Konspirasi oh Konspirasi Obat

Hmm... sejujurnya dulu aku termasuk orang yang Antivaksin. Hehe... Ga fully anti sih. Alasannya sederhana, itu adalah karena salah satu dosen favoritku dulu adalah seorang anvaks. Karena beliau adalah dosen yang menurutku sangat cerdas, inspiratif dan dengan beberan panjang data ilmiah yang disajikan, beliau mulai "menysusupkan" tentang ketidakamanan vaksin lewat materi kuliah. Jika sumbernya bukan dari seorang clinical pharmacist yang pernah bekerja di perusahaan obat (yang notabene mengetahui seluk beluk dunia produksi obat), tentu aku takkan mudah percaya. Bahkan, aku juga ikut "mengkampanyekan" penolakan penggunaan vaksin ini. (Deuuh... Semoga ga banyak yang tersesatkan olehku yaa.)
Sekian lama waktu berlalu, akhirnya aku menyadari bahwa aku telah keliru. Banyak sumber yang kemudian membuatku menyakini bahwa, sebenarnya vaksinasi itu penting.

Baiklah, aku ga akan membahas lebih lanjut tentang vaksinasi di sini. Akan tetapi, mengenai sesuatu yang cukup "menggelitik". Hehe
========================

Ga sengaja terdampar pada sebuah diskusi (apa perdebatan yaa?) antara dua 'kubu' yaitu yang pro dengan vaksinasi dan pengobatan moderen (konvensional) dengan 'kubu' yang kontra vaksinasi dan pengobatan moderen.

Kalimat yang menarik adalah, "vaksinasi dan pengobatan modern itu tak lain hanyalah konspirasi AS belaka. Lebih baik kembali ke pengobatan herbal yang lebih aman, bebas dari efek samping." Atau, "pengobatan modern itu terlalu banyak zat kimianya yang menimbulkan efek samping. Lebih baik yang alami saja."
(Ini redaksionalnya berbeda, tapi intinya adalah sebagian orang yang menolak menggunakan obat modern menggunakan dalih bahwa itu konspirasi dan sebaiknya menggunakan obat herbal).

Sy mencoba sedikit berkomentar di sisi sebagai seorang pharmacist (meskipun sy masih memiliki sedikit pengetahuan dan memang masih harus banyak belajar).

Read More

Cara Mengurangi Mual Muntah Saat Hamil

a fresh lemonade :)
Sebagian besar wanita hamil (terutama di trimester pertama) merasakan apa itu yang disebut nausea vomiting. Mual dan muntah. Aku salah satunya. Melewati trimester pertama kehamilan terasa cukup berat bagiku. Mual dan muntah berat. Badan terasa lemas dan dalam waktu sebentar saja(skitar 3 minggu-an), aku mengalami severe lost weight. Sampai 10 kg. Tak sesuap pun makanan berkarbohidrat berhasil menuju lambung. Jika pun ada, sebentar kemudian dikeluarkan lagi dengan cara yang sama sekali tidak enak: muntah.

Aku dan suami sampai bingung, makanan apa yaa yang kira-kira bisa kumakan. Meskipun aku tau, suamiku akan mengabulkan apa saja makanan yang kuminta (terima kasih, Cinta), aku tidak menunjukkan minat sama sekali untuk makan. Dulu rendang begitu menggiurkan..., namun tetiba ingin sekali menutup hidung menciumi aroma rendang. Apapun makanannya--yang khas Padang saja-- ga minat, apalagi citarasa Arab, India dan Pakistan (yang sangat berhasil menstimulasi vomiting). Terasa berat sekali perjuangan seorang ibu...
*jd kangen ibuu...hehe...
Read More

Belasan Tahun Berlalu

Belasan tahun berlalu. Di mana aku tidak tahu, entah siapa yang telah memoles wajah lugu itu menjadi begitu terlihat "mengerikan" di mataku. Mungkin sebagian orang menganggap itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi... tidak bagiku...
Itu sangatlah memprihatinkan.

