu pertanyaan besar sekarang ini. APOTEKERNYA SENDIRI PADA SIAP KAGAK??? Selama niy, apoteker ntu kalo’ ditanya pada ngaciiiiir semua. Iya tho? Ni bukannya nyalahin siapa-siapa nih ya. Contohnya saja diriku sendiri. Jika kebetulan pulang kampuang, dan kebetulan ada yg sakit, kan diriku ditanyain nih. “Apo ubek untuak panyakik iko, panyakikny kek giko, kek giko..bla..bla…” yg bisa diriku lakuin Cuma apa? Bengong!!!!! Asli!
Uwwwiiiih, malunyaaaa. Apoteker, pharmacist, yang notabene kuliah di bidang obat-obatan, KAGAK TAU APA-APA SOAL OBAT???? Aib banget nih. Nah, ini jadi warisan turun temurun. (kurasa, bukan aku saja yg seperti itu, anak farmasi yg lain, kebanyakan (gak semua nih yaaa, tapi sebagian besar), mungkin juga banyak yang tidak tahu. Hayyyooo, ngaku ajah deeh. Hehehe).
Sekarang nih yaa, kalo ditanya “merepenem” saja obat untuk penyakit apa, mungkin banyak yg kagak tau. Jangankan obatnya untuk penyakit apa, golongan obatnya ajah kagak tau!!! Apakah antibiotic, antipiretik, analgetik, dan sederet tik-tik lainnya. Lha, jadi selama ini apoteker itu kemana sajaaaaaaaaaaaaaaa????? Gimana mau ngelakuin pharmaceutical care, kalo obat saja tidak tahu!!!!
Kalau udah ditanya obat kagak tau, maka benarlah, sejujurnya, AKU MALU JADI SEORANG PHARMACIST, yang katanya ahli obat, tapi gak tau apa-apa soal obat.

So, gimana dong??
Tak ada cara lain yang bisa dilakuin selain MEMPELAJARI SEMUANYA LAGI! MENG-UPGRADE KEILMUAN kita lagi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu hingga yang ada kemudian adalah, AKU BANGGA JADI SEORANG PHARMACIST, karena obat adalah barang penting dalam kehidupan manusia. Tanpa obat, manusia takkan hidup. (lha, emangnya ada yg seumur hidup tidak pernah sakit, tho?). Percayalah teman sejawatku (halaaaah, kayak yg udah apt ajah, pake istilah teman sejawat pulak!hi..hi…), obat adalah kebutuhan umat manusia. Dan adalah ladang amal terbesar bagi kita jika ikut berkontribusi menyelamatkan kesehatan manusia di bidang profesi kita(cihaaaaaaa, koq kedengarannya berat gituh yak??).

Sebagai penutup, barangkali ini adalah curahan hati seseorang yang masi ‘ingusan’ di bidang kefarmasian ini. Aku tahu, aku belum apa-apa. Bukan ingin berlagak sok tahu, tapi hanya ingin mewacanakannya. Hanya ingin, kita semua benar-benar menjadi orang yang professional di profesi kita. Agar jangan ngaciir lagi waktu ditanyain pasien soal obat. Sebab aku punya mimpi, ingin mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup dan kualitas pelayanan kesehatan ini khususnya di bidang kita, sebagai seorang pharmacist (aihh, kalau aku sihh, belum pharmacist yah? Masih ada waktu, insya Allah, untuk belajar lebh banyak).



3 Syawal 1430 H, homeSWEEThome
Read More

Aku terlanjur jatuh cinta

Eheeemm…., judulnya rada2 ngepink yah? Hehe. Wokeh..wokeh.., anggap saja ini syndrome dua puluh walaupun sebenarnya isinya bukan sepenuhnya soal ini (wuduuuh, tak kasi bocoran duluan nih…).

Sebelumnya, diriku sedikit bertanya (mungkin retoris kali yah), sebenarnya apaan tuh cinta???
Hayyo…, semua juga pasti bisa jawab. Iya tho?? Hehe. Jawab ajah sendiri giiih. Tapi, yang kumaksud di sini bukan yang “itu tuuuh”. (yahh, seperti definisi kebanyakan orang kali yahh…)

Lalu, apa dong?? Apaaaaaaa?!! (duuh, jangan emosi gituh….hihi, ngaco!). eheem…, begini! Dahulu, ketika diputuskan untuk ditempatkan di sebuah tempat yang lazim dikenal (baru2 ini) dengan istilah wisma jompo, hatiku sedikit pilu. Huaaahhh…, apakah aku harus meninggalkan kebersamaan yang begitu indah di homeSWEEThome, Syakuro ku tercinta? Apakah?? Huhu…, sediihnya bukan kepalang. Aku harus ninggalin semua-muanya, dan diungsikan ke wisma jompo. Hiks…hiks…

Dengernya aja rada2 serreeem. Ih, jompo! Emang tua banget yah?? Mentang2, rata2, and kebanyakan di antara kami udah pada semester 9. (eh, kami semua dapet KTM baru looh, hehehe). Wal hasil, keputusan bwt pindah itu benar2 terlaksana. Bahwasannya, aku harus say gudbai to syakuro homeSWEEThome.

Alhamdulillah, akhirnya, aku beserta beberapa “jompo’ers” lainnya berkumpul lah di sebuah rumah (yang ahiks…ahiks.., terlalu tega disebut WISMA JOMPO dan yang parahnya lagi, ada yg malah bilang WISMA PEMBUANGAN! Huaaaaaa……!!! T_T).

Dan, masya Allah…, luar biasa! Sungguh luar biasa!!! Amazing!! (duuh, daku gak punya perbendaharaan kosa kata lagi nih, buat ngungkapinnya. Hahay, lebay!)

Aku menyadari kemudian, bahwa aku perlu menyukuri keputusan ini. Aku benar-benar bersyukur ditempatkan-Nya di tempat ini. Sungguh. Aku menyukai, setiap apapun yang ada di dalamnya, dan orang2 luar biasa yang memiliki segenap kelebihan (tentu saja kekurangan) yang aku belajar banyak dari mereka. Aku dipertemukan-Nya dengan sosok-sosok yang sungguh dalam sekejap kami langsung merasa dekat, dengan kedekatan hati. Sebagian nyeletuk, “Aihh, sekarang ukhuwwahnya lebih berasa yah? Mungkin karena kita senasib kali yah? Sama2 jompo’ers” hehehe. Becanda memang. Tapi, kurasa ada benarnya.

Aku, sudah terlanjur jatuh cinta pada mereka (para jompo’ers), aku terlanjur jatuh cinta pada kebersamaan kami, pada hari-hari kami yang penuh tawa (dan, kadang, rada sedikit ‘gila’!!! pokok’e gokil abizz dah!!!
Semoga, kemudian yang menjadi masalah bagi kami adalah : bingung mencari masalah. Hehe…
Di sini, aku belajar banyak hal. Menyelami setiap dasar2 hati mereka, hingga yang kutemukan adalah keunikan. Sungguh, sekali lagi, aku belajar banyak dari mereka.

