Lebih dari 3500 KM Bersamamu (3)

Setelah Umluj, kami sampai kembali di Yanbu sorenya. Anak-anak sudah pada kecape'an kayaknya habis berenang. Akhirnya mereka tertidur di carseat masing-masing. Jadinya kami berdua bisa pacaran lagi hehehe. Ngobrolin apa aja sepanjang jalan, nostalgia, ketawa berdua. 😍😍😍
Mau mampur di Corniche Yanbu tapi anak-anak pada tidur, akhirnya kami putuskan untuk balik penginapan saja. Mampir sebentar di Panda (lagi) untuk beli perbekalan buat besoknya berangkat ke Al Ula. Kali ini aku beli bahan buat bikin pasta, cabe buat di al Ula sekalian, nugget dan beberapa camilan.

Ngomong-ngomong soal Supermarket, berasa banget di sini ga seperti di Riyadh di mana tiap belokan ada. Bisa milih mana aja. Tapi di sini kayaknya cuma 1-2 aja supermarketnya jadi satu supermarket itu lumayan ramee yang berbelanja. Kalo di Riyadh, di sekitar tempat tinggal kami misalnya, meskipun udah di pinggiran tetaaapp banyak sekali pilihan supermarket. Tiap pengkolan ada kali yaaa. Hehe. Alhamdulillaah, meski pinggiran tapi segala macam ada dan itu sudah lebih dari cukup, Alhamdulillaah bini'mah tatimmussaliha.

Besok paginya berangkat ke al Ula. Sebuah kota yang sudah lama menjadi wish list aku sebenarnya. Alhamdulillah kesampaian juga pas vacation kali ini. 

Al Ula ini salah satu kota yang sangat cantik menurutku dikelilingi berbagai bebatuan kokoh. Banyak situs-situs bersejarah juga di sini. Berasa banget contour bebatuannya beda antara daerah lain dengan al Ula. Oh iya, satu lagi hal yang menarik adalah ternyata jalan menuju al Ula adalah jalan 2 arah! Karena terbiasa dengan jalan yang satu arah selama di Riyadh dengan jalan yang lebar-lebaar pas menempuh jalan 2 arah rasanya agak deg-degan. Apalagi kecepatan lumayan, 120 an km/jam. Tapi harus pelan ketika berjumpa inhabited area alias area tempat tinggal. Tapi pemandangannya juga cantik-cantik sepanjang jalan ma shaa Allah 😍😍.

Jalanan ke gurun juga tidak ada pembatas seperti halnya jalan dari Riyadh ke Makkah atau Madinah. Sehingga unta bebas-bebas aja ke jalan. Pas lagi kencang, tiba-tiba ada seekor unta yang juga berlari menuju jalan. Ya Allah, kageet juga kan yaa. Alhamdulillah kita sudah melewati jalannya sebelum unta bisa mencapai jalan itu. Bahaya banget kaaan kalau sampai tabrakan sama unta. Apalagi unta adalah hewan yang kuat. Dan lagi di pinggir kiri kanan sudah ada warning tentang adanya unta yang mungkin berkeliaran di pinggir jalan. Bukan hanya unta, ternyata kita menjumpai juga keledai di pinggiran jalan. 

Jarak antara Yanbu dan Al Ula adalah 320 an km. Tapi karena bukan high way, jadinya waktu tempuh yang diperkirakan 3 jam jadinya molor 4 jam an. Mana jadwal sekolah si kakak udah mepet. Akhirnya kakak sekolah di mobil sambil jalan. Hehehe. Mana sinyal sempat hilang juga. Alhamdulillaah 'ala kulli haal.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Al Fiil yang terkenal di Al Ula. Tapi ternyata banyaaaak sekali bukit batu yang cantik di sepanjang jalan menuju jabal al Fiil dan juga bebatuan di sekeliling jabal al Fiil. Ma shaa Allah.. sungguh sangat indah ciptaan-Nya. Tentang al Ula bagiku adalah; beyond my expectation! Jauh melebihi bayanganku, ma shaa Allah tabarakallah.

Berikut adalah beberapa potret di Al Ula (dan bersambung ke postingan selanjutnya tentang Tour Day di Al Ula, in shaa Allah)

Read More

Lebih dari 3500 KM Bersamamu (2)

Setelah menghabiskan momen di Water front Yanbu akhirnya kami menuju penginapan. Di Jeddah hingga Buraydah (4 kali pindah tempat), kami selalu membooking apartemen furnished saja, bukan hotel. Semacam apart-hotel gitu. Kenapa? Karena ada dapurnya! Hehehe. Lumayaan banget bisa masak. Jadi, enggak nge-kabsah, nge-broasted, atau nge-burger mulu. Ternyata nasi tetap dikangenin yak. Kekeke. Bahkan di Yanbu kami semlat belanja dulu di supermarket, beli cabe, telur, sosis, dan bahkan ayam untuk digoreng dan beberapa sayuran seperti wortel dan brokoli. Masak nasi goreng untuk malamnya yang cepat kilat ajah ekekeke. Trus paginya masak untuk bekal ke Umluj. Selain itu, di apartemen furnished juga ada mesin cuci. Soalnya perbekalan baju hanya disiapkan untuk 7 hari jadi mesti nyuci juga. Sayang kalo harus laundry (emak-emak perhitungan wkwkwkwk 🤣🤣🤣).

