Revolusi

Teman-teman, udaah pada tahu dong yaah kisahnya sahabat yang sungguh kerreeen ini. Nama beliau Mush'ab bin Umair (Radhiyallaahu anhu). Tau kaaaan? Ya harus tau doong yaahh. Masa' biografi dan kisah hidup Ming Ho lebih banyak yang diketahui ketimbang sahabat Rasulullah? Iya kaan?! Hmm... sepertinya, kita iniii udah direcokiiin banget banget dan banget dengan yang namanya Ghazwul Fikriy, di mana kita lebih tau dan lebih hapal seluk beluk artis Korea terkenal ketimbang Sahabat Rasulullaah yang luar biasa. Kisah mereka, para publik figure itu tak lebih hanya kisah flamboyan belaka (waahh, takutnya ada yang marah niih dibilang flamboyan, soalnya kalo tidak salah itu icon salah satu SMA Negeri di Sumbar. Hihi...), tapi lebih di-update ketimbang kisah heroik luar biasa yang membangkitkan semangat juang dari para sahabat. Mari waspadalahh.. :)

Baiklah, aku takkan membahas soal Ghazwul Fikriy-nya. Aku pengin memaparkan kisah sosok luar biasa itu. Bukan juga memaparkan kisah beliau (Radhiyallahu anhu) dengan sedetil-detilnya karena aku husnudzan bahwa teman-teman sudah pada tahu semua kisahnya. Tapi, pengen ambil spiritnya dari kisah beliau.

Read More

Rasional Ber-antibiotik

Baiklah, sebelum menuliskan sesuatu ini, aku mau pajang foto yang menarik ini dulu aahh...
Gunakan Antibiotik secara TEPAT!
Ya, ini adalah salah satu bentuk kampanye antibiotik, agar digunakan secara tepat [aku ambil foto ini di dekat gedung Central Medical Unit (CMU) 2 RSCM].
Ketiadaan Antibiotik dan resistensinya adalah sesuatu yang amat sangat mengancam. Sayang sekali, laju resistensinya jauh lebih cepat dari penemuan antibiotika baru. Antibiotik sudah 'terkuras habis' penemuannya di era emas tahun 1940'an dan saat ini, nyaris tak ada penemuan antibiotik baru di seantero dunia. Jadii, jangan main-main dengan antibiotik.

Read More

Sirop Fatamorgana

Coba perhatikan ceret di bawah ini :
Teko ambo di kosan :)
Aku hendak bertanya, menurutmu, apakah isi ceret itu? Hemm... mungkin kau mengira itu adalah sirop rasa anggur yang amat menggiurkan jika diminum saat cuaca panas, apalagi ada es batu yang menyertainya. Begitu kan?
Tapi, agaknya, jika kau menebak begitu, maka kau salah. Isi ceret itu adalah air bening saja. Kebetulan di belakangnya terdapat satu gelas tupperware yang berwarna merah tua keunguan. Ya, tupparware itulah yang memberikan kesan bahwa air di dalam ceret itu adalah sirop segar rasa anggur.

Lantas, buat apa aku memamerkan 'sirop' fatamorgana itu kah?
Begini, kawan. Mungkin ada hikmah yang dapat kita petik dari kisah si ceret dengan sirop fatamorgana itu. Ya, tentang bagaimana kita berpikir tentang sesuatu.

Read More

Ya Begitulah...

Ya begitulah.
Kadang, disadari atau tidak, mungkin kita punya kekhawatiran yang 'agak' berlebihan.
Ketika sebuah pengharapan telah diperbolehkan dan dimaklumi adanya, ada semacam kekhawatiran ia-nya tak menjumpai wujud nyatanya. Mungkin semacam rasa takut kehilangan, barang kali.
Takut asa itu lenyap. Takut, esok ia-nya hanya menjadi catatan mimpi. Takut ia hanya akan menjadi jejak masa lalu. Dan sederet persenyawaan ketakutan dan kekhawatiran lainnya...

