Aku Memang Harus Pulang


Sebuah kegetiran di subuh ini…
Hmm…., subuh ini, aku seperti dihadiahkan pada kenyataan pahit yang harus membuatku (barang kali) perlu sedikit mengeluarkan air mata. Pada kampungku tercinta, tempat di mana aku melabuhkan peristirahatan.

Berawal dari, --iseng—(ah, benarkah iseng? Tak juga siih sebenarnya), ingin mencoba duduk-duduk bersama para ibu-ibu di lingkaran tadarussan masjid. Sebenarnya sih, aku dan ibuku, lebih senang kalo tilawahnya yah di rumah saja. Tapi, kali ini, entah kenapa, tergerak hati ini untuk gabung di sana. Hanya setengah hingga satu jam saja.

Betapa aku sungguh terkejutnya, ketika kudapati, hampir separuh peserta tadarussannya TIDAK LANCAR membaca Al Qur’an. Masya Allah. Bukan hanya salah-salah sedikit. Tapi sudah fatal. Bahkan tak terbedakan lagi antara huruf nun dan ba. Antra ‘ain dan gho. Antara dzo dan tho. Antara tsa dan sya. Belum lagi panjang pendeknya! Dan itu, bukan anak-anak, tapi ibu-ibu yang umurnya sudah 50-an tahun (terlebih dan terkurang!). Ya Allah….sungguh ada tangis getir di sana.

Aku…aku bukan mengatakan bahwa aku lebih bisa atau lebih baik. Tidak! Toh, aku juga masih harus banyak belajar. Tapiii, melihat kenyataan ini, aku begitu terhenyak. Pertanyaannya, ke mana saja aku selama ini??

Ah, sangat miris sekali, di perkampungan yang bisa dibilang cukup kental keislamannya saja sudah sedemikian rupa, apa lagi di tempat-tempat yang islam hanya sebatas KTP saja. Dan bayangkanlah, seorang ibu, yang semestinya mengajarkan anaknya huruf-huruf itu, sebagai sekolah pertama sang anak, malah tidak tahu sama sekali dengan huruf alif ba ta.

Aku sungguh…sungguh sangat terhenyak!

Pada akhirnya, sampailah aku pada konklusi itu : BAHWA AKU MEMANG HARUS PULANG! Jika bukan dari diri kita sendiri, lalu siapa lagi yang akan membangun kampung ini? Siapa lagi? Tak banyak orang yang mau peduli. Maka, sudah sepatutnya, kita memulai dari diri kita, dari keluarga dan lingkungan kita.

Al Qur’an.
Sesuatu yang begitu ambisiusnya yahudi dan nasharo menjauhkannya dari hati para pemuda Islam. Sehingga militansinya menjadi begitu lemah, karena petanya, peta kehidupannya dijauhkan dari hati sang pemuda-pemudanya itu. Dan, itu memang semakin terasa….bahkan di pelosok-pelosok. Miris sekali, melihat para orang tua yang lebih bangga ketika anaknya yang masih duduk di bangku playgroup mampu menghafal lagu-lagu band terbaru ketimbang hafal Surat-surat di Al Qur’an.

Jika bukan kita, wahai saudaraku, maka siapa lagi? Bukankah dengan demikian, membuat kita juga belajar lebih banyak? Jika bukan karena cinta, maka energy apa lagi yang dapat menggerakkan kita untuk menegakkan Al Qur’an ini di lingkungan kita?

Lagi-lagi pada sebuah kenyataan, aku termangu. Pada sulitnya mencari tempat-tempat belajar Al Qur’an di kampungku ini. Tahsin dan tahfidz, misalnya. Kebanyakan, lebih mementingkan membaguskan iramanya saja, tapi melupakan makhrajnya, melupakan ke-istimroriyah-annya dalam hal berinteraksi dengan Al Qur’an. Hanya sebatas irama saja, agar bisa ikutan MTQ. Memang, sangatlah baik, membaca Al Qur’an dengan irama yang bagus, yang juga di anjurkan Rasulullah. Hanya saja, yang amat disayangkan, ia hanya sebatas untuk Lomba saja. Hanya sebatas sebuah kompetisi irama saja. Tak lebih.

