Ceritera Kita Kali Ini
Meski kami sudah berpencar di mana-mana, tapiiii…nuansa ukhuwah masi berasaa. Hee…
Alhamdulillaah… Nikmat ukhuwaah ini benar-benar terasa manis yaah. Ini salah satu dari sekian banyak kasih sayang-Nya…ukhuwah yang begitu lezaaat….
Hmm….hari gini, kami masi OnLine lintas daerah…Solsel-Lubuk Alung-Payakumbuh-Bukittinggi-Agam-Padang-Bekasi…hmm…hmm…
Dan biasanya…itu henpon bisa ampe anget beut, karena nilpunnya bukan itungan menit melainkan jam!
Tema cerita kita biasanya siih tak lepas dari 2 hal…Kerja dan n*kah…. Kalo kata sebuah judul buku, KKN (kuliyah kerja n*kah, naah….kami memangkas “K” yang pertama. Hihi.) wkwkwkwwkwk…Dasaaarrr….syndrome duapuluh plus. Hihi.
Hmm…ada banyak hikmah sih. Ada banyak cerita. Mungkin ini kisah-kisah alay sahaja. Tapii….yaah…semuanya sebenarnya meninggalkan banyak plajaran. Yaah, meski kadang dalam idup ni kita melewatkan banyak kesempatan, tapiii…sebaiknya jangan sampai melewatkan banyak pelajaran. Iya tho?!
Alhamdulillaah… Nikmat ukhuwaah ini benar-benar terasa manis yaah. Ini salah satu dari sekian banyak kasih sayang-Nya…ukhuwah yang begitu lezaaat….
Hmm….hari gini, kami masi OnLine lintas daerah…Solsel-Lubuk Alung-Payakumbuh-Bukittinggi-Agam-Padang-Bekasi…hmm…hmm…
Dan biasanya…itu henpon bisa ampe anget beut, karena nilpunnya bukan itungan menit melainkan jam!
Tema cerita kita biasanya siih tak lepas dari 2 hal…Kerja dan n*kah…. Kalo kata sebuah judul buku, KKN (kuliyah kerja n*kah, naah….kami memangkas “K” yang pertama. Hihi.) wkwkwkwwkwk…Dasaaarrr….syndrome duapuluh plus. Hihi.
Hmm…ada banyak hikmah sih. Ada banyak cerita. Mungkin ini kisah-kisah alay sahaja. Tapii….yaah…semuanya sebenarnya meninggalkan banyak plajaran. Yaah, meski kadang dalam idup ni kita melewatkan banyak kesempatan, tapiii…sebaiknya jangan sampai melewatkan banyak pelajaran. Iya tho?!
Challenge
![]() |
| Merindu kebersamaan itu lagi... |
Karena hidup punya dinamika.
Juga karena bukan jamaah para malaikat yang penuh kesempurnaan…
Sebab itu, kita tidak punya alasan untuk kecewa…terhadap apapun itu…terhadap siapapun itu…
Karena, diri kita pun, terlalu jauh dari sempurna…
Bagaimanapun…
Setiap kita, masih ingin mengokohkan pijakan di jalan ini…
Berjuang…dijalan ini…karena-Nya…
Tapi bukan sendiri…bukan infirodi…
Melainkan dalam jama’ah ini…dalam satu naungan : ISLAM!
Allah ghoyatunaa….
Wa jihad sabilunaa…
Almautu fi sabilillaah…Asmaa amaninaa…
Ya muqallibal quluub…
Tsabit qalbina ‘alaa diinik…’ala tho’atik…
Allahumma innaka ta’lamu anna haadzihil quluub…
Qodijtama’at ‘ala mahabbatik…
Tataqot ‘ala thoo’atik..
Watawahhadat ‘ala da’watik…
Wata’aahadat ‘ala nushrati syarii’atik..
Fawatsiqillaahumma rabthotahaa…
Fawatsiqillaahumma rabthotahaa…
Waadimwuddaha wahdihaa subulaha…
Wamlakhaa binuurikalladzi laa yakhbuu wasyrah sudurohaa bifaidil iimanibik…
Wajamitawakkuli ‘alaik…
Wa ahyihaa bima’rifatik….
Wa amithaa ‘alasy-syahaadati fii sabilik…
Innaka ni’mal maula wa ni’mannashiir…
Allahumma aamiiin…
Ruang Tak Harap
![]() |
| Berharap... |
“Maksudnya?” Dan aku kala itu, tengah berusaha memahami kata-katanya itu.
“Karena, sering kali harapan-harapan semasa kecilku tak menjadi wujud nyata.”
“Berhenti berharap kah?”
“Bukan berhenti berharap. Tapi, menyediakan satu ruang bagi hati untuk tidak terwujudnya harap itu.”
“Hmm…” hanya gumaman kecil.
Yah, benar! Menyediakan satu ruang bagi hati untuk tidak terwujudnya harap itu!
Seperti punguk yang rindu pada sang rembulan. Hmm…basi mungkin! Tapii begitulah. Memang, harus ada satu ruang untuk segala kemungkinan terburuk.
