SYAKURO, home SWEET...



Tulisan ini special kuhadiahkan buat akhwatifillah yang kusayangi karena Allah, insya Allah…. Mungkin tak dapat kuungkapkan lagi, betapa aku sangat menyayangimu semua, saudariku.

Saudariku,
Perjalanan hidup ini benar-benar teramat sangat berliku. Sungguh, ada banyak warna hidup yg telah kulalui bersamamu. Tidak selalu suka, bahagia, dan canda. Juga ada duka, pergolakan, dan pergesekan, yang dengan penyelesaian di majlis-majlis qta telah membuatnya semakin kecil dan mengkerucut. Sungguh, betapa sangat manis dan indahnya ukhuwah itu. Sangaaaa..t lezaaat.

Dahulu, waktu diriku masih ngekos, gak terbayang bagiku akan bersama-samamu menapaki hari-hari ini. Memang, harus kuakui, ada perbedaan atsmosphier yang begitu signifikan. Ketika aku jalani hidup yg nyaris serba individual, lalu, berpindah kepada kehidupan yg serba ‘bersama-sama’. Dan tahukah dirimu semua, aku benar-benar bersyukur pernah menjadi bagian dari dirimu semua di markas da’wah ini, insya Allah.

Saudariku,
Mungkin aku juga pernah merasa ‘ilfil’ dgn akhwatifillah semua, ketika grafik penurunan itu terjadi pada qta. Ketika wisma sempat bukan lagi menjadi baiti jannati. Mungkin disaat itu, ruhy kita secara bersama-sama mengalami degradasi. Entah karena maksiat, atau banyaknya tugas da’wah yang terlalaikan. Atau, entah karena banyaknya hal-hal laghwu yg mulai menyerang wisma qta. Dan, mungkin juga karena perselisihan kecil karena perbedaan cara pandang, latar belakang kehidupan dan lingkungan yg membesarkan qta sebelumnnya. Atau kesibukan di agenda-agenda kampus. Tidak saling terbukanya qta. Tapi, Alhamdulillah,pasca konsolidasi dan kembali merefresh semua itu, ketika kita kembali membuat perencanaan baru, semua insya Allah mejadi keeping mozaik yang mesti dilemparkan jauh-jauh. Memang, adalah hal niscaya peningkatan dan penurunan itu terjadi, namun benar-benar sangat indah ketika kita berkomitmen untuk kembali memperbaikinya. Saling bergenggaman erat memancangkan visi dan misi, saling mengingatkan, saling menguatkan!

Di balik hal-hal kecil itu, sungguh ada selaksa hal-hal manis yang telah kita lalui. Setiap mengingatnya, satu senyum terukir dibibirku. Aku benar-benar bersyukur pernah mengenal dan pernah menjadi bagian dari dikau semua. Sungguh. Ketika qta saling menguatkan, saling menasehati, saling menopang, saling mengokohkan. Sungguh, ketika akhwatifillah memprotes setiap kesalahan2 itu bahkan mengambil tindakan , bukan atas dasar kebencian, melainkan perhatian dan ‘rasa sayang’ terhadap saudaranya. Tidak men-cuekin saudarinya yang tersalah.

Masih lekang di ingatanku, ketika sama-sama qta menjalankan tugas-tugas mulia itu. Masak sama-sama sampai dini hari or begadang untuk acara lamda. Rapat-rapat persiapan acara sampai latihan nasyid bwt FA sampai jam 3 (sampai-sampai dikira suara hantu oleh tetangga, hehehehe), membuat spanduk sederhana dengan kain panjang, membuat bunga yang ditempelin kertas2 kampanye pemira, membuat bendera Palestine bwt symposium, membuat amunisi. Meski, aku orang yang paling sering ketiduran duluan (hehehe, mohon di’afwankan), tapi, aku berdo’a semoga apa yang akhwatifillah lalukan dicatat Allah sebagai suatu kebajikan dan dibalasi-Nya dengan balasan yang setimpal. Bahkan, wismapun sebagai tempat penampungan sementara bagi adek2 MABA dan teman-teman yg kesurupan. (Wah, pertikaian dan pergolakan serta perjuangan itu benar-benar masih sangat panjang ya?? Waktu yg qta punya tidak lebih banyak dari kerja panjang yang harus kita lakukan ya akhwatifillah. >>semoga Allah sematkan keistiqamahan di dada qta<<) Intinya, Aku benar-benar bersyukur pernah menjadi bagian dari dirimu semua. Semua, insya Allah akan menjadi kenangan indah yg akan kucatat sebagai sejarah dalam perjalananku di kehidupan fana ini. Satu kata untuk dirimu semua, aku mencintaimu karena Allah.


S
pecial untuk :
Kak Sulungku; nyang lagi setress sekarang niy. Hehehehe. Diriku sgt mengerti sekali posisimu saat ini, Kak Sulung. Diriku berdo’a, semoga Allah berikan yg terbaik untukmu. Waduh, gak sabaran lagi nih, mau jadi panitia. Hehehehe. Pokoknya, ongkos ke sana gratisan yahh! Itung2, biaya transport buat panitia(hahaha).
But,…sungguh kisahmu telah memberikan begitu banyak hikmah dan begitu banyak inspirasi, bahwa masih ada ‘kemurnian’ itu ketika aku sempat meragukannya.

Ratih, nyang ‘aneh’ bin ajaib. Hehehe, piss Tih. Ratih yang ‘ilmunya segudang, tempat referensi bagi qta-qta.. Sang pemanjat gunung!

Wewen; adequ yg manis (awas kalo GR, hehehe), ceritamu juga begitu banyak memberi inspirasi sekaligus mengingatkan uni. Carito2 boco apo lay, hahaha. Pokok ‘e qta saling mengingatkan yah ewe. Btw, kapan qta ke singgalang trus pulangnya mampir di es krim Andalas?? ^_^

Mega : mantan my roommate nyang “mengerikan”. Hahaha. Becanda’ Meg! Jazakillah, telah mau mendengarkan keluh kesah diriku dan bersedia ‘dirusak pemandanganmu’ oleh diriku. Hehehehe.

Citra : dek bungsuku...semoga lulus SMNPTN tahun depan, dan menjadi dokter, seperti yg dikau cita2kan

Titi : mujahidah tangguh qta yg satu niy..tetep semangat Ti!! Insya Allah, qta akan berbagi cerita lagi. Btw, selamat memeriksa lembar jawaban ajah dehh.. (waduuh, cape’ deeeh!!)

Dhy : the sibukers qta yg pergi pagi pulang malam. Ati2 lohh, entar tepar lagi!!! Nb : kapan ya dhy, qta k kampus gak telat lagi. Ups, emang ada kuliah yg bareng lagi??? Hehehe, mantang2 tahun akhir niy....

Via : nyang luchu abizzz..., tetep jadi anak baek yah Via...hehehehe

Dewi : my new roommate nyang penuh inpirasi, visi, dan misi. Senang pernah mengenal orang yg penuh semangat sepertimu dedew. Jgn lupa kasi smangat terus sm uni yahh...ehm..program qta kapan jalannya nih dew???



Read More

BIARKAN IA LEKANG (1)