Read More

Komentar dari Komentator


Wah….wah….wah…., aku siih sebenarnya BUKAN orang yang pas untuk menuliskan ini. Pengalaman tak ada, ilmu pun tak punya! Atau, malah jangan-jangan seperti ini, “Hiiiihhh…., ini anak masi bau kencur --(hee…sampai skarang aku gak ngerti deh, knapa istilahnya bau kencur? Kenapa tak bau ompol ajah skaliyan. Hihi.)--, sudah brani-brani pulak ngomongin soal ini! Hahay…”

Hanya saja, sedikit tertarik dengan tulisan yang ditulis oleh Da Rahmat di sini…Hehe dan berniat untuk menyambungnya. Uhm….sebenarnya semua berawal dari ke-iseng-anku (hahay! Dassaaaaarrr, suka iseng!) menguping (husy! Kebiasaan jelek! Mohon jangan ditiru!) pembicaraan orang-orang yang bermasalah. Uhm…sebenarnya tak sepenuhnya nguping siihhh, lebih tepatnya, gelombang bunyi itu sampai ke telingaku dengan proses menggetarkan membrane timpani, lalu sinyal di sampaikan ke impuls2 saraf trus (uhm…apa lagi yaah, udah lupa tuh plajaran biologinya. Hihi. Lagian, intinya kan Cuma gini : itu suara kedengaran, tanpa perlu di-uping-in sekalipun! Hehe). Jadi begini, yang sering datang ke rumah itu kan orang2 curhat semua tuh, mengenai masalah rumah tangga mereka. Jadi, sedikit banyaknya, aku denger2 jugak. Hehe, sekaliyaaaan nyari ‘ilmunya di sana. Hehe. (sebenarnya, apapun kan bisa kita jadikan plajaran yah? Asalkan kita mau belajar ajah kaleee…).

Memang benar apa yang di sampaikan dalam blognya Da Rahmat itu, bahwa “Siapa bilang nikah itu indah?”. (hehe, ‘afwan Da, sedikit mengutip judul tulisannya). Mungkin, banyakan, mikirnya yang so sweet-so sweet nya ajah, tapi, lupa menyisakan Ruang untuk hal-hal lain yang menjadi nyatanya setelah dijalani. Iya tho!? Klo diriku kan tak pengalaman, jadiii, masi boleh ngomong suka-suka ajah! Hag..hag…
(Maklum, penonton kan komentator paling hebat dari pada pemain, walaupun kebanyakan penonoton tak lebih hebat dari pemain. Dan, kali ini, aku laiknya penonton yang hari ini Cuma bisa jadi komentator. Mohon pemaklumannya. Hihi).

Nah, --mengutip kata ayahku, dengan redaksional yang sama sekali tak sama tentunya--, jika masi sinjel-sinjel beginiih (bacaan dari : single, hehe) mungkin kita bisa penginnya begini, penginnya begitu, yaah suka-suka kitanya ajah. Nah, jika udah bekeluarga, mesti ada asosiasi antara dua (dan lebih) keinginan, mimpi, cita-cita, pola pikir de es te nya yang GAK SELALU SAMA. Bahkan LIMIT mendekati tidak sama! Gak bisa dong, pake kata “suka-sukanya saia sahajaa lah.” Karena, ini menyoal penggabungan antara dua bekgrond, dua kultur, dua habit, dua pola pikir, kepribadian yang berbezzaaa. NAH, --lagi-lagi ngutip kata-kata ayahku dan lagi-lagi dengan redaksional yang berbezzaa--, di sini pentingnya MANAJEMEN KOMUNIKASI ITU. Dan, dari hasil riset (howalaaa, kapan pulak niiih aku ngadain riset!) bahwa INTINYA permasalahan keluarga itu adalah terletak pada KOMUNIKASINYA!

Yah, namanya juga menggabungkan antara dua hal dengan bekground, dengan MIMPI dan CITA-CITA, dengan latar belakang, dengan pola pikir de es te yang berbeda, tho!? Nah, keberbedaan ini, cendrung menimbulkan KONFLIK! Yang membuat orang2 banyak berkesimpulan “Siapa bilang nikah itu indah!”.
Mengenai konflik ini, uhmm….bagi yang suka baca tulisannya Mba I-Je yang S-2 psikologinya jebolan UGM itu looh, hihi, barangkali persepsi setiap orang pun berbeda, dan bagaimana ia menolerir konflik itu pun berbeda. Kalo si suami misalnya, yang segini dan begini ini sudah dikategorikan konflik, bagi si isteri belum. Dan, perbedaan persepsi tentu akan berimbas pada perbedaan men-tolerir si konflik. Uhm…perlu adanya pelurusan pandangan kale yaah, penyamaan persepsi jugak deh!

