Pasar Tradisional Daging, Ikan dan Sayur di Riyadh

Sedari dulu, berbelanja di pasar tradisional lebih menyenangkan bagiku ketimbang belanja di supermarket. Di pasar tradisionallah transaksi jual beli itu berlangsung 2 arah. Antara penjual dan pembeli. Kita bertemu langsung dengan penjual. Di supermarket, kita memilih sendiri dan ambil sendiro barang-barangnya. Ujug-ujug cuma ketemu kasir... yang kemungkinan besar bukanlah penjual utama... hehe...

Meskipun pasar bukanlah tempat yang kita harus berlama-lama di sana, tapi di pasar tradisional kita lebih mengenal banyak orang. Pasar tradisional juga menawarkan barang-barang yang lebih fresh dan baru. Kenapa? Di Supermarket umumnya sayuran atau daging misalnya terlihat lebih fresh karena mereka memiliki fasilitas chiller, susananya pun adem. Tapii, di pasar tradisional mana ada chiller dan suasananya juga bukan yang di bawah AC kan yaa... Jelaas, harusnya sayuran yang tanpa chiller jauh lebih segar. Dalam kondisi "luar ruang" begituu bisa "survive" kesegarannya, tentu menandakan barang ini bener-bener segar kan yaaa.

Tapi sejak tinggal di Riyadh, yang aku tau yaa supermarket ajaaah. Nyaris tak pernah lagi ketemu yang namanya pasar tradisional. Dan memang sangat jarang ada. Mungkin di pinggiran kota kali yaa. Intinyaa selama di Riyadh, aku sebelum ini ga pernah sekalipun belanja di pasar tradisional. Apalagi setelah punya anak 2 (yang mana kalo di sini anak-anak tentu harus dibawa ke mana pun kita pergi. Nda bisa dititip tetangga wkwkwkwk), belanja ke supermarket lebih mudah tentunya (selain dekat lokasinya). Suasananya adem, ada trolli buat ngangkutin barang-barang, ga perlu becek-becekan. Ga repot laaah tentunyaa. Kalo di pasar tradisional, ke mana-mana belanjaan mesti diangkut sendiri, ga ada trolli, dan ga ada AC tentunya hihi. Emak-emak kudu setroooong. Kekekeke...

Nah.. naah... sebenarnya tentang pasar daging tradisional ini, sudah lama aku denger dari buibu di sini. Kalo belanja daging ya ke pasar daging ajaa, lebih muraah--begitu kata buibu. Karena lokasinya yang lumayan jauh dari rumah (sekitar 35-an km lebih), plus di daerah Batha di mana ini daerah paling dihindari oleh Abu Aafiya karena padat penduduk dan seringnya muaceeeettt, makanya kita masi stay tune aja tuh belanja perdagingan dan perikanan cuma di supermarket dekat rumah. Apalagi suka ada promo hihi...

Hingga di awal tahun 2018 ini, adanya pajak, kenaikan listrik&BBM dan bayaran-bayaran lainnya, membuat harga-harga mulai melambung. Harga daging terutama. Naiknya ga tanggung-tanggung. Bisa sampai 30%. Semisal harga sebelumnya 38-an SAR, naik jadi 50 SAR per kilo nya. (Jangan remehkan emak-emak dan seenaknya menaikkan harga, ingatannya kuat soal harga barang lho... wkwkwkwkwkwk). Dan kebetulan konsumsi daging kita lumayan tinggi (secaraa emak Aafiya ini meat lover heuheu),  akhirnya kita putuskan untuk berbelanja di pasar daging yang sudah lama disebut teman-teman di sini.

Kemarin (sesuai dengan plan), kita ke sana deeh. Wow... ma shaa Allah.. amazing! Jum'at pagi yang sangat sibuk untuk Riyadh yang jum'atnya "kalem" hehe. Kebiasaan di sini, jum'at pagi itu orang-orang pada santai, leyeh-leyeh, libur, tidur. Toko-toko nyaris ga ada yang buka di jum'at pagi. Aktifitas perdagangan di hari jum'at umumnya baru mulai ba'da ashar. Rupanya untuk pasar daging, tak berlaku hal ini. Justru jum'at pagi puncak kesibukkannya. Kami sampai muter-muter beberapa kali untuk bisa dapat parkiran. Karena benar-benar full dan sangat susah mencari parkiran. Ya Salaaam. Sempat Abu Aafiya bilang, "daah pulang aja yuk. Ga dapat parkiran nih". Tapiii sudah menempuh 35 km lebih. Masak harus balik kanan? Hehe... Akhirnya setelah putaran yang keberapa kali, ada yang keluar persis di depan kita. Alhamdulillaaah, cuuusss kita parkir deeh.
Di depan tempat masuk pasar daging, ada penjual sayurab. Sayang lupa poto pasar dagingnya 😁

Pasarnya benar-benar pasar tradisional kayak di Indonesia!! Ma shaa Allah. Plus ditambah beceek karena hujan semalam (hujan yang sangat langka tentunya... kapan-kapan cerita soal hujan in shaa Allah), makin bikin suasana yang kayak di Indonesia banget hehe. Masuklah kita ke sana... dan Woooww... ma shaa Allah.. isinya penjual daging semuaaaa... Bagian luar ada yang jual sayur-sayuran juga tapi ga banyak sih. Most of them adalah penjual daging.