Tapi,
Segalanya HARUS dipulangkan pada-Nya.
Dia-lah yang memiliki segala keputusan.
Ketika kita berencana, maka Dia-lah yang menetapkannya.
Apapun yang Dia kehendaki, maka akan mudah bagi-Nya.
Dan apapun yang tidak Dia kehendaki, maka pasti tidak akan terjadi.
Jadi, tiadalah yang lebih baik dari pada do'a dan berserah diri pada keputusan-Nya.
Tawakkal atas segala rencana-Nya.
Smoga keridhoan-Nya meliputi...
Read More

My First Book, Insya Allah

Alhamdulillaah... Sungguh terasa sangat indah karunia-Nya. Dalam beberapa hari terakhir, sungguh banyak surprise dari-Nya. Sungguh banyak nikmat-Nya. Dan, sungguh amat naif jika aku tak pandai bersyukur atas karunia-karunia-Nya yang banyak itu. Sungguh, nikmat itu, juga adalah sebentuk ujian dari-Nya. Sebab, kadang kenikmatan justru banyak membuat kita lupa. Bahkan,--naudzubillaah, menganggap ia-nya adalah sesuatu yang niscaya. Sebab, kita berada di Safety zone. Zona aman. Di critical zone mungkin kita lebih cendrung dekat. Meminta pertolongan-Nya di zona kritis. Bahkan seorang atheis pun mungkin pandai menyebut "Oh my God" saat zona kritis itu. Tapi, pada zona aman? Justru inilah yang sering membuat kita lupa. Dan di sinilah letak ujian itu. Semoga kenikmatan dari-Nya, membuat kita senantiasa bersyukur dan justru menjadi sebuah batu loncatan bagi kita untuk terus meng-up grade diri kita, ruhiyah kita. Semoga...

Pagi ini aku dapat email yang bikin surprise. Dari penerbit Parapluie. Berikut isi emailnya :

Read More

Penyesalan Kita...

Hari ini ada kisah yang menurutku cukup bikin geli dan juga bikin agak panik. Hehe. Tadi sebelum berangkat ke rumah guru ngaji buat agenda mingguan, aku lupa menyiapkan dompet. Sebenarnya aku cukup yakin akan keberadaannya di tas sehingga aku tak mempersiapkannya lagi. Ya, intinya aku tidak memeriksa ulang isi tasku itu dan merasa yakin bahwa aku sudah meletakan dompet di dalam tas. Nah, di depan boulevard aku naik ojek bapak-bapak tua yang baik hati dan penyabar yang sudah memutih rambutnya di balik helm kuning yang ada logo kampusnya. Hehe. Meskipun aku sesungguhnya tidak terlalu menyukai naik ojek kecuali dalam keadan terpaksa, tapi di hari ahad, itulah satu-satunya kendaraan yang available. Apa boleh buat. Kalau harus jalan kaki, itu akan menghabiskan banyak waktu karena jauh. Kalau naik angkot, itu memakan waktu lebih lama (bisa sampai setengah jam lebih) karena harus 2x ganti angkot sementara ini sudah hampir telat. Waktu hanya tersisa 15 menit lagi dari jadwal yang seharusnya. Jadi memang inilah jalan satu-satunya. Hee....

Nah, ketika sampai di tempat tujuan (pangkalan ojeknya) karena biasanya aku melanjutkan dengan jalan kaki setelahnya, aku obrak abrik seisi tas, tapi tak ada dompetnya! Masya Allah, ke mana ituuh dompet? Kemungkinan besar ketinggalan di kosan. Waduuhhh.... Udah diubeg-ubeg pun sak tas-tasnya, cuma ketemu 700 rupiah doang. Mana cukup! Ongkos ojeknya 5000. Waduuhh. Mulai deh aku rada-rada panik. Alhamdulillaah, bapak ojeknya sabaaarr banget dan ndak marahin aku di hadapan orang banyak. Beliau menunggu solusinya sambil memarkir motornya, Aku coba telpon temen yang tadi hampir barengan berangkatnya, tapi ndak keangkat. Ndak kedengaran mungkin. Waduuhhh... Aku memutar akal. Bagemana iniiihhh?? Tiba-tiba aku ingat, deket situ ada kosan temen seangkatan. Lalu kutelpon dia, buat membantu memecahkan masalah ini. Hehe. Akhirnya, aku dan bapak ojek tua menuju kosan temenku itu dan akhirnya masalah pembayaran ojek pun terselesaikan. Smoga Allah balasi kebaikan temanku itu dengan kebaikan yang banyak. Aamiin...