Tapiii, sebenarnya, intinya itu adalah MANAJEMEN KOMUNIKASI nya itu tadi. Karena, selain kepribadian, selain bekrond kluarga, selalin habit, kultur, ada lagi hal nyang membedaka antara laki-laki dan perempuan itu. Pada dasarnya, perempuan cendrung berpikir “terlalu jangka pendek” dan laki-laki pada umumnya lebih mengglobal. Makanya, kepala rumah tangga itu yah lelaki, karena Allah sudah lebihkan beliau-beliau ini di sininya. Banyak loh, perempuan yang mikirnya spontaneous begete, sehingga akibat-akibat ke depan tak terpetakan. Sebagai contoh, kisah nyata, tanpa menyebutkan siapa orangnya, di suatu daerah yang sedang berkembang, hiduplah sepasang suami-istri yang hidupnya sejahtera (halaah, macam pembukaan dongeng ajah niih? Hihi). Nah, mereka mulai merintis bisnis minimarket. Bisnis itu rupanya mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat yang terbukti dengan begitu berkembangcepatnya itu minimarket. Nah, ketika bisnis mulai mencapai puncaknya, si istri mulai deh banyak maunya, mau beli ini, mau beli itu, maunya kek gini kek gitu. Sementara, si suami, lebih melihat secara global, sebaiknya yah begini-begini dulu lah. Karena perbedaan ini, terpiculah konflik. Si istri banyak maunya, si suami gak bisa ‘mengendalikan’ kemauan sang istri sehingga ujung2nya, jadi goyah itu bisnis. Wal hasil, minimarketnya pailit dan terjual, si suami istri akhirnya bercerai di pengadilan. Uhm…sebuah contoh kecil dari sekian banyak pencetus konflik yang disebabkan perbedaan-perbedaan itu. Dan, satu hal yang pengin diriku garis bawahi di sini (sebagai seorang komentator, hihi) yaitu ; inti permasalahannya terletak pada KOMUNIKASI yang MENJEMBATANINYA! Allahu’alam.

Uhm….perlu penyamaan persepsi, dan dikomunikasikan. Perlu penyatuan visi dan misi, dan dikomunikasikan. Gak bisa dong yah, mentang2 laki-laki memang umunya lebih visioner ketimbang perempuan, dan lebih mampu memetakan secara global, lantas ngomongnya “HARUS BEGINI, MESTINYA BEGITU” tanpa terlebih dahulu mempertanyakan apa pendapat sang istri dan tanpa terlebih dahulu mendengarkan apa isi hatinya. Iya tho?? Hihi. Dan, jika memang sang istrinya belum bisa memetakan, dikembalikan pada JEMBATAN KOMUNIKASI tadi. Sebaliknya, gak selalu dong yah, laki-laki selalu benar. Sebab, umunya perempuan itu lebih detil ketimbang laki-laki, terutama untuk hal-hal kecil. Nah, gentian dong, yang ngingetinnya. Lagi2 dikembalikan pada komunikasi antara keduanya.
(lagi-lagi, sebagai komentator hanya bisa berkomentar sahajaaaa, muhun maap jika banyak yang gak tepat, banyak yang salah kata. Maklumlah, si komentator. Hihi)

Eh….eh….., sedikit menambahkan yang out of topic dari tulisan di atas, uhm…diriku rasa, perlu adanya ‘kesesuaian jiwa’ dalam keluarga itu. Karena, kalo kata ibnul Qayyim, cinta itu adalah “kesesuaian ruh” sang pelakunya. Dengan hal yang senada, Ust. Anis Matta pun membahasakan cinta jiwa itu, bahwa jiwa-jiwa itu perlu adanya kesesuaian. Tak negrti juga aku, rumit untuk dijelaskan mengapa jiwa itu memilih ini atau itu, tapi yang jelas kesesuaian jiwa itu pasti akan berasa dengan sendirinya. Uhm…., barangkali lebih kurang ‘chemistery’ itu kali yaah. Ah, udah ah! Gak enak juga membahasakan ini sementara aku bukan orang yang fahim. Hehe.

