Apoteker Hanya Bisa Diam


Akhirnya, kenyataan-kenyataan yang selama ini dipaparkan kutemukan jua di lapangan. (sebenarnya sejak awal PKP udah mau menuliskannya. Tapiii, masih mau mengkaji semua-muanya dulu. Hmmphh…, akhirnya kutuliskan jua)…

Betapa mengenaskanya nasib para apoteker, kebanyakan. (hooo…iya, sebelumnyaa, aku hanya pengin membahas secara generalisata, jadiii, meski ga semuanya terjadi, tapi emmang kenyataanya seperti iniiii..hoohh…). sungguh menyedihkan. Betapa, hanya menjadi “bulan-bulanan” saja.

Lihatlah, siapa yang paling miskin??
Hmm…apoteker tentu saja! Padahal, biaya obat nyaris menyerap 50 % dari total keseluruhan pembiayaan rumah sakit! Obat yang nota bene gawe’an farmasis. (meski ga bisa pula disangkal, kalo banyak jugah farmasis yang “bermain” di sini. Pun begitu halnya dokter). Yang gajinya paling kecil jugah, apoteker dong (dengan tingkat profesi yang lain). Tapi, soal materi, ga usah diungkit deeeh, ini kan relative jugah. Memang siih, kebanyakan apoteker itu rata2 “du’afa”. Tak berbanding lurus antara input setelah di dunia kerja dengan out put yang harus dikeluarkan untuk biaya kuliah yang…huwaaa…mahal! Kuliahnya cape’. Gradenya jugah ga main2. Eeh…, di lapangan?? Bikin kepala geleng-geleng. Ck..ck..ck…

Jika aku menilai, sungguh dunia kesehatan masih dipegang kuat oleh “otoritas sang dokter”. Yang lain?? Hmm…dayang-dayang! Kalo boleh (sedikit kejam) kubahasakan, “keangkuhan para dokter”. (sekali lagi, ga semua siiiiih, tapi ada, secara generalisata). Lantas, di mana letak peran profesi lain, yang notabene kita dibesarkan di ranah tingkat pendidikan yang sama?? Sama-sama sarjana, sama-sama melalui pendidikan profesi!

Apoteker ga bisa ngomong!
Hmm…, bukan berarti semua apoteker itu bloon soal obat. Apalagi yang telah mendalami dan mengambil spesialisasi bidang FRS. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Hmm…jangan ditanya! Kenapa harus “tertutup” dengan segala masukan yang ada? Okeh, salah satu tugasnya farmasi klinis adalah melakukan analisa DRP. Udah dilakukan. Tapiii, ketika diberikan masukan, bahwa obat ini yang disalut begini ga bisa dijadiin puyer. Jika obat ini dicampur dengan yang ini, bakal ada interaksi. Interval dosis antibiotic ini mestinya begini. Tapiiii, kenapa si dokter tetap kekeuh dengan instruksinya itu??? Kenapa??? Bukankah kita dibesarkan di ranah profesi yang berbeda untuk kemudian saling bersinergi?? Lalu, pada akhirnyaa…, apoteker hanya bisa diam. Cape sendiri mengkaji obat, DRP nya, interaksinya segala macamnya, tapi kemudian ga digubris, ga dianggap. Ujung-ujungnya, yang menanggung akibatnya, yaaah pasien. Kasihan pasiennya, yang dalam hal ini tentu adalah pihak yang “lugu” begitu, yang mau tak mau mesti patuh sama instruksi dari dokter. Di lain hal,(bahkan ketika PP 51 thn 2009 telah membolehkan farmasis mengganti obat dengan zat aktif yang sama, si dokter tetap kekeuh dengan pendapatnya, “saya maunya yang itu!”. Sekali lagi, kasihaan pasiennya, harus nyari2 dulu. Padahal, tersedia obat dengan zat aktif yang sama. So what?? Seklai lagiii, farmasis hanya bisa diam! (kasihaaaan….)

Sebenarnya, peran farmasis itu saangaaaaaaaaaaaat besar, untuk menyelamatkan nyawa pasien jika kesalahannya adalah obat. Peran farmasis itu dituntut banget. selain itu, buat menyelamatkan resistensi antibiotic misalnya. Bukankah ini gawe’anya farmasist??? Dan bukankah DRP itu adalah masalah yang paliiiiiiiiiiing banyak menyebabkan kematian???

Aaaaah, pengin sekali aku bisa ngeliyat kerja sinergis antara sesama petugas medis siapapun itu. Kerja yang sifatnya parallel, yang penempatan sikapnya seperti mitra kerja, bukan atasan-bawahan! Toh, dokter, farmasis, perawat, ahli gizi, adalah orang-orang yang berada pada range profesi yang parallel. Jadiiii, bukan hanya dokter yang semestinya menjadi otoritas kesehatan itu! Sekali lagi, harus ada kerja yang sinergis! Masa’ siiiih, dokter tau semua, mulai dari diagnose, obat, asuhan keperawatan sampe gizinya?? Masa’ siiiih?! Bukankah masing2nya udah ada rijal2nya? Makanya, perlu sekali adanya kerja sama yang solid, mitra kerja yang bai. Karena, kuyakin, dokter jugah ga belajar semua. (hehehe, temen2 kedokteran pun balajar ttg obat Cuma sedikit koq. Bahkan pada bilang, farmakologi itu plajaran paling ribet! Nah loh?? Berarti, kita sudah diseparasi berdasarkan profesi kita kan yah?)

