Tentang Mereka dan Ketangguhannya

Adalah seseorang yang kecil, tengik, selalu dicemooh dan diperolok banyak orang…
Lalu, Islam dan da’wah yang membesarkannya.ia lantas menjadi pribadi yang begitu tangguh, berwibawa dan disegani banyak orang. Ia….menjadi sosok cerdas yang langkahnya begitu gesit. Ia kemudian menginspirasi banyak orang. Ia menjadi sosok pemimpin yang mengagumkan!

Ada pula kisah lain. Seseorang dengan keterbatasan fisik—jika tidak tega menyebutnya: CACAT—yang kerap dicampakkan dan dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Tapi lihatlah, ketika Islam dan da’wah membesarkannya. Ia menjadi sosok luar biasa dengan motivasi dan semangat yang tinggi. Ia seorang pejuang! Lalu, menjadilah ia pribadi yang berkualitas.

Bahkan orang-orang lupa akan seperti apa masa lalu mereka. Yang terlihat hanyalah ketangguhan. Wajah yang bersih, dan menimbulkan rasa hormat terhadap mereka.

Begitulah…
Ketika kita disibukkan dengan hal-hal sepele, hal-hal kecil. Energi kita akan habis untuk itu saja. Lalu, menjadi sia-sialah ia. Kita tak lagi sanggup melakukan hal-hal besar karena telah terlebih dahulu disibukkan dengan hal-hal kecil.

Mungkin begitulah adanya aku. Telah terlebih dahulu tersibukkan dengan hal-hal kecil. Kemudian, lupa dengan hal-hal besar yang akan kulakoni. Hmm…tapi setidaknya, ini menjadi pelajaran berharga bagiku…. Soal asasement itu apalagi. Hmm….
Read More

Tidak Selalu...

Dalam segala hal, tak ada kesuksesan yang instan, itu pasti.
Yang jelas, harus dimulai dari langkah kecil dulu, dari bawah dulu, harus berpeluh payah dulu.
Jika ia adalah ibarat roller coaster, maka bukan teriakannya yang penting, tapi bagaimana mengikuti alurnya yang naik turun.

Tak selalu seperti yang kita konsepkan..
Tak selalu seperti yang kita pelajari..
Sebab, nyatanya pelajaran realita jauh berbeda…

Jadiii, setiap jenaknya adalah pembelajaran berharga, insya Allah…
Read More

Kulminasi

Huuffft… inilah kondisi paling tragis dalam jiwaku...
Titik kulminasi…
Sungguh…aku tak ingin memilih apapun. Setidaknya untuk sejenak ini…

Tentu aku tak perlu menyalahkan, mengapa setiap kisi hidup selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pun, tak perlu pula ada penyalahan ketika tidak tepat dalam memilih keputusan.
Setidaknya, aku bisa belajar banyak dari itu semua. Berikut dengan segala konsekuensi yang berada di belakangnya. Ya. Karena memilih akan selalu harus menyertakan konsekuensi…

Aku dan hidupku.
Aku dan titik kulminasi itu.
Aku dan idealisku.
Read More

Ujian Kehidupan

Beratnya beban
Mungkinbanyak yang begitu down, atau begitu terpuruk ketika ujian-Nya datang beruntun. Kadang, kita seperti tak punya kesempatan untuk bernafas lebih panjang, menggenapkan energi yang kita punya, untuk menghadapi berbagai terpaan itu. Kadang, terasa begitu berat, bahkan ingin melarikan diridari itu semua.

Tapi kemudian kita belajar, bahwa hadirnya ujian, hadirnya terpaan yang begitu bertubi, sesungguhnya adalah tempaan. Tempaan agar kita menjadi lebih tangguh. Ini juga menyoal training kesabaran, yang mungkin terlalu mudah untuk digumamkan. Yah, kita mungkin begitu mudah untuk mengatakan, “Sabar….sabar….”, tapi pada kenyataannya, sabar itu tak semudah pengucapannya. Ia butuh latihan. Ia butuh training. Dan ujianlah yang menjadi trainingnya.

Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang Allah berikan ujian lebih banyak. Sebab ia punya lebih banyak kesempatan untuk naik kelas. Naik ke kelas yang lebih berkualitas. Bukankah jika kita hendak naik kelas, kita harus melewati ujian terlebih dahulu? Dan bukankah, tinggi rendahnya tingkatan kelas itu amat linear dengan tingkat kesulitan ujian ia dihadapi? Tentu saja!

Dan yang jelas, Allah tidak akan membiarkan kita mengatakan diri kita beriman, sebelum Allah memberikan ujian-ujian untuk diri kita. Dan hanya orang beriman pulalah yang baginya semua keadaan adalah kebaikan belaka. Jika itu menyenangkan, ia bersyukur. Dan jika itu tidak mengenakkan, ia bersabar.

Sungguh, jika kita memandang ujian sebagai suatu bentuk in process control, maka insya Allah akan memberikan quality assurance atau jaminan kualitas diri yang lebih mumpuni dari pada memilih untuk melarikan diri dari ujian-ujian itu. Melarikan diri dari ujian-ujian, memiliki arti yang sama dengan membuang kesempatan untuk naik kelas ke tingkat yang lebih berkualitas. Selain itu, jikapun kita bisa melarikan diri dari ujian itu, tetap saja akan berjumpa dengan ujian-ujian lain yang serupa atau dengan tingkat yang sama, hingga kita berhasil lulus dari ujian itu.

Sungguh, Allah maha teliti dalam meletakkan beban ujian di pundak kita. Jikalah ada alat ultra cangggih yang dapat mengukur kadar kemampuan dalam memikul suatu ujian, tentulah skalanya hanyalah akan berada pada batas nilai kesanggupan kita. Jadi, beruntunglah jika ujiannya lebih berat, lebih bertubi, sebab, itu menjadi indikasi bahwa kita memiliki kualitas tinggi untuk memikulnya. Sebab kita sangguplah, maka Allah memilih kita untuk memikulnya. Jadi, kita memang tak punya alasan untuk tidak menaklukkan setiap ujian-ujian yang disampirkan di pundak kita.

Jika pada hati kita sempat terlintas pikiran-pikiran, “Kenapa hanya saya saja yang Allah beri ujian. Si A, si B dan si C, hidupnya tak seperti saya. Mereka pun tak ada ujian-ujian yang memberatkan pundak mereka. Tapi, mengapa saya harus menghadapi ini?”, maka cepat-cepatlah kita melenyapkannya pikiran itu. Sesungguhnya beruntunglah! Beruntunglah Allah memilih kita, sebab Allah telah meluluskan kita pada uji kelayakan untuk memikulnya. Artinya, kita punya kadar kesanggupan untuk melewatinya. Taklukkan ujian ini, dan Dia akan memberi kesempatan kepada kita untuk meningkatkan kualitas diri.

Bersemangatlah!
Sebab, tiadalah yang Allah inginkan pada diri hamba-Nya, melainkan kebaikan belaka…sesulit apapun itu. Maannajah!

---------------------
Sumber gambar : di sini
Read More

Pembenaran, Kebenaran dan Membenarkan

Kali ini aku pengin mengajakmu untuk melihat suatu kondisi ini. Satu hal yang sama atau senada, dengan penyikapan yang berbeda, dan efek yang ditumbulkan sesudahnya. Sebut saja ada dua anak berumur sepuluh tahun, Badu dan Melati, sama-sama diminta oleh orang tuanya untuk mengantarkan sebuah benda berharga ke rumah tetangga jauh. Hmm…benda berharganya kek apah yah?! Emas, misalnya. (hihi, emang ada yah orang tua yang mau nitipin emas ke anak 10 tahun untuk diantar ke tetangga? Hihi….anggap saja ada yah!). Dan mereka berada di lokasi yang terpisah a.k.a tidak bersamaan.

