Wahai Diriku yang Menuliskan Ini

JANGAN TERBUANG SIA-SIA

Sadarilah bahwa masa hidup kita sungguh terbatas. Nafas kita hanya sesaat. 

Setiap tarikan dan hembusan nafas tak lebih dari sebuah pertanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang.

Sungguh sangat singkat usia duniawi kita ini. 

Karenanya, setiap saat yang ditinggalkan bahkan setiap bagian terkecilnya adalah permata yang tak ternilai dan tiada bandingnya. 

Karenanya jangan sia-siakan permata umurmu tanpa melakukan suatu amalan.

Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang setimpal.

Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tak pernah kosong dari kesolehan dan taqarrub padaNya. 

Sebab jika engkau kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu diakhirat nanti dihadapan Allah nanti…

Bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu? 

Bagaimana mungkin engkau bisa menyiakan dan membuang detik-detikmu begitu saja? 

Bagaimana mungkin engkau ‘tenang-tenang’ saja, padahal semakin banyak jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus?

Janganlah tertipu dengan banyaknya Amal ibadah yang telah di lakukan, karena sesungguhnya kita tidak mengetahui apakah ALLAH ﷻ menerima amalan itu atau tidak.

islamituindah
#oasefajar

=======
(Cuplikan tulisan di atas di share dan sampai kepadaku dalam kondisi anonim. Jadi, untuk penulisnya, aku mohon maaf sudah mempublish nya di blog ini tanpa menyertakan narasumbernya. Semoga penulis berkenan dan menjadi ilmu yang bermanfaat, tausyiah yang menggugah, menjadi penambah timbangan amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin)

Tausyiahnya bagiku sangat-sangat "menampar" dan mengingatkan. Makanya ingin sekali aku share kembali.

Ya, tentang waktu. Waktu yang kita miliki di dunia--sebagai tempat ujian--ini adalah sebentar saja. Dulu, ketika tes SPMB (SBMPTN mungkin yaa namanya sekarang), waktu yang diberikan dengan sekian banyak soal sangatlah singkat. Dapatkah kita bermain-main ketika melakukan ujian SPMB? Membuang-buangnya dengan main-main, tidur, bermenung, bengong? Ah tidak! Pasti tidak. Kita fokus mempersiapkannya. Bahkan juga strategi-strateginya bagaimana cara menjawab soalnya agar waktu tidak terbuang sia-sia. Biar apa? Biar bisa lulus SPMB.

Dunia ini ... ibarat tempat ujian SPMB di atas, hanyalah tempat ujian yang sebentar. Tidak menetap lama. Tidak selamanya. Tidak abadi. Ujian selesai, berakhirlah masanya. Tidak mungkin kita akan terus menerus berada di ruang ujian sampai tinggal menetap di sana. Pasti kita meninggalkan ruangan tersebut begitu ujian selesai. Semestinya, yang ada di pikiran kita sebagai pesertanya adalah bagaimana kita lulus setelahnya. Tapi, begitulah. Amat sering kita (diriku terutama) terlalaikan dengan dunia ini. Lena dengan waktu. Kurang mempersiapkan "kelulusan" di akhirat kelak. Padahal, tidak lulus SPMB in shaa Allah masih ada opsi mengulang di tahun berikutnya. Tapi, tidak lulus ujian di dunia menuju "kelulusan" di akhirat? Apakah kita dapat mengulangnya atau kembali lagi ke dunia? Tentu tidak!!! Tetapi, kenapa masih saja lengah? Kenapa masih saja lupa? Kenapa masih saja lalai?
Wahai diriku yang menulis ini; setiap kesempatan kebaikan yang telah engkau lewatkan padahal engkau bisa melakukannya, setiap waktu yang telah engkau buang sia-sia, PASTI kelak akan engkau sangat sesali! Sekali lagi, Pasti kelak akan sangat engkau SESALKAN! Karena tidak pernah engkau bisa menjemput kesempatan dan waktu yang berlalu tersebut.

Wahai diriku yang menulis ini; mumpung engkau masih berada di atas tanah, maka perbaikilah yang tersisa. Agar tidak bertambah penyesalan tersebut. Sebab, jika engkau telah berada di bawah tanah; maka waktumu telah habis. Time is over. Dan takkan dapat bertambah lagi perbekalanmu, kecuali amal jariyah yang engkau persiapkan sebelum dimasukkan ke dalam tanah. Apakah sudah engkau persiapkan?

Wahai diriku yang menulis ini; hanya di dunia (yang amat sebentar ini) tempatnya beramal. Tempat engkau menanam. Kelak, ketika engkau sudah sampai di akhirat, tak ada lagi tempat menanam. Ia adalah tempat menuai apa yang telah engkau tanam. Surga dan neraka adalah alam di akhirat sana. Tapi, kuncinya ada di dunia. Jika baik amalmu, berat timbangan kebaikanmu, maka engkau akan mendapatkan kebahagiaan. Dan sebaliknya, jika amal burukmulah yang berat (na'udzubillaah, semoga Allah lindungi), maka itulah kerugian yang amat nyata.

Wahai diriku yang menuliskan ini; di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang abadi, maupun kesengsaraan yang berketerusan. Kebahagiaan, pasti diwarnai dengan kesusahan dan kesedihan. Kesengsaraan pun, juga diselingin dengan kesenangan dan kemudahan. Tapi, di akhirat kelak, hanya ada 2 pilihan; kenikmatan tertinggi yang tiada kesudahannya atau kesengsaraan terburuk yang tiada akhirnya. Tentang bagaimana endingnya; di dunia inilah tempat mempersiapkannya.

Wahai diriku yang menuliskan ini; tiadalah engkau dapat menempuh jalan yang benar, kecuali dengan pertolongan Allah. Tiadalah engkau dapat menapaki jalan yang lurus, kecuali atas hidayah taufik-Nya. Maka, sandarkan dan senantiasalah meminta pertolongan-Nya saja. Atas setiap detik-detik yang engkau miliki, agar senantiasa berada di koridor yang DIA Ridha saja. Cukup DIA saja.

#menasihati diri
#pengingat
#dunia ini singkat
Read More

Pengalaman Ikut Tes CPNS di Luar Negeri

Hehehe.
(Malah ketawa duluan).

Baiklah. Aku share pengalaman ini hanya sebagai kenang-kenangan aja. Jika masih ada umur, ini yg in shaa Allah akan dikenang di tahun-tahun mendatang in shaa Allah. Mudah²an bukan sekedar cerita yang tidak bermanfaat.

Jadi, info-info cpns ini ga begitu heboh di grup-grup WA yang aku ikuti. Apalagi karena berdomisili di luar negeri. Paling, suami yang dapat info dari grup angkatan di SMA.

Nah, pas dapat info itu, suami bilang, "coba ikutan yuk." Aku rada kaget juga, secaraaaa, kamus PNS ga ada dalam pikiran kami sebelumnya. Hehehe. Tapi, karena ini tahun terakhir yang eligible untuk kami ikut cpns maka terbersitlah niatan untuk mencoba ikutan. Aku dan suami meskipun beda tahun kelahiran tapi aslinya kami beda 1 bulan aja hehehe. Beda 1 bulan (desember vs januari), beda 1 angkatan (2004 vs 2005), beda 1 tahun secara angka tahun lahir (1986 vs 1987), beda 1 angka tanggal kelahiran (tanggal 29 vs tanggal 30) 😂. Tapi beda kampusnya jauh banget. Dia di kampus TOP di Indo (ITB) dan aku di Unand di Sumbar jee. Hehehe. Beda hobi hampir 100%. Beda preferensi hemisfer otak juga (dia otak kiri dan aku otak kanan). Lho.. lho.. malah bahas ini.. kekeke.

