Ngintip Wisma Yuuu…k

Ehm, tulisan ini special bwt adek2 yang sekarang lagi sibuk UAN dan yang insya Allah mau bertarung di SMNPTN, dan yang lebih special lagi buat yang berniat mau kuliah di Unand alias Universitas Andalas, Padang, Kujaga dan Kubela. Cee elaaaah… Tapi, yang laen juga boleh baca koq. Okeh? Ah, iya, bagi angkatan ’08 yg mau ‘cabut’ dari asrama bulan Juli ini insya juga boleh tuh. Kami siap menampung . ehm..,Tidak tertutup utk 07 ke atas.

Nah…nah…, soal wisma. Ehm…., sebelumnya,di kenalin dulu dong, apa itu wisma. Siap?! Baiklah! Wisma sebenernya adalah sebuah rumah tinggal biasa khusus bagi mahasiswa yang dihuni oleh beberapa orang. Systemnya bukan kos-kosan yg bayarannya perbulan, melainkan kontrakan. Okeh, udah pada paham kan?

Tapi…tapi…, kenapa wisma? Aha! Itu dia, yg pengen dijelasin. Kenapa perlu dipromoin? Itu karena, insya Allah ada hal istimewa yang dipunya sebuah wisma. Yuuuk, qta kenalan sejenak.

Pertama, soal itung-itungan bayaran. Wisma sesungguhnya lebih murah costnya. Rata-rata sekitar 600-800 ribu setahun. Hmm…, coba itung bulanannya,. Sekitar 50-70 ribu sebulan. Cukup murah kan? Sip! Insya Allah cheaper. Paling nambah duit bayaran listrik sekitar 10rb per bulan. Klu wismanya agak elit sikit, bolehlah pake tilpun. Soal bayaran tilpun, eh…telpon, tergantung pemakaian wisma masing2. Mau pake speedy juga boleh, kalau mau.

Kedua, soal lokasi. Ga’ jauh-jauh amat koq dari lokasi bus kampus. Masiy sekitar Pasar Baru. Tinggal jalan sikit, skitar 200-500an meter (itung-itung sekalian riyadhoh), nyampee deeh di pemberhentian pertama Bus Kampus (yang bakalan mengantarkan qta medaki Bukik Karangmuntiang).

Ketiga, soal fasilitas. Rata-rata dan sebagian besar kos-kosan di kawasan Pasar Baru dan sekitarnya (Limau Manis, Kapalo Koto, Kampuang Dalam, Cupak Tangah), hingga ke Pasar Ambacang, Jalan Tunggang, by Pass, Ketaping, Anduring, rata-rata menyediakan kamar kosong saja. So, biasanya penghuni baru mesti menyiapkan segala macam perabotan, mulai dari kasur beserta perangkatnya, lemari, rak buku,magicjar, strikaan, hmm…apa lagi yah? Tape, emm…pokok’e benda sejenis lah. Bagi sebagian orang, TV juga termasuk barang penting. Juga benda2 penting seperti rak piring beserta perangkatnya, kuali, kompor, apa lagi? (silakan dilanjutkan). Nah…nah…,insya Allah, di wisma, sebagian besar sudah ditalangi. Adek2 baru tinggal bawa kasur, lemari (isinya juga dong, masa’ ga ada bajunya, hehehe). Soal magigjar, strikaan, piring dan seperangkat alat memasak lainnya, ga’ usah dipikirin deeeh. Okeh?

Keempat, aha!! Ini bagian terpenting sebenarnya yg ingin disampaikan yang membuat wisma itu berbezza. Klw tiga point di atas adalah hal yang biasa, maka poin yg satu ini lebih istimewa. Wisma bukan sekedar tempat tinggal biasa, yang disambangi sepulang kampus saja. Ada program-program istimewa di sini.

Apa saja program wisma?
Wisma insya Allah sebagai media untuk meng-up grade ‘ilmu keislaman qta. Programnya kami sebut : ROHIS alias program ROHANI ISLAM. Di wisma, qta ga’ Cuma jadi mahasiswa farmasi misalnya, cieee…, atau mhs Teknik, mhs ekonomi, mhs MIPA, tapi, qta juga bisa blajar Fiqh, Siroh, Tafsir Qur’an, Siroh Sahabat, Riyadhusshalihiin. Di kegiatan rohis, juga ada sesi khusus taujih (kaya’ ngasi kajian gitu, sekalian blajar nomong didepan orang banyak). Trus,program Tahfidz. Ada hari khusus untuk setoran hafalan.
Selain Rohis, program wisma juga Riyadhoh bareng. Biasanya ahad. Di wisma, juga ada program Ta’lim. Acaranya insya Allah bulanan. Ngundang ustadz. Dalam acara ta’lim, qta juga ngundang ibu-ibu tetangga, kiri kanan, depan belakang, trus, juga jamaah mesjid sekitar wisma untuk datang.

Selain itu, di wisma, insya Allah blajar menej sebuah rumah tangga jugah. Hehe. Soalnya, qta kan ngatur segala sesuatunya sendiri. Ada amir/amirohnya juga, trus, pj2 masing2 (kaya’ pj kebersihan, pj listrik, yang disesuaikan dengan wisma masing2)

Apa lagi yah? Ah iya! Soal kebutuhan sumatera tengah. Klo’ ngekos, kadang2 males masak. Seringnya kan beli ajah di ampere sebelah. Hehe. Klw di wisma, diterapkan system piket masak. Lebih irit loh. Cuma Rp. 3rb per hari, qta udah bisa makan lauk pauk lengkap, empat sehat (lima sempurnanya beli sendiri, hehehe). Cuma 5 liter beras per bulan. Huaaa, hemat kagak??

Ehmm…, jangan dipikir piket masak itu berat dulu. Asyik koq. Bisa bikin innovasi masakan sendiri. Itung2 eksperimen sekalian latihan persiapan. Hihi. Menunya suka-suka. Asalkan ada lauknya dan sayurnya. Eh…, percaya ga’, ada yang dulunya kaga’ bisa masak sama sekali, setelah masuk wisma, sampai pintar bikin gulai kalio Ayam. Bisa ngalahin lapau One looh. Hebuaaat kagak?? Hehe

Dalam periode tertentu, juga ada Wisma Award nya, yang diadakan oleh BPW (badan pengelola wisma). Ada lomba-lomba juga, kaya’ lomba hafidz Qur’an, lomba wisma terbaik, wisma dengan innovasi program paling menarik, wisma yang paling bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Nah loh, wisma Ada badan pengelolanya jugah? Ooohhh…, tentu dong! Ini kan bukan sekedar tempat tinggal biasa. Insya Allah, semua tersusun secara rapid an terkoordinir.

Hal yang terpenting dari sebuah wisma itu adalah Ni’mat Ukhuwwahnya. Kalo’ yang ini mah tak terbeli dengan apapun. Cerita soal indahnya ukhuwwah ini, hmmm…ga’ cukup puluhan lembar. Kalo’ dinovelin, ada berapa lembar novelnya yah?? Hehe. So, insya Allah akan ada sesi berikutnya, mengenai wisma niy. Sing penting, rajin2 bahas soal yah…., persiapan bwt SMNPTN nya. Mana tau, ada yang ‘nyasar’ ke Bukik Karangmuntiang and berguru di sana. Kalau memang baitu ajaknyo, haaa…., rancak masuak wisma lai!!! Dan, catet yaaa, kalau tertarik dengan wisma, tinggal contact diriku saja… Okeh?? Okeh??? (nanti, kusampaikan ke BPW nya, insya Allah)


Ini sedikit prolog dan perkenalan awal soal wisma. Tunggu info selanjutnya!!!
(hehe, kaya’ tukang iklan saja)



homeSWEET Syakuro, 23 April 2009
Read More

GERBONG KERETA PERJALANAN INI

Kuingin bertanya, adakah kedinamisan itu adalah sebuah keniscayaan? Adakah? Apakah kita boleh terhenyak dengan sebuah perubahan? Dan apakah perubahan itu adalah sesuatu yang nisbi? Bolehkah kita terperangah pada keterasingan itu? Pada sesuatu yang sama sekali tidak lagi sama, tidak lagi linear dan bersisian. Pada kenyataan yang menghentak-hentak di bilik jiwa. Ah…, bolehkah aku menangisi itu semua?

