Hafidz

CERPEN

Pagi dengan kicauan burung yang merdu, bertasbih pada-Nya. Embun fajar pun masih terasa menyegarkan. Kania masih saja asyik bergelut dengan mushaf di tangannya dan sibuk komat kamit menghafalkannya. Sesekali diliriknya juga mushaf itu, jika ada yang terlupa. Dia terus mengulang dan lagi-lagi mengulang Surah Annisa’ ayat 24 hingga 26 itu. Inilah rutinitas yang senantiasa di lakoninya, dan dia sungguh sangat menikmati itu. Sebuah kenikmatan yang takkan rela ia tukar dengan apapun kenikmatan dunia lainnya, meskipun seluruh kekayaan bumi dilimpahkan padanya.

Kania, gadis belia yang satu tahun lalu menamatkan studinya di Manajemen, Fakultas Ekonomi di sebuah universitas negeri di kotanya. Orang tuanya, berharap, suatu saat, anak semata wayangnya itu akan mewarisi perusahaan kertas milik ayahnya. Gadis cantik semampai dengan hidung bangir itu pada mulanya, juga diharapkan bisa menjadi public figure dengan modal parasnya yang lumayan. Sebab, pada beberapa kali momen, dia seharusnya menjadi duta wisata, di Propinsinya. Namun, ia melepas semua kesempatan yang justru diidamkan kebanyakan perempuan itu, tepat pada momen puncaknya.

Kehidupan kampus membawanya kepada hidayah yang membuatnya enggan mengikuti momen2 yang lebih mengutamakan menampilkan fisik itu, kendatipun kedua orang tuanya sangat ingin. Ia lebih memilih menutupinya dengan jubah lebar dan jilbab panjangnya.

Setelah melakukan muraja’ah hafalannya ba’da subuh, Kania turun ke dapur membantu mamanya menyiapkan sarapan pagi.
“Bagaimana, Kania? Katanya mau Hafidz? Itu, sudah ditawarkan, koq malah ndak mau?” Ini adalah kalimat pembuka dari mulut sang mamanya ketika ia baru saja sampai di dapur. Bibirnya langsung mengkerucut. Ia tersenyum kecut.

Haduuuh, mama, lagi-lagi masalah itu!Ia membatin.

“Kok diem aja sih?” Mamanya kembali bertanya.
“Haduuuh, mama kusayang….” Hanya itu gumaman yang keluar dari mulutnya.

Ingatannya melayang pada peristiwa demi peristiwa. Mamanya, yang pengin menimang cuculah. Dan, tawaran-tawaran yang datang dari relasi bisnis papanya. Mulai dari yang sesama SE, hingga yang sudah MBA. Mulai yang mengelola perusahaan kecil hingga direktur dan eksekutif muda yang kaya raya. Tapi, semuanya hanya menjadikan uang sebagai standardisasi. Dan, bagi Kania, itu semua belum memenuhi criteria!

Hingga, setelah lelah dengan semua penolakkan itu, mamanya akhirnya pasrah dan bertanya sebenarnya, maunya Kania yang seperti apa.
Dijawabnya dengan sekulum senyum kala itu, “Mama, Kania pengennya siiih, belajar Al Qur’an dulu, barulah nanti memikirkan berkeluarga.”
“Tapi Nak, kamu itu sudah 24 tahun! Sudah cukup dewasa. Sekarang cerita deh ke mama, maunya yang bagaimana. Kalau Kania suka, meskipun dia bukan seorang menejer yang punya perusahaan, mama setuju koq.”
Lagi-lagi, Kania hanya mengulum senyum. “Ma, apa yang mama sampaikan itu baik, dan Kania pun tidak ada alasan untuk mengelak. Dan, jika itu baik buat urusan dunia dan akhirat Kania, baiklah Ma, Kania pun akan berusaha untuk melirik ke arah sana.” Kania berkata bijak. “Kania maunya yang Hafidz , Ma”

Dan, selang beberapa minggu setelah itu, mama benar-benar membawa seorang Hafidz ke rumahnya. Kania kaget bukan main. Lalu ia pun tertawa, tapi mati-matian ia tahan cukup dalam hati. Pasalnya, sang mama tercintanya membawa seorang yang BERNAMA HAFIDZ. Haduuh, mamaku sayang. Bukan yang bernama Hafidz, Mama! Tapi, yang Hafidz.

Mamanya kontan heran, dan bertanya-tanya, Hafidznya yang bagaimana. Sudah dibawakan seorang Hafidz pun, masih saja ditolak. Dengan sabar, akhirnya Kania pun menjelaskan Hafidz yang ia maksud adalah seorang penghafal Al Qur’an. Dan, pagi ini pun, mamanya masih mengusik masalah yang sama. Masalah hafidz.

“Ma, bisnis kita sekarang mulai menanjak naik.” Kania berusaha mengalihkan topic. Dan, akhirnya dua ibu dan anak itu pun larut dalam perbincangan menyoal bisnis mereka. Dan, kania pun menarik nafas lega.

***


Beberapa bulan setelah itu, pembicaraan Hafidz pun mulai mereda. Mungkin mamanya juga sulit menemukan seseorang yang Hafidz. Dan, untuk sementara, Kania bisa bernafas lega.

