Hancur-hancuran!

 Tiadalah hari yang kulalui yang lebih "hancur" ketimbang hari ini. (lebay!). Tapii, sunggguh, hari ini, adalah hari yg amat buruk bagiku atas kelalaian yang semestinya tak perlu ada! Fiuuffffth..

Hmm..sebenarnya masalahnya sederhana. Hanya karena lupa waktu. Aku lupa kalau jadwal ujianku hari ini adalah jam 9.30, karena menurut jadwal yang biasanya, ujian dilangsungkan jam 10. Ketika jam menunjukkan jam 9.20, aku masih saja santai di wisma. Sama sekali belum mengenakan baju dinas. Huaaaah... Aku, merasa jam masih menunjukkan jam 8.30 -an, jadi, santai2 saja. Betapa "tersengat" (listrik)nya aku ketika melihat jam dinding yang tersenyum manis menunjukkan jam 9.20, padahal aku belum ngapa-ngapain. Huwaaaaaaah...!!! Padahal, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kampus dari wisma adalah lkebih kurang 30 menit. JIka aku bisa mempersiapkan diri paling cepat 5 menit saja, aku akan terlambat selama 25 menit! Padahal, durasi waktu pelaksanaan ujian hanya 60 menit! Bayangkan, betapa banyak waktu yang harus hilang!

Hanya lima menit saja aku siap-siap, langsung ngacirrrr...
"Mau naek ojek??" pikirku. Kalo sama ojek mah, bisa lah 10 menit-an. Tapiii, aku sudah bertekad, tidak akan naek ojek kecuali ojek pribadi (heee...), bukan ding. Gak bakalan naek ojek, kecuali kalau kondisi emergency dan sattusnya "peripulum inmora". Kuputuskan untuk naek bus kampus aja. Dan, masya Allah, bus kampusnya ngetem dulu di Pasar Baru. Fiuuuuuffftt..HUwaaaaaaaa...
Aku mengalami "STRESS ULCER" yanbg luar biasa! Fiuuf...fiuuufffff...
Tiba-tiba saja, apa yang aku siapkan buat ujian jadi buyar. Aku jadi panik (dan panik = men-NOL-kan inteligensi).
Aku sampai di kampus dengan kondisi terlambat 20 menit.
Huwaaaaaaaaaaa....

Langsung minta lembar soal dan jawaban sama pengawas dan pilih posisi paling depan (biasalaaaah, kalo udah ujian, posisi paling depan adalah posisi yang paling dihindari kebanyakan mahasiswa kecuali aku dan beberapa orang teman. heee...). Dan, betapa kagetnya aku, ketika soal yang dikeluarkan itu, bukan CASE HIPERTENSI ataupun CASE STROKE seperti yang aku plajari dan aku siapkan, tapii, malah CASE APENDISITIS dan BEDAH, hoawalaaaaaaaa.... Untuk beberapa saat aku hanya terdiam dan bingung, linglung, sementaraaa..waktu terus berjalan. Tenangkan pikiran, dan mulai mengorat oret jawaban! Tapiii, karena inteligensiku sempat dalam kondisi NOL, akhirnya semuanya menjadi buyar. Dan yang parahnya lagiii, aku tidak punya bahan dan literatur yang banyak. Fiuuuuuuuuuufffffttt... >,<
Hancuuuuuuuuurr!
Yang aku ingat dari kasus itu hanyalah bahwa dari hasil interpretasi data lab nya, si pasien adalah seorang penderita apendisitis, mengalami demam dan jugak hipertensi. Lalu, juga hiperlipidemia, dan gagal ginjal kronik! (untuk memutuskan diagnose ini, aku harus ngitung2 segala. Dan, masalah besarnya adalah AKU JUGA TIDAK BAWA KALKULATOR!). Huwaaaa....

Ketika waktu telah menunjukkan bahwa jam ujian habis, AKu malah sama sekali belum MENGHITUNG KLIRENS KREATININ pasien untuk obat sefotaksim dan ranitidine. Pasalnya, aku tidak tahu koefisien partisi obat yang dieksresikan melalui ginjaaal. OOOh, Allah.... Gaswaaat niiiih akuuuuuuuuuuuuu...

Akhirnya, hanya satu jenis obat saja yang telah berhasil kulakukan penghitungan kliresn kreatinin plus penyesuaian dosis nya. Sisanyaaa? Jawabanku masih kosong! OOoooooooooooooh Nooooooooooo!!!!!

