Ketika Memutuskan untuk Menyekolahkan Anak (3)

Buku sekolah si kakak, masih kurang 5 pcs lagi ga ikut difoto. Kekeke...
Baeqlaaah... mumpung weekend, emak bisa sedikit selonjoran. Ga gedebak-gedebuk pagi-pagi. Xixixi... Baru kali ini weekend terasa begitu nikmaaat. Biasanya selalu berasa weekend tiap hari, jadiii berasa biasa aja. Naah, karena 5 hari belakangan pagi hari ribut nyiapin sekolah kakak, pas weekend jadi terasa nikmaat. Xixixixi...

Setelah memutuskan untuk menyekolahkan kakak di sekolah internasional, kami survey juga ke sekolahnya dong yaa. Mencoba ngajakin kakak ke sana. Cuma ada 2 sekolah yang kami survey yang sekiranya masih dalam jarak jangkauan. Tapi lebih cenderung ke sekolah yang pertama karena ada 3 orang teman kami yang menyekolahkan anaknya di sana di berbagai grade. Teman dekat Aafiya juga sekolah di sana, meskipun dia ada di kelas 1 bukan di TK. Sekolah yang kedua, kakak kurang sreg dan aku juga tak begitu sreg karena kurikulumnya pakai kurikulum India-Pakistan. Jadi opsi itu kami coret. Pilihan otomatis jatuh ke sekolah pertama yang kami kunjungi yaitu al Motaqadima International School.

Alhamdulillah karena ada teman-teman yang menyekolahkan anaknya di sana, aku bisa ditanya² segala urusan terkait administrasi maupun proses belajar. Apalagi salah satunya ada yang seumuran Aafiya anaknya (lahir beda 1 bulan doang) yang nanti kami harapkan bisa jadi teman sekelas Aafiya.


Finally, tepat di minggu ke-6 sekolah berjalan, bismillaah... kami mendaftarkan Aafiya. Enaknya di sini, uang sekolah ga banyak macamnya. Ehehe. Jadi cuma 1 jenis pembayaran saja. Ga ada istilah SPP, uang pangkal, dll... Jadi 1 jenis pembayaran itu sudah all in. Sementara untuk buku, seragam dan school supplies itu kita beli sendiri ke tempat yang ditunjuk sekolah atau di mana aja yang penting bukunya sesuai dengan yang di-list dari sekolah. Uang sekolah pun boleh dibayar per 3 bulan. Hanya saja, kalau kita membayar full untuk setahun kita bisa dapat diskon.


Pas proses pendaftaran, aku harus menemani Aafiya dulu buat assasement ke gurunya, Aafiya mau dimasukkan ke KG (kindergarten) level berapa. Di sekolah ini ada 3 level KG. Kalau di Indonesia, KG 1 kayak selevel PAUD, KG 2 itu selevel TK A, dan KG 3 itu selevel TK B. Aku dari awal, mindsetnya Aafiya bakalan di KG 2 karena menginat usianya yang baru mau 5 tahun. Di Indonesia, TK A kan memang usia 5-6 tahun, TK B usia 6-7 tahun, kelas 1 usia 7-8 tahun, dan seterusnya. Tapii, ternyata di sini usia untuk TK A Itu ternyata adalah usia 4-5, dan TK B itu usia 5-6. Sedangkan Kelas 1 itu usia 6 tahun ke atas. Jadi, Aafiya menurut acuan dari kementrian pendidikan di sini harus sudah masuk KG 3 alias TK B. Lalu aku tanya, bisakah Aafiya di KG 2 aja karena awalnya aku berpikir Aafiya nanti masuk SD nya pas usia 6 tahun 9 bulan aja. Jadi menurut umurnya sekarang mestinya masih level TK A. Koordinator KG nya menjawab, bahwasannya aku harus bikin surat pernyataan yang ditandatangani bahwa Aafiya ditaruh di level KG 2 adalah berdasarkan permintaan orang tua.

Bu Gurunya nanya, "Udah bisa pegang pensil belum? Udah biasa nulis belum?" Aku jawab dia udah biasa pegang pensil (bukan hanya pensil sih, spidol, krayon, pulpeen suka² anaknya aja ahahahaha tapi tentu saja gak aku jawab kayak gini dongs kekeke...). Trus Aafiya disuruh menulis beberapa angka dan huruf. Dan alhamdulillah dia bisa menuliskan hampir semua huruf dan angka yang disuruh oleh bu guru. Trus aku disuruh nunggu lagi.


Setelah itu, bu guru memutuskan sebaiknya Aafiya di KG 3 aja. Aku call ayahnya. Karena di sini, level KG itu masuknya ke girl-section. Jadi bapak-bapak ga boleh masuk. Segala administrasi di bagian kelas (bukan di bagian pembayaran) harus diurus oleh ibu. Aku tanya ayahnya minta pendapat bagusnya masukin KG 2 apa KG 3 dengan konsekuensi kalau KG 2 aku harus tanda tangan pernyataan. Ndilalahnya, segala surat itu semuanya berbahasa arab dan aku ga ngerti sama sekali isi surat-suratnya... πŸ˜†
Ayahnya bilang, ga masalah kalau memang di KG 3. Akhirnya aku ngikut yang ayahnya bilang. Meskipun dalam hati koq kayak agak sedikit berat (dan rasa² agak berat ini sudah aku sampaikan pada ayahnya). Beratnya adalah karena bahasa pengantarnya English dan Aafiya belum dibiasakan english di rumah. Paling intensif cuma 2 minggu belakangan saja dan aku pikir not enough kalau praktek cakap² english cuma dalam 2 minggu aja. Udah gitu (dari buku KG 2) pelajarannya udah lumayan. Mengenal huruf, angka dan juga ada matematikanya.

Ketika sudah sampai di rumah, Aafiya sudah masuk kelas, aku ditelpon oleh teman yang anaknya seumuran Aafiya. Dia menanyakan jadinya Aafiya di kelas yang mana. Dan aku ceritakanlah kronologisnya bahwa akhirnya Aafiya di kelas KG 3. Temanku kaget. Lha kenapa KG3? KG3 itu udah disiapin buat anak-anak masuk grade 1. Pelajarannya sulit. Ini juga anak-anak udah berjalan 5 minggu. Aku sejujurnya agak goyah juga waktu itu. Apalagi teman menawarkan untuk menemani mengurus kepindahan ke kelas KG2 berhubung aku yg ga bisa bahasa arab dan teman tersebut suaminya adalah orang arab jadi sudah familiar dengan bahasa arab. Tapi lagi-lagi suami menguatkan dan meminta untuk support kakak dan mendoakan agar kakak bisa adaptasi, having fun, bisa berteman dan juga beroleh ilmu yang bermanfaat.