Kesimpulannya?
Hehe….sederhana sahaaajaa kesimpulannya: YUUK BLAJAR LAGI!
Read More

Dua Jam Bersama Ayah


Hehe…judulnya memang sedikit aneh. Kenapa harus 2 jam? Toh, begitu banyak waktu-waktu yang telah kami lewati dengan diskusi-diskusi panjang itu. Uhm…anggap saja aku lagi kehabisan ide untuk membuat judul. Hihi. Dan, diskusi kmarin ini memang berlangsung lebih kurang 2 jam. Plus sesi Tanya jawab. Halaaaah…macam diskusi formal ajah. Hehe.

Uhm…aku dan ayah memiliki begitu banyak kesamaan dalam hal kegemaran, makanan, dan mimpi-mimpi. Makanya, share dan diskusi seperti ini jadi terasa menyenangkan.

Dream list! Begitu ayah membahasakannya. Dream list dalam hidup.
Mungkin aku adalah seseorang yang memiliki banyak mimpi dalam hidup. Setiap kali periode tertentu, akan kulakukan refresh terhadap mimpi-mimpi itu. Namun, aku sering melupakan satu hal. Tangga untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Dan Ayah menyadarkanku, akan titik itu.

Yup! Rasionalitas dalam menuliskan sebuah mimpi!
Yah, memang tidak ada yang melarang untuk bermimpi setinggi-tingginya. (selama bermimpi dan bercita-cita tinggi tak dipungut upeti! Hihi…).
Bahkan, ada anjuran untuk mencapai mimpi itu pada titik terjauh. Bahasa klisenya, gantungkan cita-cita dan mimpimu setinggi bintang di langit. Hehe.

Tapiii, tak cukup hanya sekedar mimpi saja!
Tak cukup dengan menuliskannya saja, lalu dibiarkan tergantung di dinding kamar tanpa ada upaya pencapaian untuk itu. Harus ada langkah! Harus ada action!


Kadang, sering terlupa dengan satu hal ini. Apa itu? Rasionalitas mencapai mimpi-mimpi itu. Sering kali, yang terjadi malah hal yang tak sesuai dengan harapan. Sering kali, tak berjalan sesuai dengan apa yang dipetakan! Dan itu adalah suatu keniscayaan.

Maka, mungkin, ini sebuah momentum bagiku, untuk menata kembali mimpi-mimpi itu. Memenej segala ke-fluktuatif-an dalam hidup. Dan, mengikutsertakan kerasionalitasan dalam menuliskan sebuah mimpi.

Hayuu…kembali semangaaat!
Hayuu…hayuu….
Read More

Sejak Baru Pandai Menulis


Hmm….sejenak membuka file-file lama kehidupan ini. Hehe. Mungkin bagimu ini tak begitu penting! Tapi, bagiku, ini adalah sejarah hidup. (halaaah! gayaaa cuy! Hihihi).

Emmh…sebelumnya, aku ingin sedikit bertanya. Kapankah kau pertama kali menulis surat? Hehe, jangan-jangan ini sebuah pertanyaan konyol! Ah..tidak..tidak! aku hanya ingin sedikit bercerita saja. Pertanyaan itu, tak usahlah kau jawab.

Aku baru menyadari, rupanya, dari kecil aku memang sudah menyukai yang namanya kertas dan pulpen ataupun pinsil. Dan, adalah kesukaanku jua mengorat-oret lembaran-lembaran itu.

Aku masih ingat, pertama kali aku menulis surat adalah ketika aku baru pandai menuliskan a,b,c, d dan seterusnya! Ketika itu, ibuku tercinta sedang mengikuti pendidikan cakim (pasca S-1) di UIN Syarif Hidayatullah selama 1 tahun lamanya. Dan, aku begituuu bersemangat menulis surat untuk ibu, kala itu. Ketika itu aku sudah TK di TK Bundo Kanduang, Lundang, Sungai Pagu. Isi suratku macam-macam ceritanya. Jika membacanya, aku barang kali akan tertawa.

Tapi, adalah pelajaran berharga dari surat menyurat ini. Kemudian, aku memang jadi gemar menuliskan segala sesuatu. Sudah kuceritakan belum yah?! Dahulu, hal paling mengembirakan bagiku adalah ketika ayah pulang membawa segepok kertas. Kertas bekas tentunya. Yang hanya satu sisinya yang putih, sisi yang lainnya sudah terpakai. Dan, sisi sebelahnya itu, akan kuisi dengan berbagai coretan. Mulai dari bermacam-macam tulisan hingga desain rumah yang kuinginkan. Entah kenapa, dahulu, begitu suka menggambar rumah. (Mimpi jadi arsitek yang kaga kesampaian. Hoho).

