Bahasa Arab

Hampir 8 tahun tinggal di Arab Saudi, sayangnya kemampuan bahasa Arabku bisa dibilang not too good. Hiks. Padahal Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur'an. Bahasa yang Allah pilih untuk kalam-Nya yang mulia. Dan bahasa para penduduk surga.

Orang mengira, dengan tinggal di arab saudi, otomatis aku akan bisa berbahasa arab. Tapi sayangnya pada kenyataannya tidak demikian. Kultur masyarakat di sini ketika aku datang mungkin masih cukup tertutup untuk bisa belajar bahasa arab dengan lingkungan sekitar. Karena wanita pada umumnya berada di rumah. Pergi belanja pun juga hanya mengandalkan suami. Tidak bepergian sendiri (walaupun sekarang perempuan sudah bisa naik uber ke mana-mana dan sudah boleh menyetir juga. Tapi aku sendiri belum berani naik uber sendiri kalo tidak dalam kondisi sangat-sangat terpaksa dan belum bisa nyetir juga plus ga berani nyetir di sini. Soalnya orang-orang pada bawa mobilnya ngeri-ngeri. Kencang banget speednya karena jalannya lebaaar dan lurus. Kecuali di jalan² yang ada saheer atau radarnya. Hehe). Pagar rumah sangat tinggi dan sangat menjaga privacy perempuan. Jadinya aku tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat lokal. Ketemunya yaa orang Indonesia lagi. Ga ada perkembangan bahasa yang berarti.

Kemudian setelah anak kedua kami Rumaisha masuk sekolah (level kindergarten/KG) di mana ada grup WA untuk para ibu, aku kesulitan mengikuti percakapan karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ketika si Kakak dulu masuk sekolah, sama sekali tak ada grup para ibu. Komunikasi dengan guru menggunakan applikasi ClasaDojo
TIdak mudah untuk menggunakan google translate selalu kan yaa. Mungkin untuk ngomong sepatah dua kata masih bisa. Tapi kalau merangkai kalimat, aku kesulitan. Bahkan sekarang aku banyak bertanya kepada si Kakak tentang bahasa Arab. Anaknya lebih expert dari emaknya. Hehe. Ma shaa Allah.

Pasalnya pelajaran Bahasa Arab di sekolah Kakak dan Uni diajarkan dengan bahasa arab juga. Begitu pula pelajaran Al Qur'an dan Islamic Study. Full berbahasa Arab. Jadi, pas ada yang anaknya ga ngerti, emaknya enggak bisa ngajarin. Huhuhu. 

Sungguh, aku sangat ingin bisa belajar bahasa Arab juga. Semoga Allah memudahkan aku dan sesiapa pun yang ingin belajar bahasa Arab. Aamiin yaa Rabb.
Read More

Di Tempat dan Posisi Terbaik

Kadang kala ketika asa dan do'a yang belum/tidak Allah kabulkan itu tak kita ketahui hikmah dibaliknya pada saat itu juga (pada saat kejadian). Tapi, bertahun-tahun kemudian kita akan mengerti dan akan bersyukur kepada Allah, tentang tak terkabulnya asa tersebut. Allah, Dzat yang Maha Khabir (Maha Mengetahui dengan amat sangat detil tentang ciptaan-Nya) pasti selalu memilihkan untuk hamba-Nya sesuatu yang terbaik. Meskipun kadang tak bersesuaian dengan ingin kita. Tak memenuhi asa kita. Kehendak-Nya lah yang pasti berlaku. Karena pilihan-Nya pastilah pilihan yang terbaik. Pasti Dia menghendaki yang apa yang paling tepat untuk hamba-Nya. Ini adalah bagaimana kita ridha dengan takdir dan segala ketetapan-Nya.

Kita--dengan segenap kedhaifan diri--sama sekali tak mengetahui yang terbaik untuk diri kita sendiri. Bahkan apa yang akan terjadi dalam hitungan detik ke depan pun kita tak pernah tau.

Mungkin banyak dari episode-episode hidup kita yang kita ketahui mengapa Allah posisi seperti ini, bukan seperti yang itu setelah sekian masa berlalu. Dan kemudian kita syukuri, mengapa Allah pilihkan posisi ini meskipun pada saat itu adalah sesuatu yang tak sesuai dengan harapan dan do'a kita. Sungguh, Dia-lah Dzat yang Maha Khabir. Maha Mengetahui dengan amat sangat detil.

Aku mengenali diriku sebagai sosok yang sangat extrovert beberapa tahun silam. Blog ini menjadi saksinya 😅. Betapa dulu, apapun kejadiannya ... terdokumentasi di blog ini dan sosial media. Membacanya kembali, kadang membuat aku malu sendiri. Jika tak ada hikmah yang ingin dibagi, ingin kuhapus saja postingan-postingan itu. Satu kata: memalukan. Hehe. Tapi, meski demikian aku berharap ada hikmah yang bisa dipetik. Meskipun kata hikmah itu hanyalah sepenggal kalimat saja. Itulah sebabnya, aku memilih membiarkannya. 