Jadi, secara umur, ini tahun terakhir kesempatan kami untuk ikut tes cpns. Daan, di tahun ini bisa ikut ujian tes cpns nya di luar negeri. Enggak mesti pulang ke Indo. Meskipun ini tahun terakhir kesempatan ikut cpns, tapi jika harus pulang ke Indonesia untuk ikut tes cpns, maka kami pasti tidak akan mengambil kesempatan terakhir ini tentunya. Jadiii, intinya tes ini cuma nothing to lose aja buat aku dan suami.

11 tahun yang lalu, ketika pertama kali aku eligible untuk ikut test cpns, sangat berbeda dengan tes cpns yang aku ikuti sekarang. Tes di kala itu masih pakai kertas Abo yanh dibulatkan dengan pensil 2B. Tes diselenggarakan oleh BKD setempat bukan terpusat. Daaan tidak transparan sama sekali. Jadi, peluang nepotismenya sangat tinggi. Allahu'alam.

Sebelas tahun yang lalu, aku ikut tes cpns dengan antusias yang cukup tinggi. Karena berharap bisa pulang kampung, mengabdi untuk negeri. Heuheu... Peluang di kampung halaman cukup besar kala itu (ada 3 slot). Selain itu, aku cukup well prepared ketika mengikuti tes tersebut. Beli 2 buku latihan cpns, dan dua-duanya tuntas dibahas. Aku masih menyimpan dokumentasi foto-foto buku latihan cpns yang penuh coretan itu kalo tidak salah. Hehe.

Ketika menjawab soal pun, aku merasa cukup puas ketika selesai ujian. Tapi, qadarallaha ma shaa a fa'al. Allah tidak luluskan aku. Dan alhamdulillaah, itu adalah ketetapan terbaik dari Allah. Jika lulus, ga kebayang harus LDR dengan suami. Hehe.

Di tahun-tahun berikutnya, aku tidak lagi mengambil kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam test sejuta umat yang bernama test cpns ini. Bahkan, di tahun 2013 di mana formasi untuk apoteker paling banyak (4 orang) untuk kabupaten Solok Selatan, aku melewatkannya. Karena masa itu, aku lagi nunggu istiqdam untuk berangkat ke Riyadh.

Nah, di tahun 2021 ini, di mana ini adalah kesempatan terakhir aku dan suami ikut, akhirnya kami mencoba ikutan juga. Meskipun dalam mengumpulkan berkas-berkasnya, aku kadang merasa maju mundur. Beberapa kali membatin, "Apa ga usah aja ya." Heuheu. Karena, aku merasa sekarang berbeda dengan 11 tahun lalu. Baik itu animo, semangat, antusiasme dan orientasinya. Meng-upload berkas pun udah injury time. Di akhir-akhir batas pemberkasan.

Beberapa alasan kenapa aku tidak seantusias 11 tahun yang lalu adalah:
1. Karena formasi yang tersedia untuk pilihan yang aku pilih cuma ada di 2 lokasi. Di antaranya; Kalimantan dan Semarang. Pilihanku adalah Semarang. Karena di Semarang, lebih dekat ke kampung halaman dibanding di Kalimantan.
2. Karena mungkin sekarang itu aku berada di zona nyaman. Rasanya udah nyaman di posisi di rumah aja. Jadi full IRT. Rasanya, agak susah untuk move on untuk saat ini hehe.
3. Aku masih berharap bisa stay lebih lama di KSA karena lebih dekat dengan masjidil Haram dan Masjid Nabawi dibanding dari Indonesia.
4. Jika pun pada akhirnya mau ga mau harus final exit dari KSA, aku masih pengen "berpetualang" di negara lain dulu baru pulang ke Indonesia.

Dan 3 alasan mengapa aku ikut adalah:
1. Ini kesempatan terakhir secara usia dimana tes cpns maximum usia 35. Sedangkan aku sekarang di usia 34.
2. Tes bisa diselenggarakan di luar negeri dan KBRI Riyadh adalah salah satu titik lokasi yang available.
3. Biar ga ada "penyesalan" di kemudian hari dan setidaknya sudah mencoba. Perkara lulus atau enggak, itu adalah urusan Allah.

Jadi, aku tes CPNS kali ini dengan kondisi hati yang sangat netral. Jika Allah takdirkan lulus, alhamdulillaah. Jika Allah tidak takdirkan lulus, juga Alhamdulillaah.

Pas pengumuman kelulusan seleksi administrasi alhamdulillah lulus. Aku awalnya ragu karena ada syarat sertifikat profesi untuk peserta yang profesi (dokter, apoteker, ners, akuntan dll). Aku tidak mengerti maksud sertifikat profesi itu apa. Karena di Farmasi sendiri, juga ada sertifikat kompetensi apoteker di mana serkom itu udah expire sejak 6 tahun yang lalu 😂😂. Jika harus mengurusnya, gak mungkin dalam waktu 3 hari karena harus ikut ujian OSCE atau OSPE dulu. Untuk ikut ujian OSCE, harus terdaftar dulu di IAI (ikatan apoteker indonesia) cabang tempat kita domisili. Daan, aku ga terdaftar di IAI daerah mana pun karena domisili luar negeri. Jadi, kalo yang dimaksud sertifikat profesi itu adalah sertifikat kompetensi profesi, maka wassalam. Aku end up. Hehe. Tapi, akhirnya aku search lagi bahkan menurut undang-undangnya gimana. Apa maksudnya.
merujuk ke permenristekdikti nomor 69 tahun 2018 ini maka pengertian sertifikat profesi adalah sebagai berikut:
jadi sertifikat/ijazah profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi gitu. Naah, berarti itu artinya ijazah profesi kan. Akhirnya berkas yang aku aplod di opsi sertifikat profesi adalah ijazah apoteker. Dan alhamdulillah ternyata ketika seleksi administrasi, berkasnya lulus.

Berikutnya adalah tes SKD. Sistem yang sekarang kan sudah pakai sistem CAT kan yaa. Jadi sangat transparant. Really appreciate dengan sistem CAT yang sangat transparant dari BKN ini. Ma shaa Allah. Bahkan livescore pun dapat dilihat.

Hampir seluruh instansi telah melaksanakan SKD tapi untuk tilok luar negeri masih belum ada pengumumannya. Sehingga hampir saja aku lupa kalau aku udah daftar ikut Cpns. Xixixi. 😅
Alih-alih belajar dan persiapan, aku malah santai aja. Enggak kepikiran 

Akhirnya keluar pengumuman tentang pelaksanaan tes cpns tilok luar negeri. Aku mendapat jadwal tanggal 27 oktober 2021 di KBRI Riyadh. Qadarullaah, suami juga mendapatkan jadwal yang sama. Sama-sama tanggal 27 oktober. Ketika jadwal keluar, aku galau lagi. Jarak ke KBRI dari rumah itu sekitar 31 km. Pagi-pagi sampai jam 9 itu jam macet. Jadi setidaknya kami harus meninggalkan anak-anak selama 5 jam. Kami belum pernah meninggalkan anak-anak selama itu hanya bertiga saja. Beraaat banget rasanya. Maju mundur rasanya apakah aku lanjut atau enggak tes cpns nya. Karena ga tega meninggalkan anak selama itu.

