Tjinta Boekoe


Perhatikan gambar di atas!

Pertanyaannya adalah : ini buku sampai ancur begini karena :
1. SERING DIBACA
2. BUKU BAJAKKAN
3. TERLALU CINTA SAMA BUKUNYA
4. GAK DIRAWAT DENGAN BAIK

Opsional :
A. Jawaban 1 dan 3 Benar
B. Jawaban 2 dan 4 Benar
C. Jawaban 1,2,dan 3 Benar
D. Jawaban 4 Benar
E. Jawaban 1,2,3 dan 4 Benar

Tuliskan jawabanmu di lembar komen yang tersedia.
Betul : nilai +4
Salah : nilai -1
Tidak mengisi : nilai 0

===Sukseskan Gerakkan Tjinta Boekoe=== 





==============================sotoy mode : ON===============================
Read More

Hari-Hari Terakhir


Waah…, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Episode Rumah Sakit tinggal menghitung hari dan episode farmacy community (apotek) akan segera dimulai, insya Allah. Sungguh sangat cepat waktu itu berlari yaaah. rasa2nya belom puas niih, keliling2 Bukittinggi. Hee… (tapi kalo disuruh nambah hari PKP lagi, ga mau aaaah. Hihi)

Tapiiii, sungguh, di hari-hari terakhir ini (eih, minggu2 terkahir ding!), aku sangaaaaaaaaaaaaat menikmati PKP ini. Sungguh sangat! Meski banyak deadline laporan mengejar-ngejarku (huwaaa…dikejar2 dung!), yang membuatku mesti begadang…dang…dang lagiiih. Huuuft. Dan, meski jerawat bertumbuhan dengan berseminya bagaikan Sakura di bulan Maret (halaaaah, lebaynyaa! Hee…). Ada banyak warna rasa. Ada banyak warna kisah. Dan juga ada banyak pelajaran. Sungguh, aku begitu bunyaaaaak memperoleh sesuatu yang tak bisa ditara dengan rupiah di sini. Pengalaman. Ilmu. Tentang rasa. Tentang kemanusiaan.

Ada warna-warni seperti pelangi. Merah jingga kuning kelabu, hijau muda dan biru. Meletus balon… (loh, kok jadi nyanyi balonku yah? Hihi, ngaco!) di sini. Warna rasa bahagia, pilu, sedih, senang. Semuanya menyatu dalam satu rangkaian episode bernama : PKP-RS. Hee…

Kisah lucu…
Pernah suatu kali aku lagi ngumpul2 sama anak2 sehabis memberikan obat pasien dan ikut visite dokter. Tiba-tiba datang dua orang satpam. Karena ngerasa kaga punya salah, yawudah, kucuekin ajah tuh satpam. Eh, tak dinyana, satpamnya ngomong ke aku,
“Bu, tolong yaaah, anak-anaknya dibawa keluar dulu! Ini lantai mau dipel sama satpamnya!”
Aku bengong! Asli!
Haaaaaaaaaaaaaa???
Dipikirnya aku ini emak-emak apa! Masa’ tampang se-imut ini (halaaah!!) dikirain emak-emak beranak lima! Haduuuuh, gak salah tuwwh???
“Eih, bukan anak saya, Pak.” Kataku.
“Lho? Bukannya anaknya tho? Jadi, anak siapa?”
“Kalo yang ini, ibunya ini. Kalo yang ini, ibunya yang itu. Nah, kalo yang ini, ibunya yang di sana tuh.” Kujelaskan.
“Hoo..begitu yah?”
Akhirnya, aku kemudian mengembalikan anak-anak itu ke ibunya. Heee…(Padahal, bukan aku yang ngajak mereka loh! Mereka ynag datang sendiri ke “markas”kami, tho. Hee…) Eh, gak taunya, temen2 sekelompok yang dengerin ciloteh para satpam itu jadi ngakak abis-abisan. Besok2nya, aku sering diledekin, “Bu, bawa anaknya keluar bu. Lantai mau dipel.” Huwaaaa…..huhu…T_T

Kisah sedih…
Jika ngomong kisah sedih sihhh, buanyaaaak banget! Kisah-kisah yang menguras air mata. Membuat hati ini meringis. Melihat tubuh-tubuh tergeletak itu. Melihat anyirnya bau darah. (waah…, sungguh kalo dituliskan, sangatlah buanyaaak sekali)

Kisah “manggaritih”….dan helaan nafas…
Kadang, geram jugah…, melihat aku yang ga bisa berbuat apa-apa. Aku geram pada diriku, pada system yang dibentuk dan pada ketidakmampuanku untuk berbuat. Sungguh, aku ga punya power walaupun aku tahu. Ada beberapa kondisi yang memerlukan terapi dan aku tahu terapinya. Tapiii, meresepkan obat haruslah dari dokter yang notabene harus menunggu (sampai esoknya). Ga ada aturan yang membolehkan apoteker untuk ngasi obat langsng, apalagi di rumah sakit. Aku kasihan sama pasiennya. Tapi aku ga bisa berbuat apa-apa. Oohh…(Lalu, di manakah posisiku saat perubahan itu kelak? Hmm…setidaknya, aku telah menuliskannya. ~__^)

Kisah “stress”
Ketika dikejar-kejar laporan, case study report yang pelik. Kisah hunting data rekam medic. Dan jugah, kisah keruwetan membaca tulisan dokter.