Bukan! Bukan hendak menghentikan harap-harap itu. Bukan pula untuk mencekal ke-optimisan maupun semangat yang terus digaungkan. Bukan pula hendak memberikan sugesti negatif dan menisbikan postive thingking.
Hanya sebuah ruang saja. Hanya sebuah ruang kecil saja. Untuk sebuah harap yang mungkin saja tak terwujud.
Sosok Dua Belas Tahun Silam
Sudah berpuluh-puluh(lebay!) tahun aku tak melihat raut wajah itu.
Sudah semakin tua saja. (hee...ya iyalah! duabelas telah berlalu sudah!). Tapi, aku merindukan wajah itu. Wajah lelaki yang aku panggil "Pak". Ia adalah guruku. Guru SD-ku. Mengajarku segala hal mulai dari matematika, bahasa indonesia, PPKn (jaman2 masi PPKn namanya dulu, bukan KWN), IPS, IPA.
Aku benar-benar nge-fans banget sama Bapak itu. Alasan sederhananya, karena si Bapak sangat pintar matematika. hihi. (betapa lugunya alasan itu!).
Beberapa kali aku sengaja lewat di depan rumah beliau(secara jalur ke rumah Bapak itu beda beut ama jalan ke rumahku, jadiiii jarang pisan lewat sana), tapi tak pernah bersua.
Tapi sore ini, aku kembali (menyengajakan diri) lewat sana...
dan Masya Allah...
Akhirnya bersua juga dengan sosok itu.
Sosok yang kukagumi ketika masa kecilku...
Sosok guru yang mempesona kecerdasannya...
hee...
Aku hanya bisa menyapa, "Pak"..."Buk" kepada sepasang suami istri yang duduk di teras rumah itu.
(Habisnya pake motor siih, terlanjur kaga nge-rem..hee.... --> alasan!)
Sesaat si Bapak terpana.
Barang kali...ia sedang berusaha untuk merecall memory, "ini siapa yaaah?"
Sudah semakin tua saja. (hee...ya iyalah! duabelas telah berlalu sudah!). Tapi, aku merindukan wajah itu. Wajah lelaki yang aku panggil "Pak". Ia adalah guruku. Guru SD-ku. Mengajarku segala hal mulai dari matematika, bahasa indonesia, PPKn (jaman2 masi PPKn namanya dulu, bukan KWN), IPS, IPA.
Aku benar-benar nge-fans banget sama Bapak itu. Alasan sederhananya, karena si Bapak sangat pintar matematika. hihi. (betapa lugunya alasan itu!).
Beberapa kali aku sengaja lewat di depan rumah beliau(secara jalur ke rumah Bapak itu beda beut ama jalan ke rumahku, jadiiii jarang pisan lewat sana), tapi tak pernah bersua.
Tapi sore ini, aku kembali (menyengajakan diri) lewat sana...
dan Masya Allah...
Akhirnya bersua juga dengan sosok itu.
Sosok yang kukagumi ketika masa kecilku...
Sosok guru yang mempesona kecerdasannya...
hee...
Aku hanya bisa menyapa, "Pak"..."Buk" kepada sepasang suami istri yang duduk di teras rumah itu.
(Habisnya pake motor siih, terlanjur kaga nge-rem..hee.... --> alasan!)
Sesaat si Bapak terpana.
Barang kali...ia sedang berusaha untuk merecall memory, "ini siapa yaaah?"
Setelah Kabut Menyelimut
Pagi yang berkabut…
Dingin.
Tapi, lihatlah…setelah kabut, ada mentari yang benderang.
Cerah.
Kabut perlahan lenyap, berganti sinar…
Begitulah adanya.
Hidup tak selamanya kabut.
Ada mentari juga.
Kenapa harus terpaku pada kabut, sementara matahari PASTI akan bersinar kemudian…
Tak ada kesulitan tanpa ada kemudahan
Jika hari ini masih buntu. Masih bingung. Tanpa ada kejelasan.
Maka, mencobalah untuk mengedarkan pandangan hati, melintasi batas, dan yakinlah…
PASTI ADA JALAN!
Yah, pasti ada jalan.
Asal bersedia sedikit saja menolak pertemanan dengan keputusasaan…
Asalkan bersedia sedikit saja melengok luar zona nyaman…
Cukup sedikit saja…
Sebagai pijakan awal…
Sebagai langkah pertama…
Untuk langkah keseribu…
Hmm…terbiasa hidup dengan segalanya ada dan serba mudah, pasti membuat begitu limbung ketika pegangan tempat menyangga diri itu goyah, bukan?
Tapi…apapun itu, harus dihadapi, jika masih ingin meraih medali kemangan itu.
Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan…
Tidak ada kesuksesan tanpa berpayah-payah dulu..
Sebab, ia akan menjadi begitu manis jika telah melewati bermacam rintangan…
Manis setelah pahit akan lebih manis dari manis setelah manis…
Hanya satu kata saja…
BENAHI HIDUPMU!
Benahi Ruhiy,
Benahi fikiran,
Benahi hati,
Benahi diri,
Yup…berbenah!
