HOBI
Aku termasuk yang memiliki banyak hobi. Mulai dari nulis-nulis (dulu sempat nulis novel segala 😂) yang "sisa-sisa ke-eksisan-nya" masih terabadikan di akun wattpad, teenlit zaman-zaman baheulak yang kalau dibaca ulang bikin ngakak sembari mbatin "koq bisaa yaa aku bikin tulisan begini dulunya". Tapi di sisi yang lain, tulisan itu menjadi saksi 'perjalanan' fikroh dari yang picisan hingga momen hijrah (semoga Allah jadikan kita semua istiqomah di jalan-Nya), aamiin. Hobi berikutnya njahit-njahit mulai dari tas-tas simpel, gamis anak-anak, hingga sempat bikin puffer jacket segala yang semuanya masih level beginner. Hobi mfoto-mfoto tapi yaa kemampuannya masih jauh lah. Hasilnya masih begitu-begitu aja. Hobi nguprek sofwer desain tapi ya masih jauh lah dari kata profesional. Hobi videografi dan juga animasi sederhana tapii... masih gitu-gitu aja. Kayaknya lebih cocok disebut tukang ngedit video. Ekekeke.
Dan hobiku dan suami sangat bertolak belakang. Ibarat bainal masyriki wal maghrib. Antara timur dan barat dan tidak ada satu pun yang ber-arsir-an, bahkan hanya sekedar bersisian pun tidak. Xixixi.
Tapi salah satu hal yang aku garis bawahi adalah: di antara sederet hobiku tersebut, tidak ada satu pun yang benar-benar sangat optimal dan professional. Ya, paling begitu-begitu aja. Intinya belum ada yang sampai pada level max. Tidak ada target capaian dan fokus tertentu. Juga tidak ada jadwal rutin. Hanyalah berdasarkan mana yang sedang mood untuk dikerjakan.
Sampai di sini, pelajaran yang dapat dipetik adalah ... betapa pentingnya fokus dan tujuan. Jika tidak ada fokus, betapa "mengambangnya" hidup kita. Padahal, jelas Allah telah menggariskan untuk apa tujuan kita diciptakan. Dan tujuan itu dicapai tentulah dengan action. Ada tindakan yang kita kerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Menyoal hobi mungkin tidak mengapa asalkan jangan sampai hal "mubah" ini justru mengalahkan hal yang wajib dan utama serta berlebih-lebihan terhadapnya. Dan semoga pula hobi yang kita lakukan dapat memberikan manfaat, meskipun sedikit. Tapi, untuk hidup kita mesti punya fokus dan tujuan. Bahwa fokus dan tujuan kita adalah untuk kehidupan yang sebenar-benar kehidupan. Tentang akan ke mana kita setelah fananya dunia ini. Untuk hal ini, kita HARUS memiliki tujuan yang jelas tentunya. Fokus dan juga apa action yang telah kita persiapkan dan lakukan.
Kenangan
~KENANGAN~
.
Ini adalah sebotol jus yang mengingatkan pada kenangan hampir 7 tahun silam. Ketika pertama kali Allah memberikan aku kesempatan untuk mengunjungi kota terbaik di dunia; kota Makkah. Kala itu--ketika masih berdua saja, belum ada anak anak--kami berangkat naik hamla Arab. Dengan biaya sekitar 125 SAR (kalau tidak salah) atau sekitar 300-400rb rupiah kala itu, sudah mendapat fasilitas bus pulang pergi plus penginapan yang bagus (kamar hotel yang cukup lengkap fasilitasnya setara bintang 1 atau 2 yang lokasinya juga tidak begitu jauh dari al Haram dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi bukan di depan al Haram banget tentunya. Masuk agak ke gang kecil dan sedikit mendaki bukit hehe). Ketika kembali ke Riyadh, bus berhenti di rest area dan kami hanya membeli jus ini dan beberapa camilan. Tidak ikut makan seperti penumpang lainnya karena lidah yang belum bersahabat dengan masakan timur tengah. Sudah berlalu hitungan tahun setelah masa itu, tapi kenangan itu masih lekang di ingatan.
.
.
