Yuuuk....Silaturrahiim....


Humm…., (hehe, gaya mikir mode : ON)
Waaaaa…, aku nak berkisah pasal silaturrahiim nih. Hehe.
Jika udah pulang kampuang (maklum, aku memang orang kampung, dan cinta sangat sama kampungku ituuuh, hihihi), biyasanya aku sanggup bertahan dalam rumah 24 jam!
Huaaaa???
24 Jam!???
Yup! 24 Jam, kaga kluar2 dari rumah.
Kerjaannya, pagi2 beres2 rumah ampe waktu dhuha rada2 limited, abiz tu, betah duduk di depan kompi berjam-jam untuk nulis, dengan posisi menghadap ke Tabek (baca : danau buatan di depan rumah, hiihi).
Hingga, malam pun menjelang. (lebay deeh!). yaaah, gituh deeeh.

Dan, amat sangat sering kutemui keadaan macam ni, “Eee…, Pi mah! Bilo pulang?” kata tetanggaku ketika nunggu travel ke Padang.
“Lah ka pai ka Padang lai, Tek.”

Read More

Aaah.....Telaaatt!!

Hari ini, aku dapat plajaran berharga niiih.
Jadi, aku nak bagi kau semua. Mudah2an bisa blajar dari pengalaman niih.
Kemaren,
Aku bertandang ke ged Jurusan (yg banyak rernutuhan bata nya itu loooh). Sudah lama rasanya tak liyat papan pengumuman, karena info apete lebih update lwt SMS saja. Gak taunya, pas udah di depan jurusan, aku ketemu sama kakak yang kerja di bagian administrasi fakultas.
“Fathel, dah masukin syarat wisuda?”
“Haaaa? Bukannya tiga hari lagi, Mami?” (panggilanku untuknya ‘mami’. Hehe)
“Enggak! SEKARANG! Cepat urus giiih!”
Aku panic luar biasa!
Mana persyaratannya sama sekali belum lengkap. Bahkan tak satu pun!
Segera “kukejar” Pak Sekretaris Dekan untuk minta tanda tangan buat data alumni. Huaahh.., beliau lagi nguji di ujian sarjana. Terpaksalah “malangang” nungguin bliau. Padahal, LAGI ADA JADWAL KULIAH PROFESI! Haduuuhh….
Setelah dapat tanda tangan, aku ngacir ke bagian administrasi, minta stempel.
Baru satu langkah!
Belum lagi ngurus ke Pustaka untuk Bebas Pustaka, ngurus ke KOPMA, nmembayar uang wisuda ke BNI, trus, ijazah SMA juga ketinggalan di kampung. Mana, bukti terdaftar dari tahun 1 hingga tahun 4 harus dicari-cari dulu. Huuuuuuffff…, paniiiiiiiiiiiik! Masya Allah…
Read More

HIPERTROPI, ATROPI atau TROPI BERGILIR???


Ini sebuah pertanyaan : “Sobat, tau hipertropi atau atropi tak?”

Jika yg ditanya mahasiswa2 yang berbau health (waaah.., emang health ada baunya yah?hihihi), mereka tentu segera menjawab, “ya iyaa laaah, tau dong!”. Paling banter ngejawab, “Hummm.., apa yah? Rasa2nya pernah dengar, tapii..lupa. Ntar, aku liyat Dorland dulu.” Hehe.

Tapi, jika ditanya kepada selain itu, mungkin jawabannya akan berbeda. “Yaa kagak tau lah! Mungkin yang kamu maksud itu tropi, alias piala bergilir kali?” Hahahaha.

Okeh..okeh…, sedikit kujelaskan.
Hipertropi adalah adanya aktivitas yang kuat dari otot (terlalu sering beraktivitas secara kuat) sehingga terjadi PEMBESARAN OTOT…
Apa contoh?
Tau atlet kan? (ya iyaalaaah, hihihi). Spesifiknya adalah atlet angkat besi. Liyatkan tangannya berotot gituh? Ototnya besssuuuaaarr..sangat!!
Nah, jika senantiasa digunain secara adequate untuk beraktifitas macam angkat besi, maka otot itu akan membesar. Peristiwa inilah yang dikenal dengan hipertropi.


