Sepenggal Nelangsa

Titik saturasi!

Yah, jenuh. Aku benar-benar mencapai titik jenuh. Jenuh atas semua ini. Tolong jelaskan padaku, apa yang harus aku lakukan. Ini sama saja dengan menyuruhku melarutkan segelas gula dalam segelas air. Sampai dunia kiamat pun takkan pernah larut. Lalu, akan kunamakan apa lagi semua ini?

Aku jenuh atas ketidakbiasaan ini. Aku jenuh menjadi makhluk asing di rumahku sendiri. Aku jenuh dengan atmosfir kehidupan yang sama sekali tak lagi sama. Aku kehilangan semuanya. Aku kehilangan Kak Faiz, juga Rhian. Tak ada lagi Kak Faiz dan Rhian yang dulu.

”Maaa..., Ian mau mandiii. Mandiin yaaa...” Satu wajah cute dan innocent muncul di balik daun pintu kayu jati. Teriakan kecil itu semakin membuat saturasi yang mengendap di otakku jadi mengkristal. Membatu. Beku.

”Mandi sendiri sana!” Usirku galak.

”Ih...Mamaaa...” Bocah tiga tahun itu mengkerut. ”Mama jahat!” Teriaknya, lalu berlari meninggalkanku. Di kondisi seperti ini, kedar emosiku memang sangat meningkat tajam.

Tiba-tiba aku tersadar atas kesalahan fatalku. Ya ampun, bahkan Rhian turut menjadi korban. Padahal, aku baru saja sedang berusaha membangun hubungan baik dengan pangeran kecilku itu. Mencoba terbiasa dengan perubahan. Mencoba berdamai dengan keadaan. Lantas, apa yang barusan kulakukan? Oh my God! Segera kususul langkah kecilnya yang berlari meninggalkanku.

”Iaan..., di mana kamu sayang? Iaan....” Kupanggil namanya. Tak ada sahutan.

”Iaaaa...n.” Panggilku lagi.

Tiba-tiba,

”Mbak Ina! Ayo, kita maen pelang-pelangan.” Terdengar teriakan cadel dari arah kamar mandi. Lalu terdengar guyuran-guyuran air. Suara itu makin ribut dan makin ribut, ditingkahi teriakan dan suara tawa.

Huh! Perempuan itu lagi! Dasar sumber petaka! Kehadirannya di rumah ini sudah cukup membuat aku terguncang! Dasar penghacur rumah tangga orang lain. Tak tahu diri! Sejak kedatangnnya suasana rumah ini menjadi sangat aneh. Membuatku seperti alien nyasar di bumi, padahal aku adalah ratu di rumah ini. Dia? Siapa dia!? Hanya seorang pembantu rumah tangga. Sekali lagi kubilang, PEMBANTU! Arghhh…! Ini benar-benar sangat menyebalkan.

”Grrhh....” Sosok mungil itu keluar dengan menggigil. Disusul kemudian dengan satu sosok lainnya yang menunduk takut-takut.

”Ngapain aja kamu sama Rhian di dalam?” Tanyaku ketus.

”Eng...anu Bu, mandiin Rhian.” wajahnya semakin dilipat.

”Kenapa sampai teriak-teriak gitu?”

”Mama kok malah cih?? Kan Cuma maen pelang-pelangan...” Rhian ikut membela. Bahkan anakku lebih berpihak padanya!

”Ian, sini mama pasangin baju. Kamu, cepet ke belakang sana!” Usirku sambil menarik lengan Rhian.

”Permisi,Bu.” gadis itu berlalu dengan takut-takut.

”Mama kok malah cama Mbak Ina? Kan Mbak Ina gak calah!” Protes pangeran kecilku itu.

”Rhian sayang, kamu tahu gak?” Aku mencoba melunak. Meredakan emosi yang sudah sampai di puncak ubun-ubun.

”Enggak!” Jawabnya polos.

”Maen guyur-guyuran itu gak baek.”

”Emangnya kenapa, Ma?”

”Nanti airnya masuk ke telinga. Telinga kamu bisa infeksi.”

”Incek..fi? incekfi tuh apaan, Ma?”

Ups, aku lupa kalau aku bukan tengah berbicara dengan relasi bisnis. Tapi, dengan anak usia tiga tahun yang kritis, sangat suka protes dan sangat suka bertanya. Sang pangeran kecilku yang cerdas.

”Infeksi, sayang.” Ralatku, membuat kening wajah tampan itu berkerut. ”Maksudnya, entar kalo’ masuk air, telinganya jadi bau, sakit, dan bernanah. Gak mau kan?” Aku selesai memasangkan piyama untuk pangeran kecilku.

”Gak mauu...” Rhian menggeleng ngeri. Kuulaskan sebingkai senyum untuk permataku yang tampan itu. Sungguh, seperti ada ribuan mil jarak yang memisahkan kami, hingga aku seperti tak mengenal sosok cerdas itu lagi. Dia bukan orang lain, tapi anakku! Sosok yang deminya kupertaruhkan nyawa. Tapi, sungguh, ada yang hilang!

”Eh, Mama...Ian maunya pake baju koko.”

”Kenapa baju koko sayang?” Tanyaku heran. Bahkan aku tak terbiasa dengan permintaannya ini.

”Kan mau ke mesjid. Ian udah janji cama Papa.” ke Mesjid? Sejak kapan kebiasaan ini berlaku? Mau tak mau, kuikuti jua permintaan pangeran kecilku itu.

Dengan gaya eksekutif muda, Rhian mematut dirinya di depan kaca. Lalu, mulai berkacak pinggang. Aku dibuatnya gemas. Dan, ini semua berhasil membuat kejenuhanku sedikit menguap, berganti ketidakmengertian. Ah, pangeran kecilku yang cerdas dan tampan!

”Ma, cuklon ya...” Katanya kemudian dengan wajah ceria.

”Cuklon? Apaan tuh sayang?” istilah apa lagi ini?

”Cuklon itu artinya makaciih.” terangnya seperti seorang guru kepada murid.”Ian pegi dulu Ma,...Calamu’alaikum.” Langkah-langkah kecilnya meninggalkanku. Aneh! Aku benar-benar dibuatnya heran. Aku seperti murid kelas satu SD yang sedang belajar kalkulus. Sunggu-sungguh tak mengerti.

Beberapa saat kemudian satu sosok juga berbaju koko memasuki kamar, tempat di mana aku terpaku saat ini. Kamar yang kukunjungi hanya ketika pulang dari kantor untuk menciumi si tampan Rhian dan menyelimutkannya, atau ketika pagi-pagi, sebelum berangkat kerja, ketika pangeran kecilku itu masih terlelap. Sosok itu mengulum senyum teduh.

”Mama, mau ikut tidak? Jarang-jarang loh, liat Mama pulang maghrib begini.” tawar sosok itu. Aku bengong. Asli.

”Eng...” otakku sedang sibuk mencerna, ada apa ini sebenarnya?

”Ayolah Mamaa, ikut yuu...k” Sosok yang berada di belakangnya ikut merajuk.

”Eng...emm..., Mama di rumah aja ya sayang?”

”Yaaah..., cayang cekaleee..”

”Ya udah. Yuk Ma, kami berangkat dulu. Eh jangan bengong terus donk, kayak sapi ompong tuh.” Sosok itu mencoba bercanda. Canda yang sesungguhnya kurindu. Sudah sangat lama sekali. Aku hanya mengangguk saja, sembari melempar senyum.

Ah, Kak Faiz. Benarkah perubahan itu adalah suatu keniscayaan? Bukankah ia adalah suatu yang nisbi? Kalaupun iya, apakah harus secepat ini? Sungguh, aku tak siap dengan kejutan-kejutan ini. Tak siap dengan jalan kita yang tak lagi linear! Seperti tak lagi bersisian.

”Gimana kalo’ Dek Lia gak usah kerja aja? Kan udah ada Rhian.” Tawarnya suatu hari, jauh sebelum aku menyadari perubahan ini. Aku terbelalak kaget mendengar permintaannya waktu itu.

”Apa? Kak Faiz pasti bercanda ya?”

”Ini serius Dek.”

”Masalahnya, sayang banget Kak. Karir Lia kan lagi menanjak? Kita sudah punya begitu banyak relasi bisnis. Perusahaan kita Cimanggis sudah buka cabang.”

”Lalu, kompensasinya kamu harus pergi pagi pulang malam, begitu?”

”Yahh...itu kan sudah konsekuensi, Kak. Lagian, Rhian itu anak yang cerdas. Dia punya daya tangkap yang tinggi. Tidak salah kalau dia masuk les dan sekolah. Itu baik untuk perkembangan otaknya.”

”Justru itu tidak baik untuk perkembangannya. Rhian tak hanya harus cerdas secara intelektual, tapi pribadinya, agamanya, emosinya, semuanya. Dia butuh figur seorang ibu. Lagian, penghasilan Kakak sudah jauh lebih dari cukup, Dek. Buat apa semua harta dunia itu?”

”Aduh, gimana ya Kak?! Dunia bisnis adalah impian Lia sejak dulu. Masak sih harus dilepas begitu saja? Masalah Rhian, gampanglah! Lia udah konsul dengan banyak psikolog mengenai masalah pendidikan anak. Lia juga sudah meng-hunting berbagai referensi di buku-buku parenting, majalah, dan di internet. Apa itu masih kurang?”

”Percuma saja referensi sehebat apapun kalau gak ada aplikasinya. Pagi-pagi kamu sudah pergi. Lalu pulangnya sudah malam. Kapan kamu punya waktu untuk Rhian?”

”Kan hari minggu Lia selalu full untuk Rhian.”

”Tak cukup hanya dengan satu hari saja, Dek. Pun hari minggu itu kamu masih sering kerja. Jarang sekali kamu punya waktu. Iya kan?” Aku tak menjawab. ”Dek, anak itu butuh teladan. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Akan jadi apa Rhian nantinya kalau Adek hampir-hampir tak punya waktu untuk dia?”

