Takbir Hari Raya

Allaahu akbar Allahu akbar Allahu akbar....
Laa ilaahaillallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd....

Gema takbir berkumandang. Semakin membuat syahdu malam yang indah ini...
Esok berlebaran.... insya Allah...
Hari yang agung.... Hari raya di hari jum'at yang mulia....

Sungguh, rindu kampung halaman
rindu sanak saudara, rindu bercengkrama...
Merindukan sangat kebersamaan yang indah itu....
Dan juga sangat merindukan mengucapkan kalimat talbiyah...di tanah suci dan diberkahi itu...
Semoga, suatu saat... Allah mengundang aku, dan juga kamu, menghadiri panggilan-Nya,
menuju tanah mulia itu...
Semoga....
Aamiiin...
Read More

Nasihat yang Diam

Suara tangisan itu cukup menarik perhatian aku. Meski sudah berulang kali menyaksikan, tapi tetap saja mengundang mata untuk melirik sumber suara. Terenyuh. Sungguh, ini bukan pemandangan yang luar biasa sebenarnya. Sudah sering aku menyaksikannya. Tapi, tetap saja mengaduk-aduk rasa di hati. Tak terdefinisi. Pilu. Sedih. Terenyuh. Menggetarkan...

Ya, ini mungkin memang bukan tempat biasa. Ini adalah tempat di mana manusia dihadapkan pada dua hal, kesembuhan, atau kematian. Ini hanyalah tempat untuk orang-orang yang diambang dua alam tersebut. Tetap bertahan di dunia yang fana kah atau berpindah ke alam selanjutnya. Ya, inilah tempat untuk mereka yang membutuhkan perawatan intensif. Untuk kasus-kasus berat yang merenggut seluruh energi yang mereka punya. Tempat di mana kesibukkan orang-orang berseragam putih dan biru terang mencapai puncaknya. Tempat di mana 1 tubuh bisa saja digerayangi sampai sepuluh macam lebih peralatan medis.

Suatu ketika, "Suster, Bu X yang di bed 14 di mana yah?"
"Waahhh, udah meninggal Mba."
""Innalillaahi wainna ilaihi rooji'un."
"Eh, pasien yang udah vegetative state itu udah meninggal." Hanya bisa berdesis, "Innalillaahi wainna ilaihi rooji'un."
"Fathel, pasien yang Hellp syndrome dengan kondisi la..la..la itu sudah meninggal jam sepuluh tadi." Itu SMS temanku. "Innalillaahi wainna ilaihi rooji'un." Lagi-lagi, hanya bisa berdesis.
Padahal, baru dua jam sebelumnya aku monitoring pasien itu. Dan, dua jam kemudian... Ia sudah mengakhiri kefanaan dunia ini. Ya, begitulah. Segala upaya sudah dilakukan dengan cara terbaik. Dengan prosedur diagnostik terbaik. Dengan treatment terbaik. Tapi, Allah-lah yang memiliki kuasa. Manusia, sungguh yang dipunyainya hanyalah kedhaifan belaka, sehebat apapun ia di mata manusia lainnya, seberapa lama pun pengalamannya, sepanjang dan sebanyak apapun titelnya. Tetap saja, manusia hanyalah kumpulan keterbatasan saja.

Dan, inilah yang kemudian menjadi pelajaran berharga. Bagiku terutama. Belajar dari nasihat yang diam. KEMATIAN. Ya, kematian adalah nasihat diam yang mengingatkan kita, tentang hari di mana kita juga akan menyusul mereka, orang-orang yang telah mendahului kita.
Hanya saja, seringnya kita menyaksikan kematian, atau berhadapan dengan berita-berita kematian, SEMOGA tak membuat HATI kita RESISTEN terhadap nasihat kematian itu sendiri. Kematian mungkin adalah sesuatu yang wajar (apalagi untuk orang-orang yang sering menemani orang-orang di ambang kematiannya), tapi ia meninggalkan nasihat yang luar biasa untuk diri kita. Akan dengan cara apakah kita mengakhiri kehidupan kita? Baikkah? Burukkah? Naudzubillaah--semoga akhir itu adalah sebaik-baik penutup hari-hari kita di dunia yang hanyalah fana ini.

Read More

Bayi-Bayi

Assalàamualaykum Bloggie. Apa kabar?
Aku lg iseng ngeblog pake mobile niih. Hehehe..
Hmm.. aku pengin cerita apa yah? Tentang bayi ajah deh... Hee...