Sungguh, terlalu dalam luka itu tertoreh di hati ini. Perih sekali ketika dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan bahwa jiwa-jiwa sahaja yang dulu dari lisan mereka kudengar nasehat-nasehat yang menyejukkan hati, kini seperti sangat…sangat….jauh. Ketika rangkulan itu begitu jauh dari saudara-saudari yang telah ‘pergi’. Begitu jauh, meninggalkan ‘gerbong’ ini. Ke manakah perginya jiwa-jiwa penuh ghiroh itu, yang setiap teriakannya adalah lecutan semangat? Yang setiap kata-katanya adalah butiran makna. Yang setiap jenak-jenak kehidupannya adalah dalam rangka satu per satu menyusun batu bata peradaban itu. Ke manakah?

Salah seorang sahabat pernah berkata padaku dengan teramat lirih, “Sudahlah. Tidaklah pantas bagi kita untuk kecewa.” Penggal-penggal kata itu hanya cukup sampai di sana, namun, dengan suatu kedalaman makna. Ah, sungguh ada yang tercekat dikerongkongan ini, setiap mengingat satu-persatu kenangan itu. Aku sangat tahu, tidaklah boleh kita kecewa, dengan semua itu. Tidaklah boleh…!! Tapi, bolehkah aku sedih?

Jika boleh bernostalgia, dahulu, dulu sekali, ketika di sebuah ‘stasiun’, aku tersesat tak tentu arah. Lalu, mereka mengulurkan tangan untuk ikut dalam gerbong itu dengan tiket yang Cuma-cuma. Gerbong yang telah memberikan begitu banyak warna hidup. Seperti pelangi, bahkan lebih banyak dari mejikuhibiniu. Ada keterombang-ambingan. Ada tikungan. Ada terowongan gelap. Namun, juga jalan mulus yang di pinggir relnya ada wewangian bunga cerah merekah. Yah, kita melaju bersama. Pada rel yang sama, gerbong yang sama.

Lalu, ketika kereta itu berhenti di stasiun berikutnya, satu per satu mulai turun, berhenti di stasiun itu saja. Ada yang menaiki gerbong ini, ada pula yang turun. Mereka, yang dulu mengulurkan tangan kepadaku, sebagian juga ikut turun. Dan, betapa bodohnya aku ketika baru menyadari bahwa mereka yang dahulu dengan jiwa sahajanya telah turun, ketika peluit kereta telah dibunyikan dan perlahan-lahan kereta kembali berangkat. Betapa naifnya aku baru menyadari, ternyata mereka telah menaiki gerbong dari kereta yang berbeda, bukan lagi dengan arah dan tujuan yang sama. Padahal, aku masih ingat, bagaimana lantunan spirit itu bergema dahulunya dari lisan-lisan mereka, bahwa betapa inginnya kita tetap berada di gerbong ini hingga ke stasiun akhir.

Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa gerbong inilah yang paling baik. Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa aku lebih baik. TIDAK! SAMA SEKALI TIDAK! Aku barangkali jauh lebih buruk. Namun, bukankah dengan kebersamaan itu, kita saling mengingatkan, saling melengkapi, saling mengokohkan pijakkan, saling mengingatkan, dan saling menularkan semangat? Aku hanya ingin mengatakan bahwa ada jarak ribuan mil yang seperti seolah-olah telah memisahkan kita. Memisahkanku dengan orang-orang yang telah mengulurkan tangannya padaku dahulunya. Terasa begitu jauh. Padahal, aku sangat rindu wahai saudariku, untuk kembali bersamamu menukil jalan ini. Menukil jenak demi jenak perjalanan ini. Teramat rindu mendengar nasehat-nasehat yang terlantun dari bibirmu. Teramat rindu membersamaimu di setiap suka dan duka jalan ini.

Aku masih ingat dengan salah satu kalimat yang menggetarkan dari Rabb Pemilik Hati dan Maha Membolak-balikkan hati yang disampaikan oleh mereka yang dahulunya mengulurkan tangan dan memberikan tiket Cuma-Cuma itu kepadaku. Sungguh, membuatku amat tergugu :

“Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkanmu daripadanya” (Qs. Ali Imran : 103)

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah rahmat kepada kami di sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (Karunia).” (Qs. Ali Imran : 8)

Oh, alangkah rindunya aku padamu, wahai jiwa-jiwa yang telah memberikan tiket Cuma-Cuma padaku. Adakah kau rindu jua?





homeSWEETSyakuro, 14 April 2009, Dini Hari (Ba’da ngerjain proposalku)
Read More

Negeri Ini Hanya Seharga Sepasang Sepatu

Suatu hari, di pelosok kampung, ku’melihat seorang anak yang kira-kira sudah cukup ‘berakal’ untuk diajakin ngomong. Artinya, dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk meski belum cukup umur untuk ikut milih. Anak tersebut mengenakankaos salah satu dari 38 partai nasional yang akan bertarung 9 april mendatang. Sebut saja partai A.

Tiba-tiba, aku iseng menanyakan :
Aku : “De’, ntar amaknya pilh apa?”
Si Ade’ : “Dulu amak mau pilih partai A, tapi, kemaren partai B datang ke rumah, dan membelikan amak sepasang sepatu. Katanya, dia mau ngasih sepatu itu, asalkan mau memilih partai B. jadi, amakku pilih partai B deh. Kalau bapakku tetap partai A.” (dengan sangat polos dia menjelaskan)
Aku : (menatap si Ade’dengan bingung)” Loh? Kenapa mau? Itukan money politik? Politik uang.” Aku bergumam.
Si Ade’ : “Yang namanya rejeki ndak berpintu, Kak. Tapi, Banyak lho kak yg kayak gitu. Si anu, dapat ini. Si itu dapat duit segini. Tapi, dengan syarat mesti milih partainya. Kalau kekurangan duit, pergi saja ke rumah caleg C, entar critakan kesulitan qta. Si caleg pasti mau ngasi, asalkan mau milih dia.”

Pernah juga, waktu jalan ke perkampungan lain, ku’mendengar cerita ibu-ibu di sana.
“ Partai D ini, Nak, mau bagi-bagi ikan kepada kami (caleg partai D ini adalah Bandar ikan). Kami tu, yang perlu yah ini. Maklum, kami ini orang susah.”

Fiufff…
Jadi, hanya segitu ‘harga negeri’ ini? Walau bagaimanapun, itu semua tetap saja money politik, apapun bentuknya.
Isss…., mereka memanfaatkan keluguan dan kesusahan orang2 di kampung untuk membeli suara. Apa jadinya negeri ini jika dipimpin oleh orang-orang macam itu? Apa jadinya jika parlemen diisi oleh orang-orang macam itu? Jika orang-orang seperti ini yang akan mewakili qta2, sebagai wong cilik, yg bakalan duduk di korsi panas, maka, tidak salah klu peringkat negera terkorup papan atas akan terus di sandang oleh negeri ini. Dan, jika memang demikian, tidak salah kalau harga negeri yang konon tongkat dilempar jadi tanaman ini, hanya seharga sepasang sepatu saja. Lalu, Akan dibawa kemana negeri ini?

Mereka yang enak-enakan di gedung megah, menyelip uang rakyat. Lalu, yang tertinggal adalah : rakyat yang tetap miskin, rakyat yang untuk berobat saja susah. Rakyat yang sekolah saja mesti mengeluarkan banyak uang. Padahal, APBN Indonesia untuk tahun 2009 kan luar biasa banyaknya. 1.035 triliyun rupiah. Dar sekian banyak, 215 triliyunnya adalah anggaran untuk pendidikan. so what?? Kemana duit sebanyak itu perginya? Klu emang digunakan dijalur yg tepat, insya Allah, pendidikan itu bisa ditalangi!

Nah…nah…nah…, sebentar lagi, saatnya qta sebagai wong cilik MENENTUKAN NASIB BANGSA INI MAU DIBAWA KEMANA. Jangan pilih orang-orang yang memberikan bentuk apapun kepada qta, wong cilik. Dengan memberikan segala sesuatu itu, sama saja dengan MEMAMERKAN IDENTITAS MEREKA, bahwa MEREKA ADALAH CALON KORUPTOR SELANJUTNYA. (ya iya lah! Jalannya menuju ke sana saja sudah penuh dgn uang tak halal, jalan tak halal. jadi, sangat masuk akal pula, setelah mereka duduk nanti, merekapun akan melakukan hal yang sama). Jadi, MASIH ADAKAH ALASAN KITA UNTUK MEMILIH ORANG-ORANG BERMENTAL DEMIKIAN? Inilah saatnya kita menggunakan hati kecil qta untuk memilih orang-orang yang benar-benar berjuanguntuk rakyat, yang bersih, dan terbukti kerja nyatanya untuk rakyat. Okeh?????