Pas udah beli buku yang diminta sekolah, aku sedikit shock. Bukunya buanyaak bangeet, ya salam. Ini anak TK lho. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†...
Anak TK judulnya, tapi buku matematikanya aja lebih tebal dari buku SMA emaknya. Untung sih belum setebal martindale atau farmakope sih. Wkwkwkwk... Selain belajar huruf, angka, membaca, menulis... kakak juga belajar pelajaran agama, hafalan Qur'an, matematika, sains, dan juga bahasa Prancis. Ya Allah... emaknya sama sekali ga ngerti itu buku bahasa prancis. Dulu emaknya, udah lah TK kaga ada bukunya, pengantarnya pakai bahasa Indo pulak. Belajar bahasa inggris juga baru kelas 6 SD. Ini si kakak, udahlah pelajarannya bahasa pengantarnya berbahasa inggris, belajar juga bahasa lain (bahasa Arab dan Bahasa Prancis) plus buku yang segambreng-gambreng. Dan jugaaaaa, ada PR setiap hari! PR nya enggak 1 aja. Ada 3 matpel yang selalu jadi PR rutin. Ini anak TK apa anak SMA sih? πŸ™ˆ


Bukannya apa-apa. Emaknya hanya rada khawatir jika sekiranya ini terlalu berat buat Aafiya. Emaknya rada khawatir kalau anaknya justru ga merasa fun dan malah terbebani dengan segitu banyak pelajaran. Apalagiii, pas ngajakin kakak ngerjain PR... baca buku pelajarannya aja emaknya udah puyeng. Ini instruksinya apaaa yaa?! Aaaak.. emak ga ngerti pelajaran anak TK. Sering kali harus buka kamus dulu untuk bantu si kakak bikin PR. Ya salaaam...


Di sinilah aku rada maju mundur. Apakah diturunin jadi KG 2 lagi aja. Setidaknya di KG 2 ini ga ada pelajaran sains dan bahasa prancisnya. Bukunya juga cuma setengah buku KG3 jumlahnya. Tapi, tetaap ayahnya Aafiya menguatkan... untuk mendo'akan agar kakak bisa. Karena akademis bukan main purpose kita menyekolahkan Aafiya saat ini. Jadi, kita ga usah maksain Aafiya belajar kalau anaknya lagi ga mau. Main purpose kita adalah membuat Aafiya mengenal lingkungan, mau berteman dan juga lebih berani! Jadi, kalau ga ngerjain PR ya sudah, tak apa-apa.

Ya udah, bismillaah... Go on kakak! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Gimana kakak di sekolah? Gimana hari pertama sekolah? Bisa gak kakak mengikuti pelajaran yang segambreng itu yang bahasa pengantarnya bukan bahasa ibu (bahasa sehari-harinya). In shaa Allah aku post di next postingan...

Read More

Ketika Memutuskan untuk Menyekolahkan Anak (2)

Calon sekolah si Kakak ketika itu... yang kini jadi sekolahnya
Lanjutan dari cerita kemarin. Hehe.

Ketika memutuskan untuk sekolah, akhirnya kami berusaha untuk collect informasi sebanyak-banyaknya terkait calon sekolah Aafiya. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan tentunya dalam memilih sekolah. Pertama, kurikulumnya. Kedua, Jarak tempuh dari rumah. Ketiga, biaya.

Soal kurikulum tentu jadi pertimbangan, meskipun memang sulit untuk mencari kurikulum seperti sekolah di Indonesia semisal TK IT begitu. Setiap negara, tentu memiliki ciri khas pendidikan masing-masing. Tapi, untuk anak TK sepertinya tidak begitu 'mandatory' ya. Namanya juga masih TK. Masih main-main. Hehehe... Tapiii.. (ada tapinya, nanti aku ceritakan yaa lebih detil in shaa Allah di next postingan).

Kedua, pertimbangan yang paling utama sebenarnya buat kami; jarak tempuh dari rumah. Ini berkaitan dengan antar jemput anak ke sekolah. Di sini, ga semudah di Indonesia untuk bepergian kan ya. Meskipun sekarang ada fasilitas uber dan careem (semacam g*jek/gr*b kalo di Indonesia), tapii buat aku emak beranak 3 ini cukup sulit. Kalau terpaksa mungkin bisa. Karena harus angkut 3 anak, 1 masih bayi. Rempoong cyyyn. Hehehe... Jadi, jarak tempuh yang masih dalam taraf bisa diantar jemput suami adalah opsi yang paling utama.

Ketiga, biaya. Tentu saja, menyekolahkan anak butuh biaya. Perlu dong kita kalkulasi, kira-kira biaya sekolahnya masuk budget atau tidak. Meskipun, tiada yang sia-sia dalam menuntut ilmu. Segala biaya yang dikeluarkan dalam menuntut ilmu dan kemudian anak yang menuntut ilmu itu menjadi anak yang ilmunya bermanfaat bagi banyak orang, bukankah itu adalah amal jariyah? Meski sekarang masih TK. Tapi itu bukankah salah satu jenjang menuju pendidikan yang lebih tinggi nantinya? Makanya di sini, banyak banget orang yang berlomba-lomba jadi muhsinin untuk oara mahasiswa, mulai dari menyediakan rumah, memberi makanan (sembako) dan banyak lagi. Ma shaa Allah.
Meski demikian, kita ga bisa naif juga kaan. Ga mungkin kita memilih sekolah yang super-super over budget. Itu naif namanya. Hehehe...


Ada beberapa opsi sekolah.
1. Sekolah Indonesia di sini (SIR)
Sebenarnya, untuk target kami menyekolahkannya biar kecebur ke lingkungan baru, sekolah Indonesia adalah pilihan yang tepat. Sekolahnya menggunakan kurikulum Indonesia. Bahasanya adalah bahasa Indonesia. Tidak ada kecanggungan bahasa. Pun, jika kita kembali ke Indonesia suatu saat, tidak ribet pindah dengan berbeda kurikulum gitu kan. Bisa masuk sekolah negeri. Kayak pindah sekolah aja sama seperti di Indonesia pindah sekolah dari suatu dareah ke daerah lain. Di segi biaya pun, SIR sendiri biayanya bisa dibilang tidak terlalu mahal jika berdomisili di dekat lokasi sekolah (daerah Ummul Hamam dan sekitarnya). Masalahnya, SIR berlokasi jauh dari tempat tinggal kami. Jarak 30 km-an. Bolak-balik 60 km. Waktu anak selesai sekolah dengan jam istirahat ayahnya juga tidak matching sehingga tidak mungkin ayahnya anak-anak menjemput. Dan kami belum bisa mempercayakan Aafiya kepada orang asing untuk diantar jemput. Maka opsi sekolah di SIR terpaksa tidak kami ambil.

2. DAR (Sekolah Arab).
Sekolah Arab untuk level tamhidi (setingkat TK) di sini sebenarnya gratis. Buku juga disediakan. Sekolahnya sore.Tapi, terkendala dengan persyaratan bahwa ibunya harus sekolah juga di sana untuk kelas bahasa Arab atau tahfidz Al Qur'an. Dan tetap menyaratkan antar jemput juga walaupun berjarak 5 km-an maximal dari rumah karena setiap Hayy (district) itu menyediakan DAR. Aku tidak bisa meninggalkan Bayi dan Si Uni Aasiya untuk ikut sekolah bersama Kakak Aafiya tentunya. Bahasa pengantar adalah bahasa Arab. Masalah bahasa sebenarnya tidak begitu masalah untuk Anak, karena Anak biasanya menyerap lebih cepat dan bisa memahami bahasa tanpa mesti "ditranslate" dulu di otaknya. Gak kayak kita orang dewasa yang ketika berbahasa asing, otak kita mesti mentranslate dulu ke bahasa kita, diproses, lalu direspon dan ditranslate lagi ke bahasa asingπŸ˜†πŸ˜‚. Kalau anak, memahami bahasa sama seperti mereka memahami bahasa ibu (bahasa utamanya). Tapi, karena waktunya tidak match dan juga tidak ada yang bisa jagain Maryam dan Aasiya, tentu opsi ini tidak bisa dipilih. Sebenarnya, opsi ini benar-benar opsi terakhir dan tidak kami masukkan ke list sih. Hehehe...