Pun, ketika lembar jawaban itu berpindah tangan ke pengawas, aku masih belum bisa percaya dengan "keajaiban" yang bertumpuk2 yang kurasakan hari ini. Betapa sangat melelahkannya! Smeakin berasa stress ulcerku yang smakin menjadi2...

Aih, andaikan aku tak perlu mempertanggungjawabkan nilaiku kepada orang tuaku, maka, aku tentu tidak sepanik ini. Karena, secara pribadi, aku siiih gak terlalu berorientasi nilai. Tapii, mengingat wajah ayah ibuku, aku langsung jadi down.
"Ya Allah, semoga aku lulus. Semoga aku tidak HER." Amiiiin. Ini harapku.

Tapi, satu hal saja, meski di tengah kondisi panik, tanpa bahan2 dan literatur yang lengkap, ada hal yang masih ingin kupertahankan, bahwa aku tak ingin bertanya ataupun meminta jawaban kepada siapapun! AKu tidak mau ada diskusiketikla ujian berlangsung, meski sebenarnya aku punya kesempatan untuk melakukannya! Tapi, setidaknyaaa, jikapun ujianya hancur, jikapun kali ini aku tidak sebaik ujian2 sebelumnya, jikapun aku dalam kondisi panikl dan kejepit, tapii, tidak menghancurkan idealismeku! Itu saja! Alhamdulillah...
(Karena Allah melihat setiap apapun yang kulakukan. Bukankah Allah itu maha mengawasi (Qs. AL Fajr).
Read More

Setengah-setengah!



Hmmpph…
Kadang-kadang, aku merasa cukup down dengan segala yang aku siapkan ini. Betapa, aku masih sangat jauh dari siap. Jauh drai persiapan yang sesungguhnya dan seharusnya. Serasa terus dikejar-kejar, dan terkejar-kejar! Segalanya harus siap dalam sekejap. Semua serba setengah-setengah!  Fiuuuuft…

Beberapa waktu yang lalu, diskusi dengan senior apoteker mengenai HPLC. Hmpph…susah payah mere-call memory 3,5 tahun silam. Sudah banyak yang menguap. (Pelajaran pertama : dahulu, sering itu blajar dan melakukan proses memory menggunakan otak kiri dan memory jangka pendek, sehingga selesai ujian, plajaran pun ikut menguap. Maklum, SKS).

Aih, sebenarnya, satu hal saja. Sering kali, memahami ilmu itu secara parsial. Mengkotak-kotakkannya sehingga pemahaman itu jadinya setengah-setengah! Seharusnya, memandang suatu bidang ilmu itu adalah dengan pandangan global dan menyeluruh, sehingga keterkaitan antara materi pendukung dan ilmu-ilmu yang mesti diplajari itu secara global dapat dilihat dan dipahami. Dan, sebenarnya tak perlu pula komat-kamit ngafal ini itu asalkan konsep dasarnya, asalkan filosofi ilmunya dapat dipahami. Bukankah begitu?

Kadang2, sering heran, melihat ada yang begitu bekejar-kejaran mendapatan nilai serba wah, serba oke, pokoknya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus itu. “Yg penting transkrip gw A. Biar gampang mendapatkan kerja!” itu targetnya. Yaah, percuma saja dong, dapat nilai A, kalau targetnya Cuma buat nilai doang! Giliran ditanya filosofinya saja, jadi bengong! Asli! Ini mah sama saja boong! Sebenarnya, yang diharapkan itu nilai apa ilmu sih? Padahal, jika yang diharapkan itu adalah ilmunya, si nilai juga bakalan relevan koq. Gak mungkin dong, orang yang paham, nilainya bakalan jelek. Setidaknya, ketika dia gak belajarpun, tapi sudah paham, hasil yang diperolehnya itu gak bakalan mengecewakan. (Walaupun juga gak tinggi. Hee…)

Hmmpph…, ngomong2 soal pemahaman yang parsial, sebenarnya ada yang perlu lebih dipahami secara menyeluruh lagi! Dan ini benar-benar menyangkut “nasib” kita nantinya. Yaitu, pemahaman akan diin ini. Ketika kita memami diin ini secara parsial, maka, tentulah dalam menjalankannya pun akan setengah-setengah juga. Lalu, dengan mudahnya menjudge sesuatu yang kita tak punya pengetahuan tentang itu. Menyalahkan sesuatu yang mungkin adalah benar karena ketidaktahuan kita.