Setiap kali ngelewatin gang di Cikini aku sering dihadapkan dengan pemandangan bayi-bayi merah yang lagi dijemur sama emaknya (jemuraan kaliii... hihi). Nah ini menjadi pemandangan menakjubkan bagiku. Deuhhh... unyu unyu banget sihh si dede bayi ituuuuhh. hehee... Dan tadi kita baru ajah dinner di apartemennya Mba Eka dan disuguhin menu yang enaaaak bangeeet. hehee...

Nah... aku liat Aleeya...anaknya mba Eka yang lucu dan pinter. Ngegemesiiiin deeh pokoknya... Dan membuat aku jadi pengeeeen punya bayi. Haaha...gubraksss! Okeehhh kalo yg ini mah di skip dulu yaaahhh... Kuliaahh dulu. Hehehehe..

Hemm... mereka adalah kertas kertas putih yang siap dicoret moret and dilukis  ama emak dan bapaknya. Dan jika pola didik yang orang tua berikan salah di awal-awal dan masa emas perkembangannya...maka yang orang tua tuai kemudian adalah anak dengan tingkah polah yang jauh dari harapan dan jauh dari akhlak mulia. karena semua akan ada kompensasinya. kompensasi atas segala pola didik yg mungkin tak pernah direncanakan dan didesain sedemikian rupa. jika orang tua terlalu menekan si anak yang mengharuskan anak menjadi seperti yang mereka obsesikan kompensasinya adalah anak yang mungkin saja brontak atau sebaliknya frustasi. Jika terlalu membebaskannya..kompensasinya adalaha anak yg tak bisa di arahkan. Jadi sebenernya jadi orang tua mestilah cerdas. (hehee...teorinya begitu yaahhh mekipun dalam pelaksanaannya tak semudah itu..)

karena judulnya td cuma mau nyobain ngeblog pake mobile maka tulisan yg acakadut ini sebaiknya segera diakhiri... Hehee... Kapab-kapan kita bahas lagi yuuk topik yang sangat menarik ini :)
Read More

Izzatul Islam Kita

Suatu hari, aku dan temenku lagi nyarap di kantin depan CMU. Kita asyik ngobrolin soal clinical clerkship dan banding-bandingin antar universitas. Tak dinyana, ternyata bapak di depan kami ikut menyimak isi obrolan kami. Bapak tersebut ternyata juga adalah orang kesehatan (yaa, segenap instrumen kesehatan dah! Mau dia dokter, perawat, dentisien, nutrisien, atau farmasis, yang penting masih dalam satu rumpun kesehatan). Dari wajahnya, sudah cukup menjelaskan bahwa si bapak adalah orang Indonesia bagian timur (hemm.... Indonesia kaya yaahh? Punya berbagai ragam macam suku budaya dan keturunan yang masing-masingnya memiliki identitas tersendiri. Jadi, dengan melihat saja kita sudah dapat menebak, dari suku bangsa manakah seseorang. Iya tak sih? Hehe). Ternyata benar. Si bapak adalah orang perbatasan. Perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Wal hasil, kami bertiga jadi ngobrol-ngobrol deh.

Dari sekian panjang obrolan, satu hal bagiku sangat berkesan adalah kalimat beliau yang kira-kira begini,
"Dari sekian banyak orang-orang di jajaran struktural bidang kesehatan di sana, saya satu-satunya Muslim. Tak ada selain saya yang muslim yang menduduki jabatan penting di sana. Tapi satu hal yang menjadi prinsip saya adalah, SAYA MENUNJUKKAN YANG TERBAIK, KARENA SAYA SEORANG MUSLIM! Jika kita menjadi yang terbaik, niscaya tak ada orang yang bisa merendahkan kita. Karena saya seorang muslim!"

Read More

Kecewa

"Kecewa mungkin adalah sebentuk rasa ketika kita berhadapan dengan kenyataan yang tak bersesuaian dg harapan. Tapi kita sering tertipu hanya dengan apa yg tampak belaka. Tampak bagus. Tampak baik. Tampak menarik. Harapan akan selalu berasimilasi dengan apa yg tampak itu... Padahal boleh jadi saja sesuatu yang tampak baik itu bukan benar-benar baik utk diri kita. Keterbatasan kita mengatakan sesuatu itu baik untuk kita lantas akan kecewa ketika tak menjadi wujud nyata. Padahal...Dia yang Maha Tak Terbatas lebih tahu apa yg memang baik dan bukan hanya tampak baik. Maka setiap apa yg Allah takdirkan atas diri kita pastilah sebaik-baik ketetapan. Jangan bersedih jika hari ini kita belum menjumpai asa yg dulu pernah trpatri. Yakinlah... Dia pasti tak pernah sia-sia terhadap diri kita..."