Tapi…aku merasakan manfaat besar dari kegemaran itu. (baca : kegemaran menuliskan dan mencoret-moret itu). Aku jadi lebih senang menuliskan segala sesuatu. Meskipun aku bukan seorang penulis handal. Bukan pula penulis terkenal yang karyanya bertebaran di berbagai media massa, tapi, aku jadi sangat suka menulis. Jika orang-orang paling benci plajaran mengarang, aku sebaliknya. Aku sangat suka plajaran mengarang!

Apa kesimpulannya?
Uhm….ternyata, jika pembiasaan itu di lakukan sejak dini, maka, ia menjadi sesuatu yang tersimpan di amygdale seseorang.
Mengutip apa yang disampaikan si…. (haduuh..siapa yah namanya, si pemeran Pak Guru dalam pilem I’m not Stupid itu loh), “Fokuslah pada kelebihannya, jangan besarkan kekurangannya.”
Setiap anak dilahirkan dengan kekayaan bakat yang barang kali berbeda tiap mereka. Maka, dengan mengembangkannya, niscaya, engkau (para orang tua, para calon orang tua, para pendidik), tengah menuju terwujudnya generasi-generasi yang extraordinary!! Percayalah, jika kita hanya mencita-citakan anak-anak kita nantinya hanya sebatas seperti anak-anak kebanyakan, maka memang akan menjadi itu lah ia. Tapi, ketika kita mencita-citakan sebuah cita-cita besar untuknya, maka….ia pun akan menjadi luar biasa! Percayalah, setiap anak berhak untuk menjadi luar biasa! Ini bukan berarti expoitasi terhadap anak, apalagi memaksakan seorang anak harus sesuai dengan maunya para orang tua. Bukan! Bukan itu! Tapi…how to explore the child ability!
Uhm…perlu belajar lebih banyak lagi tentunya!
Hayuu…hayuuu…harapan itu masih ada  (heh? Harapan yang mananya niih! Haduuh..mulai ngaco kayanya. Hihihi…)
Read More

Idealita dan Realita


Semakin kusadari bahwa :
DUNIA KAMPUS itu adalah dunia yang penuh IDEALITA
dan DUNIA KERJA itu adalah dunia yang penuh dengan REALITA

Semakin memasuki dunia pasca-kampus, semakin terasa betapa sulitnya menyeimbangkan antara realita yang ada di sekeliling kita dengan idealisme yang kita pegang & kita bawa (atau bahkan mungkin di-doktrin??) dari dunia kampus...

Fiuufftt...
Dan aku..sudah "mulai" berkutat dengan itu semua.
"Perang" pun terjadi, antara idealita dan realita itu...

Bukan...bukan tidak senang untuk "DILAMAR PEKERJAAN". Di Jaman yang begitu sulit mencari kerja sekarang ini, lalu ada tawaran kerja (atau benar2 diharapkan untuk bekerja di sana) adalah suatu kesempatan langka.
Tapi PERMASALAHANNYA adalah BERBENTURANNYA dengan IDEALISME yang SELAMA ini AKU PEGANG, bahkan AKU PATRIKAN di hatiku sejak berada di dunia kampus.
Dan, ini semua semakin diperumit dengan adanya faktor lain yang membuatnya menjadi lebih kompleks.

Read More

Ada Malaikat Maut di Dekatku


Uhm…di suatu kesempatan, belum lama ini, aku menyaksikan seekor ayam yang dipotong lehernya. Lalu, ayam itu menggelepar, dan kakinya pun menegang! Masya Allah… Sang ayam berusaha untuk menahan sakitnya sakaratul maut! Beberapa kali dia tehempas kiri dan kanan, terloncat dengan tingginya, menahan rasa sakit yang amat sangat, sebelum akhirnya diam tanpa gerak. Hanya raganya saja yang tersisa.
Sungguh, malaikat maut ada di dekatku! Hanya saja, kita manusia, tidak menyadarinya!

Melihat perihnya sakaratil maut itu, sungguh…aku teringat pada kematian. Pada sesuatu yang sudah PASTI akan aku, kau, dan kita smua hadapi. Hanya saja, dengan cara apakah nyawa itu di cabut? Allahu… semoga kita semua termasuk orang2 yang Allah ambil nyawanya dengan kelembutan.