Ah iyyyah…,
Aku belum perkenalkan apa itu wisma kami.
Okeh..okeh….,
Kami menyebutnya : Wisma Al Hurriyyah. Wismanya para bidadari yang bermata jelita (hehehe….kan artinya memang bidadari yg bermata jelita, hihi). wismanya para jompo yg masi jomblo. Dan wismanya para jompo yang lagi pusing mikirin penelitian, yang kemudian menjadi salah satu alasan untuk ma-‘ere-ere (hahay, istilah baru nihhh) dengan tawa yang bahagia. Yang di sana, ada bermacam2 kebiasaan dan hobby. Pertama, yang hobby masak (daku tukang makan ajah). Yg hobby nyuci piring, daku dapet yang bersihnya ajah. Yang hobby nguras bak mandi, aku tinggal pake. Yang hobby nyapu, daku dapet yang kinclongnya ajah. Yang hobby bersihin tempat tidur, eeh…, punyaku dirapiin jugah.Hahaha. Maunya yang enak doang mah! Hi..hi…. Trus,ada yg hobby tilawah jugah. Aiih, jadi pemicu semangat, tentunya. Oohh.., indahnya ukhuwwah. Dan aku terlanjur jatuh cinta pada mereka semua.

Lha, tujuannya nulis ini apa? Buat promo doang??
Aihhh, ya enggak lah!
Entahlah…,aku benar2 merasakan sekali apa itu istilah, “JIka semuanya sudah menjadi solusi, lalu siapa lagi yang akan menjadi masalah?”
Kurasa, mereka semua(yg kucintai itu) benar2 menerapkan ini semua, di kala permasalahan ukhuwwah terkadang mencuat ke pemukaan.
Aih, ukhuwwah. Benar sih, masalah yg satu ini tak pernah ada habis-habisnya. Mulai dari jaman Habil dan Qobil (inget kan kisahnya??), hingga ke jamannya Rasulullah dan sahabat (Perang jamal & shiffin), hingga saat ini. Tapi, kita juga perlu belajar dari kisah itsarnya sahabat hingga semuanya syahid.

Ah, sungguh, kedekatan hati itu sesuatu yang takkan mungkin terbayar dengan dunia dan seisinya…dan takkan mungkin bisa diciptakan hanya oleh manusia tanpa campur tangan-Nya.
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yg beriman), walaupun kamu membelanjakan (semua) kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”


Al Hurriyyah, Baiti Jannati, 23 Ramadhan 1430 H
Read More

Parfum Paris = Feses??? Hiyyyyy…!!

Eheem…, pren-pren, untuk sesaat, judulnya emang rada-rada sereem yah?? Hehe. Apalagi bagi ‘makhluk’2 yang memang pengguna parfum paris. Bisa ditimpuk diriku pake Martindale sambil diomelin, “ENAK AJAAAA!!! Wangi ginii dibilang feses!! Sotoy banget deeh! Gak banget deh!!” Hahay, tuh khaaaan???
(omong-omong, ditimpukin pake Marindale betapa sakitnyaaaa. Ngangkatnya aja berat gituh! Hehe. Lebay!)

Tenang sodara-sodara! Bukan maksud diriku untuk menyamakan parfummu dengan feses. Hihi.., walaupun sebenarnya punya kesamaan. Ehm…ehm…, pasti pada bingung kan yah?? Bingung, koq bisa-bisanya disamain!??

Nah, begini looh. Waktu tahun satu dulu, skitar empat tahun yang lalu lah, (wuiiihh..saking berkesannya, masi ingat ding!) kami kan kuliah KO (eh, ga’ boleh bilang KO, tapi harus bilang OCE!). walaupun KO dan OCE punya makna yang sama, yaitu KO = kimia organic dan OCE = organic chemistery, tapi menimbulkan semangat yg berbeda looh kalo pengucapannya berbeda! Banyak istilah2 terkait mata kuliah yg satu ni saking favoritnya (favorit karena banyak yg harus ngulang kuliah lagi untuk perbaikan, hehe. Diriku jugah, seharusnya!) Ada yang bilang, kuliah KO emang bikin KO!! Coba kalo’ bilangnya kuliah OCE, kan bikin OKEH!!! Tergantung penyikapan kitanya gimana. (halaaaah, udah ngaur kemana-mana nih! Eh, tapi gak apalah, sedikit intermezzo). Nah, yyukkk, back to topic… Waktu itu kan lagi kuliah OCE, trus, ada plajaran yang menarik.

Sang Bapak Dosen bilang : “Kalian-kalian yang pake parfum paris, jangan bangga dulu. Karena dalam parfum kalian itu, ada fesesnya!” (begitu lah sang Bapak bilang dengan redaksi yg berbeda tentunya. Empat taon lalu, masa’ sih masi ingat??? Yg anak farmasi tentu sangat mengenal beliau!!)

Lantas semua kageeet berat. Masa’ sih????

Ternyata,--subhanallah—menakjubkan! Feses yang baaauuu…itu setelah dilakukan ekstraksi dan pengenceran (sampai pengenceran 1 pangkat enam atau 1 juta kali, atau berapa yah? Lupa, berapa kali pengencereannya. Yg masi inget, tolong dung, diingatkan lagi!!!) ternyata menghasilkan suatu zat yang disebut “Skatol”. Nah, kabar2nya, skatol inilah yang membuat farfum paris itu lebih wangi,lebih menariiik… Hal yg sama juga dilakuin sama bungo cik ayam. Tau kan, yg warna kuning yg cantik itu looh. Bunga cik ayam juga sangat wangi ketika telah dilakukan pengenceran sekian-sekian kali.

Lalu, so what??
Tertarik untuk mengekstrak fesesmu sendiri denganpengenceran bertingkat sehingga diperoleh zat yang bernama skatol??? Coba aja!! Resiko tanggung sendiri. Haha…

Hanya saja, diriku bukan mengajak kamu semua untuk mengekstraksi feses. Hanya ingin sedikit mengambil hikmah dari hal ini. Jika dianalogkan feses dengan bauuu… yg sangat busuk itu adalah tumpukkan dosa-dosa kita, dan skatol, zat yang sangat sedikit itu, adalah salah satu sisi hati kita yang masih bening yang sesuai dengan fitrahnya, makaaa…dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwasannya…sebuanyaaaaak..buaaaaaanyaaaak apapun dosa yang kita lakuin, mau kaya buih dilautan, tetap saja Allah masi m’buka pintu ampunan buat kita, tetap saja sisi ada sisi fitrah yang merindukan ketenangan yang sejati itu, walau kemudian banyak yg mengabaikannya dan asyik masyuk dengan godaan dunia dan bisikan setan durjana..

Sama dengan skatol!! Walaupun asalnya dia tuh adalah feses yg busuk, yg menjijikkan dan andai dia bisa bicara, pasti dia bilang: “aahh,, aku memang tak bergunaaa. Tak ada gunanya. Semuanya memandangku dengan jijik.” Tapi, toh akhirnya dia bisa jadi zat yang malah dicari-cari orang di seluruh dunia. Malah bangga mereka dengan parfumnya yang oke punya itu yang notabene skatol adalah salah satu zat penting di dalamnya. Nah, pada akhirnya, skatol dicari-cari kan ya? Jika pengencerannya 1 juta kali, berarti setara dengan SATU unit dalam SEJUTA unit dooong.

