Jejak Apa yang Engkau Tinggalkan?

Suatu ketika aku pernah membaca/mendengar (lupa persisnya. Kalau tidak salah mendengar dari youtube) tentang seorang muslimah yang meninggal (apakah terkena wabah covid atau sebab lainnya, aku juga tidak bisa memastikan karena lupa). Tapi yang aku ingat dari kisah itu adalah bahwasannya sang muslimah (yang masih belia) meninggalkan "jejak" di beberapa sosmed dan applikasi yaitu melakukan sesuatu yang kurang pantas. Mungkin semacam jogetan di applikasi t*kt*k. Keluarga sudah berusaha untuk menghubungi pihak pemilik aplikasi untuk menghapus postingan tersebut akan tetapi pemilik app tidak menyanggupinya. Akhirnya postingan itu tetap ada. Tetap bisa dilihat oleh orang lain, meski yang mengunggah sudah tak lagi menapaki kakinya di atas bumi.

Ini menjadi pelajaran berharga untukku terutama dan untuk kita semua. Tentang "jejak" apa yang kita tinggalkan? Jangan sampai yang kita tinggalkan itu adalah "dosa jariyah". Jejak yang ketika orang melihatnya masih men-transfer dosa kelada kita--na'udzubillah. Foto-foto tanpa hijab yang menyebabkan laki-laki non mahram melihatnya berdosa dan sang peninggal jejak juga mendaptkan imbasnya. Joget-joget yang menjatuhkan muru'ah muslimah. Atau jejak postingan atau komentas berisi cacian, ajakan kepada hal yang buruk. Wa iyya dzubillaah. Jika bukan meninggalkan jejak berupa postingan yang bermanfaat, setidaknya tinggalkanlah jejak hal yang tidak mendatangkan dosa. Hal-hal mubah.

Blog ini sudah 14 tahun eksis (sejak 2007 silam) dan telah meninggalkan lebih dari 1200 postingan meskipun viewer nya tidak seberapa hehe. Harapanku semoga tidak ada yang meninggalkan jejak hal yang buruk. Jika engkau menemukannya, mohon ingatkan aku.
Read More

Yang Dicintai Penduduk Langit dan Bumi

Pernahkah engkau memiliki seorang teman yang terasa bahwa engkau mencintainya, bahkan tanpa sebab yang bisa engkau definisikan? Cinta yang kumaksud di sini bukanlah cinta antara seorang lelaki dan wanita. Tapi cinta dalam persaudaraan dan ukhuwah; lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan.


Baiklah. Aku ingin berbagi cerita tentang seorang teman. Mungkin dia tidak membaca cerita ini. Dan tidak perlu juga aku beritakan kepadanya tentang cerita ini. Ini hanya ungkapan perasaanku saja. Dan karena blog ini tidak memiliki pembaca yang banyak, jadi aku merasa lebih enak dan bebas bercerita. Hehe.


Aku mengenalnya kira-kira 6 tahun yang lalu. Sekitar 6 tahun tapi tidak persis. Bukan sosok yang banyak bicara. Bahkan cenderung lebih banyak diamnya. Jika ia berbicara, maka bicaranya pastilah bicara yang bermanfaat saja. Setiap ia bicara, pembicaraannya adalah pembicaraan yang menggetarkan hati dan mengingatkan akan Allah dan amal shalih. 


Pada suatu pertemuan ia sempat menceritakan bahwa ia hampir merampungkan hafalan Qur'annya. Yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya saat ini. Entah mengapa, aku tidak mampu menahan haru. Mengingat aku masih sangat jauh dari itu. Terseok-seok untuk bisa menghafalkan ayat-ayat cinta-Nya.


Aku tidak mengerti bagaimana aku merasa mencintainya (in shaa Allah karena-Nya). Wajah bersahaja yang sangat shalihah. Membersamainya, terasa pancaran ruhiyah yang baik. Apakah ia adalah salah satu sosok yang Allah sebut di langit meski penduduk bumi tidak mengenalinya? 


Sungguh ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia memerintahkan Jibril mencintainya dan Jibril pun mencintainya. Begitu pula dengan penduduk langit dan bumi. Akan mencintainya pula. Apakah ia adalah sosok yang dicintai Allah sehingga Allah hadirkan pula cinta pada penduduk langit dan bumi padanya? Sehingga cinta pun terasa hadir di hati ini padanya. Meski kami jarang berjumpa. Meski obrolan kami tidak pula sering?


Tapi ... ini menjadi motivasi tersendiri bagiku. Diri yang terkumpul banyaknya khilaf dan alpa. Diri yang menjadi tempatnya salah dan lupa. Bahwasannya; menggapai cinta-Nya adalah salah satu tujuan dan cita-cita. Sungguh apalah artinya terkenal di penduduk bumi tapi Allah tak ridha? Sementara tidak ada tempat di semesta ini yang luput dari-Nya. Sungguh kita takkan sanggup untuk mencari ridha semua manusia, yang sama dhaif nya dengan kita. Tapi, dengan Rahmat dan Hidayah Taufiq-Nya, in shaa Allah kita pun memiliki kesempatan dan peluang untuk memperoleh cinta-Nya, Rabb pemilih semesta yang hanya satu-satunya yang berhak untuk kita sembah. Semoga kita juga diberikan karunia dan hidayah oleh Allah untuk mendapatkan cinta-Nya. Tanpa pertolongan-Nya, sungguh manusia tak bisa apa-apa. Ketika bisa beramal shalih, bukan karena kita bisa, bukan karena kemampuan kita sendiri. Sungguh, Allah-lah yang memberi karunia. Maka sungguh tak pantas kita merasa jumawa apalagi merasa lebih baik dari orang lain.