Orang Tua Badu : Nak, tolong anterin ini ke rumah tetangga kita paling ujung itu yaah. Ini benda berharga. Hati-hati yah Nak.
Orang tua Melati : Nak, tolong antarkan ini ke rumah Tante yang di ujung gang itu yah. Hati-hati yah Nak yah, karena ini benda berharga.

Lalu, berangkatlah kedua anak itu ke rumah yang dimaksud oleh orang tua masing-masing. Tak dinyana, ternyata, diperjalanan, keduanya sama-sama tak sengaja menjatuhkan benda itu. Karena bentuknya yang kecil, jadi mereka tidak menyadari bahwa benda itu terjatuh. Si Melati dan Badu, dengan paniknya langsung kembali ke rumah masing-masing, dan mengadukan hal tersebut kepada masing-masing orang tuanya.

Badu (dengan wajah panik dan ketakutan) : “Mamaaaaa……huaaaa…..yang mama titip tadi itu ilang….duuh…bagaimana ini Mamah?”
Mama Badu (langsung ekspressi marah besar): “Tuuuh kaaaaaaaaaaaaaan, sudah mama bilang! Kamu itu harus hati-hati! Mahal tauk, harganya! Di mana mau dicari duit buat menggantinya! Dasar, kamu memang ceroboh!!! Dasar, kamu tak bisa dipercaya! Nyusahin mama aja!”
Lalu si mama mulai menelusuri jejak si anak, untuk mencari, kalau-kalau benda itu terjatuh di jalan. Dan, akhirnya benda itu ketemu. Tapi, dengan susah payah mencarinya.
Mama Badu : “ini nii apa ni? Makanyaaaa…., jangan ceroboh! Lain kali, jangan diulangi lagi ya!”

Di tempat lain,

Melati (juga dengan wajah yang sangat panik) : Bundaaaa, huwaaa…yang Bunda titip tadi ilaang. Deuhh…bagemana dong Nda?”
Bunda (dengan ekspressi kaget, tapi kemudian menguasai diri, dan melihat ekpressi anaknya yang panik dan rasa bersalah yang tinggi) : “Masya Allah? Iya, nak? Hayuuk, kita cari….sebelum lama ilangnya.”
Lalu, mereka menelusuri jejak, dan (sama dengan Badu) akhirnya juga menemukan benda itu, juga dengan susah payah mencarinya.
Bunda : “Nak, ini sudah ketemu. Lain kali, berhati-hati yah Nak. Jadi, kita tidak repot-repot nyari begini. Lain kali, kalau membawa sesuatu, simpan di tempat yang aman yah. Apalagi kalau itu berharga.”

Hehe…kedua kisah di atas, tentu saja fiktif belaka, tapii….lebih kurang dengan kisah senada, banyak orang pernah mengalaminya. Iyah tidak? Setidak-tidaknya sekali seumur hidup, setelaten apapun dia. Heuu…..

Sikap pertama, ketika si Badu panik dan ketakutan, lalu ditambah dengan ekpressi menyalahkan dan me-labelling anak dengan label “cerobh” dan “tidak dapat dipercaya” justru bukan membuat anak lebih baik. Sang anak yang telah terpuruk secara psikologis, dengan kepanikkan yang luar biasa, lalu ditambah pula bebannya dengan penyalahan dan labeling sehingga hal ini menjadi PEMBENARAN bagi si anak, bahwa ia memang demikian. Bahwa ia memang sangat buruk, ceroboh dan tidak dapat dipercaya. Hal ini akan tersimpan di alam bawah sadarnya, sehingga jika suatu saat ada orang lain yang meminta sesuatu padanya atau memberi kepercayaan, ia akan begitu sulit karena alam bawah sadarnya terlanjur melabeling kalau dia itu ceroboh dan tidak dapat dipercaya.