Mari kita lihat fenomena ini,
Ketika ada yang melaksanakn dhuha, ada yang nyeloteh, “Ih, sholat apaan sih? Dasar! Ajaran sesat!”
Atau, “Eh, ini kan belum masuk dzuhur. Dzhuhur kan masih 3 jam lagi. Kenapa udah sholat?”
Atau, ketika melihat akhwat memakai jilbab yang lebih panjang dari wanita berkerudung kebanyakan, “Ini aliran apa pula ini? Kalian ini jadi mahasiswa, hati-hatilah. Jangan sampai ikutan aliran sesat pulak. Ini niiih, berjilbab…yang biasa-biasa aja lah! Jangan yang panjang-panjang begitu, hitam lagi!”
Dan, bahkan, ada seorang imam di sebuah mesjid yang ditendang sampai jatuh rubuh hanya gara-gara si imam tidak membaca basmalah di Surat AL Fatihah yang didzaharkan.

Semua fenomena di atas adalah sedikit dari sekian banyak kejadian nyata yang terjadi karena pemahaman diin yang parsial. Sehingga,begitu mudah menganggap orang lain salah. Padahal, itu tak lain disebabkan karena ketiadatahuan.

Meskipun, aku yang menuliskan ini bukanlah orang yang faqih dalam ilmu diin (waaaah, masiiiih sangaaaaaaaaaat sedikit ilmunya!!), tapi, dengan begini, mudah2an menjadi pelecut semangat kita untuk terus belajar…belajar dan belajar! Belajar untuk memahami, dan mengamalkannya, insya Allah.

Kembali ke perasaan down itu tadi…
Ng…, yang namanya hidup, tentulah akan seperti grafik kosinus yah? Kadang naik, kadang turun. Fluktuatif. Jadi ingat ajaran (sesat :P) dari seorang teman, “Jika kamu merasa jenuh, maka, ikutilah kemana hatimu mau, (asalkan masih dalam koridor-Nya), hingga kamu merasa jenuh dnegan kejenuhan itu. Setelahnya, adalah saatnya mengumpulkan energy untuk kembali bangkit!”. Yaah, bangkit menuju puncak grafik kosinus itu.

Tidak apa-apa saat ini merasa down. Setidaknya, aku bisa mengukur sejauh mana persiapanku. Dan, insya Allah, masih ada sedikit masa untuk mengejar ketinggalan itu. Masih ada waktuu, insya Allah, untuk melengkapi segala sesuatu yang rompang.

HARUS SEMANGAT!
Harus semangaaaaat Fathel!
“Menuju apt 2010”
Read More

Bukan Ini Jawaban yang Aku Inginkan!

Di ruang kelas,ba'da ujian berlangsung, aku duduk lemas...
"Ya Allah.., kali ini jangan sampai gagal! Jangan sampai gagal! jangan sampai HER!"
Fiuuf...

Sembari duduk sendiri di tengah kehebohan teman sekelas, tiba-tiba salah seorang teman angkatan menghampiriku,
"Thel, bagemana presentasi kelompok qta?"
"Itu kak, udah dikerjain..." Jawanku (karena memang aku PJ ngerjain presentasi.)

"eih, akak..bagemana ujian tadi? sukses gak?? Fathel ndak sukses niih akak...huhuhu..." Kataku...sambil pasang tampang memelas...
"Kak juga gak dapat Thel. Tapiii, kaka berani ajah liyat buku! Fathel siiih, tidak duduk dekat kakak. Kalo duduk dekat kakak, pasti deh, kakak kasi tunjuk. Atau SMS keek..."
Huaaaaaaah...fiuufft....
BUKAN INI JAWABAN YANG AKU INGINKAN KAK...batinku...

aku masih tercenung...
di tanganku ada selembar hasil ujian...
meski bukan yang terbaik dan mendapat nilai yang standar2 saja, Tapi aku percaya, BAHWA AKU TELAH MELAKUKAN YANG TERBAIK!
Dan, HARUS MELAKUKAN yg TERBAIK!

SMANGAAAT!
Sumangaik!
Read More

Lulus SATU PUTARAN!


Ketua KPU (a.k.a Ketua panitia ujian profesi apoteker) Bapak Prof. Dr. Helmi Arifin, Apt telah mengumumkan secara resmi bahwa PEMILU (a.k.a ujian apoteker) akan berlangsung pada tanggal 29 Juli 2010-4 Agustus 2010 insya Allah…
Ketua KPU dalam penyampaiannya, mengharapkan, kami para peserta pemilu (a.k.a peserta ujian) agar bisa LULUS di SATU PUTARAN SAJA! (a.k.a satu kali sidang saja!). Karena, satu putaran akan lebih menghemat waktu, biaya, tenaga dan pikiran. Tapiii, jika memang ada yang belum lolos satu putaran, maka, insya Allah akan ada PEMILU putaran kedua (tanggal 16 agustus 2010, insya Allah). KPU memutuskan bahwa PEMILU kali ini insya Allah hanya ada 2 putaran saja. Jika masih ada yang belum lolos di putaran kedua ini, maka, peserta pemilu terpaksa tidak bisa ikut pemilu lagi tahun ini, dan baru dibolehkan lagi ikut bertarung di Pemilu berikutnya, insya Allah bulan Januari 2011. Dan, keputusan dari ketua KPU sudah ketok palu!