Kisah “episode perburuan ilmu”
Yuup, karena tujuan utamanya adalah ini, maka tent saja ini adalah episode yang penting! Sungguh, banyak kisahnya. Dan memang benarlah, dokter itu pinter2. Apalagi yang spesialis (ya iyalaaaah, namanya juga dokter kan ya? Hehe.). Tapi, dokter juga manusia, punya khilaf dan salah. Semoga kedepan, semua tenaga medis ini memang adalah mitra kerja, bukan atasan-bawahan, dan bekerja nafsi-nafsi. Biar saling mengingatkan, slaing bersinergi untuk dunia kesehatanlebih baik.


Aah….sebanyak apapun itu kisahnya, aku mendapatkan banyak hal di sini. Sungguh.

Kemudian, aku kembali belajar, bahwa setiap waktu yang berlalu dan kesempatan yang terabaikan itu, adalah sesuatu yang takkan pernah kembali. Takkan pernah. Maka, sudah selayaknyalah aku harus menjadikan kisah itu, meski pahit atau pun manis, sebagai potongan-potongan fragmen mozaik hidup. Yah, potongan mozaik hidup untuk kusatukan dalam sebuah papan puzzle. Aku hanya ingin menyimpannya dalam salah satu folder dihatiku. Hingga, jika suatu saat nanti, ketika keretaku sudah berlalu jauh, aku masih bisa kembali belajar darinya. Atau setidaknya, mengulaskan sebingkai senyum ketika kembali mengingatinya. Aku ingin, setiap jenak perjalananku ini, meberiku pelajaran. Memberiku hikmah…
Read More

Layaknya Lock and Key


“Assalaamu’alaykum? Pak, alah makan Pak? Baa rasonyo kini? Lah ado ansuran, Pak?”
heee…, ini pertanyaan rutin pagi2 kalo udah monitoring.
“Ndeh, lun ado ansuran lai doh Nak.”
Atau,
“Alhamdulillaah, lay ado ansuran kini, Nak.”
(tambahannnya, “Lai ado ansuran jo perkembangangannyo. Kalau kapatang bamanuang-manuang surang, kini lah pandai galak-galak surang!” Wakakaka…, ngaco banget!!! Ga ding! Yang belakangan mah becandaan ajah!)

Humm…sekarang pertanyaannya adalah “Kenapa obat itu adayang berefek ada yang tidak?”
Hayyoo…kenapa coba?
Knapa? Knapa? Knapa?

Sejauh penerawanganku (hahay, sejak kapan pulak suka menerawang2 niiih? Heee), obat hanya akan berefek jika telah berikatan dengan reseptor. Ikatan antara obat dan reseptorlah yang kemudian menghasilkan apa itu yang disebut dengan efek, yang pada ujung-ujungnya akan menjadikan “sehat”. Mekanisme kerjanya tentulah berbeda-beda sesuai jenis obat dan jenis penyakit. Namun, secara umum, demikianlah…

Mari kita bahas soal obat dan reseptor! Hee…Obat berikatan dengan reseptor itu adalah sebuah kesesuaian. Ia hanya akan berikatan dengan reseptor yang pas saja. Ibarat kunci dan gemboknya. Lock and key bahaso awaknyeh. (haaa??? Bahaso awak? Hee…). Gembok baru bisa kebuka kalo dengan kunci yang sesuai kan yah?

Nah…nah…, begitu pula halnya dengan cinta. (hahay, si Fathel ngomongin cinta?? Hmm….tapi kan cinta terbagi “seven”. Gak hanya “cinta” yang itu tuh saja. Hehe). Yaaph, cinta itu seperti obat dan reseptor! Cinta itu adalah “kesesuaian ruh” antara sang pencinta. Betul tak? Ini kata Ibn Qoyyim loh. Kalo kata orang kimianya, ada “chemistery” antara si pencinta dengan yang dicintanya.