Perbincangan itu seperti mengambang begitu saja. Tak ada penyelesaian. Aku tetap dengan pendirianku. Pun juga beliau. Aku sesungguhnya heran dengan permintaan itu. Sangat berbeda sekali dengan Kak Faiz yang dulu kukenal pertama kali ketika sama-sama menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa di almamater kami. Kak Faiz yang seorang mentri di kabinet lembaga yang cukup bergengsi di tataran kampus dulunya, tentu akan sangat mengerti betapa loyalnya aku terhadap organisasi. Betapa aku hanya akan menjadi pesakitan jika harus berdiam diri di dalam rumah. Tapi sekarang??

Hingga, suatu hari, tak lebih berselang dua bulan setelah itu, lagi-lagi ada kejutan darinya. Tiba-tiba Kak Faiz yang dulunya sangat anti dengan pembantu karena telah dikecewakan beberapa kali dan mengumumkan tidak akan pernah lagi mengangkat pembatu, tiba-tiba ingin mengangkat seorang pembantu untuk Rhian. Meskipun Kak Faiz tak pernah membahasakannya pembantu. Tapi, tetap saja pembantu kan?

”Sarinah itu anaknya santun, Dek. Gak neko-neko. Dia tamat SMA dan pernah mondok dulunya. Masih keluarga jauh Kakak. Dan yang baru Kakak tau, ternyata dia saudara sepersusuan Kakak. Dahulu, ibu kakak sakit sehabis melahirkan Kakak. Masnya Sarinah yang seumuran dengan Kakak akhirnya harus berebut air susu ibunya karena beliau menawarkan air susunya untuk Kakak.” Kak Faiz mencoba berargumen waktu itu. ”Kalau Dek Lia memang belum bisa berhenti dari pekerjaan, akan lebih baik rasanya kalau kita meminta Sarinah untuk membantu kita menjaga Rhian. Apa kamu mau, Rhian dikasih obat tidur terus sama pembantu-pembantu kita dulunya itu, biar Rhian gak bawel? Atau, apa kamu masih bisa berlapang dada dengan pembantu yang pemalas yang kerjanya selalu nonton gosip? Atau kamu mau, Rhian dititipkan terus diberbagai tempat yang katanya les dan sekolah diusianya yang masih tiga tahun?”

“Apa?! ini tidak adil, Kak! Pokoknya Lia tidak setuju!”

”Kamu tetap harus setuju!”

”Lia tidak mau! Bukankah sekolah, les, dan semacamnya itu sudah cukup untuk menjaga Rhian?”

”Setuju tak setuju, saya akan tetap meminta Sarinah.”

”Kakak egois!”

”Kamu yang egois!”

Hal yang aku takutkan itu terjadi. Petaka itu datang ketika perempuan kampungan dengan pakaian aneh itu hadir di rumah kami. Perempuan berikut dengan pakaian serba longgar dan jilbab yang panjang. Bagaimana mungkin aku bisa menerima ini semua? Sedang untuk menerima keputusan Kak Faiz secepat ini aku sesungguhnya tak siap, apalagi perempuan itu adalah perempuan yang sangat tak biasa. Bukankah aku paling anti dengan perempuan macam begituan? Aku tidak bisa menerima begitu saja kehadiran seorang perempuan yang selama ini teman-teman sejawatnya habis kucaci-maki. Kolot. Kampungan. Gak bisa berdandan atau sedikit lebih modis. Dan mungkin saja pengikut aliran sesat. Jangan-jangan dia ingin meracuni fikiran Rhian, lagi!

Tapi, bagaimana pula aku hendak menentang keputusan Kak Faiz? Aku sudah terlalu mengerti dengan karakternya yang keras kepala. Hitam baginya hitam dan putih baginya putih. Jika dia sudah bilang putih, siapa yang sanggup merubahnya jadi hitam? Lagian, aku tak ingin terus-terusan bertengkar dan adu argumen dengannya.

Oh, adakah yang lebih menyiksa dari ini semua? Adakah yang lebih menjemukan dari ini semua? Tolong, tolong beri tahu aku.

”’Amma ya tacaaa aluun. ’aninnabail ’ajiim. Allajiii hum fii hii muktalipuun. Kalla caya’lamuuu..n. ” Suara cadel Rhian membuyarkan lamunanku. Aku tersentak. Membaca apa pangeran kecilku itu? Serta merta aku keluar dari peraduanku. Yah, lagi-lagi kamar! Tempat persembunyian paling ampuh.

”Membaca apa sayang?” Tanyaku? Oo...oww, rupanya permataku sedang belajar Al-qur’an. Ya ampuu..n, apakah ini kebiasaan baru juga?? Bahkan aku tidak tahu bahwasannya yang tengah dibaca Rhian itu adalah bagian dari ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an kalau saja tidak melihat langsung dia memegang kitab itu.

”Mama udah colat?” Rhian mengalihkan perhatian dari hafalan Al-Qur’annya. Aku tersentak! Bahkan Rhian mengingatkan aku untuk sholat. Sementara sosok berpakaian koko putih yang tengah bersama Rhian itu seperti membiarkan saja aku terkejut dengan bingkai senyumnya yang terkulum.

”Eh..., astaga...belum.” Dari tadi aku terlalu asyik melamun hingga tak menyadari putraku itu sudah kembali dari mesjid. Dan sholat? Boro-boro! Ah, sungguh betapa sering dengan entengnya aku meninggalkannya, dengan tanpa rasa berdosa. Bagiku, ibadah toh hanyalah di mesjid saja. Kehidupan dunia dan ibadah itu kan berbeda. Kalau memang sama dan sejalan, gak mungkin kan di kitab suci tertulis kata dunia dan akhirat yang terpisah?

”Mama, enggak boleh bilang astaga. Kan enggak ada altinya. Kata Mbak Ina, bilangnya astakfilullah...”

”Astaghfirullah sayang. Bukan astakfilullah...” Ralat sosok yang dari tadi hanya menyaksikan aku digurui oleh anak umur tiga tahun.

”Iya.... gitu dee. Mama cepet colat yaa. Ental, dengelin Ian ngaji ya Ma. Mama kan pulangnya malam telus. Enggak pelnah liyat Ian ngaji. Iya kan Ma?”

Dug! Kalau bukan anakku, tentulah aku sudah mencubitnya. Seorang Yulia, top maneger diberbagai perusahaan berkelas, yang kiprahnya sudah skala nasional, lulusan terbaik fakultas ekonomi universitas nomor satu di Indonesia dengan predikat cumlaude, tiba-tiba diajari anak kecil.

Persaanku benar-benar tak menentu. Sungguh aku tak dapat mendefinisikan entah bernama rasa apa yang kini bersemayam di bilik dadaku. Malu. Kesal. Heran. Marah. Ah, entah apa lagi. Semuanya seperti menjadi satu membentuk godam yang siap menghantam kepalaku kapan saja. Aku seperti makhluk paling goblok sedunia. Di mana letak harga diriku? Menguap. Menyublim.

”Dek, subhanallah. Lihat! Rhian sudah nyaris hafal surat-surat di juz 30. An-Naba’, An-Nazi’at, ’Abasa,...semuanya.” Kak Faiz berkata dengan wajah sumringah ketika kupaksa menyeret langkah ke ruang tengah itu setelah menunaikan perintah pengeran kecilku yang benar-benar asing dimataku. Setidaknya saat ini. ”Tau gak, Dek? Gimana Rhian bisa hafal?” Masih dengan semangat yang sama Kak Faiz bercerita. Aku hanya menggeleng kecut.

”Sarinah itu ternyata sudah hafal sepuluh Juz waktu dia mondok dulunya. Sambil membereskan rumah, dia menghidupkan kaset murattal juz 30. Dan itu terus berulang-ulang. Eh, gak taunya ternyata memori Rhian merekam semua itu. Sama seperti ketika pembantu kita yang dulu ngidupin kaset dangdut. Ingat gak, Rhian juga sampai hafal lagu dangdut karena keseringan dengar kaset dangdut. Kakak bahkan sampai takjub lho, Dek. Dan, satu hal lagi, Rhian juga hafal begitu banyak do’a-do’a. Yang Adek bilang emang benar. Rhian memang anak yang cerdas. Semua berkat Sarinah yang telah ngajarin Rhian. Ah, beruntung yaa... kita meminta Sarinah sebagai pengasuh Rhian. Coba aja kalau yang ngajarin Rhian banyak hal kayak gitu adalah Dek Lia, pasti akan lebih baik lagi.”

Blarrr!!!

Seperti dismbar petir. Kata-kata Kak Faiz seperti listrik voltase tinggi yang siap menyentakkanku dengan sengatannya. Aku seperti tersentuh pagar kawat yang mengandung muatan listrik itu. Sakit. Perih. Dan, sudah terakumulasi.

”Kenapa sih Kak, Sarinah melulu? Dari kemaren-kemaren Kakak selalu saja membanding-bandingkan Sarinah dengan aku! Aku terlalu jelek di mata Kakak!” Aku meledak. Sesungguhnya aku tak dapat lagi menyusun huruf agar menemukan padanan kata yang tepat untuk mewakili nama rasa yang berkecamuk dihariku. Air mata. Marah. Kecewa. Kesal.

”Lho, kenapa Dek Lia marah? Seharusnya bangga dong!”

”Kak Faiz tidak mengerti!” cetusku. Segera kutinggalkan sosok yang terbengong-bengong itu. Tak kuhiraukan lagi wajah tak enak dan rasa bersalah perempuan brengsek yang tengah mengajari Rhian hafalan ayat sholat itu. Semuanya sungguh menyebalkan!