Yakinlah…MENTARI ITU AKAN BERSINAR BENDERANG, setelah kabut menyelimut…
S.U.M.A.N.G.A.I.K!!!
Dingin.
Tapi, lihatlah…setelah kabut, ada mentari yang benderang.
Cerah.
Kabut perlahan lenyap, berganti sinar…
Begitulah adanya.
Hidup tak selamanya kabut.
Ada mentari juga.
Kenapa harus terpaku pada kabut, sementara matahari PASTI akan bersinar kemudian…
Tak ada kesulitan tanpa ada kemudahan
Jika hari ini masih buntu. Masih bingung. Tanpa ada kejelasan.
Maka, mencobalah untuk mengedarkan pandangan hati, melintasi batas, dan yakinlah…
PASTI ADA JALAN!
Yah, pasti ada jalan.
Asal bersedia sedikit saja menolak pertemanan dengan keputusasaan…
Asalkan bersedia sedikit saja melengok luar zona nyaman…
Cukup sedikit saja…
Sebagai pijakan awal…
Sebagai langkah pertama…
Untuk langkah keseribu…
Hmm…terbiasa hidup dengan segalanya ada dan serba mudah, pasti membuat begitu limbung ketika pegangan tempat menyangga diri itu goyah, bukan?
Tapi…apapun itu, harus dihadapi, jika masih ingin meraih medali kemangan itu.
Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan…
Tidak ada kesuksesan tanpa berpayah-payah dulu..
Sebab, ia akan menjadi begitu manis jika telah melewati bermacam rintangan…
Manis setelah pahit akan lebih manis dari manis setelah manis…
Hanya satu kata saja…
BENAHI HIDUPMU!
Benahi Ruhiy,
Benahi fikiran,
Benahi hati,
Benahi diri,
Yup…berbenah!
Yakinlah…MENTARI ITU AKAN BERSINAR BENDERANG, setelah kabut menyelimut…
S.U.M.A.N.G.A.I.K!!!
Bertahan dengan Idealisme atau Berdamai dengan Realita?
Maghrib itu di depan rak OTC suatu apotek. Biasaa…swamedikasi. Untuk penyakit ringan, mengapa harus ke dokter segala. Wong paling dokter juga kasi itu-itu aja. Dan lagii, kalo sempat “nyasar” dan terdampar di tempat praktek “dokter proyek”, bisa-bisa jadinya terapi tanpa indikasi pula. Ngejar target penjualan, biarrrrr bisa dapet fasilitas yang dijanjikan MedRep. Hee…suudzan ajah..(atau paranoid? Hihi). Gak ding! Gak semua dokter begitu. Ada banyak lagi yang baik. Bahkan sangat baik. Hanya saja….sebagiaaan keciiiiilll ada juga yang mafia tanpa terlihat sebagai mafia. Hee…
Dengan sabar aku menunggu laki-laki—yang mungkin adalah asisten apoteker di apotek itu—selesai melakukan dispensing obat asam urat kepada seorang lelaki paruh baya. Ia memperlihatkan kakinya bengkak akibat adanya hiperurisemia yang dideritanya. Aku hanya perhatikan ia. Seksama. Kulihat-lihat, hmm…sepertinya ada Na-Diclofenac, Alluporinol…hmm…ada satu lagi. Antasida. Baiklah…baiklah…
Akhirnya, tiba giliranku.
“Apa yang bisa dibantu, dik?” tanyanya.
“Hmm…obat untuk ibu, Da. Batuk…pilek…”
“ada demam kah?”
“tidak”
“mau makan yang tablet?”
“emm…” aku berpikir. “yang ada dextrometorphannya deh Da.” (halaaah, gayaa!). Nyari yang antitusifnya lah.
“eeh….tau dektromethorphan juga?”
“hehee…kan anak farmasi.”
“eh, farmasi?” uda itu kelihatan kaget.
“iya..hihi.”
“tingkat berapa?”
Nyengir…”udah tamat, Da.”
“apoteker?”
Aku mengangguk.
“serius?” seperti tak yakin dia. Aku mengangguk yakin. Huumm, apa aku kaga ada tampang-tampang apotekernya? Atau, lebih mirip tampang anak IAIN yah? Hihi. Abiisss…, banyak yang nyangka begitu. Dikirain saia anak IAIN. Hihi. Anak IAIN? Hee…
“waaah. Asli sini?”
“Yup.”
“apoteker langka yah di sini?”
“he eh.”
“trus, sekarang kerja dimana?”
“pengangguran, Da. Hihi.” Dia tertawa. Aku juga.
Hehe…akhirnya, si uda mengatakan bahwa apotekernya sudah mau habis masanya, dan udah mau balik ke kampungnya. Dan dia lagi nyariin apoteker buat APA di apoteknya.
“trus, apotekernya itu mana Da?” aku clingak-clinguk kiri kanan.
“tak ada tuh. Datengnya mah pas ngambil gaji ama nanda tangan SP doang.”
Hee…sudah kuduga! Perilaku turun menurun si apoteker.