Sebaliknya, sikap kedua, ketika Melati panik, si ibu tidak langsung menyalahkan. Bahkan memberikan proteksi psikologis kepada anak terlebih dahulu. Si ibu yang turun mencari, dan sama sekali tidak mengata-ngatainya. Ketika kondisi psikologisnya sudah aman, baru diberi masukan, lain kali harus berhati-hati. Bukan berarti harus bersikap lunak juga. Pada akhirnya anak akan menyadari di mana letak kesalahannya. Dengan demikian KEBENARAN yang disampaikan, pun akan tersimpan di alam bawah sadarnya. Dengan demikian, berarti ini adalah sikap MEMBENARKAN yang salah tanpa harus melukai sisi psikologis sang anak.

Allahu’alam, secara psikologis ini ada teorinya atau tidak. Hehe. Dan lagi, tentu saja diriku tidak berkafaah dalam bidang psikologi. Hanya saja, kejadian ini, aku merasakannya sendiri. Ketika aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga, aku pikir aku akan dimarahi habis-habisan. Tapi ternyata tidak. Ketika itu, ayahku ikut mencarikan terlebih dahulu, melihat kepanikan yang luar biasa di wajahku. Ayahku tidak langsung menyalahkan. Lalu, ketika aku sudah bisa menguasai diri dari kepanikkan, barulah kemudian ayah memberikan masukan, nasihat agar lebih berhati-hati. Nasihat ini kemudian menjadi begitu berkesan bagiku. Dan, pada akhirnya, aku menjadi selalu ingat, jika ada sesuatu yang berharga dan harus ada kehati-hatian menyertainya. Satu kata-kata ayah yang begitu berkesan kala itu, “Ya sudah…jadikan saja PELAJARAN! Biar tidak terulang di masa mendatang.”
Read More

Keep Moving Forward

Kadang, ingin aku tertawa dan menertawakan diriku sendiri dengan ke-idealis-spontan-an diriku. Hee. Begitu menggelikan saja rasanya, ketika begitu menggebu-gebu menggaungkan suatu idealisme, lalu….kemudian secepat itu pula kendur dan menyurut! Lalu, bangkit lagi…dan down lagi. Sangat fluktuatif. Seperti gelombang laut yang menggulung, lalu menghempas di bibir pantai.

Aku dengan idealis spontan-ku.
Pada mulanya aku berpikir, hanya akan mengerjakan apa-apa yang aku senangi saja. Menurutku, mengerjakan apa-apa yang menjadi minatku, insya Allah akan memberikan hasil yang lebih optimal.

Lalu, aku dihadapkan pada suatu pertarungan idealisme dan terdamparlah aku pada sesuatu yang sama sekali tak aku senangi, tak aku minati, tapi harus dijalankan!
Berat?
Ya, tentu saja!

Dunia realita, sama sekali tak seindah dunia idealita. Ketika idealisme itu benar-benar bertekuk lutut di depan realitas…
Berkali-kali aku ingin mundur dan memilih persimpangan lain.
Berkali-kali pula aku ingin menyerah pada tantangan itu.

Tapi, tidak!
Aku tidak akan menyerah!
Face the Challenge!

Semakin kusadari, bahwa membawa idealisme dalam realisme itu tidak mudah. Sama saja artinya dengan kembali belajar dari nol. Tapi, belajar dari nol, itu bukan perkara yang buruk. Setidaknya, ini membuatku kembali HARUS BANYAK BELAJAR dari setiap rekam jejak peristiwa. Meski hanya seperti cecunguk pada mulanya, aku ingin ia kemudian menjadi tempaan…. Sepahit apapun…insya Allah tetap akan ada manis pada akhirnya…

Tidak….
Aku tidak akan menyerah!
Keep Moving Forward!
S.U.M.A.N.G.A.I.K!
Read More

Street Diary [Part 2]

Diari perjalanan lain, dan lagi-lagi menyoal perjalanan. Ini termasuk perjalananku yang cukup ‘buruk’. Perjalanan yang mengalami ‘perencanaan gagal’, dengan total jarak tempuh 200 km lebih. Pertama, angkutan yang penuh (over load) yang membuatku hampir saja harus bergelantungan di pintu bus untuk 40 km perjalanan. Untung saja, ada penumpang baik hati yang bersedia membagi separuh tempat duduknya untukku. Alhamdulillaah... semoga Allah balasi kebaikan beliau.

