Hidayah: Hadiah Sangat Mahal dari Allah

Sebelum baca ini, silahkan tonton dulu video berikut. (https://youtu.be/lydl4Z9xNaQ).

Video ini menceritakan kisah seorang pemuda Korea yang berjuang menemukan Islam hingga akhirnya ia memperoleh Hidayah.

Berikut aku copy-paste tentang beliau sekaligus sumbernya:
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Ustadz Karam Kim Eun Soo
.
Kim dari Korea.
Dahulu ia seorang atheis.
Lalu ia masuk Kristen.
.
Kemudian menjadi seorang muslim.
Lalu ia melanjutkan studi S1 ke Madinah.
Setelah itu, ia melanjutkan studi S2.
Dan sekarang ia sedang menyelesaikan S3 bidang tafsir.
.
Tidak pernah luput dari Shaf Pertama di Mesjid Nabawi.
Saat menghafal al-Qur’an:
ia akan membaca satu halaman itu sebanyak 50 kali,
lalu mengulanginya di luar kepala sebanyak 100 kali.
Kisahnya sungguh menakjubkan!
.
Jalan ilmu memang selalu indah...
.
(Copas : Al Ustadz Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc.M.Si حفظه Ψ§Ω„Ω„Ω‡)
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

MasyaAllah begitu banyak hikmah dari drama korea yang satu ini.
.
Berawal dari mengamati alam semesta dan meyakini pasti adanya Rabb (sang pencipta, pemilik, pengatur). Jadi ingat kisah sahabat Jubair bin Muth’im masuk Islam karena mendengar surat At Tur ayat 35 sd 38.
.
Kemudian dia tertarik dg Agama Kristen (jadi ingat Kisah Salman Al Farisi yg masuk Islam lewat agama kristen), kemudian merasa aneh dg ajaran kristen tentang trinitas, Isa anak tuhan dan setiap manusia punya dosa warisan dari Adam.
.
Kemudian menemukan Islam, seperti orang yg berada dalam ruangan gelap gulita kemudian mendapatkan cahaya terang benderang. Beliau menemukan Islam seperti seorang kehausan menemukan oase.
.
Sungguh happy ending yang lebih indah dari drama korea, beliau menemukan kebahagiaan hakiki, ketenangan hati, kebahagiaan yg luar biasa.
.
Semoga Allah menjagamu saudaraku, dan istiqomah mengamalkan dan mendakwahkan Islam di Korea.
.
(Copas : Ust. Aslam Salimudin)
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Aku menyimak bagaimana beliau menemukan hidayah dan kemudian menjadi seorang Muslim yang ma shaa Allah sangat shalih. Ia telah mendapatkan hidayah yang merupakan hadiah yang sangat mahal dari Allah.

Ada 3 pelajaran dari kisah ini buatku:
1. Bersyukurlah ... bersyukurlah. Bahwasannya kita sudah Allah takdirkan untuk lahir di keluarga muslim. Islam yang merupakan agama yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Islam adalah tiket seseorang untuk mendapatkan surga (apakah langsung masuk surga atau --wa iyya dzubillah--mampir dulu ke neraka sebelum masuk surga). Tapi, yang bersyahadat pasti akan masuk surga. Alhamdulillaah Allah sudah membuat kita lahir dari keluarga muslim. Selanjutnya adalah bagaimana agar Allah menjadikan kita muslim yang kaffaah. Maka kita memohon pertolongan Allah agar diberikan-Nya hidayah untuk menjadi muslim yang taat.

2. Sangat disayangkan, banyak muslim (terutama remaja) yang masih mengidolakan artis-artis Korea yang mungkin tidak beragama. Sedangkan orang Korea yang asli merasa 'eneg' dengan sesama mereka yang banyak melakukan hal yang kurang baik. Semoga Allah menjaga anak-anak kita. Aamiin yaa Rabb. Ini juga tentang hidayah. Sungguh mahal hidayah tersebut. Sebab mereka muslim, tapi sangat mengidolakan artis korea dengan sepenuh hatinya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka.

3. Jangan remehkan kebaikan-kebaikan kecil. Dalam kisahnya, Ustadz Kim ini sangat tersentuh dengan pemuda Turki yang menunjukinya jalan ke terminal. Hanya menunjukkan jalan ke terminal. Sebuah perkara kecil yang mungkin tak disadari oleh pemuda Turki ini, telah mengantarkan seseorang menuju Islam. Ma shaa Allah. Ini nasihat buat diriku sendiri terutama. Agar senantiasa menghadirkan niat yang ikhlas untuk perkara kecil sekalipun. Untuk tidak meremehkan kebaikan-kebaikan kecil. Dan juga untuk tidak meremehkan dosa kecil. Betapa banyak kebaikan kecil bernilai besar di sisi-Nya oleh sebab niat yang ikhlas. Dan betapa banyak hal kebaikan yang besar, hanyalah bagaikan debu beterbangan oleh sebab niat yang salah. 