Ah ya, ada yang terlupa. Kemaren, salah satu orang kurang mampu (masih di perkampungan terpelosok). Mereka mempunyai seorang anak yang stress dan sakit jiwa. Dan, salah seorang caleg, sebut saja partai E, menawarkan untuk membantu membawa dan membiayai ke rumah sakit jiwa, asalkan dia mau memilih dia dan partainya.
Hmmm…., apa jadinya yah, klw sang caleg tidak kepilih? Jangan-jangan dia yang kemudian ikut ke rumah sakit jiwa juga. Klw perlu, satu kamar dengan orang gila yang ditolongnya. Hehehehe

Ups! Udah ngaur niy.
Hmm..yg jelas, jangan sampai golput dah! Janganlah ya…
Jika golput, dan parlemen terus2an diisi oleh orang2 macam cerita di atas, akan jadi apa negeri ini? Bukankah kita semua rindu negeri yang madani? Bukankah kita merindukan kesejahteraan hadir di negeri ini? Nah, itu semua sangat tergantung dengan pilihan kita nantinya.



homeSWEEThome, 3 April 09.
Read More

Menumbangkan Sesuatu Yang Besar

Menumbangkan Sesuatu yang Besar

Mungkin kita sering mendengar kabar berita mengenai kematian orang-orang yang disebabkan infeksi bakteri. Missal, kematian akibat tipus yang tak tertolong. Atau DBD, ataupun bahkan avian influenza. Juga diare yang dibiarkan saja berhari-hari sampai keseimbangan elektrolit tubuhnya merosot tajam, lalu mengalami kematian.

Melihat angka kematian yang cukup signifikan yang ditimbulkan oleh penyakit infeksi, menyebabkan banyak orang yang mulai takut dan waspada. Orang mulai berhati-hati dengan penyakit ini. Ambil saja salah satu contohnya, avian influenza. Bisa dikatakan, setiap orang sangat berhati-hati dengan ancaman penyakit ini. Virus H2N5 ini sempat menjadi issu hangat dan topic hot di berita-berita media massa. Lalu, tiba-tiba H2N5 menjelma menjadi monster yang teramat mengerikan dan actor paling nge-top yang disorot oleh televise, maupun Koran. Berita yang sama, juga sangat popular ketika DBD mewabah.

Tapi, jika kita selami sejenak, apakah yang sesungguhnya yang ditakuti oleh orang-orang itu? Sungguh, yang ditakuti itu sebenarnya adalah Sesuatu yang besarnya hanya beberapa micron saja. Hanya makhluk hidup kecil yang bahkan tak terlihat dengan kesat mata. Dan, yang menakjubkan, zat yang kecil itu, dapat menumbangkan satu tubuh yang besar. Satu tubuh yang penciptaannya paling sempurna, dapat ditumbangkan hanya oleh zat yang tak lebih besar dari seperseratus sentimeter? Amazing!

Nah…nah…nah…, bagaimana zat yg kecil itu bisa menumbangkan zat yang besar? Jawabannya ada pada konsentrasi zat tersebut dalam tubuh manusia. Ternyata…, subhanallah, mereka dapat menyebabkan pathogen (menimbulkan penyakit) bagi manusia jika telah mencapai jumlah tertentu (biasanya dengan konsentrasi beberapa mikroliter) dan diantara mereka saling berkomunikasi yang istilahnya disebut quorum sensing. Bolehkan aku menyederhanakan quorum sensing itu dengan ‘kekompakkan’, dan’barisan yang teratur’ sekumpulan bakteri untuk dapat menumbangkan manusia yang jika dibandingkan dengan sebuah bakteri (apalagi virus) adalah teramat sangat besar??

Jika dianalogikan dengan pesta demokrasi negeri ini, maka satu bakteri itu adalah satu suara yang kita sumbangkan. Jika kita semua bersepakat untuk memilih caleg yang benar-benar bersih, yang benar2 ingin menghadirkan kehidupan yang madani, maka ini pun dapat menumbangkan budaya korupsi yang selama ini sudah begitu besar dan membudaya. Dengan menyumbangkan satu suara kepada orang yang benar dan orang yang tepat, maka, artinya kita telah berkontribusi untuk mengawali Indonesia Madani, yang bersih, dan bebas koruptor. Lalu, yang tersisa, adalah orang-orang yang menmaksimalkan dan mengoptimalkan potensinya demi kejayaan negeri ini.

Mungkin banyak orang yang pesimis, apatis, dan berpikir pragmatis mengenai pemilu. Banyak yang berpikir, “alaaaah…., milih tak milih sama saja. Takkan berubah nasib bangsa ini!”. Waah, jangan gitu dong! Ingatkan cerita bakteri di atas, kalau jumlahnya sedikit, tidak dapat menumbangkan tubuh manusia yang besar. Tapi, jika ada quorum sensing, semuanya saling berkomunikasi, dalam ‘satu barisan yang kokoh’, maka bisa menjadi sesuatu yang ditakuti manusia. Begitu pun, dengan budaya korupsi di negeri ini yang telah mencapai tahap akut. Tapi, kalau dikelola oleh orang-orang yang bersih, maka, insya Allah, bisa menumbangkan tirani. Ya kan?? Kenapa tidak??

Hayo, jangan sampai golput yah!
Pilih caleg yang berkualitas, yang bersih, yang memang berjuang utk rakyat!
Bukan yang menjual janji2 manis saja. Okeh???

PS : ini analog, kira2 nyambung tidak yah?
Hehe…
Read More

Mereka Yang Kecewa, Yang Terlupakan

Setiap momen DS adalah momen yang selalu ingin ku’abadikan’ dalam sebuah tulisan. Ada banyak kisah-kisah indah di sana. Meski sering juga hurt heart. (emm…, bukan heart failure loh. Emangnya gagal jantung??hehehe). Nah, kali ini, aku ingin bercerita soal pejuang. Di sore ini,sampailah aku di sebuah rumah panggung khas minang kabau banget. Di beranda rumah panggung itu, duduklah seorang kakek yang kutaksir-taksir umurnya sekitar 70 tahun.

Lalu, mulailah ku’bertamu ke rumah itu. Sambutan beliau dan keluarganya sangat hangat sekali. setelah kuceritakan beberapa hal, akhirnya gantian beliau yang bercerita. Subhanallah! Aku takjub! Ternyata beliau adalah mantan pejuang ’45. Umur beliau, bukan 70 tahun, tapi, (emm…coba tebak berapa??), 94 tahun! Tapi, sosok itu masih kuat berjalan. Sangat ‘muda’ dari umurnya yang sesungguhnya.

Lalu, beliau bercerita tentang kisah-kisah pejuang terdahulu merebut kemerdekaan. Mungkin, bagi teman-teman akan berpikir, “ahh…itu kan biasa saja. Lagian, kita kan sering dengar cerita perjuangan dari pelajaran sejarah.” Yah, memang benar demikian. Tapi, cobalah dengar, ada sebuah spirit tersendiri, jika kita mendengar langsung dari pelaku sejarah itu. Sang kakek berkisah, bagaimana sulitnya masa itu. Bagaimana perjuangan para ‘ulama merebut kemerdekaan. Mungkin, ada sedikit “plintiran” sejarah, yang mungkin sengaja “di-hidden” oleh “oknum” tertentu jika kita hanya membacaya dari buku-buku teks book sejarah. Ini Tentang perjuangan umat Islam tempo dulu (yang sering tidak disebutkan).

