Sirosis Ruhiyah

Masya Allah, betapa luar biasanya ciptaan-Nya. Mempelajari fisiologi menjadi sesuatu hal yang amat sangat menarik bagiku… Karena, belajar fisiologi, adalah belajar tentang penciptaan yang Maha Sempurna… Maka, belajar fisiologi juga adalah belajar tentang sebuah kesyukuran, bahwa diri kita diciptakan-Nya dengan sebuah penciptaan yang begitu indah, sehingga memang tak lagi pantas bagi diri kita untuk tidak mensyukurinya. Maka, ketika Dia bertanya, “Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang engkau dustakan?”, sungguh setiap kita tak pernah punya jawabannya, sebab begitu indah dan sempurnanya. Sempurna. Dan sungguhlah sempurna! Sungguh, Maha Agung dan Maha besar Allah…

Kali ini aku ingin berbagi tentang hati. Ya, tentang hati. Di antara semua organ, hati adalah organ yang paling mengalami regenerasi sel. Berbeda dengan jantung dan sel saraf. Sekali mereka mengalami kerusakan, maka jangan harap akan ada regenerasi sel menjadi seperti semula. Makanya, perlu sekali dijaga makanan kita, agar tak sampai merusak organ vital tersebut semisal gagal memberikan asupan oksigen dan nutrient-nutrien penting sehingga mengalami yang namanya iskemia.
Sel hati berbeda. Ia ibaratnya pabrik, di mana segalanya diproses di sini. Mulai dari ‘yang baik-baik’ semisal nutrisi tertentu, dan vitamin tertentu, hingga ‘yang jahat-jahat’ semisal toksin atau racun, semuanya diproses (baca : dimetabolisme) di hati. Hatilah yang menjamin tubuh itu dalam kondisi baik-baik saja dan dengan segera pula mengenyahkan segala yang akan mengancam keberlangsungan hidup…

Mengapa arak itu dilarang dan sifatnya haram? Karena kemanfaatannya jauh lebih sedikit dari mudhoratnya. Arak (alcohol) adalah penyebab utama kegagalan hati, yang kemudian berkembang menjadi perlemakan hati. Untuk si hati, alcohol adalah sebuah musuh nyata karena alcohol mendestruksi alias menghancurkan si hati sehingga terjadi perlemakan yang di kemudian hari menyebabkan sirosis. Sirosis adalah sebuah penyakit mematikan. Jika tidak dengan transplantasi hati, maka sirosis sulit untuk disembuhkan. Hanya bisa diperlambat progresivitas penyakitnya saja.
Hati sehat vs hati yang trekena sirosis

Hal yang paling menarik untuk kubahas di sini adalah tentang hati yang dengan segera melakukan perbaikan. Ketika tubuh mengalami sebuah ketidakseimbangan, katakanlah sebuah masalah, tubuh kita yang sungguh amat sangat cerdas ini akan segera melakukan kompensasi dan perbaikan-perbaikan agar segalanya kembali berjalan dengan baik. Mekanismenya sungguh luar biasa cerdas. Sungguh, Maha Cerdas lah penciptanya. Akan tetapi, paparan yang progresif, yang terus menerus, suatu saat akan menjebolkan pertahanan hati. Meski demikian, hati masih tetap berupaya untuk melakukan kompensasi-kompensasi sebisanya. Pada suatu saat ia kehilangan fungsi, ketika paparan dan kerusakan itu jauh lebih banyak dari pada sel hati yang melakukan perbaikan… sehingga yang terjadi justru jaringan parut yang membuat hati itu mengeras dan bernodul-nodul.

Dari kisah ini, ada sebuah pelajaran yang ingin kupetik. Tentang hati. Bukan hati di atas. Tapi tentang ruhiyah dan qalb. Seperti halnya hati organ, sungguh ketika terjadi sebuah paparan-paparan dosa padanya, akan ada upaya perbaikan dan ‘warning’ di dalam hati kita. Sungguh, dosa itu adalah sesuatu yang membuat hati kita resah, tidak tenang dan gelisah, kendatipun semua orang membenarkannya. Inilah sebuah fase regenerative hati. Ketika fungsi dari qalb itu sendiri masih baik, maka ia akan segera melakukan regenerasi dengan me-warning sesegara mungkin. Jika kita mengabaikannya, dan membiarkan paparan-paparan dosa yang progresif itu maka, akan tiba masa di mana hati kehilangan fungsinya. Ia tak lagi bisa menyaring sebuah kebenaran dan kebathilan. Ia tak lagi bisa melaksanakan fungsinya, dan na’udzubillah, tibalah masanya ia mengeras, dsan sulit beregenerasi… Hati yang penuh dengan nodul-nodul yang tak lagi menjalankan fungsinya.