***

Di kamar, aku tergugu. Kutumpahruahkan semuanya. Sudah cukup rasanya aku bertahan dengan rasa aneh tak bernama ini, dengan perubahan drastis yang terjadi di rumah ini setelah kedatangan perempuan itu. Tentang perubahan Kak Faiz yang semakin membuatku tak mengenal sosoknya, dengan sikap kritis Rhian yang sering memojokkanku, dengan semuanya! Benar-benar mencapai titik saturasi.

”Maa, kok enggak pake jib..lab kayak Mbak Ina?? Jiblab itu kan bagus, Ma.” perkataan Rhian beberapa hari yang lalu, ketika aku mengantarkannya tidur, seperti hadir begitu saja tanpa kucegah. Bahkan, bibirku kelu untuk menjawab pertanyaannya itu. Jilbab seperti Sarinah, perempuan kolot itu? Oh no!

”Maa, tidul yuk. Tapi, kata Mbak Ina, halus baca do’a dulu. Bacain dong Maa..” Ini ujarnya di lain kesempatan. Otakku seperti diperas untuk mengingat do’a ketika hendak tidur. Walhasil, tetap saja aku tak berhasil me-recall memori do’a akan tidur itu. Sebab, sudah lama sekali aku tak membacanya. Sudah sangat lama.

”Maa do’anya gini loh, pertama baca kul huwallahu ahad dulu. Abis tu, kul’audzubilabbil falaq tiga kali. Telus, kul ’audzublabbinnas tiga kali. Baru baca do’anya. Gitu Ma.... yuk mama, kita baca cama-cama.”

Aku merasa menjadi orang paling tolol sedunia dihadapan Rhian. Bahkan, semua orang boleh mengklaim aku idiot. Bodoh. Dungu. Entahlah. Aku capek . Sungguh. Capek aku mengarikan dan mecoba berdamai dengan semua ini. Mungkin esok. Atau lusa.





Syakuro, Jumadil Awwal 1429 H

“special for my Madrasatul ‘ula”
Read More

Gempa!!! Gempa!!! Gempa!!! Innalillah…

Sungguh, tak dapat kudefinisikan, warna rasa apa yang berkecamuk di hatiku saat ini. Antara sedih, cemas, trauma, iba, prihatin. Semuanya menyatu dalam sebuah rasa yang tak bernama. Sungguh, tak kusangka, akan seperti ini pada akhirnya.

Sore yang naas. Saat itu, kami tengah duduk di ruang bersama-sama sambil mengupas wortel dan memotong bunga kol. Sebagian ada yang membersihkan toge. Rencananya kami akan memasak soup buat makan malam dan salah satu di antara kami berniat membuat bakwan. Dan yang lain sedang khusyu’ dengan diktat bahasa jepangnya. Maklum, baru hari-hari pertama kuliah. Jadi, belum terlalu padat. Makanya semua pada ngumpul di wisma, kcuali yang kebetulan sedang silaturrahim ke wisma lain.

Aku masih sangat ingat, jam 17.17 aku melirik jam di HP, sebelum kemudian mengambil pisau, untuk memotong2 wortel. Hanya sejenak saja setelahnya, guncangan hebat itu berasa. Panik! Aku segera mengambil mukenah yang tergeletak di kasur (jilbab entah dimana, ga ketemu). Detik2 pertama gempa aku masih saja berdiri di depan pintu. Lalu, ketika goncangan itu semakin kuat, kami memutuskan untuk keluar lewat pintu blakang (yg artinya harus menuruni tangga yg hampir roboh). Kami lupa, ada pintu depan yang bisa dilewati tanpa harus menuruni tangga. Untung sebagian kami masih ‘berpakaian lengkap’ (masih pake kaos kaki & jilbab). Sebagian lain yg kasihan, karena udah ganti baju dengan baju rumahan.

Laa haula wa laa quwwata illa billah…
Sungguh, seumur hidupku, untuk pertama kalinya merasakan goncangan yang dahsyat seperti itu. Cukup lama. (mungkin gak nyampe 1 menit, tapi, waktu berjalan seperti sangat perlahan sekali…, rasanya sangaaaaat lama). Aku melihat batu2 yang ukurannya sangat besar saja berguling saking kuatnya.

Setelah goncangan reda, kami kembali masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah, bangunannya cukup kuat, jadi tidak rusak parah seperti rumah-rumah lainnya. Buku-buku berserakan, lemari bergeser. Alhamdulillah, api kompor sebelumnya sudah dikecilkan. Listrik langsung padam dan singnal HP langsung hilang. Panik!

Huff…
Gemetaran….
Naas…

Dan, innalillah…tak disangka ternyata kota Padang begitu parah. Begitu luluh lantaknya. Sebagian besar memang yang parahnya, tidak semua. Kampus, sekolah, rumah ibadah. Rumah-rumah, pertokoan, hotel, showroom mobil. Tapi, kemudian, aku baru menyadari, ternyata, PEMBERITAAN MEDIA, MEMBUAT BEGITU BANYAK ORANG PANIK. (sebagian, malah membahasakan “pemberitaan TV itu lebay banget!”), Ini terlepas dari jasa dan peran media yang begitu besar dalam menyebarkan informasi mengenai bencana ini sehingga bantuan dari berbagai pihak pun dapat tersalurkan. Untuk ini, kita mungkin perlu berterima kasih pada media.
Tapi di sisi lain, ada pula dampaknya.
Masalahnya begini, ketika Jaringan komunikasi terputus, signal ponsel tidak ada, para orang tua dan kerabat yang anak atau familinya kebetulan sekolah/kuliah/berdomisili di Padang menjadi sangat cemas dan panik. Karena, pemberitaan di media, mengatakan Padang begitu luluh lantak. Pas dihubungi, gak aktif-aktif. Tentu saja para orang tua/kerabat akan khawatir sangat. “Siapa yg menjamin coba, dari ratusan korban itu, salah satunya anak mereka?”.

Di Pasar Baru, di Kampus2, dipenuhi oleh orang tua yang mencari anaknya. Gak hanya di seantero Sumatera Barat (pasaman, payakumbuh, sosok, padang panjang, bukitinggi,sijunjung) yang berdatangan. Tapi, para orang tua yang berasal dari Sumatera Utara, Jambi, dan Riau juga pada ke Padang, mencari anak-anak mereka. Banyak yang kehilangan.

Kejadian-kejadian yang terjadi sungguh luar biasa. Kepanikan-kepanikan memang membuat NOL inteligensi. Inteligensi mendadak ilang sehingga tidak dapat berpikir normal. Kejadian di SPR (sentral pasar raya) contohnya. Kepanikan membuat orang-orang hanya menuju satu pintu keluar saja, padahal ada beberapa pintu keluar lainnya. Sementara, balok-balok dan beton berjatuhan. Dan, karena paniknya, salah seorang tanpa pikir panjang (baca: inteligensi NOL), malah memilih untuk melompat dari lantai 2 hingga kemudian (innalillah) tewas nyampe di bawah.

Kejadian naas lainnya. Salah satu penjual tepung di Pasar Raya, yang panik dan berlarian ke luar. Ketika berlari, salah satu balok menimpa pinggang beliau. Beliau berteriak minta tolong. Tapi, apatah daya. Orang-orang tentu tidak terpikirkan lagi akan menolong orang lain karena panik, dan hanya ingin menyelamatkan diri sendiri saja. Diri sendiri bisa selamat saja sudah Alhamdulillah banget. Dan setelah itu, api langsung membesar. Tinggallah sang Ibu naas bersama api. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Dan yang pasti, bukan ibu itu saja yang terperangkap di sana. Masih banyak yang lain yg waktu aku sempat ke Pasar Raya setelah kejadian belum dievakuasi karena keterbatasan alat dan tenaga. Bahkan, hari kedua setelah kejadian, api masih menyala di sana.

Ada lagi kisah lain , tetangga wisma kami, mahasiswi FArmasi Prayoga yang tengah pratikum di lantai 3 waktu kejadian itu. Sementara lantai 4 nya saja sudah nyaris lenyap, apalagi lantai 3,2, dan 1. Sudah dua hari dua malam keluarganya menunggu proses evakuasi, tapi, sang putri belum ketemu. Ada juga yang satu kosnya kebetulan sore itu pergi jalan-jalan ke plaza Andalas. Dan, sampai saat ini, juga belum balik-balik. Ibu-ibu yang anaknya sedang bimbel di GAMA (tempat bimbelku waktu sebelum SPMB 2005 dulu) yang anaknya belum ketemu. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Buku-buku dan kertas berkop Bimbingan belajar GAMA berserakan di tumpukan beton, dan besi-besi, kursi-kursi yang reyot. Baju-baju anak-anak.

Belum lagi, desa yang tertimbuhan dan puluhan jiwa yang masih belum bisa diselamatkan yang masih tertimbun dalam reruntuhan gedung. Sedih. Pilu. Duka.

Masih banyak lagi kisah pilu lainnya yang takkan mungkin terangkum dalam tulisan ini. Aku hanya ingin sedikit berbagi kesedihan dengan semua orang. Itu saja. Karena, Terkadang, spirit moral dan semangat itu jauh lebih penting. =)

Hari-hari pasca gempa, Padang serasa “terisolir”. Listrik padam. Kalau mau mengecas ponsel atau lampu emergency, harus antre panjang di mesjid2. Sinyal HP gak ada(kecuali fleksi dan 3). Udah gitu, kartu perdana 3 dan fleksi, benar-benar habis di counter2. Wartel tutup semua. Air bersih sulit didapatkan. (beruntung ada sumur ibu tetangga yg dengan rela hati membolehkan kami menggunakan airnya). Nah, yang lain gimana? Para ibu-ibu banyak yang mencuci di sungai (kayak jaman2 dulu). Berita TV gak ada. Kalau mau nonton, yaa silahkan ke mesjid atau ke simpang2 yg kebetulan memutar siaran TV di sana. Harga kebutuhan pokok benar-benar melambung karena langka dan hanya sedikit yg bisa buka. Sebagian besar banyak yg rusak. Harga BBM melambung, hingga 15-20rb/liter. Jalan tidak aksesibel dan macet. Tidak tau deeh, apakah semua infrastuktur yang ada di kota ini bisa baik dalam waktu cepat. Sepertinya akan lama pulihnya. Angkutan umum ke berbagai daerah jadi rebutan. Bahkan, lebih rame dari arus mudik. Aku, ketika hendak pulkam, dua hari pasca gempa, harus berebutan dengan penumpang lain. Udah gitu, ongkosnya naik!!