Aku hanya ingin berbagi pelajaran dari kisah ini, yang semoga mengingatkan diriku terutama dan juga dirimu semua yang secara tak sengaja mungkin ngebaca ini. Hehe.
Read More

Tentang Khilaf, Alfa dan Kesalahan Kita

Sungguh, ketika aku mencoba mengetikan huruf demi huruf ini, rasanya tak dapat aku lanjutkan tulisan ini. Rasanya kelu. Rasanya tak berdaya. Dan sungguh malu pada Rabb yang mengetahui segalanya bahkan sekedar lintasan hati saja.

Mungkin, kita (aku terutama) pernah berada di fase yang sama. Fase penurunan yang drastis. Fase di mana mungkin kita membersamai banyak kesalahan. Salah. Khilaf. Dan alfa. Meski insan memang tempatnya khilaf, memang gudangnya alfa, memang sarangnya salah, tapi lantas dengan begitu akankah kita begitu mudah berselindung dibalik dalih sifat keinsanan ini? Tidak. Semestinya harus ada fase peningkatan grafik kembali. Kembali pada-Nya. Kembali mengadukan segala resah dan memohon ampunan dengan sepenuh harap dan rasa takut kepada-Nya, Yang Maha Menerima Taubat hamba-Nya.

Setiap kita pernah bersalah. Mustahil ada orang yang tak pernah berdosa. Mustahil ada orang yang selalu benar. Sehebat-hebat manusia, pasti pernah tersalah. Pasti pernah berdosa. Tapi, ini menyoal bagaimanakah kita setelah salah? Bagaimanakah kita setelah alfa yang kita perbuat? Memohon dengan segenap permohonan pada-Nya untuk pengampunan dan mungkin 'remisi' atas kesalahan kita itu kah? Atau membiarkannya menjadi tumpukan noda hitam yang semakin menutupi hati kita kah?

Ah, bukan sedang ingin 'menyelamatkan diri' atau berselindung dibalik kekhilafan yang niscaya adanya, tapi ketika salah, alfa dan khilaf, maka itu sesungguhnya tetap sesuatu yang memberikan nilai bagi diri kita. Ini bukan berarti kita membiarkan begitu saja kesalahan, kehilafan dan dosa-dosa itu membentuk setumpuk 'tabungan' hitam, tapi ini menyoal penyikapan kita atas salah. Sungguh ada berita gembira atas kesalahan, dosa, khilaf dan alfa. Yaitu, Dia, Allah yang Maha Menggenggam hati-hati kita, sungguh amat berbahagia dengan taubat kita. Lebih berbahagia dari pada seorang pengembara yang kehilangan onta merah beserta perbekalannya lalu ia kembali mendapatinya dan karena rasa bahagianya itu, ia salah menyebutkan kalimat yang sesungguhnya fatal itu. Tapi begitulah, Allah amat berbahagia dengan taubat hamba-Nya. Ini adalah sebuah kesempatan baik untuk kita, hamba-Nya yang tak pernah luput dari salah, tak pernah absen dengan dosa.

Read More

Barakallah buat Dedew

Kebersamaan itu... ketika saling mengingatkan saat yang lain lupa. Saling menanggung beban saat yang lain ada masalah. Saling menguatkan. Saling bercerita. Saling mengadukan gundah. Ini bukan lagi hanya sekedar teman seper-atap-an. Tapi saudara. Di jalan ini. Dan ketika segalanya berdilatasi, dan ketika sahabat yang selama ini selalu ada kini akan 'pergi', maka sungguh bohong jika aku tidak bersedih. Tapi, apakah aku punya alasan untuk bersedih atas kebahagiaan sahabatku? Tidak.