Sejatinya ... segala sesuatu akan menjadi kenangan pada akhirnya. Detik yang berlalu yang tak akan mungkin dijemput kembali. Akan tetapi, ternyata kenangan ini tak hanya berakhir dengan "final exit" nya kita dari dunia ini. Kenangan itu ternyata akan terus kita bawa hingga hari ketika ditegakkannya balasan. Kala itu, orang-orang yang meninggalkan kenangan buruk yang tak selesai ketika di dunia, akan menuntut haknya dan berkata "Ya Rabb, si fulan dulu telah mencelaku, si fulan dulu telah memfintahku, membully ku" dan sebagainya sehingga ketika segenap urusan itu tak selesai di dunia, akan berakhir dengan berpindahlah amal baik kepada yang terdzalimi atas keadilan Allah. Jika tak cukup untuk menebusnya, maka dosanyalah yang dipindahkan kepada pelaku. Sebaliknya, kenangan baik juga akan menjadi ingatan di kala itu. Ketika tak dilihatnya sahabat sepengajian, sahabat seperjuangan bersama-sama berada di surga, ia juga akan berkata "Wahai Rabb-ku,dahulu fulan adalah temanku di pengajian. Wahai Allah, si fulan adalah orang yang dulu sama-sama berjuang di jalan-Mu bersamaku. Si fulan telah banyak berbuat baik kepadaku ketika di dunia. Ijinkan aku menjemputnya jika ia berada di neraka."
.
.
Duhai teman. Tentang diriku yang tempatnya salah, alpa dan dosa; semoga engkau berkenan memanggilku kelak, jika tak engkau temukan aku di surga. Semoga, kenangan itu menjadi ingatanmu kelak, ketika tak lagi berlaku mata uang untuk menebus segala salah. Mohon maafkan jika ada di antara engkau yang pernah tersakiti olehku. Semoga Dia senantiasa tunjukkan kita jalan yang lurus yang menuntun kita "pulang" ke tempat sebaik-baik penghidupan.
Manis dan Sesuatu yang Lebih Manis
Siapapun tidak ada yang menyangkal betapa ice cream cake ini manis. Manisnya manis sekali. Melihatnya saja sudah cukup ngiler untuk segera memakannya. Tapi, apakah kemanisan ini membuat kita sanggup menghabiskan seluruhnya sendirian dalam sekali waktu? Tentu tidak! Ada masanya kita merasa eneg dengan manisnya. Belum lagi bayangan penyakit akibat banyak makan manis-manis kayak gula darah. Jadi, manisnya bukan manis yang berkelanjutan. Hanya manis untuk 5 gigitan pertama sepertinya. Setelahnya, mungkin kita akan segera menympannya lagi di dalam freezer.
Tapi, ada manis yang lekang ... tak peduli yang merasakannya adalah orang kaya, orang miskin, orang terpelajar orang tak terpelajar, orang kota orang desa ... ia adalah manisnya iman.
Salah satu hal terberat bagi seorang muslim yang jarang disadari adalah ketika manisnya iman sedang dicabut oleh Allah. Rizki di dunia ini telah Allah jamin. Sedangkan nasib diakhirat, di dunia ini lah kita mengupayakannya. Iman adalah energi. Hanya dengan iman seseorang bisa bangun malam meskipun baru tidur sedikit. Hanya dengan iman, seseorang bisa melakukan amal shalih lainnya. Ya, bahan bakar itu adalah iman. Apa yang terjadi jika kendaraan kehabisan bahan bakar? Demikian pula dengan kita. Maka wasapadalah, jika kita telah mulai berpaling! Tidak lagi menyegerakan kebaikan.
Aku menuliskan ini bukan berarti aku memiliki iman sekuat baja. Ketahuilah, postingan-postingan yang di permukaan terlihat baik ini tidak selalu menunjukkan dan mencerminkan kondisi hati seseorang yang menuliskannya. Bisa jadi, postingan itu sebenarnya adalah caranya untuk mengingatkan dan menyentil dirinya sendiri. Kadang kala, itu dijadikannya pengingat dirinya. Pengingat ketika telah banyak salah yang ia lakukan.
Semoga Allah tetapkan keimanan di hati kita hingga saat kita diwafatkannya. Dan semoga Allah wafatkan kita dalam kondisi husnul khotimah sebagai seorang muslim.