Di ufuk Zulhijjah, 1433 H
Read More

Eksekutif Lanjut Usia

Teman, ini bukan cerita tentang seorang eksekutif yang punya banyak harta, apalagi tentang eksekutif muda yang rupawan. Ini bercerita soal eksekutif lanjut usia. Sebab eksekutif bukan hanya milik orang muda, tapi juga lansia. Hihihi... Okehh, mari kita replace kata 'lanjut usia' dengan geriatri.
Hemmm...apakah yang kamu bayangkan jika ke poli geriatri? Nenek-nenek renta kah? Hehe... mungkin iya. Lantas, apakah kamu berpikir nenek-nenek atau kakek-kakek tersebut hanyalah sekedar orang jaman dulu yang tak lagi mengikuti perkembangan jaman? Kalau ini, jangan salah!

Lihat nenek dan kakek di foto tersebut. Menurutmu, berapakah umur si nenek?
65?
70?
75?
Salah...
Umur si nenek sudah 78 tahun. Dan umur si kakek sudah 84 tahun!
Lalu, apa kegiatan mereka sehari-hari?
Nonton tivi, tidur-tiduran, nyanyi-nyanyi?
Tidak.
Di usia yang udah begitu renta tersebut, si nenek ternyata masih aktif di sebuah perusahaan tekstil terkenal. Sepertinya beliau direktur utamanya. Ckckck.... Masya Allah. keren yaahh? Geriatri yang sungguh berdaya guna.
"Seharusnya saya kerja. Tapi, karena lagi sakit dan harus kontrol ke Rumah sakit, jadi saya hari ini tidak kerja."
"Kerja di mana, Nek?"
"Saya adalah pemilik perusahaan tekstil bla...bla..." Aku lupa tekstil nya apa, tapi yang jelas itu adalah merek terkenal.
Dan tahu kah kamu, nenek tersebut adalah made in Japan aseli 100 % tapi sangat cinta Indonesia. Tuuuhhh... orang Jepang ajaah cinta sama Negeri kita.

Read More

Sekali Lagi, Tentang Pilihan Itu

Ya begitulah.
Setiap pilihan, pasti punya konsekuensi.
Dan, menjalani setiap konsekuensi atas pilihan itu adalah juga pilihan terbaik.
Kadang, ingin menyesal rasanya. Mengapa begini. Mengapa tak begitu.
Tapi, sekali lagi, Allah pasti punya rahasia atas ketetapan-Nya....

Meski segala kemungkinan itu masih jauh, tapi entah kenapa aku selalu bersedih atas potret yang belumlah menjadi nyata itu. Padahal, tak semestinya begitu, karena ketetapan-Nya yang indah kadang justru datang dari tempat yang tak terduga.

Ya, mungkin kembalinya aku adalah lebih baik...
Sama seperti tekadku untuk membaktikan diri pada dua sosok mulia yang telah membesarkanku dengan segala kepayahannya. Meski itu mungkin akan mengorbankan banyak hal. Apakah itu obsesi. Apakah itu segenap cita-cita. Tapi biarlah. Toh, ranah tumbuh dan berkembangnya potensi bukan hanya milik kota-kota besar. Bukan hanya milik orang-orang yang sempat mengenyam pendidikan di berbagai universitas berkelas. Bahkan bukan hanya milik orang-orang yang duduk di posisi yang diimpikannya beserta banyak orang lainnya. Toh, di tanah kecil, bahkan penuh kekurangan sekali pun, bisa saja jadi lahan subur sebuah potensi. Setidaknya, ini yang menggembirakan dan menguatkanku.

Di sisi lain, ada sekelompok orang yang mengatakan tak perlu memperumit masalah. Bahwa suatu saat, memang ada masanya untuk mengembara. Oleh sebab lahan potensi itu tadi. Tapi, bagiku ini jadi dilema besar. Masih lama mungkin. Tapi, begitu cepatnya detik berlalu akan memangkas sang waktu. Tak berasa, tibalah pada pilihan yang sulit itu. Amat sangat sulit!

