Memburu Sate Padang di Negeri Gurun

Ini bukan recent story sebenarnya. Tapi baru sempat bercerita sekarang. Hehe. Sebagai orang minang sejati,sate padang adalah salah satu makanan khas minang yang mesti masuk list makanan favorit. Aku memang penggemar berat sate padang hihi. Kalau suamiku penggemar nasi goreng. Untuk makanan favorit ini kita memang sedikit berbeda selera. :)

Naah, kebetulan di grup para emak lagi ada informasi menarik. Informasi itu adalah bahwasannya ada yang jual sate padang. Tapi jarak tempuhnya 64-an km dari apartemenku. Wiiihh demi si sate padang, bela-belain dehh aku mengejar hingga 64 km. Jadi ingat, kalau di kampung si sate ini di setiap gang ada. Hehe..

Naah pas agenda melingkar para suami... akhirnya terbetik niatan di hati untuk bikin sendiri sate padangnya dengan mengandalkan ilmu kirologi.
Hasilnya? Alhamdulillaah tidak begitu mengecewakan.

Inilah salah satu hikmah berdomisili di luar negri di mana mobilitas terbatas dan jauh dari selera nusantara. Mengasah daya kreatifitas untuk menjadi produsen. Bikin sendiri. Kalau di indonesia, mana kepikiran bikin sendiri??? Tinggal beli lebih gampang kaan. :P

Demikian cerita singkat kali ini. Hihihi...
Dan berikut adalah sate padang made by mak Aafiya..
Maap kalo bikin ngiler (keGRan :P)

Read More

Semangat Sekolah Lagi!!

Duluu.... ketika masih kuliah, setengah bercanda setengah serius aku bilang sama teman :
"Aku suka sekolah. Jika ada pekerjaan yang tugasnya adalah sekolah dan aku dibayarin sekolahnya.. aku mauu bangeeet sekolah teruuuss.. hihihi..."

Sekian masa berlalu setelahnya. Alhamdulillaah takdir Allah yang indah mengantarkanku ke kota Riyadh. Tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya akan menjejaki langkah. Bumi timur tengah. Negeri gurun yang metropolis. Dengan segera aku jatuh cinta pada Riyadh... Dari sini pulalah pertama kali aku berangkat menuju tanah Harom, Al Haromain, dua tanah suci : Makkah dan Madinah bersama belahan jiwa.

Ahh sebenarnya keinginan untuk bersekolah begitu membuncah. Tapi keterbatasan mobilitas wanita membuat satu setengah tahun pertamaku di sini terlewati tanpa mengikuti sekolah formal maupun nonformal. Meskipun sangat ingin, tapi terkendala transportasi. Bus sekolah tidak melewati area domisiliku. Apalagi lokasi sekolah yang sangat aku minati itu berada di pusat kota yang relatif macet apalagi jam-jam berangkat kantor dan sekolah.

Alhamdulillaah, setelah banyak informasi di sekelilingku, dan ada tetangga yang juga ikut sekolah yang sama (sehingga bisa bergantian transportaainya), semakin memantapkan langkahku untuk bersemangat sekolah lagi. Yaa, sekolah lagi. Kali ini, ma syaa Allah... aku begitu bersemangat untuk memulai belajar pertama di next term in syaa Allah... Bismillaah.. in syaa Allah september 2015.

Sekolah yang aku sangat minati ini sama sekali bukan sekolah farmasi klinis sebagaimana jenjang pendidikanku sebelumnya. Sekolah ini bisa dibilang sekolahnya para ibu rumah tangga. Sebagian besar muridnya adalah ibu rumah tangga. Daar Adh Dhikr school-for non arabic speakinh woman. Itu nama sekolahnya. Sekolah bahasa arab dan sekolah tahfidz. Jurusannya adalah bahasa arab dan tahfidz saja. Untuk bahasa arab dari kelas tamhidi hingga semester 8. Khusus kelas tahfidz Al Qur'an, diharapkan siswi menyelesaikan 30 juz dalam 2 tahun.