Ah, sungguh ampunan-Nya atas nodul-nodul dosa yang kita ukir di hati kita jauh lebih progresif dari pada beregenerasinya sel hati. Sungguh, ampunannya adalah seluas-luasnya bentangan. Lalu, apakah kita akan membiarkan hati kita semakin bernodul dan semakin ber-fibrosis sementara Allah senantiasa menyediakan luasnya keampunan-Nya?
Sungguh…

Ah, sungguh, sehalus-halusnya kehinaan di sisi-Nya, adalah dengan tercerabutnya kedekatan dengan-Nya. Dengan semakin menurunnya kualitas dan kuantitas ruhiyah. Astaghfirullaah… Ampunkan hamba-Mu ini ya Rabb…

Semoga ini menjadi sebuah pelajaran berharga, bagiku dan terutama ditujukan untuk diriku sendiri. Juga untukmu… Ingatkan aku, ketika aku lalai…


_________________
Sumber gambar : di sini
Read More

KetikaSudah Jenuh dengan Kejenuhan

Setelah seminggu berkutat dengan cardiovaskular, sirosis, osteoporosis, gastritis, dan koagulan (istilah-istilah apaaah iniihh? Hihi), akhirnya sabtu ini alhamdulillaah bisa sedikit lebih santai. Ups, sebenarnya tidak bisa santai jugak! Karena, minggu depan masih menunggu si TPN dan Pediatrik, hee… Tapiii, apapun yang terjadiii, aku memutuskan untuk santai-santai dan bersenang-senang di hari sabtu ini. Pokonya, lupakan sejenak yang namanya ujian!

Sebenarnya ada dua pilihan tempat refreshing… Pertama Tanah Abang. Kedua Kampus. Lho, ko kampus? Hee…lebih tepatnya, Girlsday present, seminar kemuslimahan “Wanita dan Fashion, bagaimana Fiqih berbicara?”, tapiii entah kenapa, akhirnya pilihan refreshing justru jatuh pada opsi yang ketiga yang semulanya sama sekali tak direncanakan. Yaitu, ‘mangalai-ngalai’ di kosan tanpa aktivitas yang jelas. Yah, sebenarnya sayang banget melewatkan seminar itu… Tapiii, hatiku sedang tidak bersahabat untuk diajak ke mana-mana walaupun ia sebenarnya sudah sangat jenuh dengan yang namanya malas-malasan.. Heuu…

Read More

Pesawat Lewat

Dahulu, ketika aku masih SD di pelosok kampung kami nan asri itu, ada sebuah fenomena yang sangat menarik untuk kuceritakan kali ini (sebenarnya sedang full stressor karena besok insya Allah akan ujian dengan bahan setumpuk, tapii aku memutuskan untuk refreshing sejenak dulu. hehe...). Fenomena itu adalah tentang pesawat lewat...

Setiap kali ada deru pesawat terbang yang lewat di atas atap sekolah kami, kami punya kebiasaan untuk berbondong-bondong keluar kelas lalu menengadahkan wajah ke langit, melihat pesawat itu hingga lenyap dan tak lagi dapat terlihat oleh lapangan pandang. Setiap kali menatap pewawat lewat, kami selalu berbinar-binar sambil membayangkan "Kapan yah, aku bisa duduk di atas pesawat itu dan terbang mengelilingi dunia?". Mungkin bisa dimaklumi, kami yang didaerah margin ini memang tak satu pun yang pernah naik peswawat kala itu. Bahkan untuk ke Padang saja (yang notabene ibu kota propinsi, kota paling canggih bagi kami kala itu) adalah sesuatu yang amazing dan sangat jarang-jarang sekali, apalagi naik pesawat! Mungkin bisa dimaklumi juga bahwa rata-rata orang tua kami adalah petani, pedagang dan juga ada yang PNS...


Kebiasaan menengadah ke langit ketika pesawat lewat rupanya tak bisa lepas dariku. Setiuap kali mendengar deru pesawat lewat, aku secara refleks menengadah ke langit lalu menatapi pesawat itu... Ddan setiap kali aku menyadarinya, aku tak bisa menahan senyum, mengingat bahwa aku adalah anak kampung yang dulunya selalu sumringah ketika melihat pesawat lewat...

Sama seperti aku menatap sebuah mimpi...
Berkali-kali kandas...
Berkali-kali berjumpa kegagalan...

Kadang, ada masa di mana ia berada pada puncak grafik kosinus, ketika aku begitu bersemangat menaklukkan hidup dan begitu berlari mengejar mimpi. Namun, ada pula masa di mana aku berada di lembah grafik kosinus itu, bertemankan keterpurukan, kegagalan, dan  ketiasabisaan lainnya.

