Tidak ada perbendaharaan kata yang dapat mewakilinya.
Hanya dengan sepotong kalimat:
"I love you, Cinta..."
Telah mewakili segenap rasa ^_^
Tidak ada perbendaharaan kata yang dapat mewakilinya.
Hanya dengan sepotong kalimat:
"I love you, Cinta..."
Telah mewakili segenap rasa ^_^
Alhamdulillaah senang banget... Aafiya sudah masuk ke milestone berikutnya: saatnya makaaaan!
Sebagai emak, deg deg an juga sih... Apakah nanti MPASI nya bakalan sukses? Apakah emak Aafiya bisa sabar untuk bikin homemade complementary food dan tidak sampai tergoda untuk beralih ke yang instan? Apakah Aafiya bakalan doyan makanan tanpa garam gula? Berbagai pertanyaan bergelayut di benak.
Ketika usia Aafiya masuk 5 bulan, aku sudah mulai nyari referensi sebanyak-banyaknya. Mulai dari panduan WHO, denger kuliah MPASI, baca buku, hingga grup-grup yang ngebahas MPASI, tanya-tanya di grup WA sama emak2 yang udah pengalaman. Alhamdulillaaah... banyak masukan. Bikin bingung? Hahaha.. dikiit. Stiap orang masukannya beda-beda. Mak aafiya mau ikutin yang manaaa iniiiihh? >.<
Finally MPASI perdana aku putuskan ngasi Pisang buat aafiya. Hmm.. aafiya kelihatannya masi belajar sih yaaa... Agak rada kurang doyan gituuhh.. Sering banget dilepeh. Naah pas hari ke-4, aku berjibaku bikin bubur nasi. Karena disini kaga ada yang namanya tepung gasol (gasolnya noh jauh di sonoo :p), bikin bubur nasi sendiri dongs dari beras, dimasak lembek, diblender, dan disaring. Panjang sihh prosesnyaa.. hehehe.. Tapiii alhamdulillaaah terobati jerih payah bikin MPASI nya dengan melihat semangat makan aafiya. Alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah \(^o^)/
Hari ke-6, aku campur wortel. Daan alhamdulillaah aafiya juga sukaaa... Semoga semangat makan my little princess nda surut2... aamiin...
Jadi kesimpulannya? Dari mana harus mulai MPASI? Bubur nasi, sayur atau buah duluan?
Jawabannya : ikuti feeling si ibu sajaaaaa....
*tanpa menafikan proses pencarian ilmu loh yaa*
Karena : motherhood is a longlife learning...
Semangaaaat semangaaaat semangaaaatttt...
Hwaahh... berbagai grup lagi heboh tentang festivl bunga ini. Teman-teman pada ke sana... Ada yang sampai 2x ke sana. Saling mengajak untuk ke sana... Sedikit banyak mempengaruhi juga... jadi pengeeen banget ke sana.Hihihi...
Dari dulu aku memang senaaaang banget ke taman bunga... Salah satu yang sangat menarik itu Taman Bunga Nusantara, di Cipanas, Puncak. Di antara teman sehalaqoh, aku yang paling bersemangat ke sana. Ma syaa Allah, cantiknya bungaaa-bungaaaa...
Di Riyadh sedang ada festival bunga. Riyadh Spring Flower Festival. Lokasinya di Exit 16 Northen Ring Road. Di hari terakhir festival, alhamdulillaah Abu Aafiya menemani ke festival bunga warna warni tersebut (padahal dempet sama jadwal nonton badminton, olah raga favorit cowo akuuh :D). Syukran Sayang, sudah mau merelakan jadwal nonton badmintonnya :P. Senaaaaaang bangeeet... Alhamdulillaah....