Ada satu titik cahaya nun jauh disana. Seperti satu bintang yang bercahaya di gelapnya semesta. Tiba-tiba, bintang itu membesar dan terus membesar, seolah-olah menubrukku. Hey, ada apa ini? Dimana aku?
”Mae, untung kamu sudah sadar!” Teriakkan itu yang pertama kudengar ketika otakku masih sibuk menerka-nerka tentang keberadaanku. Bahkan, mataku masih mengerjap-kerjap, tengah berusaha menyesuaikan ribuan partikel cahaya yang berseliweran.
Wajah Ina yang pertama kali hadir dihadapanku. Berikut peralatan aneh yang melingkupi sekujur tubuhku, pun ditempat yang aneh. Gemuruh koloni-koloni manusia bergerombol di ruangan yang tengah kutempati seperti dengungan lebah.
”Aku di...dimana, Ina?” Tanyaku lemah.
”Kamu di rumah sakit, Mae.” Ujar Ina.
”Rumah sakit?!” Tanyaku terperanjat. Sungguh, ini semua mengherankan. Bagaimana bisa aku berada di rumah sakit? ”Bagaimana mungkin?” Aku berusaha bangkit dari ranjang serba putih.
”Stt..., Mae, kamu gak boleh bangun. Kata dokternya kamu harus ’beres’” Ina menahan tubuhku agar tetap diam.
”Beres? Beres ngapain, Na?” Otakku malah harus bekerja keras memahami maksud kalimat Ina. Padahal, aku sendiri tak mengerti bagaimana aku sampai berada disini. Apalagi rumah sakit. Memangnya aku kenapa?
”Pokoknya harus ”beres” gitu deh kata dokter.” Ina berusaha menjelaskan.
”Apanya yang beres, Na? Uang perawatan disini?”
”Bukan ah! Itu tuh, yang harus istirahat terus di tempat tidur. Pokoknya gak boleh jalan-jalan. Bolehnya Cuma ditempat tidur.”
”Oh,...itu bedrest namanya Ina.” aku pernah mendengar istilah ini di tivi.
”Ya gitu deh...”
”tapi, bagaimana bisa aku sampai di rumah sakit, Na?”
”Wah, kamu pasti lupa ya Mae. Tadi, waktu kita lagi kerja, tiba-tiba kamu pingsan. Ya udah, kami bawa kerumah sakit deh...”
Kucoba mengingat-ingat kejadian yang diceritakan Ina. Ah, iya! Aku baru ingat. Tadi, aku sedang tak enak badan. Demamku naik turun dan badanku terasa sangat pegal-pegal. Tapi, kupaksain pergi kerja. Yah, mau gimana lagi? Kalo’ gak kerja, gimana bisa makan? Dan setelah itu, aku benar-benar tak tahu lagi apa yang terjadi dengan diriku.
”Makasih ya Na udah nganterin aku.” Kutatap gadis lugu, rekan kerjaku itu. Seorang gadis desa yang tak tamat SMP yang benar-benar sangat polos dan apa adanya. Seulas senyum menghiasi bibir kering gadis berponi dengan rambut sebahu yang dikepang dua itu. Lalu, perlahan dia mengangguk.
”Na, gak kerja?”
”Aku dah minta ijin tadi.”
”Oh...gitu.” Aku mengangguk-angguk. ”Eh, yuk kita pulang. Aku mau kerja lagi!” Aku mencoba bangkit.
”Tidak Mae! Sudah kubilang kamu harus ’beres’, eh...maksudku... eng....apa tadi? Bedrest ya?? Iya, kamu harus bedrest!”
”Tapi aku udah gak pa-pa. Liat! Seger kan?” Aku berusaha bangkit dan menampakkan wajah sesegar mungkin. Tapi,...tiba-tiba.....,”Hueee..k.” Lontong yang kutelan tadi pagi sebelum kerja tiba-tiba berhamburan keluar. Tergopoh-gopoh Ina mernyodorkan kantong plastik hitam. Aroma gulai yang amis bercampur zat-zat lain yang sebelumnya berdomisili di lambungku kini berpindah ke kantong hitam yang disodorkan Ina. Gadis itu segera menggosok punggungku hingga adegan yang sangat menyiksa itu berakhir. Oh, betapa melelahkannya.
”Tuh kan, apa kubilang?? Kamu tuh harus ’beres’ eh...bedrest!” Aku tersenyum kecut. Sungguh, adegan barusan cukup menguras begitu banyak tenagaku. Sebab, kalau boleh jujur, aku paling benci dengan sesuatu yang bernama muntah.
”sebentar lagi, kita ke bangsal penyakit dalam. Kamu di rawatnya disana.”
”Emangnya ini dimana?”
”IGD katanya. Aku juga gak ngerti. Tuh, Delima yang ngurusin. Maknya kan pernah dirawat disini.”
”Oo...” Kupejamkan mata. Baru aku sadari betapa sangat lelahnya tubuhku. Bagaikan sebungkus tulang dan daging yang tergelatak begitu saja. Tanpa tenaga. Tanpa daya. Dengan sisa-sisa tenaga, kumencoba berdamai dengan lelah. Hingga, kurasakan ranjang serba putih yang kutempati seperti bergerak, entah kemana, aku tak tahu. Samar kulihat wajah Ina dan Delima, lalu beberapa orang berpakaian serba putih tengah mendorongku, berikut ranjangku ketempat yang aku tak tahu. Mungkin bangsal penyakit dalam, seperti yang dibilang Ina.
* * * * *
Suasana hening ditingkahi siulan jangkrik. Seperti tak mau kalah, beberapa ekor nyamuk pun ikut bernyanyi, berdengung, dan berhasil membangunkanku dari tidur panjang yang sama sekali tak indah. Perasaan tak enak dan seperti ingin muntah kembali menyergapku. Perutku sangat lapar, tapi, nafsu makanku seperti menguap begitu saja.
Kusapu seluruh ruangan dengan pandanganku yang berkunang-kunang dan buram. Di pinggir ranjangku, Ina terlelap dengan posisi duduk dan kepalanya tertelungkup persis disisi badan kerempengku yang tergeletak pasrah. Dengkuran berirama tak beraturan seperti menciptakan melodi tersendiri yang membuat hatiku teriris pilu. Ah Ina, pasti kamu sangat kecape’an.
”Ya Allah.... kumohon, sembuhkanlah orang-orang yang sakit di rumah sakit ini semuanya!” Teriakkan itu tiba-tiba menyentakkanku. Beberapa orang menggeliat, merasa tidurnya terganggu. Tapi kemudian, mereka terlelap lagi.
”Ya Allah! Kumohooo...n!” Teriaknya lagi. Suara itu kini lebih keras. Persis disebelah kanan ranjangku. Seorang wanita muda terilah terisak-isak disana. Tangannya tengadah. Seperti berdo’a. Aku dibuatnya merinding.
”Sudahlah Wati, sudahlah....” seorang wanita setengah baya menghampirinya dengan wajah sangat mengantuk. Wanita itu mengelus bahu sang gadis penuh kasih sayang.
”Tidak Tante. Aku pengin berdo’a.”
”Iya, tapi kamu harus istirahat, sayang.”
”aku pengin berdo’a Tante. Lihat..., Allah pasti akan mengabulkan do’aku!” tiba-tiba dari bibirnya yang ranum menyeringai tawa.
*******
Ada sepuluh orang pengisi bangsal penyakit dalam ini. Di pojok sana, namanya Buk Sani, katanya terkena lever. Kalo’ yang dipojok sebelah kanan, namanya Dini, mahasiswa.


(be continued)
Read More

Gundah di Hati Tiara

GUNDAH DI HATI TIARA

Suntuk!!
Kuhempaskaan buku-buku yang dari tadi memang sudah berantakan diatas meja belajarku. Aku gak tau mesti ngapa-ngapain. Ugh,… udah tiga jam kubahas soal-soal ini, gak satupun dibenakku muncul penyelesaiannya.

Akhirnya, kurebahkan tubuh jangkung ku di atas difan bersprey biru tua di kamar kos2an ukuran 3 x 4 meter ini. Pandangan ku menerawang ke langit-langit kamar. Teringat papa mama yang menitip harapan ketika kaki ini melangkah meninggalkan kampung halaman tercinta demi sebuah cita-cita. Ingatanku kembali melayang pada per cakapan beberapa teman-teman selokalku yang sempat kucuri dengar ketika berada di mushalla kampus.

“ berapa IP lo Ran?”” 3,7”
“wow,,, kereen!!”
“lo brapa?”
“Cuma 3,2”
“kalo’ lo?”
“ aku sih,,, Cuma 2,9”
“lumayan lah”

Hatiku terasa miris. “ ah, mereka gak bersyukur banget sih,, tuh nilai udah tinggi, tauk” hati ku jadi gusar sendiri. Sekaligus iri melihat nilai2 mereka yang bisa dibilang tak mengecewakan.

Jika sudah begini, aku jadi selalu ingin menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku begitu rendah diri dan minder? Kenapa aku begitu tertutup? Kenapa aku tgak bisa interaksi dengan lingkunganku layaknya teman-temanku yang lain? Kenapa, kawanku itu itu hanya mau ngomong denganku seperlunya saja? Kenapa…kenapa…kenapa???

Tiba-tiba aku merasa jadi manusia paling malang didunia. Aku merasa semakin terpuruk. Apalagi semenjak KHS semester ganjil kemaren keluar. Aku merasa aku benar2 tak punya potensi apa2. aku merasa hanya sebagai sampah yg memang gak ada gunanya di dunia. Transkrip nilai yg tak sedap di pandang. Organisasi?? Apalagi!!! Punya teman aja gak, apalagi organisasi.

Ugh… beeteeeeee…..!!!!!

* * *

Dengan sisa hati yang gundah, kuseret langkah menuju kampus pagi ini. Aku sebenarnya sangat tak berselera untuk ke kampus. Tapi, apa hendak dikata? Lagi-lagi aku tercenung di pojok mushalla kampus. Pikiran ku melayang2 entah kemana. Masih terngiang di telinga ku pertanyaan retoris Pembimbing Akademisku “ Nak, kamu ngapain aja selama ini? Kok nilainya seperti ini?”
Aku? Yah… hanya bisa gigit bibir menanggapinya di waktu itu. Dan hampir terbelalak ku tatap KHS di tangan sang PA. nilaiku tak lepas dari range C dan D. paling tinggi Cuma Bahasa Indonesiaa. Itu pun Cuma B minus. Deu… nasakom(nilai satu koma) banget!!!!

Fiuffff…
Ku hembuskan nafas kuat2.melepas gundah yang menyapa jiwa, yang mendera hati. Apa yang salah dari ku???

Bosan dengan itu, kuedarkan pandangan ke seantaro mushalla yang mungil ini. Ku mencari satu sosok yang selalu tersenyum hangat kepadaku. Biasanya dia selalu ada disini jam2 segini bersama Al-Qur’an mininya. Suara merdunya yang membuat aku ter haru, meski hanya diam-diam aku nguping dia yang lagi tilawah. Atau hanya untuk sekedar melihat wajah teduhnya, aku betah berlama2 disini. Maklum, sepertia biasa, aku seolah2 layaknya pengamat sejati yg hanya bisa memonitor dari belakang. Aku tak punya satu orang teman pun tempat berbagi. Sifat pendiam ku yang tlaah mengekang smua itu.

Kembali ku mencaricari dengan sudut mata ku. Aha,, itu dia! Lagi-lagi sedang tilawah. Hmmm… apa sih yang kurang dari dia? Wajahnya sedap dipandang. Hatinya santun. Dia selalu ingain bersahabat dengan siapa saja. Termasuk aku yang hanya seperti ini. IP? Jangan di Tanya! Wisuda kemaren, dia lulus dengan pujian dan menjadi lulusan terbaik fakultas. Cumlaude!!! Lalu apa lagi yang kurang darinya???

“Ada pa dek? Kok kayaknya suntuk banget?” tiba-tiba sosok itu sudah ada disamping ku. Membuyarkan semua lamunanku.
“Eh,..kakak! ah, gak pa-pa. gak papa kok kak” aku tergugup
“ Benar?”
“ Hmmm…gimana yah?”
“Tuh kan!? Hayo… gak boleh boong! Lagi ada masalah kan?”
Ragu kutatap sosok itu. Cerita gak yah????
“ayo lah! Cerita aja!” waaajah itu masih tetap ramah dengan senyum yang hangat. Binar di mata beningnya itu, ah…terlalu bersahabat sekali.
“Hm… kak, tiara minder!
“minder kenapa tiara?”
“ itu,…nilai ku kak,,, ancur smua. Aku memang orang yang tak bisa diharapkan, kak!” gumamku putus asa.
“sttt…gak boleh ngomong kayak gitu!”
“tapi ini bener, kak!”
“tiara sayang,,, tau gak?” kakak itu menaruh kedua tanganya di bahuku. Aku mendongak sedikit pebnasaran.
“apa kak?”
“kakak liat potensi bagus pada diri kamu” katanya datar, tak terlihat berbohong.
“benar kak? Untuk pertama kalinya aku merasa berharga.
“he em” kakak itu mengangguk mantap.
“tapi kak… kakak gak tau gimana tiara”
“emang tiara kenapa?”
“itu, yang tadi tiara bilang. Kakak kan gak tau gimana tiara. Nilai tiara. Gimana tiara dengan teman2. ah, tiara emang gak berguna!” air mata ku yang dari tadi masih berbendung di pelupuk mata, akhirnya jebol juga, membentuk dua anak sungai.
“sttt,,, tiara gak boleh ngomong kayak gitu.” Kali ini kakak itu meraih tanganku dan menggenggamnya erat “kakak mau cerita sesuatu. Tapi, kamu harus janji , klo setelah kakak cerita nantinya, kamu harus bersemangat. Key???”
ragu-ragu kuanggukkan kepalaku.