Ada juga DAR yang pagi dan menyediakan hadonah (nursery) untuk anak dan bayi. Ini juga ibunya harus sekolah juga di sini. Dan menyediakan kelas tamhidi untuk anak. Opsi ini sempat kami sebut pada awalnya. Tapi, aku sulit meninggalkan Maryam dan Aasiya di Hadhonah. Lokasinya juga sangat jauh dari rumah. Lagi-lagi terkendala jarak kan. Tapi, karena jam berangkat dan jam pulangnya matching dengan waktu istirahat Suami, sebenarnya masalah transport masih bisa disiasati. Kendala utama karena aku tidak bisa meninggalkan Maryam terutama. Si Bayi ini sangat sulit diasuh/dipegang orang lain. Aku tak ingin meninggalkan 'trauma' dan luka di hatinya karena ditinggal ibunya sekolah. Lain cerita kalau sekiranya usia Maryam sekarang sudah 3 tahun dan sudah bisa dikenalkan dengan tempat baru. Mungkin opsi ini akan aku pilih.

3. Sekolah Internasional
Sekolah internasional masuknya sama dengan sekolah pagi pada umumnya. Jam pulangnya juga sama dengan jam istirahat siang suami sehingga bisa antar jemput. Soal jarak juga tidak masalah karena hanya 5-10 menitan dari rumah. Soal biaya juga sebenarnya akan sama dengan SIR jika kami menggunakan jasa transport. Karena kalau memilih opsi SIR, 80% total biaya adalah untuk transportasi. Jadi, tentang biaya sebenarnya bisa dikatakan masuk budget. Kekurangannya, adalah kurikulumnya bukan kurikulum Indonesia. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum amerika. Tapii, alhamdulillaah tetap ada kurikulum agamanya. Meskipun sekolah internasional, ada kurikulum agama yang belajar tentang iman, menulis huruf hijaiyah, dan juga menghafal Al Qur'an. Jadi, kayak mix antara kurikulum amerika dan kurikulum arab gituh. Bahasa pengantar adalah bahasa inggris. Kekurangannya, jika nanti sekiranya pulang ke Indonesia, sulit menyesuaikan kurikulum karena ketika pulang ke Indonesia, kemungkinan besar kami tidak akan menyekolahkan anak di sekolah Internasional. Opsi yang kami pilih kemungkinan besar adalah sekolah semacam SDIT, SMPIT dan SMAIT. Tapii, masih bisa disiasati. Di SIR sendiri setiap weekend ada paket khusus untuk yang anak-anak non-SIR. Jadi untuk memperoleh NIS (nokor induk siswa) ada semacam paket khusus gitu. Anak sekolah hanya di hari libur (weekend) di SIR.

Bagaimana jika anak belum lulus SD tapi udah pulang ke Indonesia misalnya. Ada opsi untuk mengikuti jejak teman-teman yang homeschooling di sini tapi memakai kurikulum di Indonesia. Mereka nanti ikut ujian, bayar semacam lisensi gitu (aku belum tanya detil gimananya) dan bisa mendapatkan NIS.


Dari sekian opsi di atas, opsi yang paling memungkinkan yang kami pilih adalah... menyekolahkan Aafiya di sekolah internasional. Dan finally, setelah sekolah berjalan 5 minggu, Aafiya kami daftarkan di sebuah sekolah internasional yang cukup dekat dengan rumah kami.


Bersambung ke postingan berikutnya... in shaa Allah.
Read More

Ketika Memutuskan untuk Menyekolahkan Anak (1)

Setelah lamaa tak corat-coret blog, akhirnya pada blog jua aku kembali. Hehe. Oleh sebab blog adalah 'selokan' buat mengalirkan apa yang terlintas tanpa harus 'bersinggungan' dengan orang lain. Xixixi. Berbeda dengan media sosial di mana status kita bisa saja nyantol di beranda orang lain, maka blog hanyalah bagi yang benar-benar serius ingin berkunjung. Paling tidak, mesti transit di search engine dulu untuk sampai ke sini kan. Kekeke... Makanya buat aku ..., blog adalah tempat ternyaman untuk berbagi. Bukan media sosial. Hehe. Smoga blog ini ga sepi lagi yaaa. Heuheu... Doakan istiqomaaah.

Kali ini aku ingin menceritakan kenapa akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan Aafiya tahun ini. Aaaak... ma shaa Allah... tak sangka waktu berlalu begitu cepat. Our first born udah sekolah ajaaaa. Time flies fast. Super fast. Aaakk.. my little baby now using a uniform, bring big bag and luch box. Rasanya... aahh nano-nano. Terharuu 😭... Excited ... Senang ... Sedih juga karena berpisah benerapa jam ... dan juga terselip sedikit khawatir. Namanya juga melepas anak pertama kali ke sekolah yaaa.

Aafiya in shaa Allah 6 hari lagi genap 5 tahun. Kata orang-orang, anak yang lahir september-desember itu umurnya nanggung-nanggung kalo mau disekolahkan. Heuu... Mau dibulatkan ke atas (dianggap 5 maksudnya) masi agak kekecilan. Kalau digabung ke usia di bawahnya, ehh anaknya rada ketuaan juga dibanding temannya yang sekolah nantinya yang rerata lahirnya di tahun berikutnya. Bingung kan? Heuu...

Nah, pada awalnya plan kami menyekolahkan Aafiya itu tahun depan (usia 5 tahun 11 bulan--karena tahun ajaran baru di sini dimulai september dan Aafiya lahir oktober) langsung ke TK B. Karena kami termasuk penganut 'aliran' yang tidak menyekolahkan anak terlalu dini (misal dari usia 2-3 tahun). Selain itu, biaya sekolah di sini bisa dibilang mahaaaal kalau memilih sekolah swasta. Ehehehehe. Tapiii... (ada tapinya) akhirnya jadinya kami masukkan ke sekolah tahun ini, plan nya TK A dulu.

Ada panjaaaaang pertimbangan dan mikir-mikirnya sampai kami akhirnya memutuskan dan bermuara di satu kata: sekolah.

Aafiya sebenarnya kalau ditimbang secara akademis, udah cukup siap untuk sekolah, in shaa Allah. Melihat ketertarikannya mengenal huruf dan angka. Aku sendiri sebagai ibu, tidak mengajarkan secara serius calistung (apalagi sampai les² segala) buat Aafiya di usianya di bawah 5 tahun ini. Tapi, karena anaknya terlihat interest akhirnya dia belajar sendiri mengenali angka dan huruf ini. Cukup surprise ma shaa Allah ketika Aafiya menulis semua huruf tanpa contekan di papan tulis suatu hari. Sebagai emak yang rempong dengan 3 balita dan nyaris ga sempat ngajarin Aafiya, aku surprise ketika dia bisa, ma shaa Allah... 🤩🤩 Tapii.. tentu ini bukan alasan mengapa aku menyegerakan sekolahnya.

