Gadis Manis yang Menangis

Sepulang dari puskesmas beberapa waktu lalu, aku mampir sebentar ke TK IT Marhamah untuk bertemu seorang akhwat. Nah, karena angkotnya nda nyampe ke TK IT nya, aku harus jalan kaki deeh, dan jalannya melewati sebuah SMP Negeri. Sebut saja SMP X. Pas ngelewatin SMP itu, aku menjumpai seorang anak perempuan, masih 14 tahun kali yaah umurnya, gadis manis, tapi sedang berurai air mata. Awalnya aku mau cuek ajah. Toh, aku tak mau mencampuri urusan si gadis manis yang sedang menangis itu. Tapii, aku kayanya nda bisa diam deeh. Penasaran. Lagian, kasian jugaa ituu anak SMP nangis, kaya abis diusir dari kelas gituuh. Soalnya dia jalan pulang dan arahnya sama dengan arahku. Ya udah, bismillaah. Aku sapa si gadis manis berjilbab putih itu.

"Kenapa, Dek?"
"Dikerjain sama teman sekelas, Kak. Aku dibilang macam-macam gituuh, trus semua teman sekelas mengejek aku. Huk..huk..."
"Sekarang mau pulang ya? Apa kata gurunya?"
"Gurunya nyuruh pulang, Kak. Gurunya percaya sama apa yg dibilang teman-teman. Gak ada yang percaya sama aku kak."
"Udah bilang apa yang sebenernya kan Dek?"
"Iya Kak, aku sudah bilang. Tapi mereka tidak ada yang percaya."
"Sabar yaa Dek. Nanti kalo dah tenang, jelaskan baik-baik yaa sama gurunya."
"Iya kak, makasih yaa kak."

Okeh, kisah si gadis manis aku cukupkan sekian. Aku hanya sedang belajar mengambil analog, kisi dan pelajaran dari sepenggal kisah gadis manis berjilbab putih itu. Tentang apah? Iyaakkk bettoooll (siapa yang jawaab sih Fatheeel? hihihi...), Yapph, Tentang kepercayaan publik.
Sepertinya, memang, "hukuman" yang lebih berat itu adalah hukuman "publik".
Read More

30 Hari Kebersamaan Kita

Beberapa hari yang lalu, aku dapet SMS dari nomor yang tidak kukenal. Bunyinya lebih kurang begini :

Nah, kau yang sering menasehati tentang cinta dan keluarga; bersiaplah diuji tentang keluarga dan cinta. Bagi yang sering teriak anti korupsi; bersiaplah diiming-imingi korupsi.

Maaf nope nya belum kesimpan. Siapapun itulah, mungkin salah satu orang yang sempet baca tulisan ini, aku cuma pengin ngucepin terima kasih yang sebesar-besarnya atas nasihatnya. Syukran, jazakumullaahu khair telah mengingatkan aku. :)

Jadi ingat deh, kadang aku suka curhat tentang permasalahan keluarga di sini, di Blog ini. Ma shaa Allah. Memang sih, aku masi abal-abal lah yaa membahas yang begituan. Ilmu masi sedikit, nyaris nda ada. Kemarin-kemarin, waktu menuliskannya, menjadi praktisi pun belum. Hehe. Benar juga kata yang SMS itu. Hmm... tapi, setidaknya, dengan share apa yang kita rasain, setidaknya menjadi reminder bagi diri kta sendiri, ketika mungkin kita dihadapkan pada permasalahan yang serupa, meskipun barang kali kita belum sanggup untuk melaluinya seideal apa yang kita harapkan sebelumnya itu. Setidaknya, menjadi reminder bagi diri kita sendiri. Ya, diri kita sendiri terutama.

Read More

wanna be there with him

Alhamdulillaah... Kemarin (16 Mei 2013), aku bisa melihat Makkah Al-Mukarramah secara Live, meskipun lewat "kaca"--Skype--bersama Zaujiy yang kucintai dan walau pun cuma sebentar doang.
Ma shaa Allah, sungguh ingin diberi kesempatan oleh-Nya mengunjungi tanah Haram ini. And I Really wanna be there with him... I hope, I can be there soon with him, in shaa Allah... How I miss him so much... :)

Makkah Al Mukarramah, picture is taken by Da Ilden Abi Neri, May, 16th, 2013 10.49 am Makkah time

Read More

Selalu Saja Ada Kemudahan itu...