Ya, karena kita memang tak berhak untuk MERASA LEBIH dari pada orang lain lantas memandang rendah orang lain. Yang kita punya justru adalah keterbatasan-keterbatasan. Tidak semua hal bisa kita lakukan. Tidak semua hal kita memiliki kapabilitas di sana. Hanya orang bodoh sajalah yang mengatakan dirinya pintar... Ya, karena hanya orang bodoh saja yang tak pernah menyadari keterbatasannya...

Sungguh, ketika kita bisa, itu bukan semata-mata atas kemampuan dan kepintaran diri kita saja. Tapi Allah-lah yang mengilhamkan ilmu itu kepada kita. Ya, karena Allah-lah yang memberikan rizki kepahaman dan menyisipkan hikmah ke relung hati kita... Dan ketika kita tak bisa, itu jua adalah karena keterbatasan kita..
Keterbatasan bukan berarti kita berhenti sampai di sini saja. Akan tetapi adalahs ebuah cara untuk mensyukuri ketika kita meng-optimalkan segala potensi yang Allah beri...

Hehe, postingan kali ini juga dalah sebuah postingan yang benar-benar tak sekuens dan tak pula memiliki hubungan antar paraghrafnya...hee....
Jadiii, mohon dimaklumi sahaja yah Bloggie.....
Read More

Memungut Semangat


Apa Kabar, Bloggi?
Lama sudah tidak mencoretimu…
Sebenarnya, sungguh ingin mencoretimu lebih banyak lagi…
Tapi aku sedang punya dua kendala besar. Pertama, aku tidak begitu aksesibel dengan internet. Kedua, aku hampir-hampir tidak punya waktu lebih banyak untuk menulis. Jadi, ide-ide yang spontaneous yang ingin kutuliskan hanya mengendap begitu saja…
Lalu, ketika aku punya sedikit waktu, aku tak lagi punya feel untuk menuliskannya…
Hee…

Apa yang kutuliskan di beberapa postingan terakhir ini, terasa sangat garing, kering, dan gersang yah?
Iya, karena memang aku sedang tidak punya feel untuk kembali me-resusitasi endapan yang makin meninggi di dasar tabung reaksi itu…
Ah,semakin hari, terasa semakin kering saja…
Mungkin karena aku juga tidak sedang begitu bersemangat saat ini…

Yah, saatnya kembali me-recharge semangat!
Melakukan resusitasi atas kegawatan kali ini….

SEMANGAT!
SEMANGAT!
SEMANGAT!

Memungut Semangat!

Read More

Syndroma Homesick Acute


Alunan Bethria Sonata dengan Minang Kabau-nya semakin memperparah syndrome Homesick acute ku kali ini. Benar-benar homesick. Entah, mungkin karena ujian yang bertumpuk-tumpuk sekaligus bertubi-tubi, membuatku ingin sedikit refreshing. Dan, dari dulu, bagiku refreshing yang paling menyenangkan itu adalah pulang kampung.

Hwaaa…, aku benar-benar homesick…
Sindroma Homesick Acute…
Kangen tabek tercinta dan memancing di sana…
Kangen pepes ikan nila buatan ibuku tercinta…
Kangen my writing spot, tepat di pojok kamarku yang menghadap ke tabek…
Kangen ke pasar tradisional lagi…
Kangen 24 jam mengendap di rumah tanpa keluar dari sana (di pingit kaleee, hihi)
Kangen pulaaaaaaaaaaaaaaang…
Huhu…

Ah…
Benar-benar GJ banget perasaanku kali ini…
Benar-benar GJ juga apa yang kutulis kali ini…
Tapi biarlah…
Aku sedang tak ingin berdamai dengan pilihan diksi apapun…
Aku hanya ingin pulang…
Read More

Jurang

Ah, selalu saja ada harga untuk sebuah kepantasan itu, Fathel…
Jika kau tak ingin rasakan kembali betapa tidak menyenangkannya sebuah luka, maka kau tak perlu dua kali mengulangi kesalahan yang sama…
Ya, tetap saja Allah akan mengujimu di titik terlemahmu… Sampai kau punya immunoglobulin untuk memproteksi dirimu dari antigen-antigen itu… Sampai ruhiyahmu punya immunitas untuk itu…