Ya, next destinasi adalah Umluj. Umluj ini lokasinya dari Yanbu sekitar 170-an KM. Sekitar 1.5 jam perjalanan kurang kayaknya. Kami memang tidak memilih untuk menginap di Umluj karena janjian sama teman di Yanbu. Jadi ke umluj nya PP aja. Pulang-pergi.

Umluj ini ternyata dikenal dengan 'Maldives' nya Arab Saudi. Pantainya biasa aja (maksudnya sama kayak pantai-pantai lainnya) tapi yang membedakannya adalah ... airnya yang sangat jernih. Seumur hidup, belum pernah aku menemukan pantai dengan air sejernih itu. Ma shaa Allah.
Ngeliat pantai Umluj, airnya malah kayak air sungai yaak. Bening banget ma shaa Allah. Tapi pas diicip ternyata rasanya juga asin. Aku pikir tawar. Hehehe. Bawaannya pengen nyemplung aja di pantai ini. 😍😍😍
Dan salah satu yang bikin happy itu adalah kita berlima bisa nyebur di laut dan ma shaa Allah soooo happy. 😍😍😍
Di bagian tengahnya ada air yang sangat dangkal sehingga burung-burung bisa "ngetem" di tengah-tengahnya sambil menunggu mangsa (ikan).
Berikut adalah dokumentasi di pantai Umluj yang sempat tertangkap kamera.
Read More

Lebih dari 3500 km Bersamamu (1)

Alhamdulillaah vacation usai. Kembali lagi ke rutinitas biasa. Yang tertinggal adalah kenangannya. 😁 Yang sengaja aku tuliskan setelah selesai semua vacationnya.

Vacation kali ini adalah vacation paling berkesan bagiku, dan bagi kami sekeluarga. Kami menyebutnya "unplan holiday". Dari yang awalnya cuma 3 hari di Madinah saja sebagai plan utama, akhirnya extend jadi 12 hari. Ma shaa Allah.

Ceritanya, cuti suami masih nyisa 3 pekan lagi. Mau ambil 2 pekan aja. Niatnya cuma rehat aja. Paling jalan ke Sharqiyah (Saudi wilayah timur) aja niat awalnya. Dan sudah sempat booking hotel di Kota Dammam juga. Tapi, akhirnya plan berubah jadi ke Barat yaitu ke kota Madinah. Alhamdulillaah umrah sudah diperbolehkan di masa pandemi ini tapi harus registrasi dulu dan menginstall beberapa aplikasi. Alhamdulillah sebenarnya umrah dari dalam Saudi persyaratannya tidak sebanyak jika kita datang dari Indonesia misalnya. Asalkan berusia 18-65 tahun dan tidak terecord terkena covid-19 yang sudah terdata di akun kementrian dalam negri, in shaa Allah bisa mendaftar. Tidak perlu test swab juga. Sayangnya, mendaftaran slotnya selalu penuh. Karena memang dibatasi ya. Mungkin kerinduan orang² akan Baitullah sudah begitu membuncah sehingga berbondong-bondong untuk mendaftar umrah.
Karena tidak mendapatkan slot umrah, akhirnya kami memutuskan untuk ke Madinah saja, plus 2 hari ke manaaa gitu (apakah Yanbu atau Jeddah). Intinya ... belum pasti. Hehe. Tapi, pas lagi masak 3 hari menjelang keberangkatan, aku buka aplikasi eatmarna lagi (yaitu aplikasi untuk mendaftar umrah, permit untuk shalat di raudah, permit untuk shalat di masjidil haram, dan juga permit untuk ziarah ke makam nabi bagi laki-laki). Ketika itu langsung sumringah melihat slot umrah terbuka dan waktunya bertepatan dengan jadwal vacation. Allahu akbar! Rasanya sangat bahagia. Alhamdulillaah yaa Rabb. Akhirnya kami langsung mendaftar dan juga membuat permit untuk shalat di Raudah, prophet visit/ziyarah dan shalat di masjidil haram sekalian. Alhamdulillaah. Setelahnya baru booking hotel di Makkah. Yang penting amankan slot terlebih dahulu hehe.