Semoga Allah berikan hidayah taufiq untuk melakukan amal demi amal shalih. Untuk perbekalan perjalanan panjang kita.

Read More

Titik ‏Hitam

Sangat populer artikel beredar tentang titik hitam di tengah kertas putih ini kan ya? Ada kertas putih lalu setitik noda hitam. Apakah yang terlihat?

Dari banyak kisah yang dibagikan, dikatakan bahwa kita lebih cendrung melihat titik hitam yang kecil dari pada selembar kertas putih yang lebar. Maka, jangan memandang kekurangan anak atau pasangan atau orang lain saja tapi melewatkan banyak kebaikan lainnya sebagai mana titik hitam yang kecil berbanding kertas putih yang lebar/besar. Tentu pelajaran ini haruslah kita ambil. Bahwasannya, banyak potensi yang seharusnya kita gali pada diri anak, dibanding kekurangannya yang tampak. Bahwasannya banyak kebaikan pasangan yang telah ia berikan, dibanding kesalahan yang telah ia perbuat dan mungkin ia tak sengaja melakukannya. Bukankah kebanyakan ahli neraka adalah perempuan? Bukan karena ia melalaikan shalatnya melainkan karena kufurnya ia pada kebaikan suaminya? Wal iyya dzubillaah.
Tapi, dalam memandang dosa, hendaklah kita seperti memandang titik hitam tersebut. Satu dosa yang kita lakukan, sudah cukup untuk menodai hati kita sebagaimana titik hitam di kertas putih itu. Dan itu sudah cukup untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan nikmat untuk berdekatan dengan-Nya. Lalu bagaimana dengan titik hitam yang banyak hingga tertutupilah celah putih tersebut?! Sungguh, telah tertutup hati itu. Hingga ia menjadi keras. Dan bahkan lebih keras dari batu.

Ini sebagai pengingat diri sendiri. Bahwasannya, ketika ada titik hitam pada hati kita, semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah-Nya untuk menyegerakan taubat atas dosa tersebut. Dan semoga pula Allah menerima taubat kita tersebut. Agar ... ketika kematian datang memutus kelezatan kita dengan dunia, Allah memanggil kita dalam keadaan bersih dari noda itu (husnul khatimah). Sebab ajal tidak mendatangi kita dalam keadaan menunggu kita bertaubat, maka sudah sepantasnya kita menyegerakannya. Mumpung masih di atas tanah. Mumpung masih belum berada di bawah tanah dan kesempatan beramal dan bertaubat sudah tertutup.

Sekali lagi. Ini adalah pengingat bagi diriku sendiri terutama. Bahwasannya noda hitam itu ... sudah cukup untuk menghilangkan nikmat mendekat kepada-Nya dan bahkan mendatangkan musibah bagi diri kita. Bukankah musibah itu kadang kalanya adalah karena ulah perbuatan kita sendiri?!

Tapi, bukan berarti kita berputus asa tentunya. Sebanyak apapun dosa, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Luas Kasih Sayang dan Rahmat-Nya. Semoga kita termasuk orang yang dikaruniakan rizki taufiq dan hidayah-Nya, juga golongan orang yang dikaruniakan rizki taubatan nasuha sebelum maut. Sungguh dunia ini hanya sebentar saja wahai diriku. Maka berbekal lah untuk kehidupanmu yang sesungguhnya (akhirat)!
Read More

Penyesalan

Suatu ketika ada acara di mana acara tersebut juga menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung bisa menjawab pertanyaan. Di pertanyaan pertama, aku ingin menjawab tapi ada keraguan di hati. Jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa. Yah kayak ragu-ragu gitu. Tapi kebetulan saat itu tak ada yang bisa menjawab.

Dan kunci jawabannya ternyata sama dengan jawabanku yang tadi aku lewatkan kesempatannya. Nyesek? Iya ... Lumayan kaan dapat doorprize kerudung.

Kisah lain. Ke masjid Quba di masa pandemi. Kami sebenernya sudah sampai di sana sebelum ashar. Akan tetapi, ketika itu HP sengaja tidak aku bawa sehingga ketika itu harus balik lagi ke mobil. Padahal suami sudah bilang untuk bawa HP aja. Tapi karena tidak membawa tas dan abaya yang juga tidak ada kantong/sakunya, aku berpikir akan sedikit repot membawa HP jadinya HP ditinggal aja. Tapi ternyata ketika akan masuk masjid Quba, diminta app Tawakkalna. Jadi butuh HP dong yaa. Harus balik ke mobil. Akhirnya diputuskan untuk gantian dulu sama suami. Aku gantian nunggu di mobil, dan suami yang ke masjid Quba. Ketika giliran aku yang mau shalat di sana, shalat ashar sudah selesai, dan ternyata masjid Quba ba'da ashar sudah ditutup. Sedih banget. Padahal sebelumnya punya kesempatan untuk shalat di masjid Quba tetapi kesempatan itu terlewat. Menyesal? Sangat!