Read More

Ujian

Ujian


Banyaknya ujian yang numpuk belakangan ini selain bikin rebonding gratis (rambut jegang-jegang kaya kesetrum listrik saking full stressornya, hihi lebay!) juga menitipkan sedikit kotempelasi bagiku. Tentang sebuah tekad yang sudah kupancangkan bulat-bulat sebelum aku melanjutkan kuliah dulunya. Bahkan aku juga menuliskannya di dinding kamar, tentang tekadku itu. Bahwa aku tidak lagi ingin memahami secara parsial ilmu yang sedang aku pelajari. Aku ingin memahaminya secara lebih mengglobal sehingga aku tidak mempelajarinya secara letterlet doang (hafal perkata, pake otak kiri pulak) melainkan aku memahami konsep ilmunya yang intergrasi dalam satu kesatuan disiplin ilmu. Jadi, ia nya komprehensif… Itu yang aku inginkan…

Lantas, jika ingin ilmunya, mengapa harus ada ujian segala? Ya, ujian adalah sebuah skala parametric sejauh mana pemahaman kita tentang konsep ilmu yang tengah kita pelajari. Itu idealnya…
Hanya saja, dari sekian banyak ujian yang telah kulewati, selalu saja terasa ‘sulit’ untuk menerapkan apa yang sudah kutekadkan itu… Ketika ujian menjelang, tetap saja harus ada hafalan yang letterlet yang kemudian lenyap seiring dengan berlalunya ujian… Berasa sekali, bahwa aku menggunakan ‘otak kiri’ untuk mempersiapkan ujian yang seminggu dua minggu kemudian tak lagi tersimpan dalam chip memory jangka panjang. Ia nya mengalami delesi dan replacement dengan adanya ujian-ujian yang baru…
Jadi, sebenarnya, selain ujian, para meter apa lagikah yang dapat mengukur skala kepahaman seseorang? Uhmm… Menjadi pelaku lapangan barang kali… Sebab, dalam banyak hal, pelaku lapangan sesungguhnya jauh lebih jago dari pada orang-orang yang berada di ranah akademis. Karena atmosfier akademis dibentuk mendekati ideal. Sementara, realism lapangan sering kali mendapati  hal-hal berbeda yang tak ditemukan di ranah akademis… Perlu sebuah inovasi tanpa mengabaikan hal-hal ‘ideal’ jika sudah berada di ranah praktisi…
Jadi, apakah lebih baik menjadi praktisi, ataukah akademisi?
Heuu… mungkin lebih baik menjadi dua-duanya saja kali yah (heuu,,, galau niih galau…)

Tapiii, satu hal yang mesti digaris bawahi (kalau perlu tulisannya juga di-bold) adalah, bahwa menjadi apapun itu, maka menjadilah yang berarti… Menjadi apapun itu, upayakanlah yang terbaik… Dan yang terpenting, menjadi apapun itu, jangan pernah berhenti pada orientasi dunia belaka. Menjadi praktisi ataupun akademisi, sesuatu yang mungkin saja memiliki nilai yang berharga (baik dikaji secara financial maupun prestise) di dunia. Tapi, alangkah meruginya jika hanya sampai pada cita-cita dunia saja, sedang ia hanyalah waktu yang sejenak. Maka, menjadi akademisi ataupun praktisi, haruslah orientasinya jauh melintasi dunia belaka. Ada nawaitu untuk sebuah kemanfaatan yang bernilai yang terkandung di dalamnya yang mudah-mudahan Allah catat sebagai sebuah investasi kebaikan bagi diri kita nantinya, di saat tak lagi ada tawar menawar itu… Dua pekerjaan yang sama, tapi dengan nilai yang berbeda, hanyalah terletak pada niatnya. Pada niat awalnya saja. jika hanyalah sampai pada orientasi dunia, maka hanya segitulah yang kita peroleh. Jika melintasi kesejenakan dunia, maka kita juga akan mendapatkan seperti apa yang kita niatkan itu… Padahal, usahanya sama, energi yangdihabiskan sama, rintangan dan penyulit yang juga sama… Tapi, hanya dengan sebuah niat yang berbeda saja, inputnya pasti akan berbeda… Allahu’alam..

Rasulullaah bersabda : "Siapa yang menuntut ilmu dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi-wangi surge di hari akhir nanti” (HR. Abu Dawud)

Tetap semangaaatt belajarr…!!
Read More

Pe eR

Uhm…sebenarnya tugasku itu lagi numpuk abissss..biss…biss… Eh, ndak taunya aku juga dapet PR niih dari i_chat2610, teman blogger yan nun jauh di pulau Sumatera sono (hahaaaa, soksok jauah pulo gak nyeh yo diriku..) >> yang jelas kalau bukan Blogger, PASTI ndak dapet PR ini. Heuu…
Kalau boleh jujur, PR ini tentu lebih menyenangkan untuk dikerjakan ketimbang PR semisal tentang  HIV (yang sedang menunggu deadline, heuu…). Maka, oleh sebab itu, aku sudah berjanji akan mengerjakan PR ini tepat ketika aku mengalami full supressi. Dan aku sudah menemukan momen yang tepat itu, yaitunya pasca ujian IDK. Karena mumet, sepertinya mengerjakan PR ini jauh lebih menyenangkan. Hehe…

