Komputer Rusak = Kreatifitas Mati???


Wadduuuuhhh…,Innalillaah,
Finally, rusak jugaah si dia. Ga’ bisa diapa-apain lagi. Huhuhu. Padahal, ini saat2 aku sangat membutuhkannya. Ada belasan e-book FRS yang aku butuhkan untuk PKP Rumah Sakitt. (haddooooh, kaga sanggup nenteng buku2 tebel ke Rumah Sakit niih). Huwaaaa. Haruskah aku jadi tukang nebeng??
Fiuuffftt..

Dan itu artinyaaa, aku bakalan jarang ngapload lagi (padahal, udah banyak niiih yang mau dituliskan.  Huwaaa, blog ku sayang…, untuk sementara, kita gak damai dulu yaaah. Suatu saat, kalo dia udah baik lagi, aku akan bersamamu lagi. Okeeeh??

Tapiii, satu hal, apapun itu alasannya, tetaplah menulis! (mau pake daun kek, mau pake batu kek). Halaaah, lebay niih! Tuwhh.., buku tulis banyak!
Hmm...Tanpa sadar, ternyata aku memang sangat membutuhkannya. Dan, aku merasa kehilangan, ketika dia ga ada di dekatku. Huhu…

Tapiiii, apapun kondisinya, tuliskanlah, apa yang dilihat, dirasakan, dialami… Insya Allah, semuanya akan memberikan kita pelajaran…

Jadiii, gak ada alasan untuk tidak menulis!
Read More

Iklan Kebaikan


Apa istilah2 atau slogan2 ataupun kata-kata yang ngiklan yang terekam di benakmu?

Semacam…,
“Becek, gak ada ojek”
“Owkelah kalo begitu”
“Buktikan merahmu!”
“lanjut gan!”
Dan kata-kata sejenis deeh pokoknya!

Hmm…hebat banget yaaah itu iklan. Mulai dari nenek-nenek dan kakek-kakek hingga cucu cicit bisa kenal dengan istilah-istilah itu. Kata-kata yang bener2 udah nyampe ke amygdale dah! Dihapalin semua orang.

Aaaah…, aku jadi punya mimpi niiiih. Berandai-andai, agar kata-kata yang ngiklan itu adalah kata-kata yang lebih mengandung kebaikan. Yang menjadi iklan itu adalah kata-kata yang mengandung nasehat. Jadinya, ketika setiap orang disuguhkan kata-kata yang baik, tentulah sedikit banyaknya juga akan melahirkan kebaikan. Aplikasi di kehidupannya.

Coba deeh, kalo misalnya lagi ujan dan becek, biasanya kata2 yang keluar adalah “becek, gak ada ojeg.” Kan yaaaah..??

Tapiiii, coba ajah kalo kata2 yang ngiklan itu misalnya,
“maksiaat? Gak gw banget!”
“Waaaah, lezatnya iman. Mau??”
Dan seabrek-abrek nasehat lainnya.
Jadinya, insya Allah, habit yang dibentukpun adalah kebaikan kan yaah??

Jadiiiiii???
Mari iklankan kebaikan!!!

Dari Abu Hurairah r., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia selalu berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
--> huhu…mengena bangeeet!
Read More

Preman Waria


Betapa mengherankannya!

Anting, identitas perempuan.
Rambut panjang, juga identitas perempuan.

Tapi kenapaaaa?
Kenapa ketika seorang laki-laki, berambut gondrong (rambut panjang) dan memakai anting dikatakan : PREMAN yang bener2 “bagak” (baca : menyeramkan dan menakutkan) ?? Kenapa dengan morfologisnya yang sangat cewe’ banget itu, justru lebih dicap “jantan” and “bagak bana ko haaaa.” Bukankah sebaliknya? Cowo beranting dengan rambut panjang seharusnya adalah seorang “waria”?? jangan-jangan entar, laki-laki berkebaya dan “bakodek” malah dicap “PREMAN!!”. Aihhh.., parahnyaaa!

Waaah…., ada-ada saja dunia!
Alah tabaliak sado halah’e!