Antara idealita dan realita. Begitulah. Akhirnya aku paham, mengapa banyak orang yang di masa-masa idealisnya—katakanlah salah satunya semasa mahasiswa—tiba-tiba menjadi pelaku apa yang ditentangnya itu ketika ia telah berada di ranah kerja. Karena duit itu sulit. Dan karena duit itu adiktif! Hmm…pantas saja, banyak orang kehilangan idealism nya ketika berjumpa dengan duit. Dan pantas pula banyak yang menggadai mahalnya harga kejujuran dan keadilan demi empat hutuf itu. Uang!
Dulu, semasa masih menjadi mahasiswa, aku pernah satu travel dengan seorang mantan aktivis 98 yang ikut menumbangkan cabinet-nya pak Soeharto. Mungkin dia melihat ke-idealis-anku atau mungkin dia (terlanjur menilai) aku sebagai seorang aktivis (hee….padahal kan aku cukup moderat yaah…gak aktivis tulen laah. Hihi), akhirnya kami bertukar cerita. Ia ikut berkoar-koar. Ikut turun kejalan. Ikut meneriakkan yel-yel. Tapi apa? Katanya, idealism tinggal lah idealism. Ketika pun ia menjadi pelaku di ranah legislative, ia pun menjadi apa yang dahulu ia tentang. Begitu ceritanya. Dan baginya, idealism hanyalah milik mahasiswa. Hmm...aku menyelami itu. Aku memahaminya. Hanya saja belum merasainya. Dan, sekarang, aku benar-benar sangat paham sekaligus merasakan…apa yang dirasakannya.
Aku…dengan ke-idealis-spontan-an-ku.
Apa karena aroma kemahasiswaan masi berasa atau karena aku benar-benar idealis?
Entahlah.
Sekarang—setelah jadi pengangguran—baru berasa, duit itu sulit. Dan aku sangat memahami mengapa perilaku sejawatku itu adalah demikian. Meski mungkin melecehkan—atau dengan bahasa lebih lembutnya—sedikit bertolak belakang dengan peran yang seharusnya, tapi…lagi-lagi karena duit itu sulit! Coba saja, setamat apoteker, masi bingung pengin mengadu nasib ke mana, lalu tiba-tiba ada yang menawarkan untuk bekerja sebagai APA di apoteknya. Hanya saja. pada hakikatnya bukan APA melainkan “pinjam nama”. Sebab, peran sang apoteker di sana mulai dari perencanaan, pengadaan, pergudangan, pemesanan, dispensing, hingga pelaporan….DINISBIKAN! apoteker cukup datang sekali sebulan, ambil gaji dan tanda tangan SP. Cukup dengan gaji 700 ribu (bahkan ada yang hanya 500ribu). Karena sulitnya duit, pada akhirnya…diterima jua. APA tak dapat berkutik. Semuanya dikuasai PSA. Hmm…parraaah!
Sekarang, aku mengajakmu berada di posisiku.
Sama seperti case di atas. Belum bekerja. Lalu tiba-tiba ada tawaran demikian. Apa yang hendak kau lakukan? Sementara kau tak punya duit.
Hee…di sinilah “genderang perang” itu ditabuh. Mau menuruti idealism kah? Atau berdamai saja dengan realita? Hmm… Bertahan dengan idealism membuat tak bisa ‘bertahan idup’. Tapi, berdamai dengan realitas, seperti seolah-olah menutup mata dari sumpah yang dulu terucap.
Hee…memang sulit!
Hmm…sebenarnya, kita bisa saja idealis sekaligus berdamai dengan realita. Asalkan berani dengan tegas menyatakan bahwa “jika saya menjadi APA di sini, saya harus laksanakan peran sebagai APA dan diberikan jasa profesi menurut aturan yang berlaku. Jika tidak, yaah, silahkan saja cari yang lain.” Tapi itu tadi, kadang kita “terlalu” mengasihi diri kita dengan sebuah kekhawatiran “huwaa…nanti kalo tak terima ini, bagemana yah? Apa masi ada apotek lain?”. Atau dengan kekhawatiran jenis lain, “ini kan sebuah peluang. Ngapain juga ditolak?”. Atau dengan bahasa lain “aah, lumayan lah. Nambah-nambah pemasukan. Wong Cuma dateng skali sebulan ajah. Gitu ajah koq repot.” Hmm….hmm….Bukankah lebih baik jika semuanya kompak dengan jawaban yang benar-benar lebih nge-farmasist (hedeeh…ngefarmasist? Hmm maksudnya..profesional sebagaimana profesi kita)? Jika semuanya sama dan seragam…, maka masih adakah celah buat terjadinya hal-hal di atas? Insya Allah tidak.
Sesulit apapun, sebenarnya kitalah yang akan “mengangkat” harkat dan martabat profesi ini. Asalkan bisa komitmen dengan itu. Jika mata rantai yang ‘turun menurun’ ini tidak diputus, maka ia akan terus ada. Terus begitu. Lantas sampai kapaaaan? (hee..idealism!). Perubahan bukan sesuatu yang instan. Mestilah perlahan-lahan. Iya kan?