Mungkin, kita sudah sering membaca surat ini. Qs. An-Nazi’at ayat 1-2.
Ùˆَالنَّازِعَاتِ غَرْقا
ÙˆَالنَّاشِØ·َاتِ Ù†َØ´ْطا
Demi Malaikat yang mencabut nyawa dengan keras, demi malaikat yang mencabut nyawa dengan lembut.

Sungguh, perpisahan antara jiwa dan raga itu kian dekat. Jikalah kematian itu beraroma, tentulah ia semakin hari semakin menusuk hidung.

Hanya saja, diri ini, kerap kali lupa. Kerap kali abai. Kerap kali lalai.
Maka benarlah, bahwa sesungguhnya mengingat kematian itu dapat melembutkan hati. Agar jangan misi-misi duniawi saja yang lebih mendominasi, dan melupakan misi ukhrawi…
Read More

Apresiasi dan Penyalahan!


Tak ada orang tua yang menginginkan keburukan pada anaknya. Pasti, setiap orang tua ingin yang terbaik. Tapi, di sinilah letak salahnya. Bahwa, menginginkan yang terbaik tapi dengan kesalahan. Dengan sebuah KESALAHAN yang mungkin tak disadari. Kesalahan yang mungkin saja membunuh! Mematikan! Bukan dengan pisau, racun maupun obat-obatan, TAPI KARAKTER!

Banyak orang tua yang merasa dirinya selalu benar, sehingga, yang keluar pada anak adalah KATA-KATA PERINTAH, KATA MENYALAHKAN, tanpa sedikitpun APRESIASI… Padahal, satu hal, meski orang tua memang lebih banyak memakan asam garam kehidupan, bukan berarti ia senantiasa benar dalam segala hal.

Sesungguhnya, --kesimpulanku-- anak, adalah selayaknya “laboratorium” hidup bagi orang tua yang darinya kita (sebagai orang tua) mesti belajar banyak! Setiap tingkah, polah, dan tindakannya, memiliki pembelajaran tersendiri bagi sang orang tua untuk terus dan terus memperbaiki diri, memperbaiki pola didiknya. Jangan sampai kesalahan itu dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi “corak” yang mewarnai karakternya. Kesalahan yang “abadi”, melekat pada karakter dasarnya.

APRESIASI! Ini sangatlah perlu. Sebab, ia sedang bertumbuh! Jika ia sedang bertumbuh, lantas segera “dipangkas”, maka ia akan sulit untuk bertumbuh lagi. Jika pun tumbuh, barangkali tak seoptimal yang pertama. Atau, setidaknya, menjadi layu. Bukan berarti, tiada pula menyalahkan dengan suatu pembiaran! Tidak! Bukan ini maksudku. Menyalahkan, atas sebuah kesalahan yang memang salah! Tapi, apresiasi kebenarannya terlebih dahulu, BARU KEMUDIAN PERBAIKI KESALAHANNYA! Mendengar! Ini juga salah satu kuncinya. Tidak hanya orang tua saja yang mesti didengar oleh anak, tapi, orang tua juga mesti MENDENGAR anak!

Semua ini mengajarkan kepada kita, para orang tua, para calon orang tua, para pendidik, bahwasannya kita HARUS SELALU BELAJAR! Harus! Dari “laboratorium hidup” itu.

Bagi sesiapapun, (terutama yang menuliskan ini…:p) sesungguhnya, jika kau menginginkan membangun batu bata peradaban ini dengan melahirkan generasi-generasi calon pemimpin masa depan, maka yang harus kau pegang adalah KUNCINYA! Yup, kuncinya! Terus belajar, dan belajar! Bukan hanya dari buku-buku saja, bukan hanya dari training2 saja, tapi, juga dari pengalaman hidup banyak orang-orang di sekelilingmu! Apa saja, bisa dijadikan plajaran. Apa pun. Ambil saja yang baiknya, dan tinggalkan yang buruknya. Sekaligus, jika punya power, maka ingatkan jualah!

Setiap peradaban, akan ada rijal-rijalnya.
Maka, mempersiapkan batu bata pembangun peradapan itu, mestilah dari satuan terkecilnya!
Madrasah pertamanya!