Jadi, Aafiya ini anaknya memang agak pemalu. Sulit untuk berjumpa dengan lingkungan baru dan orang asing. Tidak mau ngomong dan terlihat sedikit cemas. Oleh sebab kultur di sini memang jarang main ke luar kayaknya yaa. Tapii, pemalunya Aafiya agak banyak dosisnya. Dalam kata lain, sebutlah 'insecure'. Heu... Nah, ketika dia berada di lingkungan yang bikin dia merasa 'secure' secara psikisnya, dia akan menjadi confidence dan sifat pemalu dan kecemasannya dengan lingkungan baru itu jadi hilang.

Ada banyak opsi yang kami list pada awalnya. Apakah dengan mengenalkannya ke grup kecil dulu. Alhamdulillah di masjid dekat rumah ada grup tahfidz anak-anak yang bisa didampingi oleh orang tua karena disediakan juga grup tahfidz buat orang tua. Sempat berpikir membawa Aafiya ke sana dulu. Atau, mengajaknya dan encourage dia untuk berani ngomong di baqala atau tukang es cream misalnya. Membawanya selalu ke lingkungan yang banyak orang semisal pengajian ibu-ibu di sini. Tapii, semuanya tetap saja masih ada emaknya di sana. Lalu kapan Aafiya berani? Padahal, pas di lingkungan yang dia merasa secure karena ada teman yang nyambung, dia berhasil ngomong banyak dan bercerita dengan PD. Tidak ngelendot aja di bawah ketiak emaknya. Hehehe...

Ketika ditanya ke teman yang kebetulan psikolog, dia juga menyarankan untuk sekolah (bukan homeschooling lah intinya). Barang kali di sekolah dia menemukan teman yang membuat dia secure di lingkungan baru. Jadi, aafiya lebih PD lah yaa... tidak malu-malu dan cemas lagi dengan lingkungan baru yang banyak orang karena sudah terbiasa dengan sekolah yang rame.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyekolahkannya. Keputusan yang diambil bahkan ketika sekolah untuk Saudi sudah berjalan 1 bulan lamanya. Sementara kalau menurut kalender pendidikan indonesia, sudah masanya PTS malah. Sudah berlalu setengah semester. Tapii, namanya anak TK... kayaknya juga ga papa ketinggalan. Apa sih yang dipejari anak TK? Ya kan?

Awalnya begituu... hehehehe...

In shaa Allah lanjut ke part berikutnya...

Read More

Tentang Sepiring Gorengan dan Kedinamisan



'Sepiring' Gorengan (tahu brontaks minang) ini dibuat hanya 15 menit sebelum berangkat ke taman dekat rumah. Soal taste? Alhamdulillah lebih dari lumayan. Xixixi... (baca: aku ke-PD-an) wkwkwkwk.


Begitulah. Kadang, banyak 'kondisi terdesak' membuat orang lebih kreatif. Jika saja ini Indonesia, mungkin aku lebih memilih mampir sejenak ke warung, membeli beberapa pcs gorengan sebelum ke taman. Tapi, tentu saja tak ada penjual tahu brontak di sini. Hehe.


Sejujurnya, aku memiliki salah satu hobby yang dikenal dengan wisata kuliner. Apalagi, jauh di perantauan begini. Begitu mudik, selain masakan terfavorit--masakan ibu tentunya--yang pasti akan selalu dirindukan anak-anaknya di manapun jauhnya tanah rantau, ada beberapa jenis kuliner yang dikangenin. Mudik, berarti kesempatan mencicipi beberapa kuliner yang apalagi tak available di tanah rantau.


Mudik kemarin, aku tentu tak melewati kesempatan itu. Punya espektasi tinggi terhadap beberapa kuliner di kampung halaman (di Indonesia maksudnya. Tak spesifik di Sumbar saja). Tapii... segala sesuatu bisa saja berubah. Iya kan? Sebagaimana hidup ini begitu dinamis.


Bagaimana berubahnya?
Jadi begini. Dari sekian banyak kuliner yang aku ekspek ternyata mostly malah 'below my expectation'. Entah karena rasanya memang 'menurun' atau ekspektasi dan asa yg terlalu tinggi?! Kerap terbersit di benak "Koq rasanya ga seenak yang dipikirkan?" Heuheu...


Aku rasa, penjual bisa saja tak pernah berubah. Akulah yang sebenarnya berubah. Setelah sekian lama 'berpetualang', mencicipi berbagai citarasa yang berbeda dengan citarasa nusantara, bisa saja menjadi standar yang berbeda. Setelah terbiasa memasak sendiri dan meng-adjust sesuai dengan selera sendiri, ketika mencoba masakan yang dulu terasa sangat enak... tiba-tiba menjadi biasa saja.

Ini bukan sama sekali merasa bahwa masakan sendiri jauh lebih enak. Aahh, jumawa benerrr yak kalau begitu. Hehe. Tapii, karena sudah terbiasa membuat sesuatu homemade dengan rasa yang udah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pas di lidah maka ketika mencoba masakan orang lain (yang dulu ketika belum terbiasa memasak sendiri terasa sangat enak) sekarang terasa biasa-biasa saja. Ini menyoal mindset.


Dulu aku sangat heran kenapa nekbu nya anak-anak (ibuku tercinta) sangat tidak suka wisata kuliner dan lebih memilih makan dari masakan sendiri. Tapi, sekarang aku mengerti alasannya. Selain ibu, aku juga dulu memiliki teman kuliah yang sangat tidak suka jajan di luar meskipun kita sekelas lagi acara makan-makan. Bahkan acara tasyakur dengan dosen sekalipun. Dia selalu membawa bekal dari rumah dan 100% homemade selalu. Dulu aku heran 'koq bisa yaah'. Sekarang, aku mengerti. Everyone has their own reason.


Kalau ditanya sekarang, apakah aku jadi gak suka wisata kuliner lagi. Jawabanku: tentu tidak! Aku tetap suka wisata kuliner. Tapiii, aku ingin sekurang-kurangnya 90% dari total konsumsi pribadi soal makanan adalah homemade. Sembilah puluh persen itu sudah seminimal-minimalnya. Meskipun aku tidak hobi memasak, tapiii... menyediakan makanan sehat, bergizi (dan mudah-mudahan enak) untuk keluarga sendiri adalah my honour. Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri ketika suami dan anak makan dengan lahap masakan yang kita masak sendiri. Benar kan?


Kesimpulan: (wkwkwkwk... kayak karya ilmiah aja). Ini adalah menyoal mindset. Bagaimana kita bertindak, itu 'berangkat' dari bagaimana mindset kita. Jadii, sangat penting untuk memiliki mindset positif kan yaa. Allah saja menyuruh kita untuk selalu husnudzan kepada-Nya, kepada sesama muslim kan yaa. Berpikir dan berprasangka baik.