Dahulu, umat Islam berjuang dengan kalimah takbir!!! Dahulu, mereka berjuang sesungguhnya adalah bagaimana agar Islam itu tidak ternodai. Bukankah tujuan penjajah itu adalah gold, gospel, dan glorry? Nah…nah…nah…. Mengherankan sekali jika tujuannya adalah hanya untuk mencari rempah2 dan kekayaan saja, toh mereka adalah “orang2 cerdas” yang bisa mendapatkan dan memproduksi itu smeua di Negara mereka. Lagian mereka juga bukan tipe orang2 yg suka berpetualang, jika tidak dengan misi tertentu. The poin dari tujuan mereka itu adalah misi seorang missionaries. (saat ini, menjadi plintiran sejarah, menurutku. [eit, bukannya nyalahin pemerintah or pihak berwenang niy yah. Kan ini jamannya bebas menegluarkan pendapat. Iya tho??])

Kembali ke kisah sang Kakek. Beliau berkisah bahwasannya nyaris semua negeri dikunjunginya untuk merebut kemerdekaan (berislam) itu. Aku juga disuruh menebak Istri beliau yang duduk tak jauh dari beliau itu, “kira2 menurut Upik (beliau memanggilku upik), nenek ini orang mana?” aku berpikir sejenak. Lalu menggeleng.
“beliau itu orang Ambon. Dulunya kristiani.” Kata beliau. Aku terperanjat bukan main. Ambon?? “kenapa bisa, kek?” tanyaku spontan.
Beliau jawab, “Karena kami ikut berjuang sampai ke Maluku dulunya, hmmm…waktu itu perjuangan melawan RMS.”
Waaah, sampai ke Maluku!!
Beliau juga bercerita bahwa beliau ikut bersama Daud Bereuh di aceh.

Lalu, setelah bercerita itu semua (yang sesungguhnya bagiku sangat amazing, karena banyak “plintiran” sejarah yang terluruskan dan menemukan “balsam anti pegelinunya” di sana), terlontar pertanyaanku, “lalu bagaimana menurut kakek sekarang?”
(mengenai Indonesia sekarang, maksudku)
“kalau bercerita soal itu Upik, sejujurnya ambo kecewa sangat! Benar-benar sangat KECEWA. Lihatlah, saat ini, kami terlupakan! Kami tak dihargai sama sekali!! perjuangan bersimbah darah itu, tak dihargai sama sekali. apa bentuk penghargaan itu coba? Apa??”

Aku terenyuh sekali mendengar bahwasannya bukan penghargaan sebagai seorang pahlawan yang diinginkan beliau sehingga harus kecewa ketika tak mendapatkannya. Bukan pula harta dan tahta yang menjamin kehidupan beliau. Sama sekali bukan! (yang seharusnya ini ada! Karena, seorang pensiunan PNS saja dapat jaminan hidup di hari tua. Lalu, bagaimana dengan seorang pejuang yang dengan tulus mengorbankan jiwa dan raga mereka tanpa pamrih. Tak berhakkah mereka mendapatkan kehidupan yang layak di hari tua mereka, setelah demikian panjang perjuangan mereka alam memerdekakan negeri ini????. Apakah hanya karena mereka tak terikat kontrak kerja?? Jika memang demikian, Terlalu sederhana alasan itu, setelah demikian besar perjuangan luar biasa yang mereka lakukan. Hiks…, miris!)

Yang beliau kecewakan adalah, kebodohan kita dalam mengisi kemerdekaan itu. Kebodohan kita dalam menikmati sebuah kemerdekaan. “Lihatlah sekarang, Upik, di negeri ini, begitu banyak kebobrokan yang telah terjadi. Anak-anak gadis yang pamer aurat. Pemuda-pemuda yang gemar berbuat kerusakan, berjudi, mabuk-mabukkan. Kita yang lebih Bangga dengan budaya Barat. Padahal dahulu, kami memperjuangkan itu semua! Padahal, dahulu kami memperjuangkan bagaimana Islam itu semestinya tegak. Lihatlah, jaman dahulu, adakah wanita yang berbaju setengah itu?” (ini dengan redaksional yang berbeda tentu saja, yg penting intinya yah itu tadi). Wuiss! Aku merasa tertohok. Maka benarlah, bahwasannya kita mengisi kemerdekaan ini dengan sebuah ‘kebodohan’. Benar-benar Amat sangat pantas sekali mereka kecewa kepada kita.

Di akhir penjelasannya, sang kakek berpesan kepadaku, “Upik, kau sebagai mahasiswa, maka BERJUANGLAH! BERJUANGLAH!! Teruskan perjuangan itu!!” (kata-kata ini sangats sering beliau ulang). Sungguh, di hatiku terlahir sebuah spirit. Sebuah spirit yang insya Allah akan menjadi ‘nafas’ sebuah perjalanan.
“insya Allah Kek, saya akan berjuang!!” aku mengangguk dengan sangat optimis dan penuh semangat. Tertular dari sang kakek yang juga menyampaikannya penuh semangat. Kata2 yang muncul dari jiwa seorang pejuang seperti sang kakek itu. Bahkan, teman-teman mingkin tak menyangka, kata2 itu keluar dari bibir seorang yang sudah sangat renta (namun dengan semangat yang luar biasa).

Nah…nah…nah…, sahabat seperjuanganku! Para mahasiswa(sperti yang di bilang sang kakek), inilah saatnya kita menjadi agen perubahan itu!!! Yang memiliki semangat, untuk terus memperjuangkan sebuah nilai kebenaran!! Mari kita bermimpi besar (memiliki harapan besar), untuk sebuah perubahan besar!! Semoga kita tak lena dengan hal-hal kecil yang akan menarik kita mundur ke belakang! Mari, teruslah maju!! Dengan semangat!!! Because, we were born to be agent of change!!! Sebab, kita terlahir untuk menjadi agen perubahan itu!! Allahu akbar!!!!

Semangat!!
Hamasah!!!
Don’t give up!!!



Syakuro, home Sweet, Rab’iul Awwal 1430 H
Read More

Kematian yang Menginspirasi…

Kisah ini, sungguh menggetarkan jiwa. Tentang seorang perempuan mulia yang keimanan bersemayam di dalam dadanya. Hari-harinya adalah kedekatan dengan Kekasihnya, Rabb yang maha mulia. Dan, dari tangannya mengalir karya-karya yang telah menyadarkan begitu banyak manusia. Sosok yang tangguh. Jiwanya bersahaja.

Hingga, suatu pagi, bencana Tsunami melanda negerinya. Perempuan berhati mulia itu adalah salah satu korban Tsunami Aceh pada tahun 2004 lalu. Namun, apakah hal yang menakjubkan yang telah terjadi?? Subhanallah…., jenazah perempuan itu ditemukan dalam kondisi berpakaian lengkap, tak kurang satu apapun. Gamis longgar yang dikenakannya, jilbabnya, kaos kakinya, mansetnya, semuanya utuh, menutupi tubuhnya! Pada bibir diwajah bersihnya, terukir satu senyum yang sangat indah. Padahal, kalau dipikir-pikir secara logika, dengan pakaian yang sedemikian longgar, jilbab yang dipasang yang longgar, pun, begitu halnya dengan kaos kaki dan manset, dengan air yang begitu besar, pastinya sudah langsung terbuka dan hanyut. Sedangkan,ada perempuan lain, yang pakai jeans ketat, yang masangnya saja ribet karena sempit, lalu ditambah lagi dengan ikat pinggang, so, pasti secara logika bakalan susah terlepas dari badannya karena air yang begitu besar arusnya, justru malah didapati terbuka, (maaf) ketika ditemukan jenasahnya tanpa busana. Masya Allah!

Sungguh, cerita ini, ketika di sampaikan oleh seorang ustadz di sebuah ta’lim, telah membuat seorang remaja, mengenakan jilbab. Seorang remaja yang awalnya enggan mengenakan jilbab, serta merta tergerak hatinya untuk mengenakan jilbab dan meninggalkan jeans ketatnya setelah mendengar kisah ini. Masya Allah. Kematian yang menginspirasi. Sungguh mulia perempuan itu. Bahkan, ketika ia meninggal saja, telah memberikan nilai da’wah kepada orang lain. Dengan kematiannya saja, telah berhasil menjilbabkan seorang remaja. Apalagi kehidupannya dulunya?! Subhanallah…, subhanallah…

Setelah mendengar kisah ini, semoga juga menginspirasi kita semua yah…
Semangat! Semangat!
Mencari ‘ilmu, mengamalkannya, dan menda’wahkannya.