Aku mencoba menghubungi seorang yang bisa dipanggil untuk bekerja paruh waktu sekaligus jagain anak-anak, tapi ternyata di hari itu dia sudah booked di rumah orang lain. Nitip ke tetangga (sesama indonesia dengan jarak 2-3 km an dari rumah)? Aku ga enak juga nitipin anak karena pasti akan memberatkan mereka. Kalo tetangga persis di bawah gedungku? Lebih ga bisa lagi karena aku ga begitu kenal fan beda negara juga. Makanya aku bingung apakah aku akan lanjut atau tidak cpns nya. Tapi suami meyakinkan kalau anak-anak sudah bisa ditinggal dan mereka sudah cukup besar. Sekaligus juga latihan kemandirian buat mereka.

Akhirnya, aku memutuskan untuk lanjut. Tapi, 2 hari sebelum tes aku coba try out. Ternyata nilaiku rendah banget. 🤣🤣
TWK cuma dapat nilai 45. TIU 76 an. Dan TKP juga cuma 45. Ahahaha. Kalo nilai segini sudah pasti ga lulus kaaan. Try out berikutnya H-1 bareng sama suami. Aku tes simulasi dari cat.bkn.go.id (langsung dari situs BKN nya 😅). Walhasil nilai TWK malah turun jadi 40 🤣🤣 nilai TIU dan TKP aku lupa. Jumlah totalnya cuma 283. Sementara passing grade adalah 311. Ga lulus kaan. Try out selanjutnya pas sorenya, TWK naik jadi 60. Hahaha. Bener-bener udah lupa ama pelajaran sejarah akunya. Namanya juga ga belajar kan yaa. Subhanallaah. Sementara suami, 2x try out nilainya selalu di atas ambang batas. Padahal kami sama-sama ga belajar dan sama-sama ga persiapan untuk ikut tes CPNS ini.

Malam sebelum tes, aku bilang sama suami; bahwa aku merasa pengen mundur aja tes besok. Karena 3x TO, aku ga pernah lulus. Rasanya terlalu mahal harga yang harus dibayarkan yaitu meninggalkan anak-anak bertiga aja tapi ternyata pada akhirnya enggak lulus juga. Mending ga usah ikut sekalian. Tapi suami meyakinkan bahwa khair in shaa Allah. Bismillaah aja akhirnya. Di sisi lain, I wish we have different schedule. Tapi, kami tidak tau siapa peserta lain karena yang dari bidang yang aku pilih, cuma aku satu-satunya di KBRI Riyadh dan suami juga demikian. Sampai kita nyeletuk, "jangan-jangan cuma kita berdua doang nih yang okutan tes cpns besok." 😂😂
Pas sampai di KBRI, ternyata benar sodara-sodara. Cuma kami berdua aja yang ikut tes di sesi itu. Di KBRI Riyadh, ada 10 peserta yang ikut. Dibagi 3 hari. Tanggal 26-28 oktober. Satu sesinya 2 orang. Dan qadarullaah jadwal kami sama. Padahal ada peluang di hari berbeda atau jam berbeda kan yaa. 

Aku acungkan jempol yang banyak untuk panitia di Riyadh yang sangat baik, ramah dan well managed. Kalo di Indo ikut tes, ga akan dijamu sedemikian rupa kayaknya. Di KBRI kami dijamu oleh panitia ma shaa Allah. Disediakan ruang tunggu yang nyaman pula. Kami berdua, panitianya sekitar 7 orang 😂. Banyakan panitianya. Panitianya baik dan ramah. Bahkan setelah selesai ujian pun, kami disediakan lunch juga berupa Burger King 2 porsi besar. Ma shaa Allah tabarakallaah. Barakallahu fiihum untuk tim dari KBRI Riyadh. Kalau tes di Indo mana ada disediakan lunch kan yaa. Hehehe. 

Tapi, yang namanya emak² yang ninggalin anak, tetap aja pikiranku itu bercabang-cabang. Ga bisa 100% fokus ngerjain ujian kecuali untuk soal TIU. Xixixi.. Waktunya 100 menit. Jumlah soal 110. Ketika mengerjakan soal-soal TKP (bagian pertama yang aku kerjakan terlebih dahulu) aku agak kurang fokus. Soalnya juga agak panjang. Tapi ketika soal TIU yang butuh konsentrasi, aku lumayan bisa fokus. Selain itu, aku juga diburu waktu karena aku mengerjakan TIU terakhir kali. Kedua adalah TWK. Ketika mengerjakan TIU itu waktu tersisa adalah 40 an menit. Padahal soalnya 35 dan hitung-hitungan serta logika pulak.

Finally ujian berakhir alhamdulillaah. Nilai yang aku peroleh itu alhamdulillaah lulus passing grade yaitu dengan total 416 (85 TWK, 140 TIU, 191 TKP). Nilai ini tidak termasuk tinggi sebenernya. Mungkin standar lah yaa. Sekitar 75% yang benar. Tapi, nilai ini membahagiakan bagiku yang tes nyaris tanpa persiapan dan try out yang selalu gagal di H-1 hehehe. Alhamdulillaah. Ini adalah pertolongan Allah. Hadza min fadhli Rabbi. Bukan karena aku hebat apalagi merasa mampu. Sungguh kalau bukan karena pertolongan Allah, aku takkan bisa.

Apakah aku lulus ke tahap selanjutnya yaitu SKB? Allahu'alam. Meskipun lulus SKD tapi kalau diurutkan secara nilai, hanya 3x quota yang akan dipilih untuk maju ke test berikutnya (SKB). Pilihan yang aku pilih itu quotanya hanya 2 orang. Jadi, yang berhak ikut SKB tentu hanya 6 orang. Jika ada 10 orang aja selain aku yang memilih opsi yang sama dan mereka semua di atas 416, sudah barang tentu aku ga maju ke seleksi SKB. 

Sekarang tergantung takdir Allah saja bagaimananya. Allah yang Maha Tahu apa yang terbaik buat diriku dan keluarga. Jadi, aku pasrahkan pada-Nya saja. Jika lanjut, alhamdulillaah. Jika tidak lanjut juga Alhamdulillaah. Allah lah sebaik-baik perencana. Segela ketetapan-Nya, adalah yang terbaik.

Demikian sekelumit ceritaku tentang cpns. Hanya sharing aja sebagai kenang-kenangan. Semoga Allah berkahi setiap langkah kita. Aamiin ya Rabb.


Read More

WFO dan Dilema yang Menyertainya

Tiba² tadi sore suami ditelpon oleh menejer di kantor untuk start WFO (work from office) alias kerja yang kayak normal seperti sebelum pandemi alias ngantor mulai besok pagi (in shaa Allah). Mungkin pekerja dari sektor lain sudah lama mulai WFO bahkan sejak lockdown sudah dibuka dulu. Tapi untuk kerjaan suami yang masih bisa remote, terhitung sejak maret 2020 hingga hari ini 17 Oktober 2021 masih WFH. Kecuali jika harus ke site/server.

Per 17 oktober ini, seiring case di Saudi yang sudah menurun (sekitar 40 an cases per hari) dan meningkatnya persentase vaksinasi, maka Social distancing sudah tidak wajib lagi. Selain itu di luar atau udara terbuka sudah tidak wajib pakai masker lagi. Karena kelonggaran ini, maka dari kantor pun sudah mulai WFO.

Di satu sisi, di masjid al Haram itu adalah berita baik karena shalat sudah bisa full capacity. Tapi, kalau untuk urusan kerjaan, kayaknya enakan WFH deh. Hehehe... 
Lebih dari 1.5 tahun WFH, rasanya sudah nyaman dengan kondisi ini. Sudah terbiasa dengan kerja dari rumah. Lalu, tiba² diharuskan ngantor lagi, bukan hanya suami yang kagok dan merasa tidak siap. Aku pun juga. Rasanya tidak ready untuk kembali WFO apalagi mendadak kayak gini. Rasanya agak deg-degan dan juga ... galau. Allahu musta'an.