Belasan tahun berlalu. Dulu semasa kecil bermain bersama. Sekian jeda tahun, seakan telah luput. Tak pernah bersua. Jika pun bersua, hanyalah sekejap mata. Tapi seperti kejadian ajaib. Setelah sekian lama jeda waktu terhitung tahun itu, wajah yang dulunya lugu, polos, tidak mengerti arti make over, apalagi pakaian minim, kini membuatku begitu terhenyak. Hanya secarik kain kekurangan bahan yang menutupi tubuh itu. Kerudung hanya formalitas. Sekali dipakai, lain kali berganti dengan gaya--yang katanya--sangat modis. Modis ya modis ala kebarat-baratan. Rok yang hanya 10 senti, baju tanpa lengan. Pernah pula tak sengaja... berjumpa potretnya tengah bersama seorang lelaki yang pasti bukanlah suaminya karen ia belum menikah. Dan posenya itu... sungguh memilukan...

Termanguku di sudut sepi. Alangkah mahalnya hidayah itu... alangkah mahalnya... Meski aku belumlah purna, belumlah bisa menjadi lebih baik... tapi hati ini tetap miris... Miris menyaksikan pemandangan dari kejauhan... tentang wajah lugu yang kini sudah tak kukenali lagi. Tak kukenali lagi, siapa dia, jauh... dan sungguh jauh... Dan mungkin... aku terlalu terlambat untuk menyadarinya... setelah sekian lama waktu berlalu.... setelah belasan tahun...

Semoga.... semoga... semoga hidayah senantiasa terlimpah atasku dan keluargaku... dan juga semoga hidayah menghampirinya... menarik secarik kain singkat... agar menutupi seluruh tubuhnya...menghapus seluruh aksesori warna warni di wajahnya...berganti wajah bersahaja, wajah teduh, wajah polos sebagaimana yang kujumpai belasan tahun silam...

Read More

Alhamdulillah...

Alhamdulillaah... alhamdulillaah... tsumma alhamdulillaah...
Tiada kata selain syukur yang teramat dalam ke hadirat-Nya. Allah telah karuniakan untukku suami terbaik yang senantiasa membuatku bersyukur dengan kehadirannya, mengisi separuh jiwaku.
Alhamdulillaah....

Perjuangan ini ternyata tidak semudah bayanganku. Ketika berhadapan dengan nausea, vomiting, fatigue yang persistent (semoga untuk 3 bulan permulaan saja). Sungguh support dari suamilah yang banyak menguatkanku. Terima kasih ya Allah... Terima kasih Cintaku...

Riyadh, 1st Anniversary, 19-04-2014
Satu tahun yang indah bersamamu... :)

Read More

The Peak of Lost Appetite

Agaknya sudah lama menghilang dr dunia perblogeran. Dan sudah hampir 3 minggu pula si lepi tidak tersentuh. Hehe... alasannya sederhana; lost of appetite dan tetiba.... "hueeeekk...hueeeekk"

Tapi tetap smangaaaatttt doong... ini sungguh perjuangan yang luar biasaaaa... makanya menjalaninya dg penuh semangaaaattt...

(Heh? Tulisannya segini doang?? Nanti yaa in syaa Allah kita lanjut lagi cerita2nya)

Read More

Seharusnya...

Suatu malam yang membuatku sangat menyesal adalah terlalu serius menanggapi diskusi (yang layaknya disebut perdebatan). Menyesal telah menghabiskan banyak energi sementara "mereka" merasa yang paling suci, yang paling sunnah, yang paling bener tidak pernah merasa salah, tak sedikitpun cela pada diri mereka. Merekalah yang paling benar. Bahkan, hilanglah sopan santun dan keluarlah kata-kata "aslinya". Katanya sih buat mengingatkan, tapi koq yaa kata-katanya itu lho... jauh dari sopan. Subhanallah...

Pembahasan itu, seharusnya tidak udah lagi dibahas. Toh, masing-masing memang punya landasan dalam melakukan sesuatu. Hal yang paling membuatku menyesal adalah aku telah menghabiskan waktu, menguras energi untuk menanggapi sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanggapi.