Dari ‘Aisyah ra berkata, Nabi saw bersabda : “Tidak ada hijrah lagi setelah ditaklukkannya kota Mekkah, tetapi yang tetap ada yaitu jihad (berjuang pada jalan Allah) dan niat untuk selalu berbuat baik. Oleh karenanya, jika kamu sekalian dipanggil untuk berjuang maka berangkatlah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Syakuro, home SWEET, Rabi’ul Awwal 1430 H
Read More

PEMIRA EUY PEMIRA!!

Assalamu’alaykum warahamatullah, sahabat2ku di Pharmacy…, Pa kabar??

Ehm…ehm…, sudah pada tau kan, insya Allah kan qta mau PEMILU niy… (09 april 09, jangan lupa pilih yang OKE yah…??!!). emm…, maksudku di sini, selain negeri qta tercinta ini mulai marak dengan pesta demokrasi, ingat jugah, di Pharmacy Village qta, insya Allah juga mau PEMILU RAYA….alias PEMIRA. Udah pada tahu kaaaaan, kapan PEMIRA nya??

Inga….
Inga….
Insya Allah PEMIRA qta tanggal 1 April 09 loooh…,
So, jangan lupa, hari H, pada nyontreng yaahh…, eits…, jangan lupa bawa KTM.

Gunakan Hak Pilihmu!!!
Okeh!!
Satu suaramu, menentukan satu tahun nasib Farmasi ke depan.

Ingat looh, ini pemilihan Gubernur PERTAMA di Farmasi. Masa’ siy, kagak milih??? Masa’ siy, tak meninggalkan sejarah di farmasi qta ini??? Pa lagi, yang udah buruan tamat…, ntar ga’ punya kesempatan lagi loooh…

Ah Ya, sedikit diriku korek bocoran dari BPU Pharmacy, sampai angkatan 04, insya Allah masih bisa milih. Asalkan masiy berstatus mahasiswa S-1 (uni2 dan uda2 yg udah apoteker, ga’ boleh lagi dunk???!!). untuk uda-uda dan uni-uni yang sudah pada tamat ‘n bekerja, mohon supportnya aja deeeh. Skali lagi, Ini gurbernur pertama pharmacy loooh (secara, udah bertahun2 memperjuangkan biar misah dari MIPA kan. Secara, qta udah fakultas sekarang kaaaan??)

Naaaah,nah,nah….
Diriku mau sedikit promo niy, mengenai calon gubernur yang oke punya. (ehm…dah pada liyat kampanye belom nih?? Diriku siy, dapat bocoran dari temen2)

Nah..nah..nah…, uda2, uni2, temen2, dan adek2…, yuuuk, qta tengok sikit, sapa siy, calon pemimpin Pharmacy ke depan :

No. 1 : HAFIZH (Far ’06)
VISI : menjadikan BEM KM Fak Pharmacy sebagai lembaga yang mewadahi aspirasi & pejuangan segenap mahasiswa serta memperkuat rasa kekeluargaan baik internal maupun eksternal dengan kegiatan yang positif

MISI :
1. Pemersatu & pengayom kegiatan mahasiswa farmasi
2. pusat kekuatan serta kebijakan bagi kebutuhan mahasiswa farmasi
3. advokasi mahasiswa farmasi dalam bidang akademis & kesejahteraan mahasiswa
4. pengoptimalan peran & profesionalitas kerja BEM sesuai dengan fungsinya
5. tanggap & peduli terhadap KBMF UA dengan semangat kekeluargaan

No. 2 : KHAIRUL (Far ’06)
VISI : menjadikan BEM KM Farmasi kokoh secara intral dan eksis dalam pergerakan kemahasiswaan dalam profesi kefaramasian

MISI :
1. Menyelenggarakan proker bernuansa akademikdan bermutu
2. Jembatan aspirasi mahasiswa di tingkat fakultas
3. Penataan struktur kepengurusan
4. Mempertahankan system kekeluargaan di farmasi

Nah…nah..nah…
Contreng pilihanmu!!
Okeh!!!



nah, ini..
diriku beri sedikit gambaran mengenai orang-orangnya :







Read More

Sekolah bagi “Pra-Sekolah Pertama”, Mungkinkah Terwujud?

Suatu siang, tak sengaja kucuri dengar (eit, bukan tak sengaja siy, tapi, memang mendengarkan dgn sepenuh hati, karena kebetulan posisinya paling dekat denganku) cerita dua orang ibu-ibu yang profesinya adalah dosen. aku tahu persis beliau berdua adalah dosen karena pembicaraan ini TKP-nya adalah di kampus, hehe. Waaaah…., mulia! Pengajar yang menularkan ilmunya kepada banyak orang. Menjadi ‘amal jariyah nantinya, insya Allah.

Kira-kira, begini bunyi percakapan itu (dengan redaksional yang berbeda tentu saja)

Ibu A : Berapa umur anak Ibu sekarang, yang paling kecil itu lho!?
Ibu B : ng…4 tahun.
Ibu A : waaa..h, empat tahun? Sudah besar juga ya? Tak terasa, baru kemaren rasanya. Udah empat tahun saja ya? sUdah sekolah?
Ibu B : sudah, play group sekarang (dengan wajah cukup sumringah)
Ibu A : waah, sudah sekolah. BERARTI BISA BEBAS DONG? BISA MENINGGALKANNYA UNTUK KE KAMPUS. TIDAK PERLU TERLALU REPOT.
Ibu B : (dengan wajah yang cukup heran) Maksud Bu A?
Ibu A : maksud saya, tidak perlu terlalu repot, githu. Kan sekolah. Ada yang menjaga, pengasuhnya gitu?”
Ibu B : tidak bisa begitu saja tho Bu. Anak kan bagian dari tanggungjawab kita sebagai ibu. Saya siy, menerapkan system perwalian. Yang besar, punya tanggung jawab terhadap adik-adiknya. Begitu seterusnya…”
Ibu A : waaah, bu B pintar juga yah?

Kira-kira begitulah cuplikan percakapannya. Sejujurnya, aku tertarik sekali dengan percakapan kedua Ibu itu. Yaph! Pada dasarnya, aku sepakat dengan apa yang ibu B sampaikan. Subhanallah… ada sebuah metode inovatif yang diterapkannya (bukan berarti aku sepakat kalo’ pengasuhan terhadap adik itu sepenuhnya alias 100 % dilimpahkan ke kakaknya lho). Tetapi, beliau memiliki pola didik yang menurutku bagus, sebagai seorang ibu rumah tangga sejati. Karena system perwalian tanpa meninggalkan pengawasan dan khudwah yg baik, akan menumbuhkan sikap tanggung jawab bagi anak. (halaaah, macam paham saja aku niy…, macam sudah pengalaman saja.hehehe…). Sebaliknya, persepsi bahwasannya, ketika anak sudah sekolah, berarti kewajiban untuk ‘mendidik’ itu terlepas begitu saja menurutku siy cukup keliru. Kata-kata : “berarti bisa bebas dong…dst…” secara tak langsung menyiratkan bahwa anak adalah beban berat yg mengikat,. Aku siy lebih sepakat dgn ‘sebuah tanggung jawab’ yg dilontarkan ibu B.

Kenapa profesi ibu rumah tangga??? Karena, menurutku, ibu rumah tangga itulah sebenarnya profesi yang harus dicita-citakan sebagai PROFESI UTAMA oleh seorang perempuan. Selayaknya sebuah cita-cita, maka mesti ada rancangan strategis untuk mencapainya. Tidak bisa dengan slogan “biarkan saja seperti air mengalir.” Atau, “toh, nanti juga bisa sendiri.” Atau, “udah fitrahnya perempuan, pasti bisa laaah.”

