Showing posts with label Tafakkur Science Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Tafakkur Science Kehidupan. Show all posts
Belajar ekpressi gen adalah hal yang sangat menarik bagiku. Iyaahh, menarik. Pokonya sesuatu yang bernuansa molecular itu, serumit apapun mempelajarinya, tetap saja sesuatu yang menarik. Bahkan menantang! Hehe…
Di blog ini, yang bukanlah blog yang membahas masalah-masalah saentifik, tentulah aku tak akan membeberkan panjang lebar soal dunia molecular. Karena, blog ini khusus bercerita sesuatu yang ringan-ringan sahaja. Seperti snack yang bisa dikunyah sambil mengendara. Ups!
Tapi, ini berkaitan dengan molecular yang menarik itu. Tentang gen dan ekpressinya. Adanya kehidupan kita, adanya regulasi segala system homeostasis (haha, istilah apaah iniiih? Hihi….), sungguh tak terlepas dari untaian gen yang ada di setiap sel tubuh kita. Masing-masing sel, memiliki seperangkat kromosom (22 pasang autosom dan sepasang kromosom khusus yang bertanggung jawab terhadap sifat laki-laki atau perempuan). Di manapun selnya, apakah hanya sehelai rambut ataupun kuku, tetap membawa ke-23 pasang kromosom itu. Tapi, mengapa hanya sebagian yang ter-ekspressikan? Nah, di sinilah letak sesuatu yang luar biasa itu…
Hemm,,,bagaimana cara menyederhanakan pembahasannya? Sebab, aku yakin, jika bukan orang-orang dengan basic saintifik, bahasa-bahasa begini menjadi aneeh. Hehe… Wong, aku yang anak farmasi saja tak kalah dibuat bingung. Sebab, katanya sih belajar molecular ini adalah sesuatu yang berat. Aku saja—yang notabene punya basic molecular dikit-dikit karena penelitianku dulunya molecular, menyiapkan makalahnya dari berbagai jurnal, mesti jungkir balik duluu. Apalagi yang bukan berlatar belakang sains kan yah? Jadi, aku bingung juga sih gimana membahasakannyaa..
Sederhananya begini. Di rambut kita, punya seperangkat gen yang lengkuaaaaapp bangeet. Gen pengkode kulit, gen pengkode otot jantung, gen pengkode darah, gen pengkode hormone, gen pengkode seluruh system kehidupan kita ini ada di rambut juga. Tapi, mengapa di rambut, hanya RAMBUT saja yang muncul? Tidak ada darah, tidak ada jantung dan lain sebagainya, padahal dia membawa gen itu? Jawabannya adalah… karena hanya di bagian rambut saja yang punya PROMOTOR untuk mengekspressi kan gen rambut itu menjadi rambut. Sementara, di rambut, tidak ada PROMOTOR untuk diekspressikannya darah ataupun jantung. Sehingga tidak ada jantung atau darah di rambut. Kebayang nda, kalo di rambut kita ada otot jantungnya? Kebayang nda kalo rambut kita ada darahnya? Heuu….jika rambut kita ada darahnya, mungkin di setiap barber shop dibutuhkan dokter ahli anastesi dan mesti dibius dulu untuk sekedar memotong rambut. Hee… Di sini, terlihat betapa MAHA AGUNG ALLAH. Sungguh, penciptaan-Nya luar biasaaa, sungguh maha besar DIA. Masya Allah, belajar molecular sungguh membuah kita merasa kerdil dihadapan-Nya. Apa yang pantas manusia sombongkan di hadapan Rabb nya? Bahkan tak ada satu system pun yang dapat manusia buat untuk menyamai penciptaan-Nya yang luar biasa… Allahu akbar!
Gen yang diekpressikan ini kemudian memberikan pelajaran kepadaku, kepada kita. Tentang PROMOTOR dan EKSPRESSI. Sungguh, Allah telah memberikan dua gen pada hati kita. Gen-gen kebaikan dan gen-gen keburukan.
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka DIA mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Qs. Asy-Syam : 7-10)
Sungguh, setiap diri kita, setiap jiwa kita membawa gen kejahatan dan ketaqwaan. Dua-duanya ter-ekspressi secara kompetitif. Jika PROMOTOR kebaikan yang mendominasi jiwa-jiwa kita, maka gen kebaikanlah yang ter-ekspressi. Sebaliknya, jika PROMOTOR gen kejahatan yang mendominasi jiwa kita, maka kejahatanlah yang ter-ekspressikan. Sungguh, menjadi kebaikan atau kejahatannya ia, tergantung PROMOTOR apakah yang mendominasi hati dan jiwa kita…
Ah, aku menyampaikan ini, bukan karena aku lebih baik, teman. Sungguh, diriku masihlah sangat jauuh. Maka, bersama ini aku mengingatkan diriku sendiri terutama, dan juga kita semua. Agar yang mendominasi hati-hati kita adalah PROMOTOR KEBAIKAN.
Masya Allah, Diri Kita Luar Biasa!
Hari ini aku belajar tentang saraf. Sebuah pelajaran yang sangat menarik. Bahkan membaca bukunya Bu Lauralee Sherwood menjadi sangat menarik bagiku melebihi membaca novel. Hee… (Seiring berjalannya waktu, keinginan untuk membaca novel ku ko jadi ‘agak’ menguap yah? Lebih interest dengan kisah-kisah nyata kehidupan, karena lebih realistis dan lebih memanusia). Belajar bukunya bu Sherwood bukan kewajiban sebenarnya (lebih wajib baca buku Fiqih kaleeee, hihi, soalnya kan banyak yang belom kita (kitaaa??? kamu ajah kaliii Thel!) tau tentang hukum-hukum dalam kehidupan. Yang dalam keseharian seharusnya kita kerjain, kita luput ataupun sebaliknya. Hee… itu bagiku. Mungkin karena memang kafaah ilmuku itu masihhhhh amatttt sangattt sedikitttt sekaliii dan memang seharusnya masih buanyaaakkkk belajarrrr). Tapi, untuk belajar saraf, tampak-tampaknya aku memang perlu merujuk bukunya Sherwood (bukan karena tak ada buku lain, tapi karena buku itu yang bisa kupinjam. Hihi… Ndak modal banget yah? Bisanya Cuma minjem. Hehe… Abisnya, bukuku kebanyakan ketinggalan di kampung sih…).
Belajar saraf bagiku bukan saja tengah memenuhi sebuah rasa ingin tahu tentang mekanisme penyakit berikut pengobatannya, melainkan mempelajari betapa luar biasanya penciptaan Allah. Sungguh, masya Allah..sungguh sempurna dan sungguh memang tak ada yang sia-sia. Bahkan sekecil dan semikroskopik apapun itu, PASTI memiliki peranan besar dalam kelangsungan hidup manusia. Masya Allah, sungguh luar biasa. Sungguh luar biasa! Secanggih apapun computer yang diciptakan manusia, sungguh takkan dapat mengalahkan rumitnya saraf dan otak manusia yang amat sangat canggih. Luar biasa… Dan itu pun baru sedikit ‘misteri’ terkuak. Masih banyaaaaaak hal-hal menakjubkan lainnya yang belumlah mampu manusia gali. Sungguh, ilmu yang dipunyai manusia itu amatlah sangat sedikit dan amat sangat terbatas. Lantas, apa yang patut manusia sombongkan di hadapan Rabb-nya? Tak ada yang dapat kita sombongkan…
Aku tentu tak akan membahas tentang anatomi fisiologi otak di sini, apalagi Parkinson, demensia alzeimer, cefalgia, migren, stroke, infeksi saraf pusat semisal meningitis yang buanyak menyebabkan kematian itu (karena pembahasan di segi kefarmasiannya kubahas di blog khusus farmasi. Yang berminat silakan kunjungi di sini). Tapi, di sini aku hanya ingin sedikit berbagi tentang sesuatu yang berkaitan dengan itu, mengapa begini dan begitunya ditinjau dari apa yang sedang aku pelajari (dan tentu saja apa yang kuplajari itu sangatlah terbatas dan sangat mungkin salah. Jadi, jika salah, maka mohon koreksinya yaahh…)
Mengapa hafalan itu perlu diulang?
Kata Rasulullah dalam haditsnya (maaf, aku lupa redaksionalnya), “Lenyapnya hafalan itu adalah lebih cepat dari lepasnya unta yang terlepas dari ikatannya.”
Ya, ini berkaitan dengan fisiologis memori. Karena memori itu ada yang jangka panjang dan jangka pendek. Jika tidak dilakukan pengulangan hafalan, maka akan segera di’deportasi’ oleh otak. Suatu hafalan akan menjadi ‘permanen’ jika selalu dilakukan ‘pendauran ulang’ alias pengulangan, sehingga pentinglah bagi diri kita untuk melakukan pengulangan hafalan. (skak matt! kenak deh akuuuu…. >.<).
Dan subhanallah, ketika menghafal (apapun itu) dan dilakukan pengulangan, akan melibatkan perubahan structural neuron-neuron yang ada di otak (terjadi interkoneksi baru). Jika hafalan Cuma sekali aajah, ianya hanyalah melibatkan perubahan jumlah neurotransmitter (suatu zat ‘komunikasi’ di otak) akibat stimulasi jalur-jalur saraf yang bersangkutan. Ketika nda teraktivasi lagi, hafalannya ikut lenyap deh. Heuu, bahasanya membingungkan yaah? Hmm…sederhananya gini kalo Cuma ngafalin sekali doang, dianya mah Cuma membuat jalur komunikasi ajah di otak, tapiii kalo sudah berulang, otak akan membangun ‘jaringan baru antar sesama saraf’ sehingga ianya melekat. Coba ajah deh, kalo surat Al Fatihah itu berarti sudah terdapat sebuah koneksi saraf (jaringan antar saraf yang bertugas menghafal Al Fatihah). Apa buktinya? Sambil lari-lari pun kita baca Al Fatihah mah bisaaa yah, hafal insya Allah. Tapii, kalo kita baru ngafalin surat An-Nisaa ayat 1-5 tadi malam, trus belom dimuraja’ah (belom diulang), walhasil ndak bisaaa dong sambil lari-lari kita bacain. Pasti butuh upaya ekstra keras untuk me-recall kembali memorinya. Nah, ini karena pas ngafalin An-Nisa nya, hanya neurotransmitter ajah yang terbentuk lebih banyak antara koneksi sarafnya, belom terbentuk sebuah jaringan atau interkoneksi saraf yang baru.
Masya Allah…
Ini semua jadi sebuah pelajaran yang amat sangat berharga bagiku, sekaligus “tamparan” atas buanyaakkk kelalaian selama ini. Astaghfirullaah…
Mengapa Riyadhoh itu sesuatu yang dianjurkan?