Orang-orang sana pada bahasa Indonesia lagi! Koq pada tau yaa. Hihi.. Ya satu dua kata lah. Semisal "sapi... sapi...", "murah... murah...". Sisanya tetap pakek bahasa arab atau satu dua kata bahasa inggris. Hehe...
Kita cukup amazing dengan harganya. Yang benar-benar miring dibanding di supermarket. Sekilo topside bisa dapat 25 SAR. Padahal di supermarket bisa 50-60 SAR. Sekilo hati sapi harga 15 sar, padahal di supermarket 56 SAR dan itu pun kadang ada kadang enggak. Di pasar daging juga lengkap jual berbagai jeroan di mana di supermarket ga ada yang beginian. Cuma dagingnya ajah biasanya di supermarket. Di pasar daging ini juga menjual semacam otak sapi, paru, dan lain sebagainya. Beli kikil juga lebih murah. (Aku tau kikil ini juga baru di siniii... wkwkwkwk). Belanjanya sih cuma 5 menitan kholas kali yaa... Cuma sebentar doang kita belanjanya. Ga sampai 10 menit kayaknya. Dengan harga ga sampai 100 SAR, kita sudah bisa bawa pulang 2 kg daging topside, 2 kg paru, 1 kg hati, dan lebih dari 2 kg kikil. Kalo beli di supermarket, mana dapat segituuuu... Ma shaa Allah...

Ini juga kali pertama seumur-umur aku beli paru. Ternyata 2 kg itu banyaak banget yaaak karena si paru ini ringan. Pengen bikin rendang paru ceritanyaa. Semoga suksess percobaan pertama emak Aafiya.. hihi... Aamiin...

Yaah, worth it laah bolakbalik hampir 80 km untuk ke pasar daging ini dibanding harga yang kita dapatkan. Belanjanya sih cuma 10 menit, perjalanannya 1.5 jam, nyari parkirannya setengah jam. Hihihi... Tapii, nanti kalo beli daging pengen ke sini lagii. Tips nya, berangkat agak pagian (jam 6 atau setengah 7) supaya dapat parkiran in shaa Allah...
Read More

Manual Book yang Terabaikan

Ma shaa Allah... ma shaa Allah...
Takjub banget ternyata food processor (disingkat FP ajah yaak) yang dibelikan suami 4 tahun yang lalu ternyata memiliki fungsi yang sangaatt banyaaak dan baru "ketahuan" setelah 4 tahun nangkring di dapur. Ma shaa Allah... What?? Harus nunggu 4 tahun dulu yaak... *tepok jidat! Tapiii, lebih baik lah yaa dibanding ga tau sama sekali... hehe
Bikin bawang goreng yang diiris FP. Biasanya beli bawang goreng yang sudah jadi ajah 😁

Dahulu kala, 4 tahun yang lalu, Abu Aafiya membelikan emak Aafiya FP. Sejujurnya, kenal FP juga baru di sini sih. Ihihi...). Yaa harap dimaklumi yaaa, dunia perdapuran berikut peralatan dapur aku baru kenal ya sini. Sedari dahulu, karena (lagi-lagi) ga hobbi memasak, taunya yaa beli bumbu beres di pasar. Kalo nekbu Aafiya (ibuku) selalu melakukannya dengan manual. Menggiling cabe, ketumbar, lengkuas, dan sederet bebumbuan lainnya yaa dengan cara manual. Akuu? Hahaa... Kayaknya yang ini ga menurun deeh dari Ibu. Senengnya yang serba mudah. Ga mau repott. Pokonya, aku selalu berprinsip "jika ada hal mubah yang mudah, aku takkan menempuh jalan sulit!" Eheheheu... Jadilah kalo bebumbuan, aku lebih seneng bawa ke tukang giling bumbu di pasar ajah. Ekekekeke....

Pas di sini, ga ada yang jual bumbu atau terima jasa giling bumbu tentunyaaa... hehe. Ketika silaturrahim ke rumah temen dan masak bareng (kala itu masak dimsum bareng), koq seru yaaa blendernya. Aku pikir itu blender si FP. Tapi koq gedean dan lebih topcerr gituuh. Bisa giling daging ikan ama bumbu sekalian. Aku yang emang ga ngerti FP kala itu langsung mengerjap-kerjap takjub. Ahahaha... Waaa benda apa ini, koq cakep bangeet? Wkwkwkkwkwkwkwk....