Sebelum berbincang lebih lanjut (haduu…h, emangnya lagi bincang-bincang yah?), maka ingin kutekan dulu di sini, bahwa yang kumaksud dengan ibu rumah tangga (untuk selanjutnya kusingkat dengan IRT saja yah. Cape’ nulisnya, hehehe) sebagai PROFESI UTAMA YANG HARUS DICITA-CITAKAN bukan berarti aku menganjurkan agar setiap perempuan ‘membiarkan’ begitu saja ilmu yg dia peroleh selama di kampus, misalnya, terbuang percuma. Bukan! Sama sekali bukan! (sayang banget kan, misalnya, dokter, masa’ siy ga’ diaplikasikan ilmunya. Kan sayang bangeeet). Maksudku, menjadikan IRT SEBAGAI PROFESI UTAMA! Yang namanya utama, tentulah yang prioritas bukan? Boleh saja ko’, perempuan mau jadi dokter, mau jadi guru, dosen, mau jadi arsitek, psikolog, menejer, ekonom, teknisi, praktisi,polisi, politisi, (dan berjenis-jenis ‘si’ lainnya),asalkan tidak meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai IRT. Sebab, semua itu, hanyalah sebuah ‘pekerjaan sampingan’ bagi mereka (para IRT). Kan, kebanyakan persepsinya adalah semua hal diatas sebagai pekerjaan utama, lalu IRT, hanyalah sisa-sisa tenaganya yg lelah saja. Kan kasiaaaan anaknya. (Emm…, mungkin aku lebih focus ke anaknya dan pendidikan anaknya sekarang niy, bukan ke ortunya). Banyakan kan, perempuan bekerja di luar, lalu nitipin anak ke pengasuh or pembantu. Ntar, pulangnya dah malam. Jadilah, seorang anak yg dibesarkan oleh pembantu. Itu artinya: perempuan bekerja untuk menggaji pembantu. Logika sederhananya kan gitu. So, mana yg lebih baik, pendidikan anak dari ortu (khususnya ibu sebagai madrasatul ‘ula), atau bekerja di luar untuk menggaji pembantu? Itung-itungnya, cost yg dikeluarkan akan sama saja, bukan? (ngerti kan maksudku??)

Okeh…okeh…back to topic. Mengenai IRT tadi. Menurutku siy, penting sekali pemaknaan dan sebuah persepsi mengenai IRT itu. Jika persepsi kebanyakan kita, seperti kita kebanyakan, IRT itu hanya sebatas pekerjaan rumah saja, maka perputaran roda kehidupan dan warnanya hanya berada ‘di sana’ saja alias seolah-olah seperti baku standar saja. Jika kita memaknai dari sisi yg berbeda, tentu, akan berbeda pulak pola pencapaiannya, sejauh cita-cita dan harapan kita…(halah, ribet kali bahasanya…)

Tulisan ini hadir (ini kelanjutan dari Tulisan di blog-ku dgn tag : “IRT???”) adalah karena sesuatu yang bernama kemirisan yg hadir di hatiku. Aku bukan orang yg faqih dan faham soal ini. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan pengamatanku saja. Apa yg selama ini aku lihat di sekelilingku.
Hmm…, begini, banyak diantara teman2ku, saudara2ku dan adik2 kelasku yg sudah menikah (terutama yg di kampungku, homeSweet home). Bervariasi! Tamat SMP, tamat SD, tamat SMA. Rata2 siy tamat SMA. Namun, seolah-olah seperti putaran siklus saja. Tamat SMA, nikah, lalu punya anak. Pendidikan anaknya diterapkan pola seperti yg diperoleh orang tuanya, nenek buyutnyaterdahulu kala. Tanpa ada visi, dan misi yg ingin dibangun. Begitu seterusnya, seterusnya…dan seterusnya. Maka, seperti apapun hebatnya in-putnya, jika processing-nya amburadul dan jadul, tetap saja out-putnya tidak bagus. Bayangkan jika itu telah menjadi siklus kehidupan, yang mengakar, dan membudaya???

Nah, bagiku, pentingnya itu adalah bagaimana pendidikan seorang perempuan dulu. How to prepare the first school. Jika ingin memperbaiki suatu Negara, yg mesti diperbaiki dulu tuh, yaaa…kaum perempuannya. Emm….begini, Di satu sisi, dengan pola pikir konvensional (atau konservatif yah,hehehe??), ala kampungku (mungkin juga kampungmu,hehehe) nikah,..punya anak…, sebuah siklus berulang yg sama, without innovation and increasing atau di sisi lain pola pikir ala jaman sekarang oleh perempuan terdidik yg kata orang modern yg menuntut perempuan untuk bekerja ekstra di luar,jam terbang yang sangat tinggi.. akan memiliki out put yg tak jauh berbeda. Yang satunya konservatif, yg lainnya modern yang berdilatasi. Nah, bagiku, kita ambil jalan tengah. Apapun asalnya, apapun polanya, maka semestinya untuk menghadirkan generasi rabbani, diperlukan perempuan2 tangguh yang memiliki bekal, visi, dan misi.
(haddduuuu…h, kok susah kali membahasakannya yah??)

Ah, begini saja. Andaikan setiap perempuan (siapapun itu, mau tamat SMA, mau bergelar professor), jika cita-cita utamanya adalah IRT yg terbaik, maka, insya Allah, negeri ini akan madani. Kenapa?? Karena setiap wanita memiliki, visi, misi, pola pikir untuk pencapaian yang sama, yaitu generasi rabbani. Untuk mencapai itu, perlu langkah-langkah. Langkah-langkah itu hadir, karena adanya pendidikan bagi perempuan. Dan pendidikan itu hadir, karena adanya kesadaran, dan keimanan. Nah, hal yg pertama yg mesti dibenahi itu, yaah, ruh nya… Jika para pendidik sebagai madrasatul ‘ula itu baik di segi ruh, mapun fikry, maka, insya Allah, out putnya adalah baik jugah. Yaitu pribadi-pribadi yang akan mewarisi peradaban negeri ini. Bayangkan jika semua orang dibesarkan dengan bi’ah yg demikian…, insya Allah tidak akan ada lagi praktik KKN. Nah, bukan mustahil kan, terbentuknya Negara madani itu dimulai dengan membaikkan kaum perempuannya??? Iya tho?? Kamu sepakat??? (fiuff…tersampaikan jua akhirnya. Sebenarnya inti yg pengen aku sampaikan itu, yah ini!!! Habiss, berbelit-belit kali siy dari tadi)

Nah, nah, nah…, menurutku, bagaimana kalo’ ada “sekolah pra-madrasatul ‘ula”. Semacam kajian kelompok (intensive class), or micro teaching gitu, di manapun itu. Mau di kampus kek. Mau di PKK kek. Mau di arisan kek. Atau, kelompancapir kek(halah..ini mah jadul banget). Intinya, ‘sekolah pendidikan anak’ gitu for everywoman. Apalagi kalo’ pemerintah mau bekerja sama, memfasilitasi ini semua. Apalagi, khususiyah, untuk teman-teman yang di kampong. Intinya sekolah tuh, pendidikan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada calon madrasatul ‘ula, bahwasannya pendidikan anak itu, tidak bisa “learning by doing” begitu saja, “seperti air mengalir” begitu saja, atau “ntar juga bisa sendiri” begitu saja, tapi, butuh pemahaman dulu, sekalian step-stepnya seperti apa. Tentu saja mesti dibarengi dengan iman. Sebab, jika tidak dibarengi dengan iman, membentuk pribadi-pribadi demikian, sama saja dengan membentuk pohon besar yang gersang dan tandus. Mereka yang punya cita-cita besar, punya mimpi-mimpi besar, tapi, secular… Yah, pokoknya gitu deeeeh. Ringkasnya gini. Kan nantinya seorang ibu, mau jadi madrasatul ‘ula niy, bagi anak-anaknya. Makanya, untuk membentuk madrasah ‘ula yg baik, dibutuhkan madrasah dulu sebelumnya. Ini ga’ bakal terwujud, jika yg berada di ranah pemerintahan, bukan orang yg kooperatif, bukan orang-orang yang memperjuangkan nasib rakyat. Ini akan terwujud insya Allah, kalo’ yg berada di ‘atas’ sana, adalah orang-orang yang memang benar-benarlah…, makanya, jangan lupa nyontreng yang bener tgl 9 april besok. (hehehe, kok nyampainya ke sini yah?? Udah ke mana-mana tuh topic!)

Intinya, corenya, yah begitu lah!!! Sekolah, bagi calon madrasatul ‘ula, untuk membentuk Neggeri yang madani. Sepakatkah kamu???