Nah..nah,,pren, begitu pula dengan dosa-dosa yang telah kita lakuin. Sebanyaaaaaaak apapun insya Allah ampunan-Nya masih terbuka lebar. Mari kita menjadi “skatol” bukan menjadi “feses”. Yakinlah, Dia pasti menerima taubat qta.

Seperti yang Rasulullah bilang :
“Sesungguhnya Allah ta’ala senantiasa membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat di waktu siangnya, dan membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untukmenerima taubat pada waktu malamnya. Yang demikian itu berlangsung terus sampai matahari terbit di sebelah barat (sampai hari kiamat).” (HR. Muslim dari Abu Musa bin Qais Al Asy’ary ra.)

Nah, loh…bener kaaan?

Allah ajah udah nyuruh qta taubat biar kita bahagiaaa. Kalo feses bikin ‘sengsara’, maka skatol justru sebaliknya. Sama seperti dosa yang bikin hati gelisaaah, gak tenang, gak nyaman, serasa dihantui…, sbaliknya taubat malah mendatangkan ketentraman, dan kebahagiaan.
“…Bertaubatlah kamu semuanya kepada Allah wahai orang2 yang beriman agar kamu sekalian berbahagia. …“ (Qs. An Nuur : 31)



Sya’ban, 1430 H
__saat menyiapin hari bersejarahku, H minus 17, insya Allah__
Read More

Sebuah Episode di Angkot Lurus

Cie..cieee…, judulnya rada2 melankolis. Maklum, sisa2 kemelankolisan diriku sedikit mencuat niy. Hehe. Ehm..ehm…, baiklah. Kali ini aku ingin bercerita tentang sebuah episode di atas angkot Lurus jurusan Pasar Baru-Pasar Raya via..hm..via apa yah ? via andalas, simp haru, jalan A yani dan..whateverlah! gak penting pun!
Jadi critanya,suatu siang yang terik (tepatnya sian tadi), di pasar Raya, Sehabis mengantongi sebuah melon (special buat sodari2ku tacinto di wisma), aku beranjak menuju pangkalan angkot. Rencananya sih, mau naek angkot PISANG saja. Biar ndak jauh-jauh jalan kakinya cuz angkot PISANG kan brenti gak jauh2 amat dari jalan bandes, di mana wismaku saat ini berdiri. Alangkah kuciwaaa diriku mendapati populasi angkot PISANG yang nihil. Ada sih, mereknya” PISANG”, tapi, trayeknya ke PIAI. Akhirnya kuputuskan untuk naik angkot LURUS saja. Hmm…, siang2 terik begini, jalan dari PAsar BAru ke Kampung Dalam lumayan juga! (lumayan menguras tenaga dan memeras keringat, hehe).

Huff…, Alhamdulillah, dapet tempat duduk yang lumayan lega. Ada AC-nya juga (Angin Cepoi2) yang menyegarkan. Wusss…
Di dalam angkot ada empat ibu-ibu berikut dengan belanjaan mereka yang gedee2, pake kantong plastic itam. Si ibu2 asyik bercerita. Biasanya sih, diriku gak begitu memperhatikan dan mempedulikan apa yang orang lain obrolkan dan sibuk mikir-mikir (evaluasi) dan ngebikin rencana, kalo lagi di angkot. “dari tadi pagi, apa aja yang aku kerjain yah? Hari ni, planningnya yang terjalankan apa aja yah. Trus, yg enggak gimana yah? Target hari ni kecapai gak yah? Atau…., Habis ini…ngapain yah. Trus besok ngapain yah. Acc hasil kapan yah. Ngurusin bebas lab ama bebas pustaka kapan yah. Hasil tes TOEFL kmren gmana yah, lulus kagak yah. Atawa minimal, nanti sore akhwat masak apa yah (hehe).” Kira-kira begitulah. Tapi, kali ini, telingaku cukup tertarik mendengarkan perbincangan ibu-ibu di atas angkot LURUS itu.

Berikut cuplikannya (dengan redaksional yang berbeda tentunya. Masak siy, diriku sampe hafal. Hihi.., ngaco!):
Ibu pertama : Bara lado sakilo, Bu?”
Ibu kedua : Tigo Baleh.
Ibu Ketiga : Ndeh, maha nyo lai. Ambo mambali lai sapuluah sakilo nyo.
Ibu pertama : Dima tuh babali?
Ibu ketiga : di …..(beliau menyebutkan sebuah nama yang sudah kulupa. Maklum, kalo nama, emang sering lupa. Tapi, kalo dikasi angka, insya Allah ingat. Diriku lebih suka ngapal angka dari pada ngapal kata. ngapal tangal lahir dan no HP contohnya.Aihh, penting gak sih??)
Ibu pertama : Ooo..di sinan??? Ambo di siko haaa…(juga menyebutkan sebuah nama, dan lagi2 tentu saja aku lupa, hehe)
Ibu kedua : iyo tu mah, di ….. itu memang maha!!!
Ibu pertama : tapi, lado iko rancak katonyo. Lado kampuang! (sang Ibu pun mengeluarkan cabe itu dari bungkusannya. Dan mengambil beberapa cabe)
Ibu ketiga : iko ndak lado kampuang ko doh! Lado jawa mah.
Ibu pertama : haaa?? Iyo tuh? Ambo mamiliah nan iko, dek murah manggiliangnyo. Ruponyo ndak lado kampuang do yo? Keceknyo ditanam di ladang balakang rumahnyo.
Ibu kedua : kok lado kampuang tu hee…, ndak sa licin iko do. Bakaruik saketek. Rancak. Lado jawa ko aia se nan banyak nyo mah.
Ibu pertama : OOoo..baitu yo??
Percakapan tersu berlanjut dnegan berbagai topic. Mulai dari penjual yg suka curang, terus timbangan yang sering dipreteli, sampai ke jumlah anak dan pekerjaan masing-masing suami. Sampai pula ke KB, cocok apa tidak. Keunggulan punya banyak anak dan sedikt anak. Beda anak laki dan perempuan. Pokoknya cerita khas ibu2 dah. Yang belakangan sih, aku tak perlu membahasnya bukan? Hehe…

Dari cerita tadi, ada hal yang kemudian aku garis bawahi. Tentang apa? Tentang sekilo cabe? Hohho, tentu saja tidak. Tentang ibu! Yah, ibu!
Mungkin ita jarang berpikir, “Sampai segitukah?? Hingga detil-detil bentuk cabe dan harga cabe. Bahkan hanya beda hara seribu dua ribu bisa jadi perhitungan yg panjang lebarrr. Sungguh luar biasa ia mengelola. Sering kali, Yang kita tahu adalah, sudah ada bahan2 masakan di kulkas dan di dapur. Bahkan, sudah ada hidangan tersedia di meja makan, tanpa tahu, barangkali ikan yang ada di meja tadi, justru penuh perjuangan membelinya, berdesak-desakan dengan ibu2 lainnya. Atau, barangkali, ibu juga berseteru dengan penjual ayam potong tentang tawar menawar harga. Kita mungkin tak tahu, bahwa ia berjalan dengan begitu lelah mengelilingi pasar. Untuk siapa? Ya, untuk kita, keluarganya! Bahkan ia memperhitungkannya dengan sangat detail!!!