Lalu, time prediction yang meleset. Aku memprediksikan perjalanan itu akan sampai di suatu tempat di sudut jembatan Ombilin, untuk menunggu ayahku yang datang dari arah Payakumbuh. Ternyata prediksi itu meleset lagi. Dan parahnya, ponsel yang lowbatt membuatku tak bisa memberi tahu di mana posisiku kepada ayah. Tempat spesifiknya tidak bisa diberitahu. Alhamdulillaah...., ada pak polisi baik hati yang kemudian bersedia meminjamkan ponselnya plus memberikan pulsanya untuk melepon ayah. Alhamdulillaah... Smoga Allah balasi kebaikan pak polisi itu. Selama ini image-ku terhadap polisi memang agak buruk. Sebab, aku sering kenak tilang! Hihi.... (ini sentimen pribadi kali yah?!).

Selanjutnya, alhamdulillaah...bersama ayah. Namun, masya Allah, rupanya aku ketinggalan dokumen-dokumen penting dalam sbuah map di bus yang tadinya aku tumpangi! Ada akta notaris, skck asli, kartu pencaker asli, legalisir-an ijazah dan transkrip, kartu keluarga asli. Ngurusnya itu loooh, susahnyaaa luar biasaaa. Howalaaah.... masya Allah. Kali ini aku memang didera kepanikkan yang laur biasa. Sudah 20 menit bus itu lewat. Rasa-rasanya tidak mungkin dikejar. Apalagi bus itu larinya superr kencang. Alhamdulillaah, aku sempat berbincang-bincang dengan seorang nenek tua yang selalu menumpangi bus itu. Beliau bercerita, “nanti bus di anto juga datang”. Dari sana aku tahu nama supirnya adalah Anto. Akhirnya, aku dan ayah putuskan untuk menuju terminal bus itu. Sepanjang jalan, kami mengawasi bus-bus yang lewat, berharap bus itu lewat lagi menuju ke arah kami. Rupa-rupanya tak ada. Sungguh, ini kondisi stress yang menyiksa.

Di sebuah persimpangan, akhirnya kami bagi dua. Ayah ke terminal dan aku menunggu di jalan dan berharap bus itu lewat. Sepanjang perjalanan, si bus itu tak lewat-lewat. Haduuhh....bagemana iniii?! Alhamdulillaah...ayah menemukan supirnya, dan dokumenku ditemukan lengkap!

Pelajaran yang benar-benar full pressure ini kemudian memberikan pelajaran berharga bagiku. Pelajaran paling nyata adalah, agar senantiasa berhati-hati, apalagi dengn dokumen penting!

Plajaran berharga lainnya adalah menyoal tentang kehidupan kita. Tentang pereencanaan. Bahwa, kita memang disuruh untuk menciptakan sebanyak mungkin mimpi lalu, perencanaan untuk mewujudkannya. Tapiii, sering kali perjalanan hidup kemudian tak seindah perencanaan. Segalanya yang terjadi, ternyata di luar prediksi kita. Mungkin kerap begitu. Tapi, begitulah keniscayaan hidup. Bahwa, kita mesti siap juga dengan segala kondisi di luar apa yang kita rencanakan. Bahwa kemudian, selalu saja ada hikmah di balik segala yang terjadi. Ketika kehidupan kita sering menuntut banyak sejuta hal untuk menginginkan sesuatu, tapiii satu hal yang juga mesti kita pahami, bahwa Allah maha mengetahui tentang apa yang kita BUTUHKAN. Bahkan lebih dari sekedar keinginan saja. Maka, dengan segala kondisi, semestinya hanya ada dua penyikapan saja. Syukurrr dan sabarrr! Berat memang...tapii bisa!