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah hingga akhir hidup kita di dunia yang amat sebentar ini. Sungguh, hidayah itu adalah hadiah yang mahal dari Allah. Melebihi dunia dan seisinya. Hidayah hanya milik-Nya. Maka, sudah sepantasnya kita meminta dan memohon pertolongan atas hidayah hanya kepada-Nya.
Read More

Kematian yang Sangat Dicemburui

Qadarullaah, browser mengarah pada berita ini. Berita yang sangat menggetarkan hati. Tentang kematian seseorang hamba Allah yang sangat indah, sangat dicemburui. 

Mungkin bagi yang penasaran dapat disimak dan dibaca di sini:

https://youtu.be/lMz9nNkcUgo
https://www.remaja.my/kematian-rakyat-malaysia-ini-jadi-viral-kerana-meninggal-depan-makam-nabi-semalam-apa-kebaikan-dilakukannya-2/

Beliau meninggal di Raudhah, di depan makam Rasulullah, saat safar Umrah, di 10 hari terakhir Ramadhan, di hari Jum'at, setelah shalat subuh dalam keadaan beribadah, dalam keadaan berpuasa. Mengumpulkan banyak sekali kebaikan dan keutamaan. Ya Rahman, mendapatkan salah satu dari hal di atas sudah merupakan sesuatu yang baik, apalagi ia mengumpulkan banyak hal. Ma shaa Allah. Sungguh, benar-benar kematian yang amat sangat membuat kita cemburu. Apakah amal shalih yang telah ia lakukan sehingga Allah memberikan akhir kehidupan di dunianya seindah ini? Ma shaa Allah.

Bagaimana dengan kita? Nasib kita belumlah jelas. Akan bagaimanakah kita menutup hari-hari di dunia fana yang menjadi tempat ujian ini? Apa yang telah kita persiapkan? Jangan-jangan angan-angan dunialah yang lebih mendominasi hati?

Bersiaplah dan berbekallah wahai diriku. Bagaimana engkau menyudahi dunia, adalah tergantung bagaimana upayamu dengan pertolongan Allah tentunya. Maka mintalah pada-Nya, pertolongan-Nya agar DIA memberikan karunia berupa akhir yang baik. Sebaik-baik penghujung. Smoga Allah jadikan aku, kamu, kita semua bagian dari kebaikan itu.
Read More

Undangan Spesial

Suatu ketika seorang teman mengadakan acara hajatan untuk pernikahan anaknya. Karena pandemi, yang diundang adalah orang-orang tertentu saja. Lain cerita lagi, teman yang lain mengadakan anniversary pernikahannya yang ke sekian dan mengadakan acara potong tumpeng. Yang diundang pun orang tertentu saja.

Kemudian--yang diudang maupun yang punya hajat--menyebarkan foto-foto acara tersebut baik di sosmed maupun di status. Bagi yang tidak di undang, mungkin ada perasaan-perasaan "kenapa saya tak diundang?" dan sebagainya. Meski sebenarnya di masa pandemi ini, kita harus memaklumi situasi dan kondisi. Memahami saudara/teman yang tak mengundang bukan karena mereka melupakan dan tak ingin mengundang, melainkan karena kondisi pandemi yang membatasi pengunjung hanya sekian orang saja. Tidak masalah sebenarnya. Dan sudah sepantasnya kita mengerti dan memahami. Lagian, tidak diundang mungkin akan lebih baik karena kita jadi tidak berkewajiban untuk menghadiri di masa-masa pandemi seperti ini. Ahsan. Ini tentu kondisi yang lebih baik. Tapi, yang pengen aku simpulkan di sini adalah yang diundang tentulah hanya orang-orang dalam lingkaran pertemanan terdekat saja. Orang-orang yang prioritas saja. Tak diundang, berarti kita bukanlah orang-orang yang berada di lingkaran pertemanan terdekat.

Lain cerita dengan orang yang diundang di acara (sebutlah) kepresidenan dan istana. Seperti halnya salah seorang teman adik yang diundang ke istana negara karena dia menjadi salah seorang lulusan terbaik di akademi pemerintahan. Bangga? Tentulah membanggakan orang tuanya. Begitu pula orang-orang lainnya yang diundang ke istana. Pastilah orang-orang yang diundang adalah orang-orang limited. Dan ini sudah umum disebut orang sebagai sesuatu kebanggaan. Tidak semua orang dengan mudah untuk masuk ke istana negara tentunya. Kesimpulannya adalah tidak semua orang dapat masuk ke sana dan hanya orang tertentu (sebagian dengan prestasi tertentu) saja yang bisa masuk ke tempat orang nomor satu dalam hal pemerintahan di negeri kita ini tentunya.