Sebaliknya, atropi adalah penurunan bobot otot karena tidak dipergunakan untuk aktivitas. Jadi, ototnya mengalami penyusutan gituh. Contohnya? Pernah liyat orang yang di korsi roda kan? Pada umumnya yg di korsi roda itu kan kakinya pada mengecil semua tuuh. Itu, karena ototnya kagak digunakan. Nah, inilah atropi itu.

Sekarang…Sekarang…coba bayangkan, jika yang mengalami atropi dan hipertropi itu adalah OTAK? Otak yang sering digunakan makin cerdas dan yang jarang digunain makin bloon. Hahahahaha.

Read More

Masihkah Ada Alasan Untuk Tidak Bersyukur?



Alhamdulillah…,
Allah beri aku kesempatan untuk sedikit melihat “ke dalam”, pada diri yang hina ini.

Ini tentang kisah waktu kuliah. Dan nyaris, aku tersungkur waktu itu. Aku rasakan rembesan bulir bening itu, mengambang di pelupuk mata. Sungguh…. Allah betapa agungnya Engkau yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Dengan sebaik-baik bentuk. Dengan penciptaan yang teramat sangat sempurna! Maha Agung Engkau wahai Allah! Betapa Maha Agungnya. Andai semua kata2 yang menunjukkan kemuliaan, keagungan, dan kebesaran itu digabungkan jadi satu, sungguh masih belum dapat mewakili betapa amat sangat Maha Agungnya Engkau.

Tak ada satu amstrong pun di bagian tubuh ini, kecuali sebuah penciptaan yang luar biasa. Sangat luar biasa sempurnanya. Sesuatu yang sering terlupa.

Maka, masih adakah alasan untuk tidak bersyukur?

“Ingatlah kamu sekalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, serta Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (Qs. Al BAqarah : 152)

Read More

Rhapsody Pasar Ikan



Satu setengah hari pasca gempa, aku menelusuri pasar Raya dan lebih spesifiknya pasar ikan dan Los daging, di mana di sana adalah lokasi terparah yg terkena gempa untuk kawasan Pasar Raya. Api sisa kebakaran akibat gempa yang melanda Sumbar pada 30 September berkekuatan 8,3 SR (ternyata bukan 7,6 tapi 8,3. Tercatat di BMG untuk gempa vulkanik 7,9 SR tapi untuk tektoniknya 8,3 SR) masih menyala. Reruntuhan masih tak bergeming. Dan, puluhan orang eihhh… mayat masih terjebak di balik reruntuhan itu. Sebagian ada yang terbakar.

Namun, ada fenomena menarik yang kutemui di sana. Apa itu? Di atas reruntuhan itu, di mana, api pun masih menyala, dan puluhan mayat masih tergeletak begitu saja, terjebak di dalamnya, ADA BANYAK PEDAGANG YANG SUDAH MULAI BERJUALAN! Ini satu setengah hari setelah gempa looh. Jum’at pagi!

Terlepas dari apapun itu, --harga yang melonjak tajam, dan ironi rasa kemanusiaan yang terkadang perlu dipertanyakan, serta tawa yang menyertai tangisan itu--, aku perlu belajar banyak dari semangat para pedagang itu. Semangat untuk kembali bangkit setelah terpuruk. Begitu cepat mereka bangkit! Hanya satu setengah hari saja di tengah gelimpang mayat dan api yang berkobar! Betapa bersemangatnya!

Lalu, beranjak ke kampus Unand Limau Manih yang rusak-rusak. Kebanyakan gedung berlabel kuning dengan tags : LAYAK HUNI DENGAN PERBAIKAN SEGERA. Sedikit  yang berlabel hijau dengan tags : LAYAK HUNI. Banyak juga yang dilabeli warna merah dengan tags : TIDAK LAYAK HUNI. Dan, kerusakan itu mencapai 72 Milyar (kata ayah Rektor). 