Cinta itu, laiknya antara reseptor dan obat, antara gembok dan kunci, adalah kesesuaian. Kesesuaian itu akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa! Sebab cinta pun adalah alam yang memberikan keluasan. Memberikan energy. Memberikan power bahkan meloncati logika dan akal sehat manusia. Bahkan sesuatu yang sama sekali tak ada dibenak para manusia, tapi dengan cinta, ajaib!, semuanya menjadi terlakoni. Ia menjadi kekuatan yang mendorong. Subhanallah…, begitu hebatnya cinta. (Kadang-kadang, aku malah berpikir apakah cinta itu jika di-kimia-kan adalah gabungan dari serotonin, adrenalin, dopamine, norepinefrin, feniletilamin, haaah..apa lagi yaah? Hee… Abiiiis, semua efek yang dihasilkan oleh zat-zat di atas juga akan dihasilkan oleh cinta. Hayuuu, ada yang mau menelitinya? Hee…)

Tapi, bagaimanakah menghadirkan cinta?
Ah, cinta tentulah tak bisa dipaksa. Karena ini soal rasa! Kalaulah menyangkut soal rasa, maka susyeeeeeeh. Jika ada kesusuaian ruh, maka barulah ada cinta. Aku ngerasain sekali dah. Aku tuh bisanya “gombal”, bisanya say “luph U….luph U” yaah…sama akhwat tertentu jugah. Ga semuanya.
(Heee…, koq jadi ngaur yah ini tulisan? Tapi, ah biarlah!)



Ahh, ndak ngerti aku cara upload photonya yang sekarang jadi riweh begituuwhh!! huhu
Read More

Taujih Rabbani


يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْق ٍ جَدِيد ٍ

وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيز ٍ

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَة ٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَة ٌ إِلَى حِمْلِهَا لاَ يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْء ٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِه ِِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ


Wahai Manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.

Jika Dia mengkehendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikanmu).

Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah.

Dan orang-orang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikitpun, meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut pada (adzab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan shalat. Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan dirinya untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali. 

(Qs. Faatir : 15-18)


Read More

Bunga-Bunga Kertas


Hehe…, kalo yang anak kelompok 1 PKP-A RS periode II Apt I 09/10 (halaaaah, iniih ribet banget yaaah, hee…) pasti udah pada ketawa-ketiwi ajah kalo aku udah ngeluarin selembar kertas ketika ada anak-anak bersamaku (bersama kamiii, maksudnyaaa, hee…). Seperti biasa, aku akan membuatkan bunga-bunga kertas untuk mereka. Bunga tulip dengan empat kelopak untuk anak perempuan. Dan, kodok-kodok kertas, untuk anak laki-laki. Hmm…biasanya teman-teman sekelompok ngikut, bikinin kapal-kapalan dari kertas jugah. Iish…issh…global warming! Hehe.

Yaah, hanya bunga-bunga kertas saja. Untuk kemudian, mereka tinggalkan begitu saja ketika telah berjumpa dengan mainannya yang lain. Tak apa. Aku bahagia melihat mereka senang. Aku bahagia saja. Meski kemudian, teman2 pada nyeletuk, “bueklah surang lay.” Hahaha. Aku hanya bisa tertawa saja.

Lain episode interne, lain pula dengan neurologi. Ada banyak lagi kisah di sini. Pernah suatu kali, ketika ada banyak anak-anak yang mengelilingiku, memberikan tes matematika dan bahasa Indonesia kepada mereka, aku ga nyadar ternyata ada banyak mata yang tengah memperhatikan kami. Waduuuhhh, jadi tengsin abiiiis, waktu nyadar kalau buanyaaaak orang memperhatikan. Hadduuuh…

Hari ini, aku clingak-clinguk kiri kanan. Kenapa aku tak melihat Faizah yaah? Kemanakah Bocah delapan tahun yang ceria itu? Hingga waktu pulang tiba, aku tak kunjung berjumpa dengannya. Waaah…, aku khawatir terjadi sesuatu dengan ayahnya yang baru dua hari ini keluar dari ICU menuju bangsal. Tapi, aku ga sempat mengunjungi bangsal ayahnya karena ayahnya bukan pasien neurologi. Sementara di neurologi sendiri, aku harus mencatat beberapa rekam medic, ikut visite, memberikan obat pasien, memberikan konseling obat pulang dan memberikan kartu minum obat mandiri, menghunting vital sign. Huaaahhh, hari ini benar2 limited time!!

Hoooo, koq jadi bercerita puanjang lebuar dan curhat-curhat segala yaaah. Padahal tadinya niatnya mau cerita soal kecerdasan emosi anak niih… okeh…okeh…, back to topic again dah!

Faizah…hmm…nama yang kusuka. Hee…Aku begitu terkesan dengannya. Dengan perkenalan kami pada mulanya. Umurnya baru delapan tahun. Kelas 2 SD, di sebuah sekolah di kota yang juga sangat kusuka, Padangpanjang. Sudah cukup lama ia tak bersekolah karena harus menemani ibunya menjaga ayahnya yang masuk ICU. Namanya ICU, so pasti pasien parah2.