Kapan terakhir mengerjakan PR?
jika ditanya kapan terakhir kali mengejakan PR di SD yaa…yang jelas kelas VI SD deh… Persisnya, aku sudah lupaaa… hee…

Guru Terfavorit.
Guru terfavorit itu adalah Pak Syafrizal, walas kelas 4 dan 5. Sukaaaa banget sama Bapaknya karena Bapaknya pinter matematika (pelajaran paling favorit bagiku waktu SD). Sampai-sampai, sekarang kalo ketemu sama si Bapak, aku jadi bener-bener speechless, nda tau mau ngomong apaan, persis kaya’ ketemu orang yang lagi dicinta, kata2nya seperti lenyap ditelan bumi…hehe (Emang kalo ketemu yang dicinta bikin speechless yah? Hehe, entahlah… ngaur kali yaahh. Hihi…)

Guru Terkiller
Uhm…ada siih guruku yang paling killer. Walas kelas 2. Si ibunya doyan nyubit pusar, sampai-sampai ada yang brenti skolah gara-gara kesel sama ibu itu. Akhirnya, temenku itu malah nda tamat-tamat SD nya. Sampai sekaraaang… heuu….

Teman Bolos
Ahaha, ini paling menarik. Aku pernah bolos di kelas 1 caturwulan 1. Ck..ck..ck.. paraaah yah? Masa’ baru kelas 1 SD dan masi cawu 1 lagi (kan baru masuk banget!),  sudah berani cabuutt? Masya Allah…
Tapi ini kisah kelam. Kala itu aku diajak (lebih tepatnya dibujuk) temanku untuk maen ke Balai Jumat (Pasar Jum’at) yang kira-kira berjara 500 m dari sekolahku. Dan entah kenapa, aku mauuu ajah menuruti ajakan temenku ituh. Akhirnya, aku bener-bener cabut deh. Dan, kesian banget liyat nenekku yang susah payah mencariku. Huhu… (Waktu itu, ibuku lagi lanjut sekolah di UIN Syarifhidayatullah, di Jakarta, jadiii, aku ditinggal di kampung sama nenekku).

Temen Berantem
Aku juga punya temen berantem…
Waaahh, makin parraaahh nih.. Udah berani cabut (alias bolos), punya temen berantem lagi! Ck..ck…ck…
Temen berantemku itu adalah anak ibu walas kelas 5. Jadiii, ngerasa punya dekingan, dia berbuat semena-mena di kelas. Aku masiiiihhh ingat dengan amat sangat jelas sekali (pemborosan kata), ketika itu dia maksa aku untuk meminjamkan buku latihan matematikaku (yang sudah dinilai dan dapat sepuluh, jiyaaahh), dan akhirnya dia bisa merebut buku itu dari tanganku. Setelah selesai mencontek semua tugasku, dia lalu meludahi bukuku. Aku gerraaaam abisss, dan menyatakan perang sama tuh anak. Sejak itu, aku dan temenku selalu berusaha untuk membikin ‘makar’ agar dia itu kenak batunya. Ahaha, akhirnya berhasil. Dia nangissss sejadi-jadinya sampai kedengeran sama mamanya di kelas 5. Padahal dia anak cowok loh. Haha…
Trus aku pindah sekolah (makluuum nomaden), aku jugak punya temen brantem yang baru. Mereka itu bikin kesseeell karena suka ngusilin anak cewek. Aihhh, jadi sebel abisss sama tuh anak! aku dan temen2 cewek lainnya pernah dikejar-kejar dengan ular yang udah dimatikan bisanya. Tapi tetep ajah kami takuuut bgt sama ular. Aihhh, beraninya ama cewek doang mah!
Trus, aku pindah sekolah lagi, dan di sekolah yang baru, aku jadi anak baik. Jiyaaahhh…. Ndak punya temen brantem dan nda juga punya musuh. Hee…

Read More

Refleksi Satu Fragmen Episode Kehidupan


Ada yang bersejarah di tanggal 22 November. Sejarah yang mungkin takkan pernah kulupa yang kemudian menjadi sesuatu yang terpahat dengan begitu jelas di dinding hati. Tentang apa itu, tidaklah menjadi penting adanya untuk kujelaskan di sini. Hanya saja, kali ini, aku ingin sedikit merenungi kisah 22 november itu… Kisah yang menjadi potongan fragmen dalam setiap episode-episode hidup.