Madinah terasa lebih sepi dibanding sebelum pandemi. Pelatarannya kosong saja di pagi hari akan tetapi tetap ramai di waktu maghrib dan isya. Tapi tentu gak seramai hari biasanya. Anak-anak tidak diperbolehkan masuk ke masjid, hanya diizinkan di pelataran saja. 
Permit untuk shalat di masjidil haram juga hanya dibolehkan 1 hari saja. Harus atur strategi juga gimana biar optimal ke Harom nya mengingat anak-anak tidak diijinkan memasuki masjid di masa pandemi ini. Kami memtuskan untuk memilih permit berbeda hari. Aku di hari pertama kedatangan dan suami di hari berikutnya.
Umrah di masa pandemi tentu sangat berbeda dengan umrah di masa sebelum pandemi. Ada protokol kesehatan. Dan lebih teratur juga. Umrah dapat diselesaikan dengan cepat dibanding hari biasanya. Dan juga salah satu hal berkesan lainnya adalah setelah hampir 7 tahun di Saudi, baru pertama kali aku merasakan hujan deras di masjidil haram. Di sini memang hujan agak langka yaa. Dalam setahun bisa dihitung jari berapa kali.
Setelah dari Makkah, kami memutuskan untuk ke Jeddah terlebih dahulu. Di Jeddah mampir ke Restaurant Balado lalu ke Fakih Aquarium

 Di Jeddah, sempat maju mundur apakah akan melanjutkan vacation atau balik ke Riyadh aja karena suami kebetulan lagi panas dalam. Alhamdulillaah enggak demam dan juga alhamdulillaah bukan gejala covid-19. Mungkin karena agak sedikit capek sehabis safar lebih dari 1000 km. Tapi, kata suami gapapa lanjut aja vacationnya. Dan tujuan kami selanjutnya adalah ke Yanbu.

Yanbu adalah kota pelabuhan untuk jamaah haji pada zaman dulu. Yang paling berkesan bagi anak-anak adalah kota Yanbu ini karena mereka bebas berenang di pinggir pantai yang memang disediakan untuk anak-anak. Semacam teluk gitu yang disediakan untuk berenang. Mereka happy banget ma shaa Allah. Sampai-sampai Maryam (my 2 yo little girl) ga mau diajak keluar laut. Hehehhe.
Pantainya bersih (tak ada sampah dibuang sembarangan), ada petugas penjaganya. Disediakan jg toilet yang bersih dan tempat mandi/bebersih sehabis berenang. Dan juga mushalla di pinggir pantai. Anak-anak sampai bilang "nanti kita ke sini lagi yaa ... " 😁😁😁

(Bersambung ke postingan berikutnya).


Read More

Memori dan PJJ Online


Jika ingin re-memori, kira-kira ketika TK hingga kelas 2 SD, apa yang masih kita ingat dari pelajaran sekolah? Materi-materi ajar kah? Sepertinya tidak. Bagi aku sendiri, memori yang paling diingat ketika TK adalah punya teman yang suka jahil, pulang sekolah botol minum tumpah di seragam jadi dikira ngompol. Sedangkan ketika kelas 1 SD, memori yang paling diingat adalah ketika "cabut" pergi ke pasar jum'at ketika jam pelajaran  ke-3 (setelah jam istirahat) 😂😂. Dan juga, ketika buku tugas matematikaku (yang bahkan topik pelajarannya aja sudah lupa tentang apa) direbut seorang teman (yang sampai saat ini masih kuingat namanya) lalu dicontek, setelah itu diludahin oleh yang bersangkutan. Sangat mengesalkan kan? Waktu kelas 1 SD caturwulan 1 pun, aku tidak mengerti apa itu arti peringkat 1 di kelas. Kekekeke... 

Saat pandemi ini yang mengharuskan anak belajar online, menurutku tidak perlu "memaksakan" anak harus paham semua pelajaran apalagi untuk usia TK, usia pendidikan dasar awal (kelas 1 , 2). Belajar dari pengalaman, bahwasannya hampir semua pelajaran itu kita lupa saat ini. Kita juga lupa kapan persisnya kita benar-benar bisa membaca dengan lancar. Jangan sampai karena anak belum paham lalu kita kesal dan marah-marah. Sebab, bisa jadi ... belasan tahun kemudian yang tersisa diingatan anak bukan apa yang kita ajarkan melainkan tentang kita yang marah-marah ketika PJJ online. 

Jika pun ingin mengajarkan, ajarkanlah ketika kita dan anak sama-sama dalam kondisi happy. Ketika happy, in shaa Allah mereka lebih mudah menerima dan juga memahami tanpa tekanan. Semoga suatu saat yang mereka kenang adalah ketika mereka bahagia belajar bersama bundanya. Bukan momen marah-marahnya. 

Dan lagi, bukan karena kepiawaian kita mengajarkan sehingga anak menjadi mengerti dan paham. Sungguh, Allah-lah yang menanamkan ilmu di hati dan fikiran anak-anak kita. Mengajarkan; hanyalah sebuah wasilah saja. Maka, sudah semestinya yang pertama kita lakukan sebelum mengajarkan adalah mendo'akan mereka agar Allah menganugrahkan rizki kepahaman dan ilmu yang bermanfaat untuk mereka.