Tapi, usahlah pandangi sutu masalah dengan muka berkerut, dengan wajah kusut. Pasti, akan ada penyelesaiannya. Allah sudah janjikan itu. Meski, mungkin akan mengorbankan beberapa hal. Tapi, semoga pilihan penuh konsekuensi itu adalah benar-benar yang terbaik. Semoga... Karena Allah pasti tak sia-sia terhadap makhluk-Nya
Read More

Buntut Anjloknya Kereta

Hari ini ada peristiwa yang cukup bikin deg-deg-an. Hehehe.... Biasanya, aku berangkat ke RSCM pukul 5.30 dari kosan. Setelat-telatnya itu 5.40. Tapi berkat ada kebijakan PT KAI yang mengkhususkan rangkaian kereta khusus wanita, jadi aku memilih untuk menaiki kereta itu yang jadwal keberangkatannya dari stasiun Pocin jam 7. Artinya, aku masih bisa berleha-leha (ko berleha-leha yah? hehehe) di kosan hingga jarum jam menunjukkan angka 6.30. Artinya, aku bisa lebih telat satu jam. Hehehe...

Tadi pagi aku sudah bertekad dengan sepenuh-penuhnya tekad untuk naik kereta wanita saja. Tak rusuh sedikitpun dengan dua temenku yang sudah berangkat duluan jam 5.30-an itu. Pokoknya, apapun yang terjadi, aku akan berangkat dengan kereta wanita. Titik! Hehehe (ngotot amat yah? hihi...). Ketika sampai di stasiun, terlihat penumpang yang ramai sangat. Masya Allah, ramai sangatlaaahh... Oh iya, aku lupa menceritakan, bahwa waktu antrian tiket dibelakangku seorang wanita yang tiba-tiba mau ngebatalin pemberangkatannya menggunakan jasa KRL. Hemm....pasti ada sesuatu nih kalo udah gini...

Wah ternyata benar! Masya Allah, ada kereta yang anjlok di stasiun Cilebut jam 6.35 dan nutupin kedua rel. Jadi, kereta wanita yang dari stasiun Bogor so pasti udah kejebak di stasiun Cilebut atau malah nda berangkat? Entahlah... Arus dari arah selatan (arah Bojong Gede, Citayam, Depok menuju Jakarta) menjadi padat sangaaaatt! Masya Allah...

Aku liriki jam tangan orang disebelahku (hahaha, soalnya aku nda punya jam tangan), sudah menunjukan jam 7.20! Dan aku harus nyampe RSCM jam 8. Rasa-rasanya imposibel bisa nyampe RSCM jam 8. Soalnya, Pocin-Cikini sahaja sudah memakan waktu skitar 40-45 menit. Dari stasiun Cikini ke RSCM kan juga memakan waktu sekitar 10-15 menit.

Tiga KRL Commuter dan satu KRL ekonomi yang udah lewat itu luarrrr biasaaaa padaatttnyaaa... Sampai-sampai nihh yaa, kalo kucing ajah nda bisa masuk tuuh, apalagi manusia. Whaaaahhh...bisa dibayangkan betapa gerah, sempit dan superduper overloadnya itu kereta. Dan berada di dalamnya adalah suatu siksaan dunia yang amat sangat (lebay!). Tapi, tetep dinaiki oleh penumpang, demi...demi...ya demi si demi. Hee...

Aku memutuskan untuk tidak naik di komuter padat penduduk eehh penumpang itu... Sudah tak sanggup menghadapi lautan manusia di dalam kereta. Nggak sanggup harus kegencet-gencet yang berakibat nausea-vomiting bahkan mungkin hipoksia kali yah? Hehe... Soalnya rebutan O2 juga kaaann. Apalagi kalo ada H2S pula. Malah makin memperburuk prognosis. Hihi... Ditambah lagi aku belum sempat sarapan. Mana aku terakhir kali makan besar (makan nasi beserta lauknya) itu kemarin siang. Karena malem, sepulang RSCM (aku nyampe di kosan deket-deket adzan Isya), aku langsung tewas seketika dari baru bangun lagi sebelum subuh. Agak-agaknya angka survival per-KRL-an aku memang sedikit rendah. Hehehe....

Read More

Aku Tak Suka Membaca, Kecuali...