Hmm…kadang, memang realitas mengalahkan idealitas kita. Memang. Aku pun, sering goyah. Tapiii, di saat pengangguran begini, aku telah menolak tawaran apotek?! Hmm…hmm…sebuah keputusan yang berat. Sebuah pilihan yang sulit sebenarnya. Di saat idealism itu benar-benar belum bisa diterapkan!
Eh, sebentar…sebentar…
Barang kali kultur demikian(seperti yang kuceritakan di atas), tidak banyak. Alhamdulillah, dunia kefarmasian sudah merangkak (hee….koq merangkak yah?) Melaju ding, menuju perbaikan… Aku pun berharap begitu. Agar peran farmasis itu bisa berada di posisinya, demi kesejahteraan ummat. Hehe. Sebab, farmasis (seharusnya) punya peran besar dalam dunia kesehatan. Peran yang selama ini mungkin terabaikan, atau mungkin belumlah tergeletak pada tempatnya.
Hayuuuk….hayuuk…farmasist’ers….
Semangaaattt!!
Dengan sabar aku menunggu laki-laki—yang mungkin adalah asisten apoteker di apotek itu—selesai melakukan dispensing obat asam urat kepada seorang lelaki paruh baya. Ia memperlihatkan kakinya bengkak akibat adanya hiperurisemia yang dideritanya. Aku hanya perhatikan ia. Seksama. Kulihat-lihat, hmm…sepertinya ada Na-Diclofenac, Alluporinol…hmm…ada satu lagi. Antasida. Baiklah…baiklah…
Akhirnya, tiba giliranku.
“Apa yang bisa dibantu, dik?” tanyanya.
“Hmm…obat untuk ibu, Da. Batuk…pilek…”
“ada demam kah?”
“tidak”
“mau makan yang tablet?”
“emm…” aku berpikir. “yang ada dextrometorphannya deh Da.” (halaaah, gayaa!). Nyari yang antitusifnya lah.
“eeh….tau dektromethorphan juga?”
“hehee…kan anak farmasi.”
“eh, farmasi?” uda itu kelihatan kaget.
“iya..hihi.”
“tingkat berapa?”
Nyengir…”udah tamat, Da.”
“apoteker?”
Aku mengangguk.
“serius?” seperti tak yakin dia. Aku mengangguk yakin. Huumm, apa aku kaga ada tampang-tampang apotekernya? Atau, lebih mirip tampang anak IAIN yah? Hihi. Abiisss…, banyak yang nyangka begitu. Dikirain saia anak IAIN. Hihi. Anak IAIN? Hee…
“waaah. Asli sini?”
“Yup.”
“apoteker langka yah di sini?”
“he eh.”
“trus, sekarang kerja dimana?”
“pengangguran, Da. Hihi.” Dia tertawa. Aku juga.
Hehe…akhirnya, si uda mengatakan bahwa apotekernya sudah mau habis masanya, dan udah mau balik ke kampungnya. Dan dia lagi nyariin apoteker buat APA di apoteknya.
“trus, apotekernya itu mana Da?” aku clingak-clinguk kiri kanan.
“tak ada tuh. Datengnya mah pas ngambil gaji ama nanda tangan SP doang.”
Hee…sudah kuduga! Perilaku turun menurun si apoteker.
Antara idealita dan realita. Begitulah. Akhirnya aku paham, mengapa banyak orang yang di masa-masa idealisnya—katakanlah salah satunya semasa mahasiswa—tiba-tiba menjadi pelaku apa yang ditentangnya itu ketika ia telah berada di ranah kerja. Karena duit itu sulit. Dan karena duit itu adiktif! Hmm…pantas saja, banyak orang kehilangan idealism nya ketika berjumpa dengan duit. Dan pantas pula banyak yang menggadai mahalnya harga kejujuran dan keadilan demi empat hutuf itu. Uang!
Dulu, semasa masih menjadi mahasiswa, aku pernah satu travel dengan seorang mantan aktivis 98 yang ikut menumbangkan cabinet-nya pak Soeharto. Mungkin dia melihat ke-idealis-anku atau mungkin dia (terlanjur menilai) aku sebagai seorang aktivis (hee….padahal kan aku cukup moderat yaah…gak aktivis tulen laah. Hihi), akhirnya kami bertukar cerita. Ia ikut berkoar-koar. Ikut turun kejalan. Ikut meneriakkan yel-yel. Tapi apa? Katanya, idealism tinggal lah idealism. Ketika pun ia menjadi pelaku di ranah legislative, ia pun menjadi apa yang dahulu ia tentang. Begitu ceritanya. Dan baginya, idealism hanyalah milik mahasiswa. Hmm...aku menyelami itu. Aku memahaminya. Hanya saja belum merasainya. Dan, sekarang, aku benar-benar sangat paham sekaligus merasakan…apa yang dirasakannya.
Aku…dengan ke-idealis-spontan-an-ku.
Apa karena aroma kemahasiswaan masi berasa atau karena aku benar-benar idealis?
Entahlah.