Ada berapa banyak penyesalan yang telah kita rasakan dalam hidup ini?! Bagaimana rasanya? Nyeseek?! Iya, menyesal itu ternyata adalah sebuah siksaan tersendiri.
Itu hanyalah penyesalan-penyesalan "kecil" di dunia. Sesuatu yang mungkin bisa kita "jemput" kembali. Doorprize kerudung yang terlewat, masih bisa diganti dengan order atau jahit kerudung sendiri. Terlewat ke Quba, in shaa Allah masih ada kesempatan esoknya.

Tapi, penyesalan itu pasti akan terasa sangat berat dan menyesakkan ketika kita sudah sampai di akhirat. Di mana, penyesalan itu tidak akan pernah bisa kita "jemput" lagi. Orang beriman dan beramal shalih menyesal karena dia ingin beramal shalih lebih banyak lagi. Apalagi orang kafir dan munafiq. Menyesal yang teramat dalam tidak memilih jalan yang benar.

Semoga kita bisa lebih banyak mempersiapkan diri untuk hari itu. Hari di mana segala amal kita dibeberkan. Hari di mana melewatkan satu kalimat Tasbih yang mungkin saat di dunia terasa ringan tapi tidak kita lakukan, lebih kita sesali dari pada hilangnya emas dan perak semasa di dunia. Kehilangan emas segepok gegara kemalingan hanya karena kita lupa mengunci pintu rumah mungkin tidak akan seberapa penyesalannya dibanding kesempatan amal shalih yang kita lewatkan begitu saja ketika di akhirat kelak. Ketika kita melihat balasan Allah atas apa yang telah kita lakukan. Kemaksiatan yang tidak sempat kita taubati mungkin akan sangat kita sesali di akhirat kelak ketika kita melihat balasan dari amal tersebut. Juga ketika kita berlaku dzalim kepada orang lain; walau hanya sekedar ikut membully nya dengan jempol kita di medsos padahal kita kenal di dunia nyata pun tidak, pasti akan kita sesali ketika urusan ini tidak kita selesaikan di dunia dengan meminta maaf kepadanya. Maka, penyesalan itu pasti akan menyiksa sekali. Kelak. Ketika menyesal itu tidak ada lagi gunanya. Ketika setiap manusia berkata "Andai aku berbekal untuk kehidupanku (yang abadi)". 

Ini adalah peringatan dan nasihat untuk diriku pribadi terutama. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita. Tanpa taufiq dan hidayah-Nya, sungguh kita pasti takkan mampu melakukan amal shalih dan meninggalkan hal laghwi maupun kemaksiatan. Maka, sungguh yang paling mahal di muka bumi ini adalah hidayah-Nya! Tak ada yang lebih mahal dari itu. Semoga Allah pilih kita untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang diberi hidayah dan keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Aamiin yaa Rabb ❤❤❤
Read More

Teori Parenting


Ada banyaaak sekai teori parenting di muka bumi ini. Jika ibu-ibu jaman dulu susah mengakses informasi dan keilmuan, zaman sekarang malah sebaliknya. Informasi itu sangat banyaaaaak sekali beredar! Sampai-sampai bingung mana yang harus diambil karena kadang sebagian bertentangan satu sama lainnya.

Tapi, informasi yang banyak itu, terkadang adalah informasi yang terpisah-pisah. Seperti kepingan puzzle yang berserakan. Bingung bagaimana menyatukannya. Ketika mendapat informasi tertentu, begitu bersemangat menerapkan tapi sayangnya tidak long lasting. Tidak bertahan lama. Kembali lagi ke titik semula.

Aku, ketika sebagai praktisi (dibanding dulu sebagai komentator aja alias pengamat hehe) merasakan betapaaa manis "teori" yang dulu aku tuliskan itu tapi... pada pelaksanannya memang tak mudah! Tak mudah! Akhirnya aku sampai pada kesimpulan; meskipun semua cinta ibu di dunia ini untuk anaknya adalah hampir sempurna, tapi ... tak ada ibu yang sempurna. Sehebat apapun ia, pasti ia pernah melakukan kesalahan terhadap anaknya. Karena memang, manusia sejatinya adalah makluk yang lemah. Sama sekali tidak sempurna.

Cara ibu mencintai, ungkapan cintanya, tidak selalu selaras dengan sesuatu yang baik untuk anaknya. Semisal ibu dengan dalih cinta anaknya lalu memberikan segala yang anaknya mau tentu bukan hal yang baik untuk anaknya. Atau, ibu yang sangat menyayangi anaknya, ingin melindunginya selalu, bisa saja jatuh kepada over protective sehingga apapun yang anak inginkan dilarang. Maka cinta juga butuh belajar. Butuh belajar tentang bagaimana yang baik dan semestinya dalam mendidik mereka.


Tapi, belajar saja tidak cukup ternyata. Seorang ibu dengan segudang ilmu parenting sekalipun, ternyata belum sepenuhnya bisa mengasuh anaknya dengan menerapkan segala ilmu dan teori yang dia punya tersebut. Misal, saat dikuasai emosi negatif dan amarah, apakah sang ibu dapat rasional menerapkan teori parentingnya yang segudang? Tidak. Tidak cukup dengan teori saja. Harus latihan. Harus terus berlatih. Bertumbuh.

