Medicine!


Sbuah statement analog yang bagiku cukup berkesan, bahkan hingga sekarang adalah :
Jika kemarin kita masih bingunghendak “mengobati” di bagian mana, maka hari ini “diagnosanya” sudah begitu jelas. Letak “penyakitnya” pun sudah begitu tepat. Jadi, tinggal memakan obatnya saja
(copy right by : Syafnida Gusti, 2010)

Permasalahannya adalah, terkadang kita masih “menikmati” penyakitnya dan begitu enggan menelan obatnya…

Dahulu, bahkan kemarin, ternyata obat itu masih berada di mulut. Ia masih belum sampai ada reseptornya. Tapi kali ini, obatnya telah memasuki era metabolism dan telah berikatan dengan reseptornya! Hanya tinggal mengeksresikannya saja. Yaah, itu saja!

Allahu akbar!
Fase Transformasi jilid dua!

Sungguh…sungguh sangat menakjubkan energy transformasi itu.
Insya Allah ini bukan akhir, tapi awal! Awal yang baru!
Sumangaik!
Hamasah!
Read More

Umahfacebook...??? Waouww Serruuuu!


Hayyuuuk....

bareng2 join ke : "Umahfacebook" di siniii 
biar mereduksi penggunaan FB,hee....
lebih menarik pokok'e!!
hee... :D

Jangan Lupayaaah add Fathel : di http://umahfacebook.com/Fathelvi/
Okeeeh???


*Inspired by : http://keanggian.wordpress.com/2010/06/12/pindah-yuk-dari-fb-ke-ufb-umahfacebook-com/
(hee...Ang...^___^)
Read More

Kesederhanaan Berbahasa


Terkadang, aku mesti “mengerutkan” dahi untuk mencerna kata demi kata yang dituliskan oleh mereka. (mereka?? Yaah, mereka yang blognya –tulisannya—sangat-sangat luar biasa itu. Ng…blog walking memang menyenangkan yaaah. Banyak hal yang bisa ‘dibawa pulang’). Tapii, yaa begitu itu tadi, kadang2 butuh dua kali lipat energy untuk membacanya yang ujung-ujungnya jika sudah tak paham akan kutiggalkan begitu sahaajaaa, hee…

Di satu sisi, ini sangat baik! Setidaknya, memotivasi kita agar belajar lebih banyak. Selain itu, apa yang disampaikan dengan bahasa yang begitu diplomatis dan dengan diksi yang benar2 bagus itu, cukup menjelaskan bahwa si penulisnya memang cerdas, berwawasan, dan berkualitas. Dan apa yang disampaikan itu, gak sekedar cuap-cuap doang! Hmm…sebagai media pencerdasan, bolehlah! Tapiii, sayangnya, tulisan seperti ini hanya bisa “dinikmati” oleh kalangan tertentu. Hanya orang2 intelektual sahaajaaa. (atau memang maksud penulis membidik kalangan ini sahajaaa?).

Tapi aku, sebenarnya lebih menyukai bahasa-bahasa sederhana. (apa karena otakku juga sederhana sehingga hanya bisa menyerap hal-hal sederhana?? Hee…). Tapii, begitulah… Terkadang menyederhanakan itu perlu (*Clingak-clinguk kiri kanan. Ada FLP’ers gak yaaah? Bisa-bisa kena kartu merah daku niiiih. Sering kali kena disini. Heee….).

Aihh, barangkali semua akan menjelaskan betapa sederhananya pikiranku. Mungkin memang tak seberapa, bahkan masih sangat sedkit. Tapu, tak apalah... Bukankah dengan demikian kita akan menjadi lebih banyak belajar?
*Ya iyalaah, harus banyak belajar, tho?

Ada kata-kata yang cukup berkesan bagiku,
"Tidak apa-apa tak banyak tahu. Dengan demikian kita semakin tak merasa bersalah untuk bertanya."


Hmm...tapii, apapun gaya penyampaianmu, meski sederhana ataupun high, tetaplah sampaikan...(*aku percaya bahwa setiap orang menulis dengan gayanya sendiri dan menyampaikan dengan gaya nya sendiri. Ada style tersendiri yang membuatnya berbeda)
Setidaknya, ketika kita menyampaikan dan menuliskannya, sebagian besarnya, kita sedang menuliskan untuk diri kita sendiri...dan semoga juga bisa berbagi hikmah...Meskipun itu, adalah hal yang sangat sederhana sekalipun...

Semangat!

Read More

Trima Kasih Pak Rektor!


Wah!wah!wah....!!

ada cerita yang serrruuu untuk diceritakan!