“tiara tau, gimana kakak 4 tahun yang lalu?” aku menggeleng.
“empat tahun yang lalu kakak bukan seperti kakak yang sekarang. Kakak mungkin lebih buruk dari yang kamu kira. Kakak punya rasa minder yang tinggi dan sulit berinteraksi. Gak hanya itu,kakak juga males2an kuliahnya. Kuliah bolos terus. Titip absenlah. Pura2 sakitlah. Ujian nyonteklah. Nah, pas UAS fisika, kakak benar2 gak siap waktu itu. Kakak mutusin utk membuat catatan kecil yang panjang n bisa dilipat2. pas waktu ujian kakak nyoba nyontek rumus dari situ. Tapi…ketahuan! Kakak langsung di usir ke luar ruangan dan lembaran jawaban kakak disobek. Dan otomatis nilai kakak langsung E! gak hanya itu, catatan kecil itu dipajang di jurusan n foto kakak juga dipajang beserta surat permohonan maaf! Bayangkan, betapa memalukannya!” aku terbelalak mendengar uraian kakak itu. Gak nyangkaaa….

“ kalo tiara dihadapkan diposisi yg sama n andai tiara menjadi kakak di waktu itu, apa yang akan tia lakukan?”
“tiara akan cabut aja kak. Tiara pasti gak bakal pernah menginjakkan kaki di kampus lagi. Atau… bunuh diri aja sekalian!!” kujawab spontan

“kakak juga berpikiran sama dengan kamu waktu itu. Hanya saja itu semua gak kakak lakuin. Kakak dengan muka badak tetap aja datang ke kampus, meski tatapan aneh semua orang selalu menguntit kakak. Kakak merasa dikucilkan dari pergaulan. Pokoknya, smua orang rasanya menilai negative aja terhadap kakak.”

“ kakak benar2 putus asa. Gak tau mesti ngapa2in. mau pulang, takuuut banget. Rasanya almarhum ayah marah banget sama kakak. Kakak takut sekali telah mengecewakan ibu yang udah berharap banyak sama kakak! Hingga beberapa minggu kemudian, PA kakak manggil ke ruangannya. Dari sana lah awal segalanya. Bapak itu, adalah bapak terbaik yg pernah kakak kenal. Jarang2 dosen mau berbaik hati macam beliau. Kakak dikasih nasehat,

“ saya melihat potensi besar pada diri kamu. Khususnya mata kuliah yg saya ajar (waktu itu, kakak emang jago untuk kimia tapi, yang lain benar2 ancur) Tapi sangat disayangkan kamu berbuat demikian. Saaya yakin kamu sedang khilaf. Ya bukan?” pertanyaan bapak itu membuat kakak sedikit bersemangat. Kakak bukannya khilaf, tapi sengaja malah!!

Pesan bapak itu yang paling berkesan sekali adalah
“ nak, satu yang harus diingat, setiap manusia itu telah diberikan Allah potensi. Potensi itu sangat luar biasa sekali. Tapi, amat jarang manusia bersyukur. Kenapa sangat jarang manusia yg bersyukur? Karena sedikit yang mau menghargai potensi itu. Kita semua mungkin sangat tau betaapa luar biasanya potensi itu.

Nak, pikiran kamu itu kini terbelenggu. Kamu selalu merasa gak bisa bukan?? Itu pembelenggu utama yg membuat kamu seperti ini. Bukankah manusia itu seperti apa yang dipikirkannya terhadap dirinya sendiri? Manusia akan membentuk paradigma dalam hidup sesuai dengan apa yang menjadi pola pikirnya. Dan, pola pikir itu yang membuat kamu seperti itu!!

Nak, bumi Allah ini luas. Ayat2 Allah yang bertebaran di muka bumi ini belum terlalu cukup untuk dipelajari. Bukankah Allah telah memberikan penuntunnya di dalam AlQur’an yang kariim? Kitab yang terjaga kemurniannya. Dan kitab itu akan terus dibuktikan2 dan dibuktikan lewat pembuktian ilmiah. Allah sendiri sudah bilang, kalo kelak kebenaran Al Qur’an itu sedikit demi sedikit akan tersibak.

Nak, kita adalah generasi penerus perjuangan itu. Dan kita berkecimpung di dalam dunia yang dekat dengan pembuktian ayat2 Allah bukan?? Lalu, kenapa kita tidak ikut pula menjadi salah satu prajurit-Nya lewat bidang yang kita geluti?

Nak, muraqabatullah! Itulah kuncinya yang belum dimiliki oleh kebanyakan mahasiswa. Rasa bahwasannya kita selalu di awasi oleh Allah. Kalu hanya untuk menjadi sarjana, cara apapun bisa dilakukan. Tapi, setelah itu? Apa kita akan terus-terusan jadi sarjana yang tak tau apa-apa? Nak, di lain pihak, Allah maha tau apa yang kita perbuat. Kita mencontek, mungkin dosen pengawas terkibuli. Tapi, Allah? Apa kita bisa bersembunyi dari Allah? Dan yang lebih ruginya, kita telah mengibuli diri kita sendiri!

Nak, bapak yakin, kamu adalah salah satu dari orang yang akan memngkitkan islam lewat ilmu yang kamu geluti. Bapak sangat yakin sekali itu”

Kakak tercenung mendengar nasehat bapak itu. Ada gemuruh di hati kakak yang membuat kakak terasa ingin bangkit! Tapi, lagi2 kakak merasa tak berguna, mengingat kejadian itu. “ tapi pak, apa semua yang telah saya lakukan ini bisa mengantarkan saya kesana? Bagaimana saya bisa mengembalikan kepercayaan semua orang??? Saya tak yakin dengan itu pak”

“saya berani menjamin!”
“bba..ba..gai mana cc..caranya pak?”
“saya berani menjamin, asalkan kamu mau berjanji pada Allah untuk lebih baik dan memberikan kontribusi bagi tegaknya islam. Asalkan kamu mau merubah paradigma dan cara berpikir kamu bahwasannya kamu memang bisa!!! Kamu sanggup???”
“sanggup pak! Insya Allah saya kan wujudkan itu” kakak teriakkan takbir seraya bergemuruh sebuah spirit baru dalam hati bahwasannya kakak harus berubah. Harus!!!!!!

Ada rasa yang bergemuruh di hati ku. Yah, spirit yang ditularkan sosok di hadapan ku ini. “Allahu akbar! Allahu akbar!!!” gemuruh takbir memecah ruang sunyi di hatiku.

“ kamu mau pula berjanji, kan tiara???”


padang, 23 rabi’ul awwal 1427 H
by, TYF ( thelvi yulea faris)
Read More

KESETIMBANGAN REAKSI ITU TERJADI PADA HATI KITA

”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi penghidupan kepadamu, dan sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (Qs. Al Anfaal [8] : 24)

A + B (reaktan)---> C (product)


Saudaraku, barangkali telah akrab ditelinga kita tentang adanya reaksi kimia dan kesetimbangan reaksi kimia tersebut. Yah, suatu reaktan yang bereaksi akan menghasilkan produk, dan kerap kali untuk mencapai suatu reaksi harus melewati suatu energi aktivasi.

Suatu reaksi yang bersifat refersibel (bolak balik) akan sangat gampang dipengaruhi oleh gaya luar. Pengaruh itu meliputi konsentrasi, suhu, volume, dan tekanan. Saudaraku, ketika salah satunya ditingkatkan, maka akan terjadi pergeseran reaksi hingga kembali dicapai titik setimbang. Jika konsentrasi reaktan ditingkatkan, maka reaksi akan bergeser kearah produk, sehingga tercipta kembali kondisi yang setimbang. Begitu pula halnya jika suhu, tekanan, dan volume ditingkatkan. Masing-masingnya akan mempengaruhi kesetimbangan rekasi kimia.

Saudaraku, demikian pula halnya dengan hati kita. Hati dalam bahasa arab disebut qalb. Secara etimologi, qalb artinya bolak-balik. Artinya, hati adalah sesuatu yang tidak konsisten, sangat gampang diberi pengaruh.

Hati berfungsi untuk memahami ayat-ayat Allah yang terhampar dipermukaan semseta dan termaktub dalam mu’jizat terbesar Rasululla SAW. Yah, karena hati itu sifatnya sensitif, maka seyogyanya dengan hati itu sendiri manusia dapat memahami ayat-ayat-Nya. Dan hati akan selalu diikuti oleh pendengaran, dan penglihatan.

”maka, apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Qs. Al Hajj[22] : 46)

Apapun pengaruh yang diberikan kepada hati, maka ia pasti akan mempengaruhi hati itu. Dari ayat diatas sudah sangat jelas, bahwa yang buta itu ternyata bukan mata sebagai indra, tapi adalah mata hati manusia itu sendiri.

Jika hati senantiasa terpapar zat toksik bernama dosa, maka hati itu akan teroksidasi sehingga yang tersisa adalah karat-karat hitam yang menutupi hati itu sendiri. Secara alami, sesuai dengan sunnatullahnya, segala sesuatu yang teroksidasi pasti meninggalkan karat. Pun demikian halnya dengan hati. Karat itu menutupi mata hati, dan mengalangi masuknya cahaya ilahi. Hingga sensitifitas hati itu menjadi berkurang dan tak lagi bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Tak ada lagi bashirah imaniyah.
”Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (Qs. Al Baqarah [2] : 7)

Sebaliknya, ketika hati itu diberi pengaruh baik, seperti berkumpul dengan orang-orang shaleh, mentadabburi ayat-ayat Allah, dan amalan-amalan lain yang meningkatkan afinitas ruhiyah, maka kesetimbangannnya bergeser ke arah kebaikan.

Sungguh berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ruhiyah bagus itu sedikit banyaknya akan mempengaruhi ruh yang lainnya. Sebab, suatu hati atau ruh itu benar-benar sangat sensitif dan akan mengalami kesetimbangan terus-menerus. Jika diisi maksiat, maka titik hitam bernoda itu akan memberikan kesetimbangan dan sedikit lebih bergeser ke arah kemaksiatan. Dia akan menimbulkan kekeruhan yang membuat hati kelam secara perlahan. Begitupun sebaliknya. Jika dibarengi dengan sesuatu yang meningkatkan afinitas ruhi meskipun hanya bertemu dengan orang-orang yang memiliki energi ruhi yang bagus saja telah memberikan kesetimbangan ke arah kebaikan, apalagi dibarengi dengan saling menyemangati, saling mengingatkan.