Sekian masa berlalu. Menikah dengan sosok yang introvert, kini sepertinya kami sudah "bertukar karakter" 😂. Begitulah sepasang jiwa. Saling mempengaruhi dan saling "mencuri tabiat". Kini kudapati, beliau lebih extrovert dan aku sendiri jadi introvert ehehehe. Tapi, aku menikmatinya. Dulu, aku dijuluki "the most lebayer un the world" sama si doi. Tapi sekarang kayaknya "gelar" ini sudah berpindah deh. Hihi. Aku lebih cendrung untuk tidak men-share segala sesuatu atau memberi tahu segala sesuatu sekarang dan berpikir puluhan kali untuk men-share nya di sosial media. Paling, hanya di blog ini aku lebih banyak share di mana aku yakin ga banyak yang sengaja berkunjung ke sini. Sebagai sosok "new introvert" (haha adaa yaa istilah ini?), aku merasa nyaman men-share di sini yang sepi untuk dilihat, tak ramai untuk di-like. Ekekeke. Biarlah "peselancar dunia maya yang kesasar" saja yang berkunjung ke sini. Tapi, yang paling terpenting (siapapun yang berkunjung ke rumah mayaku ini) dapat memperoleh manfaat meskipun kecil seperti hanya sebutir pasir saja. Aku khawatir jika ada yang mampir ke sini, tapi tidak membawa kebaikan apapun. Dan yang terpenting lagi adalah ... aku menulis di blog ini juga sebenarnya dalam rangka menasihati sekaligus mengingatkan diri sendiri.

Beberapa saat lalu aku "menyelami" profil IG seorang yang kutau shalihah dan terkenal di sejagat maya dengan segenap prestasi-prestasinya. Follwernya banyak. Lebih dari 100K. Pun, banyak hikmah yang dia share yang dapat diambil pelajarannya--in shaa Allah--dan menjadi pemantik semangat bagi yang lain, biidznillah. Ia meraih gelar PhD dari universitas terkenal dan terbaik di luar negeri di usia yang relatif sangat muda dan segenap penghargaan lainnya. Ia juga menulis beberapa buku, memiliki re-search yang banyak, diwawancarai di beberapa stasiun televisi, dan segudang prestasi lainnya. Aku jarang men-stalking akun seseorang begitu dalam kecuali ia sangat menarik perhatianku. Selain itu, aku juga termasuk yang jarang mengakses instagramku.

Apa pelajaran yang ingin aku petik? Ya, tentang posisi yang Allah tempatkan. Sebagaimana aku memberi judul tulisan ini. Menjadi terkenal adalah salah satu anugrah dari Allah ketika keterkenalam itu dapat memberi banyak manfaat dan memantik semangat serta menebar kebaikan bagi banyak orang. Barakallah. Aku mendo'akan semoga keberkahan senantiasa meliputi ia dan keluarganya. Sungguh, diperlukan sosok-sosok hebat seperti ini lahir dari sosok muslim atau muslimah. Inilah kemanfaatan yang besar. Semoga, di keluarga muslim lainnya, bermunculan pula sosok-sosok hebat seperti ini. Di sisi lain, keterkenalan itu memiliki "kelezatan jiwa" tersendiri tentunya. Tapi, ini sangat membuka peluang-peluang untuk terjerumus pada sesuatu yang menggelincirkan.

Mengapa Allah tidak memilih yang lain (misalnya aku, hehehe 😁) untuk berada di posisi itu? Oleh sebab Allah lebih tau maslahatnya untukku (ataupun orang lain) yang tidak Allah tempatkan di posisi tersebut. Bisa jadi, jika aku yang berada di sana; aku menjadi lebih sulit menata niat, sulit berlepas diri dari kesombongan dan merasa diri lebih baik, ataupun merasa ujub dengan kehebatan diri. Sedangkan berada di posisi yang "remah-remah rengginang" saja masih banyak peluang untuk semua hal tersebut. Dan meskipun bukan sosok hebat dan terkenal, aku tetaplah seseorang yang jungkir balik dan tertatih-tatih dalam membenahi niat. Sungguh banyaaaak sangat salah dan alfanya. Apalagi jika berada di posisi muslimah hebat tersebut. Mungkin aku jauh lebih buruk. Mengapa dia yang Allah pilih? Karena Allah Maha Mengetahui bahwa ketika posisi itu berada di tangannya, maka ia mungkin dapat memenej hatinya jauh lebih baik, ia mungkin lebih selamat dari ujub dan ketika berada di posisinya tersebut, ia memberikan mashlahat yang jauh lebih banyak. Sedangkan aku, mungkin tak selamat dari itu semua jika aku berada di sana.

Di sisi yang lain, kadang ada rasa inferior juga. Maksudnya, tetiba merasa ... "waah dia itu kontribusinya banyaak yaaa untuk ummat. Apalah aku ini, udah cuma 'gini-gini aja', ga banyak kontribusinya."
Ups! Alert ⚠️⚠️⚠️. Segala keadaan adalah baik adanya. Allah tempatkan kita pada posisi ini, pastilah ini yang terbaik untuk kita! Adalah lebih baik mendo'akan orang yang Allah beri banyak anugrah tersebut agar mendapat anugrah lebih lagi.
Tak perlu inferior, oleh sebab Allah-lah yang telah menempatkan kita di sini.
Betapa banyak amalan kecil, menjadi besar oleh karena niat. Jangan meremehkan hal kecil yang kita anggap bukan apa-apa yang ternyata memiliki nilai besar di sisi-Nya (baik hal yang merupakan kebaikan maupun keburukan). Bukankah sebaris ucapan dzikir "Subhanallah wa bihamdiHi, subhanallah al Adziim" sesuatu yang sangat ringan tapi ternyata berat di timbangan mizan? Bukankah meremehkan (maaf) cebok yang tidak proper dapat berakibat azab kubur--na'udzubillah. Maka, lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan dengan pertolongan-Nya. Sebagaimana Rasulullah mewasiatkan untuk menyelamatkan diri dari api neraka meski hanya dengan setengah butir kurma. Cukupkan berbuat (meski hal kecil sekalipun) hanya karena-Nya dan untuk-Nya. Ini adalah nasihat yang ditujukan untukku yang menulis terutama.