Kebanyakan anak-anak pada umumnya, ketika bertemu orang baru, pastinya sangaat malu2 dan cuek saja. Jika ga orang tuanya yang memperkenalkan, biasanya si anak akan memilih untuk diam dan mengekor sama si ibu atau bapaknya. Trus, kebanyakan anak umur segitu kalo membeli suatu jajanan, jarang menawarkan “Kak, makan kue yuuuk.” Paling, waktu diminta dengan becanda, “Dek, minta kue dong.” Si anak langsung menyembunyikannya.

Nah, itulah yang berbeda dari Faizah.
Dia justru yang memulai memperkenalkan diri. “Akak…nama kakak siapa? Aku Faizah, Kak.”
Lalu, ketika dia punya makanan, dia menawarkan, “Kak, inii, ambillah.”
Jika melihat eluarga pasien yang baru dia kenal justru dia bertanya,
"siapo yang sakik Pak, Buk? Alah bara hari di siko?"
Wah...wah...orang dewasa ajah kadang lupa bertanya demikian.
Dan, satu hal lagi, dia itu berani sangaaat! Ketika anak-anak di umur segitu akan takut dan ngeri melihat orang2 dalam kondisi sakaratil maut, Faizah malah salah satu anak yang sangat berani. Sepanjang di rumah sakit ini, dia sudah 8 kali melepas orang-orang sakaratil maut. Masya Allah…

Nah..nah…, Menurutku, dia memiliki kecerdasan emosi yang bagus! Berbeda dengan yang lainnya. Sungguh, dia memang berbeda.
Dan aku menyukai keceriaannya. Dia begitu mudah berteman. Bahkan anak yang sangat introvert sekalipun yang sangat selektif memilih teman malah bersahabat dengannya.

Meskipun Faizah, di umurnya yang sudah 8 tahun ini belom bisa membaca. Membacanya Cuma satu dua kata. Dia masih sulit membedakan huruf M dan N, ga tau bentuk huruf T. bahkan mengeja namaku saja dia tak bisa. Berhitung pun jugah masih banyak yang ragu-ragu. Bukan berarti dia bodoh jugah, sebab, beberapa perkalian dia sudah bisa. Tapi, di sisi lain, dia memiliki kecerdasan emosi. Dan hal ini patut diapresiasi.

Lagi-lagi di bangsal neuro, aku mengenal anak lain, yang seumuran persis dengan FAizah. Namanya Aura. Ketika kedua anak ini “kusandingkan”. Kubikin permainan semacam cerdas cermat matematika begitu, Aura cendrung lebih banyak menjawab ketimbang Faizah. Tapiiii, di segi kecerdasan emosi, Faizah jauh lebih menang dari pada Aura.

Lalu, ketika aku memberikan soal-soal matematika dalam permainan itu, datanglah seorang ibu menghampiri kami. Dan ikut dalam permainan kami. Lalu, dia nyeleutuk pelan ke aku, “Haaah? Lah kelas 2, alun juo bisa mambaco lai doh!? Anak ambo, TK nyo baru lah lancar mambaco.” Secara tak langsung si ibu merendahkan kemampuan Faizah dan secara tak langsung si ibu juga menilai bahwa Faizah termasuk salah satu anak yang “bodoh”. Waktu si ibu bilang begitu, aku hanya bisa….senyum saja. Mungkin juga kebanyakan orang lain menilai hal yang sama. Banyak juga teman2 yang nyeletuk,
“HAaahhh.., masak siiih, belum bisa baca???”.

Tapiii, menurutku, di sanalah letak masalahnya. Kebanyakan orang masih mengagung-agungkan kecerdasan intelektual semata dan mengabaikan kecerdasan emosi sang anak. Anak-anak dituntut untuk bisa matematika, berhitung, bahasa Indonesia, bahasa inggris de es be, tapi lupa dengan kecerdasan emosinya. (wah…., sbenarnya siiih, para pakar udah banyak “melirik” ke arah kecerdasan emosi ini yaaah? Tapii, tampak2nya pola pandangan umum masyarakat masih sama. Masih mengedepankan kecerdasan intelektual).

Ketika anak-anak sudah pinter matematika saja dianggap sukses, dianggap cerdas dan diapresiasi. Tapiiii, amat sangat jarang sekali anak-anak yang seperti Faizah ini diapresiasi. Kebanyakan lebih cendrung dipandang bodoh, diremehkan. Seharusnya, dia patut diapresiasi jugah! Karena Faizah bukan anak yang idiot. Dia cukup bisa koq menangkap pelajaran2 seperti matematika. Aku sudah membuktikannya ketika mengajarinya matematika dan ketika mengajarinya membaca.