Kedekatan dengan manusia saja sebegitu membanggakan. Apalagi kedekatan dengan Rabb Maha Pemilik Semesta. Dari yang punya hajatan/kondangan, gubernur, hingga pak Presiden tentu hanyalah manusia biasa. Pasti punya khilaf dan salah. Tapi kita bisa berbangga ketika bisa menjadi "lingkar" terdekat seseorang apalagi hingga ke level presiden, seharusnya kita lebih berupaya untuk bisa mendekati Dzat yang Maha Tinggi, pencipta kita, Yang Maja Raja Diraja, yang sebenar-benar Raja. Dia tak men-syaratkan punya IPK tinggi, punya jabatan maupun kedudukan untuk bisa mendekati-Nya. Sungguh Kasih Sayang-Nya amatlah sangat besaaar. Sehingga makhluk lemah, dhaif, bodoh dan banyak men-dzalimi/menganiya diri sendiri seperti kita tetap dapat kesempatan untuk mendekati-Nya dengan taubat dan amal shalih.

Menjadi dekat dengan pejabat itu sudah cukup untuk membuat seseorang begitu bangga dan ada upaya untuk mendapatkan posisi itu. Sudah seharusnya seseorang juga berusaha untuk mendekat pada Rabb nya, yang mengetahui segala tindak tanduknya, bahkan yang terlintas dalam benaknya sekalipun.

Mendekat pada-Nya tidak selalu harus menjadi terkenal di hadapan manusia, dan menjadi seseorang yang banyak followernya. Bahkan sering kali orang yang tersembunyi bisa lebih dekat dengan Rabb nya. Tapi, bukan berarti orang terkenal sebaliknya, tidak bisa menjadi dekat dengan Allah. Tetap saja ia adalah sosok yang dekat dengan Rabb nya selama ia mengerjakan hal-hal yang Allah ridha.

Tapi sayangnya kadang nafsu dan kecendrungan jiwa adalah pada hal yang sebaliknya. Ia senang dengan pujian, senang ketika kebaikannya diketahui khalayak, dan kelezatan jiwa lainnya. Yang tersembunyi pun juga dibayangi dengan rasa ujub. Maka, hanya pada Allah saja kita bermohon, agar ditolong-Nya untuk senantiasa berada di jalan yang DIA Ridhai.

Smoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha untuk mendekat kepada-Nya. Baik dengan kondisi berlari, berjalan cepat, berjalan biasa ... bahkan meski dengan merangkak. Maka kita memohon pertolongan-Nya agar bisa menjadi bagian dari ini.
Read More

Jejak Apa yang Engkau Tinggalkan?

Suatu ketika aku pernah membaca/mendengar (lupa persisnya. Kalau tidak salah mendengar dari youtube) tentang seorang muslimah yang meninggal (apakah terkena wabah covid atau sebab lainnya, aku juga tidak bisa memastikan karena lupa). Tapi yang aku ingat dari kisah itu adalah bahwasannya sang muslimah (yang masih belia) meninggalkan "jejak" di beberapa sosmed dan applikasi yaitu melakukan sesuatu yang kurang pantas. Mungkin semacam jogetan di applikasi t*kt*k. Keluarga sudah berusaha untuk menghubungi pihak pemilik aplikasi untuk menghapus postingan tersebut akan tetapi pemilik app tidak menyanggupinya. Akhirnya postingan itu tetap ada. Tetap bisa dilihat oleh orang lain, meski yang mengunggah sudah tak lagi menapaki kakinya di atas bumi.

Ini menjadi pelajaran berharga untukku terutama dan untuk kita semua. Tentang "jejak" apa yang kita tinggalkan? Jangan sampai yang kita tinggalkan itu adalah "dosa jariyah". Jejak yang ketika orang melihatnya masih men-transfer dosa kelada kita--na'udzubillah. Foto-foto tanpa hijab yang menyebabkan laki-laki non mahram melihatnya berdosa dan sang peninggal jejak juga mendaptkan imbasnya. Joget-joget yang menjatuhkan muru'ah muslimah. Atau jejak postingan atau komentas berisi cacian, ajakan kepada hal yang buruk. Wa iyya dzubillaah. Jika bukan meninggalkan jejak berupa postingan yang bermanfaat, setidaknya tinggalkanlah jejak hal yang tidak mendatangkan dosa. Hal-hal mubah.