Uhmm…selain karena Allah itu lebih seneng sama muslim yang kuat, ada sebuah rahasia sebenarnya kenapa seorang muslim itu dianjurkan untuk riyadhoh (olah raga) yang juga jadi salah satu list yang dimutaba’ah setiap pekannya (yang aku pun sering setripp, alias strip, alias kosong, hadeuuhh….kenak lagiii nih saiaaaa….>.<), karena olahraga itu menghasilkan endorphin. Apa itu endorphin? Tak usah pake bahasa ilmiah deh. Endorphin itu adalah suatu zat kebahagiaan. Ciaahhh… kalo Morphin pada tau kan? Kalo morpin itu bisa menimbulkan ketenangan, kebahagiaan, dan bahkan dia bisa menghilangkan nyeri, begitu pula halnya endorphin. Tapi, bedanya, endorphin dihasilkan oleh tubuh kita sendiri, dan tidak menimbulkan efek ketergantungan ataupun fly. Waahh, masya Allah luar biasa yah?
Nyeri. Sesuatu yang perlu dihindarikah? Ataukah sesuatu yang baik?
Mengapa kita merasakan nyeri ketika terluka? Dan apakah nyeri itu sesuatu yang salah?
Ah, sesakit apapun nyeri itu, sesungguhnya ada yang bermanfaat dari sebuah nyeri. Mengapa? Karena hakikat nyeri yang sesungguhnya adalah SEBUAH PROTEKSI/PERLINDUNGAN terhadap KERUSAKAN yang terjadi pada diri kita. Jika tak ada nyeri, pasti kita tak pernah aware dengan kerusakan yang ada pada tubuh kita. Contoh, jika seseorang ketika memegang benda yang sangat panas, semisal api tapi tetap anteng saja dan tidak merasakan nyeri, pasti dia akan tenang-tenang saja ketika terbakar atau terinjak benda tajam. Dengan demikian, pastilah terjadi kerusakan pada tubuh kita. Tapi, masya Allah, Dia ciptakan nyeri, untuk kemudian menimbulkan gerak reflex menghindar ketika tertusuk benda tajam ataupun terkena benda panas dan lain sebagainya. Nyeri perlu obat adalah ketika nyeri yang bersifat patologis (heuu, membingungkan sekali yah istilahnya?). Maksudnya, nyeri menjadi sesuatu yang tidak lagi baik ketika ia TIDAK LAGI BERFUNGSI UNTUK MELINDUNGI DIRI KITA DARI BAHAYA.
Cukup sekian saja…
Sebenarnya masih bunyaaaaaaakkkk lagi…
Tapi, karena ilmu yang masih sangat terbatas, dan juga karena ujian yang begitu menumpuk, akhirnya, aku tidak begitu punya kesempatan untuk menuliskan lebih banyak lagi…Hehe…
Do’akan ujianku sukses yaaahh… Aku hanya sedang belajar untuk merubah persepsi tentang ujian yang bukan untuk sekedar lulus dan ingin mendapatan nilai A. Aku sedang belajar untuk mempersepsi bahwa ujian itu adalah bahwa aku tengah mencoba mempelajari untuk memahami ilmu yang tengah aku dalami. Jadi, aku hanya sedang mencoba untuk tidak belajar letterlet, tapi mencoba untuk menyelaminya. Jadi, ujian bukan untuk nilai. Siippp??!
Maannajah!!
Maannajah wahai diriku!
Sirosis Ruhiyah
Masya Allah, betapa luar biasanya ciptaan-Nya. Mempelajari fisiologi menjadi sesuatu hal yang amat sangat menarik bagiku… Karena, belajar fisiologi, adalah belajar tentang penciptaan yang Maha Sempurna… Maka, belajar fisiologi juga adalah belajar tentang sebuah kesyukuran, bahwa diri kita diciptakan-Nya dengan sebuah penciptaan yang begitu indah, sehingga memang tak lagi pantas bagi diri kita untuk tidak mensyukurinya. Maka, ketika Dia bertanya, “Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang engkau dustakan?”, sungguh setiap kita tak pernah punya jawabannya, sebab begitu indah dan sempurnanya. Sempurna. Dan sungguhlah sempurna! Sungguh, Maha Agung dan Maha besar Allah…
Kali ini aku ingin berbagi tentang hati. Ya, tentang hati. Di antara semua organ, hati adalah organ yang paling mengalami regenerasi sel. Berbeda dengan jantung dan sel saraf. Sekali mereka mengalami kerusakan, maka jangan harap akan ada regenerasi sel menjadi seperti semula. Makanya, perlu sekali dijaga makanan kita, agar tak sampai merusak organ vital tersebut semisal gagal memberikan asupan oksigen dan nutrient-nutrien penting sehingga mengalami yang namanya iskemia.
Sel hati berbeda. Ia ibaratnya pabrik, di mana segalanya diproses di sini. Mulai dari ‘yang baik-baik’ semisal nutrisi tertentu, dan vitamin tertentu, hingga ‘yang jahat-jahat’ semisal toksin atau racun, semuanya diproses (baca : dimetabolisme) di hati. Hatilah yang menjamin tubuh itu dalam kondisi baik-baik saja dan dengan segera pula mengenyahkan segala yang akan mengancam keberlangsungan hidup…
Mengapa arak itu dilarang dan sifatnya haram? Karena kemanfaatannya jauh lebih sedikit dari mudhoratnya. Arak (alcohol) adalah penyebab utama kegagalan hati, yang kemudian berkembang menjadi perlemakan hati. Untuk si hati, alcohol adalah sebuah musuh nyata karena alcohol mendestruksi alias menghancurkan si hati sehingga terjadi perlemakan yang di kemudian hari menyebabkan sirosis. Sirosis adalah sebuah penyakit mematikan. Jika tidak dengan transplantasi hati, maka sirosis sulit untuk disembuhkan. Hanya bisa diperlambat progresivitas penyakitnya saja.
![]() |
| Hati sehat vs hati yang trekena sirosis |
Hal yang paling menarik untuk kubahas di sini adalah tentang hati yang dengan segera melakukan perbaikan. Ketika tubuh mengalami sebuah ketidakseimbangan, katakanlah sebuah masalah, tubuh kita yang sungguh amat sangat cerdas ini akan segera melakukan kompensasi dan perbaikan-perbaikan agar segalanya kembali berjalan dengan baik. Mekanismenya sungguh luar biasa cerdas. Sungguh, Maha Cerdas lah penciptanya. Akan tetapi, paparan yang progresif, yang terus menerus, suatu saat akan menjebolkan pertahanan hati. Meski demikian, hati masih tetap berupaya untuk melakukan kompensasi-kompensasi sebisanya. Pada suatu saat ia kehilangan fungsi, ketika paparan dan kerusakan itu jauh lebih banyak dari pada sel hati yang melakukan perbaikan… sehingga yang terjadi justru jaringan parut yang membuat hati itu mengeras dan bernodul-nodul.
Dari kisah ini, ada sebuah pelajaran yang ingin kupetik. Tentang hati. Bukan hati di atas. Tapi tentang ruhiyah dan qalb. Seperti halnya hati organ, sungguh ketika terjadi sebuah paparan-paparan dosa padanya, akan ada upaya perbaikan dan ‘warning’ di dalam hati kita. Sungguh, dosa itu adalah sesuatu yang membuat hati kita resah, tidak tenang dan gelisah, kendatipun semua orang membenarkannya. Inilah sebuah fase regenerative hati. Ketika fungsi dari qalb itu sendiri masih baik, maka ia akan segera melakukan regenerasi dengan me-warning sesegara mungkin. Jika kita mengabaikannya, dan membiarkan paparan-paparan dosa yang progresif itu maka, akan tiba masa di mana hati kehilangan fungsinya. Ia tak lagi bisa menyaring sebuah kebenaran dan kebathilan. Ia tak lagi bisa melaksanakan fungsinya, dan na’udzubillah, tibalah masanya ia mengeras, dsan sulit beregenerasi… Hati yang penuh dengan nodul-nodul yang tak lagi menjalankan fungsinya.
Ah, sungguh ampunan-Nya atas nodul-nodul dosa yang kita ukir di hati kita jauh lebih progresif dari pada beregenerasinya sel hati. Sungguh, ampunannya adalah seluas-luasnya bentangan. Lalu, apakah kita akan membiarkan hati kita semakin bernodul dan semakin ber-fibrosis sementara Allah senantiasa menyediakan luasnya keampunan-Nya?
Sungguh…
Ah, sungguh, sehalus-halusnya kehinaan di sisi-Nya, adalah dengan tercerabutnya kedekatan dengan-Nya. Dengan semakin menurunnya kualitas dan kuantitas ruhiyah. Astaghfirullaah… Ampunkan hamba-Mu ini ya Rabb…
Semoga ini menjadi sebuah pelajaran berharga, bagiku dan terutama ditujukan untuk diriku sendiri. Juga untukmu… Ingatkan aku, ketika aku lalai…
_________________
Sumber gambar : di sini
Sumber gambar : di sini
Immunologic Reaction of My Heart and It’s Recovery
Maha Agung Allah yang telah menciptakan manusia dengan begitu sempurna. Tubuh yang begitu cerdas, dan tentu saja melebihi jauh melebihi kemampuan berpikir kita. Seperti yang telah kuulang-ulang sebelumnya, jikalah segala mekanisme biologi dan biokimia tubuh ini diatur oleh diri kita, oleh perintah dari diri kita, maka, sungguh tak satu pun manusia dapat hidup di dunia ini. Akan tetapi, Allah menciptakan mekanisme biokimia tubuh dengan maha sempurna, hingga akan selalu ada mekanisme umpan balik, mekanisme imunologis, mekanisme pertahanan, dan segenap reaksi-reaksi lainnya… Maha Besar Allah…
Lantas, mengapa tidak mengambil pelajaran dari ini semua? Dari diri kita sendiri? Bukankah segala ciptaan-Nya bukanlah sesuatu yang sia-sia? Bukankah Dia senantiasa menyertakan hikmah luar biasa pada setiap penciptaan-Nya? Ya, begitu banyak pelajaran yang semestinya kita petik. Tak perlu jauh-jauh, cukup dengan melihat diri kita sendiri saja…
Ketika diri kita terpapar suatu benda asing, maka dengan segera tubuh melakukan pertahanan diri dengan begitu canggih dan luar biasa! Setelah system pertahanan itu membentengi dengan begitu jor-joran, lalu akan ada salah satu chip memory untuk mengidentifikasi si musuh besar itu. Sel T-memory! Chip ini akan bertindak untuk mengenali jikalau suatu saat nanti ‘musuh’ yang sama mencoba membobol pertahanan tubuh kembali. Allahu akbar! Betapa luar biasanya ini semua…
Lantas, mengapa kau tak mengambil pelajaran dari ini semua, wahai diriku?
Bukankah kau pernah begitu terkapar, ketika di hadapkan dengan sesuatu yang menghadang mekanisme pertahanan hatimu?
Bukankah kau pernah terkapar, bahkan nyaris tak lagi bisa bertahan?
Dan, ketika kau telah melewati itu semua, bukankah sel T-memory sudah sangat mengenali jenis penyerang ini?
Ah, tidak!
Bukankah kau tak ingin lagi terkapar?
Bukankah kau benar-benar tak lagi ingin menghadapi serangan itu?