Dari Ibnu Abbas ra., berkata : “Rasulullah saw mengutuk orang laki-laki yang menyerupai orang-orang perempuan, dan orang-orang perempuan yang menyerupai orang-orang laki-laki.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Rasulullah saw mengutuk orang-orang lelaki yangmeniru orang-orang perempuan, dan orang perempuan yang meniru orang-orang laki-laki.
(HR. Bukhari)

Dari Anas ra berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian sekarang melakukan perbuatan-perbuatan yang kamu anggap sangat enteng padahal pada masa Rasulullah saw perbuatan-perbuatan semacam itu kami anggap termasuk hal-hal yang merusak agama.” (Hadits Riawayat Bukhori)
Read More

Tanda Tangan Mahal


Waaah…, akhirnyaaa, (hampir) selesai jugah prosesi skripsiku yang panjaaaaaaaaaaaaaang ituuuh. Belum sepenuhnya selesai siiih. Tapiiii, hampir, insya Allah. Ini demi ijazah yang sampai detik ini belom di tangan niiiih. (Mendapatkan ijazah ternyata ga’ mudah yaaah? Huuufft…).

Eh…eh…, ada pengalaman menarik niiih. Ketika temen2 “mencigap” skripsiku itu, semuanya pada heran. Kata mereka, “tumben Fathel gak lebay!” hehehe. Pada nyangkain aku bakal bikin “special thank’s” sebanyak sepuluh halaman! “Habiiiis, kalo Fathel, pasti panjang ceritanyaaa.” Tapiii, aku malah gak nulis special thank’s untuk siapapun di skripsi. Hehehe. (omong2 dalam rangka proses penghematan niiiih. Kan mahaaal ngopy di kertas wanginya. Hheeee….). Ini sekedar intermezzo doang.

Back to masalah tanda tangan skripsi. Satu saja kesimpulan yang dapat kuperoleh; BETAPA MAHALNYA TANDA TANGAN ITU!
Dibayar dengan waktu, tenaga, pikiran, duit, perasaan. Semua-muanya deeh! Bahkaan, untuk satu tanda tangan sajaaa, butuh mengorbankan satu hari. Dengan satu kata pula; MENUNGGU!

Hmmm…, baiklaaah. Jika gak begini, perjuangan itu gak terasa manis koq. Yakiin ajaah, setiap kesulitan pasti ada kemudahannya. Jadiii, kenapa mesti risau. So, Enjoy it! (suatu saat, insya Allah bakal merindukannya…; tersenyum mode : ON).

Tiba-tiba, aku pun teringat dengan tanda tangan orang-orang penting yang berkedudukan di “puncak menara” sono (heee, emang negeri 5 menara!). Maksudnya, bapak-bapak yang duduk di kursi empuk (baca : panas), yang menentukan kebijakan; hendak dibawa ke manakah negeri ini?

Betapa mahalnya tanda tangan…
Dengan satu tanda tangan saja, seorang pejabat dapat mengalirkan uang Negara ke rekening pribadinya. Dengan satu tanda tangan saja, asset Negara bisa saja dijual ke negera lain. Dengan satu tanda tangan saja! Cukup dengan satu tanda tangan saja.

Betapa mahalnya tanda tangan…

Tapi, sebaliknya, pun dengan satu tanda tangan, seorang pejabat dapat “menjilbabkan” ribuan pelajar muslimah atas kebijakannya. Dengan satu tanda tangan, penghambur-hamburan uang Negara bisa ditekan jgah dengan kebijakkannya. Cukup dengan satu tanda tangan saja…

Sekarang, berpulang kepada pemilik tanda tangannya saja…
Juga kepada kita, rakyat jelata; agar lebih jeli memilih mereka, Pilih yang benar-benar bersih tak mau korupsi (juga peduli dan professional). >> Halaaaah…, tendensien banget! hehehe.
Read More

Rumah Impian


Hmm…., binun jugah mw ngerjain apa. (padahal, laporan deadline niih. Tapi hati lagi ga mw diajakin kompromi. Mood buat menyentuh laporan lagi lenyap entah di mana kotanya (biasanya kan ‘rimbanya’ yaah? Hihihi). Akhwat di wisma pada sibuk di depan laptop masing2. Gak ada yang mw diajakin manghota ria. Tuwwhh…liyat! Nany lagi sibuk ngolah data penelitiannya. Ima sibuk ngedownload. Lilis dari pagi hingga malam menyemplungkan diri dengan kertas2 dan buku untuk menyelesaikan bab demi bab skripsinya di depan kotak ajaib ituuuh. Yeyen udah tepar duluan karena beraktivitas seharian. Tinggal si Uul yang “mengalai-ngalai” di depan tipi mini sehabis tilawah. Naah, akhirnya aku malah mengambil kertas yang terbundel di skripsiku. Itu kertas sudah berstatus reject karena skripsi aslinya udah jadi. Jadilah aku ngorat-oret di sana.