Si Tukang Bikin Pamflet
Bagi yang biasa mengerjakan "proyek" desain, pasti mengerti bahwasanya mengganti, menambahkan atau mengurangi 1 kata itu bisa melibatkan banyak proses. Tidak seperti mengetik di MS word yang typo kemudian tinggal ditambahkan atau dihapus begitu saja. Hanya tukang desain yang mengerti ini kayaknya... 😂😂😂 Meski pun tukang desainnya masih amatiran kayak aku yang levelnya masih beginner begini. Udah 12 tahun ++ ngerjain desain leaflet, tampaknya belum naik juga ke level intermediete inih. Hehehe. Masih begitu-begitu ajah. Gapapa.. semoga jadi semakin bersemangat menuntut ilmu dan belajar. Meski pun memang tukang desain ini pekerja belakang layar bukan ustadz/ustadzah yang memberi ilmu secara langsung, aku berharap mudah-mudahan kecipratan pahala juga karena desainnya menjadi wasilah untuk menyebarkan kebaikan selama yang jadi tukang desainnya ikhlas. Ikhlas kuncinya. Gampang diucapkan, tapi berat dilaksanakan. Semoga Allah jadikan kita bagian dari hamba-Nya yang ikhlas. Aamiin.
Ceritanya, ada rekues desain untuk suatu acara. Sebut saja acara X. Sejujurnya, aku memang agak mood dependent kalo mengerjakan suatu desain. Tetap bisa dikerjakan akan tetapi hasilnya ketika mood baik akan lebih optimal dan maximal dibanding ketika sedang tidak mood. Dan pagi itu aku sebenarnya tidak begitu mood untuk mengerjakan desain. Apalagi ada pekerjaan yang mendesak. Pertama, memasak untuk makan siang, kedua ada urusan yang harus diselesaikan di sekolah kakak Aafiya, dan beberapa urusan lain. Belum lagi kakak yang udah gak sabaran ingin segera berangkat. Ini tentu kondisi yang tidak mudah untuk membuat desain di waktu sesempit ini. Tapi karena diminta, aku tetap mengusahakan untuk mengerjakannya. Sekitar 1.5 jam pamfletnya selesai didesain. Pas laptop sudah dimatikan, diminta revisi lagi. Sudah aku kerjakan. Matikan laptop lagi. Daaaan.. ada revisi lagi. Nyalain laptop lagi, kerjain lagi. Akhirnya urusanku tertunda. Ke sekolah kakak yang harusnya lagi, jadi mundur jam 11. Masak buat makan siang, baru bisa setelah dzuhur yang artinya sekeluarga jadi agak telat makan siangnya.
Tapi ..., setelah dipublish, yang dipakek malah pamflet yang dibikin oleh orang lain. Yang ngerjainnya pakai App HP aja. Alasannya karena pamflet yang kubikin ga bisa diedit sama mereka yang rikues. Padahal tinggal ngomong aja, bisa kuedit lagi. Tapi tidak ada ngomong apa-apa dari mereka, dengan sepihak ngerjain sendiri dan dibatalkan begitu saja tanpa pemberitahuan kepadaku. 😁😁
Ada terbersit rasa kesal di hati. Bukan karena pamfletku tidak jadi dipakai tapi ... karena seolah tidak memikirkan waktu yang kuhabiskan untuk membuatnya. Kayak bikin pamflet itu "sim salabim" langsung jadi. Padahal kan harus mikirin idenya, ngejainnya, dan banyak hal yang tertunda karena mengerjakan pamflet tersebut. Jika aku membuatnya dengan kondisi santai, ga menunda banyak hal untuk itu, aku mungkin tak akan terbersit rasa kesal. Kuanggap aja ini me time. Tapi, aku sudah mengorbankan banyak hal untuk membuatnya. Heuheu... Jika memang tidak akan dipakai dan memang ada tim yang akan bikin (karena aku bukan panitia) kenapa harus rikues dan sampai harus revisi beberapa kali. Sejak awal ga usah rekues aja kalo gitu.
Tapi kemudian aku menyadari bahwasannya ini adalah ujian keikhlasan. Ternyata untuk ujian yang masih sederhana ini, sulit untuk ikhlas, bagaimana dengan ujian yang lebih besar?!?!
Aku berusaha untuk berpikir positif (meskipun kadang nafsu membisikkan hal jelek untuk marah) ... Aku mengusahakan untuk menanamkan pada hati bahwasannya tidak ada kebaikan yang sia-sia. Walaupun tidak jadi dipakai, waktu yang telah dihabiskan untuk membuatnya semoga tetap dinilai Allah sebagai kebaikan. Tidak ada yang hilang in shaa Allah. Syaratnya, selama ikhlas. Nah pertanyaannya, apa aku sudah ikhlas?!