Hmm...mahasiswa takut rektor?
hee....
Mungkin aku termasuk salah satu orang (yang pada mulanya) tidak ingin sekalipun berurusan dengan Pak Rektor. Padahal, apa salahnya coba?
Bahkan untuk audiensi proyek pembuatan buku sekali pun! Aku lebih memilih menjadi "yang dibelakang layar saja".
Sungguh-sungguh...parahnya!
Apa susahnya, coba?? Kan kita tidak sedang mendemo Pak Rektor! Iya tho??

Tapii, sungguh, tindakkan seseorang ini telah merubah persepsiku. Seseorang yang tak perlu pula kuberitahukan pada dunia, apa identitasnya (hiiii, yang bersangkutan pasti bakal senyam-senyum and ketawa-ketiwi membaca iniiii....^___~).

Jadi begini, si ukhty ada sedikit masalah mengenai pembayaran uang wisuda yang salah bank. Ketika dikonfirmasi ke pihak dekanat, ternyata orang2 dekanat malah memperibet itu urusan dan menyuruh kembali membayar di rekening bank yang ditunjuk. Kan itu tak adil sama sekali! Kita udah bayar masa harus bayar lagi. (HAaaaaah!! Urusan administrasi memang benar2 ribet!!!) Di tengah kekalutan itu, si ukhty nekat nge-SMS Pak Rektor dan mengatakan bahwa "Pak, jika urusan itu tidak bisa selesai saya akan membawanya sampai ke akhirat!!" >,< . "Loh, koq bawa2 akhirat segala?" Jawab Pak Rektor lewat SMS. Ujung2nya, si ukhty malah disuruh menemui Pak Rektor besoknya. Wal hasil, Ng..., dengan kebijakkan Bapak Rektor, akhirnya permasalahan pun selesai... (trima kasih, Pak Rektor)

Gak tau deeh, bagiku kisah ini cukup menggelikan, dan endingnya pun tak seseram yang kami bayangkan. Bahkan, si ukhty sudah menyiapkan pipinya untuk ditampar segalaaa, karena isi SMS itu. Hahahaha, betapa menggelikannya!! Sekaligus banyak hal, banyak hikmahnya.

Pertama, Pak Rektor tak seseram yang kami bayangkan! Bahkan, beliau itu jauuuuuh lebih bijaksana!\
Kedua, Terkadang, urusan itu malah diperibet oleh orang2 yang berada "dibawah".
Ketiga, betapa pentingnya memilih seorang pemimpin yang baik! (mumpung lagi musim pemilukada, mariii, mari kita pilih pemimpin yang baik, bersih, peduli dan professional, heee...). Setidaknya, ketika pemimpin yang dipilih itu adalah pemimpin yang bijaksana, dan berorientasi pada-Nya, maka, meski tak seluruhnya, setidaknya sebagiannya dapat di ubah ke arah yang lebih baik. Toh, perubahan tak mungkinlah sekaligus tho?
Keempat, kebanyakan hubungan yang terbina antara dosen dan mahasiswa itu koq yaaah, kesannya jauuuuuuuuuuh banget! Seperti ada dua dinasty yang memisah. Mungkin hanya di sini saja, dan mungkin pula tak semua orang. Tapi kebanyakan begituuu. Bagaimana kalau hubungan yang terbina itu adalah kedekatan hati antara pendidik dan yang dididik? Dan lagi, menurutku, sebenarnya, pembelajaran itu adalah REVERSIBLE! Berlangsung dua arah. Okelah memang, mahasiswa belajar dari dosen, tapiii, sebenarnya, dosen juga bisa belajar banyak dari mahasiswa. Iya tho??
Kelima, jika ada masalah, maka penyelesaian yang paling baik itu adalah langsung kepada yang tertinggi, yang paling berwenang. Ketika masalah itu sudah ditangani oleh rektor, langsung deeh, bawahannya menanggapi dengan cepat. Coba aja kalo Pak Rektor gak turun tangan, mahasiswa jadi dioper2 macam bola begituu. Begitu pun dalam hidup ini, jika ada masalah, ya udaah, hayuuuk, minta penyelesaian kepada Dzat yang Segala urusan ada ditangan-Nya. Insya Allah, solusinya adalah solusi yang terbaik. Allah akan menunjukan dengan cara-Nya sendiri. Masya Allah....


Udah, segitu ajah mungkin ceritanyaaa...
Maap yaah, rada2 sotoy niiih!
Semoga ada plajaran yang bisa diambil.
Read More

Hayoo...Bangkit!!!


Hmm…
Apa yang sebenarnya manusia inginkan dalam hidup ini?
Mimpi!?
Cita-cita!?

Terkadang, aku berfikir betapa fluktuatifnya semua ini!
Terkadang begitu bersemangat, namun kadang juga begitu down!
Tapi memang demikian adanya,
Life is never flat!

Adalah hal absurd jika hidup seseorang itu hanya “flat” sahaajaaa.
Aku melihat, sesungguhnya letaknya adalah bagaimana manusia mengelolanya saja.