Bikin apa coba?
Hmm…bikin rancangan rumah “masa depan”. Hahaha…gayyaaaaah!
[Terakhir aku bikin desain ituuh (ngorat-oret) kalo gak salah waktu mau ujian semester 7 (hmm…, setahun yang lalu). Biasanya, kalo udah “hapalan mati” aku biasanya nyari akal buat memanfaatkan otak kanan. Dengan membuat desain bangunan, trus, menempatkan bahan ujian yang mau diapalin di ruang-ruang yang aku desain itu. Missal, di ruang tamu aku taruh Oryza sativa, Carica papaya. Trus di ruang tengah ada Vibrio parahaemolyticus, Eschericia coli. Di kamar tidur ada Penaeus indicus, Penaeus merguensis(hee…ini contoh doang mah!). jadinyaaa, pas ujian aku mengingat-ingat, di Ruang tamu ada apa ajaaah? Di ruang tengah ada apa ajaah?? Hihihi…, gaya belajar yang aneh, yaaah!? Abiiiiis, paling pusing kalo ujiannya hapalan! Dan, itu gak bisa dinalarkan. Gimana coba menalarkan Oryza sativa?? Hahaha…]

Tapiii, kali ini aku tidak sedang menempatkan sebuah nama latin atau nama obat di ruang tengah, ruang tamu, ruang tidur maupun dapur. Ini murni rancangan “rumah masa depan”. Cie ileeee…, gaya banget dah aku! Dan bukan pula tengah mencontek desain orang. (lha, dari jaman baheulak, heee…., aku kan memnag suka membuat rancangan2 rumah dulunya. Sukaaaaa….ajaah!). Tapiiiii, nyang ada Cuma denah doang. Belum penampang melintang (lho?? Emang anatomi??), maksudnya penampakkannya gak diliyatkan. Gituuuuh…

Aku pengen rumahnya ‘minimalis’. Maksudnya bukan rumah yang besssuaaarrr sangat berpagar tinggi. Entah kenapa, aku gak suka ajah rumah yang pagarnya tinggi banget sehingga terkesan “angkuh” begitu. Yang kayanya sosial masyarakatnya kurang. Terlalu menutup diri dengan lingkungan.

Naaaah, nyang aku pengen, rumahnya itu ga begitu besar, trus, justru halamannya yang lebih besar. Seperti yang terlihat di gambar itu looh! Pagarnya cukup 1-1,5 meter ajah! Biar lebih “ramah” dengan lingkungan sekitar. Gak terlalu menutup diri. Tapiiii, bagian belakang rumah emang maunya dipagar tinggi. Sekitar 4-5 meter. Ini ada maksud dan tujuannya jugah.

Kita mulai dari rumahnya dulu. Bagian rumah itu, diharapkan di ruang keluarga itu adalah “centre”nya. Pusatnya. Jadiiii, semua pintu-pintu, baik itu dari ruang tamu, dari kamar, dari mushalla, dari dapur, semuanya aksesibel ke ruang keluarga. Apa tujuannya? Biar kebersamaan lebih berasa. Dan, gak ada nuansa2 individualis di dalamnya. Makanya, ruang keluarga itu bener2 di bikin sebagai “core”, sebagai pusat.

Trus, mushalla! Sekecil apa pun rumahnya, mesti ada mushalla. Karena, sholat berjama’ah adalah hal yang penting dalam keluarga.

Trus, di bagian belakang rumah. Naaah, ini cukup penting niiih. Di sini di bikin pagar tembok dengan tinggi 4-5 meter. Di sanalah “ar-raudah” nya. Taman main. Heee…., dasar suka main! Eiih…, bukan…bukan…, bukan gak punya tujuan. Ada tujuannya looh. Pertama, bak pasir. Pasir yang bisa dibentuk jadi bangunan, rumah-rumahan. Jugah permainan lego. Karena, ini semua insya Allah akan memancing kreatifitas. Air jugah. Kolam kecil yang isinya tentu saja air dong! Tapii, gak pake ikan! Air jugah salah satu hal yang memancing kreatifitas. Trus, ada tembok jugah, buat dicorat-coret, pake cat apa pun dah. Pokoknya jugah untuk mengeluarkan kreatifitas deeh. Di sana jugah ada saung. Temet kumpul2, tempet nyari inspirasi buat nulis. Heeee…. Tujuan dibikinnya tembok tinggi adalah, agar aku bisa menikmati malam, menikmati bintang, tanpa bisa diliyat orang lain dari luaran sono.