Apa yang akan kutuliskan ini mungkin hanyalah sebuah ikhtisar saja. Sesuatu yang sejatinya sudah kutuliskan berkali-kali sudah pada catatan-catatan sebelumnya. Tapi, entah kenapa, kali ini kembali ingin kutuliskan. Mungkin, sekali saja tidaklah cukup untuk menyangga lemahnya diri ini. Sungguh, betapa aku hanyalah makhluk-Nya yang begitu dhaif, begitu sering tersalah…

Ada satu masa di mana aku begitu ingin menghilang di telan bumi saja. Jika saja ada sebuah lubang besar di hadapanku kala itu, ingin sekali aku melompatinya dengan segera. Mungkin pengecut. Ya, mungkin itu adalah sepengecut-pengecutnya pilihan.  Tapi, hanya ada dua pilihan ketika itu. Lari sejauh-jauhnya, atau berbalik, menghadang dan menghadapinya! Sebagaimana juga ada dua pilihan ketika terperosok, terjatuh dan terjerambab. Bangkit atau tetap berada pada posisi keterjatuhan itu…

Banyak hal yang harus kusyukuri dalam hidup, tetapi juga banyak kebodohan yang kusesali adanya. Begitu banyak… Aku bukan sedang ingin meng-kambinghitam-kan stigma bahwa manusia adalah tempatnya khilaf dan lupa. Juga bukan sedang berselindung dibalik kredo khilaf adalah niscaya. Tapi, begitulah adanya, bahwa aku memang banyak tersalah…

Menyesal? Tentu saja…
Kadang aku tidak habis pikir, mengapa aku bisa begitu bodoh? Mengapa aku bisa melewati barrier yang bahkan terlalu tinggi itu? Lalu, apakah yang mengkatalisnya hingga aku punya energi untuk melewati energi aktivasi itu? Masya Allah…
Dan setelah rentetan peristiwa demi peristiwa itu diungkai dalam sebuah rekaman peristiwa lalu kemudian kembali diputar di hadapanku, hanya satu kata yang kemudian mewakili segenap rasa di hati, “AKU MENYESAL!”

Telah berlalu sekian hitungan masa sesudahnya…
Banyak dari catatan kisah itu yang kemudian meninggalkan pelajaran-pelajaran berharga. Bahwa terkadang kita membutuhkan adanya masalah. Karena dengannya semakin nyata bahwa kita sangat membutuhkan-Nya, bahwa memang kita dan segenap hidup kita amat sangat bergantung pada-Nya. Sebab, di banyak waktu, kesenangan lebih banyak membuat kita lena. Pelajaran lainnya adalah, bahwa tak sepenuhnya salah dengan adanya kesalahan. Kadang, dari kesalahan itulah kita belajar untuk membenarkannya. Kadang, kita perlu tersalah dulu untuk menjadi benar kemudian.  Itu pula sebabnya, Dia, Dzat yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya, menyenangi hamba-hamba-Nya yang bertaubat atas salahnya, lebih dari pada kegembiraan seorang musafir yang menemukan kembali unta dan perbekalannya setelah berkelana kian kemari mencari perbekalan dan unta yang hilang itu.

Dari rentetetan peristiwa itu pula aku belajar banyak, bahwa ada kalanya keterjatuhan, keterjerambaban, dan keterperosokan itu, justru menjadi awal untuk dapat melompat lebih tinggi. Kepada setiap orang yang berhadapan dengan segala keterpurukan, diberikan dua pilihan saja. Berlarut padu dengan keterpurukan, atau memilih untuk bangkit, dan menjulang lebih tinggi. Tidak sedikit kemudian yang perlu berterima kasih pada kegetiran hidup, sebab kegetiran itu yang kemudian mengkatalis kebangkitannya. Sebab juga, kesenangan dan segala yang serba available justru membuat banyak orang terlena dan bahkan lemah! Sebagaimana tangguhnya nakhoda bukan karena ia berhadapan dengan lautan yang tenang melainkan gelombang badai yang besar. Juga sebagaimana pelangi indah yang tidak akan pernah muncul, kecuali setelah hujan dan gelap…

Satu pelajaran yang lebih berharga lagi adalah, rentetan peristiwa itu juga telah mengeluarkanku dari pengharapan pada manusia. Menitipkan sebuah pengharapan pada manusia sama saja dengan menggelindingkan sebuah bola es dari puncak gunung. Semakin menggelinding, semakin membesar pula ia. Hingga pada suatu ketika, pada masa yang mungkin tak pernah terdugakan, bola es yang sudah begitu membesar itu pecah dan justru menimpa diri kita sendiri. Menitipkan sebuah harap pada manusia, sama saja dengan menabung deposit kekecewaan yang kemudian menjadi sebuah wujud nyata ketika potret nyatanya tidaklah sama dengan catatan asa. Maka, cukuplah pada-Nya, hanya pada-Nya segenap harap dilabuhkan… Cukuplah hanya pada-Nya saja segenap harap itu digantungkan, dan dengan demikian, kita tak akan kecewa, tak akan pernah kecewa…