Aku memang sedih. Sedih, karena mungkin kebersamaan kita menjadi berbeda lagi nantinya. Tak ada hari-hari penuh cerita. Tapi aku juga bahagia. Sangat berbahagia. Bahagia karena insya Allah akan ada orang yang membahagiakannya, lebih dari pada aku.

Barakallah untuk one of my best friends, saudara sepersusuan (hehe, sama-sama bikin susu ind*m*lk dari batch yang sama, kotak yang sama, air panas dari ketel yang sama, gelasnya ajah yang beda, hihi :D), saudara saparuik (hee, karena masak and makan bersama), saudara di jalan da'wah insya Allah... :)

Barakallaah buat Dedewqyu Dewi Oktavia dan Muhammad Abdussalam yang Insya Allah akan menggenapkan setengah agama tidak lama lagi. Barakallaahu laki wabaraka 'alayki wajamaa bainakumaa fii khoir... Smoga jadi keluarga yang Samara, dunia dan akhirat.


My Design for Dewi's Wedding Invitation.

Read More

Kadang Kita Perlu Bersyukur, Saat Harus Berbalik Arah

Wah, kangen juga nih sama si Bloggie. Hehe... Maaf yah Blog, beberapa hari ini agak tercuekin. Hihi :D
Aku sebenernya dari kemarin itu pengen nulisin. Tapi ya itu, soksok sibuk. Hehe. Padahal ga juga sih. Heuu....

Ahad kemarin, kami reunian farmasi 05. Tapi judulnya ajah yang reunian farmasi, yang kesannya besar-besaran (soalnya kalo reunian farmasi, itu artinya seharusnya ada sekitar 100 lebih partisipan).Tapi ini yang hadir cuma 5 orang. Dan tidak bisa juga disebut reunian farmasi, karena peserta reuniannya juga dari biologi dan kimia. Hehe. Jadi, sebut saja ini reunian orang-orang Padang. Hihi :D. Aku, Uul, Ikrima, Dewi dan Nany. Niatan awalnya berangkatnya jam 10. Ehh ndak taunya molor hingga ba'da dzuhur, karena temen-temen mau foto dulu di perpus pusat, di pinggir danau dan makan siang (yang merangkap sarapan pagi) karena paginya buru-buru harus ke agenda mingguan dulu jadi tidak sempat. Hee... Nah the main destination itu sebenarnya Taman Buah Mekar Sari. Tapi, hemm...ada tapinya. Dan inilah kisahnya :

Read More

Pohon Tempat Kau Berteduh

Mari kita sedikit berimaji. Bayangkanlah dirimu saat ini berada di sebuah padang yang luas. Dan di seberang tempat keberadaan kau berdiri, ada sebatang pohon--jika kau di sisi timur, maka pohon itu di sisi barat--, di mana sesungguhnya pohon itu begitu ingin kau gapai, kau petiki buahnya, dan mendapati perteduhan di bawahnya. Saat ini, belumlah ada kepemilikan yang sah atas pohon itu, hingga kau tak berhak untuk memetiki buahnya, bahkan untuk sekedar berteduh saja di bawah rindangnya. Mungkin kau berharap, dan amat sangat berharap dapat mencapai pohon itu dengan segera dan semua orang dapat meng-iyakan kepemilikanmu atas pohon itu. Tapi, sekali lagi, itu masih ada dalam anganmu. Dan nyatanya, semua harapmu masih berada di alam angan. Kau belum melakukan apa-apa. Atau tidak dapat melakukan apa-apa.

Lalu, saat kau tak tahu apa yang harus kau lakukan dan memang tak ada yang bisa kau lakukan, kecuali jika kau memang melanggar untuk mendekati si pohon itu. Tapi, itu tidak kau lakukan. Kau tetap pada prinsip bahwa pohon itu barulah kau dekati dan engkau petiki buahnya, hanya ketika ada kepemilikan yang sah atas pohon itu.

Read More