Memang, ikhlas itu sesuatu yang tidak mudah. Seperti mencari setitik biji sawi di goa yang gelap di malam hari. Berat banget. Aku sendiri masih tertatih dan terseok-seok untuk bisa mengikhlaskan niat, mengikhlaskan amal dan segalanya hanya semata karena-Nya. Masih jauuuuuh banget. Dan syaithan selalu membisikkan dan berupaya mengajak pada ketidak-ikhlasan. Dan tugas kita pula untuk melawan itu semua. Aku berdo'a semoga aku, kamu dan kita semua dijadikan-Nya hamba yang ikhlas. Aamiin.
Reward Stiker Bintang
⭐BINTANG⭐
=====
Bagi kita orang dewasa, "reward" berupa stiker bintang mungkin tak berarti apa-apa. Tapi, bagi mereka anak-anak, mendapat reward bintang sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka bahagia, Tabarakallah. Meski, tidak ada hadiah berupa benda. Mendapat 1 bintang besar setelah berhasil mengumpulkan 14 bintang kecil, sudah cukup untuk melejitkan semangat mereka, Ma shaa Allah.
.
.
Dengan begini mungkin kita akan mengerti, bahwasannya tak layak menyejajarkan pemikiran kita dengan anak-anak. Sebagaimana kita dan mereka tak sepersepsi dalam memandang stiker bintang itu. Mereka--tetaplah anak-anak--dengan kepolosan sekaligus semangat untuk bereksplorasi, bukan sosok dewasa yang terperangkap dalam dalam tubuh kecil. Sering kali mereka bukan menyengaja membuat sesuatu yang memantik emosi kita, akan tetapi murni karena mereka belum mengerti tentang apa yang mereka kerjakan berikut akibatnya. Maka, sungguh tak elok rasanya, jika kita marah oleh sebab anak tersalah, sementara mereka belum mengerti di mana letak salah mereka. Pada jiwa-jiwa polos itu hanya terbersit rasa ingin tahu, tanpa terpikirkan akibat. Karena mereka belum mengerti. Dan tugas kitalah sebagai orang tua, mengajarkan apa yang layak apa yang tidak, apa yang elok dan apa buruk. Barulah setelah mengerti, kita boleh marah ketika salag. Akan tetapi, marah tentu tidak sama dengan amarah. Marah yang pada koridor tepat tentunya.
.
.
Semoga kita bisa menjadi lebih baik, dalam menata emosi ketika membersamai jiwa-jiwa bening itu. Mereka anugrah, sekaligus amanah yang Allah mintai pertanggungjawabannya. Sebaliknya, jangan pernah berputus asa, apalagi beranggapan menjadi orang tua yang buruk ketika salah demi salah telah kita lakukan pada mereka. Karena tidak mungkin kita akan selalu benar. Pasti tersalah. Pasti tersalah. Dan pasti pernah alfa. Karena kita manusia, tempatnya salah, sarangnya lupa. Maafkan diri sendiri, meminta maaf pada mereka dan perbaiki kesalahan kita. Mintalah pada Allah, agar DIA memperbaiki lisan dan akhlak kita terhadap mereka dan mintakan pula agar Allah memperbaiki akhlak mereka, menjaga, menanamkan hidayah dan jalan dan lurus pada hati mereka. Tiadalah sebaik-baik penjaga selain DIA. Dan hanya di sisi-Nya-lah hidayah itu berada.
.
.
#NtMS
#renungan
#MenasihatiDiri
Instan
Aku termasuk yang berbahagia ketika pertama kali juice ini launching; 100% orange. Enaak banget kaan, bisa menikmati jus tanpa bersusah payah membuatnya sendiri. Kalau ada yang mudah, mengapa pilih yang susah? Ekekeke... Berbeda dengan ayah Aafiya @ildenabineri. Beliau lebih prefer, segala sesuatu yang memang diproses. Lebih prefer bikin juice sendiri dari pada beli yang sudah jadi. Dan lebih prefer yang langsung dimakan dari buahnya, dari pada dibikin jus. Dan memang pada kenyataannya, yang mengalami proses lebih lezat dari pada yang sekali jadi.
.
.
Instan.
Begitu kita menyebutnya.