Nah, segeralah Ketua TIM PEMENANGAN PEMILU (a.k.a komisaris tingkat, angkatan kami) Uda Farizal, S. Farm, angkat bicara menyemangati kita semua, agar memenangkan pemilu kali ini! Insya Allah kita tuntaskan SATU PUTARAN SAJA!!

Untuk itu, kami, peserta pemilu, MEMOHON DENGAN SANGAT, DO’A dari DUNSANAK kasadonyo, mohon doa’anya…agar kami semua, Lulus di SATU PUTARAN SAJA!
Read More

Kakek Penjual Kipas di Kereta


Suatu hari, di kereta kelas ekonomi…9 orang anak muda, mahasiswa, sedang berjalan-jalan. Tertawa-tawa. Bergembira-ria. Tiba2, lewatlah seorang penjual kipas, laki-laki tua yang bahkan untuk menjajakan jualannya saja, sudah tak jelas lagi. Sudah sangat tua.
“kipas….kipas….kipas….lima ratus…lima ratus!”
Kagetlah kesembilan mahasiswa itu. “haaa? Masak Cuma 500 rupiah harga itu kapas? Balik modal gak yah? Permen ajah Cuma dapat 3!”
Takjub, memandang kakek tua yang tertatih itu. “Bagaimana beliau menghidupi anak istrinya?”
“eh, hayooo..kita beli kipas bapak ini!” salah satu mengomandoi. Mata si Bapak tampak berbinar! Kipasnya laku 9 buah sekaligus. Lalu, sekelompok mahasiswa itu, memberikan duit 10.000. “Pak, gak usah dikasi duit kembalian. Harganya segitu ajah.”
Masya Allah, tak terkira syukur si Bapak. Tampak beliau saaangaat bahagia karena kipasnya laku dengan harga 10.000. berkali2 beliau mengucapkan syukur dan terima kasih.

Mahasiswa itu terperangah, terdiam, menatap tak pecaya. Memperhatikan punggung ringkih yang berlalu menuju gerbong berikutnya itu dengan segenap rasa yang tak terdefinisikan… “Haaaa? Begitu berharga duit sepuluh ribu itu bagi si bapak yak? Gw aja, di kasi mama sepuluh ribu itu langsung ngomel2, ‘sepuluh ribu Cuma dapet apa, ma!?’. Tapiiii, bapak ituu, sepuluh ribu aja, sudah segitu besar rasa syukurnya. Gw terharu banget!”

Masya Allah…
Ternyata, definisi banyak dan sedikit itu begitu berbeda. Kadang (atau sering?) kita merasa apa yang kita punya itu masiih kurang. Lupa bersyukur dengan apa yang diberi. Padahal sudah sangat lebih. Jauh lebih baik dari mereka yang tidak seberuntung kita. Di pinggir jalan sana. Do kolong jembatan sana. Di pekampungan kumuh sana.
Maka benarlah, untuk urusan dunia, memandanglah ke bawah. Sebab dengan demikian, akan menjadi perangkat lunak di hati kita untuk senantiasa meng-up date rasa syukur itu. Sebaliknya, untuk urusan akhirat, memandanglah ke atas. Sebab denga demikian, ia juga akan menjadi perangkat lunak di hati kita untuk senantiasa meng-up grade diri kita, ruhiyah kita, dan keimanan kita.

Semoga kita semua bisa sama2 ambil plajaran yaaah?
Read More

[calon] MAFIA


Fiuuuffft…minggu2 ujiaan…, berhasil menjadi alat rebonding paling spektakuler (bikin rambut kesetrum listrik, maksudnya hingga jegang2, so ga perlu rebonding lagi. Heee… LEBAY!). Tapi, ada hal yang sebenarnya ingin kutumpahkan menyangkut ujian ini. Fiuuuuffftt…aah, entahlah. Entah ini adalah aib. Tapi, kalaupun aib, semua orang juga tahu! Sudah rahasia umum jugah! Apakah akan mencemarkan nama baik? Entahlah. Toh, menurutku, ini juga demi perbaikan. Dan, satu2nya yang bisa kulakukan adalah hanyalah… menuliskannya. Yah, hanya menuliskannya (plus ngomel2 kessal sendiri. ^^).