Hari senin kemarin (18 Mei 2015), kami mendaftarkan diri sebagai talibah jadiid (murid baru). Aku mengambil jurusan Bahasa Arab. Di kelas bahasa arab juga ada mata pelajaran Al Qur'an berupa tahsin dan tahfidz tapi tidak seintens jurusan tahfidz.

Kami mengikuti test terlebih dahulu untuk menetapkan level kelas yang akan dimasuki nantinya. Untuk kelas bahasa arab aku berada di kelas 1 atau mustawa awwal. Sedangkan untum kelas Al Qur'an aku berada di kelas 2.

Menurut pengalaman teman-teman yang sekolah di sini, sekolah di sini sangat menyenangkan. Adalah kesempatan emas bisa belajar dari mu'allimah yang native speakers. Kesempatan emas pula untuk belajar Al qur'an dari seorang guru. Alhamdulillaah 'alaa kulli hal.

Bagaimana dengan bayi? Alhamdulillaah di sini tersedia nursery (hadhonah) selama kita belajar untuk anak usia 0-2 tahun. Untuk anak usia 3-7 tahun tersedia kelas semacam PAUD dan TK yang juga mengajarkan bahasa arab dan al qur'an kepada anak. Untuk nursery, kita harus cepat-cepat mendaftar. Karena jika telat, nursery akan full booked dan kita terpaksa mencari nursery di luaran. Dan ini musykila jiddan buat aku yang belum kenal nursery sekitaran Riyadh. Hihi...

Sekolah ini adalah sekolah non profit. Dan juga bukan sekolah yang disubsidi oleh pemerintah. Tapi ma syaa Allah.. banyak orang kaya yang shalih di sini yang begitu dermawan. Mereka amat loyal dengan orang-orang yang belajar agama dan kucuran dana dari para donatur mengalir. Ma syaa Allah, tabarakallaah...
Untuk uang pendidikan satu semester kita dikenakan biaya 200 SAR. Setara dengan Rp. 700ribu. Murah kan? Ma syaa Allah...
Dan untuk nursery selama 1 semester (1 term) kita dikenai biaya yang sama (200 SAR). Biaya ini murah sekali... Di indonesia mana ada day care yang mau dibayar 700ribu selama 6 bulan.
Alhamdulillaah 'ala kulli haal.

Tentang bagaimana kegiatan belajar mengajar, interaksi dengan teman-teman dari berbagai negara in syaa Allah nanti kita cerita-cerita lagi.

Semangaaaaaaattttt!!!
Jadi ibu rumah tangga bukan berarti halangan untuk bersekolah. Apalagi bahasa arab adalah bahasa surga.

Why is it important for us to learn and love Arabic?
It is important for a muslim to love and learn arabic as, its the language of Quran, language of Prophet Muhammad Sallalahualiwasalam, and the language of People of Paradise,
through Arabic we can understand Quran and Hadith much much better and will be performing our duties according to what is said. ^_^

Read More

Cinta yang Seharusnya atau yang Menjerumuskan?

CINTA SEHARUSNYA... Love, right?: https://youtu.be/5wjIDGgk_kY

Tak sengaja berjumpa video di atas. Berawal dari nonton cameo-cameo yang nyentil banget dan si yutub merekomendasikan video tersebut. Jemari tergerak untuk nge-klik... dan isinya bikin speechless... Ada berapa banyakkah generasi muda muslim yang terjebak pada hal yang serupa? Ahh.. sungguh miris... :'(

Meski tidak sepenuhnya sepakat dengan isi videonya, tapi video ini amat sangat jujur memaparkan dampak dari aktifitas lumrah di kalangan remaja namun terlarang: PACARAN. Aku appreciate untuk kejujuran mengenai efek dari aktifitas pacaran yang ada di video tersebut akan tetapi.... tidak setuju dengan adanya pacaran sebelum pernikahan...

Al Qur'an telah melarang segala aktifitas yang mendekatkan pada zina. Dan pacaran SANGAT JELAS menjerumuskan pada zina. Awalnya saling bercanda, saling merasa nyaman, mulai sentuhan kulit dengan berpegangan tangan... dan lama kelamaan berlanjut dan berlanjut... Setan kian memperindahnya dan kian menghiasnya dengan kenikmatan-kenikmatan semu... dan pada akhirnya... terjerumuslah pada dosa besar yang bernama ZINA. Itulah sebabnya... mengapa pacaran adalah hal yang terlarang sebelum pernikahan.