Blog ini sudah 14 tahun eksis (sejak 2007 silam) dan telah meninggalkan lebih dari 1200 postingan meskipun viewer nya tidak seberapa hehe. Harapanku semoga tidak ada yang meninggalkan jejak hal yang buruk. Jika engkau menemukannya, mohon ingatkan aku.
Read More

Yang Dicintai Penduduk Langit dan Bumi

Pernahkah engkau memiliki seorang teman yang terasa bahwa engkau mencintainya, bahkan tanpa sebab yang bisa engkau definisikan? Cinta yang kumaksud di sini bukanlah cinta antara seorang lelaki dan wanita. Tapi cinta dalam persaudaraan dan ukhuwah; lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan.


Baiklah. Aku ingin berbagi cerita tentang seorang teman. Mungkin dia tidak membaca cerita ini. Dan tidak perlu juga aku beritakan kepadanya tentang cerita ini. Ini hanya ungkapan perasaanku saja. Dan karena blog ini tidak memiliki pembaca yang banyak, jadi aku merasa lebih enak dan bebas bercerita. Hehe.


Aku mengenalnya kira-kira 6 tahun yang lalu. Sekitar 6 tahun tapi tidak persis. Bukan sosok yang banyak bicara. Bahkan cenderung lebih banyak diamnya. Jika ia berbicara, maka bicaranya pastilah bicara yang bermanfaat saja. Setiap ia bicara, pembicaraannya adalah pembicaraan yang menggetarkan hati dan mengingatkan akan Allah dan amal shalih. 


Pada suatu pertemuan ia sempat menceritakan bahwa ia hampir merampungkan hafalan Qur'annya. Yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya saat ini. Entah mengapa, aku tidak mampu menahan haru. Mengingat aku masih sangat jauh dari itu. Terseok-seok untuk bisa menghafalkan ayat-ayat cinta-Nya.


Aku tidak mengerti bagaimana aku merasa mencintainya (in shaa Allah karena-Nya). Wajah bersahaja yang sangat shalihah. Membersamainya, terasa pancaran ruhiyah yang baik. Apakah ia adalah salah satu sosok yang Allah sebut di langit meski penduduk bumi tidak mengenalinya? 


Sungguh ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia memerintahkan Jibril mencintainya dan Jibril pun mencintainya. Begitu pula dengan penduduk langit dan bumi. Akan mencintainya pula. Apakah ia adalah sosok yang dicintai Allah sehingga Allah hadirkan pula cinta pada penduduk langit dan bumi padanya? Sehingga cinta pun terasa hadir di hati ini padanya. Meski kami jarang berjumpa. Meski obrolan kami tidak pula sering?


Tapi ... ini menjadi motivasi tersendiri bagiku. Diri yang terkumpul banyaknya khilaf dan alpa. Diri yang menjadi tempatnya salah dan lupa. Bahwasannya; menggapai cinta-Nya adalah salah satu tujuan dan cita-cita. Sungguh apalah artinya terkenal di penduduk bumi tapi Allah tak ridha? Sementara tidak ada tempat di semesta ini yang luput dari-Nya. Sungguh kita takkan sanggup untuk mencari ridha semua manusia, yang sama dhaif nya dengan kita. Tapi, dengan Rahmat dan Hidayah Taufiq-Nya, in shaa Allah kita pun memiliki kesempatan dan peluang untuk memperoleh cinta-Nya, Rabb pemilih semesta yang hanya satu-satunya yang berhak untuk kita sembah. Semoga kita juga diberikan karunia dan hidayah oleh Allah untuk mendapatkan cinta-Nya. Tanpa pertolongan-Nya, sungguh manusia tak bisa apa-apa. Ketika bisa beramal shalih, bukan karena kita bisa, bukan karena kemampuan kita sendiri. Sungguh, Allah-lah yang memberi karunia. Maka sungguh tak pantas kita merasa jumawa apalagi merasa lebih baik dari orang lain.


Semoga Allah berikan hidayah taufiq untuk melakukan amal demi amal shalih. Untuk perbekalan perjalanan panjang kita.

Read More

Titik ‏Hitam

Sangat populer artikel beredar tentang titik hitam di tengah kertas putih ini kan ya? Ada kertas putih lalu setitik noda hitam. Apakah yang terlihat?