Approved!
Yaa, ketika mengajukan pengen beli FP juga untuk mempermudah urusan perdapuran, alhamdulillah suami langsung approved dan kita berangkat deh ke toko elektronik buat beli FP. Aku memilih kenwood FPP220. Yaa harganya so so laaah. Ada beberapa merek yang direkomendasikan sama temen-temen yang jago masak di sini. Ada Braun. Ada bosch. Tapii, ngeliat harga kenwood yang setengah harga lebih murah dari pada dua merek bagus yang direkomendasikan, aku akhirnya pilih si kenwood ini. Aku ga begitu pengen hunting barang-barang perdapuran karena memang bukan passion nya. Yang penting fungsinya dapat dimanfaatkan untuk memudahkan pekerjaan dapur! That's all! Kalo temen-temen yang passion nya masak, mestiii deeh seneng hunting barang perdapuran. Di sini surga banget yang beginian. Ma shaa Allah... Kalo aku, mending beli lensa baru ketimbang beli food processor baru.. ekekekeke...

Alhamdulillah adanya FP ini benar-benar sangat membantu. Nguleg cabe terutamaa buat bikin sambalado (yang mana adalah menu wajib kami hihi). Giling daging buat bikin bakso ya hayoo ajah. Giling ayam buat bikin homemade nugget alhamdulillah topcerr. Diajak bikin adonan mpek-mpek juga oke. Bikin jus jeruk dengan orange juicer nya juga mantap (wlopun yg ini jarang dikerjain kekeke). Sejauh ini yaa sebatas inilah fungsinya aku manfaatkan dan alhamdulillah... tabarakallaah... sangat-sangat membantu memudahkan pekerjaan dapur. Tapi... ada 1 fungsi penting yang selama ini terlewat olehku. Yaitu slicer!
Bawang goreng yang diiris pakek food processor. Ma shaa Allah 3 minutes only!

Ya salam, masih utuh aja tuh si slicer. Padahal betapa sangat butuhnya akuu si slicer ini. Dengan FP, marut keju yang butuh 15-30 menit, bisa dikerjakan dalam 2 menit. Slice kentang buat digoreng biasanya suka lama apalagi manual potong pakek pisau biasa, pakek FP 1 kg kentang bisa di slice ga sampai 5 menit. Ngiris bawang yang buanyaak bangeet, dengan FP cuma dalam hitungan menit. Ya salaaam kemana saja sih selama ini akuuuuh?! Selama ini malas banget bikin bawang goreng sendiri karena malas ngiris bawang. Dengan FP,  ngiris bawang yang banyak cuma sebentar doang! Jadinya ga perlu beli bawang goreng lagi. Bikin ajah sendiri... Dududududu... antara sedih dan senang. Sedih koq baru tau sekarang. Tapi seneng juga karena sekarang jadi mudah. Bikin keripik kentang (favoritnya anak-anak), ngirisnya jadi sangat mudaaah. 
Alhamdulillah... ma shaa Allah... tabarakallah...
Bikin kripik kentang, diiris pakek food processor... ma shaa Allah cuma 2 menit untuk 1 kg kentang.

Pelajaran berharga: betapa pentingnya membaca manual book! Betapa banyaknya kesalahan dan kerugian jika manual book terabaikan.

♡♡♡♡♡♡♡

Ahh apalagi manual book yang telah Allah berikan dan Rasulullah tinggalkan. Betapa janji rasul-Nya, jika berpegang teguh pada "manual book" yang ditinggalkan beliau, pasti takkan tersesat. Bagaimana bisa berpegang teguh, jika membacanya aja masih malas?!
Astaghfirullaah...
Read More

Jalan Lurus

Belakangan ini beredar kabar tentang kelakuan "nyeleneh" beberapa jamaah umrah dari negeri kita, Indonesia. Yang jogatjoget bikin video klip lah di depan masjidil Haram. Yang sai sambil baca pancasila dan lain sebagainya. Sampai keluar edaran dari KBRI tentang peringatan keras dari kerajaan Arab Saudi terkait hal ini. Sejujurnya aku ga tau siapa orangnya dan dari daerah mana. Cuma tau beritanya. Semoga bukan menyebarkan berita yang tidak benar. Mohon klarifikasinya jika salah.

Sedih mendengar hal ini. Jadi teringat dulu pas sekolah di Daar, ada bab tentang Bid'ah. Dan muallimahnya berkomentar, "Andunisy, katsiiiir bid'ah". Kata teman yang kelasnya lebih tinggi, kalo di bab ini yang jadi contoh biasanya orang Indonesia. Ya sebagai orang Indonesia, maluu ga tau mau ditaruh muka tentunya. Berarti di sini negeri kita ini sudah terkenal dengan banyaknya hal "macam-macam", aneh dan nyeleneh. Ga semua tentunya. Masih banyak orang yang berada di jalan yang lurus. Tapi mengapa kita dilabelling seperti itu, pasti karena banyak case kan yaa?!

Semoga Allah tetapkan kita di jalan yang lurus... Berada di jalan yang lurus tak mudah! Sangat mungkin kita tergelincir...na'udzubillah... Semoga Allah bukakan hidayah kepada kita hingga akhir kehidupan kita, untuk menempuh jalan yang lurus saja. Aamiin...