Seorang wanita... anak remaja putri apalagi... yang sedang mekar-mekarnya di masa adolensia, jika sampai pada titik di mana ia merasa sangat menyayangi seorang laki-laki, ketertarikan atas dua polarisasi kutub yang berlawanan jenis, kemudian berada di koridor bernama pacaran, umumnya lupa mengedepankan logika. Perasaan yang berbunga-bunga mengalahkan akal sehat. Seolah si dia adalah segalanya. Jika demikian, sangat mudah baginya menyerahkan apa yang paling berharga yang dia punya. Dengan mudah ia menyerahkan yang berharga miliknya dan sangat sulit dan sungguh sangat sulit untuk berkata "TIDAK". Dan ketika yang berharga itu telah terenggut, barulah menyesal semenyesal-menyesalnya. Tapi... dosa besar telah dilakukan. Sungguh, itulah sebabnya islam sangat melarang pacaran dan menghalalkanya dengan pernikahan.
Sebelum penyesalan itu datang, sebelum sulit untuk berkata "TIDAK", maka jauhilah... jauhilah hal yang merusak itu...

Semoga Allah melindungi adik-adik kita, anak-anak kita, keluarga kita, dan seluruh remaja putri di segenap penjuru dunia.

SAY NO TO PACARAN!

Read More

One of Best Moment: M.A.K.A.N

Salah satu momen terbaik yang selalu kami (abu Aafiya dan Ummu Aafiya) tunggu-tunggu adalah... momen makan. Senang sekali jika waktu makan Aafiya dan kami selalu sangat excited setiap kali menemani Aafiya makan.

Dulu semasa belum punya bayi, ada salah seorang teman memposting prosesi pembuatan MPASI yang serba homemade. Aku kala itu ga kebayang aja bikin MPASI sendiri. Euhhh rempoong beneeeerr... Yang kebayang di benak adalah... hihihi... bubur instan! Emaknya pengen cari enaak. Xixixxii..
Tapi... alhamdulillaah... setelah dijalani, bikin MPASI homemade ternyata tidak sesusah yang dibayangkan! Steam, blend daaaan siaaap disajikan. Malah--alhamdulillaah--bikin MPASI homemade justru menyenangkan. Apalagi ditambah dengan bumbu cinta. Bikin MPASI homemade juga penuh curious. Seru aja rasanya mencampur-campurkan sesuatu menjadi semangkuk bubur bayi. Bubur beras plus wortel. Atau combine dengan brocoli. Kentang combine brocoli. Butternut squash combine kaldu. Red pumkin. Dan berbagai variasi lainnya. Seru aja mengcombine sesuatu yang mungkin tidak dijumpai di menu meja makan. Daaaan.... salah satu hal yang bikin berbinar lainnya adalah... Membayangkan anak kita makan dengan lahap. Dan itu rasanya capek bikin MPASI homemade sudah terbayarkan dengan lunas, dan bahkan berlaba! :D
Bahagianya nda bisa ditara dan dikonversi dengan mata uang manapun. Alhamdulillaah...
Jadiii buat para bunda yang lagi MPASI bayinya, jangan menyeraaahhh dengan bubur instan yak. Percayalah, bikin MPASI itu sesuatu yang sangat menyenangkan. :)
Susah?
Enggak... in syaa Allah... apalagi ada the power of love.
Momen bikin bubur bayi ini... tidak akan berlangsung selamanya. Paling cuma sekitar 6 bulan. Umur 1 tahun, bayi in syaa Allah sudah mulai ikut makanan keluarga. Jadii, momen yang sebentar ini akan sangat sayang jika tidak dimaksimalkan oleh karena kemalasan emaknya hehe.
Hayoooo semangaaattt bunda!