Hemmm....sejujurnya....aku tidak suka membaca kecuali... (ntar deh kecualinya, hehe). Saat ada orang yang menuliskan hobbi membaca, trus ada yang protes, "Membaca itu bukan hobby kaliii, tapi kewajiban!" Lah, aku saja yang sedikitpun tak hobby membaca kecualii....(kecuali titik titik itu), tak pernah sedikitpun mewajibkan diri untuk membaca. Parah kan? Iye, paraaah bet lu Fatheeel!

Dulu waktu aku masih pediatri (hahaha, pediatri lagi! Okeh, menurut WHO, pediatri itu adalah anak usia 0-18 tahun. Okay?), aku memang doyan bacaaa. Di saat anak seumuran aku masih suka komik, aku malah doyan novel. Pake acara nangis-nangis segala kalo baca novel sedih. Hehehe. Itu aku dulu. Aku udah pernah ceritain di blog ini kan yah? Kayanya buku cerita di perpus SD ku yang terpelosok itu sudah habis kusikat. Hehehe. Itu dulu, sodara-sodara. Sekali lagi, D.U.L.U.

Sekarang, aku sudah jarang sangaaat membaca novel. Rasanya yah, ko mikir-mikir bangeeeett gituuuh mau baca novel. Hemm....sebenernya bukan karena tak doyan. Tapi menyoal waktu sekian jam yang akan kuhabiskan bersama si novel itu. Karena nda tahan penasaran, aku biasanya takkan beranjak dari depan televisi (ehhh...?) novel maksudnya, hingga ending ceritanya. Makanya suka mikir-mikir kalo mau baca novel. Kaga sempet soalnya (halaaaah, kaya yang sibuk ajaaahh kamuuu Fatheeel...hihihi).

Read More

Almarhum Celengan Strowberry

Hemm.... sedari dulu aku tuh kepingiiing banget punya celengan yang bisa dipecahin kalo sudah overload atau kalau lagi butuh? Hihihi.... Entah aku yang kuper atau entah memang tidak available di kampungku, sedari masi pediatri dulu (halaaah, pediatri segalaaa, hahaha) aku tak pernah menjumpai celengan itu. Tapi tak apa lah, toh celengan bagiku bukan hal yang prioritas kala itu. Bahkan sering luput dari permintaan seorang bocah di saat banyak anak-anak lainnya yang doyan menabung. Hehehe
Sesampainya aku di kota, akhirnya aku berjumpa celengan idaman itu. Tapi tak begitu kugubris, karena pada dasarnya (sekali lagi) aku memang tak suka menabung. Hahaha. Parah ya?

Suatu ketika, Dewi pulang bawain celengan. Waahh, excited siiiiihh. Tapi yang ada di pikiranku kala itu adalah... "Ini keisi nda yah?" hehehe.... Jadilah, celengan motif strowberry itu menemani hari-hariku (loh?). Hee...

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Jika si celengan bisa bicara, mungkin dia akan protes, "Plis, Fatheeell, kasi aku makaaaan doooong. Masa nda satu pun duit yang masuk ke perutku...." Hehehe. Iya nih, si Strowberry (anggap saja namanya gituhh, hehe) yang makanannya itu duit, mungkin udah laperr banget  dan udah kwarsiokhor dan marasmus kali yah karena nda pernah dikasi makan (maruk amat yak si strowberry? koruptor ajaah yang doyan duit, nda suka makan duit alias nelen duit kan ya? hehe).

Tapi, lama kelamaan aku kesian juga tuh ama si strowberry. Mulailah aku rajin memberinya makan. Mulai dari lembaran biru kehijauan, lembaran abu-abu, lembran cokelat ke-orens-an, lembaran merah, lembaran biru agak tua, lembaran hijau, dan tentu saja si receh-receh bekas kembalian tiket KRL (hwaaaa, ngomong-ngomong soal KRL, tiketnya naiiiiiiiiiiiiiikkk bo! Di saat-saat kereta begitu istimewa dan menjadi kendaraan favorit dan bener-vener lagi dibutuhkan, dianya malah naiiiiikkkkk.... >.<).

Hingga suatu ketika, si strowberry udah mulai gemukan. Berat badannya nambah terus. Akhirnya dia nda kurang gizi lagi deehh. Aku begitu seneng ama si strowberry. Dia bikin aku rajin nabung. Bayangkaan, aku yang males nabung tiba-tiba jadi suka nabung gara-gara strowberry? Kerreeen kaaan si strowberry. Hehe...

Read More