Duhai diriku, jika memang kau tak pernah ingin lagi menghadapinya dan terkapar kembali, maka segeralah kau perkuat benteng pertahananmu… Mungkin kau juga perlu meningkatkan sensitifitas sel T-memory-mu, agar lebih peka mengenali corpus alliance itu…
Sekali lagi, kembalilah pada asholah itu…
Sederhana saja, cukup dengan meletakan fitrah pada lokusnya saja…
Tak lebih dari itu…
Ketahuilah wahai diriku, bahwa sehalus-halusnya kehinaan di sisi-Nya, adalah tercerabutnya kedekatan dengan-Nya…
Astaghfirullaah…
Lalu, apakah kau akan membiarkan dirimu memasuki ranah ini?
Tidak! Tidak boleh!
Sulit memang, karena begitulah sunnatullahnya…
Tapi bukan berarti tak bisa…
Telah banyak yang melewatinya…
Ketahuilah wahai diriku, dunia ini hanyalah sejenak saja…
Akan ada hari-hari panjang yang kua lewati sesudahnya…
Relakah kau menukar kenikmatan yang sedikit dengan kesengsaraan yang panjang?
Tidaak! Tentu takkan pernah rela!
Maka, biarlah kau berpeluh payah hari ini, untuk kenikmatan yang tiada taranya esok, setelah masa yang sejenak ini berlalu…
Semoga kau adalah bagian dari itu…
Allahumma aamiin…
Biji-Biji Kebajikan
![]() |
| tanaman bertumbuhan.... |
Ketika ayunan ringan si cangkul sampai pada segerombol tanaman bunga baru yang begitu banyak, mendadak aku dibuat takjub. Ada begitu banyak batang yang tumbuh di sana dengan tinggi rata-rata 10 cm. Masya Allah, kenapa selama ini luput oleh perhatianku? Batinku.
Dahulu, tanaman bunga itu hanya satu atau dua batang saja. Bunga itu sudah mekar dan menjulang tinggi. Warnanya ungu tua dan sangat cantik. Setelah ia meranggas dan mati, rupanya ia meninggalkan begitu banyak bibit. Ya, bahkan setelah ia tercerabut dari tanah dan menjadi lapuk bersama bakteri, bersamaan dengan itu pula, bertumbuh begitu banyaaak bunga-bunga lainnya. Sepeninggalnya.
Lama kuperhatikan tanaman itu. Hingga sebingkai senyum kuulas untuk sebuah pelajaran berharga yang diajarkan oleh sang bunga itu kepadaku. Ya, bunga itu dan segenap kejadian alam telah memberikan banyak pelajaran pada kita. Dari sang bunga, aku memetik sebuah hikmah, ibroh dan pelajarn berharga.
![]() |
| Ket : tempat yang dilingkari itu adalah tempat tumbuh satu tanaman yg menyemai biji.. yang pake tanda panah menunjukkan tanaman yg tumbuh setelahnya... |
Bunga itu mengajarkan soal menebarkan kebaikan dan memberikan kemanfaatan pada banyak orang. Lihatlah, satu atau dua batang saja, lalu setelah ia meninggalkan begitu banyak biji-bijinya, bertumbuhanlah begitu banyak bunga sejenis. Masya Allah…. Barang kali, begitu pula halnya dengan kebaikan yang kita semaikan biji-bijinya. Mungkin, ketika pertama kali, hanya kita atau mungkin satu dua orang saja. Akan tetapi, ketika kita terus menyebarkan biji-biji kebaikan dan senantiasa mengajak pada kebaikan, masya Allah… setelah kita, di sekeliling kita, bertumbuhanlah kebajikan yang banyak. Bahkan, setelah kita sudah tak lagi berada di atas bumi ini.
Untuk ini, Allah memberikan ganjaran yang tidak tanggung-tanggung. Nilai kebajikan yang sama seperti orang yang melaksanakan kebajikan itu, tanpa mengurangi pahala mereka. Jika kita semaikan ajakan dan biji kebajikan itu dan diikuti oleh banyak orang, maka sungguh, ia akan menjadi investasi yang Allah ganjar dengan nilai pahala yang banyak. Sebanyak orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun bagian investasi mereka. Masya Allah…
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshary Al Badry ra. Berkata, Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang member petunjuk kepada kebaikan maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Bahwasannya Rasulullaah bersabda : “Barang siapa yang mengajak pada petunjuk/kebenaran maka ia mendapat pahala seperti pahala-pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengerjakannya dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun. (HR. Muslim)
Dan ternyata, ini berlaku juga untuk biji-biji kejahatan dan keburukkan. Ketika ajakan kepada kesesatan membuat biji-biji kesesatan itu bersemai di sekeliling kita, maka, kita pun menabung investasi dosa. Astaghfirullaah…. Na’udzubillaah tsumma na’udzubillah….
Wahai diriku, juga dirimu… Semoga ini menjadi pengingat bagi diri kita semua untuk senantiasa MELAKSANAKAN dan juga sekaligus menyemaikan biji-biji kebajikan di sekeliling kita. Agar yang bertumbuh adalah pohon-pohon kebaikan, bukan pohon-pohon kemungkaran. Jangan pernah remehkan ajakan sederhana baik itu kebajikan maupun keburukan. Karena, boleh jadi, biji-biji kebajikan yang kita kira sederhana itulah yang akan membuat bertumbuhnya banyak kebajikan yang sama di sekeliling kita. Pun begitu halnya dengan biji keburukan. Jangan remehkan biji-biji keburukan sekecil apapun itu, karena boleh jadi saja, biji-biji itu akan bertumbuh pula yang akan menjadi ‘investasi dosa’ bagi kita, Karena pada kitalah bermulanya…
Astaghfirullaah lii walakum….
Mari saling berlomba untuk menyemai biji-biji kebajikan….
Mari saling mengingatkan ketika diri kita atau saudara kita (terutama diriku) tergelincir…
Alhaqqu min rabbik…falaa takunanna minal mumtariin…
Jatuh dan Bangun
![]() |
| Terjatuh...hihi |
Kau tahu?! Ada jatuh yang juga lebih sakit lagi! Jatuh cinta! Hihi. Iya! Jatuh cinta! Di saat yang belum tepat, tentunya. Sakitnya, tergantung sedalam apa (h) dan selama apa (t). Apalagi jika reversible. Jika reversible, maka bukan hanya jatuh bebas, tapi juga ada gerak vertical ke atas sebelumnya. Lebih menyakitkan lagi! Heuu…
Makanya, jika kau ingin memilih, janganlah pilih JATUH cinta. Tapi, pilihlah BANGUN cinta! Bangun di saat yang tepat, pada orang yang tepat saja. Sebab, BANGUN cinta itu seperti GLBB… Ada energy awal, yang juga berbanding lurus antara kedalamannya (s) dengan waktunya (t). s= Vot + ½ at2. Maka, niscaya dengannya takkan kau temukan adanya kesakitan. Sebab, grafiknya akan selalu menuju ke atas.
Siiiip?!
Sepakat!?
Dalam hidup, selalu ada pilihan antara menikahi orang yang dicintai, atau mencintai orang yang dinikahi. Yang pertama hanyalah kemungkinan, sedangkan yang kedua adalah kewajiban. Ada dua pilihan ketika bertemu cinta. JATUH cinta dan BANGUN cinta. Padamu, aku memilih yang kedua. Agar cinta kita menjadi istana, tinggi mengapai surga.(Salim A Fillah, 2007, dalam “Saksikan Aku Seorang Muslim”)
Uji Stabilitas
Pada kinetika reaksi, uji stabilitas obat dalam larutannya atau lepasan obat (liberasi, dissolusi, diffuse dan absorbs obat) menuju darah dan kemudian sel-sel. Penentuan tanggal ekpire date obat akan selalu mengikuti reaksi orde pertama di mana Log [C] = Log [C0] – k/2,3030.t
Maka, grafik stabilitas obat itu akan menjadi seperti pada gambar itu. Pada prinsipnya, kadar suatu obat yang disimpan atau dikenal dengan umur simpan obat, pasti punya limit waktu, di mana stabilitasnya akan menurun, kadarnya akan menurun, hingga dalam satuan tertentu akan menjadi tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan farmakope. Perlahan memang, Karena ia difungsikan terhadap waktu. Maka, seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, waktu akan membuatnya terus menerus mengalami penurunan kadar hingga kadarnya menjadi kecil dari ambang batas minimum kebolehan. Ini pada kondisi penyimpanan normal suhu kamar (250 Celcius atau 2980 Kelvin). Bisa dalam waktu 4 hingga 5 tahun, atau bahkan ada yang hanya satu atau dua tahun saja!
Hehe, ribet?? Kalau farmasis mah ngerti yaah. Hihi. Ini bukan soal keren-kerenan, hingga membuat harus mengernyitkan dahi membacanya, harus jungkir balik dulu, kaki di kepala, kepala di kaki untuk bisa memahaminya. Atau malah, bikin males ngebacanya, saking riwuehnya! Hehe, sebenarnya ini adalah salah satu tulisan di diariku ketika belajar kinetika reaksi di tahun II kuliah dulu, berikut dengan pengejawantahannya dengan kondisi hatiku, kala itu. Dan, kemudian begitu menggelitikku ketika kembali membacanya. Karena, ada analogi di sana, yang membuatku belajar kembali…
Jika kadar itu adalah kadar iman, maka…sungguh…na’udzubillaah…tsumma na’udzubillah…jika tanpa kita sadari, kadarnya terus menerus mengalami degredasi pada penyimpanan normalnya, menurut persamaan eksponensial itu! Sungguh, sehalus-halusnya kehinaan di sisi-Nya adalah semikin terurainya zat aktif dalam larutan dan satuan tatanan diri kita!! Atstaghfirullaah…astaghfirullaah…
Semoga kita, dijadikan-Nya istiqomah, sehingga meminimalisir dissolusi, liberasi, absorbs maupun diffuse, sehingga ketika sampai pada masa berakhirnya tarikan nafas kita, kadarnya masih tetap pada range yang dibolehkan-Nya.
Jadiii, yang harus dihindari adalah, hal-hal yang mempercepat terjadinya reaksi hancur itu, semisal persamaan Arhennius (heuu….tak perlulah kutuliskan pula persamaan arrnehius itu. Malah bikin tambah ribet.. hihi). Intinya, pada persamaan itu, temperature ekstrem adalah suatu hal yang sangat mempengaruhi waktu hancurnya dan umur simpannya di obat! Yup, kita harus hindari segala sesuatu yang dapat mempercepat terjadinya dissolusi, liberasi, absorbs maupun diffuse itu seperti adanya maksita, kefuturan dan godaan syetan la’natullah ‘alaih…
*hanyaakuyangmungkinmengertiapayangkumaksuddanbiarlahakusajayangmengerti
Maka, grafik stabilitas obat itu akan menjadi seperti pada gambar itu. Pada prinsipnya, kadar suatu obat yang disimpan atau dikenal dengan umur simpan obat, pasti punya limit waktu, di mana stabilitasnya akan menurun, kadarnya akan menurun, hingga dalam satuan tertentu akan menjadi tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan farmakope. Perlahan memang, Karena ia difungsikan terhadap waktu. Maka, seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, waktu akan membuatnya terus menerus mengalami penurunan kadar hingga kadarnya menjadi kecil dari ambang batas minimum kebolehan. Ini pada kondisi penyimpanan normal suhu kamar (250 Celcius atau 2980 Kelvin). Bisa dalam waktu 4 hingga 5 tahun, atau bahkan ada yang hanya satu atau dua tahun saja!