Sesungguhnya Kania bukan tidak memikirkan apa kehendak mamanya. Dan ia pun menyadari akan masalah umurnya. Apalagi perempuan. Tapi, ia serahkan bulat-bulat urusan ini pada Allah semata. Jika ditanya soal keinginan hatinya, aa sesungguhnya ingin terlebih dahulu mendalami ilmu Al Qur’an dan pengamalannya. Ia ingin menikmati ini terlebih dahulu. Toh, bukankah Allah tidak akan menyia-nyiakan ima hamba-Nya? Allah lebih tau mana yang terbaik untuknya. Ia, tidak terlalu khawatir soal jodoh, seperti kekhawatiran mamanya, sebab, ia SANGAT YAKIN dengan apa yang Allah tengah siapkan untuknya. Apalagi, ketika ia berusaha menjadi “keluarga Allah”. Menjadi

Hingga, suatu hari mamanya dengan sumringah menyuruhnya berganti pakaian dan mengatakan dengan bangga bahwa akan ada seseorang yang datang. Pada akhirnya, Kania mengikuti apa maunya sang mama, dan berganti pakaian. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan itu?

“Kali ini benar-benar Hafidz lho, Kania. Bukan seseorang yang bernama Hafidz. Tamatan sekolah tinggi agama gituh.” Sang mama seperti tahu saja apa yang ada di benak Kania. Kania kaget. Benarkah?

Sore itu, Kania di hadapkan pada sosok yang katanya Hafidz. Masya Allah benar-benar hafidz. Ia dapat menyebutkan dan membacakan ayat yang diminta Kania, juz berapa, ayat berapa, surat apa pun. Namun, satu hal yang Kania tidak habis pikir, kenapa pula asap rokoknya tidak berhenti mengepul? Dan, dengan bangga pula menyatakan bahwa dalam satu setengah tahun ia telah hafal Al Qur’an karena IQ-nya yang tinggi. Baginya, menghafal itu mah gampang. Sungguh, Kania tidak habis pikir dibuatnya. Bagaimana seorang penghafal Al Qur’an bisa bersikap demikian?

Pun, ketika laki-laki itu berlalu dari rumahnya, dan mamanya menanyakan kesediaanya, ia langsung menggeleng dengan hati sedih. Amat sangat sedih. Bukan karena ia tidak mendapatkan seorang hafidz tersebut, tapi karena ia sangat sedih, ada seorang Hafidz yang sikapnya begitu, yang tidak henti-hentinya menghisap rokok. Yang sikapnya sedemikian rupa congaknya.

Beberapa menit setelah itu, ia telah sampai di rumah guru ngajinya, dan menumpahkan segala apa yang menyesakki jiwanya. Tentang kesedihannya, mengapa ada seorang penghafal Al Qur’an yang akhlaknya demikian?

Sang guru ngajinya kemudian tersenyum. Dan menjelaskan, bahwa ada orang-orang yang membaca dan menghafalkan Al Qur’an, akan tetapi Al Qur’an itu melaknat dirinya, ini seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik, ra. Ia membaca “ala la’natullah ‘ala dzalimin, sementara ia la orang yang dzalim itu. Mengapa hal itu terjadi? Karena ia menghalalkan apa yang diharamkan Al Qur’an dan mengharamkan apa yang dihalalkan Al qur’an.

“Intinya di sini adalah siddiqunniyah. Kejujuran dan kebenaran hati kita dalam niat mempelajari ayat-ayat-Nya. Jika hanya ingin mendapatkan pujian manusia, ingin dikatakan sebagai seorang Hafidz, yaah, tentu saja akhlaqnya tidak mencerminkan demikian.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abi Hurairah ra., Rasulullaah saw bersabda, “Orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang dinilai mati syahid. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia mengetahui hal itu. Kemudian Allah swt bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, ‘Aku berperang membela agama-Mu hingga aku mati syahid’. Allah SWT berfirman, ‘Kamu berdusta karena kamu berperang hanya untuk dikatakan pemberani dan itu sudah dikatakan orang.’ Kemudian diputuslah perkaranya, ia diseret dnegan tertelungkup dan ia dilemparkan ke neraka. Kemudian seseorang yang telah mempelajari Al Qur’an, mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya disampaikan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia mengakuinya. Kemudian Allah swt bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, ‘Ak mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya kepada manusia dan ak membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah SWT berfirman, ‘kamu berdusta karena kamu mempelajari Al Qur’an agar dikatakan sebagai orang alim, dan engkau membaca Al Qur’an agar manusia mengatakanmu sebagai qari. Dan itu sudah dikatakan orang.’ Maka kemudian diputuskan, ia diseret dengan tertelungkup dan ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya seseorang yang Allah SWT berikan keluasan harta dan bermacam-macam kekayaan. Orang itu dihadirkan, kemudian kepadanya dibeberkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia mengetahui hal itu. Kemudian Allah swt bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ ia menjawab, ‘setiap aku mendapati jalan dan usaha kebaikan yang Engkau senangi agar aku nafkahkan hartaku untuknya, aku segera infaqkan hartaku demi-Mu.’ Allah SWTmengomentari jawaban itu, ‘Kamu berdusta karena kamu melakukan itu semua agar dikatakan sebagai seorang dermawan dan itu telah dikatakan orang.’ Maka kemudian diputuskan, dan ia ia diseret dengan tertelungkup dan ia dilemparkan ke neraka.”
Masya Allah….
Tiada yang dapat menjamin diri kita. Tiada!
Bahkan, pun ketika Alla putuskan bagi seseorang itu surga, belum tentu ia memasukinya karena amalan-amalan yang dilakukannya. Itu, tiada lain adalah karena Rahmat Allah. Jadi intinya, kita berusaha untuk selalu mendekatkan diri pada-Nya, merayu-Nya. Adakah sesuatu yang lebih tingi dari pada keridhaan-Nya?

