Seribu Keberhasilan!


Banyak orang bertanya-tanya tentang namaku...(ehehehe..ke-GR-an banget deeh!). Nah, nah..., mari sedikit berciloteh soal nama. Heheh :)

Kedua orang tuaku, memberiku nama lengkap Fathelvi Mudaris yang diambil dari bahasa arab, yaitu “Fathul” yang berarti Kemenangan/keberhasilan/penaklukan dan “Alfi” yang berarti seribu. Jadi, penggabungannya adalah Fathelvi. Dan kata “Mudaris” itu diambil dari nama ayahku yang berarti nama keluarga. Jadii, ayahku mengikuti nomenkaltur dunia yang menyaratkan 1 suku kata untuk nama kecil dan satu suku kata untuk nama kluarga..(hee…apaan sih?)

Awalnya aku berpikir, namaku ini terlalu “berat”. Bayangkan! Aku harus mencapai sekurang-kurangnya 1000 keberhasilan dalam hidupku! Tapi, kemudian, aku menyadari, bahwa ada asa dan harap yang dititipkan kedua orang tuaku lewat nama itu bahwa Aku memang harus berhasil. Nama ini menciptakan sebuah “power” dan “intrinsik motivation” tersendiri bagiku. Tentu saja keberhasilan itu bukan berarti aku harus selalu juara satu, aku harus sukses berkarir, dan aku harus bisa mendapatkan uang banyak. Ini menyoal bagaimana kita mempersepsi sebuah “keberhasilan” barangkali. Keberhasilan itu bagiku, adalah ketika aku bangkit dalam kegagalanku, ketika aku menang melawan egoku, ketika iman mengalahkan fujur, ketika aku bisa mengambil plajaran dan hikmah di setiap kejadian. Bagiku, ini adalah keberhasilan. Keberhasilan terbesar yang menjadi cita-cita terbesarku yang ingin kuraih dengan sebesar-besarnya adalah keberhasilan untuk “Melihat Wajah Rabb-ku di tempat yang penuh kedamaian…Jannah-Nya” (dan adakah cita-cita yang lebih tinggi dari ini?!). Maka, aku Si Seribu Keberhasilan…berazzam di hatiku..bahwa AKU HARUS BERHASIL!

Karena, PANJANG PENDEKNYA NAFAS PERJALANANKU, TERGANTUNG SEJAUH MANA CITA-CITAKU...
Read More

Polling Jompo'ers


Ehehe…
Kali ini kami, para jompo’ers yang sebentar lagi akan berpisah (hiks…) mengadakan polling (gila-gilaan) di sela “keseterehan” kami. Ihihi. Tapi, ternyata polling ini cukup bermakna, menjadi parameter, membentuk paradigm, dan sebagai do’a, insya Allah. Ada 21 pertanyaan. Dan, ini akan dievaluasi lagi insya Allah 5 tahun ke depan, jika Allah masih meminjamkan umur untuk kami.

Berikut Hasil polling itu...

Read More

Mimpi yang Menggerakkan!


Ng…, menyoal mimpi dan cita-cita, aku memang termasuk orang yang punya banyak mimpi dalam hidupku (cie ileeee…gayaaa cuy!). Setiap aku punya targetan dan peta hidup 5 tahun. Ehehe, kayak pelitanya pak harto ajah niiy.
(5 tahun yang lalu ketika umurku 18 tahun, aku menuliskan peta hidupku, bahwa aku punya target menikah di umur 23 tahun. Ihihi… Tapiii, sepertinya petaku sedikit berubah niih. Harus ada perpanjangan peta hingga 5 tahun. Hehe…)

Menyoal mimpi!
Bagiku, mimpi adalah sesuatu yang menggerakkan. Terserah mau mimpi seperti apa. Mau memenuhi ruang imaji sejauh apa. Selagi punya mimpi itu gak dikenakan pajak, yaah, sok, mari bermimpi setinggi-tingginya. Dari dahulu, aku selalu ingin punya mimpi yang cukup tinggi. Macam-macam saja mimpinya. Dan, tentu saja ada yang tercapai dan ada yang tidak. Tapi, kemudian, dengan tekad 1000 keberhasilan, aku berusaha untuk mencapai mimpi demi mimpi itu. Mimpi yang menggerakkan.