Instan itu memang mudah. Tidak butuh proses panjang. Dan langsung jadi. Tapi, selalu saja yang instan tidak pernah lebih baik dari pada yang mengalami proses panjang. Keberhasilan yang instan jarang yang bertahan lama dibanding ada proses berpeluh payah. Instan berarti melewatkan banyak pengalaman dalam proses yang kebanyakan justru lebih berharga ketimbang hasil yang diperoleh. Mendidik anak misalnya, tak pernah bisa instan apatah lagi mengharapkan ada hasil instan. Tapi, bayarannya sangat mahal yaitu sebagai investasi akhirat; ketika segala amal terputus, do'a mereka menjadi jariyah yang mengalir tanpa batas. Pemimpin yang karbitan, jelas tak sebaik pemimpin yang mengalami proses panjang untuk sampai pada posisinya saat ini. Lebih sederhana lagi, memasak dengan bumbu instan takkan pernah bisa menyamai cita rasa bumbu original yang melewati proses yang lebih panjang. Apapun itu, yang instan memang tertinggal jauh dari yang menjalankan proses tempaan yang mungkin melelahkan.
.
.
Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.
Begitu bunyi pepatah yang menyesatkan yang pernah kita dengar. Tidak semudah itu tentunya! Selain di dunia ini ada "kabad"nya, jelas ... surga yang menjadi cita-cita seluruh umat islam tidak pernah didapat dengan cara instan seperti itu. Sedangkan untuk hal duniawi saja tidak bisa instan, apalagi untuk menggapai surga. Sudah semestinya upaya dan prosesnya lebih-lebih. Semoga kita sama-sama berlomba-lomba untuk tempat pulang terbaik ini. Jika aku tersalah, mohon diingatkan. Oleh sebab aku menuliskan ini, bukan berarti aku lebih baik. Aku juga sepertimu--sama-sama sedang berjuang, dihampiri kelalaian, dan terjatuh bangun--dan bahkan kamu (iyaa kamu yang sedang baca ini) jauh lebih baik dariku yang menuliskan. Asalkan kita tidak pernah putus asa dari mengharapkan-Nya, in shaa Allah semua itu akan menjadi bagian dari proses. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita taufik dan hidayah-Nya pada jalan yang terbaik dan jalan yang benar. Aamiin.
.
.
Instan.
Begitu kita menyebutnya.
Instan itu memang mudah. Tidak butuh proses panjang. Dan langsung jadi. Tapi, selalu saja yang instan tidak pernah lebih baik dari pada yang mengalami proses panjang. Keberhasilan yang instan jarang yang bertahan lama dibanding ada proses berpeluh payah. Instan berarti melewatkan banyak pengalaman dalam proses yang kebanyakan justru lebih berharga ketimbang hasil yang diperoleh. Mendidik anak misalnya, tak pernah bisa instan apatah lagi mengharapkan ada hasil instan. Tapi, bayarannya sangat mahal yaitu sebagai investasi akhirat; ketika segala amal terputus, do'a mereka menjadi jariyah yang mengalir tanpa batas. Pemimpin yang karbitan, jelas tak sebaik pemimpin yang mengalami proses panjang untuk sampai pada posisinya saat ini. Lebih sederhana lagi, memasak dengan bumbu instan takkan pernah bisa menyamai cita rasa bumbu original yang melewati proses yang lebih panjang. Apapun itu, yang instan memang tertinggal jauh dari yang menjalankan proses tempaan yang mungkin melelahkan.
.
.
Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.
Begitu bunyi pepatah yang menyesatkan yang pernah kita dengar. Tidak semudah itu tentunya! Selain di dunia ini ada "kabad"nya, jelas ... surga yang menjadi cita-cita seluruh umat islam tidak pernah didapat dengan cara instan seperti itu. Sedangkan untuk hal duniawi saja tidak bisa instan, apalagi untuk menggapai surga. Sudah semestinya upaya dan prosesnya lebih-lebih. Semoga kita sama-sama berlomba-lomba untuk tempat pulang terbaik ini. Jika aku tersalah, mohon diingatkan. Oleh sebab aku menuliskan ini, bukan berarti aku lebih baik. Aku juga sepertimu--sama-sama sedang berjuang, dihampiri kelalaian, dan terjatuh bangun--dan bahkan kamu (iyaa kamu yang sedang baca ini) jauh lebih baik dariku yang menuliskan. Asalkan kita tidak pernah putus asa dari mengharapkan-Nya, in shaa Allah semua itu akan menjadi bagian dari proses. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita taufik dan hidayah-Nya pada jalan yang terbaik dan jalan yang benar. Aamiin.