Sungguh, tidak pantas bagi seorang penghafal Al Qur’an ikut wara-wiri dengan kemaksiatan2 itu.

Kania tercenung mendengarkan penjelasan guru ngajinya. Benar0benar tercenung. Sungguh, dirinya pun begitu banyak maksiatnya. Begitu banyak. A
staghfirullaah…. Nastaghfirullaah…

Maka, muncul tekad di hatinya, untuk memperbaiki, dan menjadi lebih baik lagi. Tidak! Yang aku inginkan bukan hafidz yang demikian. Tapi, seseorang yang berafiliansi terhadap Al Qur’an. Membacanya, mengamalkannya, hanya karena Allah. Sungguh, akan berbeda ruh orang-orang yang memiliki siddiqunniyah dalam mempelajari Al Qur’an dengan orang-orang yang hanya sekedar meghafalkannya sebagai sesuatu utinitas, apalagi ingin dikatakan sebagai seorang hafidz/hafidzah!

“Kalau para penghafal A Qur’an mengambilnya dengan haknya apa yang seharusnya, niscaya mereka akan dicintai Allah. Namun, mereka mencari dunia dengan Al Qur’an itu, sehingga Allah SWT marah terhadap mereka dan mereka pun menjadi hina di hadapan manusia.”

Diriwayatkan dari Abu Ja’far bin Ali dalam firman Allah SWT, “Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirbalikkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat. (Qs. Asy Syu’ara’ : 94). Ia berkata, “Mereka adalah kaum yang menceritakan kebenaran dan keadilan dengan lidah mereka, namun mereka justru melakukan yang sebaliknya.”

Astaghfirullaah lii wa lakum…
Na’udzubillahi min dzalik…
Berselindung kita kepada Allah… semoga Allah senantiasa tunjuki kita jalan kebenaran.


nb : Potongan cerita di atas tentu saja hanyalah fiktif belaka (namanya jugak cerpen yang notabene fiksi yak? Hihih). Jika ada kesamaan nama, tokoh, sifat, tempat de es be, itu hanyalah kebetulan belaka tanpa perlu adanya tendensi kepada siapapun.


Dzulqo'dah 1431 H
Read More

Sepenggal Cerita....

Assalaamu'alaykum Blog-ku....
Apa kabarmu?
Maafkan, sudah cukup lama aku tidak membersamaimu....

Bukan karena aku sedang tidak ingin bercerita padamu,
Karena, Sungguh, begitu banyak yang ingin kuceritakan....begitu banyak....
Hanya saja, tentu saja, aku tidak bisa online seperti biasa...
Seperti hari ini, aku hanya menyempatkan waktu sesaat untuk mengunjungimu....

Blog-ku....
Banyak yang ingin kuceritakan...
Tapi, sepertinya kita harus berdamai dulu dengan waktu....
Untuk beberapa jenak saja...
Kau bersediakan?

Blog-ku...
Kau tahu?
sungguh, setiap sudut di kota ini, bagiku adalah Kenangan...
Yang membuat aku begitu jatuh cinta pada kota dingin ini, pada kota hujan ini....
Meski aku tidak ingin kembali kepada masa-masa 8 tahun silam, tapi....kenangan itu berkelebat begitu saja...

Namun, ada hawa yang berbeda kali ini,...
Hawa kesejukkan yang begitu menentramkan qolbu...
Kota yang begitu bersahbat dengan ayat-ayat-Nya...

Blog-ku....
Sungguh menakjubkan aku memandangi pemandangan-pemandangan langka...
Pos Satpam yang hampir saja identik dengan laki-laki nakal yang suka menggoda perempuan yang lewat,
Kini menampakkan wajah yang berbeda...
Yang ada di sana justru satpam-satpam yang bertilawah di dalam pos nya...
Yang menjaga pandangannya...
Luar biasa, Bukan?

Kau harus tau juga Blog-ku...
Bahwa ada sosok-sosok inspiratif yang hanya dengan melihat wajahnya saja, kita temukan kesejukkan....
Ketika mereka berkata, maka perkataannya adalah kebaikan....
Mereka, yang wajahnya bercahaya...bersih....dan memancarkan keindahan...
Mereka bukan perempuan-perempuan cantik...yang begitu rela memamerkan anugrah yang Allah beri pada wajah dan tubuh mereka...
Tapi, mereka adalah orang-orang yang senantiasa menghidupkan Al Qur'an dalam diri mereka....
Dalam setiap tindak tanduk mereka....
Aku sungguh kagum, Blog-ku....