Nah, di halaman yang luaaaas sangat itu, ditanami rerumputan hijaaau ajaah. TOGA (tumbuhan obat keluarga), dan pohon2 buah-buahan kaya mangga, rambutan, jambu biji, jeruk, alpukat. De es be.

Heeee…., semuanya masih dalam rangkaian sebuah “mimpi” siiiih. Mimpi. Tapi, mimpi yang menggerakkan. Insya Allah.

Karena, panjang pendeknya nafas perjalanan kita, tergantung sejauh mana cita-cita kita. Maka, ketika kita telah memiliki mimpi (cita-cita), maka, insya Allah kita punya energy untuk mencapainya! Okelah itu semua masih dalam rancangan mimpi kita, tapiiii, berani bermimpi berarti berani untuk mengumpulkan semangat untuk melaksanakannya. Suatu saat nanti, insya Allah… Dengan rancangan yang telah kita buat, itu artinya, kita telah memikirkan akan sejauh apa dan ingin seperti apa masa depan kita. Lebih kurang seperti itu kali yaaaaah? Hehehe….

Jadiiiii, insya Allah kitapun akan bisa merancang, ingin seperti apa “rumah kita” di akhirat kelak kan yaaah??

Maka, beranilah bermimpi!


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْس ٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد ٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِير ٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[Qs. AL Hasyr : 18]
Read More

Pilihan



...وَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئا ً وَهُوَ خَيْر ٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئا ً وَهُوَ شَرّ ٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ . “...

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
[Qs. Al Baqaroh : 216]


Hidup memang sebuah pilihan!
Antara keinginanku, keinginan orang tuaku, dan keinginan orang-orang yan kucintai.
Semoga bersesuaian pula dengan rencana-Nya Allah…
Allahumma aamiin….
Read More

Polemik Blogger Mania


Hmmm…
Serba salah! Aku jadi serba salah! Huhuhu.
Ini adalah orang ke-empat (apa kelima yah?) yang “memprotes” aku soal blog. (heee…, baru empat orang siiiiih. Halaaaaah…, maunya berapa siih Thel? Hehehe)

Ada yang dengan terang2an protes, “saya tak suka dengan blog kamu! Blog kamu ituuuu, terlalu open! Kesannya gimanaaa…gituuuh!”
Dan ada juga yang scara “halus” menyampaikannya. “hati-hati loh Thel. Ntar ada yang “tersakiti” dengan blogmu itu.” (ini komentar salah satu temen di kampus)
Yaaaah…, gitu deeh.

Awalnya siiih aku cuek ajaaaah. Dan masih dengan dalih, “It’s me! It’s ‘my home’. So, terserah saya dong mau ngapain di rumahku!” heeeeeeee….dasarrr cuek! Tapiii, setelah sekian orang yang ngomong dengan nada yang sama, aku jadi kepikiran jugah niiih. Bener yaah, kek gituh???

Menurut persepsiku siiiih, aku lebih seneng share soal pengalamanku, trus, berharap ada plajaran yang bisa diambil sama-sama, gituuuh. Ntar, jika ada yang “nyasar” ke blog ku, dan membaca hikmahnya, berharap pengalaman buruknya gak terjadi di dia. Dan jika pengalaman baik, semoga sama2 kita ambil ibrohnya plus pengamalannya. Gituuuh. Hanya ingin share saja! Gitu loooh! Atau sekedar cerita doang. Tho, ini kan “rumah”ku. Heee. Dan lagi, setiap blogger punya karakteristik kepenulisan tersendiri dan gaya kepenulisan sendiri kan yaaah? Sekali lagi, It’s me! Ini adalah karakteristik kepenulisanku (cieee….istilahnyaaaa!)

Tapi kemudian, aku sadar, aku jugah gak bisa mengatakan it’s me saja, tanpa menerima masukan dari temen2. Seharusnya aku bersyukur yaaah, punya temen2 yang masih mengingatkanku. Itu tandanya mereka peduli padaku. Hmm, baiklaaah…, insya Allah aku lebih hati-hati dan lebih memfilter lagi apa yang aku up-load. Dan, insya Allah, yang aku up-load pun sebenarnya sesuatu yang mengandung plajaran (terutama bagiku dan untukku).