Ma shaa Allah, terharu rasanya. Terimakasih kepada bapak ibu guru, adik-adik sekalian, yang telah memudahkan jalan bagiku dan telah berpartisipasi dalam validasi videoku. Rasanya, aku tak membayangkan akan kemudahan ini setelah sebelumnya sempet mikir tujuh keliling bagaimana cara memvalidasi instrument penelitian yang satu ini. Jika dalam bentuk quesioner, mungkin di manapun bisa dilakukan. Hanya butuh 'device' pulpen dan kertas saja. Tetapi, kalo instrument nya adalah video, tentula membutuhkan banyak device lainnnya seperti listrik, infokus, laptop dan sederet lainnya. Alhamdulillaah, Allah mudahkan segalanya. Berasa sekali, setiap kesulitan itu PASTI ada kemudahannya. Jadi, aku harus optimis dan tetap semangaaattt!

Memang sih, sekarang sedang "berkejar-kejaran" dengan waktu. Kadang, seperti gelombang pasang surut deeh optimisme nya. Kadang optimis. Kadang ada juga sih rasa-rasa rada-rada pesimis. Keburu ndaa yaaahh? Keburu nda yaahhh??
Tapi apapun itu dan sampai di mana pun pada akhirnya, yang penting sekarang lakukan yang terbaik dulu dan tidak membuang-buang waktu yang memang sangat mepet ini. Setelah melakukan se-optimal mungkin, kemudian jika nda keburu, berarti pasti ada hikmah yang sedang dipersiapkan-Nya.
Kalau kata seseorang di belahan bumi Timur Tengah sana yang sangat kucintai :), Tetap optimis dan lakukan yang terbaik sebisanya, tapi jangan sampai bikin full stress. Just enjoy it :)
keywordnya : Just ENJOY it.

Toh, apapun itu setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita, segalanya telah Dia tetapkan. Pasti akan ada hikmah di balik segala sesuatu, setidakmenyenangkan apapun itu. Karena apa yang terlihat buruk, belumlah tentu buruk pada akhirnya. Sebab, pasti akan ada hikmah luar biasa yang mungkin hari ini belumlah kita ketahui. Sungguh, keterbatasan dan kedhaifan kitalah yang kemudian menilainya tidak baik. Padahal, boleh jadi di sana Allah memberikan kebaikan yang banyak. Kejadian yang tidak menyenangkan semisal terlambat lulus kuliah, bukan berarti selalu buruk pada akhirnya. Sebab, akan ada hikmahnya, yang hari ini belumlah kita ketahui. Asalkan, kita telah berupaya untuk melakukan sebaik yang kita bisa. Dan lagi, bukankah sudah begitu banyak contoh nyatanya dan bahkan selalu saja begituu, bahwasannya--sekali lagi--Selalu saja ada kemudahan yang menyertai kesulitan. (Ini nasihat untuk diriku sendiri terutama.)

Hayooo Semangaaaattt!!
Semangatesis!
Read More

Bahagia itu... Sederhana

Bahagia.
Setiap orang--siapapun itu--dalam kehidupannya pastilah menginginkan kebahagiaan. Ya, bahkan ada yang rela "membeli" kebahagiaan itu di berbagai tempat. "Saya membayar sekian, agar mendapat pelayanan sekian, oleh sebab itu, saya bahagia." Tapi benarkah demikian? Sayang sekali, ternyata anggapan bahwa bahagia itu linear dengan banyaknya uang yang dimiliki atau seberapa harus membayar kebahagiaan mungkin masih melekat di pikiran kita. Padahal, tidak selalu--bahkan lebih sering--kebahagiaan itu tak terukur dengan mata uang. Bahkan hal-hal sederhana sekalipun, justru lebih menghadirkan kebahagiaan. Sebab bahagia bukan soal uang, tapi ini soal hati.