Saudaraku, sungguh hati itu benda yang amat-amat sensitif. Tapi, tak sedikit juga yang tak lagi mengacuhkan sensitifitas hati tersebut. Bersyukurlah ketika kita masih dikaruniakan-Nya sensitifitas hati tersebut. Sensitifitas yang gampang mengalami kesetimbangan, sehingga sedikit saja ada noda, akan langsung mengirimkan signal kepada kita, bahwa telah terjadi pergeseran rekasi ke arah keburukan. Sensitifitas hati akan menjadi reminder dikala kita lupa. Sungguh, sebuah rasa bersalah, sebuah rasa tak enak ketika kita melakukan suatu keburukan itu akan menjadi pengingat bagi kita. Jangan pernah abaikan bisikan-bisikan hati ini, sebab, jika kita mengabaikannya, bisa jadi syetan mengambil celah untuk membuat kita terlena sehingga tak lagi mengacuhkan panggilan-panggilan hati tersebut. Sehingga kita menjadi kebal dengan panggilan-[anggilan hati ini. Kita tetap saja berbuat dosa meskipun hati telah mengingatkan, maka justru ini semua yang membuat hati itu menjadi kelam. Sudah menjadi sunnatullahnya, segala sesuatu akan melakukan adaptasi terhadap lingkungannya. Pun begitu halnya dengan hati. Jika ia terus-menerus diabaikan, diapun akan berorientasi sehingga kita tak lagi peka terhadap peringatan-peringatan dari hati kita. Dan, inilah hati orang-orang yang tertutup, hati yang tidak lagi sensitif dengan maksiat. Ia telah beradaptasi dengan maksiat sehingga apapun kebaikan takkan sanggup menembusnya.


Sungguh, sensitifitas hati itu akan menurunkan Energi aktivasi. Energi aktivasi adalah besarnya energi agar suatu reaksi dapat berjalan sempurna. Lihatlah, ketika sensitifitas hati itu tak ada, maka puncak Ea (energi aktivasi) lebih besar sehingga reaksi sulit berjalan, sehingga tak ada lagi reminder kepada diri kita untuk segera menghentikannya. Berbeda dengan orang yang memiliki sensitifitas hati, dengan Ea yang kecil, dia sudah dapat bereaksi menjadi reminder bagi diri kita.
Saudaraku, sungguh antara kita dan hati kita sendiri ada hijab. Bukankah Allah telah membatasi antara manusia dengan hatinya? Maka, semoga hati kita adalah hati yang senantiasa diarahkannya kepada kebaikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang masih sensitif hatinya terhadap kemaksiatan sehingga ketika sedikit saja terkontaminasi, telah memberi ”alert” terhadap diri kita. Semoga hati kita bukanlah hati yang tidak lagi peka, dan sudah beradaptasi dengan maksiat sehingga karatnya semakin menutupi dan menghalangi cahaya masuk ke hati. Na’udzubillah...

Yaa muqallibal quluub, tsabit qalbii ’alaa diinik wa tho’aatik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu.”
Read More

puisi

Tak Bernama (1)[1]

Kubertanya pada asa,
masih adakah cercah harap yang tersisa
Kubertanya pada kisi,
masihkah ada berkas pelita dalam gulita

Ada maya,
ada penumbra
Aku di antara keduanya
Pada sesuatu yang tak bernama


Tak Bernama (2)

Andai bisa menguap, ingin aku membersamai asap
Jika mampu menyublim, sungguh pintaku bersama embun
Ah, kalau saja aku bisa menghilang,
kumau dunia tak lagi memelukku

Biarkan aku menjadi maya,
biarkan aku menjadi penumbra,
biarkan aku berlalu dengan sejumput remah puing hati
Keping mozaik itu takkan terbangun,
takkan pernah!

Sebab aku, pada sesuatu yang tak bernama

Wisma Syakuro, Muharram 1430 H
[1] My First Poem setelah 6 tahun lalu
Read More

In Reduction Of My Age

>>Dalam Rangka berkurangnya jatah hidupku di zona dua dua<<




Insya Allah, dua minggu lagi, aku memasuki zona dua-dua. Sebuah zona di mana usia demikian bukan lagi zona masa remaja yang di masa itu dapat tumbuh berbagai macam bentuk warna hidup >>sebagian orang menyebutnya : mencari jati diri<< tapi, sebuah pengokohan langkah untuk berpijak. Mungkin, ini pula masanya bagiku untuk mengokohkan landasan berpijak itu. Agar tak gamang menapaki masa depan yang panjang. Sungguh-sungguh sangat panjang. Masa di mana semuanya harus dipertanggungjawabkan. Segala sesuatu memiliki nilai kuantitas dan terukur. Tak ada satu per sejuta detik pun yang luput dari pengawasan. Dan bukankah dibutuhkan perbekalan yang cukup untuk menjejaki langkah panjang itu?


Mungkin ini pula masanya bagiku untuk merapihkan folder hidupku yang sempat berantakan. Pada fase ‘masa degradasi’-ku. Pada ketidakberaturan planning dan masterplan perjalanan ini. Pada grandesign yang hanya tinggal catatan di atas kertas, sementara aku pula yang menjadi paling pertama ‘melanggarnya’.


Pasca diskusi dengan akhwat (yang kucintai karena Allah, semuanya!) ada banyak inspirasi yang kuperoleh. Sungguh beruntung rasanya ketika Allah anugrahkan aku sahabat-sahabat, yang mengingatkanku ketika lalai, menguatkanku ketika lemah, mengokohkanku ketika goyah dan menopangku ketika nyaris berguling jatuh. >>mungkin, itu pula hikmah dan berkahnya berkumpul dengan pribadi-pribadi luar biasa seperti mereka, di wismaku tercinta. Dan sungguh, nikmat ukhuwah itu tidak terbeli dengan apapun. Bukankah ukhuwah itu pula yang menggentarkan kaum kafir?<<


Ada banyak hal yang ingin menjadi catatan penting dalam hidupku. Pertama, barangkali yang harus ku-delete itu adalah folder lama yang berantakkan. Yang mengotori hatiku. Kalau boleh aku membahasakannya, sesuatu yang telah merusak lebih dari separuh hatiku. Yah,… merusak dan menggerogoti hingga jauh ke dalamnya. Hingga pada jaringannya bahkan pada sel-selnya. Ada banyak sel-sel ruh di hatiku yang tiba-tiba menjadi mati karena kurangnya asupan oksigen ruh dan betapa amat sangat sering terpapar zat toksik >>dengan banyaknya interaksi tak penting dan hal-hal laghwu lainnya<<. Baiklah, aku ingin men-delete semua folder itu berikut semua konten yang ada di dalamnya. Biarkanlah ia menjadi sebingkai masa lalu. Biarlah tersimpan pada pigura dan tetap menjadi milik masa lalu. Terlalu picik rasanya tetap berkutat dengan masa lalu, sementara ada perjalanan panjang lagi yang harus kutempuh. Dan naifnya lagi, itu semua menghabiskan banyak energy yang semestinya bisa kugunakan untuk hal-hal yang lebih mendatangkan manfaat. Jadi, barangkali adalah langkah bijak untuk membingkainya. Memperlakukannya sebagaimana layaknya masa lalu.


>>>Oh, sungguh kisah itu telah banyak menginspirasiku. Sungguh. Tak pandai aku mebahasakannya lagi. Insya Allah, masih ada orang-orang yang menjaga seperti itu, dan prosesnya pun diawali dengan sesuatu yang benar. Insya Allah, pun ketika menjalaninya akan banyak keberkahan yang akan diperoleh. Orang-orang yang menjaga dirinya untuk Allah. Alangkah naifnya, jika aku adalah salah satu dari orang-orang yang ikut menorehkan tinta kotor itu pada kemuliaan wasilah ini. Alangkah naifnya.<<<


Baiklah, dari sini, langkah ini kumulai. Insya Allah, belum terlambat untuk memulai semuanya kembali. Melakukan refresh terhadap ‘kekacauan-kekacauan’ yang terjadi.


Lalu, setelah semua folder itu rapih dan terbebas dari infeksi virus ganas yang sangat sering me-restart ruh, langkah selanjutnya adalah membuat folder-folder perencanaan baru. Folder-folder akan menjadi titik tolak perjalanan ini. Allahu akbar!!!


Aku percaya, setiap orang berhak untuk menjadi pribadi LUAR BIASA! Insya Allah, tak ada pengecualian untuk ini semua. Setiap orang sama-sama punya jatah 24 jam. Sama. Namun, kenapa dalam jangka (t) yang sama, out put yang dihasilkan varitatif? Berbeda dengan angka yang sangat signifikan. Mengapa? Bukankah potensi dan energy awal (Eo) yang dimiliki setiap orang juga sama. Lalu, di mana letaknya simpangan baku yang begitu besar itu? Pada usaha (W) kah?


Aku tak ingin berspekulasi dengan rumusan fisika saat ini >>meski pun sebenarnya menurutku, segala peristiwa di alam ini yang dirumuskan dalam sebuah persamaan matematis itu, juga merupakan sebuah penyederhanaan konsep hidup<<. Apapun itu, yang jelas setiap orang siapapun dia, apapun latar belakang kehidupannya, apapun sukunya, agamanya, rasnya, gendernya, berpotensi untuk menjadi ORANG BESAR. Orang-orang yang tercatat pada sejarah peradaban. >>ijinkan aku membahasakannya sebagai salah satu amal jariyah; ‘ilmu yang bermanfaat, yang mengalir pahalanya sepanjang masa<<. Sungguh banyak orang yang hidup dengan teramat apa adanya, lalu kemudian ia mati. Yah, hidupnya hanya sampai di sana saja. Tak ada sesuatu yang ia tinggalkan. Dan, ia kemudian lenyap ditelan sejarah. Berbeda dengan orang-orang yang telah mengukir dan telah menorehkan pahatan di sejatinya masa. Tak pernah lekang, meski ia telah menjadi belulang di dalam perut bumi. Tetap saja ia menjadi orang yang dikenang.


Aku teramat sangat yakin, setelah masa ini berlalu, --saat di mana ummat besar ini bagaikan buih di tepi lautan, yang banyak tapi tak memiliki sedikitpun kekuatan-- akan datang suatu masa yang besar. Yah, aku percaya KEBANGKITAN UMMAT ISLAM ITU PASTI AKAN DATANG! Insya Allah. Lalu, apakah aku akan menjadi penonton saja atau ikut mengambil peran di sana? Apakah aku akan menjadi pelaku atau orang yang ‘diperlakukan’? Tidak! Siapa pun pasti ingin berkontribusi untuk kemenangan itu. Siapa pun pasti ingin menjadi actor! Aku pun, sangat ingin. Aku pun sangat rindu, pada masa di mana semua orang dengan bangga berkata; “Saksikanlah bahwa aku adalah seoang muslim!”. Pada masa di mana semua orang tak lagi malu dan minder dengan identitas kemuslimannya. Pada masa di mana yang berlaku adalah hukum-hukum Allah. Pada masa di mana kesejahteraan itu telah mencapai titik eustatik. Yah, pada titik stabil.