Semoga aku bisa mengimplementasikannya. :)
Read More

Teko

Teko hanya akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Jika isinya air teh manis, yang dikeluarkan juga adalah teh manis. Jika isinya air comberan, maka yang dikeluarkan dari teko tersebut juga air comberan. Meskipun tekonya hanya teko plastik tapi isinya madu, yang keluar darinya ketika kita tuang adalah madu. Sebaliknya meski teko terbuat dari emas sekalipun, tapi isi di dalamnya adalah air kubangan, tetap saja akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya tersebut; air kubangan.

Begitu juga dengan diri kita. Apa yang keluar dari mulut kita (atau yang kita tuliskan di komentar) adalah cerminan dari apa yang ada di dalam diri kita. Bacalah sekali lagi, tentang apa yang tertuang dalam setiap goresan yang kita tulis, baik berupa tulisan maupun komentar. Apakah berupa hujatan, cacian, ejekan, dan ujaran kebencian? Ataukah sudah berbaik-baik dalam berkata? Merasa menang dengan mengomentari berapi-api penuh luapan emosi yang disertai dengan cacian dan ejekan? Ah, jangan-jangan kita hanya tengah mempertontonkan apa yang menjadi "isi" dari diri kita, hati kita. Alih-alih merasa memenangkan perdebatan dan berhasil 'mengalahkan' lawan yang kita hujat dan hinakan, yang ada sebenarnya kita sedang mempertunjukkan diri kita yang sebenarnya.

Yuk, mari bijak dalam berkomentar. Jika tidak sesuai dengan kita, tidak harus dengan mengeluarkan kata kasar, hujatan dan hinaan kan? Bisa jadi, ajal kita datang saat tak sempat minta maaf kepada orang yang kita hina, ejek dan hujat. Kemanakah akan dicari orang yang kita hujat itu nanti di yaumul hisab untuk meminta maaf?

Sungguh sedih rasanya melihat hilangnya empati dan rasa kemanusiaan ketika diberitakan ada yang meninggal ketika aksi damai kemarin tapi dikomentari dengan kasar, ditertawakan bahkan dihina. Bisa saja mereka orang yang tak sengaja lewat ketika kebrutalan terjadi. Atau orang yang berniat di dalam hatinya memperjuangkan keadilan yang dirasa timpang. Lalu kita menertawakan kematian mereka. Padahal, boleh jadi mereka pergi dengan sebaik-baik kematian (misal karena terbunuh ketika kebetulan berada di sana atau niat mereka adalah tim medis yang berniat untuk membantu yang terluka). Kita tidak pernah tau akhir kehidupan kita nantinya akan seperti apa. Dapatkah kita menjamin diri kita lebih baik dari orang yang kita tertawakan tersebut? Atau jangan-jangan lebih buruk.

Duhai sahabat, semoga kita bisa lebih bijak dan lebih baik dalam berkata (berkomentar) ataupun dalam menuliskan sesuatu. Karena sejatinya, apa yang keluar dari mulut kita adalah cerminan dari apa yang ada di hati kita. Jangan hanya demi membela jagoan di pilpres, kita korban diri kita dengan berkata keji sehingga semakin menumpuklah timbangan keburukan kita. Membela kebenaran itu harus. Membela ketidakadilan itu mesti. Tapi, bukan membela dengan fantisme buta. Sehingga terpecah-pecahlah kita, padahal sama-sama mengaku umat Nabi Muhammad.

Semoga Allah senantiasa tunjuki kita akan sesuatu yang Haqq dan Allah kuatkan kita untuk mengikutinya. Dan semoga Allah tunjukkan kita pada kebathilan dan Dia kuatkan pula kita untuk tidak mengikutinya. Semoga Allah selamatkan bangsa Indonesia dari makar orang-orang dzalim. Aamiin yaa mujibassailin.

Read More

Ketupat


Sejujurnya ini adalah kali pertama aku berlebaran dengan memasak ketupat. Dan ini baru kali kedua memasak ketupat di mana percobaan pertama beberapa tahun yang lalu gagal total dengan hasil ketupatnya tinggal kulitnya doang. Hahaha. Isinya berhamburan di dalam air perebusnya. Jadi bisa disimpulkan, selain pertama kali berlebaran dengan ketupat, ini juga kali pertama ketupatnya berhasil dieksekusi dengan sukses. Hehe. Mungkin terdengar aneh bagi yang sudah terbiasa dengan menu mainstream lebaran berupa ketupat, opor, sambal ati dan goreng kentang. Oleh sebab menu yang mainstream di kampungku (setidaknya di keluargaku) bukanlah ketupat dan kolega-koleganya. Jika suatu saat kau datang ke kampungku untuk berlebaran, maka yang kau nikmati adalah nasi beserta rendang hitam (yang proses memasaknya bisa seharian), gulai kalio, abuih pucuak ubi, dan sambalado. Salah satu "menu wajib" lainnya adalah kue gadang dan lamang (beras ketan beserta santan yang dimasak dalam bambu dan dibakar di api besar) yang rasanya ladziiiiiz ma shaa Allah... Apalagi jika ditemani tape hitam. Rendang adalah salah satu menu wajib lebaran. Sedangkan gulai kapau sendiri, tidak begitu familiar di kampungku. Itu khasnya kampung Ayah Aafiya kayaknya yaa. Hehehe... Percaya atau enggak, aku baru mengenal dan mendengar istilah "nasi kapau" ketika kira-kira usia SMP.

Jadi apa menu lebaran kali ini? Sebut saja ini katupek pitalah KW10. Ekekekeke... Atau kalau di kampungku sebutannya adalah lontong gulai cubadak. Varian lain adalah lontong gulai toco dan lontong gulai paku. Eittss.. Paku digulai?! Hehehehe...


Eid mubarak 1440 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, Taqabbal ya kariim.
Read More

Perniagaan yang Amanah

Kali ini aku akan berbagi cerita soal beli air galon. Xixixixi... Kalo di Indonesia, untuk keperluan memasak (masak nasi, masak air, masak sayur dan lain-lain) cukup mengambil air dari sumur. Air sumur di Indonesia in shaa Allah bersih. Biasanya kalau di rumah, ibu menyiapkan 1 wadah khusus yang dipakek untuk menyimpan air untuk keperluan memasak. Apalagi kandungan mineralnya juga bagus yaa. Hehehe. Kalau untuk keperluan minum sendiri, biasanya air dimasak lagi kan yaa hingga mendidih.

Naaah, itu semua ga akan berlaku di sini! Air yang mengaliri untuk keperluan rumah tangga merupakan air suling dari air laut. Ya kalii di gurun ada sumur πŸ˜†. Ya ga ada laaaaah... ekekekekke... Bayangkan, air-air itu "didatangkan" dari jarak 400 km. Soal teknologinya, ma shaa Allah... udah canggih lah yaaa. 

Naaah, berhubung itu adalah sulingan air laut, mau ga mau tetap saja masih ada "sisa endapan" garam walaupun dengan kadar yang sedikit. Aku sering temukan wadah-wadah yang abis dicuci lalu dibiarkan lama dengan posisi tidak dimiringkan agar airnya turun tapi dengan posisi di mana ada genangan sedikit air lalu mengering sendiri, maka akan ada residu putih yang agak mengeras. Itulah garam! Saluran air juga lebih sering mengalami kerusakan karena adanya garam tersebut. Oleh sebab itulah makanya air ini tidak dipakai untuk kebutuhan memasak.