Back to introvert. Meskipun menjadi terkenal adalah suatu "kelezatan jiwa" tersendiri, ternyata bagi orang introvert tidak sepenuhnya begitu juga. Kadang, menjadi tersembunyi itu jauh lebih menentramkan. Tidak dikenali itu ternyata lebih nyaman untuk hati. Tidak menceritakan ke khalayak tentang apa pun (baik nikmat yang Allah berikan apalagi aib atau sesuatu yang buruk) ternyata juga punya kelezatan di sisi yang lain. Meskipun aku tidak bisa mengatakan bahwa itu lebih baik juga. Karena orang yang terkenal kemudian dia membawa banyak kemashalatan dan memberi contoh kebaikan tentulah lebih utama dan lebih baik. Tapi, terkadang pada kondisi tertentu, menjadi tersembunyi adalah lebih baik. Jika mampu untuk menjadi tak terkenal (tidak banyak share tentang segala apa yang kita punya, nikmat yang Allah anugrahkan, anak-anak yang begitu membanggakan, dan segenap kelebihan lainnya), maka lakukanlah. Karena nikmat yang kita share pada orang lain (bisa jadi sampai pada orang yang tidak tepat), boleh jadi menimbulkan pandangan mata yang hasad dan ini sebenarnya membahayakan diri kita sendiri juga. Ini juga pengingat bagi diriku sendiri, agar tak bermudah-mudah untuk share segala sesuatu apalagi berpotensi menimbulkan hasad. #NoteToMySelf

Selain itu, dunia bukanlah tujuan kita yang sebenarnya. Ini adalah tempat mampir yang sebentar. Cantik, indah, dan melenakan memang dunia ini. Tapi sangat cepat layu. Hanya sekejap saja. Jadi, tidak perlu terlalu fokus untuk mengejar banyaknya gelimang dunia dan segenap gemerlapnya. Utamakan keselamatan kita di akhirat sana. Oleh sebab, di sanalah hari-hari yang berat. Dan oleh sebab, di sanalah tempat keabadian. Untuk hal ini, kita mesti harus berlomba mencapai yang terbaik. Lagi-lagi, nasihat untuk diri sendiri. Diri yang masih sangat jauh dari baik ini.

Semoga Allah selamatkan kita di akhirat sana. Di perjalanan panjang dan berat itu.



Read More

Hidayah: Hadiah Sangat Mahal dari Allah

Sebelum baca ini, silahkan tonton dulu video berikut. (https://youtu.be/lydl4Z9xNaQ).

Video ini menceritakan kisah seorang pemuda Korea yang berjuang menemukan Islam hingga akhirnya ia memperoleh Hidayah.

Berikut aku copy-paste tentang beliau sekaligus sumbernya:
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Ustadz Karam Kim Eun Soo
.
Kim dari Korea.
Dahulu ia seorang atheis.
Lalu ia masuk Kristen.
.
Kemudian menjadi seorang muslim.
Lalu ia melanjutkan studi S1 ke Madinah.
Setelah itu, ia melanjutkan studi S2.
Dan sekarang ia sedang menyelesaikan S3 bidang tafsir.
.
Tidak pernah luput dari Shaf Pertama di Mesjid Nabawi.
Saat menghafal al-Qur’an:
ia akan membaca satu halaman itu sebanyak 50 kali,
lalu mengulanginya di luar kepala sebanyak 100 kali.
Kisahnya sungguh menakjubkan!
.
Jalan ilmu memang selalu indah...
.
(Copas : Al Ustadz Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc.M.Si حفظه الله)
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

MasyaAllah begitu banyak hikmah dari drama korea yang satu ini.
.
Berawal dari mengamati alam semesta dan meyakini pasti adanya Rabb (sang pencipta, pemilik, pengatur). Jadi ingat kisah sahabat Jubair bin Muth’im masuk Islam karena mendengar surat At Tur ayat 35 sd 38.
.
Kemudian dia tertarik dg Agama Kristen (jadi ingat Kisah Salman Al Farisi yg masuk Islam lewat agama kristen), kemudian merasa aneh dg ajaran kristen tentang trinitas, Isa anak tuhan dan setiap manusia punya dosa warisan dari Adam.
.
Kemudian menemukan Islam, seperti orang yg berada dalam ruangan gelap gulita kemudian mendapatkan cahaya terang benderang. Beliau menemukan Islam seperti seorang kehausan menemukan oase.
.
Sungguh happy ending yang lebih indah dari drama korea, beliau menemukan kebahagiaan hakiki, ketenangan hati, kebahagiaan yg luar biasa.
.
Semoga Allah menjagamu saudaraku, dan istiqomah mengamalkan dan mendakwahkan Islam di Korea.
.
(Copas : Ust. Aslam Salimudin)
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Aku menyimak bagaimana beliau menemukan hidayah dan kemudian menjadi seorang Muslim yang ma shaa Allah sangat shalih. Ia telah mendapatkan hidayah yang merupakan hadiah yang sangat mahal dari Allah.