Kampusku juga rusak berat. Labor-labor bahkan sudah bocor dari lantai tiga ke lantai satu. Alat-alat labor yang mahal pada rusak dan berjatuhan (duuh.., padahal untuk membelinya kan susah. Mahal2 smua). Gedung-gedung semakin menganga lebar. Sepertinya beresiko sekali jika digunakan saat ini. Jurusanku, di depannya ambruk. Yang paling kasihan adalah teman-teman yang sedang penelitian. Lebih kasihan lagi kalau udah hampir finishing, ternyata rusak semua gara-gara gempa. Kan terpaksa ngulang dari awal lagi. Salah satu temanku bilang, “huhu…., gak jadi wisuda desember…”. Mushalla ukhuwwah tercinta juga rusak, tempat wudhu’nya tidak bisa dipakai lagi. Roboh.

Aktivitas kuliah ga bisa jalan. Bahkan, di radio, Pak Wali Kota bilang “aktivias pendidikan ditiadakan 1 bulan”. Tapi, kalau mahasiswa unand, kata ayah rektor, mulainya insya Allah tanggal 12-oktober-09.

Fiuff…Musibah, sesalu saja meninggalkan duka. Sebagai ujian, peringatan, dan bahkan azab Allah. Perlu instrospeksi diri dan mengingat-ingat, apa-apa saja yang telah diperbuat.

“ Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Al Baqarah :155-157)




homeSWEEThome, Syawal 1430 H
Read More

Beberapa kesalahan dalam mendidik anak

Aha..haa.., kayak yg udah pengalaman ajah nih yeee. Ehm..ehm.., enggak lah! Belum pengalaman koq.
Jadi begini loh, critanya. Suatu hari, di subuh yang sahdu (cieee, koq jadi puitis begini yah??), di sebuah mesjid yang tak begitu megah, ada kuliah subuh. Semacam kultum begitu. Nah, tema yang diangkatkan kali ini bagiku saaaangaaaaaaat menarik, karena memang kenyataan yang sering dijumpai di lapangan. Tentang apa hayyo?? Yap! Tepat sekali, KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK! Secara, diriku suka sekali mengamati anak-anak, tentulah tema ni menjadi snagat menarik bagiku.

Karena menarik itulah, akhirnya aku juga tertarik untuk menuliskannya di sini.
Beberapa kesalahan dalam mendidik anak.
1. Orang tua sering menuntut anak untuk melakukan suatu perintah tanpa menjelaskan alasannya.
Misalnya : cepat pakai bajumu! Jangan ganggu adikmu! Bikin PR kamu itu segera! Ganti bajumu! Bagun! Cepat mandi! Cepat tidur! Jangan main di sana! Dan sederet kalimat perintah lainnya! Hal yang seharusnya dilakukan adalah memberikan pemahaman dan alasan mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Apa sebabnya, apa akibatnya.
Kenapa? Karena anak kecil, umumnya memiliki pengalaman yang terbatas. Mereka ga bisa mikir kalo larangan dan perintah yg kita berikan itu sebenarnya buat kebaikan si anak juga. Makanya, kita mestilah kasi pemahaman ke dia. Gimana sih baiknya. Gituuuh…

2. Kaku dalam menetapkan aturan bagi anak. Seorang anak yg dibesarkan di ranah otoriter yang kaku akan merasa putus asa, apalagi di saat orang tua gak pernah peduli dengan usaha terbaik yang ditunjukkannya pada orang tua. Ia jadi ngerasa berada dibawah tekanan, sehingga mempengaruhi masa depannya.

3. Tidak menyikapi kesalahan anak dengan penuh kesabaran
Hal yg penting yg harus dipahami oleh seorang pendidik adalah pengendalian emosi dan kesabaran, karena standar nilai dalam dunia anak jauh berbeda dengan dunia dewasa. So, ortu mesti membimbing anak-anak tuk bisa mendekati standar nilai yg baik. Trus, yg namanya dunia anak-anaka yaa dunia dengan penuh kesalahan karena mereka sedang mengeksplorasi semua yang ada di sekeliling mereka. Mereka blum bisa ngebedain mana yg benar dan mana yg salah, makanya arahan ortu ntu perlu banget.
Apa contoh?
Missal begini, “Baduuuuuuuuuu, jangan main laptop, nanti kamu merusaknya!!!”(uwiiih, hi tech banget nih yaa? Hehehe) si Badu langung ngelakuin pembelaan diri, “Gak kok mama, Badu ga bakal ngerusakin laptopnya koq!” mamanya langsung nyolot, “Mana pulak gak rusak. Kemaren aja kamu menghilangkan program ini, program tub bla..bla… lihat saja, sebentar lagi, kamu pasti ngerusakin tuh laptop!!” si Badu jadi bête, “ih, mama ni, aku bisa koq!!”. Gak lama berselang, ternyata tu lapotop emang rusak, si mama langsung bilang, “Tuuuuuuuh kaaaaaaaan!! Apa mama bilang! Jadi rusak tuh!!!!!”
Dalam contoh di atas, meski sebenarnya si ibu gak maksud apa-apa kecuali memperingatkan anaknya, tapi tetep aja sang ibu sesungguhnya belum bisa mngendalikan emosinya. Apa bukti? Di sana ada kalimat yg seolah-olah meremehkan sang anak,” Mana pulak gak rusak. Kemaren aja kamu menghilangkan program ini, program tub bla..bla… lihat saja, sebentar lagi, kamu pasti ngerusakin tuh laptop!!”, kalimat ini secara tak langsung meremehkan kemampuan anaknya. Ucapan tsb belum mampu mendorong anak utk berprilaku benar. Sikap matang dalam menanggapi, merespon kesalahan anak dengan kesabaran, dan emosi yg terkendali mampu membentuk kepribadian anak biar lebih baik.

4. Ga’ berusaha utk memahami, atas motivasi apa siih, anaknya ngelakuin kesealahan.
Yg pasti setiap anak gak terlahir dalam kedaan paham akan segala sesuatu. Ada banyak alas an sebenranya. Bisa jadi karena ia penasaran dan pnya rasa ingin tahu yg tinggi ataupun karena pengen dapet perhatian, jadi, dy neglakuin kesalahan. Atau bisa jadi, --na’udzubillah— TIDAK adanya kecendrungan dari ortu untuk menerima kekurangan dan kelebihan anak apa adanya. Anak yang dituntut sellau sempurna sehingga yang ada hanyalah kritikan-kritkan saja terhadap anak.

Bisa jadi juga ortu ga bisa memenuhi kebutuhan psikis sang anak. Bak itu kebutuhan fisik, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kaih saying, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan aktualisasi diri.(yeee, ini kan piramida tingkat kebuthan menurut maslow. Pada tahu kan??)

5. Kesalahan yg juga sering dilakuin adalah, ortu seing kali obral janji. “Nak, kalau kamu dapet juara satu, mama belikan sepeda yah.” Eh, gak taunya, pas sang anak udah dapet juara, hadiahnya kagak datang2. Jadinya apa? Anak kagak percaya lagi sama ortu. Ini akan jadi pengalaman buruk baginya nanti.

6. Ngasi hukuman justru waktu anak neglakuin kebaikan.
Lha, apa maksud? Hmm…begini, missal lagi nih, si Badu bangun tidur, dan terselip niat di hatinya, “ahhh.., hari ini mau bantu mama ah. Mau beresin kamar tidur sendiri.” (biasanya diberesin sama mama). Trus, pas udah selese, si Badu ngelapor, “Mama..mama…, tengok, Badu udah beresin tempat tidur looooh.”
Bukannya menghargai, sang mama malah bilang, “Kamu ini!!! Seharusnya bangun tidur itu gosok gigi dulu, cuci muka dulu!!! Bla..blaa…”
Ini secara tak langsung “membunuh karakter” anak. Apa salahnya sih, diapresiasi dulu???

7. Ga’ ngasi hukuman waktu anak berbuat salah. Nah, sebaliknya, waktu anak salah, mbo ya dikasi hukuman lah yaaa. Kalo’ gak, mana mungkin dia bisa sadar dengan kesalahannya. Asalkan caranya wajar dan mendidik! Yaaah,, seperti yg udah dibilang juga di poin 3.
Inagt-ingatlah, HATI-HATI DENGAN HUKUMAN FISIK PADA ANAK!!
Jadikan hukuman fisik sebagai hukuman terakhir. Hukuman fisik jgn dilakukan ketika ortu dalam keadaan marah. Berikan fase hukumannya , dari yg paling ringan hingga berat. Tidak memukul wajah dan kepala. Jangan memukul anak hingga umurnya 10 tahun. Bila itu kesalahan pertama anak, hendaknya ia diberikan kesempatan untuk sekedar mengakui dan meminta maaf atas kealahannya. Pemberian hukuman jangan diwakilkan kepada saudaranya, karena akan menimbulkan kebencian anak kepada kakaknya/saudaranya. Trus, berlaku adil dalam memberikan hukuman.

HAL YANG HARUS DIHINDARI DALAM HAL MENGHUKUM ANAK ADALAH : menghukum satu anak yg melakukan kesalahan dan membiarkan yg lainnya. Minimpakan hukuman pada anak yg tidak bersalah. Menghukum kesalahan yang dilakukan anak dengan tidak sengaja. Menghukum anak yang melakukan kesalahan yang mana kesalahan itu sudah menyebabkan anak terluka secara fisik. Tidak meringankan hukuman anak ketika ia mengakui kesalahannya. Menjadikan hukuman sebagai suatu sarana untuk berinteraksi dengan kesalahan anak.