Sekarang—setelah jadi pengangguran—baru berasa, duit itu sulit. Dan aku sangat memahami mengapa perilaku sejawatku itu adalah demikian. Meski mungkin melecehkan—atau dengan bahasa lebih lembutnya—sedikit bertolak belakang dengan peran yang seharusnya, tapi…lagi-lagi karena duit itu sulit! Coba saja, setamat apoteker, masi bingung pengin mengadu nasib ke mana, lalu tiba-tiba ada yang menawarkan untuk bekerja sebagai APA di apoteknya. Hanya saja. pada hakikatnya bukan APA melainkan “pinjam nama”. Sebab, peran sang apoteker di sana mulai dari perencanaan, pengadaan, pergudangan, pemesanan, dispensing, hingga pelaporan….DINISBIKAN! apoteker cukup datang sekali sebulan, ambil gaji dan tanda tangan SP. Cukup dengan gaji 700 ribu (bahkan ada yang hanya 500ribu). Karena sulitnya duit, pada akhirnya…diterima jua. APA tak dapat berkutik. Semuanya dikuasai PSA. Hmm…parraaah!
Sekarang, aku mengajakmu berada di posisiku.
Sama seperti case di atas. Belum bekerja. Lalu tiba-tiba ada tawaran demikian. Apa yang hendak kau lakukan? Sementara kau tak punya duit.
Hee…di sinilah “genderang perang” itu ditabuh. Mau menuruti idealism kah? Atau berdamai saja dengan realita? Hmm… Bertahan dengan idealism membuat tak bisa ‘bertahan idup’. Tapi, berdamai dengan realitas, seperti seolah-olah menutup mata dari sumpah yang dulu terucap.
Hee…memang sulit!
Hmm…sebenarnya, kita bisa saja idealis sekaligus berdamai dengan realita. Asalkan berani dengan tegas menyatakan bahwa “jika saya menjadi APA di sini, saya harus laksanakan peran sebagai APA dan diberikan jasa profesi menurut aturan yang berlaku. Jika tidak, yaah, silahkan saja cari yang lain.” Tapi itu tadi, kadang kita “terlalu” mengasihi diri kita dengan sebuah kekhawatiran “huwaa…nanti kalo tak terima ini, bagemana yah? Apa masi ada apotek lain?”. Atau dengan kekhawatiran jenis lain, “ini kan sebuah peluang. Ngapain juga ditolak?”. Atau dengan bahasa lain “aah, lumayan lah. Nambah-nambah pemasukan. Wong Cuma dateng skali sebulan ajah. Gitu ajah koq repot.” Hmm….hmm….Bukankah lebih baik jika semuanya kompak dengan jawaban yang benar-benar lebih nge-farmasist (hedeeh…ngefarmasist? Hmm maksudnya..profesional sebagaimana profesi kita)? Jika semuanya sama dan seragam…, maka masih adakah celah buat terjadinya hal-hal di atas? Insya Allah tidak.
Sesulit apapun, sebenarnya kitalah yang akan “mengangkat” harkat dan martabat profesi ini. Asalkan bisa komitmen dengan itu. Jika mata rantai yang ‘turun menurun’ ini tidak diputus, maka ia akan terus ada. Terus begitu. Lantas sampai kapaaaan? (hee..idealism!). Perubahan bukan sesuatu yang instan. Mestilah perlahan-lahan. Iya kan?
Hmm…kadang, memang realitas mengalahkan idealitas kita. Memang. Aku pun, sering goyah. Tapiii, di saat pengangguran begini, aku telah menolak tawaran apotek?! Hmm…hmm…sebuah keputusan yang berat. Sebuah pilihan yang sulit sebenarnya. Di saat idealism itu benar-benar belum bisa diterapkan!
Eh, sebentar…sebentar…
Barang kali kultur demikian(seperti yang kuceritakan di atas), tidak banyak. Alhamdulillah, dunia kefarmasian sudah merangkak (hee….koq merangkak yah?) Melaju ding, menuju perbaikan… Aku pun berharap begitu. Agar peran farmasis itu bisa berada di posisinya, demi kesejahteraan ummat. Hehe. Sebab, farmasis (seharusnya) punya peran besar dalam dunia kesehatan. Peran yang selama ini mungkin terabaikan, atau mungkin belumlah tergeletak pada tempatnya.
Hayuuuk….hayuuk…farmasist’ers….
Semangaaattt!!
Pertemuan Ruh di Chamber Jiwa
![]() |
| Ruh-ruh di alam jiwa.... |
Masya Allah…ia begitu menarik. Cerdas. Kecerdasannya memesonaku. Aku selalu terpesona dengan sosok-sosok cerdas yang berlandaskan power ruhiyah. Bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga secara ruhiyah. Aku memang terpesona pada sosok-sosok demikian. Tapi kali ini ada hal lain yang lebih memperkuatnya. Bahwa ruh-ruh kami pun saling bertemu. Dan, ketika kali pertama bersua pun, aku sudah begitu tertarik padanya. Rasa kami adalah refersibel. Timbal balik. Karena kami, berada dalam range frekuensi emosi yang sama.