Lalu pakai apa untuk keperluan memasak? Yup! Air galon. Tapiii bukan kayak beli air di depot galon air. Air galon di sini adalah air galon kemasan. Sama kayak kita kalo beli galon aq*a kalo di Indonesia. Naahh, proses pembelian isi ulangnya yang pengen aku ceritakan di sini.


Kami memang memilih n*stle sebagai air galon (iyaa... memang produk b*ikot... hiks hiks...). Tapii karena kemudahan prosesnya makanya kami lebih memilih ini. Kami tinggal di lantai paling atas (lantai 3) ga ada lift. Ga kebayang juga mau angkut-angkut galon ke lantai 3. Naah beli air galon n*stle ini benar-benar "memanjakan" kami sebagai costumer. Prosesnya sangat manageble dan..... karyawan antar jemput galonnya AMANAH!

Pertama kali sebelum beli galon kita registrasi dulu di web nya (wuiihh canggih yaaa, beli air galon aja pakek registrasi segala.. ekekeke. Ntar kepikiran di Indonesia mau bikin layanan kayak gini aaahhh.... semogaa... semogaaa..). Lalu kita akan dihubungi sama costumer service nya untuk detilnya termasuk alamat rumah. Naah pada hari rutinnya (misal buat area Nahda--tempat tinggal kami--pada hari Rabu pagi, tapi di district lain bisa berbeda. Bisa hari kamis, bisa hari selasa juga) petugas yang delivery galon akan membawakan booklet kupon yang kita request. Booklet kupon itu bisa isi 100 kupon, bisa isi 50 kupon ataupun 20 kupon. Tapi kebijakan terbaru adalah booklet 90 kupon dan 60 kupon serta 20 kupon. Jika kita adalah pelanggan baru, kita dapat gratis 5 tabung galon berserta isinya tentunya (masa galon kosong kekeke) untuk pembelian 100 kupon, gratis 3 tabung galon untuk pembelian 50 kupon dan gratis 1 tabung galon untuk pembelian 20 kupon. Dalam penukaran kuponnya, 1 kupon untuk redeem 1 galon air.

Penampakan Kupon Galonnya



Booklet kuponnya


Petugas delivery akan mengambil galon kosong dan menggantinya dengan galon baru yang berisi air (tentunya harus ada kuponnya untuk menukarnya dengan galon terisi penuh dong yaa hehehe) pada hari tertentu (seperti yang aku bilang di atas, di district tempat kami tinggal, jadwal rutinnya pada hari rabu pagi). Kita cukup meletakkan galon kosong di depan pintu rumah beserta kuponnya pada malamnya trus tinggal bobo cantik deeh. Besok paginya... taraaaaa... galonnya sudah berganti dengan yang full. Tanpa harus repot-repot nelponin bolak-balik si tukang galon. Begitulah setiap rabu. Kita ga perlu pusing mikirin galon yang kehabisan karena petugasnya akan datang setiap waktu yang ditentukan tanpa sibuk-sibuk kita telponin. Enak kan yaaa... Pengen deeh bikin kayak gini jadi usaha alias bisnis. Ekekekeke.... Memanjakan costumer banget soalnya. Berabenya kalo kita kelupaan narok galon doang. Misal lupa kalo hari ini hari rabu dan belum taro galon kosong di depan pintu rumah!! Hihi... Tapii so far sih aku masih ga masalah karena punya galon 5 pcs (dapat gratisan dari beli kupon pertama kali) dan dapat hibah 5 botol galon lagidaro teman yang exit. Jadi total ada 10 galon. Kekekeke.... Naah kebutuhan air galon cuma 2-3 pcs seminggu. Jadi kalo kelupaan narok di hari rabu, masi ada stok. Kecuali kalo lupa berturut-turut 3 minggu. Ini bari berabe. Hihi...

Gimana kalo kupon habis??? Naahhh inilah inti ceritaku sebenarnya yang memiliki preambule yang panjaaaaang di atas wkwkwkwk... Tentang amanahnya mas-mas delivery galon (emang orang jawa panggil mas?! Ya enggaklaah... Kekeke).
Harga 1 booklet isi 60 (yang versi terbaru) yang mau kami beli adalah 480 SAR. Sekitar 1,8jt kalo dirupiahkan. Kedengarannya mahaal yaaa. Heuheu... Tenaang itu bukan buat sekali minum koq. Hehehe... Biasanya 60 kupon itu untuk 7 bulan-an. Jadi, sekali beli kupon untuk 7 bulan ke depannya. Harga 1 galon adalah sekitar 30rb rupiah. Hampir 2 kali lipat harga segalon aq*a kalau di Indonesia yaa. Tapi kan itu udah include delivery sampai pintu rumah, dan udah diangkutin ke lantai 3 lagi! Memang biaya hidup di sini rata-rata lebih tinggi dari Indonesia. Tapi dalam beberapa hal lebih murah juga siiiihh. Hehehe... Apalagi di sini banyaaak diskon untuk kebutuhan groceries.

Pas kupon habis, kami cukup meletakkan uang di depan rumah dan bikin tulisan "we want to buy new coupons booklet" sambil meletakkan uangnnya diikat pakai karet. Transparant gitu. Ga pakek amplop-amplopan (amplop maah serangan fajar kaliii... Jangan mau terima yang beginian yaaaa). Kebayang ga sihhh, narok uang 1.8jt di depan pintu rumah di mana bisa aja digondol orang tak bertanggung jawab, dibawa kabur atau apalaaah. Kalo tukang delivery galonnya ga amanah kan bisa aja dia ambil uangnya trus kabur. Toh selama ini aku juga ga pernah berjumpa denga tukang delivery galon. Jadi ga bisa diaduin juga dan ga bisa nuduh juga. Kan ga tukang delivery galon aja yang berpeluang ngambil uangnya. Bisa juga tetangga kan yaa yang 1 building yang punya akses ke depan pintu rumah kita.

Transaksi cukup taro uang di luar diikat karet dan bikin tulisan pengen beli galon (kebetulan minggu kemarin uangnya kurang karena bookletnya jadi 60 kupon yang sebelumnya 50 pcs, jd ini yang ditaro di luar cuma sisanya yang kurang aja)

Ma shaa Allah tabarakallah. Mereka amanah. Uang segitu banyak cukup dengan modal "percaya" aja diletakkan begitu saja di pintu rumah tapi Alhamdulillaah tetap diganti dengan booklet. Bukan dibawa kabur. Ma shaa Allah. Aku sungguh kagum dengan keamanahan mereka. Dan juga dengan kondisi yang relatif aman seperti ini, ma shaa Allah. Semoga terus begitu yaaa...
Kalau di Indonesia aku sungguh ga yakin deh, naro uang 1.8jt di depan pintu rumah tanpa pengawasan. Apalagi CCTV. Mana ada CCTV di rumahku. Kalo Di Indonesia mungkin belum 5 menit mungkin udah raib. Aahhh... semoga sajaa di Indonesia nanti bisa begini yaaa... Aamiin yaa Allah.... Aamiin yaa Allah...
Read More

Pengalaman Pemilu di Riyadh tahun 2019

Pemilu 2019 alhamdulillah telah terselenggara di Riyadh, Arab Saudi pada tanggal 12 April 2019. Tapiii, penghitungan suara akan dilakukan serentak dengan pemilu di Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 April nanti in shaa Allah.