Udah gitu, sesampai di rumah, hanya dengan sedikit istirahat, bliau mulai mengolah bahan-bahan itu, menjadi hidangan yang lezat. Dan barangkali kita tidak tahu, bahwa tangannya dipenuhi arang, ada muncratan minyak panas yang mengenaninya. Atau, pisau irisan bawang yang kebeulan nyasar. Apapun itu, mngkin banyak di antara kita, yang kemudian “HANYA” mendapati hidangan itu telah benar-benar siap di atas meja makan tanpa tahu menahu begitu panjang proses yang telah dilewatinya. Sudah begitu, bahkan masih ada yang ‘berani’ bilang, “Uuuhhh,,, si mama koq masak yang ini sih? Aku kan kurang suka.” “Mama kok masaknya beginibegini terus sih, gak kayak Ibunya si fulan.” Kata-kata itu begitu saja meluncur tanpa pikir panjang. Tanpa tahu, untuk menyulapnya menjadi sebuah hidangan, ada rangkaian proses yang tidak sedikit, dan tentu saja melelahkan!!! Mungkin goreng kentang yang kita bilang kurang suka itu, tadinya mendapatkannya dengan berebut-rebutan dengan ibu-ibu lainnya. (Padahal , makan dengan lahap saja dan menunjukkan bahwa kita menyenangi masaknnya, sungguh telah cukup baginya untuk membayar semua kelelahan itu, meskipun sebenarnya jasanya itu takkan terbayar???)
Ini pun belum cukup!!! Bahkan, ia yang memasak dan mengolah dan mengerjakan semuanya, lebih memilihuntuk makan terakhir saja, setelah semua anggota keluarganya selesai makan. Luar biasa! Lalu, membereskannya, dan mencucinya kembali.
Ahh….ibu…

Tapi, sudah segitu buaaaanyaaaaaaaaaaak kasih sayang ibu (dan takkan dapat disebutkan lagi saking banyaknya), masih saja ada anak-anak yang merasa “malu” untuk sekedar minta maaf sama ibunya jika ia salah. Atau, masih ada anak yang “MALU” untuk memeluk ibunya (apalagi dihadapan orang banyak). Dalihnya, “Aih,, aku kan uda gede’. Masak masiy peluk-pelukkan sama mama?”. Memangnya salahnya apa??? Justru makin gede, harusnya makin berisi batok kepalanya, dan makin ngerti cara memperlakukan ortu. Dan yang parahnya lagi, ada pula yang sampai MALU bergandengan sama ibunya di hadapan teman sekolah atau teman kampusnya (ini mah ceritanya teater PELANGI sastra, waktu awal2 taon satu dulu atawa taon2 awal kuliah dulu lah. Forum annisa gabungan di Unand kalo tak salah. Hehe. Mudah2an kejadiannya Cuma di cerita doang. Gak kejadian di dunia nyata).

Sungguh…,
Semua akan menjadi sebuah penyesalan besar ketika kita tak lagi bertemu dengannya, suatu saat nanti. Ketika kesempatan itu tak ada lagi. Kesempatan untuk memohon maaf dan memberikan yang terbaik kepadanya. Ia yang serba kekurangan! Kekurangan makan, biar anak-anaknya bisa makan enak. Kekurangan pakaian (biarlah anak2nya aja yang dapet baju baru). Kekurangan tidur (apalagi kalo anaknya lagi sakit). Dia yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Mendahulukan kepentingan kita. Dia, yang mungkin rela ngutang sana sini dengan menekan rasa malu agar bisa transver duit ke rekening kita. Agar kita, anak-anaknya tidak terlantar di negeri orang. Yang duit itu malah kadang2 digunain buat hura-hura. Buat makan-makan enak bareng teman, padahal beliau di rumah mungkin makan apa adanya saja. Sudah segitunya pengorbanan beliau, kadang2 kita malah malas2an kuliah dan blajar. Atau, sebagian malah ada yang digunain buat nraktir pacarnya!!!! (INI PARAH BANGET!!!)
Duuuh…, betapa besarnya rasa bersalah ni.

(ini sekedar mengingatkan aku sendiri, kamu, dan kita semua). Semoga bisa diambil manfaatnya.


duuh…, ni air mata dah ngucur dari tadi niy..
hiks…hiksss…

(ditulis waktu di sela2 waktu memperbaiki hasilku….hufff…)
Read More

Sebuah kejutan yang mendebarkan, sekaligus memberi plajaran…

Alhamdulillah, meski tak begitu optimal, hari ini berlalu sudah. Banyak kejutan. Banyak hal-hal yang mendebarkan. Banyak pula plajaran yang bisa diambil.

Tiba-tiba, aku jadi “terlempar” pada masa yang jauuuh..jauuuh…., sungguh sangat jauh. Pada sesuatu yang bernama “bekal” dan sesuatu yang bernama “pertanggungjawaban”.
Sungguh, hari ini begitu banyak memberikan plajaran, bahwasannya, apapun itu, pasti akan dipertanggungjawabkan…

Seperti sidang pertanggaungjawaban sebuah penelitian, begitu pula dengan pertanggungjawaban yang pasti akan dilalui oleh semua orang. Tanpa kecuali. Tak peduli apakah ia orang paling terkenal sejagad raya, ataupun orang biasa-biasa saja. Tak peduli apakah ia adalah orang nomor satu, ataupun paling buncit. Semuanya!

Hari ini, ketika “bekal” yang kupersiapkan sangat tidak optimal, ketika begitu banyak kesalahan-kesalahan (penulisan), semua menjadikan pertanggungjawabanku yaahhhh..begitu apa adanya. Sangat tidak optimal. Yang terjadi kemudian adalah sebuah penyesalan, “duuh..kok aku gak nyiapin ini dari kmaren yah, kok aku baru tau kesalahan ini pas hari ini yah, kok aku baru nyadar yahhh?”. Tapi apa? Semua tak bisa dikembalikan. Meski untuk ini, alhamdulillah,,masih ada perbaikan..

Nah, begitupun halnya dengan “perbekalan” untuk perjalanan panjang ini. Kalo’ untuk pertanggungjawaban sebauh riset, masih ada jangka waktu perbaikannya. Bagaimana dengan pertanggungjawaban nantinya, ketika semua tak bisa lagi diperbaiki, ketika tak ada lagi tawar menawar. Bukankah, akan menjadi sebuah penyesalan yang teramat sangat?? Dan yang lebih parahnya, perbekalan hari ini, adalah untuk kehidupan yang abadi. Hanya dua saja, surga atau neraka.