Ketika itu aku sedang duduk di pelataran mesjid. Angin bukit membelai jilbabku. Ini adalah suasana yang sangat menyejukkan bagiku. Tiba-tiba ia datang menghampiriku. Mengulas sebingkai senyum. Dalam sejenak saja, kami terlibat perbincangan seru…. Sungguh, seperti telah lama mengenalnya.
Aah…jiwa…
Tidak perlu bertanya mengapa jiwa memilih. Sebab, ini sudah disinyalir oleh Sosok Sempurna Rasulullaah berabad-abad silam… “Jiwa itu ibarat prajurit yang berbaris. Yang saling mengenal pasti akan saling melembut dan menyatu. Sedang, yang tidak saling mengenal pasti akan terpisah dan berbeda.”
Kedekatan dan cinta dalam media apapun itu, baik persahabatan, cinta, kelompok atau apapun itu tak pernah dapat dipaksa. Tak pernah. Se-ekstrem apapun chamber yang kita buat. Jiwalah yang kemudian memilih, sesiapa yang “dikenal”nya. Sejauh apapun jarak, pun ketika sebelumnya ada sosok-sosok asing bagi kita, tapi ketika ruh-ruh itu telah bertemu di alam jiwa, maka dengar segera akan dapat saling mengenali. Mungkin dengan takjub kita berkata, “Wah, seperti sudah lama mengenal yah?”. Karena ruh-ruhnya telah saling bertemu terlebih dahulu.
Pun begitu halnya dalam ikatan sacral yang begitu kuat, mitsqan ghalidza. Bahwa ia menyaratkan adanya kesesuaian ruh. Adanya kesesuaian jiwa. Dan, kemudian jiwalah yang memilih….mengapa yang ini, bukan yang itu. Hanya saja, tak cukup dengan itu saja. Ada kekuatan adidaya yang MAHA POWER, yang Maha membolak-balikkan hati. Ditangan-Nya lah terletak segala keputusan. Maka, apapun itu, komunikasikanlah pada-Nya.
Sejenak Menelik Jejak Mimpi
![]() |
| Semangattttt.... |
Aku tahu, bahwa aku hari ini belum memiliki apa-apa. Jika orang lain memandang—apalagi masyarakat di sekitar kampungku—aku digolongkan pada kelompok orang-orang pengangguran. Heuu….kasihan nian anakmu ini, Ibu…hehe. Tapi…aku menyadari, bahwa hampir semua yang menjadi mimpiku dulunya, sebagiannya telah dapat kuraih. Telah dapat kuraih di sini, bukan berarti aku menjadi sukses dalam hal financial (jika ada yang menstandardisasi kesuksesan itu dengan parameter uang). Hehe. Jika iya demikian, maka kukatakan aku belum berpenghasilan!
Aku seorang generic. Hihi. Obat generic kaliii. Eih, bukan ding! Maksudku, aku orang generalis. Aku menyukai banyak hal. Ada banyak hal yang kusukai dan kuminati. Hanya saja, aku tidak pernah benar-benar mendalam memasukinya. Tapi, aku bersyukur bisa menyemplungkan diri ke dalam dunia-dunia itu.
Dahulu, ketika belajar formulasi, zat aktif suatu obat akan cendrung menuju kepada sifat awalnya meskipun telah dikondisikan pada titik-titik euthetik ataupun titik kesetimbangan. Tapiiii, dia akan tetap berusaha menuju sifat-sifat awal meskipun perlahan. Dari sini aku belajar bahwa bagaimana pun jua, seseorang akan tetap menuju ordinat apa yang menjadi minatnya. Sebab itu pula, aku melihat banyak di antara mahasiswa farmasis (yang mungkin salah masuk jurusan juga! Hihi) yang kemudian terjun di bidang lain baik itu IT, Seni, Teknologi, sastra dan lain sebagainya.
Aku menyadari sepenuhnya, bahwa aku membutuhkan energy besar untuk bisa mencintai dunia farmasi. Ya, tentu saja. Sebab, aku tak pernah membayangkan akan menjadi seorang farmasis. Aku tidak terlalu meminati bidang ini. Aku lebih suka sastra, lebih suka desain baik itu grafis, interior maupun eksterior, aku suka fotografi, aku suka dunia pendidikan, aku suka multimedia, aku suka manajemen, aku suka dunia psikologi. Semestinya, aku lebih baik memilih salah satu diantara apa yang aku minati itu bukan?
Tapi apa?
Kemudian aku menjadi seorang farmasis! Apoteker! Dan aku perlu menghadirkan berkali-kali (bukan hanya sekali saja) KECINTAAN pada dunia ini. Tapi, meski demikian, aku SANGAT BERSYUKUR bahwa aku sekarang adalah seorang apoteker. Aku men-syukuri hal itu. Sebab, aku banyak mendapatkan ilmu di sini (yang barang kali) aku tidak minati sebelumnya sehingga rasa ingin tahuku terhadap dunia farmasi ini tidak ada jika aku tidak berada di ranah farmasi. Jika pun aku tidak bisa menjadi yang terbaik di bidang farmasis, tapi aku mendapatkan ilmunya. Perkara minatku, seperti kubilang ia akan tetap menuju ordinat itu. Ternyata, selain ilmu farmasis, aku masih tetap dapat berkecimpung dalam dunia per-desain-an, dalam dunia kepenulisan, dalam dunia per-fotografi-an, dalam dunia pendidikan (heuu….alhamdulillaah, cita-cita jadi guru matematika pun kesampaian! Hihi.Dalam dunia psikologi pun demikian! Aku telah meraih sebagian besar yang menjadi minatku selain mendalami apa yang menjadi background disipilin ilmuku, meskipun masih berada pada electron valensi kulit terluar a.k.a masi sangat sedikiiiiiiitt sekali ilmunya alias masi harusssss banyak belajarr.