Ada 3 pelajaran dari kisah ini buatku:
1. Bersyukurlah ... bersyukurlah. Bahwasannya kita sudah Allah takdirkan untuk lahir di keluarga muslim. Islam yang merupakan agama yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Islam adalah tiket seseorang untuk mendapatkan surga (apakah langsung masuk surga atau --wa iyya dzubillah--mampir dulu ke neraka sebelum masuk surga). Tapi, yang bersyahadat pasti akan masuk surga. Alhamdulillaah Allah sudah membuat kita lahir dari keluarga muslim. Selanjutnya adalah bagaimana agar Allah menjadikan kita muslim yang kaffaah. Maka kita memohon pertolongan Allah agar diberikan-Nya hidayah untuk menjadi muslim yang taat.

2. Sangat disayangkan, banyak muslim (terutama remaja) yang masih mengidolakan artis-artis Korea yang mungkin tidak beragama. Sedangkan orang Korea yang asli merasa 'eneg' dengan sesama mereka yang banyak melakukan hal yang kurang baik. Semoga Allah menjaga anak-anak kita. Aamiin yaa Rabb. Ini juga tentang hidayah. Sungguh mahal hidayah tersebut. Sebab mereka muslim, tapi sangat mengidolakan artis korea dengan sepenuh hatinya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka.

3. Jangan remehkan kebaikan-kebaikan kecil. Dalam kisahnya, Ustadz Kim ini sangat tersentuh dengan pemuda Turki yang menunjukinya jalan ke terminal. Hanya menunjukkan jalan ke terminal. Sebuah perkara kecil yang mungkin tak disadari oleh pemuda Turki ini, telah mengantarkan seseorang menuju Islam. Ma shaa Allah. Ini nasihat buat diriku sendiri terutama. Agar senantiasa menghadirkan niat yang ikhlas untuk perkara kecil sekalipun. Untuk tidak meremehkan kebaikan-kebaikan kecil. Dan juga untuk tidak meremehkan dosa kecil. Betapa banyak kebaikan kecil bernilai besar di sisi-Nya oleh sebab niat yang ikhlas. Dan betapa banyak hal kebaikan yang besar, hanyalah bagaikan debu beterbangan oleh sebab niat yang salah. 

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah hingga akhir hidup kita di dunia yang amat sebentar ini. Sungguh, hidayah itu adalah hadiah yang mahal dari Allah. Melebihi dunia dan seisinya. Hidayah hanya milik-Nya. Maka, sudah sepantasnya kita meminta dan memohon pertolongan atas hidayah hanya kepada-Nya.
Read More

Kematian yang Sangat Dicemburui

Qadarullaah, browser mengarah pada berita ini. Berita yang sangat menggetarkan hati. Tentang kematian seseorang hamba Allah yang sangat indah, sangat dicemburui. 

Mungkin bagi yang penasaran dapat disimak dan dibaca di sini:

https://youtu.be/lMz9nNkcUgo
https://www.remaja.my/kematian-rakyat-malaysia-ini-jadi-viral-kerana-meninggal-depan-makam-nabi-semalam-apa-kebaikan-dilakukannya-2/

Beliau meninggal di Raudhah, di depan makam Rasulullah, saat safar Umrah, di 10 hari terakhir Ramadhan, di hari Jum'at, setelah shalat subuh dalam keadaan beribadah, dalam keadaan berpuasa. Mengumpulkan banyak sekali kebaikan dan keutamaan. Ya Rahman, mendapatkan salah satu dari hal di atas sudah merupakan sesuatu yang baik, apalagi ia mengumpulkan banyak hal. Ma shaa Allah. Sungguh, benar-benar kematian yang amat sangat membuat kita cemburu. Apakah amal shalih yang telah ia lakukan sehingga Allah memberikan akhir kehidupan di dunianya seindah ini? Ma shaa Allah.

Bagaimana dengan kita? Nasib kita belumlah jelas. Akan bagaimanakah kita menutup hari-hari di dunia fana yang menjadi tempat ujian ini? Apa yang telah kita persiapkan? Jangan-jangan angan-angan dunialah yang lebih mendominasi hati?

Bersiaplah dan berbekallah wahai diriku. Bagaimana engkau menyudahi dunia, adalah tergantung bagaimana upayamu dengan pertolongan Allah tentunya. Maka mintalah pada-Nya, pertolongan-Nya agar DIA memberikan karunia berupa akhir yang baik. Sebaik-baik penghujung. Smoga Allah jadikan aku, kamu, kita semua bagian dari kebaikan itu.
Read More

Undangan Spesial

Suatu ketika seorang teman mengadakan acara hajatan untuk pernikahan anaknya. Karena pandemi, yang diundang adalah orang-orang tertentu saja. Lain cerita lagi, teman yang lain mengadakan anniversary pernikahannya yang ke sekian dan mengadakan acara potong tumpeng. Yang diundang pun orang tertentu saja.

Kemudian--yang diudang maupun yang punya hajat--menyebarkan foto-foto acara tersebut baik di sosmed maupun di status. Bagi yang tidak di undang, mungkin ada perasaan-perasaan "kenapa saya tak diundang?" dan sebagainya. Meski sebenarnya di masa pandemi ini, kita harus memaklumi situasi dan kondisi. Memahami saudara/teman yang tak mengundang bukan karena mereka melupakan dan tak ingin mengundang, melainkan karena kondisi pandemi yang membatasi pengunjung hanya sekian orang saja. Tidak masalah sebenarnya. Dan sudah sepantasnya kita mengerti dan memahami. Lagian, tidak diundang mungkin akan lebih baik karena kita jadi tidak berkewajiban untuk menghadiri di masa-masa pandemi seperti ini. Ahsan. Ini tentu kondisi yang lebih baik. Tapi, yang pengen aku simpulkan di sini adalah yang diundang tentulah hanya orang-orang dalam lingkaran pertemanan terdekat saja. Orang-orang yang prioritas saja. Tak diundang, berarti kita bukanlah orang-orang yang berada di lingkaran pertemanan terdekat.