Hehe, ribet?? Kalau farmasis mah ngerti yaah. Hihi. Ini bukan soal keren-kerenan, hingga membuat harus mengernyitkan dahi membacanya, harus jungkir balik dulu, kaki di kepala, kepala di kaki untuk bisa memahaminya. Atau malah, bikin males ngebacanya, saking riwuehnya! Hehe, sebenarnya ini adalah salah satu tulisan di diariku ketika belajar kinetika reaksi di tahun II kuliah dulu, berikut dengan pengejawantahannya dengan kondisi hatiku, kala itu. Dan, kemudian begitu menggelitikku ketika kembali membacanya. Karena, ada analogi di sana, yang membuatku belajar kembali…
Jika kadar itu adalah kadar iman, maka…sungguh…na’udzubillaah…tsumma na’udzubillah…jika tanpa kita sadari, kadarnya terus menerus mengalami degredasi pada penyimpanan normalnya, menurut persamaan eksponensial itu! Sungguh, sehalus-halusnya kehinaan di sisi-Nya adalah semikin terurainya zat aktif dalam larutan dan satuan tatanan diri kita!! Atstaghfirullaah…astaghfirullaah…
Semoga kita, dijadikan-Nya istiqomah, sehingga meminimalisir dissolusi, liberasi, absorbs maupun diffuse, sehingga ketika sampai pada masa berakhirnya tarikan nafas kita, kadarnya masih tetap pada range yang dibolehkan-Nya.
Jadiii, yang harus dihindari adalah, hal-hal yang mempercepat terjadinya reaksi hancur itu, semisal persamaan Arhennius (heuu….tak perlulah kutuliskan pula persamaan arrnehius itu. Malah bikin tambah ribet.. hihi). Intinya, pada persamaan itu, temperature ekstrem adalah suatu hal yang sangat mempengaruhi waktu hancurnya dan umur simpannya di obat! Yup, kita harus hindari segala sesuatu yang dapat mempercepat terjadinya dissolusi, liberasi, absorbs maupun diffuse itu seperti adanya maksita, kefuturan dan godaan syetan la’natullah ‘alaih…
*hanyaakuyangmungkinmengertiapayangkumaksuddanbiarlahakusajayangmengerti
Resonansi Sang Jiwa
Kawan, masih ingatkah kau dengan garpu tala? Bukan garpu yang biasa digunakan untuk makan itu loh! Tapi, garpu yang bisa menghasilkan resonansi! Ajaibnya, si garpu tala, bisa bergetar dengan sendirinya ketika garpu tala lainnya digetarkan didekatnya jika frekuensi alamiah antara kedua garpu tala itu sama! Masya Allah. Hal ini akan berbeda jika garpu talanya tidak memiliki frekuensi alamiah yang sama mereka tidak akan menggetarkan. Yup, inilah yang disebut dengan teori resonansi itu.
Begitulah resonansi sang jiwa kita! Resonansi jiwa (kayak judulnya ceramah motivasi itu yah? Hihi). Jiwa-jiwa itu akan beresonansi jika dan hanya jika frekuensi yang dimiliki adalah sama. Ini menjelaskan bahwa kebersamaan dan kedekatan hati itu dibangun atas frekuensi yang sama untuk bisa menghasilkan resonansi. Jika tidak, maka, kedekatan hati itu adalah suatu yang absurb. Hal yang paling jelas terlihat dalam ukhuwah kita. Di tulisan-tulisan sebelumnya sudah kubahas mengenai kesesuaian jiwa ini. Jadi, aku tidak ingin membahasnya lagi. Hanya saja, alam ini menjelaskan bahwa yang dikatakan jiwa-jiwa yang salin mengenal itu adalah jiwa-jiwa dengan frekuensi yang sama. Hanya dengan frekuensi yang samalah, adanya resonansi, adanya kesatuan dan kesesuaian. Alam ini mengajarkan bahwa, sesungguhnya kekuatan yang dimiliki oleh jiwa-jiwa itu adalah hanya karena frekuensinya yang sama!
Apa contoh frekuensi yang sama sehingga menghasilkan resonansi yang sama? Solidaritas untuk palestina! Ini salah satu contohnya! Subhanallaah, bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Jawabannya ada pada frekuensi yang sama yang menghasilkan sebuah resonansi! Masya Allah…
Mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya bagaikan suatu bangunan yang slaing menguatkan antara satu dengan yang lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)
Begitulah resonansi sang jiwa kita! Resonansi jiwa (kayak judulnya ceramah motivasi itu yah? Hihi). Jiwa-jiwa itu akan beresonansi jika dan hanya jika frekuensi yang dimiliki adalah sama. Ini menjelaskan bahwa kebersamaan dan kedekatan hati itu dibangun atas frekuensi yang sama untuk bisa menghasilkan resonansi. Jika tidak, maka, kedekatan hati itu adalah suatu yang absurb. Hal yang paling jelas terlihat dalam ukhuwah kita. Di tulisan-tulisan sebelumnya sudah kubahas mengenai kesesuaian jiwa ini. Jadi, aku tidak ingin membahasnya lagi. Hanya saja, alam ini menjelaskan bahwa yang dikatakan jiwa-jiwa yang salin mengenal itu adalah jiwa-jiwa dengan frekuensi yang sama. Hanya dengan frekuensi yang samalah, adanya resonansi, adanya kesatuan dan kesesuaian. Alam ini mengajarkan bahwa, sesungguhnya kekuatan yang dimiliki oleh jiwa-jiwa itu adalah hanya karena frekuensinya yang sama!
Apa contoh frekuensi yang sama sehingga menghasilkan resonansi yang sama? Solidaritas untuk palestina! Ini salah satu contohnya! Subhanallaah, bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Jawabannya ada pada frekuensi yang sama yang menghasilkan sebuah resonansi! Masya Allah…
Mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya bagaikan suatu bangunan yang slaing menguatkan antara satu dengan yang lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)
Gaya Coloumb
Apa? Si Coloumbus eeh, si Coloumb bergaya? Ahaha! Bukaaan…bukaaaan! Ini mah salah satu plajaran SMA! Iya! Plajaran fisika! Kali ini aku nak ngajak puan dan tuan bernostalgila bernostalgia ke masa-masa SMA itu… (kalo kata sebuah lagu,” ….tiada masa paling Indaaah, masa-masa di SMA…”. Hmm…, buat kali ini aku spakat dah sama itu lagu. Hihi). Tapi…tapi…, konon kabarnya, fisika itu plajaran paling serem yah? Paling rumit dan paling sulit? Aaaah, gak juga! (halaaaaah, gaya cuy! Padahal, dulu juga sempet pusing tujuh keliling kalo udah fisika! Hihi).
Kamu, masih ingat rumusnya gaya Coloumb dalam suatu medan magnet? Jika kamu bukan mahasiswa jurusan fisika or sebagian dari jurusan teknik, atau pengajar fisika, kurasa kamu sudah lupa!! Hihi, cuujon duluan!! Tapiiii, caution! Belajar fisika, kalo Cuma sekedar tau rumus doang, paling-paling bertahan di otak kirinya yah Cuma sebentar tho! Ngafal rumus? Aaaah, paling tahannya juga Cuma sebentar saja. Paling, nanti juga kebalik-balik. Naaah, jurus jitu memahami rumus fisika adalah mengetahui asholah (asholah?? Hihihi), mengetahui keaslian rumus itu datangnya dari mana. Jadi, kalau sudah tau asholahnya dari mana, baru deeh, bisa paham rumusnya. Kalo udah gini, insya Allah, terekam dalam memory jangka panjang! Critanya, skarang ini, bagaimana mengotak-kanankan segalasesuatu yang ngotak kiri. Hihi. (pake otak tengah ajah gih!).
Hayoooo, masih ingat tak? Oke deeh, ta’ kasi bocoran ajah! Gaya coloumb dalam suatu muatan medan magnet adalah…
Nah, di sana, F adalah Gaya Coumb (kuatnya medan magnet), k atadah konstanta yang sampai dunia kiamat pun takkan berubah angkanya, hihi. q1 adalah muatan magnet 1 dan q2 adalah muatan magnet 2. Sedangkan r adalah jarak antara kedua magnet tersebut. Dari si rumus, dapat diambil kesimpulan bahwa, besarnya atau kuatnya medan magnet berbanding lurus dengan muatan yang dimiliki oleh masing-masing magnet dan berbanding terbalik dengan jarak antara kedua magnet tersebut.
Jadiiii, semakin besar muatan yang dimiliki akan semakin besar kekuatan medan magnetnya dan semakin kecil jarak, semakin besar juga kekuatan medan magnitnya. Begitu pula sebaliknya.
Lalu? Apa hubungannya?!
Hmm begini teman, rumus di atas adalah rumus ukhuwah kita! Iya! Rumus ukhuwah!
Kita bisa menganalogikan kuatnya medan magnet itu adalah kekuatan ukhuwah kita, lalu muatan itu adalah muatan iman dari diri kita, dan jarak antara keduanya adalah kedekatan hati kita dengan saudara kita.
Belajar dari rumus tersebut, maka, kuat atau tidaknya ukhuwah itu berbanding lurus dengan muatan iman kita dan saudara kita, dan berbanding terbalik dengan kedekatan hati kita. Semakin kecil jarak, artinya semakin dekat hati kita, maka makin kuatlah medan magnit ukhuwah kita. Pun demikian halnya, semakin besar muatan iman, semakin besar pula kekuatan ukhuwah itu. Hei, bukankah persaudaraan yang paling terindah dan paling kokoh itu adalah bersaudara dalam keimanan? Coba saja, jika iman lagi ngedrop, permasalahan ukhuwah akan lebih mencuat. Pun demikian halnya, jika tak ada kedekatan hati. Ukhuwah pun, dipertanyakan.