Makaaa, menurutku siiih, sudah saatnya kita (dan juga terutama para pendidik apalagi orang tua) memandang sisi kecerdasan anak itu secara global, ga hanya sisi-sisi intelektual saja, tapi juga sisi emosional. Dan yang paliiiiing penting itu, sisi spritualnyaah! Maka, hayuuu..kita revolusi pola didik anak yuuuuk.
Hayuu….!


*Aiiihh, ngomong2 kaya’nya aku lebih tertarik ngambil S-2 Psikologi Anak ketimbang ngambil S-2 Pharmacy Klinik niiiih. Haayyooo…, beri aku pilihan. Hehehe. Atau, jadi PNS sahaaajaaaa??? Hehe, GJ mode : ON!
Read More

Hanya Sebentar Lagi...


Padang, terasa begitu hangat bagiku. Juga tawa-tawamu, saudarimu. “Kegilaan” para jompo’ers. Tentang peri kewismaan yang penuh suka (dan sedikit duka, heee).

Jika bukan karena urusan skripsi mungkin aku ga bakalan ke Padang hanya buat satu malam saja (haduuuuh, belom kelar2 jugah urusan tanda tangan iniiih yaah?) dan alhamdulillah bertepatan jugah dengan TEKAD se-Sumbar, jadinya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui (nah loh, mendayungnya pake tenaga apa tuh? Sampai2 sekali dayung bisa melewati tiga pulau??? Hihi, sotoy!)

Tapiiii, kemudian, aku tercenung. Wah…wah…, ga berasa yah, sungguh begitu cepat waktu itu berlalu. Agustus depan insya Allah, Jompo’ers sudah harus bubar, dan wisma Hurriyyah qta akan berubah komposisi lagi dengan adik2. Kita, para jompo’ers ini bakalan”terdepak”. Huhu. Status kita bukan lagi para “jompo’ers” lagi dong? Lalu apa? Pencaker atau pengangguran? Atau pengacara? Hee…

Sekarang, sudah akhir April. Jika Allah masih memanjangkan umur qta, maka, hanya 3 bulan saja lagi kebersamaan ini. Indahnya ukhuwwah ini. Lalu, setelahnya, kita akan memilih arah yang berbeda barang kali. Tak lagi bisa bersama-sama, seperti hari ini.

Di perjalanan ke Bukittinggi lagi, tiba-tiba aku jadi tercenung. Kadang, aku merasa gamang untuk meninggalkan manisnya kebersamaan ini. Meninggalkan suasana kampus yang menyenangkan. Kadang, sungguh aku merasa gamang. Orang-orang bilang, dunia setelah ini jauh lebih “mencekam” (hoo…, koq mencekam yah?). Jika tak punya buffer yang cukup kuat untuk bisa survive di “pH” seekstrem apapun, maka akan sangat gampang dipengaruhi oleh lingkungan. Orang-orang bilang, dunia setelah ini akan lebih banyak warnanya, juga warna kelabunya. Aku jadi teringat cerita-cerita kita, tentang satu per satu mereka yang terjun ke dunia ini, begitu banyak yang mengalami dilatasi. Jauh…sungguh jauh…
Oohhh…, satu do’aku, semoga Allah menjadikan kita semua istiqomah di jalan-Nya. Allahumma aamiin.

Ahh, ini mungkin karena sisi melankolisku saja kali yaah? Hanya saja, kemudian aku teringat salah satu pesan sahabatku yang kini nun jauh di sana, yang dahulu kami pernah bersama.
“Tidaklah masalah tempat di mana pun, lingkungan mana pun. Yang penting itu adalah azzam yang kokoh.” Yaph, benar! Karena, suasana seperti ini, insya Allah ga hanya ada di wisma, tapiii, di mana pun itu! Sebab, yang terpenting itu sebenarnya adalah “buffer”nya agar tetap stabil di kondisi seperti apapun, dengan “pH” kehidupan seberapa pun, seekstrem apapun. Buffer ruhiyah,komitmen, azzam, action, community, tarbiyah, muhasabah, jugah mu’aqobah (agar ga gampang mentolerir kelalaian diri!!).

Walau bagaimana pun, satu penggal kehidupan wisma ini, bagiku adalah sepotong kenangan indah. Pahit manis perjuangan yang kita rasakan bersama. Meskipun hanya sebentar lagi, sungguh, aku sebenarnya masih ingin menikmatinya. Menikmatinyaaa. Sungguh.

Sumangaik, saudari2ku!
Hamasah!