Dengan WFO berarti totally berubah juga daily-activity sekeluarga. Harus pagi-pagi remvong nyiapin bekal, nyiapin segala sesuatu buat ngantor yang selama ini nyantai pas WFH. Ga harus buru² nyetrika karena cuma WFH. Hehehe. Ga perlu remvong² nyiapin bekal juga. Belum lagi anak² yang udah lengket ama ayahnya selama WFH yang kalo nangis pasti nyari ayah. Klo ayah WFO, kan susah mau ke ayah. Heuheu. That's life... Alhamdulillaaah...

🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Pelajaran berharga:
WFO mendadak itu ketika kita tidak ready, sudah cukup untuk membuat kita panik, deg-degan dan kagok. Lalu, bagaimana dengan kematian? Ia datang kepada kita dengan tiba-tiba. Tak menunggu ready. Tak menunggu kita siap-siap. Tak menunggu taubat kita dulu. Sejatinya, hendaknya kita senantiasa dalam kondisi bersiap. Tapi, diri ini masih banyak lalainya dan sering lupa bahwasannya waktu pulang itu adalah pasti. Dan waktunya adalah tanpa pengumuman alias tiba-tiba. Semoga Allah berikan kita kesempatan untuk bertaubat sebelum maut dan diberikan hidayah-Nya untuk mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan panjang setelah dunia. Aamiin yaa Rabb.

Read More

Manusia dan "Kabad"nya

Kemarin habis mendengar cerita dari seorang ummahat yang sedang mengantarkan anaknya sekolah di luar negeri lalu setelah itu melihat (qadarullah sampai ke sini aku browsingnya padahal tadinya ga niat mau searching²) ada teman-teman kuliah dulu yang menjadi dosen di Farmasi UI (ada 3 orang yang aku kenal menjadi dosen di sana). Sebagai orang yang pernah bercita-cita jadi dosen, aku surprise daan mbatin "waaah.. ma shaa Allah yaaa ...". Apalagi kalau semisal dosen kita sendiri bilang "sayang yaah Fathel, akhirnya ga 'mengabdikan' ilmunya (cuma di rumah aja jadi ibu rumah tangga-red)."
Sebagai manusia yang memang sunnatullaahnya memiliki banyak keinginan, ada semacam rasa kepengen juga menjadi seperti teman-teman tersebut. Apalagi misalnya ... pernah punya kesempatan untuk itu namun kemudian memilih untuk melepas kesempatan tersebut.

Bukan. Bukan menyesali keputusan untuk tidak mengambil kesempatan tersebut karena keputusan itu adalah demi kebaikan lain yang ingin dikejar. Dan aku sama sekali tidak pernah menyesal telah memilih untuk peran yang sedang aku jalani saat ini, alhamdulillaaah. Tapi, kadang, ketika melihat ada teman yang berada di posisi tersebut (yang dulu pernah kita inginkan) muncullah rasa-rasa seperti ingin juga. Ya, yang namanya qalbu adalah sesuatu yang memang berbolak-balik dan tidak menetap kan yaah.

Tapi, pada akhirnya setelah itu aku merenungi bahwasannya betapa Maha Baik-nya Allah yang telah memilihkan jalan dan peran terbaik ini untukku. Aku bersyukur dengan catatan takdir-Nya yang sungguh sangat Indah. Dia-lah Dzat yang Maha Sempurna dalam memberi ketetapan. Alhamdulillaah, tsumma alhamdulillaah.

Setiap kita, hanyalah pengembara di dunia ini dan PASTI akan kembali pada kehidupan yang sesungguhnya yaitu akhirat. Tiadalah tujuan kita melainkan kebaikan yang tak berujung di akhirat yaitu surga-Nya. Tak ada orang yang ingin "pulang" ke neraka. Pasti semuanya ingin ke surga. Sekelumit dari dunia ini hanyalah ujian-ujian saja, apakah akan mengantarkan kita pada rumah yang sesungguhnya di surga atau malah sebaliknya--nasalullahu al 'aafiyah.

Sejatinya, apapun jalan yang telah dipilih, yang terpenting adalah ia mengantarkan pada surga-Nya. Apakah dengan menjadi dosen dan atau berkontribusi lebih banyak di luaran sana. Atau dengan menetap di rumah. Semuanya sama saja selama itu adalah jalan yang Allah ridha. Yang berada di luar, in shaa Allah bisa memberikan banyak kontribusi untuk ummat. Tapi, bukan berarti yang menetap di rumah tak memiliki kontribusi apa-apa. Boleh jadi, diam di rumah tapi justru banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Dan aku termasuk orang yang sangat bersyukur saat ini Allah tetapkan berada di rumah, tidak di luar sana. Meskipun, diri ini masih sangat jauh, masih berjuang untuk berbenah, dan masih tertatih memperbaiki diri.

Allah Maha Mengetahui. Aku dengan tipikal orang yang tidak bisa multitasking, maka Allah tetapkan untuk fokus di satu hal saja. Bisa jadi ketika aku memilih kerja di luar, bisa jadi anak-anak jadi terabaikan, na'udzubillaah. Dan sekali lagi, aku sama sekali tidak menyesal untuk melepas kesempatan demi hanya untuk di rumah saja. Setidaknya sampai saat ini. Mungkin akan berbeda kedapan kalau Allah mentakdirkan lain. Bisa jadi suatu saat Allah takdirkan aku juga berada di luar sana. Allah yang lebih mengetahui.

Sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan "kabad" nya masing-masing. Dengan kesusahannya masing-masing. Sesuatu yang dimiliki oleh orang lain mungkin tampak indah dan menarik di mata kita. Tapi, sejatinya di dunia tidak ada kesenangan yang abadi. Pasti segala sesuatu memiliki kesusahan dan obstacle masing-masing. Apalagi, ketika yang Allah beri kepada adalah banyaaak kenikamatan. Banyaknya kemudahan-kemudahan. Curahan nikmat-Nya yang tak terhitung. Tidakkah kita bersyukur?! Bisa jadi pula banyak orang yang menginginkan posisi kita saat ini. Maka, selalulah syukur ... syukur ... syukur...
Apapun itu, yang terpenting adalah bagaimana agar kita selamat di akhirat. Dunia ini ..., memang sangat indah, melenakan, namun cepat layu. Keindahan dan kemolekannya sering memperdaya, dan justru di sinilah ujiannya. Selain ia terlihat manis, kita pun dibekali dengan hawa nafsu untuk menginginkannya dan bisikan dari syaithan yang punya misi mencegah anak cucu Adam dari surga. Berat. Sangat berat ujiannya. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan agar dalat selamat dari fitnah-fitnah dunia ini (dan juga fitnah setelah kematian). Selama kita masih menyandarkan pada diri kita sendiri, sungguh itu adalah sandaran yang sangat lemah. Ibarat bersandar pada kain lapuk atau bersandar pada angin. Maka, hanya kepada-Nya lah kita bersandar, meminta pertolongan agar Dia selamatkan kita di akhirat dan di dunia. Semoga kita tidak menjadikan dunia ini sebagai tujuan, puncak cita,  sehingga lupa jalan pulang ke akhirat. Aamiin yaa Rabb


#Refleksi
#Merenung
Read More

Surprise

Beberapa waktu lalu, sepulang dari embassy (untuk renewal passport anak kedua kami), aku merasa sedikit khawatir. Kenapa koq suami lama banget nyampe di rumah. Perjalanan ke embassy kalo macet butuh 1 jam lebih. Tapi kalo ga macet harusnya 30-40 menit sudah sampai rumah. Tapi ini sudah 1 jam lebih. Mana mau telpon juga HPku mati. Akhirnya pakai HP jadul yang ga bisa nelpon, kucoba nelpon dengan googleduo.