Hmm…ukhuwah berikut dinamikanya! Bagaimana pun, ukhuwah adalah suatu anugrah terindah dari Allah. Bayangkanlah, ketika diri kita tiada punya ikatan nasab apapun, tapi kemudian Allah hadirkan rasa cinta, ada kebersamaan, dan ada saling menanggung beban. Masya Allah, sungguh indahnya. Maka, tiadalah yang lebih baik untuk dilakukan dalam meningkatkan kuatnya medan ukhuwah melainkan meningkatkan muatan diri dan memperkecil jarak hati kita…
Kamu, masih ingat rumusnya gaya Coloumb dalam suatu medan magnet? Jika kamu bukan mahasiswa jurusan fisika or sebagian dari jurusan teknik, atau pengajar fisika, kurasa kamu sudah lupa!! Hihi, cuujon duluan!! Tapiiii, caution! Belajar fisika, kalo Cuma sekedar tau rumus doang, paling-paling bertahan di otak kirinya yah Cuma sebentar tho! Ngafal rumus? Aaaah, paling tahannya juga Cuma sebentar saja. Paling, nanti juga kebalik-balik. Naaah, jurus jitu memahami rumus fisika adalah mengetahui asholah (asholah?? Hihihi), mengetahui keaslian rumus itu datangnya dari mana. Jadi, kalau sudah tau asholahnya dari mana, baru deeh, bisa paham rumusnya. Kalo udah gini, insya Allah, terekam dalam memory jangka panjang! Critanya, skarang ini, bagaimana mengotak-kanankan segalasesuatu yang ngotak kiri. Hihi. (pake otak tengah ajah gih!).
Hayoooo, masih ingat tak? Oke deeh, ta’ kasi bocoran ajah! Gaya coloumb dalam suatu muatan medan magnet adalah…
Nah, di sana, F adalah Gaya Coumb (kuatnya medan magnet), k atadah konstanta yang sampai dunia kiamat pun takkan berubah angkanya, hihi. q1 adalah muatan magnet 1 dan q2 adalah muatan magnet 2. Sedangkan r adalah jarak antara kedua magnet tersebut. Dari si rumus, dapat diambil kesimpulan bahwa, besarnya atau kuatnya medan magnet berbanding lurus dengan muatan yang dimiliki oleh masing-masing magnet dan berbanding terbalik dengan jarak antara kedua magnet tersebut.
Jadiiii, semakin besar muatan yang dimiliki akan semakin besar kekuatan medan magnetnya dan semakin kecil jarak, semakin besar juga kekuatan medan magnitnya. Begitu pula sebaliknya.
Lalu? Apa hubungannya?!
Hmm begini teman, rumus di atas adalah rumus ukhuwah kita! Iya! Rumus ukhuwah!
Kita bisa menganalogikan kuatnya medan magnet itu adalah kekuatan ukhuwah kita, lalu muatan itu adalah muatan iman dari diri kita, dan jarak antara keduanya adalah kedekatan hati kita dengan saudara kita.
Belajar dari rumus tersebut, maka, kuat atau tidaknya ukhuwah itu berbanding lurus dengan muatan iman kita dan saudara kita, dan berbanding terbalik dengan kedekatan hati kita. Semakin kecil jarak, artinya semakin dekat hati kita, maka makin kuatlah medan magnit ukhuwah kita. Pun demikian halnya, semakin besar muatan iman, semakin besar pula kekuatan ukhuwah itu. Hei, bukankah persaudaraan yang paling terindah dan paling kokoh itu adalah bersaudara dalam keimanan? Coba saja, jika iman lagi ngedrop, permasalahan ukhuwah akan lebih mencuat. Pun demikian halnya, jika tak ada kedekatan hati. Ukhuwah pun, dipertanyakan.
Hmm…ukhuwah berikut dinamikanya! Bagaimana pun, ukhuwah adalah suatu anugrah terindah dari Allah. Bayangkanlah, ketika diri kita tiada punya ikatan nasab apapun, tapi kemudian Allah hadirkan rasa cinta, ada kebersamaan, dan ada saling menanggung beban. Masya Allah, sungguh indahnya. Maka, tiadalah yang lebih baik untuk dilakukan dalam meningkatkan kuatnya medan ukhuwah melainkan meningkatkan muatan diri dan memperkecil jarak hati kita…
Quorum Sensing
Hehe, mungkin ini istilah asing! Bahkan di kalangan farmasist sendiri, tak semua mengenal istilah ini kecuali yang berkecimpung di dunia per-bioteknologi-an, atau yang sempat mengambil mata kuliah di bidang bioteknologi dan biotoksin.
Hmm…secara sederhana, quorum sensing adalah ‘sebentuk komunikasi’ antara sesama mikroorganisme. Jadi begini, layaknya manusia, antar mikroorganisme juga ada saling miss call-miss call-annya dalam bentuk signal-signal, sehingga terjalinlah komunikasi antara mereka. Nah, missal niiih ya, kayak Mycobacterium Tuberculosis (tau apa kaaan? Itu loooh, bakteri penyebab TBC, penyakit yang cukup tinggi angka kejadiannya di Indonesia gemah ripah loh jinawi, yang obatnya adalah HRZE ituuu, hihi). Mungkin tak perlu kaget, kalo TBC itu eh bukan ding!, si Mycobacterium TB itu bisa ‘tidur lelap’ di paru-paru selama sepuluh taon, tanpa menimbulkan apa-apa. Dia adem-adem ayem ajaaaah tuh, selama bertaon-taon. Namun, tiba-tiba,pas taon ke sebelas, ketika telah terjadi quorum sensing, dan telah dicapai jumlah prajurit yang buanyaaaaak, baru deeh, mulai batuk-batuk berdahak, demam-demam, trus napas tersenagal-sengal, sering kepanasan di malam dingin sekalipun dan sederet manifestasi klinis dari TB lainnya. Intinya, si mycobacterium dalam jumlah yang tidak mencukupi, tidak akan menimbulkan penyakit dulu. Ia dalam kondisi dorman. Kalo udah cukup jumlahnya, baru deh, dia bisa nyerang!
Heee, jadi tambah bingung yak?
Haduuuh, gimana yah?!
Gini aja deeeh, sebenarnya, seganas apapun itu mikroba, kalo tak tercapai jumlah minimum yang dapat menyebabkan kondisi paologis, tak akan menimbulkan penyakit! Contoh sederhananya adalah, e coli (mikroba yang begitu familiar kali yaaaah) selaluuuuu ada dalam lalapan, sayuran, dalam air, dalam apa pun dah! Tapi, kenapa tak mencret? Karena jumlahnya masih sedikit yang gak cukup buat terjadinya quorum sensing tadi. Tapi, jika jumlahnya udah milyaran yang masuk ke tubuh, baru deh terjadi quorum sensing terjadi, dan akhirnya menimbulkan penyakit. Jadi, quorum sensing itu, ibarat konsolidasinya si bakteri laaah! Semacam,’ menyatukan barisan’ begitu!
Hehe, lalu mangain (manga-in ini bahasa minang dari ngapa-in….hihihi! dasaaar, pengacau bahasa!), mangain juga bahas-bahas quorum sensing! Tooh, tidak ada lagi UTS maupun UAS yang bakal dijalanin di kuliyah S-1?! Hihi. Aku hanya sekedar ingin mengajakmu mengambil plajaran dari sini.
Banyak plajaran yang dapat diambil dari alam. Dan sering kali kejadian-kejadian yang ada di alam itu, dapat diekstrapolasi (hehe, emangnya grafik! Pake ekstrapolasi segala!), maksudnya terejawantah dalam kehidupan manusia. Makanya urang Minang berfalsafah, “Alam takambang jadi guru!”.
Quorum sensing itu, ibarat ‘barisan yang kokoh’ fii jasaadil ummaah. Ketika barisannya tak kokoh, meskipun itu sebuah kebenaran, Al Haq, tetap saja, bisa dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir dengan rapi. Jika bakteri saja, yang kecil sangat, bahkan tak dapat dilihat dengan mata langsung, dapat menumbangkan tubuh manusia yang begitu besuaaaaaarrr (bagi si bakteri) yang berakal pulak! Apalagi, sebuah kebenaran yang Allah telah jamin akan kemenangannya…
Belakangan ini, --karena sebelumnya, belum bertemu ‘komunitas’--, aku merasa begitu ‘kesepian’. Dan, begitu terasa bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara infirodi, jarang sekali suksesnya. Makanya, hidup berjamaah itu terasa lebih indah. (jika begini, aku senantiasa jadi merindukan hari-hari di wisma!). Ini bukan berarti kita menonjolkan ego ke-firqoh-an, alias fanatisme kelompok loh yah. Bukankah kita dalam Islam adalah satu! Dan juga, bukan berarti, ketika sendiri, kita mesti berhenti melakukan kebaikan. Tapii,aku di sini, hanya ingin mengambil kesimpulan sekaligus plajaran, bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan infirodi sangat cepat sekali menimbulkan degredasi!
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِه ِِ صَفّا ً كَأَنَّهُمْ بُنيَان ٌ مَرْصُوص
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Qs. Ash-Shaff : 4
Logaritma Kehidupan
Cihaaaa, jadi guru matematika. Hihi.
Liburan begini, salah satunya agendanya, kuhabiskan dengan membahasal soal matematika. (mw ngapain coba?? Mau ngulang SPMB lagi dan ngambil kedokteran. Hihii. Gak laaaah! Gak banget!).
Ini karena, adikku dan beberapa teman2 sekolahnya, minta diajarkan matematika. Berhubung, aku cinta sama plajaran yang satu ini, akhirnya kupenuhi juga keinginan mereka itu. Yah, itung2, merecall memory 8 tahun silam. Hihi. (Sebenarnya, bukan 8 tahun silam jugak siiih, karena, semasa masi kuliyah kemarin, aku jugak sering menemani adik2 yang mau SNMPTN buat ngebahas beberapa (tidak semua loh yaah, karena untuk beberapa topic kayak statistika, pertidaksamaan dan fungsi, aku tidak terlalu suka), umumnya yang ada kaitannya dengan eksponensial, aljabar dan dimensi tiga (kalo dimansi tiga maah, aku paling demen! Hihihi).
Nah, berhubung Bab 1 plajaran matematika kelas 1 SMA (eih, skarang kelas sepuluh yah?) itu adalah bab pangkat, akar, eksponensial dan logaritma, maka tentulah plajaran itu yang dibahas. Sambil menyelesaikan soalnya, (yang semestinya menggunakan otak kiri)…eih….otak kananku malah bersorak-sorai ria, membentuk analog-analog sendiri. Tentang logaritma dan persoalan hidup.
Penyelesaian masalah hidup itu seperti menyelesaikan persamaan logaritma dan eksponensial. Mengapa? Karena, sampai di mana pun step-step yang kita jalani itu maka hasilnya adalah benar, ketika fungsi dan sifat yang kita gunakan adalah benar. Tapi, persoalannya, apakah hasilnya sederhana atau tidak. Itu saja.
Mari sejenak, kita telik salah satu soal logaritma dari sekian banyak contoh-contah yang ada ini. Lihatlah, dengan menggunakan dan memanfaatkan segala sifat yang ada pada logaritma, maka, setidaknya, ada 6 step yang harus dilalui sehingga diperoleh hasil yang sederhana. Pada step mana pun kita berhenti, selagi masih dalam penggunaan sifat yang benar maka nilainya semuanya adalah benar. Tapi, apakah soal ini menjadi sederhana, jika kita hanya berhenti di step 3 misalnya? Tentu tidak! Walaupun hasilnya adalah benar. Pun, ketika kita melewati step 4, kita dapat memilih langkah yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Yang ini menyiratkan bahwa, penyelesaian itu tidaklah harus pada satu jalan saja. Ada banyak jalan, selama masih berada dalam penggunaan fungsi yang benar.