Hanya sajaaaa, tentulah aku gak bisa memenuhi semua yang oang lain inginkan. Dan jugah, tentu masing2 orang punya pertimbangan dan punya analisa, serta pendapat sendiri2 tho?! Sing penting, dikembalikan pada satu hal sajaaa, “segalanya dimulai dari niat! Berawal dari Niat!!” Innamal a’malu binniyaah, kan yah??

Jadiiiii,
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, tho?? (minjem Istilah Sayyidina Ali). Selagi yang kita tuliskan itu adalah kebaikan, sesuatu yang mengajak diri kita dan orang lain untuk kebaikan, sok, tafadhol, mari kita tuliskan sajaaa! Tuliskan saja. Mudah2an bukan seperti yang disampaikan Qs. Ash-Shaaf : 2-3. Tapi, sebagai pengingat diri kita sendiri yaaah dan justru sebagai pelecut semangat agar kita pula orang pertama yang ngelaksanakannya.

Terhadap komentar temen2ku agar gak ada “yang tersakiti” dengan blogku ini…, aku berharap janganlah sampai ada. Jika pun ada, aku mohooon maaf. Bukan maksudku untuk “menyakiti”. Mari kita kembalikan saja urusan ini kepada Allah saja yang hanya kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Jika memang ada hal2 positif yang bisa diambil, sok atuh, tafadhol, ambil yang positifnya ajah. Jika ada yang buruk2nya, dibuang ajaaah. (tapii, ingatkan diriku jugah doong yaah).
Read More

Film Coated or Sugar Coated??


Hmmm…lagi ingat2 PKP (huwaaaa…deadline laporan niiih. Tapiiii, malah kerajingan bikin tulisan iniiih. Heeee. Itung2 sebagai pemanasan buat laporan. Hahaha. Halaaaah, nyari alasan tuwwhhh!). Aku jadi teringat sama industry obat niih. salah satu (eihh, salah dua ding!) produk obat dalam bentuk tablet itu kan yang disalut gituuh, salut film (film coated) dan salut gula (sugar coated).

Tablet yang salut film itu yaaah yang tabletnya mengkilap gituuh tapi agak transparan. Pelapisnya tipiiiiis banget. Cuma satu lapis ajaah. Jadinya lekuk2 tablet pasti bakal keliatan. Tujuannya siiih, banyak yaaah. Umumnya agar tablet itu nantinya diharapkan pecahnya di usus. Atau, biar tidak terjadi iritasi lambung bagi penderita maag. Atau soal disolusi laaah. Tapii, itu lohh salutnya, yaah tipis doang. Segala lekuk2 granulnya (hiiihh,, emang kliyatan gituuh si granul?? Haha, ngasaal! Tapi, bagi farmasis mah kliyatan lah mana granulnya. Bagi yang ga blajar farmasetik ya iyaa laah gak kliyatan. Kan henteu ngartos nyang mana granul and nyang mana eksipien lainnya. Heeee…) bakal kliyataan deeh.

Nah, beralih ke tablet salut gula. Tablet salut gula iniiii, waaah..pelapisnya buanyaaak euy! Berkali-kali kali dibalut. Udah gitu diluarnya dikasi warna lagi! Jadinyaaa, ketutupan deeh! Kagak bakal ketauan, betuk asli itu tablet, awalnya gimanaaa yaaaah?? Tujuannya pun macem2. Bisa nutupin rasa obat yang gak enak. Soal disolusi jugah. Pokoknya tujuannya mah banyak. Umunya lebih mahal. Dan lebih spesifik.

Jika udah giniiii, otak kananku (heee…., secara potensial hemisfer otak memang dominan otak kanan niih) langsung melanglangbuana dan langung deeh men-detect analog. Hmm…, ingat tablet salut, aku jadi ingat aurat. Sama seperti tablet salut film yang tipis. Orang yang nutup auratnya rada2 ngasal (dan mentingin modis doang), yaaah..kayak si tablet salut film. Udah tipis, transparan lagi! Walaupun disalut, tetep ajah tuuh kliyatan “isi” nyaa! Pokoknya bentuk aslinya keliyatan banget! abiis, si tablet salut film kan tipis yaah.