Dalam hal apapun, aku sebenanrnya kurang sepakat dengan kata-kata, “aih, ikuti saja hidup ini, seperti air mengalir.” Ah, terlalu pasrah! Bukankah dengan energy, air dapat mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi? Nah, kenapa harus selalu seperti air mengalir? Dan aku sangat yakin, bahwa salah satu energy penggerak itu adalah mimpi! Punya mimpi dan punya cita-cita!

Aku…orang yang cukup fluktuatif dalam hidupku. Begitu gampang down dan begitu gampang up (bersemangat!). Dan, aku juga termasuk orang yang kurang disiplin dalam menjalankan visi dan misi. Terlalu gampang mentolerir diri. Maka, dalam pertemanan, yang kubutuhkan itu adalah orang yang bisa menyangga semangatku, yang bisa menjadi buffer ke-fluktuatif-an sekaligus mendisiplinkan.
Read More

Si Akhwat Ransel


Ng…dahulu, (hingga sekarang barangkali yak?huhu) aku termasuk orang cuek soal penampilan. Mungkin slenge’an barang kali. Ketika para akhwat lain stylenya begitu femine dan elegan, aku malah sebaliknya. Ada ransel (kumal) yang besaaarr (yg katanya tak cocok sama sekali denganku karena keliyata lebih besarr dariku, heuu…) yang setia menemaniku. Kadang dengan jilbab yang mencong kiri kanan. Kadang dengan perpaduan warna yang kurang pas. Aku berpikir, “aih, aku mau jadi aku apa adanya saja. Terserahlah. It’s me. Memangnya ada yang peduli?”

Tapi…, Allah sangat cinta kerapian dan keindahan. Belakangan, aku baru menyadari betapa aku sepertinya telah “salah konsep” dalam berpenampilan. Menyenangkan sekali rasanya melihat akhwat yang begitu rapi dan elegan. Dengan style yang begitu match. Pokoknya senaaaaang ajah mata memandangnya. Di lain kesempatan, aku melihat akhwat yang sama slenge’annya denganku. Dan, memang tak menyenangkan untuk melihatnya. (melihat diriku sendiri juga, kadang2 aku jadi membandingkannya dengan akhwat lain. Heu…)

Lalu, apa maksudnya berpenampilan elegan? Apa karena berpenampilan baik itu, lalu mengundang mata di mana-mana untuk melihatnya? Aih, tidak! Bukan begitu! Sesungguhnya, baru kusadari, bahwa berpenampilan elegan, berpenampilan baik itu, sebenarnya adalah sarana da’wah juga. Bagaimana objek da’wahnya bias ‘terpikat’ coba, kalo da’I nya ajah “hancur2an” dan berantakkan begitu? Ada kisah seorang akhwat dulunya yang cukup menginspirasi. Si akhwat ini bercerita, bahwa dia “hijrah” karena melihat penampilan seorang akhwatyang sangat elegan. Dia jadi begitu terinspirasi dan akhirnya lewat itulah hidayah menghampirinya. Masya Allaah…

Jadii, buat para”slenge’an-ers” seperti diriku, hayuuk…kita berbenah. Hayuu!
Read More

Menulis=Mengingatkanku


Firman Allah dalam Qs. Ash-Shaff ayat 2 benar-benar menggetarkan hatiku, bahwa Allah telah memanggil orang2 yang beriman. Dan kata Allah, “Sangat besar kebencian di sisi-Nya, ketika kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.” Di sini Allah tak memanggil dengan sebutan “Wahai Manusia” melainkan “Wahai orang yang beriman”. Intinya, para pelakunya juga adalah dari golongan orang-orang yang beriman.

Aku mempunyai seorang sahabat, yang dahulu saaaangat mengecam music. Gitar, katanya adalah music yang haram. Tapi sekarang, dia malah senang mendengarkan musik2 yang mengandung seruling, dan gitar. Aku jadi begitu terheran.

Lalu, kemudian, aku menyadari, astaghfirullah…astaghfirullaah… Betapa sering aku ingatkan orang lain dengan tulisanku, tapi, suatu ketika akupun pernah melanggarnya. Astaghfirullaah. Astaghfirullaah…

Namun, dengan demikian apakah aku berhenti menulis hanya karena khawatir bahwa aku tidak melaksanakannya? Ah, tidak! Tidak! Tidak! Ada sesuatu rasa yang amat sangat di hatiku jika aku menuliskan sesuatu yang aku sendiri belum sanggup untuk lakukan. Maka, aku takkan menuliskan di hadapan public mengenai apa yang aku sendiri belum dan tidak sanggup untuk lakukan. Bagiku, menuliskan semuanya yang ada di pikiranku, adalah berarti BAHWA AKU SEDANG MEGINGATKAN DIRIKU SENDIRI. Bahwa aku tengah berupaya untuk mendeklarasikan bahwa aku harus melakukan ini dan harus meninggalkan itu. Jika ada orang lain yangikut membacanya, maka aku berharap juga ikut menginspirasi. Begitu…