8. Membandingkan anak dengan kakak-kakaknya tau orang lain. Uwwihh, ini lama banget membekasnya nih. Dia ngerasa down tentunya. Padahal, kan kemampuan anak gak sama! Makanya, jangan sekali-kali membandingkan anak dengan kakanya atau temannya.

9. Ortunya kontradiktif.
Missal nih yaaa,
Ortu bilang ke anak, “Nak, kita harus jujur kepada sesama yah…”
Sang anak pun mulai menanamkan dalam hatinya, bahwa kita harus jujur. Nah, suatu kali ada seorang tamu datang. Sang ortu langsung sembunyi, sambil bilang ke anak, “Badu, ntar bilang ya, mama lagi gak di rumah!”
Nah lho????
tadi katanya harus jujur???

10. Menghina, meremehkan dan membeda-bedakan dalam berinteraksi dengan anak. Wuihhh, ni parah loh akibatnya. Misalnya, ortu bilang, “kamu ini koq bodoh sekali. Masa’ ini aja ga’ dapat. Kamu ini kok pemalas sekali! Dasar, OON!”. Udah gitu, kluar lagi bahasa kebun binatangnya,…
“kamu itu……a*j*ng, m*ny*t,..” dan bahasa sejenis.
Nah, lama-lama, pernyataan itu akan tertanam pada jiwa sang anak, sehingga ia memang merasa dirinya bodoh alias OON.
Atau kata-kata, semacam :
“Kamu lebih jelek dari yg mama kira. Kamu Emang gak punya kemampuan apa-apa!”
“malu mama bawa kamu! Lebih baik gak usah mngakui aja kalau kamu itu anak mama!”
“kamu egois!”
“mama gak mau seorangpun tau kalau kamu itu anak mama!”
“kenapa kamu gak sepintar saudaramu, heh?”
“halaaah, itu ide kolot!”
“kamu itu idiot, tauk!”
“mama gak pernah bangga punya anak seperti kamu!”
Sungguh, kata-kata itu seperti bom waktu yang siap meledak suatu saat. Secara tak langsung, kata2 itu berarti tidak mengakuinya sebagai individu selayaknya!

Dan masih buuuuaaaaaanyaaaaaaaak lagi! Terlalu panjang untuk dituliskan. (ini aja udah segini panjangnya). Sing penting, kita semua sama-sama evaluasi, untuk kebaikan di masa mendatang. Sangat banyak kenakalan remaja disebabkan oleh orang tuanya sendiri yang tak paham bagaimana cara mendidik anak yg baik. Sehingga out put yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan. Meskipun inputnya bagus (berasal dari bibit unggul), kalau prossesingnya kacau, tetap saja hasilnya tidak baik.
(halaaaaaaaaaah, koq sok tau banget yah, diriku. Ehm..ga’ koq. Ini hanya mengutip pernyataan seorang sarjana psikologi)

Maka, aku sepakat sekali bahwasannya yang perlu dibenahi terlebih dahulu itu, yaaa..orang tuanya! Sekolah pertamanya! Madrasatul’ulaaa nya. Ibu, juga ayah! Bukan sepenuhnya tanggungjawab perempuan tentu saja.

Sungguh, peradaban di masa mendatang, ada di tangan mereka. Pada Seperti apakah kita mempersiapkan generasi Rabbani itu. Merekalah calon pemimpin bangsa ini kelak. Maka, ditangan kitalah kunci semua itu. Memberikan pendidikan Qur’ani dan tentu saja dengan harta yang halal lagi berkah. (ingat kisah ayahnya Imam Syafe’i yg berusaha untuk mencari siapa pemilik apel hanyut yang ia makan bukan? Sosok seperti apakah yang lahir kemudian? Sosok luar biasa sekaliber imam syafe’i, bukan?)



homeSWEEThome, 3 Syawal 1430 H.
Read More

Aku malu menjadi pharmacist

Hehe, mungkin judulnya rada-rada aneh. Tapi, barangkali kamu semua kemudian bakalan sepakat dengan apa yg aku rasakan saat ini (hahay, ke-PD-an diriku nihh)

Suatu hari, ada sebuah pernyataan dari Pak Dekan, lebih kurang bunyinya begini, “kalian itu apoteker odong-odong. Bukan apoteker, tapi ampongteker”.
Hiks…, sedikit ‘terpukul’ dengan kata-kata itu (meski tujuannya memotivasi sih).
Bayangkan, betapa susahnya melewati semester demi semester, dengan kegiatan kuliah dan pratikum yang begitu buaaaanyaaaaaaaak, sehingga bikin kepala jerawatan (hehehe, lebay!), dan dengan tangis darahhh,,(uwwihhh, makin lebay ajah niy), masa’ out putnya Cuma jadi APOTEKER ODONG-ODONG. Jadi buat apa dong, selama ini kita menggerus-gerus di lumpang biar bisa jadi tablet or jadi suspensi or eliksir, mentitrasi mendestilasi dan mengolom, serta rotary yang lamaaaanya minta ampuuuuuuuuuun, mengekstrak, maserasi, nyuntik mencit, membiakan bakteri, mengukur kadar suatu zat dgn alat yg mahal dan keterbatasan sarana dan prasarana, kalau pada akhirnya kita disebut APOTEKER ODONG-ODONG. Hiks…hiks…, sedih kagak siy??? T_T

Iyyah,,sedih sekaligus prihatin.

Namun, jika berkaca pada kenyataan yg ada selama ini, aku merasa itu semua WAJAR ADANYA. Bukan bermaksud meremehkan profesi kita sendiri. Tidak.
Hanya saja, ada yang perlu dipertanyaakan. “Selama ini apoteker ntu ke mana ajah sihhh??”

Di pelayanan-pelayanan klinis, adakah apoteker turut serta? Paling juga ngaciiiir dibelakang apotek. Kagak brani kluar-kluar. Pernahkah liyat apoteker ikut serta ke ruang konseling rawat jalan, atau berkunjung ke bangsal-bangsal rawat inap untuk mengevaluasi pengobatan pasien??
Uwwwiiih……., jarang banget. Paling juga bwt rumah sakit yang udah besar (kira-kira tipe A atawa B lah) yang merangkap sebagai rumah sakit pendidikan. Lha, bisa diitung dengan jari kan!!!???

So, apoteker ntu ngapain ajah? Moso’ Cuma ngurusin barang masuk dan barang kluar doang. Moso’ Cuma ngatur2 barang di gudang doang. Itu mah, ekonom dan sarjana laen juga bisa!
Waduuuuh…, miris Gan! Kalo’ udah gini, wajar banget mah, jasa medic rumah sakit yang diperoleh apoteker sama saja dengan satpam. Iya tho?? Padahal, kuliahnya susaaah, bikin wajah lebih tua dari umur sakit berkerutnya. Hehehe. Trus, ilmunya mahal, dapetin gelar sarjananya minta ampun perjuangannya. Masa’ ujung-ujungnya disamain satpam yang bole kuliah bole tidak? Haduuu…h, kesiaaan yah??

Idealnya, kan semua aspek PELAYANAN KEFARMASIAN itu adalah tugas apoteker. Dan satu-satunya yang bisa ngelakuin ini kan Cuma seorang PHARMACIST! Nah, bisakah pharmaceutical care, evidence base pharmacy, Meeting patients needs, self-medications, quality assurance of pharmaceutical care, clinical pharmacy, dan pharmacovigilance itu dilakuian oleh profesi lain??? Yah kagak lah!! Wong, ini tugasnya tenaga professional. Tapi, apakah apoteker sekarang pada siap, ‘n pada bisa ngelakuin ini semua? Huuuff…, sejujurnya aku angkat bahu deeh! Allahu’alam!

Sejujurnya, aku (dan mungkin kebanyak orang) menginginkan pelayanan yang terpadu antara sesama tenaga medis. Ah, andai semuanya saling bersinergi untuk meningkatkan kualitas pelayanan itu. Sekarang kan, semua SAMA-SAMA BEKERJA, bukan BEKERJA SAMA. Aneh dan lucu bukan, kalo’ misalnya : pagi-pagi pasien dikasi obat, trus setengah jam kemudian, diambil darahnya untuk cek. Itu kan aneh, secara, kadar obat dalam darah masih banyak. Nah, mempengaruhi hasil pemeriksaan lab bukan? Alangkah lebih baiknya, kalau semua saling bersinergi, dalam sebuah tim yang solid. Betul kagak????


Tapi, ada satu pertanyaan besar sekarang ini. APOTEKERNYA SENDIRI PADA SIAP KAGAK??? Selama niy, apoteker ntu kalo’ ditanya pada ngaciiiiir semua. Iya tho? Ni bukannya nyalahin siapa-siapa nih ya. Contohnya saja diriku sendiri. Jika kebetulan pulang kampuang, dan kebetulan ada yg sakit, kan diriku ditanyain nih. “Apo ubek untuak panyakik iko, panyakikny kek giko, kek giko..bla..bla…” yg bisa diriku lakuin Cuma apa? Bengong!!!!! Asli!
Uwwwiiiih, malunyaaaa. Apoteker, pharmacist, yang notabene kuliah di bidang obat-obatan, KAGAK TAU APA-APA SOAL OBAT???? Aib banget nih. Nah, ini jadi warisan turun temurun. (kurasa, bukan aku saja yg seperti itu, anak farmasi yg lain, kebanyakan (gak semua nih yaaa, tapi sebagian besar), mungkin juga banyak yang tidak tahu. Hayyyooo, ngaku ajah deeh. Hehehe).
Sekarang nih yaa, kalo ditanya “merepenem” saja obat untuk penyakit apa, mungkin banyak yg kagak tau. Jangankan obatnya untuk penyakit apa, golongan obatnya ajah kagak tau!!! Apakah antibiotic, antipiretik, analgetik, dan sederet tik-tik lainnya. Lha, jadi selama ini apoteker itu kemana sajaaaaaaaaaaaaaaa????? Gimana mau ngelakuin pharmaceutical care, kalo obat saja tidak tahu!!!!
Kalau udah ditanya obat kagak tau, maka benarlah, sejujurnya, AKU MALU JADI SEORANG PHARMACIST, yang katanya ahli obat, tapi gak tau apa-apa soal obat.