Plajaran kedua, sesulit apapun kondisi kita, PASTI selalu ada kemudahan! Banyak kemudahan! Mungkin kita sering menyebut, “untungnya....begini...., untung saja begitu...”. Ini lebih dari sekedar kebetulan belaka. Ia adalah kemudahan-kemudahan yang Allah siapkan! Jadiii, memang hanya bergantung pada-Nya sajalah. Cukup Dia saja. Dan, yakinkan diri, bahwa setiap kesulitan PASTI selalu ada kemudahan.


Plajaran ketiga, penting sekali membangun link dan menjalin silaturrahim... Dalam kisah perjalanan di atas, jika aku tidak mengobrol dengan si nenek itu, barang kali aku takkan bisa menemukan bus itu lagi. Jika kenal namanya, lebih mudah untuk mencarinya. Masya Allah, luar biasanya membangun silaturrahim. Dengan siapapun itu. Sebab, dengannya, banyak sekaliiii kemudahan-kemudahan, dan banyak sekali rizki yang Allah limpahkan. Masya Allah...


Plajaran keempat. Bahwa rizki kita, yang telah Allah gariskan, tetap akan menjadi milik kita, tak akan diambil oleh siapapun, seberliku apapun jalannya. Jadi, kita tak perlu khawatir dengan rizki kita. Iya tho?! Pada mulanya, aku merasa tak begitu yakin, dokumen itu akan ditemukan lagi. Perjalanannya sudah begitu berliku. Menemukan bus di malam hari, dengan ponsel yang mati, bukan perkara mudah. Tapii, karena Allah telah catatkan bahwa dokumen itu masih rizkiku, maka, alhamdulillaah masih membersamaiku kemudiannya. Jadi, seberliku apapun, bahkan mungkin jalan rizkinya tak terpikirkan oleh diri kita, jika memang pada akhirnya adalah untuk kita, maka...kita akan mendapatkannya. Jadiii, tidak perlu khawatir tho?! Takaran Allah sudah begitu pas untuk diri kita!
Read More

Street Diary [Part 1]

Sudah lama juga agaknya aku tak apdet... Sudah maret pula sekarang yah? Heuu... yah, memang begitulah... Aku sesungguhnya pengin banget bisa apdet nih ya. Tapii...., skarang gak seaksesibel dulu. Sudah empat hari tak megang tuts kompi. Dan sepertinya bakalan lama gak bisa updet. Walau begitu..., catatan-catatan masih tertinggal di notebook (bukan netbook loh yah..hihi). Karena, setiap jenak itu punya refleksi sendiri. Jiaaahhh...

Humm...sebenarnya banyak kisah yang ingin aku ceritakan...tentang mimpi, harapan, kekecewaan, optimisme, kemelut, tawa bahagia, tangis kesedihan. Uhm...komplit yah. Hehe.

Baiklah....I’ll start in one locus. Ini tentang perjalanan (lagi-lagi crita perjalanan yah? Hihi). Terasa sangat mengherankan sekali dunia. Di tengah-tengah ‘bencana’, masih saja ada tangan yang tega berbuat nista (ngutip lirik lagunya Ebiet G Ade....hehe). dalam beberapa kali terakhir ini aku mengalami perjalanan yang (lagi-lagi) meninggalkan banyak kesan. Kalau kemarin mengalami pecah ban dan harus menghabiskan 14 jam hanya untuk 180 km, kali ini episodenya lain lagi. Macet berkepanjangan. Mungkin bagi sekebanyakan orang-orang di kota metropolis, macet adalah hal yang lumrah. Tapi, bagi kampung pelosok begini, macet adalah hal yang diluar kebiasaan. Macet ini terjadi karena ada mobil ambruk di sebuah jembatan yang berpalang-palang yang sudah bolong-bolong, dan yang parahnya...hanya jalan itu satu-satunya akses ke kampungku. Jadilah...mau tak mau harus melalui jalan itu.