Lain cerita dengan orang yang diundang di acara (sebutlah) kepresidenan dan istana. Seperti halnya salah seorang teman adik yang diundang ke istana negara karena dia menjadi salah seorang lulusan terbaik di akademi pemerintahan. Bangga? Tentulah membanggakan orang tuanya. Begitu pula orang-orang lainnya yang diundang ke istana. Pastilah orang-orang yang diundang adalah orang-orang limited. Dan ini sudah umum disebut orang sebagai sesuatu kebanggaan. Tidak semua orang dengan mudah untuk masuk ke istana negara tentunya. Kesimpulannya adalah tidak semua orang dapat masuk ke sana dan hanya orang tertentu (sebagian dengan prestasi tertentu) saja yang bisa masuk ke tempat orang nomor satu dalam hal pemerintahan di negeri kita ini tentunya.

Kedekatan dengan manusia saja sebegitu membanggakan. Apalagi kedekatan dengan Rabb Maha Pemilik Semesta. Dari yang punya hajatan/kondangan, gubernur, hingga pak Presiden tentu hanyalah manusia biasa. Pasti punya khilaf dan salah. Tapi kita bisa berbangga ketika bisa menjadi "lingkar" terdekat seseorang apalagi hingga ke level presiden, seharusnya kita lebih berupaya untuk bisa mendekati Dzat yang Maha Tinggi, pencipta kita, Yang Maja Raja Diraja, yang sebenar-benar Raja. Dia tak men-syaratkan punya IPK tinggi, punya jabatan maupun kedudukan untuk bisa mendekati-Nya. Sungguh Kasih Sayang-Nya amatlah sangat besaaar. Sehingga makhluk lemah, dhaif, bodoh dan banyak men-dzalimi/menganiya diri sendiri seperti kita tetap dapat kesempatan untuk mendekati-Nya dengan taubat dan amal shalih.

Menjadi dekat dengan pejabat itu sudah cukup untuk membuat seseorang begitu bangga dan ada upaya untuk mendapatkan posisi itu. Sudah seharusnya seseorang juga berusaha untuk mendekat pada Rabb nya, yang mengetahui segala tindak tanduknya, bahkan yang terlintas dalam benaknya sekalipun.

Mendekat pada-Nya tidak selalu harus menjadi terkenal di hadapan manusia, dan menjadi seseorang yang banyak followernya. Bahkan sering kali orang yang tersembunyi bisa lebih dekat dengan Rabb nya. Tapi, bukan berarti orang terkenal sebaliknya, tidak bisa menjadi dekat dengan Allah. Tetap saja ia adalah sosok yang dekat dengan Rabb nya selama ia mengerjakan hal-hal yang Allah ridha.

Tapi sayangnya kadang nafsu dan kecendrungan jiwa adalah pada hal yang sebaliknya. Ia senang dengan pujian, senang ketika kebaikannya diketahui khalayak, dan kelezatan jiwa lainnya. Yang tersembunyi pun juga dibayangi dengan rasa ujub. Maka, hanya pada Allah saja kita bermohon, agar ditolong-Nya untuk senantiasa berada di jalan yang DIA Ridhai.

Smoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha untuk mendekat kepada-Nya. Baik dengan kondisi berlari, berjalan cepat, berjalan biasa ... bahkan meski dengan merangkak. Maka kita memohon pertolongan-Nya agar bisa menjadi bagian dari ini.
Read More

Jejak Apa yang Engkau Tinggalkan?

Suatu ketika aku pernah membaca/mendengar (lupa persisnya. Kalau tidak salah mendengar dari youtube) tentang seorang muslimah yang meninggal (apakah terkena wabah covid atau sebab lainnya, aku juga tidak bisa memastikan karena lupa). Tapi yang aku ingat dari kisah itu adalah bahwasannya sang muslimah (yang masih belia) meninggalkan "jejak" di beberapa sosmed dan applikasi yaitu melakukan sesuatu yang kurang pantas. Mungkin semacam jogetan di applikasi t*kt*k. Keluarga sudah berusaha untuk menghubungi pihak pemilik aplikasi untuk menghapus postingan tersebut akan tetapi pemilik app tidak menyanggupinya. Akhirnya postingan itu tetap ada. Tetap bisa dilihat oleh orang lain, meski yang mengunggah sudah tak lagi menapaki kakinya di atas bumi.

Ini menjadi pelajaran berharga untukku terutama dan untuk kita semua. Tentang "jejak" apa yang kita tinggalkan? Jangan sampai yang kita tinggalkan itu adalah "dosa jariyah". Jejak yang ketika orang melihatnya masih men-transfer dosa kelada kita--na'udzubillah. Foto-foto tanpa hijab yang menyebabkan laki-laki non mahram melihatnya berdosa dan sang peninggal jejak juga mendaptkan imbasnya. Joget-joget yang menjatuhkan muru'ah muslimah. Atau jejak postingan atau komentas berisi cacian, ajakan kepada hal yang buruk. Wa iyya dzubillaah. Jika bukan meninggalkan jejak berupa postingan yang bermanfaat, setidaknya tinggalkanlah jejak hal yang tidak mendatangkan dosa. Hal-hal mubah.