Tentang dunia psikologi ini, hihi…aku tahu uni psikologku tengah ‘menjerumuskan’ku ke dalam dunia psikologi. Meskipun dia tak mengatakannya, tapiii, heuu…aku sudah terlanjur mengetahuinya uniiih. Hihi. Menjadi satu-satunya apoteker di antara tim yang selebihnya adalah orang-orang dengan background psikologi, sempat bikin aku keki. Serius! Aku benar-benar keki. Aku tahu, para psikolog itu dapat “menguliti”-ku hingga lapisan terdalam. Hihi. Emangnya lapis legit apah? Pake lapisan-lapisan segala. Hihi. Apalagi aku adalah orang yang mudah ditebak. Hehe. Tapi aku bahagia. Aku senang. Aku bersyukur. Sebab aku pun dapat memperoleh ilmunya di sini. Setidaknya, memuaskan banyak dari rasa ingin tahuku mengenai dunia kepribadian, meskipun aku tak mendalaminya hingga ke dasar-dasarnya sekalipun.
Heuu…aku pengin banget bisa S-2 (walau entah kapaaaaan. Hehe). Tapii, kadang pikiran nakal-ku mengajak agar aku ngambil S-2 nya bukan bidang farmasi melainkan bidang psikologi anak sahajaa. Hee… Tapiii, kalau aku ingin jadi guru farmasi, mana bisa yah S-2 nya di Psikologi?! Hmm…hmm… hehe. *nyengir mode ON.
Dari ini semua, aku menarik kesimpulan bahwa benarlah CINTA menjadi energy luar biasa. Seseorang tak pernah benar-benar dapat mengupayakan yang terbaik dan yang paling optimal bagi dirinya, bagi lingkungannya, bagi rumah tangganya, bagi da’wah, bagi apapunlah yang menjadi elemn-elemen kehidupannya, jika tidak ada CINTA yang menjadi landasannya.
Lalu, setelah itu adalah…rasa ketidakpuasan. Di sini, bukan berarti menyoal ke-qanaah-an kita, melainkan unsatisfaction dalam hal-hal yang positif. Ketidakpuasan dengan ilmu yang kita punya, ketidakpuasan dengan amalan yang masih sedikit, ketidakpuasan dengan segala hal-hal tersebut akan membuat dan memacu kita untuk terus meng-upgrade dan meng-update serta meng-tune up diri kita! Bagiku prinsipnya adalah…bukan untuk menjadi yang sempurna, melainkan menjadi lebih baik! Sebab kesempurnaan pada manusia hanyalah sebuah hal yang sangat absurd. Begitu jauh dari mungkin.
Untitled
![]() |
| untitled |
Aku sadar…dengan kesadaran penuh…, betapa sebenarnya aku terbelenggu…dan (mungkin juga) membelenggu diri. Apa lagi pada titik-titik kulminatif di mana aku berada pada fase lembah grafik kosinus. Sebagaimana laiknya kompetisi yang begitu niscaya bagi internal dan eksternal diri, ia pun mengambil bagian dari salah satu kompetisi itu. Kompetisi rasa dan rasio.
Aku hanya sedang berusaha kuat, menyangga jiwa agar berada dalam bibir-bibir ketegaran. Tapi, kenyataannya adalah bahwa diri ini hanyalah kumpulan kedhaifan belaka. Atau, aku yang sedang berselindung di belakang pungung kedhaifan sehingga melanggengkannya tetap ada? Ataukah aku yang terlalu merendahkan ambang toleransi bagi diriku sendiri sehingga bagaimana pun aku telah berusaha untuk berada pada garis zero, ternyata masih sepenuhnya belum bisa? Entahlah… Sungguh sangat rumit.
Aku tahu…sungguh fluktuatif ia. Seperti gelombang ultrasonic yang merambat di udara. Tak terlihat, tapi ia sampai pada alat pendeteksinya. Mungkin akan banyak yang berkata, betapa lemahnya! Ya, betapa lemahnya! Aku pun menyadari hal itu. Aku bukan tengah ingin mengambil pembenaran dari begitu banyaknya orang-orang yang juga berada pada lembah grafik kosinus yang sama. Juga sebaliknya, tidak tengah menghakimi diri.
Hmm…sudahlah.
Semestinya aku tak perlu membahas ini lagi. Semestinya. Hanya saja ia butuh muara seperti peran sang drainase dalam mengaliri perairan suatu perumahan. Hanya untuk itu saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)