Special buat Nany-chan-ku, selamat berjuang buat sidang sarjananya yang tinggal menghitung hari. Jugah buat Lilis-ku yang jugah akan segera menyandang gelar S.Si, insya Allah. Semangat!! K’Jen luphU…luphU yang hobby pulkam, hee…, hayyuuu, K’Jen, selesaikan segerraaa! Jugah buat Uul-ku Cayank, semangat buat seminar hasilnyaaaaa. Buat Nina Rahimi, ishbir yaa ukhty…, insya Allah stiap kesulitan bakalan ada kemudahannyaah. Yakinlaah ituu. Semangadh! Jugah buat Yeyen-qyu…, jangan lama2 di Bekasi dunk. Hayuu…cepet balik ke Padang! Heee…Setelah urusan skripsimu kelar, barulah balik lagih ke Bekasi! Heee…

Jugah,NRD’ers deeh, buat Titi-qyu…, hayuu..Titi, harapan itu masih ada! Wisuda Juli Menunggu. Hee… Dhy-Silvir jugah, hayyuu Dhy, kamu pasti bisa! Restu? Apa kabarmuuu? Oce?? Mba Vin? Mega?

Barokallaah jugah bwt Ithri, Ade dan Bu Neg. ^^

FS Pharmacistz’05 sekaliyaaan…Ujul, Chepi, Mumut, Nana…, Barokallaahu…Smangadh bwt kuliayah Apotekernyaaah.
Lira-qyu, Itax cantiq, QqTito cayang, Omay, Yeyen Ramadhani, hayuuu…smangadh!
Samangadh!!

Jugah…yang ga kalah penting, buat Ima dan dirikuuu…smangadh buat PKP… Hosyh…hosyh…, tinggal 2 bulan lagiiiiiiiiih, insya Allah…(waduuh, udah ngosh-ngosh-an niih)
Read More

Akak....Trima Kasih Yaah!



Akhirnya kita berjumpa lagi Kak, di depan ruang rekam medic. Hoo…sungguh sumringah hatiku melihatmu. Sudah nyaris tiga minggu kita tak berjumpa, sejak perkenalan pertama kita di samping ruang konseling terpadu (hoo..kalo perjumpaan pertama mah di visite bangsal neuro yah akak? Hee…).Dua minggu ini ternyata dirimu terkena DBD, dan… Astaghfirullah…bahkan aku tidak tahu! Entah karena kesibukkan di bangsal interne, atau aku hanya sibuk dengan diriku sendiri, atau entah karena apa. Memang sih, agak mengherankan, kenapa aku tak pernah melihatmu beredar di rumah sakit ini dua minggu belakangan. Padahal, sebelumnya sesekali kita jua berjumpa di koridor-koridor atau di jalan rumah sakit ini. Tapi aku ga kepikiran sama sekali. Atau, aku yang kurang care? Oowhhh…

Dan langsung deh, kita ngobrol bareng di depan ruang rekam medic itu. Hmm…seperti biasa, aku selalu mendapatkan spirit baru darimu, akak. Dengan semangat-semangatmu, dengan ide-idemu, dengan cara tertawamu yang manis. Hee…

“Kak, alhamdulillaah, hasil lab buat tes darahku negative!” kataku.
“Alhamdulillaah…. Makanyaaa, berpikir positif dulu!” katamu.
Hee…, akak, dirimu adalah salah satu dari sedikit orang yang “aku curhati” masalah tes darahku ini. Yang sempat bikin aku nge-drop, lemes, kehilangan separuh semangat hidup (halah! Lebaynya akuuu!). Memanglah aku rasakan itu Kak, bahwasannya berprasangka positif! Itu kuncinya. Berprasangka baik pada Allah. Juga, memberikan sugesti positif pada diriku. Humm…berasa banget dah, ketika aku telah tersugest dengan “symptom” yang ada pada diriku, aku jadi saaaaangaaat lelah. Di pikiranku, malah tes darah itu bakalan positif. Tapiiiii, alhamdulillaah, di saat-saat down seperti ini, aku punya saudari2 yang menguatkanku (jazaakillah Ang, Jazakillaah Titi). Dan, alhamdulillaah, kemudian aku bisa bertahan dan membuat buffer semangat itu. Dan, ALHAMDULILLAAH…, aku bahagia! Aku bahagia dengan hasil tes darah yang masiy di range normal itu.

Aihhh, aku suka ceritamu, akak. Aku suka semangatmu. Juga tentang bakery yang dirimu titipkan di mini market rumah sakit ini. tentang resep nasi goreng dan pecelmu yang ditiru banyak orang hingga daganganmu malah ndak laku? Haha. (heee…, kalo cerita mah, udah ke mana-mana yah akak? Tapiii, seseorang merasa nyaman jika ada cemistery positif di antara mereka kan akak? Nah, cemistery itu di mana nya yah? Persamaannya apa? Ah, entahlah. Yang penting, bagiku bercerita denganmu membuatku mendapatkan semangat baru). Dan dirimu adalah ahli fisioterapist hebat yang aku kenal. Karena, pendekatamu kepada pasien itu dengan hati. Aku suka melihat caramu menterapi.