Momen MPASI apakah bakalan susah? Momen ini katanya sih gampang-gampang susah. Iyaap.. kadang terasa gampang, kadang terasa susah. Tapi yang jelas... dua kuncinya: TIDAK MENERAH apatah lagi PUTUS ASA, dan TIDAK pula MEMAKSA. Let's it flow. Biarkan si bayi menikmati momen makannya... :)

San satu hal terpenting lainnya, kepandaian si bayi dalam hal apapun (baik milestone perkembangannya) maupun kepandaiannya dalam hal makan bukanlah oleh sebab emaknya yang pintar mengajari... tapi itu semata adalah ANUGRAH dari ALLAH. Allah lah yang menyusupkan ilmu ke dalam jiwa akal dan fikiran anak kita. Jadi... jangan terlalu berbangga jika anak lebih cepat pintar dibanding teman-teman seusianya. Sebaliknya, jangan pula bersedih jika anak terlihat agak tertinggal. Setiap anak berbeda. Jangan pernah disamakan. Dan Allah lah yang mengilhamkan ilmu kepada anak kita. Bukan kita. Sungguh bukan karena kita super mom. 

Semoga Allah berikan ilham yang terbaik untuk anak-anak kita... dan dijaga-Nya di dalam jalan kebenaran. Aamiin yaa Rabb...
Read More

Orang Padang Kebarat-baratan?

Suatu ketika sambil jalan dari Kantin menuju fakultas, salah seorang teman bertanya,
"Fathel, arti nama kamu apa?" Kujelaskanlah panjang lebar.
Pernyataan berikutnya,
"Maaf yaa Fathel, katanya orang Padang (baca: sumatera barat) suka ngasih nama anak kebarat-baratan gituh. Katanya sihhh, biar nda dikata kampungan."
Deuuhh ini temen to the point bgt yak :D

Perlahan dalam hati, aku mulai me-list nama teman-teman, senior, maupun adik kelas. Ahh iya juga yaa?? Apa namaku juga kebarat2an? Tapi kan bahasa arab asal katanya *alibi*.

Yaaa bisa dimaklumi lah yaa... namanya juga sumatera barat. Wajar dongs kebarat-baratan... emang di barat kaaan? *ngebelain dong*
Tapi jika tidak "disadarkan" oleh si temanku... aku pun sebenernya nda nyadar juga sih yaa.. hehehe...

Sebenernya bukan orang sumatera barat ajah kalii. Siapa saja bisa kasi nama anak dengan nomenklatur kebarat2an. Itu kebetulan yang dijumpai memang orang sumbar kalii yaaah. Hehehe... *nyari alasan lagi*

Apapun nama yang diberikan kepada anak (terkecuali nama yang terlarang dalam hadits Rasulullaah yang shahih)... kuncinya tetaplah semestinya memberikan nama yang baik pada anak.
Ya keyword nya : B.A.I.K.

#just a short post

Read More

First Complementary Feeding for Aafiya

Alhamdulillaah senang banget... Aafiya sudah masuk ke milestone berikutnya: saatnya makaaaan!
Sebagai emak, deg deg an juga sih... Apakah nanti MPASI nya bakalan sukses? Apakah emak Aafiya bisa sabar untuk bikin homemade complementary food dan tidak sampai tergoda untuk beralih ke yang instan? Apakah Aafiya bakalan doyan makanan tanpa garam gula? Berbagai pertanyaan bergelayut di benak.

Ketika usia Aafiya masuk 5 bulan, aku sudah mulai nyari referensi sebanyak-banyaknya. Mulai dari panduan WHO, denger kuliah MPASI, baca buku, hingga grup-grup yang ngebahas MPASI, tanya-tanya di grup WA sama emak2 yang udah pengalaman. Alhamdulillaaah... banyak masukan. Bikin bingung? Hahaha.. dikiit. Stiap orang masukannya beda-beda. Mak aafiya mau ikutin yang manaaa iniiiihh? >.<

Finally MPASI perdana aku putuskan ngasi Pisang buat aafiya. Hmm.. aafiya kelihatannya masi belajar sih yaaa... Agak rada kurang doyan gituuhh.. Sering banget dilepeh. Naah pas hari ke-4, aku berjibaku bikin bubur nasi. Karena disini kaga ada yang namanya tepung gasol (gasolnya noh jauh di sonoo :p), bikin bubur nasi sendiri dongs dari beras, dimasak lembek, diblender, dan disaring. Panjang sihh prosesnyaa.. hehehe.. Tapiii alhamdulillaaah terobati jerih payah bikin MPASI nya dengan melihat semangat makan aafiya. Alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah \(^o^)/
Hari ke-6, aku campur wortel. Daan alhamdulillaah aafiya juga sukaaa... Semoga semangat makan my little princess nda surut2... aamiin...