Dari banyak kisah yang dibagikan, dikatakan bahwa kita lebih cendrung melihat titik hitam yang kecil dari pada selembar kertas putih yang lebar. Maka, jangan memandang kekurangan anak atau pasangan atau orang lain saja tapi melewatkan banyak kebaikan lainnya sebagai mana titik hitam yang kecil berbanding kertas putih yang lebar/besar. Tentu pelajaran ini haruslah kita ambil. Bahwasannya, banyak potensi yang seharusnya kita gali pada diri anak, dibanding kekurangannya yang tampak. Bahwasannya banyak kebaikan pasangan yang telah ia berikan, dibanding kesalahan yang telah ia perbuat dan mungkin ia tak sengaja melakukannya. Bukankah kebanyakan ahli neraka adalah perempuan? Bukan karena ia melalaikan shalatnya melainkan karena kufurnya ia pada kebaikan suaminya? Wal iyya dzubillaah.
Tapi, dalam memandang dosa, hendaklah kita seperti memandang titik hitam tersebut. Satu dosa yang kita lakukan, sudah cukup untuk menodai hati kita sebagaimana titik hitam di kertas putih itu. Dan itu sudah cukup untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan nikmat untuk berdekatan dengan-Nya. Lalu bagaimana dengan titik hitam yang banyak hingga tertutupilah celah putih tersebut?! Sungguh, telah tertutup hati itu. Hingga ia menjadi keras. Dan bahkan lebih keras dari batu.

Ini sebagai pengingat diri sendiri. Bahwasannya, ketika ada titik hitam pada hati kita, semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah-Nya untuk menyegerakan taubat atas dosa tersebut. Dan semoga pula Allah menerima taubat kita tersebut. Agar ... ketika kematian datang memutus kelezatan kita dengan dunia, Allah memanggil kita dalam keadaan bersih dari noda itu (husnul khatimah). Sebab ajal tidak mendatangi kita dalam keadaan menunggu kita bertaubat, maka sudah sepantasnya kita menyegerakannya. Mumpung masih di atas tanah. Mumpung masih belum berada di bawah tanah dan kesempatan beramal dan bertaubat sudah tertutup.

Sekali lagi. Ini adalah pengingat bagi diriku sendiri terutama. Bahwasannya noda hitam itu ... sudah cukup untuk menghilangkan nikmat mendekat kepada-Nya dan bahkan mendatangkan musibah bagi diri kita. Bukankah musibah itu kadang kalanya adalah karena ulah perbuatan kita sendiri?!

Tapi, bukan berarti kita berputus asa tentunya. Sebanyak apapun dosa, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Luas Kasih Sayang dan Rahmat-Nya. Semoga kita termasuk orang yang dikaruniakan rizki taufiq dan hidayah-Nya, juga golongan orang yang dikaruniakan rizki taubatan nasuha sebelum maut. Sungguh dunia ini hanya sebentar saja wahai diriku. Maka berbekal lah untuk kehidupanmu yang sesungguhnya (akhirat)!
Read More

Penyesalan

Suatu ketika ada acara di mana acara tersebut juga menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung bisa menjawab pertanyaan. Di pertanyaan pertama, aku ingin menjawab tapi ada keraguan di hati. Jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa. Yah kayak ragu-ragu gitu. Tapi kebetulan saat itu tak ada yang bisa menjawab.

Dan kunci jawabannya ternyata sama dengan jawabanku yang tadi aku lewatkan kesempatannya. Nyesek? Iya ... Lumayan kaan dapat doorprize kerudung.

Kisah lain. Ke masjid Quba di masa pandemi. Kami sebenernya sudah sampai di sana sebelum ashar. Akan tetapi, ketika itu HP sengaja tidak aku bawa sehingga ketika itu harus balik lagi ke mobil. Padahal suami sudah bilang untuk bawa HP aja. Tapi karena tidak membawa tas dan abaya yang juga tidak ada kantong/sakunya, aku berpikir akan sedikit repot membawa HP jadinya HP ditinggal aja. Tapi ternyata ketika akan masuk masjid Quba, diminta app Tawakkalna. Jadi butuh HP dong yaa. Harus balik ke mobil. Akhirnya diputuskan untuk gantian dulu sama suami. Aku gantian nunggu di mobil, dan suami yang ke masjid Quba. Ketika giliran aku yang mau shalat di sana, shalat ashar sudah selesai, dan ternyata masjid Quba ba'da ashar sudah ditutup. Sedih banget. Padahal sebelumnya punya kesempatan untuk shalat di masjid Quba tetapi kesempatan itu terlewat. Menyesal? Sangat!

Ada berapa banyak penyesalan yang telah kita rasakan dalam hidup ini?! Bagaimana rasanya? Nyeseek?! Iya, menyesal itu ternyata adalah sebuah siksaan tersendiri.
Itu hanyalah penyesalan-penyesalan "kecil" di dunia. Sesuatu yang mungkin bisa kita "jemput" kembali. Doorprize kerudung yang terlewat, masih bisa diganti dengan order atau jahit kerudung sendiri. Terlewat ke Quba, in shaa Allah masih ada kesempatan esoknya.