Blog-ku....
Memandangi mereka, aku menjadi malu....
Sungguh....
Karena aku begitu jauh...sangaaat jauh dari itu.....


Blog-ku....
Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan....
Tapi, sayang, untuk saat ini, harus berakhir....

Kau masih setia kan, menunggu ceritaku, untuk kutulisi?





Padangpanjang, the luvely sweet hometown.....
Penghujung SYawal 1431 H...
The key is....."Siqqunniyah!"
Read More

Logaritma Kehidupan

Cihaaaa, jadi guru matematika. Hihi.
Liburan begini, salah satunya agendanya, kuhabiskan dengan membahasal soal matematika. (mw ngapain coba?? Mau ngulang SPMB lagi dan ngambil kedokteran. Hihii. Gak laaaah! Gak banget!).
Ini karena, adikku dan beberapa teman2 sekolahnya, minta diajarkan matematika. Berhubung, aku cinta sama plajaran yang satu ini, akhirnya kupenuhi juga keinginan mereka itu. Yah, itung2, merecall memory 8 tahun silam. Hihi. (Sebenarnya, bukan 8 tahun silam jugak siiih, karena, semasa masi kuliyah kemarin, aku jugak sering menemani adik2 yang mau SNMPTN buat ngebahas beberapa (tidak semua loh yaah, karena untuk beberapa topic kayak statistika, pertidaksamaan dan fungsi, aku tidak terlalu suka), umumnya yang ada kaitannya dengan eksponensial, aljabar dan dimensi tiga (kalo dimansi tiga maah, aku paling demen! Hihihi).

Nah, berhubung Bab 1 plajaran matematika kelas 1 SMA (eih, skarang kelas sepuluh yah?) itu adalah bab pangkat, akar, eksponensial dan logaritma, maka tentulah plajaran itu yang dibahas. Sambil menyelesaikan soalnya, (yang semestinya menggunakan otak kiri)…eih….otak kananku malah bersorak-sorai ria, membentuk analog-analog sendiri. Tentang logaritma dan persoalan hidup.

Penyelesaian masalah hidup itu seperti menyelesaikan persamaan logaritma dan eksponensial. Mengapa? Karena, sampai di mana pun step-step yang kita jalani itu maka hasilnya adalah benar, ketika fungsi dan sifat yang kita gunakan adalah benar. Tapi, persoalannya, apakah hasilnya sederhana atau tidak. Itu saja.

Mari sejenak, kita telik salah satu soal logaritma dari sekian banyak contoh-contah yang ada ini. Lihatlah, dengan menggunakan dan memanfaatkan segala sifat yang ada pada logaritma, maka, setidaknya, ada 6 step yang harus dilalui sehingga diperoleh hasil yang sederhana. Pada step mana pun kita berhenti, selagi masih dalam penggunaan sifat yang benar maka nilainya semuanya adalah benar. Tapi, apakah soal ini menjadi sederhana, jika kita hanya berhenti di step 3 misalnya? Tentu tidak! Walaupun hasilnya adalah benar. Pun, ketika kita melewati step 4, kita dapat memilih langkah yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Yang ini menyiratkan bahwa, penyelesaian itu tidaklah harus pada satu jalan saja. Ada banyak jalan, selama masih berada dalam penggunaan fungsi yang benar.

Begitu pun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Mungkin, setiap kita memiliki langkah-langkah yang berbeda. Hanya, saja, persoalannya, apakah kita telah mampu mencapai penyederhanaannya dan menuju ending point sesuai dengan apa yang Allah tetapkan? Sedikit saja ada penyimpangan jalan, maka, penyederhanaan itu takkan pernah dicapai. Lihatlah, pada logaritma tersebut, sedikit saja, kita salah menggunakan fungsi logaritma itu, maka hasil yang dicapai, ending pointnya tidak pernah tercapai.

Fungsi logaritma ini mengajarkan kita pada banyak hal dalam menyelesaikan persoalan hidup. Jika soal logaritma itu adalah persoalan hidup, dan sifat logaritma itu adalah petunjuk dan rambu-rambu kehidupan ini, maka, penyelesaian setiap langkah-langkahnya itu adalah bagaimana kita menyelesaikan persoalan kehidupan tersebut. Selama kita masih berada dalam rambu-rambu yang benar, maka hasilnya adalah benar. Dan, selama kita jeli dalam menggunakan fungsi dan sifatnya, maka insya Allah yang kita peroleh adalah…PENYEDERHANAAN PERSOALAN HIDUP itu sendiri. Barang kali, kita kadang menemukan kebuntuan ketika hasilnya tidak menjadi sederhana. Hal ini mengajarkan kita agar belajar lebih banyak, sehingga dengan sifat dan fungsi yang ada, kita dapat menyederhanakannya. Jika hanya sedikit dari sifat logaritma ini yang kita tahu, maka, tentu saja, kita menemui kebuntuan dalam menyelesaikan soal-soal itu. Akan tetapi, jika kita mengusai dan memahami semua sifat-sifatnya, maka akan ada jalan penyelesaian yang memenuhi sifat-sifat dan fungsi itu sehingga penyederhanaan dan ending poinnya tercapai. Sama seperti, bagaimana kita mempergunakan rambu-rambu yang telah ditetapkan-Nya dalam menyelesaikan persoalan hidup. Jika pengetahuan kita sedikit, maka barang kali kita banyak menemui kebuntuan-kebuntuan, dan keruwetan yang tak kunjung menemukan penyederhanaannya. Akan tetapi, ketika kita berusaha untuk memahami diin ini secara menyeluruh, insya Allah penyelesaian itu akna kita temui. Intinya, adalah sebenarnya, kita mesti banyak belajar lagi. Dari kehidupan ini.