Semoga, aku selalu menjadi tokoh utama di setiap apa yang aku tuliskan (deklarasikan). Dan juga, aku takkkan menuliskannya untuk siapa-siapa. Hanya untuk diriku saja. Karena ini rumahku, maka terserah diriku akan berekspresi seperti apa. Karena ini adalah pilihan 
Read More

Semangkuk Soup Sosis dan Sepiring Sambalado


Menu kali ini adalah semangkuk soup sosis dan sepiring samba lado. Juga menu cinta dan ukhuwah. Ba’da asyar, kami sudah stand by di dapur wisma kami. Wisma kami, surga kami, sekaligus villa kami. Kebersamaan yang hanya sebentar lagi. Giliranku kini yang memasak. Aku baru menyadari, ketika kita memasak dengan cinta, apapun hasilnya akan luar biasa. 

Intermezzo story : salah seorang akhwat pernah curhat bahwa ia sangaat malas memasak di rumah karena setiap dia memasak tak pernah diapresiasi. Selalu saja diprotes, “ini begini dan itu begitu”. Padahal, memasak adalah seni. Hasil tangan seseorang tak pernah sama, meskipun anak kembar sekalipun. Temanku yang seorang psikolog membahasakannya : individual difference. Jadiii : plajaran pertama : jangan pernah halangi anakmu untuk belajar memasak dengan mematahkannya! Apresiasilah ia. Ini adalah sebentuk upaya untuk meningkatkan motivasi instrinsik bagi mereka.

Lalu, kami saling bercerita, saling share, saling menguatkan. Di tangan kami ada wortel, kentang, sosis bawang dan cabai. Sungguh, aku begitu menikmati sejenak yang indah ini. Sempat pandanganku tertuju pada pohon kelapa yang ada di luar wisma.
Pohon kelapa itu, walaupun terlihat sama, tapi setiap orang akan memiliki penilaian yang berbeda. Ini mungkin analog yang sangat klise. Tapi, begitulah. Memang begitulah adanya. Ketika kami bercerita. Ketika kami saling memberikan pendapat tentang bagaimana mengambil sikap atas suatu masalah, atas suatu case, akan ada perbedaan-perbedaan cara pandang itu, sama seperti kita menilai satu pohon kelapa itu. Tapiii, sesungguhnya kemudian, kami menyadari, betapa ini sebuah pembelajaran. Bagiku, ini semua adalah sebuah pembelajaran. Mungkin di wisma, kami mendapatkan kehidupan yang bias dikatakan ideal atau setidaknya “limit mendekati ideal”, tapi belum tentu di luar sana. Belum tentu di luar sana. Makanya, di sini, kami belajar memahami.

Maka, sudah seharusnya kita meneladani khudwah hasanah, Rasulullaah, ketika menempatkan sikap yang berbeda terhadap masing-masing sahabat Beliau. Cara apresiasi yang berbeda pula. Beliau menyebut Abu Bakar dan Umar dengan penyebutan sikap yang berbeda. Pun begitu terhadap Bilal dan Zaid. Juga terhadap semua sahabat2 yang lainnya. Rasulullah sangat menghargai individual difference ini.

Tentang kebersamaan ini, laiknya anak panah, maka, kami telah berada di busur-busur yang sebentar lagi akan dilepas. Barangkali arahnya berbeda-beda. Masing-masing kami harus survive dengan kondisi lapangan yang ternyata jauh lebih “ganas”. Tak seideal yang kami dapatkan di wisma.

Tapi, sebuah perpisahan adalah niscaya. Kedinamisan pun niscaya. Banyak yang datang, dan jua banyak yang pergi. Berdo’a kepada Allah, semoga yang ‘pergi’ itu bukanlah kami. Salah satu bentuk kesyukuran akan hidayah-Nya adalah dengan penjagaan terhadap hidayah itu sendiri. Dan tiadalah sanggup manusia dapat melakukannya, melainkan karena rahman dan rahimnya Allah.