Jika untuk sebuah pertanggungjawaban penelitian saja ada banyak yang perlu dipersiapkan, ada tatacara penulisan, ada hal-hal yang mesti diperhatikan, apalagi untuk pertanggungjawaban sebuah perjalanan panjang. Hal yang perlu dilakukan tentulah memplajari pedomannya. Memperbaiki kesalahan2 masa lalu. Dan berupaya untuk menyiapkan bekal itu dengan optimal. Jadi memang tidak benar kata2, “kadang kala tidak tahu itu lebih baik”…

Ah, semoga ini bisa menjadi plajaran berharga…, untukku, untukmu, dan untuk kita semua…


Pasca seminar, Jum’at 17 Juli ’09, di kampusku yang damai….
Read More

Tanpa energy, semua akan mengalir apa adanya

Sungguh, segala sesuatu itu butuh energy. Tanpa energy, maka ia hanya akan mampu mencapai titik terendahnya. Layaknya air, tanpa energy, ia pasti hanya bisa mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tapi, dengan energy, ia dapat diubah mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Sebuah benda, tanpa energy dan gaya, maka sigma F nya tetap akan bernilai nol. Pun begitunya halnya obat-obatan, tanpa adanya zat tambahan (apapun itu, apakah suspending agent, ataupun bentuk elixir, atau pun pengawet, anti oksidan dan benda2 sejenis yang memiliki fungsi sejenis) ia cendrung kembali ke bentuk awalnya. Obat yang pada dasarnya terdiri dari bahan yang tidak stabil, tanpa zat pembantu, akan mudah kembali ke bentuk asalnya. Salah satu contoh paling popular adalah vitamin C yang aslinya warna putih gampang sekali menguning (dan pewarna tatrazin sering kali dimanfaatkan sama produser untuk memberi warna kuning pada vit C, sehingga konsumen gak sadar kalo ternyata warna kuning itu sebagian karena vit C yang teroksidasi). Pun begitu halnya dnegan aminophylin yang digunakan buat para asma’er(hehe, penderita asma, maksud’e), sangat gampang sekali berubah jadi coklat.

Nah..nah…, jika diekstrapolasi (hehe, emangnya grafik???) kepada kehidupan manusia, mungkin demikian pula halnya. (ah, menurutku malah, setiap rumus yang ada di alam ini, adalah sebuah bentuk penyederhanaan konsep hidup, sebuah persamaan matematis atas permasalahan hidup). Pada dasarnya, manusia itu sukanya berkeluh-kesah. Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah. Tapi, bila dapat kesenangan dan dikasi kelebihan harta malah kikir. (Qs. 70 : 19-21) Nah…nah…, tanpa energy itu tadi, manusia tetap akan tetap pada sifat dasarnya tersebut. Kecuali orang2 yang punya energy saja yang bisa melampau ‘titik’ itu, selayaknya air yang dapat mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yg tinggi. Jadi, kalimat; “Ahh,,biarin deeh. Biar aku jalani idup ni seperti air mengalir saja,” adalah sebuah persepsi yang salah, karena ia akan tetap pada kondisi terendahnya.

Allahu’alam,,,
Read More

Warisan yang Terpenggal

Ini soal nostalgia, teman.
Sungguh bagaimanapun, manusia takkan mungkin kembali terlempar ke pada masa lalu. Adalah sesuatu yang absurb untuk menjemput jejak. Namun, ada segenap memori yang masih lekang dalam bingkai kenangan. Sejenak kembali ke sana. Bukan! Bukan untuk melemahkan, melainkan menguatkan, insya Allah.

Maka, akupun ingin kembali mengurai kenangan itu untuk dipintal menjadi sebongkah semangat. Dahulu, dulu sekali, ketika pertama kali memasuki komunitas bernama wisma, ada banyak hal luar biasa yang telah diperbuat oleh sosok-sosok yang menurutku (dan menurut kami) juga luar biasa.

Dahulu, kebersamaan itu begitu manis. Sungguh sangat manis. Semua orang menamainya ukhuwwah yang memesona. Masih lekang diingatanku, kakak-kakak yang begitu loyal terhadap kami. Kakak-kakak yang begitu perhatian. Ukhuwah yang bukan main! Yang sampai mencucikan baju saudarinya. Padahal, yang kami tahu, kakak-kakak itu tak lebih longgar waktunya dari kami. Bahkan mereka jauh lebih sibuk. Itupun bukan seember, sampai dua-sampai tiga ember.

Setiap malam, ada saja yang inspeksi ke masing-masing kamar apakah ada yang tertidur begitu saja tanpa selimut. Jika ada, maka mereka menyelamatkan buku-buku yang berantakkan lalu membentangkan selimut untuk kami. Subhanallah…

Sering kali jua, ada saudari-saudari yang membantu menjemurkan pakaian, dan kemudian mengangkat kembali jemuran itu ketika sudah sore. Bahkan, malamnya, kain itu telah terlipat dengan rapi! Atau, kain-kain yang mau disetrika, ternyata sudah terstrika dengan rapi jika ketiduran di jadwal nyetrika. Hal-hal “kecil” lainnya adalah memasakkan nasi bagi yang piket. Membuatkan segelas susu untuk saudarinya. Aahhh…Subhanallah…

Juga, kakak-kakak yang diberikan kelebihan harta yg loyal, rela “nombokin” berbagai kekurangan logistic tanpa hitung-hitung. Sampai membantu & diam-diam membayarkan uang kuliah & uang wisma untuk saudarinya. Subhanallah…Masya Allah…

Dahulu, juga ada kakak-kakak yang menepuk pipi kami ketika mencuri-curi untuk tidur setelah subuh, membangun kami tengah malam. Memberikan perhatian yang lebih ketika salah satu di antara kami sakit. Atau sebuah senyuman, ketika masakan yang kami masak kurang gimanaaa..gituu (kalau tidak tega menyebutnya “TIDAK ENAK”).

Pada hari libur, jika tidak ada aktivitas di kampus, masanya untuk berkumpul, sama-sama membuat kolak, bubur kacang padi, nutrijel, ataupun susu kedelai lalu dinikmati bersama-sama. Jika saatnya puasa, yang piket masak membuatkan menu pabukoan juga. Sederhana saja, meski hanya the manis. Tapi, sungguh sangat manis.

Ahhh..sungguh, semua itu masa-masa yang manis. Masa-masa yang sbagian kami masih sempat merasakannya. Subhanallah…, manis.

Sekarang, perlahan semuanya mengalami distorsi. Meski sisa-sisa “warisan” kebaikan itu masih ada sebagian namun…ada hal yang kini berbeda. Pokoknya berbeda saja. Lalu, di mana do’a Rabithah yang kita lantunkan selalu? Apakah hanya sekedar rutinitas belaka?

Siapa yang salah sebenarnya? Yang salah adalah para pemenggal warisan itu. Yah…warisan kebiasaan baik, warisan kebaikan yang telah diturunkan oleh para pendahulul! Sekalilagi, warisan yang terpenggal. Siapa pelakunya? Kami! Kami yang tidak mewariskannya kepada adik-adik. Kami yang pernah merasakan bagaimana manisnya masa-masa itu yang tidak memberikan contoh yang baik. Bahkan diri kami lebih jauh lebih buruk.