Maka, mulai saat ini, kupancangkan tekad, bahwa titik dua-dua adalah titik tolak awal perubahan ini sebagai batu loncatan menuju kebangkitan itu. Bahwasannya, perubahan itu semestinya dimulai dari diri pribadi terlebih dahulu. Yah, setiap pribadi. Bukan satu dua saja. Aku percaya, bahwa insya Allah, jika optimis, semua itu akan terwujud. Kalau pun pada akhirnya bukan aku yang akan menjadi penikmat masa itu, setidaknya ada tindakan kecil yang telah kulakukan.


Perkataan seorang ustadz di sebuah pertemuan (yang diredhai Allah, insya Allah) telah menjadi inspirasi bagiku. Panjang pendeknya nafas perjalananmu, tergantung sejauh mana cita-citamu. Yak, benar. Jika aku hanya bercita-cita untuk perjalanan satu amstrong, maka daya upaya, perbekalan, dan persiapan yang kulakukan tentulah hanya untuk satu amstong saja. Akan sangat berbeda, jika cita-cita perjalananku adalah satu mil. Apalagi cita-cita perjalanan itu lebih panjang. Sesuatu yang tidak bisa ditara lagi dengan ukuran-ukuran matematis dunia. Bukan, bukan maya. Ia adalah perjalanan yang nyata. Tapi, satuannya saja yang tak ada. Sebab, ia tak lagi bisa ditakar dengan meteran dunia. Sehebat apapun kurva kalibrasinya, tetap saja tidak akan ada data yang bisa diektrapolasi untuk satuan masa itu.


Baiklah, in reduction of my age, aku ingin menapaki langkah baru, insya Allah. Dan, tiadalah kekuatan itu melainkan milik-Nya. Faazzamta fataqqal ilallah…


Allahu’alam bishowab


Read More

VIRUS MERAH JAMBU

Cerpen (edisi khusus)

Vi Em Jie lagi????

Suatu hari, dua orang akhwat tengah berbincang-bincang dan mengeluarkan uneg-uneg mereka. Mereka adalah Naya dan Putri. Naya adalah pengurus BEM KM Unand dan Putri adalah pengurus FKI Rabbani Unand.
Ketika menuruni tangga, kedua gadis belia itu berpapasan dengan seorang ikhwan. Tapi,....tapi..., tunggu dulu? Kenapa dia seperti berwajah sungkan, bukan karena ketawadhu’an, tapi, seperti seseorang pemegang rahasia yang rahasia itu ketahuan. Dan..., dan...siapa akhwat yang jalan di belakangnya? Jalan barengkah mereka? Pacaran? Sungguh-sungguh tak enak untuk dilihat!
Ah, mungkin mereka sudah walimahan kali. Atau, saudari kandungnya?
Gadis itu berusaha untuk membuang jauh-jauh prasangka buruknya. Terlalu dini untuk menduga. Bukankah sebagian dari prasangka adalah dosa? Tabayyun terlebih dahulu tentu akan lebih baik.
”Naya..., pasti lagi mikirin ikhwan dan akhwat yang lewat barusan. Iya kan?” Putri menebak pikiran Naya.
”Hmm... iya sih.”
”Pemandangan yang sangat riskan bukan?”
”Mana tau, mereka udah walimahan.” Naya mencoba menanggapi, walau sebenarnya hatinya mengakui pernyataan Putri yang lebih mengarah kepada sangkaan buruk itu.
”Mereka seniorku. Belum walimahan.” Ujar Putri datar sambil memandang laut lepas dari puncak bukit Limau Manih. Mereka kini telah berada di belakang PKM, dekat Asrama Putri Unand. Angin segar bertiup dari arah lautan membuat jilbab mereka berkibar. Sungguh, pemandangan yang menakjubkan sekaligus membuat fikiran yang jenuh menjadi segar. Maka, syukur sudah selayaknya membasahi bibir setiap insan atas begitu besarnya nikmat yang diberikan-Nya.
”Dahulu, ketika awal masuk, aku kagum dengan kakak akhwat tersebut. Kalau boleh dibilang, kakak itu adalah representasi akhwat militan di Fakultas Hukum. Aku, bahkan sampai menganggap kakak itu nyaris sempurna. Selain militan, pintar, anak orang kaya, anggun, juga pandai menjaga hijab. Aku masih ingat bagaimana nasehatnya ketika kami pengadakan pertemuan antar sesama akhwat sefakultas. Tapi, jika dilihat sekarang kondisinya, aku lebih menilai semua itu hanya sekedar lips service saja.” Putri mengeluarkan uneg-unegnya. ”Ini semua, sebenarnya membuatku cukup jenuh dan membuatku ingin kembali ke masa-masa pertama kali ketika aku mengenal islam lebih mendalam.”
Ya, Miris! Kondisi yang sangat memilukan!
”Ya. Naya sebenarnya juga merasakan hal yang sama.”
”Tau gak Naya, Hal ini pula yang membuatku syok ketika memasuki dunia kampus dengan interaksinya yang begitu cair dan terkadang begitu dekat. Hingga masa-masa SMA seringkali begitu kurindukan. Dulu, waktu di SMA, aku merasakan hijab yang begitu kental. Bahkan, jika bertemupun, kami jarang bertegur sapa dan lebih banyak menghindar. Padahal, jika dibandingkan tingkat pemikiran antara anak SMA dan mahasiswa yang sudah tertarbiyah dengan baik, tentulah mahasiswa jauh lebih paham. Walau ada juga kekurangan dari semua ini, yaitu amal jama’i terasa sangat kaku. Entah karena bi’ah islamiyah yang terbentuk di Rohis kali ya?”
Putri melanjutkan curhatnya. ”Waktu terus berjalan, dan kondisi hijab yang kian cair saat ini. Okelah kita memaklumi adanya kondisi yang begitu heterogen membuat semua kita harus lebih konvergen dalam menyikapi sesuatu. Pintu-pintu hijab yang tadinya tertutup rapat, perlahan mulai terbuka perlahan-lahan. Kerja-kerja jama’i menjadi hal yang tidak terlalu sulit dan kaku serta beku seperti dulu. Syuro-syuro ikhwan akhwat adalah hal yang biasa. Namun, perlahan qadhaya-qadhaya mulai bermunculan, syuro berdua ikhwan dan akhwat dengan dalih amniah (terlebih tanpa hijab yang memadai, dan bukan dalam kondisi darurat), obrolan-obrolan tidak penting yang mulai sering dilontarkan, ghadul bashar yang perlahan ditinggalkan. Virus-virus Merah Jambu mulai bertebaran, dan proses pernikahan yang tidak Islami dimulai dari sini.”
” Tapi... walau bagaimana pun tak bisa pula dipungkiri, akhwat mempunyai potensi fitnah yang teramat besar. Entahlah, namun terkadang apapun dari diri seorang wanita tampak begitu menarik. Suaranya, lemah lembut mengundang fitnah, tegaspun terkadang membuat penasaran. Tapi, kondisi itu semua tidakkah menjadi alert bagi hati kita untuk lebih wara’ dan waspada. Bukankah itu semua semata untuk menjaga diri, menjaga hati, dan menjaga kehormatan, izzah akhwat itu sendiri?”
”Naya juga merasakan seperti ada dilatasi, ada pergeseran makna yang sangat signifikan. Naya sebenarnya sangat kecewa dengan kondisi di BEM, atau di lembaga kemahasiswaan lainnya. Seoah-olah, hijab tak lagi menjadi benteng utama. Canda-canda yang begitu cair antara ikhwan dan akhwat adalah hal yang lumrah. Naya bahkan sempat mendengar adanya celoteh dari teman-teman lain, dia bilang gini, ’dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan, namun kini mereka sama saja dengan kami. Apa bedanya orang-orang yang berjilbab lebar atau yang jenggotan dengan mengatung dengan ’kami’, jika sikap mereka kayak gitu’.”
”Bukan hanya BEM dengan tingkat heterogenitas yang tinggi. Bahkan dilingkungan LDK/LDF sendiri!” Putri segera menimpali. ”Hal ini juga linier dengan penurunan kualitas ADK itu sendiri, baik disegi ruhiyah maupun fikroh. Bahkan, saat ini halaqah bukan lagi menjadi kebutuhan kebutuhan, melainkan sambilan atau tempat mampir sepulang dari kuliah. Membina bukan lagi menjadi kewajiban tetapi paksaan atau beban yang memberatkan. Dauroh dan Tatsqifpun bukan lagi menjadi sarana untuk meningkatkan tsaqofah keislaman yang sangat dibutuhkan, tetapi program-program yang dipaksakan. Itupun diikuti dengan hati berat dan ngantuk ketika materi berlangsung.”
”Tapi, Put, bukankah rasa ketertarikan antara ikhwan dan akhwat itu juga adalah sebuah hal niscaya yang tak mungkin bisa dinafikan?”
”Yah, kita bukan malaikat. Kita juga punya rasa ketertarikan dan kecendrungan. Medan ketertarikan antara ikhwan akhwat itu jauh lebih besar dibanding antara akhwat dengan teman-teman lain, setampan apa pun dia, atau sebaliknya, ikhwan terhadap wanita cantik, secantik apapun apapun dia. Walau tak bisa pula dibilang tak mungkin hal itu terjadi. Namun, kebanyakan orang-orang, tertarik kepada orang lain tergantung orientasi terbesar yang ada dalam dirinya. Seseorang akan tertarik, jika ada persamaan antara mereka, seperti fikrohnya, fisiknya, kecerdasannya, atau apapun itu.”
”Lalu?”
”Setiap orang punya kisah yang berbeda, bukan? Bohong, jika ada yang tak mengakui kalau dia tak merasakan hal-hal tersebut. Apalagi, medan sekarang yang terlalu global, dengan kondisi hijab yang juga sangat memprihatinkan. Tapi, masalah yang paling banyak adalah penyikapan yang salah terhadap perasaan itu. Apalagi, ada feedback, ada respon balik. Percayalah, jika setiap orang mau bertanya pada hati terdalam mereka masing-masing, maka sungguh mereka akan menemukan jawaban yang sesungguhnya. Bahwa, ada rasa bersalah ketika interaksinya tidak lagi dikoridor syar’i dalam kepentingan da’wah, bahwasannya ada rasa malu yang teramat sangat jika berjalan berduaan dengan yang bukan mahrom sebelum menikah, bahwasannya ada rasa tak enak ketika SMS-an dengan lawan jenis hanya untuk bercanda-canda dan hal-hal yang tak penting. Itu semua, bagi orang yang sensitifitas hatinya masih peka.”
”Oya, satu hal lagi. Aku melihat fenomena yang mulai janggal. Masih dengan topik yang sama, hanya saja versinya berbeda. Ada pula sebagian yang bersikap cair sama teman-teman ammah, tapi, giliran ke akhwat dia godhul bashor, bener-bener kayak tembok yang tak bisa ditembus siapa pun. Mestinya kan proporsional ya?? Bukankah teman-teman kebanyakan itu juga perempuan yang sama-sama berpeluang untuk menimbulkan fitnah. Lain lagi, dengan kakak senior yang merasa ’udah senior’ yang sikapnya ke junior beda jenis cair banget! Maksudnya disini, dari senior akhwat ke junior ikhwan. Ngerasa n mengangap sebagai adek gituh. Tapi, Seolah-olah hijab tuh gak ada lagi, kendatipun dari senior ke junior. Siapa yang bisa jamin hati kita tetap akan bersih, coba? Lagian, selisih umur 2 atau 3 bahkan 4 tahunpun bukan rentang yang panjang, bukan?”
Naya bungkam dengan apa yang disampaikan Putri. Gadis itu bisa merasakan resah dari hati bening milik Putri yang juga ia temukan resah itu di hatinya. Ia, Putri, dan seluruh ADK bukanlah manusia yang sempurna yang tak bisa menjamin hati masing-masing. Bukan! Sama sekali bukan. Maka, mintalah penjagaan dari Allah, jagalah Allah dihati.
Jagalah Allah ,maka niscaya Ia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu; jika engkau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah…. ( H.R Tirmidzi ). Karena dengan tetap bersama Allah, kita dapat bertanya kepada hati kita saat mulai melangkah menjauh dari jalanNya. Dengan bersama Allah, maka Dia akan menjaga kita apakah lewat saudara-saudara di sekitar kita yang tetap mengingatkan kita. Sebab, hak saudara terhadap saudara lainnya yaitu nasehat menasehati karena Allah. Dalam sebuah hadits, dikatakan bahwa Allah berfirman: ”Jika Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, menjadi tangan yang ia memukul dengannya, sebagi kaki yang ia berjalan dengannya...” (HR. Bukhari)
Kasus itu, sebenarnya hanya sekelumit saja. Hanya sampel diantara begitu banyak akktivis da’wah lainnya yang masih memegang teguh kemurnian da’wah dan hakikat hijab yang sesungguhnya. Namun, sering kali, yang sedikit itu meninggalkan noda yang begitu besar terhadap da’wah.
Perasaan cendrung, adalah fithrah, dan merupakan sesuatu yang absurd untuk dimatikan, dibunuh, dan dienyahkan. Jika di Unand ini ada dua ribuan ADK, maka pasti ada dua ribuan pula kisah ’cinta yang fithrah’ itu. Namun, kondisi yang telah mengalami dilatasi itu sedikit banyaknya telah menciptakan moreng di wajah da’wah. Apalagi kasus itu telah begitu menjamur, dan...na’udzubillah, mulai dianggap sebagai hal yang biasa. Dan, pelakunya sendiri adalah orang-orang yang dengan pemahaman yang bagus dan tertarbiyah dengan baik. Kondisi miris, yang hanya sekelumit itu, tanpa disadari akan mengotori hampir keseluruhan ’bangunan suci’ bernama da’wah yang dari dahulu berusaha kita dan para pendahulu kita rintis bersama dengan keringat, air mata, bahkan darah.
Dan, satu hal lagi yang terkadang jarang disadari, bukankah khudwah adalah da’wah yang utama? Dan, bukankah, orang menilai dengan ’menggeneralisasi’ bahwa aktivis da’wah itu secara awam dinilai sebagai ’orang yang faham, yang tak mungkin akan melakukan hal-hal yang dilarang agama (walau, mustahil juga ADK tidak berbuat dosa). Lalu, ketika ada sekelumit oknum saja, yang berbuat kesalahan yang dilihat oleh banyak orang, --seperti kisah ikhwan dan akhwat tersebut--, maka orang akan menggeneralisasi bahwa semua ikhwan akhwat sama saja perangainya. Sedangkan aktivis da’wah aja begitu!? Masak sih kita ga boleh juga?! Bukankah itu semua akan menjadi pembenaran bagi orang lain? Lalu, apa gunanya lagi ikhwan/akhwat kita menyerukan suara kebenaran, bahwa pacaran itu haram, sementara saudaranya sendiri ’pacaran’, walau katanya sih, versinya ikhwan-akhwat. Sungguh naif!
Saatnya untuk kembali ke ashalah. Kembali, kepada kemurnian yang sesungguhnya. Begitu banyaknya media terutama buku bacaan, terkadang membuat kita sulit membedakan, manakah yang memang benar-benar murni mengajak kita kepada jalan yang hanif, dan mana cerita yang sebenarnya mengumbar syahwat, yang dikemas dengan gaya islami. Bayak sekali cerita-cerita yang berkedok islami, tapi, isinya na’udzubillah..., sama saja membenarkan tindakan nafsu syahwat. Kalaupun ingin mengungkapkan fakta dan kebenaran, maka seharusnya isi cerita itu tidak mengarahkan kepada hal-hal yang justru sebenarnya dilarang dengan disamarkan dengan topeng religius.
Yah, kembali ke Ashalah, makna dan penyikapan cinta yang sebenarnya. Sebab, kasus ini benar-benar telah menginvasi da’wah dari dalam. Seperti sel kanker yang sedang bertumbuh, yang jika tidak cepat-cepat dideteksi dan dipangkas dari sekarang, akan menyebar ke sel-sel sehat lainnya. Okelah, sekarang, kasusnya masih sedikit, tapi, bisa jadi suatu saat, --tanpa kita sadari--, telah mencapai stadium empat yang sulit untuk disembuhkan lagi, karena, yang awalnya masih murni, tak terkontaminasi, kini ikut terinfeksi dengan adanya pembenaran-pembenaran terhadap tindakan -tindakan yang mulai melenceng dari rel.
”Naya, ’afwan, aku harus balik ke sekre lagi nih. Mau rapat keputrian.”
”Oh...ya,..ya, tafadhol. Syukran yah, atas nasehatnya.”
“’Afwan. Sebenarnya, untuk menasehati diri sendiri kok.” Gadis itu tersenyum tulus. “Jika suatu saat, aku berada diposisi kakak seniorku itu, tolong diingatkan saja yah. Tak ada yang bisa jamin hati kita selain Allah kan? Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
Sepeninggal Putri, Naya kembali tercenung. Tatapannya masih menyapu laut lepas yang terlihat biru berkilau-kilau diterpa sinaran mentari. Gumpalan awan menaungi lautan itu semakin membuat pemandangan lanskap itu terlihat menawan.
Panggilan adzan dari arah mesjid Nurul ’ilmi menyudahi lamunannya. Gadis itu beranjak. Meninggalkan sejumput asa yang menggumpal di dadanya. Segera ia mengistijabah panggilan Rabb, pemilik semesta.
***
Di lain kesempatan,
Secretariat BEM KM UNAND
”Mau kemana Kak?” Naya mendapati satu akhwat yang juga berkiprah di BEM yang wajahnya basah dengan wudhu’. Jam berapa ini? Masya Allah, jam 5 sore. Tapi, kok kakak itu...
”Mau shalat dulu.”
”Shalat?” Naya bertanya heran. Setengah terkejut. Masak sih jam segini baru shalat?
”Saya tadi rapat bareng ammah ukhti, jadi baru sempat shalat sekarang.” Sang Akhwat seolah mengerti keheranan Naya.
Masya Allah! Haruskah mengorbankan Allah? Padahal, justru ruhiyah yang bagus yang akan memberi kekuatan. Lha, kalau amalan yaumi sendiri sudah keteteran?
Memang, waktu yang tersedia adalah tidak lebih banyak dibanding agenda da’wah yang datang bertubi-tubi namun, kalau dilihat kondisi banyak saudara disamping kita, sungguh Naya merasa amat miris. Barangkali Naya juga. Bolak-balik sana sini, SMS sini situ, telpon sana sini, dan masih banyak sana sini lainnya, untuk da’wah katanya. Bagus memang, tapi, benarkah begitu?
Tanpa disadari, ternyata banyak yang terjebak agenda semacam ini. Akhirnya bagaimana? Katanya tuntutan profesinalitas, ibadah pun tergilas. Profersionalitas sempit kali ya? Apakah ini yang dimaksudkan ”rijal-rijal yang telah menjadi buih?” dulunya militan abis, sekarang, abislah militan. Nau’dzubillahi min dzalik.
Jika mesin butuh tambahan bahan bakar untuk dapat terus melaju, pun demikian, bahkan lebih dengan jiwa ini. Sungguh Allah lebih butuh bagi kita untuk diperhatikan. Semoga Naya termasuk orang yang menjaga Allah. ”Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.”
Argumen-argumen itu bermunculan di relung fikirnya. Tiba-tiba, gadis itu merasa seolah-olah ada kekuatan energi yang menjadi dopping bagi ruhiyahnya. Gadis itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan beberapa saat kemudian mulai tenggelam dengan tilawah Qur’an.
***
Be continue dengan kisah-kisah Naya yang lain....Sabar yaa nunggunya…hehehehe…
Nb: Kita saling mengingatkan ya Akhwat, jika nasehat adalah hak saudarimu, maka sudah menjadi kewajiban bagimu untuk memberikannya.