Blog ini sudah 14 tahun eksis (sejak 2007 silam) dan telah meninggalkan lebih dari 1200 postingan meskipun viewer nya tidak seberapa hehe. Harapanku semoga tidak ada yang meninggalkan jejak hal yang buruk. Jika engkau menemukannya, mohon ingatkan aku.
Read More

Yang Dicintai Penduduk Langit dan Bumi

Pernahkah engkau memiliki seorang teman yang terasa bahwa engkau mencintainya, bahkan tanpa sebab yang bisa engkau definisikan? Cinta yang kumaksud di sini bukanlah cinta antara seorang lelaki dan wanita. Tapi cinta dalam persaudaraan dan ukhuwah; lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan.


Baiklah. Aku ingin berbagi cerita tentang seorang teman. Mungkin dia tidak membaca cerita ini. Dan tidak perlu juga aku beritakan kepadanya tentang cerita ini. Ini hanya ungkapan perasaanku saja. Dan karena blog ini tidak memiliki pembaca yang banyak, jadi aku merasa lebih enak dan bebas bercerita. Hehe.


Aku mengenalnya kira-kira 6 tahun yang lalu. Sekitar 6 tahun tapi tidak persis. Bukan sosok yang banyak bicara. Bahkan cenderung lebih banyak diamnya. Jika ia berbicara, maka bicaranya pastilah bicara yang bermanfaat saja. Setiap ia bicara, pembicaraannya adalah pembicaraan yang menggetarkan hati dan mengingatkan akan Allah dan amal shalih. 


Pada suatu pertemuan ia sempat menceritakan bahwa ia hampir merampungkan hafalan Qur'annya. Yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya saat ini. Entah mengapa, aku tidak mampu menahan haru. Mengingat aku masih sangat jauh dari itu. Terseok-seok untuk bisa menghafalkan ayat-ayat cinta-Nya.


Aku tidak mengerti bagaimana aku merasa mencintainya (in shaa Allah karena-Nya). Wajah bersahaja yang sangat shalihah. Membersamainya, terasa pancaran ruhiyah yang baik. Apakah ia adalah salah satu sosok yang Allah sebut di langit meski penduduk bumi tidak mengenalinya? 


Sungguh ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia memerintahkan Jibril mencintainya dan Jibril pun mencintainya. Begitu pula dengan penduduk langit dan bumi. Akan mencintainya pula. Apakah ia adalah sosok yang dicintai Allah sehingga Allah hadirkan pula cinta pada penduduk langit dan bumi padanya? Sehingga cinta pun terasa hadir di hati ini padanya. Meski kami jarang berjumpa. Meski obrolan kami tidak pula sering?


Tapi ... ini menjadi motivasi tersendiri bagiku. Diri yang terkumpul banyaknya khilaf dan alpa. Diri yang menjadi tempatnya salah dan lupa. Bahwasannya; menggapai cinta-Nya adalah salah satu tujuan dan cita-cita. Sungguh apalah artinya terkenal di penduduk bumi tapi Allah tak ridha? Sementara tidak ada tempat di semesta ini yang luput dari-Nya. Sungguh kita takkan sanggup untuk mencari ridha semua manusia, yang sama dhaif nya dengan kita. Tapi, dengan Rahmat dan Hidayah Taufiq-Nya, in shaa Allah kita pun memiliki kesempatan dan peluang untuk memperoleh cinta-Nya, Rabb pemilih semesta yang hanya satu-satunya yang berhak untuk kita sembah. Semoga kita juga diberikan karunia dan hidayah oleh Allah untuk mendapatkan cinta-Nya. Tanpa pertolongan-Nya, sungguh manusia tak bisa apa-apa. Ketika bisa beramal shalih, bukan karena kita bisa, bukan karena kemampuan kita sendiri. Sungguh, Allah-lah yang memberi karunia. Maka sungguh tak pantas kita merasa jumawa apalagi merasa lebih baik dari orang lain.


Semoga Allah berikan hidayah taufiq untuk melakukan amal demi amal shalih. Untuk perbekalan perjalanan panjang kita.

Read More

Titik ‏Hitam

Sangat populer artikel beredar tentang titik hitam di tengah kertas putih ini kan ya? Ada kertas putih lalu setitik noda hitam. Apakah yang terlihat?

Dari banyak kisah yang dibagikan, dikatakan bahwa kita lebih cendrung melihat titik hitam yang kecil dari pada selembar kertas putih yang lebar. Maka, jangan memandang kekurangan anak atau pasangan atau orang lain saja tapi melewatkan banyak kebaikan lainnya sebagai mana titik hitam yang kecil berbanding kertas putih yang lebar/besar. Tentu pelajaran ini haruslah kita ambil. Bahwasannya, banyak potensi yang seharusnya kita gali pada diri anak, dibanding kekurangannya yang tampak. Bahwasannya banyak kebaikan pasangan yang telah ia berikan, dibanding kesalahan yang telah ia perbuat dan mungkin ia tak sengaja melakukannya. Bukankah kebanyakan ahli neraka adalah perempuan? Bukan karena ia melalaikan shalatnya melainkan karena kufurnya ia pada kebaikan suaminya? Wal iyya dzubillaah.
Tapi, dalam memandang dosa, hendaklah kita seperti memandang titik hitam tersebut. Satu dosa yang kita lakukan, sudah cukup untuk menodai hati kita sebagaimana titik hitam di kertas putih itu. Dan itu sudah cukup untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan nikmat untuk berdekatan dengan-Nya. Lalu bagaimana dengan titik hitam yang banyak hingga tertutupilah celah putih tersebut?! Sungguh, telah tertutup hati itu. Hingga ia menjadi keras. Dan bahkan lebih keras dari batu.