#shortpost
#selfreminder

Read More

Craving

"Eooooo... pinukuiiik..." suara khas penjual pinukuik kalo lewat bikin aku pengen nyambar jilbab, bawa dompet dan teriak "bali pinukuiiik nii..." wkwkwkwkwk... de javuu... Tapi ga ada yang kaya begini niih si sinii... hiks.. 

Apa rasanya ngidam (baca: pengen sesuatu) makanan yang ribuan mil jaraknya dari tempat kita tinggal? Yaak... cuma bisa nelen ludah... ekekekeke...

Pilihan lainnya adalah: you have to cook it by your self!
Iyaa.. inilah tantangan terbesar kalo kita merantau jauh dan kepengen sesuatu makanan. Mau ga mau kalo kepengen banget, mesti bikin deeh.

Kayaknya koq rajin banget masak gituh yaaah... Padahaaal... padahaaal nih yaaaa aslinya aku ga hobby masak. Tapi koq masak macem-macem? Yaa karena aku ga punya pilihan lain selain harus masak yang dipengen tersebut. Ga ada go food. Ga bisa order online... ekekeke...

Nilai positifnya sih... kita bisa upgrading kemampuam masak. Dulu, datang ke Riyadh, ga bisa masaak macem-macem. Eehh 4 tahun di Riyadh, alhamdulillah ada improvement... masak macam-macam. Tapi Jangan bandingin rasanya dengan yang asli yaaaa... Selain keterbatasan bahan, kemampuan juga masi setaraf anak TK. Ihihi... Alhamdulillaah bisa mengobati rasa...

Nilai positif lainnya adalah tentang homemade! Kalo terbiasa serba instan, kita kan jadi males bebikin. Terutama yang ga hobby masak kayak akuuh. Dan ditambah lagi aku lebih suka yang simple ga pakek ribet yang tinggal jadii.. hueheuehue... Jadi kalo di Indonesia, praktis tinggal beli ajaaah. Nah karena di sini terpaksa harus masak, segala yang homemade bukan lagi jadi hal yang langka. Biasa bikin camilan sendiri. Biasa bikin ini itu sendiri. Walaupun juga sering siih beli di luar... ekekekeke... Setidaknya ada bekal lah kalo mau bebikin homemade. Homemade tentu saja jauh lebih baik dari beli-beli teruus... Ya nda sih... heuu....

Yaa postingan kali ini bikinnya agak-agak setengah hati gitu. Semacam resume atau malah repetition dari banyak postingan sebelumnya ajah kalii yaaa... Buat rame-ramein isi blog doang... Tujuan utamanya sih buat posting photo masakan yang hasil potonya masi jauh dari okeee... ekekeke.. Masi harus banyak belajar niih potonya dan lebih rajin lagi nyediain propertinya. Ini mah ga pakek properti alas photo de el el ituuh 😂


Eoooo... pinukuiiik... 










Read More

Happy Cookies Cooking with Kiddoz

Sudah lama banget ga ngeblog yaak. Baru sadar kalo februari ini belum ada postingan. Sudah banyak yang terlewat tak sempat tertuliskan (nanti kalo sempat mari dituliskan lagiii ehehehe). Amaknya lagi males ngeblog. (Aafiya sekarang suka becanda kalo nyebut bunda dengan istilah "amaknya", ayah dengan istilah "apaknya" dan dia sama adeknya dengan istilah "anaknya"...ekekekeke... Contoh kalimat: "amaknya sedang masak, apaknya sedang membaca dan anaknya sedang main" heuheu...).

Baiklah, tanpa basa-basi lagi, mari kita cerita soal bikin kue lebaran #ehh cookies cooking bersama duo little princess... As you know (siapa juga yg know sih ekekeke), kita memang alhamdulillah sudah menerapkan gadget free buat anak-anak sampai usia yang diperbolehkan.. ehehe..., dan anak-anak butuh dongs ragam aktifitas. Salah satu aktifitas yang disukai Aafiya (selain menggambar dan 'membaca'), adalah memasak kue. Cake maupun cookies. Naah, berhubung emaknya lagi pengen butter cookies (bahasa kampuang nya: kue semprit) ala lebaran gituh, pas pulak anaknya seneng ikut campur di dapur begini... kloplah... kitah bikin cookies nya deh!
Anaknya lagi asyik nyetak kukis... emaknya bisa leyeh-leyeh 😜✌

Bagaimanakah membikin cookies bersama dua balita? Hihi jelas tak mudah! Jadi ingat dulu waktu masi jadi bocah, jika ingin ikut berpartisipasi dalam prosesi bikin kue hari raya, ada syaratnya. Syaratnya adalah harus boboin adik dulu. Jadilah kami (aku dan yuna) megang masing-masing 1 adik utk diajak bobo. Ga sabaran deh nunggu mereka tidur lalu ikut bikin kueee... Hihi... Oleh sebab bikin kue bersama balita itu memang tak mudah. Bukannya ngebantuin malah ngerecokin sih lebih banyaknyaa.. hihi...