Dikutip dari Novel ”Rapsodi Sepotong Hati”, karangan Urang Keren Dari Syakuro
Read More

EPISODE TIGA MANUSIA

Episode Badu
"sialan tuh cewek!" Badu mengumpat keras persisi di gerbang kampus Ganesha yang selalu ramai oleh mahasiswa ini. wajah badu benar-benar terlihat sangat kesal dan marah. kemarahan itu sudah mencapai ubun-ubunnya.

badu berjalan sambil menendang apa saja yang ada di jalan. baik itu batu kecil, sampah minuman mineral, atau apa saja yang bisa ditendangnya. sampai-sampai batu runcingpun ikut jadi sasaran. namun, bukannya kecewa yang terlampiaskan, malah kainya kini berdarah.
kenapa? pasalnya, Mawar, ceweknya sejak setahun yg lalu tiba-tiba dilihatnya bersama orang lain (temannya sendiri pula!!!!) siapa yg ga kesal????

ingatannya melayang kepada kejadian beberapa minggu yg lalu, saat dia baru saja hendak melangkah dari ruang kuliah, dilihatnya wajah yang tak asing itu sedang berduaan dengan orang yang juga tak asing, teman se kosnya!
"Mawar???" badu terperangah. yg dipanggil malah cuek saja sambil senyum mengejek."teganya dikau!!!" badu masih sempat berbahasa puitis.
"Emang salah ya Mas? lo udah ga bisa diharapkan tuh!" mawar berkata sinis.

kembali badu menendang kerikil. kali ini lebih keras, hingga mengenai kepala satu orang mahasiswi. kontan mahasiswi itu marah. namun, badu tak peduli.
"hey..hey... mas! tahan dulu." tiga orang menghentikan langkahnya. tiga orang itu membopong tubuh penuh perasaan tertekan dan depresi itu.
"Sapa lo?" tanya badu serak.
"Lo ga usah takut deh. yang penting, gue akan bawa lo kepada kebahagiaan. "
"kebahagiaan? "
"Iya. lo ga percaya? ikut deh ama kita-kita." sambung yang satu lagi sambil melempar bahasa isyarat kepada temannya.
badu pasrah saja. asal ada yg mau membahagiaakannya, dia akan ikut. yang ada di benakknya hanya satu yaitu melupakan Mawar!

mereka membawa badu ke suatu kafe full musik dan 'aksesori2' lainnya. badu sih cuek aja, soalnya juga udah pernah ke tempat beginian meski masih coba-coba. disana badu ditawarin satu pil berwarna putih. awalnya dia ragu, namun, akhirnya dengan seteguk air, pil itu masuk saluran pencernaannya.

dalam beberapa menit, pemuda otu mulai merasakan kebahagian. serasa ke negri awan deh pokoknya. mawar? udah lupa tuh. badu benar-0benar merasakan dirinya fly, tanpa beban, tanpa masalah. pokoknya enak dah!!!

episode melati
"ayolah mel,... jangan kuper gitu donk." teman-teman se-ganknya merajuk.
"masak lo ga mau punya cowok siy? menyenangkan loh! lo bisa kemana-mana gratis. ada yg ngelonin deh pokoknya." yang lain ikut mendorong. si melati kebingungan. setahunya, pacaran itu kana ga boleh ya? tapi,... gimana ya?????
"alah! lo payah mel!" mereka berujar serempak. melati masih bingung, namun dia kukuh untuk ga bakalan pacaran. ga akan! kagak peduli apapun kata orang-orang!

selang beberapa waktu kemudian, sesuatu terjadi. (ternyata hati manusia itu bolak balik ya???)
waktu nungguin bus kampus menuju markas power ranger --kata orang-orang- - satu corolla mengkilap lewat. melati siy awalnya kagak peduli. abis, dah biasa siy berebutan bus kampus bersama ratusan mahasiswa lainnya di jam rawan. jam 8 pagi. tiba-tiba spion corolla mengkilap itu turun.
"Hey. melati kan?" tanya seseorang dari dalam. untuk sekian detik gadis itu terperangah. bukan hanya karena yang punya corolla tahu namanya, tapi, juga wajah "pierce brosnan' made ini padang itu yg membuat dia beberapa saat terpana.
"Kok bengong?" tanya si "pierce brosnan"
"Ka-..kamu siapa?"
"Aku dudu, temennya anggrek, kawan segank mu itu."
"oh.."
"Yuk bareng. pasti udah telat?" Dudu membukakan pintu.
melati naik. dan corolla itu pun melaju, meninggalkan ratusan mahasiswa lainnya yang masih berharap-harap iring-iringan bus putih datang.
"Jurusan apa melati?" tanya dudu.
"Sosial ekonomi peternakan."
"oh.." si dudu tersenyum. walah!!! melati kebat-kebit! daaa..n, melayang!

episode baba
"banci lo Ba!"
baba meradang karena dipanas-panasi begitu oleh rekan-rekan seangkatannya. mahasiswa arsitektur kampus yang akrab dengan serba yellow itu paling benci dibilang banci.
"Lo ga gentle banget deh. masak sama cewe' aja takut???"

merasa dipanas-panasi begitu, satu minggu kemudian dia berhasil memboyong cewe' manis bernama Bougenvil.
temen-teman se-ganknya bersorak.
"Nah, itu baru pejantan tangguh!" koor mereka.

Kembali, episode Badu.
badu merasakan tubuhnya menggigil. benar-benar menggigil. denyut jantungnya berubah tachycardia/ denyut jantung dengan frekwensi tinggi. keringat mengucur disekujur tubuh yang gemetar hebat itu. ada kesakitan yang amat sangat! dia merasakan seolah-olah akan mati saja!
"Aku harus mendapatkannya! !!!!!" badu berteriak! namun ia kesakitan. pil putih itu benar-benar tak ada. padahal dia sangat ingin mendapatkannya. atau, setidaknya satu jarum suntik yang berisi morfin. tau, paling ga, daun ganja!!! "Aku harus mendapatkannya! !!!!" kembali badu berteriak penuh kesakitan. tiga orang yang dulunya memberikan cuma-cuma kini menyeringai ganas.
"Ho..ho..., tak bisa kawan!!!! ga ada yang gratis di atas dunia ini!"
"Lo ambil deh handphone gue!" badu menyerahkan sony erricson W810 nya.
"INi belum cukup!!!!"
"plis...."
"Konci motor!"
demi barang haramnya, badu akhirnya menyerahkan jua benda yg diminta.
dan beberapa menit kemudian, kembali sosok yang semakin kurus dengan mata cekung itu terlihat fly. yah,... euforia!
sungguh,... hanya kenikmatan sesaat yang dijanjikan oleh barang perusak generasi itu. sanyang, badu tak menyadarinya. sem,entara, yg dipunyanya sudah dipersembahkannya demi mendapatkan satu jarum suntik berisi morfin. termasuk uang semsternya.

episode melati.
wajah melati terlihat sumringah! abis, kemana-mana dianterin cowo' guanteeeeeng, and perhatian lagi. persepsinya tentang pacaran berubah total.
"Walah. ga bener tuh pacaran itu haram! buktinya, aku merasakan manfaat yg begitu besar. kuliah tambah semangat. kalo' ada apa-apa, ada yg perhatian. pokoknya asyik dah! serasa dunia hanya milik berdua"
manfaat lainnya, kalo' ada gempa di labor, kan bisa cepet2 minta dianterin sama si dia. apalagi markas power ranger ini terbilang sudah hampir tak berdaya guna saking seringnya gempa. labor-labor yang berserakkan alat-alatnya. dinding yang hampir roboh. kalo' ada apa-apa, kan minta tolong ke dia! lagian, masak cowo' kayak dudu di sia-sia in siy? udah keren, tajir, baik lagi!!!"

tapi, satu hal yg ga disadari melati, semakin hari dia semakin ngerasa "safe' dengan dudu. yang awalnya cuma cerita-certia doang,... dengan radius 3 meter, 2 meter, lalu satu meter. dan,... dudu semakin berani aja megangin tangannya melati, dan seterusnya.. seterusnya. ... melati siy awalnya risih, tapi, dah enjoy aja sekarang. apalgi, ngeliat temen-temen se gang nya yang 'jauh lebih berani'.

hmm,.. hati manusia memang sering bolak balik ya? apalagi, antara amanusia dgn hatinya sendiri ada hijab. (Qs. al-anfal:24) . bermain api, memang kudu hati-hati. sebab, sedikit saja terjerumus, maka rentetannya akan panjang.ternyata syetan memang paling pinter mengambil celah dengan membuat sesuatu yang buruk seolah-olah terlihat indah.
okelah si melati terlalu yakin untuk bisa jaga diri "Aku yakin koq, aku gak bakal ngapa-ngapain sama dia. aku yakin bisa jaga diri". tapi,... besok-besok siapa yg jamin coba? siapa yg bisa jamin hatinya akan kekeuh. lah, kalo' ntar terperangkap gimana????

episode baba lagi.

baba dengan bogenvil makin serasi aja. kemana-mana berduaan. baba sampai rela-relanya beliin pernak-pernik mahal untuk bogenvil. abis, bogenvil mintanya macem-macem siy, mana barangnya mahal mahal lagi.
hari ini, "Mas, beliin ini ya?"
besoknya, "Kayaknya yg itu bagus deh Mas."
besoknya lagi, "Eh ya Mas,... aku ngidam ini loh. itu tuh yang kayak gitu."
besoknya lagi, "Mas, baju yang ini kayaknya cocok banget deh buat aku."
baba terbelalak, Hah?? masak satu helai baju aja 300 ribu? mana bajunya kekurangan bahan lagi! alias ngatung ke atas, ngatung ke bawah. baba mendengus. namun, demi bogenvil, demi nama abaiknya sebagai pejantan tangguh, demi pembuktian kongkrit kalo' dia tuh bukan cowo' banci, akhirnya dibelikannnya jua.

apa harga seorang pejantan tangguh cuma segitu doang siy? walah, si baba ada-ada saja! wah, persepsinya diliat dari sudut pandang mana tuh ya, si baba nya???
padahal, orang yg kuat, (pejantan tangguh) itu bukan yg hebat gulat, tapi, yg bisa nahan marahnya (kata nabi). olalalala... ., kok nyambungnya kesini siy.??

kembali ke Badu.

badu meringkuk disebuah kamar mungil. pandangannya kosong menatap kedepan. badu kepergok ketika lagi fly di kamar kosnya. rupanya ibu kos sudah curiga.
kali ini dia di panti rehabilitasi buat pengguna narkoba. lebaran semakin dekat. dan tentu saja hanya penyesalan besar yang ada di benaknya kini. kuliah terbengkalai. harta benda habis. masa depan hancur. dan badan remuk. terkenanglah badu pada kampung halaman,... sambil meratap, "Mak, maafkan badu. anakmu yg durhaka ini. engkau susah payah nyariiin biaya kuliah jauh-jauh ke kota kembang ini dengan membanting tulang, daku malah jadi begini.oh mak. daku tak punya apa-apa lagi. sia-sia sudah semuanya. sia-sia sudah daku bersussah payah nembus kampus yg kata orang tempatnya orang-orang cerdas ini. sia-sia sudah daku blajar dan nyiapin SPMB kalo' hanya akan begini ujungnya. padahal, daku bangga sekali bisa kuliah disini dulunya."

episode melati

melati tersedu-sedu. hampir saja dia terjerumus lepada dosa besar. untung, Allah masih menyelamatkannya. "Ternyata dudu itu buaya darat!!!" umpat melati di sela isak tangisnya.
teringat itu, maka dia kembali mengenang, dulunya dia tak pernah terpikir akan seperti ini ujungnya."Dudu sialan!!!"

gadis itu kembali ingat, dudlu dia pernah belajar mengaji, belajar shalat. namun, dudu membuatnya lengah. hiks, padahal ramadhana tahun lalu dia bisa khatam 1x tilawah qur'an. gara-gara dudu, dia cuma bisa namatin satu juz saja.

episode baba

baba kehabisan duit.
ongkos pesawat di habisin untuk membelikan pernak pernik bugenvil. wah, mau pulang kampung pake apa?????
"maafkan aku maaaaaaaaaaak! !!" tangis baba pilu.