Ma syaa Allah, sesuatu yang amazing adalah... di festival bunga itu... bukan bunga imitasi tapi bunga hidup! Ma syaa Allah... seberapa besarkah maintenance agar hamparan bunga itu tetap bertahan yaa? Secara ini kan negeri gurun, di mana tidak sesubur tanah tropis untuk menumbuhkan bunga. Kalau pohon kurma kan memang pohon gurun kan ya... Ma syaa Allah...
Berikut adalah foto "karpet bunga" hidup yang terhampar... ma syaa Allah...
Aku adalah penggemar dunia parenting. Hingga semasa kuliah, buku-buku parenting sudah banyak yang selesai dibaca. Tapi, sekarang.... semuanya seperti lenyap tak berbekas. Aku tiba-tiba seperti sama sekali tidak pernah membaca buku-buku itu. Aku sama sekali tidak berilmu.... Dan memang ilmunya nyarislah tiada. Tapi aku merasa berada dalam pusaran arus deras yang sulit terbendungkan.
Sekarang, PR mendidik anak terasa sangat besar. Tantangannya benar-benar semakin berat. Mulai dari budaya barat yang dielu-elukan, serangan pornografi, kekerasan yang menjadi tontonan, adanya teknologi kekinian yang memudahkan anak untuk mengakses berbagai hal di dunia tanpa tepi, tanpa batas, bernama : dunia maya. Games-games yang begitu mudah dijangkau yang menyajikan bonus gambar wanita minim busana. Belum lagi, berubahnya sosiocultural semenjak akses begitu mudah, yang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Anak lebih senang di depan gadget ketimbang bermain bersama teman sebaya.
Ibu-ibu yang haus akan dunia pendidikan anak mulai melek dan bergabung dengan komunitas tertentu. Tapi, ternyata tak seindah sentuhan mata. Ternyata, sebagian komunitas itu bukannya menjawab kehausan, malah 'menjerumuskan' kepada pemikiran yang jauh dari aqidah yang shahih. Alih-alih mendapat jawaban atas kebimbangan, malah terjerumus pada orientasi keduniaan yang kental. Berbagai aliran yang berkedok islam ada di mana-mana tapi sebenarnya mereka bukan mushlih melainkan menjerumuskan.
Dan tak lupa, dunia fashion sekarang seakan menggiring pada sindrom princess. Yang terbaik adalah yang tercantik. Suguhan berbagai pemoles wajah, pemutih kulit pun kian gencar. Tak ada yang salah dalam berhias jika dilakukan pada koridor yang benar (untuk pasangan halal). Akan tetapi ini menyoal prioritas dan asumsi bahwa yang cantik yang terbaik tersebut. Sehingga berlomba-lombalah mempermak diri ala artis korea. Jadi lupa esensi. Lupa tujuan hidup yang sesungguhnya...
Hantaman itu kini dari segala sisi. Sekali lagi, Ibarat pusaran arus deras dari segala penjuru mata angin. Jika tak kuat-kuat bertahan, tidak akan survive.
Maka satu simpulannya, menguatkan akidah sebagai pondasinya. Ini kuncinya. Ah, berbenahlah wahai para orang tua, wahai diriku.... Sebab masa yang dihadapi kian berat. Sebab mungkin akhir zaman kian dekat. Sedangkan anak tentang akidahnya, tentang akhlaknya, tentang ketaatannya, akan dimintai pertanggungjawaban... Sudahkah engkau punya jawaban, atas pertanyaan Allah, Rabb-mu kelak di yaumil hisab?
:'(
Entah apa sebabnya, tetiba ada beberapa ekor nyamuk di rumah semenjak akhir musim dingin ini... :'(
Padahal sebelum-sebelumnya ga ada yang namanya nyamuk di sini. Hiks...
Daaaaan... si nyamuk seenaknya hinggap merayap di baby Aafiya. Emaknya nda terimaa dooongs anaknya dikerjain nyamuk!! #pasang tampang geram. Hehehe....
Mau sedikit share... bukan hal penting sih... cuma sekedar share aja...