Tapi dalam prosesi bikin kukis kali ini, di sini letak menyenangkannya. Mungkin bagi emak bukan hal yang mudah dan malah tambah rempong, tapi coba kita pandang dari sudut pandang anak. Bagi anak, kegiatan ini adalah kegiatan yang menyenangkan. Mereka terlibat mengerjakan hal-hal baru yang menurut mereka seruu. Terbukti dari Aafiya yang wajahnya sumringah dan ga sabaran pengen segera bikin cookies. Dia juga terlihat sangat enjoy menikmati proses bikin kukisnya. Jadi, meskipun jadi lebih repot, melibatkan anak dalam hal ini membahagiakan bagi mereka... ma shaa Allah...
Kukis aafiya alhamdulillah done

Bebikin kukis juga diselangselingi dengan berbagai interupsi. Aasiya yang nangis ngantuk..., dan hal-hal per-baby-an lainnya. Hehe... Selama tujuannya adalah happy cookies cooking, yaa biarin aja happy happy anaknyaa... Dan bonus kukisnya jadi, meski ada yang gosong juga ditinggal nenen in baby... ekekekeke...

Pelajaran berharga buat emak Aafiya. Membahagiakan anak itu sebenarnya sederhana. Ga perlu beli mainan mahal. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali beli mainan. Heuheu... Melibatkan anak dalam kegiatan kita, misal memasak, meski terkadang lebih ribet, tapii itu cukup untuk membuat mereka bahagia... in shaa Allah...

Ada yang mau?? 😉


Happy cookies cooking ya emaaak... heuheu...


Note: photo by emak Aafiya 😁 seadanya ajah...
Read More

Easy & Simple

Bismillaah,

Yaiyy, postingan kali ini dimulai dengan sesuatu yang easy dan simple ajah. Isi blog ini juga simple dan easy kaliii Fathel ekekekeke...
Yes.
Hanya yang ringan-ringan sahaja.
Leisure time.
Refresh-ing.

Kali ini aku mengganti header blog lagi. Ala-ala flat lay. Tapiii dengan pencahayaan yang minim dan lensa tak mendukung kurangnya lighting ini. Jadinya, noisy di mana-mana. Padahal, kunci utama fotografi kan sebenarnya adalah lighting (selain composition tentunya). Tapii berhubung lagi males nyari cahaya yang OK, yaudah seadanya ajah deh. Nanti klo udah in good mood, bikin flat lay yang lebih oyeee in shaa Allah... ini mah belum seriuss hehehe...

○●○●○●○●○

Meskipun memoto itu cuma tinggal "klik" dan "cekrek" doang, ternyata untuk mendapatkan foto yang bagus itu ga mudah yaaa...

Seseorang yang memiliki bakat dan hobi dalam dunia per-foto-an, mungkin bisa memilih composition atau angle yang bagus. Tapi jika lighting tidak mendukung, yaa akhirnya fotonya tetap saja ga sesuai dengan harapan.

Aku memang ada sedikit hoby dalam dunia foto-foto. Tapi, ilmunya masi minim. Dan masi malas mencari lighting yang tepat. Intinya, ga begitu diseriusin laah. Cuma sekedar cekrek cekrek doang. Yaa, so far ga ada improvement yang berarti dalam dunia fotografi aku. Hasilnya masi begitu-begitu doang. Belum memuaskan.

Ya salam.
Apapun itu, bahkan cuma sekedar hobi dan hal-hal remeh temeh lainnya, sangat butuh ilmu.
Apalagi mendidik anak.
Apalagi ilmu dalam meniti jalan kebenaran dalam koridor syari'at-Nya.
Bagaimana kita bisa memilih jalan yang benar, jika kita sendiri tak mengerti ilmunya!?
Padahal, ini adalah sesuatu yang menjadi tujuan kita,main aim mengapa kita ada di dunia ini. Bukan sekedar hobi yang ga begitu mandatory untuk diilmui sebagai ilmu utama.

Makin berasa, betapa diri ini sangat fakir ilmu.
Tapi, kenapa masih berat melangkah ke majlis ilmu?!

Ah, tentang dunia yang singkat ini..., berbenahlah wahai diriku.
Ingat ingat tujuan yang sesungguhnya, mengapa engkau berada di dunia.
Ingat ingatlah, bahwa kematian itu sangatlah dekat.
Ingat ingatlah, bahwa segala sesuatu akan ada hisabnya...
Dan aku, masih penuh dengan rombengan... 😣

Read More

My 3yo Princess's Painting

Ma shaa Allah, rasanya surprise sekali melihat hasil painting Aafiya, my 3 years old princess, sudah mulai ada bentuknya. Dari yang sebelumnya berupa lukisan "abstrak" hihi.