Ternyataa ... begitu pulang, aku dapat surprise. Ma shaa Allah. Ini tentu bukan surprise pertama. Tapi ... seneng banget rasanya dapat surprise kali ini. My favourite; steak dari TGI friday.
Dulu sebelum pandemi, lumayan sering ngadate di sini. Hampir tiap bulan. Tapi sejak pandemi kita nyaris ga pernah dine in lagi. Karena "default" nya kita dine in di TGI, jadi kita ga pernah ke sini lagi sejak pandemi. Pas ngelewatin branch yang biasa jadi tempat kita ngedate, aku nyeletuk "duh kangen deh ngedate di sini lagi. Udah lama ga ke sini yah kitah."

Karena kita mostly pakek delivery order aja klo makanan, bahkan grocery dan pharmacy, makanya Ma shaa Allah, really surprise pas dibawain ini sama suami. Barakallahu fiik yaaa Cinta. ❤🤩🥰 Jazakallaahu khair katsir atas surprise nya dan buanyaaaak surprise² sebelumnya (dan sesudahnya juga) karena kejadian ini beberapa waktu yang lalu.
He knows me so well. Ma shaa Allah.. Alhamdulillaah tabarakallaaah. Istrinya yang steak lover inih. Hehehe..

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Aku merasa menjadi istri paling beruntung di dunia dikaruniakan belahan jiwa yang ma shaa Allah sangaaat baik, memahamiku dengan sangat. Mungkin aku tidak punya diksi yang bisa mewakili betapa aku sangat bersyukur menjadi istrinya. Dia yang Allah karuniakan menjadi soulmate-ku, adalah sosok yang ibarat aku minta 10 sama Allah tapi Allah yang Maha Baik ngasih aku 100 bahkan lebih. Alhamdulillaah binni'matiHi tatimmushalihaat.

Rememori ke masa-masa yang telah berlalu. Sekitar 5 bulan sebelum akhirnya kami berada pada ikatan mitsaqan ghaliidza. Pada masa di mana aku menyerahkan kepada Allah, siapa pun jodoh terbaik yang Dia tetapkan. Cukuplah pada-Nya saja. Terserah Dia saja. Oleh sebab, sebesar apapun upaya untuk berjodoh dengan seseorang, walaupun seluruh dunia mengupayakan dan menyetujuinya, takkan pernah bisa jika bukan seseorang itu yang menjadi catatan-Nya untuk kita. Allah Maha Baik. Allah Maha Sempurna dalam memberi ketetapan. Dan aku termasuk orang yang sangat bersyukur dengan ketetapan-Nya itu. Ketika Dia memberiku jodoh yang jauuuh lebih baik dari apa yang aku harapkan. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku hanya meminta 10 tapi Allah memberiku lebih dari 100. Allahu akbar. Ma shaa Allah tabaarakallah.

Pada titik itu, aku benar-benar berserah. Berserah dengan ketetap-Nya saja. "Cukup Cara-Mu saja ya Rabb" yang senantiasa aku gaungkan. Dan benar. Allah memberikan jalan jodoh yang sama sekali tak pernah aku duga. Bahkan tak pernah terpikirkan olehku akan begitu jalan yang Allah pilihkan. 

Aku ingin menceritakannya lebih jauh sebenernya. Tapi sudah aku ketik panjang lebar di sini, tapi kuhapus lagi 😁. Aku simpan sebagai kenang-kenangan buat kami berdua saja. Karena sekarang aku sudah more introvert kayaknya 😂🤭.

Tapi, aku merasakan dengan sangat bahwa dialah sosok yang sangat bersesuian secara jiwa. Aku merasakannya sejak hari pertama kami berada dalam ikatan halal. Bersamanya, meski hanya ngobrol saja, tapi sekian jam tak terasa waktu berlalu. Menertawakan hal-hal kecil bersama. Sering kali, ketika aku baru membatin saja (hanya terlintas dalam hati) ternyata ia juga memikirkan hal yang sama persis. Ma shaa Allah tabaarakallaah. Kadang kami sampai heran sendiri, koq kayak bisa nebak pikiran gitu saking samanya apa yang kami pikirkan. Ma shaa Allah. TabarakarRahmaan.

Tidak cukup kata dan space di blog ini untuk menceritakan begitu banyaak kebaikan-kebaikannya. Meskipun kadang aku ingin menceritakannya. Tapi, kemudian aku berpikir, tak perlulah aku ceritakan pada khalayak. Bersyukur. Bersyukur. Dan bersyukur. Itulah diksi yang paling tepat untuk menggambarkannya. Dan tentang kebaikan-kebaikannya, cukuplah Allah yang memberikan balasan dengan yang lebih baik.

Semoga Allah mengumpulkan dan menjodohkan aku dan dirinya tidak hanya di atas dunia yang sangat sebentar ini. Tapi, di tempat terbaik yang tiada kesudahannya yaitu Jannah. Aamiin yaa Rabb. Sebuah cita² semua pasangan tentunya
Read More

Bahasa Arab

Hampir 8 tahun tinggal di Arab Saudi, sayangnya kemampuan bahasa Arabku bisa dibilang not too good. Hiks. Padahal Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur'an. Bahasa yang Allah pilih untuk kalam-Nya yang mulia. Dan bahasa para penduduk surga.

Orang mengira, dengan tinggal di arab saudi, otomatis aku akan bisa berbahasa arab. Tapi sayangnya pada kenyataannya tidak demikian. Kultur masyarakat di sini ketika aku datang mungkin masih cukup tertutup untuk bisa belajar bahasa arab dengan lingkungan sekitar. Karena wanita pada umumnya berada di rumah. Pergi belanja pun juga hanya mengandalkan suami. Tidak bepergian sendiri (walaupun sekarang perempuan sudah bisa naik uber ke mana-mana dan sudah boleh menyetir juga. Tapi aku sendiri belum berani naik uber sendiri kalo tidak dalam kondisi sangat-sangat terpaksa dan belum bisa nyetir juga plus ga berani nyetir di sini. Soalnya orang-orang pada bawa mobilnya ngeri-ngeri. Kencang banget speednya karena jalannya lebaaar dan lurus. Kecuali di jalan² yang ada saheer atau radarnya. Hehe). Pagar rumah sangat tinggi dan sangat menjaga privacy perempuan. Jadinya aku tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat lokal. Ketemunya yaa orang Indonesia lagi. Ga ada perkembangan bahasa yang berarti.

Kemudian setelah anak kedua kami Rumaisha masuk sekolah (level kindergarten/KG) di mana ada grup WA untuk para ibu, aku kesulitan mengikuti percakapan karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ketika si Kakak dulu masuk sekolah, sama sekali tak ada grup para ibu. Komunikasi dengan guru menggunakan applikasi ClasaDojo
TIdak mudah untuk menggunakan google translate selalu kan yaa. Mungkin untuk ngomong sepatah dua kata masih bisa. Tapi kalau merangkai kalimat, aku kesulitan. Bahkan sekarang aku banyak bertanya kepada si Kakak tentang bahasa Arab. Anaknya lebih expert dari emaknya. Hehe. Ma shaa Allah.

Pasalnya pelajaran Bahasa Arab di sekolah Kakak dan Uni diajarkan dengan bahasa arab juga. Begitu pula pelajaran Al Qur'an dan Islamic Study. Full berbahasa Arab. Jadi, pas ada yang anaknya ga ngerti, emaknya enggak bisa ngajarin. Huhuhu. 