Ini sebagai pengingat diri sendiri. Bahwasannya, ketika ada titik hitam pada hati kita, semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah-Nya untuk menyegerakan taubat atas dosa tersebut. Dan semoga pula Allah menerima taubat kita tersebut. Agar ... ketika kematian datang memutus kelezatan kita dengan dunia, Allah memanggil kita dalam keadaan bersih dari noda itu (husnul khatimah). Sebab ajal tidak mendatangi kita dalam keadaan menunggu kita bertaubat, maka sudah sepantasnya kita menyegerakannya. Mumpung masih di atas tanah. Mumpung masih belum berada di bawah tanah dan kesempatan beramal dan bertaubat sudah tertutup.

Sekali lagi. Ini adalah pengingat bagi diriku sendiri terutama. Bahwasannya noda hitam itu ... sudah cukup untuk menghilangkan nikmat mendekat kepada-Nya dan bahkan mendatangkan musibah bagi diri kita. Bukankah musibah itu kadang kalanya adalah karena ulah perbuatan kita sendiri?!

Tapi, bukan berarti kita berputus asa tentunya. Sebanyak apapun dosa, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Luas Kasih Sayang dan Rahmat-Nya. Semoga kita termasuk orang yang dikaruniakan rizki taufiq dan hidayah-Nya, juga golongan orang yang dikaruniakan rizki taubatan nasuha sebelum maut. Sungguh dunia ini hanya sebentar saja wahai diriku. Maka berbekal lah untuk kehidupanmu yang sesungguhnya (akhirat)!
Read More

Penyesalan

Suatu ketika ada acara di mana acara tersebut juga menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung bisa menjawab pertanyaan. Di pertanyaan pertama, aku ingin menjawab tapi ada keraguan di hati. Jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa ... jawab enggak yaa. Yah kayak ragu-ragu gitu. Tapi kebetulan saat itu tak ada yang bisa menjawab.

Dan kunci jawabannya ternyata sama dengan jawabanku yang tadi aku lewatkan kesempatannya. Nyesek? Iya ... Lumayan kaan dapat doorprize kerudung.

Kisah lain. Ke masjid Quba di masa pandemi. Kami sebenernya sudah sampai di sana sebelum ashar. Akan tetapi, ketika itu HP sengaja tidak aku bawa sehingga ketika itu harus balik lagi ke mobil. Padahal suami sudah bilang untuk bawa HP aja. Tapi karena tidak membawa tas dan abaya yang juga tidak ada kantong/sakunya, aku berpikir akan sedikit repot membawa HP jadinya HP ditinggal aja. Tapi ternyata ketika akan masuk masjid Quba, diminta app Tawakkalna. Jadi butuh HP dong yaa. Harus balik ke mobil. Akhirnya diputuskan untuk gantian dulu sama suami. Aku gantian nunggu di mobil, dan suami yang ke masjid Quba. Ketika giliran aku yang mau shalat di sana, shalat ashar sudah selesai, dan ternyata masjid Quba ba'da ashar sudah ditutup. Sedih banget. Padahal sebelumnya punya kesempatan untuk shalat di masjid Quba tetapi kesempatan itu terlewat. Menyesal? Sangat!

Ada berapa banyak penyesalan yang telah kita rasakan dalam hidup ini?! Bagaimana rasanya? Nyeseek?! Iya, menyesal itu ternyata adalah sebuah siksaan tersendiri.
Itu hanyalah penyesalan-penyesalan "kecil" di dunia. Sesuatu yang mungkin bisa kita "jemput" kembali. Doorprize kerudung yang terlewat, masih bisa diganti dengan order atau jahit kerudung sendiri. Terlewat ke Quba, in shaa Allah masih ada kesempatan esoknya.

Tapi, penyesalan itu pasti akan terasa sangat berat dan menyesakkan ketika kita sudah sampai di akhirat. Di mana, penyesalan itu tidak akan pernah bisa kita "jemput" lagi. Orang beriman dan beramal shalih menyesal karena dia ingin beramal shalih lebih banyak lagi. Apalagi orang kafir dan munafiq. Menyesal yang teramat dalam tidak memilih jalan yang benar.

Semoga kita bisa lebih banyak mempersiapkan diri untuk hari itu. Hari di mana segala amal kita dibeberkan. Hari di mana melewatkan satu kalimat Tasbih yang mungkin saat di dunia terasa ringan tapi tidak kita lakukan, lebih kita sesali dari pada hilangnya emas dan perak semasa di dunia. Kehilangan emas segepok gegara kemalingan hanya karena kita lupa mengunci pintu rumah mungkin tidak akan seberapa penyesalannya dibanding kesempatan amal shalih yang kita lewatkan begitu saja ketika di akhirat kelak. Ketika kita melihat balasan Allah atas apa yang telah kita lakukan. Kemaksiatan yang tidak sempat kita taubati mungkin akan sangat kita sesali di akhirat kelak ketika kita melihat balasan dari amal tersebut. Juga ketika kita berlaku dzalim kepada orang lain; walau hanya sekedar ikut membully nya dengan jempol kita di medsos padahal kita kenal di dunia nyata pun tidak, pasti akan kita sesali ketika urusan ini tidak kita selesaikan di dunia dengan meminta maaf kepadanya. Maka, penyesalan itu pasti akan menyiksa sekali. Kelak. Ketika menyesal itu tidak ada lagi gunanya. Ketika setiap manusia berkata "Andai aku berbekal untuk kehidupanku (yang abadi)". 