Meskipun, penelitian banyak yg terhenti dan ada juga yg gagal karena alat-alat labor rusak, meskipun gedung kuliah juga banyak yg rusak, tapi semangat untuk terus melanjutkan proses blajar tetap dilakukan. Meski di bawah tenda. Aku tersenyum dengan sangat terenyuh melihat gedung fakultasku yang kini ‘vulgar’, di mana dindingnya sudah bolong sehingga gedung itu klihatan “seksi” (begitu teman2 mengistilahkan, saking terbukanya gedung itu sehabis dirobohkan). Aku terenyuh melihat teman2 yang seminar proposal, seminar hasil, dan kompre di tenda-tenda. (antara unik dan terenyuh, kuambil potret salah satu suasana Seminar Penelitian yang dilakukan di bawah tenda darurat, blakang fakultas). Sungguh, betapa dengan semangat itu pula, mereka semua bangkit!




Nah, sekarang dikembalikan pada diriku.
Sungguh, sungguh…, amat sangat mengherankan sekali diriku ini. Mungkin karena saat nulis ini agak rada-rada ‘lowbatt’ kali yah? Ini juga, lagi melan banget critanya.
Kenapa…, kenapa…aku tak mengambil plajaran dari semangat mereka? Kenapa tidak blajar dari bagaimana mereka bangkit dari keterpurukkan itu?

Read More

Tatsqif : HUBBULLAHU LI ABDIHI



Alhamdulillah…, meski hujan mengguyur dengan begitu lebatnya, petir menyambar-nyambar, dan bahkan ada issue gempa dengan runtuhnya atap gedung G (hehe), ternyata antusias dan animo masyarakat mhs Unand untuk menghadiri tatsqif memang luwar biyasaa. Alhamdulillah, MNI (yg lagi direnovasi) pun penuh, bahkan melimpah hingga ke teras. Subhanallah. Bukan hanya mahasiswa, tapi juga adek2 di SMA 9 Padang, antusias mengikutinya. Maka, menurutku, merugilah orang2 yg memiliki kesempatan untuk datang tapi melewati momen majlis ilmu yang luwar biyasa ini. Apa karena materinya dari Ust. Irsyad Syafar LC yah? Banyak yang rela dan lebih senang ikut tatsqif dari pada kuliah. (wah…wah…, paham yang salah dong! Hiihi)


Baiklah…,
Kudokumentasikan lagih nihh, tatsqif kali ini. Semoga bermanfaat bagi yg sempat membacanya.
Kalau boleh jujur, inilah tatqif paling top cer yg pernah kuikuti. Mungkin, karena pematerinya menyampaikan Birruuuh, dan aku juga kondisi hatinya lagi butuh2 banget siraman. Jadi, nyambung deeh. Hatiku mendapatkan apa yg dibutuhkannya. Dan, subhanallah…luar biasanya, penyampaian yg singkat dan dipaparkan dengan sederhana oleh ustadz ini telah merubah banyak hal dalam hidupku. Menyentilku di berbagai hal. Aku benar2 kena! KENAAAA sangat! Mengena! Cesss…, persis di lokasi yang tepat. Adek yg duduk disebelahku malah sampai sangat heran melihatku nangis. Yaph! Tepat sekali sodara-sodara. Aku sampai nangis sesegukkan (eihh..ga segitunya kali), mendengar penjelasan dari ustadz kali ini. Mungkin, lebih kurang sebagai sarana muhasabah deeh, buatku. Karena, apa yg disampaikan, benar2 adalah apa yg terluput olehku. Apa yg terlupa olehku.


Dari pada panjang2 mukaddimah, baiknya langsung saja yaah.
(eihhh…, mungkin akan banyak catatan kaki oleh daku sendiri di materi ini. Harap dimakumin. Okeh?)


Materinya : akhlaq
Topic Pembahasannya  : HUBBULLAHU LI ABDIHI
(cintanya Allah terhadap hamba-Nya)




Read More

WISMA ITUUUH =MADRASAH YG INDAH!