Nah, dari sisi farmasisnya. Sebenarnya, apa yang membuat farmasis itu “dipandang sebelah mata” dan ga’ dianggap beituw oleh rekan2 medis yang lain?? (huhu, ini kisah sedih temen2 yg praktek di RS). Satu hal, karena farmasis itu Ga terlalu mendalami bidangnya. Bukan karena farmasisnya bodoh, enggak! (kalo ga salah, dimana2 universitas kebanyakan, grade farmasi itu termasuk tinggi dan peminatnya jugah ga sedikit, yang artinya persaingan masuknya cukup ketat. Hihi, sayang aku ga sempat memperhatikan ini dulunya sebelum masuk farmasi). Intinya, bukan farmasisnya yang bodoh, tapiiiiii, karena penggodogannya yang begituww. Seorang sarjana farmasis dituntut untuk mengerti semua hal, mulai dari bahan awal, API hingga ituw obat dikeluarkan dari tubuh pasien. Banyak yang diplajari, tapiiiii, sedikit2 ajah. Dicomot sikit-sikit! Ga mendalam. Jika beginiiiiii, pantasan ajah farmasis selalu di judge sebagai tenaga medis yang “bloon”. Bahkan, asisten apoteker sendiri yang bilang gituwh. Haduuuh, kasihan ga tuwh??

Makaaaa, aku (sebagai seseorang yang suka protes. Hehehe….) menyarankan kepada siapapun ituu yang berwenang (aaiih, bahkan aku ga tau kepada siapa harus ngomong) untuk melakukan perbaikan di dunia farmasis ini,khususnya di institusi pendidikannya. Biar ke depannya permasalahan obat ga menggunung macam gunung singgalaang (hehe, ga nyambung!). Usulannya adalah…agar farmasi itu memang dibikin jurusan2nya, lebih spesifik belajarnyaaaa, lebih runcing pembahasannya. Kalo farmasis sains, yaaah dari awal ampe akhir ckup ngebahas sains ajah. Kalo farmasis analisis yaah cukup bagian analisis ajah. Manajemen farmasi dan komunitas, yaah cuup di sana saja. Farmasis industry, yaah cukup balajar formulasi dan tekonolgi farmasi ajah, kalo bagiannya klinis, yaaah..cukup klinis ajaah. Lebih spesifik. Okelah belajar semuanya dulu, tapi cukup di semester dan dua ajah sebagai dasar dan pengantar. Lalu kemudian, diplajari berdasarkan spesifikasi jurusannya. Tapi lebih mendalam. Sehingga dihasilkan lulusan farmasi yang benar2 ahli dan kompeten di bidangnya.

Kukatakan semua ini adalah karena aku cinta farmasi dan aku ingin farmasi ke depan lebih baik. Aku hanya tak ingin, seorang farmasis, sarjana pula, jadi bahan ejekan, yang ga paham apa-apa. Jadiiii, selama ini apa ajah yang diplajari?? Ini karena kosong atau saking banyaknya yang harus diplajari?? Huhu, aku sudah rasakan sendiri (mungkin semua temen2 PKP yg laen jugah), betapa ga enaknya. Padahal, kuliahnya berat, mesti praktikum2 dulu, tamatnya susaah, ga enak deeeh pokoknyaaa, namun pada akhirnya jadi bahan olok-olokkan beginiii. (hehe, sampai aku kepikir, ntar kalo punya anak, pona’an de es be, aku sarankan ga usah masuk farmasi ajah. Hihihi. Padahal di AS sendiri yang kiblatnya farmasi sedunia, jurusan farmasi klinis tetep jadi most wanted to be bagi pelajar menengah atas untuk di jadikan pilihan yaah?? Karena aplikasi ilmu perubatannnya bener2 kerreeen abiiizz di sana). Ah ga ding! Aku ga bermaksud untuk menjelekkan farmasi. Intinya aku sangat ingin farmasis ke depan lebih baik. Itu ajah.

3 comments:

  1. Sang dokter teteup kekeuh dengan actionnya because they don't see the drugs the way pharmacist does. Sudut pandang dan pemahamannya tentang obat pastinya berbeda, termasuk kompetensinya sehingga membuahkan perilaku yang berbeda tentang obat dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

    Fenomena ini sepertinya butuh waktu untuk terkikis, perlahan, until the society realize and well educated that they do need pharmacist.

    ReplyDelete
  2. kalau dari 'sudut pandang sinis', oknum dokter bersikukuh dengan pendapatnya karena ada 'pesanan' dari industri obat tertentu (yang nota bene farmasis juga) :(

    ReplyDelete
  3. @Da Yori :
    sepakat Da...
    proses untuk mempersiapkan "rijal2nya" dulu...
    jika sudah siap, tinggal merealisasikannya sahhajaa...

    @Ka Fajar :
    bener jugah siih Ka....
    maka, apoteker mesti memiliki ruhiyaah yang mantab jugah..karena yang dihadapi itu berkaitan dengan "hati nurani"

    halaaah..nyambung tak yaah??
    heee....

    ReplyDelete

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked