Kisah Orang Kampung di RS Modern

Hehe, mungkin kedengaran agak sedikit "kampungan", tapi aku tetap ingin menceritakan sesuatu yang memang sudah lama ingin aku ceritakan (dan karena terhalang oleh kondisi, baru sekarang aku punya kesempatan untuk menceritakannya). Ini tentang rumah sakit dan fasilitasnya. Bagiku ini amazing mengingat aku berasal dari kampung (wong ndeso) di mana rumah sakit yang available satu-satunya hanyalah rumah sakit umum daerah dengan fasilitas seadanya. Begitu berada di RS ini, aku merasa segala sesuatunya amazing. Sistem yang sangat bagus.

Sebelum aku menginjakkan kaki di rumah sakit, aku pernah mengunjungi klinik terlebih dahulu (untuk medical test dalam rangka pembuatan Iqama/resident permit dan pregnancy test). Awalnya aku terheran-heran, yang namanya klinik, dalam bayanganku paling yaa ga segitunya lah yaa... Ga gede-gede amat. Tapi, ini klinik koq nyaris kayak rumah sakit. Hehe... *kayak katak dalam tempurung dah akuuh. Haha. Maklum, belum pernah ke luar negeri sebelumnya... Hihi...
Tapi kesimpulanku adalah, taraf kualitas kesehatan di sini jauh jauh jauh lebih baik dari pada di Indonesia.
Bahkan kata salah seorang petugas rumah sakit yang mengurusi alkes (yang kebetulan adalah orang Indonesia), di sini peralatan medis canggih dan ada alkes yang di Indonesia cuma punya satu alat dan amat langka, di sini di 1 rumah sakit aja punya beberapa. Ma syaa Allah...

Read More

The Luckiest Wife

=======ANTARA NIKMAT DAN SYAHAWAT
Bila seseorang mencari pasangan hidupnya dominan unsur syahawatnya, maka menikah baginya hanyalah kesengsaraan, bukan kenikmatan. Nikmatnya hanya beberapa menit dalam satu atau dua bulan pertama. Setelah itu yang ada hanyalah penderitaan. Bila istri sudah hamil, kenikmatan mulai berkurang. Apalagi kalau hamilnya bermasalah. Setidaknya rasa mual, tidak suka dengan aroma tertentu, muntah-muntah tiap sebentar, tidak berselera dengan makanan tertentu dan berbagai permasalahan lainnya. Apalagi kalau sampai terbaring, harus istirahat, sering pendarahan dan lain-lain.

Maka suami akan berubah menjadi pelayan istri. Menyiapkan makanan sendiri, mengurus rumah, mencarikan alternatif makanan bagi istri yang lagi tidak berselera makan. Tak jarang ada suami yang harus menggendong istrinya dari kasur kesumur dan sebaliknya. Mengangkatnya ke mobil dan tiap sebentar harus pergi ke dokter. Kalau sekali-sekali mungkin masih bisa dikerjakan dengan senang, kalau hampir tiap hari seperti itu, tentulah itu beban yang berat.

Apalagi bagi sang istri. Kondisi hamil telah membuat perubahan-perubahan pisik, jiwa dan emosional. Berbagai kepayahan akan dia tanggung dalam jangka waktu yang panjang. Selama masa hamil sampai melahirkan, hingga tuntasnya masa menyusukan. Lebih kurang 3 tahun lamanya. Karenanya, para pengumbar syahawat tidak berminat untuk menikah, karena itu penderitaan. Kalaupun menikah, biasanya tidak bertahan lama. Kalaupun bertahan lama, biasanya diselipi dengan selingkuh dan sejenisnya.
Read More

Konspirasi oh Konspirasi Obat

Hmm... sejujurnya dulu aku termasuk orang yang Antivaksin. Hehe... Ga fully anti sih. Alasannya sederhana, itu adalah karena salah satu dosen favoritku dulu adalah seorang anvaks. Karena beliau adalah dosen yang menurutku sangat cerdas, inspiratif dan dengan beberan panjang data ilmiah yang disajikan, beliau mulai "menysusupkan" tentang ketidakamanan vaksin lewat materi kuliah. Jika sumbernya bukan dari seorang clinical pharmacist yang pernah bekerja di perusahaan obat (yang notabene mengetahui seluk beluk dunia produksi obat), tentu aku takkan mudah percaya. Bahkan, aku juga ikut "mengkampanyekan" penolakan penggunaan vaksin ini. (Deuuh... Semoga ga banyak yang tersesatkan olehku yaa.)
Sekian lama waktu berlalu, akhirnya aku menyadari bahwa aku telah keliru. Banyak sumber yang kemudian membuatku menyakini bahwa, sebenarnya vaksinasi itu penting.

Baiklah, aku ga akan membahas lebih lanjut tentang vaksinasi di sini. Akan tetapi, mengenai sesuatu yang cukup "menggelitik". Hehe
========================

Ga sengaja terdampar pada sebuah diskusi (apa perdebatan yaa?) antara dua 'kubu' yaitu yang pro dengan vaksinasi dan pengobatan moderen (konvensional) dengan 'kubu' yang kontra vaksinasi dan pengobatan moderen.

Kalimat yang menarik adalah, "vaksinasi dan pengobatan modern itu tak lain hanyalah konspirasi AS belaka. Lebih baik kembali ke pengobatan herbal yang lebih aman, bebas dari efek samping." Atau, "pengobatan modern itu terlalu banyak zat kimianya yang menimbulkan efek samping. Lebih baik yang alami saja."
(Ini redaksionalnya berbeda, tapi intinya adalah sebagian orang yang menolak menggunakan obat modern menggunakan dalih bahwa itu konspirasi dan sebaiknya menggunakan obat herbal).

Sy mencoba sedikit berkomentar di sisi sebagai seorang pharmacist (meskipun sy masih memiliki sedikit pengetahuan dan memang masih harus banyak belajar).

Read More

Cara Mengurangi Mual Muntah Saat Hamil

a fresh lemonade :)
Sebagian besar wanita hamil (terutama di trimester pertama) merasakan apa itu yang disebut nausea vomiting. Mual dan muntah. Aku salah satunya. Melewati trimester pertama kehamilan terasa cukup berat bagiku. Mual dan muntah berat. Badan terasa lemas dan dalam waktu sebentar saja(skitar 3 minggu-an), aku mengalami severe lost weight. Sampai 10 kg. Tak sesuap pun makanan berkarbohidrat berhasil menuju lambung. Jika pun ada, sebentar kemudian dikeluarkan lagi dengan cara yang sama sekali tidak enak: muntah.

Aku dan suami sampai bingung, makanan apa yaa yang kira-kira bisa kumakan. Meskipun aku tau, suamiku akan mengabulkan apa saja makanan yang kuminta (terima kasih, Cinta), aku tidak menunjukkan minat sama sekali untuk makan. Dulu rendang begitu menggiurkan..., namun tetiba ingin sekali menutup hidung menciumi aroma rendang. Apapun makanannya--yang khas Padang saja-- ga minat, apalagi citarasa Arab, India dan Pakistan (yang sangat berhasil menstimulasi vomiting). Terasa berat sekali perjuangan seorang ibu...
*jd kangen ibuu...hehe...
Read More

Belasan Tahun Berlalu

Belasan tahun berlalu. Di mana aku tidak tahu, entah siapa yang telah memoles wajah lugu itu menjadi begitu terlihat "mengerikan" di mataku. Mungkin sebagian orang menganggap itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi... tidak bagiku...
Itu sangatlah memprihatinkan.

Belasan tahun berlalu. Dulu semasa kecil bermain bersama. Sekian jeda tahun, seakan telah luput. Tak pernah bersua. Jika pun bersua, hanyalah sekejap mata. Tapi seperti kejadian ajaib. Setelah sekian lama jeda waktu terhitung tahun itu, wajah yang dulunya lugu, polos, tidak mengerti arti make over, apalagi pakaian minim, kini membuatku begitu terhenyak. Hanya secarik kain kekurangan bahan yang menutupi tubuh itu. Kerudung hanya formalitas. Sekali dipakai, lain kali berganti dengan gaya--yang katanya--sangat modis. Modis ya modis ala kebarat-baratan. Rok yang hanya 10 senti, baju tanpa lengan. Pernah pula tak sengaja... berjumpa potretnya tengah bersama seorang lelaki yang pasti bukanlah suaminya karen ia belum menikah. Dan posenya itu... sungguh memilukan...