So, gimana dong??
Tak ada cara lain yang bisa dilakuin selain MEMPELAJARI SEMUANYA LAGI! MENG-UPGRADE KEILMUAN kita lagi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu hingga yang ada kemudian adalah, AKU BANGGA JADI SEORANG PHARMACIST, karena obat adalah barang penting dalam kehidupan manusia. Tanpa obat, manusia takkan hidup. (lha, emangnya ada yg seumur hidup tidak pernah sakit, tho?). Percayalah teman sejawatku (halaaaah, kayak yg udah apt ajah, pake istilah teman sejawat pulak!hi..hi…), obat adalah kebutuhan umat manusia. Dan adalah ladang amal terbesar bagi kita jika ikut berkontribusi menyelamatkan kesehatan manusia di bidang profesi kita(cihaaaaaaa, koq kedengarannya berat gituh yak??).

Sebagai penutup, barangkali ini adalah curahan hati seseorang yang masi ‘ingusan’ di bidang kefarmasian ini. Aku tahu, aku belum apa-apa. Bukan ingin berlagak sok tahu, tapi hanya ingin mewacanakannya. Hanya ingin, kita semua benar-benar menjadi orang yang professional di profesi kita. Agar jangan ngaciir lagi waktu ditanyain pasien soal obat. Sebab aku punya mimpi, ingin mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup dan kualitas pelayanan kesehatan ini khususnya di bidang kita, sebagai seorang pharmacist (aihh, kalau aku sihh, belum pharmacist yah? Masih ada waktu, insya Allah, untuk belajar lebh banyak).



3 Syawal 1430 H, homeSWEEThome
Read More

Aku terlanjur jatuh cinta

Eheeemm…., judulnya rada2 ngepink yah? Hehe. Wokeh..wokeh.., anggap saja ini syndrome dua puluh walaupun sebenarnya isinya bukan sepenuhnya soal ini (wuduuuh, tak kasi bocoran duluan nih…).

Sebelumnya, diriku sedikit bertanya (mungkin retoris kali yah), sebenarnya apaan tuh cinta???
Hayyo…, semua juga pasti bisa jawab. Iya tho?? Hehe. Jawab ajah sendiri giiih. Tapi, yang kumaksud di sini bukan yang “itu tuuuh”. (yahh, seperti definisi kebanyakan orang kali yahh…)

Lalu, apa dong?? Apaaaaaaa?!! (duuh, jangan emosi gituh….hihi, ngaco!). eheem…, begini! Dahulu, ketika diputuskan untuk ditempatkan di sebuah tempat yang lazim dikenal (baru2 ini) dengan istilah wisma jompo, hatiku sedikit pilu. Huaaahhh…, apakah aku harus meninggalkan kebersamaan yang begitu indah di homeSWEEThome, Syakuro ku tercinta? Apakah?? Huhu…, sediihnya bukan kepalang. Aku harus ninggalin semua-muanya, dan diungsikan ke wisma jompo. Hiks…hiks…

Dengernya aja rada2 serreeem. Ih, jompo! Emang tua banget yah?? Mentang2, rata2, and kebanyakan di antara kami udah pada semester 9. (eh, kami semua dapet KTM baru looh, hehehe). Wal hasil, keputusan bwt pindah itu benar2 terlaksana. Bahwasannya, aku harus say gudbai to syakuro homeSWEEThome.

Alhamdulillah, akhirnya, aku beserta beberapa “jompo’ers” lainnya berkumpul lah di sebuah rumah (yang ahiks…ahiks.., terlalu tega disebut WISMA JOMPO dan yang parahnya lagi, ada yg malah bilang WISMA PEMBUANGAN! Huaaaaaa……!!! T_T).

Dan, masya Allah…, luar biasa! Sungguh luar biasa!!! Amazing!! (duuh, daku gak punya perbendaharaan kosa kata lagi nih, buat ngungkapinnya. Hahay, lebay!)

Aku menyadari kemudian, bahwa aku perlu menyukuri keputusan ini. Aku benar-benar bersyukur ditempatkan-Nya di tempat ini. Sungguh. Aku menyukai, setiap apapun yang ada di dalamnya, dan orang2 luar biasa yang memiliki segenap kelebihan (tentu saja kekurangan) yang aku belajar banyak dari mereka. Aku dipertemukan-Nya dengan sosok-sosok yang sungguh dalam sekejap kami langsung merasa dekat, dengan kedekatan hati. Sebagian nyeletuk, “Aihh, sekarang ukhuwwahnya lebih berasa yah? Mungkin karena kita senasib kali yah? Sama2 jompo’ers” hehehe. Becanda memang. Tapi, kurasa ada benarnya.

Aku, sudah terlanjur jatuh cinta pada mereka (para jompo’ers), aku terlanjur jatuh cinta pada kebersamaan kami, pada hari-hari kami yang penuh tawa (dan, kadang, rada sedikit ‘gila’!!! pokok’e gokil abizz dah!!!
Semoga, kemudian yang menjadi masalah bagi kami adalah : bingung mencari masalah. Hehe…
Di sini, aku belajar banyak hal. Menyelami setiap dasar2 hati mereka, hingga yang kutemukan adalah keunikan. Sungguh, sekali lagi, aku belajar banyak dari mereka.

Ah iyyyah…,
Aku belum perkenalkan apa itu wisma kami.
Okeh..okeh….,
Kami menyebutnya : Wisma Al Hurriyyah. Wismanya para bidadari yang bermata jelita (hehehe….kan artinya memang bidadari yg bermata jelita, hihi). wismanya para jompo yg masi jomblo. Dan wismanya para jompo yang lagi pusing mikirin penelitian, yang kemudian menjadi salah satu alasan untuk ma-‘ere-ere (hahay, istilah baru nihhh) dengan tawa yang bahagia. Yang di sana, ada bermacam2 kebiasaan dan hobby. Pertama, yang hobby masak (daku tukang makan ajah). Yg hobby nyuci piring, daku dapet yang bersihnya ajah. Yang hobby nguras bak mandi, aku tinggal pake. Yang hobby nyapu, daku dapet yang kinclongnya ajah. Yang hobby bersihin tempat tidur, eeh…, punyaku dirapiin jugah.Hahaha. Maunya yang enak doang mah! Hi..hi…. Trus,ada yg hobby tilawah jugah. Aiih, jadi pemicu semangat, tentunya. Oohh.., indahnya ukhuwwah. Dan aku terlanjur jatuh cinta pada mereka semua.

Lha, tujuannya nulis ini apa? Buat promo doang??
Aihhh, ya enggak lah!
Entahlah…,aku benar2 merasakan sekali apa itu istilah, “JIka semuanya sudah menjadi solusi, lalu siapa lagi yang akan menjadi masalah?”
Kurasa, mereka semua(yg kucintai itu) benar2 menerapkan ini semua, di kala permasalahan ukhuwwah terkadang mencuat ke pemukaan.
Aih, ukhuwwah. Benar sih, masalah yg satu ini tak pernah ada habis-habisnya. Mulai dari jaman Habil dan Qobil (inget kan kisahnya??), hingga ke jamannya Rasulullah dan sahabat (Perang jamal & shiffin), hingga saat ini. Tapi, kita juga perlu belajar dari kisah itsarnya sahabat hingga semuanya syahid.

Ah, sungguh, kedekatan hati itu sesuatu yang takkan mungkin terbayar dengan dunia dan seisinya…dan takkan mungkin bisa diciptakan hanya oleh manusia tanpa campur tangan-Nya.
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yg beriman), walaupun kamu membelanjakan (semua) kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”


Al Hurriyyah, Baiti Jannati, 23 Ramadhan 1430 H
Read More

Parfum Paris = Feses??? Hiyyyyy…!!

Eheem…, pren-pren, untuk sesaat, judulnya emang rada-rada sereem yah?? Hehe. Apalagi bagi ‘makhluk’2 yang memang pengguna parfum paris. Bisa ditimpuk diriku pake Martindale sambil diomelin, “ENAK AJAAAA!!! Wangi ginii dibilang feses!! Sotoy banget deeh! Gak banget deh!!” Hahay, tuh khaaaan???
(omong-omong, ditimpukin pake Marindale betapa sakitnyaaaa. Ngangkatnya aja berat gituh! Hehe. Lebay!)

Tenang sodara-sodara! Bukan maksud diriku untuk menyamakan parfummu dengan feses. Hihi.., walaupun sebenarnya punya kesamaan. Ehm…ehm…, pasti pada bingung kan yah?? Bingung, koq bisa-bisanya disamain!??

Nah, begini looh. Waktu tahun satu dulu, skitar empat tahun yang lalu lah, (wuiiihh..saking berkesannya, masi ingat ding!) kami kan kuliah KO (eh, ga’ boleh bilang KO, tapi harus bilang OCE!). walaupun KO dan OCE punya makna yang sama, yaitu KO = kimia organic dan OCE = organic chemistery, tapi menimbulkan semangat yg berbeda looh kalo pengucapannya berbeda! Banyak istilah2 terkait mata kuliah yg satu ni saking favoritnya (favorit karena banyak yg harus ngulang kuliah lagi untuk perbaikan, hehe. Diriku jugah, seharusnya!) Ada yang bilang, kuliah KO emang bikin KO!! Coba kalo’ bilangnya kuliah OCE, kan bikin OKEH!!! Tergantung penyikapan kitanya gimana. (halaaaah, udah ngaur kemana-mana nih! Eh, tapi gak apalah, sedikit intermezzo). Nah, yyukkk, back to topic… Waktu itu kan lagi kuliah OCE, trus, ada plajaran yang menarik.