Apakah seseorang berpenghasilan puluhan juta satu bulan, tinggal di istana mewah, apapun yang diingini tersedia, ada banyak pelayan-pelayan yang loyal, lantas kita menilai dia bahagia? Belum tentu! Dan apakah seseorang yang tinggal di rumah sederhana, lalu apapun tidak selalu available lantas dia tidak berbagaia. Belum tentu! Lagi-lagi, ini soal hati. Dan aku rasa, pernyataan yang aku sebutkan di atas adalah pernyataan klise. Aku yakin, kamu sekalian sebenarnya juga sudah tau dan--dengan sedikit agak memaksa--sependapat denganku. Hihi... Maksa bangeet yaahh. Kalo nda sepakat sih boleh ajah sih yaa, asalkan jangan suka memplintir fakta di halayak publik padahal mata penonton juga tidak buta dan tidak semua orang juga bisa dibodohi. Kadang, yang membodohi itu justru lebih terlihat bodoh. Entahlah... *Agak gerraaam sih melihat pemberitaan di media yang suka aneh-aneh. Aku sih sejujurnya tak berhak menjustifikasi begini, apalagi yang aku tahu informasinya cuma sepotong-sepotong. Tapi, maafkanlah...aku agak sedikit kecewa saja dengan pemberitaan di media yang sarat dengan unsur kepentingan entah untuk siapa. Apakah karena 2014 itu sebentar lagi? Entahlah. Tapi, aku sangat yakin bahwa kebenaran itu akan menunjukan diri dengan caranya sendiri.
*Ups, tadinya ngomongin bahagia, ko malah jalan-jalan ke topik media sih? Hehe... Okeh, back to topic lagi deh.

Banyak hal-hal sederhana yang justru menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa. Dalam kehidupan suami-istri misalnya. Eheeeemm.... (silahkan ber-ehem riaa. Nda dilarang ko hihi :P). Kebahagiaan itu bukanlah saat si suami memberikan intan berlian, rumah mewah, mobil baru. Bukaan. Sama sekali bukan. Jika hanya sebatas itu, sungguh "terlalu murah" harganya sebuah kebahagiaan. Sebab, ketika tak ada intan berlian, tak ada mobil baru, tak ada rumah mewah, akan berarti tidak berbahagia kan yah?
Kebahagiaan itu, justru datang dari hal-hal yang mungkin kita nilai sederhana. Tapi di sanalah justru letak nilai kebahagiaan itu. Sederhana. Sederhana saja. Siapapun dapat melakukannya.
Sebuah senyuman misalnya. Itu sungguh mendatangkan kebahagiaan yang menentramkan jiwa-jiwa kita.
Read More

Pernikahan Itu...

Alhamdulillaah, tsumma alhamdulillaah...
Sungguh, tak ada perbendaharaan kata-kata lagi yang dapat mewakili segenap rasa di hati ini.
Kesyukuran kepada Rabb, yang telah mempertemukan kami dalam ikatan pernikahan. Sungguh, ini adalah sunnah rasul-Nya yang indah. Bagaimana indahnya? Mungkin aku bukanlah orang yang berkafaah untuk menuliskannya dan lagi engkau semua mungkin sudah dapat membacanya dari berbagai buku. Akan tetapi, indahnya hanyalah bisa dirasakan oleh orang-orang yang mengalaminya. Hehe. Seumpama seseorang mendeskripsikan bagaimana manisnya buah delima. Oke, semua orang mungkin akan bersepakat bahwa delima itu manis. Akan tetapi, tentang bagaimana rasanya, hanya orang-orang yang pernah menyicipinya sajalah yang dapat merasakannya. Pun begitu dengan pernikahan. Maka, mungkin banyak yang menyesali : mengapa tidak dari dulu saja? hihi :D

Sekali lagi, aku bukanlah orang yang faqih untuk menjelaskan mengenai pernikahan, karena kami masihlah "bau kencur" alias "pendatang baru" yang masihlah miskin pengalaman. Tapi, ijinkanlah aku sekedar bercerita. Ya, sekedar bercerita saja. Siapapun boleh mengoreksi jika sekiranya ada di antara apa yang kutuliskan ini terdapat kesalahan. Dan sungguh, aku berterima kasih atas itu.

Read More

Ternyata...

ternyata jatuh cinta itu... benar-benar indah.

*maaf yah bloggie, aku tak punya perbendaharaan kata lagi utk mewakilkan segenap rasa di hati ini... jadi kali ini cukup sekian saja ngeblog nya... hehehe


Banda International minang kabau, 25 April 2013 with my lovely hubby... satu sosok terbaik yg telah dipilihkan-Nya dan telah membuatku benar-benar jatuh cinta padanya :)

Read More

Undangan Walimatul 'Ursy Ilden & Fathel

Assalaamu’alaykum Warohmatullaah Wabarokaatuh

Dengan mengharap segenap rahmat, barokah dan ridho-Nya, in sha Allah akan menikah :
Ilden Abi Neri (Ilden)
dengan
Fathelvi Mudaris (Fathel)

Aqad Nikah in sha Allah akan dilaksanakan pada :
Hari Jum’at, 19 April 2013 di Masjid Al-Mukarramah, IV Jorong, Muara Labuh, Kab. Solok Selatan.