Termanguku di sudut sepi. Alangkah mahalnya hidayah itu... alangkah mahalnya... Meski aku belumlah purna, belumlah bisa menjadi lebih baik... tapi hati ini tetap miris... Miris menyaksikan pemandangan dari kejauhan... tentang wajah lugu yang kini sudah tak kukenali lagi. Tak kukenali lagi, siapa dia, jauh... dan sungguh jauh... Dan mungkin... aku terlalu terlambat untuk menyadarinya... setelah sekian lama waktu berlalu.... setelah belasan tahun...

Semoga.... semoga... semoga hidayah senantiasa terlimpah atasku dan keluargaku... dan juga semoga hidayah menghampirinya... menarik secarik kain singkat... agar menutupi seluruh tubuhnya...menghapus seluruh aksesori warna warni di wajahnya...berganti wajah bersahaja, wajah teduh, wajah polos sebagaimana yang kujumpai belasan tahun silam...

Read More

Alhamdulillah...

Alhamdulillaah... alhamdulillaah... tsumma alhamdulillaah...
Tiada kata selain syukur yang teramat dalam ke hadirat-Nya. Allah telah karuniakan untukku suami terbaik yang senantiasa membuatku bersyukur dengan kehadirannya, mengisi separuh jiwaku.
Alhamdulillaah....

Perjuangan ini ternyata tidak semudah bayanganku. Ketika berhadapan dengan nausea, vomiting, fatigue yang persistent (semoga untuk 3 bulan permulaan saja). Sungguh support dari suamilah yang banyak menguatkanku. Terima kasih ya Allah... Terima kasih Cintaku...

Riyadh, 1st Anniversary, 19-04-2014
Satu tahun yang indah bersamamu... :)

Read More

The Peak of Lost Appetite

Agaknya sudah lama menghilang dr dunia perblogeran. Dan sudah hampir 3 minggu pula si lepi tidak tersentuh. Hehe... alasannya sederhana; lost of appetite dan tetiba.... "hueeeekk...hueeeekk"

Tapi tetap smangaaaatttt doong... ini sungguh perjuangan yang luar biasaaaa... makanya menjalaninya dg penuh semangaaaattt...

(Heh? Tulisannya segini doang?? Nanti yaa in syaa Allah kita lanjut lagi cerita2nya)

Read More

Seharusnya...

Suatu malam yang membuatku sangat menyesal adalah terlalu serius menanggapi diskusi (yang layaknya disebut perdebatan). Menyesal telah menghabiskan banyak energi sementara "mereka" merasa yang paling suci, yang paling sunnah, yang paling bener tidak pernah merasa salah, tak sedikitpun cela pada diri mereka. Merekalah yang paling benar. Bahkan, hilanglah sopan santun dan keluarlah kata-kata "aslinya". Katanya sih buat mengingatkan, tapi koq yaa kata-katanya itu lho... jauh dari sopan. Subhanallah...

Pembahasan itu, seharusnya tidak udah lagi dibahas. Toh, masing-masing memang punya landasan dalam melakukan sesuatu. Hal yang paling membuatku menyesal adalah aku telah menghabiskan waktu, menguras energi untuk menanggapi sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanggapi.

Selang beberapa saat setelahnya, datang pula komentar di jejaring maya dari "manusia sebangsa"nya yang kata-katanya--subhanallah--sangat "indah". Saking indahnya, kita tidak bisa lagi membedakan apakah kata-kata itu berasal dari lisan orang yang katanya paling lurus, paling ikut sunnah, paling benar dengan bahasa sumpah serapah di pasaran. Penuh caci maki dan emosi.

Aku tidak menggeneralisir semuanya sama, toh aku juga bersahabat baik dengan sebagian lainnya. Sekali lagi tidak semua, hanya sebagian. Tapi aku menemukan beberapa dari mereka berbahasa sedemikian rupa, seolah merekalah yang paling benar, paling suci, tidak pernah salah... Mereka mengatakan, tidak "berkelompok", tapi sejatinya mereka tengah "mengelompokkan" orang selain golongannya bukanlah orang baik, ga ngikutin sunnah rasul dan judgemen lainnya.