#NtMS
Read More

Sushi Super Simpel

Sushi yang benar-benar simpel. Isinya cuma udang tempura ekekekeke. Tapi, ini snack kesukaannya anak-anak. Gampang banget ma shaa Allah. Tinggal ngegulung nasi+udang tempura di atas selembar nori, trus potong deh. Sederhana banget. Alhamdulillah. 

Kadang anak-anak itu maunya sederhana aja yaa. Emaknya aja yang bikin dan mikir ribet. 😂

Read More

Suka Duka Belajar Online

Kayaknya sekarang setiap emak-emak sedunia yang punya anak sekolah mungkin sekarang tengah dipusingkan dengan sekolah online kecuali yang homeschooling. Hehehe.

Awalnya memang tidak ada dalam fikiranku untuk lanjut sekolah Aafiya dulu (yang sebelumnya TK B) ke grade 1. Aku pikir tak ada salahnya menunggu tahun depan untuk lanjut sekolah. Tapi, pemikiran Ayah Aafiya beda. Tidak masalah untuk lanjut sekolah aja karena pandemi ini tidak tau kapan akan berakhir. Dan belum bisa dipastikan apakah tahun depan pandemi sudah berakhir atau kah masih akan tetap berlanjut. Sementara sekolah harus tetap berjalan dengan atau tanpa adanya pandemi. Dengan adanya gap 1 tahun, bisa jadi pelajarannya banyak yang lupa lagi. Begitu pikir suami. Pas diskusi sama teman yang anaknya sepantaran Aafiya juga pendapatnya semakin menguatkan. Kata temanku, sekolah online juga ndak apa tapibada kurikulum yang jelas. Setelah melewati pertimbangan panjang, akhirnya kami memutuskan Aafiya lanjut sekolahnya ke grade 1. Selain itu, kakak Aafiya juga bersemangat untuk lanjut sekolah. Berkali-kali aku tawarkan untuk lanjut di tahun depan saja dan dia tetap istiqomah untuk memilih lanjut sekolah tahun ini. Termasuk konsekuensi dia harus belajar, harus bikin tugas, PR dan sebagainya dan Aafiya bilang siap. Ya sudah. Cuuss daftaaar. Apalagi sekolah di masa pandemi ini alhamdulillaah ada diskon juga 35% dari total tuition fee yang harus dibayarkan. Lumayan banget alhamdulillaah.

Awalnya aku pikir seperti KG dulu di mana ibunya yang mengajar. Akan tetapi, ternyata sekolah kakak bentuknya regular kayak sekolah biasa. Sehari ada 5 sesi belajar online dengan diselingi 20 menit waktu istirahat. Mata pelajaran kakak juga cukup banyak yaitu: Islamic, Arabic, Al Qur'aan, Math, Science, Social Studies, Computer, French.  Tiga pelajaran pertama semuanya bahasa pengantarnya adalah bahasa Arab. Sedangkan sisanya adalah bahasa Inggris. Untuk pelajaran french sepertinya bahasanya mix antara bahasa Inggris dan bahasa prancis sendiri.

Seminggu pertama adalah minggu yang stressfull untukku. Karena kakak sudah lama ndak ngomong english maupun arabic. Terakhir cuma pas dia KG dulu yang masih sekolah offline. Bahasa inggris dan arab bukan bahasa sehari-hari kami tentunya. Ditambah lagi ga keluar-keluar (kayak belanja dll) mesti berinteraksi dengan orang asing. Jadi bener-bener ga fluent deh english nya apalagi arabic nya. Sementara bahasa pengantar kakak di sekolah adalah english dan juga arabic. Gimana gak stressfull emaknya. Jangankan untuk memahami pelajarannya. Kakak harus struggling dulu untuk memahami bahasanya. Online pulak. Subhanallaah. Kalau offline mungkin lebih enak. Karena cara penyampaian gurunya bagus ma shaa Allah. Tapi online? Agak susah kan membuat anak usia 6 tahun untuk fokus.
Maafkan gambar bukunya miring. Ini PR Kakak yang aku fotoin untuk dikirim ke gurunya. PR kakak sendiri dikirim melalui aplikasi classera. Jadi ga ada whatsapp group antara orang tua dan guru juga sih. Lumayan ga bikin senewen kalo semisal temen-temennya udah ngirim tugas sementara si kakak belum wkwkwkwkwkwk. Aplikasi classera sendiri menurutku sangat baguuus karena lengkap banget. Ada online assasement, ada exam nya juga, jadwal dikirim lengkap, bahan ajar lengkap dan video pembelajaran juga lengkap bisa diakses, bisa di donwload juga. Ma shaa Allah. Naah dari PR ini coba... ini kalau bahasanya aja belum dipahami, gimana menjawab pertanyaannya? Soal nomor 8. Dari cerita disuruh membuat persamaannya. Lha, ini baru kelas 1 SD lho.