Bedaaa ama salut gula! Si salut gula mah udah dibalut sekian kaliii, sehingga lekuk2nya gak keliyatan lagi! Lebih terjagaaa! Dan rasanya lebiih manis! (toh yang nyalutnya gula, tho??!). dan, jika udah gini, harganya lebih mahal doong! Begitulah perumpamaan muslimah2 yang mengenakan jilbab seperti yang disyari’atkan Allah. Yang bener2 nutupin. Insya Allah lebih terjaga. Dan, harganya lebih mahal doong! Gak gampangan ajaah di apa-apain sama orang. Mereka punyaa izzah dong!

Hmm…meski sama-sama disalut, tapi beda kan yaaah?
(eeih, kalo di obat, penyalutan film dan gula memiliki tujuna masing2 dan manfaat masing2 dan gak mungkin jugaa semua tablet dibikin salut gula kan yaah) tapiii, kalo soal aurat, mending para muslimah pake yang “salut gula” ajah! Pake yang bener2 nutupin. Percayalah, kamu itu terlalu berharga, saudariku! Jadiii, mari sukseskan gerakkan “berhijab dengan sebenar2 hijab!!” (heeee, dari kemaren ada gerakkannya mulu yaaah!hihi….)

Satu saja pesanku (untukku, untukmu dan untuk kita semua!) mari kita menjadi “salut gula! Bukan salut film!”
Okeh…okeh….okeh….?
Siiiiiip!


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِسَاء وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعا ً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. 
[An-Nuur : 31]
Read More

Untukmu yang Kusayangi...


Aaah…, saudariku…
Andai aku bisa lebih lama bersamamu,
Tertawa, bercanda, saling mengingatkan, saling menangis, saling menaggung beban…
Aah, andai saja bisa lebih lamaa….

Saudariku semuanyaa…
Sungguh, aku jadi mengerti kenapa Allah menyatakan betapa mahalnya harga ukhuwwah itu.
Sungguh, seluruh kekayaan bumi dan langit sekalipun takkan mampu membeli ukhuwaah yang indah ini…
Takkan mampu, karena sungguh ia lebih mahal dari itu semua…

Saudariku,
Jika saja lebih lamaa…
Tapiii, sungguh absurd jika kebersamaan itu akan lebih lama lagi DI DUNIA. Karena, betapa dinamisnya hidup ini.
Seperti yang sering kubahasakan,
Ia bagaikan rel kereta yang bersisian. Barangkali bersisian saat ini, tapii, suatu saat ak n ada jalan yang berbeda karena Allah tak pernah menciptakan kita semua di satu titik kordinat yang sama… Tak pernah ada satu garis yang sama. Dan kita pun akan bertemu dengan stasiun kita masing-masing dengan cara yang berbeda yang takkan pernahkita tau, kapan dan di mana. Di suatu hari yang pasti!

Makaaa, saudarikuuu…,
Diri ini –yang sebenarnya, bahkan tak pantas berharap surga--, tetap saja berharap, agar kita kembali disatukan-Nya, di jannah-Nya (semoga, Allahumma aamiin)

Tiadalah yang kuharapkan darimu semua, kecuali agar kita tetap menjaga kedekatan ini. tetap saling mengingatkan. Ingatkan aku. Ingatkan aku selalu saudariku. Sungguh, diri ini amat takut tergerus arus dahsyat. Ketika kita mesti survive—mesti harus tetep bertahan—dengan gelombang-gelombang yang menerjang. Do’akan kita agar tetap istiqomah yaaah. Do’akanlah…

Terima kasih, atas segala ukhwaah yang indah…
Aku bahagia bisa tertawa bersamamu….




Special buat saudari2ku semua, ukhty fillaah, akhwat temen2 SMA, akhwat Syakuro, akhwat Hurriyyah, Gank Rockers, Akhwat2 NRD’ers, akhwat2 FSI, akhwat2 FKI Rabbani, akhwat2 FLP’ers, akhwat2 AMR 2005, akhwat2 sesama blogger (waaah…, ukhuwwaah fi blog niih), akhwat2 sesama PKP, akhwat satu h*l*q** ku tercinta di Padanpanjang, Padang dan Bandung. Uni2 di wisma Tubagus. Semua-muanyaaaa dah! Aku gak bisa sebutkan lagi satu persatu. Aku cinta dirimu semuaaa, karena Allah. Terima kasih atas ukhuwaah yang indah ini.
Read More