Tapi, penyesalan itu pasti akan terasa sangat berat dan menyesakkan ketika kita sudah sampai di akhirat. Di mana, penyesalan itu tidak akan pernah bisa kita "jemput" lagi. Orang beriman dan beramal shalih menyesal karena dia ingin beramal shalih lebih banyak lagi. Apalagi orang kafir dan munafiq. Menyesal yang teramat dalam tidak memilih jalan yang benar.

Semoga kita bisa lebih banyak mempersiapkan diri untuk hari itu. Hari di mana segala amal kita dibeberkan. Hari di mana melewatkan satu kalimat Tasbih yang mungkin saat di dunia terasa ringan tapi tidak kita lakukan, lebih kita sesali dari pada hilangnya emas dan perak semasa di dunia. Kehilangan emas segepok gegara kemalingan hanya karena kita lupa mengunci pintu rumah mungkin tidak akan seberapa penyesalannya dibanding kesempatan amal shalih yang kita lewatkan begitu saja ketika di akhirat kelak. Ketika kita melihat balasan Allah atas apa yang telah kita lakukan. Kemaksiatan yang tidak sempat kita taubati mungkin akan sangat kita sesali di akhirat kelak ketika kita melihat balasan dari amal tersebut. Juga ketika kita berlaku dzalim kepada orang lain; walau hanya sekedar ikut membully nya dengan jempol kita di medsos padahal kita kenal di dunia nyata pun tidak, pasti akan kita sesali ketika urusan ini tidak kita selesaikan di dunia dengan meminta maaf kepadanya. Maka, penyesalan itu pasti akan menyiksa sekali. Kelak. Ketika menyesal itu tidak ada lagi gunanya. Ketika setiap manusia berkata "Andai aku berbekal untuk kehidupanku (yang abadi)". 

Ini adalah peringatan dan nasihat untuk diriku pribadi terutama. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita. Tanpa taufiq dan hidayah-Nya, sungguh kita pasti takkan mampu melakukan amal shalih dan meninggalkan hal laghwi maupun kemaksiatan. Maka, sungguh yang paling mahal di muka bumi ini adalah hidayah-Nya! Tak ada yang lebih mahal dari itu. Semoga Allah pilih kita untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang diberi hidayah dan keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Aamiin yaa Rabb ❤❤❤
Read More

Teori Parenting


Ada banyaaak sekai teori parenting di muka bumi ini. Jika ibu-ibu jaman dulu susah mengakses informasi dan keilmuan, zaman sekarang malah sebaliknya. Informasi itu sangat banyaaaaak sekali beredar! Sampai-sampai bingung mana yang harus diambil karena kadang sebagian bertentangan satu sama lainnya.

Tapi, informasi yang banyak itu, terkadang adalah informasi yang terpisah-pisah. Seperti kepingan puzzle yang berserakan. Bingung bagaimana menyatukannya. Ketika mendapat informasi tertentu, begitu bersemangat menerapkan tapi sayangnya tidak long lasting. Tidak bertahan lama. Kembali lagi ke titik semula.

Aku, ketika sebagai praktisi (dibanding dulu sebagai komentator aja alias pengamat hehe) merasakan betapaaa manis "teori" yang dulu aku tuliskan itu tapi... pada pelaksanannya memang tak mudah! Tak mudah! Akhirnya aku sampai pada kesimpulan; meskipun semua cinta ibu di dunia ini untuk anaknya adalah hampir sempurna, tapi ... tak ada ibu yang sempurna. Sehebat apapun ia, pasti ia pernah melakukan kesalahan terhadap anaknya. Karena memang, manusia sejatinya adalah makluk yang lemah. Sama sekali tidak sempurna.

Cara ibu mencintai, ungkapan cintanya, tidak selalu selaras dengan sesuatu yang baik untuk anaknya. Semisal ibu dengan dalih cinta anaknya lalu memberikan segala yang anaknya mau tentu bukan hal yang baik untuk anaknya. Atau, ibu yang sangat menyayangi anaknya, ingin melindunginya selalu, bisa saja jatuh kepada over protective sehingga apapun yang anak inginkan dilarang. Maka cinta juga butuh belajar. Butuh belajar tentang bagaimana yang baik dan semestinya dalam mendidik mereka.


Tapi, belajar saja tidak cukup ternyata. Seorang ibu dengan segudang ilmu parenting sekalipun, ternyata belum sepenuhnya bisa mengasuh anaknya dengan menerapkan segala ilmu dan teori yang dia punya tersebut. Misal, saat dikuasai emosi negatif dan amarah, apakah sang ibu dapat rasional menerapkan teori parentingnya yang segudang? Tidak. Tidak cukup dengan teori saja. Harus latihan. Harus terus berlatih. Bertumbuh.