Begitu pun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Mungkin, setiap kita memiliki langkah-langkah yang berbeda. Hanya, saja, persoalannya, apakah kita telah mampu mencapai penyederhanaannya dan menuju ending point sesuai dengan apa yang Allah tetapkan? Sedikit saja ada penyimpangan jalan, maka, penyederhanaan itu takkan pernah dicapai. Lihatlah, pada logaritma tersebut, sedikit saja, kita salah menggunakan fungsi logaritma itu, maka hasil yang dicapai, ending pointnya tidak pernah tercapai.
Fungsi logaritma ini mengajarkan kita pada banyak hal dalam menyelesaikan persoalan hidup. Jika soal logaritma itu adalah persoalan hidup, dan sifat logaritma itu adalah petunjuk dan rambu-rambu kehidupan ini, maka, penyelesaian setiap langkah-langkahnya itu adalah bagaimana kita menyelesaikan persoalan kehidupan tersebut. Selama kita masih berada dalam rambu-rambu yang benar, maka hasilnya adalah benar. Dan, selama kita jeli dalam menggunakan fungsi dan sifatnya, maka insya Allah yang kita peroleh adalah…PENYEDERHANAAN PERSOALAN HIDUP itu sendiri. Barang kali, kita kadang menemukan kebuntuan ketika hasilnya tidak menjadi sederhana. Hal ini mengajarkan kita agar belajar lebih banyak, sehingga dengan sifat dan fungsi yang ada, kita dapat menyederhanakannya. Jika hanya sedikit dari sifat logaritma ini yang kita tahu, maka, tentu saja, kita menemui kebuntuan dalam menyelesaikan soal-soal itu. Akan tetapi, jika kita mengusai dan memahami semua sifat-sifatnya, maka akan ada jalan penyelesaian yang memenuhi sifat-sifat dan fungsi itu sehingga penyederhanaan dan ending poinnya tercapai. Sama seperti, bagaimana kita mempergunakan rambu-rambu yang telah ditetapkan-Nya dalam menyelesaikan persoalan hidup. Jika pengetahuan kita sedikit, maka barang kali kita banyak menemui kebuntuan-kebuntuan, dan keruwetan yang tak kunjung menemukan penyederhanaannya. Akan tetapi, ketika kita berusaha untuk memahami diin ini secara menyeluruh, insya Allah penyelesaian itu akna kita temui. Intinya, adalah sebenarnya, kita mesti banyak belajar lagi. Dari kehidupan ini.
Ah, persoalan. Apapun jenisnya, apapun tingkat kesulitannya, pasti akan menghadang kehidupan kita. Karena, sesungguhnya, hidup itu, adalah perpindahan dari satu masalah, ke masalah berikutnya. Letak poinnya adalah, bagaimana kita menyelesaikan langkah demi langkahnya, apakah dengan jalan yang benar atau tidak. Dan, sesungguhnya pada diri kita, setiap kita, telah disediakan-Nya precursor penyelesaian itu sendiri. Sebab, Dia tidak akan membebani kita dengan persoalan yang kita tak punya precursornya, bukan?
Liburan begini, salah satunya agendanya, kuhabiskan dengan membahasal soal matematika. (mw ngapain coba?? Mau ngulang SPMB lagi dan ngambil kedokteran. Hihii. Gak laaaah! Gak banget!).
Ini karena, adikku dan beberapa teman2 sekolahnya, minta diajarkan matematika. Berhubung, aku cinta sama plajaran yang satu ini, akhirnya kupenuhi juga keinginan mereka itu. Yah, itung2, merecall memory 8 tahun silam. Hihi. (Sebenarnya, bukan 8 tahun silam jugak siiih, karena, semasa masi kuliyah kemarin, aku jugak sering menemani adik2 yang mau SNMPTN buat ngebahas beberapa (tidak semua loh yaah, karena untuk beberapa topic kayak statistika, pertidaksamaan dan fungsi, aku tidak terlalu suka), umumnya yang ada kaitannya dengan eksponensial, aljabar dan dimensi tiga (kalo dimansi tiga maah, aku paling demen! Hihihi).
Nah, berhubung Bab 1 plajaran matematika kelas 1 SMA (eih, skarang kelas sepuluh yah?) itu adalah bab pangkat, akar, eksponensial dan logaritma, maka tentulah plajaran itu yang dibahas. Sambil menyelesaikan soalnya, (yang semestinya menggunakan otak kiri)…eih….otak kananku malah bersorak-sorai ria, membentuk analog-analog sendiri. Tentang logaritma dan persoalan hidup.
Penyelesaian masalah hidup itu seperti menyelesaikan persamaan logaritma dan eksponensial. Mengapa? Karena, sampai di mana pun step-step yang kita jalani itu maka hasilnya adalah benar, ketika fungsi dan sifat yang kita gunakan adalah benar. Tapi, persoalannya, apakah hasilnya sederhana atau tidak. Itu saja.
Mari sejenak, kita telik salah satu soal logaritma dari sekian banyak contoh-contah yang ada ini. Lihatlah, dengan menggunakan dan memanfaatkan segala sifat yang ada pada logaritma, maka, setidaknya, ada 6 step yang harus dilalui sehingga diperoleh hasil yang sederhana. Pada step mana pun kita berhenti, selagi masih dalam penggunaan sifat yang benar maka nilainya semuanya adalah benar. Tapi, apakah soal ini menjadi sederhana, jika kita hanya berhenti di step 3 misalnya? Tentu tidak! Walaupun hasilnya adalah benar. Pun, ketika kita melewati step 4, kita dapat memilih langkah yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Yang ini menyiratkan bahwa, penyelesaian itu tidaklah harus pada satu jalan saja. Ada banyak jalan, selama masih berada dalam penggunaan fungsi yang benar.
Begitu pun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Mungkin, setiap kita memiliki langkah-langkah yang berbeda. Hanya, saja, persoalannya, apakah kita telah mampu mencapai penyederhanaannya dan menuju ending point sesuai dengan apa yang Allah tetapkan? Sedikit saja ada penyimpangan jalan, maka, penyederhanaan itu takkan pernah dicapai. Lihatlah, pada logaritma tersebut, sedikit saja, kita salah menggunakan fungsi logaritma itu, maka hasil yang dicapai, ending pointnya tidak pernah tercapai.
Fungsi logaritma ini mengajarkan kita pada banyak hal dalam menyelesaikan persoalan hidup. Jika soal logaritma itu adalah persoalan hidup, dan sifat logaritma itu adalah petunjuk dan rambu-rambu kehidupan ini, maka, penyelesaian setiap langkah-langkahnya itu adalah bagaimana kita menyelesaikan persoalan kehidupan tersebut. Selama kita masih berada dalam rambu-rambu yang benar, maka hasilnya adalah benar. Dan, selama kita jeli dalam menggunakan fungsi dan sifatnya, maka insya Allah yang kita peroleh adalah…PENYEDERHANAAN PERSOALAN HIDUP itu sendiri. Barang kali, kita kadang menemukan kebuntuan ketika hasilnya tidak menjadi sederhana. Hal ini mengajarkan kita agar belajar lebih banyak, sehingga dengan sifat dan fungsi yang ada, kita dapat menyederhanakannya. Jika hanya sedikit dari sifat logaritma ini yang kita tahu, maka, tentu saja, kita menemui kebuntuan dalam menyelesaikan soal-soal itu. Akan tetapi, jika kita mengusai dan memahami semua sifat-sifatnya, maka akan ada jalan penyelesaian yang memenuhi sifat-sifat dan fungsi itu sehingga penyederhanaan dan ending poinnya tercapai. Sama seperti, bagaimana kita mempergunakan rambu-rambu yang telah ditetapkan-Nya dalam menyelesaikan persoalan hidup. Jika pengetahuan kita sedikit, maka barang kali kita banyak menemui kebuntuan-kebuntuan, dan keruwetan yang tak kunjung menemukan penyederhanaannya. Akan tetapi, ketika kita berusaha untuk memahami diin ini secara menyeluruh, insya Allah penyelesaian itu akna kita temui. Intinya, adalah sebenarnya, kita mesti banyak belajar lagi. Dari kehidupan ini.
Ah, persoalan. Apapun jenisnya, apapun tingkat kesulitannya, pasti akan menghadang kehidupan kita. Karena, sesungguhnya, hidup itu, adalah perpindahan dari satu masalah, ke masalah berikutnya. Letak poinnya adalah, bagaimana kita menyelesaikan langkah demi langkahnya, apakah dengan jalan yang benar atau tidak. Dan, sesungguhnya pada diri kita, setiap kita, telah disediakan-Nya precursor penyelesaian itu sendiri. Sebab, Dia tidak akan membebani kita dengan persoalan yang kita tak punya precursornya, bukan?
Layaknya Lock and Key
“Assalaamu’alaykum? Pak, alah makan Pak? Baa rasonyo kini? Lah ado ansuran, Pak?”
heee…, ini pertanyaan rutin pagi2 kalo udah monitoring.
“Ndeh, lun ado ansuran lai doh Nak.”
Atau,
“Alhamdulillaah, lay ado ansuran kini, Nak.”
(tambahannnya, “Lai ado ansuran jo perkembangangannyo. Kalau kapatang bamanuang-manuang surang, kini lah pandai galak-galak surang!” Wakakaka…, ngaco banget!!! Ga ding! Yang belakangan mah becandaan ajah!)
Humm…sekarang pertanyaannya adalah “Kenapa obat itu adayang berefek ada yang tidak?”
Hayyoo…kenapa coba?
Knapa? Knapa? Knapa?
Sejauh penerawanganku (hahay, sejak kapan pulak suka menerawang2 niiih? Heee), obat hanya akan berefek jika telah berikatan dengan reseptor. Ikatan antara obat dan reseptorlah yang kemudian menghasilkan apa itu yang disebut dengan efek, yang pada ujung-ujungnya akan menjadikan “sehat”. Mekanisme kerjanya tentulah berbeda-beda sesuai jenis obat dan jenis penyakit. Namun, secara umum, demikianlah…
Mari kita bahas soal obat dan reseptor! Hee…Obat berikatan dengan reseptor itu adalah sebuah kesesuaian. Ia hanya akan berikatan dengan reseptor yang pas saja. Ibarat kunci dan gemboknya. Lock and key bahaso awaknyeh. (haaa??? Bahaso awak? Hee…). Gembok baru bisa kebuka kalo dengan kunci yang sesuai kan yah?
Nah…nah…, begitu pula halnya dengan cinta. (hahay, si Fathel ngomongin cinta?? Hmm….tapi kan cinta terbagi “seven”. Gak hanya “cinta” yang itu tuh saja. Hehe). Yaaph, cinta itu seperti obat dan reseptor! Cinta itu adalah “kesesuaian ruh” antara sang pencinta. Betul tak? Ini kata Ibn Qoyyim loh. Kalo kata orang kimianya, ada “chemistery” antara si pencinta dengan yang dicintanya.