Tanpa mengurangi rasa hormat, ijinkanlah kami melalui media ini mengundang Bapak/Ibu/Saudara/saudari sekalian untuk dapat menghadiri dan memberikan do’a restu dalam acara Walimatul ‘Ursy yang in sha Allah akan dilaksanakan pada :

Walimatul ‘Ursy 1 :

Sabtu, 20 April 2013 jam 10.00 WIB di Limau Sundai IV Jorong Nagari Pasir Talang Selatan, Kec. Sungai Pagu, Kab. Solok Selatan

Walimatul ‘Ursy 2 :

Senin, 22 April 2013 jam 10.00 WIB di Jln. Angku Lareh No. 79, Dusun Gobah, Jorong Tangah Koto, Nagari Sungai Pua, Kab. Agam

Adalah suatu kehormatan bagi kami jika Bapak/Ibu/Saudara/saudari berkenan hadir dan memberikan do’a restu.

Selengkapnya, silakan kunjungi wedding website kami :
(Denah Lokasi Walimatul ‘Ursy terlampir di Website)

Wassalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokaatuh


-Ilden & Fathel-

Read More

Menu Penyemangat: Sayur Kaldu

Menu hari iniiii.... sayur kaldu dan ikan baladooo. Ihihi... :D
Baiklaah Bloggieeee, mari rehat sejenak dari tesisong... ;) dan kita cerita-cerita yang gurih ajah yah. Ehehe... (Cerita yg gurih apaan coba?! -_-")

Senin dan kamis adalah hari pakan (hari pasar) di kampuang tercinta. Tidak seperti kota besar yang setiap harinya pasar selalu ON, di kampuangku (yang mungkin agak terpelosok dari pusat kota, hihihi) hari pasar hanyalah pada hari-hari tertentu saja. Dan hari itu adalah hari Senin dan Kamis. Pada dua hari inilah para ibu-ibu, emak-emak, amai-amai, pada berbelanja ke pasar demi asap dapur tetep mengepul. Hehehe...
Aku ikut ambil bagian euy, setidaknya sekalian untuk stok sampai hari Rabu, insha Allah. Kan kamis udah hari pasar lagi. Hehehe... Tapi baru bisa ke pasarnya ba'da dzuhur karena harus ke puskesmas dulu buat melanjutkan perjuangan tesis. (di puskesmas, Ngobrol sama kepala puskesmasnya --> ibu dokter yang pinteerr itu, open minded banget dah. Jadi tertampar rasanya, mereka saja yang bukan aseli sini sangat memikirkan bagaimana agar pengobatan di kampungku ini rasional. Lah, aku sendiri yang aseli sini, malah ngabur kemana-mana. Heuu... Ntar deh kapan2 insha Allah cerita tentang pengobatan yang rasional ini. Alhamdulillaah seneng bet rasanya bisa ketemu orang-orang yang tetap bertahan di ranah "idealis". Maksudnya, tidak money oriented melainkan memikirkan bagaimana agar pengobatan pasien itu adalah sebaik-baik pilihan. Bukan "menggadai" profesi demi uang. Ini bisa jadi ceritaa panjang sendiri niih. Hehe).
Nah, ternyata ba'da dzuhur itu dagangan para pedagang sudah mulai habis. Menurut penuturan anak dari ibu tetangga akuu (ribet banget yak? hihi), emaknya jam 9 pagi udah pulang dari pasar. Euumm, pantesan jam 1 udah pada abis itu dagangan.
Aku udah niat banget mau bikin sayur kaldu yang ada jagung manisnya buat hari ini. Pokonya aku ituuh pengen banget babycorn. Kebayaaang deeh sayur segeerr, bening, menjadi menu hari inii. Heuu... Tapi babycorn (seenggaknya jagung muda yang manis) itu kaga nemu-nemu. Cuma ketemu 1 penjual jagung dan itu pun jagungnya udah agak tua. Kali jagungnya enak dibikin perkedel ketimbang sayur kaldu. Tapi aku lagi nda minat bikin perkedel sekarang. Pengen yang seger-seger. Hehehe... Yah, dari pada enggak ada sama sekali, mending aye beli ajah ntu jagung. Alhamdulillaah, masih bisa pilih-pilih yang paling muda. Soalnya udah ngebet banget pengen bikin sayur kaldu yang ada jagungnya. Hihi...
Read More