Jadi kesimpulannya? Dari mana harus mulai MPASI? Bubur nasi, sayur atau buah duluan?
Jawabannya : ikuti feeling si ibu sajaaaaa....
*tanpa menafikan proses pencarian ilmu loh yaa*
Karena : motherhood is a longlife learning...

Semangaaaat semangaaaat semangaaaatttt...

Read More

Dulu Kita Pernah Begini

Welcome Sweet Spring April ^___^
April yang bersejarah tentunya.... hehehe....


Hmm.... baru sempat menuliskan tentang ini... Tentang "Dulu Kita Pernah Begini". Lucu dan menggemaskan sekali ketika melihat bayi Aafiya belajar tengkurap. Seperti tanpa kenal lelah, terus dan terus berusaha. Ketika 'jatuh' lagi, dia berusaha untuk 'bangkit' lagi hingga apa yang menjadi "misi" nya tercapai ; tengkurap.
Tidak hanya baby Aafiya, hampir seuluruh bayi mengalami fase ini. Fase belajar melewati milestone nya. setiap akan mencapai milestonenya, bayi-bayi akan berusaha sekuat tenaga. Tak terlihat putus asa. Jatuh. Gagal. Tapi dengan segera bangkit kembali.

Ketika dewasa, kita semua PASTI pernah melewati fase bayi. Sayangnya, mungkin kita (aku terutama) lupa bahwa kita pernah menjadi orang yang tidak gampang berputus asa, begitu mudah bangkit ketika gagal. Bahkan ketika menghadapi beegitu banyak kegagalan sekalipun. Tidak mungkin kita melewati fase tengkurap dengan satu kali saja dan langsung purna. Pasti melewati banyaaaak sekali gagal, hingga akhirnya kita berhasil mencapainya. Tidak mungkin kita melewati fase berjalan tanpa menjumpai kegagalan dan jatuh. Pasti kita berulang kali gagal hingga akhirnya bisa berjalan. Agaknya, ketika dewasa, konon katanya akal pikiran jauh lebih berkembang ketika telah melewati masa adolensia itu, nyatanya kita lebih mudah menyerah, gampang berputus asa, dan menyerah pada kegagalan. Padahal, dulu kita tak pernah begini. Bahkan ketika kita masi menggantungkan sebagian besar pengurusan diri pada sosok mulia bernama ibu. Gagal sedikit, lalu menyerah bahkan berputus asa. Astaghfirullaah...

Dulu kita pernah begini. Semoga semangat pantang menyerahnya, semangat tak lelah dan tak mudah menyerah serta tiada putus asa tetap berkobar dalam jiwa-jiwa kita, sebanyak apapun kegagalan yang kita jumpai. Karena sejatinya, pada kegagalanlah kita banyak belajar dan pada kegagalanlah kesuksesan itu bermula.

Semangaaaaaaaaatttt!!!
Read More

Riyadh Spring Flower Festival

Hwaahh... berbagai grup lagi heboh tentang festivl bunga ini. Teman-teman pada ke sana... Ada yang sampai 2x ke sana. Saling mengajak untuk ke sana... Sedikit banyak mempengaruhi juga... jadi pengeeen banget ke sana.Hihihi...

Dari dulu aku memang senaaaang banget ke taman bunga... Salah satu yang sangat menarik itu Taman Bunga Nusantara, di Cipanas, Puncak. Di antara teman sehalaqoh, aku yang paling bersemangat ke sana. Ma syaa Allah, cantiknya bungaaa-bungaaaa...