Ah, persoalan. Apapun jenisnya, apapun tingkat kesulitannya, pasti akan menghadang kehidupan kita. Karena, sesungguhnya, hidup itu, adalah perpindahan dari satu masalah, ke masalah berikutnya. Letak poinnya adalah, bagaimana kita menyelesaikan langkah demi langkahnya, apakah dengan jalan yang benar atau tidak. Dan, sesungguhnya pada diri kita, setiap kita, telah disediakan-Nya precursor penyelesaian itu sendiri. Sebab, Dia tidak akan membebani kita dengan persoalan yang kita tak punya precursornya, bukan?
Read More

Tua dan Pikun

Gerimis di suatu siang. (howalaaaa, nguing…nguing…melankolis bangetz niih? Hihi)

Yah, emang gerimis waktu itu. Angkot warna merah jurusan Pasar Raya-Belimbing melaju dengan kencang menembus sang gerimis. Dan, tiba-tiba, seorang nenek tua menyetop si angkot. Dan, sang supirpun menginjak pedal rem, menghentikan kendaraannya. Nenek itu naik, dan duduk di sebelahku.

Tanpa ba-bi-bu-ba, si nenek langsung saja mengajakku ngobrol tanpa henti. Macam-macam saja yang diomongkannya, mulai dari cuaca yang terus hujan, harga sawah warisannya, tentang apapun lah, yang aku sudah lupa persisnya apa. Tiada yang kulakukan, kecuali mengangguk-angguk mengiyakan ciloteh sang nenek (entah apa yang aku anggukkan, akupun tak mengerti…hihihi) dan tersenyum-senyum mendengar cerita panjang sang nenek. Beberapa penumpang lain melirik ke arah kami sambil tersenyum-senyum. Entah apa makna senyum itu. Barangkali,mereka ikut senyum-senyum mendengarkan cerita-cerita si nenek itu. Aku merasa tak perlu mengeluarkan satu patah kata pun untuk menimpali sang nenek, karena toh beliau tak butuh timpalan. Menurut suatu teori psikologi (entah ini benar redaksionalku atau salah, dan entah siapa pula yang mengatakannya), orang tua umumnya hanya butuh untuk didengarkan curahan hatinya. Yah, mereka hanya butuh didengarkan!

Ketika angkot merah telah sampai simpang by pass kampus, tibalah saatnya aku harus turun dari angkot itu, dan berganti dengan angkot hijau Lurus, pasar baru-pasar raya. Sesaat sebelum turun, masih sempat kupandangi wajah nenek itu yang sudah mulai terkantuk-kantuk.

Ah, jika Allah panjangkan umur, maka menjadi tua adalah keniscayaan. Seberapapun banyak orang berusaha menutupi guratan tua itu dengan berbagai kosmetik berkelas, namun, tua tetaplah sebuah ketuaan. Sebuah keniscayaan yang takkan pernah dapat dinafikan. Berbicara masalah tua, maka, berbicara masalah masa. Masa yang amat sejenak, jika harus dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang begitu panjangnya. Lalu, pertanyaannya, kemana saja masa-masa yang telah lalu itu dipergunakan?

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya…” (Qs. Al Hajj : 5)

Stage-stage yang amat nyata yang Allah gambarkan. Akan seperti apakah masa itu berakhirnya? Sungguh, telah banyak kesia-siaan yang dilakukan! Terlalu banyak! Sementara, masa itu tiadalah kembali! Ah, sungguh! Sungguh naïf!

Maka, jika tidak ingin lembar sejarah buruk itu berulang, yang semestinya harus dilakukan MEMBENAHI KEHIDUPAN INI! Iya, benahi hidup!

Dari Abu Shafwan ‘Abdullah bin Busr Al Aslamy ra. Berkata, Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” (HR. At Tarmudzy)
Read More

Tukang Cukur Gadungan

Ini adalah kejadia di mana aku menjadi begitu trauma memotong eh…memangkas rambut laki-laki. Hari yang begitu naas! Halaaaaah, lebaynya! Hihi.

Jadi ceritanya begini. Kebetulan adikku yang sebentar lagi sweetseventeen ituuh (hehe, penting gituh disebutkan pulak!) akan balik ke asramanya lagi. Dan rambutnya itu sudah begitu gondrongnya. Hihi…gak gondrong jugah siih. Dah lebih panjang lah dari ukuran biasanya. Nah, si adikku iniih, mendatangi tukang cukur dan ternyata pada tutup. Adanya Cuma tukang salon doang (masa’ siih mau nyalon pulak!). Sementara dia sudah harus balik ke asramanya besok pagi.