Ah, saudara-saudariku…
Mari kita kembalikan warisan yang terpenggal itu. Insya Allah masih ada waktu untuk menjadikan wisma kita (wisma kami, wisma kamu semua, dan wisma kita semua)menjadi wisma yang ideal. Wisma yang berfungsi sebagai mesjid, sebagai madrasah, sebagai rumah sakit, sebagai bataliyon, dan sebagai benteng .

Kelak, insya Allah, akan kita dapati wisma kita adalah wisma yang sepertiga malamnya dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang menangis yang melantunkan ayat-ayat-Nya. Lalu, siangnya yang penuh dengankebersamaan yang indah. Saling ta’awun, itsar dengan saudara-saudarinya. Masing-masing kita adalah solusi, sehingga tak ada lagi yang menjadi masalah. Jika hari ini kita miskin teladan, maka tekadkanlah masing-masing kita yang akan menjadi khudwah (ngutip isi penyampaian materi Da Hasdi dengan redaksi yang berbeda). Mari kita kembalikan kejayaan yang dahulu pernah ada.
Sepakat???



Syakuro, Home Sweet, Jumadil AKhir 1430 H
Ba’da Dauroh Wisma, sebuah acara yang benar2 menginspirasi dan mencetuskan semangat baru.


PS : Sekalian promosi sebenarnya untuk adik2 yg di asrama ataupun yg lagi siap2 mau SNMPTN dan menempatkan pilihannya di Unand limau manih tacinto. Yuuuu…k, rame2 masuk wisma. Syaratnya dua saja : pertama Islam, kedua : bersedia ikut semua ketentuan2 & peraturan yang ditetapkan oleh BPW (badan pengelola wisma). Peraturan yang insya Allah akan menjerumuskan kita ke jalan yang benar. Hi..hi…

Mau???

Yuk, masuk wisma!!!!
Read More

Innalillah…Kejadian itu di depan mataku!

Sepulang dari lab-ku, aku bersama teman-teman berjalan menelusuri fak. Pertanian dan di persimpangan dekat halte pertanian, salah satu angkot lewat. Kami menyetop angkot itu (berhubung sudah jam 6, bus kampus juga sudah langka). Baru satu menit duduk di atas angkot, tiba-tiba angkot bebelok patah. (aku ga’ tw istilahnya apa, yg jelas angkotnya belok tiba-tiba.

Dan seketika,

“Brak!”dari arah kanan, sepeda motor menabrak persis “pinggang” angkot. Kepala kedua orang pengendara motor langsung memecahkan kaca mikrolet itu. Bayangkan, kepala yg memecahkan kaca. Wuihh…

Innalillah…
Masih sempat terlihat, ada rambut yang tertinggal di pecahan kaca itu. Huff…, kami yg berada di angkot itu shock berat. Kebetulan tidak ada yg duduk persis didepan kaca mobil ketabrak, jadi yg berada di angkot Alhamdulillah selamat. Aku melihat dengan dengan jelas, bagaimana hamburan kaca itu. Satu kata : mengerikan! Dan peristiwa ini terjadi masih di tempat yang tak jauh berbeda dari kejadian-kejadian sebelumnya.

Dan yang lebih mengerikan lagi, pengendara motor itu adalah siswi kelas dua SMP dan satu anak kecil umuran 3-4 tahun. Huff…

Alhamdulillah, keduanya masih bisa diselamatkan dan dilarikan ke M. Djamil.

Aku jadi tercenung, ketika menyaksikan kejadian ini. Sungguh.
Sering kali, kita lupa, akan kematian yang datang begitu tiba-tiba. Hari ini masih bisa tertawa lepas, tenyata besok, telah berada di alam yang berbeda. Kehidupan dunia sering kali membuat kita lena. Sering kali, dalam rentetan agenda hidup, dalam sebuah master plan, kita merencanakan lima atau sepuluh tahun lagi akan menjadi apa. Pengusaha sukses, keluarga bahagia, kehidupan yang mapan, dan lain sebagainya, tapi lupa ‘merencanakan’ akan seperti apa ending kehidupan ini. Apakah sad ending atau happy ending. Apakah husnul khotimah atau suul khotimah. Memang, tiadalah salah membuat perencanaan-perencanaan strategis kehidupan ini, tapi,’ merencanakan’ ending kehidupan ini juga adalah sesuatu yang mesti. Dan, sesuatu itu adalah lebih PASTI dengan waktu yang takkan pernah dapat diprediksi.

Ending yang baik barangkali takkan bisa diraih begitu saja dengan sekejap mata. Perlu suatu habbit yang baik juga.

Semoga, kejadian demi kejadian ini, kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sejenak saja. Sejenak, namun menentukan, akan seperti apa kehidupan abadi kita nantinya. Semoga Allah senantiasa tunjuki jalan kita.


Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Orang yang cerdas yaitu orang yang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal nanti sesudah mati. Dan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan kepada Allah.” (HR. At Turmudzy)

Dari Abu Hurairah ra., bahwasannya Rasulullah saw., bersabda : “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal ; apakah kamu menantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat itu adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan.” (HR. At Tarmudzy)



Syakuro HOME SWEET, Jumadil akhir, 1430 H
Read More

AS SIDQU

(Pembahasan Tatsqif Jum'at di Mesjid Nurul Ilmi ba'da asyar, bersama ust Irsyad Syafar, LC)


Firman Allah dalam Qs. At- Taubah ayat 119 :
“Wahai orang-orang yg beriman! Bertaqwalah kepada Allah, dan bersamalah dnegan orang2 yg benar.”

Dalam Hadits shahih dikatakan :
dari Ibnu Mas’ud ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Sesungguhnya benar/ jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa ke surge; seseorang itu akan selalu bertindak benar / jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yg benar/jujur. Dan sungguh, dusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka; seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta. “ (HR. Bukhari & Muslim)

Assidqu artinya benar/jujur. Lawan dari As-Sidqu adalah Al Kadzib.
Hanya saja, pengertian As-Sidqu tidakcukup hanya dengan jujur seperti yg kita fahami selama ini. Missal salah satu universitas di Australia yg mahasiswanya selalu jujur dalam ujian. As-Sidqu melebihi dari hal ini saja (insya Allah aka nada penjelasannya nanti).

As-Sidqu adalah akhlaq yg mulia di sisi Allah, sehingga Allah menyuruh hamba-hamba-Nya yg beriman untuk memiliki sifat ini. Suruhan tersebut diawali dengan ketaqwaan (seperti pada Qs At-Taubah:119) di atas, yang menandakan kedudukan As-Sidqu ini sangat mulia & tinggi.

As-Sidqu ini adalah salah satu sifat Nabi mUhammad. Dengan kejujuran dan kebenaran nabi Muhammad, Beliau amat dipercaya. Seperti : Nabi Muhammad dipercaya untuk menyelesaikan permasalahan pemuka Quraisy pada saat pengembalian hajar Aswad, lalu, Nabi Muhmmad juga dipercaya untuk menitipkan barang2 orang Quraisy, walaupun mereka tidak mengakui kenabian dan Kerasulan Nabi Muhammad. Sifat As-Sidqu ini juga pada saat Rasul mengumumkan da’wah secara terang2an . ketika beliau mengumpulkan semua penduduk Mekkah di sebuah bukit dan beliau menyatakan, “Bagaimana jika kuberi tahu bahwa di belakang bukit ini ada pasukan yang akan menyerang Mekkah,…dst…, (semua juga sudah pada tau dan pada Siroh bab ini kaaaan??)