Oh iya, jika sempat, tontonlah pilem “I’m not Stupid 2”. Salah satu dari sekian banyak film yang bertemakan pendidikan anak yg sangat inspiratif. Begitu banyak plajaran yang bisa kita ambil dari sana. Meski kurang suka menonton (heee…:p), tapi, ternyata, untuk film-film tertentu, ada kalanya kita perlu jua menontonnya. Agar kita bisa mengambil ‘ilmunya juga dari sana sekaligus menjadi modal untuk memperbaiki kesalahan2 yang mungkin ada bagi orang tua…

Dalam fil I’m not Stupid, begitu jelas kelasalahan2 itu, yang mungkin ada di lingkungan kita. Maka, barang kali kita bisa perbaiki itu... Hayuu..tonton gih…hihi. Bagiku siih, ini film benar2 sangat inspiratif! Begituuuuuuuuuuu buanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak plajaran yang bisa diambil dari setiap kesalahan2 pelaku yang ada di dalamnya, dan akibat buruk yang ditimbulkannya. Dan, bayangkanlah, jika para pendidik seperti ini? Akan jadi apa dan akan seperti apa masa sepan seorang anak? (aku gak bakalan bikinkan sinopsisnya! Ambil ajah plajarannya sendiri….okeeeeh….^^)
Read More

Tarwih Kilat Khusus


Bismillahirramanirrahimalhamdulillahirabbila’alaminarrahmanirrahimimalikiyaumiddiiniyyakana’buduwaiyyakanasta’inihdinasshirotholmustaqimashirotholadzina’anamta’alayhimwaladhoooliiiiiiin. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.

Fiuuuftt!
Melelahkan tak membaca 7 ayat diatas dengan satu nafas?
Serangkaian ayat yang senantiasa di ulang-ulang, dan memiliki keutamaan yang sedemikian banyak! Tapi, di baca dengan satu nafas saja. (satu tarikan nafas tanpa jeda, tanpa wakaf)
Kilat Khusus! Benar2 tarwih kilat khusus!

Dan ini lah masalahanya!

Sebenarnya sudah lama aku “protes” mengenai hal ini. Mengenai bacaan Al Fatihah di Tarwih di Sebuah Mesjid di….(untuk menjaga nama baik, maka tak perlu disebutkan yah…)
Pasalnya, kecewa banget dengan bacaannya yang begitu.
Masa’ sih Al Fatihahnya dibaca dalam 1 nafas?
Ck..ck..ck…
Lantas di mana letak kenikmatannya?
Uhm…tarwihnya dikejarkan sebanyak 20 raka’at, plus witir 3 raka’at. Tapiiii, masya Allah, 2 raka’at selama 2 menit. Bacaannya…astaghfirullaah…, kaga jelas lagi mana ayat 1,2 dan 3 dan makhraj nya yang amburadul. Bayangkanlah…betapa tidak enaknya.

Padahal…alfatihah adalah surat pilihan yang di ulang2 membacanya dalam setiap kali sholat dan TIDAK SAH suatu sholat tanpa membacanya. Di dalam surat ini lah terkandung totalitas pokok tashawwur (konsepsi, persepsi, pandangan Islam) dan arahan-arahan spiritual yang bersumber dari tashawwur itu.

Dalam hadits shahih Muslim dengan sanad dari al’Ala bin Abdur Rahman mantan budak AL Hirqah, dari ayahnya dari Abu Hurairah, dari Rasulullaah saw udah dikatakan :

“Allahu ta’ala berfirman : Aku membagi shalat antara aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, separuhnya untuk-Ku dan separuhnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. ‘Apabila hamba mengucapkan, “Alhamdulillaahirobbil’alamin”, Allah berfirman “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Dan apabila hamba mengucapkan, “Ar Rahmaanir Rahiim,” Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Dan apabila hamba-Ku mengucapkan,”maalikiyaumiddiin,” Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuliakan Aku. Dan apabila hamba mengucapkan, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” Allah berfirman, “ini antara Aku dan Hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Maka apabila hamba itu mengucapkan “ihdinashhirootholmustaqiim, shirotholladziina an’amta’alaihim ghairil maghdhduubi’alaihim waladh-dhaalliin’, Allah berfirman, “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”

Masya Allah….

Lantas, itu artinya, tarwih kilat khusus, telah menghalangi kesempatan kita “bermesraan” dalam sebuah komunikasi yang indah dgn Rabb kita….
Read More

Balik Kampung


Hehe…sudah 2 tahun kiranya aku tak kunjungi mesjid ini. Sebuah mesjid di kampungku, Mudiak Lawe… Lebih kurang 10 tahun masa kecilku, kuhabiskan di pinggiran bukit ini. Hmm…sebuah kenangan masa kecil yang menyenangkan.