Selang beberapa saat setelahnya, datang pula komentar di jejaring maya dari "manusia sebangsa"nya yang kata-katanya--subhanallah--sangat "indah". Saking indahnya, kita tidak bisa lagi membedakan apakah kata-kata itu berasal dari lisan orang yang katanya paling lurus, paling ikut sunnah, paling benar dengan bahasa sumpah serapah di pasaran. Penuh caci maki dan emosi.

Aku tidak menggeneralisir semuanya sama, toh aku juga bersahabat baik dengan sebagian lainnya. Sekali lagi tidak semua, hanya sebagian. Tapi aku menemukan beberapa dari mereka berbahasa sedemikian rupa, seolah merekalah yang paling benar, paling suci, tidak pernah salah... Mereka mengatakan, tidak "berkelompok", tapi sejatinya mereka tengah "mengelompokkan" orang selain golongannya bukanlah orang baik, ga ngikutin sunnah rasul dan judgemen lainnya.

"Ga usah terlalu ditanggapin serius lah. Ngabisin energi aja. Lebih baik kita lalukan yang terbaik, apa yang kita bisa." Kata suamiku. Hehe... iya yah. Ngabisin energi ajah... seharusnya ga perlu ditanggapi serius yaa? ;)

Read More

#CoblosPKSno3

Wah, tidak berasa yaa, besok udah PEMILU.
Semoga Allah menangkan orang-orang yang memperjuangkan agama-Nya di muka bumi Indonesia ini.
Jika dari "kalangan mereka" begitu penuh perjuangannya menengakkan "millah" mereka, masa sih kita tidak ikut berjuang untuk menegakkan Ad-diin ini di tataran pengambil keputusan dalam bernegara?
Sebenarnya agak sedikit menyesal, belum banyak kontribusi aku dalam perjuangan "memenangkan" orang-orang yang menegakkan Ad-din ini, sementara pihak "seberang" sebegitu gencarnya... :(

Dalam Islam, jangankan politik dan urusan kenegaraan, masuk WC aja ada aturannya... Dan mengambil bagian dari politik adalah salah satu hal yang dianjurkan oleh Ad-din yang mulia ini. Salah satu "instrumen"nya adalah dengan bergabung dalam parlemen. "Merebut" suara agar keberpihakannya adalah kepada Islam, rahmatan lil 'alamiin. Menjadi bagian dari parlemen, bukanlah tujuan utama, bukanlah sebuah ambisi, bukan segala-galanya, melainkan sebuah jalan, sebuah wasilah, sebuah instrument. Kita tidak menjadikan demokrasi segala-galanya, tapi hanyalah sebuah instrument... Sayangnya, ada sekelompok orang yang "mencekal" dan "mengembosi" hal ini. Ya, masing-masing memang punya ijtihadnya. Hanya saja, sampai menuduh pihak yang berjuang di jalan ini sebagai orang yang mengambil jalan haram? Sampai mengkafirkan?  Apakah hanya sekelompok orang tersebut saja kah yang paling benar lantas yang lain salah? Subhanallah...

Ya memang tidak masalah perbedaan ini ada, toh di jaman Rasulullaah juga sudah ada perbedaan semacam ini. Hanya saja, menyedihkan sekali jika ini malah memicu perpecahan. Lagian, aku tidak terlalu suka menghabiskan energi untuk membahas perbedaan-perbedaan ini (selain memang tidak punya kafaah ilmu di bidang ini). Lebih baik fokus untuk memenangkan perjuangan ini. Mengurusi hal tersebut hanya menguras energi dan menghabiskan waktu saja sementara memperdebatkannya seolah tidak ada ujungnya. Masing-masing kekeuh dengan pendapatnya. Masing-masing merasa diri paling benar. Astaghfirullah... Lebih baik fokus, fokus, dan fokus untuk memperjuangkan dan memenangkan kebenaran yang kita yakini.