Akhirnya, dia minta tolong kepadaku untuk memotongkan rambutnya. Awalnya aku menolak. Mana bisa aku motong rambut cowo’. Kan beda yah, sama anak perempuan. Tapi, karena dianya terus minta tulung, ya udaah, aku akhirnya NEKAD bersedia motongin itu rambut.

Alamaak….Masya Allah.
Ternyata memotong rambut anak laki-laki itu jauh beda dengan perempuan. Sangadh jauh berbeda. Aku jadi “ngeri” skali melihat hasilnya yang acakadut begituuh. Dan, sayang sekali, memanjangnya rambut tentu saja tidak secepat memotongnya. Sisanya,…yah penyesalan dong! Dan, harus menunggu 1-2 bulan untuk bisa kembali dirapikan.

Aku jadi belajar banyak hal dari peristiwa ini. Plajaran pertama, dalam melakukan apapun MODAL NEKAD SAHAAJA KAGA CUKUP, Bung! Yaph, modal nekad saja tidak cukup. Mau melakukan apapun, sesederhana apapun itu. Ini mengajarkan betapa arti pentingnya mempersiapkan segala sesuatu, mempertimbangkan segala sesuatu. Bahkan, hanya perkataan sekalipun. (waah! Gubraaak! Kalo ini mah saia kenaaaaak niiih! Hihi). Jika ada yang mau melakukan sesuatu dengan modal nekad sahajaa, maka bisa hampir dipastikan hasilnya akan jauh dari harapan. Mungkin ini pula hikmahnya, Islam begitu indah mengajarkan PENTINGNYA ILMU SEBELUM AMAL. Yaph, mendahulukan ‘ilmu atas ‘amal. (hee…ada hubungannya gak yah, sama nekad-nekad-an?). Uhm…, setidaknya beginiiih, ketika kita lakuin sbuah amal dengan “modal nekad” sahaajaa, tanpa ada ilmu yang mendasarinya, maka, bisa jadi cara yang kita lakukan itu jadinya salah, atau malah yg lebih parah, jatuhnya pada mengada-adakan hal baru dalam beragama (a.k.a bid’ah). Na’udzubillaah. Smoga Allah jauhkan kita dari hal ini. Dan, smoga ini jadi pelecut smangat buat terus blajar.

Trus…trus…jika sudah nekad begituuh, dan hasilnya malah menjadi acakadut, yang timbul adalah penyesalan! Dan sayang sekali, dengan ke-nekad-an yang mungkin sekejap waktunya, tapi penyesalannya bisa dalam waktu yang lama! Pelajaran kedua, ke-nekad-an bisa menimbulkan penyesalan yang bahkan bisa jadi lebih panjang umurnya dari pada lama kenekadan itu sendiri. Uhm…syukurlah masih rambut, yang penyesalannya mungkin hanya 1-2 bulan dan insya Allah masih ada waktu untuk memperbaikinya. Lalu, bagemana jika penyesalannya itu terjadi di yaumil hisab di mana penyesalan-penyesalan di masa itu tiada lagi berguna? Ketika orang-orang kafir minta dikembalikan lagi ke dunia dan berazzam dengan sepenuh-penuhnya azzam untuk berbuat kebaikan dan melakukan amal shalih. Bukankah itu semua hanyalah keabsurban belaka. Sungguh, amat celakalah penyesalan di masa itu. Semoga Allah jadikan ujung amal kita dan penutup hari-hari kita adalah hari-hari dengan penuh amal kebaikan.

“Ya Allah, jadikanlah umur terbaik kami di penghujungnya, jadikanlah amal terbaik kami di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik kami saat bertemu dengan-Mu.”

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan anugrahkanlah ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami kepada surga-Mu, anugrahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami musibah di dunia ini. Ya Allah, anugrahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran, penglihatan dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia arisan dari kami. Jadikanlah balasan kami tas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Janganlah Engkau jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.”

 “Allahummaa amiiin….”
Read More

Mengisi Jiwa-jiwa Transisi


Aku semakin sadar, bahwa, memasuki sebuah tujuan yang benar dengan pintu yang salah, tetap saja menghasilkan sesuatu yang tidak benar. Ini semua mengajarkanku betapa pentingnya sebuah proses itu. Kendatipun amalan itu tergantung pada ujungnya, tapi, bukan berarti kita mengabaikan prosesnya karena toh ujung yang baik sangatlah bergantung pada proses yang baik.

Baiklah, ini sebuah plajaran berharga untukku, dalam hal “memasuki” jiwa remaja di masa transisinya. Ini, adalah kesempatan untuk mengarahkan pribadi-pribadi itu. Adik-adikku terutama…
Sungguh, aku ingin belajar lebih banyak tentang dunia ini. Tidak hanya anak-anak –dunia yang benar2 ingin kudalami—tapi juga remaja. Karena, ternyata, di sinilah fondasi itu. Bolekah aku menamakannya sebagai “landasan berpijak”? Yak, memang di sinilah kuncinya. Apalagi, di tengah arus modernisasi dan westerninasi sekarang yang semakin menggerus para remaja menuju titi nadhir. Sehingga “millah-millah” mereka yang senang dengan kehancuran islam, menjadi ikutan yang dibangga-banggakan. Yang lebih mirisnya, mereka tidak tahu, entah ke arah mana mereka tengah digiring. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, ke mana dibawa, ikut saja.