Di tengah-tengah jalan yang bolong-bolong, jembatan yang rusak begitu, masih saja ada yang tega-teganya menydodorkan kotak meminta (lebih tepatnya : memaksa) para pengguna jalan untuk membayar retribusi yang seharusnya tak dibayarkan. Katanya untuk perbaikan jalan, tapi mereka tak melakukan apa-apa. Mereka menjadikan kerusakan jalan sebagai sebuah mata pencarian. Sungguh miris!

Waktu itu, aku satu angkutan dengan rombongan guru-guru SD yang hendak mengikuti suatu seminar di sebuah universitas negeri di kota Padang. Dan aku menjadi ‘pendengar setia’ atas ceritera-ceritera panjang mereka. Heuu....
Guru 1 : insya Allah kita akan sampai di Padang, jam berapapun itu! Kita harus mengikuti seminar itu
Guru 2 : halaaaah....seminar aja jam setengah sembilan. Ini sudah jam sebelas. Mana mungkin kita bisa sampai di Padang yang jaraknya aja 100 km lagi! Paling sampai di sana, juga udah selesi
Guru 1 : insya Allah bisa! Setidaknya ada sedikit saja ilmu yang bisa kita peroleh di sana!
Guru 2 : mending balik saja deh. Gak mungkin niiih, kita bisa ikut. Itu tuh, mobil-mobil aja tidak bergerak!
Lalu, setelah kendaraan itu melaju dan terlepas dari kemacetan. Dialog lain pun berlanjut.
Guru 1 : insya Allah, dzuhur kita bisa sampai di kampus itu.
Guru 2 : halaaaah....paling juga di Sitinjau Lauik (sbuah daerah perbukitan di sudut kota Padang) juga macet lagi.

Hehe, dialog ini tentu saja tidak sesuai dengan redaksional yang sesungguhnya. Tapi, lebih kurang begitulah kira-kira.

Uhm....dari dua penyikapan pahlawan tanpa tanda jasa di atas, sebenarnya ada plajaran yang bisa kita ambil. Setidaknya, itu yang kudapatkan. Ini menyoal bagaimana mempersepsi hidup apakah dengan polarisasi optimis, ataukah dengan polarisasi pesimis.

Kedua guru itu sama-sama berada di kondisi yang sama. Sama-sama di tarvel yang sama. Sama-sama dihadapkan dengan kondisi yang sama. Tapi dengan penyikapan yang berbeda. Mari kita simak dialog-dialog itu sekali lagi. Guru 1 senantiasa berupaya untuk optimis. Selalu memandang sisi dan kondisi itu dengan sikap-sikap yang positif. Sementara, guru 2 memandang sisi dan kondisinya, melulu dengan hal-hal negatif yang mematahkan semangat.

Pelajaran berharga. Sebenarnya, kondisi sesulit apapun itu....tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita menyikapi dengan sikap positif, maka, setidaknya, kita masih punya energi positif untuk terus mengarungi segala rintangan dan tantangan. Kendatipun pada akhirnya, tidak seperti apa yang kita harapkan, tapi setidaknya, kita tidak membuat pikiran kita kisruh dengan hal-hal yang melemahkan semangat. Jika disikapi dengan sikap negatif, pesimis, maka kita mengalami kerugian dua kali. Ibarat vektor, maka vektor negatifnya terus diperpanjang.