Sungguh, aku sangat ingin bisa belajar bahasa Arab juga. Semoga Allah memudahkan aku dan sesiapa pun yang ingin belajar bahasa Arab. Aamiin yaa Rabb.
Read More

Di Tempat dan Posisi Terbaik

Kadang kala ketika asa dan do'a yang belum/tidak Allah kabulkan itu tak kita ketahui hikmah dibaliknya pada saat itu juga (pada saat kejadian). Tapi, bertahun-tahun kemudian kita akan mengerti dan akan bersyukur kepada Allah, tentang tak terkabulnya asa tersebut. Allah, Dzat yang Maha Khabir (Maha Mengetahui dengan amat sangat detil tentang ciptaan-Nya) pasti selalu memilihkan untuk hamba-Nya sesuatu yang terbaik. Meskipun kadang tak bersesuaian dengan ingin kita. Tak memenuhi asa kita. Kehendak-Nya lah yang pasti berlaku. Karena pilihan-Nya pastilah pilihan yang terbaik. Pasti Dia menghendaki yang apa yang paling tepat untuk hamba-Nya. Ini adalah bagaimana kita ridha dengan takdir dan segala ketetapan-Nya.

Kita--dengan segenap kedhaifan diri--sama sekali tak mengetahui yang terbaik untuk diri kita sendiri. Bahkan apa yang akan terjadi dalam hitungan detik ke depan pun kita tak pernah tau.

Mungkin banyak dari episode-episode hidup kita yang kita ketahui mengapa Allah posisi seperti ini, bukan seperti yang itu setelah sekian masa berlalu. Dan kemudian kita syukuri, mengapa Allah pilihkan posisi ini meskipun pada saat itu adalah sesuatu yang tak sesuai dengan harapan dan do'a kita. Sungguh, Dia-lah Dzat yang Maha Khabir. Maha Mengetahui dengan amat sangat detil.

Aku mengenali diriku sebagai sosok yang sangat extrovert beberapa tahun silam. Blog ini menjadi saksinya 😅. Betapa dulu, apapun kejadiannya ... terdokumentasi di blog ini dan sosial media. Membacanya kembali, kadang membuat aku malu sendiri. Jika tak ada hikmah yang ingin dibagi, ingin kuhapus saja postingan-postingan itu. Satu kata: memalukan. Hehe. Tapi, meski demikian aku berharap ada hikmah yang bisa dipetik. Meskipun kata hikmah itu hanyalah sepenggal kalimat saja. Itulah sebabnya, aku memilih membiarkannya. 

Sekian masa berlalu. Menikah dengan sosok yang introvert, kini sepertinya kami sudah "bertukar karakter" 😂. Begitulah sepasang jiwa. Saling mempengaruhi dan saling "mencuri tabiat". Kini kudapati, beliau lebih extrovert dan aku sendiri jadi introvert ehehehe. Tapi, aku menikmatinya. Dulu, aku dijuluki "the most lebayer un the world" sama si doi. Tapi sekarang kayaknya "gelar" ini sudah berpindah deh. Hihi. Aku lebih cendrung untuk tidak men-share segala sesuatu atau memberi tahu segala sesuatu sekarang dan berpikir puluhan kali untuk men-share nya di sosial media. Paling, hanya di blog ini aku lebih banyak share di mana aku yakin ga banyak yang sengaja berkunjung ke sini. Sebagai sosok "new introvert" (haha adaa yaa istilah ini?), aku merasa nyaman men-share di sini yang sepi untuk dilihat, tak ramai untuk di-like. Ekekeke. Biarlah "peselancar dunia maya yang kesasar" saja yang berkunjung ke sini. Tapi, yang paling terpenting (siapapun yang berkunjung ke rumah mayaku ini) dapat memperoleh manfaat meskipun kecil seperti hanya sebutir pasir saja. Aku khawatir jika ada yang mampir ke sini, tapi tidak membawa kebaikan apapun. Dan yang terpenting lagi adalah ... aku menulis di blog ini juga sebenarnya dalam rangka menasihati sekaligus mengingatkan diri sendiri.

Beberapa saat lalu aku "menyelami" profil IG seorang yang kutau shalihah dan terkenal di sejagat maya dengan segenap prestasi-prestasinya. Follwernya banyak. Lebih dari 100K. Pun, banyak hikmah yang dia share yang dapat diambil pelajarannya--in shaa Allah--dan menjadi pemantik semangat bagi yang lain, biidznillah. Ia meraih gelar PhD dari universitas terkenal dan terbaik di luar negeri di usia yang relatif sangat muda dan segenap penghargaan lainnya. Ia juga menulis beberapa buku, memiliki re-search yang banyak, diwawancarai di beberapa stasiun televisi, dan segudang prestasi lainnya. Aku jarang men-stalking akun seseorang begitu dalam kecuali ia sangat menarik perhatianku. Selain itu, aku juga termasuk yang jarang mengakses instagramku.

Apa pelajaran yang ingin aku petik? Ya, tentang posisi yang Allah tempatkan. Sebagaimana aku memberi judul tulisan ini. Menjadi terkenal adalah salah satu anugrah dari Allah ketika keterkenalam itu dapat memberi banyak manfaat dan memantik semangat serta menebar kebaikan bagi banyak orang. Barakallah. Aku mendo'akan semoga keberkahan senantiasa meliputi ia dan keluarganya. Sungguh, diperlukan sosok-sosok hebat seperti ini lahir dari sosok muslim atau muslimah. Inilah kemanfaatan yang besar. Semoga, di keluarga muslim lainnya, bermunculan pula sosok-sosok hebat seperti ini. Di sisi lain, keterkenalan itu memiliki "kelezatan jiwa" tersendiri tentunya. Tapi, ini sangat membuka peluang-peluang untuk terjerumus pada sesuatu yang menggelincirkan.

Mengapa Allah tidak memilih yang lain (misalnya aku, hehehe 😁) untuk berada di posisi itu? Oleh sebab Allah lebih tau maslahatnya untukku (ataupun orang lain) yang tidak Allah tempatkan di posisi tersebut. Bisa jadi, jika aku yang berada di sana; aku menjadi lebih sulit menata niat, sulit berlepas diri dari kesombongan dan merasa diri lebih baik, ataupun merasa ujub dengan kehebatan diri. Sedangkan berada di posisi yang "remah-remah rengginang" saja masih banyak peluang untuk semua hal tersebut. Dan meskipun bukan sosok hebat dan terkenal, aku tetaplah seseorang yang jungkir balik dan tertatih-tatih dalam membenahi niat. Sungguh banyaaaak sangat salah dan alfanya. Apalagi jika berada di posisi muslimah hebat tersebut. Mungkin aku jauh lebih buruk. Mengapa dia yang Allah pilih? Karena Allah Maha Mengetahui bahwa ketika posisi itu berada di tangannya, maka ia mungkin dapat memenej hatinya jauh lebih baik, ia mungkin lebih selamat dari ujub dan ketika berada di posisinya tersebut, ia memberikan mashlahat yang jauh lebih banyak. Sedangkan aku, mungkin tak selamat dari itu semua jika aku berada di sana.