Selain berlatih untuk menerapkan, ada satu lagi yang terpenting dan jauh lebih penting dari teori parenting! Yaitu iman. Percayalah, kondisi iman kita sebagai ibu sangat sangat menentukan bagaimana kita bersikap kepada anak. Ketika iman melemah, mungkin kita mudah untuk "menyambut" rayuan syaithan untuk berbuat akhlak yang kurang terpuji baik dalam perkataan maupun perbuatan ketika marah kepada anak. Tapi ketika iman kita dalam kondisi full charge, biasanya kita lebih mudah untuk mengendalikan diri. Iman adalah bentengnya. Tentu tanpa menafikan ilmu pengetahuan tentang pengasuhan juga.

Satu lagi yang sering terlupa adalah ... bahwasannya kita mungkin secara tak sadar "menyandarkan" kepada ilmu atau teori saja. Padahal ada satu hal sangat penting lainnya yang membuat kegiatan pengasuhan itu lebih baik, yaitu do'a. Do'a agar dimudahkan dalam mengasuh anak, dalam mendidik mereka dan membimbing mereka. Jangan pernah merasa jumawa dengan banyaknya ilmu dan hebatnya praktek. Justru kita harus menyandarkan segenap urusan ini kepada Allah. Memohon kepada-Nya agar baik akhlak dan lisan kita dalam mendidik anak. Sungguh, ketika berhasil, itu bukan karena kita hebat dalam mendidik anak. Bukan karena banyaknya ilmu kita. Melainkan karena Allah-lah yang memudahkan kita.


Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih/shalihah dan mushlih. Merekalah harapan kita ketika kita tiada. Do'a-do'a mereka yang kita harapkan ketika kita tak lagi dapat melakukan amal shalih, terbujur kaku di bawah tanah. Smoga Allah mudahkan kita dalam mendidik mereka, anak-anak kita. Sebab akan ada masa orang tua lari dari anaknya di yaumil hisab kelak. Ketika ada hak-hak mereka yang belum kita tunaikan di saat kita mampu menunaikannya tapi kita melalaikannya. Astaghfirullaaah.
Read More

"Melepeh" Kata

Sudah lama tidak menulis di blog. Kangen. Tapi kali ini, aku bertekad akan kembali mengisi blog. Yah, mungkin bukan cerita panjang. Hanya lintasan-lintasan pikiran. Untuk pengingat diri tentunya. Karena aku juga tau, blog ini sepi dan seperti hampir mati suri. Jadi, tak banyak juga yang melihat. Aman untuk berbagi. 

"Menikah berarti saling mencuri tabi'at" begitu kata tausyiah seorang ustadz yang sudah aku lupa namanya di suatu kajian keluarga. "Pada suatu masa, bisa saja istri dan suami akan saling bertukar karakter" (yang diistilahkan beliau mencuri tabi'at) dan aku termasuk orang yang membenarkan apa yang beliau ucapkan. Aku yang extrovert, ketemu belahan jiwa yang introvert, berjalan di tahun ke-9 pernikahan kami (alhamdulillaaah sudah memasuki tahun ke-9 ma shaa Allah) menjadi lebih introvert. Sementara, suami lebih extrovert saat ini. Hehe. Dulu kalau ada apa-apa, aku sangat mudah bercerita kepada siapa saja. Sekarang, suami adalah satu-satunya orang yang paling tau apa ceritaku. Ketika hendak bercerita kepada orang lain, rasanya aku berpikir puluhan kali; apakah cerita ini layak untuk aku ceritakan ke orang lain. Mungkin karena--ma shaa Allah--aku menemukan kenyamanan yang amat sangat ketika bercerita dengan suami, jadi tidak butuh tempat lain untuk bercerita. Kepadanya, cerita mengalir bagai sungai yang deras. Dan waktu 3 jam serasa hanya 15 menit. Ma shaa Allah tabaarakallaah. Alhamdulillaah bini'matiHi tatimmusshalihaat.

Hari ini di sebuah grup WA, ada ibu² bercerita kalau dia merasa malu, menyesal dan merasa bersalah. Pasalnya, ketika sedang memarahi atau mengomel dengan sang anak, tak dinyana mic sang anak sedang tidak kondisi mute. Jadi, omelan tersebut terdengar ke seantero isi kelas sang anak yang memang lagi sekolah zoom. Haduh, nano nano rasanya. Tapi, sepertinya hampir semua ibu yang mendampingi anak sekolah pernah mengalaminya. Aku pun pernah, hehe. Sedikit beruntung, teman sekelas kakak tidak ada yang bisa bahasa Indonesia. Karena memang kakak tidak sekolah di sekolah Indonesia.

Tapi, ada pelajaran berharga yang dapat aku petik dari peristiwa ini. Pelajaran berharga untukku tentunya. Jika kamu yang tak sengaja membacanya juga, semoga juga dapat memetik pelajaran ini bersama-sama. Bahwasannya, setiap kata itu yang keluar dari lisan kita--sebagaimana penjelasan ustadz Abdul Aziz Abdul Ra'uf dalam tafsir surat Al Waqiah--seperti sesuatu yang "dilepeh" di sisi-Nya. Ter-record dengan sangat apik dan di yaumil akhir akan menemui wujudnya. Artinya, kata-kata yang sekarang hanya terlihat bagai awang-awang, dan tentu saja tak ada wujud fisiknya, nanti di akhirat akan ditampilkan Allah dalam wujudnya. Ibarat melepeh permen. Ada wujudnya. Tapi, bukan seperti itu yaaa. Tentu saja mekanisme nya kita tidak tau karena itu perkara ghaib saat ini. Semua kata baik, kata buruk akan ada wujudnya. Akan ada report nya.