Terkadang, aku sedih juga, melihat para aktivis da’wah yang sedang ghiroh-ghirohnya, mengisi kajian kepada remaja-remaja di sekitar kampus, alumni sekolah, atau remaja mesjid. Bagus memang. Tidak ada yang salah. Bahkan, ini memang adalah suatu pekerjaan mulia. Tapi, yang amat disayangkan, ketika kita melupakan keluarga kita sendiri, adik-adik kita sendiri. (maap, aku tidak sedang menuduh siapapun melainkan telunjuk itu sedang di arahkan pada diriku sendiri). Mungkin kita bisa saja berdalih, “Manusia agung sekaliber Nabi Nuh dan Nabi Luth saja, tidak bisa menda’wahi keluarganya, apalagi kita!”. Hei, tunggu dulu! Bukankah kekafiran keluarga mereka BUKAN tanpa peringatan, tanpa ajakan dan da’wah dari manusia agung tersebut? Bukan tanpa ikhtiar! Bahkan, sudah demikian pun, Nabi Nuh tetap berdo’a untuk keluarga mereka, tetap mengajak anaknya naik ke kapal itu, bukan?

Yang kumaksud di sini, adalah tanpa ikhtiar. Asyik masyuk di luar sana, tapi lupa dengan keluarga sendiri. Ikhtiarnya! Prosesnya. Itu yang penting.

Memanglah, da’wah kepada keluarga memiliki rintangan yang berbeda dengan da’wah terhadap orang lain. Apalagi dengan adanya paradigm dari para mad’u bahwa sang da’I adalah selalu yang baik, selalu yang benar dan….jauh dari kesalahan. Padahal, kita pun orang yang begitu dhaif. Begitu banyak khilaf dan alphanya. Dan keluarga, tentulah orang yang paling paham, paling tau, dan paling mengerti bagaimana baik dan buruknya kita. Sehingga, sedikit saja salah, langsung jatuh “imej”nya.

Nah, menurutku, di sini, kita perlu menghindari segala bentuk figuritas. Bahwa, orang lain menjadi baik seharusnya bukan karena kitanya baik. Ketika kita sediit saja mengalami penurunan, maka orang yang memfigurkan itu ikut menurun, bahkan futur dan berbalik arah. Jadi, jangan menggiring orang lain pada pemfiguran. Bukan berarti di sini, khudwah itu tidak menjadi penting. Khudwah tetaplah sesuatu yang penting. Bahkan sangat penting. Karena, sangat besar kebencian di sisi-Nya ketika kita tak berbuat sementara kita berkoar-koar demikian. Tapi, wujudnya adalah, ketika kita mengatakan sesuatu, maka, kitalah yang yang pertama menjadi pelakunya. Pemeran utamanya.

Satu pelajaran berharga yang kudapatkan dari da’wah terhadap keluarga terutama pada adik-adik adalah adalah…MEMASUKI dengan HATI. Yak, masuki dengan hati, dan berbahasalah dengan bahasa jiwa mereka. Bukan dengan bahasa jiwa kita, apalagi keinginan kita yang terlalu dipaksa. Dahulu, ketika masih ghiroh2nya (hehe, memangnya sekarang gak ghiroh yak? Hehe, bukan begitu ding! Dulu teh Ghiroh buta, barangkali), aku begitu ingin (mungkin ambisius) untuk menjadikan dan “menyulap” adik-adikku menjadi seorang akhwat atau ikhwan. Mereka harus berakaian rapi, harus ikut kajian mentoring, lalu, salimul aqidah, shahihul ibadah, matinul khuluq…dst (hehe, muwashofat deh…). Tapi, aku focus pada “out put” bukan proses. Aku seolah-olah tak membiarkan mereka memiliki ruang pada diri mereka, pada pemahaman mereka, pada hati mereka. Dan kau tahu? Pada akhirnya, semua gagal. Tentu saja gagal! Dan, bisa dipastikan GAGAL. Meskipun sukses, hanya sebentar saja. Selagi aku masih bisa membersamai dan mengawasi mereka. Lalu, ketika aku harus balik ke Padang, semua kembali ke sedia kala.

Maka, memanglah sebenarnya yang utama adalah….MELALUI PENDEKATAN HATI…dan TIDAK PERLU “MENYULAP”NYA MENJADI APAPUN, kendatipun itu baik! Sekali lagi, kendatipun itu BAIK! Tapi, kita TIDAK BISA MENJADIKANNYA SEPERTI APA YANG KITA INGINKAN! Itu yang kumaksudkan dengan sepotong kalimat pembuka di atas, meskipun dengan tujuan yang benar, tapi caranya salah tetaplah hasilnya akan salah.

Maka, yang terpenting adalah –sekali lagi—masuki hatinya, masuki dunianya…dan berbahasalah dengan bahasa jiwanya. Karena, apa yang kita pikirkan, harapkan dan pahami, TIDAK lah sama dengan apa yang mereka pikirkan, harapkan dan pahami. Ikuti saja dunianya. Lalu, kemudian, perlahan, baru mengajaknya ke arah positif. JANGAN SEKALI-KALI menetapkan target padanya, “kamu harus begini, begini dan begitu yah Dek.” Tapi, biarkan dia berkembang menjadi dirinya, apa adanya. Pahamkan….cukup pahamkan saja. Dan, biarkan ia melakukan perubahan demi perubahan itu….dengan apa yang mereka pahami, bukan apa kita doktrin!