Sang Bapak Dosen bilang : “Kalian-kalian yang pake parfum paris, jangan bangga dulu. Karena dalam parfum kalian itu, ada fesesnya!” (begitu lah sang Bapak bilang dengan redaksi yg berbeda tentunya. Empat taon lalu, masa’ sih masi ingat??? Yg anak farmasi tentu sangat mengenal beliau!!)

Lantas semua kageeet berat. Masa’ sih????

Ternyata,--subhanallah—menakjubkan! Feses yang baaauuu…itu setelah dilakukan ekstraksi dan pengenceran (sampai pengenceran 1 pangkat enam atau 1 juta kali, atau berapa yah? Lupa, berapa kali pengencereannya. Yg masi inget, tolong dung, diingatkan lagi!!!) ternyata menghasilkan suatu zat yang disebut “Skatol”. Nah, kabar2nya, skatol inilah yang membuat farfum paris itu lebih wangi,lebih menariiik… Hal yg sama juga dilakuin sama bungo cik ayam. Tau kan, yg warna kuning yg cantik itu looh. Bunga cik ayam juga sangat wangi ketika telah dilakukan pengenceran sekian-sekian kali.

Lalu, so what??
Tertarik untuk mengekstrak fesesmu sendiri denganpengenceran bertingkat sehingga diperoleh zat yang bernama skatol??? Coba aja!! Resiko tanggung sendiri. Haha…

Hanya saja, diriku bukan mengajak kamu semua untuk mengekstraksi feses. Hanya ingin sedikit mengambil hikmah dari hal ini. Jika dianalogkan feses dengan bauuu… yg sangat busuk itu adalah tumpukkan dosa-dosa kita, dan skatol, zat yang sangat sedikit itu, adalah salah satu sisi hati kita yang masih bening yang sesuai dengan fitrahnya, makaaa…dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwasannya…sebuanyaaaaak..buaaaaaanyaaaak apapun dosa yang kita lakuin, mau kaya buih dilautan, tetap saja Allah masi m’buka pintu ampunan buat kita, tetap saja sisi ada sisi fitrah yang merindukan ketenangan yang sejati itu, walau kemudian banyak yg mengabaikannya dan asyik masyuk dengan godaan dunia dan bisikan setan durjana..

Sama dengan skatol!! Walaupun asalnya dia tuh adalah feses yg busuk, yg menjijikkan dan andai dia bisa bicara, pasti dia bilang: “aahh,, aku memang tak bergunaaa. Tak ada gunanya. Semuanya memandangku dengan jijik.” Tapi, toh akhirnya dia bisa jadi zat yang malah dicari-cari orang di seluruh dunia. Malah bangga mereka dengan parfumnya yang oke punya itu yang notabene skatol adalah salah satu zat penting di dalamnya. Nah, pada akhirnya, skatol dicari-cari kan ya? Jika pengencerannya 1 juta kali, berarti setara dengan SATU unit dalam SEJUTA unit dooong.

Nah..nah,,pren, begitu pula dengan dosa-dosa yang telah kita lakuin. Sebanyaaaaaaak apapun insya Allah ampunan-Nya masih terbuka lebar. Mari kita menjadi “skatol” bukan menjadi “feses”. Yakinlah, Dia pasti menerima taubat qta.

Seperti yang Rasulullah bilang :
“Sesungguhnya Allah ta’ala senantiasa membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat di waktu siangnya, dan membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untukmenerima taubat pada waktu malamnya. Yang demikian itu berlangsung terus sampai matahari terbit di sebelah barat (sampai hari kiamat).” (HR. Muslim dari Abu Musa bin Qais Al Asy’ary ra.)

Nah, loh…bener kaaan?

Allah ajah udah nyuruh qta taubat biar kita bahagiaaa. Kalo feses bikin ‘sengsara’, maka skatol justru sebaliknya. Sama seperti dosa yang bikin hati gelisaaah, gak tenang, gak nyaman, serasa dihantui…, sbaliknya taubat malah mendatangkan ketentraman, dan kebahagiaan.
“…Bertaubatlah kamu semuanya kepada Allah wahai orang2 yang beriman agar kamu sekalian berbahagia. …“ (Qs. An Nuur : 31)



Sya’ban, 1430 H
__saat menyiapin hari bersejarahku, H minus 17, insya Allah__
Read More

Sebuah Episode di Angkot Lurus

Cie..cieee…, judulnya rada2 melankolis. Maklum, sisa2 kemelankolisan diriku sedikit mencuat niy. Hehe. Ehm..ehm…, baiklah. Kali ini aku ingin bercerita tentang sebuah episode di atas angkot Lurus jurusan Pasar Baru-Pasar Raya via..hm..via apa yah ? via andalas, simp haru, jalan A yani dan..whateverlah! gak penting pun!
Jadi critanya,suatu siang yang terik (tepatnya sian tadi), di pasar Raya, Sehabis mengantongi sebuah melon (special buat sodari2ku tacinto di wisma), aku beranjak menuju pangkalan angkot. Rencananya sih, mau naek angkot PISANG saja. Biar ndak jauh-jauh jalan kakinya cuz angkot PISANG kan brenti gak jauh2 amat dari jalan bandes, di mana wismaku saat ini berdiri. Alangkah kuciwaaa diriku mendapati populasi angkot PISANG yang nihil. Ada sih, mereknya” PISANG”, tapi, trayeknya ke PIAI. Akhirnya kuputuskan untuk naik angkot LURUS saja. Hmm…, siang2 terik begini, jalan dari PAsar BAru ke Kampung Dalam lumayan juga! (lumayan menguras tenaga dan memeras keringat, hehe).

Huff…, Alhamdulillah, dapet tempat duduk yang lumayan lega. Ada AC-nya juga (Angin Cepoi2) yang menyegarkan. Wusss…
Di dalam angkot ada empat ibu-ibu berikut dengan belanjaan mereka yang gedee2, pake kantong plastic itam. Si ibu2 asyik bercerita. Biasanya sih, diriku gak begitu memperhatikan dan mempedulikan apa yang orang lain obrolkan dan sibuk mikir-mikir (evaluasi) dan ngebikin rencana, kalo lagi di angkot. “dari tadi pagi, apa aja yang aku kerjain yah? Hari ni, planningnya yang terjalankan apa aja yah. Trus, yg enggak gimana yah? Target hari ni kecapai gak yah? Atau…., Habis ini…ngapain yah. Trus besok ngapain yah. Acc hasil kapan yah. Ngurusin bebas lab ama bebas pustaka kapan yah. Hasil tes TOEFL kmren gmana yah, lulus kagak yah. Atawa minimal, nanti sore akhwat masak apa yah (hehe).” Kira-kira begitulah. Tapi, kali ini, telingaku cukup tertarik mendengarkan perbincangan ibu-ibu di atas angkot LURUS itu.

Berikut cuplikannya (dengan redaksional yang berbeda tentunya. Masak siy, diriku sampe hafal. Hihi.., ngaco!):
Ibu pertama : Bara lado sakilo, Bu?”
Ibu kedua : Tigo Baleh.
Ibu Ketiga : Ndeh, maha nyo lai. Ambo mambali lai sapuluah sakilo nyo.
Ibu pertama : Dima tuh babali?
Ibu ketiga : di …..(beliau menyebutkan sebuah nama yang sudah kulupa. Maklum, kalo nama, emang sering lupa. Tapi, kalo dikasi angka, insya Allah ingat. Diriku lebih suka ngapal angka dari pada ngapal kata. ngapal tangal lahir dan no HP contohnya.Aihh, penting gak sih??)
Ibu pertama : Ooo..di sinan??? Ambo di siko haaa…(juga menyebutkan sebuah nama, dan lagi2 tentu saja aku lupa, hehe)
Ibu kedua : iyo tu mah, di ….. itu memang maha!!!
Ibu pertama : tapi, lado iko rancak katonyo. Lado kampuang! (sang Ibu pun mengeluarkan cabe itu dari bungkusannya. Dan mengambil beberapa cabe)
Ibu ketiga : iko ndak lado kampuang ko doh! Lado jawa mah.
Ibu pertama : haaa?? Iyo tuh? Ambo mamiliah nan iko, dek murah manggiliangnyo. Ruponyo ndak lado kampuang do yo? Keceknyo ditanam di ladang balakang rumahnyo.
Ibu kedua : kok lado kampuang tu hee…, ndak sa licin iko do. Bakaruik saketek. Rancak. Lado jawa ko aia se nan banyak nyo mah.
Ibu pertama : OOoo..baitu yo??
Percakapan tersu berlanjut dnegan berbagai topic. Mulai dari penjual yg suka curang, terus timbangan yang sering dipreteli, sampai ke jumlah anak dan pekerjaan masing-masing suami. Sampai pula ke KB, cocok apa tidak. Keunggulan punya banyak anak dan sedikt anak. Beda anak laki dan perempuan. Pokoknya cerita khas ibu2 dah. Yang belakangan sih, aku tak perlu membahasnya bukan? Hehe…

Dari cerita tadi, ada hal yang kemudian aku garis bawahi. Tentang apa? Tentang sekilo cabe? Hohho, tentu saja tidak. Tentang ibu! Yah, ibu!
Mungkin ita jarang berpikir, “Sampai segitukah?? Hingga detil-detil bentuk cabe dan harga cabe. Bahkan hanya beda hara seribu dua ribu bisa jadi perhitungan yg panjang lebarrr. Sungguh luar biasa ia mengelola. Sering kali, Yang kita tahu adalah, sudah ada bahan2 masakan di kulkas dan di dapur. Bahkan, sudah ada hidangan tersedia di meja makan, tanpa tahu, barangkali ikan yang ada di meja tadi, justru penuh perjuangan membelinya, berdesak-desakan dengan ibu2 lainnya. Atau, barangkali, ibu juga berseteru dengan penjual ayam potong tentang tawar menawar harga. Kita mungkin tak tahu, bahwa ia berjalan dengan begitu lelah mengelilingi pasar. Untuk siapa? Ya, untuk kita, keluarganya! Bahkan ia memperhitungkannya dengan sangat detail!!!