Jika di dunia ini, hanya dengan segelintir orang, kita merasa malu ketika kata yang kita sampaikan bukan kata yang menyenangkan untuk didengar, lalu bagaimana di yaumil akhir kelak? Bagaimana malunya ketika semua kata-kata dibeberkan tanpa penambahan maupun pengurangan sedikit pun? Akan tenggelam dalam kedalaman keringat seberapa kah kita? Ya Allah.. semoga Allah tutupi aib-aib kita di akhirat kelak dan Allah hisab kita dengan hisab yang mudah. Aamiin yaa Rabb.

Ini pelajaran buat aku agar lebih berhati-hati untuk memperhatikan apa yang keluar dari lisan. Segera bertaubat dan beristighfar jika itu sesuatu yang salah sesegera mungkin karena:
- kita tidak tau apakah masih ada kesempatan bertaubat dan beristighfar di masa mendatang atau tidak
- kita akan terhalang dari banyak kebaikan (menjadi musibah) ketika masih ada dosa yang mengganjal. Ada dosa yang belum ditaubati, sungguh telah cukup membuat kenikmatan untuk melakukan amal shalih jadi tercerabut. Astaghfirullah


Tentu ini nasihat pribadi untuk diri sendiri terutama. Karena diri ini masih amat sangat sering tersalah. Juga belum bisa memenej lisan dengan baik. Tapi, bukan berarti harus putus asa. Harus berupaya semaksimal mungkin dan sebaik mungkin tentunya.





Read More

Pergi dengan Segenap Kebaikan

Hari ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti halnya aku sedang berduka. Salah satu ulama besar Indonesia, Syaikh Ali Jabeer dipanggil Allah. Semoga beliau husnul khatimah. Aamiin yaa Rabb.

Tak terasa, air mata mengalir di pelupuk mata. Hati ini begitu bersedih. Cukuplah sebagai bukti, tentang banyaknya orang yang bersaksi atas kebaikan beliau. Setelah beliau wafat pun, pesan-pesan kebaikan semakin menggema. Tausyiah, nasihat beredar ke berbagai pengguna. Inilah kebaikan yang terus hidup, melebihi masa pelakunya media massa. Hingga, di tempat yang tak ada lagi amal shalih, beliau masih terus "memanen pahala".

Sebelumnya, beredar pula pesan yang disampaikan oleh kapten Afwan, pilot pesawat sriwijaya air yang jatuh di perairan pulau seribu. Sebelum beliau wafat, tak ada yang mengenal beliau seperti terkenalnya saat ini. Mungkin hanya teman dan lingkungan terdekat saja. Tapi, tak terkenal di bumi, mungkin nama itu menggema indah di langit. Hingga, Allah ungkap segala kebaikan justru setelah berpulang. Begitulah orang-orang baik. Orang-orang shaleh. Orang-orang yang pergi dengan meninggalkan banyak kebaikan.


Sejenak diri ini tercenung.
Menelisik ke dalam. Diri yang masih jauh. Sungguh sangat jauh dari sosok-sosok hebat tersebut. Tentang waktu, yang banyak terlalaikan. Tentang amal shalih yang masih amat sangat sedikit. Lalu, bekal apa yang hendak dibawa? Sementara waktu pulang adalah sangat dekat? Sedetik waktu yang lalu adalah sesuatu yang telah jauh dan sedetik waktu kemudian adalah rahasia-Nya, apakah masih dimiliki atau tidak. Lalu, apakah masih besar ambisi terhadap dunia, sementara ia adalah persinggahan sesaat. Sedang akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Tidakkah cukup peringatan-peringatan ini untuk berbenah dan bersiap untuk perjalanan yang amat panjang dan kehidupan yang sesungguhnya, wahai diriku?
Read More

Skinker

Pembicaraan tentang skinker (skin care) selalu hits di kalangan emak-emak dan juga remaja yaa. Hehe. Dan aku (sebelum ini) termasuk golongan pengecualian, yang tak ambil pusing soal skinker-skinker an. Hoho.

Jadi ceritanya, memang dari dulu aku tu orangnya cuek soal perawatan-perawatan gitu yaa. Dahulu kala hingga semester 5 kalo ga salah, aku nyaris enggak pakek apa-apa buat perlindungan wajah. Tapi waktu itu masih muluus gitu (enggak jerawatan, alhamdulillaah). Tapi, one upon a time; ada seminar yang diadakan oleh jurusanku (farmasi) yang mengupas soal perawatan dan kecantikan gitu. Naah, ada free gift nya berupa produk dari sponsor sebutlah merek X.

Namanya mahasiswa ehh mahasiswi, dikasi gratisan ya seneng dong yaaa. Xixixixixi. Jadi aku cobalah pakek itu si produk. Qadarullaah, ini kali pertama pakek produk-produk dan bikin break out. Huhuhuhu. Wajah jadi jerawatan dan itu besar² pula. Antara nyesel, sedih dan ga tau mau ngapa-ngapain.

Sejak itu aku agak rada trauma dengan yang namanya skin care. Pernah beberapa kali beli, tapi selalu aweet karena enggak konsisten dan ga kepake. Astaghfirullaah.