Cinta itu, laiknya antara reseptor dan obat, antara gembok dan kunci, adalah kesesuaian. Kesesuaian itu akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa! Sebab cinta pun adalah alam yang memberikan keluasan. Memberikan energy. Memberikan power bahkan meloncati logika dan akal sehat manusia. Bahkan sesuatu yang sama sekali tak ada dibenak para manusia, tapi dengan cinta, ajaib!, semuanya menjadi terlakoni. Ia menjadi kekuatan yang mendorong. Subhanallah…, begitu hebatnya cinta. (Kadang-kadang, aku malah berpikir apakah cinta itu jika di-kimia-kan adalah gabungan dari serotonin, adrenalin, dopamine, norepinefrin, feniletilamin, haaah..apa lagi yaah? Hee… Abiiiis, semua efek yang dihasilkan oleh zat-zat di atas juga akan dihasilkan oleh cinta. Hayuuu, ada yang mau menelitinya? Hee…)
Tapi, bagaimanakah menghadirkan cinta?
Ah, cinta tentulah tak bisa dipaksa. Karena ini soal rasa! Kalaulah menyangkut soal rasa, maka susyeeeeeeh. Jika ada kesusuaian ruh, maka barulah ada cinta. Aku ngerasain sekali dah. Aku tuh bisanya “gombal”, bisanya say “luph U….luph U” yaah…sama akhwat tertentu jugah. Ga semuanya.
(Heee…, koq jadi ngaur yah ini tulisan? Tapi, ah biarlah!)
Ahh, ndak ngerti aku cara upload photonya yang sekarang jadi riweh begituuwhh!! huhu
Obat Amal
Dalam perenunganku, ingatanku malah beralih pada insulin, digoxin dan opioid. Insulin, obat yang dikonsumsi terus menerus dan pemakainya akan sangat bergantung pada obat ini. Digoxin, obat yang mempunyai loading dose, dosis di awalnya besar lalu perlahan-lahan diturunkan. Dan opioid, obat yang memiliki titer dose di mana pada awalnya dimulai dengan dosis kecil dulu baru kemudian bertambah dan terus bertambah.
Ah, semua obat itu memberikanku pelajaran bahwa beramal itu hendaklah seperti insulin yang terus menerus. Jika terputus, maka akan berakibat pada kondisi pasien. Beramal itu bukan seperti digoksin yang pada awal-awalnya banyak, lalu perlahan-lahan turun. Awalnya semangat banget, tapi ga istimror. Dan, juga mengajarkanku agar memulai suatu amalan dengan perlahan-lahan, dimulai dengan apa yang kita sanggupi dulu (kecuali untuk amalan wajib tentu saja) dan baru perlahan-lahan ditingkatkan.
Dan, segala obat ada dosisnya, ada aturan pakainya. Jika ga tau aturan pakai, maka bisa jadi obatnya jadi toksik, obatnya ga berefek atau malah menimbulkan penyakit lain. Pun begitu amalan dan ibadah, ada aturannya dan ada “dosis”nya jugah. Jika ga tau aturannya, bisa jadi malah bukan jadi amalan ibadah. Bisa jadi bid’ah. Maka, penting sangat untuk mengetahui ilmunya sebelum amalnya.
Semoga ini semua menjadi pelajaran bagik terutama, juga bagimu semua.
Dekompensatio Iman
Hmm…dalam case study report kemaren, kelompokku membahas masalah dekompensatio cordis atau yang lebih akrab dikenal dengan istilah heart failure. Atau, bahasa kitanya gagal jantung.
Aaihh, betapa jantung itu memang “jantung”nya semua aktivitas tubuh kita. Karena, asupan energy, oksigen, dan zat penting bagi tubuh akan disampaikan oleh darah yang dipompakan oleh jantung. Hmmm…lebih kurang mirip pusat komunikasi dan transportasi kali yah? Jika ga ada, maka hampir seluruh aspek kehidupan jadinya lumpuh.
Betapa pentingnya jantung itu.
Aah, semua ini mengajarkanku bahwa ketika jantung sudah bermasalah, maka banyak bagian dari tubuh kita yang kemudian ikut bermasalah.
Maka, ijinkan pula aku menggunakan istilah ini untuk dekompensatio iman. Karena yang menjadi jantung dari ruhiyyah kita itu adalah keimanan kita. Jika sudah terjadi dekompensatio iman, maka pasti akan berefek juga kepada hampir seluruh sisi kehidupan kita.
Semua ini mengajarkanku untuk senantiasa menjaga iman agar tak terjadi dekompensatio sebagaimana setiap orang juga tak ingin mengalami dekompensatio kordis.
Ya, Allah…hanya Engkau yang mampu menjagaku ya Rabb…
Transformasi Energi
Hmmm…, aku teringat pada hukum kekelan energy. Hayyooo, bunyinya apaaa? Seingatku, bunyinya adalah…. energy tak dapat diciptakan, dan tak dapat pula dimusnahkan. Tetapi energy dapat dirubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
(Jika salah, sok atuh, diingatkan sahhaajaaa)
Nah…nah…,
Dalam hidup sering kali kita merasakan keterpurukan kan yah? (atau aku saja yah? Hihi). Ada beberapa fase dalam hidup yang membuat kita tiba-tiba merasa down. Mungkin memang ada sebabnya. Barangkali influence dari lingkungan kita. Pengaruh pandangan negative. Hmmm…, pengaruh yang menarik kita kepada polar minus. Seperti cluster-cluster atom pada H2O yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.
Iya tho?
Tapi, jika kita percaya pada hukum kekekelan energy, maka, insya Allah, kitapun dapat merubah energy itu. Energy tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Tapi, dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Nah, bukan tidak mungkin kan yah, jika kita merubah energy itu dari NEGATIF menjadi POSITIF. Ketika energy negative itu berhasil kita ubah menjadi energy postif, justru, ia akan menjadi potensi besar bagi diri kita, insya Allah.
Aku sangat merasakannya, ketika aku berada pada titik kulminatif, pada titik saturasi yang membawaku pada kejenuhan. Pada kondisi “kusut masai” yang sangat tak menyenangkan. Jika “dipaturuik an”, maka sering kali aku berada pada lembah grafik kosinus. Tapi sebaliknya, ketika energy negative itu diubah menjadi positif, justru aku merasa lebih terlecut.
Contoh paling kentara adalah perasaan cemburu. Cemburu ketika melihat seseorang yang subhanallaah, luar biasa. Sering terselip rasa “iri” dan cemburu di hati, “waaaah, itu dia, subhanallaah, pemahamannya bagus banget. ilmu diinnnya kereeen. Waaah…, aku bisa gak yaah seperti itu?”. Kalo lagi down nya biyasanya follow up nya adalah kalimat, “aaaah.., dia siih memang dasarnya hebat begitu. Akuu, aaah….kayaknya gak bisa deeh. Aku kan hanya begini…begini…dan beginii… Sepertinya aku tak bisa punya kemampuan yang sama sepertinya.” Tapi, coba kalo kecendrungan polar negative itu dirubah seperti ini,” Waah, subhanallaah, hebat sekali dia! Hmmm…, aku insya Allah jugah bisa menyamainya! Okeh..okeh…., qta fastabiqul khairat!” Nah loh? Betul kaaan?? Energy positif justru akan memicu semangat kita!!
Sama seperyi posisi khouf dan roja’ dalam beramal. Khouf dan roja’ yang mesti balance itu. Khouf yang bukan menjadikan qta pasrah tak bermakna dengan dalih, “aaah…, aku takut Allah tak menerima amalanku. Ng…, dari pada cape’-cape’ beramal dan tetep ga diterima, mending ga usah!”. Bukan ini! tapi khouf yang membuat qta ngerasa takut bahwa amalan itu belum mencapai spesifikasi dan qualifikasi yang ditentukan-Nya(heeee, ini kebawa2 validasi nya Quality assurance niih. hihi), yang membuat qta seemakin hari semakin ingin lebih baik! (ini terutama untuk DIRIKUUUUU iniiii!)
Penyederhanaan Konsep Hidup Lewat Rumus Fisika
Saudaraku, tentu kita semua tahu dan sangat kenal sekali dengan rumus :
E = hf/λ
Humm....yuuuk, qta "preteli" satu-satu,:
E = energi yang kita punya
h= konstanta/tetapan kehidupan
f = frekwensi kedekatan kita dgn sang Khalik
λ = panjang/besarnya gelombang kehidupan yang kita hadapi
Tahukah teman2 semua, sungguh rumus itu adalah penyederhanaan dari konsep
kehidupan kita yang begitu kompleks.
Terkadang, sering kali, kita merasa kehabisan energi utk melakukan sesuatu
(E). Sementara, garisan hidup kita/tetapannya sudah ditentukan oleh Allah (h), karena h adalah konstanta/tetapan.
Namun, Allah pun tak sia-sia pada hamba-Nya yang berusaha dan gigih., Allah tak
akan merubah nasib kaumnya sebelum kaum itu merubahnya sendiri. Intinya ikhtiar
kan? Maka, Besarnya energi yang kita punya tak mutlak bergantung pada, nasib
baik yg ditakdirkan kepada kita, atau nasib buruk yang harus kita terima. Tapi,
juga bergentung pada, seberapa besar frekuensi (f) kedekatan kita kepada-Nya
dan gelombang2 kehidupan yang begitu banyak likunya, yang barang kali akan
mengombangambingkan kita (λ).
Semakin dekat frekuensi kita kepada Allah, baik di segi kuantitas, maupun
kualitas, maka gelombang besar pun akan terhadang, maka kita akan punya energi
lebih besar. Sebaliknya, kendatipun gelombang/ujian dlm kehidupan kita tak
seberapa, namun, frekunsi kedekatan kpd Allah lebih kecil,maka kita akan punya
energi yang kecil pula. Wujudnya bukan hanya dalam bentuk semangat hidup,energi
utk hidup, tapi juga kebahagiaan yg kita rasakan.
Rumitkaaah?![]()
Hummm...., kiyakiin deeh, semua pada pinter. Lagian, ini rumus kan sederhana banget yah?
Jadi begini, Nilai E akan berbanding lurus dengan f dan berbanding terbalik dengan (λ). Tadi kaaan kita udah sepakat yaah, kalo f adalah frekuensi kedekatan kita dengan Rabb dan (λ) adalah gelombang2, permasalahan, tantangan yang kita hadapi di kehidupan ini. (lho?? siapa yang menyepakati yaaah?? hihi...![]()
Nah..., Nilai E alias energi yang kita punya untuk mengarungi bahtera kehidupan ini (ciee elaaaah...), akan menjadi besar jika f nya besar dan (λ) nya kecil. Tapi, yang namanya idup yaah mesti ada permasalahannya lah yaa. Berarti bisa dipastikan (λ) itu akan selalu bernilai cukup besar. Naaaah, biar energi yang kita punya besar, makaaa....yang mesti di naikkan nilainya itu adalah nilai f nya. Makaaa, sebesar dan sedahsyat apapun (λ) yang kita hadapi, jika kita punya f yang lebih besar, tentu sajaaa nilai E tetap akan besar. Gituuu looooh.