Di sisi yang lain, kadang ada rasa inferior juga. Maksudnya, tetiba merasa ... "waah dia itu kontribusinya banyaak yaaa untuk ummat. Apalah aku ini, udah cuma 'gini-gini aja', ga banyak kontribusinya."
Ups! Alert ⚠️⚠️⚠️. Segala keadaan adalah baik adanya. Allah tempatkan kita pada posisi ini, pastilah ini yang terbaik untuk kita! Adalah lebih baik mendo'akan orang yang Allah beri banyak anugrah tersebut agar mendapat anugrah lebih lagi.
Tak perlu inferior, oleh sebab Allah-lah yang telah menempatkan kita di sini.
Betapa banyak amalan kecil, menjadi besar oleh karena niat. Jangan meremehkan hal kecil yang kita anggap bukan apa-apa yang ternyata memiliki nilai besar di sisi-Nya (baik hal yang merupakan kebaikan maupun keburukan). Bukankah sebaris ucapan dzikir "Subhanallah wa bihamdiHi, subhanallah al Adziim" sesuatu yang sangat ringan tapi ternyata berat di timbangan mizan? Bukankah meremehkan (maaf) cebok yang tidak proper dapat berakibat azab kubur--na'udzubillah. Maka, lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan dengan pertolongan-Nya. Sebagaimana Rasulullah mewasiatkan untuk menyelamatkan diri dari api neraka meski hanya dengan setengah butir kurma. Cukupkan berbuat (meski hal kecil sekalipun) hanya karena-Nya dan untuk-Nya. Ini adalah nasihat yang ditujukan untukku yang menulis terutama.

Back to introvert. Meskipun menjadi terkenal adalah suatu "kelezatan jiwa" tersendiri, ternyata bagi orang introvert tidak sepenuhnya begitu juga. Kadang, menjadi tersembunyi itu jauh lebih menentramkan. Tidak dikenali itu ternyata lebih nyaman untuk hati. Tidak menceritakan ke khalayak tentang apa pun (baik nikmat yang Allah berikan apalagi aib atau sesuatu yang buruk) ternyata juga punya kelezatan di sisi yang lain. Meskipun aku tidak bisa mengatakan bahwa itu lebih baik juga. Karena orang yang terkenal kemudian dia membawa banyak kemashalatan dan memberi contoh kebaikan tentulah lebih utama dan lebih baik. Tapi, terkadang pada kondisi tertentu, menjadi tersembunyi adalah lebih baik. Jika mampu untuk menjadi tak terkenal (tidak banyak share tentang segala apa yang kita punya, nikmat yang Allah anugrahkan, anak-anak yang begitu membanggakan, dan segenap kelebihan lainnya), maka lakukanlah. Karena nikmat yang kita share pada orang lain (bisa jadi sampai pada orang yang tidak tepat), boleh jadi menimbulkan pandangan mata yang hasad dan ini sebenarnya membahayakan diri kita sendiri juga. Ini juga pengingat bagi diriku sendiri, agar tak bermudah-mudah untuk share segala sesuatu apalagi berpotensi menimbulkan hasad. #NoteToMySelf

Selain itu, dunia bukanlah tujuan kita yang sebenarnya. Ini adalah tempat mampir yang sebentar. Cantik, indah, dan melenakan memang dunia ini. Tapi sangat cepat layu. Hanya sekejap saja. Jadi, tidak perlu terlalu fokus untuk mengejar banyaknya gelimang dunia dan segenap gemerlapnya. Utamakan keselamatan kita di akhirat sana. Oleh sebab, di sanalah hari-hari yang berat. Dan oleh sebab, di sanalah tempat keabadian. Untuk hal ini, kita mesti harus berlomba mencapai yang terbaik. Lagi-lagi, nasihat untuk diri sendiri. Diri yang masih sangat jauh dari baik ini.

Semoga Allah selamatkan kita di akhirat sana. Di perjalanan panjang dan berat itu.



Read More

Hidayah: Hadiah Sangat Mahal dari Allah

Sebelum baca ini, silahkan tonton dulu video berikut. (https://youtu.be/lydl4Z9xNaQ).

Video ini menceritakan kisah seorang pemuda Korea yang berjuang menemukan Islam hingga akhirnya ia memperoleh Hidayah.

Berikut aku copy-paste tentang beliau sekaligus sumbernya:
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Ustadz Karam Kim Eun Soo
.
Kim dari Korea.
Dahulu ia seorang atheis.
Lalu ia masuk Kristen.
.
Kemudian menjadi seorang muslim.
Lalu ia melanjutkan studi S1 ke Madinah.
Setelah itu, ia melanjutkan studi S2.
Dan sekarang ia sedang menyelesaikan S3 bidang tafsir.
.
Tidak pernah luput dari Shaf Pertama di Mesjid Nabawi.
Saat menghafal al-Qur’an:
ia akan membaca satu halaman itu sebanyak 50 kali,
lalu mengulanginya di luar kepala sebanyak 100 kali.
Kisahnya sungguh menakjubkan!
.
Jalan ilmu memang selalu indah...
.
(Copas : Al Ustadz Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc.M.Si حفظه الله)
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

MasyaAllah begitu banyak hikmah dari drama korea yang satu ini.
.
Berawal dari mengamati alam semesta dan meyakini pasti adanya Rabb (sang pencipta, pemilik, pengatur). Jadi ingat kisah sahabat Jubair bin Muth’im masuk Islam karena mendengar surat At Tur ayat 35 sd 38.
.
Kemudian dia tertarik dg Agama Kristen (jadi ingat Kisah Salman Al Farisi yg masuk Islam lewat agama kristen), kemudian merasa aneh dg ajaran kristen tentang trinitas, Isa anak tuhan dan setiap manusia punya dosa warisan dari Adam.
.
Kemudian menemukan Islam, seperti orang yg berada dalam ruangan gelap gulita kemudian mendapatkan cahaya terang benderang. Beliau menemukan Islam seperti seorang kehausan menemukan oase.
.
Sungguh happy ending yang lebih indah dari drama korea, beliau menemukan kebahagiaan hakiki, ketenangan hati, kebahagiaan yg luar biasa.
.
Semoga Allah menjagamu saudaraku, dan istiqomah mengamalkan dan mendakwahkan Islam di Korea.
.
(Copas : Ust. Aslam Salimudin)
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Aku menyimak bagaimana beliau menemukan hidayah dan kemudian menjadi seorang Muslim yang ma shaa Allah sangat shalih. Ia telah mendapatkan hidayah yang merupakan hadiah yang sangat mahal dari Allah.

Ada 3 pelajaran dari kisah ini buatku:
1. Bersyukurlah ... bersyukurlah. Bahwasannya kita sudah Allah takdirkan untuk lahir di keluarga muslim. Islam yang merupakan agama yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Islam adalah tiket seseorang untuk mendapatkan surga (apakah langsung masuk surga atau --wa iyya dzubillah--mampir dulu ke neraka sebelum masuk surga). Tapi, yang bersyahadat pasti akan masuk surga. Alhamdulillaah Allah sudah membuat kita lahir dari keluarga muslim. Selanjutnya adalah bagaimana agar Allah menjadikan kita muslim yang kaffaah. Maka kita memohon pertolongan Allah agar diberikan-Nya hidayah untuk menjadi muslim yang taat.

2. Sangat disayangkan, banyak muslim (terutama remaja) yang masih mengidolakan artis-artis Korea yang mungkin tidak beragama. Sedangkan orang Korea yang asli merasa 'eneg' dengan sesama mereka yang banyak melakukan hal yang kurang baik. Semoga Allah menjaga anak-anak kita. Aamiin yaa Rabb. Ini juga tentang hidayah. Sungguh mahal hidayah tersebut. Sebab mereka muslim, tapi sangat mengidolakan artis korea dengan sepenuh hatinya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka.