Salah satu contoh lainnya.
Ini pertanyaan untuk bahasa inggris. Jadi, ada cerita tentang Henry. Nah, si anak diminta untuk menganalisa (1) apa yang settingan yang membuat cerita ini terlihat realistis. (2) kenapa Author bikin cerita henry ini cuma sepedaan sekitar blok rumahnya aja (3) ceritakan bagaimana lingkungan sekitarmu dan use text evidence. Ini pertanyaan udah butuh analisa dan logika kan yaa. Mana mau dijadiin bahan buat quiz besok in shaa Allah. Tapi, akunya kebingungan bagaimana cara membuat kakak paham sebuat cerita dan menganalisanya dan dituliskan dalam bahasa inggris sementara kakak baru belajar baca dan nulis. 😩😩😩

Memang sekolah kakak pakai kurikulum amrik yang di-mix dengan kurikulum saudi. Jika ini buat anak yang native english mungkin masih OK. Tapi kalau sehari-hari bukan bahasa Inggris menurutku agak sulit. Selain itu kakak sudah belajar juga apa itu verbs, noun, adjective dan disuruh tentukan mana yang verb, nound, adjective di suatu kalimat. Whoaaaaaa ... mamak kebingungan gimana ngejelasin ke anaknyaa 😫😫😫😫.

Belum lagi pas arabic. Pas ditunjuk gambar dan disuruh sebutkan dalam bahasa arab, mamak kudu siap-siap ama gugel translet pas nemenin kakak belajar. Karena emaknya juga ga tau apa bahasa arab nya 🤣🤣🤣. Untuk islamic, alhamdulillah sedikit banyak aku ngerti. Materi awal awal adalah tentang Tauhid; Allahu khaliq. Allahu razzaq. Untuk Qur'an setiap pertemuan hafalan 1 surat. Jadi setiap minggu harus ada nambah hafalannya.

Tapi, tentu saja setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Itu sudah janji Allah. Ikhtiar yang kami lakukan adalah, pertama kami memilih untuk mem-fluent kan englishnya kakak. Yaitu dengan rules: Ayah harus speak english sama anak-anak. No excuse. Dan bunda tetap dengan bahasa Indonesia. Kalau bahasa Arab, kayaknya kakak lebih jago dibanding emaknya 🤣🤣🤣. Kemudian kami ga internvensi belajarnya kakak. Jadi, kami biarkan kakak menyerap apa yang dijelaskan oleh gurunya. Alhamdulillah kakak bisa fokus (sesekali memang ada juga yang ga fokusnya tapi mostly fokus alhamdulillaah). Dalam 5 minggu pertama kakak sudah aktif di kelas alhamdulillah. Sering juga dia bertanya (yang mana tentu harus menyesuaikan bahasa) dan menjawab pertanyaan dari teacher nya. Ketika ada PR French pun kakak alhamdulillah bisa menjawab sebagian besar sedangkan emaknya nol besar kalo french ini. Tapi, masih bisa laaah intip-intip gugel translate. Wkwkwkwk.

Gak kebayang gimana belajar online yang para ibunya tidak mengerti apa yang dipelajari anaknya. Buta sama sekali. Gimana mau ngajarin sementara ibunya sendiri tidak paham kan yaa.

Alhamdulillaah kulihat ada progress yang cukup pesat di proses belajar kakak. Anaknya juga fun alhamdulillaah. Jika ada waktu yang cukup, biasanya aku bantu menjelaskan bab yang mau dipelajari kakak dulu. Jika sekiranya tidak sempat, ya cukup mendengarkan dari gurunya aja. Nanti aku bantu jelaskan ketika mengerjakan PR nya aja. Atau menjelang quiz kayak sekarang. Ternyata benar yaa, anak-anak itu sangat cepat menyerap bahasa ma shaa Allah tabarakallah.

Aku sekarang tinggal fokus mengajarkan kakak baca Al Qur'an. Perlahan-lahan in shaa Allah. Tinggal belajar syaddah dan ghunnah in shaa Allah kakak sudah bisa baca Al Qur'an ma shaa Allah tabarakallaah. Aku ingin mengajari kakak baca bahasa indonesia (membaca buku berbahasa indonesia) nanti ketika grade 3 plan nya. Biar kakak bisa differentiate mana yang bahasa inggris mana yang bahasa indonesia. Tapi, sekarang dia juga udah bisa baca buku bahasa indonesia alhamdulillaah. Tapi tidak aku fokuskan dulu karena sekarang butuhnya bahasa inggris untuk pelajaran sekolahnya. Jadi, paling untuk buku bahasa indonesia aku bacakan saja.

