First Trial : Onde-Onde

Onde-Onde ala Akuuuu :))
Puasa plus hamil kadang membuat ngidam menjadi kuadrat alias dua kali lipat. Hehe...
Kemarin, tetiba pengen banget yang namanya "Onde-Onde" (baca : klepon).
Jika dulu ketika kepengen, cukup ambil kunci motor,tancap gas ke pasar. Tak cukup setengah jam, sebungkus onde-onde hangat pun siap disantap (ehh... masi puasa yak? Pas buka maksudnya. Hehe...).
Sekarang tentu sangat sangat sangat tidak mungkin mempraktekkan hal yang sama. Mau cari di mana itu onde-onde? Hanya momen-momen tertentu saja ada bazar makanan indonesia. Itu pun belum tentu si onde-ondenya ikutan bazar. Paling pas pilpres misalnya atau kalau ada komunitas tertentu yang ngadain acara. Yah, alhamdulillaah... pada akhirnya memang tidak punya pilihan lain selain : bikin sendiri. Ya... alhamdulillaah... kalau tidak begini, aku rasanya tidak akan pernah belajar bikin onde-onde sendiri. :)

Salah satu hal yang disyukuri dengan kondisi yang membuat "inspirasi dalam keterpaksaan" ini adalah bahwa mau ga mau, kita jadi harus banyak belajar untuk berkreasi. Terpaksa harus jika memang ingin!
Dulu, ahh mana mungkin aku kepikiran mau bikin sendiri yang namanya bakwan, martabak, klepon, soto, lotek, daaaaaan banyak lagi. Boro-boro, masak yang penting-penting aja kaga. Apalagi cemilan. Mumpung masi bisa beli, kenapa harus bikin? <-- males banget yak? Ahaha...
Read More

Bangsaku Bangsa Pembantu?

Sebagai salah satu ekspatriat yang berada di negeri gurun, Saudi, saya punya pengalaman menarik sekaligus memilukan soal anggapan masyarakat lokal terhadap bangsa Indonesia. Suatu ketika di toilet rumah sakit, saya berjumpa dengan seorang wanita yang sepertinya adalah penduduk asli Saudi. Wanita itu mengajak bercakap-cakap. Dia bertanya, "Philipino?" Maksudnya "orang Philiphine?" Saya Jawab, "Ana Indonesi." Maksudnya saya orang Indonesia. Tapi, percakapan selanjutnya sungguh saya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya. Saya coba bertanya apa maksudnya dengan bahasa Inggris, gantian dia yang tidak mengerti. Dan akhirnya--karena kesulitan berbahasa verbal oleh sebab kita saling tidak mengerti--wanita itu kemudian menggunakan bahasa 'pantomim', melakukan gerakan tertentu agar saya memahami maksudnya. Wanita itu menirukan gerakan membersihkan westafel. Kemudian saya menyadari maksudnya adalah, "Apakah kamu pekerja domestik (pembantu)?" atau "Apakah kamu bisa mencarikan saya pembantu?"

Kejadian serupa tidak hanya terjadi kali itu. Tapi di banyak kesempatan lainnya, di pusat perbelanjaan, di perumahan, begitu melihat wajah kami (saya dan suami) yang Indonesia banget, hal yang paling sering mereka tanyakan adalah apakah saya pembantu atau mereka tengah mencari seorang pembantu dan minta tolong dicarikan pembantu. Dan kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi cukup sering.


Kenyataan ini membuat saya menjadi sangat sedih. Saya sedih bukan karena dibilang pekerja domestik (pembantu). Bukan! Sama sekali bukan. Saya juga tidak mengatakan bahwa saya lebih baik dari pembantu karena kemuliaan seseorang bukanlah terletak pada jenis profesinya, melainkan ketakwaannya. Saya sedih karena ternyata pandangan penduduk lokal sini terhadap Indonesiaku tercinta terlalu merendahkan (bukan merendahkan profesi pekerja domestik tapi mereka menganggap Indonesia hanyalah bangsa pembantu, bangsa babu). Walaupun seperti yang saya bilang sebelumnya, derajat seseorang adalah berdasar taqwa bukan profesi, akan tetapi anggapan yang sudah jamak di masyarakat sini itu tetap saja sangat menyakitkan bagiku bahwa : ekspatriat yang datang dari Indonesia itu, profesinya adalah pembantu. Walaupun sebenarnya di Saudi juga banyak ekspatriat yang bekerja di sektor formal, akan tetapi pekerja di bidang domestik tetap jauh lebih banyak. Sehingga, anggapan itu sepertinya sudah "mendarah daging". Menyedihkan, bukan?