Suatu ketika, aku lagi sibuk masak (masi aja tema masak memasak yaak ekekekeke). Trus Aafiya aku bekali kertas sama pinsil aja di ruang keluarga (ruang sholah namanya kalo di sini). Karena posisi dapur dan sholah itu sendiri bersebelahan, jadi memungkinkan aku untuk sesekali liat Aafiya sambil memasak.

Tetiba Aafiya bilang, "Bundaaa coba liat gambar unii..."
Akhirnya aku liatlah gambar anaknya.
Ma shaa Allah... Takjub ketika menyaksikan untuk pertama kalinya gambar Aafiya ada bentuknyaa... 😍😍😍😍 Ma shaa Allah... ma shaa Allah....
Memang sih beberapa waktu sebelumnya kita sempat bebikin gambar (sering banget malah sih. Soalnya buat Aafiya ini aktifitas yang menyenangkan). Ditambah lagi, alhamdulillaah kita memang menerapkan free gadget untuk balita di rumah, jadii aktifitasnya yaa main, orat-oret, dll. Hihihi...

Aafiya mulai terlihat kalo anaknya spasial. Mudah menghafal jalan dan memiliki tendensi di sesuatu yang berbentuk ruang. Anak 3 tahun ini, ma shaa Allah sudah bisa protes ke ayahnya, "Ayah, koq kita lewat sini. Kan harusnya lewat jalan yang sanaa" 😂
Duuh... Yang sabar yaa Ayaaah... 😁
Tetiba nyeletuk, "ini arah jalan pulang ke rumah kan Ayah, kan kita mau ke KUDU" (nama sebuah restoran cepat saji), padahal kita jalan di malam hari. Kebetulan jalan tersebut jalan yang kita tempuh sepulang dari Lulu Hypermarket 😁😃.

Di sini, aku hanya pengen "mengabadikan" aja gambar bersejarah (bersejarah buat IMore Family) dan beberapa hasil gambar Aafiya lainnya...






Read More

C-3

Ini postingan ga penting-penting amat sih. Judulnya aja geje. Hehehe... Iya, C-3. Alias C-C-C yang tentu saja bukan rantai atom karbon. C-3 kali ini adalah kepanjangan dari Cheese Cream Cake. Hihi... 😄
Aihh gayaa laah yaaa emak Aafiya bikin beginiaan... ekekekeke..

Ada yang mau?

Ceritanya ada cheese cream di rumah yang udah mau expire. Dulu beli cheese cream ini karena Aasiya dan juga Aafiya doyan banget cheese cream. Makannya seringnya cuma digadoin alias dimakan begitu sahajaa. Kadang dicampur sama daging giling dan dimasak. Anak-anaknya ma shaa Allah doyaan.
Anak jaman now yaaa?! 😆 Dulu emaknya ngerti keju aja udah SMA 😆. Ini anak kicik udah nyobain macam-macam jenis kejuu... Hihi... Ya, karena tinggal di negara yang dairy product kayak gini semacam makanan pokok jadinya yaa begitu yaa.. hehehe... Alhamdulillah bini'mah.

Beberapa bulan, absen dari keju-kejuan karena kayaknya lebih senang sop-sop an mereka. Walhasil kejunya tergeletak di kulkas deh. Pas aku nyadar, udah mau expire ajaaah. Ga mau dongs buang-buang makanan 😑. Rasanya nyeseek kalo ada makanan terbuang. Tapi senangnya, di musim dingin ini makanan tak cepat basi. Soalnya, di ruangan dan di dapur serasa dalam kulkas. Hihihi... Jadinya makanan jadi lebih awet alhamdulillah. Klo musim panaas, beuuhhh... setengah hari aja makanan bisa basi. 😑 Jadi mesti disimpan di kulkas kalo ingin tahan lama. Atau, masaknya ya sedikit-sedikit aja. Tapi rempong, emak-emak kalo harus bolak-balik masak tiap mau makan dongs. Heuheu...
Cheese cream

Karena cheese cream nya ada sekitar 500 gram, jadi lumayan bangeeet kalo cuma digadoin. Akhirnya aku kepikiran dibikin cake ajah. Sebagian dibikin isian risol mayo. Pokonya gimana supaya itu cheese cream terutilisasi dengan maksimal! Sejujurnya ide bikin cake ini merupakan opsi terakhir. Secara dalam pikiranku, bikin cake itu ribeet. Emak-emak dengan passion bukan memasak, butuh energi besar utk eksekusi cake tentunya. Tapi demiii biar cheese cream nya bisa segera habis, bismillaah... mulai nguprek-nguprek bahan dan bikin cheese cream cake. Bikinnya yang paling simple yang aku bisa kekekeke... Ga ngikutin resep 100% sih. Seadanya bahan ajaaa....