Waktu pun berlalu. Gegara itu produk, jerawatannya juga awet dan konsisten. Hwaaaa... Sedih siih. Tapi yasudah lah. Apalagi ditambah beban TA yang bikin hormon kortisol naik. Makin menjadi-jadi dah tuuuh.

Pas kuliah di Depok pun, sama. Karena trauma dengan skin care akhirnya aku enggak pakek apa-apa jugaaa. Huhu. Paling cuma facial cleanser dan itu pun enggak konsisten. Tapi, aku juga enggak nyadar wajahku itu kusam banget yaa. Karena polusi di kota kan juga tinggi. Apalagi sering bepergian kan. Karena kuliah di berbagai tempat. Sun screen? Mana kenal akutuuuu.

Pas jalan sama temen yang usianya beda hampir 8 tahun lebih tua dari aku dan sudah punya 2 anak, malah aku dipanggil "ibuk", sementara temenku dipanggil "neng". Gondok bangeeetttt. Hwaaaa... Berarti bermutu dong yaaa. Bermuka tua. Huhu. Jadi, sekarang aku baru nyadar kenapa aku dipanggil "ibu" pada jaman masih single itu. (Dan aku keseel banget dipanggil "ibu" ketika belum jadi emak-emak kala itu). Mungkin cocok kali yaa, mirip emak-emak yang enggak sempat skin care an. Wkwkwkwk...

Setelah nikah, ternyata kebiasaan itu kebawa. Aku masih seperti yang duluuu. Hehehe. Alhamdulillaaah, bersyukur banget suami support apapun kondisinya. Enggak skin care an gapapa dan kalau mau skin care-an juga boleh banget. Alhamdulillaah. Mungkin aku karena berada di zona nyaman jadi enggak terlalu mikirin. Padahal ini di daerah yang sering ada badai debunya lhooo. Hwaaa.. segitu cueknya akuuu. Huhu.

Sampailah suatu hari aku bercermin. Maklum aku emang jarang bercermin siiih wkwkwkwk. Parah beut dah. Lihat muka koq kayaknya enggak enak banget dipandang. Kusam dan muncul tanda-tanda penuaan. Yaa namanya juga udah 30+ kan yaa. Kaget. Panik. Ya Salaam.

Pengen memulai skinker-an tapi bener-bener enggak tau apa aja yang dibutuhkan. Enggak ngerti sama sekali. Padahal anak farmasi lho ini akunya. Belajar formulasi. Ada matkul kosmetologi. Tapi enggak ngerti apa-apa soal kosmetik. Ditanya obat, masih bolehlah in shaa Allah biidznillah. Tapi ditanya kosmetik, aku nol besar. Bingung mesti mulai dari mana dan skinker yang kayak gimana.

Akhirnya tanya temen, tanya adek yang lebih berpengalaman. Bismillaah mulai deh memperbaiki. Semoga enggak terlambat yaaa. Hehehe

Ada beberapa cara berpikir yang salah menurutku selama ini. Pertama, karena aku berpikir bahwa skin care berarti memakai bahan kimia di wajah. Mungkin karena pengaruh pengalaman buruk yang aku ceritakan di atas yang bikin aku rada trauma. Tapi aku lupa (bahkan sebagai lulusan farmasi) bahwasannya keamanan adalah hal utama sebelum suatu sediaan diijinkan beredar. Mungkin saja akunya yang tidak cocok. Dan memang nyoba pakek produk dari merek yang sama selalu berakhir break out. Nah, kenapa tidak mencoba yang lain dan bahkan kalau perlu datangi dokter kulit.

Kedua, skin care tidak sama dengan tabarruj. Tabarruj adalah berlebih-lebihan dalam berias ketika keluar rumah. Sementara skin care adalah perawatan kulit yang ga mesti menor-menor. Dulu aku mikir sama aja skin care ama make up. Yaa, segitu parahnya sih akuu cuek dan enggak (mau) mempelajari soal tentang hal ini. Skin care adalah salah satu cara merawat "amanah" wajah yang Allah titipkan, in shaa Allah. Udah dikasi wajah yang lengkap enggak cacat alhamdulillaah masa enggak dirawat. Ya kan? Dan lagi, bukan buat siapa-siapa juga. Buat diri sendiri dan suami juga kaaan. Siapa sih yang enggak senang lihat wajah bersih dan terawat? Jika ada wajah kusam dan satunya lagi wajah bersih pasti sudah fitrahnya semua orang seneng yang bersih kaan. Nah, salah satu cara "berhias" di depan suami at least punya wajah yang enggak kusam. Jika niatnya adalah merawat "amanah" yang Allah titipkan sebagai bentuk perwujudan rasa syukur dan sekaligus memberikan penampilan terbaik di hadapan suami, mudah-mudahan Allah ganjar sebagai kebaikan dan pahala. Aamiin yaa Rabb. Ini soal niatnya gimana. Ya, dikembalikan lagi ke niat. Betapa banyak hal mubah yang ketika niatnya baik malah berbuah pahala. Makan kalau sekedar makan hanyalah sesuatu yang mubah. Ketika diniatkan untuk menguatkan raga agar bisa beribadah dengan baik in shaa Alalh jadi berpahala. Walaupun aku tuuh masih jauh yaaa dari ini. Dalam rangka mengingatkan diri sendiri terutama ini mah.