>>Sungguh, tulisan yang kutulis ini bukan apa-apa, bukan pula bermaksud mencela, dan bukan pula merasa serba tahu. Tidak. Sama sekali tidak. Mungkin, ini semua hanyalah pernyataan idealis sebagai seorang mahasiswa (emm…mumpung masiy mahasiswa, bolehlah idealis sikit tak???), yang aku sendiri jika berada di posisi mereka(para IRT), belum tentu bisa menerapkannya secara ideal. Sebab, seringkali realita tak sama dengan idealita. Teorinya memang banyak, tapi, praktiknya sering tak sama dengan teori. Apalagi, ini semua adalah Sesuatu yg aku belum pernah terjun ke dunia itu. Allahu’alam kehidupanku nantinya akan seperti apa? Namun, setidaknya, ini semua insya Allah akan menjadi lecutan bagi kita semua. Insya Allah, panjang pendeknya nafas perjalanan kita tergantung sejauh mana cita-cita kita. Ya kan??? Tolong ingatkan aku yah, bila salah<<


homeSWEET Syakuro, Rabi’ul Awwal 1430 H
Read More

Kita adalah Perpustakaan Terlengkap Sedunia

Banyak orang yang tidak menyadari potensi dirinya. Dan, ketidaksadaran itu sering kali mengantarkan manusia pada rasa kekurangan dan minimnya rasa syukur. Sungguh Allah telah ciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Alangah patutnya kita syukuri segala ni’mat yang telah Allah anugrakan kepada kita, selaku makhluk-Nya.
Perkembangan sains memperjelas bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang luar biasa kompleks dan suatu keteraturan yang sangat sempurna. Ini membuktikan fakta bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Pencipta yang Mahakuasa yang memiliki pengetahuan tanpa banding. Salah satunya, dengan tersingkapnya struktur sempurna dalam gen manusia yang menjadi isu yang menonjol karena Projek Genom, penciptaan yang unik dari Tuhan telah terungkap.
Setiap satu kilogram tubuh manusia mengandung satu triliun sel. Jika berat badan kita saat ini adalah lima puluh kilogram, maka ada 50.000.000.000.000 triliun sel yang ada pada tubuh kita. Sungguh, angka itu sangat mengejutkan. Dan, yang lebih mengagumkan lagi, nyaris semua sel itu mengandung gen yang sama. Susunannya yang kemudian membentuknya berdasarkan fungsi masing-masing, apakah itu tangan, kaki, kuku, rambut dan lain sebagainya.

DNA atau gen itu sendiri terlindung dengan baiknya di dalam nukleus (inti sel) yang berada di pusat sel (yang berjumlah 50 triliyun tadi). Sel manusia memiliki diameter rata-rata 10 mikron atau atau satu per sepuluh ribu centimeter. Coba kita bayangkan, ambil penggaris, lihat ukuran satu centi meter, lalu bagilah sepuluh ribu. Subhanallah, begitu kecilnya. Molekul yang menakjubkan ini merupakan bukti nyata dari kesempurnaan dan sifat luar biasa dari seni penciptaan oleh Allah. Begitu luar biasanya sehingga suatu cabang sains khusus dibuat untuk mendalami rahasia molekul ini, yang masih banyak tersembunyi.
Informasi yang tersimpan di dalam DNA sangat menakjubkan. Walaupun sukar untuk dipercaya, dalam sebuah molekul DNA tunggal milik manusia, terdapat cukup informasi untuk mengisi tepat sejuta halaman ensiklopedia. Coba pikirkan; tepat 1000.000 halaman ensiklopedia…. inti dari setiap sel mengandung sebanyak itu informasi, yang digunakan untuk mengendalikan fungsi tubuh manusia. Sebagai analogi, kita dapat katakan bahwa bahkan Ensiklopedia Britannica yang banyaknya 23 jilid, salah satu ensiklopedia terbesar di dunia, memiliki 25.000 halaman. Jadi, di hadapan kita terbentang sebuah fakta yang menakjubkan. Di dalam sebuah molekul yang ditemukan di dalam inti sel, yang jauh lebih kecil dari sel berukuran mikroskopis tempatnya berada, terdapat gudang penyimpanan data yang 40 kali lebih besar daripada ensiklopedia terbesar di dunia yang menyimpang jutaan pokok informasi. Ini sama dengan 920 jilid ensiklopedia besar yang unik dan tidak ada bandingannya di dunia. 
Riset menemukan bahwa ensiklopedia besar ini diperkirakan mengandung 5 miliar potongan informasi yang berbeda. Jika satu potong informasi yang ada di dalam gen manusia akan dibaca setiap detik, tanpa henti, sepanjang waktu, akan dibutuhkan 100 tahun sebelum proses selesai. Jika kita bayangkan bahwa informasi di dalam DNA dijadikan bentuk buku, lalu buku-buku ini ditumpuk, maka tingginya akan mencapai 70 meter.
DNA terdiri dari dua untai spiral yang mengandung empat macam huruf kimia yaitu A,G, C, T, yang akan mengkode seluruh hal yang ada pada tubuh manusia yang jumlahnya mencapai tiga milyar untuk satu inti sel saja. Berat satu untai, hanya satu per 200 milyar gram. Dan lebarnya hanya satu per lima ratus ribu millimeter. Jika kita dapat mengiris sebuah kawat berdiameter satu millimeter saja menjadi seperseratusnya, maka ia akan menjadi benang yang sangat halus, yang akan snagat mudah diterbangkan angin. Namun, satu helai saja dari bagian irisan itu sudah lima ribu kali lebih tebal dari sehelai DNA. Jika semua DNA manusia di seluruh dunia yang berjumlah enam milyar digabungkan jad satu, maka berat DNA seluruh manusia itu tidak lebih dari satu butir beras. Menakjubkan! Subhanallah… Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya.
Ada satu hal lagi yang lebih menakjubkan. Untaian spiral untuk satu inti sel yang hanya seberat satu per 200 milyar dengan lebar satu per 500.000 milimeter itu direnggangkan, akanmencapai tiga meter. Itu artinya, jika seluruh untai DNA satu orang manusia yang terdiri dari 500 triliyun sel, akan sama panjangnya dengan 600 kali bolak-balik bumi matahari. Allahu akbar!!! Allahu akbar!! Sungguh menakjubkan. Benar-benar amazing.
Maka, tidaklah pantas bagi kita untuk lupa bersyukur atas segala ni’mat yang Allah berikan kepada kita. Karena Dia, telah ciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk. 
Sumber : FM/Buku-buku Harun Yahya & The Divine Messagef the DNA; Kazuo Murakami
Read More