Jadi begini, kami kan melaksanakan ujian kan. Nah…, ternyata, soal yang ada itu di luar prediksi. Out of prediction. Jadiii, panic lah semua peserta ujiaaan. Haduuuuuh, jawabannya teh apaan yah? Dan ujian pun berlangsung. Ada 12 soal essay dengan waktu 70 menit. 30 menit terakhir mulai kasak kusuk. Hingga, akhirnya, ujian itu berakhir sudah! Semua peserta mengumpulkan jawaban ke dosen pengasuh.

Ng…hebooh banget. Kembali membuka bahan ujian, melihat, jawaban yang benarnya apa yah? Banyak yang mengeluhkan betapa soalnya tak disangka2 akan keluar soal yang itu. Trus, aku bilang : “kalo semua orang tak dapat, berarti meratalaah jawabannya. Sebaran nilainya pun akan sama. Iya kan?”. Trus, kata salah satu kakak bilang, “ah, ndak juga Thel. Tuuh, anak2 di belakang banyak yag buka catatan waktu ujian!”

Fiuuuuuuuuuuufff!
Sungguh, aku jadi kesal!
Padahal si bapak professor sebelum ujian udah jelas2 mengatakan, bahwa seseorang yang kompeten adalah orang yang jujur!”
Gimana gak sebel bin kesel coba, begitu banyak yang liyat buku begitu! Kan kasihan banget sama orang2 yang gak liat. (sebenarnya, gak perlu kasihan jugak siiiiih. Toh, orang2 yang berhasil jujur itulah sesungguhnya orang2 yang paling tinggi nilainya, orang2 yang paling menang dan orang2 yg Paling kompeten. Jadi, gak perlu ada kata kasihan, sebenarnya.)

Huuuh!
Padahal, sudah jelas2 terpampang di depan ruang ujian itu nasihat2 bahwa Allah mengawasi setiap apa yang dilakukan manusia? Okelah bapak professor tak liyat, tapi, Allah kan lihat!
Apa siih artinya nilai jika diperoleh dengan melihat catatan??!
Segitu pentingkah nilai itu sehingga harus menggadaikan kejujuran dan harus rela memikul dosa?
Apa siiiiiiiiiiiih artinya nilai jika begitu?????

Banyak kesimpulan yang kuperoleh.
Pertama, dari jaman baheulak dahuluuuuu, hingga sekarang, ternyata budaya “mencontek” itu telah begitu mengakaaar dan membudaya. Dan, paradigmanya adalah NILAI SEGALA-GALANYA! Paradigma bahwa NILAI bagus akan sebanding dengan pekerjaan bagus, sekolah lanjutan yang lebih bagus, dan semua2 bagus2 lainnya. Aih, AKU BENAR2 JADI TAK PERCAYA DENGAN NILAI DI ATAS KERTAS LAGI! Kelak, kalau aku punya perusahaan besar (cie elaaah….. amiiiiiiin), AKU TAK AKAN MENGADAKAN SELEKSI NILAI SEBAGAI PARAMETER karena NILAI KEBANYAKAN MAHASISWA (sini) TIDAK BISA DIPERCAYA! (Allahu’alam nilai mahasiswa dari kampus lain yak! Paling2 juga lebih kurang hampir mirip lah!). Bagiku, lebih baik IPK 3,9 diraih dengan kejujuran dari pada IPK 1,9 tapi diraih dengan mencontek (halaaah! ini mah semua orang jugak tauuu!).
maksudnya, biarlah nilainya biasa2 ajah, tapi nilai kejujurannya lebih utama! Seseorang berwawasan atau tidaknya, bukan tergantung sama IPnya!
Dan, orang2 yang mencontek itu, adalah orang2 yang telah menyiapkan diri mereka untuk kegagalan. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti!

Kedua, kesimpulanku adalah, PANTAS SAJA MAFIA KESEHATAN dari golongan FARMASIS begitu banyak beredar di Indonesia. Wong, buat dapatkan nilai ajah udah begitu. Apalagi, nanti, buat dapatkan duit! Secara, duit itu kan lebih adiktif! Jadinya, cikal bakal para mafia kesehatan itu sudah ketahuan dari sekarang! Fiuuufh, betapa bobroknya!

