Perjalanan Ini...

Perjalanan ini....
Episode perburuan kali ini adalah sekolah! Mengelilingi salingka Sungai Pagu, mendatangi seantero SMP dan SMA yang ada di sana. Hanya untuk selembar undangan. Sendirian. Dengan persediaan BBM motor yang sudah kritis pula.

Perjalanan itu, mengantarkanku pada suatu desa. Cukup jauh. Dan, di desa ini dahulunya aku pernah menghabiskan masa liburan kami yang begitu sederhana. Yah, liburan yang sangat sederhana namun sarat bahagia.

Aku dibesarkan dari keluarga yang biasa-biasa saja. Keluarga yang sederhana. Ayah dan ibuku adalah pegawai negeri sipil sejati. Hee… Tapi, perhatian ayah dan ibu terhadap pendidikanku cukup tinggi. Apresiasi! Itulah yang sekarang kupahami maknanya.

Dahulu, ketika masih di bangku sekolah dasar, ayah dan ibuku akan menghadiahkan kami jalan-jalan jika kami berhasil dapat juara. Jangan dipikir, jalan-jalanya menuju tempat rekreasi yang wah, dan memakan waktu berhari-hari. Tidak. Hanya jalan-jalan sederhana saja. Salingka Solok Selatan. Tapi, sebuah apresiasi luar biasa bagiku, bagi kami—aku dan Yuna, tepatnya.

Salah satunya adalah desa ini. Letaknya di kaki Bukit Anda. Dan dari sana, pemandangan Gunung Kerinci dapat terlihat dengan jelas. Cantik. Subhanallaah… Aku masih ingat dengan jelas, kala itu vespa kuning gading butut ayah tiba-tiba mogok. Dan kami harus menghabiskan liburan kali itu dengan berjalan kaki sejauh lebih dari 5 km. Mungkin lebih jauh. Dan, akal sederhanaku kala itu tidak dapat meng-estimasinya. Terik mentari, padahal!

Aah, sudah belasan tahun berlalu. Tapi, kenangan itu kembali berkelebat. Mungkin karena aku kembali menjejaki langkah di tempat yang pernah menjadi sejarah masa kecilku itu. Aku tidak membayangkan dulunya akan menjadi seorang apoteker (nganggur) seperti saat ini. Bahkan, aku terlalu tidak mengerti apa itu apoteker. Yang ada dipikiran kecilku kala itu, bukan ingin menjadi dokter, guru, polwan seperti kebanyakan cita-cita teman-teman sebayaku. Aku ingin menjadi seorang insinyur pembangunan—sama seperti aku juga tidak mengenal istilah arsitek, karena aku sangat suka menggambar rumah.

Masa kecil adalah masa yang begitu polos. Bagaimana jadinya diri seorang anak, memang amat sangat bergantung dengan bagaimana kultur yang membesarkannya, bagaimana pola didik orang tuanya, dan bagaimana lingkungan yang menaunginya. Bukan berarti ia tak dapat menjadi berbeda ketika dewasanya. Tapi, bagai mana pun, ia tetap saja adalah sesuatu yang menjadi warna dasar jiwa itu.

Aku masih ingat, ketika kecil dahulu, aku begitu ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Aku begitu ingin. Sebab menjadi orang dewasa dapat memutuskan. Kata ayahku, aku anak yang begitu rajin bertanya dan sangat suka protes. Tak terbayangkan olehku, bahwa ibuku pastilah kewalahan menghadapiku. Hehe. Tapi, setelah belasan tahun berlalu, ternyata bayangan itu tak seindah potret nyata. Orang dewasa banyak masalah. Orang dewasa harus memikirkan banyak hal. Orang dewasa mestilah banyak pertimbangan. Meski memang ada yang mengatakan, bahwa bertambahnya usia adalahkeniscayaan sedang menjadi dewasa itu adalah pilihan, tapi, bagiku—se childish apapun—menjadi dewasa (berpikiran lebih dewasa) itu adalah KEHARUSAN! Tidak ada pilihan lain.