Salah satu kunci dalam mengajarkan anak pelajaran apapun itu (apalagi belajar membaca Al Qur'an) adalah ... mengenyahkan segala emosi/marah dan tergesa-gesa. Menjadikan proses belajar itu sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Jangan sampai, ketergesaan kita ... terlalu besarnya keinginan kita agar anak cepat bisa, membuat emosi terpantik ketika anak tak kunjung bisa. Jangan. Biarkan kita maupun mereka menikmati setiap proses itu. Agar kelak yang tertanam dalam hati mereka adalah: bahwa belajar (apatah lagi bersama bundanya) adalah sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang menyejukkan dan selalu dinantikan.

Pada mulanya, aku agak tergesa ketika belajar arabic dan qur'an. Kadang sampai berpikir "kenapa sih kakak koq belum bisa-bisa?". Menyegerakan agar cepat bisa. Al hasil, malah mentok. Tapi, setelah kita sama-sama memulai dengan hal yang tenang, happy, suasana yang menyenangkan, alhamdulillaah kakak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Meski mungkin anak seusia kakak, banyak yang sudah jauh lebih bisa, bahkan sudah lancar membaca Al Qur'an. Tidak mengapa. Toh, tidak elok membandingkan mereka dengan yang lain. Cukup bandingkan dengan diri mereka yang telah lalu. Setiap anak memiliki proses yang berbeda. Bukan. Bukan nilai akhir yang menjadi tujuan utama, tapi bagaimana kita menikmati prosesnya.

Tentu saja tidak lupa, kita sisipkan do'a terbaik untuk anak-anak. Oleh sebab, bukan kepiawaian kita mengajar atau hebatnya seorang guru yang membuat anak-anak bisa menyerap segala ilmu. Akan tetapi, ilmu itu Allah yang memberikan kepada mereka. Maka, adalah hal terpenting mendo'akan mereka. Agar Allah karuniakan kepada mereka ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka.

Aku masih berharap, agar hal mendasar bagi kakak, dan adik-adiknya; bisa membaca, menulis dan terutama membaca Al Qur'an adalah melalui perantara kami sebagai orang tua. Bukan oleh orang lain. Meskipun tidak menafikan juga peran besar guru mereka. Tapi, aku ingin yang basic-basic ini ada peran orang tua yang lebih besar. Yaa, ikhtiar yang terbaik saja yang bisa kita lakukan tentunya ☺☺☺.
Read More

HOBI (2)

Ini soal verita hobi part 2. 
Seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya, bahwasannya aku dan suami memiliki hobby yang 100% berbeda. Tidak ada satu pun hobbi kami yang memiliki irisan. Ibarat diagram arsir pelajaran matematika jaman SMP, kalau ada bagian yang beririsan maka akan diarsir. Buat kami, itu hanyalah diagram lingkaran yang terpisah. Tidak ada arsirannya. Kekeke. Tapi, justru banyaknya perbedaan ini jadi seni tersendiri dalam rumah tangga (menurutku). Ciyeee.. sok pakar padahal masih amatiran akunyaa 🤣🤣🤣🤣.

Kalau aku hobinya ... seperti yang udah aku bilang sebelumnya. Hehe.. Kalau suami, hobinya mesti yang berkaitan dengan aktifitas olahraga. Renang, futsal, daaaan terutama adalah badminton. Badminton adalah hobi utama beliau. Aku? Tak satu pun dari cabang olah raga yang aku suka. Ekekekeke... 

Sama-sama liat laptop, tapi kalo suami liat laptopnya buat ngotak-atik "bahasa alien" wkwkwk.. maksudnya bahasa yang aku tidak pahami apa itu. Aku liatnya kayak kumpulan huruf-huruf atau angka-angka di layar hitam aja. Hahahaha. Apa itu namanya yaa? Script kalo ga salah. Ini keknya anak² IT aja yang paham niih. Kalo aku liat laptopnya yaa ga jauh-jauh dari ngotak atik coreldraw, paint tool SAI, photoshop, atau nguprek sofwer video editing. Dan sebagainya. Beda bangeett kaan. Suami prefrensi hemisfer dominan otak kiri dan aku otak kanan. Beda banget.
Kalau aku suka jalan-jalan, suami senengnya di rumah. Xixixi. Tapii, kalau udah jalan-jalan biasanya kita semua jadi happy alhamdulillaah. Kayak me-time (ehh our time) nya keluarga. Kalo pengakuan Ayahnya Aafiya; "pas mau jalan itu rasanya maleees banget. Tapi pas udah on the spot, alhamdulillaah ... menyenangkan."

Naah, bagi kebanyakan keluarga, tidak jarang masalah hobi ini menjadi salah satu pemicu konflik. Hehe. 