Pesan Cinta di Surat Thaa-haa Ayat 132
Dalam surat Thaa-Haa ayat 132 ini tafsirannya adalah: maksudnya himbaulah keluargamu untuk mendirikan shalat, doronglah mereka untuk shalat, baik yang wajib maupun sunnah. اَلْأَمْرُ بِالشَّيْءِ أَمْرٌ بِجَمِيْعِ مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ (Perintah kepada se-suatu, berarti memerintahkan segala sesuatu yang mana suatu yang wajib tidak akan sempurna kecuali dengannya). Maka ia juga menjadi perintah mengajari anggota keluarga tentang perkara-perkara yang memperbaiki shalat dan merusaknya serta yang menyempurnakannya وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا "dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya," yaitu mengerjakan shalat dengan menegakkannya dengan me-nyempurnakan batasan-batasan aturannya, rukun-rukunnya, [adab-adabnya], dan unsur khusyu'nya.
Sesungguhnya hal itu berat dirasakan oleh jiwa manusia. Akan tetapi, sepatutnya seseorang memaksakan diri dan berusaha keras untuk mengerjakannya dan selalu bersabar dengan ibadah ini. Sesungguhnya seorang hamba, jika dia benar menegakkan shalatnya sesuai dengan yang diperintahkan, maka dengan urusan agama yang lainnya, niscaya dia akan lebih menjaga dan tekun mengerjakannya. Jika dia menyia-nyiakannya, maka dia akan lebih menyia-nyiakan perintah agama yang lainnya. Kemudian Allah (memberitahukan) tentang jaminan rizki bagi Rasulullah, agar perhatian kepadanya tidak menyibukkan beliau dari tugas menegak-kan agamaNya. Allah berfirman, نَحْنُ نَرْزُقُكَ "Kamilah yang memberi rizki kepadamu," maksudnya rizkimu menjadi tanggungan Kami. Kami yang menanggung sebagaimana Kami bertanggung jawab atas rizki bagi semua makhluk. Bagaimana dengan orang yang melaksanakan perintah Kami dan sibuk dengan mengingat Kami?! (Sudah tentu Kami lebih menjaminnya). Curahan rizki Allah itu umum, merata bagi orang yang bertakwa dan tidak. Maka, seyogyanya diperhatikan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan yang abadi, yaitu ketakwaan. Oleh karena itu, Allah berfirman, وَالْعَاقِبَةُ "Dan akibat (yang baik)," di dunia dan akhirat لِلتَّقْوَى "adalah bagi orang yang bertakwa," yang hakikatnya yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Siapa saja yang merealisasikannya, niscaya dia mendapatkan kesudahan yang baik.
Seperti Firman Allah,
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan akibat (yang baik) bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128).
(Tafsir As Sa'adi dari aplikasi Tadabbur)
====
Perintah untuk menyuruh anak shalat yang tegas adalah ketika anak berusia 10 tahun. Jika masih tidak mau, maka boleh dipukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan, tidak menimbulkan trauma, bukan di wajah, dan bukan di bagian tubuh yang membahayakan.
Akan tetapi, sebelum usia 10 tahun ini, ada tahap pembiasaan dulu, selama 3 tahun yaitu dari usia 7 tahun. Pada usia ini hendaklah anak ajarkan untuk ikut shalat.
Dan sebelum usia 7 tahun, hendaklah orang tua sudah mengajarkan tentang shalat; tatacaranya, hal yang membatalkannya, rukunnya, syarat sahnya. Anak telah dibekali segala sesuatu yang berkaitan dengan shalat.
Dan, sebelum dibekali; hendaklah orang tua mengenalkan terlebih dahulu. Jadikan ia cinta terlebih dahulu dengan ibadah yang kita ingin biasakan.
Jangan sampai menjadikan ibadah sebagai hukuman jika anak bersalah. Misal menjadikan hafalan Al Qur'an atau ibadah lainnya sebagai hukuman karena itu bisa jadi menimbulkan ketidaksukaan anak terhadap hafalan atau amal ibadah tersebut.
Dan sebelum itu semua, ada do'a yang kita panjatkan kepada-Nya agar dijadikan-Nya anak-anak kita adalah anak yang mendirikan shalat sebagaimana do'a nabi Ibrahim.
Semoga Allah jadikan kita semua bagian dari orang-orang shalih dan diwafatkan dalam keadaan muslim, dan cita-cita tertinggi dimasukkan ke dalam surga-Nya. Aamiin.
===
Resume kajiantamasya prophetic parenting yang disampaikan oleh Ustadz DR Hakimudin Salim, Lc, MA
Subscribe to:
Posts (Atom)