Oleh karena itu, seorang aktivis da’wah harus memiliki sifat ini, dan menjadi salah satu poin penting dalam keberhasilan da’wah.

Kedudukan As-Sidqu ini sangat tinggi, sehingga disejajarkan dengan orang-orang yg Allah beri ni’mat , pada QS. An-Nisaa’ : 69. Yaitu :

“Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul, maka ia akan bersama2 dgn orang2 yg ALLAH BERI NI’MAT ATAS MEREKA, yaitu , para nabi, PARA PENCINTA KEBENARAN, orang2 yg mati Syahid, dan orang2 yg shaleh. Mereka itu adalah sebaik-baik teman.”
Keempat golonga ini memiliki kedudukan yang sama di surga. Dan, As-Sidqu ini tidak terwakilkan hanya dengan jujur saja.

As-sidqu memiliki beberapa level :
1. As-sidqu ma’allah. Yaitu jujur kepada Allah. Sifat ini tidak dimiliki oleh orang kafir. Pada sebuah kisah telah diceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang masuk Islam pada masa peruode Makkah. Dia juga ikut hijrah dan ikut berperang. Setelah berperang, ia mendapatkan ghanimah. Salah seorang sahabat mengantarkan ghanimah itu kepadanya. Ia berkata, “APa ini?” dijawa oleh utusan RAsul, “ini adalah ghanimah.” Ia mengambil ghnimah itu lalu pergi menghadap Rasul.
“Ya Rasulullah, apa ini?”
“Ini Ghanimah bagianmu yang saya bagikan untukmu.”
“Ya Rasul bukan untuk ini saya ikut berperang.”
“Lalu untuk apa?”
“Saya ikut engkau untuk mati syahid dengan panah menembus leher dan masuk surga.”
Pada peperangan berikutnya, ia memang Syahid dengan cara yg ia inginkan. Kata Rasulullah, “Orang ini telah membuktikan bahwa ia jujur kepada Allah sehingga Allah pun jujur kepadanya.”
Jadi As Sidqu ma’allah ini adalah melakukan ibadah hanya kepada Allah, jujur kepada Allah…

Keduduka As-Sidqu ma’allah dengan ikhlas :
Ikhlas itu , amalannya sama qualitas dan quantitasnya baik dihadapa orang ramai maupun sedang sendirian.

As-Sidqu ma’allah itu, amalannya ketika tidak dihadapan orang ramai, jauuuuuuuuh lebih baik ketimbang di hadapan orang ramai.

Derjat As-Sidqu tidak bisa diraih kcuali kalau seserang itu telah mencapai derjat ikhlas.

2. As-Sidqu ma’annafs:
Yaitu jujur pada diri sendiri. Orang-orang kafir juga tdk memiliki sifat ini. Bahkan orang Islam pun bayak juga yg ga’ punya sifat ini. Contoh, sudah tahu mengenai hokum halal atau harom, tetap saja dilanggar dan dilibas.

3. As-Sidqu ma’annaas.
Inilah yg dikatakan jujur dalam pengertian qta sehari-hari. Jujur sesame manusia. Orang-orang kafir pun sudah terbentuk habit, kebiasaan untuk jujur. Missal pas wakru ujian, tidak mencontek. Atau berkata benar kepada manusia lainnya.

Berubahnya qualitas & quantitas ibadah karena Alasan dunia, berarti tidak jujur kepada Allah. Makanya para salafushalih itu punya amalan shaleh rahasia yang akan jadi “dekingan” dihadapan Allah jika kita mengadapi posisi sulit. Ketika posisi sulit itu kita sebutkan kepada Allah amalan rahasia qta. Ingat kisah tiga orang yang terkurung dalam goa kan yah?? Kisah ini terdapat dalam hadits shahih dengan sanad Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khaththab, ra., riawayat Bukhari dan Muslim.


SESI TANYA JAWAB :
1. Kalo’ qualitas shalat beda waktu di tempat kerja yg cendrung heterogen, dibanding shalat pada malam hari, apakah termasuk As-Sidqu ma’allah?
>> (‘afwan, diriku ketinggalan mendengarnya pas jwbn pertanyaan ini. Yg tertangkap itu justru bagian terakhir yg ustadz katakan yaitu sebaiknya memilih tempat kerja yg memungkinkan qta untuk leluasa beribadah.

2. Apakah film/acting termasuk bohong?
>> film ini masih khilafiyah dan polemic di kalangan ulama. Ada ulama yg keras melarang ada juga yang membolehkan asalkan memenuhi syarat, syarat yg cukup ketat, dan tidak melewati batas-batas syar’i.
Sebaiknya, kita ambil sikap yg hati-hati saja.
Akan tetapi, jika seseorang telah lembut htainya dengan Islam, maka, tidak diperlukan lagi film2 yg menggugah hati, karena ia sendiri sudah mengakar di hatinya.

3. Bagaimana sikap qta kalo’ berma;siat kepada Allah?
>> segera bertaubat! Lisan mengucapkan istighfar. Hati menyesali, dan secara fisik, menjauhi & meninggalkan maksiat tsb. Perbanyak melakukan kebaikan karena perbuatan jahat akan dihapuskan dengan perbuatan baik.

4. Apakah bohong untuk mengelabui musuh itu dibolehkan?
>> dibolehkan, bahkan dianjurkan. Kata Rasulullah, perang itu adalah siasah/startegi. Contohnya, ketika fathul makkah, rasul seolah2 menyuruh pasukan bergerak ke Utara, padahal letak kota Makkah di selatan,sehingga semua penduduk Makkah dalam keaadaaan terlena dan tidak menyadari.
Bohong dibolehkan untuk : pertama, mendamaikan 2 orang yg bersengketa. Kedua, bohong suami pada istri untuk membahagiakannya. Ketiga bohong untuk menyembunyikan orang yg sedang dizhilomi dan akan dibunuh.

5. Tauriyah/ambigu, bolehkah?
Tauriyah adalah bohong tapi jujur. Maksudnya di sini, lain makna yg disampaikan si penyamai dengan yg diterima pendengar. Contihnya, waktu Rasulullah bersama Abu Bakar dikejar kafir Quraisy dan hendak dibunuh, oarng2 yg kenal dgn Abu Bakar bertanya, “Siapa ini wahai Abu Bakar?” mereka menunjuk Nabi Muhammad. Ab Bakar menjawab, “ini penunjuk jalanku.” (orang2 Arab, ketika bepergian jauh, biasa memiliki penunjuk jalan). Maksud yg dipahami oleh yang bertanya, penunjuk jalan dip dg pasir. Maksud abu bakar, penunjuk jala ke surga. Tauriyah dibolehkan asalkan digunakan untuk kondisi ttntu. Karena sgt tipis bedanya dengan bohong.