Jika ada sebagian yg berpendapat bahwa mengikuti pemilu adalah karena agar mudharat yg ditimbulkan lebih kecil, maka pastilah ada sebagiannya lagi yg memang bekerja dan berjuang untuk mengecilkan mudharat itu...

Sebab ada kata "mengecilkan mudharat", maka pastilah karena ada "pelaku" yang mengecilkan mudharat itu...Tidak mungkin tetiba ada pernyataan "mengecilkan mudharat" sementara tidak ada yg berjuang untuk itu...

Maka ketika ada pilihan untuk memilih atau ikut berjuang, bagiku adalah pilihan terbaik menjadi bagian dr orang2 yg memperjuangkan apa yang disebut "memperkecil mudharat" tersebut. In syaa Allah...
Allahu'alam bish showab...

Aku berdo'a, semoga pemimpin yang terbaik yang terpilih pada pemilu ini adalah orang-orang yang tulus memperjuangkan agama ini dan negara ini. Hingga saat ini, yang terbaik menurutku adalah PKS. Semoga Allah memenangkan partai dakwah ini... Semoga Allah menjaga mereka dari godaan dunia dan benar-benar berjuang menegakkan Ad-Diin ini... Allahuakbar!!!

Jadi, #CoblosPKSno3 :)

Read More

Kamu Pembantu Yaa?

Suatu ketika aku sedang berada di Riyalin bersama suami. Pas lagi di dekat counter sofa lesehan kalo ga salah, kita berdua lagi asyik membicarakan seusuatu yang kita amati bersama. Kebetulan, niqab aku lagi aku buka. Deuuhh nyesel jadinya. Nah, tiba-tiba, ada seorang wanita berniqab (sepertinya penduduk lokal Saudi) mendekati kami, lalu dia berbicara panjang lebar entah apa yang dibicarakannya. Mana gue ngerti!! Hehe... Itu bahasa Arab amiyah yang bukan baku deh.

Trus tiba-tiba suamiku bilang, "Zaujatiy." Selepas suamiku bilang begitu, dia segera berlalu tanpa sepatah kata pun.

Aku tanya suami, tadi si ibu bilang apa? *penasaran*
Suamiku jawab, "sepertinya dia lagi cari pembantu, TKW asal Indonesia gitu."
"Whaat??" Aku kaget. Hehe...

Read More

Shopping Pattern

"Come on. Cashier will be closed soon." Kata petugas di salah satu hipermarket tempat kami berbelanja bulanan tadi siang, mengingatkan. Spontan liat jam. Jam menunjukkan sekitaran 10.30 am. Segeralah aku dan suami memburu kasir. Jika tidak, maka waktu 1 jam lebih yang kami habiskan di hypermart menjadi sia-sia belaka. Mengapa demikian? Ini adalah hal yang menarik bagiku. In syaa Allah nanti kita cerita yaaa...

Ngomong-ngomong, setidaknya ada dua hal yang menarik untuk aku cermati mengenai dunia perbelanjaan di sini. Ini soal kultur masyarakat di mana hal yang pertama sangat positif dan hal kedua bisa positif dan bisa juga negatif, tergantung individualnya. Hehehe...

Hal menarik dan hal sangat positif pertama yaitu seperti aku uraikan di paragraf pembuka. Ketika jam sholat apalagi sholat jum'at, pusat-pusat perbelanjaan akan segera tutup (ini sudah kuceritakan juga sebelumnya). Tapinya, pas hari Jum'at (hari libur week end di Saudi), kadang-kadang kebanyakan toko atau pusat perbelanjaan tutup sebelum jum'atan. Atau, setidaknya, jam 10.30 itu udah batas akhir (kecualitempat-tempat tertentu, tapi umumnya begitu), padahal waktu dzuhur jam 12-an lewat. Tapi sesungguhnya ini tidaklah masalah. Ma fii musykila. Justru adalah sebuah kebiasaan yang bagus, ketika jam shalat, semua cecowokan pada solat di Masjid. Masjid yang selalu ramai. Ahh, rindu suasana seperti ini hadir di Indonesia tercinta
[Hehe, perasaaan, ini udah aku tulisin juga yaa sebelumnya. Ini saking excited nya aku. Sampai sekarang tetap excited dengan habbit yang bagus ini. Sampai-sampai di Blog pun ditulis berulang kali. Semoga ga bosan yaa...:) ]