Ketiga, (mengutip tatsqif yang disampaikan oleh Ust Irsyad Syafar LC), jujur pada manusia (salah satu contohnya tidak mencontek waktu ujian) adalah tingkatan As-sidqu terendah. Karena, toh, orang non-muslim saja banyak yang sanggup melakukannya. Apalagi buat jujur sama Allah yah? (jujur kepada Allah, adalah tingkatan As-Sidqu tertinggi). Dikemanakan Allah ketika berada di ruang ujian?! Di mana rasa pengawasan Allah terhadap diri kita?

Hmm…, intinya, sesungguhnya yang perlu diperbaiki itu sebenarnya adalah akhlak kita (termasuk diriku dong yaah, kalo perbaikan akhlak!)

Sudah ah, segitu ajah curhatnya…
Read More

Ujian!


Huwaaaa…andaikan hari-hari di bulan juli seharinya 100 jam! Andaikan! Tapiii, mustahil! Satu hari tetaplah 24 jam! Tetaplah 24 jam!
Tapiii, rasa2nya, 24 jam saat ini terlalu singkat! Aku harus berlariii…dan berlariiii begituuu kencang mengejar semua ini! Hingga, hari itu saja…4 Agustus 2010 insya Allah (jika umurku masih disampaikan-Nya hingga tanggal itu dan jika Allah menghendaki itu semua terjadi).

Jadi ingat kata2 Bapak Ketua Program Profesi Apoteker, beberapa hari yang lalu, “Pikiran santai, tapi tetap bekerja keras! Jangan bayangkan sulitnya, tapi, bayangkan bahwa di bulan September insya Allah, kalian mengenakan toga dan diwisuda.” Kata si Bapak menyemangati kami.

Ng…I got the point!
“ingat wisudanya, jangan pikirin susahnya! Sebab akan kehabisan banyak energy untuk sampai di garis itu nanti.”
Intinya, lihat akhirnya….lihat apa yang kita peroleh nantinya, bayangkan kebahagiaan di hari itu. Dengan demikian, kita akan berusaha keras untuk mencapainya! (lebih kurang, beginilah intinya, apa yang disampaikan si bapak) Bukankah, demikian pula dengan kehidupan dunia yang begitu sebentar ini? Jika melihat sulitnya, yaah sulit! Bukankah, surga itu dikelilingi oleh hal2 yang menyusahkan sementara neraka itu dikelilingi oleh hal2 yang menyenangkan. Nah, jika surga tujuan akhirnya, betapa pun sulitnya, pasti akan berupaya untuk dilalui dan dijalani dengan optimal kan yaah?!

Jadiiii, kesimpulannya, persiapan menghadapi ujian, tentu saja tidak boleh mengurangi porsi-Nya! Justru, semestinya rasa ketergantungan itu semakin tinggi!

Hayuuu, Fathel, smangat! Smangat! Lakukan yang terbaik! Bukan hanya untuk ujian apoteker, tapi juga untuk ujian kehidupan!

Ng…, yang namanya ujian, yah niscaya lah! Karena ujian itu adalah parameter. Parameter sejauh mana kita kompeten! Dan, juga sebagai salah satu sarana buat naik tingkat! (Nah loh, dahuluu,waktu masih jaman sekolahan, kalo mau naek kelas, kan ujian dulu yak? Pun begitu dgn hidup. Gak bakalan Allah biarin kita bilang “Saya ini orang beriman loooh!” sebelum dikasi ujiannya). Jadi, ujian itu…adalah keniscayaan!

Smangaaaaat!
Baraja…baraja….barajaaa!
Ingat, 24 jam saja, belum tentu cukup, Fathel!

*Blog-ku…, maap yaaah…, maapkan akuuu….
Insya Allah, aku akan membersamaimu lagi…
Read More

4 Agustus!!


Mari sedikit melakukan Run-Down (yang bikin muka jerawataaaaan!! Ooh nooo!!!). Di mulai dari tanggal itu….4 Agustus 2010!!


Dan hari inii….30 Juni 2010!
Aku…aku…huaaaaa…TERNYATA MASIH MENYIAPKAN SEDIKIT BEKAL!!
SEDIKIIIIIT SEKALI!
Allahu…, waktu itu kian dekat!
(Jika Allah masih memberikanku kesempatan untuk menghirup udara hingga waktu itu, maka, sungguh…aku akan terengah meniti setiap langkahnya!)
Ooh, begitu banyak yang terlalaikan!!
Tapiii, aku HARUS SEMANGAT!
HARUS SEMANGAT!
TIDAK BOLEH LEMAH dan MENYERAH!
Hayooo…berjuang!!