Sekian tahun mengalami perbedaan hobi ini membuatku mengerti bahwasannya: yang terpenting dari hobi ini adalah bagaimana kita saling memahami dan memberi ruang untuk hobi pasangan. Selama hobi itu tidak dilakukan berlebihan dan banyak melalaikan hal yang utama.

Mengapa memahami? Karena kalau kita tidak hobi dengan sesuatu, bisa dipastikan kita tak memahami apa 'kebutuhan' hobi tersebut. Yang hobinya dandan, gak akan habis pikir kenapa orang yang hobinya mancing rela menghabiskan waktu berjam-jam di empang demi seekor ikan saja. Wasting time banget. Begitu pikir orang yg hobi dandan. Sebaliknya, yang hobi mancing juga akan heran kenapa muka didempul-dempul gituh, kayak unfaedah banget. Belum lagi sebotol kosmetik yang kecil banget ukurannya, koq bisa harganya 5-6 digit. Ya, begitulah kalau tidak saling memahami. Makanya urutan pertamanya adalah al fahmu dulu. Meski kita tidak memiliki pasangan yang sehobi dengan kita, sudah semestinya kita memahami. Memahami juga bukan berarti kita harus ikutan hobi suami kecuali memang hobinya melibatkan keluarga. Misal, hobi suami adalah berpetualang bersama keluarga (baca jalan-jalan), ya sebagai istri tentu mesti ngikut 😁😆.

Setelah memahami, selanjutnya memberi ruang untuk hobi tersebut (selama bukan pada perkara haram atau mubah yang berlebih-lebihan) tentunya. Memberi ruang terhadap hobi suami akan meningkatkan kasih-sayang pasangan, in shaa Allah biidznillah. Misal, kalau kita ngambek, ketika suami melakukan hobinya akan berbeda efeknya dengan ketika kita memberi ruang buat hobi pasangan. Trust me. Hehehehehehe.

Alhamdulillaah, have been there. Telah melewati pengalaman berkaitan dengan hobi ini. Intinya saling support. Ketika suami badminton, aku berusaha untuk memberi ruang kepada beliau (ketimbang ngerajuk, yee kan? Wkwkwkwk). Sebaliknya, suami juga support dengan hobinya aku (ngasi waktu buat nguprek-nguprek, beliin sofwer yang dibutuhkan) ma shaa Allah tabarakallah. Ini justru (menurutku lho yaaa) malah menjadi saling menguatkan kasih-sayang. Hehehe. Sejenak men-jeda dengan kesukaan masing-masing untuk kembali bersama-sama dan saling bersinergi untuk banyak urusan lainnya.

Semisal di jum'at pagi adalah jadwal badminton suami. Selama masa itu, aku bisa lakukan aktifitas lain misal denger kajian (sambil masak misalnya), ekekekeke ... Salah satu keuntungan masa pandemi ini, bisa denger kajian online sambil ngerjain pekerjaan rumah. Alhamdulillaah tabarakallaah. Dulu, aku selalu absen deeh kalo ada kajian jum'at pagi karena suami ke badminton dan otomatis aku jadi ga bisa ke mana-mana kan yaaa. Secara di sini kalo ke mana-mana kan mesti sama suami. 🤗🤗🤩🤩.

Ya begitulah. Selalu ada hikmah atas segala sesuatu. Semoga kita dapat memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya (nasihat buat diri sendiri terutama niih), yang masih banyak rombengan, banyak alfa, ngerjain hal laghwi. Semoga juga hobi kita (yang mubah) ini adalah sesuatu yg juga mendatangkan manfaat dan bukan hal yang sia-sia.

Barakallahu fii kum jami'an

Read More

HOBI


Aku termasuk yang memiliki banyak hobi. Mulai dari nulis-nulis (dulu sempat nulis novel segala 😂) yang "sisa-sisa ke-eksisan-nya" masih terabadikan di akun wattpad, teenlit zaman-zaman baheulak yang kalau dibaca ulang bikin ngakak sembari mbatin "koq bisaa yaa aku bikin tulisan begini dulunya". Tapi di sisi yang lain, tulisan itu menjadi saksi 'perjalanan' fikroh dari yang picisan hingga momen hijrah (semoga Allah jadikan kita semua istiqomah di jalan-Nya), aamiin. Hobi berikutnya njahit-njahit mulai dari tas-tas simpel, gamis anak-anak, hingga sempat bikin puffer jacket segala yang semuanya masih level beginner. Hobi mfoto-mfoto tapi yaa kemampuannya masih jauh lah. Hasilnya masih begitu-begitu aja. Hobi nguprek sofwer desain tapi ya masih jauh lah dari kata profesional. Hobi videografi dan juga animasi sederhana tapii... masih gitu-gitu aja. Kayaknya lebih cocok disebut tukang ngedit video. Ekekeke.
Dan hobiku dan suami sangat bertolak belakang. Ibarat bainal masyriki wal maghrib. Antara timur dan barat dan tidak ada satu pun yang ber-arsir-an, bahkan hanya sekedar bersisian pun tidak. Xixixi.