Hal menarik kedua adalah tentang kultur kehidupan di Saudi mengharuskan para suami ikut menemani istri belanja. Jika di Indonesia, ngacir ke pasar tradisional atau hypermarket terdekat adalah hal yang mudah dan lumrah untuk dilakukan. Lain halnya dengan di sini. Kenapa ada hal positif negatifnya. Hal positifnya adalah alokasi waktu untuk berada di pusat perbelanjaan jadi sebentar dan pengeluaran tidak membengkak karena tidak membeli barang-barang yang di luar list yang sudah ditetapkan. Hal negatifnya adalah bagi sebagian wanita, ini akan menimbulkan semacam shopping stress. Ehh istilahnya aneh yaa? Hehe... Kenapa demikian? Yuuk simaaak, bagi yang masi penasaran :P

Pada banyak kejadian, para istri-istri sering mengeluh, "Deuuh koq suamiku ga mau yaa berlama-lama diajakin belanja. Padahal aku masih mau milih-milih lagi." atau, "Duh, ga konsen nih belanjaa, ditanyain mulu 'udah belum'. Kayak dikejar-kejar waktu." Dan banyak curhatan lainnya yang semacam shopping stress (istilah ini nda patent loh yaa). Setidaknya, hampir 90 % wanita mengeluhkan hal ini. Keluhan ini semakin kentara ketika di Saudi di mana suami harus menemani istri. Jadi suami "terpaksa" harus ikut muter-muter nemenin istrinya. Heuu... Hal itu tentu juga menimbulkan "shopping stress" bagi si suami yang terbiasa simple.

Dulu aku suka heran, kenapa ayahku selalu berpesan ketika mengantarkan ibuku berbelanja di Pasar. Pesan ayah, "jangan lama-lama yaa..."
Nah, sekarang pas dianter suami berbelanja, suamiku juga bilang, "jangan lama-lama yaa..."
Gubrak!

Suatu ketika, suamiku ngakak liat layar HP, lalu tiba-tiba menyodorkannya kepadaku. "Lihat ini nih." Kata suamiku sambil ketawa. Ini nih gambar yang diliatin suamiku ke aku.
Shopping pattern; gambar yang bikin suamiku ngakak.
Picture by STORE92
Hahahaa....
Ternyata gituuu yaa shopping pattern antara laki-laki dan wanita. Hampir 95 % kali yaa wanita seperti itu dan laki-laki seperti itu. Hampir semua teman-temanku mengaminkan gambar di atas, sambil angguk-angguk dan bergumam; "Gue bangeet"!! Hihihi. Awalnya liat barang A bagus, trus telusuri lagi dan lagi, berharap ada barang B, C, D dan seterusnya... yang lebih bagus. Eh, ternyata pilihan jatuh kepada yang pertama si barang A yang memang paling bagus. Pas mau balik ke tempat barang A, jalannya panjaaaang buangeeett, mampir di sana sini dulu, liat ini itu duluuu...Hahaha :D
Kadang pun,udah bikin list A, B, C, D eeh malah pulang bawa barang U,V, W, X, Y, Z... ahahaha :D. Wanita... wanitaa...
Kalo para pria, cendrung lebih simple dan easy, tidak suka berbelanja jauh-jauh cukup yang terdekat saja, ambil yang penting yang memang sudah diniatkan, 15 menit kholas! Hee... :D

Yaa, kesimpulannya, setidaknya kita masih termasuk "wanita normal" yang pattern berbelanjanya seperti itu :P :P :P
*ini bukan pembenaran loh yaaa... ahahaha :))
Read More