Udah gitu, sesampai di rumah, hanya dengan sedikit istirahat, bliau mulai mengolah bahan-bahan itu, menjadi hidangan yang lezat. Dan barangkali kita tidak tahu, bahwa tangannya dipenuhi arang, ada muncratan minyak panas yang mengenaninya. Atau, pisau irisan bawang yang kebeulan nyasar. Apapun itu, mngkin banyak di antara kita, yang kemudian “HANYA” mendapati hidangan itu telah benar-benar siap di atas meja makan tanpa tahu menahu begitu panjang proses yang telah dilewatinya. Sudah begitu, bahkan masih ada yang ‘berani’ bilang, “Uuuhhh,,, si mama koq masak yang ini sih? Aku kan kurang suka.” “Mama kok masaknya beginibegini terus sih, gak kayak Ibunya si fulan.” Kata-kata itu begitu saja meluncur tanpa pikir panjang. Tanpa tahu, untuk menyulapnya menjadi sebuah hidangan, ada rangkaian proses yang tidak sedikit, dan tentu saja melelahkan!!! Mungkin goreng kentang yang kita bilang kurang suka itu, tadinya mendapatkannya dengan berebut-rebutan dengan ibu-ibu lainnya. (Padahal , makan dengan lahap saja dan menunjukkan bahwa kita menyenangi masaknnya, sungguh telah cukup baginya untuk membayar semua kelelahan itu, meskipun sebenarnya jasanya itu takkan terbayar???)
Ini pun belum cukup!!! Bahkan, ia yang memasak dan mengolah dan mengerjakan semuanya, lebih memilihuntuk makan terakhir saja, setelah semua anggota keluarganya selesai makan. Luar biasa! Lalu, membereskannya, dan mencucinya kembali.
Ahh….ibu…

Tapi, sudah segitu buaaaanyaaaaaaaaaaak kasih sayang ibu (dan takkan dapat disebutkan lagi saking banyaknya), masih saja ada anak-anak yang merasa “malu” untuk sekedar minta maaf sama ibunya jika ia salah. Atau, masih ada anak yang “MALU” untuk memeluk ibunya (apalagi dihadapan orang banyak). Dalihnya, “Aih,, aku kan uda gede’. Masak masiy peluk-pelukkan sama mama?”. Memangnya salahnya apa??? Justru makin gede, harusnya makin berisi batok kepalanya, dan makin ngerti cara memperlakukan ortu. Dan yang parahnya lagi, ada pula yang sampai MALU bergandengan sama ibunya di hadapan teman sekolah atau teman kampusnya (ini mah ceritanya teater PELANGI sastra, waktu awal2 taon satu dulu atawa taon2 awal kuliah dulu lah. Forum annisa gabungan di Unand kalo tak salah. Hehe. Mudah2an kejadiannya Cuma di cerita doang. Gak kejadian di dunia nyata).

Sungguh…,
Semua akan menjadi sebuah penyesalan besar ketika kita tak lagi bertemu dengannya, suatu saat nanti. Ketika kesempatan itu tak ada lagi. Kesempatan untuk memohon maaf dan memberikan yang terbaik kepadanya. Ia yang serba kekurangan! Kekurangan makan, biar anak-anaknya bisa makan enak. Kekurangan pakaian (biarlah anak2nya aja yang dapet baju baru). Kekurangan tidur (apalagi kalo anaknya lagi sakit). Dia yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Mendahulukan kepentingan kita. Dia, yang mungkin rela ngutang sana sini dengan menekan rasa malu agar bisa transver duit ke rekening kita. Agar kita, anak-anaknya tidak terlantar di negeri orang. Yang duit itu malah kadang2 digunain buat hura-hura. Buat makan-makan enak bareng teman, padahal beliau di rumah mungkin makan apa adanya saja. Sudah segitunya pengorbanan beliau, kadang2 kita malah malas2an kuliah dan blajar. Atau, sebagian malah ada yang digunain buat nraktir pacarnya!!!! (INI PARAH BANGET!!!)
Duuuh…, betapa besarnya rasa bersalah ni.

(ini sekedar mengingatkan aku sendiri, kamu, dan kita semua). Semoga bisa diambil manfaatnya.


duuh…, ni air mata dah ngucur dari tadi niy..
hiks…hiksss…

(ditulis waktu di sela2 waktu memperbaiki hasilku….hufff…)
Read More

Sebuah kejutan yang mendebarkan, sekaligus memberi plajaran…

Alhamdulillah, meski tak begitu optimal, hari ini berlalu sudah. Banyak kejutan. Banyak hal-hal yang mendebarkan. Banyak pula plajaran yang bisa diambil.

Tiba-tiba, aku jadi “terlempar” pada masa yang jauuuh..jauuuh…., sungguh sangat jauh. Pada sesuatu yang bernama “bekal” dan sesuatu yang bernama “pertanggungjawaban”.
Sungguh, hari ini begitu banyak memberikan plajaran, bahwasannya, apapun itu, pasti akan dipertanggungjawabkan…

Seperti sidang pertanggaungjawaban sebuah penelitian, begitu pula dengan pertanggungjawaban yang pasti akan dilalui oleh semua orang. Tanpa kecuali. Tak peduli apakah ia orang paling terkenal sejagad raya, ataupun orang biasa-biasa saja. Tak peduli apakah ia adalah orang nomor satu, ataupun paling buncit. Semuanya!

Hari ini, ketika “bekal” yang kupersiapkan sangat tidak optimal, ketika begitu banyak kesalahan-kesalahan (penulisan), semua menjadikan pertanggungjawabanku yaahhhh..begitu apa adanya. Sangat tidak optimal. Yang terjadi kemudian adalah sebuah penyesalan, “duuh..kok aku gak nyiapin ini dari kmaren yah, kok aku baru tau kesalahan ini pas hari ini yah, kok aku baru nyadar yahhh?”. Tapi apa? Semua tak bisa dikembalikan. Meski untuk ini, alhamdulillah,,masih ada perbaikan..

Nah, begitupun halnya dengan “perbekalan” untuk perjalanan panjang ini. Kalo’ untuk pertanggungjawaban sebauh riset, masih ada jangka waktu perbaikannya. Bagaimana dengan pertanggungjawaban nantinya, ketika semua tak bisa lagi diperbaiki, ketika tak ada lagi tawar menawar. Bukankah, akan menjadi sebuah penyesalan yang teramat sangat?? Dan yang lebih parahnya, perbekalan hari ini, adalah untuk kehidupan yang abadi. Hanya dua saja, surga atau neraka.

Jika untuk sebuah pertanggungjawaban penelitian saja ada banyak yang perlu dipersiapkan, ada tatacara penulisan, ada hal-hal yang mesti diperhatikan, apalagi untuk pertanggungjawaban sebuah perjalanan panjang. Hal yang perlu dilakukan tentulah memplajari pedomannya. Memperbaiki kesalahan2 masa lalu. Dan berupaya untuk menyiapkan bekal itu dengan optimal. Jadi memang tidak benar kata2, “kadang kala tidak tahu itu lebih baik”…

Ah, semoga ini bisa menjadi plajaran berharga…, untukku, untukmu, dan untuk kita semua…


Pasca seminar, Jum’at 17 Juli ’09, di kampusku yang damai….
Read More

Tanpa energy, semua akan mengalir apa adanya

Sungguh, segala sesuatu itu butuh energy. Tanpa energy, maka ia hanya akan mampu mencapai titik terendahnya. Layaknya air, tanpa energy, ia pasti hanya bisa mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tapi, dengan energy, ia dapat diubah mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Sebuah benda, tanpa energy dan gaya, maka sigma F nya tetap akan bernilai nol. Pun begitunya halnya obat-obatan, tanpa adanya zat tambahan (apapun itu, apakah suspending agent, ataupun bentuk elixir, atau pun pengawet, anti oksidan dan benda2 sejenis yang memiliki fungsi sejenis) ia cendrung kembali ke bentuk awalnya. Obat yang pada dasarnya terdiri dari bahan yang tidak stabil, tanpa zat pembantu, akan mudah kembali ke bentuk asalnya. Salah satu contoh paling popular adalah vitamin C yang aslinya warna putih gampang sekali menguning (dan pewarna tatrazin sering kali dimanfaatkan sama produser untuk memberi warna kuning pada vit C, sehingga konsumen gak sadar kalo ternyata warna kuning itu sebagian karena vit C yang teroksidasi). Pun begitu halnya dnegan aminophylin yang digunakan buat para asma’er(hehe, penderita asma, maksud’e), sangat gampang sekali berubah jadi coklat.

Nah..nah…, jika diekstrapolasi (hehe, emangnya grafik???) kepada kehidupan manusia, mungkin demikian pula halnya. (ah, menurutku malah, setiap rumus yang ada di alam ini, adalah sebuah bentuk penyederhanaan konsep hidup, sebuah persamaan matematis atas permasalahan hidup). Pada dasarnya, manusia itu sukanya berkeluh-kesah. Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah. Tapi, bila dapat kesenangan dan dikasi kelebihan harta malah kikir. (Qs. 70 : 19-21) Nah…nah…, tanpa energy itu tadi, manusia tetap akan tetap pada sifat dasarnya tersebut. Kecuali orang2 yang punya energy saja yang bisa melampau ‘titik’ itu, selayaknya air yang dapat mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yg tinggi. Jadi, kalimat; “Ahh,,biarin deeh. Biar aku jalani idup ni seperti air mengalir saja,” adalah sebuah persepsi yang salah, karena ia akan tetap pada kondisi terendahnya.

Allahu’alam,,,
Read More