"Ga usah terlalu ditanggapin serius lah. Ngabisin energi aja. Lebih baik kita lalukan yang terbaik, apa yang kita bisa." Kata suamiku. Hehe... iya yah. Ngabisin energi ajah... seharusnya ga perlu ditanggapi serius yaa? ;)

Read More

#CoblosPKSno3

Wah, tidak berasa yaa, besok udah PEMILU.
Semoga Allah menangkan orang-orang yang memperjuangkan agama-Nya di muka bumi Indonesia ini.
Jika dari "kalangan mereka" begitu penuh perjuangannya menengakkan "millah" mereka, masa sih kita tidak ikut berjuang untuk menegakkan Ad-diin ini di tataran pengambil keputusan dalam bernegara?
Sebenarnya agak sedikit menyesal, belum banyak kontribusi aku dalam perjuangan "memenangkan" orang-orang yang menegakkan Ad-din ini, sementara pihak "seberang" sebegitu gencarnya... :(

Dalam Islam, jangankan politik dan urusan kenegaraan, masuk WC aja ada aturannya... Dan mengambil bagian dari politik adalah salah satu hal yang dianjurkan oleh Ad-din yang mulia ini. Salah satu "instrumen"nya adalah dengan bergabung dalam parlemen. "Merebut" suara agar keberpihakannya adalah kepada Islam, rahmatan lil 'alamiin. Menjadi bagian dari parlemen, bukanlah tujuan utama, bukanlah sebuah ambisi, bukan segala-galanya, melainkan sebuah jalan, sebuah wasilah, sebuah instrument. Kita tidak menjadikan demokrasi segala-galanya, tapi hanyalah sebuah instrument... Sayangnya, ada sekelompok orang yang "mencekal" dan "mengembosi" hal ini. Ya, masing-masing memang punya ijtihadnya. Hanya saja, sampai menuduh pihak yang berjuang di jalan ini sebagai orang yang mengambil jalan haram? Sampai mengkafirkan?  Apakah hanya sekelompok orang tersebut saja kah yang paling benar lantas yang lain salah? Subhanallah...

Ya memang tidak masalah perbedaan ini ada, toh di jaman Rasulullaah juga sudah ada perbedaan semacam ini. Hanya saja, menyedihkan sekali jika ini malah memicu perpecahan. Lagian, aku tidak terlalu suka menghabiskan energi untuk membahas perbedaan-perbedaan ini (selain memang tidak punya kafaah ilmu di bidang ini). Lebih baik fokus untuk memenangkan perjuangan ini. Mengurusi hal tersebut hanya menguras energi dan menghabiskan waktu saja sementara memperdebatkannya seolah tidak ada ujungnya. Masing-masing kekeuh dengan pendapatnya. Masing-masing merasa diri paling benar. Astaghfirullah... Lebih baik fokus, fokus, dan fokus untuk memperjuangkan dan memenangkan kebenaran yang kita yakini.

Jika ada sebagian yg berpendapat bahwa mengikuti pemilu adalah karena agar mudharat yg ditimbulkan lebih kecil, maka pastilah ada sebagiannya lagi yg memang bekerja dan berjuang untuk mengecilkan mudharat itu...

Sebab ada kata "mengecilkan mudharat", maka pastilah karena ada "pelaku" yang mengecilkan mudharat itu...Tidak mungkin tetiba ada pernyataan "mengecilkan mudharat" sementara tidak ada yg berjuang untuk itu...

Maka ketika ada pilihan untuk memilih atau ikut berjuang, bagiku adalah pilihan terbaik menjadi bagian dr orang2 yg memperjuangkan apa yang disebut "memperkecil mudharat" tersebut. In syaa Allah...
Allahu'alam bish showab...

Aku berdo'a, semoga pemimpin yang terbaik yang terpilih pada pemilu ini adalah orang-orang yang tulus memperjuangkan agama ini dan negara ini. Hingga saat ini, yang terbaik menurutku adalah PKS. Semoga Allah memenangkan partai dakwah ini... Semoga Allah menjaga mereka dari godaan dunia dan benar-benar berjuang menegakkan Ad-Diin ini... Allahuakbar!!!

Jadi, #CoblosPKSno3 :)

Read More