Pemilu 2019 ini sangat-sangat berbeda dengan pemilu 2014 lalu. Terasa banget ke-crowded-an nya. Tingginya animo masyarakat Indonesia di Riyadh untuk pemilu kali ini membuat pemilu ini terasa sangat-sangat berbeda. Banyak orang yang terpaksa harus golput karena tidak bisa mencoblos. Jadi, pagi-pagi udah datang ke KBRI, tapi antrian puanjaaaaang sampai 3 jam lebih tapi akhirnya tidak bisa mencoblos karena sudah harus balik lagi ke tempat kerja. Terutama yang bekerja di perumahan (ART) yang ijin majikannya cuma sebentar saja. Sayang sekali sebenarnya... hiks.

Formulir C6 sendiri harus diprint di tempat. Hal ini membuat antrian semakin mengular karena keterbatasan SDM dan device. Dengan peserta pemilu yang membludak (meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2014), benar-benar tidak mengakomodir.

ngantri C6 (foto by Abu Aafiya)

Suami kebetulan berada di antara lautan manusia itu. Ngantri 3 jam lamanya. Membayangkannya saja sudah ga sanggup dirikuuh. heheu... Pada akhirnya ga ada lagi print out C6. Hanya dicatat manual saja. siapa saja yang punya passport Indonesia atau e-KTP atau SPLP bisa mencoblos meskipun tak terdaftar di DPT. Data DPT pun datanya diambil dari WNI yang memperpanjang passport 5 tahun terahir. Teman-teman yang sudah final exit dari Riyadh pun masih terdaftar di DPT. Daaan, sebenarnya ini membuka peluang untuk terjadinya kecurangan kan yaaa. Semoga aja ga ada yang berlaku curang.


Semoga terpilih pemimpin Indonesia yang lebih baik yaa...
Jangan lupaaa hari ini nyoblos yaa... pilih PKS dan 02 utk presidennya... otreee... (emaaaanggg ada yang bacaaa Fathel.. hahahaha... udah selesai kaliii nyoblosnyaa jam seginiiiπŸ˜†... pakeknya jam saudi siiihhh... jam Indonesia mah skarang udah menjelang siang kekeeke....)

Read More

Pasar Kaget Annisa: Sebuah Ide Cemerlang

Jajanan dari pasar kaget Annisa: bubur ayam, nasi rames, nasi ayam geprek dan es campur... hmmm nyummyy ma shaa Allah...
Dari dulu pengen nulisin ini... tapi belum kesampaian hehehe. Tentang pasar kaget Annisa; sebuah ide cemerlang yang menguntungkan. Keuntungan bagi pembeli; bisa menikmati jajanan khas Indonesia. Keuntungan bagi penyelenggara (dalam hal ini adalah BPKK PKS Riyadh) mendapatkan sumber dana. Hehehe...

Pasar Kaget Annisa digagas kalau tidak salah sekitar 2 tahun yang lalu dan rutin dilaksanakan setiap bulannya. Mekanismenya sederhana; beberapa orang yang memiliki passion memasak dan bisa "memproduksi makanan" dalam jumlah cukup banyak (misal 20-50 porsi) bisa mengajukan ke pengurus BPKK (digawangi oleh bidang pemberdayaan perempuan/keluarga) untuk menjadi chef bakulan makanan kuliner Indonesia. Satu kali periode; chefnya sekitar 3-4 orang yang menjual makanan Indonesia dengan menu yang tidak boleh sama. Masing-masing orang dapat jatah 2 menu. Menu didaftarkan ke pengurus di sebuah grup khusus. Setelah semuanya fix, Pengurus yang bertugas akan memberikan pengumuman mengenai menu-menu yang tersedia di berbagai grup komunitas masyarakat Indonesia di Riyadh. Sistemnya adalah pre-order.

Misalkan, seperti pasar kaget bulan ini yang berlangsung hari ini (5 April 2019), yang memang biasanya dilangsungkan hari jum'at. Kenapa jum'at? Karena itubadalah hari libur bagi aebagian besar orang. Untuk menunya berupa siomay, bubur ayam, baso malang, nasi ayam geprek, nasi rames, cilok, es campur, aneka sambel. Naah, pembeli tinggal pilih menu yang disukai, order ke pengurus sampai batas waktu yang ditentukan (biasanya 1 hari sebelum hari H). Ketika hari H, pengorder tinggal ambil di tempat dengan menu-menu yang sudah di pack. Tempatnya? Biasanya di Imarah/rumah salah satu orang Indonesia. Ma shaa Allah barokah banget rumah yang biasanya ditempati buat acara-acara itu.

Buat aku pasar kaget Annisa ini sangat menguntungkan. Bisa menikmati kuliner Indonesia apalagi pas ngidam dulu.. hihihi. Udah gitu, ma shaa Allah itu semua kan homemade yaa.. masakan rumahan. Dibuat bukan dengan sistem sakala produksi ala restoran. In shaa Allah kualitasnya pun terjaga.

Dengan berbelanja di pasar kaget Annisa berarti ikut berinfak?! Koq bisa?!!
Nah di sini letak istimewanya pasar kaget ini. Karena 10% dari total penjualan akan disalurkan untuk infaq. Pembeli beinfaq, penjual berinfaq dan dana ummat pun berdaya. Selain itu ada pemberdayaan SDM juga; belajar berniaga. Ternyata berniaga iru seru jugaa yaaa... Meskipun aku sendiri ilmunya masi cetek laah... Kayak ga punya passion gitu dalam berniaga. Hihihi... Mungkin harus lebih banyak belajar lagi. Ya harus lah yaaa!! Hehehe...


Semoga ide pasar kaget ini bisa menginspirasi terutama buat diaspora masyarakat Indonesia di belahan bumi mana pun berada saat ini... :)

Read More

Laptop Jaman Now

Fix, maret missing postingan. Heuheu...
Maaf yaa blog. Sudah lama tak disambangi. Tak terurus jadinya. Ada banyak kesibukan di bulan maret ini. Maklum, lagi musim pemilu. Apa hubungannya yaa? Kekekeke...

Oke guys, berhubung ini bulan April 2019 itu artinya kita akan menghadapi pemilu. Jangan lupaa pilih PKS No.8, dan juga Prabowo-Sandi nomor 02. Semoga Allah anugrahkan pemimpin yang amanah untuk Indonesia yang lebih baik, in shaa Allah...

Buat kamu yang berdomisili di Luar Negeri, surat suara cuma 2 ajaa yaaa... pileg DPR-RI (dapil jakarta II, jakpus, jaksel dan Luar Negeri) dan pilpres. Jangan sampai ketinggalam yaa guys... Otreeee... 😉😉😉

Di Riyadh sendiri pemilu diadakan hari Jum'at 12 April 2019, berhubung Jum'at adalah hari libur di sini. Beberapa daerah lainnya yang jauh dari KBRI, pemilu diadakan lebih cepat lagi (dimulai tanggal 8 April ini). Tapii, penghitungan suaranya tetap sama di tanggal 17 April 2019. Ada sekitar 10.000 an warga Indonesia di Riyadh tapii yang ikut pemilu paling berkisar 2000-3000 an orang saja kalau tidak salah. Karena keterbatasan transportasi dan ijin majikan biasanya siih karena mayoritas di sini kan pekerja rumahan.