Selain berlatih untuk menerapkan, ada satu lagi yang terpenting dan jauh lebih penting dari teori parenting! Yaitu iman. Percayalah, kondisi iman kita sebagai ibu sangat sangat menentukan bagaimana kita bersikap kepada anak. Ketika iman melemah, mungkin kita mudah untuk "menyambut" rayuan syaithan untuk berbuat akhlak yang kurang terpuji baik dalam perkataan maupun perbuatan ketika marah kepada anak. Tapi ketika iman kita dalam kondisi full charge, biasanya kita lebih mudah untuk mengendalikan diri. Iman adalah bentengnya. Tentu tanpa menafikan ilmu pengetahuan tentang pengasuhan juga.

Satu lagi yang sering terlupa adalah ... bahwasannya kita mungkin secara tak sadar "menyandarkan" kepada ilmu atau teori saja. Padahal ada satu hal sangat penting lainnya yang membuat kegiatan pengasuhan itu lebih baik, yaitu do'a. Do'a agar dimudahkan dalam mengasuh anak, dalam mendidik mereka dan membimbing mereka. Jangan pernah merasa jumawa dengan banyaknya ilmu dan hebatnya praktek. Justru kita harus menyandarkan segenap urusan ini kepada Allah. Memohon kepada-Nya agar baik akhlak dan lisan kita dalam mendidik anak. Sungguh, ketika berhasil, itu bukan karena kita hebat dalam mendidik anak. Bukan karena banyaknya ilmu kita. Melainkan karena Allah-lah yang memudahkan kita.


Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih/shalihah dan mushlih. Merekalah harapan kita ketika kita tiada. Do'a-do'a mereka yang kita harapkan ketika kita tak lagi dapat melakukan amal shalih, terbujur kaku di bawah tanah. Smoga Allah mudahkan kita dalam mendidik mereka, anak-anak kita. Sebab akan ada masa orang tua lari dari anaknya di yaumil hisab kelak. Ketika ada hak-hak mereka yang belum kita tunaikan di saat kita mampu menunaikannya tapi kita melalaikannya. Astaghfirullaaah.
Read More

"Melepeh" Kata

Sudah lama tidak menulis di blog. Kangen. Tapi kali ini, aku bertekad akan kembali mengisi blog. Yah, mungkin bukan cerita panjang. Hanya lintasan-lintasan pikiran. Untuk pengingat diri tentunya. Karena aku juga tau, blog ini sepi dan seperti hampir mati suri. Jadi, tak banyak juga yang melihat. Aman untuk berbagi. 

"Menikah berarti saling mencuri tabi'at" begitu kata tausyiah seorang ustadz yang sudah aku lupa namanya di suatu kajian keluarga. "Pada suatu masa, bisa saja istri dan suami akan saling bertukar karakter" (yang diistilahkan beliau mencuri tabi'at) dan aku termasuk orang yang membenarkan apa yang beliau ucapkan. Aku yang extrovert, ketemu belahan jiwa yang introvert, berjalan di tahun ke-9 pernikahan kami (alhamdulillaaah sudah memasuki tahun ke-9 ma shaa Allah) menjadi lebih introvert. Sementara, suami lebih extrovert saat ini. Hehe. Dulu kalau ada apa-apa, aku sangat mudah bercerita kepada siapa saja. Sekarang, suami adalah satu-satunya orang yang paling tau apa ceritaku. Ketika hendak bercerita kepada orang lain, rasanya aku berpikir puluhan kali; apakah cerita ini layak untuk aku ceritakan ke orang lain. Mungkin karena--ma shaa Allah--aku menemukan kenyamanan yang amat sangat ketika bercerita dengan suami, jadi tidak butuh tempat lain untuk bercerita. Kepadanya, cerita mengalir bagai sungai yang deras. Dan waktu 3 jam serasa hanya 15 menit. Ma shaa Allah tabaarakallaah. Alhamdulillaah bini'matiHi tatimmusshalihaat.

Hari ini di sebuah grup WA, ada ibu² bercerita kalau dia merasa malu, menyesal dan merasa bersalah. Pasalnya, ketika sedang memarahi atau mengomel dengan sang anak, tak dinyana mic sang anak sedang tidak kondisi mute. Jadi, omelan tersebut terdengar ke seantero isi kelas sang anak yang memang lagi sekolah zoom. Haduh, nano nano rasanya. Tapi, sepertinya hampir semua ibu yang mendampingi anak sekolah pernah mengalaminya. Aku pun pernah, hehe. Sedikit beruntung, teman sekelas kakak tidak ada yang bisa bahasa Indonesia. Karena memang kakak tidak sekolah di sekolah Indonesia.