Momentz Unand Award V

Suatu siang yang sesak, kududuk-duduk di dekanat sambil nunggu dosen pembimbingku tiba. Salah seorang anggota ** Fmipa-Farmasi UA menghampiriku dan berkata, “Thel, ikutan Unand Award, yah.”
Pernyataan sang ukhti kusambut dengan tawa, “Apa? UA? Aku tak pantas ikutan ajang begituan.” Tolakku halus.
“Kenapa tidak?!”
“Karena, aku bukan orang cerdas.” Ehm…, kalo’ boleh jujur, aku minder ikutan acara ajang kompetisi yang menunjukan “isi batok” kepala. Karena, jujur kuakui, aku merasa ilmuku memang benar2 sangat sedikit dan limit mendekati nol.
“Halah, alasan saja.” Godanya.
“Syaratnya apa aja?” aku mulai menunjukan sikap antusias. Ehm.., basa-basi sebenarnya.
“dapet dukungan dari 120 orang mahasiswa Unand, yg dibuktiiin dgn 120 fotokopi KTM, IPK minimal 2,75 , bikin karya tulis dgn tema bla….blaa..blaaa…”
“waduh, jujur nih, aku ga’ sempat buat minta dukungan ke segitu banyak mahasiswa. Aku sedang intens di lab dari pagi sampai maghrib, bahkan malam.”
“udah dehh, nanti dibantuin.”
Akhirnya kuanggukkan jua kepalaku. Lumayan, iseng-isen berhadiah. Aku tertawa dalam hati.
***
Hari terakhir ngumpulin pra-syarat bwt UA ba’da dzuhur kukunjungi jua sekre BEM-KM UA bwt ngantarin syarat. Tau ga’, bwt 120 fotokopian KTM, ga’ ada satu pun usahaku. Tinggal nebengin orang ajah. He..he.. (abiis, aku tak terlalu berkeinginan kuat untuk menjadi peserta UA V kali ini siy). Jikalau para pembesar ** tidak memintaku (bahasa halus dari : menyuruhku) untuk ikut dan jika bukan karena aku “jundi yang taat kepada qiyadah” (halahh!! Bener tuh?), mungkin takkan pernah terlintas dibenakku untuk ikut ajang begituan. Abiis, no time siy (waaaalaaah, sok sibuk banget niy gua!). Dgn rada2 (ogah2an) kuisi formulirnya.
***
Test hari pertama, test akademis. Matematika, b.ingrris, b.indo, pengetahuan Umum, sejarah. Test psikologi. Emm…, karena banyakan plajaran SMA, dan aku sudah lupa, jadi, bermainlah ‘jenggo’ku. Tinggal nyilang sesuka hati. Haha. Di test hari pertama, aku merasa tak yakin bakalan lulus. Tak lulus juga tak apa, toh, aku juga tidak terlalu tertarik untuk ikut. Lulus, alhmadulillah. Tak lulus, tak ada yang perlu dikecewakan.
“silakan liyat pengumumannya nanti sore jam 16.30 di sekre,” begitu kata panitia. Halah, mana sempat!untuk tes nih aja, aku sudah ninggalin setumpuk pekerjaan di lab yang menunggu deadline.
Sorenya, aku terima SMS :
Selamat, anda lulus sampai semifinal. Bla…bla..(yg isinya syarat buat semifinalis)
Alhamdulillah. Iseng2 berhadiah. Aku tertawa dlm hati.
***
Seleksi semifinalis, wawancara tertutup dengan 5 pakar. Sosio semua! Kagak ada yg sains. Aku menduga, bakalan KO di sini. Abiiis, selain ga’ punya tivi, aku juga ga’ baca Koran. Walhasil, berita terkini aku tak tahu.
Pertanyaan juri tentang “suplemen”. Aku heran sendiri, kenapa suplemen, kok para penguji yg berstatus professor itu tertawa. Ah, aku baru sadar ternyata suplemen yang beliau2 terhormat maksudkan adalah “obat kuat”.
Ah, sudah sampai di sini. Ga’ lulus ke final juga ga’ papa. Biar aku bisa konsen kerja di lab. Apalagi, peneliti dari Jepang itu bakalan datang minggu niy. Kalo’ gak kecapai target, semua bakalan berabe.
Aku tak berharap lagi akan lulus smpai ke tahap berikutnya.
Tapi, esoknya, aku kembali dapet SMS, “selamat, anda masuk final, bla..bla….”
Alhamdulillah.
Sebuah senyum terukir.
***
Final UA.
Diskusi dan presentasi. Temaku “Pengangguran, kemiskinan, dan tingkat kriminalitas.”
Oalah. Tema umum banget (yg aku tak nonton atwpun baca Koran, so, bloon deeh). Diskusi kali ini tidak terlalu interest bagiku. Benar2 keluar Ori-ku yg benar2 minim ilmu. Haduuuuh, gua bloon banget yah?
Pas nampilin talenta, ini lebih kacau lagi. Para finalis lainnya benar2 mempersiapkan dengan sedemikian rupa.
 Aku? Jangan di Tanya, pulang nge-lab udah nyaris isya. Itupun, nyampe’ di rumah, tewas abis, karena kecape’ an. Untuk final ini, lagi2 aku harus ninggalin lab. Haddduuuu…h. bayangkan, aku baru selesai menyiapkan penampilanku satu jam sebelum tampil. Itu pun Cuma pantun minang yang sama sekali tak ada bagusnya. Gaswat!
Akhirnya, tampillah aku dengan pantun minangku yang kacau abiez.
Ah, biarlah.
Aku tak pernah berharap untuk menang.
***
Alhamdulillah, akhirnya tiba saatnya grandfinal. Qadarullah, aku nyampe’ juga di ujung babak grandfinal, (ehm…, maksudnya, dari babak final, aku Alhamdulillah lulus ke grand final).
 Oh, kali ini, aku mulai berpikir (Emm…, harapan itu masih ada!), meski tak 100 percent, coz, seminggu intens di lab flu burung RSUP M. Djamil sudah menyita begitu banyak perhatianku, waktuku, dan tenagaku.
For the selection, ohh…, pengetahuan umumku kacau banget.
Pas, nampil, utk seleksi 5 besar, akhirnya, AKU GUGUR. Yeah. Bagiku, it’s okay. Never mind!!
Yg paling berkesan, Entah kenapa, semuanya jadi lenyap waktu pertanyaan itu dilontarkan. Padahal, pertanyaan itu sangat menarik bagiku. Tentang dunia pendidikan yg referensinya sudah kutulis di novel. Kenapa tiba-tiba public speaking ku kacau banget yahh?? Ouwww…., ancur banget deeeeh. Aku melihat banget, bgmna *** **** begitu kecewa setelah satu harapan besar ditumpangkan ke pundakku. Oh, maafkanlah aku, tidak bisa memberikan yang terbaik.

Ehmm…, sungguh, aku ‘berbesar hati’ dengan kekalahan ini. Sejak awal, aku memang tidak terlalu focus ikut ajang unand award karena aku memang lebih kepikiran dengan ‘makhluk halusku’ di labor. Lagian, kalah dan menang dalam sebuah kompetisi adalah hal yg niscaya.

Tapi, setelah berpikir seribu kali dan pada puncak perenunganku, akhirnya, aku menyadari, kekalahan ini memiliki dampak buruk secara “jamaah”. Aku secara pribadi boleh tidak kecewa dan memang aku tidak kecewa dengan sebuah kekalahan ini, tapi, ada tatanan “organ, yg terkumpul atas jaringan2, yg tersusun atas sel” ini yang telah “kucoreng-moreng”. Aku, dan ketujuh grandfinalis lainnya.

Aku, secara pribadi, tidak terlalu kecewa dengan sebuah kekalahan, namun, secara “organ” aku harus menyesalinya. Ah, barangkali, jadikan saja ini sebagai pelajaran, bahwasannya tidak boleh ada “coreng-moreng” itu lagi di momentum berikutnya! Tak boleh! Sebab, ilmu itu adalah mutiara yg hilang dari seorang muslim, dan, kitalah yang harus menemukannya. 

Bagiku, ini semua adalah lecutan pencuat semangat, untuk terus-menerus berkarya, memberikan yang terbaik bagi umat ini. Sesungguhnya, untuk memberikan karya nyata terbaik, tak perlu pengakuan public (ini yang menjadi catatan penting yang perlu aku garis bahawi). Yaaah, untuk memberikan karya nyata terbaik, tak perlu pengakuan public. Tak perlu ajang-ajang apapun itu. Sebab, setiap momentum waktu adalah ajang, untuk terus-menerus memberikan yang terbaik, bagi Negara ini, bagi agama Allah ini. Dan cukuplah Allah saja yang menjadi juri dan penilai atas karya nyata itu. Allahu akbar!!!

Gambarimasu! Ganbatte Kudasai! Hamasah! Smangat! Smangat!

Special thanks to : my lovely family yg selalu mendukungku. Sungguh, aku menjadi orang paling bahagia sedunia terlahir dari kelurgaku. Ibuku tercinta. Ayahku tercinta, dan adik2ku tercinta.
Second, temen2 se wisma yg telah menyemangatiku, yg minjemin baju kurung melayu, yg udah ngasi support lewat SMS (ketika BANDFathelvi kirim ke 1313), smua2nya dah. Luv U coz Allah, ukhty fillah…(Ratih, Citra, Titi, Dian, Dedew, Wewen, Mega,Via)
Truz,Kepada ibu Pembimbingku tercinta, Bu Marlina, yg juga nyuppport diriku. Makasih banget yah Bu.
Trus, temen2 angkatan yg udah nyupport abizzz… (aku jadi terharu banget. Padahal, aku tak memberikan ikhtiar yang optimal)
Ga’ ketinggalan jugah my team in laboratory yg udah bela2in hadir wlupun kerjaan di lab numpuk banget. Makasih banget yah temen2 and uni2 semua (Ni Ema, Ni Tria, Ni Eka, Bu Tati’, Ni Ria, Rani, Aya, Ayang, Inin, Rekha, and Mas Wahyu)
Juga buat grandfinalis semuanya (Fuad, Ona, Dian, Pute, Riri, Dona, Vania, Ayah, dan Ai, thank’s tlah bikin warna baru dalam hidupku. Senang pernah mengenal ‘makhluk-makhluk’ cerdas seperi dikau smua.
Dan semua pihak yang tak dapat kusebut satu per satu lagi, makasih buanyaaaak yah. Domou arigatou gozaimasu. Syukron katsiran.


Read More