6. Sikap qta terhadap orang yg menyampaikan kebenaran, tapi, menyakitkan. Bagaimana cara mengingatkannya? Kalau kita jujur kepadanya, maka itu akan menyakitinya.
>> sampaikan dengan cara baik-baik dan dengan nadyg tidak menggurui. Dengan nuansa bertanya, bykan menghakimi.

7. Pada saat ruku’, Rasulullah yang panjaaaaang sekali, apa yg dibaca?
>> Rasulullah bertasbih
8. Indicator amalan ikhlas itu apa?
>> amalan tersebut tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan orang lain.
Tafsiran Fudhail bin Iyad terhadap Qs. Mulk yang menyatakan “Ahsanul ‘amala” itu adalah amalan yg paling baik dan paling benar. Maksudnya di sini, adalah ikhlas dan caranya benar, sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Jika seseorang MENGERJAKAN amalan kerena orang lain, ini termasuk syirik. Jika ia MENINGGALKAN suatu amalan karena orang lain, ini termasuk riya.

9. Ketika kita memberikan sesuatu , lalu ditanya, “Ikhlas ga’ nih?”, sikap qta bagaimana?
>>ikhlas adalah urusan hati yang kadarnya tidak bisa kita tentukan.
10. Jika kita berada pada lingkungan yg heterogen, sehingga perlu “strategi” ttntu utk melakukan sesuatu, bagaimana?
>> kebohongan dalam keadaan darurat, dan kemashalatan ummat dibolehkan. Utamakan yg menyelamatkan mudaharat utk ummat dulu, ketimbang manfaat.
Jika utk kemshlatan pribadi saja, tetap saja jujur. Ini akan menjadi indicator keimanan seseorang.

11. Bagaimana jika bohong telah menjadi kebiasaan?
>>Kita harus berinteraksi secara ‘ilmu dulu (plaajari bagaimana mudahartnya bohong). Bohong ini “penyakit menular”, jadi hindari bergaul dengan orang2 yg suka bohong. Kebohongan pertama akan meminta kebohongan kedua untuk menutupi kebohongan pertama, dan seterusnya..seterusnya…, hingga, kadang2 si pembohong lupa, ketika ia menutupi kebohongan kesembilan dengan kebhongan kesepuluh, ter nyata membongkar kebohongan pertama.

12. Jika pad masa lalu kita pernah bohing pada seseorang, bagaimana sikap qta?
>> bohong adalah salah satu maksiat yang perlakuannnya sama terhadap maksiat lain, yaitu segera bertaubat dan kalau masih ada kontak denga orang g dibohongi, hendaklah minta maaf.

13. Kalau kita menyebut amalan rahasia kepada Allah ketika kesulitan, apakah tidak mengurangi balasannya di akhirat?
>> Allah maha Kaya dan maha penyayang. Hitung2an pahala bukan hitung2an logika matematis yang diberi lantas berkurang. Dia Maha Kaya. Yg terpenting adalah berhusnudzan pada Allah dikondisi apapun.

14. Kalau kita bilang “tidak tahu” kepada orang yang bertanya kepada kita padahal kita tahu jawabannya, akan tetapi kita khawatir jawaban itu akan menyakitkan, bagaimana?
>> ini juga salah satu indicator keimanan, apapun resikonya, kita insya Allah harus siap berkata jujur.

15. Dalam sebuah hadits dikatakan, jika bohong, akan dijauhkan dari Allah. Bagaimana dgn bohong utk alasan syar’i?
>> bohong yg alasannya syar’I, insya Allah tidak akan menjauhkan dari Allah

16. Beramal untuk hizb/kelompok apakah termasuk ikhlas atw As-sidqu?
>> tergantung kelompoknya dulu. Kalau hizb/partai/kelompoknya benar2 ingin menegakkan kebenaran, bisa saja mjd as-sidqu.

17. Tidak menyebutkan aib orang lain ketika kita menceritakan semua hal tentang seseorang, termasuk bohongkah?
>> menutup aib orang lain adalah sesuatu yang disyari’atkan.

18. Mengerjakan sesuatu amalan di depan orang agar orang ikut kepada amalan itu, bolehkan?
>> boleh. Karena ikhlas adalah amalan hati, tak peduli ada banyak orang maupun sendirian. Memang sudah saatnya amalan sholeh itu “diiklankan” sehingga menjadi opini public. Sekarang ini iklan jusrtu kebanyakan isinya adalah ma’siat. Yang mengajak orang ke neraka. Maka, iklan2 maksiat semestinya kita imbangi dengan iklan amalan sholeh. Tapi, kendati demikian, kita mesti tetap punya amalan rahasia juga.

19. Bohong ntuk bergurau, bolehkah?
>> dalam berguaru tetap tidak boleh bohong. Celakalah orang-orang yang dengan kebohongannya, membuat orang tertawa.
Contoh gurauan yang tidak bohong adalah ketika seorang nenek yg bertanya bisakah ia masuk surga dan kisah onta gemuk yang Rasul bilang anak onta.

20. Waktu ujian, ada yg bertanya jawaban soal, kita menjawab tidak tahu,(agar tidak curang dan bohong) padahal kita tahu, bagaimana?
>> kalau kita member tahu jawaban waktu ujian, berarti kita jujur kepada manusia tetapi bohong kepada Allah.
Hati-hati dengan “mencontek” dan bertanya waktu ujian. Ini adalah HARAM!!!!!!!!!!
Karena itu adalah sebuah KESAKSIAN PALSU.
Karena kita ujian, lalu mendapat nilai yg kemudian tertulis di ijazah. Ijazah adalah KESAKSIAN TERTULIS. Dan jika ijazah ini digunakan untuk melamar pekerjaan, dan kita diterima karena nilai2 hasil contekan itu, maka, ini akan menjadi darah daging, hingga seterusnya.

21. Bagaimana jika kita beramal mengharapkan surga, atau meninggalkan maksiat karena takut neraka???
Hal ini benar. Adalah pendapat yang SALAH ketika ada yg mengatakan “tidak boleh beramal karena mngeharapkan surge atau takut neraka. Kita beramal hanya karena Allah.” Sebab, merindukan surge dan ancaman neraka adalah sesuatu yang Allah dan rasul-Nya anjurkan, dan termaktub adalam Al Qur’an dan Sunnah

Untuk pembahasan ini, cukup sampai di sini. Semoga Allah menuntun kita semua menuju jalan-Nya yg lurus. Semoga bermanfaat.

Ah iya, sedikit berbagi, pembahasan tatsqif 3 minggu lalu mengenai music yg sempat kupertanyakan kepada banyak orang sebelumnya. ini di kajian fiqh. Masih khilafiyah dan pendapatnya sama-sama kuat. Ada yg membolehkan dan ada yg melarang. Dikembalikan kepada mudharat dan manfaatnya. Jika ada dua pendapat yg berbeda, maka cari yang paling kuat dalilnya. Jika sama-sama kuat, maka ambillah yg lebih ringan. Islam itu tidak pernah memberatkan.

Jika ada yg salah, semoga ada yg mengingatkan. Jazakumullahu khair. Wassalamu’alaykum warahmatullah.


Syakuro, home Sweet, Jumadil Akhir 1430 H
Read More