Disclaimer: tapi teteep yaa keluar rumah tidak boleh tabarruj (pakek make up berlebihan) yang sampai mengundang perhatian yang bukan mahrom. Berhias cukuplah di depan suami aja. Mau make up an yaa sok aja tapi di rumah aja. Pas keluar, dihapus dulu make up nya. Kalau suami enggak suka lihat istrinya pakek make up, yaa jangan dipakek. Cukup wajah yang bersih dan ceria. 😉

Epilog:
Suatu ketika aku lihat baju yang tersimpan di lemari. Tertutup. Enggak kena cahaya matahari. Tapi ternyata tetap berdebu! Apalagi wajah yang terpapar berbagai hal. Piring yang ada minyaknya, enggak bisa bersih kalo cuma pakek air. Apalagi wajah kita. Ya kan? 🤗🤗🤗 Alhamdulillaah akhirnya sadar jugaa emak Aafiya ini. Hehehe. 🤭🤭🤭



Read More

Perjalanan Ketiga di Tahun Pandemi

Selalu ada hikmah atas segala sesuatu. Dan inilah hikmah dari third vacation kami. Bisa jalan ke Barat lagi! Menghabiskan 2600 km lagi bersama. Alhamdulilaah tsumma alhamdulillaah.

Ceritanya vacation sebelumnya (baca di series lebih dari 3500 km bersamamu), cuti suami sebenernya masih nyisa 3 minggu. Dan baru diambil 2 minggu. Waktu itu agak heran kenapa ayahnya anak-anak cuma ambil 2 minggu. Kan sayang 1 minggu lagi. Secaraa, cuti ka enggak bisa diakumulasi ke tahun depannya. Jadi mesti dihabiskan di tahun yang sama. Kata suami, "Tenaang Bunda, sisa yang seminggu udah notice koq sama team leader nya Ayah. Pas desember in shaa Allah kita bisa ambil lagi." 

Alhamdulillaaah. Seneng. Awalnya agak-agak nyesek. Kalo 3 minggu kan, seminggunya bisa dipakek jalan ke Timur Saudi. Jadi plan nya sisa seminggu ini kitah akan ke timur saudi. Begitu dapat tanggalnya, langsung bikin itenerary akunya. Hehehe iyaa betul. Kalo urusan traveling planner, itu urusan emak-emak. Wkwkwkwk.

Planning udah tersusun rapih. Beberapa list destinasi sudah dikantongi. Fanatheer beach, ras tanura beach, half moon beach, murjan island, sci-tech centre dan beberapa destinasi lainnya. Memang, daerah timur adalah daerah yang banyak pantainya. Hotel-hotel pun sudah dibooking.

Tapi tiba-tiba kita ganti haluan! Balik lagi ke Saudi arah barat. Kalau harus membandingkan, tentu saja ke barat jauh lebih baik karena ada Makkah dan Madinah. Memang kalo secara posisi, Makkah dan Madinah terletak di sisi barat Saudi. Secara jarak ke Timur lebih dekat. Dari Riyadh ke Jeddah jaraknya sekitar 1000 km. Sementara Riyadh ke Dammam jaraknya sekitar 400 km.

Daan yang paling seruu adalah "berburu" slot utk beberapa aktivitas di Masjidil Haram dan Nabawi yang sekarang harus terdaftar lewat applikasi eatmarna. App yang khusus dari pemerintah.

Alhamdulillaah... Enggak nyesal rasanya ke Barat lagi. Alhamdulillaah banget. Kita mikirnya kalo ke Timur bisa pas week end. Tapi kalo ke Barat ga bisa. Minimal 3 hari. 

Rute kita hampir sama dengan sebelumnya. Beda 1000 an km sih. Hehe.. Lumayan yaak. Jadi awalnya ke Mekkah dulu. Dari Mekkah ke arah Jeddah mampir di situs bersejarah sisa-sisa peninggalan Hudaibiyah. Sebuah perjanjian ketika Rasulullaah dan sahabat hendak berhijrah namun dihalangi oleh kafir Quraisy untuk memasuki kota Mekkah. Jarak Hudaibiyah sendiri dengan batas Haram (tanah yang suci dan tidak bokeh dimasuki oleh selain Islam) cukup dekat. Ada masjid lama sisa peninggalan Hudaibiyah. Sayangnya penuh drngan coretan nama. Dan banyak nama orang indonesiaedi sana. Jadi malu sendiri sebagai orang Indonesia. Hehe. Apa sih urgensinya menulis nama di sana? Mafi faedah! Enggak ada faedahnya.

Dari Hudaibiyah kita ke Jeddah. Ibaratnya Jeddah numpang istirahat aja sih. Hehehe. Karena besoknya kita ke Yanbu. Di Yanbu mampir di Waterfront. Anak-anak berenang di laut lagi. Qadarullaah walhamdulillaah dikasi hujan di Yanbu meski cuma sebentar tapi cukup untuk ngebasahin karpet kitah. Hehehe. Dari waterfront belanja di Panda. Beli perbekalan buat masak-masak karena kitah booking apartement yang menyediakan dapur. Trus dari Yanbu kita ke Badr dulu.