Pagi tahun awal tahun 2015, kami mnuju rumah sakit. Tak ada bekas kembang api. Tak ada keributan di malamnya. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan siapa saja mungkin lupa klo hr ini sudah thn 2015. Klo tidak mlihat kertas invoice untuk consultation fee dg consultant neonatologist...kami jg nda nyadar klo hr ini sudah thn 2015. Hari-hari berjalan sperti biasa. Orang-orang tetap masuk kerja. Tak ada liburan tahun baru!
Bukan soal tahun baru yg tak pernah di rayakan di negeri sejuta mesjid ini yg ingin di share. Tapi tentang pelayanan kesehatan.
Maksud kunjungan kami k RS adalah evaluasi baby Aafiya dan kami ingin tau retinanya karena penglihatan beby yg belum fokus. Tapu ini bukan atas arahan si dokter utk datang. Kita aja yang pengen datang. Alhamdulillaah everything is good. Tp yg berkesan adalah pernyataan dokternya sebelum kami meninggalkan ruang dokter berkebangsaan Irlandia itu.
"You should not go to docter often. Your baby is ok. There many patient here. So, just take care your baby. Just come here if there is any problem."
Ahay... that's the point...
"Kamu ga perlu sering-sering ke saya. Bayi kamu oke koq. Dtg nya klo ada masalah ajaa..."
Padahal, 1 kali kunjungan, cuma buat konsultasi yg hanya 5-10 menit, bayarannya 700-800rb. Seharusnya, untung doongs dokternya. Uang masuk buat dia. Tp dia jauh lebih memikirkan pasien. Ga memikirkan uang masuk buat dia. Pdhl 700-800rb itu kan ga sedikit. Buat 1 pasien loh... Yg sesungguhnya harga yg wajar untuk seorang consultant sub spesialis (Konsultan Dokter spesialist anak, yg sub spesialist nya neonatalogist/menangani newborn or neonatal)
Di lain kesempatan (pada kunjungan sebelumnya), dia nanya, "does she have insurance. If she has, please come here after 5 days. If not, no need to come."
Kita diminta datang jika kita punya asuransi kesehatan saja. Kalau tidak, ya ndak usah datang. Kadang si dokter malah yang menelpon kita nenjelaskan apa yang perlu dijelaskan. Dia memikirkan pasien yg mesti bayar klo ga punya asuransi. Pernah juga dia minta datang tanpa appointment dan invoice, jd ga perlu bayar. Ma syaa Allah, smoga Allah merahmati dokter itu.
Di sisi lain, miris sekali melihat ada dokter-dokter yg memanfaatkan ketidaktahuan dan kepercayaan pasien ke si dokter. Kalau bisa, sesering mungkin datang ke dia. Dengan begitu uang masuk semakin banyak. Tidak semua dokter begitu, masih banyak yg baik. Tp case yg di atas selalu ada...
Pernah dulu pas praktek di apotek, obat yg seharusnya diresepkan 1x atau max 2x sehari, diresepkan 3x sehari. Usut punya usut, ternyata ada "target" utk menghabiskan obat tsb dg kompensasi tertentu. Pernah juga ada yang nanyain, "ini umum apa pasien jaminan." Ketika dijawab pasien umum maka langsung diresepkan obat yang mahal. Padahal belum tentu si pasien orang berada. Bisa jadi dia nda mengurus jamkes karena tersangkut administrasi kan yaa? Dwuuhh gemes tapi nda bisa berbuat apa-apa.
Semoga semakin banyak dokter2 baik yg mengutamakan pasien, bukan uang. Hopefully... Sebab aku melihat secercah harapan. Banyak juga dokter yang ma syaa Allah baiiiknyaaa... Kedapatan pasien yang kurang mampu diberikan gratis. Ramah. Mementingkan pasien. Semoga semakin banyaaaak dokter-dokter baik hati yang kebaikannya akan mendapat balasan yang lebih baik di yaumil akhir... ^__^
Riyadh, 1 jan 2015