Aaah, akak, aku tau, mungkin dirimu ga’ bakalan baca ini tulisan. Heee… Soalnya, aku kan ga promo2 blog segala. Hihi. Tapiii, setidaknya, aku hanya ingin mengungkapkannya. Tak peduli apakah dirimu ataupun orang lain akan membacanya atau tidak. Aku hanya ingin menumpahkannya sajaa…

Akak, Makasih yah Akak. Trima kasih ya Allah, atas perjumpaan dengan banyak2 orang2 inspiratif, sahabat2 baru, saudari2 baru yang menguatkan akuuu.
Read More

Belajar Berjalan...


Pernahkah ngerasa down, terjatuh dan terpuruk? Hummm…Pernaaaaaaaaaaaaaaah! Lalu, pernahkah ngerasa “duuh…., kayaknya aku ga bakalan bisa bangkit lagi deeh. Aaah, sudahlaah!”. Aaiihh.., juga pernah! >.<

Mari kita merenung sejenak. Dan, kembali pada ‘masa lalu’ kita. Dahulu, ketika kita belajar berjalan, setiap kali jatuh, kita selalu berupaya untuk bangkit agar dapat berjalan lagi, bukan? Bahkan tak peduli, seberapa sering kita jatuh terjungkal, namun kita tetap bangkit…bangkit…dan bangkit lagi…, untuk berjalan. Lalu pada akhirnya? Kita sekarang dapat berjalan bahkan berlari!

Tapi kenapa? Kenapa saat ini,ketika akal fikiran kita sudah berkembang lebih baik dari pada saat itu, sering kita menyerah begitu saja! Sekali terjatuh, lalu tidak mau bangkit sama sekali. Kenapa sekarang kita begitu gampang putus asa dengan sedikit ujian kegagalan saja? Padahal dahulu, kita adalah adalah orang-orang yang gigih berjuang!

Wahai diri, percayalah, bahwa kita didesain secara fitrahnya untuk menjadi orang yang berhasil. Orang yang sukses! Jika pun ada kegagalan, maka itu tak lain hanyalah sebuah peluang bagi kita untuk belajar. Itu membuat kita belajar lebih banyak!

Wahai diri, percayalah, bahwa diri kita telah diciptakan-Nya dengan segenap potensi luar biasa. Maka, sudah saatnya kita “meng-aktivasi” potensi itu. Jangan biarkan segenap potensi itu berada dalam fase dorman-nya. Sungguh, amat disayangkan, ketika Allah telah amanahkan potensi itu, tapiii, sepanjang hayat kita, kita tak mempergunakannya. Lalu kita mati tanpa ada sesuatu yang kita perbuat!

Maka, berprasangka baiklah sesalu kepada Allah, atas scenario apapun yang Dia rancang untuk diri kita! Mengambil sisi positif jauh lebih baik dari pada menyesali segala yang telah terjadi. Dan sungguh, Dia pun sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya. Maka, berperasaan positif lah terhadap diri kita. Berperasaan positif berarti akan menghasilkan pikiran positif dan prasangka yang positif jua.

Hayuuu….Sumangaik!sumangaik!
Harapan itu masih ada!
Belum terlambat untuk bangkit!
Hayuuu, mari kita bersama-sama, berjuang, tuk raih ridho-Nya!
Read More

Tentang Faqih dan Hafalannya


Aku hendak menceritakan seseorang yang inspiratif sangatt niiih.
Ya…ya…ya…!?
Hee…

Ketika ada tekad se-Sumbar kemarin, aku melihat seseorang yang saaaangaaaat aku kenal, duduk di depanku agak ke kanan. Langsung aku sapa deh dengan spontaneous, “Faqiiih!”, dan tentu saja aku sapa ummi nya juga, Ummu Faqih. Wuihh…, sungguh, aku kangen sangat sama Faqih dan Uni. Bener-bener deh.

Namanya Muhammad Faqih. Kami biasa memanggilnya Faqih. Umurnya baru 5 tahun. Lincah. Keren dan juga ceria, khas anak-anak. Faqih lahir waktu kami masih kelas 3 SMA, hmm…sekitar pertengahan 2005. Sekilas, mungkin dia masih kaya’ anak-anak pada umumnya. Main pesawat-pesawatan. Main pedang-pedangan. Tertawa. Yaaah, namanya jugah anak-anak yaaah??

Tapiiii, Masya Allah…Sungguh luar biasa!
Ketika kutanya, “Sekarang Faqih lagi ngafal juz berapa?”
Dia tertawa. “Juz 29 yaaah?” tebakku.
Dia mengangguk. “Iya, ammah. Kemaren baru mulai juz 29.” Dia menjelaskan dengan gayanya yang anak-anak.
Subhanallaah…
Aku berdecak kagum.
Juz 29? Berarti juz 30 sudah kelar dong? Masya Allah…
Dan di umurnya yang 5 tahun dia sudah hafal juz 30. Waaah….subhanallah.
Ini mah langka bangeeeet yaaah? Yang ada di jaman sekarang adalah anak-anak yang lebih hafal nyanyi pop, rock atau jazz paling tenar. Dan, kebanyakan orang tua malah lebih bangga ketika anaknya bisa hafal banyak nyanyian di umur belia begitu ketimbang lebih banyak hafal ayat pendek.