Aku percaya, takdir-Nya atas diri kita adalah sebaik-baiknya takdir. Apapun yang telah Dia tetapkan atas diri kita, adalah sebaik-baiknya catatan, seberat apapun itu… Sebab, Dia jauh lebih mengetahui, apakah yang terbaik untuk diri kita, melebihi diri kita… Sebab, yang dikatakan TERBAIK tidaklah selalu linear dengan KEINGINAN dan KEHENDAK hati kita saja… Kita terlalu dhaif untuk mengetahui apa yang terbaik untuk  diri kita dan DIA mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita… Boleh jadi saja, apa yang tidak kita sukai itulah yang justru mendatangkan kebaikan dan keberkahan bagi diri kita. Dan boleh jadi saja, kehendak dan ingin-ingin kita itu, justru mendatangkan keburukan bagi diri kita…
…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah lebih mengetahui sedangkan kamu sama sekali tidak mengetahuinya.” (QS 2 : 216)

Tak sedikitpun ada yang sia-sia. PASTI Dia sertakan hikmah luar biasa bersama kepahitan dan kegetiran yang kita rasakan. Pasti DIA sertakan kemudahan dan kesenangan di balik segala kepahitan. Mungkin bukan hari ini kita mengetahuinya, sebab dhaifnya diri kita… Mungkin besok, lusa bahkan puluhan tahun kemudian. Kelak, mungkin kita mengetahui, mengapa harus begini jalannya, bukan seperti yang pernah kita inginkan dulunya… Ya, agar kita tidak terlalu bergembira dengan apa yang telah kita peroleh, dan tidak terlalu bersedih dengan apa yang luput dari diri kita. Selalu saja, segala keadaan adalah baik adanya….
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauh Mahfudz sebelum Kami menciptakannnya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu JANGAN BERDUKA CITA terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu JANGAN TERLALU GEMBIRA terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. 57 : 22-23)

Satu hal yang pasti, bahwa ujian-Nya tetaplah pada range kesanggupan kita… ”Allah tidaklah membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs 2 : 286). Jika saja Allah saja sudah mempercayakan sebuah ujian pada diri kita, lantas alasan apa lagikah yang membuat kita merasa tak sanggup untuk melewatinya? Pastilah karena kita BISA!

Saatnya transformasi, untuk menjadi lebih baik lagi! Percayalah, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik! Percayalah bahwa setiap kita, BISA MENJADI LEBIH BAIK LAGI! Meskipun tidak perlu sebuah momentum untuk berubah menjadi lebih baik, akan tetapi di awal tahun Hijriyah ini mungkin saatnya bagi kita untuk kembali menata hidup, membenahi diri, menambali segala rombengan yang pernah ada…
Karena setiap kita punya kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik, maka mengapa kita tak mengambil kesempatan itu?




Pagi  Muharram 1433 H yang cerah…. Saat dikejar-kejar tugas dan ujian… ^__^
Read More

Full Supressi

Hmm....hanya sedikit berbagi cerita saja. (Heuu... sempet-sempetnyaaa...., padahal lagi numpuk beut iniiih tugas dan ujian). Yaa, itu karena aku masi teteup cintaaa sama yang namanya dunia per-blogging-an. Walau jika dilihat range postingannya, memang mengalami penurunan drastis. Kalo dulu, aku bisa nulis hampir tiap hari atau minimal satu dalam dua hari, sekarang....ndak bisa gitu. Paling banter yaah, 10-15 postingan per bulannya. Untukku (yang suka curhat di blog, hihi), ini adalah angka yang sedikit Bukannya apah-apah sih, hanya sedang belajar memenej hal-hal yang perlu diprioritaskan dalam hidup. Hee.... Karena aku spontaneous, aku kadang lebih senang mengerjakan sesuatu yang DISENANGI, bukan yang PRIORITAS, hehe... (semoga bukan lagi berdalih dan mencoba mencari-cari alasan pembenaran. hehe)