Semangkuk soup sosis dan sepiring samba lado akhirnya terhidang dibawah tudung saji. Menunggu waktu kami untuk “romantisme talamisasi wisma” saja. Sebuah kebersamaan yang memberikan pelajaran.
Read More

MASALAH ITU PENTING!


Begitu banyak orang tak menginginkan masalah...
Ah, tentu saja!

Tapi adakah hidup yang tanpa masalah?
Tidak!
Karena, hidup sebenarnya adalah rangkaian masalah untuk diselesaikan...
Tergantung bagaimana kita mempersepsinya saja...

Lari dari masalah...berarti sedang lari menuju masalah...

Tapii, sebenarnya penting adanya masalah,
karena dengan masalah...AKAN MENINGKATKAN RASA KETERGANTUNGAN KITA KEPADA ALLAH, yang MAHA MEMILIKI SEGALA SOLUSI...

Dia, yang berkuasa atas segala sesuatu...
Jika penyelesaiannya "diserahkan" pada Dzat yang Maha Memberi Solusi itu, maka, yang kita temui adalah...justru ketenangan...
Ketenangan yang indah...

Jadii ...
MASALAH ITU PENTING! (bukan : ITU MASALAH PENTING!)
Read More

Tak Perlu Jauh-Jauh Mencari Analgetik, Temukan saja di Sholat


Waah…serru banget kalo udah diskusi. Apalagi sama Pakar Klinisi yang gaungnya udah Nasional kaya’ bu dra. Deswinar Darwin, Apt, SpFRS. Aku tuuh memang paling suka diskusi sama ibu ceria yang satu inii. Selaluu saja ada ‘ilmu baru yang didapatkan. Nah, kali ini aku diskusi sama Ibu di Apotek. Bareng sama Uda Faris yang meng-acc kan skripsi, Da Willie yang juga meng-acc kan skripsi dan Uni Bolin yang ngasi tugas case nyaah. Kebetulan yang dibahas itu masalah obat analgetik untuk pasien kanker.

Analgetik, secara sederhana merupakan obat untuk menghilangkan rasa sakit dengan jalan menurunkan ambang nyeri. (ng…benar gak yaah macam niy? Hee…, jika ada yang salah, tafadhol dioreksi aja dah! Diriku lagi gak liyat text book. Mengandalkan isi kepala yang sederhana niy ajah). Banyak penggolongannya, mulai dari yang ringan-ringan macam antalgin dan asam mefenamat untuk sakit gigi, hingga ke morfin, pethidin and segolongan narkotik lain. Biasanya, pasien2 penderita kanker boleh dikasikan obat golongan narkotik ini untuk menyelamatkan si pasien dari rasa sakit dan jeritan yang amat sangat!

Sementara, untuk menghilangkan rasa sakit di waktu pembedahan, digunakan anastesi, dimana anastesi ini bekerja dengan cara memblokir saraf yang menuju tempat pembedahan sehingga tidak terasa sakit. Kalo bahasa umumnya dengan dibius. (lagi-lagi, tolong benarkan yang salah yaaaah)…

Mendengar cerita ini, aku jadi teringat mengenai kisah seorang sahabat yang luar biasa. Siapa yang tak kenal dengan Urwah bin Zubair ra? Sosok yang sangat luar biasa. Ketika itu beliau terkena tumor di telapak kaki yang harus diangkat. Orang-orang berkata, “kakimu harus diamputasi. Ijinkanlah kami memberimu arak agar kau tidak merasakan sakit.” Ng..berarti di sini, arak sebagai anastesi rupanya. Lalu Urwah menjawab, “Aku takkan menggunakan hal-hal yang haram untuk melakukan ketaatan kepada Rabbku.”
“Kalau begitu, ijinkan kami memberi obat tidur.”
“aku tidak suka bagian tubuhku diambil ketika tidur.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kami panggilkan beberapa orang untuk memegangi kakimu agar tidak bergerak?”
“aku akan membantu diriku sendiri.”
“bagaimana caranya?”
“Biarkan aku sholat, lalu tunggulah hingga aku tenang. Ketika aku sujud lakukanlah apa yang hendak kalian lakukan.”
Masya Allah…
Bukankah ketika seorang manusia agung terkena anak panah, jua dicabut ketika sholat?