Pas lagi bebikin, ada interupsi juga. Karena aasiya pengen mimik dulu... Kejunya sama butternya dalam suhu ruang tetep dingiin aja karena musim dingiin. Hihi... Jadinya terpaksa diangetin dulu pakai air panas. Dan kendala teknis lainnya. Ternyata, walau ga mudah, ternyata ga sulit jugaaa... Emang sih, dasar aku nya aja yang ga begitu hobby masak tapi harus masak. Senengnya pas udah jadi, surprise ajaa kalo cake nya suksees... Alhamdulillaaaah 😍😚

Alhamdulillah suksees C-3 nyaaa 😍

Yaa. Satu-satunya cara untuk melawan malas (malas memasak misalnya) adalah mau ga mau bergerak dan MEMULAI. Kadang, starting point ini yang paling sulit. Kalo sudah dimulai, yaa sebenarnya tak sesulit yang dipikirkan. Makanya, hayooo bergerak. Hayoo mulai!

Berasa kejuunyaa walaupun ga selembut JCC karena telurnya dikocok sekalian ajah, ga pake dipisah kekekeke

Allahumma inni a'udzibika minal 'ajzi wal kasl...
Read More

Malaise

Sudah lama ga blogging dan cerita-cerita. Lagi malaise ceritanya. Hehe... Malaise punya makna yang banyak. Versi arabic amiyah, malaise artinya adalah semacam permintaan atau pemberian maaf. Contoh kasus, jika ga sengaja nyenggol orang di jalan, mereka berkata "malaise!" Yang artinya dia nanya "gapapa?". Atau kalau kita ga sengaja nabrak orang, kita bilang "aasiif", dia jawab "malaise" yaa itu artinya orangnya bilang gapapa. Itu sih kesimpulan aku aja setelah sekian lama berinteraksi di sini dan sering dengar kata malaise. Bisa jadi aku salah penertian. Kekekeke... Malaise bisa juga singkatan dari "mangalai-ngalai se" alias nyantai leyeh-leyeh kayak di pantai. Ini mah karangan emak Aafiya ajaa... wkwkwkwk... Malaise dalam versi medical terminologi seingatku adalah capek,lelaah, ga enak badan, lagi nda fit. Nah Malaise yang aku maksud adalah malaise yang ketiga.

Ya. Sebagai sebab akibat dari malaise ini, yaa maless ngelakuin apapun. Pengennya leyeh-leyeh dan tiduran ajah (ini maah jenis malaise keduaa yang aku mention kaliii yaaaa... Anggap aja akibat malaise versi ketiga adalah malaise versi kedua). Ngeblog salah satu yang kena impact malaise ini.

Baiklaah.. mari bangkit dari malaise dan menuliskan sesuatu. Ini cuma cerita ringan sahajaa. Jadi pas suatu ketika belum lama ini, aku dicolek2 sama orang Arab. Kebetulan aku lagi liat toko bunga sambil ngajakin ngobrol Aasiya. Si uni Aafiya lagi sama ayah. Jadi kami cuma berdua. Aku ga nyadar ada orang sini yang ngajak ngobrol. Akhirnya dicolak-coleklah sampai aku nyadar ekekekeke...

"andunisiy?!" Tanya dia dengan penuh semangat. Duluu waktu baru-baru di sini, aku seneng bangeet dongs dikenal sebagai orang Indonesia. Secaraaa most of the time, kami lebih dikira orang philipine..heuheu... Tapi, seiring berjalannya waktu dan banyak pengalaman, jika ada yang nanya begini, ujung-ujungnya sudah KETEBAK maunya apa ini madam. Heuheu...
"Aiwaa" jawabku
"Aina anti sughul?" (Kerja di mana kamu?)
"Bas zaujiy sughul hina. Ana fil bait" (suamiku aja yang kerja di sini. Saya di rumah aja)
"Mumkin anti sughul fil baiti sa'atan sa'atan al yaum" (mungkin ga kerja di rumah saya beberapa jam dalam sehari). Maksudnyaa... jadi pembantu di rumahnya.
"LA! La! La yumkin sughul fi baituk. 'Indi nunu... afwan!" Tentu saja aku menolak mentah-mentaah. Ini baby mau dikemanain. Hehehe... Lagian, kerjaan di rumah aja ga beres-beres, madam, mosok harus nyambi beberes rumah madam jugaaa. Mending eikee bikin rumah eikee kinclong ehehehe..

Ini adalah percakapan yang kesekian kalinya. Entah udah keberapa kali. Sebenarnya, rada malas kalo sudah ada kalimat pembuka "anti andunisiy?" Karena ujung-ujungnya ya ituu... minta jadi pembantu atau minimal minta tolong nyariin pembantu. Haduuh, aasifah yaa madaam, ana laisa kafil TKW. Hehe...

Jika orang yang kenal lebih dekat, atau berinteraksi lebih jauh, misal teman satu kelompok ngaji atau dokter di rumah sakit, mereka sering mengatakan, "dulu aku punya lho pembantu orang indonesia. Mereka bagus-bagus kerjanya. Tapi sekarang sayang sekali sulit mencari orang indonesia".