Ah, maafkanlah aku. Barang kali, aku memang tidak faqih. Mungkin ada yang akan mengatakan, “alaah, sesederhana itukah isi kepalamu?” (hihi, ndak bermaksud cu’ujon koq. Hihi…). Aku memang memiliki sedikit ilmu. Apa yang kusampaikan ini, adalah apa yang kurasakan sahajaa. (hehe, katahuan banget yah, betapa tak berilmunya aku). Tapiiiii, mudah-mudahan dengan begini…aku menjadi lebih banyak belajar. Aku memang tidak perlu malu untuk memperlihatkan betapa sederhananya aku dalam berpikir. Karena, dengannya, menjadikanku harus lebih banyak lagi menggali mutiara hikmah yang bertebaran di manapun. Aku justru malu padamu semua, jika aku seolah-olah tau, padahal aku tak berilmu. Mudah-mudahan belum terlambat untuk “memasuki”mereka. Insya Allah tidak ada kata terlambat untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Mohon, ingatkanlah aku. Di sini, kita saling berbagi. Okeh? ^___~. Semoga ini jadi plajaran juga, buat para orang tua, para calon orang tua dalam hal bagaimana menghadapi anak-anak remaja di masa pubertasnya. Kuberharap, kesalahan yang sama tidak boleh terulang lagi, padaku, padamu dan pada kita semua.

Read More

Balada Masa Adolensia

Bukan hendak menyalahkan, kenapa kau harus menjadi remaja, Dik…
Tapi, yang ingin aku sampaikan adalah betapa aku tak ingin kau terjerembab pada lubang hitam yang merayapi generasi muda…
Pada pemikiran yang telah berhasil disusupkan yahudi dan nasharo sehingga membuatnya seolah terlihat biasa-biasa saja…
Betapa sangat ingin aku, kau menjadi lebih baik…
Tapi, sungguh pun sangat ingin, aku tak pula bisa paksakan kau menjadi baik, seperti yang aku inginkan…
Karena, aku ingin kau menjadi lebih baik dengan kekuatan yang ada di dalam dadamu…dengan mimpi dan cita-citamu sendiri…
Aku tahu, banyaknya kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya adalah karena mereka memaksakan anak menjadi apa yang mereka inginkan, baik dari status social, intelektual bahkan religious! Aku tak ingin memaksa kau menjadi apa yang aku inginkan…
Yang aku ingin, kau menjadi lebih baik dengan kesadaranmu sendiri…


Tapi…
Aku menyadari satu hal…kemudian…
Bahwa, sebenarnya yang perlu dibangun di antara kita adalah jembatan hati….kedekatan…dan keterpaduan hati…lebih dari pada hari ini….lebih dari pada kedekatan yang sudah ada…
Serta, yang terpenting adalah…khudwah dariku, sebagai seorang kakak…


Ah,…
Tapi, semua ini membuatku kembali harus belajar, Dik…
Belajar “memasuki kembali” dunia remaja, dengan pola yang bukan seperti dahulu, ketika aku pun pernah berada di masa yang penuh kejahilan itu…
Aku jadi harus belajar bagaimana menghadapi seorang anak remaja yang baru saja memasuki masa adolensianya…bagaimana “mengisi” jiwa-jiwa transisi itu…


Hidayah itu….adalah kefahaman…
Ketika Allah pahamkan pada hati…sekali lagi, HATI, tentang diin ini…
Kenapa begini dan begitu yang bukan hanya sebatas “saya tahu” saja…tapi lebih dari itu…”bahwa saya tahu dan saya harus laksanakan!”




Jika sekarang kau mungkin enggan mengenakan jilbab dengan panjangnya melebihi dada, itu barang kali karena kau hanya tahu bahwa memang seharusnya begitu, sebatas pengetahuan saja. Tapi, kau belum paham urgensinya, meskipun sudah berkali-kali dijelaskan…
Karena kau hanya sekedar tahu, tapi tiada paham…
Semoga hidayah-Nya tercurah untukmu Dik, juga untukku…untuk kita semua….
Sungguh, betapa ingin aku, kau menjadi lebih baik….sungguh…
Karena aku saaaaangaat menyayangimu…

Teringat akan lirik yang disampaikan snada…
Lirik yang berkesan bagiku, mengawal masa pertama kali hijrahku…

Ingin kukatakan, arti cinta, kepadamu dinda….
Agar kau mengerti arti sesungguhnya…
Tak akan terlena dan terbawa harumnya bunga asmara
yang akan membuat dirimu sengsara…
cinta suci luar biasa, fitrah bagi manusia
kasih saying dari sang pencipta
di dalam diri setiap manusia
penuh dengan rasa cinta kepada harta, tahta dan manusia….
Jangan kau berpaling, dari cinta
Cinta dari Yang Maha Pencipta
Kau pasti tergoda…
Cinta yang abadi hanya ada cinta membuat diri bahagia….
Pada Allah saja…
Read More