Hmm…baiklah!
Hidup harus punya mimpi!
Jika tiada, maka tiada pula arti hidup ini.
Bukankah demikian?

Terlalu sia-sia jika waktu yang amat sejenak ini dilalaikan. Terlalu sia-sia. Sebab, jika begini, maka hanya penyesalan berkepanjangan yang akan kita tuai.

Kelailaian itu, adalah sebuah “zona nyaman”.
Ketika diri ditolerir untuk menurunkan permeabilitas kepekaan dan ambang ketegasan. Bukan ketegasan kepada siapa-siapa melainkan pada diri kita sendiri. Maka ketika itu pula, diri ini telah memasuki sebuah ‘zona nyaman’ yang sifatnya begitu istimror. Kepekaan yang terabaikan. Lalu, dengan kemalasan yang begitu dimanjakan. Jadilah ia. Jika begini, maka, segalanya akan mengalami distorsi!
Perlahan…perlahan…, namun begitu istimror! Suatu saat, menjadi kaget sendiri, “kenapa bisa begini?”. Itu masih lebih baik, ketika ada pertanyaan atas dasar kesadaran. Bagaimana jika tidak?! Aaah, na’udzubillah…

Sungguh, tak mau berada dalam ke-istimror-an yang menjauhkan dari-Nya. Sudahlah!
Cukup!!
Jangan sampai hati tiada peka lagi membedakan kebenaran dan kebatilan.
Karena sesungguhnya, hati adalah tempat kita meminta fatwa. Jika baik dianya, ajakan dan suruhannya pun pada kebaikan. Jika tidak, maka suruhannya adalah kemaksiatan!!

Hayoooo!
Bangkit!
Keluarah dari “zona nyaman” itu!
Sesekali, tidak perlu mentolerir diri. Apalagi untuk hal ini!
Sebab, ada zona nyaman lain yang meloncati kenyamanan menurut logika manusia yang sangat terbatas itu. Letaknya di hati yang bersih dari noktah.
Tiadakah diri ini merindu untuk itu?!
Read More

Aksi Munasharoh Palestina


Mungkin, kelihatannya tiada arti…
Hanya kumpulan gambar-gambar saja…
Pun dengan pengambil gambar yang masih sangat amatir!


Tapi, sesungguhnya…ini karena kami peduli…
Sesungguhnya ini, karena kami cinta padamu saudara2 kami…


Kelihatannya memang tiada arti,
Karena,
Tiada dapat kami berbuat banyak…
Hanya sekelumit semangat…
Kepalan tangan!
Dan sebait do’a…


Untukmu, saudara2 kami, di Palestina…
Insya Allah, kami selalu ada…



>>Aksi Munasharoh Palestina, Padang, 6 Juni 2010, Raden Saleh-Imam Bonjol<<
>>25.000 orang, 224juta rupiah<<

>>One Men, One Dollar, to Save Palestina!!<<
 Behind the scene...

Read More

Cashing atau Fitur???


Kita memilih, Tentulah berdasarkan apa yang mendominasi dan menjadi orientasi serta tujuan dalam hidup kita.

Ng…begini saja perumpamaannya, jika hendak membeli ponsel, maka orang-orang akan memilih berdasarkan orientasinya. Yang sukanya style, akan memilih ponsel yang gayanya modelnya keren dan sedap dipandang. Sebaliknya, yang sukanya fitur, tentulah memilih fitur-fitur yang padat berisi tanpa terlalu peduli cashingnya seperti apa.

Nah…nah…, begitulah pula dalam kehidupan ini. Walaupun “cashing” ga bisa dinafikan, sebenarnya “fitur” jauh lebih utama. Apa gunanya ponsel cantik dan kelihatan elegan kalo ternyata gak bisa SMS dan nilpun? (yaaa elaaaah! Kalo gak bisa nilpun or SMS, bukan ponsel namanya, tauk! Ada-ada sahaajaaa. Heee…). Apa gunanya tampil super-duper kereeeen, tapi hatinya “melompong kosong”. Apa artinya morfologisnya oke tapi fisiologisnya kacaww. Apa artinya tampilannya oke punya tapi sebenarnya hatinya tiada lagi melihat. (Na’udzubillaah tsumma na’udzubillaah)

Cashing, paling hanya bisa di gonta ganti model doang. Maksudnya sedikit dipermaks sahajaa. Tapiii, kalo fitur, insya Allah bisa diupgrade!!
Hayuuuuk, upgrade fiture kita!

Jadiiii, kesimpulannya, pilih cashing apa fitur?
Jawab : DUA-DUANYA! (haaa???)


*Heee, maap yaaah, tulisannya gak mutu! Perlu upgrade fitur barang kali. Hee…
Read More