Hari ini sebenarnya ada jadwal di RSCM, dan aku sudah bela-belain berangkat pagi-pagi banget (ketika matahari masi malu-malu mengintip di ufuk timur) dan juga harus empet-empetan di kereta, plus bawa infocus yang beratnya lumayaaan (keliyatannya ajah aku tuh rajiiiin banget bawa sansel segitu gede, padahal bukunya cuma satu buku tulis doang, hehe), akan tetapi, ternyata tiba-tiba kuliahnya dibatalkan. Uhmm.... Ya sudah, tidak apa-apa... PASTI ada hikmahnya --> mencoba menenangkan hati, hee....
#Jadi ingat, dulu waktu SMA maupun S-1, KULIAH DIBATALKAN itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Kalo kata iklan go*d day, "Serasa naik paus akrobatik" saking senengnya. hehe. Tapi kali ini terasa berbezza. Kuliah dibatalkan itu adalah hal yang (agak) mengecewakan. Karena, butuh usaha yang (cukup) keras untuk bisa mencapai lokasi belajarnya (dan juga butuh cost lebih banyak tentunya), namun kemudian hanyalah berujung pada kesia-kesiaan (eitttss, ndak ada sesuatu yang sia-sia, Fatheeel. Sekali lagi, semua pati ada hikmahnya! --> lagi-lagi mencoba menenangkan diri, hehe).

Lalu, ketika sampai di stasiun Cikini pas baliknya, kita udah berusaha lari-lari mengejar kereta Depok, ternyata pintu cummuternya udah tutup waktu kita nyampe di lantai 3 dengan ngos-ngosan, huuuffttt.... Dan akhirnya, harus menunggu kereta berikutnyaaa... Hee... Lagi-lagi, PASTI ADA HIKMAHNYA!

Kejadian kali ini kemudian meninggalkan sebuah pelajaran yang mungkin perlu kupetik. Lagi-lagi soal hidup. Ya, dalam hidup ini, tak selalu ingin-ingin kita saja yang berlaku. Banyak dari realita hidup yang kadang membuat kita harus berdamai dengan segala kepahitan, kesusahan, dan berpeluh payah. Sebab kita tetap akan selalu berada di antara dua range itu, seperti halnya zona terapeutic windows. Range kebahagiaan dan range kesedihan. Maka, cukuplah seperti yang Rasulullaah wasiatkan, bersabar dalam kesusahan maupun kesedihan dan bersyukur dalam kegembiraan...

Minggu-minggu ini hingga penghujung Desember (insya Allah), adalah hari-hari yang berat. Hari-hari full Supressi. Ahh, jikalah waktu itu punya kalkulasi lebih dari 24 jam dalam sehari.... Ahh, jikalah aku bisa merapel semua waktu dahulu yang pernah begitu banyak terbuang percuma.... Ahh, jikalah aku bisa membeli waktu orang-orang putus asa yang ingin berhenti hidup.... Tapi, TIDAK BOLEH ADA KATA "JIKALAH"....
Hari ini, dan seterusnya, cukuplah optimalkan saja waktu yang tersisa... dengan sebaik-baiknnya ikhtiar... Memperbaiki segala rombengan yang pernah ada tetap saja lebih baik dari pada menyesali dan meratapi yang telah lalu tanpa ada aksi nyata. Itu hanya akan membuang lebih banyak waktu...

Full Suppresi...
Uhm...ada dua hal menarik ketika satu anak manusia berada dalam kondisi full suppresi (penuh tekanan), dan setiap kita boleh saja memilih, apa yang ingin dipilih.... Pertama, seperti tape, kedua seperti per. Katika tape jatoh, maka alamat akan hancurlah ia. Tak lagi bisa direstorasi, bahkan tak sedikitpun bisa dimanfaatkan lagi. Jatuah tapai, begitu istilah kami orang Minang. Tak lagi bisa apa-apa. Kondisi full supressi seperti ini bisa saja membuat seseorang sangat down, dan akan begitu sulit untuk bangkit. Lalu kedua, seperti per. Ketika tertekan, justru ia malah memberikan sebuah tekanan yang lebih besar. Adanya tekanan bukannnya membuat dia jatuh, tapi malah membuat ia melejit lebih tinggi.
Nah, sekarang hanya tinggal memilih saja, ingin seperti tape kah, atau ingin seperti per kah?

Desember Full Supressi...
Tapii, HARUS TETAP SEMANGAT!
Lakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan...

Hayuuuu, tetap semangattttt!



__________________
@Labkom, setelah Searching HIV-AIDS
Hehe, maaf yah Bloggie, hari ini aku nulisnya berantakan banget, acakadut dan juga nda melalui proses quality assurance dulu...hehe... Ini adalah sesuatu yang spontaneous banget... Jadiii, benar-benar apa adanya saja.... Setidaknya aku tidak sedang meninggalkamnu, Bloggie... Tenaaang, insya Allah aku masih tetap setia nge-blogging.... Hehehe...
Read More