Tak banyak berubah. Bahkan, Bapak Pengurus mesjidnya dari aku SD dulu, -yang waktu itu masih jamannya nyatat agenda ramadhan llau berburu tanda tangan sang penceramah-, hingga kini, MASIH SAMA! Wajah-wajah ibu2, uwo2, anduang2 pun masih lekat diingatan. Aku begitu hafal dengan wajah-wajah itu. Yang asing olehku justru anak remajanya. Sebab, ketika dahulu, mereka masih bayi. Kini, mereka telah remaja pula. Uhm…tak terasa belasan tahun berlalu sudah.

Dahulu, waktu masih kecil, aku beramadhan di mesjid ini. Selepas berbuka dan makan, kami (aku dan Yuna) bergegas menuju mesjid ini. Tujuannya adalah biar bisa ikut tadarusan. Nah, yang diharapkan dari tadarusan itu apa, coba? Uhm…hihi….-malu untuk menyebutkannya-, yaitu…bisa mengaji dengan mikrofon. Haha. Sebuah keinginan yang sederhana tentunya. Dan kami –para anak-anak—akan sangat kecewa jika para orang dewasa mendominasi lingkaran tadarusan itu. Hihi.

Masa kecilku, kuhabiskan di kaki bukit ini. Bukit Anda, begitu orang2 kampungku menyebutnya. Ada kenangan bersama Yuna yang begitu banyak di sini. Di sebelah mesjid, berdiri SDN 10 BSM, SD ku dulu, dan di seberang mesjid, berdiri pula MDA-ku, tempat ngajiku dulu. Klo di tempat lain, namanya TPA.

Di sekolah itu, sangaaaat menyenangkan. Jauh dari aroma2 perkotaan, jauh dari permainan kelas elektronik. Permainan kami hanyalah, kelereng, petak umpet, yoyo, main tali dan ore. Bukan netendo, bukan ngotak atik HP, bukan pula computer, kayak anak jaman sekarang. Dan, yang paling menyenangkan itu adalah…sungai! Sungai yang mengairi di belakang sekolah. Kami sering bermain di situ.

Uhm…aku jadi teringat teman SD-ku. Nasib yang berbedalah yang membawa kami. Di kelasku itu, anak perempuan hanya 8 orang dan anak laki-lakinya 18 orang. Sahabat terbaikku itu namanya Upit, sekarang jadi guru di SDN Sei Cangkar. Lalu, Devi sekarang kuliah di Batam sekalian kerja. Trus, Yulni. Yulni sudah menikah (ng…sudah punya anak belum yah? Hehe. Kayaknya sudah). Lalu Irat, yang sudah punya 2 anak. Yelvi, sudah nikah juga, tapi, kayaknya belum punya anak tuh. Rosi, tak dapat kabar berita. Dan Yarni. Yarni sudah pindah ke Bengkulu semenjak SMP. Teman2 yang cowoknya, lebih banyak dan….sangat nakal! Hehe. Abiiiiis, suka menjahili kami, anak perempuan. Siapa ajah yah? Yoni, Ul, Basra, Wilnasri, Dedy Lodra, Haris, Momon, Een, Andi, Igus, Isis Lawe, Isis Pak Cip, Riko, Dodi, Riki, Jalani, uhm…aku melupakan 2 orang lagi. Hee….maafkan.

“Eh, Pi, bilo pulang?” seseorang menyapaku di depan pintu mesjid. Aku terkesiap. Bayangan masa lalu, lenyap seketika. Masya Allah, Upit! Lengkapnya : Fitria Listiowati, tema sebangkuku sejak kelas 2.

“Eeeh…Upiiiit!” langsung deh, surprise banget! Saking surprise nya, aku jadi speechless. Serius! Macam seseorang jumpa ma kekasihnya, tak bisa berkata-kata. Hihihi…, Ngaco!! Bahkan aku lupa minta nomor HP-nya.

Masya Allah…
Kampungku….tak banyak yang berubah…SD-ku….juga tak banyak berubah. Kecuali guru2ku tercinta, yang wajahnya semakin tua yang berjumpa di dalam mesjid kemudian.

Ternyata, waktu berlari demikian KENCANG!
Read More