Pemilu 2014 lalu juga aku ikuti di Riyadh. Itu berarti sudah hamir 5 setengah tahun aku berada di kota yang awalnya bernama Nejd ini. Waaaa... tak terasaa waktu begitu cepat berlalu...

Nah, ini judulnya apaa isinya apaa cobaa?! Hihihi... Ga nyambung banget! Harap maklum yaaa, ini baru intro yang ga berkaitan dengan isi dan inti (yang mungkin panjangnya lebih panjang dari intinya... wkwkwkwkwk...). Anggap aja temu kangen karena sudah lama tak jumpa blog. Kekekeke... Soalnya ga sempat nuliss aku tuuuuu.... Jadi emak beranak 3 ternyata lebih banyak menyita waktu. Noh, di belakang (ehh enggak dink... klo di sini dapur bukan di belakang. Kapan2 deeh aku ceritain soal desain rumah orang sini), cucian segunuuung, piring seabrek... dudududududu....

Laptop.
Benda ini akrab bagi kalangan mahasiswa (dan bahkan siswa jaman now). Tapi buat emak-emak, kayaknya HP aja udah cukup kali yaaa. Pengecualian buat emak-emak kantoran dan juga emak-emak yang hobby nguprek2 sofwer disain, video editing, atau yang suka nge-vlog.

Dahulu kala. Ketika beli laptop, biasanya "paket" nya udah include dengan penginstallan berbagai macam program/software. Mulai dari sotware sejagad raya yaitu Microsoft Office buat berbagai keperluan (apalagi mahasiswa) hingga software lainnya semisal keluaran adobe untuk keperluan photo editing, video editing. Atau keluaran corel.

Aku yaaa ngertinya begituuu. Beli laptop, sekalian dapat bonus berbagai software. Daan sudah pasti itu adalah program yang bukan original. Karena kalo original, emang mauu gituh dibagi-bagi gratisan?! Oke, sebutlah itu bajakan. Dan adalah hal yang terasa lumrah dan biasa saja. Ngopy software ke teman juga terasa biasa ajaa... ga ada rasa bersalah sedikitpun. Makluum, mahasiswaaaa. Dimaklumi kaan... kan... kaaaaan...?! Sampai-sampai antivirus pun bajakan jugaaa... Ya Salaaam...
Meskipun ada yang versi "student", tetaaap sahajaaa jutek alias ga ramah alias ga bersahabat dengan kantong mahasiswa. Parahnya lagi, aku juga ga tau itu ada versi student nya. Baru ngeeh yaa pas udah di sini, di Riyadh.

Ya, aku ga ngerti dulunya kalau segala macam software-software itu WAJIB pakek yang berlisensi. Wkwkwkwk, ketahuan banget kalo nginstall software ga pakek baca Agreement nya dulu. Langsung tekan tombol "next" aja... hihihi...

Naaah, setelah puluhan purnama tak beli laptop, surpriseeeeee.... suamiku tercinta beliin laptop 😍😍😍. Ma shaa Allah tabarakallah. Mungkin karena kasian liat istrinya penuh perjuangan menghadapi ke-lemot-an si laptop jadul ketika bikin desain spanduk, bikin video maupun pamflet. Kekekeke... Meskipun aku sebenarnya sudah biasa "bersabar" dengan laptop yang lemot atau yang tetiba "not responding" karena kelebihan beban buat nampung sotware yang makan space gedeeee, tapiii dikasi laptop yang space nya gedee itu benar-benar ga nolaaak dan senang banget alhamdulillaah... Ma shaa Allah tabarakallaah. Sebutlah ini laptop kami berdua. Eciyeeeee... hihihi... Walaupun suami lebih banyak pakeknya laptop yang dari kantor aja yang tentu saja spek nya jauh lebih besaaar dan ga dijual di pasaran. Laptop yang didesain khusus untuk pekerjaan telekomunikasi tentunya. Jadi, otomatis laptop yang baru dibeliin tersebut aku yang lebih banyak pakek. Heuheuheu...

Enaak banget rasanya upgrade dari RAM yang awalnya 2 GB jadi 8 GB. Hehehe... Alhamdulillaah... (yang sebenarnya bukan ini inti tulisanku kali ini). Laptop jaman now yang aku maksud di sini adalah tentang penyadaran bahwa aku mesti memakai software yang berlisensi bukan yang bajakan lagi. Ya, memang sih... yang bajakan juga kaga bisa diinstall di sini... 😂😂😂. Jadi, mau ga mau mesti beli yang original.

Dulu, ogah bangeett ngeluarin duit 100rb buat beli antivirus. Kemarin, kita hunting antivirus alhamdulillaah dapat promoo... yeiiiy... sekitar 120rb an laah... Mana mikir dulunya mau beli antivirus. Wkwkwkwk...

Laptop jaman now masi terinstall software gretongan aja kebanyakan... tapiii lumayan laaah untuk keperluan desain masi tercukupi dengan versi CS2 yang jaduull ituuu. Iyaaappp, di saat orang-orang udah pakek versi CC, aku tuuu masi ajaa pakek yang versi CS2 yang emang dikasi gretongan sama adobe. Gapapalaaah... Demi software yang ori... kekekke...
Kalo mau subscribe ke adobe-nya... mayan mahaaaall.. kecuali aku produktif menggunakan sofware nya. Kalo cuma dipakek sesekali ajaaa... sayang kalo subscribe katakuu maah. Aku sebenarnya lebih sukaa yang "beli putus" alias beli sekali bisa dipakek sepanjang masaaa. Hehe...

Sekarang lagi ngincer corel video studio aku tuu... Lumayan harganya.. sekitar $89 untuk versi ultimate 2019. Nabung duluuu... wkwkwkwkwk... Abisnya aku udah terlanjur suka ama video studio dari jaman dia masi bernama Ulead Video Studio dulunyaa. Kalo yang adobe premiere... lagi-lagi deeh subscribe tahunan... Aaaakk.. ogah deeeh sekarang. Heuheuheu... Ntar aja kalo memang produktif dalam dunia per-edit-an foto maupun video. Sekarang fokusnya sama triple princess dulu deeeh yaaa... Ga punya banyak waktu untuk di depan laptop. Princesses biasanya protes kalo emaknya duduk manis di depan laptop. Jadii, aku mesti buka laptopnya nyuri-nyiri waktu banget.

Okeeeh.. sekiaan curcol (geje) dari aku. Lumayaaan buat mengisi kekosongan postingan 2019 ini. Maaf yaa spam ajaa. Eh iyaa, kenapa aku kekeuh ga mau pakek software bajakan lagi, dulu udah aku bahas juga di blog ini. Tapii sekali lagi aku ga judge lho yaaa gaes. Dikembalikan ke keyakinan masing-masing adjaah. Okee siip?! 😉😉😉

Read More