Tapi, ada pelajaran berharga yang dapat aku petik dari peristiwa ini. Pelajaran berharga untukku tentunya. Jika kamu yang tak sengaja membacanya juga, semoga juga dapat memetik pelajaran ini bersama-sama. Bahwasannya, setiap kata itu yang keluar dari lisan kita--sebagaimana penjelasan ustadz Abdul Aziz Abdul Ra'uf dalam tafsir surat Al Waqiah--seperti sesuatu yang "dilepeh" di sisi-Nya. Ter-record dengan sangat apik dan di yaumil akhir akan menemui wujudnya. Artinya, kata-kata yang sekarang hanya terlihat bagai awang-awang, dan tentu saja tak ada wujud fisiknya, nanti di akhirat akan ditampilkan Allah dalam wujudnya. Ibarat melepeh permen. Ada wujudnya. Tapi, bukan seperti itu yaaa. Tentu saja mekanisme nya kita tidak tau karena itu perkara ghaib saat ini. Semua kata baik, kata buruk akan ada wujudnya. Akan ada report nya.

Jika di dunia ini, hanya dengan segelintir orang, kita merasa malu ketika kata yang kita sampaikan bukan kata yang menyenangkan untuk didengar, lalu bagaimana di yaumil akhir kelak? Bagaimana malunya ketika semua kata-kata dibeberkan tanpa penambahan maupun pengurangan sedikit pun? Akan tenggelam dalam kedalaman keringat seberapa kah kita? Ya Allah.. semoga Allah tutupi aib-aib kita di akhirat kelak dan Allah hisab kita dengan hisab yang mudah. Aamiin yaa Rabb.

Ini pelajaran buat aku agar lebih berhati-hati untuk memperhatikan apa yang keluar dari lisan. Segera bertaubat dan beristighfar jika itu sesuatu yang salah sesegera mungkin karena:
- kita tidak tau apakah masih ada kesempatan bertaubat dan beristighfar di masa mendatang atau tidak
- kita akan terhalang dari banyak kebaikan (menjadi musibah) ketika masih ada dosa yang mengganjal. Ada dosa yang belum ditaubati, sungguh telah cukup membuat kenikmatan untuk melakukan amal shalih jadi tercerabut. Astaghfirullah


Tentu ini nasihat pribadi untuk diri sendiri terutama. Karena diri ini masih amat sangat sering tersalah. Juga belum bisa memenej lisan dengan baik. Tapi, bukan berarti harus putus asa. Harus berupaya semaksimal mungkin dan sebaik mungkin tentunya.





Read More

Pergi dengan Segenap Kebaikan

Hari ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti halnya aku sedang berduka. Salah satu ulama besar Indonesia, Syaikh Ali Jabeer dipanggil Allah. Semoga beliau husnul khatimah. Aamiin yaa Rabb.

Tak terasa, air mata mengalir di pelupuk mata. Hati ini begitu bersedih. Cukuplah sebagai bukti, tentang banyaknya orang yang bersaksi atas kebaikan beliau. Setelah beliau wafat pun, pesan-pesan kebaikan semakin menggema. Tausyiah, nasihat beredar ke berbagai pengguna. Inilah kebaikan yang terus hidup, melebihi masa pelakunya media massa. Hingga, di tempat yang tak ada lagi amal shalih, beliau masih terus "memanen pahala".

Sebelumnya, beredar pula pesan yang disampaikan oleh kapten Afwan, pilot pesawat sriwijaya air yang jatuh di perairan pulau seribu. Sebelum beliau wafat, tak ada yang mengenal beliau seperti terkenalnya saat ini. Mungkin hanya teman dan lingkungan terdekat saja. Tapi, tak terkenal di bumi, mungkin nama itu menggema indah di langit. Hingga, Allah ungkap segala kebaikan justru setelah berpulang. Begitulah orang-orang baik. Orang-orang shaleh. Orang-orang yang pergi dengan meninggalkan banyak kebaikan.


Sejenak diri ini tercenung.
Menelisik ke dalam. Diri yang masih jauh. Sungguh sangat jauh dari sosok-sosok hebat tersebut. Tentang waktu, yang banyak terlalaikan. Tentang amal shalih yang masih amat sangat sedikit. Lalu, bekal apa yang hendak dibawa? Sementara waktu pulang adalah sangat dekat? Sedetik waktu yang lalu adalah sesuatu yang telah jauh dan sedetik waktu kemudian adalah rahasia-Nya, apakah masih dimiliki atau tidak. Lalu, apakah masih besar ambisi terhadap dunia, sementara ia adalah persinggahan sesaat. Sedang akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Tidakkah cukup peringatan-peringatan ini untuk berbenah dan bersiap untuk perjalanan yang amat panjang dan kehidupan yang sesungguhnya, wahai diriku?
Read More