Subhanallaah…
Sungguh, sholat sebenarnya memberikan ketenangan yang jauuuuuuh lebih tenang dari morfin sekalipun. Ia semacam endorphin luar biasa yang ditelusupkan disetiap jengkal persarafan kita. Sehingga, setelah menunaikannya, menjadi tenanglah jiwa seorang mukmin…

Kisah diskusi ini dan kisah ini, semoga menjadi pelajaran dan motivasi bagi diri kita untuk terus menerus meningkatkan kualitas sholat kita, sebab sholat adalah intinya ibadah! Bukankah dalam haditsnya, Rasulullah pernah mengatakan : “yang pertama dihisab pada diri seorang hamba di hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Tetapi bila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.
Nasihat ini, kutujukan untuk diriku sendiri terutama. Smoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.
Read More

Blajar dari Orang Gila


Pengalaman ini sungguh-sungguh membuatku jadi belajar. Meski dari seseorang yang dicemooh dan tak dihiraukan manusia lain sekalipun.

Ini pengalaman PKP Apotek siklus keempat. Aku dapat giliran dinas sore sampai malam (jam 14.00-20.00 WIB. Hiyy…serrem jugah ternyata masiy berkeliaran di Pasar Raya jam segitu). Nah, pas waktu mau asyar aku tanyakan ke kakak-kakak SPG Obat Alternatif yang ada di apotek sini, “Kak, kiblatnya kayak gini yaaah?” tunjukku pada sajadah. Entah karena ada urusan apa dan kesibukan apa, si kakaknya langsung aja ngejawab, “iya, kayak gituu…”. Mungkin tanpa memperhatikan dengan jeli. Trus tiba-tiba, ada salah satu orang yang kurang waras (baca : gila), yang konon kabarnya “tabaliak kaji” begituwh, kata orang-orang langsung nyeletuk “eeh, ndak gitu kiblat do. Kamari haaa…” Kata orang tersebut. Karena orang tersebut kurang waras begitu, aku hanya nyengir ajah ke arah dia dan langsung memulai sholat. Masya Allah, tak dinyana, ternyata kiblat yang benernya itu adalah seperti yang ditunjukkan oleh si orang gila.

Aku tercenung. Sungguh!
Astaghfirullah, aku telah meremehkan orang lain!

Plajaran dari si orang gila ini sungguh-sungguh telah mengingatkanku, bahwa KITA SEBENARNYA BISA BELAJAR DAN MENGAMBIL HIKMAH DARI SIAPA SAJA. Barang kali, sering dalam hati kita “meremehkan” orang lain yang memberikan masukan pada kita. Entah karena merasa diri lebih atau entah karena memandang rendah orang lain. Padahal keduanya sama saja. Adalah suatu akhlaq yang tercela. Padahal, dari siapapun kebenaran itu datang, jika memang benar, tentulah kita mesti ikutkan dan benarkan ia. Meskipun itu datangnya dari syetan sekali pun. Maka, dari mana pun kebenaran itu datang, dari siapapun, semestinya kita ambil, tanpa peduli orangnya siapa. Karena, siapa yang dapat menjamin diri kita lebih baik?

Ingat lagi kisah Abu Hurairah ketika ditugaskan Rasulullah untuk mengurusi zakat. (Ng…tafadhol baca lagi deh riyadhus shalihin, karena kebetulan bukunya lagi ketinggalan dan takut juga bikin dengan redaksional sendiri. Takut salah makna). Intinya, selama tiga malam berturut2 Abu Hurairah didatangi oleh orang yang menghiba minta dikasi zakat karena katanya anak istrinya belum makan. Trus, ketika Rasulullah menanyakan bagaimana kondisi tadi malam, Abu Hurairah ra pun menceritakannya. Lalu Rasulullah berkata, “Dia itu pembohong”. Setelah 3 malam berturut-turut, akhirnya Abu Hurairah tidak mau menyerahkan zakat lagi dan menangkap orang itu, sehingga si orang itu berkata, “Lepaskanlah aku. Akan kuberitahu sebuah kalimat yang membuat setan tak akan mendekatimu. Yaitu membaca 1 ayat dari surat Al Baqaroh (ayat qursy).” Ketika Abu Hurairah menceritakan kepada Rasulullah, Rasulullah mengatakan, bahwa apa yang dikatakan si pembohong itu adalah benar. Dan si pembohong itu sebenarnya adalah syetan.

Nah…nah…, bahkan jika pernyataan yang benar itu datangnya dari setan sekalipun, tetaplah kita ambil kebenaran itu kan yaah?
Smoga ini jadi plajaran buat qta, agar kita mengambil yang benar itu dari mana saja, tanpa harus memandang seperti apa si penyampainya.
Read More