Di Riyadh sedang ada festival bunga. Riyadh Spring Flower Festival. Lokasinya di Exit 16 Northen Ring Road. Di hari terakhir festival, alhamdulillaah Abu Aafiya menemani ke festival bunga warna warni tersebut (padahal dempet sama jadwal nonton badminton, olah raga favorit cowo akuuh :D). Syukran Sayang, sudah mau merelakan jadwal nonton badmintonnya :P. Senaaaaaang bangeeet... Alhamdulillaah....

Ma syaa Allah, sesuatu yang amazing adalah... di festival bunga itu... bukan bunga imitasi tapi bunga hidup! Ma syaa Allah... seberapa besarkah maintenance agar hamparan bunga itu tetap bertahan yaa? Secara ini kan negeri gurun, di mana tidak sesubur tanah tropis untuk menumbuhkan bunga. Kalau pohon kurma kan memang pohon gurun kan ya... Ma syaa Allah...

Berikut adalah foto "karpet bunga" hidup yang terhampar... ma syaa Allah...

Read More

PR yang Sungguh Besar

Aku adalah penggemar dunia parenting. Hingga semasa kuliah, buku-buku parenting sudah banyak yang selesai dibaca. Tapi, sekarang.... semuanya seperti lenyap tak berbekas. Aku tiba-tiba seperti sama sekali tidak pernah membaca buku-buku itu. Aku sama sekali tidak berilmu.... Dan memang ilmunya nyarislah tiada. Tapi aku merasa berada dalam pusaran arus deras yang sulit terbendungkan.

Sekarang, PR mendidik anak terasa sangat besar. Tantangannya benar-benar semakin berat. Mulai dari budaya barat yang dielu-elukan, serangan pornografi, kekerasan yang menjadi tontonan, adanya teknologi kekinian yang memudahkan anak untuk mengakses berbagai hal di dunia tanpa tepi, tanpa batas, bernama : dunia maya. Games-games yang begitu mudah dijangkau yang menyajikan bonus gambar wanita minim busana. Belum lagi, berubahnya sosiocultural semenjak akses begitu mudah, yang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Anak lebih senang di depan gadget ketimbang bermain bersama teman sebaya.

Ibu-ibu yang haus akan dunia pendidikan anak mulai melek dan bergabung dengan komunitas tertentu. Tapi, ternyata tak seindah sentuhan mata. Ternyata, sebagian komunitas itu bukannya menjawab kehausan, malah 'menjerumuskan' kepada pemikiran yang jauh dari aqidah yang shahih. Alih-alih mendapat jawaban atas kebimbangan, malah terjerumus pada orientasi keduniaan yang kental. Berbagai aliran yang berkedok islam ada di mana-mana tapi sebenarnya mereka bukan mushlih melainkan menjerumuskan.

Dan tak lupa, dunia fashion sekarang seakan menggiring pada sindrom princess. Yang terbaik adalah yang tercantik. Suguhan berbagai pemoles wajah, pemutih kulit pun kian gencar. Tak ada yang salah dalam berhias jika dilakukan pada koridor yang benar (untuk pasangan halal). Akan tetapi ini menyoal prioritas dan asumsi bahwa yang cantik yang terbaik tersebut. Sehingga berlomba-lombalah mempermak diri ala artis korea. Jadi lupa esensi. Lupa tujuan hidup yang sesungguhnya...

Hantaman itu kini dari segala sisi. Sekali lagi, Ibarat pusaran arus deras dari segala penjuru mata angin. Jika tak kuat-kuat bertahan, tidak akan survive.

Maka satu simpulannya, menguatkan akidah sebagai pondasinya. Ini kuncinya. Ah, berbenahlah wahai para orang tua, wahai diriku.... Sebab masa yang dihadapi kian berat. Sebab mungkin akhir zaman kian dekat. Sedangkan anak tentang akidahnya, tentang akhlaknya, tentang ketaatannya, akan dimintai pertanggungjawaban... Sudahkah engkau punya jawaban, atas pertanyaan Allah, Rabb-mu kelak di yaumil hisab?

:'(

Read More