Humm…,
Okeh..okeh…,
Bukan bermaksud untuk promosi, tapi, aku hanya ingin sedikit menginspirasi. Hehe.
Uhuk..uhuk…, menginspiraasi dari mananya tho?

Baiklah,
Skarang, sedikit pertanyaan. Menurutmu, tempat kos itu sebagai apa?
Kamu mungkin menjawab, “Ya iyalah sebagai tempat tinggal! Pertanyaan aneh!” Hihiihi.

Tapi, sangat disayangkan sekali jika hanya sebagai tempat tinggal sementara. Toh, waktu akan terus berlalu. Rugi jika hidup kita teramat biasa-biasa saja. Rugi, jika tempat kos Cuma buwat tawa2 doang. Atau, malah jadi tempat tidur doang??

Nah…nah…,
Mau sdikit crita nihh.

Sdikit sharing tentang sesuatu yg biyasa kami sebut “Wisma”. Apa itu wisma, sok atuh..bole dibaca lagi crita-crita sbelumnya. Hehe.

Nah, di wisma itu, hak perogratif ‘peraturan’ diatur oleh kita-kita, sang kontraktor…
Kalo di kosan ada Bu Kos yg suka ngatur2 jadi peminat kosannya agak kurang ketimbang di kosan2yg lebih bebas. Nah, kalo secara system dasarnya, wisma pun demikian. Bahkan lebih bebas lagi malah! Secara, ini kontrakan looh. Jadi, suka-suka orang yg ngontrak dong!

Nah, justru karena bebasnya itulah, kitapun jadi bebas untuk menentukan pilihan. Mau diapain itu rumah. Jadi, alhmadulillah, kita bikin peraturan sendiri yang disepakati secara bersama-sama (kalo disepakati sama2 kan menjalankannya jadi enak. Ga ada grata grutu nya). Okelah bukan peraturan namanya. (soalnya rada2 paranoid jugah kalo disebut peraturan. Gaswatnya, malah ada yg bilang peraturan dibuat untuk dilanggar. Haddduuuh!). jadi, anggap saja ini sebuah “Rumah Tangga” yang menyenangkan. So, yg diubah, paradigmanya dulu.



Hummm…, di wisma itu…, kami bikin segala sesuatunya mendekati ideal, walaupun tak ada yg sempurna di dunia ini.

Pertama, ASPEK RUHIYAH.
Di wisma, kudu sholat jama’ah 5 waktu. (hehe, biyasa nya sih rebutan jadi makmun. Hohoho). Tapi, jama’ah itu, penting!
Trus, malam2 eihh…dini hari, kalo terbangun, kudu bangunin orang se rumah. ^^
Jadi, qiyamullail bareng2. Ga’ jama’ah sih, sendiri2 biyasanya.
Ba’da subuh, adalah waktu yg “strenger”. Ini saatnya “Nyetorrr!” hapalan. Jadih, smua penduduk wisma MESTI, KUDU, HARUS, punya hapalan tiap hari! Minimal satu ayat deeh. Nah, bagi yang kebetulan lagi, ehhmm..palang merah, maka hapalannya diganti dengan hadits Arba’in. system nyetornya ga’ face to face (apalagi face to facebook! Hoho, kagak nyambung euy!) tapi satu orang, nyetor dihadapan smua penduduk wisma. Jadi, ‘beban sosialnya’ jauh lebih besar. Hihii. Muroja’ah nya tiap 1 kali seminggu, pas ahad, sebelum riyadhoh bareng.

Read More

Emak Farida



Hehehe….
(lho koq ketawa duluan yah?) hihi.
Ini sebuah crita saaahhhaaajaa. Ini tentang kuliah KONSELING PASIEN. Jadi, di akhir kuliah Pak Khairil Armal, S.Si, Apt, Sp FRS,  ngasih kami sebuah kasus dan diperagakan. Kasusnya tentang seorang Ibu yg bernama Farida, berumur 56 tahun, terdiagnosa hiperurisemia, dikasi terapi Indometacin 3X1 hari 1 kapsul. Kolkisin 3 X1 hari 1 tablet dan vitamin Neurodex 1X1 hari tablet.