Ng…, tapi, ini semua, mengajarkanku untuk menyesal!
Yah, belajar menyesal! Sebelum penyesalan itu tiada lagi berguna!
Jika waktu YUDISIUM diibaratkan sebagai waktu penentuan, waktu perpisahan dengan dunia, maka sesungguhnya bekal itu belumlah cukup! Bahkan, masiiiiih sangat kurang!
Waktu YUDISIUM apoteker adalah tertentu! Adalah ditentukan! Setidaknya, ada sedikit ruang untuk melakukan persiapan!
Bagaimana dengan YUDISIUM Kematian yang waktunya TIADA TERTENTU! Bisa jadi besok, bisa jadi lusa. Apakah kita telah memiliki sedikit ruang untuk mempersiapkannya? Tidak! Semestinya, tidak sedikit ruang! Tapi, semestinya ada banyak ruang!
Jika untuk YUDISIUM itu saja yang waktunya sudah ditentukan, dan masa gunanya hanya selama berada di atas dunia yang fana dan fatamorgana saja perlu persiapan yang cukup, lalu bagaimana dengan YUDISIUM kematian yang waktunya tidak tertentu dan akan menjadi PENENTU yang amat sangat tentang bagaimana nasib kita di negeri yang abadi? Semestinya ada persiapan yang lebih!
Semestinya!
Maka, memang sudah selayaknya, persiapan untuk ini PERLU DIUTAMAKAN! Karena, bisa jadi, YUDISIUM kematian, lebih cepat dari pada yudisium apoteker.
Maka, selayaknya pula, persiapan menghadapi yudisium apoteker tidak melalaikan persiapan untuk menghadapi yudisium kematian!


Hayyuuu Fatheru!
Sumangaik! Smangat! Smangat!
Read More

Iklan Paling Menarik


Ng…semalam diriku sempat liyat iklan dari dinkes yang sangaaaaaat menarik! (aih, ini iklan paling menarik sepanjang tahun 2010 yang pernah kuliyaat! Halaaah! Lebay! Hihi). Iklannya tentang seorang pasien yang berobat ke dokter lalu bilang ke dokternya, “Pak, saya minta obat generic yaah.” Lalu, si dokter menjawab, “Iya Bu, pasien berhak untuk meminta haknya menggunakan obat generic.” Lalu, ketika si pasiennya nyampe di apotek, dia mengatakan ke apotekernya, “Obatnya yang generic ya, Bu.” Di jawab si apoteker, “Iya Bu, pasien berhak untuk meminta obat generic.”
Ck..ck..ck..luar biasa! Ini info yang sesungguhnya sangaaat bermanfaat bagi masyarakat.

Tapiiii, sesungguhnya ada hal yang begitu miris yang kutemukan di lapangan yang membuat aku nyaris tidak percaya lagi dengan dokter dan juga apoteker! Aku bahkan sempat men-justifikasi bahwa hampir semua dokter itu MAFIA. Dan, kebanyakan apoteker juga adalah MAFIA! (hehehey, termasuk diriku dong?! Ehehe, semoga saja tidak, karena sebenarnya yang “pegang kendali” itu adalah dokter).

Riilnya begini, ng…yang namanya “kerja sama” antara dokter sama perusahaan farmasi itu bukan rahasia umum lagi kan yaah? Jadi begini, dengan suatu “kontrak politik” (loh!loh!loh! knapa kontrak politik pulak yaah? Emangnya partai! Hihih) kontrak tertentu maksudnya, ada “simbiosis mutualisme” antara dokter dan perusahaan farmasi tertentu yang MERUGIKAN pasien. Lebih kurang isinya begini, “jika si dokter bisa meresepkan obat ini sebanyak segini dalam waktu ini, maka perusahaan akan memberikan bonus berupa, mobil, rumah, tiket jalan2 gratis ke luar negeri atau apaaaalah gituuh!”
Jika “pangsa pasar” eih, maksudnya segmen yang dibidik itu tepat dan peresepannya sesuai dengan aturan, bolehlaah, tak perlu dipersalahkan. Tapiiiii, masalahnya tak banyak orang yang bisa tahan liyat duit! (betapa addiktifnya duit itu yaaah? Bahkan, lebih adiktif ketimbang narkoba!). pas diiming2 duit, itu biji mata langsung ijo! Maka, yang terjadi di lapangan adalah PERESEPAN YANG TIDAK RASIONAL dan PENINDASAN TERHADAP PASIEN (yang sangat lugu dan telah mempercayakan 100 % eih 90 % ding, kesembuhannya kepada si dokter). Walaupun kuncinya tetaplah di pasien, mau beli apa tidak, tapi, di sini pasien ibarat raja yang bodoh yang mau saja di atur2 oleh sang patih yang licik. (eih, analognya mungkin sedikit membingungkan, heee…).