Di umur 5 tahun, anak-anak jaman searang pada umumnya Cuma hafal 5-6 surat. Salah satunya, eih…salah tiga ding, hee… triple ‘qul’. Trus, do’a bangun tidur. Do’a mau tidur. Do’a mau makan. E te ce. Tapi Faqih, subhanallaah…, sudah masuk juz ke-2! Luar biasa!!

Semua ini memberi kita pelajaran bahwa sebenarnya bentukkan lingkungan itu saaaangaaaaat penting! Madrasahnya itu sangaaaaaat penting! Seorang Faqih bisa demikian, salah satu andil besarnya tentulah dibentuk dari seorang ibu yang juga berkualitas! Hoo…so pasti dong yah! Kualitas ibunya yang luar biasa! Ga mungkin kan yaaah, seorang anak yang ibunya biasa nonton gossip sepanjang hari dan mendengarkan lagu dangdut sepanjang malam (hee…lebay! Emang ga ada kerjaan lain apa??) akan menghasilkan anak yang kualitasnya sedemikian luar biasa? Masa’ siih, ibunya ngidupin kaset dangdut sehari semalam 24 jam (ya iyalah sehari semalam 24 jam. Heee… Maksudnya, saban pagi sampai malam, ngidupin kaset dangdut), anaknya bisa saja tiba-tiba hafal juz 30. Kan ga mungkin! Paling juga anaknya ikutan hapal lagu dangdut. Kan anak plagiat pualiiiiing ulung. Iya tho??

Yang aku plajari siih (hayyoo…di buku Fisiologi Manusia jugah ada tuuh. Hihi), bahwasannya bayi terlahir dengan serabut otak yang suangaaaaaaaadddh buanyaaaaaaak, namun belom terkoneksi satu sama lainnya. Jadiii, di masa perkembangan otak yang pesat itu (umur 0-6 tahun), seorang bayi akan “belajar” dari lingkungannya, dan di saat itulah koneksi antar serabut tersambungkan. Missal, ketika seorang ibu mengatakan, “Nak, kalo yang ini, Bunda!” kalo yang ini, “ayah!” berarti akan menyambungkan serabut syaraf di otaknya. Sel memorynya akan merekam, “kalo yang seperti ini, berarti “bunda”, kalau yang seperti ini, “ayah”, kalo yang seperti ini,”makan” kalo yang seperti ini, “tertawa.” Dan seterusnya. Itu artinya, sel-sel otaknya terus membangun koneksi satu sama lainnya.

Makanya, di umur segitu (hmm…golden age kaya’nya niiih. Heee.., ada ga yah istilahnyaaa begini??), anak adalah peniru paling hebat dan memiliki daya tangkap yang luar biasa! Nah, jika ini dimanfaatkan, maka insya Allah para orang tua dapat memberikan pendidikan terbaik buat anaknya. Apalagi, apa yang dialami si anak di masa emas ini, umunya akan tersimpan di “amygdale”nya di alam bawah sadarnya. Suatu saat, ketika dia bertindak spontaneous, maka yang akan keluar pertama kali adalah apa yang ada di alam bawah sadar. Lebih kurang begitu laaah.
(ngomong2, belajar fisman ini menyenangkan yaaah? Sungguh, betapa Maha Agungnya Allah yang menciptakan manusia dengan demikian kompleks dan sempurna.)

Jadiiii, intinyaaa…., inilah masanya kita “membentuk” calon pengusung peradaban, “pambangkin batang tarandam”, kalo istilah Minang nya kali yaaah??, para “Ar-Ruuhul jadiiid”, yang dimulai dari dasarnya, dari kecilnya. Insya Allah, anak-anak dengan kualitas Faqih pun akan banyak (ga langka lagiii) jika pola didik, pola asuh, ilmu pengetahuan, serta keimanan sang ibunya yang diperbaiki terlebih dahulu. Waaah…, alangkah kerennya negeri ini jika para calon madrasatul ‘ula nya di “bengkelin” duluuu (loooh?? Kok di bengkelin yaaah? heee…) di tarbiyah dulu, dididik dulu, sebelum mereka mendidik. Wah…wah…, omong2 kapan yaaah, pemerintah bisa ngatur ampe ke sini? Misalnya di bikin kek suatu “sekolah” khusus, gituuh… Hemm….Kapan yah? Hayyooo, kapaaaaaan?? Semoga saja, suatu saat nanti.
Read More