Siapa yang rela, bangsanya dinilai serendah itu? Saya sungguh tidak rela. Bagaimana solusinya? Ah, memang ini adalah urusan pemerintah yang memiliki wewenang. Akan tetapi, sebagai salah satu rakyat yang mencintai negerinya, Indonesia, setidaknya ada tiga hal yang ingin saya suarakan (meskipun saat ini saya tidak tahu apakah suara saya akan didengar atau tidak). Saya menyuarakan ini sebab semata kecintaan saya pada negeri Indonesia.
Pertama, jika memang pekerja sektor domestik tetap dipertahankan, harus ada ketegasan dari pemerintah baik secara eksternal dalam bentuk kerjasama bilateral antar kedua negara maupun internal dengan melakukan regulasi yang mumpuni dan menindak tegas calo-calo buruh migran yang nakal. Harus ada penjaminan keamanan, kesehatan dan kejelasan soal gaji serta dokumen yang resmi (tanpa melewati calo-calo). Jangan sampai ada yang masuk lewat "pintu belakang" yang nantinya akan merugikan TKI sendiri. Ketegasan pemerintah di sini benar-benar sangat diperlukan.

Kedua, moratorium pengiriman pekerja sektor domestik ke negeri gurun ini sebaiknya memang tetap dipertahankan. Sungguh, alangkah lebih baiknya, pekerja yang dikirim adalah pekerja yang memang memiliki skills atau pekerja-pekerja di sektor formal, agar bangsa ini tidak selalu di cap sebagai bangsa pembantu. Percayalah, adanya kesan bahwa bangsa ini adalah 'bangsa pembantu' bukan muncul begitu saja. Tak mungkin ada asap tanpa api. Pasti karena mereka melihat begitulah fakta yang ada di lapangan. Apalagi kebijakan di negara ini jauh berbeda dengan negara kita sendiri. Banyak dari kebijakan itu yang menyulitkan pekerja-pekerja sektor domestik. Pada tahun 2013 lalu, ribuan TKI overstay dipulangkan ke Indonesia karena tidak memiliki dokumen yang lengkap. Lalu, setelah rentetan masalah tersebut, apakah kita akan kembali mengirimkan pekerja domestik lalu kembali akan dihadapkan pada masalah yang sama?


Ketiga, penyediaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja yang lebih besar di negeri sendiri, Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, terkadang kita tidak punya pilihan di negeri sendiri dan kesempatan bekerja di negeri orang terlihat sangat menggiurkan, maka pilihan kita jatuh pada opsi kedua dengan segala konsekuensinya. Hal ini mungkin dapat direduksi jika di negeri sendiri tersedia lapangan kerja yang memadai. Lagi-lagi tugas pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Tapi bukan berarti kita harus menyalahkan pemerintah, melainkan menyokong pemerintah untuk melakukan yang terbaik bagi rakyatnya. Semoga pemimpin dan pemerintah yang nantinya terpilih adalah pemimpin terbaik yang benar-benar berjuang dan mengayomi rakyatnya (termasuk salah satunya masalah tenaga kerja Indonesia yang berada di luar negeri).


Mungkin ketiga solusi itu terdengar sangat klise. Akan tetapi, jika semuanya benar-benar terwujud, saya yakin menjadi sedikit jalan keluar bagi pekerja-pekerja sektor domestik, in syaa Allah...


Read More

Ramadhan 1435 H : So Different, So Amazing

Alhamdulillaah segenap syukur kehadirat Allah atas segala curahan nikmat dan rahmat-Nya, Dia sampaikan kami ke bulan yang penuh barokah ini. Alhamdulillaah...

Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. It's so different, and also Amazing! Ini puasa pertama yang aku lalui bersama suami jauuh di negeri rantau. Negeri dengan ribuan masjid. Negeri di mana peradaban Islam bermula. Itulah amazing yang pertama di Ramadhan kali ini, menjalaninya di tanah gurun bersama suami. Tahun lalu, Ramadhan masi kami lalui dengan LDR (hiks...). Alhamdulillaah... ini Ramadhan pertama bersama suami. :)

Ramadhan ini juga terasa sangat sangat sangat berbeda dan amazing karena dilalui pada musim panas (suhu sekitaran 42-45º C, dikabarkan mencapai puncaknya 53º C) dan siang yang lebih panjang dari malam. Malam terasa singkat dan ditambah pula waktu isya yang lambat dan waktu subuh yang cepat. Ma syaa Allah... perjuangan yang luar biasa... dan harus dilalui dengan penuh semangat!!!

Ramadhan ini sungguh berbeda dan amazing! Sebab ini Ramadhan pertama pula yang kulalui dalam kondisi hamil. Dengan kondisi panas dan waktu siang yang lebih lama dan dalam kondisi hamil, itu benar-benar amazing. Walaupun dokter berkata, "it's okay for you and your baby.", tapi tetap saja yang tau kondisi diri sendiri yaa kita sendiri. Butuh extra Semangaaaat dan mujahadah yang kuat... Semoga Allah memberikan kekuatan untuk menjalankannya. Aamiin yaa Allah...
Read More

Sederet Kombinasi Huruf-Angka

Sekitar 3 tahun lalu, ketika kartu ATM aku lecek dan sama sekali tidak bisa digunakan lagi, aku galauu dong yaah. Walaupun isinya tak seberapa, tapi kartu ATM itu sangatlah penting untuk menyambung hidup. Hehe... Mau ngantri di teller? Deuhh, membayangkannya saja sudah ga sanggup. *lebay!!!

Akhirnya, aku putuskan untuk menuju bank yang berlokasi di fakultas psikologi UI (yang terdekat dengan kosan kala itu). Biar gratisan, aku naik sepeda dari shelter FKM. Hehe... *info ndak penting!! Setengah ngos-ngosan aku ambil nomer antrian menuju costumer service. Ga lama menunggu, akhirnya aku keluhkanlah nasib yang menimpa kartu ATM ku itu yang bentuknya sudah sangat jauh dari elok. Informasi dari mba CS nya adalah bahwasannya kartu ATM hanya bisa direnewal di kantor pusat. Lokasinya di dekat kantor walikota Depok. Yo wis akhirnya aku ke sana deeh.. ke kantor pusatnya.
Naahh, alhamdulillaah aku mendapat kartu ATM yang baru dalam jangka lebih kurang 1 jam. Tapi, salah satu tawaran dari mba CS di kantor pusat adalah gimana kalo aku bikin i-banking juga? Waktu itu aku emang ga mikir, apa perlunya sih i-banking buat aku? Toh, duit di sana juga ndak seberapa... Ya kaaan? Tapi karena aku memang pada dasarnya memiliki rasa penasaran di atas rata-rata, ya sudah aku bikin deh akun i-banking atas dasar "penasaran". Heheehe...
Read More

Blunder

Akhir-akhir ini istilah "blunder" sedang menjamur yak? Seiring dengan menghangatnya susasana jelang pilpres. Tenaaang, brow! Aku ga akan ngomong soal Blunder Pilpres koq. Mungkin sudah banyak yang jenuh. :D

Blunder yang akan kuceritakan kali ini adalah blunder-blunderan. Lho? Mungkin setiap kita pernah mengalami yang namanya blunder. Melakukan kesalahan yang mungkin akan merugikan diri kita sendiri atau setidaknya membuat kita malu besar atas ke-blunder-an itu. Mungkin kesalahan itu sudah berlangsung lama, tapi masi membekas hingga sekarang. Setidaknya, setiap kali mengingatnya, membuat wajah kita bersemu merah menahan malu dan ingin cepat-cepat mengenyahkannya dari pikiran yang sempat terlintas.