Begitulaah!
Sering yang terjadi di lapangan, demi mengejar uang, demi mengejar target peresepan,dokter meresepkan obat pasien yang tidak lagi rasional. Melebihi dosis yang seharusnya. Regimen dosis yang tidak pas lagi. Dan, tanpa pandang bulu lagi, tanpa melihat-lihat lagi, apakah pasiennya golongan orang mampu atau tidak! Jadinya, ketika menebus obat, pasien yang awalnya sakit diabetes misalnya, jadi nambah sakitnya, hipertensi dan depresi, karena kehabisan duit buat nebus obat. Mesti mikir2, nyari di mana yaaah dit segitu banyak! Bayangkan! Suatu obat A (sebut ajah begitu) yang harga generiknya Cuma Rp. 5.000,- harus ditebus pasien (yang kebanyakan kurang mampu!) dengan harga paten Rp. 230.000,-. Haduuuh, itu nurani dikemanakan siiih? Apa tidak mikir, banyak yang “mengutuk”nya di belakang nantinya. Untung ajah tuh pasien lugu n mau ajah nerimo karena si pasien gak ngerti. (makanya, kataku tadi, iklan itu mencerdaskan). Hampir semua aku temui kek gini. Ini tentu lain cerita dengan pasien yang kaya raya brataa…yang emang maunya dia diresepkan obat paten nan mahal sangat itu! (itu kataku tadi, menyoal segmen pasarnya siapa, mesti diliyat2 dululah!)

Nah, lain pula ceritanya dengan apotek. Ng…jika dokternya udah baik, udah mau meresepkan yang generic, tapii, orang apotek pula yang bikin ulah. Digantinyalah obat generic ini sama paten, biar harganya lebih mahal. Secara, kan pasien kaga ngerti tulisan dokter yang kebanyakan super duper jel*knya itu (makanya, kalo jadi dokter, mesti blajar nulis lagi sama guru kelas 1 SD. Hehehe). Ditambah lagi, penulisan resep yang menggunakan istilah latin. Nah..nah…, tentulah pasien kagak tau itu obat generic atau paten kan yah? Wal hasil, sama sajaaa, akhirnya obatnya pun tetep mahal. Haduuuh, dimana nuraninyaaa? (kan yang namanya bisnis apotek, bukan profit oriented melulu. Gak kayak bisnis kebanyakan yang memang orientasinya adalah laba. Bisnis apotek, setengahnya adalah unsure social jugah!).

Apalagi kalo yang dokter sama apoteknya berkerja sama dengan licik untuk memahalkan harga obat! Haduuh…haduuuuh…kasihan pasiennya! Udah jatuh, ketimpa tangga pulak (kata pepatah). Ng…sebenarnya (kalo liyat2 pangsa pasar) bisnis seperti perapotekan ini jauuh lebih menguntungkan. Mungkin di segi materi tidak yaah, tapi di segi sosialnya! Ketika kita membantu orang yang kesusahan, dengan memberikan obat generic (khasiat nya sama tho?), secara tak langsung kita telah bersedekah kepada orang tersebut. Sedekah yang sangaaaaat diam2. Tak ada orang yang tau. Udah gituh,insya Allah harta pun menjadi berkah. Iya tho?!

Jadiii, hal pertama yang harus kita cermati dan kita ambil kesimpulannya adalah, jika mau berobat, MINTALAH DOKTERNYA UNTUK MERESEPKAN OBAT GENERIK! Itu hak paisen looh!
Kedua, tanyalah apotekernyaa (sesuai PP 51 tahun 2009, mengenai peran apoteker!). Hoo…iya! Jika teman2 sekalian pengin diskusi, hayuuuk, qta diskusi sama2 deeh. Dengan senang hatiiii aku akan tanggapi, siapa pun itu. Dengan demikian, aku jadi banyak belajar dari dirimu semuaaaa. Betul tak?

Trus, kesimpulan yang paling penting adalah, sebenarnya yang perlu “DIPERBAIKI” itu bukan systemnya yang utama, melainkan, “PERSON” yang ada di dalamnya. Semacam “bengkel akhlak” kali yaaah?! Juga reminders, saling mengingatkan!
*Merindukan akan hadirnya generasi-generasi rabbaniy…
Read More