Mohon maaf, sekali lagi maaaf bangeet. Aku ga bermaksud untuk mengecilkan profesi TKW.  Sungguh,profesi TKW jauhhhh lebih terhormat dan mulia dibanding orang berdasi dengan mobil mentereng, tapi korupsi. Dan sudah banyak juga orang-orang hebat dan menginspirasi justru lahir dari keringat ibu-ibu TKW. Dan lagi, yang paling terpenting, standar kualitas seseorang sama sekali tak ditentukan oleh seberapa bonafid pekerjaannya, melainkan seberapa besar taqwanya, kan ya?

Tapi begitulah. Begitulah negeri kita DIPANDANG. Oleh sebab profesi terbanyak yang dilihat oleh orang lokal sini adalah sebagai pembantu maka itulah "labeling" mereka. Jika orang indonesia, maka kemungkinan besar pembantu! Atau minimal, mau jadi pembantu. Padahal, sebenarnya ga juga. Banyak juga orang Indonesia yang sudah mencapai level manejer di sini. Bahkan menempati posisi penting. Tapi yang ini tentu lebih sedikit. Karena yang dilihat adalah yang banyak tentunya. Jika ada sekelompok besar orang, hampir semua berkerudung merah muda. Lalu nyelip beberapa orang berkerudung hijau. Maka, tetap saja yang terlihat adalah gerombolan orang berkerudung merah muda. Hijaunya bisa saja hampir dinafikan. Atau,kelihatan hijau tapii orang-orang tetap akan menyebut "kerumunan orang berkerudung merah jambu".

Sebenarnya bukan masalah sih yaa. Hanya saja, sekali lagi, beginilah negeri kita dipandang. Apa yang tersebut pastilah karena itu yang tampak... :)
Yang jelas, Setiap orang berada pada garisan takdirnya masing-masing. Sungguh, Ini hanyalah dunia. Sebentar saja. Pasti akan ditinggalkan! Maka, jika dunia menjadi tujuan, alangkah meruginya kitaaa. Mengejar sesuatu yang sudah PASTI akan ditinggalkan. #NtMS

#Just a short story
#Self reminder

Read More

Tak Harus Menjadi Mereka

Terkadang.
(Cuma terkadang lho yaa 😁), aku merasa tulisan-tulisan di blog ini hanyalah seperti riak di luasnya samudra. Keberadaannya, tak perlu diperhatikan. Adanya atau tiadanya, sama saja. Heuheu 😆...

Membaca tulisan banyak orang hebat, menginspirasi, memberikan perbaikan, membuka pikiran banyak orang, memperjuangkan sebuah nilai, dan deretan nilai positif lainnya terkadang bikin jiper juga 🙈. Apakah tulisan aku ini bernilai manfaat? Atau hanya sekedar pelepas tawa, 'haha', 'hihi', 'wkwkwkwk' saja? Jika untuk memberikan kanal pada rasa dan memuarakan apa yang menjadi lintasan pikiran, memang iya. Tapi, ternyata terlalu banyak hal remeh temeh yang mungkin tak menjadi sebuah agenda dalam pikiran orang-orang hebat itu. Hihi... 😄
Iyaa, aku memang hanyalah sesederhana itu... 😄

Tapi, kusadari.
Bahwasannya aku tak perlu menjadi mereka.
No need to force my self to write "super-article". Ga perlu memaksakan diri menulis yang berat-berat. Hehe...
Menulis hal-hal 'berat' terkadang membuatku merasa bukan seperti menjadi diriku sendiri. Dan itu terasa memaksakan...
Alangkah lebih baiknya, menulis itu seperti air mengalir. Menjadi apa adanya. Dan apa yang dari 'hati' pasti akan sampai ke 'hati'. Aku selalu percaya itu. Mereka yang memang menulis dengan hebat, menginspirasi, membuka fikiran sangat mungkin saja menulisnya dengan ringan. Oleh sebab Pada dasarnya mereka memang hebat dan menghebatkan banyak orang. Dan aku, yang apa adanya ini, masih jauh dari merekaa tentunya, tak perlu memaksakan diri menjadi seperti mereka. Just be my self... 😊. Sesuai tagline blog ini, just share what i m thinking about. Ya memang sesederhana ini sih akuu dan apa yang aku pikirkan... hehehe... Makanya, aku membuka seluas-luasnya ruang perbaikan, masukan, koreksi, pembetulan dari sesiapa saja yang melihat kesilafan di sana-sini...

Apapun itu.
Sesederhana apapun coretan di blog ini, harapanku hanyalah semoga menjadi pengingat diri dan juga semoga ada yang beroleh manfaat dari sini. Sebab, apalah artinya jika sesuatu itu tak memberi nilai kemanfaatan. Heuheu... 😊
Sekurang-kurangnya, bermanfaat dalam memuarakan rasa... hehehe...

Sekian.
#edisilagijiper
#edisibaper
#bukanedisiminder
#semangatBerbagi
#yukMenulis
#menulisMenyehatkanInShaaAllah

Read More