“Siapa yang mau jadi konselor dan apotekernya?” Tanya Bapak. Kak Mestika angkat tangan.
“lalu, yang jadi pasien? Ada yg namanya Farida di sini?”
“Gaaaak paaaak.” Koor teman2 sekelas. “Yg ada Farizal Pak.”
“Yak, silahkan Bu Farizal.”
“Farizal itu cowoook Pak…”
“OOoo…, lalu siapa yang bersedia?”
“Pak..si Fathel saja Pak.” Tiba-tiba barisan depan angkat bicara.
“Ihh.., tak mau laah!” aku mengelak.
“Ayo lah Thel, ayolah…Fathel saja.” Kata teman2 yg lain.
Huff..hufff, akhirnya kuterima juga peran itu.

Dalam hati, ku berspekulasi.
“Hmm…, jika aku pake bahasa Indonesia, tentulah…akan  tegang. Aaaaah…, ku pakai bahasa Minang saja lah!”

Naaaah…,
Akhirnya aku berperan jadi emak-emak.

Read More

Ini Soal Cita-cita, Kawan!


Bukan bermaksud (Sepenuhnya) untuk curhat. Hanya ingin sedikit berbagi. Mana tahu ada yang nyasar jalan-jalan ke blog ini, dan ikut baca. Mana tahu kemudian, ada yang punya pandangan yang berbeda dan bisa memberikan sedikit pencerahan, yang kemudian menginspirasiku. ^_^ . Jika pun tidak, maka tiada mengapa. Setidaknya, aku telah menuliskannya. (Begitu banyak keberhasilan itu diawali dari cita-cita yang dituliskan, bukan?)

Ini tentang hidup.
Sungguh, rel-rel kehidupan ini tentu saja takkan pernah sejajar. Takkan pernah berada di titik yang berhimpit. Jika pun ada yang sama, itu hanyalah rel-rel yang bersisian. Sebab, masing-masing kita pun telah dipilihkan-Nya satu rel yang harus dijalani, dan satu stasiun pemberhentian sementara untuk kemudian memelanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang abadi, akhirat. Yah, --skali lagi--, hanya ada satu rel, satu stasiun, untuk satu anak manusia.

Hidup.
Ke mana pun itu, pasti akan dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Dan, pasti harus memilih, tidak boleh tidak. Iya tho?
Bahkan hanya untuk pilihan, berkedip atau tidak. Apalagi piihan yang jauh lebih besar; mau ke surge atau neraka?
Dan tentu saja, setiap pilihan punya konsekuensinya. Benar tak?

Sedikit bercerita,
Dahulu, duluuu sekali…, ketika aku baru mengenal apa itu warna dunia, Di saat teman-teman seusiaku mengumumkan cita-citanya yang nyaris sama; dokter, guru, pilot, dan pramugari, aku malah bercita-cita ingin menjadi insinyur pembangunan. Mungkin, banyak yang heran. Tapi, itulah aku. Dulu. Kata ayah dan ibuku, dahulu aku anak yang cukup “rewel” dan sangat rajin bertanya, “mengapa begini…, mengapa begitu…”. Kadang, beliau jadi repot juga ngejawab. Hehe.

Dari kecil, aku sangat menyukai kertas bekas dan pinsil warna. Aku sangaaaaaaaat menyukai kertas. Aku akan sangat bahagia jika sepulang dari kantor, ayahku membawakan kertas bekas yang dibelakangnya ada tulisan dari alat canggih bernama “laptop tanpa enter, yang dilengkapi printer otomatis”. Hehe.kamu tahu apa itu? Yak! Tepat sekali! Mesin tik. Ga’ ada tombol enternya, trus, pas diketik langsung kluar print out nya. Hihihi…

Read More