Ada haru ketika sampai di Badr tempat Rasulullaah dan para sahabat melakukan perang Badr al Kubra. Salah satu perang yang sangat menentukan arah sejarah Islam. Para ahlul Badr memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullaah. Pada perang itu pula, keangkuhan Abu Jahal sang fir'aun nya abad itu tewas dalam kekafirannya. Abu Jahal diserang oleh 2 orang pemuda anshar yang gagah berani dan kemudian menemui ajalnya lewat Abdulllah bin Ibnu Mas'ud. Pun, di perang Badr ini pula Umayyah bin Khalaf, yang dulu menyiksa Bilal menemui ajalnya dibunuh oleh Bilal.

Di Badr inilah dimakamkan 14 syuhada Badr. Nama-nama syuhada Uhud dipatrikan di sebuah monumen. Dan bahkan nama Jalan di sana pun dinamakan Thariq Shuhada Badr (jalan para syuhada Badr).

Ini adalah monumen syuhada Badr yang berisi nama-nama syuhada Badr.

Dari Badr kita ke kota Madinah dengan terlebh dahulu ke Masjid Quba. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullaah ketika sampai di Madinah. Beliau bermalam 5 hari di Quba dan mendirikan masjid. Shalat 2 rakaat di Masjid Quba memiliki nilai pahala yang sama dengan Umrah, begitu sabda Rasulullaah. Oleh sebab itu di masjid Quba ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang muslim yang datang dari berbagai belahan dunia yang ingin berziyarah ke Madinah. 


Dari masjid Quba kita langsung ke Hotel yang udah dibooking. Dan menghabiskan sisa liburan di Madinah. Kota Nabi yang benar-benar peaceful ma shaa Allah.

Karena kasus covid di Saudi sudah menunjukkan trend penurunan alhamdulillaah dan semoga terus turun, aamiin yaa Rabb, maka jarak shaf shalat pun sudah mulai lebih rapat dari sebelumnya. Yang shalat di masjid Nabawi juga sudah sangat ramai karena ga perlu regiistrasi di app eatmarna sebagaimana shalat di masjidil haram. Tapiii, kalau mau jum'atan harus segera ke Masjid dari jam 9 pagi! Kalau udah jam 10 udah ga dapat tempat lagi di dalam masjid Nabawi. Ma shaa Allah.

Untuk ziyarah ke Makam Rasulullah pun harus daftar lewat app eatmarna. Dan enggak boleh tiap hari! Uniknya, pas kami nonton TV di Saudi Sunnah (siaran madinah) pas banget yang tampilnya di area prophet visit. Daan pada senang lihat ayahnya masuk TV. wkwkwkwkw


Pagi sabtu kami segera balik ke Riyadh. Tapi di pertengahan jalan menuju Riyadh (diperbatasan provinsi Qassim dan provinsi Riyadh) kami mampir dulu main di Gurun. Hehe. Anak-anak juga senang karena bisa main pasir. Red sands dunes di dekat daerah Ghat.

Alhamdulillah sekitar jam 4 sore kami sudah memasuki gate check point kota Riyadh. Perjalanan alhamdulillaah lancaarr. Dan juga semoga penuh barokah.


========
Banyak hikmah dari pandemi ini. Sejujurnya, kami sendiri banyak merasakan hikmahnya.
Di antaranya banyak quality time bersama keluarga. Apalagi suami sampai sekarang masih WFH.
Daan sejujurnya pula, di tahun 2020 ini yang notabene tahun pandemi tapii atas karunia dan kasih sayang Allah, justru menjadi tahun di mana terbanyak bagi kami untuk mengunjungi kota Madinah. Hadzaa min fadli Rabbi. Bahkan di tahun 2019 kami hanya sempat berziyarah ke madinah 1 kali saja. Selalu ada hikmah atas segala sesuatu tentunya.


Semoga Allah berikan kesempatan lagi untuk mengunjungi kota-kota suci. Aamiin yaa Rabb. Dan semoga pula Allah senantiasa menjaga kita dari wabah ini. Aamiin yaa Rabb.

Read More

My Little Maryam

Maryam. Begitu kami menamainya.

27 bulan usianya kini ma shaa Allah tabarakallah.
Orang-orang menyebutnya "terrible two". Tapi, baiklah ... kami menggantinya dengan istilah "Wonderful Two".

Meski lahir dari rahim yang sama, ketiganya memiliki karakter yang sangat berbeda. Kakak Aafiya, uni Aasiya, dan Maryam tiga-tiganya unik. Punya preferensi dan bakat yang berbeda pula. Bahkan makanan kesukaan pun berbeda.

Maryam di usia 27 bulan tentu berbeda dengan Aasiya di usia yang sama maupun Aafiya di usia yang sama. Tapi, tak elok membandingkan antar mereka karena setiap anak adalah unik. Sebagaimana setiap orang mempunyai sidik jari masing-masing.

Maryam.
Kami punya challange sendiri terhadap Maryam. Anaknya di usia segini punya pendirian sendiri ma shaa Allah. Di lain sisi, tidak mudah membujuk atau mengalihkan perhatiannya.

Tantrum?
Hmm ... hampir tiap hari. Apalagi kalau jeleous sama uninya.

Maryam juga satu-satunya yang palibg dekat dengan ayah sejak bayi. Sampai-sampai makan dan bobo pun maunya sama ayah. Kalau nangis, yang dicari pertama juga ayah. Mau mandi, maunya sama ayah. Ma shaa Allah.

Barakallaahu fiik my little princess. Jadi anak yang shalihah bertakwa dan qurrata' a'yun yaa Nak.
Semoga senantiasa dalam penjagaan Allah.
❤❤❤
Read More