Kadang, terbersit sedikit rasa cemburu di hati ketika melihat anak-anak berseragam merah putih tertawa ceria. Menceritakan diri mereka apa adanya. Begitu polos. Aku sering ‘iseng’ bermain bersama anak-anak itu. Mereka bercerita dengan polosnya. Apapun yang kutanya pada mereka, mereka menjawab begitu apa adanya. Dari beberapa anak yang kutanya tentang cita-cita, mereka sangat ingin menjadi dokter karena dokter itu banyak uang. (Sampai di sini, aku tertawa. Ko nda ada yah, yang kepingin jadi apoteker? Hihi). Ada yang ingin menjadi guru. Karena mereka ingin sekali mendidik.

Sampai di sini aku berkesimpulan, pun ketika kecil kita menghadapi masalah. Masalah yang sesuai dengan versi kita kala itu. Pernah kuceritakan bukan, bahwa aku tidak ingin bingkai moif bunga-bunga, padahal itu adalah baik. Sekarang kudefinisikan, itu adalah masalah yang nilainya sebanding dengan usia kematangan kala itu.

Hmm…baiklah! Aku mengerti! Bahwa berat atau ringannya MASALAH itu…adalah BERBANDING LURUS dengan tingkat KEDEWASAAN kita. Semakin banyak, semakin diuji, semakin rumit, maka semakin besar peluanguntuk meng-up grade kedewasaan itu sendiri. Makanya, menjadi dewasa itu seharusnya bukan PILIHAN melainkan KEHARUSAN.

Hehe, sepertinya cerita ini sebaiknya kuakhiri, mewakili satu sisi melankolik sahaja. Maaf yaah, hanya sebuah cerita saja. Tak banyak yang bisa dipetik hikmahnya. Tapi, kali ini...tak peduli apakah kau membacanya atau tidak. Yang jelas, aku hanya me-muara-kan ia di sini. Iya, di sini.

6 comments:

  1. Sendirian tel?kok ndk ngajak uni?
    akhwat yg lain mn?eh g komen tulisan fathel ya, jd komen pengantarnya:)

    ReplyDelete
  2. eh lupo diak..uni ko,tukang paciak piti acara yg dk do piti hehehe..
    jadi merasa bersalah membiarkan fathel surang menyebarkan undangan tuh:(

    ReplyDelete
  3. hemmmm..langsung ketahuan iniiih mah...
    waah, ada uni ririiiiiiiiiiiii....

    syukran uniii, kunjungannyaa..hehe. Tak nak ngajak unii, tak nak ganggu orang "pacaran" and honeymoon...hihihi...^^

    Uniii, taragaaaak....
    *padahal baru suo hari slasa patang...

    ReplyDelete
  4. بسم الله الرحمن الرحيم
    Man ana?
    product
    Selengkapnya...
    Index Artikel
    product
    Selengkapnya...
    Jadwal Kajian
    product
    Selengkapnya...
    Kamis, Juni 03, 2010
    Hadits-28: Tidak akan pernah sirna segolongan dari umatku…
    :عَنْ مُعَاوِيَّةَ رَضي الله تعالى عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

    ،لاتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمةً بِأَمرِ اللهِ، لايَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلهُمْ، وَلاَ مَن خَالَفَهُمْ

    .حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَاسِ

    Dari Mu’awiyyah ibnu bin Abi Sufyan Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Tidak akan pernah sirna segolongan dari umatku yang senantiasa menegakkan perintah-perintah Allah Ta’ala, tidaklah akan memudharatkan mereka -orang-orang yang ingin merendahkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka- sampai datang perkara Allah Ta’ala (yakni Al-Qiyamah), sedangkan mereka tetap dalam keadaan menang di atas manusia”. (Dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim dan Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala).

    ithbabays ... iquaysqiita

    ReplyDelete
  5. teringat tulisan Ibnu Ibrahi tahun 90-an di majalah Hidayatullah yang berjudul "Mengenang Sejenak Perjalanan",.......... terseok-seok dan tertatih-tatih,....... dalam memegang bara api ini!!!
    Allahu Akbar,....

    Tsumma Takunnu Khilafatan 'ala Minhajin Nubuwwah,.....

    Insya Allah

    arrab-la uba (ithbabays)

    ReplyDelete

Feel free to accept your comment. Spam comment will be deleted and blocked