Tapi salah satu hal yang aku garis bawahi adalah: di antara sederet hobiku tersebut, tidak ada satu pun yang benar-benar sangat optimal dan professional. Ya, paling begitu-begitu aja. Intinya belum ada yang sampai pada level max. Tidak ada target capaian dan fokus tertentu. Juga tidak ada jadwal rutin. Hanyalah berdasarkan mana yang sedang mood untuk dikerjakan.

Sampai di sini, pelajaran yang dapat dipetik adalah ... betapa pentingnya fokus dan tujuan. Jika tidak ada fokus, betapa "mengambangnya" hidup kita. Padahal, jelas Allah telah menggariskan untuk apa tujuan kita diciptakan. Dan tujuan itu dicapai tentulah dengan action. Ada tindakan yang kita kerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Menyoal hobi mungkin tidak mengapa asalkan jangan sampai hal "mubah" ini justru mengalahkan hal yang wajib dan utama serta berlebih-lebihan terhadapnya. Dan semoga pula hobi yang kita lakukan dapat memberikan manfaat, meskipun sedikit. Tapi, untuk hidup kita mesti punya fokus dan tujuan. Bahwa fokus dan tujuan kita adalah untuk kehidupan yang sebenar-benar kehidupan. Tentang akan ke mana kita setelah fananya dunia ini. Untuk hal ini, kita HARUS memiliki tujuan yang jelas tentunya. Fokus dan juga apa action yang telah kita persiapkan dan lakukan.
Read More

Kenangan


~KENANGAN~
.
Ini adalah sebotol jus yang mengingatkan pada kenangan hampir 7 tahun silam. Ketika pertama kali Allah memberikan aku kesempatan untuk mengunjungi kota terbaik di dunia; kota Makkah. Kala itu--ketika masih berdua saja, belum ada anak anak--kami berangkat naik hamla Arab. Dengan biaya sekitar 125 SAR (kalau tidak salah) atau sekitar 300-400rb rupiah kala itu, sudah mendapat fasilitas bus pulang pergi plus penginapan yang bagus (kamar hotel yang cukup lengkap fasilitasnya setara bintang 1 atau 2 yang lokasinya juga tidak begitu jauh dari al Haram dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi bukan di depan al Haram banget tentunya. Masuk agak ke gang kecil dan sedikit mendaki bukit hehe). Ketika kembali ke Riyadh, bus berhenti di rest area dan kami hanya membeli jus ini dan beberapa camilan. Tidak ikut makan seperti penumpang lainnya karena lidah yang belum bersahabat dengan masakan timur tengah. Sudah berlalu hitungan tahun setelah masa itu, tapi kenangan itu masih lekang di ingatan.
.
.
Sejatinya ... segala sesuatu akan menjadi kenangan pada akhirnya. Detik yang berlalu yang tak akan mungkin dijemput kembali. Akan tetapi, ternyata kenangan ini tak hanya berakhir dengan "final exit" nya kita dari dunia ini. Kenangan itu ternyata akan terus kita bawa hingga hari ketika ditegakkannya balasan. Kala itu, orang-orang yang meninggalkan kenangan buruk yang tak selesai ketika di dunia, akan menuntut haknya dan berkata "Ya Rabb, si fulan dulu telah mencelaku, si fulan dulu telah memfintahku, membully ku" dan sebagainya sehingga ketika segenap urusan itu tak selesai di dunia, akan berakhir dengan berpindahlah amal baik kepada yang terdzalimi atas keadilan Allah. Jika tak cukup untuk menebusnya, maka dosanyalah yang dipindahkan kepada pelaku. Sebaliknya, kenangan baik juga akan menjadi ingatan di kala itu. Ketika tak dilihatnya sahabat sepengajian, sahabat seperjuangan bersama-sama berada di surga, ia juga akan berkata "Wahai Rabb-ku,dahulu fulan adalah temanku di pengajian. Wahai Allah, si fulan adalah orang yang dulu sama-sama berjuang di jalan-Mu bersamaku. Si fulan telah banyak berbuat baik kepadaku ketika di dunia. Ijinkan aku menjemputnya jika ia berada di neraka."
.
.
Duhai teman. Tentang diriku yang tempatnya salah, alpa dan dosa; semoga engkau berkenan memanggilku kelak, jika tak engkau temukan aku di surga. Semoga, kenangan itu menjadi ingatanmu kelak, ketika tak lagi berlaku mata uang untuk menebus segala salah. Mohon maafkan jika ada di antara engkau yang pernah tersakiti olehku. Semoga Dia senantiasa tunjukkan kita jalan yang lurus yang menuntun kita "pulang" ke tempat sebaik-baik penghidupan. 
Read More