_the end_
Read More

INFEKSI IMAN

Saudaraku, istilah infeksi tentu tak asing lagi bagi kita. Mungkin kita pernah berteriak kepada anak yang mengalami luka, “Hei, mengapa lukanya tidak dikasih perban, nanti infeksi loh” atau “Liaht tuh, bekas luka kemaren bernanah. Pasti infeksi ya?” Bisa juga, “Tuh anak meninggal karena terjadi infeksi di dalam kepalanya akibat kecelakaan kemaren.” Singkatnya, istilah infeksi tentu sudah sangat akrab ditelinga kita, yaitu suatu peristiwa tumbuh kembangnya mikroorganisme berupa bakteri atau virus ataupun jamur dalam jaringan tubuh kita.
Tahaukah kau saudaraku, ternyata ada rentetan panjang peristiwa yang telah terjadi di dalam tubuh kita sebelum terjadinya infeksi tersebut. Barangkali tidak kita sadari, bahwa ada satuan terkecil dari tubuh ini yang bekerja dan perperang melawan perkembangan mikroorganisme tersebut untuk mencegah terjadinya infeksi.
Ketika suatu benda asing (misalnya bakteri) masuk ke dalam jaringan tubuh kita maka serta merta tubuh akan memerintahkan satuan keamanan untuk melakukan pertahanan terhadap serangan yang dilakukan sang ‘makhluk’ asing. Pertahanan lapis satu adalah pertahanan benteng luar yaitu pertahanan fisik berupa kulit dan selaput lendir. Misalnya, jika memasuki sistem pernafasan maka tubuh akan bersin untuk mengeluarkan zat asing itu. Jika sang kuman atau zat asing masih bandel dan berhasil lolos maka sistem pertahanan tingkat dua akan berperan yaitu dengan mengeluarkan zat-zat kimia yang memungkinkan untuk membunuh kuman atau zat asing tersebut. Salah satu contohnya adalah zat asam pada lambung.
Jika pertahanan lapis kedua gagal, maka pasukan keamanan yang ketiga akan mengambil peran. Pasukan ini yang disebut imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Nah, pertahanan lapis benteng ketiga ini bekerja dengan lebih mikroskopis. Pasukan pada benteng ketiga ini akan segera mengenali zat asing kemudian membentuk pagar betis. Pasukan pagar betis inilah yang akan bekerja terhadap zat asing dengan jalan menetralkan benda asing tersebut, lalu kemudian menghancurkannya dan terakhir mengeliminasi dari tubuh.
Ternyata itu saja belum cukup, saudaraku. Masih ada juga yang berhasil lolos dan menembus pertahanan itu dan mampu menembus sampai ke tempat terkecil dari tubuh kita yaitu sel. Untuk ini, tubuh akan membentuk benteng pertahanan yang keempat di bagian terkecil dan tempat yang paling ’terpencil’ itu. Pada benteng pertahanan ini akan membunuh kuman dengan jalan memakan zat asing itu lalu membuangnya. Jika benteng keempat ini tidak berhasil, maka bisa dipastikan tubuh kita terpapar apa itu yang kita sebut infeksi.
Saudaraku, jika tubuh kita saja melakukan perlawanan demikian rupa terhadap benda asing, lalu bagaimana dengan hati kita? Tentu saja, hati kita memiliki benteng pertahanan yang analog dengan sistem kekebalan tubuh tersebut. Kalau kita boleh menamakannya, barangkali bisa disebut imunitas keimanan. Sebuah proteksi terhadap keimanan di bilik hati.
Sungguh godaan dunia, bisikan syetan la’natullah, rong-rongan nafsu, dan begitu banyaknya kemaksiatan yang menari-nari di depan kita akan mempengaruhi keimanan kita. Ada grafik naik dan ada grafik turun. Yazid wa yankus. Dalam penciptaan diri kita, Allah pun telah menganugrahkan kepada kita dua potensi, yaitu fujur dan taqwa.
”Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan (fujur) dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Qs. Asy Syams [9] : 7-10)
Sudah jelas bahwa dalam diri kita potensi untuk berbuat kejahatan itu pasti ada. Namun, Allah juga berikan potensi ketaqwaan dan kecendrungan kepada kebaikan. Di sini, Allah telah berikan pilihan kepada kita apakah kita termasuk orang yang menyucikan dan selalu mewarnainya dengan kebajikan atau sebaliknya, mengotorinya dengan lumpur dosa-dosa.
Saudaraku, sungguh hati adalah benda yang sangat sensitif. Apapun pengaruh yang diberikan kepada hati, sekecil apa pun itu, akan memberikan suatu after effect yang kemudian berujung pada positive feedback atau negative feedback terhadap kondisi ruhiyah dan kondisi keimanan kita.
Sama seperti imunitas pada tubuh, ketika hati kita terpapar zat asing berupa dosa-dosa maka imunitas keimanan akan bekerja. Jika hati yang senantiasa dihiasi dengan keimanan, sungguh akan ada alert memberi peringatan kepada jiwa kita bahwa bahwa apa yang kita lakukan itu sudah tidak lagi berada pada koridor-Nya. Hati akan segera memberikan peringatan agar menghentikan perbuatan dosa tersebut. Jika kita bersedia mendengar kata hati itu, sungguh akan kita dengar sebuah warning yang akan menjadi benteng pertahanan dan protektif terhadap ruhiyah. Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwa itu...
Bukankah sebuah kebaikan adalah sesuatu yang jiwa kita merasa tentram karenanya dan dosa itu adalah sesuatu yang membuat hati menjadi kacau, gelisah, tertutup dari nasehat serta tidak senang jika diketahui oleh orang lain? Rasulullah telah memberikan alert tentang hal ini dalam sabdanya dari Wabishah bin Ma’bad yang datang kepada Rasulullah. Lalu beliau bertanya ”Apakah kamu ingin menanyakan tentang kebaikan?” Wabishah bin Ma’bad menjawab ”Ya.” Beliau bersabda : ”Tanyakanlah kepada hatimu sendiri. Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa menjadi tenang dan juga membuat hati menjadi tenang. Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang membuat kacau pada jiwa dan membuat ragu-ragu pada hati, walaupun orang memberi nasehat kepadamu.”
Jika kita mulai mengabaikan warning yang diberikan hati, maka itu artinya benteng imunitas keimanan kita yang pertama sudah jebol. Benda asing atau toksik yang menyerang pertahanan ruhiyah kita berhasil menerobos sampai ke celah-celah hati terkecil sekalipun. Hal ini analog dengan kondisi kekebalan tubuh yang tak mampu menghancurkan kuman yang masuk ke dalamnya. Bayangkanlah jika hati kita terus-menerus terpapar zat-zat toksik berupa dosa dan mengabaikan peringatan dari hati. Sungguh, ia akan bertumpuk dan terus bertumpuk, terakumulasi di hati membentuk noda hitam yang menutupinya dari cahaya hidayah-Nya, dari nasehat, dari nilai-nilai kebaikan yang diberikan kepadanya. Ia menjadi kebas dan tidak lagi merasa bersalah dengan dosa-dosa yang telah diperbuat. Saat dosa sudah dianggap sebagai hal yang biasa saja. Sungguh, jika sudah demikian, telah terjadi infeksi pada keimanan kita. Mikroorganisme bernama dosa itu ternyata telah berhasil bertumbuh kembang di hati yang semakin hari semakin jauh spektrumnya. Bukankah setiap kejahatan yang kita lakukan akan diikuti dengan kejahatan berikutnya? Merugilah orang-orang yang mengotori jiwanya...
Saudaraku, sungguh sehalus-halusnya kehinaan di sisi Allah adalah dengan tercerabutnya nikmat kedekatan kita dengan-Nya. Hal ini ditandai dengan berkurangnya kualitas dan kuantitas keimanan kita. Penurunan yang drastis grafik keimanan tanpa ada peningkatan yang berarti dan signifikan. Apalagi syetan la’natullah senantiasa menggoda dan membuat terasa indah bagi kita suatu perbuatan dosa.
Na’udzubillah, pada ujungnya infeksi keimanan ini akan mencapai taraf akut dengan status yang sangat berbahaya. Saat itu, Allah kunci mati hati kita dari kebenaran. Saat hati tidak mampu lagi membedakan mana yang yang benar dan mana yang salah. Saat itu, hati mengalami kelumpuhan.
”Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (Qs. Al Hajj [22] : 46)
Maka dari itu saudaraku, mari kita segera cegah berkembangnya infeksi itu. Mari kita obati infeksi yang telah terlalu jauh menggerogoti iman. Jika kita mengharapkan kita bebas dari infeksi semua kuman, barang kali kita hanya bisa hidup di ruang steril yang vakum. Tentu hal itu takkan pernah mungkin terjadi. Sama pula halnya dengan iman kita yang takkan pernah mungkin bisa steril dari dosa dan kemaksiatan. Sebab hampir setiap saat kemaksiatan itu ada di sekeliling kita. Akan tetapi, setiap infeksi akan ada pertahanannya dan akan ada obatnya. Demikian juga infeksi iman. Allah telah sediakan fasilitas taubat sebagai penawarnya. Allah bahkan merasa gembira dengan taubat hamba-Nya. Bukankah ini sebuah tawaran yang menggiurkan? Allahu'alam bish shawab. Astaghfirullahu li wa lakum ajma'in. Hadanallahu wa ajma'in. Hafadzakumullah.
”Ya muqalillibal quluub, tsabit qalbi ’alaa diinik, watho’atik.
Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini atas agama-Mu dan keta’atan kepada-Mu.”

Home Sweet ”Syakuro”, 25 Syawal 1429 H
Fathelvi Mudaris
Read More