Sebaliknya, jika f yang kita punya kecil, meskipun (λ) itu kecil, maka E yang kita punya tetap kecil jugah kaan, karena ia berbanding lurus. Intinyaaa, yaaah...di nilai f dung??
Rumitkaaah?
Hummm...., kiyakiin deeh, semua pada pinter. Lagian, ini rumus kan sederhana banget yah?
Jadi begini, Nilai E akan berbanding lurus dengan f dan berbanding terbalik dengan (λ). Tadi kaaan kita udah sepakat yaah, kalo f adalah frekuensi kedekatan kita dengan Rabb dan (λ) adalah gelombang2, permasalahan, tantangan yang kita hadapi di kehidupan ini. (lho?? siapa yang menyepakati yaaah?? hihi...
Nah..., Nilai E alias energi yang kita punya untuk mengarungi bahtera kehidupan ini (ciee elaaaah...), akan menjadi besar jika f nya besar dan (λ) nya kecil. Tapi, yang namanya idup yaah mesti ada permasalahannya lah yaa. Berarti bisa dipastikan (λ) itu akan selalu bernilai cukup besar. Naaaah, biar energi yang kita punya besar, makaaa....yang mesti di naikkan nilainya itu adalah nilai f nya. Makaaa, sebesar dan sedahsyat apapun (λ) yang kita hadapi, jika kita punya f yang lebih besar, tentu sajaaa nilai E tetap akan besar. Gituuu looooh.
Sebaliknya, jika f yang kita punya kecil, meskipun (λ) itu kecil, maka E yang kita punya tetap kecil jugah kaan, karena ia berbanding lurus. Intinyaaa, yaaah...di nilai f dung??
Yah,.. apapun itu, ternyata rumusan2 fisika kehidupan ini, singkron dgn
realitas di kehidupan kita. Rumusan fisika2 itu seolah2 adalah penyederhanaan
konsep hidup yg kita alami sehari.
Sungguh, masih banyak lagi rumus2 lainnya yang analog dgn kehidupan kita
ini. So, mari kita2 sama2 belajar. Mempelajari Ayat-Nya, baik yg qauliyah,
maupun Qauniyah, yaitu lewat alam ini.
Dari Abu Hurairah ra berkata,
Rasulullah saw bersabda : bahwasanya Allah ta’ala berfirman : “Barang
siapa yang memusuhi kekasih-Ku maka aku menyatakan perang kepadanya.
Sesuatu yang paling Kusukai dari apa yang dikerjakan oleh hamba-Ku
untuk mendekatkan diri kepada-Ku yaitu bila ia mengerjakan apa yang
telah Kuwajibkan kepadanya. Seseorang itu akan selalu mendekatkan diri
kepada-Ku dengan mengerjakan kesunahan-kesunahan sehingga Aku
mencintainya. Apabila Aku mencintai-Nya maka aku merupakan pendengaran
yang ia pergunakan untuk mendengarnya. Aku merupakan penglihatan yang
ia pergunakan untuk melihatnya, Aku merupakan tangan yang ia pergunakan
untuk menyerangnya dan Aku merupakan kaki yang ia pergunakan untuk
berjalan. Seandainya ia bermohon kepada-Ku pasti Aku akan
mengabulkannya dan seandainya ia berlindung diri kepada-Ku pasti Aku
akan melindunginya.
(HR. Bukhori)
Tulisan ini kutulis lebih kuraaaaang....tiga tahun lalu! waaooo..., udah lama jugah yak?? Ini cuma re-upload doang koq (Eiiihhh, dengan pengeditan seperlunya. Hehe). Tulisan2 semacam psikologi science ini ada banyak siiiih. Udah satu bundelan (banyakan ekstrapolasi rumusan fisika, beberapa teori kedokteran dan perubatan, gaya fisiko kimia dan materi sejenis terhadap kondisi hati dan kehidupan manusia. Humm...lebih kurang mirip sosio science gituuh deeh), Tapi, karena terdelet alias lepiku diinstall ulang tanpa memindahkan datanya
Gaya Kedinamisan Pada Diri Kita
Saudaraku,
barangkali kita sudah pernah mengenal rumus diatas. Mari sejenak kita telik
rumus ini :
Dari gambaran diatas
:
F : besarnya gaya untuk menarik
beban keatas
W : besarnya beban
m : masa beban
g : kecepatan gravitasi
f’ : gaya gesek terhadap bidang
Θ : sudut kemiringan bidang
Dalam kondisi
dinamis, dalam artian terjadinya perpindahan beban pada bidang dengan panjang
tertentu dapat terjadi jika F lebih besar dari f’ dan Wy. Jika besarnya F
adalah sama dengan besar gaya gesek dan Wy, maka benda itu akan berada pada
titik statik, artinya tidak terjadi gerak sama sekali. Sebaliknya, jika F lebih
kecil dari f’ dan Wy, maka benda itu malah terjatuh dan tidak dapat melewati
bidang dengan panjang tertentu.
Saudaraku, demikian
pula dalam hidup kita ini. Rumus itupun dapat diekstrapolasi terhadap kehidupan
kita sehari-hari. Dari rumus fisika
tersebut, F adalah besarnya gaya yang kita punya untuk melewati rintangan
hidup, tantangan hidup, tanjakan, bidang mring dengan panjang tertentu yang
harus didaki (dijalani). Sedangkan f’ adalah adanya nafsu-nafsu, potensi fujur
yang mengarahkan/menarik kearah penurunan, dan Wy adalah besarnya beban hidup
yang kita tanggung, baik itu berupa beban, tanggungjawab, amanah, dsb. Wy
adalah W.cos Θ. Θ (theta) ini merupakan besarnya sudut kemiringan tantangan
yang akan kita hadapi.
Untuk dapat melewati
bidang miring (tantangan kehidupan itu), kita mesti punya gaya yang lebih
besar dari pada gesekan (rongrongan
nafsu lawwamah) dan beban-beban dan tanggungjawab kita, hingga kita mampu
mengarungi kedinamisan hidup. Coba kita bayangkan, bagaimana jika tak cukup
energi (gaya[F]) yang kita punya untuk melewati beban miring itu? Bagaimana
jika gaya gesek (nafsu keburukan dan potensi fujur) itu lebih besar? Tentulah
kita takkan dapat melewati bidang miring dengan panjang tertentu (besarnya
tantangan hidup). Yang teradi, justru beban yang kita angkut melintasi bidang
miring akan jatuh melorot, menuruni bidang miring. Itu artinya, kita menjadi
orang yang kalah, orang yang putus asa dalam hidup ini. Bukankah begitu banyak
orang-orang yang ending kehidupannya
berakhir tragis pada tiang gantungan, pada bilahan pisau mengkilap, atau pada
segelas racun serangga? Yah, mereka adalah orang-orang yang kalah dalam
kedinamisan hidup ini. Mereka adala para pecundang!! Saudaraku, beban, amanah,
dan tanggungjawab (Wy) adalah hal yang niscaya dalam hidup ini. Bukankah W itu adalah m.g? m adalah massa diri
kita, dan g adalah gaya grafitasi
yang sudah menjadi sunnatullahnya. Lalu, apakah kita akan menafika semua itu?
Bukankah Allah tidak akan memberikan massa
yang berat jika kita tak sanggup memikulnya?
Saudaraku, betapa
banyak disekeliling kita orang-orang yang merasa betapa Wy yang dibebankan
kepada mereka terlalu besar. Yah, beban hidup yang lebih sering menciptakan
satu paradigma buruk dalam pikirannya, bahkan tak jarang lontaran sangka buruk
kepada Allah! Betapa banyak orang-orang yang berputus asa dan merasa tak
berarti apa-apa diatas permukaan bumi yang kaya ini. Bukankah Rabb telah
membebankan suatu beban (Wy) itu dengan porsi yang sangat proporsional terhadap
hamba-Nya? ” Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupanya....” (Qs. Al Baqarah [2] : 286.
Lalu, mengapa kita
membuat gaya gesek itu diperbesar? f’ itu
sesungguhnya hanyalah sebuah gaya gesek yang pengaruhnya dapat ditekan sekecil
mungkin. Bukankah potensi fujur itu juga merupakan hal yang niscaya? Lalu,
kenapa begitu banyak orang yang terjebak, dan bersedia menjadi hamba bagi
nafsunya yang senantiasa mengajak kepada keburukkan? Jika demikian, maka
sungguh kedinamisan hidup (F yang seharusnya lebih besar) justru terdepak dan
menyebabkan benda yang diangkut itu berguling jatuh.
”Dan adapun orang-orang yang takut kepada
kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs. An Naazi’at [79] : 40-41)
Sungguh, orang-orang
yang sanggup menahan hawa nafsunya dan takut pada kebesaran Tuhannya, yaitu
orang-orang yang berhasil mengabaikan f’ (gaya gesek) yang memperlambat
langkahnya dalam melewati bidang miring itu, maka baginya kemenangan hakiki,
yaitu ditempatkan-Nya di jannah-Nya. Bukankah itu sebuah ending yang menggiurkan?
Saudaraku, sungguh
kita punya Allah, Yang Maha Perkasa, Yang menjadi sumber dari segala kekuatan.
Bukankah bagi Allah semua perkara adalah mudah? F yang besar, gaya yang
terbesar adalah gaya ketika kita menjadikan kedekatan dengan-Nya sebagai gaya
utama, sebagai sumber kekuatan yang paling utama. Jika Rabb telah menjadi
kekuatan, dan sumber kekuatan, apakah beban dan gesekan kecil itu masih dapat
memberikan pengaruh yang signifikan? Tidak! Seberat apapun beban, dan
sebesar apapun gaya gesekan, ketika F
yang kita punya lebih besar tentulah tantang hidup, sebesar apapun sudut
kemiringannya akan dapat kita tempuh.
Permasalahan hidup
adalah hal yang pasti akan terjadi. Jika tak dihadapkan pada masalah,
bukanlah hidup namanya. Akan tetapi,
penyikapan terhadap hidup itu sendiri yang sering salah. Begitu banyak orang
yang tergiur dengan jalan pintas yang sama sekali bukan solusi. Kemanakah akal
sehat kita? Lalu, dimana pula posisi iman didada kita? Bukankah kekuatan itu
justru terletak pada besarnya F yang kita punya? Dan sumber F itu sendiri
adalah Rabb yang Maha Perkasa. Barangkali, hal ini yang sering luput dari hati
kita.
Saudaraku, sungguh
rumusan itu adalah salah satu bentuk penyederhanaan konsep hidup. Yah, sebuah
penyederhanaan konsep hidup yang terkadang luput dari perhatian kita. Sedangkan
alam saja mampu berlaku dan mengikuti sunnatullah untuk mampu melewat bidang batas tersebut. Lalu, kenapa banyak
diantara manusia sendiri yang berakal, tapi justru lebih banyak terguling dan
tersurut mundur dikala melewati bidang yang analog dengan tantangan kehidupan
itu? Semu berpulang kepada diri kita sendiri. Wallahu’alam bishawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)