Ini adalah peringatan dan nasihat untuk diriku pribadi terutama. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita. Tanpa taufiq dan hidayah-Nya, sungguh kita pasti takkan mampu melakukan amal shalih dan meninggalkan hal laghwi maupun kemaksiatan. Maka, sungguh yang paling mahal di muka bumi ini adalah hidayah-Nya! Tak ada yang lebih mahal dari itu. Semoga Allah pilih kita untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang diberi hidayah dan keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Aamiin yaa Rabb ❤❤❤
Read More

Teori Parenting


Ada banyaaak sekai teori parenting di muka bumi ini. Jika ibu-ibu jaman dulu susah mengakses informasi dan keilmuan, zaman sekarang malah sebaliknya. Informasi itu sangat banyaaaaak sekali beredar! Sampai-sampai bingung mana yang harus diambil karena kadang sebagian bertentangan satu sama lainnya.

Tapi, informasi yang banyak itu, terkadang adalah informasi yang terpisah-pisah. Seperti kepingan puzzle yang berserakan. Bingung bagaimana menyatukannya. Ketika mendapat informasi tertentu, begitu bersemangat menerapkan tapi sayangnya tidak long lasting. Tidak bertahan lama. Kembali lagi ke titik semula.

Aku, ketika sebagai praktisi (dibanding dulu sebagai komentator aja alias pengamat hehe) merasakan betapaaa manis "teori" yang dulu aku tuliskan itu tapi... pada pelaksanannya memang tak mudah! Tak mudah! Akhirnya aku sampai pada kesimpulan; meskipun semua cinta ibu di dunia ini untuk anaknya adalah hampir sempurna, tapi ... tak ada ibu yang sempurna. Sehebat apapun ia, pasti ia pernah melakukan kesalahan terhadap anaknya. Karena memang, manusia sejatinya adalah makluk yang lemah. Sama sekali tidak sempurna.

Cara ibu mencintai, ungkapan cintanya, tidak selalu selaras dengan sesuatu yang baik untuk anaknya. Semisal ibu dengan dalih cinta anaknya lalu memberikan segala yang anaknya mau tentu bukan hal yang baik untuk anaknya. Atau, ibu yang sangat menyayangi anaknya, ingin melindunginya selalu, bisa saja jatuh kepada over protective sehingga apapun yang anak inginkan dilarang. Maka cinta juga butuh belajar. Butuh belajar tentang bagaimana yang baik dan semestinya dalam mendidik mereka.


Tapi, belajar saja tidak cukup ternyata. Seorang ibu dengan segudang ilmu parenting sekalipun, ternyata belum sepenuhnya bisa mengasuh anaknya dengan menerapkan segala ilmu dan teori yang dia punya tersebut. Misal, saat dikuasai emosi negatif dan amarah, apakah sang ibu dapat rasional menerapkan teori parentingnya yang segudang? Tidak. Tidak cukup dengan teori saja. Harus latihan. Harus terus berlatih. Bertumbuh.

Selain berlatih untuk menerapkan, ada satu lagi yang terpenting dan jauh lebih penting dari teori parenting! Yaitu iman. Percayalah, kondisi iman kita sebagai ibu sangat sangat menentukan bagaimana kita bersikap kepada anak. Ketika iman melemah, mungkin kita mudah untuk "menyambut" rayuan syaithan untuk berbuat akhlak yang kurang terpuji baik dalam perkataan maupun perbuatan ketika marah kepada anak. Tapi ketika iman kita dalam kondisi full charge, biasanya kita lebih mudah untuk mengendalikan diri. Iman adalah bentengnya. Tentu tanpa menafikan ilmu pengetahuan tentang pengasuhan juga.

Satu lagi yang sering terlupa adalah ... bahwasannya kita mungkin secara tak sadar "menyandarkan" kepada ilmu atau teori saja. Padahal ada satu hal sangat penting lainnya yang membuat kegiatan pengasuhan itu lebih baik, yaitu do'a. Do'a agar dimudahkan dalam mengasuh anak, dalam mendidik mereka dan membimbing mereka. Jangan pernah merasa jumawa dengan banyaknya ilmu dan hebatnya praktek. Justru kita harus menyandarkan segenap urusan ini kepada Allah. Memohon kepada-Nya agar baik akhlak dan lisan kita dalam mendidik anak. Sungguh, ketika berhasil, itu bukan karena kita hebat dalam mendidik anak. Bukan karena banyaknya ilmu kita. Melainkan karena Allah-lah yang memudahkan kita.


Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih/shalihah dan mushlih. Merekalah harapan kita ketika kita tiada. Do'a-do'a mereka yang kita harapkan ketika kita tak lagi dapat melakukan amal shalih, terbujur kaku di bawah tanah. Smoga Allah mudahkan kita dalam mendidik mereka, anak-anak kita. Sebab akan ada masa orang tua lari dari anaknya di yaumil hisab kelak. Ketika ada hak-hak mereka yang belum kita tunaikan di saat kita mampu menunaikannya tapi kita melalaikannya. Astaghfirullaaah.
Read More