Semoga ini jadi pelajaran buat kita dan buat diriku terutama, untuk (berlatih) bersikap positif atas kondisi apapun itu. Yah, butuh latihan memang. Tapi, kita bisa, insya Allah.
Read More

Pilihan-Pilihan

Pernahkah kita ‘menyalahkan’ orang lain atas pilihan yang mereka pilih? Mungkin jika ditanya secara sadar, kita menjawab tidak. Namun, secara tak sadar, kita mungkin pernah. Hmm...baiklah, sebelumnya kita batasi dulu, pilihan di sini bukan dalam kontek pilihan menuju jalan hidayah atau pilihan dalam mengikuti jalan keburukkan. Tapi, hanya pilhan-pilihan langkah dalam kehidupan.

Pertanyaan-pertanyaan semisal, “Aih, kenapa sih dia memilih bekerja di sana? Kan sebaiknya dia di sini saja, biar dekat dengan keluarga?” atau pertanyaan, “Ih, kenapa sih dia tidak masuk sekolah unggul itu saja, kan dia sudah diterima! Padahal, banyak loh, orang yang kepingin tapi ndak lulus. Dia, sudah lulus, eh malah milih sekolah di pelosok itu?” atau pertanyaan, “mending dia begini begitu saja yah..dari pada begitu-begitu.” Sederet pertanyaan yang merupakan ‘penyalahan’ atas pilihan yang orang pilih.

Begitulah!
Sering kali kita memandang orang lain dengan kaca mata kita. Mengukur baju orang lain dengan badan kita. Tapii, plajaran berharganya adalah, bahwa....kita mungkin saja benar, tapi orang lain belum tentu salah.

Heuu....
#hanyasebuahcatatantakpentingsaja#


----------------------------
Sumber gambar di sini
Read More

Menyetir Hidup

Heuu...belajar nyetir. Serruu jugaah yah? Serasa membawa Bum-bum Car. Hihi. Terakhir belajar nyetir dulunya pas tahun dua kuliah. Tapiii, sebentar doang! Nah..nah..., kmarin blajar lagii. Horraay....horraaay..... Tapiii, tentu saja masih kelas TK, atau masih kelas playgroup malah. Hihi. Masih belum ngapa-ngapa. Aku kalah jauh dari si adek yang masih SMA, yang udah bisa sampai gigi 4. Bisa bawa ke mana-mana. Si adek siy, udah bisa sejak jaman dia SMP dulu.

Uhm.... memasuki sebuah kondisi baru adalah hal yang cukup berat bagiku. Baik itu di dunia skolah, kampus, maupun kerja. Baru kusadari, bahwa aku memang membutuhkan proteksi psikologis lebih untuk hal-hal baru. Aku yang in-secure, selalu merasa ‘tidak aman’ untuk hal-hal baru penuh tantangan. Meskipun sesungguhnya aku tak begitu sulit untuk membaur pada suatu suasana secara lahiriahnya, tapi, secara psikologi, sebenarnya....agak sulit!

Tapi, blajar nyetir ini memberikan sebuah plajaran bagiku. Bahwa, segala hal baru, siapapun, memang mengalami asimilasi secara psikologis terlebih dahulu. Apalagi kemudian dia harus menjadi pemimpin di suatu tempat yang mana personel yang dipimpinnya lebih tua darinya, lebih berpengalaman. Tapi endingnya, sukses atau tidak, tergantung bagaimana sikap kita menyikapi sebuah tantangan. Apakah akan hanyut bersama tantangan, atau memilih untuk menaklukkannya. Yah, ini tentang bagaimana mengubah tantangan jadi peluang!

Yeaah!
Aku akan memilih untuk menaklukkan tantangan ini! Aku yakin, insya Allah aku BISA ketika aku mau! Hehe....*menyemangatidiri mode : ON

Setiap kejadian, baik maupun buruk, sesungguhnya adalah pembelajaran. Mungkin kita banyak kehilangan kesempatan, tapi, jangan sampai kehilangan pembelajaran!

Hayuuk....Semangat!
Tetap semangat!
H.A.M.A.S.A.H!!
K.E.E.P M.O.V.I.N.G F.O.R.W.A.R.D!
Read More