3. Jangan remehkan kebaikan-kebaikan kecil. Dalam kisahnya, Ustadz Kim ini sangat tersentuh dengan pemuda Turki yang menunjukinya jalan ke terminal. Hanya menunjukkan jalan ke terminal. Sebuah perkara kecil yang mungkin tak disadari oleh pemuda Turki ini, telah mengantarkan seseorang menuju Islam. Ma shaa Allah. Ini nasihat buat diriku sendiri terutama. Agar senantiasa menghadirkan niat yang ikhlas untuk perkara kecil sekalipun. Untuk tidak meremehkan kebaikan-kebaikan kecil. Dan juga untuk tidak meremehkan dosa kecil. Betapa banyak kebaikan kecil bernilai besar di sisi-Nya oleh sebab niat yang ikhlas. Dan betapa banyak hal kebaikan yang besar, hanyalah bagaikan debu beterbangan oleh sebab niat yang salah. 

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah hingga akhir hidup kita di dunia yang amat sebentar ini. Sungguh, hidayah itu adalah hadiah yang mahal dari Allah. Melebihi dunia dan seisinya. Hidayah hanya milik-Nya. Maka, sudah sepantasnya kita meminta dan memohon pertolongan atas hidayah hanya kepada-Nya.
Read More

Kematian yang Sangat Dicemburui

Qadarullaah, browser mengarah pada berita ini. Berita yang sangat menggetarkan hati. Tentang kematian seseorang hamba Allah yang sangat indah, sangat dicemburui. 

Mungkin bagi yang penasaran dapat disimak dan dibaca di sini:

https://youtu.be/lMz9nNkcUgo
https://www.remaja.my/kematian-rakyat-malaysia-ini-jadi-viral-kerana-meninggal-depan-makam-nabi-semalam-apa-kebaikan-dilakukannya-2/

Beliau meninggal di Raudhah, di depan makam Rasulullah, saat safar Umrah, di 10 hari terakhir Ramadhan, di hari Jum'at, setelah shalat subuh dalam keadaan beribadah, dalam keadaan berpuasa. Mengumpulkan banyak sekali kebaikan dan keutamaan. Ya Rahman, mendapatkan salah satu dari hal di atas sudah merupakan sesuatu yang baik, apalagi ia mengumpulkan banyak hal. Ma shaa Allah. Sungguh, benar-benar kematian yang amat sangat membuat kita cemburu. Apakah amal shalih yang telah ia lakukan sehingga Allah memberikan akhir kehidupan di dunianya seindah ini? Ma shaa Allah.

Bagaimana dengan kita? Nasib kita belumlah jelas. Akan bagaimanakah kita menutup hari-hari di dunia fana yang menjadi tempat ujian ini? Apa yang telah kita persiapkan? Jangan-jangan angan-angan dunialah yang lebih mendominasi hati?

Bersiaplah dan berbekallah wahai diriku. Bagaimana engkau menyudahi dunia, adalah tergantung bagaimana upayamu dengan pertolongan Allah tentunya. Maka mintalah pada-Nya, pertolongan-Nya agar DIA memberikan karunia berupa akhir yang baik. Sebaik-baik penghujung. Smoga Allah jadikan aku, kamu, kita semua bagian dari kebaikan itu.
Read More

Undangan Spesial

Suatu ketika seorang teman mengadakan acara hajatan untuk pernikahan anaknya. Karena pandemi, yang diundang adalah orang-orang tertentu saja. Lain cerita lagi, teman yang lain mengadakan anniversary pernikahannya yang ke sekian dan mengadakan acara potong tumpeng. Yang diundang pun orang tertentu saja.

Kemudian--yang diudang maupun yang punya hajat--menyebarkan foto-foto acara tersebut baik di sosmed maupun di status. Bagi yang tidak di undang, mungkin ada perasaan-perasaan "kenapa saya tak diundang?" dan sebagainya. Meski sebenarnya di masa pandemi ini, kita harus memaklumi situasi dan kondisi. Memahami saudara/teman yang tak mengundang bukan karena mereka melupakan dan tak ingin mengundang, melainkan karena kondisi pandemi yang membatasi pengunjung hanya sekian orang saja. Tidak masalah sebenarnya. Dan sudah sepantasnya kita mengerti dan memahami. Lagian, tidak diundang mungkin akan lebih baik karena kita jadi tidak berkewajiban untuk menghadiri di masa-masa pandemi seperti ini. Ahsan. Ini tentu kondisi yang lebih baik. Tapi, yang pengen aku simpulkan di sini adalah yang diundang tentulah hanya orang-orang dalam lingkaran pertemanan terdekat saja. Orang-orang yang prioritas saja. Tak diundang, berarti kita bukanlah orang-orang yang berada di lingkaran pertemanan terdekat.

Lain cerita dengan orang yang diundang di acara (sebutlah) kepresidenan dan istana. Seperti halnya salah seorang teman adik yang diundang ke istana negara karena dia menjadi salah seorang lulusan terbaik di akademi pemerintahan. Bangga? Tentulah membanggakan orang tuanya. Begitu pula orang-orang lainnya yang diundang ke istana. Pastilah orang-orang yang diundang adalah orang-orang limited. Dan ini sudah umum disebut orang sebagai sesuatu kebanggaan. Tidak semua orang dengan mudah untuk masuk ke istana negara tentunya. Kesimpulannya adalah tidak semua orang dapat masuk ke sana dan hanya orang tertentu (sebagian dengan prestasi tertentu) saja yang bisa masuk ke tempat orang nomor satu dalam hal pemerintahan di negeri kita ini tentunya.

Kedekatan dengan manusia saja sebegitu membanggakan. Apalagi kedekatan dengan Rabb Maha Pemilik Semesta. Dari yang punya hajatan/kondangan, gubernur, hingga pak Presiden tentu hanyalah manusia biasa. Pasti punya khilaf dan salah. Tapi kita bisa berbangga ketika bisa menjadi "lingkar" terdekat seseorang apalagi hingga ke level presiden, seharusnya kita lebih berupaya untuk bisa mendekati Dzat yang Maha Tinggi, pencipta kita, Yang Maja Raja Diraja, yang sebenar-benar Raja. Dia tak men-syaratkan punya IPK tinggi, punya jabatan maupun kedudukan untuk bisa mendekati-Nya. Sungguh Kasih Sayang-Nya amatlah sangat besaaar. Sehingga makhluk lemah, dhaif, bodoh dan banyak men-dzalimi/menganiya diri sendiri seperti kita tetap dapat kesempatan untuk mendekati-Nya dengan taubat dan amal shalih.

Menjadi dekat dengan pejabat itu sudah cukup untuk membuat seseorang begitu bangga dan ada upaya untuk mendapatkan posisi itu. Sudah seharusnya seseorang juga berusaha untuk mendekat pada Rabb nya, yang mengetahui segala tindak tanduknya, bahkan yang terlintas dalam benaknya sekalipun.

Mendekat pada-Nya tidak selalu harus menjadi terkenal di hadapan manusia, dan menjadi seseorang yang banyak followernya. Bahkan sering kali orang yang tersembunyi bisa lebih dekat dengan Rabb nya. Tapi, bukan berarti orang terkenal sebaliknya, tidak bisa menjadi dekat dengan Allah. Tetap saja ia adalah sosok yang dekat dengan Rabb nya selama ia mengerjakan hal-hal yang Allah ridha.

Tapi sayangnya kadang nafsu dan kecendrungan jiwa adalah pada hal yang sebaliknya. Ia senang dengan pujian, senang ketika kebaikannya diketahui khalayak, dan kelezatan jiwa lainnya. Yang tersembunyi pun juga dibayangi dengan rasa ujub. Maka, hanya pada Allah saja kita bermohon, agar ditolong-Nya untuk senantiasa berada di jalan yang DIA Ridhai.

Smoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha untuk mendekat kepada-Nya. Baik dengan kondisi berlari, berjalan cepat, berjalan biasa ... bahkan meski dengan merangkak. Maka kita memohon pertolongan-Nya agar bisa menjadi bagian dari ini.
Read More