Ahh, blunder. Kadang rasanya ingin sekali kita memaki diri sendiri atas kesalahan lalu--blunder--itu. "Mengapa aku bisa sebodooohh iniiii?"
Tapi yakinlah, kita melakukan suatu blunder, itu artinya kita adalah manusia. Bukan malaikat. Dan adalah sesuatu yang mustahil jika kita tidak pernah melakukan kesasalan. Karena itulah, Allah menyediakan fasilitas taubat. Sebab kita adalah manusia. Sebab manusia PASTI tak luput dari kesalahan. Dan Allah akan berbangga atas taubat hamba-Nya.

Percayalah, bahwa kesalahan--blunder--yang pernah kita lakukan tidak sepenuhnya buruk selama kita belajar dari kesalahan itu dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Parameternya bukanlah menjadi lebih baik dari orang lain, apalagi hanya merasa lebih baik! Parameternya adalah apakah kita menjadi lebih baik dari diri kita yang dulu.

Yuk ahh semangaaatt!!!
Read More

Innalillaah, Kecelakaan Lagi!

Hari ini, sepulang pengajian, kami menyaksikan pemandangan miris yang sebenarnya juga sudah sering disaksikan. Ketika masuk hi-way King Abdullah Road, kendaraan terlihat sangat padat merayap kayak Jakarta. Hehe... Dari pengumuman di layar yang melintangi jalan (apa yah namanya? Hehe... maap ga tau istilahnya apa), tertulis "Caution! Traffic accident." Ya, ada kecelakaan. Dan kecelakaan di hi-way (jalan toll) sangat berpotensi menimbulkan kemacetan puanjaaaaang...

Aku sedikit mengeluh. Biasanya macet begini bisa menghabiskan waktu. Untungnya kecelakaan terjadi tak jauh dari pintu hi-way, jadi selepas melewati mobil yang tabrakan, jalanan kembali normal. Alhamdulillaah...
Ada dua sedan yang sudah bonyok bagian depan dan belakangnya dengan posisi miring melintangi jalan. Pantasan saja jadi macet. Tak lama kemudian, kira-kira 500 meter setelahnya, ada lagi kecelakaan beruntun yang melibatkan sekitar 3 mobil. Innalillaah... Dan parahnya, sekitar 1 km setelahnya... ada kecelakaan beruntun lagi yang melibatkan sekitar 4 mobil. Innalillaahi... Total ada 3 kecelakaan dengan jarak yang berdekatan terjadi kecelakaan yang mungkin waktunya juga berdekatan. Innalillaah....

Sebenarnya, dari total perjalanan yang aku tempuh di Kota ini, sekitar 60-70% nya aku saksikan kecelakaan. Hampir saja kecelakaan menjadi pemandangan yang "biasa" disaksikan di sini. Jika tidak ada kamera pemantau dengan resolusi tinggi di penggiran jalan, maka menerobos lampu merah adalah pemandangan yang lumrah kita dapati. Sulit sekali mereka untuk mengalah. :'(
Kamera Termahal :))
Read More

#Seri PIO 3: Obat Paten atau Generik?

"Dokter, pokonya saya mau obatnya yang paten yaa Dok. Ga mau yg biasa-biasa aja gitu.. uhmm apa yaa namanya... oh iyaa generik." Permintaan ini mungkin cuma karangan saja. Akan tetapi, ini pernah kita jumpai di tengah-tengah masyarakat, bukan?

Edisi informasi obat kali ini, aku cuma pengen berbagi informasi terkait salah kaprahnya obat paten. Mungkin ada sebagian di antara kita yang salah menduga mengenai obat paten. Obat paten sering diartikan obat yang benar-benar pancen oyee, numero uno, paten dalam hal menyembuhkan. Oleh sebab, salah memahami inilah akhirnya kita terjebak pada pemikiran bahwa obat mahal = obat paten = lebih cepat menyembuhkan dan lebih baik adanya sehingga kita meminta dokter untuk meresepkan si obat paten.

Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai obat paten, mari kita telusuri sedikit mengenai kisah panjang perjalanan suatu obat sehingga boleh dipasarkan. Suatu bahan obat yang istilahnya dikenal dengan API (active pharmaceutical ingredients) alias bahan aktif yang diduga berkhasiat sebagai obat akan melewati perjalanan yang sangaaaatt panjang dan lamaa hingga menjadi obat yang ada dihadapan kita saat ini (dalam bentuk apapun baik tablet, sirup, obat suntik dll). Hal yang pertama yang dilihat adalah keamanannya... lalu khasiatnya pada hewan uji. Jangan lupa, ada deretan puanjaaaaaaang upaya untuk memurnikan si API yg pada mulanya terdiri dari berbagai macam zat aktif. Ada tahapan uji klinis. Ada tahapan formulasi. Ada pre dan post marketing surveylance. Pokonya kalo diceritakan, mungkin bisa sampai setebal novel bang Tere-liye. Hehe... Dan jangan dikira itu bisa selesai 1 bulan 2 bulan. Bisa sampai 10 tahun lebih, bo! Berapa biayanya? Pokonya biaya kampanye capres cawapres kalaah dah! Bisa sampai 200 juta USD bahkan lebih! (Kalo dirupiahkan berapa kira-kira itu yaa?)
Read More

#Seri PIO 2: Bolehkah Menyimpan Obat di Kulkas?

Ibu-ibu, obat-obatan adalah sesuatu yang tentunya pernah ada di rumah kita, terlepas dari sering atau tidaknya kita menggunakannya. Hampir mustahil ada orang (apalagi ibu-ibu) yang tidak pernah melakukan runtutan check-up (yang paling sering untuk anak), kemudian menebus resep, membawa pulang obatnya, memberikan obat, dan terakhir menyimpannya. Mungkin rentetetan awal sudah kita lakukan dengan benar. Lalau bagaimana dengan urutan kegitan yang disebutkan terakhir di atas; menyimpan obat? Adalah hal yang biasa dan lumrah—sebagaimana kita menyimpan makanan dan minuman—kitapun menyimpan obat di lemari pendingin/kulkas. Tapi, benarkah yang demikian?

Sebelumnya, mari kita “intip” sedikit tentang bagaimana pembuatan obat. Obat di industri farmasi diproses sedemikian rupa dengan cara yang sangat higienis, aseptis dan melalui prosedur-prosedur yang memiliki stadardisasi tertentu. Pembuatan obat dilakukan dengan sangat hati-hati, baik itu dosis, zat yang pendukung, hingga penyimpanannya. Pada umumnya obat dirancang sedemikian rupa dan dibuat stabil pada suhu kamar atau temperatur ruangan., kecuali obat-obat tertentu (in syaa Allah kita bahas nanti yaa...).

Read More

#Seri PIO 1: Amankah Minum Obat Saat Hamil?

Ada kalanya ketika hamil, kita mengalami kondisi tertentu dan mesti mengkonsumsi obat-obat tertentu. Akan tetapi, terkadang, ada keraguan dalam hati, "Ini obat, aman ga yaa kalo saya minum? Si dede bayi dalam perut nanti kenapa-napa ga yaa?" Mungkin pertanyaan ini muncul di benak kita. Baiklah, mari kita sedikit bercerita.

Dahulu kala, orang-orang tidak terlalu aware dengan efek samping obat pada janin. Hingga, suatu peristiwa menggemparkan telah terjadi. Pada tahun 1960-an, ada sebuah obat yang disebut Thalidomide. Obat ini indikasinya adalah untuk orang-orang yang mengalami susah tidur atau insomnia. Tapi, si Thalidomide ini ternyata juga bersifat anti mual muntah sehingga banyak diresepkan untuk mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil. Tapi, peristiwa mengejutkan terjadi! Ternyata banyak anak yang terlahir cacat, baik itu amelia (tidak punya kaki dan tangan), pokomelia (kaki dan tangan tidak lengkap) dan kecacatan organ lainnya. Ada sekitar lebih dari 10.000 anak yang mengalaminya. Setelah ditelisik, ternyata, kejadian itu terjadi pada anak-anak yang ibunya ketika hamil mengkonsumsi thalidomide untuk mengatasi mual dan muntah. Ini sungguh "kecelakaan" yang sangat menggemparkan dunia medis pada tahun itu.

Read More